PADA HARI KETIKA KEMATIAN BELUM DICIPTAKAN

Pada mulanya, segala sesuatu terus bertambah.

Bunga tidak pernah layu.

Buah tidak pernah jatuh.

Daun tidak pernah menguning.

Anak-anak tidak pernah menjadi tua.

Sungai terus mengalir tanpa pernah mencapai laut.

Gunung terus meninggi tanpa pernah selesai.

Dunia menjadi sangat penuh.

Begitu penuh hingga benih kehilangan tempat untuk tumbuh.

Maka Tuhan berjalan mengelilingi ciptaan-Nya.

Ia melihat bahwa kelahiran telah memiliki rumah.

Tetapi perpisahan belum.

Lalu, dengan kelembutan yang bahkan malaikat tidak sanggup memahaminya, Ia menciptakan kematian.

Bukan sebagai hukuman.

Melainkan sebagai ruang kosong.

Agar akar dapat memperoleh tanah.

Agar musim semi mempunyai alasan untuk datang kembali.

Agar pelukan memiliki arti.

Agar air mata mengenal harapan.

Konon, ketika kematian lahir, seluruh bunga menangis.

Namun pohon-pohon tua justru menundukkan dahannya.

Mereka tahu sesuatu yang belum dipahami bunga.

Bahwa daun yang gugur tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hanya sedang belajar menjadi tanah.

Dan tanah selalu lebih sabar daripada daun.

Sejak hari itu, kehidupan tidak lagi berjalan dalam garis lurus.

Ia mulai berputar.

Menjadi musim.

Menjadi kenangan.

Menjadi doa.

Menjadi benih yang diam-diam menyimpan hutan berikutnya.

Karena itulah, orang-orang tua berkata,

"Tuhan tidak menciptakan akhir.

Ia hanya mengajari kehidupan cara memulai lagi."

---

KETIKA TUHAN BELAJAR MENYEBUT POHON

Konon, pohon telah ada jauh sebelum kata "pohon."

Ia berdiri di tengah kekosongan, mengangkat cabang-cabangnya kepada langit yang belum memiliki warna.

Burung belum mengenalnya.

Angin belum tahu cara menyentuh daunnya.

Hujan bahkan belum memahami bahwa ia kelak akan jatuh.

Tuhan datang.

Namun Ia tidak segera memberi nama.

Ia duduk di bawah pohon yang belum bernama itu selama seribu musim yang belum menjadi musim.

Ia memperhatikan akar yang diam-diam bercakap dengan batu.

Ia mendengarkan daun yang berlatih menjadi bahasa bagi angin.

Ia melihat bayangan yang bahkan belum mempunyai matahari.

Barulah kemudian Tuhan mengucapkan,

"Pohon."

Dan seluruh alam semesta mengangguk.

Bukan karena Tuhan memerintah.

Melainkan karena nama itu akhirnya sesuai dengan kehidupan yang telah lama dijalani pohon.

Itulah sebabnya, kata orang-orang tua, nama yang benar bukanlah bunyi yang dipaksakan kepada sesuatu.

Nama yang benar adalah kehidupan yang akhirnya berhasil diucapkan.

---

SEBELUM CAHAYA BELAJAR MENYALA

Sebelum cahaya mempunyai keberanian untuk menyala, dunia hanyalah sebuah napas yang ditahan sangat lama.

Belum ada timur.

Belum ada barat.

Belum ada atas ataupun bawah.

Keheningan belum menjadi lawan bunyi, sebab bunyi sendiri belum menemukan alasan untuk lahir.

Segala sesuatu masih saling bermimpi di dalam sesuatu yang bahkan belum dapat disebut "sesuatu."

Di sana, Tuhan tidak sedang menciptakan.

Ia sedang mendengarkan.

Konon, penciptaan tidak pernah dimulai oleh tangan.

Penciptaan selalu dimulai oleh telinga.

Sebab hanya mereka yang sanggup mendengar kemungkinan, dapat melahirkan kenyataan.

Maka Tuhan mendengar kegelapan.

Dan ternyata kegelapan tidak meminta diusir.

Ia hanya meminta ditemani.

Lalu lahirlah cahaya.

Bukan sebagai musuh gelap.

Melainkan sebagai sahabat yang membuat gelap dapat dilihat.

Sejak itulah siang dan malam tidak pernah benar-benar saling membenci.

Mereka bergantian menjaga dunia agar tidak kelelahan menjadi salah satunya.

Orang-orang kemudian menamai peristiwa itu sebagai hari pertama.

Padahal hari belum ada.

Yang lahir lebih dahulu adalah kesediaan dua hal yang berbeda untuk hidup berdampingan.

---

DONGENG TENTANG PENENUN WAKTU

Sebelum ada hari,

waktu hanyalah benang-benang yang berserakan.

Tak ada pagi.

Tak ada senja.

Tak ada kemarin.

Tak ada esok.

Semuanya hadir sekaligus.

Tuhan memanggil seorang perempuan tua.

Tak seorang pun tahu dari mana ia datang.

Ia membawa alat tenun yang terbuat dari cahaya.

"Apa yang harus kutenun?"

"Tenunlah waktu."

Perempuan itu mulai bekerja.

Benang terang menjadi pagi.

Benang keemasan menjadi sore.

Benang biru menjadi malam.

Benang hitam menjadi mimpi.

Namun ketika sampai pada benang terakhir,

ia berhenti.

"Mengapa?"

tanya Tuhan.

"Aku tidak tahu harus meletakkan akhir."

Tuhan tersenyum.

"Jangan."

"Lalu bagaimana manusia tahu bahwa semuanya selesai?"

"Mereka tidak perlu tahu."

"Mengapa?"

"Karena hidup

bukan kain

yang selesai ditenun.

Ia selalu

sedang

ditenun."

Maka perempuan tua itu meninggalkan ujung benangnya terbuka.

Konon,

setiap bayi yang lahir

diam-diam menyambung

tenunan itu.

Dan setiap orang yang meninggal

meninggalkan seutas benang

agar disambung

oleh mereka

yang masih hidup.

---

KITAB TENTANG KEHENINGAN PERTAMA

Sebelum ada cahaya,

ada Keheningan.

Bukan keheningan karena tidak ada bunyi.

Melainkan keheningan

yang sedang mengandung

seluruh bunyi.

Ia seperti benih

yang menyimpan hutan.

Seperti mata

yang belum membuka kelopak.

---

Keheningan tinggal sendirian.

Ia tidak kesepian.

Karena di dalam dirinya

semua percakapan

masih berupa kemungkinan.

Pada suatu saat,

Tuhan bertanya kepadanya,

"Apakah engkau siap?"

Keheningan menjawab,

"Aku siap pecah."

Lalu lahirlah bunyi pertama.

Bunyi itu tidak mengatakan apa pun.

Ia hanya membuka ruang

agar makna dapat datang.

---

Maka cahaya pun lahir.

Laut.

Batu.

Burung.

Pohon.

Manusia.

Segala sesuatu tumbuh

di dalam retakan

Keheningan Pertama.

Itulah sebabnya,

kata para tetua,

setiap doa yang paling dalam

selalu kembali

kepada diam.

Bukan karena Tuhan jauh.

Melainkan karena

di sanalah

dunia

pertama kali

dilahirkan.

---

MITOS TENTANG HARI KETIKA NAMA-NAMA BELUM ADA

Orang-orang tua mengatakan bahwa pada mulanya dunia telah lengkap.

Gunung telah berdiri.

Laut telah bernapas.

Burung telah terbang.

Pohon telah berbuah.

Namun tak satu pun memiliki nama.

Karena itu, gunung tidak tahu bahwa ia gunung.

Laut tidak tahu bahwa ia laut.

Burung tidak tahu bahwa ia burung.

Mereka hanya menjadi.

Mereka tidak perlu disebut.

---

Lalu Tuhan berjalan melintasi dunia yang bisu itu.

Ia tidak segera memberi nama.

Ia duduk terlebih dahulu.

Mendengarkan.

Gunung berbicara dengan batu.

Laut berbicara dengan pasang.

Angin berbicara dengan rumput.

Tuhan menunggu sampai setiap makhluk selesai menceritakan dirinya sendiri.

Barulah Ia memberi nama.

Sebab nama yang baik

bukanlah nama

yang diciptakan.

Melainkan

nama

yang didengarkan.

---

Sejak itu manusia mengira nama adalah miliknya.

Mereka mengganti nama sungai.

Mengganti nama gunung.

Mengganti nama hutan.

Mengganti nama langit.

Namun setiap malam,

ketika manusia tertidur,

angin diam-diam memanggil semua makhluk

dengan nama pertama mereka.

Nama yang tak pernah tercatat dalam peta.

Nama yang hanya diketahui

oleh embun,

burung,

dan Tuhan.

Karena itulah,

kata orang-orang tua,

seekor burung masih pulang ke hutan yang sama,

meskipun manusia telah mengganti namanya seribu kali.

---




PARABEL TENTANG TATA BAHASA PARA DEWA

Orang-orang tua percaya bahwa para dewa dahulu pernah bertengkar. Bukan karena perang, melainkan karena tata bahasa.

Dewa Angin berkata, "Semua kalimat harus bergerak."

Dewa Batu menjawab, "Semua kalimat harus diam."

Dewa Air mengusulkan, "Biarkan kalimat mengalir."

Dewa Api tertawa, "Biarkan ia membakar."

Perdebatan berlangsung seribu tahun.

Tak ada yang menang.

Maka mereka menemui seorang perempuan tua yang tinggal di ujung waktu.

Ia sedang menenun kalimat. Benangnya terdiri atas bunyi. Pakannya terdiri atas keheningan.

"Siapa engkau?" tanya para dewa.

"Aku Sintaksis."

"Jadi, engkau yang menentukan siapa benar?"

Perempuan itu menggeleng. "Aku tidak menentukan siapa yang benar."

"Lalu?"

"Aku hanya mengajari kata-kata cara hidup bersama."

Para dewa saling memandang.

Baru saat itu mereka sadar, bahwa alam semesta tidak bertahan karena setiap unsur menang sendiri, tetapi karena semuanya bersedia menjadi sebuah kalimat.

Dan konon, sejak hari itu, setiap kali manusia berhasil mengucapkan satu kalimat yang jujur, langit memperoleh satu bintang baru.

---

FABEL TENTANG METAFORA YANG MENJADI BURUNG

Konon, setiap metafora memiliki sayap.

Sebab tugasnya bukan tinggal di satu arti.

Melainkan berpindah dari satu dunia ke dunia lain.

Seekor metafora hidup sebagai burung.

Ia setiap pagi terbang dari gunung menuju laut.

Di paruhnya ia membawa matahari.

Ketika sampai di laut,

matahari berubah menjadi harapan seorang nelayan.

Ketika singgah di ladang,

matahari berubah menjadi padi.

Ketika masuk ke rumah seorang ibu,

matahari berubah menjadi senyum anaknya.

Begitulah metafora bekerja.

Ia tidak mengubah dunia.

Ia mengubah cara dunia dipandang.

---

Lalu datang para pemburu.

Mereka menangkap semua metafora.

"Seekor burung harus memiliki satu nama."

"Tak boleh berubah."

"Tak boleh bermakna ganda."

Metafora dipenjara.

Dunia menjadi sangat jelas.

Sangat pasti.

Sangat miskin.

Gunung hanya batu.

Laut hanya air.

Langit hanya gas.

Air mata hanya cairan.

Tak ada lagi yang dapat melihat kesedihan sebagai hujan,

atau harapan sebagai fajar.

---

Tuhan membuka sangkar itu.

Semua metafora terbang bersamaan.

Langit mendadak penuh burung.

Sejak hari itu,

siapa pun yang masih mampu

melihat pohon

sebagai doa

yang tumbuh ke atas,

diam-diam

sedang dipinjamkan

sepasang sayap.

---

DONGENG TENTANG DEWA ETIMOLOGI

Di bawah akar sebuah pohon ara tinggal seorang dewa tua.

Tak seorang pun mengingat namanya.

Orang-orang memanggilnya Etimologi.

Ia bukan pencipta kata.

Ia penjaga asal-usulnya.

Setiap kali manusia melupakan arti sebuah kata, kata itu datang kepadanya.

Ia membersihkan debu yang menempel pada huruf-hurufnya.

Lalu mengirimnya kembali ke dunia.

---

Suatu hari datang kata "kehormatan."

Tubuhnya penuh lumpur.

Disusul kata "keadilan."

Lalu "kemerdekaan."

Lalu "cinta."

Tak satu pun masih dikenali.

Etimologi memandangi mereka satu demi satu.

"Siapa yang melakukan ini?"

Kata "cinta" menjawab lirih,

"Mereka terlalu sering mengucapkan kami

tanpa pernah

menghidupi kami."

---

Tuhan datang membawa semangkuk air.

"Apakah semua kata bisa diselamatkan?"

Etimologi menggeleng.

"Tidak."

"Lalu apa yang masih dapat diselamatkan?"

"Manusia

yang masih mau

mencari

asal

kata-katanya."

Sebab seseorang yang mencari akar sebuah kata,

diam-diam

sedang mencari

akar dirinya sendiri.

---

MITOS TENTANG FONEM PERTAMA

Orang-orang tua mengatakan bahwa pada mulanya dunia tidak diciptakan oleh cahaya.

Cahaya datang belakangan.

Yang lebih dahulu lahir adalah sebuah bunyi.

Bukan kata.

Bukan nama.

Hanya sebuah fonem yang begitu bening sehingga batu-batu mulai bergetar ketika mendengarnya.

Fonem itu berjalan sendirian melintasi kehampaan.

Ke mana pun ia lewat, ruang yang kosong belajar menjadi gema.

Gema belajar menjadi irama.

Irama belajar menjadi napas.

Dan napas akhirnya menemukan makna.

---

Berabad-abad kemudian manusia lahir.

Mereka menangkap fonem itu.

Menyusunnya menjadi kata.

Menyusunnya lagi menjadi undang-undang.

Pidato.

Sumpah.

Fitnah.

Iklan.

Doa.

Fonem pertama duduk di tepi sungai sambil menangis.

Seekor bangau bertanya,

"Mengapa engkau bersedih?"

"Aku diciptakan agar makhluk saling mengenali."

"Lalu?"

"Mereka menjadikanku

cara

untuk saling

menghapus."

---

Malam itu Tuhan memanggil semua bayi yang baru lahir.

Tak satu pun dapat berbicara.

Mereka hanya menangis.

Fonem pertama tersenyum.

"Akhirnya,

aku pulang

kepada bunyi

yang belum

belajar

berbohong."

---

FABEL TENTANG PRAGMATIK DAN BURUNG KENARI

Seekor burung kenari terkenal jujur.

Apa yang ia lihat,

itulah yang ia nyanyikan.

Di hutan yang sama tinggal Pragmatik.

Ia seekor burung hantu tua.

Ia berkata,

"Makna tidak tinggal

di dalam kata.

Makna tinggal

di dalam siapa

yang mendengarnya."

Kenari tidak percaya.

---

Suatu pagi ia bernyanyi,

"Hari ini indah."

Domba tersenyum.

Serigala ikut tersenyum.

Namun keduanya mendengar hal yang berbeda.

Domba mendengar kedamaian.

Serigala mendengar kesempatan berburu.

Kenari kebingungan.

"Aku menyanyikan lagu yang sama."

Burung hantu mengangguk.

"Itulah sebabnya

mendengar

lebih sulit

daripada berbicara."

---

Malam tiba.

Tuhan menaburkan bintang.

Tak satu pun mengeluarkan suara.

Namun para pengembara menemukan jalan.

Kenari akhirnya mengerti.

Ada kalanya

makna paling jujur

lahir

bukan dari bunyi,

melainkan

dari hubungan

antara cahaya

dan mata

yang mencarinya.

---

DONGENG TENTANG ETIMOLOGI

Konon, di bawah akar pohon beringin terdapat sebuah gua.

Di dalam gua itu tinggal Etimologi.

Ia sangat tua.

Lebih tua daripada kerajaan.

Lebih tua daripada kitab.

Setiap malam ia mencuci kata-kata.

Menghilangkan debu zaman.

Mengingatkan mereka

dari mana mereka berasal.

---

Suatu hari datang seorang pedagang.

"Masa lalu tidak menguntungkan."

"Buang saja akar-akar itu."

"Kata-kata harus tampak baru."

Etimologi tersenyum.

Ia mengambil kata manusia.

Mencucinya di sungai.

Lalu memperlihatkan bekas-bekas perjalanan panjangnya.

Pedagang itu bosan.

Ia lebih menyukai kata yang mengilap.

---

Malamnya Tuhan datang.

"Apa pekerjaanmu?"

"Aku mengingatkan kata-kata

bahwa mereka

pernah menjadi doa,

sebelum berubah

menjadi iklan."

Tuhan duduk lama.

Tak berkata apa-apa.

Sebab beberapa kata

memang harus

dibersihkan

dari keuntungan

agar kembali

menjadi kebenaran.

---

FABEL TENTANG SINTAKSIS YANG TERSINGGUNG

Di hutan bahasa tinggal Kalimat.

Tubuhnya panjang.

Ia tersusun dari banyak kata.

Yang membuatnya tetap utuh adalah Sintaksis.

Ia seperti penenun.

Ia tidak menciptakan kata.

Ia hanya membuat kata-kata saling memahami.

---

Suatu hari Kata-Kata memberontak.

"Mengapa kami harus diatur?"

"Kami bebas."

"Kami dapat berdiri sendiri."

Mereka meninggalkan Sintaksis.

Lalu berjalan sesuka hati.

Hasilnya aneh.

Air meminum ikan.

Gunung memanjat kambing.

Hujan memayungi awan.

Ibu dilahirkan anak.

Tak ada yang salah.

Namun tak ada pula yang dapat dimengerti.

---

Sintaksis duduk sendirian di tepi sungai.

Ia menangis.

Bukan karena ditinggalkan.

Melainkan karena baru kali itu ia menyadari,

kebebasan

yang menolak hubungan

akhirnya

kehilangan

makna.

---

Tuhan menghampirinya.

"Apakah engkau ingin mereka kembali?"

Sintaksis menggeleng.

"Aku hanya ingin

mereka saling

mendengarkan

lagi."

Angin membawa kata-kata itu pulang.

Sejak hari itu mereka sadar,

urutan

bukanlah penjara.

Kadang,

ia adalah

cara kasih

memahami dirinya sendiri.

---

PARABEL TENTANG MORFEM YANG KECIL

Orang-orang tua di Negeri Bahasa selalu berkata bahwa kata-kata besar lahir dari makhluk-makhluk yang sangat kecil.

Mereka menyebut makhluk itu Morfem.

Tak ada yang memperhatikannya.

Ia terlalu pendek.

Terlalu sederhana.

Kadang hanya satu bunyi.

Kadang hanya sepotong napas.

Namun setiap hari Morfem bekerja.

Ia menambahkan harapan pada kata hidup.

Ia mengubah ajar menjadi pelajaran.

Ia membuat lihat menjadi penglihatan.

Tak seorang pun berterima kasih.

Semua orang memuji kata-kata besar.

---

Suatu hari Morfem mogok.

Ia berhenti bekerja.

Pagi itu seluruh negeri gempar.

Pohon masih dapat disebut pohon.

Air masih dapat disebut air.

Namun tak ada lagi yang dapat bertumbuh.

Tak ada yang dapat berjalan.

Tak ada yang dapat berubah.

Bahasa menjadi kumpulan benda.

Segalanya ada.

Tak ada yang menjadi.

---

Tuhan memungut sepotong awalan yang jatuh di tepi jalan.

Ia menempelkannya pada kata harap.

Seketika lahirlah berharap.

Anak-anak kembali bermimpi.

Para petani kembali menanam.

Para ibu kembali menunggu.

Lalu Tuhan berkata,

"Jangan remehkan

sesuatu yang kecil.

Kadang

seluruh perubahan

hanya membutuhkan

satu imbuhan."

---

FABEL TENTANG KEHENINGAN YANG BELAJAR BERBICARA

Konon, sebelum kata pertama diucapkan,

Keheningan adalah guru bahasa.

Ia mengajari bayi

cara mendengarkan detak jantung ibunya.

Ia mengajari hutan

cara berbicara melalui angin.

Ia mengajari laut

cara menjelaskan dirinya

tanpa satu kalimat pun.

---

Ketika manusia menemukan pidato,

mereka mengira Keheningan telah mati.

Padahal ia hanya pindah.

Ia tinggal di sela-sela kata.

Di antara dua napas.

Di dalam mata yang saling memahami.

---

Lalu datang sebuah kerajaan.

Raja mengeluarkan titah.

"Keheningan tidak produktif."

Semua jeda dihapus.

Semua percakapan harus dipercepat.

Semua pidato dipanjangkan.

Semua lagu dipenuhi bunyi.

Tak ada ruang kosong.

---

Tuhan datang sebagai pengembara.

Ia meminta segelas air.

Tak seorang pun mendengar.

Semua sedang berbicara.

Akhirnya seorang anak kecil menarik tangan-Nya.

Tanpa kata.

Ia hanya memberikan cangkirnya.

Tuhan meminumnya perlahan.

Kemudian berkata,

"Bahasa

selalu lahir

dua kali.

Pertama,

ketika kata diucapkan.

Kedua,

ketika seseorang

bersedia

mendengarkannya."

Dan Keheningan,

yang sejak tadi duduk di sudut ruangan,

tersenyum.

Sebab akhirnya

ada satu kalimat

yang tidak

mengusirnya.

---

DONGENG TENTANG SINONIM YANG BERTENGKAR

Di sebuah kamus tinggal dua kata.

Keduanya bersinonim.

Artinya hampir sama.

Namun setiap malam mereka bertengkar.

"Aku lebih tepat."

"Tidak.

Aku lebih indah."

Perdebatan itu berlangsung berabad-abad.

Kata-kata lain mulai memilih kubu.

Kamus menjadi gaduh.

---

Suatu hari datang seorang penyair tua.

Ia membuka kamus.

Membaca pertengkaran itu.

Lalu menutupnya.

Ia tidak memilih salah satu.

Ia memakai keduanya

dalam satu puisi.

Ajaib.

Kedua kata itu saling memandang.

Untuk pertama kalinya,

mereka mengerti

bahwa kemiripan

bukan alasan

untuk saling meniadakan.

---

Tuhan lewat sambil membawa angin.

Angin berbisik,

"Daun dan dedaunan

tidak saling iri.

Mereka hanya tumbuh

pada kalimat

yang berbeda."

Sejak itu,

sinonim tidak lagi berlomba.

Mereka belajar

bahwa bahasa menjadi kaya

justru karena

tak ada satu kata pun

yang mampu

menggantikan

seluruh dunia.

---

PARABEL TENTANG METAFORA YANG MELARIKAN DIRI

Pada mulanya, Metafora tinggal di sebuah taman.

Ia senang berubah menjadi pohon.

Kadang menjadi laut.

Kadang menjadi burung.

Ia membantu manusia melihat sesuatu

melalui sesuatu yang lain.

Begitulah ia bekerja.

---

Suatu hari para pedagang menangkapnya.

Mereka menyuruh Metafora menjual barang.

Politikus memintanya menjual janji.

Panglima memintanya menjual perang.

Orang-orang kaya memintanya menamai keserakahan sebagai pertumbuhan.

Kemiskinan sebagai peluang.

Penggusuran sebagai penataan.

Kebohongan sebagai narasi.

Metafora mulai sakit.

Tubuhnya kehilangan warna.

---

Pada malam tanpa bulan,

ia melarikan diri.

Sejak itu manusia hanya mampu berbicara secara harfiah.

Mereka melihat hutan hanya sebagai kayu.

Laut hanya sebagai angka produksi.

Anak hanya sebagai statistik.

Bintang hanya sebagai benda langit.

Tak ada lagi yang mampu melihat dunia

sebagai sebuah perumpamaan.

---

Tuhan bertanya kepada seekor burung,

"Ke mana Metafora pergi?"

Burung itu menjawab,

"Ia bersembunyi

di dalam puisi

yang tidak mencari tepuk tangan."

Dan sampai hari ini,

konon,

siapa pun yang membaca puisi dengan hati yang jernih,

kadang melihat Metafora

tersenyum

di sela-sela kata.

---

FABEL TENTANG HURUF-HURUF YANG MOGOK

Orang-orang tua mengatakan bahwa setiap malam, ketika manusia tidur, huruf-huruf meninggalkan buku.

Mereka berjalan-jalan.

Huruf A pergi menyapa embun.

Huruf M mengunjungi gunung.

Huruf S bermain dengan sungai.

Menjelang fajar mereka kembali.

Tak pernah terlambat.

Tak pernah mengeluh.

Sampai suatu malam.

Huruf-huruf berkumpul di alun-alun sebuah kamus tua.

"Kita mogok."

Semua terdiam.

"Mengapa?"

"Kita lelah."

"Lelah apa?"

"Lelah dipaksa mengatakan sesuatu yang tidak dimaksudkan."

Huruf-huruf mulai bercerita.

Huruf-huruf yang dahulu menyusun kata damai kini dipaksa menyusun ancaman.

Huruf-huruf yang dahulu membentuk kata rakyat kini dipakai menutupi keserakahan.

Huruf-huruf yang dahulu menyusun kata pengabdian kini menjadi iklan.

Mereka lelah.

---

Pagi harinya manusia terbangun.

Semua buku kosong.

Semua surat putih.

Semua pidato menjadi bisu.

Tak ada berita.

Tak ada slogan.

Tak ada propaganda.

Hanya kertas.

Kosong.

---

Tuhan berjalan ke perpustakaan.

Ia mengambil sebuah halaman kosong.

Lalu menulis satu kata.

"Maaf."

Huruf-huruf datang satu per satu.

Mereka menyusun diri tanpa dipaksa.

Tanpa upah.

Tanpa ancaman.

Sejak hari itu mereka sepakat,

huruf tidak pernah menolak manusia.

Mereka hanya menolak

diperalat

untuk mengkhianati

makna.

---

DONGENG TENTANG KATA KERJA DAN KATA BENDA

Pada mulanya, semua kata hidup berdampingan.

Kata kerja menari.

Kata benda duduk.

Kata sifat menghias pagi.

Kata keterangan datang terlambat seperti biasa.

Lalu diadakan pemilihan.

"Siapa yang paling penting dalam bahasa?"

Kata benda berdiri.

"Tanpa kami,

tak ada dunia."

Kata kerja tertawa kecil.

"Tanpa kami,

tak ada yang bergerak."

Perdebatan berlangsung seribu hari.

Tak pernah selesai.

---

Tuhan lewat membawa sebuah biji.

Ia meletakkannya di tanah.

"Ini apa?"

"Biji."

Kata benda tersenyum.

"Lihat?

Aku benar."

Lalu Tuhan menyiramnya.

Menunggu.

Merawatnya.

Pohon itu tumbuh.

Burung datang.

Buah muncul.

Anak-anak berteduh.

Tuhan bertanya,

"Sekarang,

mana yang lebih penting?

Nama pohon,

atau

pertumbuhannya?"

Tak satu pun kata menjawab.

Sebab bahasa

baru menjadi hidup

ketika berhenti

memperebutkan arti,

dan mulai

menumbuhkannya.

---

PARABEL TENTANG HURUF YANG HILANG

Konon, setiap huruf memiliki tugas.

A membuat awal.

Z menjaga akhir.

Yang lain menghubungkan keduanya.

Suatu pagi,

satu huruf menghilang.

Tak seorang pun tahu huruf apa.

Namun semua orang merasakan akibatnya.

Doa menjadi lebih pendek.

Puisi kehilangan napas.

Lagu-lagu terdengar asing.

Nama ibu tak lagi sama ketika dipanggil.

Anak-anak menangis tanpa mengetahui sebabnya.

---

Para ahli berkumpul.

Mereka menghitung seluruh alfabet.

Jumlahnya lengkap.

Tak ada yang hilang.

"Tidak mungkin ada masalah."

Namun dunia tetap terasa berlubang.

---

Tuhan bertemu seorang anak yang sedang menulis di pasir.

"Apa yang kau cari?"

"Ada satu huruf yang hilang."

"Bagaimana kau tahu?"

"Ayah masih bisa memanggil namaku."

"Tetapi rasanya

tidak lagi

sehangat dulu."

Tuhan memandang pasir.

Huruf yang hilang itu

ternyata

bukan bagian

dari alfabet.

Melainkan

kasih

yang dahulu

menghidupi

setiap kata.

---

FABEL TENTANG KERAJAAN TITIK

Konon, jauh sebelum manusia belajar berdebat, tanda baca telah lebih dahulu membangun sebuah kerajaan.

Titik menjadi raja.

Ia pendek.

Bulat.

Pendiam.

Namun setiap kali ia muncul, semua kalimat berhenti.

Koma menjadi menteri.

Ia pandai menunda.

Pandai memberi napas.

Pandai mengatakan,

"Tunggu sebentar."

Tanda tanya menjadi filsuf.

Ia terus berjalan dari rumah ke rumah.

Mengganggu orang-orang yang terlalu yakin.

Sedangkan tanda seru menjadi panglima.

Ia selalu datang paling keras.

Paling cepat.

Paling yakin.

---

Pada suatu hari, tanda seru mengadakan pemberontakan.

"Dunia terlalu penuh keraguan!"

"Kita tidak lagi membutuhkan tanda tanya!"

"Koma membuat orang lamban!"

"Titik membuat orang berhenti!"

"Aku akan memimpin seluruh kalimat!"

Maka semua kalimat berakhir dengan tanda seru.

Burung bernyanyi!

Hujan turun!

Anak kehilangan ibunya!

Pohon tumbang!

Orang berdoa!

Semuanya sama kerasnya.

Tak ada lagi bisikan.

Tak ada lagi jeda.

Tak ada lagi pertanyaan.

---

Tuhan datang tanpa membawa pidato.

Ia hanya meletakkan sebuah koma

di tengah keheningan.

Seluruh kerajaan tiba-tiba menarik napas.

Lalu Ia meletakkan sebuah tanda tanya.

Semua kesombongan menjadi gelisah.

Terakhir,

Ia meletakkan sebuah titik.

Dunia akhirnya

mengerti

bahwa bahkan

keheningan

membutuhkan

tata bahasa.

---

FABEL TENTANG KATA YANG DIUSIR DARI KAMUS

Di dalam sebuah kamus tua tinggal ribuan kata. Mereka hidup rukun.

Kata "roti" berteman dengan kata "lapar".

Kata "ibu" sering berjalan bersama kata "pulang".

Kata "air" selalu mengunjungi kata "haus".

Suatu hari datang para penyunting baru. Mereka membawa daftar.

"Kata-kata yang tidak produktif harus dihapus."

Maka kata "belas kasih" dipindahkan ke lampiran.

Kata "malu" dianggap usang.

Kata "cukup" dinilai menghambat pertumbuhan.

Kata "tetangga" diganti menjadi "jaringan".

Kata "hikmah" diganti menjadi "konten".

---

Malam itu kata-kata yang terusir berkumpul di pinggir halaman. Mereka menggigil.

Tak ada lagi yang mengucapkan mereka.

Lama-kelamaan tubuh mereka menjadi tembus pandang.

---

Tuhan membuka kamus itu.

"Di mana 'ampun'?"
"Pensiun."

"'Syukur'?"
"Jarang dipakai."

"'Mendengar'?"
"Sudah kalah oleh 'merespons'."

Tuhan menutup kamus perlahan. Lalu berjalan ke rumah seorang nenek yang tidak pernah sekolah.

Nenek itu memeluk cucunya.

"Maaf."

"Sini."

"Makan."

Tiga kata. Tak tercetak tebal. Tak memperoleh penghargaan.

Namun malam itu, ketiganya menyelamatkan sebuah dunia kecil.

---

FABEL TENTANG KUPU-KUPU YANG MENUKAR WARNA

Seekor kupu-kupu bosan pada sayapnya.

"Warna ini terlalu biasa."

Datanglah seekor bunglon.

"Aku menjual warna."

Kupu-kupu membeli merah.

Lalu emas.

Lalu biru.

Lalu perak.

Setiap hari ia berganti.

Semua binatang memujinya.

Namun bunga-bunga mulai kebingungan.

Mereka tak lagi mengenali kupu-kupu itu.

Anak-anak kupu-kupu kehilangan ibunya.

Angin salah mengantar serbuk sari.

---

Suatu sore,

seekor ulat tua berkata,

"Apakah engkau bahagia?"

Kupu-kupu memandang sayapnya yang berkilau.

"Aku dikagumi."

"Itu bukan jawabanku."

Kupu-kupu terdiam.

Malam itu hujan turun.

Semua warna yang dibelinya larut.

Yang tersisa hanyalah warna pertama.

Warna

yang diberikan

oleh kepompong,

bukan

oleh pasar.

---

FABEL TENTANG BERUANG PENIMBUN MUSIM

Seekor beruang merasa musim terlalu boros.

Mengapa bunga hanya mekar sebentar?

Mengapa hujan datang lalu pergi?

Mengapa gugur harus berakhir?

Ia mulai menangkap musim.

Musim semi dimasukkan ke dalam guci.

Musim gugur dilipat seperti kain.

Salju disimpan di gudang.

Hujan dikunci dengan gembok besi.

Ia menjadi makhluk terkaya di hutan.

Semua binatang harus menyewa musim.

Bunga membayar untuk mekar.

Katak membayar untuk hujan.

Kupu-kupu membayar untuk angin.

---

Pada suatu pagi,

seekor anak rusa bertanya,

"Paman Beruang,

mengapa musim dingin tahun ini tidak selesai?"

Beruang membuka gudang.

Ia lupa

gembok mana

yang menyimpan musim semi.

Sementara itu,

di kejauhan,

matahari terus bersinar,

seolah mengingatkan

bahwa tidak semua

yang berputar

boleh dihentikan.

---

FABEL TENTANG GAGAK PENGUMPUL GEMA

Seekor gagak mempunyai pekerjaan yang aneh.

Ia mengumpulkan gema.

Setiap kata yang diteriakkan binatang di lembah akan kembali sebagai gema.

Gagak menangkap gema itu dengan jaring halus.

Lalu menjualnya.

Tak lama kemudian semua binatang lebih menyukai gema daripada suara.

Sebab gema selalu terdengar lebih besar.

Lebih megah.

Lebih penting.

Mereka mulai berbicara hanya agar gunung mengulanginya.

Tak ada lagi yang berbicara kepada sahabat.

Tak ada lagi yang berbisik kepada anak.

Tak ada lagi yang bernyanyi kepada hujan.

Semuanya menghadap tebing.

Berteriak.

Menunggu dirinya sendiri kembali.

---

Seekor burung pipit bertanya kepada gagak,

"Apakah gema selalu mengatakan kebenaran?"

Gagak tertawa.

"Gema tidak peduli benar atau salah.

Ia hanya pandai

mengulang."

Sejak hari itu,

gunung menjadi sangat bising.

Tetapi hutan

kehilangan

percakapan.

---

FABEL TENTANG RUSA YANG KEHILANGAN HUTAN

Orang-orang tua di antara kawanan rusa percaya bahwa setiap rusa lahir bersama sebuah hutan.

Bukan hutan yang dapat dilihat mata.

Melainkan hutan yang tumbuh di dalam langkahnya.

Selama hutan itu masih hidup,

rusa tidak akan pernah benar-benar tersesat.

---

Suatu hari datang para rubah.

Mereka membawa peta.

Peta itu sangat indah.

Setiap pohon diberi nomor.

Setiap sungai diberi kode.

Setiap jalan diberi nama.

"Kini," kata mereka, "tak ada lagi yang akan tersesat."

Semua rusa bersorak.

Mereka membuang ingatan tentang bau lumut.

Tentang arah angin.

Tentang suara burung.

Sebab semuanya telah ada di peta.

---

Bertahun-tahun kemudian, kebakaran besar melanda.

Pohon-pohon tumbang.

Sungai berpindah.

Bukit berubah.

Peta tetap sama.

Hanya hutan yang berubah.

Rusa-rusa berdiri memandangi kertas itu.

Tak seekor pun tahu harus melangkah ke mana.

Seekor rusa tua menutup matanya.

Ia mencium tanah.

Mendengar desir rumput.

Meraba arah matahari.

Lalu berjalan.

Anak-anak rusa mengikutinya.

"Bagaimana Kakek tahu jalan?"

Rusa tua tersenyum.

"Hutan

selalu berpindah.

Tetapi ia

tidak pernah

meninggalkan

mereka

yang mau mendengarkan."

---

FABEL TENTANG IKAN YANG MEMBELI AIR

Seekor ikan muda lahir di sungai yang jernih.

Suatu hari datang seekor berang-berang pedagang.

Ia menjual botol-botol kecil.

"Ini air terbaik."

Ikan muda heran.

"Bukankah kami sudah hidup di dalam air?"

Berang-berang tersenyum.

"Itu air biasa."

"Kalau yang ini?"

"Air premium."

Tak lama kemudian semua ikan membeli air.

Mereka saling membandingkan botol.

Sungai perlahan dilupakan.

Ia menjadi kotor.

Tak ada yang peduli.

Mereka terlalu sibuk membeli air yang semakin mahal.

Seekor ikan tua berenang ke hulu.

Ia meminum sungai langsung dari mata air.

Ketika kembali, ikan-ikan muda bertanya,

"Berapa harganya?"

Ikan tua menjawab,

"Hanya sejauh

keberanianmu

berenang

melawan arus."

Mereka saling berpandangan.

Tak seekor pun bergerak.

Botol-botol itu

terasa

lebih nyaman.

---

FABEL TENTANG SERIGALA YANG BELAJAR BERPUASA

Seekor serigala memutuskan berpuasa.

Semua binatang memujinya.

"Betapa suci."

Selama empat puluh hari ia tidak memakan seekor domba pun.

Tetapi setiap hari ia memakan ketakutan mereka.

Ia menyebarkan kabar.

Membuat ancaman.

Menebarkan desas-desus.

Domba-domba menjadi semakin kurus.

Bukan karena dimakan.

Melainkan karena takut.

Pada hari keempat puluh satu,

seekor burung hantu bertanya,

"Apakah puasamu selesai?"

Serigala tersenyum.

"Aku tidak pernah lapar pada daging."

"Lalu?"

"Aku lapar

agar semua makhluk

percaya

bahwa mereka tidak akan hidup

tanpa rasa takut."

Burung hantu menutup matanya.

Malam itu ia mengerti,

ada kelaparan

yang jauh lebih buas

daripada perut.

---

FABEL TENTANG KURA-KURA DAN JAM

Seekor kura-kura menemukan sebuah jam di tepi sungai.

Jam itu dapat berbicara.

"Aku dapat membuatmu lebih cepat."

Kura-kura bertanya,

"Lebih cepat menuju ke mana?"

"Itu tidak penting."

Sejak hari itu semua binatang memakai jam.

Semut berlari.

Rusa berlari.

Kelinci berlari.

Burung-burung mempercepat migrasi.

Bahkan sungai pun diminta mengalir lebih efisien.

Hanya kura-kura yang berjalan seperti biasa.

Ia berhenti ketika bunga mekar.

Ia berhenti ketika hujan turun.

Ia berhenti ketika seekor siput membutuhkan teman.

Binatang lain menertawakannya.

"Engkau tertinggal."

Kura-kura mengangguk.

"Mungkin."

"Tetapi aku tidak pernah

tertinggal

dari hidupku sendiri."

Ketika musim kemarau tiba,

jam-jam itu berhenti berdetak.

Hanya kura-kura

yang masih mengenali

jalan pulang.

---

FABEL TENTANG BURUNG YANG MENJUAL LANGIT

Pada zaman ketika langit masih belum memiliki pagar, hiduplah seekor burung yang sangat pandai berbicara.

Ia tidak menjual bulu.

Ia tidak menjual sarang.

Ia menjual langit.

"Kalian tidak perlu lagi terbang," katanya kepada burung-burung lain.

"Cukup beli sepotong langit dariku."

Mula-mula semua tertawa.

"Lalu bagaimana kami mencapainya?"

"Itu bukan urusan kalian."

Ia membentangkan gulungan-gulungan kertas.

Di setiap lembar terdapat gambar langit yang sangat indah.

Ada langit musim semi.

Ada langit penuh bintang.

Ada langit yang selalu senja.

Burung-burung mulai membeli.

Mereka menggantung gambar-gambar itu di dalam sangkar.

Mereka memandanginya setiap hari.

Mereka saling berkata,

"Betapa indah langit kita."

Hanya burung tua yang masih terbang.

Ia pulang dengan sayap basah oleh hujan.

"Di luar sana langit jauh lebih luas."

Tak seorang pun percaya.

Mereka menunjuk gambar di dinding.

"Buktinya ada."

Burung tua hanya tertawa.

Ia kembali mengepakkan sayapnya.

Sebab langit,

sejak awal,

tidak pernah diciptakan

untuk dimiliki.

Ia diciptakan

untuk dilintasi.

---

DONGENG TENTANG PENIMBANG BAYANGAN

Orang-orang tua di lereng gunung selalu mengingatkan anak-anaknya,

"Jangan berjalan terlalu cepat ketika matahari hampir tenggelam.

Pada jam-jam itu,

bayangan sedang pulang."

Tak seorang pun tahu ke mana bayangan pulang.

Mungkin ke akar pohon.

Mungkin ke dasar sungai.

Mungkin ke tempat pertama cahaya belajar mencintai gelap.

Namun semua orang tahu,

bayangan tidak pernah berbohong.

Ia selalu mengikuti seseorang,

bahkan ketika seluruh dunia meninggalkannya.

---

Lalu datanglah seorang penimbang bayangan.

Ia mendirikan sebuah rumah besar di tengah kota.

Di depan pintunya tergantung sebuah papan.

PENIMBANG BAYANGAN.

HASIL AKURAT.

Orang-orang tertawa.

"Siapa yang mau menimbang sesuatu yang tidak memiliki berat?"

Penimbang itu tersenyum.

"Kalian akan datang."

Dan benar.

Sedikit demi sedikit mereka berdatangan.

Mereka ingin mengetahui seberapa besar diri mereka.

Penimbang itu tidak mengukur tubuh.

Ia mengukur bayangan.

Semakin panjang bayangan seseorang,

semakin tinggi pula harga dirinya.

Maka orang-orang mulai mengejar senja.

Sebab hanya pada waktu itulah bayangan tampak paling panjang.

Mereka berdiri di bukit.

Di atap gedung.

Di atas panggung.

Di depan kamera.

Bukan untuk melihat matahari.

Melainkan agar bayangannya bertambah panjang.

---

Anak-anak berhenti bermain layang-layang.

Mereka belajar mencari sudut cahaya.

Penyair berhenti memandang hujan.

Ia sibuk memoles siluetnya.

Para pemimpin tidak lagi bertanya,

"Apakah rakyat kenyang?"

Mereka bertanya,

"Apakah bayanganku masih terlihat besar?"

Kota itu menjadi sangat aneh.

Semua orang sibuk membesarkan bayangan.

Tak seorang pun sempat membesarkan hati.

---

Pada suatu sore,

Tuhan datang.

Bukan sebagai raja.

Bukan sebagai hakim.

Hanya sebagai pengembara yang membawa tongkat kayu.

Ia berdiri paling belakang dalam antrean.

Ketika gilirannya tiba,

penimbang itu berkata,

"Silakan berdiri di sini."

Tuhan berdiri.

Aneh.

Tak ada bayangan.

Mesin bergetar.

Jarumnya berputar.

Kertas hasil pengukuran keluar perlahan.

Di sana hanya tertulis:

TIDAK DAPAT DIUKUR.

Penimbang itu panik.

"Mustahil."

Ia memeriksa ulang alatnya.

Mengganti lensa.

Mengganti timbangan.

Mengganti rumus.

Hasilnya tetap sama.

---

"Siapa Engkau?"

tanyanya.

Tuhan memandang ke arah matahari yang hampir tenggelam.

"Aku hanya seseorang

yang tidak pernah

hidup

untuk bayangannya."

---

Penimbang itu terdiam.

Belum pernah ia mendengar kalimat seperti itu.

Seumur hidup ia mengira manusia menjadi besar karena bayangannya.

Belum pernah terpikir olehnya

bahwa ada yang menjadi besar

justru karena memberi cahaya

kepada orang lain.

---

Tuhan meninggalkan rumah itu.

Tak membawa apa-apa.

Di luar,

seorang anak sedang menanam bibit mangga.

Matahari telah tenggelam.

Tak ada bayangan yang bisa diukur.

Namun pohon kecil itu,

kelak,

akan memberi teduh

kepada orang-orang

yang bahkan

tidak mengenal

siapa penanamnya.

---

Konon,

keesokan paginya,

rumah penimbang bayangan itu masih berdiri.

Tetapi tak ada lagi yang datang.

Sebab semalam,

angin berkeliling dari rumah ke rumah,

membisikkan satu rahasia tua

yang hampir dilupakan manusia:

«Bayangan selalu membesar ketika matahari menjauh.»

«Tetapi hati hanya membesar ketika ia mendekat kepada sesama.»

Dan sejak itu,

orang-orang tua kembali mengajari cucu-cucu mereka

untuk tidak mengejar senja

demi bayangan.

Melainkan duduk bersama senja,

hingga mereka lupa

mana cahaya,

mana gelap,

dan mana

diri mereka sendiri.

---


Berikut kelanjutannya. Kali ini dongeng bergerak lebih jauh ke arah mitologi yang seolah telah lama hidup di tengah masyarakat, tetapi sebenarnya merupakan alegori tentang dunia modern.

DONGENG TENTANG PENGUMPUL SUARA

Orang-orang tua di kaki gunung percaya bahwa setiap manusia lahir membawa satu suara.

Bukan suara yang keluar dari mulut.

Melainkan suara yang membuat batu mengenalinya.

Yang membuat sungai tahu kapan ia sedang bersedih.

Yang membuat pohon-pohon menundukkan daun ketika ia berdoa.

Suara itu tidak dapat dipelajari.

Tidak dapat diwariskan.

Tidak dapat dibeli.

Ia tumbuh perlahan bersama kejujuran seseorang.

---

Pada suatu musim datang seorang pengumpul suara.

Ia membawa kendi-kendi kaca.

Ia berjalan dari kampung ke kampung.

"Titipkan suaramu."

"Aku akan menjaganya."

"Suaramu akan terdengar lebih jauh."

Orang-orang percaya.

Mereka memasukkan suara mereka ke dalam kendi.

Sebagai gantinya mereka memperoleh pengeras suara.

Suara mereka kini terdengar hingga ke bukit.

Hingga ke kota.

Hingga ke negeri seberang.

Mereka gembira.

Hanya satu hal yang tidak mereka sadari.

Semakin jauh suara mereka terdengar,

semakin sedikit

yang benar-benar

berasal dari hati.

---

Lama-kelamaan kendi-kendi itu memenuhi gudang.

Di dalamnya tersimpan jutaan suara.

Tangisan.

Doa.

Nyanyian.

Pengakuan.

Permintaan maaf yang tidak pernah sempat diucapkan.

Semuanya menjadi koleksi.

Pengumpul suara menjadi orang terkaya di negeri itu.

Ia tidak menjual suara.

Ia hanya menyewakannya kembali.

---

Pada suatu malam,

Tuhan datang.

Gudang itu gelap.

Hanya kendi-kendi yang berpendar seperti kunang-kunang.

"Untuk apa semua ini?"

tanya Tuhan.

Pengumpul suara menjawab,

"Manusia terlalu mudah kehilangan dirinya sendiri.

Aku hanya membantu menyimpannya."

Tuhan mengambil satu kendi.

Di dalamnya ada suara seorang anak.

Suara itu sedang memanggil ibunya.

Pelan sekali.

Hampir tak terdengar.

"Sudah berapa lama suara ini di sini?"

"Entahlah."

"Apakah ibunya pernah mendengarnya?"

Pengumpul suara tidak menjawab.

---

Tuhan membuka kendi itu.

Suara kecil itu terbang keluar.

Ia tidak menuju langit.

Ia mencari sebuah rumah tua di tepi sawah.

Seorang perempuan renta yang hampir tuli tiba-tiba menoleh.

Matanya basah.

"Akhirnya..."

katanya.

"Aku mendengarnya."

Tak ada yang tahu mengapa ia menangis.

Hanya angin yang memahami,

bahwa suara

selalu pulang

kepada telinga

yang mencintainya.

---

Sejak malam itu,

orang-orang berkata,

jika kau berbicara hanya agar didengar,

suaramu akan tinggal di dalam kendi.

Tetapi jika kau berbicara

karena mencintai,

bahkan batu

akan mengingatmu.

---Konon dahulu bulan gemar turun ke bumi.

Ia duduk di sumur.

Ia mandi di sungai.

Ia menemani petani yang berjalan pulang.

Ia mendengarkan cerita para nenek.

Tak seorang pun mencoba menangkapnya.

Tak seorang pun merasa harus memilikinya.

Semua cukup memandang.


---

Kemudian manusia menemukan cara menyimpan segala sesuatu.

Mereka menyimpan wajah.

Menyimpan perjalanan.

Menyimpan makanan.

Menyimpan senja.

Suatu malam,

mereka mencoba menyimpan bulan.

Bulan tersenyum.

Lalu bersembunyi di balik awan.


---

Orang-orang marah.

"Mengapa kau menghindar?"

Bulan menjawab,

"Aku tidak menghindar."

"Lalu?"

"Aku sedang mencari seseorang

yang masih sempat

menatapku

tanpa tergesa-gesa

mengubahku

menjadi kenang-kenangan."


---

Tuhan mendengar percakapan itu.

Ia tidak ikut campur.

Ia hanya duduk di pematang sawah.

Di samping-Nya duduk seorang anak.

Anak itu memandang bulan lama sekali.

Tanpa mengucapkan apa pun.

Tanpa membawa apa pun pulang.

Keesokan harinya,

ia tetap mengingat bulan itu.

Karena tidak semua kenangan

memerlukan bukti.

Sebagian hanya memerlukan

kesediaan

untuk hadir.


---

Orang-orang tua masih menceritakan kisah ini.

Mereka berkata,

jika suatu malam bulan tampak sangat terang,

barangkali

ia sedang menemukan

seseorang

yang tidak ingin

memilikinya. :::

---


DONGENG TENTANG PENJUAL NAMA

Orang-orang tua mengatakan bahwa dahulu setiap bayi lahir dengan dua nama.

Nama pertama diberikan oleh ibunya.

Nama kedua diberikan oleh angin.

Nama ibu dipakai untuk dipanggil pulang.

Nama angin hanya diketahui burung, hujan, dan Tuhan.

Karena itu, pada zaman dahulu, tidak ada manusia yang benar-benar tersesat.

Kalaupun ia lupa jalan pulang, angin akan memanggil nama keduanya.

Lalu dedaunan bergerak.

Sungai mengubah arah suaranya.

Burung-burung terbang lebih rendah.

Dan orang itu akhirnya kembali.

---

Tetapi pada suatu musim, datang seorang pedagang.

Ia tidak menjual kain.

Tidak menjual rempah.

Tidak menjual emas.

Ia menjual nama.

Nama yang terdengar lebih agung.

Lebih mahal.

Lebih mudah diingat.

Lebih mudah dijual.

Orang-orang mengantre.

Mereka menukar nama yang diberikan ibu mereka.

Nama yang terlalu sederhana.

Terlalu desa.

Terlalu miskin.

Terlalu mengingatkan pada sawah, lumpur, dan peluh.

Pedagang itu tersenyum.

Setiap nama baru diberi sertifikat.

Diberi cap.

Diberi garansi.

"Mulai hari ini," katanya, "kalian akan lebih mudah dicintai."

Tak seorang pun bertanya,

oleh siapa.

---

Bertahun-tahun kemudian, angin mulai kebingungan.

Ia berkeliling dari gunung ke gunung.

Masuk ke gang-gang sempit.

Menyusuri kota yang penuh kaca.

Ia memanggil nama-nama lama.

Tak ada yang menoleh.

Ia mencoba nama-nama baru.

Nama-nama itu tidak mengenalnya.

Maka angin pulang dengan tangan kosong.

Untuk pertama kalinya sejak dunia diciptakan,

angin gagal menemukan manusia.

---

Pada suatu petang, Tuhan turun ke sebuah pasar.

Pasar itu sangat ramai.

Di sana dijual masa depan.

Dijual wajah.

Dijual sejarah.

Dijual kenangan.

Dan di sudut paling ramai,

dijual nama.

Seorang anak kecil berdiri memandangi lapak itu.

Ia menggenggam erat secarik kertas lusuh.

Tuhan menghampirinya.

"Mengapa kau tidak membeli?"

"Aku tidak punya uang."

"Lalu apa yang kaupegang?"

"Namaku."

"Siapa yang memberikannya?"

"Ibu."

"Apakah kau ingin menukarnya?"

Anak itu menggeleng.

"Ibu bilang,

kalau suatu hari aku hilang,

namaku akan menemukan jalan pulang lebih dahulu daripada kakiku."

Tuhan tersenyum.

Sudah lama sekali Ia tidak mendengar kalimat seindah itu.

---

Di sisi lain pasar, pedagang nama mulai resah.

Dagangannya menurun.

Sebab desas-desus tentang anak kecil itu menyebar.

Konon, setiap kali ia menyebut namanya sendiri,

burung-burung berhenti terbang.

Pohon-pohon berhenti bergoyang.

Bahkan hujan turun lebih pelan,

seolah sedang mendengarkan.

Pedagang itu marah.

"Mustahil sebuah nama tua mengalahkan iklan."

Maka ia membeli seluruh papan reklame di kota.

Nama-nama baru dipasang setinggi langit.

Huruf-hurufnya berkilau pada malam hari.

Namun angin tidak pernah belajar membaca reklame.

Ia hanya mengenal nama

yang diucapkan

dengan kasih.

---

Beberapa tahun kemudian, kota itu menjadi sangat besar.

Orang-orang saling mengenal jabatan.

Mengenal gelar.

Mengenal merek.

Tetapi tidak lagi mengenal nama.

Mereka memanggil satu sama lain dengan fungsi.

Direktur.

Manajer.

Pelanggan.

Pengguna.

Pemilih.

Target.

Pasar.

Sumber daya.

Tak seorang pun lagi dipanggil sebagai anak.

Sebagai ayah.

Sebagai sahabat.

Sebagai tetangga.

Malam-malam menjadi semakin sunyi.

Bukan karena tak ada suara.

Melainkan karena tak ada lagi panggilan

yang benar-benar sampai

ke hati.

---

Tuhan berjalan melewati kota itu hingga menjelang fajar.

Di pinggir jalan, seorang perempuan tua sedang memanggil seekor kucing.

Ia menyebut namanya pelan.

Kucing itu datang.

Tanpa kontrak.

Tanpa peluit.

Tanpa hadiah.

Hanya karena mengenali suara

yang selama bertahun-tahun

memberinya makan.

Tuhan duduk di trotoar.

Ia tertawa lirih.

Barangkali dunia tidak sedang kehilangan kasih.

Barangkali dunia hanya terlalu sibuk mengganti nama segala sesuatu,

hingga lupa

bahwa cinta

selalu memanggil

dengan nama

yang pertama.

---

DONGENG TENTANG SUMUR TUA

Di tengah hutan terdapat sebuah sumur.

Airnya tidak pernah habis.

Konon, siapa pun yang bercermin di sana tidak akan melihat wajahnya sendiri.

Ia akan melihat orang yang paling telah ia lupakan.

Raja melihat petani.

Hakim melihat terdakwa.

Jenderal melihat anak kecil yang ketakutan.

Orang kaya melihat ibunya ketika masih mencuci pakaian di sungai.

Tak ada yang berani melihat terlalu lama.

Mereka pulang dengan gelisah.

Lalu menutup sumur itu dengan batu.

---

Tuhan datang terlambat.

"Di mana sumurnya?"

"Sudah ditutup."

"Mengapa?"

"Airnya berbahaya."

"Apa racunnya?"

"Ia membuat manusia

tidak lagi

menjadi pusat

dunianya sendiri."

---

Konon, pada malam-malam tertentu, jika angin bertiup dari arah timur, suara air itu masih terdengar dari bawah batu.

Ia tidak sedang memanggil nama siapa pun.

Ia hanya terus mengingatkan bahwa dunia menjadi kering bukan karena kekurangan air.

Melainkan karena terlalu sedikit manusia

yang masih sanggup

bercermin

melalui mata

sesamanya.

---

NENEK YANG MENJAHIT LANGIT

Di puncak gunung tinggal seorang nenek.

Setiap malam ia menjahit langit yang robek oleh kesombongan manusia.

Ia tidak pernah dibayar.

Ia bahkan tidak pernah disebut dalam sejarah.

Namun setiap pagi, langit kembali utuh.

Suatu hari datang serombongan pedagang.

"Kami ingin membeli pekerjaanmu."

"Nanti langit dijahit oleh perusahaan kami."

"Lebih cepat."

"Lebih murah."

"Lebih efisien."

Nenek itu tertawa kecil.

Ia terus memasukkan benang ke lubang jarum.

---

"Apakah langit memang robek?"

tanya seorang anak.

"Ya."

"Karena perang?"

"Bukan."

"Karena badai?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Karena manusia

terlalu sering

meninggikan dirinya

hingga melukai

cakrawala."

---

Malam itu Tuhan datang membawa seutas benang yang terbuat dari doa-doa yang tidak pernah selesai diucapkan.

Nenek menerimanya.

Mereka menjahit bersama.

Tak ada yang berbicara lagi.

Sebab beberapa pekerjaan

terlalu suci

untuk dijelaskan.

---

KISAH TUKANG PEMBUAT KANDANG

Konon, di sebuah negeri yang sangat mencintai kebebasan, hiduplah seorang tukang pembuat kandang.

Ia tidak pernah membuat kandang untuk burung.

Burung terlalu pandai menolak.

Ia membuat kandang untuk pikiran.

Mula-mula kandangnya sangat kecil.

Hanya cukup untuk satu prasangka.

Lama-kelamaan ia belajar membuat kandang yang lebih luas.

Kini seekor manusia dapat tinggal di dalamnya seumur hidup tanpa pernah menyadari bahwa ia sedang dikurung.

Orang-orang datang berbondong-bondong.

Mereka memesan kandang sesuai ukuran keyakinannya.

Ada yang meminta kandang agar tidak pernah mendengar pendapat lain.

Ada yang meminta kandang agar selalu merasa benar.

Ada yang meminta kandang dengan jendela menghadap dirinya sendiri.

Tukang itu menjadi kaya.

Pada suatu sore Tuhan datang.

Ia tidak membawa uang.

Ia hanya membawa seekor burung.

Burung itu hinggap di atas kandang terbesar.

Lalu bernyanyi.

Tak seorang pun mendengarnya.

Sebab kandang-kandang itu kedap suara.

---

"Tuan," kata tukang kandang.

"Apakah burung itu hendak dijual?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Ia datang untuk mengingatkan."

"Mengingatkan apa?"

"Bahwa langit

tidak pernah

dibangun

dengan pagar."

Tukang kandang menunduk.

Untuk pertama kalinya,

ia mendengar

bunyi pintu

yang ternyata

terkunci

dari dalam.

---

KOTA PARA CERMIN

Konon ada sebuah kota yang seluruh rumahnya terbuat dari cermin.

Semua orang sibuk melihat dirinya sendiri.

Mereka mengukur senyum.

Menghitung keriput.

Memoles bayangan.

Tak seorang pun lagi melihat jalan.

Di tengah kota berdiri sebuah sumur tua.

Airnya tidak memantulkan wajah.

Airnya memantulkan orang lain.

Tak ada yang menyukainya.

"Sumur ini rusak."

"Airnya cacat."

"Tidak akurat."

Mereka menimbunnya dengan batu.

Bertahun-tahun kemudian, Tuhan datang.

Ia menggali sumur itu kembali.

Seorang anak kecil mengintip ke dalam.

"Aneh..."

"Apa yang kaulihat?"

"Aku melihat ibuku."

Tuhan mengangguk.

"Itulah fungsi

air

sejak awal."

Konon,

sejak hari itu,

anak itu tumbuh

menjadi manusia.

Bukan karena ia mengenal dirinya.

Melainkan karena

ia belajar

melihat orang lain.

---

PENJAHIT SAYAP

Di sebuah kota tinggal seorang penjahit.

Ia tidak menjahit pakaian.

Ia menjahit sayap.

Burung-burung datang membawa sayap yang robek karena badai.

Malaikat datang membawa bulu yang rontok karena terlalu lama memikul doa manusia.

Suatu hari para pedagang datang.

"Kami ingin memesan seribu pasang sayap."

"Untuk siapa?"

"Untuk dijual."

Penjahit itu heran.

"Orang-orang ingin terbang?"

"Bukan."

"Mereka ingin terlihat seolah-olah mampu terbang."

Maka dibuatlah sayap dari plastik.

Ringan.

Mengilap.

Murah.

Laris.

Burung-burung mulai diejek karena sayap mereka kusam.

Tuhan datang membawa seekor pipit kecil.

Sayapnya compang-camping.

Penjahit bertanya,

"Perlu diganti?"

Tuhan menggeleng.

"Cukup dijahit.

Sayap yang pernah robek

lebih mengenal

langit."

---

SERIGALA YANG MENJADI GEMBALA

Seekor serigala memutuskan berhenti memangsa.

Ia belajar berbicara dengan lembut.

Belajar mengenakan jubah.

Belajar tersenyum di depan umum.

Akhirnya ia diangkat menjadi gembala.

Domba-domba bersorak.

"Betapa baiknya ia."

Serigala tidak pernah lagi menggigit.

Ia hanya membuat peraturan.

Padang rumput dipagari.

Air dibatasi.

Rumput diberi harga.

Domba diwajibkan menyewa bayangannya sendiri.

"Ini demi keteraturan," katanya.

Seekor domba tua bertanya,

"Apakah engkau sudah berubah?"

Serigala mengangguk.

"Tentu."

"Engkau tidak lagi memakan tubuh kami."

"Lalu?"

"Engkau sekarang

memakan

hari-hari kami."

Malam itu,

bulan menyaksikan

bahwa taring

kadang lebih berbahaya

ketika berubah

menjadi stempel.

---

RAJA YANG MEMUNGUT MATAHARI

Konon, di sebuah kerajaan yang sangat makmur, raja mengumumkan bahwa mulai esok pagi matahari akan menjadi milik negara.

"Selama ini cahaya dipakai secara liar," katanya. "Sudah saatnya diatur."

Maka setiap rumah dipasangi meteran cahaya.

Setiap jendela dikenai pajak fajar.

Pohon-pohon diminta mengurangi keteduhan karena dianggap menghambat distribusi sinar.

Burung diwajibkan bernyanyi setelah jam operasional matahari dimulai.

Semua tampak berjalan baik.

Penerimaan kerajaan meningkat.

Laporan tahunan dipenuhi angka-angka yang membanggakan.

Hanya satu masalah kecil.

Suatu pagi matahari terlambat terbit.

Raja murka.

Ia memanggil seluruh menteri.

"Siapa yang bertanggung jawab?"

Tak seorang pun menjawab.

Mereka hanya menengadah.

Di ufuk timur, matahari sedang duduk bersama seorang anak gembala.

"Kenapa kau terlambat?" tanya anak itu.

Matahari tersenyum.

"Aku ingin memastikan

masih ada seseorang

yang menyambutku

bukan sebagai aset,

melainkan sebagai pagi."

---





GUNUNG YANG BERPINDAH

Dongeng lama berkata bahwa gunung dapat berjalan, tetapi hanya ketika manusia sudah terlalu lama tidak mendengarkan bumi.

Suatu malam, gunung benar-benar berpindah. Bukan karena gempa. Ia hanya bosan.

Pagi harinya para ahli kebingungan.

Peta tidak cocok.
Koordinat meleset.
Satelit mengira ada kesalahan sistem.

Tuhan bertemu gunung di tempat baru.

"Mengapa kau pergi?"

Gunung menjawab, "Selama ini mereka hanya memanjat tubuhku. Tak pernah mendengarkan diamku."

"Lalu sekarang?"

"Aku mencari manusia yang masih tahu bahwa batu pun memiliki kesabaran."

Sampai hari ini, konon, gunung itu masih berpindah-pindah. Bukan untuk menghindari manusia, melainkan untuk mencari satu pendengar yang belum sibuk mengabadikan pemandangan.

---

PENJUAL BAYANG-BAYANG

Di pasar malam ada seorang lelaki tua. Ia tidak menjual obat, tidak menjual pusaka, tidak menjual jimat. Ia menjual bayang-bayang.

Bayangan seorang raja.
Bayangan seorang penyair.
Bayangan seorang pahlawan.

Orang-orang berebut membeli. Sebab menjadi diri sendiri terasa terlalu berat.

Tuhan berhenti di depan lapaknya.

"Apakah tidak ada bayangan seorang petani?"

Lelaki tua itu tertawa.

"Itu tidak laku."

"Bagaimana dengan bayangan seorang ibu?"

"Lebih tidak laku lagi."

Tuhan hendak pergi.

Lelaki tua itu memanggil.

"Sebenarnya ada satu bayangan yang tak pernah berhasil kujual."

"Bayangan siapa?"

"Bayangan seseorang yang tidak ingin menjadi siapa-siapa selain dirinya sendiri."

Sejak malam itu, lapak tersebut selalu sepi.

---

SUNGAI YANG LUPA NAMANYA

Orang-orang tua berkata, setiap sungai lahir dengan sebuah nama. Nama itu bukan diberikan manusia, melainkan diucapkan batu-batu ketika air pertama kali mengalir.

Namun pada suatu zaman, perusahaan datang membawa kontrak. Sungai diganti namanya sesuai sponsor.

Lebih mudah dipasarkan.
Lebih menarik bagi investor.

Lama-kelamaan sungai lupa nama yang dahulu dibisikkan hujan kepadanya.

Ia tetap mengalir, tetapi tidak lagi mengenali dirinya.

Tuhan bertanya kepada seekor ikan tua, "Masih ingat nama sungai ini?"

Ikan itu menjawab, "Aku tidak ingat bunyinya, tetapi aku masih ingat bagaimana rasanya ketika air belum dijual."

Maka Tuhan menuliskan nama sungai itu di permukaan angin. Sebab hanya angin yang belum belajar mengganti nama demi keuntungan.

---

NENEK PENENUN TAKDIR

Di ujung dunia tinggal seorang nenek yang menenun nasib semua makhluk.

Setiap benang ditenun perlahan. Tidak ada yang tergesa.

Suatu hari datang sebuah perusahaan. Mereka menawarkan mesin.

"Dengan teknologi ini, takdir dapat diproduksi seratus kali lebih cepat."

Nenek itu bertanya, "Apakah mesin ini tahu kapan seorang anak harus kehilangan ayahnya?"

"Tidak."

"Apakah ia tahu kapan dua orang asing harus bertemu agar saling menyelamatkan?"

"Tidak."

"Apakah ia tahu mengapa ada air mata yang lebih bijaksana daripada kemenangan?"

"Tidak."

Perusahaan itu tersenyum.

"Itu bisa diperbarui pada versi berikutnya."

Nenek menolak.

Ia tetap menenun.

Satu benang.
Satu kehidupan.
Satu doa.

Tuhan lewat membawa secangkir teh. Mereka duduk bersama. Tidak membicarakan masa depan. Karena masa depan, seperti kain yang baik, tidak pernah ditenun tergesa-gesa.

---

RAKSASA PEMAKAN GUNUNG

Dahulu raksasa memakan manusia. Sekarang ia menjadi kontraktor.

Setiap pagi ia memakan satu bukit. Setiap sore ia memuntahkan pusat perbelanjaan.

Tak ada yang menyebutnya raksasa lagi. Mereka menyebutnya investor.

Anak-anak bertanya kepada nenek mereka, "Benarkah dulu ada raksasa?"

Nenek mengangguk. "Masih ada."

"Di mana?"

Nenek menunjuk ke arah pegunungan yang tinggal separuh.

"Namun mereka sudah belajar memakai jas."

Malam itu Tuhan berjalan melewati bekas hutan.

Ia menemukan seekor kijang yang sedang mencari jalan pulang.

Jalannya masih ada. Gunungnya sudah tidak.

---

BURUNG PEMBAWA KABAR

Dalam cerita-cerita lama, seekor burung selalu membawa kabar.

Kadang kabar duka.
Kadang kabar panen.
Kadang kabar bahwa seseorang akhirnya pulang.

Suatu hari burung itu hinggap di kota.

Ia membawa berita:
"Hujan akan turun. Padi akan selamat."

Tak seorang pun mendengarnya.

Semua sedang membaca kabar lain.

Burung itu mencoba lagi.
"Seorang ayah memaafkan anaknya."

Tak ada yang menoleh.
"Itu tidak sedang menjadi tren."

Burung itu terbang lebih tinggi.
"Tuhan masih berjalan di antara kalian."

Kali ini seseorang mengangkat kepala.
"Bisa dibuat lebih singkat? Paling banyak dua kalimat."

Burung itu terdiam. Belum pernah sepanjang sejarahnya ia diminta meringkas keajaiban.

Sore itu ia kembali ke hutan.

Tuhan menunggunya di dahan tua.

"Bagaimana?"

Burung itu menjawab, "Manusia masih suka mendengar cerita. Hanya saja, mereka sudah lupa cara mendengarkannya."

---

PASAR JIMAT

Di kaki gunung berdirilah pasar yang sangat ramai. Orang-orang tidak lagi membeli jimat agar selamat. Mereka membeli jimat agar berhasil.

Ada jimat kenaikan jabatan.
Jimat viral.
Jimat investasi.
Jimat elektabilitas.
Jimat agar selalu tampak bahagia.

Seorang dukun tua duduk sendirian. Tak ada yang membeli jimat buatannya. Isinya hanya sebutir biji padi. Sehelai daun. Dan secarik kertas bertuliskan:

"Belajarlah merasa cukup."

Tuhan datang. "Berapa harganya?"

Dukun itu tersenyum. "Tidak ada yang sanggup membayarnya."

"Mengapa?"

"Karena orang lebih suka membeli keberuntungan daripada melepaskan keserakahannya."

Menjelang malam, pasar itu penuh pembeli. Namun jimat yang paling ampuh tetap tinggal di meja yang paling sepi.

---

PENUNGGU HUTAN YANG MENGANGGUR

Penunggu hutan kehilangan pekerjaan. Hutannya telah berubah menjadi kawasan industri. Pohon terakhir ditebang pada hari Selasa.

Hari Rabu, ia masih datang seperti biasa. Ia lupa bahwa alamatnya telah dihapus.

Seorang satpam menghampirinya. "Sedang mencari siapa?"

"Hutan."

Satpam menunjuk peta. "Sudah dipindahkan."

"Ke mana?"

"Ke brosur wisata."

Penunggu hutan duduk di atas tunggul.

Untuk pertama kalinya, ia mendengar suara gergaji lebih keras daripada suara burung.

Tuhan datang menjelang sore. "Apa yang kaulakukan?"

"Aku menjaga tempat yang sudah tidak ada."

Tuhan duduk di sampingnya. Mereka berdua diam. Angin lewat. Kebingungan.

Ia tidak tahu lagi kepada daun mana ia harus berbicara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI