Arsip Kesalahdengaran
Peradaban ini tidak dibangun oleh orang-orang yang saling memahami. Ia dibangun oleh serangkaian kesalahdengaran yang kebetulan bertahan cukup lama hingga berubah menjadi adat. Seseorang pernah berkata "air", sementara yang lain mendengar "arah". Maka mereka mengikuti sungai untuk mencari jalan pulang. Berabad-abad kemudian para ahli geografi mengira sungai memang diciptakan sebagai penunjuk arah, padahal ia hanya gema dari telinga yang terlambat.
Sejak itu aku mencurigai seluruh sejarah sebagai transkripsi yang keliru. Kerajaan-kerajaan berdiri karena sebuah bisikan didengar sebagai perintah. Agama-agama tumbuh karena metafora diperlakukan sebagai laporan. Cinta lahir ketika seseorang gagal membedakan antara panggilan dan gema namanya sendiri.
Barangkali tidak ada satu pun bahasa yang benar-benar berhasil mengatakan apa yang dimaksudkannya. Namun justru dari kegagalan itulah dunia memperoleh bentuk. Sebab kesalahdengaran tidak sekadar mengubah bunyi; ia menggeser nasib. Dan setiap kali dua manusia merasa saling memahami, mungkin yang sesungguhnya terjadi hanyalah mereka sedang berbagi jenis kekeliruan yang sama.
---
Republik Para Sinonim
Di sebuah negeri, semua warga lahir sebagai sinonim. Mereka diajari bahwa setiap orang dapat menggantikan orang lain, sebagaimana satu kata dapat menggantikan kata yang hampir sama. Karena itu tidak ada yang merasa perlu memiliki wajah yang khas. Kesedihan dipinjamkan. Kebahagiaan dipertukarkan. Bahkan kematian dapat diwakilkan oleh tetangga.
Namun pada suatu hari seorang anak menangis dengan cara yang belum pernah dilakukan siapa pun. Tangisnya tidak dapat diterjemahkan ke dalam tangis yang lain. Para tetua kebingungan. Mereka membuka seluruh kamus negeri itu, tetapi tidak menemukan padanan bagi air mata tersebut.
Sejak hari itu republik mulai retak. Orang-orang menyadari bahwa tidak ada sinonim bagi kehidupan yang sungguh-sungguh dijalani. Dua kata boleh saling mendekati, tetapi tidak pernah saling mewarisi sejarah. Dua manusia boleh mengucapkan kalimat yang sama, tetapi masing-masing mengucapkannya dari tubuh yang berbeda.
Maka kamus ditutup, dan untuk pertama kalinya negeri itu belajar bahwa keunikan bukanlah sifat, melainkan riwayat yang tak dapat dipertukarkan.
---
Bahasa yang Bermigrasi ke Tubuh
Pada mulanya bahasa tinggal di dalam mulut. Ia ringan, dapat dihapus, dapat diperbaiki. Namun semakin lama manusia mengucapkan kata-kata yang sama, bahasa merasa lelah menjadi suara. Ia mulai mencari tempat tinggal yang lebih sunyi.
Sebagian menetap di telapak tangan, menjadi garis-garis yang dibaca para peramal. Sebagian lagi pindah ke punggung, menjelma beban yang tak dapat dijelaskan. Ada bahasa yang memilih tinggal di lutut orang-orang tua sehingga setiap langkah menjadi kalimat yang semakin pendek. Ada pula bahasa yang bersembunyi di sekitar mata hingga tangisan berubah menjadi bentuk tulisan yang hanya dapat dibaca oleh mereka yang pernah kehilangan.
Lalu tibalah suatu masa ketika mulut tak lagi menjadi pusat percakapan. Tubuhlah yang berbicara lebih dahulu. Cara seseorang duduk menjadi dialek. Cara menunggu menjadi aksen. Cara memaafkan menjadi morfologi yang hanya dimiliki satu kehidupan.
Sejak itu aku berhenti mendengarkan ucapan manusia. Aku membaca cara mereka memikul kantong belanja, cara mereka menutup pintu tanpa membantingnya, cara mereka memandang hujan dari balik jendela. Di sanalah bahasa menemukan bentuknya yang paling jujur: ketika ia berhenti menjadi kata dan memilih menjadi kebiasaan.
---
Musim Ketika Semua Kata Menjadi Verba
Musim itu datang tanpa hujan. Pagi-pagi sekali orang-orang terbangun dan mendapati seluruh nomina telah menghilang. Tidak ada lagi rumah, hanya menghuni. Tidak ada lagi laut, hanya mengombak. Tidak ada lagi pohon, hanya menghijau. Bahkan tidak ada lagi manusia, hanya menjalani.
Pada awalnya semua orang ketakutan. Mereka tidak lagi dapat memiliki sesuatu, sebab kepemilikan memerlukan benda. Mereka hanya dapat ikut berlangsung bersama dunia. Tak seorang pun dapat berkata, "Ini milikku." Yang dapat mereka katakan hanyalah, "Aku sedang bersama sesuatu yang terus menjadi."
Aneh sekali, peperangan segera berkurang. Tidak ada yang dapat merampas gunung jika gunung bukan benda, melainkan sedang menggunung. Tidak ada yang dapat memenjarakan sungai jika sungai hanyalah mengalir yang tak pernah selesai. Tidak ada yang dapat menguasai langit jika langit hanyalah membiru yang terus berpindah dari mata ke mata.
Ketika musim itu berakhir, nomina kembali pulang ke dalam bahasa. Orang-orang bersorak karena dunia terasa akrab lagi. Namun diam-diam mereka membawa pulang satu pengetahuan yang tak lagi dapat dilupakan: bahwa segala sesuatu yang mereka sebut benda sesungguhnya hanya gerak yang terlalu lama tinggal di satu tempat hingga tampak seperti tetap.
---
Penerjemah bagi Bahasa yang Belum Pernah Lahir
Di ujung sebuah kota berdiri kantor kecil yang tidak memiliki papan nama. Orang-orang datang ke sana membawa mimpi yang gagal mereka ceritakan, penyesalan yang tidak menemukan tata bahasanya, dan kegembiraan yang selalu pecah ketika diucapkan. Di dalam kantor itu bekerja seorang penerjemah yang tidak menerjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain. Ia menerjemahkan dari sesuatu yang belum menjadi bahasa menuju sesuatu yang hampir dapat dipahami.
Mejanya dipenuhi naskah tanpa aksara. Setiap halaman tampak kosong, tetapi ia membacanya dengan sangat perlahan, seolah-olah keputihan kertas menyimpan sintaksis yang lebih tua daripada tinta. Kadang ia berhenti lama di sebuah ruang kosong, lalu menuliskan satu koma. Kadang ia hanya menggeser jarak antarhuruf, dan seseorang yang bertahun-tahun tidak mampu menangis tiba-tiba merasa dadanya terbuka.
Suatu hari aku bertanya kepadanya, "Bahasa apa yang sedang kauterjemahkan?"
Ia menjawab, "Bahasa yang selalu diucapkan sebelum mulut memutuskan untuk berbicara."
Aku melihat ke luar jendela. Pepohonan bergoyang tanpa suara. Seekor anjing mengangkat kepalanya ke arah angin. Awan perlahan mengubah bentuknya. Semuanya tampak sedang mengatakan sesuatu yang tidak memerlukan kosakata.
Saat itulah aku menyadari bahwa mungkin manusia tidak pernah menciptakan bahasa. Kita hanya terlambat menerjemahkan percakapan yang sejak awal telah berlangsung di antara segala sesuatu.
---
Aksen
Konon, pada masa yang sangat tua, seluruh makhluk mengucapkan dunia dengan kata yang sama. Tidak ada logat. Tidak ada dialek. Bahkan angin dan batu mempunyai pelafalan yang identik. Dunia terasa sempurna, tetapi tidak memiliki jarak. Segala sesuatu terlalu mudah saling dipahami sehingga tidak ada alasan untuk mendekat.
Lalu suatu pagi bumi bergeser sedikit.
Begitu sedikit hingga tidak ada gunung yang runtuh. Tidak ada laut yang tumpah. Hanya cara bunyi keluar dari mulut yang berubah.
Sejak hari itu setiap lembah memiliki intonasinya sendiri. Setiap pantai mengembangkan ritme yang berbeda. Burung-burung mulai menyanyi dengan tekanan suku kata yang tidak sama. Bahkan hujan yang jatuh di utara dan hujan yang jatuh di selatan terdengar seperti dua bahasa yang saling mengingat asal-usulnya.
Manusia menyebutnya aksen.
Padahal aksen bukan perubahan bunyi.
Ia adalah cara bumi mengingat bahwa perjalanan meninggalkan bekas pada suara.
Mungkin karena itulah kita dapat mengenali seseorang bahkan ketika ia mengucapkan kata yang sama dengan orang lain. Yang kita dengar bukan hanya lidahnya. Kita mendengar sungai yang pernah diseberanginya, musim yang pernah ditunggunya, dan kesunyian yang diam-diam membentuk rongga mulutnya.
Setiap aksen adalah autobiografi geografi yang memilih ditulis dengan udara.
---
Museum Keheningan
Di tengah ibu kota terdapat museum yang paling sunyi. Tidak ada lukisan. Tidak ada patung. Tidak ada benda bersejarah. Yang dipamerkan hanyalah semua kalimat yang batal diucapkan manusia.
Di ruang pertama tersimpan permintaan maaf yang tertahan di tenggorokan seorang ayah.
Di ruang kedua dipajang ribuan kata cinta yang selalu berubah menjadi candaan karena takut ditolak.
Di ruang ketiga tersusun rapi seluruh pertanyaan yang tidak pernah diajukan kepada orang-orang yang telah meninggal.
Tidak ada penjaga.
Karena keheningan tidak memerlukan pengawasan.
Ia hanya memerlukan seseorang yang bersedia tinggal cukup lama di dalamnya.
Aku berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain. Anehnya, setiap kalimat yang tidak pernah diucapkan itu masih hidup. Mereka bernapas pelan, saling memanggil tanpa bunyi, seperti ikan yang berenang di dalam akuarium bening.
Ketika hendak pulang, aku melihat sebuah ruang kosong yang belum diberi nomor.
Di pintunya tertulis:
"Untuk semua kata yang tidak akan pernah mempunyai kesempatan lahir."
Aku tidak masuk.
Sebab aku tahu ruangan itu sedang dibangun oleh setiap detik yang sedang kita jalani.
Komentar
Posting Komentar