DEWA YANG TIDAK PERCAYA PADA KAMUS

Di puncak gunung paling sunyi tinggal seorang dewa yang tidak pernah membaca kamus.

Para dewa lain mengejeknya.

"Bagaimana mungkin engkau menjaga bahasa jika tidak hafal arti kata?"

Ia hanya tersenyum.

Lalu memanggil dua manusia.

Kepada yang pertama ia berkata,

"Aku datang."

Orang itu menangis.

Kepada yang kedua ia mengucapkan kalimat yang sama,

"Aku datang."

Orang itu gemetar ketakutan.

Para dewa kebingungan.

Bukankah kata-katanya sama?

Dewa itu mengangguk.

"Kata memang sama."

"Tetapi keadaanlah yang mengubahnya."

Sejak hari itu ia berjalan mengelilingi bumi.

Ia tidak mengumpulkan kata.

Ia mengumpulkan situasi.

Ia menyimpan senja ketika permintaan maaf terlambat diucapkan.

Ia menyimpan pagi ketika ucapan selamat tinggal ternyata benar-benar yang terakhir.

Ia menyimpan ruang tunggu rumah sakit, meja makan keluarga, bangku taman, peron kereta, dan serambi rumah duka.

Di setiap tempat itu, kata-kata berganti wajah.

"Silakan masuk."

"Terima kasih."

"Sampai nanti."

"Tidak apa-apa."

Semuanya tampak sederhana.

Namun dewa itu tahu: tidak ada kalimat yang hidup sendirian.

Setiap ujaran selalu membawa cuaca, waktu, tatapan mata, jarak tubuh, sejarah dua hati yang saling berbicara.

Karena itulah ia melarang para imam membangun kuil untuk bahasa.

Sebagai gantinya, ia membangun beranda.

Sebab bahasa tidak lahir di altar.

Bahasa lahir ketika dua makhluk akhirnya bersedia saling hadir.

Dan sejak saat itu, setiap kali seseorang berkata "aku mengerti", para dewa tidak pernah memeriksa kamus.

Mereka memeriksa apakah dua jiwa yang semula berjauhan benar-benar telah dipertemukan oleh satu kalimat yang sama.

---

TAMAN TEMPAT MAKNA BERBUNGA

Dahulu, kata-kata hanyalah bejana kosong.

Para dewa dapat mengangkatnya, memindahkannya, bahkan memecahkannya, tetapi tak satu pun mengandung apa-apa.

Mereka berbunyi.

Mereka berkilau.

Mereka indah.

Namun kosong.

Maka Dewi Semantik berjalan menuju taman yang tumbuh di balik cakrawala.

Di sana tidak tumbuh bunga.

Yang tumbuh adalah makna.

Setiap makna memiliki akar yang menembus kenangan, batang yang menyerap pengalaman, dan kelopak yang hanya mekar ketika seseorang benar-benar mengalaminya.

Dewi itu memetik satu bunga.

Ia memasukkannya ke dalam kata ibu.

Seketika seluruh dunia berubah.

Kini setiap orang mengucapkan kata yang sama, tetapi membawa taman yang berbeda.

Ada yang melihat pelukan.

Ada yang mencium aroma nasi.

Ada yang mengingat kuburan.

Ada yang mendengar lagu nina bobo.

Kata itu tetap satu.

Bunganya tumbuh berbeda di setiap dada.

---

Sejak saat itu, para dewa berhenti menciptakan makna.

Mereka hanya menanam benih.

Manusialah yang menyiraminya dengan hidup.

Karena itu tidak ada kamus yang mampu memuat seluruh isi sebuah kata.

Kamus hanya mencatat batangnya.

Akarnya berada di masa lalu.

Bunganya mekar di dalam ingatan.

Dan aromanya hanya dapat dikenali oleh mereka yang pernah kehilangan sesuatu.

Konon, pada akhir kehidupan, setiap manusia akan memasuki taman itu kembali.

Ia akan melihat seluruh bunga yang pernah tumbuh di dalam kata-katanya.

Sebagian layu karena tak pernah dipakai.

Sebagian gugur karena terlalu sering diucapkan tanpa cinta.

Sebagian lagi tetap mekar, sebab pernah menjadi tempat seseorang beristirahat dari kesedihan.

Para dewa tidak menghakimi taman itu.

Mereka hanya berjalan perlahan di antara bunga-bunga makna, sambil berbisik bahwa bahasa yang paling indah bukanlah bahasa yang memiliki kata terbanyak, melainkan bahasa yang mampu membuat satu kata terus berbunga sepanjang hidup seseorang.

---

KITAB TENTANG BURUNG-BURUNG BUNYI

Sebelum ada kata, dunia dipenuhi burung.

Bukan burung yang bersarang di pohon atau mematuk biji-bijian, melainkan burung-burung yang seluruh tubuhnya terbuat dari bunyi. Sayap mereka adalah desis angin, paruh mereka adalah letupan api, ekor mereka adalah gema yang memanjang di dalam lembah.

Mereka tidak memiliki warna.

Mereka hanya memiliki suara.

Konon, setiap kali seekor burung mengepakkan sayapnya, lahirlah sebuah fonem.

Setiap kali ia hinggap, lahirlah jeda.

Dan setiap kali kawanan burung itu terbang bersama, langit dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang belum menjadi bahasa.

---

Para dewa menangkap burung-burung itu dengan jaring yang ditenun dari napas.

Mereka tidak memasukkannya ke dalam sangkar.

Mereka melepaskannya ke dalam mulut manusia.

Maka manusia mulai bersuara.

Mula-mula hanya bunyi-bunyi liar.

Lalu bunyi-bunyi itu saling mengenali.

Mereka berputar.

Mereka bertabrakan.

Mereka berkelompok.

Akhirnya mereka membangun sarang.

Sarang itulah yang kelak disebut kata.

---

Namun tidak semua burung mau ditangkap.

Ada burung yang hanya muncul ketika seseorang menangis.

Ada yang hanya terdengar dalam tawa bayi.

Ada yang hidup di sela-sela dengusan orang tua yang tertidur.

Ada pula yang hanya turun ketika seseorang menyebut nama orang yang telah meninggal.

Para ahli bahasa menyebutnya alofon.

Para dewa menyebutnya burung-burung pemalu.

---

Konon, ada seekor burung yang tidak pernah bersuara.

Ia disebut Burung Vokal Pertama.

Tubuhnya bening seperti embun.

Ia terbang dari dada ke dada.

Di mana pun ia hinggap, kata-kata tiba-tiba menjadi mudah diucapkan.

Jika ia pergi, lidah menjadi berat.

Doa tersangkut di langit-langit mulut.

Puisi kehilangan napas.

Karena itu para penyair selalu bangun lebih pagi daripada orang lain.

Mereka berharap menjadi orang pertama yang mendengar kepakan sayapnya.

---

Di bagian paling utara dunia terdapat Hutan Resonansi.

Pohon-pohonnya tidak berbuah.

Mereka menggantungkan gema.

Jika seseorang masuk ke sana sambil membawa satu bunyi, ia akan pulang membawa seribu.

Itulah sebabnya tidak ada dua bahasa yang memiliki suara yang persis sama.

Masing-masing pernah melewati hutan itu pada musim yang berbeda.

---

Ketika seorang anak mengucapkan kata pertamanya, para dewa tidak mendengar maknanya.

Mereka mendengarkan burung mana yang akhirnya berani keluar dari sarangnya.

Sebab setiap kelahiran bahasa selalu merupakan kepulangan seekor bunyi tua yang telah lama bersembunyi di dalam napas.

Dan sampai hari ini, ketika seseorang menyanyikan lagu untuk bayinya, burung-burung purba itu diam-diam turun dari langit, bertengger di tepi buaian, lalu mengajarkan kepada lidah kecil itu cara mengingat dunia melalui suara.

Karena bahasa, sebelum menjadi makna, terlebih dahulu adalah kawanan burung yang memilih bersarang di dalam mulut manusia.

---

Berikut saya mencoba pendekatan yang lebih simbolik dan filosofis. Wacana linguistik yang dieksplorasi adalah sintaksis—tetapi bukan sebagai aturan tata bahasa, melainkan sebagai mitos tentang mengapa dunia dapat menjadi kalimat.

KITAB TENTANG DEWA SINTAKSIS

Pada masa ketika dunia masih berupa kamus, segala sesuatu telah memiliki nama.

Pohon telah bernama pohon.

Laut telah bernama laut.

Api telah bernama api.

Manusia telah bernama manusia.

Namun tidak ada yang saling mendekat.

Nama-nama itu hidup seperti pulau-pulau yang terapung di atas samudra keheningan.

Masing-masing utuh.

Masing-masing benar.

Masing-masing kesepian.

Para dewa mengira penciptaan telah selesai.

Mereka salah.

Sebab dunia belum dapat bercerita.

---

Pada malam ketujuh, ketika seluruh dewa tertidur, lahirlah seorang dewa yang tidak memiliki wajah.

Ia tidak menciptakan kata.

Ia tidak menciptakan bunyi.

Ia hanya berjalan di antara kata-kata yang saling diam.

Tangannya yang kanan memegang jarak.

Tangannya yang kiri memegang urutan.

Ia mempertemukan "burung" dengan "terbang".

Lalu ia mundur selangkah.

Dunia bergerak.

Ia mempertemukan "anak" dengan "menangis".

Lalu ia mengubah letaknya.

Dunia berduka.

Ia mempertemukan "ibu" dengan "menunggu".

Langit tiba-tiba menjadi senja.

Begitulah para dewa pertama kali mengetahui bahwa makna tidak tinggal di dalam kata.

Makna tinggal di antara kata-kata.

---

Dewa itu tidak pernah berbicara.

Ia hanya memindahkan letak.

Kadang ia meletakkan "tidak" terlalu awal, lalu seluruh kerajaan runtuh.

Kadang ia memindahkan "belum" ke ujung kalimat, lalu harapan hidup seribu tahun lebih lama.

Kadang ia menyelipkan "masih" sebelum "menunggu", dan seorang janda memutuskan untuk tidak menutup pintu rumahnya.

Para dewa mulai takut kepadanya.

Mereka menyadari bahwa ia tidak mengubah dunia dengan kekuatan.

Ia hanya mengubah susunan.

Namun susunan ternyata lebih berbahaya daripada petir.

---

Konon, setiap malam Dewa Sintaksis mengunjungi mimpi manusia.

Ia memungut kata-kata yang tercecer sepanjang hari.

Marah.

Rindu.

Lelah.

Pulang.

Besok.

Maaf.

Ia menyusunnya berkali-kali.

Dalam satu susunan, seseorang menjadi pembunuh.

Dalam susunan lain, ia menjadi penyelamat.

Dalam satu urutan, dunia adalah hukuman.

Dalam urutan yang lain, dunia adalah rumah.

Ketika fajar tiba, manusia terbangun dengan satu kalimat di dadanya.

Mereka menyebutnya nasib.

Padahal itu hanya sintaksis yang dipilihkan dewa untuk hari itu.

---

Ada satu tempat yang bahkan para dewa jarang datangi.

Namanya Lembah Anak Kalimat.

Di sana tinggal kalimat-kalimat yang tak pernah selesai.

Janji yang terputus.

Pengakuan yang tertelan.

Surat yang tak pernah dikirim.

Permintaan maaf yang berhenti sebelum mencapai titik.

Mereka bergentayangan seperti kabut.

Sesekali memasuki mimpi seseorang.

Lalu keluar lagi sebelum sempat dipahami.

Konon, semua penyesalan berasal dari lembah itu.

Bukan karena manusia kekurangan kata.

Melainkan karena mereka gagal menyusunnya sebelum waktu menutup mulut.

---

Pada akhir zaman, kata kitab-kitab tua, seluruh kata akan kembali kepada para dewa.

Benda-benda akan kehilangan nama.

Sungai akan lupa bahwa ia sungai.

Burung akan lupa bahwa ia burung.

Pohon akan lupa bahwa ia pohon.

Namun Dewa Sintaksis tidak akan mengambil apa pun.

Ia hanya akan duduk di tepi kehampaan, menunggu.

Sebab ia tahu, selama masih ada dua kata yang saling mencari, dunia belum benar-benar berakhir.

Selama "aku" masih dapat menemukan "engkau", selama "kemarin" masih mampu berdamai dengan "esok", selama "maaf" masih berani mendekati "terlambat", penciptaan akan terus berlangsung.

Sebab alam semesta tidak lahir ketika kata pertama diucapkan.

Ia lahir ketika sebuah kata bersedia memberi tempat bagi kata yang lain.

Dan sejak saat itu, setiap kalimat yang baik bukan sekadar susunan bahasa.

Ia adalah pengulangan yang sunyi atas pekerjaan pertama para dewa: mempertemukan yang terpisah, memberi jarak yang tepat, lalu membiarkan makna lahir dengan sendirinya di antara keduanya.

---

Berikut saya buat dengan pendekatan yang lebih puitis dan lebih "mitopoetik". Wacananya mengeksplorasi konsep linguistik morfologi—asal-usul imbuhan—seolah-olah prefiks, sufiks, dan infiks adalah makhluk-makhluk purba yang membentuk dunia.

HUTAN TEMPAT IMBUHAN BERSEMAYAM

Sebelum kata-kata mengenakan tubuhnya yang sekarang, mereka hanyalah akar.

Mereka hidup di bawah tanah, saling bersentuhan dalam gelap, meminum air yang mengalir dari sumur-sumur purba. Mereka belum mengenal waktu, belum mengenal orang pertama atau orang ketiga, belum mengenal yang lampau maupun yang akan datang. Mereka hanya mengenal keberadaan, sebagaimana akar mengenal tanah: tanpa perlu mengucapkannya.

Para dewa menyebut mereka kata dasar.

Namun mereka belum dapat dipanggil.

Mereka hanya dapat dirasakan.

Maka dunia pada masa itu dipenuhi makna yang belum menemukan mulut.

---

Di tengah hutan yang lebih tua daripada matahari berdiri Pohon Morfem.

Tidak ada daun pada pohon itu.

Yang bergantung di ranting-rantingnya adalah imbuhan.

Awalan berayun seperti buah yang belum masak.

Akhiran berkilau seperti embun yang menunggu fajar.

Sisipan tidur di balik kulit batang, sebab ia selalu lebih suka hidup di dalam daripada di tepi.

Setiap musim, para dewa datang memetik sebagian darinya.

Mereka menempelkannya pada akar-akar kata.

Seketika dunia berubah.

Akar yang semula hanya diam mulai bergerak.

Yang semula hanya ada mulai menjadi.

Yang semula hanya mungkin mulai menjadi kenyataan.

---

Konon, awalan pertama yang dipetik adalah me-.

Ia masih basah oleh embun.

Ketika ditempelkan pada kata jalan, lahirlah seseorang yang sedang berjalan.

Ketika ditempelkan pada lihat, lahirlah mata yang memilih memandang.

Ketika ditempelkan pada dengar, lahirlah telinga yang tidak sekadar memiliki bunyi, tetapi menerimanya.

Para dewa bersorak.

Mereka baru menyadari bahwa dunia tidak cukup diciptakan sebagai benda.

Ia harus terus-menerus terjadi.

---

Tetapi Dewi Kesunyian merasa dunia menjadi terlalu ramai.

