Wajah di Lantai Dua

Seharusnya Arman merasa lega ketika istrinya, Sari, akhirnya berhenti bertanya tentang perempuan yang menghubungi ponselnya tengah malam. Tapi dia tidak lega. Dia justru ketakutan, karena Sari berhenti bertanya bukan karena percaya, melainkan karena Sari mulai berbicara dengan dinding kamar mereka setiap subuh.

“Dia bilang, kamu menyembunyikan sesuatu di lantai dua,” bisik Sari pada dinding yang retak. “Dia bilang, aku harus melihat sendiri.”

Arman belum membangun lantai dua.

---

Tubuh Cerita:

Rumah mungil di Perumahan Cemara Indah itu sebenarnya hanya satu lantai. Arman membelinya dua tahun lalu setelah menikah, dengan uang hasil kerja kerasnya sebagai akuntan di perusahaan swasta. Hidup mereka sederhana. Sari mengajar matematika di SMP negeri. Arman menghitung angka-angka orang kaya. Tidak ada anak, tapi itu bukan masalah—mereka masih menikmati masa-masa berdua.

Setidaknya, begitulah yang Arman pikirkan.

Semua mulai berubah tiga bulan lalu, ketika Arman secara tidak sengaja membuka pesan lama di ponsel Sari. Bukan karena curiga. Hanya karena ponselnya mati dan dia perlu menelepon kantor. Tapi begitu layar menyala, sebuah chat dari kontak bernama Dito terbuka:

Dito: Nanti malam jam sembilan, ya. Suamimu kan pulang malam?

Sari: Iya. Jangan lama-lama. Nanti ketahuan.

Arman tidak membaca lebih lanjut. Dia meletakkan ponsel dengan hati-hati, persis seperti posisi semula. Lalu dia pergi ke kamar mandi, menyalakan keran, dan menangis tanpa suara selama tujuh menit.

Malam itu, ketika Sari pulang lebih lambat dari biasanya, Arman tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Dia menyajikan makan malam. Dia menanyakan kabar murid-murid Sari. Dia bahkan bercanda tentang tetangga belakang yang suara karaokenya terlalu keras.

Tapi di dalam kepalanya, Arman sudah mulai merencanakan sesuatu.

Dan rencana itu membutuhkan lantai dua.

---

Arman memulai proyek renovasi sebulan kemudian. Tanpa izin, tanpa kontraktor, tanpa tenaga kerja. Hanya dia, palu, paku, dan kayu-kayu murahan dari pasar loak. Para tetangga aneh melihatnya, tapi Arman bilang itu untuk kamar tambahan. Mereka tidak perlu tahu yang sebenarnya: bahwa lantai dua itu hanya akan memiliki satu ruangan, tanpa jendela, tanpa pintu yang terlihat dari luar. Aksesnya dari lorong rahasia di balik lemari dapur.

Arman membangun penjara untuk Sari.

Bukan penjara biasa. Di dalam ruangan itu, dia memasang cermin di seluruh dinding. Lantai dilapisi karet tebal agar tak berbunyi. Lampu hanya satu bohlam kecil yang bisa diredupkan hingga nyaris padam. Dan di tengah ruangan, sebuah kursi besi yang dikunci dengan gembok rantai.

“Kamu akan tinggal di sini,” bisik Arman pada bayangannya sendiri di cermin. “Kamu tidak akan pernah melihat laki-laki lain lagi.”

Tapi sebelum rencana itu selesai, Sari berubah.

---

Perubahan pertama: Sari berhenti pulang larut. Dia pulang tepat waktu, bahkan lebih awal. Dia memasak kesukaan Arman. Dia memeluk Arman lebih lama dari biasanya. Pada malam-malam tertentu, dia menangis tiba-tiba di tengah tidur, lalu merangkak memeluk Arman seperti anak kecil.

Arman curiga. Mungkin Sari tahu rencananya? Mungkin Dito memperingatkannya?

Tapi itu bukan itu.

Perubahan kedua: Suatu malam, Arman terbangun dan melihat Sari duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke dinding. Bibirnya bergerak, tapi suara yang keluar bukan suaranya.

“Jangan bangunkan dia,” bisik suara itu. Suara tua, serak, seperti direkam dari radio rusak. “Biarkan dia tidur. Kita punya banyak waktu untuk bicara, Dinda.”

Dinda adalah nama ibu Sari yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu.

Arman memejamkan mata erat-erat. Tapi telinganya tidak bisa menutup. Sari terus bicara—atau sesuatu yang berbicara melalui Sari—tentang masa lalu, tentang rahasia keluarga, tentang seorang laki-laki yang menghilang di sumur tua ketika Sari masih kecil.

“Dinda tahu siapa yang mendorongnya,” bisik suara itu tertawa. “Dinda melihat semuanya dari atas pohon rambutan. Tapi Dinda diam saja. Karena laki-laki itu pantas mati.”

Arman menggigil. Dia tidak pernah tahu Sari memiliki rahasia seperti itu. Tapi yang lebih mengerikan: sumur tua yang dimaksud ada di belakang rumah mertuanya—dan Arman sendiri yang melempari sumur itu dengan tanah dan semen saat acara pernikahan dulu, karena mertua bilang sumur itu angker.

Apakah Sari tahu? Apakah ini caranya menakut-nakuti Arman?

Atau jangan-jangan...

---

Pagi harinya, Arman memutuskan menyelesaikan lantai dua. Bukan untuk Sari lagi, tapi untuk dirinya sendiri. Tempat berlindung dari Sari yang semakin aneh.

Dia bekerja seperti kesurupan. Memaku, memotong, mengecat. Dalam tiga hari, ruangan di lantai dua sudah siap. Lorong rahasia di balik lemari dapur pun sudah berfungsi.

Tapi malam ketiga itu, ketika Arman naik ke lantai dua untuk terakhir kalinya mengecek semuanya, dia melihat sesuatu yang membekukan seluruh tubuhnya.

Kursi besi itu sudah terisi.

Sari duduk di kursi itu. Rantai melilit pergelangan tangan dan kakinya. Matanya terbuka lebar, pupilnya menghilang, hanya tersisa putih bersih.

“Akhirnya kamu naik juga,” kata Sari. Suaranya normal lagi. Suara Sari yang dulu, yang Arman cintai. “Aku penasaran, Mas. Kamu bangun ruangan ini untuk siapa? Untuk aku? Atau untuk Dito?”

Arman mundur selangkah. “Kamu—bagaimana kamu masuk ke sini? Pintu rahasianya hanya aku yang tahu.”

Sari tersenyum. Lalu dari belakang Arman, terdengar suara langkah kaki di tangga kayu yang baru.

Seseorang naik.

Seorang laki-laki. Berbadan tegap, berkumis tipis, membawa pisau dapur yang Arman kenali—pisau dari rumah mereka sendiri.

“Arman, kan?” laki-laki itu menyapa ramah. “Perkenalkan, Dito. Suami sah Sari.”

Arman tertawa gugup. “Apa? Sari istriku. Kita nikah dua tahun lalu, ada surat, ada saksi—”

“Nikah siri, Mas,” potong Sari dari kursi. “Denganmu nikah siri. Suami sahku di KUA adalah Dito. Kami belum cerai. Dan kamu, Mas Arman... kamu hanya bagian dari rencana kami.”

Rencana mereka: Arman dijadikan sasaran untuk membayar utang judi Dito. Menikah siri, menguras tabungan Arman sedikit demi sedikit, lalu menghilang. Tapi rencana itu berantakan ketika Sari melihat Arman membangun lantai dua.

Bukan penjara untuk Sari.

Penjara untuk Dito.

“Kami tahu, Mas,” kata Dito sambil mengayunkan pisau. “Kami tahu kamu berencana menculikku. Makanya Sari pura-pura kesurupan biar kamu takut dan terburu-buru menyelesaikan ruangan ini. Dengan begitu, kami bisa menguncimu di sini, bukan sebaliknya.”

---

Plot di Dalam Twist di Dalam Plot:

Arman tertawa.

Bukan tawa histeris. Bukan tawa putus asa. Tawa yang tenang, terkendali, seperti seseorang yang sudah membaca naskah film dua kali.

“Kalian pikir aku tidak tahu?” Arman mengeluarkan ponsel dari saku. Layar menyala, memperlihatkan rekaman CCTV dari ruangan itu—rekaman yang sudah berjalan sejak semalam. “Kalian bicara berdua di sini jam dua dini hari. Kalian merancang semua ini. Aku melihatnya dari ponselku di kamar tidur.”

Dito dan Sari saling pandang.

“Tapi ada yang tidak kalian tahu,” lanjut Arman. “Rekaman ini langsung terupload ke cloud kantorku. Dan rekaman sebelumnya—saat Sari bicara dengan suara ibu mertua—juga sudah terupload. Ada seorang psikiater temanku yang sudah menganalisisnya. Kesimpulannya? Sari tidak kesurupan. Sari mengalami skizofrenia berat dengan disosiatif identitas. Dan suara ‘ibu Sari’ itu sebenarnya adalah kepribadian lain Sari yang lahir karena trauma dia melihat pembunuhan Dito kecil—kamu, Dito—didorong ke sumur oleh ayah kandungmu sendiri, tiga puluh tahun lalu.”

Wajah Dito memucat.

“Kamu bukan Dito yang asli,” kata Arman. “Kamu adalah kepribadian ketiga dari Sari. Kalian semua adalah satu orang. Sari, Dito, dan ‘Ibu Dinda’—mereka semua dalam satu tubuh yang sakit. Dan kamu, Dito, yang sekarang memegang pisau, sebenarnya tidak pernah ada di dunia nyata. Kamu hanya halusinasi yang diciptakan otak Sari untuk melindunginya dari kenyataan bahwa dia sendirian. Bahwa tidak ada suami siri, tidak ada utang judi, tidak ada rencana jahat.”

Sari berteriak. Tubuhnya menggigil. Dan di hadapan Arman, sosok Dito mulai kabur seperti video buffering, lalu menghilang.

Yang tersisa hanya Sari—yang kini sadar bahwa selama tiga bulan terakhir, dia tidak pernah berselingkuh dengan siapa pun. Yang dia lakukan hanyalah berbicara dengan bayangannya sendiri di cermin, di ruang bawah sadarnya yang sakit.

Lalu Arman mendekati kursi.

Dia membuka gembok rantai.

Dia memeluk Sari yang menangis histeris.

“Tidak apa-apa,” bisik Arman. “Kita akan berobat bersama. Tapi maaf, aku harus memberitahu polisi tentang sumur itu.”

---

Tapi twist sejati terjadi ketika Arman dan Sari turun dari lantai dua.

Di lorong rahasia di balik lemari dapur, mereka menemukan sebuah pintu yang tidak pernah Arman buat.

Pintu itu terbuat dari kayu jati tua, dengan ukiran naga yang melingkar. Gagangnya dari kuningan usang. Di ambang pintu, tertulis kapur: RUANG KELUARGA — DILARANG MASUK KECUALI ANDA SUDAH MATI.

Arman membuka pintu.

Di dalam, ada ruangan yang sama persis dengan ruang tamu rumah mereka. Tapi di sofa, duduk seorang lelaki tua yang wajahnya persis seperti Arman, namun lebih tua tiga puluh tahun. Lelaki itu tersenyum.

“Akhirnya,” kata lelaki tua itu. “Aku menunggumu sejak kamu membangun lantai dua yang pertama, tiga puluh tahun lalu.”

Arman ingin bertanya. Tapi lelaki itu melanjutkan:

“Kamu pikir Sari yang gila? Kamu pikir ini cerita tentang suami istri? Buka matamu, Nak. Kamu tidak pernah menikah. Sari adalah perawat di panti jompo. Dan kamu adalah pasien skizofrenia paruh baya yang selama dua puluh tahun mengarang cerita tentang lantai dua, tentang Dito, tentang sumur.”

“Rumah ini tidak pernah ada. Perumahan Cemara Indah tidak pernah ada. Yang ada hanyalah bangsal nomor tujuh di Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi, dan kamu sedang berdiri di lorong dengan tangan diborgol ke kursi roda.”

Arman menunduk.

Tangan kanannya memang terborgol. Kursi roda di bawah kakinya berkarat. Dan suara Sari yang tadi menangis, berubah menjadi suara perawat bernama Susi yang selama ini memberinya obat setiap jam delapan malam.

“Kita kembali ke bangsal yuk, Pak,” kata Susi lembut.

Arman menangis.

Tapi sambil digiring keluar dari pintu kayu jati itu, dia sempat menoleh sekali lagi.

Lelaki tua di sofa tersenyum. Lalu mengedipkan mata. Dan untuk sepersekian detik, wajah lelaki tua itu berubah menjadi wajah Arman yang masih muda—tersenyum licik seolah semua ini adalah permainan yang sengaja ia rancang, hanya untuk melihat sejauh mana kesadarannya bisa memperdaya dirinya sendiri.

Pintu tertutup.

Terkunci dari dalam.

Dan di lorong rahasia di balik lemari dapur yang sebenarnya adalah lorong bangsal rumah sakit jiwa, Arman—atau siapa pun dia—tersenyum untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI