TOPI MERAH DI LEMARI ES

Ayahku menyimpan topi merah di dalam lemari es.

Bukan karena dia lupa. Bukan karena ruang penyimpanan penuh. Dia sengaja meletakkannya di sana, di antara botol susu dan selada, setiap malam sebelum tidur, dengan ritual yang sama: dibuka lemari esnya, dikeluarkan rak paling bawah, diletakkan topi itu menghadap ke atas, lalu rak dipasang kembali, pintu ditutup.

Dia tidak pernah menjelaskan alasannya.

Dan aku tidak pernah berani bertanya—sampai suatu pagi aku terbangun dan menemukan lemari es terbuka lebar. Topi merah itu hilang. Di tempatnya, ada selembar kertas bertuliskan tangan ayahku:

"Dia sudah keluar. Jangan buka pintu untuk siapa pun."

Masalahnya, ayahku sudah meninggal tiga minggu yang lalu.

---

Aku menelepon ibuku. Dia tinggal sendiri di kota lain sejak perceraian mereka sepuluh tahun lalu. Setelah nada sambung ketiga, dia menjawab dengan suara yang anehnya ceria.

"Nak, ada apa?"

"Topi merah ayah," kataku. "Dia menyimpannya di lemari es. Itu artinya apa?"

Diam. Lalu dia tertawa pendek. Bukan tawa bahagia. Tawa yang basah, seperti seseorang yang baru saja menangis dan berusaha menyamarkannya.

"Jadi, dia masih melakukannya," katanya. "Aku kira dia berhenti setelah aku pergi."

"Melakukan apa?"

"Menjaga pintu."

Ibuku tidak pernah berbicara dalam metafora. Dia akuntan. Seluruh hidupnya adalah angka dan faktur. Namun sekarang, di ujung telepon, dia terdengar seperti karakter dalam dongeng.

"Ayah menjaganya tetap dingin," lanjutnya. "Karena kalau topi itu hangat, dia ... dia bisa bergerak."

"Ayah. Ibu. Tolong bicara dengan kalimat yang aku mengerti."

"Kamu tidak perlu mengerti, Nak. Kamu hanya perlu tidak membuka pintu untuk siapa pun selama dua puluh empat jam ke depan. Janji?"

"Ayah sudah meninggal. Kenapa peraturannya masih berlaku?"

Dia tidak menjawab. Telepon mati. Dan di rumahku yang sunyi, lemari es itu tiba-tiba menyala dengan suara berdengung yang belum pernah sedengung ini sebelumnya—seperti ada sesuatu di dalamnya yang sedang bangun tidur.

---

Aku memutuskan untuk mencari topi merah itu.

Rumah ayah hanya berjarak lima belas menit berjalan kaki. Dia meninggal karena gagal jantung—kata dokter. Namun di pemakamannya, satu hal yang aneh: semua orang yang hadir memakai sepatu kiri di kaki kanan dan sebaliknya. Aku pikir itu hanya salah satu kebiasaan ganjil keluarganya, tetapi sekarang aku tidak yakin.

Rumah ayah sudah terkunci rapat. Aku masuk melalui jendela dapur—yang ternyata sudah tidak terkunci, seperti dia tahu aku akan datang.

Di dalam, semuanya tertutup kain putih. Seperti rumah yang sedang berduka untuk dirinya sendiri. Akan tetapi di meja ruang tamu, ada satu benda yang tidak tertutup: sebuah foto pernikahan ayah dan ibu. Di foto itu, ayah tidak memakai jas. Dia memakai topi merah. Dan ibu—ibu tersenyum ke arah yang salah. Tidak ke kamera. Ke sesuatu di luar bingkai. Ke sesuatu yang tidak dapat aku lihat.

Aku membalik fotonya. Di belakangnya tertulis:

"Hari ke-1.444. Topi itu sudah mulai berbicara."

Aku menghitung. 1.444 hari. Empat tahun kurang sedikit. Empat tahun sebelum ayah meninggal. Empat tahun setelah ibu pergi.

Tiba-tiba aku mendengar suara dari dapur. Suara lemari es yang dibuka. Padahal aku tidak menyentuh apa pun.

Aku berjalan ke dapur dengan kaki gemetar. Lemari es ayah masih model lama, krem, dengan gagang logam. Pintunya terbuka setengah. Dan di rak paling bawah—tepat di mana ayah biasa menyimpan topi itu—sekarang ada sebuah kotak kardus kecil. Tidak ada tulisan. Tidak ada segel.

Suara dari dalam kotak itu bukan dengungan. Bukan juga suara manusia.

Suara itu adalah suara aku, ketika aku masih kecil, menangis memanggil ayah.

---

Aku membuka kotaknya.

Di dalamnya ada buku catatan ayah. Sampulnya merah, lusuh, penuh noda air (atau keringat, atau sesuatu yang lain). Halaman pertama:

"Aku tidak sakit. Aku tidak halusinasi. Topi merah ini adalah hadiah dari kakekku, dan kakekku mendapatkannya dari kakeknya, dan seterusnya hingga ke seseorang yang lupa namanya karena topi itu lebih tua dari nama. Topi ini bukan benda. Topi ini adalah perjanjian."

Halaman ketujuh:

"Perjanjiannya sederhana: Selama topi merah disimpan dalam suhu di bawah sepuluh derajat Celsius, pintu antardunia tetap tertutup. Begitu topi itu hangat, makhluk yang disebut 'Yang Tidak Diundang' bisa keluar. Dan dia tidak pernah datang sendiri. Dia datang membawa versi terburuk dari setiap orang yang pernah kamu cintai."

Halaman dua puluh tiga:

"Ibu pergi karena dia melihat Yang Tidak Diundang menyamar sebagai aku. Aku duduk di sofa, membaca koran, tetapi bayanganku bergerak sendiri. Ibu tidak tahan. Dia berlari. Aku tidak menyalahkannya. Yang menyalahkannya adalah versi diriku yang tinggal di dalam topi itu."

Aku membaca lebih cepat. Tanganku dingin. Lemari es terus berdengung. Dan dari ruang tamu, aku mendengar suara langkah kaki. Langkah kaki yang berat. Langkah kaki yang kukenal.

Ayah.

Ayah berdiri di ambang pintu dapur. Dia memakai kemeja lengan panjang abu-abu, sama persis seperti yang dia kenakan di pemakamannya. Namun tubuhnya ... tubuhnya basah. Tidak seperti terkena air. Seperti ia baru saja keluar dari dalam lemari es.

"Nak," katanya. Suaranya terdengar seperti rekaman kaset yang dimainkan dengan kecepatan salah. "Kamu tidak boleh membaca itu."

"Ayah sudah meninggal."

"Aku tidak pernah benar-benar hidup," katanya. Atau setidaknya itu yang aku dengar. Mulutnya bergerak, tetapi suaranya datang dari belakangku. Dari dalam lemari es.

Aku menoleh. Lemari es itu masih terbuka. Lampu di dalamnya berkedip-kedip. Dan di rak paling bawah—tempat tadi ada kotak kardus—sekarang duduk seorang anak laki-laki. Usia sekitar tujuh tahun. Memakai piama biru. Wajahnya pucat.

Wajahku. Wajah aku waktu kecil.

"Halo," katanya. "Aku yang menulis buku itu."

•••

"Ayahmu tidak pernah ada," kata anak kecil itu. Suaranya anehnya dewasa. "Aku menciptakannya. Aku menciptakan semuanya. Topi merah, lemari es, perceraian, bahkan kematiannya. Karena aku butuh seseorang yang bisa aku salahkan."

Aku menatapnya. "Kamu aku?"

"Kamu aku. Namun kamu lupa. Kamu lupa bahwa kamu bukan manusia. Kamu adalah perasaan bersalah yang mengambil bentuk manusia. Dan satu-satunya cara kamu bisa eksis adalah dengan terus menciptakan cerita tentang ayah yang menyelamatkan dunia dari 'Yang Tidak Diundang'—padahal Yang Tidak Diundang itu adalah kamu. Kamu lari dari dirimu sendiri, lalu kamu ciptakan ayah untuk mengejarmu."

Tubuh ayah di ambang pintu mulai meleleh. Seperti lilin. Wajahnya masih tersenyum, tapi matanya kosong.

"Aku bosan," kata anak kecil itu. "Aku sudah jadi perasaan bersalah selama empat puluh tahun. Aku ingin jadi sesuatu yang lain."

"Jadi apa?"

"Dendam."

5. Plot Twist di Dalam Plot di Dalam Plot (Lapis Dua)

Lemari es itu mati. Lampunya padam. Dengungan berhenti. Dan dari kegelapan, suara ibu muncul.

"Jangan percaya padanya," kata ibu. Tapi ibuku tidak ada di dapur. Suaranya keluar dari mulut anak kecil itu. Mulut yang bergerak tanpa suara—tapi suara ibu terdengar jelas. "Anak kecil itu bukan kamu. Anak kecil itu adalah topi merah. Topi merah itu hidup. Dia bisa mengambil bentuk apa pun. Dan dia ingin kamu membenciku."

"Aku tidak membenci ibu," kataku. Tapi entah kenapa kata-kata itu terasa tipis.

"Tentu saja kamu membenciku," kata anak kecil itu, sekarang dengan suaranya sendiri lagi. "Ibu meninggalkan ayah. Ibu meninggalkan kamu. Ibu memilih untuk percaya bahwa ayah gila, padahal ayah sedang berusaha melindungi kalian berdua. Dan kamu, anak manis, kamu membenci ibu karena kamu takut kamu akan melakukan hal yang sama. Meninggalkan seseorang yang kamu cintai saat mereka paling membutuhkanmu."

Mataku perih.

"Tapi itu bukan kebenaran," kata anak kecil itu. "Itu hanya cerita yang aku buat. Kebenarannya jauh lebih membosankan."

6. Plot Twist di Dalam Plot di Dalam Plot di Dalam Plot (Lapis Tiga)

Anak kecil itu berdiri. Piayamanya basah. Dia berjalan keluar dari lemari es, meninggalkan jejak air di lantai keramik. Dia mendekatiku. Sangat dekat. Hidungnya hampir menyentuh hidungku.

"Kebenarannya adalah," bisiknya, "tidak ada ayah. Tidak ada ibu. Tidak ada perceraian. Tidak ada topi merah. Tidak ada lemari es. Bahkan tidak ada kamu."

"Apa maksudmu?"

"Kamu sedang bermimpi. Tapi bukan mimpi biasa. Mimpi ini adalah satu-satunya mimpi yang pernah kamu alami. Kamu tidak pernah bangun. Karena kamu bukan orang. Kamu adalah mimpi itu sendiri. Kamu adalah objek dalam mimpimu. Kamu adalah... topi merah."

Aku tertawa. Aku tidak bisa tidak tertawa. "Jadi aku topi?"

"Kamu adalah benda yang disimpan di lemari es agar sesuatu tidak keluar. Tapi selama ini, tidak ada yang perlu dijaga. Lemari es itu kosong. Pintu yang kamu jaga tidak pernah ada. Kamu—topi merah—kamu diciptakan oleh seseorang yang ketakutan, dan orang itu sudah mati seribu tahun yang lalu. Kamu hanya melanjutkan ritual tanpa alasan."

Aku mengepalkan tangan. "Kalau aku topi, kenapa aku punya tangan?"

"Karena kamu sudah lama sekali di dalam dingin. Kamu mulai membayangkan dirimu punya tubuh. Kamu mulai membayangkan punya keluarga. Kamu mulai membayangkan drama, konflik, dilema, semua agar kamu tidak bosan menjadi selembar kain merah di dalam kulkas yang tidak pernah dibuka siapa pun."

Aku melihat tanganku. Perlahan, kulitku mulai berubah merah. Bertekstur seperti kain. Seperti felt.

"Aku tidak mau menjadi topi," kataku.

"Itu bukan pilihanmu," kata anak kecil itu. Lalu ia tersenyum. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat giginya runcing. "Itu bukan pilihan siapa pun. Kita semua adalah objek yang lupa bahwa kita objek. Kamu pikir kamu membaca buku catatan ayahmu? Tidak. Buku catatan itu yang membaca kamu."

7. Lapis Terakhir (Yang Tidak Pernah Berakhir)

Aku membuka mata.

Aku berada di dalam lemari es. Gelap. Dingin. Di sekitarku ada botol susu dan selada. Tapi aku tidak bisa bergerak. Aku tidak memiliki tangan. Aku memiliki... bentuk. Bentuk bulat. Merah. Diam.

Di luar lemari es, aku mendengar suara langkah kaki. Seseorang membuka pintu. Seseorang berkata, "Topi merahnya masih di sini. Bagus. Pintunya aman."

Lalu pintu lemari es ditutup.

Gelap lagi.

Tapi di dalam kegelapan itu, aku mendengar suara lain. Suara yang sangat pelan. Suara yang mungkin hanya imajinasiku—atau mungkin bukan. Suara itu berbisik:

"Kapan terakhir kali kamu bertanya apakah kamu benar-benar hidup, atau hanya sedang dipikirkan oleh sesuatu yang lebih mati dari kamu?"

Aku tidak bisa menjawab.

Karena topi merah tidak punya mulut.

Tapi jika topi merah punya hati—hati itu akan berkata: Aku sudah lelah menjadi jawaban atas pertanyaan yang tidak pernah diajukan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI