TRUBADUR

Langit kota itu tidak pernah benar-benar gelap. Polusi cahaya dari lampu-lampu jalan, papan reklame, dan gedung-gedung perkantoran menciptakan semacam petang abadi yang menggantung di atas kepala sepanjang malam. Namun, di sebuah gang sempit di belakang Pasar Senen, di mana lampu-lampu jalan tidak pernah diperbaiki sejak reformasi, kegelapan masih memiliki takhtanya sendiri. Di sanalah ia biasa berdiri.

Orang-orang memanggilnya Trubadur. Bukan karena ia tahu siapa Trubadur sebenarnya—penyanyi keliling abad pertengahan Eropa yang menyanyikan kisah-kisah cinta dan kepahlawanan dari istana ke istana. Ia tidak tahu sejarah itu. Ia hanya menemukan kata itu di sebuah buku usang yang ia pungut dari tumpukan sampah kertas di belakang percetakan. Kata itu indah di lidahnya: Tru-ba-dur. Bergulir seperti kerikil di sungai. Ia mengadopsinya sebagai nama panggung, meskipun panggungnya hanya trotoar sempit dan penontonnya hanya mereka yang kebetulan lewat dan tidak terlalu buru-buru.

Trubadur tidak menyanyi. Ia tidak membawa gitar, tidak membawa biola, tidak membawa alat musik apa pun. Yang ia bawa hanyalah suaranya—tetapi bukan untuk bernyanyi. Ia bercerita. Setiap malam, dari pukul sembilan sampai pukul sebelas, ia duduk di atas kardus bekas, menyilangkan kaki, dan mulai bercerita. Cerita-ceritanya tidak pernah sama. Kadang tentang seorang putri yang jatuh cinta kepada bayangannya sendiri. Kadang tentang seorang raja yang kehilangan mahkotanya karena mahkota itu ternyata lebih memilih menjadi sarang laba-laba. Kadang tentang sebuah desa di mana semua orang lupa cara tertawa, lalu seorang anak kecil mengajarkan mereka bahwa tertawa cukup dimulai dengan satu suku kata: ha.

Tidak banyak yang berhenti. Paling lima atau enam orang setiap malam. Mereka duduk di trotoar yang kotor, mendengarkan, lalu pergi tanpa memberi uang. Kadang mereka meninggalkan botol minuman setengah habis atau bungkus rokok kosong. Trubadur tidak pernah meminta. Ia hanya bercerita, karena ia percaya bahwa cerita adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dicuri, tidak bisa dijarah, tidak bisa dipalsukan. Cerita adalah milik siapa pun yang mendengarnya.

Namun, pada suatu malam di bulan Maret, ketika hujan gerimis mulai turun dan orang-orang membubarkan diri lebih cepat dari biasanya, seorang perempuan tua berhenti di depan Trubadur. Ia tidak duduk. Ia hanya berdiri, memegang payung hitam yang sudah bolong di dua sisi, dan menatap Trubadur dengan mata yang terlalu tajam untuk usianya.

"Ceritakan tentang aku," kata perempuan tua itu.

Trubadur mengangkat alis. "Saya tidak kenal Ibu."

"Kamu tidak perlu kenal. Cukup lihat wajahku. Lalu ceritakan."

Trubadur menatap perempuan tua itu. Wajahnya penuh keriput, seperti peta yang digambar ulang seratus kali. Matanya cokelat tua, tetapi ada kilauan emas di sana, seperti sisa-sisa matahari terbenam yang tidak mau pergi. Rambutnya putih semua, disanggul rapi dengan tusuk kundai dari kayu. Ia memakai kebaya lusuh dan kain batik yang sudah pudar.

Trubadur menutup mata sejenak. Ketika ia membukanya lagi, ia berkata:

"Ibu dulu seorang penyanyi. Bukan penyanyi yang terkenal. Ibu menyanyi di dapur sambil memasak, di kamar mandi sambil membasuh pakaian, di kebun sambil menanam sayur. Ibu menyanyi untuk diri Ibu sendiri, karena tidak ada yang mau mendengar. Akan tetapi, suatu hari, seseorang mendengar. Laki-laki itu jatuh cinta pada suara Ibu. Ia mengatakan bahwa suara Ibu adalah suara yang paling jujur yang pernah ia dengar. Ibu percaya. Ibu menikah dengannya. Namun setelah menikah, laki-laki itu tidak pernah lagi memuji suara Ibu. Ia hanya diam. Dan keheningan itu perlahan membunuh nyanyian di dalam diri Ibu. Sekarang, Ibu sudah tidak pernah menyanyi lagi. Akan tetapi, Ibu merindukannya. Bukan merindukan laki-laki itu, melainkan merindukan suara Ibu sendiri."

Perempuan tua itu tidak menangis. Ia hanya mengangguk perlahan, seperti orang yang mendengar kebenaran yang sudah lama ia ketahui tetapi tidak pernah berani mengakuinya.

"Kamu hebat," katanya. "Siapa namamu?"

"Orang memanggilku Trubadur."

"Trubadur. Itu bukan nama Indonesia."

"Aku tidak tahu. Aku menemukannya di buku bekas."

Perempuan tua itu duduk di samping Trubadur. Payung hitamnya ia lipat, meskipun hujan masih turun. "Aku dulu juga punya nama panggung. Waktu aku menyanyi di dapur, aku menyebut diriku Nightingale-nya Kali Code. Sombong, ya? Namun hanya aku yang tahu."

Trubadur tersenyum. "Boleh Ibu menyanyi sekarang? Satu lagu saja."

Perempuan tua itu terdiam. Ia menatap telapak tangannya yang keriput. Lalu ia menggeleng. "Tidak. Aku sudah lupa caranya."

"Tidak mungkin lupa, Bu. Lupa itu pilihan. Ibu memilih untuk tidak mengingat."

Perempuan tua itu menatap Trubadur lama. "Kamu terlalu muda untuk menjadi bijak."

"Aku tidak bijak. Aku hanya sering mendengar cerita. Dan semua cerita pada akhirnya berkata sama: kita kehilangan karena kita memilih untuk tidak memiliki."

Perempuan tua itu berdiri. Ia mengeluarkan dompet dari saku bajunya, mengambil selembar uang lima puluh ribuan, dan meletakkannya di atas kardus Trubadur.

"Ini untuk ceritamu."

"Ibu tidak usah."

"Ambil. Ini bukan sedekah. Ini upah. Karena kamu melakukan pekerjaan yang tidak pernah dianggap pekerjaan: mengingatkan orang pada apa yang mereka lupa."

Perempuan tua itu pergi. Payung hitamnya tidak ia buka. Hujan mengguyur tubuhnya, tetapi ia berjalan dengan tegak, seperti orang yang sudah terbiasa basah.

Trubadur memandangi uang lima puluh ribu di atas kardus. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan ia mendapat uang. Namun ia tidak senang. Ia justru merasa ada yang ganjil. Seperti ada cerita yang belum selesai. Seperti perempuan tua itu bukan hanya pendengar, melainkan juga pemberi cerita. Dan cerita yang ia berikan tidak tampak di permukaan.

Ia melipat uang itu, memasukkannya ke saku celana, lalu pulang ke kontrakannya yang sempit di lantai tiga sebuah ruko kosong.

---

Malam berikutnya, Trubadur kembali ke gang belakang Pasar Senen. Akan tetapi perempuan tua itu tidak datang. Yang datang adalah seorang pemuda dengan jaket leather hitam, rambut dicat pirang, dan anting di telinga kiri. Ia duduk di trotoar tanpa bicara, hanya menatap Trubadur dengan mata yang penuh rasa ingin tahu.

"Mau cerita?" tanya Trubadur.

"Bukan. Aku mau tahu tentang perempuan kemarin."

"Perempuan tua?"

"Ia ibuku. Namanya Sumi. Akan tetapi, dulu orang memanggilnya Nightingale-nya Kali Code. Setelah bertemu kamu kemarin, ia pulang dengan wajah yang berbeda. Setelah dua puluh tahun, aku baru mendengarnya berbisik. Bukan berbicara. Bisik. Ia tidak menyanyi, tetapi berbisik melodi. Aku tidak tahu lagu apa itu, tetapi mampu membuatku menangis."

Trubadur terdiam. "Ibumu bilang ia lupa cara menyanyi."

"Ia bilang begitu? Ibuku pembohong. Ia tidak lupa. Ia takut. Dua puluh tahun lalu, setelah ayahku meninggal, ibu berhenti menyanyi. Ia bilang suaranya hanya untuk ayah. Namun aku tahu itu alasan. Sebenarnya ia takut jika ia menyanyi, ia akan mengingat semua kebahagiaan yang sudah hilang. Dan mengingat kebahagiaan lebih menyakitkan daripada mengingat kesedihan."

Trubadur mengangguk. "Apa yang bisa aku lakukan?"

"Aku tidak tahu. Akan tetapi, aku ingin kamu datang ke rumah kami. Bukan hari ini. Besok. Pukul tiga sore. Ibu akan ada di rumah. Aku ingin kamu bercerita lagi. Namun kali ini, cerita tentang ibu yang kehilangan suaranya dan kemudian mendapatkannya kembali."

Trubadur menggeleng. "Aku tidak bisa membuat cerita sesuai pesanan. Cerita datang dengan sendirinya. Atau tidak datang sama sekali."

Pemuda itu berdiri. "Cobalah. Karena aku tidak tahu siapa lagi yang bisa membuat ibuku berbisik. Dan bisikan itu—meskipun hanya bisikan—adalah satu-satunya musik yang aku dengar dalam dua puluh tahun terakhir."

Ia pergi tanpa memberi nama. Trubadur hanya bisa menatap punggung jaket leather hitam yang menghilang di tikungan gang.

---

Trubadur tidak datang ke rumah pemuda itu. Bukan karena ia tidak mau, melainkan karena keesokan harinya, ia sakit. Demam tinggi menggigil. Ia terbaring di kontrakan sempit, hanya ditemani oleh tikus-tikus yang berisik di langit-langit. Selama tiga hari ia tidak bisa keluar. Ia hanya berbaring, menatap langit-langit yang retak, dan mendengarkan suara hujan di atap seng.

Pada hari keempat, demamnya turun. Ia bangun, mencuci muka dengan air dari ember hijau, lalu berjalan keluar meskipun kakinya masih lemas. Ia pergi ke gang belakang Pasar Senen, duduk di atas kardus basah, dan menunggu.

Tidak ada yang datang. Hujan gerimis. Sepi.

Pada hari kelima, ia memutuskan untuk mencari alamat pemuda itu. Ia tidak punya nama, tetapi ia ingat wajahnya. Ia bertanya kepada pedagang kaki lima di sekitar pasar, kepada tukang ojek, kepada pemulung. Akhirnya, seorang perempuan penjual gado-gado memberitahunya: "Rumahnya di ujung Gang Mawar, nomor 12. Akan tetapi ... ibunya sudah meninggal. Dua hari yang lalu."

Trubadur terdiam. Ia berjalan ke Gang Mawar.

Rumah nomor 12 adalah rumah kayu kecil dengan halaman sempit. Di halaman, beberapa kursi plastik disusun rapi. Ada tenda biru yang dipasang darurat. Beberapa tetangga duduk bersila, memegang piring nasi kotak. Bau kemenyan dan anyang-anyangan.

Pemuda dengan jaket leather itu berdiri di dekat pintu. Wajahnya tidak menangis. Ia hanya diam, seperti orang yang sudah kehabisan air mata.

"Kamu datang," katanya.

"Aku sakit. Maaf."

"Tidak usah meminta maaf. Ibu meninggal dengan tenang. Namun, sebelum meninggal, ia bilang sesuatu. Ia bilang, 'Tolong sampaikan kepada Trubadur: cerita yang ia ceritakan tentang aku itu salah. Aku bukan penyanyi yang berhenti karena suamiku tidak memujiku. Aku penyanyi yang berhenti karena aku tidak ingin suamiku mati dengan perasaan bahwa ia telah mencuri suaraku. Padahal ia tidak mencuri apa pun. Aku sendiri yang memilih diam. Dan aku menyesal. Akan tetapi, penyesalan tidak bisa mengembalikan suara. Hanya cerita yang bisa. Karena cerita membuat ingatan tetap hidup. Dan ingatan adalah satu-satunya panggung bagi mereka yang sudah mati.'"

Trubadur tidak bisa berkata-kata. Ia masuk ke rumah. Di ruang tamu sempit, peti mati kayu sederhana. Wajah perempuan tua itu tenang, seperti sedang tidur. Masih dengan kebaya lusuh, masih dengan tusuk kundai dari kayu.

Ia berdiri di depan peti mati itu cukup lama. Lalu ia mulai bercerita. Dengan suara pelan, hanya untuk perempuan tua itu dan siapa pun yang mau mendengar.

"Suatu ketika, di sebuah desa di tepi sungai yang airnya tidak pernah berhenti mengalir, hiduplah seorang anak perempuan. Ia tidak punya nama karena orang tuanya mati sebelum sempat memberinya nama. Maka ia memberi nama kepada dirinya sendiri: Bunyi. Karena ia percaya bahwa bunyi adalah satu-satunya yang tidak bisa diambil oleh siapa pun. Bunyi itu lahir, lalu mati, tetapi selalu ada bunyi baru yang menggantikannya.

Setiap pagi, Bunyi pergi ke sungai. Ia duduk di atas batu besar, dan ia menyanyi. Lagu-lagunya tidak punya lirik. Hanya melodi. Akan tetapi, melodi itu membuat ikan-ikan berhenti berenang, membuat burung-burung berhenti terbang, membuat air sungai berhenti mengalir sebentar, hanya untuk mendengar.

Suatu hari, seorang pemuda dari desa seberang mendengar suara Bunyi. Ia terpesona. Ia berenang menyeberangi sungai, basah kuyup, lalu duduk di samping Bunyi. 'Suaramu,' katanya, 'adalah suara yang paling jujur yang pernah aku dengar.'

Bunyi tersipu. 'Suaraku bukan untukmu. Suaraku untuk sungai ini.'

'Boleh aku mendengar setiap hari?'

'Boleh, tetapi dengan satu syarat: jika suatu hari aku berhenti menyanyi, jangan tanya mengapa. Terimalah.'

Pemuda itu mengangguk.

Mereka menikah. Setiap pagi, Bunyi menyanyi di tepi sungai. Suaminya duduk di sampingnya, mendengar, tersenyum. Namun suatu hari, pemuda itu jatuh sakit. Ia tidak bisa lagi ke sungai. Ia hanya terbaring di tempat tidur, tubuhnya panas seperti bara.

Bunyi ingin menyanyi untuk suaminya. Akan tetapi, setiap kali ia membuka mulut, tidak ada suara yang keluar. Rasa takut kehilangan suaminya telah membunuh suaranya. Ia hanya bisa diam, memegang tangan suaminya yang semakin dingin.

Suaminya mati. Sebelum mati, ia berbisik: 'Jangan diam selamanya. Suaramu terlalu berharga untuk didiamkan.'

Namun Bunyi tidak bisa. Ia sudah lupa caranya. Ia hidup dalam keheningan selama dua puluh tahun. Ia menua. Ia menjadi perempuan tua dengan rambut putih dan wajah keriput. Ia tidak pernah lagi ke sungai.

Pada suatu malam, ia bertemu seorang pemuda—bukan pemuda dari desa seberang, melainkan pemuda lain yang duduk di trotoar dan bercerita. Pemuda itu bercerita tentang dirinya. Tentang Bunyi yang dulu bernyanyi di tepi sungai. Bunyi marah karena cerita itu terlalu jujur. Akan tetapi, di dalam kemarahannya, ia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan: getaran di tenggorokannya. Getaran yang dulu menjadi awal dari setiap lagu.

Ia pulang. Ia duduk di kursi goyang. Ia membuka mulut. Tidak ada suara. Ia coba lagi. Hanya desahan. Ia coba lagi. Dan lagi. Dan pada percobaan ketujuh puluh tujuh, sebuah bunyi keluar. Bukan lagu. Hanya sebuah nada. Satu nada. Namun nada itu adalah nada yang sama yang ia nyanyikan di tepi sungai, empat puluh tahun lalu, ketika ia masih bernama Bunyi.

Ia tersenyum. Ia meninggal keesokan harinya. Bukan karena sakit, melainkan karena ia sudah mendapatkan kembali suaranya, dan tidak perlu lagi hidup di dunia yang terlalu bising untuk didiami.

Sebelum mati, ia berbisik kepada anaknya: 'Suara tidak pernah hilang. Ia hanya menunggu keberanianmu untuk mengeluarkannya lagi.'"

Trubadur berhenti bercerita.

Ruangan itu sunyi. Pemuda dengan jaket leather itu menangis, tangisnya tertahan seperti orang yang sudah lama tidak menangis. Tetangga-tetangga yang mendengar dari luar rumah juga menangis.

Trubadur menatap wajah perempuan tua itu. Untuk sekilas, ia melihat bibir perempuan itu bergerak. Bukan senyum. Bukan kata. Hanya sebuah gerakan kecil, seperti seseorang yang sedang memulai sebuah lagu.

Ia tidak tahu, apakah itu nyata atau hanya khayalannya sendiri. Akan tetapi, ia memilih untuk percaya bahwa perempuan tua itu tersenyum.

---

Malam itu, Trubadur kembali ke gang belakang Pasar Senen. Hujan tidak turun. Langit di atas kepalanya masih petang abadi, tetapi kali ini ia melihat satu bintang di timur, redup tetapi jelas.

Ia duduk di atas kardus. Ia tidak menunggu penonton. Ia hanya duduk, lalu mulai bercerita. Cerita tentang seorang perempuan tua yang kehilangan suara dan mendapatkannya kembali. Cerita yang sama yang ia ceritakan di rumah duka. Namun kali ini, ia menambahkan bagian akhir yang tidak ia ceritakan sebelumnya:

"Dan setelah perempuan tua itu mati, suaranya tidak ikut mati. Suaranya berpindah. Ia bersarang di tenggorokan seorang pemuda yang suka bercerita di trotoar. Pemuda itu tidak pandai menyanyi, tetapi ia pandai bercerita. Dan suatu hari, ketika ia bercerita tentang perempuan tua itu, ia menyadari bahwa suaranya berubah. Menjadi lebih dalam. Lebih bergetar. Seperti ada nada di balik setiap katanya.

Ia tidak tahu itu suara siapa. Mungkin suara perempuan tua itu. Mungkin suara ibunya sendiri yang sudah lama meninggal. Mungkin suara semua orang yang pernah kehilangan dan kemudian menemukan kembali. Yang ia tahu, ia tidak akan pernah diam lagi. Karena diam bukanlah keheningan. Diam adalah suara yang takut keluar.

Dan ia sudah tidak takut."

Trubadur berhenti. Ia menatap sekeliling. Trotoar kosong. Tidak ada penonton. Hanya angin malam yang membawa bau pasar dan sampah.

Namun ia tersenyum.

Ia sadar bahwa penonton bukanlah mereka yang duduk di trotoar. Penonton adalah mereka yang mendengar meskipun dari jauh. Mereka yang tidur di kontrakan sempit, yang terbaring di rumah sakit, yang berjalan di tengah hujan tanpa payung, yang mati-matian menahan tangis di tempat umum. Mereka semua mendengar. Mereka semua butuh cerita.

Dan Trubadur akan terus bercerita, meskipun tidak ada yang duduk di depannya. Karena cerita, seperti suara, tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berpindah dari satu mulut ke mulut lain, dari satu telinga ke telinga lain, dari satu hati ke hati lain.

Dari seorang perempuan tua yang kehilangan suaranya. Ke seorang pemuda yang tidak pernah tahu bahwa ia mewarisi suara itu. Ke seorang anak yang kelak lahir, tumbuh, dan suatu hari akan duduk di trotoar yang sama, mulai bercerita, dan tidak tahu mengapa suaranya terasa begitu akrab.

Itulah tugas seorang trubadur.

Bukan untuk dikenal, melainkan untuk diingat.

Dan Trubadur telah melakukan tugasnya.

---

Tiga tahun kemudian, di gang belakang Pasar Senen, tidak ada lagi pemuda yang duduk di atas kardus. Namun, seorang anak perempuan, usia sekitar tujuh tahun, duduk di trotoar yang sama, menyilangkan kaki, dan bercerita kepada boneka kainnya. Cerita tentang seorang perempuan tua yang kehilangan suara, lalu mendapatkannya kembali di ambang kematian.

Seorang pemuda dengan jaket leather hitam lewat. Ia berhenti. Ia mendengarkan.

"Kamu hebat," katanya kepada anak itu. "Kamu tahu cerita itu dari mana?"

"Tidak tahu," kata anak itu. "Cerita itu datang sendiri. Seperti angin."

Pemuda itu tersenyum. Ia teringat ibunya. Ia teringat Trubadur.

Ia duduk di samping anak itu. "Boleh aku mendengarkan?"

"Boleh, tetapi jangan menangis. Cerita ini sedih."

"Aku sudah pernah menangis. Sekarang aku hanya ingin mendengar."

Anak itu melanjutkan ceritanya. Suaranya kecil, tetapi jelas. Dan di tengah kebisingan Pasar Senen, di tengah klakson dan teriakan pedagang, suara itu terdengar seperti satu-satunya suara yang paling penting di dunia.

Seperti bisikan.

Seperti melodi.

Seperti lagu yang tidak pernah mati.

---

Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI