ANAFORA


Ruang sidang itu tidak besar, tetapi entah mengapa suara langkah sepatu hak tinggi Kemala bergema seperti di katedral. Mungkin karena dindingnya dilapisi kayu jati tua, atau mungkin karena keheningan di antara derap itu terlalu rapat, seperti kempaan udara sebelum badai menerpa.

Kemala duduk di kursi tergugat. Setelan blazer abu-abunya rapi, kerudungnya biru tua. Di hadapannya, majelis hakim berjumlah tiga orang—dua lelaki, satu perempuan. Di sebelah kiri, di kursi penggugat, duduk Nara—lelaki berambut pendek dengan kacamata tebal yang membuat matanya tampak lebih besar dari seharusnya. Ia memakai setelan jas hitam yang usianya mungkin sudah sepuluh tahun, tetapi terawat dengan baik. Di kerahnya tersemat peniti kecil berbentuk huruf 'N'.

Sidang baru saja dimulai, tetapi konflik sudah mencapai puncaknya bahkan sebelum hakim ketua mengetuk palu.

Perkaranya tidak biasa: Nara menggugat Kemala atas tuduhan pencurian bahasa.

"Penggugat, Nara Adityavarma, hadir?" tanya hakim ketua.

"Hadir, Yang Mulia." Suara Nara dalam, berwibawa, suara yang terbiasa mengajar di ruang kuliah selama dua puluh tahun.

"Tergugat, Kemala Candraprabha, hadir?"

"Hadir, Yang Mulia." Suara Kemala lebih ringan, tetapi ada getaran di ujungnya—getaran yang hanya bisa didengar oleh seseorang yang telah mengenalnya bertahun-tahun.

Hakim ketua membuka berkas perkara, mengernyitkan dahi. Mungkin ia masih mencoba memahami apa yang ia baca. Di era ketika orang bersengketa soal tanah, warisan, utang-piutang, atau pencemaran nama baik, tiba-tiba seorang lelaki dan seorang perempuan berdiri di hadapannya memperebutkan ... kata ganti orang pertama tunggal.

"Bacakan gugatan," kata hakim.

Nara berdiri. Ia membaca dengan suara yang terlatih—Nara adalah profesor linguistik forensik di universitas negeri, terbiasa berbicara di podium, terbiasa ditatap oleh ratusan mahasiswa. Akan tetapi, hari ini, suaranya mengandung sesuatu yang tidak biasa: luka.

"Saya, Nara Adityavarma, menggugat Kemala Candraprabha atas pelanggaran hak kepemilikan linguistik. Tergugat telah menggunakan kata ganti orang pertama tunggal 'aku' yang secara eksklusif milik saya, dalam konteks naratif yang tidak sah, sehingga menimbulkan kerugian identitas dan kerancuan referensial."

Ruangan hening. Panitera mengetik cepat. Hakim anggota pertama, seorang lelaki tua berkumis, mengangkat tangan.

"Maaf, Penggugat. Maksud Anda ... Anda menggugat seseorang karena menggunakan kata 'aku'?"

"Bukan sekadar kata 'aku', Yang Mulia," jawab Nara tenang. "Namun, 'aku' yang spesifik. 'Aku' yang digunakan dalam naskah novel berjudul Titik Nol, yang merupakan karya intelektual saya. Tergugat telah menulis sekuel dari novel tersebut tanpa izin, menggunakan narator orang pertama yang sama, sehingga menciptakan ilusi bahwa 'aku' dalam sekuel itu adalah 'aku' yang sama dengan 'aku' dalam novel saya."

"Ini absurd," Kemala akhirnya bersuara. "Kata 'aku' adalah kata ganti orang pertama tunggal dalam bahasa Indonesia. Ia adalah kata fungsi, bukan kata konten. Ia milik setiap penutur bahasa Indonesia. Tidak ada yang bisa memonopolinya."

Nara menoleh ke arah Kemala untuk pertama kalinya. "Saya tidak memonopoli kata 'aku'. Saya memonopoli rujukan 'aku' dalam satu semesta naratif yang saya ciptakan. Anda telah mencuri rujukan itu."

Keduanya bertatapan. Ada sejarah di antara mereka. Sejarah yang lebih panjang dan lebih rumit dari yang diketahui oleh majelis hakim.

---

Lima tahun sebelum sidang ini, Kemala adalah mahasiswi Nara. Ia duduk di bangku depan di kelas Linguistik Forensik, mata berbinar-binar setiap kali Nara menjelaskan bagaimana bahasa bisa membuktikan kejahatan, bagaimana sebuah kata bisa menjerat atau membebaskan.

Nara memerhatikannya. Bukan hanya karena Kemala cerdas—ia memang cerdas, nilai-nilainya sempurna—melainkan karena ada sesuatu dalam cara Kemala memandangnya. Sesuatu yang membuat Nara, lelaki yang sudah berusia empat puluh tiga tahun saat itu, merasa ... dilihat. Bukan sebagai profesor. Bukan sebagai ahli. Melainkan sebagai manusia.

Mereka mulai menghabiskan waktu bersama di luar kelas. Diskusi tentang deiksis, anafora, semantik, yang berlanjut hingga malam di kafe-kafe sekitar kampus. Kemala memanggilnya "Guru"—panggilan yang anehnya membuat dada Nara hangat sekaligus perih.

Nara tidak pernah mengatakan apa-apa tentang perasaannya. Ia terlalu tua, pikirnya. Ia adalah dosen, ia adalah mentor, ia adalah lelaki yang seharusnya menjaga batas. Kemala adalah mahasiswi, dua puluh dua tahun, masa depannya masih panjang. Nara tidak berhak.

Kemala lulus. Lalu Kemala menulis novel Titik Satu. Kemudian semuanya runtuh.

---

Hari kedua persidangan. Nara dipanggil sebagai saksi ahli—merangkap penggugat. Situasi yang janggal, tetapi hakim mengizinkannya karena kasus ini tidak memiliki preseden.

"Penggugat," kata hakim ketua, "jelaskan kepada majelis: apa dasar linguistik dari gugatan Anda?"

Nara berdiri di podium saksi. Ia menyalakan laptop dan menayangkan presentasi ke layar lebar. Jari-jarinya mengetik dengan tenang, tetapi di balik kacamatanya, matanya lelah.

"Yang Mulia, dalam linguistik, ada konsep yang disebut deiksis. Deiksis adalah kata atau frasa yang rujukannya bergantung pada konteks penuturan. Kata 'aku' adalah deiksis persona. Ia tidak memiliki makna tetap. Maknanya berubah tergantung siapa yang mengucapkannya."

"Benar," potong Kemala dari kursinya. "Justru karena itu, 'aku' tidak bisa dimiliki."

"Biarkan Penggugat menyelesaikan penjelasannya," tegur hakim.

Nara melanjutkan. "Namun dalam teks sastra, deiksis berperilaku berbeda. Ketika saya menulis novel dengan narator 'aku', saya menciptakan apa yang disebut deiksis fiksional atau deixis am Phantasma. 'Aku' dalam novel tidak menunjuk ke tubuh fisik saya, Nara Adityavarma, tetapi ke sebuah entitas fiksional yang konsisten sepanjang teks. Entitas itu memiliki psikologi, sejarah, dan cara berbicara yang spesifik. Ia adalah konstruksi yang saya bangun selama tujuh tahun."

"Lantas, apa yang dilakukan Tergugat?" tanya hakim.

"Tergugat menulis buku berjudul Titik Satu. Di halaman pertama, ia menulis: 'Aku masih di sini, di titik yang sama. Bedanya, sekarang aku tahu bahwa titik itu bukan nol. Ia satu. Ia awal dari sesuatu yang belum selesai.'"

Nara menayangkan halaman itu di layar.

"Kalimat itu merujuk langsung ke novel saya. 'Titik yang sama' adalah rujukan anaforis ke judul novel saya, Titik Nol. Dan 'aku' di sini diklaim sebagai 'aku' yang sama dengan narator di novel saya. Ini bukan sekadar menggunakan kata 'aku'. Ini adalah pencurian anafora."

Hakim anggota kedua, seorang perempuan paruh baya, mengerutkan dahi.

"Apa itu anafora?"

"Anafora, Yang Mulia, adalah hubungan antara satu ekspresi linguistik dengan ekspresi sebelumnya dalam wacana yang sama. Contoh: 'Ani pergi ke pasar. Ia membeli ikan.' Kata 'ia' merujuk kepada 'Ani'. Itu anafora. Dalam kasus ini, 'aku' dalam novel Tergugat merujuk kepada 'aku' dalam novel saya. Itu juga anafora. Tergugat menciptakan rantai anaforis yang menghubungkan teksnya dengan teks saya tanpa izin. Ia membuat 'aku'-nya menjadi anteseden yang sama dengan 'aku' saya."

Kemala berdiri. "Yang Mulia, saya keberatan. Penggugat menggunakan istilah teknis untuk mengaburkan fakta sederhana: tidak ada yang bisa memiliki anafora. Anafora adalah fungsi bahasa, bukan properti. Sama seperti tidak ada yang bisa memiliki gravitasi."

"Duduk, Tergugat. Anda akan mendapat giliran."

Namun Nara sudah terpancing. Ia menoleh ke arah Kemala, menatapnya langsung untuk kedua kalinya sejak sidang dimulai.

"Anda tidak sekadar menggunakan anafora," kata Nara, suaranya meninggi. "Anda mencuri roh dari anteseden itu. Anda menulis trauma yang sama. Anda menulis kenangan yang sama. Anda bahkan menulis kalimat: 'Ibu tidak pernah mengajariku cara memaafkan, karena ia sendiri tidak pernah dimaafkan.' Itu kalimat saya! Itu dari bab tujuh novel saya!"

"Itu alusi," jawab Kemala. "Bukan pencurian. Alusi adalah rujukan tidak langsung ke teks lain. Semua penulis melakukannya. Shakespeare melakukannya. Pramoedya melakukannya. Bahkan Anda melakukannya dalam novel Anda—ada alusi ke Hamlet di bab empat."

"Itu plagiarisme."

"Itu intertekstualitas."

"Kau hanya membela diri dengan istilah-istilah!" suara Nara berubah—ia menggunakan "kau", bukan "Anda". Formalitas runtuh. "Kau selalu seperti ini, Kemala. Sejak dulu. Sejak kau masih duduk di bangku kuliahku. Kau selalu pintar bersilat lidah."

Kemala menatapnya. Suaranya berubah dingin. "Dan kau, Guru, selalu seperti ini. Selalu ingin memiliki. Selalu ingin mengontrol. 'Aku'-mu, katamu? Sejak kapan 'aku' bisa dimiliki oleh seorang lelaki yang bahkan tidak bisa mengakui perasaannya sendiri?"

Ruang sidang hening.

Hakim mengetuk palu tiga kali. "Cukup. Sidang diskors sampai besok."

---

Hakim memerintahkan mediasi. Nara dan Kemala ditempatkan di ruangan kecil dengan meja bundar dan dua botol air mineral.

Mereka duduk berseberangan. Mediatornya seorang lelaki tua berkacamata yang lebih mirip pustakawan daripada pengacara.

"Saya akan keluar selama lima belas menit," kata mediator. "Silakan bicara. Atau tidak bicara. Terserah."

Ia keluar.

Pintu tertutup.

Keheningan panjang.

"Aku tidak menyangka kita akan berakhir seperti ini," kata Kemala akhirnya.

"Jangan gunakan kata 'aku' di depanku," jawab Nara dingin.

Kemala tertawa kecil. Tawa yang pahit. "Kau bahkan tidak bisa mendengar kata itu lagi tanpa merasa diserang?"

"Aku tidak merasa diserang. Aku merasa dirampok. Ada bedanya."

Kemala membuka botol air, minum. Tangannya sedikit gemetar. "Kau tahu, Guru, dulu kau mengajariku bahwa bahasa adalah milik bersama. Kau bilang, tidak ada penutur yang memiliki kata. Kata hanya dipinjam, digunakan, lalu dikembalikan ke udara. Kau bilang itu sambil menatapku. Aku ingat. Aku ingat setiap kata yang pernah kau ucapkan."

"Itu sebelum muridku mencuri seluruh semesta naratifku. Sebelum kau menulis sekuel tanpa izin. Sebelum kau—"

"Aku tidak mencuri semestamu. Aku memasukinya. Seperti orang masuk ke rumah kosong yang kau tinggalkan."

"Itu bukan rumah kosong. Itu rumah yang sengaja kubangun tanpa nama penghuni, karena penghuninya adalah setiap pembaca yang membaca. Kau menghancurkan itu. Kau memberi 'aku' itu kelanjutan yang tidak pernah kuizinkan."

Kemala meletakkan botolnya. Ia menatap Nara.

"Nara," katanya pelan, menggunakan nama—bukan "Guru"—untuk pertama kalinya sejak sidang dimulai. "Kenapa kau tidak pernah memberi nama kepada 'aku' di novelmu?"

Nara tidak menjawab.

"Kenapa?" ulang Kemala.

"Karena beberapa hal memang tidak boleh dinamai. Begitu dinamai, ia mati. Ia jadi terbatas. Ia jadi satu, padahal ia bisa banyak."

"Atau," kata Kemala, "kau tidak bisa menamainya karena 'aku' itu bukan fiksi."

Nara menatap Kemala. Rahangnya mengencang.

"'Aku' itu adalah kau sendiri, bukan?" lanjut Kemala. "Novel itu adalah memoar terselubung. Itu sebabnya kau tidak memberinya nama. Karena kalau kau beri nama, semua orang akan tahu bahwa trauma dalam novel itu adalah traumamu sendiri. Ibumu. Masa kecilmu. Lelaki kecil yang ditinggalkan ayahnya. Lelaki kecil yang menyaksikan ibunya bekerja sebagai buruh cuci. Lelaki kecil yang tumbuh menjadi profesor, tetapi tidak pernah benar-benar sembuh."

Nara tidak membantah. Tangannya mengepal di atas meja.

"Dan sekarang, kau marah kepadaku," Kemala melanjutkan, suaranya lebih lembut sekarang, "bukan karena aku mencuri 'aku'-mu, melainkan karena aku meneruskan cerita yang kau tidak berani meneruskannya sendiri. Aku memberi 'aku'-mu sebuah akhir yang kau terlalu takut untuk menulisnya."

"Akhir? Akhir apa? Kau menulis 'aku' itu bunuh diri di halaman terakhir bukumu!"

"Itu bukan bunuh diri. Itu metamorfosis. 'Aku' itu tidak mati. Ia berubah menjadi sesuatu yang lain."

"Menjadi apa?"

Kemala mengeluarkan buku Titik Satu dari tasnya. Ia membuka halaman terakhir. Membacakan:

"Aku menulis ini di titik satu. Titik di mana aku tidak lagi menjadi aku. Aku menjadi kami. Dan kami adalah semua yang pernah membaca, semua yang pernah terluka, semua yang pernah kehilangan nama."

"'Aku' itu tidak menghilang, Nara. Ia melebur. Ia menjadi kata ganti orang pertama jamak. Itu bukan bunuh diri. Itu transendensi."

Nara merebut buku itu, membacanya sendiri. Matanya bergerak cepat, menelusuri baris-baris terakhir.

"Kau tidak berhak," bisiknya. "Kau tidak berhak menyelamatkan 'aku' itu. 'Aku' itu tidak meminta diselamatkan."

"Karena kau tidak pernah meminta diselamatkan," jawab Kemala, "tetapi itu tidak berarti kau tidak butuh diselamatkan. Setiap lelaki yang mengaku kuat pasti butuh diselamatkan. Kau tahu itu."

---

Mediator kembali. Tidak ada kesepakatan. Sidang dilanjutkan.

Giliran Kemala memberikan pembelaan. Ia naik ke podium. Wajahnya tenang, tetapi suaranya membawa beban.

"Yang Mulia, saya ingin menunjukkan sesuatu."

Ia menayangkan dokumen di layar. Sebuah surel. Pengirim: Nara Adityavarma. Penerima: Kemala Candraprabha. Tanggal: lima tahun yang lalu.

Surel itu berbunyi:


Kemala,

Aku membaca cerpenmu di jurnal kampus. Bagus. Namun, ada satu hal yang menggangguku. Kau menggunakan narator orang pertama yang terlalu generik. 'Aku'-mu tidak punya suara. Ia seperti boneka yang kau gerakkan, bukan manusia yang bernapas. Coba baca novelku, 'Titik Nol'. Pelajari bagaimana 'aku' di sana punya napas sendiri.

Kalau kau mau, aku bisa mengajarimu. Secara pribadi. Di luar jam kuliah.

Salam, Nara Adityavarma


Ruangan bergumam. Nara menunduk.

"Yang Mulia," kata Kemala, "lima tahun lalu, Penggugat sendiri yang mengundang saya untuk mempelajari 'aku' dalam novelnya. Ia sendiri yang membuka pintu itu. Ia sendiri yang mengajak saya masuk ke semesta naratifnya. Dan sekarang, ia menuduh saya mencuri?"

Nara berdiri. "Itu surel pribadi! Tidak bisa dijadikan bukti!"

"Saya tidak menjadikannya bukti hukum," jawab Kemala. "Saya menjadikannya bukti moral. Bahwa 'aku' yang Penggugat klaim sebagai miliknya yang paling pribadi, sebenarnya sudah ia bagikan secara sukarela. Ia ingin 'aku' itu dipelajari, ditiru, dikagumi. Namun, begitu seseorang benar-benar melakukannya dengan baik—begitu saya menulis sekuel yang lebih laku dari novelnya—ia merasa terancam. Lelaki hebat yang tidak bisa menerima bahwa murid perempuannya melampaui dirinya."

"Ini bukan soal laku atau tidak!" suara Nara pecah. "Ini bukan soal gender!"

"Lalu, apa? Apa ini soal ego? Soal seorang guru lelaki yang tidak rela murid perempuannya lebih sukses?"

Nara terdiam. Rahangnya bergetar.

Hakim ketua mengetuk palu. "Penggugat, apakah Anda membantah telah mengirim surel ini?"

"... tidak."

"Lalu, apa dasar gugatan Anda sekarang?"

Nara menarik napas panjang. Ia menatap Kemala. Lalu menatap majelis hakim. Tangannya mencengkeram ujung podium.

"Yang Mulia, bolehkah saya menayangkan satu dokumen lagi?"

"Silakan."

Nara menayangkan surel lain. Surel yang lebih tua. Pengirim: Kemala Candraprabha. Penerima: Nara Adityavarma. Tanggal: enam tahun yang lalu.


Profesor Nara,

Saya mahasiswi Jurusan Sastra, semester tiga. Saya membaca novel Bapak, 'Titik Nol'. Saya tidak bisa tidur tiga hari. 'Aku' dalam novel itu ... saya merasa 'aku' itu adalah saya. Setiap kalimatnya. Setiap ingatannya. Bahkan trauma tentang ibu yang tidak pernah memaafkan—itu persis trauma saya.

Apakah Bapak menulis tentang saya? Namun, bagaimana mungkin? Kita tidak pernah bertemu.

Atau, apakah mungkin ... kita memiliki luka yang sama?

Saya ingin belajar dari Bapak. Saya ingin mengerti mengapa kata-kata bisa terasa begitu akrab, seolah-olah Bapak menulis tentang hidup saya.

Salam hormat, Kemala Candraprabha


Ruangan hening total.

"Yang Mulia," kata Nara, suaranya bergetar, "enam tahun lalu, Tergugat mengirim surel ini kepada saya. Ia mengklaim bahwa 'aku' dalam novel saya adalah dirinya. Ia merasa memiliki 'aku' itu bahkan sebelum ia menjadi murid saya. Jadi, pertanyaannya sekarang bukan siapa yang mencuri 'aku' dari siapa. Pertanyaannya adalah: siapa yang lebih dulu mengklaim 'aku' itu?"

Kemala berdiri, wajahnya pucat. "Itu ... itu hanya surel dari penggemar. Aku waktu itu masih muda, masih labil, aku tidak tahu apa-apa—"

"Atau," potong Nara, "kau sudah merencanakan ini sejak awal? Kau mendekatiku, menjadi muridku, belajar dariku, hanya untuk mengambil 'aku' itu dan mengklaimnya sebagai milikmu? Kau menuduhku tidak rela dilampaui. Akan tetapi, lihat dirimu. Kau ingin menjadi 'aku'. Secara harfiah. Kau menginginkan identitasku, traumaku, hidupku—karena kau tidak punya identitas sendiri."

Air mata Kemala jatuh, tetapi ia tidak menyekanya.

"Kau benar," bisiknya. "Aku tidak punya identitas sendiri. Aku hanya perempuan yang dibesarkan di panti asuhan. Aku tidak tahu siapa ayahku. Ibuku meninggalkanku. Ketika aku membaca 'Titik Nol', untuk pertama kalinya aku merasa ... memiliki sesuatu. Seseorang. Sebuah 'aku' yang bisa kutinggali. Dan sekarang kau ingin mengambilnya dariku. Kau ingin menghapusku."

---

Persidangan memasuki minggu ketiga. Kasus ini menjadi perhatian nasional. Media menyebutnya "Sidang Deiksis", "Perang Pronomina", "Gugatan Aku". Para ahli bahasa diundang ke televisi. Kolom opini dipenuhi perdebatan.

Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang saksi baru mengajukan diri. Namanya Raina. Usianya sekitar enam puluh tahun. Rambutnya putih semua, disanggul rapi. Ia duduk di kursi roda, didorong oleh seorang perawat.

"Saya tahu siapa 'aku' yang sebenarnya," kata Raina di mimbar saksi.

Nara menatap perempuan itu. Ia tidak mengenalinya. Begitu pula Kemala. Akan tetapi, ada sesuatu di dalam wajah Raina yang mengusik ingatan Nara—sesuatu yang samar, seperti kata yang hampir terucap tetapi tertahan di lidah.

"Siapa Anda?" tanya hakim.

"Nama saya Raina. Saya adalah pengasuh di panti asuhan 'Kasih Bunda' di Yogyakarta. Sudah empat puluh tahun saya bekerja di sana."

"Apa hubungan Anda dengan kasus ini?"

Raina mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. Titik Nol. Edisi pertama, sudah lusuh, sampulnya nyaris lepas.

"Saya membaca novel ini lima tahun lalu. Dan saya langsung mengenali 'aku'-nya."

"Bagaimana maksudnya?"

"'Aku' dalam novel ini—traumanya, ingatannya, bahkan dialog dengan ibunya yang tidak pernah memaafkan—saya tahu persis siapa orang yang mengalaminya. Karena saya yang merawatnya sejak ia berusia tiga tahun."

Nara berdiri. "Itu tidak mungkin. 'Aku' itu fiksi. Saya yang mengarangnya."

Raina menatap Nara dengan mata tua yang tenang. "Nak, kau mungkin mengarangnya. Akan tetapi, apa yang kau karang berasal dari sesuatu. Atau ... seseorang."

Raina bercerita. Empat puluh tahun lalu, seorang bayi perempuan ditemukan di depan panti asuhan. Tidak ada nama. Hanya ada selembar kertas bertuliskan: "Maaf, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Tolong jaga dia."

Bayi itu tumbuh di panti. Ia pendiam. Ia sering menulis. Ia menulis cerita-cerita tentang ibu yang tidak pernah ia kenal. Ia mereka-reka bagaimana ibunya, mengapa membuangnya. Ia menciptakan dialog-dialog imajiner dengan ibu itu. Dialog yang persis sama dengan dialog dalam Titik Nol.

"Nama bayi itu, setelah ia diadopsi, adalah Kemala Candraprabha," kata Raina.

Ruangan gempar.

Kemala berdiri. "Saya ... saya memang dari panti asuhan. Namun saya tidak ingat—"

"Kau tidak ingat karena kau masih kecil saat diadopsi," kata Raina. "Akan tetapi, aku ingat. Aku ingat setiap anak yang kuasuh. Dan aku ingat, beberapa tahun setelah Kemala diadopsi, ada seorang lelaki muda yang datang ke panti. Ia mencari anak yang pernah ditinggalkan di sini. Ia bilang, ibunya—yang sudah meninggal—pernah bercerita tentang adik yang dibuang. Ia ingin mencari adiknya."

"Siapa lelaki itu?" tanya hakim.

Raina menunjuk Nara. "Dia."

---

Nara mundur selangkah. "Tidak. Itu tidak mungkin. Aku tidak pernah—"

"Kau tidak ingat," kata Raina, "karena kau datang di malam hari, dua puluh tahun yang lalu. Kau masih mahasiswa. Kau membawa surat dari ibumu yang baru meninggal. Surat itu bercerita tentang adik perempuanmu yang dibuang saat lahir. Aku tidak bisa memberitahumu di mana adikmu, karena ia sudah diadopsi. Namun, aku menyimpan surat-surat itu."

Raina mengeluarkan amplop dari tasnya. Amplop tua, menguning, dengan tulisan tangan yang sudah memudar.

"Surat-surat dari ibumu kepada anak perempuannya. Kepada Kemala."

Kemala menatap amplop itu. "Itu ... itu surat untukku?"

"Ya. Ibumu menulis surat-surat itu setiap tahun, pada hari ulang tahunmu. Ia tidak pernah mengirimkannya karena ia tidak tahu ke mana. Setelah ia meninggal, Nara yang menemukan surat-surat itu. Nara yang membawanya ke panti. Akan tetapi, aku tidak bisa memberikannya kepadamu—kau sudah diadopsi, identitasmu dirahasiakan. Aku hanya bisa menyimpan surat-surat itu."

Nara duduk. Lututnya lemas. "Aku tidak ingat .... Aku tidak ingat pernah ke panti itu."

"Kau tidak ingat," kata Raina, "karena kau memilih untuk tidak ingat. Trauma, Nak. Trauma bisa menghapus ingatan."

Kemala membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Surat-surat dari ibunya—perempuan yang tidak pernah ia kenal. Surat pertama:


Anakku,

Hari ini kau genap satu tahun. Aku tidak tahu di mana kau berada. Aku tidak tahu apakah kau hidup. Akan tetapi, aku menulis ini, berharap suatu hari kau akan membacanya. Maafkan aku. Aku tidak bisa membesarkanmu. Ayahmu ... ayahmu bukan lelaki yang baik. Ia pergi sebelum kau lahir. Aku sudah punya kakakmu, Nara. Aku tidak sanggup membesarkan dua anak sendiri. Aku pengecut. Aku tahu.

Ibumu


Surat lain, bertahun-tahun kemudian:


Anakku,

Kakakmu sudah jadi mahasiswa sekarang. Ia pintar. Ia belajar tentang bahasa. Aku sering membayangkan kau juga pintar seperti dia. Mungkin kalian akan bertemu suatu hari. Mungkin kalian akan saling mengenali. Aku berdoa untuk itu.

Ibumu

Kemala membaca surat-surat itu satu per satu. Air matanya mengalir tanpa suara. Nara hanya menatap kosong ke lantai.

Di ruang sidang yang hening, sejarah yang terkubur dua puluh tahun akhirnya menemukan bentuknya. Dua bersaudara—lelaki dan perempuan—yang terpisah sejak bayi. Dua bersaudara yang bertemu kembali sebagai guru dan murid, tanpa tahu bahwa mereka berbagi darah. Dua bersaudara yang kini saling menggugat di pengadilan.

---

Sidang diskors untuk hari itu. Malam harinya, di hotel tempat Kemala menginap, seseorang mengetuk pintu.

Nara berdiri di depan pintu, membawa sebuah kotak kayu kecil. Jasnya sudah tidak rapi lagi. Rambutnya acak-acakan. Ia tampak seperti lelaki yang belum tidur berhari-hari.

"Aku perlu bicara," katanya.

Mereka duduk di balkon. Angin malam Jakarta hangat, bercampur asap dan suara klakson dari jalanan di bawah.

"Aku tidak tahu," kata Nara. "Aku sungguh tidak tahu."

"Tentang apa?"

"Tentang ... kau. Tentang adikku."

Nara membuka kotak kayu itu. Isinya: surat-surat lain. Tulisan tangan ibunya. Surat-surat yang tidak pernah diserahkan ke panti. Surat-surat yang Nara simpan sendiri.

"Setelah ibu meninggal, aku menemukan ini di lemari bajunya. Surat-surat yang tidak pernah ia kirim. Semuanya ditujukan kepada seorang anak yang ia panggil 'kamu'. Tidak ada nama. Aku tidak tahu kalau 'kamu' itu adalah adikku. Aku pikir ... aku pikir itu hanya tulisan ibuku yang sedang sedih."

Kemala membaca surat-surat itu. Salah satunya:

Kamu,

Aku menikah lagi sekarang. Suamiku baik. Ia tidak tahu tentangmu. Hanya Nara yang tahu—aku bercerita kepadanya sebelum aku mati. Ia berjanji akan mencarimu. Aku harap ia menepati janjinya. Aku harap kalian bertemu.

Ibumu yang selalu menyesal


"Nara," bisik Kemala, "jadi kau tahu? Sebelum kau datang ke panti, kau sudah tahu bahwa aku ada?"

"Aku tahu. Ibu bercerita sebelum ia meninggal. Akan tetapi, aku ... aku tidak ingat. Setelah ibu meninggal, ada periode dalam hidupku yang kosong. Aku hanya ingat kuliah, belajar, menulis. Aku tidak ingat pernah ke panti. Aku tidak ingat mencari adikku."

"Trauma," kata Kemala. "Kau menghapus ingatanmu sendiri."

"Namun aku menulis novel," lanjut Nara. "Aku menulis Titik Nol. Dan di novel itu, ada trauma tentang ibu, tentang kehilangan, tentang seseorang yang hilang. Aku pikir itu fiksi. Akan tetapi, ternyata ... ternyata itu adalah ingatan yang dikubur. Ingatan tentang adikku yang hilang. Tentang kau."

Kemala menatap kakaknya. Lelaki yang dulu adalah profesornya, mentornya, gurunya. Lelaki yang tanpa sadar ia cari sepanjang hidupnya. Lelaki yang sekarang duduk di hadapannya dengan mata merah dan suara serak.

"Kenapa kau tidak pernah mengatakan apa-apa? Tentang perasaanmu?"

Nara menoleh. "Perasaan apa?"

"Aku tahu kau mencintaiku. Aku tahu sejak dulu. Sejak aku masih mahasiswi. Aku melihatnya di matamu. Namun, kau tidak pernah mengatakan apa-apa. Kau memilih diam. Kau memilih menjadi guru yang menjaga jarak. Dan aku ... aku juga mencintaimu, Nara. Aku mencintai profesorku. Aku mencintai lelaki yang dua puluh tahun lebih tua dariku. Dan itu menghancurkanku, karena aku pikir itu tidak pantas, itu tidak boleh, itu—"

"Kita saudara," potong Nara, suaranya pahit. "Kita saudara. Semua perasaan itu ... tidak boleh."

Mereka berdua diam. Angin malam Jakarta berembus. Di kejauhan, sirene ambulans meraung.

"Kita dihukum oleh bahasa," bisik Nara. "Oleh kata 'aku' yang tidak bisa kita miliki sendiri-sendiri. Oleh kata 'kita' yang tidak bisa kita ucapkan."

---

Keesokan harinya, sebelum sidang dimulai, Nara dan Kemala bertemu di kantin pengadilan. Pertemuan yang tidak direncanakan. Nara membawa dua cangkir kopi. Kemala menerima satunya.

"Aku tidak akan mencabut gugatan," kata Nara.

"Aku tahu."

"Namun aku ingin menawarkan sesuatu."

"Apa?"

"Kita tulis buku ketiga. Bersama. Judulnya Titik Dua."

Kemala terdiam.

"Dalam Titik Dua," lanjut Nara, "naratornya bukan 'aku'. Bukan 'kami'. Melainkan 'engkau'. Sepanjang buku. 'Engkau' yang berbicara kepada 'aku'. 'Engkau' yang menyapa trauma itu sebagai sesuatu yang terpisah, yang bisa dilihat dari jarak. Aku menulis kepada engkau. Engkau menulis kepada aku. Dua saudara yang saling menulis tanpa pernah benar-benar berbicara."

"Itu ... ide yang bagus," aku Kemala pelan.

"Namun ada satu syarat."

"Apa?"

"Nama kita tidak boleh tercantum di sampul. Tidak 'Nara'. Tidak 'Kemala'. Hanya satu kata: Anonim."

"Kenapa?"

"Karena 'anonim' adalah kata yang tidak memiliki 'aku'. Ia berasal dari bahasa Yunani anonymos: an- berarti 'tanpa', onoma berarti 'nama'. Tanpa nama. Tanpa klaim. Tanpa kepemilikan. Buku itu tidak akan menjadi milikku atau milikmu. Ia akan menjadi milik bahasa itu sendiri. Ia akan menjadi milik ibu kita, yang menulis surat-surat tanpa nama."

Kemala tersenyum. "Itu usulan yang sangat buruk."

"Kenapa?"

"Karena kau masih berusaha mengontrol. Kau masih ingin menentukan bagaimana cerita ini berakhir. 'Kita tulis bersama', 'nama kita tidak boleh ada', 'anonim'. Semua itu masih keinginanmu, Nara. 'Engkau' masih kau yang menentukan. Lelaki yang menentukan segalanya."

"Lalu, apa maumu?"

Kemala mengeluarkan laptop dari tasnya. Ia membuka sebuah berkas.

"Aku sudah menulis buku ketiga. Sendirian. Semalaman. Judulnya bukan Titik Dua, melainkan Titik Koma."

Nara membaca layar laptop itu.

Novel itu dimulai dengan kalimat:

Aku menulis ini di titik koma. Bukan titik nol seperti kakakku, bukan titik satu sepertiku dulu. Titik koma; jeda yang tidak mengakhiri dan tidak memulai. Jeda yang menggantung. Seperti hubungan kami. Seperti darah yang sama yang mengalir di dua tubuh yang berbeda. Seperti cinta yang tidak bisa dinamai karena ia adalah cinta saudara sekaligus bukan.

Pada halaman-halaman berikutnya, Kemala menulis tentang seorang lelaki dan seorang perempuan yang berseteru di pengadilan karena memperebutkan kata 'aku'. Tentang ibu yang membuang satu anaknya dan membesarkan yang lain. Tentang panti asuhan. Tentang surat-surat yang tidak pernah dikirim. Tentang trauma yang diwariskan seperti bahasa ibu.

Namun, di halaman terakhir, ada alur cerita yang tidak Nara duga:

Dan di titik koma ini, aku sadar: akulah yang mengarang semua ini. Nara tidak nyata. Kemala tidak nyata. Ibu tidak nyata. Hanya bahasa yang nyata. Bahasa yang menciptakan kami, mempertemukan kami, memisahkan kami, dan kini—dalam titik koma ini—meninggalkan kami menggantung.

Aku adalah sebuah kalimat yang belum selesai.

Dan kalimat itu adalah engkau, pembaca. Engkau yang selama ini mengira sedang membaca cerita. Padahal engkaulah yang sedang ditulis oleh cerita ini. Engkau yang adalah Nara dan Kemala sekaligus. Lelaki dan perempuan. Kakak dan adik. Penggugat dan tergugat. Pencinta dan yang dicintai.

Titik koma;

Tidak ada penutup.

Halaman terakhir kosong setelah titik koma.

Nara mendongak dari layar. "Ini ... ini metafiksi."

"Ya."

"Kau menjadikan kita tokoh dalam cerita yang tokohnya sadar bahwa mereka tokoh dalam cerita."

"Ya."

"Dan kau mengakhirinya dengan menggantung, menyerahkan kelanjutannya kepada pembaca."

"Ya."

Nara tertawa. Tertawa yang aneh, campuran antara kagum, marah, dan lelah.

"Kau selalu selangkah di depanku, ya?"

"Aku belajar dari yang terbaik," jawab Kemala. "Dari kakakku sendiri."

---

Sidang terakhir. Hakim ketua membacakan putusan.

Kasus ini tidak punya preseden. Tidak ada pasal dalam KUHP atau KUHPerdata yang mengatur pencurian deiksis atau pembajakan anafora. Majelis hakim bekerja keras merumuskan logika hukum yang bisa diterapkan.

"Menimbang," kata hakim, "bahwa kata 'aku' dalam bahasa Indonesia adalah kata ganti orang pertama tunggal yang bersifat publik dan tidak dapat dimonopoli oleh siapa pun. Namun, menimbang pula bahwa rujukan spesifik dari kata 'aku' dalam sebuah karya naratif dapat dianggap sebagai bagian dari hak cipta jika rujukan tersebut memiliki orisinalitas dan distingsi yang cukup."

"Menimbang bahwa novel Titik Nol karya Nara Adityavarma telah menciptakan seorang narator 'aku' yang khas, dengan sejarah personal, trauma, dan suara naratif yang spesifik, yang merupakan hasil kreasi intelektual selama bertahun-tahun."

"Menimbang bahwa novel Titik Satu karya Kemala Candraprabha secara eksplisit dan implisit merujuk kepada narator 'aku' yang sama, yang dapat dibuktikan dari hubungan anaforis antarteks yang konsisten."

"Maka, majelis hakim memutuskan: Satu, mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian. Dua, menyatakan bahwa Tergugat telah melakukan pelanggaran hak cipta dalam bentuk pencurian rujukan anaforis. Tiga, menghukum Tergugat untuk menarik seluruh eksemplar novel Titik Satu dari peredaran. Empat, menghukum Tergugat untuk membayar ganti rugi materiil dan immateriil sebesar lima ratus juta rupiah."

Palu diketuk.

Kemala menunduk. Nara menatap lurus ke depan, tanpa ekspresi.

Namun, sebelum Kemala dibawa keluar oleh petugas, Nara berdiri.

"Yang Mulia, saya ingin menyampaikan sesuatu."

"Silakan."

"Saya, Nara Adityavarma, menghibahkan seluruh hak cipta atas novel Titik Nol dan narator 'aku' di dalamnya kepada Tergugat, Kemala Candraprabha. Mulai hari ini, 'aku' itu miliknya. Sepenuhnya. Ia boleh melanjutkannya, mengubahnya, bahkan menghancurkannya."

Ruangan gempar.

Hakim ketua melepas kacamatanya. "Penggugat, Anda menyadari bahwa ini akan membatalkan seluruh gugatan Anda? Bahwa Anda pada dasarnya menyerahkan objek sengketa kepada pihak yang Anda gugat?"

"Saya sadar, Yang Mulia."

"Dan Anda tetap pada keputusan ini?"

"Ya."

"Bolehkah majelis tahu alasannya?"

Nara menoleh ke arah Kemala. Untuk pertama kalinya, ia tersenyum.

"Karena saya baru sadar bahwa 'aku' tidak bisa dimiliki, tidak bisa dimonopoli, tidak bisa digugat. 'Aku' adalah kata yang diwariskan ibu kepada dua anaknya—kepada saya dan kepada adik saya." Suaranya bergetar. "Adik saya, Yang Mulia. Perempuan ini adalah adik kandung saya."

Ruangan hening. Kemala menatap Nara dengan mata yang berkaca-kaca.

"Kami bertemu sebagai guru dan murid. Kami tidak tahu bahwa kami bersaudara. Dan sekarang, setelah kami tahu, saya tidak bisa lagi mengklaim 'aku' sebagai milik saya. Karena 'aku' saya adalah 'aku' dia. Karena kami berbagi ibu yang sama. Karena trauma yang saya tulis di Titik Nol adalah trauma yang dia rasakan juga. Karena bahasa ibu kami adalah bahasa yang sama."

Nara berjalan mendekati Kemala. "Dengan mencuri 'aku'-ku, kau justru membebaskannya. Dan sekarang, dengan menghibahkannya, aku juga ikut membebaskannya. 'Aku' itu bukan lagi milikku atau milikmu. Ia milik ibu. Ia milik bahasa. Dan bahasa tidak butuh pengadilan."

Kemala berdiri. Air matanya jatuh. "Kakak ...."

Nara memeluknya. Di ruang sidang yang hening, dua bersaudara—lelaki dan perempuan—akhirnya bertemu kembali. Bukan sebagai guru dan murid. Bukan sebagai penggugat dan tergugat. Melainkan sebagai kakak dan adik.

---

Setahun setelah sidang.

Nara dan Kemala duduk di balkon rumah Nara di Bogor. Di antara mereka, ada laptop yang menampilkan berkas kosong. Pohon mangga di halaman bergoyang pelan oleh angin petang.

"Kita sudah sepakat?" tanya Kemala.

"Sepakat."

"Tidak ada gugatan lagi?"

"Tidak ada."

"Tidak ada klaim kepemilikan?"

"Tidak ada."

"Kalau begitu, mari kita mulai."

Mereka menulis bersama, bergantian. Satu kalimat Nara, satu kalimat Kemala. Satu paragraf Nara, satu paragraf Kemala. Tidak ada yang boleh mengedit tulisan yang lain. Tidak ada yang boleh menghapus. Hanya menambahkan. Hanya melanjutkan.

Dan mereka menulis tentang seorang lelaki dan seorang perempuan yang berseteru di pengadilan karena memperebutkan kata 'aku'. Tentang ibu yang membuang satu anaknya. Tentang panti asuhan. Tentang surat-surat yang tidak pernah dikirim. Tentang titik nol, titik satu, titik koma. Tentang segala yang sudah terjadi.

Namun kali ini, naratornya bukan 'aku'. Bukan 'engkau'. Bukan 'kami'.

Naratornya adalah 'ia'.

'Ia' yang berarti orang ketiga tunggal. 'Ia' yang berjarak. 'Ia' yang bisa menatap 'aku' dan 'engkau' dari luar, tanpa harus memihak, tanpa harus memiliki. 'Ia' yang menyaksikan dua bersaudara menemukan satu sama lain melalui pertarungan kata-kata.

Dan di halaman terakhir, mereka menulis:

Ia menutup laptopnya. Di balkon, dua bersaudara itu tertidur. Lelaki dan perempuan. Kakak dan adik. Di pangkuan mereka, secarik kertas bertuliskan: 'ibu'.

Kata itu tidak akan mereka perebutkan. Karena kata itu adalah anteseden dari segala 'aku'. Kata yang dari sanalah semua anafora bermula.

Ia tersenyum. Dan dalam tidurnya, mereka bermimpi tentang perempuan yang sama—perempuan yang menulis surat-surat tanpa nama, yang mengajarkan bahwa bahasa adalah satu-satunya warisan yang tidak bisa dibagi, tidak bisa dipecah, tidak bisa dimiliki.

Karena bahasa adalah ibu.

Dan ibu selalu utuh.

---

Kamu selesai membaca cerpen ini.

Kamu mungkin berpikir bahwa Nara dan Kemala adalah tokoh fiksi, bahwa persidangan itu hanya karangan, bahwa konsep-konsep linguistik yang disebut-sebut hanyalah bumbu intelektual.

Namun, coba periksa rak bukumu. Atau perpustakaan digitalmu. Siapa tahu ada novel berjudul Titik Nol, atau Titik Satu, atau Titik Koma. Siapa tahu nama pengarangnya adalah Nara Adityavarma, atau Kemala Candraprabha, atau keduanya, atau tidak ada namanya sama sekali.

Dan kalau kau menemukannya, jangan buru-buru percaya.

Karena mungkin saja kau sendiri sedang ditulis oleh seseorang. Seseorang yang menggunakan kata ganti orang pertama tunggal, dan kau—tanpa sadar—adalah rujukan anaforisnya.

Atau mungkin kau adalah 'aku' yang selama ini mereka perebutkan. Kau adalah kakak dan adik sekaligus. Kau adalah lelaki dan perempuan sekaligus. Kau adalah penggugat dan tergugat sekaligus.

Dan kau tidak pernah tahu.

Karena 'aku' tidak pernah tahu.

Itu sebabnya ia disebut 'aku'. Itu sebabnya ia selalu mencari antesedennya. Itu sebabnya ia selalu kembali ke ibu.

---

Selesai.


Sukabumi, 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI