JAKA PRABANGKARA
KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT BAHASA
Sastra itu menceritakan kehidupan orang-orang dalam suatu masyarakat, masyarakat desa ataupun masyarakat kota. Sastra bercerita tentang pedagang, petani, nelayan, guru, penari, penulis, wartawan, orang tua, remaja, dan anak-anak. Sastra menceritakan orang-orang itu dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan segala masalah yang menyenangkan ataupun yang menyedihkan. Tidak hanya itu, sastra juga mengajarkan ilmu pengetahuan, agama, budi pekerti, persahabatan, kesetiakawanan, dan sebagainya. Melalui sastra, orang dapat mengetahui adat dan budi pekerti atau perilaku kelompok masyarakat.
Sastra Indonesia menceritakan kehidupan masyarakat Indonesia, baik di desa maupun di kota. Bahkan, kehidupan masyarakat Indonesia masa lalu pun dapat diketahui dari karya sastra pada masa lalu. Karya sastra masa lalu masih cocok dengan tata kehidupan masa kini. Oleh karena itu, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional meneliti karya sastra masa lalu, seperti dongeng dan cerita rakyat. Dongeng dan cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia ini diolah kembali menjadi cerita anak.
Buku Jaka Prabangkara ini berasal dari daerah Jawa. Ada pelajaran yang dapat diperoleh dari membaca buku cerita ini karena buku ini memang untuk anak-anak, baik anak Indonesia maupun anak luar Indonesia yang ingin mengetahui tentang Indonesia. Untuk itu, kepada peneliti dan pengolah kembali cerita ini saya sampaikan terima kasih.
Semoga terbitan buku cerita seperti ini akan memperkaya pengetahuan kita tentang kehidupan masa lalu yang masih cocok dengan kehidupan masa kini. Selamat membaca dan memahami cerita ini untuk memperluas pengetahuan tentang kehidupan ini.
Jakarta, Mei 2007
Dendy Sugono
•••
SEKAPUR SIRIH
Cerita Jaka Prabangkara ini diambil dari salah satu episode yang termasuk dalam Babad Jaka Tingkir karya Moelyono Sastromaryatmo (1981). Episode yang dimaksud berkaitan dengan masa pemerintahan Raja Majapahit Prabu Dewaraja atau yang lebih dikenal dengan Prabu Brawijaya V.
Unsur pendidikan yang terkandung dalam cerita Jaka Prabangkara ini banyak berkaitan dengan bagaimana seharusnya sikap dan perilaku manusia unggul yang digambarkan dalam sikap dan perilaku tokoh Jaka Prabangkara.
Kemuliaan Jaka Prabangkara bukan hanya disebabkan dia putra raja, melainkan juga karena keahlian dan perilakunya yang mendekati sempurna. Kemuliaannya dimulai dari kerja dan perjuangan yang terkadang penuh penderitaan.
Cerita ini sangat baik untuk bahan ajar pendidikan multikultural. Sejak zaman dahulu kita hidup berdampingan secara damai dalam keanekaragaman budaya, asal-usul, ataupun agama.
Penyusun
•••
1.
JAKA PRABANGKARA SI JAGO LUKIS
Jaka Prabangkara adalah putra Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V yang terlahir dari seorang perempuan keturunan rakyat biasa. Sang Raja bertemu dengan ibunda Prabangkara saat sedang menyamar sebagai rakyat biasa untuk mengetahui kondisi rakyat di luar istana. Ketika menyamar, sang Raja mengenakan pakaian seperti pakaian rakyat pada umumnya. Biasanya, ia ditemani oleh dua orang pembantu setianya, yaitu si Semut dan si Gatel.
Setelah lama berkeliling melihat kondisi rakyat, sang Raja merasa lelah dan ingin beristirahat. Kebetulan di dekat sang Raja duduk ada satu rumah milik seorang mantri jagal. Sang Mantri Jagal mempersilakan kepada sang Raja dan pembantu setianya untuk beristirahat di rumahnya. Tawaran itu diterima dengan senang hati oleh sang Raja.
Sang Mantri Jagal memiliki anak perempuan seorang janda kembang yang cantik. Sang Raja tertarik dengan anak sang mantri tersebut. Terjadilah hubungan percintaan antara Raja Majapahit yang sedang menyamar dan putri sang Mantri Jagal.
Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang bayi lelaki yang sehat dan bagus rupanya hasil hubungan percintaan mereka. Bayi tersebut diberi nama Raden Jaka Prabangkara. Sayangnya, sang Raja tidak mau mengakui secara terang-terangan bahwa Jaka Prabangkara adalah putranya. Namun demikian, setelah dewasa Jaka Prabangkara mengabdi kepada ayahandanya, Raja Majapahit. Ia diangkat sebagai lurah. Selain itu, Jaka Prabangkara juga diberi tugas sebagai juru lukis istana karena ia memiliki keahlian luar biasa dalam melukis. Hasil lukisannya sangat mirip dengan aslinya.
Raja sering memerintahkan Jaka Prabangkara untuk melukis berbagai objek. Ia melukis panorama hutan dan seluruh penghuni hutan yang ditemui, seperti berbagai jenis pepohonan dan beraneka ragam satwa. Lukisannya begitu hidup dan seindah aslinya. Raja juga memerintahkan melukis barang dan bangunan yang ada di dalam maupun di luar istana Majapahit.
Suatu hari sang Raja bertitah, "Prabangkara, buatlah lukisan kehidupan yang ada di samudra raya. Lukis semua jenis ikan dan hewan lainnya yang ada di samudra, baik itu ikan kecil dan ikan besar, jenis udang, penyu, kuda laut, ular laut, ubur-ubur, keindahan bunga karang, dan keindahan bawah samudra. Semua makhluk melata, merayap, merangkak, dan yang berenang di samudra harus kaulukis."
Jaka Prabangkara pun segera melaksanakan tugas itu. Dia dapat menyelesaikan tugasnya dengan sempurna dan mengagumkan. Siapa saja yang melihat lukisan karyanya akan berdecak kagum karena sangat mirip dengan aslinya, baik warna maupun rupa.
Raja Brawijaya V sangat puas dengan hasil karya Jaka Prabangkara. Kasih sayangnya kepada Jaka Prabangkara teramat sangat. Meski secara lahir ia tidak mengakui Prabangkara sebagai putranya, di dalam batin ia mengakui bahwa Jaka Prabangkara adalah putranya.