Semua kata ingin bergerak.

Semua ingin melakukan sesuatu.

Maka ia memetik awalan lain.

ter-

Ia meletakkannya dengan sangat pelan.

Seketika ada daun yang gugur tanpa disengaja.

Ada batu yang terlempar tanpa tangan.

Ada hati yang terluka tanpa niat.

Sejak itu manusia mengetahui bahwa tidak semua peristiwa mempunyai pelaku.

Sebagian hanya memilih terjadi.

---

Lalu datang akhiran.

Mereka adalah makhluk yang paling sabar.

Mereka selalu berjalan di belakang.

Mereka tidak mengubah langkah pertama.

Mereka hanya mengubah tujuan.

Maka kata yang semula menjadi rumah berubah menjadi perjalanan.

Yang semula menjadi benda berubah menjadi keadaan.

Yang semula menjadi nama berubah menjadi nasib.

Karena para akhiran percaya bahwa akhir sebuah kata sama pentingnya dengan awalnya.

Bukankah sungai pun dikenal dari muaranya?

---

Yang paling tua adalah sisipan.

Tak seorang pun pernah melihat wajahnya.

Ia hidup di dalam tubuh kata, seperti kenangan hidup di dalam seseorang.

Ia tidak pernah muncul di permukaan.

Namun setiap kali ia lewat, bunyi berubah, napas bergeser, irama menjadi lain.

Konon, para penyair dahulu dapat melihatnya.

Karena itu mereka tahu bahwa perubahan paling besar tidak selalu datang dari depan atau belakang.

Kadang ia lahir dari sesuatu yang diam-diam tumbuh di bagian tengah diri kita.

---

Hingga hari ini Pohon Morfem masih berdiri.

Tidak ada peta yang menunjukkan letaknya.

Ia hanya muncul kepada mereka yang menganggap bahasa sebagai makhluk hidup.

Pada malam-malam tertentu, jika angin bertiup dari arah yang tidak dikenal, terdengar bunyi ranting-rantingnya saling bergesekan.

Orang-orang mengira itu suara daun.

Para ahli bahasa tua tahu yang sebenarnya.

Itu adalah imbuhan-imbuhan yang sedang memilih kata berikutnya.

Sebab tidak semua kata siap berubah.

Tidak semua akar bersedia menerima tubuh baru.

Dan para dewa tidak pernah memaksa.

Mereka hanya menunggu hingga sebuah kata merasa hidupnya terlalu sempit untuk memuat makna yang telah tumbuh di dalamnya.

Barulah mereka memetik satu imbuhan dari pohon purba itu, menempelkannya dengan hati-hati, lalu membiarkan bahasa kembali bersemi.

Karena dunia, kata para dewa, tidak diciptakan sekaligus.

Ia terus diciptakan setiap kali sebuah akar menemukan keberanian untuk menerima bentuk baru, dan setiap bentuk baru membuka kemungkinan baru bagi manusia untuk mengenali dirinya sendiri.

•••


Berikut saya buat dalam bentuk prosa-puitik yang lebih liris dan kurang naratif. Mitologinya tidak dijelaskan sebagai alur cerita, melainkan mengalir seperti sebuah kitab kuno yang sedang mengenang asal-usul bahasa.

KETIKA DEWA-DEWA MENYEMBUNYIKAN KATA BENDA

Konon, pada malam sebelum dunia selesai diciptakan, para dewa mengadakan perjamuan terakhir. Mereka menyusun seluruh kata di atas meja batu: kata benda, kata kerja, kata sifat, kata ganti, kata depan, kata hubung. Semuanya berkilau seperti benih-benih yang belum memilih musim.

Mereka hendak membagikannya kepada semua makhluk.

Burung meminta kata untuk langit.

Ikan meminta kata untuk arus.

Pohon meminta kata untuk angin.

Api meminta kata untuk lapar.

Batu tidak meminta apa pun. Ia telah cukup tua untuk mengetahui bahwa diam pun dapat menjadi sebuah bahasa.

Hanya manusia yang datang terlambat.

Ia tiba dengan tangan kosong dan mata yang dipenuhi pertanyaan.

Para dewa saling berpandangan.

Seluruh kata benda telah habis dibagikan.

Tak ada lagi "laut". Tak ada lagi "gunung". Tak ada lagi "rumah". Tak ada lagi "ibu". Semua telah memiliki pemiliknya masing-masing.

Maka para dewa melakukan sesuatu yang tak pernah mereka akui kepada siapa pun.

Mereka memecahkan setiap kata benda menjadi ribuan pecahan kecil, lalu meniupkannya ke dalam dada manusia.

Sejak hari itu manusia tak pernah mampu menyebut dunia secara utuh.

Ia hanya mampu mendekatinya.

Ia menyebut seseorang sebagai matahari, padahal yang dimaksudnya adalah kehangatan.

Ia menyebut kesedihan sebagai hujan, padahal yang jatuh bukan air.

Ia menyebut harapan sebagai burung, padahal yang mengepak hanyalah waktu.

Para dewa menyebutnya cacat.

Para penyair menyebutnya metafora.

---

Konon, setiap bayi lahir sambil membawa serpihan kata benda yang berbeda.

Sebab itu tidak ada dua manusia yang memandang "rumah" dengan makna yang sama.

Bagi seorang perantau, rumah adalah bau kayu yang basah.

Bagi seorang yatim, rumah adalah suara yang tidak lagi dapat dipanggil.

Bagi seorang anak, rumah adalah langkah kaki ibunya menjelang senja.

Kamus menolak semua penjelasan itu.

Namun para dewa tidak pernah menulis kamus.

Mereka hanya menciptakan dunia yang terlalu luas untuk dimuat oleh definisi.

---

Ada sebuah lembah di ujung bahasa yang tidak dapat dicapai oleh tata bahasa mana pun.

Di sana tinggal Dewi Etimologi.

Ia tidak menjaga asal-usul kata.

Ia menjaga kenangan yang ditinggalkan kata ketika berpindah dari satu mulut ke mulut yang lain.

Setiap kali sebuah kata dipakai untuk pertama kalinya sebagai pelukan, rambutnya bertambah panjang.

Setiap kali sebuah kata dipakai untuk menghina, sehelai rambutnya memutih.

Setiap kali seseorang menemukan makna yang belum pernah dihuni sebuah kata, ia menanam satu pohon baru di lembah itu.

Karena itu hutan di sana tidak tumbuh dari biji.

Ia tumbuh dari penemuan.

---

Dan konon, jika suatu hari seluruh bahasa di bumi lenyap, para dewa tidak akan menciptakan kamus baru.

Mereka hanya akan mempertemukan kembali seorang anak dengan hujan.

Seorang ibu dengan nyanyian.

Seorang pengembara dengan jalan pulang.

Seorang kekasih dengan keheningan.

Sisanya akan lahir sendiri.

Sebab bahasa tidak pernah benar-benar berasal dari mulut.

Ia berasal dari perjumpaan.

Kata hanyalah kulit yang dikenakan oleh pengalaman agar dapat dikenali.

Makna adalah roh yang berpindah-pindah di dalamnya.

Itulah sebabnya para dewa tidak pernah takut jika sebuah bahasa punah.

Yang mereka takutkan hanyalah saat manusia berhenti bertemu dunia dengan takjub.

Sebab pada hari itu, kata-kata akan tetap ada.

Tetapi tak satu pun di antaranya masih mampu menjadi mitos.

Dan bahasa, untuk pertama kalinya sejak penciptaan, akan mengetahui bagaimana rasanya hidup tanpa jiwa.

---

Berikut saya buat dengan mesin konseptual yang berbeda lagi. Kali ini mitosnya menjelaskan asal-usul sinonim: mengapa satu hal dapat memiliki banyak nama. Di baliknya ada dongeng tentang para dewa yang gagal membagi bahasa secara adil.

DONGENG TENTANG PASAR KATA PARA DEWA

Pada zaman ketika dunia masih muda, hanya ada satu kata untuk setiap benda.

Satu kata untuk hujan.

Satu kata untuk api.

Satu kata untuk ibu.

Satu kata untuk pulang.

Bahasa sangat teratur.

Para dewa menyukainya.

Tak ada salah paham.

Tak ada puisi.

Tak ada doa yang dapat ditafsirkan lebih dari sekali.

Dunia berjalan seperti daftar inventaris.

---

Setiap seribu tahun sekali, para dewa membuka Pasar Kata.

Di sanalah seluruh makhluk datang mengambil nama untuk musim berikutnya.

Burung mengambil nama angin.

Pohon mengambil nama buah.

Laut mengambil nama ombak.

Manusia datang paling akhir.

Bukan karena mereka lambat.

Melainkan karena mereka terlalu lama saling mendahulukan.

Ketika akhirnya tiba di pasar, rak-rak bahasa telah hampir kosong.

Yang tersisa hanya beberapa kata yang telah disentuh berkali-kali oleh makhluk lain.

Manusia menerimanya tanpa mengeluh.

Para dewa merasa iba.

Mereka berkata,

"Kalian boleh memakai satu kata lebih dari sekali."

Begitulah kekacauan bermula.

---

Seorang ibu menyebut anaknya "cahaya."

Matahari tidak marah.

Seorang pelaut menyebut laut "rumah."

Rumah tidak protes.

Seorang kekasih memanggil kekasihnya "langit."

Langit hanya tersenyum.

Lama-kelamaan, semua kata saling bertukar pakaian.

Tak ada lagi yang benar-benar tinggal di tempat asalnya.

---

Dewa Tata Bahasa menganggap itu bencana.

Ia menyusun undang-undang.

Air harus kembali menjadi air.

Batu harus kembali menjadi batu.

Mawar tidak boleh menjadi pipi.

Pulang tidak boleh menjadi pelukan.

Semua makhluk diwajibkan memakai nama resminya.

Selama tujuh hari dunia menjadi sangat jelas.

Dan sangat sepi.

Tak seorang penyair berhasil menulis.

Tak seorang anak mampu bercerita.

Tak seorang ibu menemukan kata yang cukup luas untuk memanggil anaknya.

Pada hari kedelapan, bahkan para dewa lupa mengapa mereka membuat aturan itu.

Mereka pun membakarnya.

Abunya berubah menjadi sinonim.

---

Tetapi ada satu dewa tua yang belum puas.

Ia berkata,

"Kalau satu benda memiliki banyak nama, bagaimana manusia tahu mana yang benar?"

Dewi Bahasa menjawab,

"Mereka tidak perlu memilih."

"Setiap nama membuka pintu yang berbeda."

"Air" adalah yang diminum.

"Embun" adalah yang ditunggu daun.

"Gerimis" adalah yang membuat orang memperlambat langkah.

"Hujan" adalah yang mengembalikan kenangan.

"Air mata" adalah hujan yang memilih tinggal di dalam tubuh.

"Bukankah semuanya air?"

"Tidak."

"Mereka saling bersaudara."

"Dan saudara tidak pernah sama."

---

Sejak itu para dewa berhenti menciptakan kata.

Mereka hanya menciptakan pengalaman.

Ketika seorang anak kehilangan ibunya, lahirlah satu nama baru bagi sepi.

Ketika seorang nelayan melihat laut memerah saat senja, lahirlah satu nama baru bagi pulang.

Ketika seorang perempuan tua mencium baju mendiang suaminya untuk terakhir kali, lahirlah satu nama baru bagi rindu.

Bahasa tidak lagi tumbuh di langit.

Ia tumbuh di dalam hidup.

---

Konon, jauh di utara, masih berdiri Pasar Kata itu.

Namun tak ada lagi yang menjual kata-kata.

Yang diperjualbelikan hanyalah pengalaman.

Seseorang membawa kesabaran, lalu pulang dengan tiga kata baru.

Seseorang membawa kehilangan, lalu menemukan tujuh nama bagi kesunyian.

Seseorang membawa cinta, tetapi kembali dengan bahasa yang tak lagi cukup untuk mengucapkannya.

Para dewa menjaga pasar itu bukan agar bahasa tetap tertib.

Melainkan agar ia tetap melimpah.

Sebab mereka akhirnya memahami bahwa kemiskinan terbesar sebuah dunia bukanlah ketika ia kekurangan benda.

Melainkan ketika ia hanya memiliki satu nama untuk segala sesuatu.

Karena satu nama hanya sanggup menunjuk.

Tetapi banyak nama mengizinkan manusia mendekat.

Dan setiap kali sebuah bahasa menemukan sinonim baru, para dewa tahu bahwa bukan kamus yang sedang bertambah.

Melainkan cara manusia mencintai dunia.

---

Berikut saya buat dengan wacana linguistik yang berbeda. Kali ini mitosnya menjelaskan asal-usul tanda baca. Namun tanda baca bukan ciptaan manusia, melainkan makhluk-makhluk purba yang lebih tua daripada bahasa itu sendiri.

KITAB TANDA-TANDA YANG TURUN SEBELUM KATA

Pada zaman ketika bahasa belum mengenal suara, para dewa telah lebih dahulu menciptakan keheningan.

Keheningan itu sangat luas.

Begitu luas hingga kata-kata yang baru lahir tidak tahu harus berjalan ke mana.

Mereka saling bertabrakan.

Mereka bertumpuk.

Mereka mengalir tanpa henti seperti sungai yang lupa memiliki tepi.

Tak ada yang dapat dimengerti.

Bahkan para dewa gagal memahami doa yang mereka terima sendiri.

Maka Dewi Gramatika memanggil makhluk-makhluk yang hidup sebelum bahasa.

Mereka bukan huruf.

Bukan bunyi.

Mereka adalah para Penjaga Jeda.

---

Yang pertama datang adalah Titik.

Tubuhnya bulat, kecil, dan nyaris tak terlihat.

Ia tidak pernah banyak bicara.

Ia hanya berdiri di ujung segala sesuatu.

Ketika Titik menyentuh sebuah kalimat, semua kata berhenti berjalan.

Untuk pertama kalinya dunia mengenal selesai.

Para dewa menangis.

Sebelumnya mereka tidak tahu bahwa sesuatu dapat berakhir tanpa harus musnah.

---

Lalu datang Koma.

Ia adalah adik Titik yang paling gelisah.

Ia tidak suka perpisahan.

Setiap kali melihat dua kata hendak berpisah, ia menyelipkan tubuhnya di antara mereka.

"Tunggu sebentar," katanya.

"Belum selesai."

Karena Koma, napas lahir.

Karena napas, cerita dapat menjadi panjang.

Karena cerita yang panjang, manusia mulai memiliki kenangan.

---

Titik Dua lahir dari dua mata seekor burung malam yang menolak berkedip.

Ia selalu berdiri menghadap masa depan.

Ia tidak pernah berkata apa-apa selain,

"Lihatlah yang akan datang."

Setiap kali Titik Dua muncul, dunia membuka pintu.

Daftar lahir.

Penjelasan lahir.

Rahasia bersedia memperlihatkan wajahnya.

---

Titik Koma adalah makhluk yang paling kesepian.

Ia lahir dari perkawinan yang tidak pernah disetujui para dewa.

Setengah Titik.

Setengah Koma.

Ia tidak benar-benar mengakhiri.

Ia juga tidak benar-benar melanjutkan.

Karena itu manusia jarang memanggilnya.

Namun setiap kali dua kalimat yang sama-sama keras kepala akhirnya bersedia hidup berdampingan, Titik Koma diam-diam lewat di antara mereka seperti penengah yang tak pernah menerima ucapan terima kasih.

---

Yang paling ditakuti adalah Tanda Tanya.

Konon ia menetas dari sisik naga yang menolak percaya kepada para dewa.

Tubuhnya melengkung karena terus-menerus membungkuk mencari jawaban.

Kepalanya selalu menghadap ke bawah.

Matanya berupa titik kecil yang tak pernah terpejam.

Ke mana pun ia pergi, kepastian menjadi gelisah.

Para raja membencinya.

Para imam mencurigainya.

Anak-anak justru mengikutinya ke mana-mana.

Sebab hanya anak-anak yang tahu bahwa dunia tumbuh dari pertanyaan, bukan dari jawaban.

---

Kemudian lahirlah Tanda Seru.

Ia ditempa dari pecahan petir.

Langkahnya membuat gunung bergema.

Suaranya membangunkan benih di dalam tanah.

Setiap kali ia muncul, pohon-pohon berbunga lebih cepat.

Namun para dewa melarangnya terlalu sering turun ke bumi.

Sebab tidak ada yang lebih cepat melelahkan daripada kekaguman yang terus dipaksakan.

---

Yang terakhir turun adalah Elipsis.

Tidak seorang pun melihat wajahnya.

Ia selalu datang bertiga.

Ia tidak menyelesaikan kalimat.

Ia tidak pula meninggalkannya.

Ia hanya membuka sebuah jalan kecil menuju sesuatu yang belum sempat dikatakan.

Para penyair mengenalnya.

Para kekasih mengenalnya.

Orang-orang tua yang menatap hujan dari beranda mengenalnya.

Tetapi kamus tidak pernah berhasil mendefinisikannya dengan tuntas.

---

Setelah semua Penjaga Jeda turun ke bumi, Dewi Gramatika akhirnya menciptakan kata-kata.

Anehnya, kata-kata segera mengaku bahwa merekalah yang membangun bahasa.

Mereka lupa bahwa sebelum mereka lahir, sudah ada yang mengajarkan kapan harus berhenti, kapan harus menunggu, kapan harus bertanya, kapan harus berseru, dan kapan harus membiarkan sesuatu tetap belum selesai.

Para Penjaga Jeda tidak pernah membantah.

Mereka memang tidak diciptakan untuk dipuji.

Mereka hanya memastikan bahwa bahasa tidak berubah menjadi banjir yang menenggelamkan makna.

Karena sesungguhnya, kata para dewa, dunia tidak runtuh akibat kekurangan kata.

Dunia runtuh ketika tak ada lagi tempat untuk berhenti.

Ketika tak ada lagi ruang untuk bernapas.

Ketika semua kalimat ingin menjadi yang terakhir.

Dan sejak itu, setiap kali seorang penulis meletakkan sebuah titik dengan sungguh-sungguh, para dewa percaya bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang lebih tua daripada menulis.

Ia sedang mengulang pekerjaan pertama yang pernah dilakukan alam semesta:

memberi bentuk kepada keheningan, agar makna dapat lahir di dalamnya.

---

Berikut saya buat dengan "mesin konseptual" yang memadukan linguistik dan dongeng mitologis. Mitos ini menjelaskan asal-usul konjungsi—mengapa di dunia ada kata dan, tetapi, atau, karena, dan jika.

DONGENG TENTANG PENJAGA KONJUNGSI

Pada permulaan dunia, semua kata hidup sendirian.

Gunung berdiri tanpa langit.

Hujan turun tanpa bumi.

Burung terbang tanpa udara.

Air mengalir tanpa sungai.

Tak ada kalimat.

Yang ada hanya kawanan kata yang saling memandang dari kejauhan, masing-masing terkurung di dalam maknanya sendiri.

Para dewa mencoba menyuruh mereka berkumpul.

Tak berhasil.

Kata benda merasa dirinya paling tua.

Kata kerja menganggap dirinya paling penting.

Kata sifat menolak berdiri di samping siapa pun karena takut kehilangan keindahan.

Kata ganti bahkan lupa sedang menggantikan siapa.

Dunia dipenuhi kosakata, tetapi tak satu pun cerita dapat lahir.

---

Melihat kekacauan itu, Dewi Bahasa pergi ke tepi laut purba.

Di sana ia menemukan seekor laba-laba tua yang sedang menenun jaring di antara dua batu.

"Lihat," kata laba-laba itu.

"Benang tidak pernah memilih salah satu batu."

"Ia hanya menghubungkan."

Dewi itu tersenyum.

Ia mencabut sehelai benang dari jaring.

Benang itu tidak berubah menjadi tali.

Ia berubah menjadi sebuah kata.

Dan.

Begitu kata itu diucapkan, langit menemukan bumi.

Burung menemukan angin.

Api menemukan kayu.

Manusia menemukan manusia.

Untuk pertama kalinya dunia dapat mengucapkan dirinya sebagai kalimat.

---

Tetapi para dewa segera menyadari sesuatu.

Jika semua hanya dihubungkan oleh dan, dunia akan menjadi terlalu patuh.

Tak akan ada pertengkaran.

Tak akan ada keraguan.

Tak akan ada pilihan.

Maka Dewa Batu memecahkan sepotong gunung.

Pecahannya berubah menjadi kata kedua.

Tetapi.

Sejak itu sungai dapat menolak batu.

Anak dapat berbeda dari ayahnya.

Penyair dapat membantah raja.

Cinta dapat bertahan, tetapi juga dapat pergi.

Dunia belajar bahwa hubungan tidak selalu berarti persetujuan.

---

Lalu lahirlah anak-anak manusia.

Mereka terus bertanya.

"Haruskah aku ke timur?"

"Haruskah aku tinggal?"

"Haruskah aku mencintainya?"

Para dewa tidak sanggup menjawab semuanya.

Mereka menciptakan kata baru.

Atau.

Kata itu tidak memberi jawaban.

Ia hanya membuka jalan bercabang.

Sejak saat itu manusia mulai mengenal kebebasan.

Sekaligus penyesalan.

---

Namun dunia masih belum dapat menjelaskan dirinya.

Mengapa hujan turun?

Mengapa pohon tumbuh?

Mengapa hati patah?

Mengapa burung kembali?

Melihat kebingungan itu, seekor kura-kura tua naik dari dasar samudra.

Di punggungnya tumbuh lumut yang membentuk satu kata.

Karena.

Sejak hari itu manusia mulai menyusun sebab.

Mereka membangun filsafat.

Mereka mendirikan ilmu.

Mereka menulis sejarah.

Mereka lupa bahwa karena hanyalah jembatan, bukan rumah.

---

Dewi Bahasa mulai cemas.

Ia melihat manusia terlalu percaya kepada sebab.

Segala sesuatu ingin mereka jelaskan.

Segala misteri ingin mereka tutup.

Maka ia menciptakan konjungsi terakhir.

Ia mengambil embun yang belum jatuh, angin yang belum berembus, dan jalan yang belum dilalui.

Dari semuanya ia membuat satu kata.

Jika.

Kata itu tidak menghubungkan kenyataan.

Ia menghubungkan kemungkinan.

Sejak saat itu lahirlah doa.

Lahir penyesalan.

Lahir harapan.

Lahir sastra.

Lahir mimpi.

Sebab hanya makhluk yang mengenal jika mampu membayangkan dunia yang belum ada.

---

Konon, hingga hari ini Dewi Bahasa tidak tinggal di perpustakaan.

Ia tinggal di antara konjungsi.

Ia berjalan di atas dan ketika dua orang berdamai.

Ia bersembunyi di balik tetapi ketika seseorang berani menolak ketidakadilan.

Ia duduk di persimpangan atau ketika seorang anak memilih jalan hidupnya sendiri.

Ia tersenyum di dalam karena ketika seorang guru menjelaskan dunia kepada muridnya.

Dan ia menangis pelan di dalam jika setiap kali seseorang berkata,

"Jika saja..."

Sebab para dewa mengetahui sesuatu yang tidak pernah ditulis dalam tata bahasa.

Kata-kata tidak membangun dunia.

Bahkan makna pun tidak.

Dunia dibangun oleh hubungan-hubungan kecil yang dijalin di antara kata-kata.

Oleh benang-benang tak terlihat yang membuat "aku" dapat bertemu "engkau", "kemarin" dapat menyapa "esok", dan "harapan" tetap dapat berjalan bergandengan tangan dengan "kehilangan".

Itulah sebabnya para ahli bahasa kuno tidak pernah menyebut konjungsi sebagai kata yang lemah.

Mereka menyebutnya benang para dewa.

Karena tanpa benang itu, alam semesta hanya akan menjadi kamus yang sangat lengkap, tetapi tak pernah berhasil menjadi sebuah cerita.

---

Berikut saya buat dengan nuansa yang lebih menyerupai mitos Yunani kuno atau kisah-kisah dalam Metamorphoses: sebuah dongeng yang menjelaskan asal-usul sesuatu yang sangat biasa, tetapi melalui logika mitologis yang puitis.

DONGENG TENTANG DEWA YANG MENGUMPULKAN NAMA-NAMA YANG HILANG

Sebelum dunia mengenal kematian, semua makhluk memiliki dua nama.

Nama pertama dipanggil oleh ibu mereka.

Nama kedua hanya diketahui oleh para dewa.

Nama pertama membuat seseorang dikenali.

Nama kedua membuat seseorang tetap menjadi dirinya.

Maka pada zaman itu, tak ada yang dapat benar-benar tersesat.

Bahkan jika seseorang berjalan hingga ke ujung laut, angin akan mengenali nama keduanya dan mengantarkannya pulang.

---

Lalu lahirlah seorang dewa muda yang gemar mengoleksi suara.

Ia mengumpulkan gema dari lembah.

Ia mencuri bisikan dedaunan.

Ia menyimpan tawa anak-anak di dalam tempayan tanah liat.

Ia bahkan memelihara suara hujan yang jatuh di atas atap-atap berbeda.

Semua suara itu ia beri nama.

Semua nama ia simpan.

Lama-kelamaan gudangnya menjadi terlalu penuh.

Nama-nama saling bertumpuk.

Suara-suara saling bertabrakan.

Suatu malam, tanpa sengaja, tempayan-tempayan itu pecah.

Ribuan nama kedua beterbangan ke langit seperti kawanan burung yang ketakutan.

Para dewa mengejarnya.

Terlambat.

Nama-nama itu telah bersembunyi di dalam angin, sungai, hujan, kabut, dan celah-celah batu.

Sejak hari itu manusia hanya memiliki satu nama.

Yang satu lagi hilang.

---

Maka dunia berubah.

Orang-orang mulai lupa mengapa mereka mencintai sesuatu.

Mereka mengenali wajah, tetapi kadang merasa asing terhadap dirinya sendiri.

Mereka pulang ke rumah, namun sesekali merasa belum tiba.

Mereka berdiri di tengah keramaian, tetapi seolah seseorang yang paling penting belum datang.

Padahal yang belum datang bukan orang lain.

Melainkan nama kedua mereka.

---

Konon, dewa tua yang menjaga hutan merasa iba.

Ia tidak dapat mengembalikan nama-nama yang telah tercerai.

Namun ia menciptakan jalan-jalan kecil agar manusia sesekali hampir menemukannya.

Itulah sebabnya ada lagu yang membuat seseorang menangis tanpa tahu alasannya.

Ada aroma tanah setelah hujan yang terasa lebih tua daripada ingatan.

Ada buku yang seolah telah dibaca sebelum dilahirkan.

Ada wajah orang asing yang terasa seperti kerabat yang telah lama hilang.

Pada saat-saat seperti itu, nama kedua sedang lewat sangat dekat.

Tetapi tidak pernah cukup dekat untuk dipanggil.

---

Para penyair adalah orang-orang yang paling sering mengejarnya.

Mereka mengira sedang mencari kata.

Padahal mereka sedang mengejar nama yang hilang.

Setiap puisi yang selesai hanyalah bekas langkahnya di pasir.

Para pelukis mengira mereka sedang mencari warna.

Para musikus mengira mereka sedang mencari melodi.

Para peziarah mengira mereka sedang mencari Tuhan.

Padahal semuanya sedang mengikuti gema dari nama yang pernah diketahui para dewa.

---

Ketika seseorang meninggal, para dewa tidak menanyakan apa yang telah ia miliki.

Mereka tidak menghitung berapa banyak rumah yang dibangunnya atau berapa jauh ia berjalan.

Mereka hanya membawa sebuah kendi kecil berisi angin.

Lalu mereka membisikkan seluruh nama yang pernah hilang ke dalamnya.

Jika salah satu nama bergetar, mereka tahu:

itulah nama kedua orang itu.

Saat itulah, untuk pertama kalinya sejak dilahirkan, ia mendengar dirinya dipanggil secara utuh.

Konon, itulah sebabnya beberapa wajah orang yang meninggal tampak begitu damai.

Bukan karena mereka telah menemukan surga.

Melainkan karena setelah seumur hidup hidup dengan satu nama, akhirnya mereka mendengar nama yang selama ini diam-diam mencari mereka.

Dan sejak itu, setiap bayi yang lahir selalu menangis.

Orang-orang mengira ia sedang memasuki dunia.

Para dewa tahu yang sebenarnya.

Ia sedang melupakan nama keduanya, agar perjalanan mencarinya dapat dimulai lagi.

Sebab dunia, kata para dewa, bukanlah tempat untuk memiliki jawaban.

Dunia adalah tempat di mana setiap makhluk belajar mengenali kembali nama yang bahkan tidak lagi ia ingat pernah kehilangannya.

---

Berikut saya buat dengan wacana mitologis yang berbeda. Kali ini bukan tentang para dewa, melainkan tentang asal-usul metafora. Seolah-olah berasal dari sebuah kosmogoni kuno yang menjelaskan mengapa manusia tidak pernah mampu berbicara secara harfiah tentang hal-hal yang paling penting.

DONGENG TENTANG DEWI YANG MENENUN METAFORA

Sebelum ada bahasa, dunia sangat jujur.

Air hanyalah air.

Batu hanyalah batu.

Api hanyalah api.

Tak ada yang dapat disalahpahami, sebab tak ada yang dapat dimaknai selain dirinya sendiri.

Para dewa hidup tenteram.

Mereka tidak pernah bertengkar mengenai tafsir.

Gunung tidak melambangkan keteguhan.

Burung tidak melambangkan kebebasan.

Laut tidak melambangkan kerinduan.

Semuanya hanya menjadi dirinya sendiri.

Namun dunia yang sepenuhnya harfiah ternyata terlalu sunyi.

Ketika manusia pertama kehilangan ibunya, ia memandang langit selama berhari-hari.

Ia ingin mengatakan sesuatu.

Tetapi seluruh bahasa hanya mengenal nama benda.

Tak ada kata untuk kehilangan.

Tak ada kata untuk rindu.

Tak ada kata untuk duka.

Ia hanya mampu berkata,

"Langit."

Dan semua orang mengira ia sedang membicarakan cuaca.

---

Dewi yang menjaga benang-benang bahasa melihat peristiwa itu.

Ia merasa kasihan.

Malam itu ia turun ke bumi sambil membawa alat tenun.

Ia tidak menenun kain.

Ia menenun kemiripan.

Ia mengambil sedikit warna senja, sedikit rasa garam dari laut, sedikit berat dari batu, sedikit dingin dari hujan, lalu menyimpannya di dalam kata-kata.

Keesokan harinya, manusia itu berkata,

"Dadaku adalah laut."

Semua orang langsung mengerti bahwa yang dimaksud bukan air.

Melainkan sesuatu yang terlalu luas untuk ditampung oleh dada.

Sejak itulah metafora lahir.

---

Para dewa marah.

"Kau telah merusak dunia," kata mereka.

"Sekarang manusia akan terus salah paham."

Dewi itu tersenyum.

"Ya."

"Gunung akan disangka keteguhan."

"Api akan disangka amarah."

"Hujan akan disangka tangisan."

"Burung akan disangka harapan."

"Dan tidak akan ada lagi kepastian."

"Benar," jawab sang dewi.

"Tetapi mulai hari ini, mereka akhirnya dapat mengatakan hal-hal yang sebelumnya mustahil diucapkan."

---

Maka dunia berubah.

Para kekasih berhenti berbicara tentang jantung.

Mereka mulai berbicara tentang bunga.

Para ibu berhenti berbicara tentang kecemasan.

Mereka mulai berkata,

"Hati-hati di jalan."

Para ayah berhenti berbicara tentang kasih sayang.

Mereka bertanya,

"Sudah makan?"

Anak-anak berhenti berkata bahwa mereka takut.

Mereka berkata,

"Lampunya jangan dimatikan."

Semua menjadi tidak langsung.

Semua menjadi lebih benar.

---

Para dewa terus mengeluh.

Mereka mulai kesulitan membaca doa.

Ketika seseorang berkata,

"Hatiku hancur,"

tidak ada hati yang benar-benar pecah.

Ketika seseorang berkata,

"Aku tenggelam,"

tidak ada air.

Ketika seseorang berkata,

"Engkau matahariku,"

matahari tetap terbit dari timur seperti biasa.

Para dewa kebingungan.

Hanya Dewi Penenun yang tertawa pelan.

"Kalau kalian ingin memahami manusia," katanya, "berhentilah mendengarkan arti kata. Dengarkan luka yang sedang mencari bentuk."

---

Konon, setiap kali seorang penyair menemukan metafora yang belum pernah diucapkan siapa pun, Dewi Penenun diam-diam menambahkan satu helai benang baru pada kain yang membungkus dunia.

Karena itu dunia tidak pernah selesai.

Ia terus bertambah luas setiap kali seseorang berhasil mengatakan sesuatu yang tidak mungkin dikatakan secara langsung.

Sebaliknya, setiap kali manusia memakai metafora yang sudah mati—yang diulang tanpa lagi mengandung penemuan—seekor ngengat gaib memakan sedikit demi sedikit kain itu.

Itulah sebabnya bahasa kadang terasa usang.

Bukan karena kata-katanya tua.

Melainkan karena benang-benangnya telah habis dimakan kebiasaan.

---

Hingga hari ini Dewi Penenun masih bekerja.

Ia duduk di tepi malam dengan alat tenunnya yang tak pernah berhenti bergerak.

Ia tidak menciptakan kata.

Ia hanya mempertemukan hal-hal yang tampaknya tak berhubungan.

Ia menjahit hujan dengan kenangan.

Ia mengikat debu kepada waktu.

Ia menyulam bayangan ke dalam kesepian.

Ia menempelkan laut pada dada manusia.

Dan setiap kali dua hal yang jauh tiba-tiba saling mengenali, sehelai benang baru lahir di atas alat tenunnya.

Konon, jika suatu hari nanti Dewi itu berhenti menenun, dunia tidak akan kiamat.

Gunung akan tetap berdiri.

Laut akan tetap asin.

Matahari akan tetap terbit.

Tetapi manusia akan kembali hanya mampu berkata, "Aku sedih."

Padahal yang sesungguhnya ingin ia katakan adalah bahwa di dalam dadanya ada samudra yang terus pasang, sementara di pantainya seseorang telah lama pergi tanpa meninggalkan perahu.

---


Berikut saya menggeser sepenuhnya wacananya. Bukan lagi arkeologi masa depan, melainkan sebuah dongeng mitologis yang terasa seperti berasal dari kitab kuno yang tidak pernah ada. Saya mempertahankan bentuk prosa-puisi, tetapi "mesin konseptualnya" kini adalah mitologi tentang asal-usul dunia.

KETIKA PARA DEWA KEHABISAN KEAJAIBAN

Pada mulanya, para dewa menciptakan mukjizat dengan mudah.

Mereka mengangkat gunung hanya dengan menguap.

Mereka menuangkan lautan dari kendi-kendi tanah liat.

Mereka menyalakan matahari dengan sepotong batu api.

Setiap pagi, seekor burung raksasa terbang mengitari langit sambil membawa siang di paruhnya. Setiap malam, seekor ikan purba berenang di bawah bumi sambil menarik kegelapan dengan ekornya.

Dunia masih muda.

Keajaiban tumbuh lebih cepat daripada rumput.

Manusia hidup dengan kepala selalu mendongak.

Mereka menunggu sesuatu yang besar terjadi.

Mereka percaya para dewa tidak pernah berurusan dengan hal-hal kecil.

Lalu, pada suatu musim yang bahkan waktu lupa menghitungnya, para dewa kehabisan keajaiban.

Bukan karena mereka kehilangan kuasa.

Melainkan karena segala yang besar telah selesai diciptakan.

Gunung sudah berdiri.

Laut telah menemukan tepinya.

Angin telah mengenal jalan pulang.

Bintang-bintang telah hafal tempatnya.

Tak ada lagi yang tersisa untuk dipertontonkan.

Para dewa pun saling memandang.

Untuk pertama kalinya sejak awal dunia, mereka tidak tahu harus berbuat apa.

---

Maka dewa hujan mengambil sebuah daun yang jatuh terlalu cepat, lalu memperlambatnya sedikit.

Itulah musim gugur yang pertama.

Dewa angin mengajarkan debu menari sebelum hinggap di jendela.

Dewa api membuat teh menjadi hangat lebih lama daripada yang diperlukan.

Dewi malam menambahkan suara jangkrik agar kesunyian tidak terdengar terlalu kesepian.

Dewa sungai mengajari batu-batu kecil cara berbunyi ketika diinjak anak-anak.

Tak ada manusia yang menyadari semua itu.

Mereka tetap meminta mukjizat.

Mereka meminta kerajaan.

Mereka meminta kemenangan.

Mereka meminta hujan emas.

Mereka meminta umur panjang.

Padahal para dewa sedang sibuk mengatur agar aroma nasi yang baru matang dapat mengingatkan seseorang kepada ibunya.

---

Sejak itu pekerjaan para dewa berubah.

Mereka tidak lagi memindahkan gunung.

Mereka memindahkan kenangan.

Mereka menyelipkan bau tanah setelah hujan ke dalam dada seorang perantau.

Mereka membuat seorang tua tiba-tiba tersenyum ketika mendengar lagu yang tak sengaja diputar tetangganya.

Mereka membiarkan seekor kupu-kupu hinggap sebentar di bahu seorang anak yang sedang menangis.

Mereka mengatur agar surat yang hampir dibuang terselip di antara halaman buku yang akan dibaca dua puluh tahun kemudian.

Tak ada kitab yang mencatat pekerjaan-pekerjaan itu.

Kitab hanya menyukai petir.

Padahal dunia lebih sering diselamatkan oleh hal-hal yang nyaris tak terdengar.

---

Para nabi terus memanggil nama para dewa.

Para raja terus membangun kuil.

Para penyair terus menyanyikan penciptaan langit.

Namun para dewa jarang datang ke sana.

Mereka terlalu sibuk memastikan bahwa seorang ayah yang pulang larut masih sempat melihat anaknya tertidur.

Mereka sedang membantu seekor burung menemukan ranting yang cukup kuat.

Mereka sedang mengingatkan sebatang pohon untuk berbunga tepat ketika seorang perempuan yang patah hati lewat di bawahnya.

Mereka sedang meniup sedikit angin agar cucian cepat kering sebelum hujan turun.

Begitulah cara mereka menjaga dunia setelah semua keajaiban besar selesai dikerjakan.

---

Konon, hanya ada satu dewa yang masih gemar melakukan mukjizat besar.

Namanya telah hilang dari semua bahasa.

Ia sesekali membelah laut.

Sesekali menjatuhkan meteor.

Sesekali membuat gunung meletus.

Manusia selalu berbondong-bondong menyaksikannya.

Mereka menyebutnya bukti bahwa para dewa masih ada.

Mereka tidak pernah menyadari bahwa dewa-dewa lain hanya saling tersenyum.

Sebab mereka tahu dunia tidak bertahan karena laut dibelah sekali.

Dunia bertahan karena setiap pagi, tanpa pernah gagal, embun masih bersedia lahir di ujung rumput.

Karena roti tetap mengembang.

Karena benih tetap percaya kepada tanah.

Karena bayi-bayi masih menggenggam jari orang tuanya dengan kekuatan yang mustahil dijelaskan.

Karena seseorang, entah di mana, masih memaafkan sebelum matahari terbenam.

Dan para dewa, yang telah lama berhenti menciptakan keajaiban, diam-diam bekerja lembur menjaga semua hal kecil itu tetap terjadi.

Sebab mereka akhirnya mengerti sesuatu yang tidak dipahami manusia:

mukjizat terbesar bukanlah mengubah hukum alam.

Mukjizat terbesar adalah membuat dunia yang rapuh ini bersedia bangun lagi setiap pagi, seolah-olah harapan tidak pernah kehabisan alasan untuk kembali.

---

Berikut saya coba membawa gagasan ini ke arah yang lebih eksistensial. Ironinya bukan lagi sekadar salah tafsir, melainkan bahwa masa depan selalu lebih mengenal benda daripada manusia yang pernah menyentuhnya.


SETELAH SEMUA NAMA HILANG

Pada abad ketujuh puluh dua, ketika bahasa-bahasa lama telah menjadi teka-teki dan wajah manusia hanya dapat direkonstruksi dari pecahan genom yang tersisa di dalam tanah, para arkeolog menemukan sebuah rumah.

Bukan istana. Bukan benteng. Rumah. Tempat yang dahulu terlalu biasa untuk difoto.

Mereka masuk dengan penuh hormat. Mereka mengira sedang memasuki jantung sebuah peradaban. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang memasuki sore hari seseorang.

---

Di atas meja ditemukan sebuah cangkir. Dasarnya menyisakan lingkaran kecokelatan yang telah membatu.

Analisis kimia dilakukan. Simulasi molekuler dijalankan. Empat belas makalah diterbitkan.

Kesimpulannya menyatakan bahwa lingkaran itu adalah diagram kosmologi: lambang matahari yang perlahan memudar sebagai pengingat akan kefanaan semesta.

Tak ada seorang pun yang mengusulkan bahwa seseorang telah lupa memakai tatakan gelas.

Betapa sulitnya ilmu pengetahuan menerima bahwa alam semesta kadang hanya berupa noda teh.

---

Di dapur ditemukan stoples bertuliskan:

GARAM

Namun isinya gula.

Perdebatan berlangsung selama seratus dua belas tahun.

Mazhab pertama berpendapat bahwa masyarakat kuno menjalankan ritual penyamaran bahan makanan demi mengelabui roh jahat.

Mazhab kedua menyatakan bahwa garam dan gula adalah pasangan kosmologis yang tak boleh dipisahkan.

Mazhab ketiga melihatnya sebagai alegori tentang hakikat identitas.

Tak ada yang mengenal ibu-ibu yang menuangkan isi kemasan baru ke dalam toples lama.

Mereka telah mati terlalu lama untuk membela kebiasaan itu.

---

Di ruang tengah ditemukan sebuah bantal yang penyok pada satu sisi.

Para ahli anatomi memperkirakan penghuni rumah selalu tidur menghadap timur sebagai penghormatan kepada matahari.

Padahal mungkin jendela berada di sebelah kiri.

Atau mungkin penghuni rumah mendengkur jika tidur telentang.

Tetapi dengkuran tidak membatu.

Karena itu ia tidak pernah menjadi data.

---

Yang paling menggetarkan adalah sebuah gantungan dinding.

Kosong.

Namun masih menyisakan bekas empat paku.

Konferensi internasional segera digelar.

Empat paku dianggap melambangkan empat penjuru dunia.

Ruang kosong di tengah ditafsirkan sebagai tempat bersemayam Yang Tak Terlihat.

Museum membuat replika.

Para pengunjung berdiri lama di depannya.

Mereka merasakan kesunyian yang agung.

Tak ada yang tahu bahwa bingkai fotonya telah dibawa pindah rumah.

---

Aku membaca semua laporan itu.

Semuanya masuk akal.

Semuanya indah.

Semuanya salah.

Atau mungkin tidak salah.

Mungkin hanya terlalu jauh dari kehidupan.

Karena kehidupan selalu lebih sederhana daripada tafsir, dan lebih rumit daripada teori.

---

Lalu aku menemukan sesuatu yang tidak masuk katalog.

Di balik lemari, terselip sebuah kelereng.

Tidak berharga.

Tidak langka.

Tidak memiliki pola.

Tidak cukup menarik untuk dipamerkan.

Aku mengambilnya.

Aku menggenggamnya.

Tiba-tiba seluruh rumah terasa berubah.

Aku tidak lagi melihat artefak.

Aku melihat seorang anak yang menangis karena kalah bermain.

Aku melihat ayahnya berjongkok mencari kelereng yang menggelinding ke bawah lemari sambil berkata, "Nanti ketemu."

Aku melihat sapu didorong perlahan.

Aku melihat debu yang beterbangan.

Aku melihat sore yang biasa.

Mungkin semua itu tidak pernah terjadi.

Tetapi untuk pertama kalinya, aku merasa sedang mendekati manusia, bukan peradaban.

---

Malam itu aku menulis sebuah laporan yang tidak pernah kukirim.

Aku menulis bahwa sejarah terlalu sering jatuh cinta kepada benda.

Ia lupa bahwa benda tidak pernah hidup sendirian.

Sendok selalu datang bersama seseorang yang lapar.

Sepatu datang bersama perjalanan.

Kancing datang bersama tangan yang menjahit.

Cangkir datang bersama percakapan yang tak pernah direkam.

Kelereng datang bersama tawa yang tak dapat membatu.

Yang digali arkeologi hanyalah sisa-sisa benda.

Yang hilang darinya justru peristiwa.

Karena peristiwa tidak mengeras menjadi fosil.

Ia menguap bersama napas.

Ia larut ke dalam suara.

Ia habis dipakai oleh hari itu sendiri.

Maka masa depan akan terus membangun kuil dari benda-benda yang selamat.

Sementara kehidupan—yang sesungguhnya terjadi di antara benda-benda itu—akan tetap menjadi tanah yang tak pernah berhasil digali.

Barangkali itulah peninggalan paling besar dari peradaban kita.

Bukan gedung.

Bukan teknologi.

Bukan kejayaan.

Melainkan miliaran sore yang berlalu tanpa merasa sedang membuat sejarah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI