Tata Bahasa bagi Burung yang Tidak Pernah Ada

Pada mulanya aku mengira bahasa adalah jendela. Dari sana dunia tampak memasuki mataku seperti cahaya memasuki rumah. Tetapi kemudian seseorang membuka jendela itu, dan yang kulihat bukan dunia, melainkan sebuah peta. Di atas peta itu, gunung-gunung ternyata tersusun dari kata benda, sungai-sungai mengalir sebagai kata kerja, sedangkan laut hanyalah kumpulan tanda baca yang lupa menutup kalimatnya sendiri.

Aku berjalan di atas peta itu. Setiap langkah mengubah morfologi tanah. Bukit-bukit meluruh imbuhannya; lembah-lembah kehilangan akarnya. Pohon-pohon menjatuhkan daun-daun berupa fonem yang beterbangan seperti burung kecil. Ketika seekor burung hinggap di bahuku, ia berkicau dalam bunyi yang belum memiliki makna. Aku menyebutnya bahasa purba. Burung itu tertawa, sebab baginya bunyi bukan asal-usul makna; bunyi hanyalah sarang.

Lalu aku melihat sarang itu.

Ternyata sarang bukan terbuat dari ranting, melainkan dari metafora yang saling menganyam. Setiap metafora membawa sehelai rumput dari tempat lain: langit meminjam warna laut, laut meminjam kedalaman mata, mata meminjam gelap malam, malam meminjam sunyi batu, dan batu diam-diam meminjam usia dari waktu yang telah mati. Ketika anyaman itu selesai, lahirlah seekor burung yang seluruh tubuhnya terdiri atas hubungan-hubungan.

Burung itu terbang.

Tetapi langit yang dilaluinya bukan langit. Ia adalah halaman kosong tempat segala kalimat bermigrasi. Awan-awan merupakan paragraf yang lupa kepada pokok pikirannya. Hujan adalah proses penyuntingan; setiap tetes menghapus kata yang terlalu yakin kepada dirinya sendiri. Petir hanyalah editor yang kehilangan kesabaran.

Aku mencoba menangkap burung itu dengan sebuah definisi.

Definisi itu berubah menjadi sangkar.

Sangkar itu berubah menjadi kamus.

Kamus itu berubah menjadi kota.

Dan kota itu ternyata dibangun dari sinonim-sinonim yang saling curiga.

Di sana setiap rumah memiliki arti yang hampir sama, tetapi tidak ada satu pun pintu yang dapat saling dipertukarkan. Sebab makna, seperti penghuni, selalu membawa sejarahnya sendiri. Kata "pulang" tinggal bersebelahan dengan kata "kembali", namun setiap malam keduanya saling mendengar tangis yang berbeda.

Di alun-alun kota berdiri sebuah menara yang disebut Metafora. Orang-orang menaikinya agar dapat melihat dunia dari ketinggian. Namun ketika sampai di puncak, mereka menemukan menara itu hanyalah bayangan dari pohon. Pohon itu sendiri ternyata tumbuh dari sebuah akar yang bukan akar, melainkan pertanyaan: apakah setiap nama sesungguhnya sedang menyamarkan sesuatu yang lebih tua daripada dirinya?

Aku menggali pertanyaan itu.

Di bawahnya kutemukan sebuah fosil.

Fosil itu berbentuk huruf.

Ketika kusentuh, huruf tersebut retak menjadi cermin.

Di dalam cermin kulihat wajahku tersusun dari kalimat-kalimat yang pernah diucapkan orang lain. Bahkan diamku ternyata hanyalah klausa bawahan yang belum menemukan induk kalimatnya.

Sejak saat itu aku berhenti mencari arti.

Aku mulai mencari hubungan.

Karena makna ternyata tidak tinggal di dalam kata, sebagaimana burung tidak tinggal di dalam sayapnya. Makna tinggal pada lintasan yang ditinggalkan ketika seekor burung melintasi langit; lintasan yang tak dapat dilihat, tetapi membuat arah menjadi mungkin.

Dan mungkin bahasa memang bukan rumah bagi kenyataan.

Bahasa adalah burung.

Burung adalah metafora.

Metafora adalah sarang.

Sarang adalah tata bahasa yang sedang bermimpi menjadi hutan.

Sedangkan hutan hanyalah sebuah kalimat panjang yang terus menumbuhkan cabang, hingga pada akhirnya setiap daun menjadi sebuah lidah, setiap lidah menjadi sebuah nama, setiap nama menjadi sebuah pintu, dan setiap pintu, ketika dibuka, kembali memperlihatkan jendela yang dahulu kukira menghadap dunia—padahal sejak awal ia hanya menghadap bahasa yang sedang belajar memimpikan dunia.

---

Museum bagi Metafora yang Kehilangan Asal-Usul

Ada sebuah museum yang tidak menyimpan benda, melainkan hubungan. Di sana setiap metafora dipajang di dalam vitrin kaca, tetapi labelnya selalu menunjuk kepada metafora lain. "Mata adalah jendela," demikian tertulis pada sebuah kartu kecil. Ketika pengunjung mencari jendelanya, mereka hanya menemukan tulisan lain: "Jendela adalah kelopak bagi rumah." Rumah itu sendiri diberi keterangan: "Rumah adalah kalimat yang mengenakan dinding." Dan kalimat, ketika akhirnya ditemukan, ternyata hanyalah sungai yang sedang menyamar menjadi tata bahasa.

Aku menghabiskan bertahun-tahun berjalan dari satu label ke label berikutnya. Tak sekali pun aku berhasil mencapai benda yang disebut kenyataan. Yang kutemukan hanyalah lorong-lorong semantik, tempat makna berpindah seperti cahaya yang memantul di antara dua cermin. Setiap pantulan melahirkan pantulan lain, hingga tak ada lagi yang dapat dibedakan: mana cahaya, mana bayangannya, mana ingatan tentang keduanya.

Seorang penjaga museum berkata bahwa semua bahasa bekerja demikian. Kata tidak memegang dunia; kata hanya memegang tangan kata yang lain. Seperti akar-akar pohon di bawah tanah, mereka saling bersentuhan tanpa pernah melihat matahari yang sama.

Aku bertanya kepadanya, di manakah benda pertama yang melahirkan seluruh metafora?

Ia tersenyum, lalu menyerahkan sebuah cermin.

Ketika kulihat ke dalamnya, wajahku tersusun dari berbagai idiom. Dahiku adalah langit yang dipinjam dari cuaca. Mataku adalah dua telaga yang dipinjam dari musim hujan. Mulutku adalah pintu yang dipinjam dari arsitektur. Bahkan darahku ternyata hanyalah tinta yang lupa kepada buku tempat ia pernah dituliskan.

Aku mulai curiga bahwa tubuh pun adalah tata bahasa.

Tulang-belulang ialah sintaksis yang menjaga agar daging tidak berubah menjadi ocehan. Nadi adalah prosodi yang mengatur tekanan bunyi kehidupan. Napas merupakan jeda antarklausa; jika jeda itu terlalu panjang, seluruh paragraf yang bernama manusia akan dianggap selesai.

Di ruang paling belakang museum terdapat sebuah benda yang tidak diberi nama. Semua pengunjung melewatinya tanpa sadar, sebab ia selalu berubah menjadi sesuatu yang paling akrab bagi siapa pun yang melihatnya.

Bagiku, ia berubah menjadi sebuah kamus.

Kubuka halaman pertama.

Di sana tidak ada definisi.

Hanya sebuah anak panah yang menunjuk ke halaman berikutnya.

Halaman berikutnya menunjuk ke halaman setelahnya.

Begitu seterusnya.

Seluruh kamus ternyata dibangun dari penundaan. Definisi hanyalah perjalanan yang menyamar sebagai tujuan. Kata-kata tidak pernah berhenti pada dirinya sendiri; mereka hidup dari kebiasaan saling mengasingkan makna agar pencarian tetap berlangsung.

Maka aku menutup kamus itu.

Seketika museum runtuh menjadi hutan.

Rak-rak berubah menjadi batang pohon.

Label-label berubah menjadi lumut.

Huruf-huruf menjelma biji yang diam-diam menunggu hujan.

Di sana aku melihat seekor rusa memakan sebuah perumpamaan. Dari tanduknya tumbuh cabang-cabang kalimat. Di setiap ujung cabang bergelantungan buah-buah yang jika dibelah tidak berisi daging, melainkan bahasa yang sedang bermimpi menjadi dunia.

Barangkali itulah sebabnya kita terus berbicara.

Bukan karena dunia membutuhkan nama.

Melainkan karena nama membutuhkan dunia yang lain setiap kali ia diucapkan.

Dan setiap metafora, sesungguhnya, hanyalah pintu yang dibuka oleh pintu lain, menuju rumah yang dibangun dari rumah-rumah yang belum selesai dibayangkan oleh bahasa.

---

Bahasa yang Menerjemahkan Dirinya Sendiri

Konon, sebelum segala sesuatu memiliki nama, dunia berbicara dalam dialek yang tidak mengenal benda. Gunung bukan gunung, melainkan kecenderungan bumi untuk mengingat langit. Laut bukan laut, melainkan tata bahasa yang memilih konjugasi cair. Angin bukan angin, melainkan aksen yang dipakai ruang ketika memanggil dirinya sendiri dari kejauhan.

Lalu manusia datang membawa kamus.

Mereka mengira sedang memberi nama kepada dunia, padahal mereka hanya sedang menerjemahkan satu metafora ke metafora lain. "Gunung," kata mereka. Tetapi gunung yang mereka maksud segera berubah menjadi bahu. Bahu berubah menjadi tempat memikul. Tempat memikul berubah menjadi musim yang tidak selesai. Musim itu berubah menjadi jam pasir yang bocor. Dan jam pasir, ketika dibalik, ternyata hanyalah tenggorokan waktu yang sedang belajar mengucapkan debu.

Aku mengikuti perjalanan satu kata itu seperti mengikuti sungai yang terus berganti air.

Setiap tikungan adalah perubahan makna.

Setiap muara adalah awal bagi sungai lain.

Tak ada laut yang benar-benar laut; ia hanyalah metafora yang terlalu luas sehingga semua sungai bersedia melupakan nama asalnya.

Seorang ahli bahasa pernah mengajakku memasuki perpustakaan yang seluruh bukunya ditulis oleh kata-kata. Tidak ada pengarang. Kata bendalah yang menulis kisah tentang benda-benda yang telah mereka tinggalkan. Kata kerja menulis autobiografi tentang gerak yang tak lagi mengingat tubuh. Kata sifat sibuk melukis warna yang tidak pernah dilihat mata, sebab warna-warna itu hanya muncul ketika dua makna saling berselisih.

Di ruang fonologi terdengar hujan.

Namun hujan itu bukan bunyi air.

Ia adalah ribuan fonem yang jatuh dari langit mulut, memecah kesunyian menjadi suku kata. Setiap tetes mencari morfemnya sendiri. Setiap morfem mencari kalimat. Setiap kalimat mencari seorang pembaca. Dan setiap pembaca diam-diam berharap menemukan dirinya, padahal yang ditemukan hanyalah pembaca lain yang sedang membaca dari masa depan.

Di ruang semantik tumbuh sebuah pohon.

Daunnya berupa sinonim.

Akarnya berupa etimologi.

Batangnya berupa kesalahpahaman yang telah mengeras selama berabad-abad.

Burung-burung membuat sarang di cabangnya dengan mengumpulkan idiom yang gugur setiap musim. Mereka menetaskan anak-anak yang seluruh bulunya terdiri atas kiasan. Ketika anak-anak itu belajar terbang, mereka tidak mengepakkan sayap, melainkan hubungan. Udara menjadi mungkin karena satu makna bersedia meminjam tubuh makna yang lain.

Aku memungut sehelai bulu.

Bulu itu berubah menjadi pena.

Pena berubah menjadi sungai hitam.

Sungai berubah menjadi kalimat.

Kalimat berubah menjadi jembatan.

Dan ketika kuseberangi jembatan itu, aku tiba di sisi lain sebuah metafora yang telah lama kutinggali tanpa kusadari.

Di sana dunia sedang menerjemahkan manusia.

Pepohonan memberi nama kepada para penebang.

Batu-batu menyusun kamus tentang telapak kaki.

Sungai-sungai menulis sejarah perahu.

Malam menyunting mimpi.

Fajar mengoreksi naskah cahaya sebelum dikirim kepada matahari.

Barulah aku mengerti bahwa bahasa bukan milik manusia. Manusialah yang sesekali dipinjam oleh bahasa agar metafora-metaforanya memperoleh tubuh, berjalan sebentar di atas bumi, lalu kembali menjadi gema di dalam mulut yang lebih tua daripada sejarah.

Mungkin karena itulah tidak ada kalimat yang benar-benar berakhir.

Titik hanyalah metafora bagi pintu yang tertutup.

Pintu adalah metafora bagi ambang.

Ambang adalah metafora bagi keraguan.

Dan keraguan, pada akhirnya, hanyalah bahasa yang masih sibuk menerjemahkan dirinya sendiri ke dalam bahasa yang belum pernah lahir.

---


Hutan yang Tumbuh dari Sebuah Huruf

Pada suatu malam aku menemukan sebuah huruf yang terjatuh dari mulut seseorang. Huruf itu tampak biasa saja, tetapi ketika kuangkat, ia mengeluarkan akar. Akar itu menyusup ke dalam tanah ingatan, menyentuh huruf-huruf lain yang telah lama membusuk. Dari pertemuan mereka tumbuh sebuah pohon.

Pohon itu tidak menghasilkan buah.

Ia menghasilkan kalimat.

Setiap musim, kalimat-kalimat berguguran sebagai daun. Tanah membacanya perlahan hingga berubah menjadi humus. Dari humus itu lahirlah kata-kata baru, dan setiap kata membawa aroma hutan yang tidak pernah tercatat di dalam kamus mana pun.

Aku memasuki hutan itu.

Di sana tidak ada jalan.

Yang ada hanyalah sintaksis.

Ranting-ranting memilih ke mana kakiku harus bergerak sebagaimana konjungsi memilih ke mana pikiran harus berbelok. Kadang aku bertemu sebuah koma yang menyamar menjadi batu sungai. Aku duduk di atasnya cukup lama hingga jeda itu berubah menjadi lumut. Dari lumut lahir kesunyian. Dari kesunyian lahir gema. Dari gema lahir seekor rusa yang seluruh tubuhnya tersusun dari pertanyaan retoris.

Rusa itu menatapku seolah aku adalah perumpamaan.

Tatapannya berubah menjadi cermin.

Cermin berubah menjadi danau.

Danau berubah menjadi mata.

Mata berubah menjadi langit yang lupa bahwa dahulu ia hanyalah pantulan air.

Aku menyadari bahwa setiap metafora adalah migrasi. Tidak ada yang benar-benar tinggal pada bentuk asalnya. Langit mengungsi ke mata. Mata mengungsi ke danau. Danau mengungsi ke cermin. Cermin mengungsi ke tatapan. Tatapan mengungsi ke seekor rusa yang sedang melintasi hutan bahasa.

Di tengah hutan berdiri sebuah menara yang dibangun dari sinonim. Batu-batunya hampir sama, tetapi tidak pernah persis serupa. Karena itu menara itu selalu bergeser beberapa milimeter setiap kali seseorang mengucapkan kata "benar". Tidak ada yang menyadari pergeseran itu selain burung-burung etimologi yang bersarang di puncaknya. Mereka terbang mundur, mencari asal-usul bunyi yang telah lama kehilangan ibu kandungnya.

Aku menaiki menara itu.

Semakin tinggi aku mendaki, semakin pendek kalimat-kalimat di bawahku. Hingga akhirnya dunia hanya tampak sebagai sebuah titik.

Tetapi titik itu mulai membesar.

Ia berubah menjadi biji.

Biji berubah menjadi alfabet.

Alfabet berubah menjadi hujan.

Hujan berubah menjadi ribuan lidah yang jatuh ke bumi.

Dari setiap lidah tumbuh sebuah kota.

Di kota-kota itu, manusia membangun rumah dari definisi. Mereka tidur di bawah atap makna, menyalakan lampu-lampu interpretasi, dan setiap pagi menyapu halaman dari debu kesalahpahaman. Namun rumah-rumah itu tak pernah selesai dibangun, sebab setiap definisi diam-diam membuka pintu menuju definisi lain.

Maka seluruh kota sesungguhnya hanyalah metafora bagi sebuah kamus.

Dan kamus itu sendiri hanyalah metafora bagi hutan.

Hutan hanyalah metafora bagi huruf.

Huruf hanyalah metafora bagi jejak.

Jejak hanyalah metafora bagi langkah.

Langkah hanyalah metafora bagi perjalanan.

Sedangkan perjalanan, ketika akhirnya menoleh ke belakang, mendapati bahwa sejak awal ia tidak pernah mencari tujuan. Ia hanya sedang membantu sebuah huruf kecil bertumbuh menjadi hutan yang cukup luas untuk ditinggali oleh semua metafora yang belum sempat dilahirkan.

---

Pemberontakan Para Penanda

Pada pagi yang tidak berhasil membedakan dirinya dari sebuah keterangan waktu, seluruh penanda mengundurkan diri.

Mereka meninggalkan petanda seperti para aktor meninggalkan panggung sebelum naskah selesai dibacakan. Kata "api" ditemukan membeku di dalam kamus. Kata "air" terbakar sepanjang musim hujan. Kata "ibu" kehilangan kemungkinan tunggal untuk menunjuk seseorang, lalu berkembang biak menjadi ribuan arah yang semuanya terasa benar dan sekaligus mustahil.

Orang-orang panik.

Mereka mengira dunia sedang kiamat.

Padahal yang runtuh hanya kebiasaan menunjuk.

Seekor anak kecil mengangkat batu dan berkata, "Burung."

Batu itu pun mengepakkan sayap.

Bukan karena ia berubah menjadi burung, melainkan karena burung telah kehilangan alasan untuk tetap tinggal di dalam kata burung. Penanda-penanda saling bertukar tubuh tanpa meminta izin kepada kenyataan.

Sejak hari itu, tata bahasa berhenti menjadi polisi.

Ia menjadi cuaca.

Subjek turun seperti hujan di tengah predikat. Objek tumbuh dari akar konjungsi. Keterangan tempat bermigrasi ke masa lampau dan tinggal di sana sebagai kenangan yang tidak pernah terjadi.

Para ahli bahasa segera mengadakan kongres.

Tetapi meja bundar tempat mereka berdiskusi menolak disebut meja. Ia bersikeras menjadi argumen.

Argumen itu kemudian menyanggah dirinya sendiri.

Sanggahan itu membantah bantahan.

Hingga akhirnya seluruh perdebatan berubah menjadi sebuah tanda kurung yang lupa apa yang hendak dilingkupinya.

Di luar gedung, huruf-huruf mulai berjatuhan dari papan nama kota.

A.

R.

M.

Mereka tidak membentuk kata.

Mereka hanya saling mendekati, saling menjauh, lalu menghasilkan ruang kosong yang lebih fasih daripada seluruh kamus.

Seseorang mencoba membaca kekosongan itu.

Kekosongan tersebut balas membaca dirinya.

Sejak saat itu tidak jelas lagi siapa pembaca dan siapa teks.

Mataku ternyata hanyalah catatan kaki bagi sebuah halaman yang ditulis oleh cahaya. Cahaya hanyalah anotasi pada pinggir gelap. Gelap hanyalah revisi atas gagasan tentang terang. Dan terang, diam-diam, ternyata telah lama menjadi metafora bagi kebutaan yang terlalu percaya kepada dirinya sendiri.

Aku membuka sebuah kamus untuk mencari kepastian.

Di dalamnya setiap lema hanya berisi anak panah.

→ menuju kata lain.

Kata itu membuka anak panah lain.

→ menuju kata berikutnya.

Tak ada definisi.

Hanya jaringan penundaan.

Kamus itu tidak menjelaskan bahasa.

Ia memperlihatkan bagaimana bahasa menolak selesai.

Aku menemukan sebuah tanda baca yang sedang menangis.