Oleh karena keahliannya dalam melukis dan kepercayaan yang tinggi terhadap Jaka Prabangkara, sang Raja kemudian meminta Prabangkara untuk melukis permaisuri Raja, Ratu Mas Andarawati. Tugas ini sangat berat, tetapi dapat diselesaikan dengan sempurna. Lukisan Ratu Mas Andarawati atau Putri dari Negeri Campa itu sangat mirip dengan aslinya. Jika lukisan itu disandingkan dengan sang Ratu maka layaknya sang Ratu sedang bercermin. Raja terkagum-kagum dengan hasil lukisan Raden Jaka Prabangkara. Sang Raja puas dan sangat senang hatinya. Ia makin mengagumi sosok Jaka Prabangkara.
•••
2.
KECURIGAAN DAN KEMARAHAN RAJA
Raja tak puas-puasnya memandangi lukisan permaisuri hasil karya Jaka Prabangkara. Raja kagum karena lukisan itu layaknya dapat berbicara saja. Saat sang Raja sedang mengagumi lukisan Ratu Mas Andarawati, sang Raja melihat ada titik, semacam tahi lalat, di bagian tubuh tertentu sang Ratu. Raja menduga itu semacam noda dalam lukisan Prabangkara karena sang Raja sepertinya tidak pernah melihat tahi lalat semacam itu. Raja marah dan meminta pertanggungjawaban Prabangkara.
"Hai, Jaka Prabangkara. Kau sudah membuat satu kesalahan besar dalam melukis permaisuriku. Coba perhatikan lukisanmu itu! Mengapa ada noda hitam? Apakah itu karena terpercik oleh tinta yang kaugunakan saat melukis?"
"Ampun beribu-ribu ampun, Paduka. Betul memang noda hitam itu adalah tinta yang terpercik tiada sengaja. Hamba alpa untuk menghapus noda hitam itu," jawab Jaka Prabangkara seraya memohon maaf atas kekhilafannya.
Raja tetap marah. Ia terus memikirkan tentang noda hitam itu. Sang Raja kemudian menyadari bahwa memang sang Permaisuri memiliki tanda itu di tubuhnya. Dan, tahi lalat yang dianggap noda itu sangat tepat letaknya.
Sang Raja berpikir, apakah Prabangkara saat melukis Permaisuri begitu dekatnya sehingga mengetahui tahi lalat yang tersembunyi? Sang Raja makin marah karena ia curiga bahwa Jaka Prabangkara telah berbuat kurang ajar kepada sang Permaisuri yang berarti pula telah berbuat kurang ajar terhadap sang Raja. Semakin Raja memikirkan hal itu semakin rasa marah itu berkobar-kobar.
"Prabangkara … ternyata kau begitu berani dan kurang ajar! Anak yang tidak tahu membalas budi. Padahal, aku telah banyak berbuat baik kepadanya," gumam Sang Raja dalam hatinya.
Kemarahan Raja semakin menjadi-jadi. Apalagi Prabangkara masih sering berada di istana. Setiap melihat Prabangkara, kemarahannya terus meluap-luap. Raja menjadi terganggu dengan kebenciannya sendiri. Pikirannya terhadap Prabangkara terus menghantui sehingga Raja sulit untuk tidur nyenyak. Kemarahannya kemudian menjadi tak tertahankan. Ia memutuskan hukuman berat kepada Jaka Prabangkara. Jaka Prabangkara harus dihukum mati.
Sebelum keputusan itu dilaksanakan, sang Raja mendiskusikan terlebih dahulu hal tersebut dengan Mahapatih Gajahmada. Setelah mendengar penjelasan dan keluhan Raja, Mahapatih Gajahmada menjadi gundah dan sedih hatinya. Ia kemudian menghaturkan pandangannya tentang masalah Raja dengan Prabangkara.
"Duli Tuanku Raja Majapahit Prabu Brawijaya, Mahapatih Pamanda Gajahmada tak setuju dengan maksud duli Tuanku Prabu Brawijaya untuk menghukum mati Putranda, Raden Jaka Prabangkara disebabkan hanya dugaan saja yang belum tentu kebenarannya. Ada peribahasa mengatakan, hewan yang paling buas dan paling berbahaya, seperti singa dan ular pun tidak akan memangsa anaknya. Apalagi manusia yang memiliki derajat lebih tinggi dari hewan. Manusia diciptakan Tuhan dengan kelebihan memiliki budi, akal yang sehat, dan bijaksana. Tidak ada orang tua yang membunuh anaknya sendiri."
Prabu Brawijaya mendengarkan dengan saksama pandangan Mahapatih Gajahmada. Mahapatih pun dengan takzim terus memberikan pandangannya agar dijadikan bahan pertimbangan Raja dalam menjatuhkan hukuman kepada Raden Jaka Prabangkara.
"Tuanku Prabu Brawijaya, apa pula dosa Raden Jaka Prabangkara? Bukankah segala sesuatunya itu hanya disebabkan oleh praduga. Duli Tuanku, ada kemungkinan besar bahwa Tuanku telah salah duga kepada Raden Jaka Prabangkara, apalagi dugaan itu tidak berdasarkan bukti-bukti yang nyata.
Hamba mohon Paduka dapat berpikir dengan jernih. Jangan terburu nafsu dan jangan terbawa rasa amarah yang membabi buta. Bukankah Duli Tuanku terkenal sebagai raja yang sangat berkuasa, kaya-raya, arif bijaksana dalam mengendalikan pemerintahan? Paduka Raja sangat memahami aturan hukum. Setiap keputusan atas suatu perkara harus didasarkan pada penelitian yang cermat, hati-hati, dan disertai dengan kebijaksanaan.
Persoalan Putranda, Raden Jaka Prabangkara, belum jelas. Tuduhan sudah terlontar kepadanya. Bahkan, tuduhan itu telah disusul pula dengan putusan hukuman mati kepadanya. Suatu keputusan yang tidak tepat, bukan demikian ulah seorang raja yang disebut bijaksana dan utama."
Mahapatih Gajahmada melanjutkan pendapatnya.
"Andaikan putusan Paduka telah terlaksana, Raden Jaka Prabangkara tewas karena hukuman yang dijatuhkan kepadanya. Pamanda bertanya, siapakah yang paling menderita akibat kematian Jaka Prabangkara? Tidak ada yang lebih menderita selain kedua orang tuanya."
Mahapatih Gajahmada kemudian mendekati sang Prabu Brawijaya dengan isak tangisnya sambil berkata, "Prabu, batalkan putusan Paduka Raja untuk menghukum mati Putranda, Raden Jaka Prabangkara. Paduka akan menyesal nantinya. Ingatlah, Prabu adalah pusat pengendalian tertibnya hukum dan peraturan. Prabu adalah pusat pengendalian keadilan bagi semua orang."
Prabu Brawijaya sangat tersentuh dengan uraian sang Mahapatih Gajahmada. Tidak terasa air matanya telah membasahi kedua pipinya. Hatinya pilu bagai disayat sembilu. Sungguh tajam dan menembus sanubari sang Raja segala tutur kata Mahapatih Gajahmada. Mahapatih Gajahmada telah mampu mencegah raja berbuat keliru. Raja Majapahit Prabu Brawijaya V akhirnya membatalkan putusan hukuman mati bagi Raden Jaka Prabangkara.
Sang Prabu kemudian mendekati Mahapatih Gajahmada dan membisikkan sesuatu.
"Paman, aku telah keliru. Terima kasih aku ucapkan kepada Pamanda Mahapatih Gajahmada. Aku menyerahkan sepenuhnya persoalan ini kepada Paman. Hanya satu permintaanku, Raden Jaka Prabangkara harus meninggalkan Majapahit. Tidak boleh ada orang lain yang mengetahui persoalan ini."
Mahapatih Gajahmada menyanggupi permintaan sang Raja dan memohon pamit untuk menemui Raden Jaka Prabangkara.
•••
3.
JAKA PRABANGKARA MENGANGKASA DENGAN LAYANG-LAYANG
Mahapatih Gajahmada mengatur siasat untuk melaksanakan perintah Raja. Ia segera menemui Raden Jaka Prabangkara dan berkata, "Raden, titah Ayahanda Prabu Brawijaya, Raden diberi tugas untuk melukis apa saja isi angkasa raya, semua isi langit. Termasuk di antaranya bulan, bintang, kilat, pelangi, awan, meteor, bekas angin melintas, bintang berpindah, guntur, petir, mendung, jenis angin, hujan, badai lembayung hingga batas angkasa dan batas langit. Segala jenis burung yang terbang di angkasa dan jenis burung yang tidak hidup di bumi seperti burung dewata dan peksiraja atau burung raja."
Raden Jaka Prabangkara menyanggupi semua titah Prabu Brawijaya. Mahapatih Gajahmada kemudian pamit dan melapor kepada Prabu Brawijaya.
"Gusti Prabu Brawijaya, Raden Jaka Prabangkara menyatakan sanggup untuk melukis semua yang Paduka titahkan."
Prabu Brawijaya sangat senang hatinya menerima laporan Mahapatih Gajahmada. Esoknya, Prabu Brawijaya segera memerintahkan kawula kerajaan untuk membuat sebuah layang-layang raksasa berukuran 7 depa atau sekitar 14 meter. Sang Prabu juga memerintahkan untuk membuat semacam kurungan berbentuk kotak tempat Raden Jaka Prabangkara melakukan kegiatan melukis. Kurungan ini berisi semua peralatan melukis dan perbekalan selama di angkasa yang akan diterbangkan oleh layang-layang raksasa.
Beberapa hari kemudian, layang-layang beserta kurungan telah selesai dikerjakan. Layang-layang segera dihaturkan kepada Prabu Brawijaya disaksikan oleh semua pejabat istana. Gulungan tali-temali yang dibutuhkan untuk menaikkan layang-layang telah pula disiapkan. Raden Jaka Prabangkara segera menghadap Raja dan bermohon diri untuk memulai tugasnya melukis seisi langit dan angkasa.
Prabu Brawijaya segera bertitah kepada Raden Jaka Prabangkara, "Wahai Prabangkara, terimalah sepucuk surat ini dan bacalah alamat surat ini."
Raden Jaka Prabangkara menerima surat yang tertutup sampulnya dan segera membaca tulisan yang tertera di sampul surat: "Surat Prabu Brawijaya untuk anakku Raden Jaka Prabangkara." Raden Jaka Prabangkara sangat terharu karena akhirnya Prabu Brawijaya secara terang-terangan telah mengakui dirinya sebagai putra sang Raja Majapahit.
Prabu Brawijaya berpesan kepada putranya, "Prabangkara, jelas apa yang tertera di sampul, bukan? Nah, pesanku kepadamu jangan sekali-kali kaubuka suratku ini sebelum tugasmu selesai. Laksanakan tugasmu bersama restuku."
Raden Jaka Prabangkara matur sendika. Semua perintah Raja akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Setelah mohon diri, naiklah Raden Jaka Prabangkara ke dalam kurungan.
Raja Majapahit Prabu Brawijaya segera memerintahkan untuk mengulur tali dan layang-layang pun segera diperanginkan. Dalam waktu singkat angin kencang datang bertiup mengangkat layar layang-layang. Layang-layang terangkat naik ke udara, meninggi di angkasa, tak ubahnya bagaikan burung garuda raksasa terbang melayang.
Layang-layang terbang makin meninggi hingga terlihat seperti titik di angkasa. Prabu Brawijaya segera menghunus pedangnya yang sangat tajam. Bercahaya berkilauan saat pedang terhunus. Sang Prabu Brawijaya memandang layang-layang yang makin mengecil di angkasa hingga tidak tampak lagi oleh mata. Prabu Brawijaya memerintahkan untuk menghentikan mengulur tali layang-layang.
Raja segera turun dari dampar sambil menjinjing pedangnya seraya berseru kepada Mahapatih Gajahmada, para adipati, dan penggawa Majapahit.
"Wahai para kawula Majapahit, kalian menjadi saksi atas ucapanku yang kutujukan kepada Jaka Prabangkara. Hai, anakku, Jaka Prabangkara. Janganlah engkau mendarat sebelum sampai di daratan Cina. Janganlah khawatir, di daratan Cina kelak ada seorang yang akan mengangkat anak kepadamu. Yang akan membantumu menemukan kebahagiaan di kemudian hari.
Engkau akan menemukan kemuliaan besar. Keturunanmu akan tersebar secara luas di Negeri Cina. Anak cucumu kelak akan banyak pula yang pergi ke tanah Jawa dan kuizinkan kepada mereka turut serta menikmati hasil bumi dari tanah Jawa. Apa yang mereka kerjakan di sini tidak akan mengalami kesukaran. Mereka akan merasa tak asing lagi bertempat tinggal di tanah Jawa."
Mahapatih Gajahmada dan segenap kawula Majapahit mengaminkan titah Raja kepada putranya, Raden Jaka Prabangkara. Mereka turut berdoa semoga kelak di kemudian hari Raden Jaka Prabangkara akan benar-benar mengalami sesuai dengan harapan Prabu Brawijaya.
Seusai mereka berdoa, di langit kilat menyambar-nyambar, guruh dan guntur menggelegar bersahut-sahutan seakan-akan mereka mengatakan, "Kami juga turut menyaksikan titah Prabu Brawijaya."
Prabu Brawijaya segera mengangkat pedangnya ke atas. Secepat kilat diayunkan pedangnya memutus tali pengikat layang-layang. Putus tali, layang-layang melesat jauh meninggi di langit disertai tiupan angin yang sangat keras. Layang-layang dan talinya melayang di angkasa bagaikan seekor naga agung yang sedang mengarungi angkasa.
Lama-kelamaan tali layang-layang tak terlihat lagi. Terbawa jauh meninggi mengikuti ke mana layang-layang terbang. Prabu Brawijaya menyarungkan kembali pedangnya sambil terus memandangi langit, melihat hilangnya layang-layang.
Hati Prabu Brawijaya terenyuh, serasa teriris-iris, bimbang dalam hati, menyesali apa yang telah diperbuatnya. Tertegun, dada bak tersayat sembilu menyaksikan hilangnya layang-layang dari pandangan mata. Ada rasa kehilangan yang sangat berat. Sang Prabu merasa kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya.
Sang Raja merasa resah gelisah dan bersusah hati. Jantung hatinya telah lenyap. Badan lemas seakan-akan telah putus tulang uratnya. Pikirannya selalu terpaut kepada putranda tercinta yang telah pergi jauh sekali, entah hidup, entah mati.
Sang Prabu menyadari bahwa ia telah keliru karena terdorong rasa cemburu dan menuruti hawa nafsu. Ia malu dalam hati karena perbuatan semacam itu tidak patut dilakukan oleh seorang agung. Andaikan Jaka Prabangkara mati, apakah sudah terobati dan terpuaskan hatinya? Sudah padamkah kemarahannya?
Tampak Prabu Brawijaya meneteskan air matanya. Semua yang hadir dalam acara pelepasan Jaka Prabangkara, Mahapatih Gajahmada, para adipati, para mantri, dan segenap kawula Majapahit merasa sangat sedih. Ada rasa sesak dalam dada. Mereka terkenang akan kepribadian Raden Jaka Prabangkara. Seorang pemuda tampan yang berbudi luhur, pandai menguasai segala ilmu, berwatak kesatria, bertutur kata santun. Ia berlaku hormat kepada semua orang, baik yang lebih tua, yang sebaya, maupun yang lebih muda. Ia tidak membeda-bedakan keturunan, agama, maupun kasta seseorang. Akan tetapi, ia menghormati segala perbedaan dengan berlaku adil dan bijaksana.
Raja segera bertitah akan kembali ke istana. Ia pasrah terhadap kehendak Tuhan Yang Mahakuasa. Upacara dibubarkan Mahapatih Gajahmada. Semua yang hadir kembali ke tempat masing-masing.
•••
4.
SURAT PRABU BRAWIJAYA
Raden Jaka Prabangkara telah melesat terbang ke angkasa. Kurungan yang terikat erat pada layang-layang melayang mengarungi angkasa raya. Bumi tak tampak lagi, seakan terbenam menjadi satu dengan udara. Siang dan malam tak henti-hentinya angin membawa layang-layang semakin tinggi, jauh mengayuh antariksa.
Layang-layang telah mencapai tempat bermukimnya burung Raja, burung Beri, burung Dewata, dan sebangsanya. Tak lupa ia melukis dengan cepat semua burung tersebut. Selain itu, semua isi angkasa raya telah dilukisnya. Tidak ada yang tertinggal.
Enam puluh hari telah berlalu. Semua tugas yang dibebankan Prabu Brawijaya kepada Jaka Prabangkara telah diselesaikan dengan baik. Raden Jaka Prabangkara berkata dalam hati.
"Sejak lama ingin sekali aku mengetahui apa isi surat yang dialamatkan kepadaku ini. Akan tetapi, Ayahanda Prabu Brawijaya juga berpesan agar aku tidak membuka sampul surat ini sebelum semua tugas selesai. Sekarang tugasku telah selesai. Aku ingin mengetahui apa yang dikatakan Ayahanda Prabu Brawijaya."
Jaka Prabangkara segera membuka sampul surat itu. Ia membaca kata demi kata dengan penuh perasaan.
"Dari lubuk hatiku yang suci, surat ini kutujukan kepadamu, Anakku, Raden Jaka Prabangkara. Teriring pula restuku kepadamu, serta pujiku untukmu.
Kau anakku, Raden Jaka Prabangkara, seorang yang telah memahami segala makna kehidupan di dunia ini. Anakku, kau pun telah menjalani budi luhur bijaksana, mendalami segala hal tentang halus-kasar, baik maupun buruk. Kau adalah seorang yang setia dalam pengabdian. Sekarang, Anakku, kau sedang menjalankan tugas yang kubebankan kepadamu. Kutugaskan kepadamu untuk melukis seluruh isi angkasa raya.Anakku Prabangkara, surat ini merupakan kata-kata terakhir yang kutujukan kepadamu. Suratku ini jadikanlah pemisah kasih pemutus sayang antara ayah dan anak, antara aku dan engkau, Anakku. Putus sudah kasih sayangku kepadamu saat kauterbang melayang bersama layang-layang mengarungi angkasa raya. Itulah akhir pertemuanku denganmu. Pesanku, di mana pun kau berada, janganlah bersusah payah untuk kembali ke Majapahit.Namun kuingatkan kepadamu, jangan pula kau bersedih dan salah paham kepadaku. Kudoakan semoga kau selamat. Berserahdirilah dan bertakwalah kepada Tuhan Yang Maha Esa.Akhir-akhir ini perasaanku terhadapmu mengalami perubahan. Aku juga heran mengapa pula aku benci melihatmu. Tak ada penawar akan kebencianku dan kemarahanku terhadapmu. Tak kuketahui pula di mana lagi letak budi luhurku, ganas kasar dalam tindakanku, hanya benci saja yang tampak olehku kepadamu.Sekarang, kau dan aku telah terpisah jauh dan tak mungkin berkumpul kembali. Akan tetapi, tetap kupesankan kepadamu, jalanilah hidup ini dengan penuh keikhlasan.Bukan maksudku menghendaki kematianmu. Pahamilah bahwa sebenarnya aku menunjukkan jalan yang akan membuatmu mencapai kemuliaan dalam hidup. Untuk mencapai kemuliaan, kamu harus mengetahui hal-hal rumit yang tidak terjangkau oleh akal manusia pada umumnya, hal-hal yang penuh risiko, dan hal-hal yang aneh. Kau juga wajib merasakan derita sakit, panas, dan pedih.Tugasku kepadamu hendaknya kaupahami sebagai pelajaran dan pengalaman berharga agar kelak kau menjadi lebih bijaksana. Pengetahuanmu akan segala hal dapat menjadi bekal yang sangat berguna dalam kehidupan. Bukankah kewibawaan dan kebahagiaan diawali dengan perjuangan yang terkadang penuh penderitaan?
Anakku, semoga rahmat Tuhan terlimpah kepadamu. Perjuanganmu tak akan sia-sia. Kelak kau akan mendapat anugerah sejati dari Tuhan Yang Maha Esa. Kau akan terhindar dari kepapaan dan penderitaan. Kau pantas menyandang sebutan bangsawan, hartawan, dermawan, dan gunawan. Jika kau bersikap sebagai seorang susilawan dan budiman, kelak kau dan keturunanmu akan mendapat kemuliaan.Wahai anakku, Prabangkara, permintaanku kepadamu adalah jangan sekali-kali engkau mendarat kecuali di daratan Cina. Kupanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, semoga kau mendarat di Negeri Cina dengan selamat. Kelak di sana akan ada orang yang membantumu dengan penuh kasih sayang.Itulah awal mula kehidupanmu di Negeri Cina. Kelak kau akan menjadi Raja yang penuh kemuliaan. Kau akan menjadi Raja yang terkenal dan dihormati lawan-lawanmu. Kepandaianmu dan kesaktianmu tidak ada yang menandingi.Kau akan memiliki banyak keturunan dan hidup sejahtera. Suatu saat anak cucumu banyak yang berlayar ke negeri Jawa dan menetap. Kuizinkan anak cucumu menikmati hasil bumi tanah Jawa.Anakku Prabangkara, hendaknya kau selalu berhati-hati, selalu ingat dan waspada. Jangan lupa segala pesanku kepadamu."
Tamatlah sudah isi surat Prabu Brawijaya dibaca Jaka Prabangkara. Ia tidak dapat menahan rasa haru dan pilu. Air mata menetes di pipinya. Ia menangis terisak-isak. Hati sedih serasa diiris-iris. Perasaannya tidak keruan, bingung dan limbung.
Namun Jaka Prabangkara cepat sadar, tidak larut dalam kesedihan dan kebingungan yang berkepanjangan. Hatinya telah mantap, ia menyerahkan dirinya sepenuhnya terhadap kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Hilang sudah rasa cemas dan khawatir.
Ia segera menyimpan surat yang telah dibacanya. Raden Jaka Prabangkara memanjatkan doa, memohon kepada Tuhan agar apa yang diharapkan ayahandanya cepat terkabul.
Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang mengabulkan permintaan Jaka Prabangkara. Tiba-tiba datanglah angin kencang bertiup membawa layang-layang menukik mengarah ke daratan. Tak ada angin atau awan yang merintangi jalannya layang-layang. Layang-layang menukik ke bawah laksana burung garuda yang sedang memburu mangsanya di tanah.
Sudah menjadi kehendak Yang Mahakuasa yang mengasihani hamba-Nya yang sedang dalam penderitaan. Tidak lama kemudian, menurunlah layang-layang dari ketinggian. Jaka Prabangkara sudah dapat melihat suatu hamparan daratan. Terlihat jelas batas-batas kota, desa-desa, tepian hutan, kaki gunung, pepohonan di lereng gunung.
Waktu itu fajar hampir merekah. Angin berhenti bertiup dan mendaratlah layang-layang yang ditumpangi Raden Jaka Prabangkara.
•••
5.
DI NEGERI CINA
Layang-layang yang membawa Raden Jaka Prabangkara mendarat dengan mulus. Layang-layang mendarat di tepian hutan tak jauh dari sebuah dusun. Waktu itu suasana sangat sepi, tak tampak satu orang pun.
Konon, desa itu bernama Yutwai. Letaknya jauh dari ibu kota kerajaan. Di desa itu bermukimlah seorang janda yang amat miskin bernama Kim Liong. Ia sudah lama ditinggal mati suaminya. Hidupnya kini hanya ditemani oleh anak perempuannya yang beranjak remaja bernama Keng Mu Wah.
Keng Mu Wah sebenarnya memiliki paras yang ayu. Akan tetapi, karena kemiskinanlah yang membuat keayuannya tidak terlihat. Ia tidak mengenal busana yang bagus apalagi segala bentuk perhiasan dan kosmetik untuk mempercantik diri.
Setiap hari Keng Mu Wah membantu ibunya bekerja di hutan dekat Desa Yutwai. Mereka mencari dan mengumpulkan kayu-kayuan dan dedaunan untuk dijual di desa. Tidak banyak orang desa yang membeli. Kalaupun ada, harganya sangat murah. Mereka bekerja dan berjualan hanya sekadar untuk menyambung hidup dan keperluan makan sehari-hari.
Seperti biasanya, janda Kim Liong bersama anaknya Keng Mu Wah pergi ke hutan dekat Desa Yutwai. Mereka menyusuri hutan untuk mencari kayu dan dedaunan. Waktu itu matahari sudah melampaui tinggi pohon kelapa. Tiba-tiba Kim Liong terperanjat. Ia melihat ada sebuah rumah di depannya.
Setelah diamati, sebenarnya bukan rumah, melainkan sebuah bangunan berbentuk semacam rumah. Bangunan itu seperti rakitan perahu berukuran kecil, menggunakan layar penampung angin. Ia juga melihat banyak pula tali-temali yang saling mengait.
Raden Jaka Prabangkara mengetahui dan melihat dari kejauhan ada orang yang berusaha mendekatinya. Ia pun keluar dari kurungan dan pelan-pelan mendekati janda Kim Liong dan anaknya.
Kim Liong dan Keng Mu Wah mundur selangkah, takut dan cemas. Keduanya menggigil ketakutan. Keng Mu Wah memegang erat-erat tangan ibunya. Mereka bertanya-tanya. Apakah ini sebangsa roh halus penjaga hutan, manusia atau jin? Sosok manusia ini pasti jelmaan roh halus atau setan, pikirnya. Busananya sangat bagus, tetapi bukan seperti busana yang umum dikenakan di daratan Cina. Tampangnya sangat rupawan, tingkah lakunya halus. Ada cahaya yang memancar dari tubuhnya. Jika sosok ini adalah manusia, tentu bukan manusia sembarangan. Ia pasti putra dari seorang yang agung.
Raden Jaka Prabangkara memandangi Kim Liong dan Keng Mu Wah, seketika ia teringat akan busana yang dikenakan oleh seorang parekan (emban atau abdi perempuan) permaisuri Raja Majapahit. Mata mereka juga tampak sipit-sipit, kulit mereka kuning. Raden Jaka Prabangkara bertanya-tanya dalam hati, Apakah ini yang dinamakan Putri Cina? Apakah aku sudah sampai di daratan Cina?
Tiba-tiba dengan suara gemetar dan takut-takut, Kim Liong bertanya kepada Raden Jaka Prabangkara dalam bahasa Cina.
"Wahai pemuda rupawan, aku bertanya kepadamu, katakanlah dengan sesungguhnya kepadaku. Apakah kau yang disebut orang lelembut (roh halus) penghuni, penjaga, dan penguasa hutan belantara ini? Apa pula kehendakmu muncul di sini? Apakah kau akan mengganggu warga di desa sekitar hutan ini? Apakah kau akan menyebarkan wabah penyakit di desa kami? Apakah kau Ong Te Pekong yang akan mencabut nyawaku? Akan tetapi, jika kau manusia biasa, siapa namamu dan dari mana asal-usulmu?"
Konon Raden Jaka Prabangkara paham akan bahasa yang digunakan Kim Liong. Ia pernah belajar bahasa semacam itu dari seorang emban permaisuri Prabu Brawijaya yang berasal dari Negeri Cina. Ia banyak berhubungan dengan para mantri dari Negeri Cina yang menyertai Putri Cina istri Raja Majapahit. Tidak heran jika Raden Jaka Prabangkara mampu berbahasa Cina dengan fasih dan lancar. Ia kemudian menjawab pertanyaan Kim Liong dengan sopan dan halus.
"Ibu, aku ini bukannya lelembut, bukan jin, bukan setan, dan bukan pula Ong Te Pekong. Aku juga bukan Dewa. Aku adalah manusia biasa seperti Ibu. Aku berasal dari tanah Jawa dan mengabdi kepada Raja Agung Majapahit. Terlahir dari keturunan hina papa, namaku Prabangkara. Maafkan aku jika keberadaanku di sini mengejutkan Ibu. Aku tidak bermaksud berbuat jahat atau mengganggu siapa pun."
Raden Jaka Prabangkara kemudian bercerita bagaimana ia sampai di dalam hutan.
"Sebenarnya, aku sedang melaksanakan perintah Raja Majapahit untuk melukis angkasa raya dan seluruh isinya. Aku berada di dirgantara dengan naik layang-layang raksasa yang tak ubahnya seperti perahu kecil yang dilengkapi dengan layar penampung angin. Aku juga dilengkapi dengan perbekalan yang cukup. Ibu bisa melihat sisanya yang masih banyak dalam kurungan tempat tinggalku selama di angkasa. Setelah tugas melukisku selesai, datanglah angin yang mendorong layang-layang menukik ke bawah. Bersamaan dengan matinya angin, maka mendaratlah layang-layang di daratan yang tidak kukenal. Aku bertanya-tanya di mana gerangan aku mendarat. Untunglah aku melihat kedatangan Ibu hingga aku dapat mengetahui di mana aku sebenarnya."
Janda Kim Liong dan Keng Mu Wah asyik mendengarkan cerita Raden Jaka Prabangkara. Ia takjub. Tak sepatah kata pun terucap dari mulutnya. Ia masih tidak percaya akan apa yang didengarnya. Sungguh jauh asal pemuda rupawan ini.
Tersentuh hati janda Kim Liong melihat Jaka Prabangkara, belas-kasih tertumpah kepadanya.
"Ananda Jaka Prabangkara, jika demikian, Ananda sudah sangat jauh terbawa deru derasnya angin terkatung-katung melayang di angkasa. Amat jauh daratan Cina ini dengan tanah Jawa. Tanah Jawa berada di tenggara daratan Cina. Jika ingin ke tanah Jawa dengan berlayar melalui samudra harus melintasi samudra yang sangat luas, melintasi berbagai pulau besar memakan waktu paling cepat 3 bulan. Itu pun jika angin bertiup secara ajek.
Ananda, mendiang Pamanda dulu pernah berlayar ke tanah Jawa. Mendiang suamiku juga pernah ke Kerajaan Majapahit, mengikuti putri Raja Ong Te yang akan diperjodohkan dengan Raja Majapahit. Akan tetapi, kabar yang kudengar sang putri dari Cina itu sudah berpisah dengan Raja Majapahit, betulkah demikian? Waktu itu Putri Cina telah mengandung 7 bulan dan kemudian diserahkan kepada Raden Arya Damar di Palembang atas kehendak Raja Majapahit, benarkah cerita itu Ananda?"
"Ibu, cerita itu benar," jawab Raden Jaka Prabangkara. "Sekarang ibunda Putri Cina telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang wajahnya mirip Raja Majapahit."
"Duhai Putranda, bagaimana pula wujud kurungan yang Ananda naiki itu, ibu ingin sekali melihatnya," kata Kim Liong.
"Silakan jika Ibu ingin melihatnya." Raden Jaka Prabangkara segera mengantarkan Kim Liong dan Keng Mu Wah melihat kurungan tempat Prabangkara menunaikan tugasnya.
Berjalanlah mereka bertiga menuju tempat kurungan. Raden Jaka Prabangkara berada di depan disusul oleh janda Kim Liong dan putrinya, Keng Mu Wah. Sampailah mereka di tempat kurungan. Jaka Prabangkara mempersilakan mereka naik ke kurungan.
Kim Liong terkagum-kagum melihat bentuk dan isi kurungan, alat-alatnya serta perlengkapannya tak ubahnya seperti peralatan rumah saja. Semua hasil lukisan Prabangkara juga terpajang dalam kurungan itu. Berbagai macam penghuni angkasa terlukis oleh Jaka Prabangkara. Semuanya sangat indah.
Raden Jaka Prabangkara segera menjamu Kim Liong dan Keng Mu Wah. Aneka macam penganan khas tanah Jawa yang tahan lama disajikannya. Macam-macam minuman juga disediakan. Mereka bertiga bersama-sama menikmati sajian. Setelah janda Kim Liong beserta anaknya Keng Mu Wah selesai makan, berkatalah Raden Jaka Prabangkara.
"Ibu Kim Liong, jika Ibu tidak berkeberatan, maukah secara ikhlas Ibu menerimaku? Ananda ingin mengabdi kepada Ibunda Kim Liong sebab aku tidak ingin kembali ke tanah Jawa ataupun ke Majapahit. Malu kiranya kalau kukenang yang sudah-sudah."
Betapa sukacitanya Kim Liong mendengar permintaan Jaka Prabangkara untuk tinggal bersamanya.
"Raden, Ananda kuterima dengan senang hati. Akan tetapi, apakah Ananda sudah mantap untuk turut serta bersama Ibu? Aku sangat miskin, hina, dan tak memiliki apa-apa."
"Ibu, hatiku telah mantap dan menerima segala keadaan yang ada," jawab Prabangkara.
Ibu Kim Liong sangat senang hatinya mendengar jawaban Raden Jaka Prabangkara. Diajaklah Jaka Prabangkara pulang ke rumahnya. Jaka Prabangkara tak lupa untuk membawa semua perbekalan yang tersisa di kurungan. Banyak makanan, minuman, dan berbagai peralatan yang dibawa Jaka Prabangkara ke rumah Ibu Kim Liong. Layang-layang dan kurungan dibongkar sehingga memudahkan untuk dibawa pulang. Empat hari lamanya mereka memindahkan semua barang-barang dan semua isi kurungan yang masih dapat digunakan.
•••
6.
JAKA PRABANGKARA HIDUP BAHAGIA DI NEGERI CINA
Tak terasa waktu telah berlalu. Ibu Kim Liong sangat mengasihi Raden Jaka Prabangkara. Ia sudah dianggap seperti anak sendiri. Suatu hari Jaka Prabangkara menyerahkan cincin yang dikenakannya kepada Ibu Kim Liong. Sebuah cincin indah berpermata jingga berbalut emas.
"Ibu, terimalah cincin ini dan juallah. Uang hasil penjualan dapat Ibunda gunakan untuk modal usaha dan penyangga hidup kita bersama."
Kim Liong dengan rasa terharu menerimanya dan berjanji akan melaksanakan usulan Jaka Prabangkara untuk membuka usaha.
Modal dari penjualan cincin itu sungguh mendatangkan kebahagiaan dan keberuntungan bagi Kim Liong sekeluarga. Apa pun yang diperdagangkan sangat mudah mendatangkan rezeki. Untung berdatangan dari dagangan yang terjual.
Akan halnya dengan Raden Jaka Prabangkara yang tetap melakukan kegiatan melukis. Ia melukis apa saja; pemandangan, hewan, tumbuhan, ataupun orang. Lukisannya kemudian dijual oleh Ibu Kim Liong. Lama kelamaan, ia menjadi pelukis terkenal. Seluruh desa tahu Jaka Prabangkara ahli melukis. Orang berebut untuk membeli hasil lukisan Prabangkara, harga bersaing. Berapa pun harga yang dipasang Ibu Kim Liong tak menjadi soal bagi pembeli asalkan dapat memiliki lukisan Jaka Prabangkara. Banyak pula yang memesannya terlebih dahulu.
Uang terus mengalir kepada janda Kim Liong. Hartanya makin banyak. Kim Liong kini terkenal sebagai hartawan disebabkan anak pungutnya, Jaka Prabangkara, si pembawa rezeki.
Nama Raden Jaka Prabangkara terkenal luas menjelajahi seluruh Negeri Cina. Anak angkat janda Kim Liong itu dikenal pula sebagai "si bagus dari Desa Yutwai" yang memiliki pengetahuan yang sangat luas. Ia menguasai berbagai ilmu. Kebagusannya bagaikan bulan purnama, cahayanya bersinar lembut. Tutur bahasanya manis, sikapnya sangat santun memahami tata susila. Ia pantas terkenal. Kehalusan budinya dan kebijaksanaannya sungguh melekat bagi yang pernah bertemu dan mengenalnya.
Sanjungan untuk Jaka Prabangkara makin meluas di seluruh pelosok daratan Cina. Ia sungguh rupawan, tiada bandingannya dengan jejaka lainnya dari daratan Cina. Ia adalah seorang perjaka tangguh dalam segala hal, pantas dipuja-puja orang sedunia.
Jika ia melukis, lukisannya sangat mirip dengan aslinya, bahkan dapat lebih indah dari aslinya. Tak dapat dibedakan mana tinta dan mana kertasnya. Warna yang dilekatkan pada lukisannya seakan-akan membuat lukisan itu hidup.
Banyak orang terkenal yang ingin dilukis Jaka Prabangkara. Oleh karena itu, Raden Jaka Prabangkara banyak menerima pembayaran dan hadiah sebagai balas jasanya. Beraneka ragam barang-barang yang indah, uang, maupun busana yang bagus-bagus.
Ketenarannya hingga terdengar oleh penguasa daratan, pesisir, dan lautan Cina, Raja Agung Sri Ong Te. Manakala Sri Ong Te mendengar berita perihal seorang pelukis yang teramat pandai dan sakti, muncul keinginan Raja Ong Te bertatap muka dengan Jaka Prabangkara.
Diutusnya penggawa raja untuk menemui dan memanggil Raden Jaka Prabangkara datang ke istananya. Banyak para pejabat istana dan tamu dari kerajaan lain yang ingin juga melihat Jaka Prabangkara.
Kembalilah sudah utusan raja, Raden Jaka Prabangkara turut serta dibawanya. Raja Ong Te segera bertitah kepada Raden Jaka Prabangkara untuk mendekat.
Majulah Raden Jaka Prabangkara menyembah, berjalan dengan sopannya. Jalan berjongkok bagaikan burung merak yang sedang memperagakan keindahan bulu sayapnya. Langkahnya cekatan tanpa kesalahan, leher bergerak seirama dengan langkahnya yang indah. Siku tangan kiri kanan melenggang sesuai dengan majunya langkah kaki. Semua geraknya terlihat manis dan serasi. Tak ada yang mengecewakan. Dengan menundukkan kepala Raden Jaka Prabangkara mendekat kepada Sri Raja Ong Te, pandangan tajam lurus ke depan.
Semua yang hadir tertegun melihatnya. Rasa takjub membuat yang hadir tak mampu berkata-kata. Bahkan, sang Raja pun tertegun menyaksikannya. Mata memandang tanpa berkedip-kedip.
Dalam hati Raja Ong Te berkata, Anak ini tentunya bukan anak orang sembarangan. Ia pastilah keturunan orang-orang bijaksana atau keturunan para raja. Tindak-tanduk dan perilaku rendah hatinya sungguh sangat mengesankan. Raja Ong Te mencoba mencari kebenaran dari dugaannya bahwa Jaka Prabangkara pasti putra seorang raja. Ia juga menduga Jaka Prabangkara akan menutup-nutupi asal-usulnya. Bertanyalah Raja Ong Te kepada Raden Jaka Prabangkara.
"Wahai Ananda, kuucapkan selamat datang di istana ini."
"Duli Tuanku Raja Agung Sri Ong Te, hamba haturkan terima kasih untuk salam duli Tuanku. Semoga dapat kujunjung tinggi rahmat Raja, akan kujadikan jimat bagiku, semoga dapat menjadi kekuatan bagiku dalam kehidupan ini," jawab Raden Jaka Prabangkara.
"Ananda, coba ceritakan dari mana asalmu?"
"Dulu hamba mengabdi kepada Raja Brawijaya dari Majapahit. Akan tetapi, Tuanku janganlah salah terka. Hamba hanyalah anak orang hina-dina dari tanah Jawa. Sesungguhnya hamba adalah orang yang bodoh dan tidak paham akan tata tertib dan aturan. Akibatnya, pengabdian hamba kepada raja hanya mendatangkan kesengsaraan."
Setelah itu Jaka Prabangkara menceritakan hal-ihwal dirinya mengapa sampai terdampar di daratan Cina. Raja Ong Te tersentuh mendengar cerita Jaka Prabangkara dan timbul belas kasihannya. Raden Jaka Prabangkara segera disuruhnya lebih mendekat. Jaka Prabangkara dengan menyembah lalu menggeser tempat duduknya mendekat pada kaki Raja Ong Te. Raja Ong Te kemudian menjengukkan kepalanya seraya berbisik kepada Jaka Prabangkara.
"Wahai Anakku, mengapa pula kau membohongi diri. Sudah sepatutnya kauceritakan siapakah orang tuamu yang sebenarnya."
Dengan rendah hati Raden Jaka Prabangkara menjawab, "Junjunganku Raja Agung Sri Ong Te, maafkan diri hamba yang telah berbohong. Hamba sebenarnya adalah putra Prabu Brawijaya Raja Majapahit di Tanah Jawa yang terlahir dari seorang istri selir. Ibu hamba adalah anak seorang mantri jagal di Majapahit. Kedatangan hamba di daratan Cina ini adalah sekadar menjunjung tinggi perintah Prabu Brawijaya Raja Majapahit. Tugas dan kewajiban hamba tertulis dalam sepucuk surat yang hamba bawa ini."
Kemudian Jaka Prabangkara menceritakan semua isi surat dari ayahandanya, Prabu Brawijaya. Raja Ong Te sangat terharu mendengar isi surat itu. Pilu hatinya seakan-akan dirinya sendiri yang menderita. Dengan perasaan terenyuh berkatalah Raja Ong Te.
"Kau Jaka Prabangkara, akulah pelindungmu sekarang. Aku tidak keberatan kau menyembunyikan identitasmu yang sebenarnya. Akan tetapi, kehendakku mulai sekarang adalah kau harus berada di istanaku. Ibu dan saudara angkatmu kuperintahkan juga untuk diboyong kemari."
Raden Jaka Prabangkara berterima kasih dan menyerahkan sepenuhnya pada kehendak Raja Ong Te.
Janda Kim Liong beserta putrinya telah diboyong ke istana. Raja menempatkan mereka di sebuah rumah yang bagus dan tak jauh dari istana raja.
Raja beserta para mantri dan segenap penghuni istana sangat menyayangi Raden Jaka Prabangkara. Lambat laun bukan menjadi rahasia lagi siapakah sebenarnya Raden Jaka Prabangkara itu. Bagaikan asap yang mengepul meninggi, tak ada lagi yang dapat menutupinya dengan tirai. Semua orang kini tahu bahwa Raden Jaka Prabangkara adalah putra Raja Majapahit Prabu Brawijaya.
Raden Jaka Prabangkara kemudian dijodohkan dengan cucu Raja Ong Te yang bernama Siti Tumiyan. Raja juga memerintahkan Raden Jaka Prabangkara untuk memperistri putri janda Kim Liong si cantik Keng Mu Wah. Kedua istri Jaka Prabangkara ini sangat rukun dan keduanya sangat mencinta Raden Jaka Prabangkara.
Raden Jaka Prabangkara makin tersohor ke berbagai penjuru bumi. Kepandaiannya melebihi sesamanya, bijaksana, tangguh, dan perwira. Ahli dalam segala hal, rendah hati, lemah lembut perangainya, menjunjung tinggi keluhuran budi, ahli dalam agama, dan tutur katanya memesona hati. Ia juga terkenal karena bijaksana dalam mengatasi segala kesulitan, adil dalam hukum, berwatak kesatria. Jaka Prabangkara berwajah tampan, raut mukanya bersinar-sinar bak cahaya rembulan. Ia disukai semua orang, tua muda maupun pria wanita. Dengan demikian maka doa dan harapan Prabu Brawijaya V terhadap Raden Jaka Prabangkara telah menjadi kenyataan. Kemuliaan dan kebahagiaan telah tercurah kepada Raden Jaka Prabangkara dan keturunannya.




Komentar
Posting Komentar