TITIK NOL
Dia bilang, jika kita ingin memulai hidup baru, kita harus kembali ke titik nol.
Masalahnya, titik nol Amira bukanlah angka. Bukan garis finis. Bukan pula kenangan manis yang bisa dikenang sambil tersenyum. Titik nol Amira adalah laki-laki yang namanya bahkan tidak berani dia sebut di dalam kepala sendiri. Laki-laki yang meninggalkannya di stasiun kereta pukul sebelas malam, dengan satu jas hujan dan tiket pulang yang sudah disobek.
"Aku akan kembali," katanya.
Itu empat tahun lalu.
Dan sejak itu, Amira menghabiskan setiap hari Sabtu di stasiun yang sama, duduk di bangku yang sama, di bawah papan jadwal yang lampunya sudah mati sejak tahun pertama dia menunggu.
---
Orang bilang Amira gila.
Bibi-bibi kompleksnya menggeleng-geleng setiap kali melihat Amira keluar rumah dengan jas hujan biru tua—jas yang sama yang ditinggalkan laki-laki itu. Amira tidak peduli. Dia sudah terbiasa dengan tatapan iba yang sebenarnya menyembunyikan jijik. Dia sudah terbiasa dengan desas-desus: "Kasihan, ditinggal pacar", "Sudah empat tahun, masa masih menunggu", "Harusnya terima kenyataan, laki-laki itu kabur, mungkin sudah menikah."
Amira mendengar semuanya.
Namun Amira juga mendengar janji.
"Aku akan kembali."
Suara itu—Amira tidak bisa melupakannya. Bukan karena suaranya merdu atau romantis, melainkan karena suara itu adalah satu-satunya bukti bahwa Amira pernah dicintai. Dan jika Amira berhenti menunggu, bukti itu akan lenyap. Amira akan menjadi wanita yang tidak pernah dicintai siapa pun. Amira akan menjadi nol. Bukan titik nol. Nol kosong. Nol yang tidak punya masa lalu dan tidak punya masa depan.
Jadi, Amira menunggu.
Setiap Sabtu, pukul 23.00, di stasiun itu.
---
Suatu Sabtu malam, hujan turun dengan cara yang aneh. Airnya jatuh terlalu lambat, seperti gerakan dalam mimpi. Lampu-lampu stasiun yang biasanya mati tiba-tiba menyala—bukan kuning, melainkan putih kebiruan. Dan di ujung peron, seorang laki-laki berdiri. Jas hujan hitam. Wajahnya tertutup topeng kain.
Amira bangkit.
"Ini untukmu," kata laki-laki itu, suaranya aneh, seperti suara dari radio tua. Dia menyerahkan sebuah kotak kecil. "Dari dia."
"Siapa?"
"Laki-laki yang kautunggu."
Amira membuka kotak itu. Di dalamnya: sebuah kaset. Tanpa label.
Laki-laki itu sudah menghilang ketika Amira mendongak. Hujan masih jatuh lambat. Lampu stasiun mati lagi. Papan jadwal tetap gelap. Amira menggenggam kaset itu, lalu berjalan pulang, kakinya basah, hatinya berdetak seperti jarum jam yang akan lepas.
---
Kaset itu dimasukkan Amira ke tape recorder tua—milik mendiang ibunya. Tombol play ditekan. Yang keluar bukan suara, bukan musik, melainkan hening. Hening selama tiga puluh detik. Lalu suara itu datang.
Suara yang dikenalnya.
Namun bukan suara laki-laki itu.
Suaranya sendiri.
Amira di kaset itu berbicara:
"Amira, berhenti menunggu. Dia tidak akan kembali. Kau tahu itu. Kau sudah tahu itu sejak malam pertama. Karena dia tidak pernah ada. Dia adalah tokoh yang kauciptakan untuk membenarkan kesendirianmu. Kau takut menjadi wanita yang tidak pernah dicintai, jadi kau menciptakan seorang laki-laki yang mencintaimu, lalu kau suruh dia pergi, agar kau punya alasan untuk menunggu. Agar kau punya cerita. Agar kau punya luka. Karena tanpa luka, siapa kau?"
Tangan Amira gemetar.
Dia memundurkan kaset.
Memutar lagi.
Suara yang sama. Kata-kata yang sama. Tidak ada yang berubah.
Amira menekan stop. Kaset itu tidak mungkin berisi suaranya—dia tidak pernah merekam apa pun. Kaset itu baru saja diberikan orang asing. Lalu, bagaimana?
Dia memutar lagi. Kali ini, setelah suaranya selesai berbicara, ada suara lain. Suara laki-laki—bukan laki-laki itu, melainkan suara yang lebih tua, parau, seperti suara orang yang sudah lelah hidup.
"Amira, kau tidak menciptakannya. Aku yang menciptakanmu."
---
Amira tidak tidur malam itu.
Dia duduk di lantai, tape recorder di pangkuan, kotak kaset kosong di sampingnya. Dia memutar ulang suara terakhir itu puluhan kali. Suara laki-laki tua. Suara yang terdengar seperti suara ayah—tetapi ayahnya sudah meninggal dua belas tahun lalu, dan suara ayahnya tidak seperti itu. Ayahnya lembut, tidak parau. Ayahnya tidak pernah berkata Aku menciptakanmu.
Pagi menjelang. Amira belum juga beranjak.
Lalu pintu rumahnya diketuk. Tiga kali. Pelan. Tidak biasa.
Amira membuka.
Di depan pintu berdiri seorang laki-laki tua. Jas hujan hitam. Wajah keriput. Mata cokelat yang sama persis dengan mata Amira.
"Kamu tidak mengenalku," katanya. Bukan pertanyaan.
"Tidak," jawab Amira, jujur.
"Aku ayahmu."
"Ayahku sudah meninggal."
Laki-laki tua itu tersenyum pahit. "Ayah yang kau kenal meninggal. Akan tetapi aku—aku ayah sebelum dia. Ayah kandungmu. Aku meninggalkanmu dan ibumu ketika kau masih bayi. Ibumu lalu menikah lagi dengan laki-laki yang kau panggil ayah selama ini. Dan dia—dia baik. Dia merawatmu. Namun dia tidak pernah bilang bahwa kau bukan anak kandungnya."
Amira tidak bereaksi. Bukan karena dia kaget, melainkan karena dia merasa—anehnya—dia sudah tahu. Seperti cerita ini sudah pernah dia dengar dalam mimpi.
"Dan laki-laki yang kau tunggu di stasiun itu," lanjut laki-laki tua itu, "dia anakku. Kakak tiri yang kau tidak tahu keberadaannya. Dia meninggalkanmu bukan karena dia jahat, melainkan karena dia tahu kau saudaranya. Dan dia tidak bisa mengatakannya."
Diam.
Lalu Amira tertawa.
Tertawa keras.
"Kau pikir aku percaya?"
"Kau tidak perlu percaya. Kau hanya perlu berhenti menunggu."
---
Amira menutup pintu di depan wajah laki-laki tua itu. Dia kembali ke kamar. Dia mengambil kaset itu. Dia memutarnya lagi. Namun kali ini, tidak ada suara. Kaset itu kosong. Benar-benar kosong. Seperti baru keluar dari pabrik.
Amira membalik kaset itu.
Di sisi B, ada tulisan. Tinta biru. Tulisan tangan yang dikenalnya—tulisan laki-laki yang ditunggunya.
"Amira, semua cerita tentang ayah kandung, tentang kakak tiri, tentang aku yang tidak nyata—semua itu aku buat agar kau berhenti menunggu. Akan tetapi kau tidak berhenti juga, bukan? Jadi, aku akan jujur: tidak ada laki-laki. Aku adalah kau. Aku adalah suaramu sendiri yang kau proyeksikan ke dalam kaset ini. Aku adalah bagian dari dirimu yang ingin berhenti, tetapi tidak punya cukup keberanian. Jadi, sekarang: berhentilah. Atau jangan. Namun berhenti mengeluh."
Amira menatap tulisan itu.
Lalu dia mengambil jas hujan biru tua.
Kemudian dia keluar rumah.
Hujan belum berhenti sejak semalam. Amira berjalan ke stasiun. Jam menunjukkan pukul 22.47. Masih tiga belas menit sebelum waktu menunggunya.
Dia duduk di bangku favoritnya.
Papan jadwal masih gelap.
Lampu stasiun menyala kuning, normal.
Dan Amira—untuk pertama kalinya—tidak menunggu.
Dia hanya duduk. Tidak berharap siapa pun turun dari kereta. Tidak berharap laki-laki itu datang membawa bunga atau permintaan maaf. Amira hanya duduk. Merasakan hujan. Merasakan angin. Merasakan kehampaan yang—anehnya—tidak seseram yang dia bayangkan.
---
Kereta pukul 23.00 tiba.
Pintu terbuka.
Laki-laki itu turun.
Bukan yang ditunggu. Laki-laki lain. Wajah tidak dikenal. Jas hujan warna abu-abu. Dia berjalan mendekati Amira. Lalu duduk di sampingnya.
"Halo," katanya.
"Halo," jawab Amira.
"Aku dengar kau sudah menunggu empat tahun."
"Berita cepat."
"Yang kutunggu sudah meninggal dua tahun lalu. Kecelakaan. Akan tetapi aku tidak tahu itu sampai minggu lalu."
Amira menoleh. "Lalu kenapa kau ke sini?"
Laki-laki itu tersenyum. "Karena aku juga menunggu. Bukan orang, melainkan titik di mana aku berhenti menjadi versi terburuk dari diriku sendiri. Mungkin titik itu adalah di sini. Di samping wanita yang menunggu empat tahun."
"Kau percaya titik nol?"
"Aku tidak percaya apa pun. Namun aku ingin duduk di sini. Boleh?"
Amira menghela napas.
Hujan mulai reda.
Dan Amira—Amira yang sudah empat tahun menjadi patung di bangku stasiun itu—merasakan sesuatu yang asing di dadanya.
Bukan cinta.
Bukan harap.
Bukan pula luka.
Hanya kelegaan kecil.
Seperti suara klik ketika kaset kosong selesai diputar.
Tidak ada yang terjadi setelahnya.
Tidak ada yang perlu terjadi.
---
Lana pulang pukul satu malam.
Tanpa jas hujan biru tua—dia tinggalkan di bangku stasiun itu sengaja.
Besok pagi, bibi-bibi kompleks akan bertanya, "Amira, kok pulang pagi? Habis ke mana?"
Dan Amira akan menjawab, "Tidak ke mana-mana. Hanya berhenti."
Mereka tidak akan mengerti, tetapi Amira tidak perlu dimengerti lagi.
Dia hanya perlu ada.
Dan itu—entah bagaimana—cukup.
Komentar
Posting Komentar