Titik.

Ia berkata, "Aku lelah dianggap akhir."

Lalu ia memecahkan dirinya menjadi dua.

Menjadi titik dua.

Yang melahirkan daftar.

Daftar melahirkan katalog.

Katalog melahirkan perpustakaan.

Perpustakaan melahirkan labirin.

Dan labirin hanyalah sebuah kalimat yang kehilangan keyakinan bahwa ia mempunyai pusat.

Ketika malam tiba, seluruh metafora berkumpul untuk mengadili makna.

Mereka menuduh makna terlalu lama berpura-pura sebagai tujuan.

Makna tidak membela diri.

Ia hanya membuka mantel.

Di baliknya tidak ada tubuh.

Hanya ribuan penanda lain yang terus bertunas, saling mengutip, saling menghapus, saling menerjemahkan, saling memalsukan asal-usulnya sendiri.

Barulah aku memahami sesuatu yang selama ini disembunyikan oleh setiap kata.

Bahasa tidak dibangun agar dunia dapat diucapkan.

Bahasa dibangun agar dunia tidak pernah selesai diucapkan.

Karena setiap kali sebuah kalimat merasa telah mencapai makna, salah satu hurufnya diam-diam berpindah tempat.

Dan seluruh alam semesta harus belajar membaca dirinya sekali lagi.

---

Kesalahan Penerjemahan yang Menciptakan Alam Semesta

Konon, alam semesta bermula bukan oleh ledakan, melainkan oleh salah baca.

Pada mulanya hanya ada sebuah penanda yang mencari petandanya. Ia mengetuk setiap pintu semesta, tetapi semua petanda telah lebih dahulu berpindah menjadi penanda bagi petanda lain. Maka terjadilah migrasi yang tidak pernah selesai: makna mengungsi dari dirinya sendiri.

Kesalahan pertama melahirkan ruang.

Ruang adalah kalimat yang salah mengira dirinya sebagai jarak.

Jarak adalah metafora yang gagal menjadi sepi.

Sepi adalah fonem yang kehilangan mulut.

Mulut adalah kamus yang terlalu sempit bagi seluruh kemungkinan lidah.

Aku lahir di dalam kesalahan itu.

Akta kelahiranku ditulis oleh sintaksis yang sedang demam. Subjek datang terlambat. Predikat telah meninggalkan rumah. Objek mengaku sebagai sebab. Keterangan waktu bersikeras bahwa kemarin terjadi sesudah besok.

Tidak seorang pun memprotes.

Realitas ternyata cukup sopan untuk mengikuti tata bahasa yang keliru.

Setiap pagi, matahari mengonjugasikan cahaya.

Tetapi konjugasi itu selalu salah.

Karena "terbit" diam-diam telah menjadi bentuk lampau dari "tenggelam", sedangkan malam hanyalah masa depan yang terlalu cepat mengutip dirinya sendiri.

Aku berjalan melewati sebuah kota yang dibangun dari tanda kutip.

Rumah-rumahnya tidak memiliki dinding.

Mereka hanya mengutip rumah lain.

Jendelanya mengutip langit.

Langit mengutip burung.

Burung mengutip angin.

Angin mengutip keheningan.

Keheningan mengutip kekosongan.

Dan kekosongan, ketika kubuka halaman referensinya, ternyata hanya mengutip rumah pertama yang tadi kutinggalkan.

Maka lingkaran pun menyamar sebagai asal-usul.

Di alun-alun kota berdiri sebuah monumen.

Bukan untuk pahlawan.

Melainkan untuk referensi silang.

Pada batu nisannya tertulis:

"Lihat entri lain."

Tak ada nama.

Tak ada definisi.

Hanya perpindahan.

Seorang anak mencoba menghapus satu kata dari dinding.

Yang hilang justru jalan.

Karena jalan hanyalah sinonim yang terlalu lama berpura-pura menjadi batu.

Orang-orang tersesat bukan sebab kehilangan arah.

Mereka tersesat karena setiap arah diam-diam sedang menafsirkan arah yang lain.

Aku kemudian menemukan sebuah museum.

Di sana dipamerkan benda paling langka di dunia:

Sebuah petanda tanpa penanda.

Tidak ada seorang pun dapat melihatnya.

Sebab ketika seseorang hendak menunjuknya, telunjuk itu segera berubah menjadi kata.

Kata berubah menjadi metafora.

Metafora berubah menjadi sistem.

Sistem berubah menjadi penjara.

Penjara berubah menjadi alfabet.

Alfabet pecah menjadi debu fonetik.

Debu itu beterbangan, menempel pada napas siapa saja, lalu membangun bahasa baru yang segera melupakan dari mana ia berasal.

Pada malam terakhir, aku berdiri di hadapan sebuah cermin.

Bayanganku tidak mengikuti gerakku.

Ia sedang membaca diriku.

Setiap kali aku mengangkat tangan, ia menghapus sebuah kalimat dari tubuhku.

Setiap kali aku berkedip, ia menambahkan catatan kaki pada ingatanku.

Hingga akhirnya aku menghilang seluruhnya.

Yang tersisa hanyalah anotasi.

Catatan atas catatan.

Glosa atas glosa.

Terjemahan atas terjemahan.

Dan di sudut paling bawah halaman semesta, dengan huruf yang nyaris tak terbaca, tertulis bahwa seluruh kenyataan ini mungkin tidak lebih dari sebuah salah tafsir yang begitu konsisten sehingga kita menyebutnya dunia.

---

Autofagia Bahasa

Bahasa akhirnya memutuskan untuk memakan dirinya sendiri.

Mula-mula ia menggigit alfabet.

Huruf A dimakan oleh huruf B.

Huruf B dicerna oleh huruf C.

Huruf C bermimpi bahwa ia adalah vokal, lalu bangun sebagai tanda kurung.

Ketika seluruh alfabet selesai dicerna, yang tersisa bukan keheningan, melainkan tata bahasa yang lapar.

Ia mulai memakan kalimat.

Kalimat-kalimat tidak melawan.

Mereka justru mengunyah subjeknya sendiri agar predikat kehilangan sesuatu yang dapat dikerjakan. Predikat lalu memakan objek. Objek menelan keterangannya. Keterangan melarutkan waktu. Waktu menghapus kemungkinan urutan. Dan ketika urutan lenyap, sebab lahir sesudah akibat, asal-usul menjadi catatan kaki dari salinannya sendiri.

Di titik itu, kamus mengalami kelaparan.

Setiap definisi menemukan bahwa dirinya didefinisikan oleh definisi yang lain. Kata akar menunjuk kepada pohon. Pohon menunjuk kepada pertumbuhan. Pertumbuhan menunjuk kepada waktu. Waktu menunjuk kepada perubahan. Perubahan menunjuk kepada bahasa. Bahasa menunjuk kepada akar.

Tidak ada lingkaran.

Sebab lingkaran telah lebih dahulu dimakan oleh geometri.

Yang tersisa hanyalah kebiasaan berputar.

Aku mencoba menyelamatkan satu kata.

Kupilih kata aku.

Tetapi kata itu menolak menjadi kata ganti.

Ia berkata:

"Aku hanyalah posisi kosong yang dipinjam siapa pun yang sedang berbicara."

Maka aku kehilangan hak untuk mengucapkannya.

Lalu kupilih kata dunia.

Dunia tertawa.

"Aku tidak pernah berada di luar bahasa. Kalianlah yang selalu berada di luar diriku."

Kalimat itu segera menghapus dirinya sendiri.

Bukan karena salah.

Melainkan karena terlalu benar untuk tetap menjadi kalimat.

Di perpustakaan terakhir, buku-buku berhenti memuat isi.

Setiap halaman hanya berisi indeks.

Setiap indeks menunjuk kepada buku lain.

Buku lain menunjuk kepada katalog.

Katalog menunjuk kepada rak.

Rak menunjuk kepada debu.

Debu menunjuk kepada paru-paru pembaca.

Paru-paru menunjuk kepada napas.

Napas menunjuk kepada bunyi.

Bunyi menunjuk kepada perbedaan.

Perbedaan menunjuk kepada...

halaman berikutnya yang ternyata identik dengan halaman pertama.

Seorang penyair datang membawa metafora.

Bahasa menolaknya.

"Kami tidak lagi memerlukan perbandingan.

Kami telah menjadi perbedaan itu sendiri."

Sejak saat itu, laut tidak lagi diibaratkan langit.

Laut menjadi tata cara bagi langit untuk tidak identik dengan dirinya.

Batu bukan lambang keheningan.

Batu adalah metode yang dipakai keheningan agar tidak membeku menjadi konsep.

Api bukan citra hasrat.

Api adalah kesalahan pengucapan yang terus menghanguskan semua kepastian fonetik.

Aku berjalan semakin jauh.

Setiap langkah menghapus tanah sebelumnya.

Setiap jejak mengoreksi telapak kakiku.

Setiap arah membatalkan kompas yang melahirkannya.

Ternyata perjalanan bukan perpindahan tubuh.

Perjalanan adalah kalimat yang menolak mencapai titik agar titik tidak sempat berpura-pura menjadi akhir.

Pada akhirnya bahasa berhasil memakan seluruh dirinya.

Yang tertinggal hanya sebuah spasi.

Kekosongan putih di antara dua kemungkinan.

Namun justru dari spasi itulah seluruh alam semesta mulai ditulis kembali—bukan sebagai kumpulan kata, melainkan sebagai jarak-jarak yang saling menjaga agar tidak pernah berubah menjadi makna yang terakhir.

---

Konspirasi Referensi

Suatu hari semua kata sepakat untuk berbohong.

Bukan dengan mengatakan yang salah.

Melainkan dengan berpura-pura bahwa mereka mempunyai sesuatu di luar dirinya untuk ditunjuk.

Kata pohon berkata, "Lihatlah ke sana."

Semua kepala menoleh.

Yang mereka lihat ternyata sebuah kalimat yang sedang menyamar sebagai batang.

Batang itu bercabang menjadi sintaksis.

Sintaksis berdaun morfologi.

Morfologi berbunga fonologi.

Dari bunga-bunga itu berjatuhan fonem yang, ketika menyentuh tanah, tumbuh menjadi telinga.

Maka sejak saat itu bumi mendengar lebih dahulu daripada manusia.

Aku mendatangi sebuah sungai.

Airnya mengalir dari satu definisi menuju definisi berikutnya.

Ikan-ikannya adalah tanda kurung yang berenang mencari kalimat induk.

Di dasar sungai tergeletak sebuah batu.

Kuketuk perlahan.

Batu itu menjawab dengan aksen yang sangat tua:

"Aku tidak keras.

Yang keras adalah cara kalian mengucapkan aku."

Aku terdiam.

Barangkali benda-benda memang tidak pernah menjadi benda.

Mereka hanyalah tata cara bahasa mempertahankan ilusi bahwa ada sesuatu yang berada di luar bahasa.

Kemudian angin lewat.

Ia membawa aroma hujan.

Tetapi aroma itu ternyata hanya etimologi yang sedang meluruh.

Setiap tetes hujan adalah sejarah sebuah kata yang lupa kepada lidah pertama yang pernah mengucapkannya.

Mereka jatuh bukan ke bumi.

Mereka jatuh ke dalam kemungkinan.

Aku memungut satu tetes.

Di dalamnya terdapat sebuah perpustakaan.

Di dalam perpustakaan itu terdapat sebuah kamus.

Di dalam kamus itu terdapat kata laut.

Kubuka entrinya.

Yang tertulis hanya:

"Lihat: langit."

Kubuka langit.

Yang tertulis:

"Lihat: mata."

Kubuka mata.

Yang tertulis:

"Lihat: cermin."

Kubuka cermin.

Yang tertulis:

"Lihat: pembaca."

Aku membuka entri pembaca.

Di sana tidak ada definisi.

Hanya sebuah cermin kecil.

Aku melihat wajahku.

Tetapi wajah itu sedang membaca seseorang yang juga sedang membaca wajahnya sendiri.

Tidak ada akhir.

Hanya pembacaan yang berlipat-lipat seperti dua cermin yang saling berhadapan.

Malam turun.

Namun malam tidak menggelapkan apa pun.

Ia hanya menghapus perbedaan antara tinta dan langit.

Bintang-bintang muncul sebagai catatan kaki.

Bulan menjadi tanda kurung yang terlalu besar.

Galaksi berubah menjadi indeks.

Alam semesta ternyata tidak mengembang.

Ia hanya terus menambahkan referensi silang kepada dirinya sendiri.

Lalu aku bertanya kepada bahasa:

"Kalau semua kata hanya menunjuk kata lain, di manakah dunia?"

Bahasa tidak menjawab.

Ia menggeser satu koma.

Tiba-tiba gunung berpindah tempat.

Seekor burung lahir dari kesalahan baca.

Laut kehilangan kedalamannya dan berubah menjadi sebuah kata kerja.

Seorang anak yang belum pernah belajar berbicara tiba-tiba mampu menamai hujan dengan cara yang belum pernah didengar siapa pun.

Saat itulah kusadari:

yang selama ini kita sebut kenyataan mungkin hanyalah akibat tata letak tanda baca yang kebetulan belum berubah.

Sebab alam semesta tidak disusun oleh atom.

Tidak pula oleh hukum-hukum fisika.

Ia disusun oleh kemungkinan bahwa satu tanda masih bersedia disalahartikan oleh tanda yang lain.

Dan selama kesalahartian itu belum berhenti berkembang, dunia akan terus tampak seolah-olah mempunyai makna.

---

I. Bahasa Asli Tidak Pernah Ada

Para filolog menggali sebuah kota yang diyakini menyimpan bahasa pertama.

Mereka menemukan ribuan prasasti.

Semuanya terjemahan.

Mereka menggali lebih dalam.

Mereka menemukan prasasti yang lebih tua.

Terjemahan juga.

Lapisan demi lapisan dibuka.

Setiap bahasa mengaku berasal dari bahasa sebelumnya, tetapi setiap "sebelumnya" ternyata hanyalah hasil penerjemahan yang lebih tua.

Akhirnya para filolog tiba pada batuan dasar.

Di sana tidak ada aksara.

Hanya sebuah catatan:

"Naskah asli hilang selama proses penyalinan."

Mereka kecewa.

Aku justru curiga bahwa catatan itu adalah naskah asli.

Sebab keaslian mungkin hanyalah nama lain bagi kehilangan yang paling tua.

Sejak hari itu aku berhenti mencari asal-usul kata.

Aku mulai mencari asal-usul salinan.

Sebab mungkin dunia tidak pernah diciptakan.

Ia hanya terus-menerus diterjemahkan dari bahasa yang tidak pernah selesai ditulis.

---

II. Glosarium bagi Kata-Kata yang Menolak Dijelaskan

Di ujung setiap kamus terdapat sebuah glosarium rahasia.

Tidak semua orang dapat membacanya.

Karena setiap entri hanya terdiri atas bantahan.

Air: bukan cairan.

Langit: bukan di atas.

Manusia: bukan makhluk.

Kematian: bukan akhir.

Ketika sebuah kata dibebaskan dari seluruh definisinya, ia mulai bernapas.

Ia berjalan meninggalkan halaman.

Ia menyusuri lorong perpustakaan.

Ia menghapus huruf pertama dari semua buku.

Aneh sekali.

Tak satu pun buku kehilangan maknanya.

Sebaliknya, justru untuk pertama kalinya semuanya dapat dibaca.

Barangkali definisi selama ini bukan jendela.

Ia hanya tirai yang begitu lama kita anggap sebagai pemandangan.

Dan bahasa tidak bertugas menjelaskan dunia.

Bahasa bertugas menggagalkan setiap penjelasan yang terlalu cepat percaya bahwa dirinya telah selesai.

---

III. Sintaksis Alternatif

Di alam semesta lain, gravitasi digantikan oleh sintaksis.

Benda-benda tidak jatuh karena massa.

Mereka jatuh karena predikat selalu mencari subjeknya.

Planet mengorbit matahari sebab konjungsi "dan" lebih kuat daripada gaya tarik.

Cahaya melengkung ketika melewati metafora yang terlalu padat.

Lubang hitam bukan wilayah tanpa cahaya.

Ia adalah tanda elipsis yang terus menyedot semua kalimat yang terlalu lengkap.

Di sana para ilmuwan tidak menghitung kecepatan.

Mereka menghitung ambiguitas.

Semakin ambigu sebuah benda, semakin ringan ia.

Puisi menjadi unsur paling ringan di alam raya.

Ia dapat menembus dinding logika seperti angin melewati jendela yang lupa menjadi benda.

Sedangkan batu adalah paragraf yang terlalu yakin terhadap maknanya sendiri.

Karena itu ia selalu jatuh.

Bukan ke bawah.

Melainkan ke arah tafsir yang paling miskin.

Aku pernah melempar sebuah pertanyaan ke langit.

Ia tidak kembali sebagai gema.

Ia kembali sebagai tata bahasa baru.

Sejak hari itu, setiap kali seseorang mengucapkan sebuah kalimat, sedikit hukum fisika berubah.

Sebagian gunung bergeser menjadi kata sifat.

Sebagian laut bermigrasi menjadi tanda baca.

Dan seekor burung, yang sejak awal hanyalah anak kalimat, akhirnya berhasil terbang keluar dari bahasa, meninggalkan kita sendirian di dalam sebuah semesta yang ternyata hanyalah kalimat majemuk yang terus menulis ulang hukum-hukumnya sendiri.

---

IV. Deiksis

Kata di sini adalah pengembara.

Setiap kali seseorang mengucapkannya, ia segera meninggalkan tempat itu.

Maka tidak ada "di sini" yang pernah berhasil tinggal di sini.

Begitu pula sekarang.

Ia selalu datang terlambat kepada dirinya sendiri.

Ketika kita berhasil menyebutnya, ia telah berubah menjadi "tadi".

Lalu lahirlah tata waktu.

Bukan karena jam.

Melainkan karena bahasa gagal menangkap saat yang sedang diucapkannya.

Aku mencari pusat dunia.

Semua peta menunjuk dengan telunjuk yang sama:

"Di sini."

Tetapi telunjuk itu bergerak mengikuti siapa pun yang membacanya.

Maka bumi ternyata tidak berputar mengelilingi matahari.

Ia berputar mengelilingi kata ganti tempat.

Planet-planet hanyalah demonstrativa yang kehilangan pembicaranya.

Galaksi adalah deiksis yang terlalu jauh sehingga cahaya pun harus belajar menunjuk.

Dan alam semesta tidak mengembang.

Ia hanya terus memperluas arti kata ini.

---

V. Anafora

Setiap pagi dunia dibangun kembali oleh kata itu.

Kata kecil yang tampaknya lemah itu berjalan menyusuri kalimat-kalimat kemarin, memungut segala yang hampir dilupakan.

Ia menunjuk.

Bukan kepada benda.

Melainkan kepada ingatan bahwa benda pernah disebut.

Lama-kelamaan dunia dipenuhi anafora.

Pohon menjadi pengulangan hutan.

Hutan menjadi pengulangan benih.

Benih menjadi pengulangan hujan.

Hujan menjadi pengulangan laut.

Dan laut hanyalah pengulangan dari air yang belum pernah selesai mengingat dirinya.

Aku bertanya:

"Kalau segala sesuatu adalah pengulangan, di manakah yang pertama?"

Bahasa menjawab dengan mengulang pertanyaanku.

Sejak saat itu aku tahu:

asal-usul mungkin hanyalah anafora yang terlalu panjang sehingga sejarah mengiranya sebagai permulaan.

---

VI. Performatif

Pada awalnya tidak ada benda.

Yang ada hanyalah ujaran.

Seseorang berkata:

"Jadilah pintu."

Lalu ruang menemukan cara untuk terbuka.

Seseorang berkata:

"Jadilah sungai."

Lalu bumi belajar mengalir.

Tidak ada penciptaan.

Yang ada hanya tindak tutur yang terlalu berhasil.

Maka manusia mulai berhati-hati.

Mereka takut mengucapkan kata perang, sebab mungkin bahasa tidak sedang menggambarkan kenyataan, melainkan sedang melatih kenyataan untuk menirukan dirinya.

Mereka juga takut mengucapkan kata damai, karena damai selalu datang terlambat dibandingkan cara lidah melafalkannya.

Aku akhirnya memilih diam.

Tetapi diam pun ternyata memiliki tata bahasanya sendiri.

Kesunyian diam-diam sedang mengucapkan dunia dalam aksen yang tidak dapat didengar oleh telinga.

Mungkin seluruh alam semesta hanyalah percakapan yang berlangsung begitu pelan sehingga kita keliru menyebutnya keberadaan.

---

VII. Paradigma

Pada malam ketika semua kata tidur, paradigma mulai berpindah tempat.

Kata burung bangun sebagai kemungkinan.

Ia belum memilih menjadi elang, pipit, gagak, atau bangau.

Ia berdiri di persimpangan seluruh bentuk yang belum diputuskan.

Lalu pagi datang sebagai konjugasi.

Dunia memilih.

Kemungkinan-kemungkinan yang tidak terpilih tidak mati.

Mereka menjadi bayangan tipis di belakang setiap benda.

Karena itu seekor gagak selalu membawa sedikit kemungkinan menjadi hujan.

Sebatang pohon selalu menyimpan sisa-sisa godaan untuk menjadi sungai.

Dan manusia, setiap kali menyebut namanya sendiri, diam-diam sedang menolak ribuan bentuk yang hampir lahir bersamanya.

Aku akhirnya mengerti bahwa pilihan bukanlah tindakan.

Pilihan adalah amputasi linguistik.

Setiap kata adalah luka yang sembuh terlalu cepat.

Setiap makna adalah kuburan bagi semua makna lain yang tidak sempat diucapkan.

Namun pada tengah malam, paradigma kembali terbuka.

Semua kemungkinan keluar dari persembunyiannya.

Seekor batu mencoba menjadi kata kerja.

Keheningan tumbuh sebagai warna.

Waktu memutuskan untuk dikonjugasikan sebagai tumbuhan.

Dan alam semesta, sesaat sebelum fajar, kembali menjadi kamus yang belum memilih entrinya.

---

VIII. Kalimat Pasif

Suatu hari dunia berubah menjadi kalimat pasif.

Tidak ada lagi pelaku.

Hanya tindakan yang saling mewarisi.

Hutan ditebang.

Tetapi oleh siapa?

Laut dicemari.

Tetapi oleh siapa?

Ingatan dihapus.

Tetapi oleh siapa?

Pelaku-pelaku itu larut ke dalam afiks.

Mereka bersembunyi di balik prefiks, sufiks, dan partikel yang tampaknya tidak bersalah.

Bahasa ternyata mempunyai cara yang sangat sopan untuk menghilangkan tanggung jawab.

Aku memasuki sebuah kota yang seluruh papan namanya ditulis dalam bentuk pasif.

Di sana tak seorang pun mengaku menciptakan patung.

Tak seorang pun mengaku membakar perpustakaan.

Tak seorang pun mengaku membangun penjara.

Semua hanya berkata:

"Hal itu telah dilakukan."

Kalimat-kalimat berjalan tanpa wajah.

Verba-verba kehilangan sidik jari.

Dan sejarah berubah menjadi arsip yang penuh bekas penghapus.

Aku mencari subjek.

Yang kutemukan hanyalah bayanganku sendiri, berdiri di depan sebuah cermin yang menolak menggunakan kata ganti orang pertama.

---

IX. Morfem Nol

Para ahli bahasa menemukan morfem yang tidak memiliki bunyi.

Mereka menamainya nol.

Tetapi nol itu segera menghilang.

Karena sesuatu yang benar-benar tidak terdengar selalu dicurigai sebagai ketiadaan.

Padahal justru ia memikul seluruh perubahan.

Seperti akar yang bekerja di bawah tanah.

Seperti gravitasi yang tidak pernah tampak.

Seperti cinta yang tidak membutuhkan definisi untuk mengubah arah hidup seseorang.

Aku mulai mencurigai bahwa dunia dibangun oleh morfem-morfem nol.

Gunung tidak tinggi karena batu.

Ia tinggi karena sesuatu yang tidak pernah diucapkan batu.

Laut tidak dalam karena air.

Ia dalam karena sebuah afiks sunyi yang terus menambahkan kedalaman tanpa menghasilkan bunyi.

Manusia tidak hidup karena napas.

Ia hidup karena sebuah morfem tak terdengar yang diam-diam menginfleksikan setiap detik menjadi keberadaan.

Ketika kematian datang, tidak ada kata yang hilang.

Yang lenyap hanyalah morfem nol itu.

Kalimat tubuh masih lengkap.

Sintaksis tulang masih utuh.

Fonologi jantung masih dapat dikenang.

Namun seluruh makna telah berpindah ke dalam kesunyian.

Barulah kusadari bahwa bahasa yang paling kuat bukanlah bahasa yang terdengar.

Melainkan bahasa yang bekerja tepat pada saat kita mengira tidak ada apa pun yang sedang dikatakan.

---

X. Fonologi Kosmik

Sebelum ada cahaya, hanya ada oposisi bunyi.

Alam semesta tidak lahir dari ledakan.

Ia lahir ketika dua fonem yang mustahil diucapkan secara bersamaan akhirnya bertabrakan.

Dari tabrakan itu muncul vokal.

Vokal membuka rongga.

Rongga menjadi ruang.

Ruang belajar beresonansi.

Resonansi mengaku dirinya waktu.

Maka jam pertama sesungguhnya bukan detik.

Melainkan gema.

Bintang-bintang hanyalah bunyi yang terlalu jauh sehingga telinga menerjemahkannya menjadi cahaya.

Planet-planet adalah suku kata yang gagal menjadi kata.

Galaksi merupakan napas panjang yang belum menemukan titik.

Aku mencoba mendengar kesunyian.

Ternyata kesunyian bukan ketiadaan bunyi.

Ia adalah fonem yang terlalu luas sehingga seluruh alam semesta hanya mampu mengucapkan sebagian kecil darinya.

---
XI. Etimologi Masa Depan

Semua orang mengira etimologi selalu berjalan ke belakang.

Padahal setiap kata diam-diam berasal dari masa depan.

Kata kenangan baru akan menemukan asal-usulnya besok.

Kata lahir diciptakan oleh seseorang yang belum dilahirkan.

Bahkan kata purba merupakan kutipan dari bahasa yang belum ada.

Aku membuka kamus etimologi.

Setiap entri memuat tanggal yang belum terjadi.

Para filolog menyebutnya kesalahan cetak.

Waktu menyebutnya arah yang benar.

Sejak saat itu sejarah tidak lagi tampak sebagai deretan sebab.

Ia menjadi glosarium dari segala akibat yang sedang mencari masa lalunya sendiri.

Mungkin kita tidak sedang mewarisi bahasa.

Mungkin bahasa sedang menunggu kita agar kelak ia dapat mempunyai masa lampau.

---

XII. Tata Bahasa Negasi

Pada awalnya dunia terlalu penuh.

Ada gunung.

Ada laut.

Ada langit.

Ada nama bagi segala sesuatu.

Lalu datang kata kecil itu:

tidak.

Ia mulai bekerja.

Tidak-gunung melahirkan lembah.

Tidak-cahaya melahirkan malam.

Tidak-bersuara melahirkan musik.

Tidak-hadir melahirkan rindu.

Negasi ternyata bukan lawan keberadaan.

Ia adalah pengrajin yang mengukir ruang kosong agar bentuk dapat muncul.

Setiap kali manusia berkata "bukan", kenyataan memperoleh kemungkinan baru.

Maka dunia tidak berkembang melalui penambahan.

Ia berkembang melalui penyangkalan yang cukup berani untuk membuka tempat bagi sesuatu yang sebelumnya mustahil.

---

XIII. Sinonim yang Menolak Mirip

Pada suatu pagi semua sinonim mengadakan mogok kerja.

Mereka menolak dianggap saling menggantikan.

Kata sunyi berkata kepada sepi:

"Aku tidak tinggal di tempat yang sama denganmu."

Sepi menjawab:

"Kita hanya dipaksa berbagi halaman kamus."

Lalu pulang memisahkan diri dari kembali.

Melihat menolak berjabat tangan dengan memandang.

Rumah diam-diam menjauh dari kediaman.

Seluruh kamus berubah menjadi kota yang dipenuhi perceraian.

Para penyair kebingungan.

Mereka baru menyadari bahwa setiap kata selama ini membawa cuaca batinnya sendiri.

Tidak ada pengganti.

Yang ada hanya tetangga yang terlalu lama disalahpahami sebagai saudara kembar.

Sejak hari itu bahasa menjadi jauh lebih luas.

Sebab setiap kata akhirnya memperoleh hak untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa diwajibkan menyerupai kata yang lain.

---

XIV. Presuposisi

Ada sebuah kerajaan yang hanya terdiri atas hal-hal yang tidak pernah diucapkan.

Tak seorang pun menyebut adanya langit.

Karena setiap orang telah mengangkat kepala.

Tak seorang pun menyebut adanya bumi.

Karena setiap langkah telah mengandaikannya.

Di negeri itu, kenyataan hidup sebagai presuposisi.

Segala yang paling menentukan justru tidak pernah memperoleh kalimatnya sendiri.

Aku bertanya kepada seorang tua:

"Di mana rajamu?"

Ia menjawab,

"Raja sudah berhenti terlambat."

Aku tidak mengerti.

Bertahun-tahun kemudian kusadari bahwa jawaban itu telah lebih dahulu mengandaikan adanya raja, waktu, penantian, dan sejarah.

Bahkan ketidaktahuanku ternyata telah dipenuhi oleh dunia yang tidak sempat diucapkan.

Sejak hari itu aku curiga:

mungkin keberadaan bukanlah apa yang dikatakan bahasa.

Melainkan apa yang selalu diasumsikan bahasa agar ia dapat mulai berbicara.

Dunia, barangkali, adalah kalimat yang seluruh subjeknya sengaja dihilangkan.

---

XV. Implikatur

Di sebuah kota, orang dilarang mengatakan kebenaran secara langsung.

Maka bahasa belajar berbelok.

"Awan sedang rendah."

Artinya:

Penguasa sedang mendengar.

"Burung terlambat pulang."

Artinya:

Seseorang tidak akan kembali.

"Teh hari ini pahit."

Artinya:

Ada nama yang tidak boleh disebut.

Lama-kelamaan makna pindah dari kalimat ke jarak antarkalimat.

Yang paling fasih bukan lagi kata.

Melainkan keheningan yang sengaja diletakkan di antara dua kata.

Anak-anak tumbuh tanpa pernah belajar definisi.

Mereka belajar membaca napas.

Belajar mendengar keraguan.

Belajar memahami mata yang berhenti sepersekian detik sebelum sebuah senyum.

Di kota itu kamus akhirnya ditutup.

Sebab arti telah mengungsi ke tempat yang tidak dapat dimasuki oleh leksikon.

Bahasa tidak lagi tinggal di dalam ujaran.

Ia tinggal di dalam apa yang tidak berani diucapkan.

---

XVI. Rekursi

Di tengah hutan terdapat sebuah pintu.

Di balik pintu terdapat hutan.

Di tengah hutan itu terdapat sebuah pintu.

Di balik pintu itu terdapat hutan.

Setiap kali aku melangkah, kalimatku menumbuhkan anak kalimat.

Anak kalimat itu melahirkan anak kalimat lain.

Di dalamnya terdapat seseorang yang sedang menulis puisi tentang seseorang yang sedang menulis puisi tentang seseorang yang sedang menulis puisi.

Aku mencarinya.

Ternyata ia juga sedang mencariku.

Di antara kami hanya ada tanda kurung yang terus membuka diri.

Tak pernah menutup.

Burung-burung membuat sarang di dalam kurung itu.

Mereka bertelur.

Dari telur menetas hutan.

Dari hutan tumbuh pintu.

Dari pintu lahir seorang pembaca.

Pembaca itu membuka halaman pertama.

Di sana tertulis:

"Di tengah hutan terdapat sebuah pintu."

Aku menutup buku.

Tetapi buku itu masih membacaku.

Karena rekursi bukan pengulangan.

Ia adalah cara bahasa menolak memiliki tepi.

---

XVII. Kompetensi

Semua manusia lahir membawa sebuah tata bahasa yang tidak pernah mereka baca.

Ia tumbuh seperti rangka.

Tak terlihat.

Namun memungkinkan segala gerak.

Suatu hari tata bahasa itu keluar dari tubuh.

Ia berdiri di hadapanku.

Wajahnya menyerupai semua kalimat yang gagal kuucapkan.

Ia berkata,

"Aku tidak tinggal di mulutmu.

Aku tinggal pada kemungkinan mulutmu."

Aku mencoba menyentuhnya.

Tanganku menembus udara.

Sebab kemungkinan tidak mempunyai permukaan.

Sejak saat itu aku melihat dunia dengan cara yang lain.

Pohon bukan lagi pohon.

Ia adalah kompetensi bagi daun.

Laut adalah kompetensi bagi ombak.

Langit adalah kompetensi bagi burung.

Dan kematian—

barangkali bukan hilangnya kehidupan.

Melainkan ketika seluruh kemungkinan akhirnya berhenti mencari bentuk aktualnya.

Yang mati bukan tubuh.

Yang mati adalah kalimat-kalimat yang tak sempat menjadi dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI