KABAYAN DUKUN PALSU
KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT BAHASA
Anak-anak, apa yang kamu lakukan setelah pulang sekolah? Membantu orang tua, bermain dengan teman, atau membaca buku? Nah, sebetulnya semua itu bagus. Kalau kamu membantu orang tua, atau kamu bermain untuk menghilangkan kejenuhan, jangan lupa sisihkan waktu untuk membaca apa pun yang kamu suka. Pekerjaan membaca itu menyenangkan karena kamu akan terbiasa dengan buku, majalah, surat kabar, atau bacaan lainnya. Kebiasaan membaca akan melatih kamu mendapatkan berita, pengetahuan, ilmu, atau hiburan dari apa yang kamu baca. Surat kabar dan majalah adalah sumber berita, buku itu sumber ilmu, dan buku cerita itu memuat kisah pengalaman tentang kehidupan. Semua itu bagus untuk dibaca supaya kamu tahu berita, ilmu, dan tentang kehidupan.
Nenek moyang kita memiliki kisah-kisah tentang kehidupan ini. Kisah-kisah itu diceritakan kepada anak cucu, termasuk kita. Mereka menyebutnya dongeng. Ada dongeng Sang Kancil, Sangkuriang, Timun Emas, Petani, Terjadinya Danau Toba, Malin Kundang, dan sebagainya. Kita, bangsa Indonesia, memiliki seribu satu dongeng yang hidup di seluruh wilayah negeri Indonesia. Sudah bertahun-tahun lalu Pusat Bahasa telah meneliti dan mengumpulkan dongeng-dongeng itu. Dongeng atau cerita rakyat itu banyak berisi petunjuk, petuah/nasihat, atau pengalaman dalam menjalani kehidupan ini. lsi dongeng-dongeng itu ternyata masih cocok dengan kehidupan kita sekarang. Kini dongeng-dongeng itu telah diceritakan kembali dalam buku cerita anak. Nah, bacalah buku-buku cerita anak yang sudah banyak dihasilkan Pusat Bahasa. Satu di antara cerita anak itu adalah buku yang akan kamu baca ini.
Buku yang berjudul Kabayan Dukun Palsu ini memuat kisah tentang seorang suami yang sangat malas bekerja yang berpura-pura menjadi seorang dukun sakti. Cerita ini merupakan cerita rakyat dari daerah Jawa Barat. Semoga buku ini memberi manfaat bagimu dalam memperkaya wawasanmu tentang kisah-kisah kehidupan ini.
Jakarta, 17 Juli 2008
Dr. H. Dendy Sugono
•••
UCAPAN TERIMA KASIH
Cerita Kabayan Dukun Palsu ini merupakan saduran dari Si Kabayan yang ditulis oleh M.O. Kusman dalam bahasa Sunda (Bandung, Tarate: 1980). Tokoh Kabayan dalam sastra Sunda adalah tokoh yang lucu sekaligus konyol. Ia pemalas, tetapi cerdik dan panjang akal sehingga masalah apa pun yang dihadapinya akan menemukan jalan keluar.
Selanjutnya, penulis ucapkan terima kasih kepada Dra. Dad Murniah, M.Hum. selaku Kasubbid Informasi dan Publikasi yang mengelola program penulisan cerita anak ini beserta stafnya Dra. Nurhayati, Dra. Yeni Mulyani S., M.Hum. yang telah mencarikan dan meminjami penulis buku Si Kabayan sebagai sumber untuk penulisan cerita anak ini, dan nama-nama lain yang tidak mungkin diperinci satu per satu. Semoga Allah membalaskan budi baik mereka semua, dan semoga pula buku ini bermanfaat bagi pembacanya.
Jakarta, Agustus 2006
Suyono Suyatno
•••
SATU
PERTENGKARAN
Matahari telah redup saat Kabayan melangkah masuk ke halaman rumah. Obor-obor yang menyala di sekitar gubuk merebak terang, menggantikan tugas sang surya yang sudah sehari penuh menerangi bumi. Apinya menari-nari tertiup angin seolah menyambut datangnya rembulan yang akan menyinari bumi sepanjang malam.
Kabayan tidak menentu perasaannya. Kakinya antara menjejak bumi dan melayang. Berat rasanya saat akan memasuki gubuknya. Terbayang di pelupuk matanya wajah istrinya yang masam, bibirnya yang cemberut, suaranya yang nyinyir, dan tangannya yang selalu menuding dan menunjuk-nunjuk.
“Hi …,” gumamnya tanpa sadar sambil wajahnya menyeringai membayangkan perangai istrinya yang akhir-akhir ini sering mengomel.
Baru saja Kabayan membuka pintu, istrinya sudah berteriak, "Mau apa datang ke sini? Laki-laki tidak punya malu, tidak punya tanggung jawab. Pergi!"
"Iteung, cape nih Akang teh," kata Kabayan melangkahkan kakinya akan masuk.
"Jangan … jangan ke sini!" bentak istrinya. Tangannya direntangkan untuk menghalangi Kabayan. Nyi Iteung mukanya merah, matanya melotot, giginya gemeletuk, dan bibirnya mencibir.
"Minggir Iteung!" seru Kabayan.
"Awas ... lihat ini!" Nyi Iteung mengangkat gagang sapu yang ada di tangannya hendak dipukulkan pada punggung Kabayan.
"Iteung … Akang itu laki-laki! Apa kamu berani sama laki-laki?" seru Kabayan.
Tangan Nyi Iteung seperti ada yang mengerem mendengar perkataan suaminya. Pelan-pelan diturunkan tangannya. Kemarahannya tidak tersalurkan. Ia akhirnya menangis sambil terus mengomel. "Kabayan! Akang mah keterlaluan pada istri teh. Iteung tidak sudi disengsarakan oleh anak mertua. Punya suami juga kalau tahu begini mah tidak ada artinya. Iteung bisa makan sendiri, Kang! Iteung tidak sudi, Kang ….”
Kabayan menimpali, "Wajar saja, kalau makan ya sendiri. 'Kalau Iteung sakit baru Akang suapi."
Nyi Iteung tersenyum sedikit sambil membuang muka takut ketahuan suaminya. Tangisnya diteruskan sambil berkata, "Dikurung tidak ditabur, diikat tidak dikasih makan!"
"Kamu itu ayam atau burung, Iteung?"
"Iya, Kabayan, terserah apa katamu! Burung, ayam sama saja harus dikasih makan. Orang lain mah pada istri itu mencukupi pakaiannya, memberi rumah, memberi makan. Kamu mah mana?" katanya nyerocos.
"Ini, Iteung, Akang di sini! Apa tidak kelihatan? Kamu ngomong saja dari tadi," protes Kabayan.
"Ngomong juga punya bibir. Heh laki-laki makanan genderuwo, tidak punya malu, hidup seperti benalu, numpang rezeki istri! Kalau ada di rumah, kerjanya hanya tidur. Penghasilan tidak ada. Tuh lihat anak minta makan! Jangan hanya mengandalkan perempuan. Kenapa ingin punya istri? Kalau terus-terusan dibiarkan, Akang sama sekali tidak punya kemauan!"
"Sudah Iteung, berisik! Ngomong melulu seperti burung kutilang!"
Kabayan duduk bersandar pada bilik, tangannya dilingkarkan pada lututnya. Tangannya menggaruk-garuk kepala. Ia mendekap lututnya. Sekali-sekali ia memilin kumis yang jarang-jarang dan tajam menutupi bibirnya.
"Biar saja berisik! Pergi saja kalau tidak tahan berisik mah!" Nyi Iteung masih saja nyerocos.
"Aduh, Iteung, malu pada tetangga!"
"Tidak, Iteung mah tidak malu. Malu itu kalau tidak punya baju karena tidak dibelikan baju."
"Itu masih pakai baju, masih pakai kain."
"Bisa saja kalau menjawab mah. Pakaian hanya tinggal yang melekat di badan."
"Bagus juga begitu, tidak susah milih."
"Iya … ya … senang melihat anak-istri kumal, dasar pemalas! Kalau tidak usaha sendiri, dapur tidak ngebul!" teriak Nyi Iteung sambil terisak-isak.
"Sudah Iteung. Kamu yang benar, Akang ngaku salah! Mulai besok Akang akan usaha mencari nafkah! Sekarang ngantuk, cape, tadi sudah ngukur jalan."
Nyi Iteung tidak mendengar kata-kata suaminya, terus saja mengomel. Ia tidak henti-hentinya memojokkan suaminya. Sementara itu, suara Kabayan sudah tidak terdengar lagi. Nyi Iteung baru sadar berbicara sendiri manakala terdengar dengkur suaminya. "Hah! Tidak ada gunanya aku bicara. Yang diajak bicara juga sudah bermimpi."
Nyi Iteung mengendap-endap mendekati suaminya yang duduk tertidur. Kedua tangannya memegang tutup panci. Tidak lama kemudian trang ... trang ... trang … kedua tangannya mengayunkan tutup panci dengan sekuat tenaga di dekat telinga Kabayan. Kabayan terperanjat dan terbangun. Matanya merah, menatap tajam pada Nyi Iteung. "Iteung! Kamu sudah kelewat batas! Aku dari tadi berusaha sabar, menahan amarah. Kamu kira aku tidak bisa marah?" Kabayan bangun hendak memburu Nyi Iteung. Nyi Iteung terkejut melihat reaksi suaminya. Ia sebelumnya tidak menduga kalau suaminya bisa juga marah. Nyi Iteung lari ke arah belakang. Kabayan terus mengejarnya sambil memanggil-manggil namanya. "Iteung … Iteung."
![]() |
| Kabayan terperanjat dan terbangun mendengar benturan dua tutup panci yang berbunyi keras sekali. |
Kabayan menangkap tubuh istrinya, didekap kuat-kuat, terus diguncang-guncang dengan kerasnya. Nyi Iteung kesakitan. Ia berteriak-teriak, "Hei, Kabayan, kamu mah hanya berani pada perempuan!"
"Ya, karena kamu perempuan aku berani. Kalau kamu laki-laki, aku pasti tidak berani."
Suara Kabayan dan istrinya terdengar ke luar. Begitu pula dengan suara barang-barang yang dilempar oleh keduanya memecahkan heningnya malam. Masing-masing sudah dikuasai oleh nafsu amarah. Kabayan ingin menaklukkan istrinya. Nyi Iteung yang merasa benar tidak mau kalah oleh suaminya. Keduanya kembali adu mulut saling menyalahkan. Tiba-tiba dari luar terdengar suara memanggil-manggil Nyi Iteung.
"Iteung ... Nyi Iteung. Ada apa? Mengapa Iteung?" tetangganya bertanya-tanya.
Nyi Iteung berhenti menangis, menjawab pada orang yang bertanya di luar, "Ingin tahu saja urusan orang," lalu menangis lagi.
Kabayan tidak ketinggalan ikut menjawab, "Hei, ini urusan dalam negeri! Jangan ikut campur!"
"Bertanya saja tidak boleh!" gerutu tetangganya.
"Bukan tidak boleh, tetapi tidak perlu!" jawab Kabayan hampir berbarengan dengan istrinya.
"Sunat hukumnya bertanya itu," kata tetangganya tidak mau kalah.
Nyi Iteung sambil menangis berteriak, "Perhatian amat! Bertengkar dengan suami. Mau apa?"
"Pantas saja!"
"Mau pantas tidak pantas peduli amat. Kami di sini yang merasa," kata Nyi Iteung.
"Benar, Nyai! Tetapi kami di sini terganggu!"
"Hah? Terganggu? Apa ini perkara kamu?"
"Bukan!"
"Ya, sudah! Pulanglah! Mau apa diam di situ?"
Tetangganya tersinggung, "Tidak disuruh juga akan pergi."
Kabayan membuka jendela melihat tetangganya, "Ada apa lagi?"
"Maaf, Kabayan, mungkin benar saya salah. Kalau bertengkar lagi dengan istri dan perlu bantuan, saya bersedia membantu."
"Tidak akan bertengkar lagi," kata Kabayan.
"Siapa yang nyuruh?" kata tetangganya sambil pergi.
"Hei! Dengarkan! Nyi Iteung itu istri saya. Saya yang membuat dia nangis! Betul kan, Iteung?"
"Tahu!" kata Nyi Iteung.
"Saya bertengkar dengan Nyi Iteung tidak minta bantuan siapa pun. Saya membujuknya juga tidak akan memanggil orang lain!"
"Lagi pula buat apa minta bantuan orang lain," kata Nyi Iteung.
"Ya, syukur kalau begitu," kata tetangganya beranjak pergi.
Kabayan dan istrinya saling menatap lalu keduanya tersenyum sambil menyaksikan kepergian tetangganya.
Malam semakin larut. Desir angin malam yang menerobos melalui bilik terasa menusuk badan sampai ke tulang sumsum. Tiba-tiba Kabayan merasakan betapa sunyinya dunia sekitarnya. Tampak istrinya tertidur di samping anaknya yang sedari tadi sudah pulas. Melihat istrinya, Kabayan agak dongkol. Ia bergumam sendiri, "Iteung, gara-gara kamu yang tidak henti-hentinya ngomel, aku jadi lupa makan! Jatah tidurku juga berkurang."
Kabayan perlahan-lahan menuju ke belakang. Ia membuka tempat nasi. Tangannya merasakan nasi yang sudah dingin. Tidak ada lauk sedikit pun di situ. Yang ada hanyalah garam dan cabai rawit. Kabayan jadi tidak berselera. Ia kembali ke balai-balai hendak membaringkan tubuh yang terasa lelah. Sebelum terlelap masih sempat ia berkata, "Awas, Iteung! Rasakan pembalasanku besok.”
•••
DUA
KABAYAN BERLAGAK KESURUPAN
Dari hari ke hari orang-orang yang bermukim di kampung itu mengerjakan pekerjaan yang tetap. Pagi-pagi bangun, lalu ke ladang hingga matahari bertengger di puncak gunung. Di antara mereka ada juga yang pergi ke sungai untuk mandi atau memancing ikan kancra dan bogo untuk santapan pagi. Setelah bertanak dan sarapan mereka ke ladang lagi. Saat matahari berada di puncak ubun-ubun, kaum perempuan biasanya pulang. Menjelang senja kaum laki-laki baru pulang sambil membawa seikat kayu.
Hanya seorang laki-laki saja yang berbuat lain. Laki-laki itu bernama Kabayan. Badannya sedang dan wajahnya lonjong dengan kulitnya yang agak kuning karena jarang terbakar matahari. Pekerjaannya hanya bermalas-malasan. Apabila merasa bosan, yang dilakukannya hanyalah tidur.
Sementara itu, istrinya, Nyi Iteung seperti halnya perempuan lain di kampungnya setiap pagi pergi ke ladang. Umurnya yang masih muda seolah dihabiskannya dengan bekerja keras. Dan, orang tercengang saja ketika mengetahui seorang gadis manis telah bersedia menjadi istri Kabayan untuk menghabiskan umurnya bersama seorang pemalas. Nyi Iteung sudah memutuskan untuk mendampingi Kabayan. Ia terpikat pada Kabayan bukan karena malasnya, melainkan karena kebaikan hatinya serta kecerdikannya yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sering juga ia kesal pada kemalasan suaminya, seperti halnya semalam. Kekesalan yang selalu ditumpahkannya dengan kemarahan, tetapi ia tidak berhasil menggugah Kabayan. Selama ini ia telah memberi contoh bahwa hanya dengan bekerja keras saja orang akan dapat memperbaiki hidupnya. Akan tetapi, itu sia-sia saja. Kabayan belum juga berubah.
Nyi Iteung tidak berputus asa. Ia terus mencari cara untuk mengubah cara hidup suaminya. Nyi Iteung bertekad akan mengubah gaya hidup suaminya. "Aku akan mengubah hidupnya," kata Nyi Iteung dalam hatinya.
Meskipun Nyi Iteung bangun setelah hari agak terang-temaram, perasaannya demikian senangnya. Pikiran yang gundah-gulana semenjak malam tadi telah lenyap dari kepalanya. Tekadnya telah melenyapkan segala pikirannya yang kacau. Ia seperti biasa pergi ke ladang. Dalam perjalanan ia bertemu dengan teman-temannya. Terdengarlah suara perempuan-perempuan yang sedang berbicara dengan sesama perempuan seperti suara lebah. Mereka bercanda bersuka ria sambil menceritakan berbagai hal. Mereka selalu merasa nikmat menghirup udara segar di pagi hari. Nyi Iteung pun selalu merasa bahagia melihat embun yang masih basah di atas dedaunan.
Kabayan duduk bersimpuh di dekat pintu depan. Ia dapat melihat ke jalan dengan leluasa. Jalan tampak lengang. Hanya satu dua orang yang lewat dengan langkah terburu-buru. Ia dapat melihat orang-orang tanpa terlihat oleh orang itu. Semua yang lewat selalu tak luput dari matanya. Itu semacam tontonan, pelalai waktu yang selalu melimpah baginya. Setelah bosan duduk dekat pintu ia pindah ke dalam. Di dalam rumah, ia kembali merebahkan badan berbantalkan tangan. Tidak lama kemudian terdengar dengkurnya. Pulas karena tidak ada yang mengganggu. Ketika ia bangun, hari sudah senja. Perutnya keroncongan minta diisi. Kabayan menahan rasa lapar karena ada rasa segan pada istrinya. Akan tetapi, rasa lapar terus bergejolak dalam perutnya. Ia ke belakang. Tampak istrinya tengah makan dengan anaknya. Kabayan kesal. Ia berkata dalam hatinya, "Makan sendiri, tidak ngajak-ngajak. Padahal aku nunggu rumah dari pagi. Sehari-harian tidak dikasih minum, apalagi makan. Awas, Iteung!"
Kabayan pura-pura tidur lagi. Sekilas tampak istrinya ke ruang tengah, sedangkan anaknya bermain-main. Tiba-tiba Kabayan bangun dengan mata merah melotot sambil melirik ke kanan dan ke kiri, rambut acak-acakan. Mulutnya komat-kamit, bicaranya tidak tentu hanya "ngaum ... ngaum ..." sambil duduknya tidak mau diam.
Anaknya terkejut melihat bapaknya, "Mak … Emak! Mak, takut! Bapak kenapa?"
"Laillah! Hei, Kang! Sadar, Kabayan!" seru Nyi Iteung.
Kabayan menjawab dengan suara dibunyikan agak sengau, "Nyai Ngiteung! Ngaing ngkaruhun ngkamu!"
"Aduh, itu bapak kamu kesurupan. Diam, jangan ribut!" kata Nyi Iteung pada anaknya.
"Jangan menakut-nakuti anak, Ngiteung! Aku ngaruhun kamu," katanya lagi.
Anaknya gemetar, berdiri mendekati ibunya. Nyi Iteung duduk bersimpuh tanda hormat. Kedua tangannya dikedepankan untuk menahan badannya, dan bertanya pada embah, "Embah teh yang dari mana?"
“Ngaing yang berkuasa di sini.”
"Tolong pulanglah, Embah! Anak hamba ketakutan!"
"Pengen telor dulu!"
Nyi Iteung menyuruh anaknya mengambil telur satu dari kandang.
"Pengen tiga," kata Kabayan.
"Ambil tiga, Nak!" kata Nyi Iteung.
"Tinggal dua telurnya, Mak!" kata anaknya.
"Dua juga cukup," kata Kabayan.
"Ambil dua, cepat bawa ke sini!" kata Nyi Iteung.
Tidak lama anaknya datang, memberikan telur dua butir pada ibunya. Nyi Iteung buru-buru menyuguhkannya pada Kabayan, "Ini, Embah, telornya."
"Pengen dimasak dulu," kata yang kesurupan.
"Direbus saja ya, Embah! Biar cepat."
"Direbus juga bagus."
Kemudian telur yang sudah masak diberikan, ditaruh di atas piring kecil.
"Mana garamnya?"
"Kok pakai garam segala?" Nyi Iteung heran.
"Ngaing tidak suka telor dingin."
Garam ditaruh dekat telur. Embah mengupas telur disaksikan oleh Nyi Iteung dan anaknya. Setelah telur dikupas dua-duanya, embah minta minum. Air disuguhkan. Nyi Iteung mengira embah sudah mau makan telur, tahu-tahu masih ada permintaan lain, "Mana nasi dan sambalnya?”
Nyi Iteung segera mengambil nasi dan sambal yang tinggal sedikit. Nasi dan sambal itu dihidangkan di hadapan Kabayan. Setelah semua lengkap, tanpa disuruh lagi Kabayan makan dengan lahap. Sementara Kabayan makan, ia jadi pusat perhatian istri dan anaknya. Cara makan dan permintaan embah tadi mencurigakan karena mirip dengan cara makan dan selera Kabayan. Nyi Iteung pun bertanya-tanya dalam hatinya, ini embah atau Kabayan?
Rasa lapar embah berakhir sudah. Ia mereguk air teh dengan sekali reguk. Bunyi air "glek ... glek" terdengar masuk tenggorokan embah. Piring sudah kosong, sambal tandas, telur tidak ada sisanya, dan gelas isinya sudah kering. Embah bergerak pelan-pelan, seraya berkata memberi nasihat, "Sekarang ngaing mau pulang. Ngaing doakan semoga sayang suami, dan memaafkan segala dosanya, heh … heh ….”
"Baiklah, Embah," kata Nyi Iteung.
"Iya, jangan suka bertingkah pada suami," kata embah sambil merebahkan badan.
"Ya, Embah, hamba akan selalu ingat pesan Embah."
"Baiklah, Nyai, aku mau pulang!"
Nyi Iteung hanya mengangguk. Embah merasa kenyang. Ia tidur lagi. Mukanya tampak puas. Tidak lama kemudian terdengar dengkurnya menggelegar.
![]() |
| Nyi Iteung dan Si Itoh memerhatikan Kabayan sedan makan dengan lahapnya. |
"Mak … Bapak tidak meninggal kan?" tanya anaknya.
"Tidak! Tadi itu Bapak kesurupan," kata Nyi Iteung.
Malam itu Kabayan tidur dengan pulasnya. Anaknya pun tidur dengan tenang. Sementara itu, Nyi Iteung tidak dapat tidur. Ia masih mengingat peristiwa yang baru saja terjadi. Ia merenung, memikirkan tingkah laku suaminya. Rasa curiga Nyi Iteung pada tingkah suaminya sangat menggoda. Pikirannya berkecamuk antara percaya dan tidak percaya pada perbuatan Kabayan. Ia belum merasa yakin apakah suaminya benar-benar kesurupan atau hanya dibuat-buat. Keraguan Nyi Iteung timbul karena tadi sewaktu Kabayan kesurupan permintaannya sama persis dengan yang biasa diminta oleh suaminya. Nyi Iteung tahu persis kebiasaan Kabayan. Kabayan kalau makan telur rebus selalu minta garam.
"Masa makhluk halus makan telur rebus dengan garam?" tanyanya ragu-ragu. "Tetapi ini kan makhluk halus yang masuk ke tubuh Kabayan? Jadi ya mungkin saja seleranya sama dengan Kabayan," bantahnya meyakinkan diri.
Nyi Iteung sudah lama menjadi istri Kabayan. Ia tahu persis setiap perbuatan suaminya pasti mengandung maksud tersembunyi yang sulit ditebak. Dan, ia berkali-kali terkecoh oleh tingkah suaminya.
"Ah, jangan-jangan itu hanya akal Kabayan?" Nyi Iteung bimbang lagi. "Aku tahu Kabayan cerdik dan banyak akalnya. Ia berpura-pura kesurupan supaya dapat makan. Kabayan bangun tidur kelaparan, tetapi aku tidak menyediakan makanan. Untuk itulah ia berpura-pura kesurupan."
Nyi Iteung merasa yakin bahwa perbuatan Kabayan tadi hanyalah pura-pura. Tanpa disadari ia tersenyum seraya berkata, "Ah, betapa cerdiknya Kabayan. Biar bagaimanapun aku senantiasa terpedaya oleh tingkahnya. Namun, aku tidak menyesali perbuatanku tadi. Sudah seharusnya aku melayani suamiku."
Setelah merasa yakin, Nyi Iteung menjadi tenang. Rasa mengantuk pun mulai menyerang matanya. Nyi Iteung membiarkan matanya terpejam. Sebelum terlelap ia masih sempat berharap suatu saat dapat membalas kecerdikan suaminya. Ia hendak membalas kecerdikan Kabayan dengan kecerdikan pula. Meskipun demikian, Nyi Iteung ragu dapat melakukan itu karena Kabayan memang terlalu cerdik untuk ditaklukkan.
•••
TIGA
PEMBALASAN NYI ITEUNG
Ayam jantan berkokok isyarat fajar. Kabayan terbangun lebih dahulu daripada Nyi Iteung. Ia sudah puas tidur. Ia menggeliat menghilangkan rasa pegal. Di sebelahnya Nyi Iteung lelap dalam wajah yang lembut dan pasrah.
Kokok ayam jantan makin bersahut-sahutan. Kabayan pun mendengar suara langkah-langkah kaki di luar. Sekali-sekali terdengar suara orang batuk-batuk karena udara dingin. Ia bangkit dari balai-balainya dan menjenguk dari jendela. Ia melihat beberapa orang laki-laki dan perempuan yang berjalan tergesa-gesa menuju sawah ladangnya. Ia merasa bersalah karena sudah lama tidak bekerja seperti orang-orang itu. Ditatapnya Nyi Iteung seraya berkata dalam hatinya, "Masa orang selemah ini yang harus membanting tulang, sementara aku hanya bermalas-malasan!”
Perasaan bersalah makin memenuhi hati Kabayan setelah mengingat peristiwa semalam. "Kasihan," kata hatinya. "Perempuan ini harus bekerja pagi-pagi begini. Biarlah pagi ini aku yang akan pergi ke ladang. Hitung-hitung rasa terima kasih karena semalam ia telah memberiku dua rebus telur dan sepiring nasi."
Beberapa menit kemudian, Kabayan bersiap-siap hendak ke hutan mencari kayu bakar. Sebelum turun ia sempat membangunkan istrinya. "Iteung … Iteung!" katanya.
Nyi Iteung membuka matanya. Ia terkejut melihat suaminya sudah siap lengkap dengan peralatan untuk menebang pohon. "Kang? lni teh Kang Kabayan? Hendak ke mana, Kang?" tanyanya keheranan.
"Jangan banyak tanya, Iteung! Akang akan ke hutan mencari kayu bakar!"
"Tidak salah, Kang? Ini teh Kang Kabayan atau embah Kabayan?" Iteung bertanya lagi masih belum percaya dengan pendengarannya.
"Aduh, Iteung, iya Akang! Masa embah, ngomongnya yang bener ... heh ... heh!”
"Ada angin dari mana, Kang? Pagi-pagi sudah bangun, hendak ke hutan lagi. Biasanya kan masih bikin pulau di atas bantal?"
"Sudahlah, Iteung. Di mata kamu tidak ada yang benar. Tidur salah, bekerja salah!" kata Kabayan sambil meninggalkan Nyi Iteung yang melongo melihat kepergian suaminya.
Tiba-tiba Nyi Iteung berteriak memanggil suaminya, "Kang! Tunggu!"
Kabayan terus saja memunggungi istrinya, tetapi suaranya masih terdengar jelas oleh Nyi Iteung, "Tinggallah di rumah, Iteung! Biarlah kali ini Akang yang pergi."
Saat turun dari rumah masih gelap, tetapi di timur sudah agak terang, fajar telah menyingsing. Kabayan merasa segar dan riang berada di tengah-tengah ladang yang dilaluinya menuju ke hutan. Bau bunga dan daun-daun kuat dan tajam menusuk hidungnya. Dari atas pohon didengarnya burung-burung berkicau, terbang dari satu dahan ke dahan lain.
Memasuki pesawahan pemandangan berubah. Dataran hijau menghampar. Pesawahan diselingi ladang dan kebun sayur-sayuran dan buah-buahan. Dari kejauhan tampak fajar menyingsing di atas gunung memantulkan cahaya berkilau. Gelembung embun di atas daun yang tertimpa sang surya berkelip bagaikan intan.
Kabayan seperti terbangun dari mimpi menyaksikan keindahan alam yang tiada taranya. Ia baru pertama kali menikmati suasana yang berbeda dengan dunia yang selama ini dijalaninya. Ia bersiul melewati pesawahan dan pepohonan yang telah berusia puluhan tahun. Di pinggir sawah tampak beberapa rumpun bambu. Di dekat rumpun bambu itu didirikan pondok kecil bertiang tinggi. Pondok itu biasanya untuk beristirahat atau tempat mengendalikan orang-orangan untuk menghalau burung bila padi mulai menguning. Kabayan rasanya ingin naik ke pondok itu. Akan tetapi, keinginannya itu dibuang jauh-jauh karena takut tertidur di tempat itu.
Kira-kira waktu zuhur Kabayan sudah berada di hutan. Badannya terasa lelah, napasnya tersengal-sengal. Kakinya pun terasa pegal-pegal. Akhirnya, Kabayan beristirahat di bawah pohon yang rindang. "Mudah-mudahan setelah istirahat tenagaku pulih kembali," katanya. Benar saja, setelah beristirahat Kabayan merasa segar dan kuat. Dengan penuh semangat ia mulai bekerja.
***
Sementara itu, sepeninggal Kabayan, Nyi Iteung menanakkan nasi untuk anak dan suaminya. Agak siang, sepulang dari sumur Nyi Iteung bertemu dengan dua orang laki-laki di pekarangan gubuknya.
“Punten, Embi," kata salah seorang.
"Mangga! Silakan masuk! Embi ke dalam dulu nyimpan ember," kata Nyi Iteung. Ia keluar lagi menghampiri tamu sambil menghamparkan tikar yang bau apak. Tikar itu yang biasa dipakai sehari-hari, tidak ada yang lain lagi.
Tamu naik ke rumah, duduk di atas tikar dan bersila, sedangkan yang seorang lagi bersandar pada tiang penyangga gubuk. Nyi Iteung duduk di atas tikar berhadapan dengan kedua tamunya. Ia bertanya pada tamunya.
"Bapak-Bapak ini tamu dari mana? Tidak biasanya datang ke sini."
"Kami datang dari kota. Jauh-jauh datang ke sini tentu ada tujuannya. Pergi ke mana-mana pasti ada yang dicari. Kami diutus majikan."
"Apa yang dicari, Pak?"
"Begini, Embi," kata tamu yang sedang bersandar. "Supaya cepat mengerti, kami akan menerangkan."
"Langsung saja katakan bahwa kita sedang mencari dukun sakti," kata temannya.
"Nah, begitu maksudnya, Embi. Kami jauh-jauh kemari sedang mencari seorang dukun yang sakti."
"Dukun sakti yang bagaimana yang dicari teh?" tanya Nyi Iteung.
"Ya, dukun sakti. Dukun yang dapat mengobati segala macam penyakit. Begini ceritanya. Majikan kami punya anak satu-satunya, anak semata wayang, seorang perempuan cantik tiada taranya."
"Jangan bercerita di sini. Pendekkan saja ceritanya," kata temannya menimpali.
"Pendekkan bagaimana? Nanti Embi tidak mengerti. Jadi harus diceritakan semuanya," kata yang satunya.
"Ya, tetapi nanti bosan mendengarnya. Begini, Embi, anak majikan kami itu mendadak bisu. Maklum ayahnya orang kaya. Ia sudah menghambur-hamburkan uang untuk mengobati anaknya, tetapi sampai sekarang belum berhasil."
"Oh, begitu?" kata Nyi Iteung.
"Ya, Embi. Kami berharap Embi dapat menunjukkan dukun sakti yang dapat mengobati anak majikan kami."
Istri si Kabayan tersenyum girang katanya dalam hati, "Heh, Kabayan, rasakan akibatnya bagi orang yang suka memperdaya orang."
Dengan tenang Nyi Iteung berkata pada tamunya, "Duh, aduh, coba berkata dari tadi. Kebenaran sekali Bapak-Bapak datang kemari. Ya, di sini kampungnya dukun sakti yang Bapak cari. Dukun yang sangat mujarab, tiada duanya."
"Tuh ... tuh ... tuh, bagaimana Embi kemujarabannya? Supaya kami tahu dan tidak ragu membawanya."
Nyi Iteung melanjutkan kata-katanya, "Alah, tidak ada cacatnya. Enam bulan lalu ada perempuan sakit parah. Diobati ke sana kemari malah semakin parah penyakitnya. Sampai akhirnya si sakit nyaris meninggal. Ketika sedang sekarat, ada kabar di sini ada dukun sakti. Sang dukun cepat dibawa, tetapi bukan rezekinya. Begitu dukun datang, perempuan itu sudah meninggal. Ketika mayat akan ditutupi kain, "Nanti, nanti dulu! Buka lagi kainnya!" kata dukun itu. Dukun itu komat-kamit di depan jenazah, bibir mayat itu ditetesi air. Lalu ia membaca jampi-jampi. Semua yang menyaksikan kaget. Pelan-pelan mayat itu membuka matanya, bola matanya ke kiri dan ke kanan. Lalu menggeliat dan bangkit. Saat itu juga yang baru bangun minta makan. Sampai sekarang sehat walafiat."
Kedua tamu Nyi Iteung geleng-geleng kepala, "Aduh, benar-benar dukun sakti."
Nyi Iteung meneruskan ceritanya. "Ada lagi yang aneh, belum lama kejadiannya, baru tiga minggu yang lalu."
Tamu Nyi Iteung penasaran, "Bagaimana, Embi, ceritanya?"
"Ada anak laki-laki jatuh dari pohon nangka, tinggi, kena batu. Geprok … kepalanya pecah. Otak dan darahnya berhamburan … ih … remuk, tulang-tulangnya juga patah."
"Pasti anak itu mati," kata tamu.
"Orang tuanya bertangisan. Kebetulan ada sukarelawan tanpa disuruh menyusul si dukun ke sini. Dukun sakti segera datang. Anak itu ditutupi seluruh badannya dengan ranting dan daun-daunan. Terus dijampi-jampi sambil diputari berkali-kali. Tidak lupa dukun itu menciprat-cipratkan air yang sudah dijampi-jampi. Tidak lama kemudian anak itu bangkit, bergerak-gerak lalu lari, tidak peduli pada orang-orang yang menonton di situ."
"Tidak salah lagi dukun itu yang kita cari," kata salah seorang.
"Untung kita ke sini. Benar dukun seperti itulah yang dicari-cari selama ini," temannya menimpali.
Sebagai rasa terima kasih kedua tamu itu memberi uang pada Nyi Iteung, "Nih, Embi, sekadar tanda terima kasih karena kami merasa gembira. Majikan kami juga pasti senang."
"Ya, betul kalau memang begitu," temannya menimpali.
"Buktikan saja kalau tidak percaya, pasti memuaskan," kata Nyi Iteung meyakinkan.
"Kami sangat berterima kasih, Embi. Embi telah menunjukkan jalan keluar. Perasaan menjadi lega. Tadi pagi kami merasa bingung, sekarang ingin cepat pulang untuk mengabarkan berita ini ke majikan kami. Terimalah uang ini, Embi."
"Apa ini? Memberi uang segala?" Nyi Iteung malu-malu.
"Sebagai rasa syukur, terimalah!"
Nyi Iteung mengambil uang lalu menyelipkannya ke dalam dadanya. Tidak lama terdengar lagi suara tamunya, "Di mana, Embi, rumah dukun teh?”
"Dukun itu sekarang tidak tinggal di rumah. Ia menyepi di hutan. Biasanya dapat ditemui di tempat peristirahatan tempat orang-orang mengambil kayu bakar. Pergilah ke sana sekarang. Ia pasti ada, tetapi jangan gegabah," kata Nyi Iteung.
"Jangan gegabah? Mengapa, Embi? Apa maksudnya?" tamunya heran.
"Orangnya aneh, adatnya tidak sama dengan kita, pelupa, umurnya sudah ratusan tahun, tetapi tidak renta, awet jaya, dijulukinya embah. Namun, sebutan itu ditolaknya, cukup dipanggil Kabayan, padahal nama sebenarnya itu Pakepoh. Nah, kalau nama sebenarnya disebut ia suka marah-marah, merasa diketahui sedang menyamar," Nyi Iteung menjelaskan.
"Pantas sakti, orangnya juga aneh," kata tamunya.
"Makanya sebelum menyebut Pakepoh, diajak bercerita dulu dengan sopan. Lalu panggil embah, kalau menolak jangan ragu tampar saja pipi kiri dan kanannya. Tidak apa-apa, memang begitu keinginannya. Kalau tetap menolak, sebut saja Pakepoh pasti ia marah. Jangan dituruti, paksa saja. Seandainya ia menanyakan, dari mana tahu namanya, jawab saja dari sumur sebelah sana dari hulu lisung yang paling ujung.”
"Embi, bagaimana ciri-cirinya dukun itu? Kami kan belum mengenalnya, nanti tertukar dengan orang lain," si tamu bertanya lagi.
"Pokoknya dia sedang mencari kayu bakar. Perawakannya agak bungkuk karena suka jongkok mendekap lutut. Wajahnya agak pucat. Matanya celong, tetapi beringas seperti mata alap-alap. Kumis agak jarang, tumbuh tajam menutupi bibir. Kepalanya ditutup dengan kain, rambutnya gondrong. Dan kakinya agak bengkok," Nyi Iteung menerangkan ciri-ciri Kabayan.
"Nah, sekarang pasti tidak keliru, tetapi jalan menuju ke sana bagaimana, Embi?"
"Dari sini terus saja ke sana, tuh ke arah jalan yang ada kebun singkong, belok ke kanan. Habis kebun singkong lalu lewat pesawahan terus saja mengikuti jalan setapak. Sesudah pesawahan jalan agak naik, di kanan kiri banyak pohon-pohon yang besar. Jalan itu akan menuju ke hutan, tempat dukun itu tinggal. Bapak-bapak tidak akan nyasar karena dari situ tidak ada jalan lain."
Kedua tamu Nyi Iteung merasa puas dengan keterangan itu. Karena hari sudah siang dan tidak ada lagi yang perlu ditanyakan, mereka mohon diri.
Nyi Iteung berdiri di pintu sampai kedua tamunya menghilang di balik pohon-pohon singkong. Ia baru meninggalkan pintu ketika anaknya memanggil-manggil. Dengan perasaan puas dan gembira karena mendapat uang, ia bergumam, "Rasakan Kang Kabayan pembalasanku! Selama ini Akang yang suka mengecoh aku. Sekarang giliranku!"
***
Kabayan asyik bekerja. Ranting pohon yang kecil-kecil dikumpulkan. Kayu bakar yang agak besar dipisahkan, ditumpuk siap untuk diikat. "Sudah cukup ini juga," kata Kabayan bicara sendiri. "Lebih dari ini tentu tidak terbawa," katanya lagi dan pergi ke arah bawah. Goloknya menebas bambu untuk mengikat kayu bakar yang sudah ditumpuk. Bambu pun roboh dan langsung dipotong-potong dan dibelah. Bambu yang sebelah lagi dibelah tipis-tipis untuk tali. Sebelah lagi dibiarkan tergeletak.
"Biarlah yang sebelah untuk orang lain, biar tidak susah lagi menebang," katanya. Ia menuju pondok sambil membawa tali. Kabayan mengikat kayu bakar itu dengan tali. Sementara itu, dari arah belakang datang utusan menghampiri Kabayan. Kabayan belum mengetahui kedatangan orang-orang itu karena memunggungi.
Salah seorang berkata, "Tuh! Tidak salah lagi, itu embah teh."
Kata temannya, "Pasti tidak salah."
Setelah dekat pada Kabayan, kedua orang itu mendeham. Kabayan menoleh ke belakang dan berkata, "Selamat datang, Ki Sanak, hendak ke mana?”
Salah seorang berbisik pada temannya, "Eh, dia sudah tahu kedatangan kita."
Yang diajak berbisik menganggukkan kepala, dan berkata pada Kabayan, "Sengaja datang kemari, Embah."
Kabayan keheranan, katanya, "Tidak ada embah ke sini dari tadi juga."
Mereka berdua saling pandang memberi isyarat mengerti dan diam-diam membenarkan cerita Nyi Iteung. Salah seorang yang bernama Salnasik, yang fasih berbicara, langsung menukas, "Bukankah yang berbicara itu Embah?"
Kabayan menjawab, "Bukan, saya Kabayan."
Salnasik berbisik pada temannya, "Benar, orang inilah yang kita cari."
"Cocok dengan gambaran yang diberikan perempuan itu," temannya menimpali. Salnasik meneruskan perkataannya pada Kabayan, "Embah, janganlah gusar, mohon dengarkan kami dulu. Kami punya maksud datang ke sini, memohon pada Embah."
Kabayan berkata dalam hatinya, "Aduh! Aku berdosa. Kemarin ngaku-ngaku embah pada Iteung sekarang ada dua orang gila, benar-benar menyebut aku embah."
Ia berkata pada orang itu, "Oh, Ujang jangan salah. Saya Kabayan, bapak si Itoh, orang sana, kampung itu tuh," sambil menunjuk ke satu arah.
Salnasik agak curiga berkata pada temannya, "Bukan ini orangnya."
"Alah, alasan saja. Jangan didengar. Teruskan saja," kata temannya.
Salnasik meneruskan maksudnya pada Kabayan, "Benar, Embah, kami tidak akan salah."
"Ha-ha-ha. Ada orang tidak dapat dibawa pada yang benar. Aku bukan Embah! Harus bagaimana menjelaskannya biar Ujang mengerti? Sekali lagi aku Kabayan!"
Salnasik mengedipkan mata pada temannya supaya mengambil golok Kabayan. Kabayan gemetar melihat orang yang tidak dikenalnya saling mengedip, takut mencelakai dirinya. Kabayan berkata dalam hatinya, "Aduh, golokku diambilnya. Bagaimana kalau menggorok leherku? Ehm, celaka. Tetapi, orang gila kan biasanya dapat dibujuk."
Ia lalu berkata pada orang itu dengan suaranya yang lembut, "Ujang! Berikan golok itu."
"Ya, nanti dikembalikan. Kami tidak butuh golok ini. Kami hanya butuh ilmu Embah," kata orang yang memegang golok.
Kabayan berusaha menenangkan diri, "Butuh ilmu yang bagaimana, Ujang?"
"Nah, begitu. Terima kasih Embah sudah menanyakan maksud kami."
"Bagaimana?" tanya Kabayan.
"Ya, kalau Embah murah hati mau mendengarkan kami, mau iba pada orang yang sedang susah, kami tidak akan mencederai Embah," kata Salnasik sambil duduk bersila di atas tanah. Dengan sopan ia menyembah pada Kabayan.
"Rasanya saya tidak bodoh dan tidak susah menangkap pembicaraan orang, tetapi omongan Ujang benar-benar tidak bisa dimengerti," kata Kabayan mengerutkan dahi.
"Embah, pendeknya begini. Kami diutus oleh majikan menghadap Embah, mohon pertolongan untuk mengobati anaknya yang mendadak bisu."
"Ya, saya mengerti sekarang, tetapi saya tidak dapat membantu. Saya bukan dukun, tidak pernah menjampi-jampi orang. Jampi-jampi untuk membayar utang saja saya tidak tahu."
"Aduh, Embah! Apa kata majikan saya kalau saya pulang dengan tangan hampa?"
Kata Kabayan dalam hatinya, "Aduh! Benar-benar sudah gila orang ini. Orang yang tidak tahu diri. Aku lama-lama jadi kesal."
Kabayan berkata lagi dengan keras, "Ki Sanak! Diminta pertolongan soal begitu saya tidak bisa. Kalau hendak membeli kayu bakar, ambillah!"
"Tidak baik, Embah. Kita kan harus tolong-menolong. Memberi pertolongan pada orang yang sedang susah dan sedang membutuhkan.”
"Kalau tidak bisa bagaimana?"
"Kami tidak akan minta pertolongan pada Embah kalau tidak tahu bahwa Embah itu seorang dukun sakti."
"Hah! Dukun sakti?"
"Ya. Kami tahu ada seorang perempuan yang akan dikubur, dijampi Embah, bangun lagi."
"Oh …, kapan?" Kabayan bingung.
"Enam bulan yang lalu."
"Astaga! Saya tidak tahu."
"Embah barangkali lupa? Malah tiga minggu yang lalu, Embah mengobati anak kecil yang jatuh dari pohon nangka, sedangkan penyakit yang diderita anak majikan hanya bisu."
"Aeh … Aeh …," Kabayan pusing mendengar ocehan orang yang belum dikenalnya itu.
"Karena itu, sekarang Embah harus ikut dengan kami ke kota!"
"Ah, tidak bisa! Berikan golok itu! Lihat matahari hampir terbenam, kayu bakar belum diikat. Saya kira kalian orang yang waras. Pergi! Mengganggu saja."
Salnasik kembali memberi isyarat pada temannya sambil berbisik, "Sekarang sekehendak kita saja. Kita sudah melakukan dengan cara sopan dan lemah lembut, tetapi Embah tetap melawan. Lagi pula kita sekadar melaksanakan perintah. Apabila di kemudian hari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kita serahkan saja pada majikan kita."
Teman Salnasik mengerti dan menimpali, "Paksa saja?"
Salnasik hanya mengangguk tanda setuju. Pembicaraan mereka samar-samar terdengar oleh Kabayan, "Hah ... apa? Hendak memaksa?"
Baru saja Kabayan selesai bicara, tiba-tiba salah seorang di antara mereka menarik Kabayan dan menampar pipi kirinya. Kabayan oleng tidak dapat menahan keseimbangan badan. "Aduh!" jeritnya. "Tidak ada hujan tidak ada angin, ada apa ini?"
Plak, plak, pipi yang sebelah lagi ditampar dengan keras. Kabayan roboh, menggeletak di atas tanah sambil menjerit, "Aduh, aduh! Ampun! Sabar! Sabar dulu! Penglihatanku jadi berkunang-kunang! Ujang! Mengapa menampar orang yang tidak berdosa?"
"Kami berharap Embah tidak marah," kata Salnasik.
Kabayan menjawab dengan perasaan kesal. Tangannya memegang kedua pipinya yang terasa panas, "Jangankan marah, kepalaku pusing! Mataku tidak dapat melihat dengan jelas."
"Bagaimana sekarang, Pakepoh? Mau ikut dengan kami?”
Kabayan sangat benci dipanggil namanya. Istrinya saja nyaris ditampar saat memanggil Pakepoh. Tiba-tiba timbul amarahnya, seketika ingatannya melayang pada istrinya. "Aduh, tidak salah lagi pasti si Iteung yang punya ulah. Tidak ada yang tahu namaku kecuali dia."
Kabayan membentak kedua orang itu, "Hah, kurang ajar! Jangan mentang-mentang! Sudah menampar tambah lagi dengan menyebut namaku! Siapa yang nyuruh?"
"Tidak salah lagi, kawan! Sesuai dengan gambaran yang diberikan," kata Salnasik pada temannya.
"Embah, janganlah marah," kata yang seorang.
"Ya, Pakepoh. Kami mohon maaf," kata Salnasik.
"Sudah, sudah! Jangan membual saja! Aku tidak sudi dipanggil Pakepoh! Dari mana tahu namaku?"
"Dari dekat lesung yang di hulu, Embah," Salnasik menjawab.
Kabayan berkata dalam hatinya, "Yakin, pasti ini ulah si Iteung. Awas, Iteung! Rasakan nanti pembalasanku! Tetapi aku ingin tahu bagaimana kelanjutannya?"
"Mumpung masih siang, Embah. Kita berangkat sekarang ke kota! Jangan menolak lagi. Kami ingin segera menyenangkan hati majikan," ajak Salnasik.
"Ya, ingin buru-buru menerima imbalan? Orang lain pusing dibiarkan saja?”
"Bukan begitu, Embah! Sekarang terserah, Embah!"
"Kalau kalian tetap memaksa, apa boleh buat. Tetapi aku tidak ingin jalan, pusing. Aku ingin digendong saja!" kata Kabayan.
"Aduh! berat, Embah, kalau harus digendong," kata yang seorang.
"Ya sudah kalau tidak mau menggendong! Saya akan pulang."
"Sudahlah!" kata Salnasik pada temannya sambil meneruskan bicaranya pada Kabayan. "Maafkanlah teman saya, Embah! Maklum, teman saya kurang berpikir panjang. Sekarang terserah, Embah."
"Nah, begitu. Harus patuh pada Embah."
Teman Salnasik berjongkok, dan Kabayan naik ke punggungnya.
"Bagaimana dengan kayu bakar yang sudah susah payah aku kumpulkan?" tanya Kabayan.
Salnasik menjawab dengan cepat untuk menenteramkan hati Kabayan, "Biarlah kayu bakar tinggal di sini, dibawa juga berat. Kami mengganti kayu bakar itu dengan uang."
Salnasik mengeluarkan uang lalu memberikannya pada Kabayan. Kabayan dengan cepat menerima uang itu lalu dimasukkan pada saku celananya.
Salnasik dengan temannya yang menggendong Kabayan keluar dari hutan itu. Setelah melewati pesawahan Kabayan minta berhenti, "Ujang, berhenti sebentar!"
"Ada apa, Embah?"
"Aku ingin kepalaku ditutupi! Takut bertemu dengan orang lain. Kalau ada orang yang bertanya, jawab saja tidak ada apa-apa. Dan, jangan lupa, jangan memberitahukan pada siapa pun siapa sebenarnya aku ini."
"Baiklah, Embah! Kami menuruti kehendak Embah!"
Perjalanan diteruskan. Salnasik berjalan di belakang, mengikuti temannya yang menggendong Kabayan. Ketika melewati perkampungan, iring-iringan orang itu ketahuan oleh Nyi Iteung yang sejak tadi sengaja menunggu, "Euleuh … euleuh, itu si kurang asem teh minta digendong, tetapi biarlah!"
Nyi Iteung setengah berlari menyusul orang yang sedang berjalan. Ia berusaha tidak bersuara takut terdengar oleh Kabayan. Setelah dekat ia berbisik pada Salnasik, "Mengapa digendong Embah teh?"
"Tidak apa-apa, itu hanya keinginannya," jawab Salnasik.
"Sempat ditampar?" Nyi Iteung bertanya lagi ingin tahu.
"Ya! Setelah ditampar ia mau ikut dengan kami."
Nyi Iteung berbalik sambil tersenyum. Ia merasa puas karena sudah ada yang membalaskan perbuatan Kabayan yang suka memperdaya orang.
![]() |
| "Aku ingin kepalaku ditutupi. Aku takut bertemu dengan orang lain." |
•••
EMPAT
KABAYAN JADI DUKUN
Ki Saudagar duduk melamun pada kursi malas. Kakinya dilipat seperti bersila. Tangan kirinya dijadikan bantal untuk menyangga kepala. Tangan kanannya berada pada pegangan kursi sambil memegang tasbih. Raut mukanya muram menandakan ia sedang susah. Tasbih di tangannya dari tadi tidak bergerak. Ki Saudagar zikirnya tidak khusyuk, pikirannya terganggu, memikirkan anak semata wayang yang sedang sakit. Ia pun mengharapkan utusan yang tidak kunjung datang.
Nyi Hasanah juga ada di situ. Ia duduk di atas dipan sambil memegang dagu dengan tangan kanannya. Sama dengan ayahnya, Nyi Hasanah juga melamun. Matanya menatap kosong, menerawang jauh entah ke mana.
"Sayang, gadis secantik dia bisu," kata Ki Saudagar dalam hati. Ia mengeluh dalam hati dan tidak pernah terucapkan.
Suasana hening, masing-masing diam dalam kebisuan. Pada saat itu muncul pengasuh Nyi Hasanah. Ia menghampiri gadis itu. Lalu duduk di lantai yang ditutup permadani. Tubuhnya disandarkan pada tepi dipan. Terdengar bunyi ceplak-ceplak memotong jambe untuk mengisi tempat sirih. Ki Saudagar memohon pada Yang Mahakuasa, "Ya Allah, hamba mohon pertolongan. Mengapa hal seperti ini menimpa kami?"
Ki Saudagar bertanya pada pengasuh putrinya, "Sekarang hari apa ya, Embi, mengapa Salnasik pergi lama sekali? Dia pergi hari apa?"
"Kalau tidak salah Senin, Ki Haji!" jawabnya pendek.
"Oh, iya ya! Sekarang Kamis. Senin, Selasa, Rabu, Kamis. Jadi, sudah empat hari, tetapi mengapa belum datang juga? Harusnya dia pulang dulu ke sini. Jangan sampai aku menunggu terlalu lama," katanya seperti pada diri sendiri.
"Ki Haji menyuruhnya bagaimana?" tanya pengasuh.
"Ya, aku juga kurang teliti. Pokoknya dia jangan pulang dengan tangan hampa."
"Barangkali dia terus mencari ke mana-mana."
"Ke mana-mana, bagaimana, Embi?"
"Ya, ke mana saja. Sebelum bertemu dengan orang yang dimaksud, dia tidak akan pulang.”
"Mungkin juga," kata Ki Saudagar.
Suasana hening lagi, yang terdengar hanya suara mulut pengasuh yang sedang nyirih. Sebentar-sebentar ia meludahkan air sirih yang berwarna merah pada tempolong. Tiba-tiba pengasuh Nyi Hasanah berbicara lagi pada majikannya, "Menurut Embi yang bodoh ini, sudahlah jangan mencari-cari dukun. Buat apa menghambur-hamburkan uang. Percuma, Nyai juga tidak bakal sembuh."
"lh, Embi ini bagaimana? Kita kan diwajibkan berikhtiar, menghabiskan rasa penasaran."
"Embi juga bukan menghalangi, Ki Haji. Tetapi ada cara lain yang enteng dan untung."
"Hah! Peribahasa enteng untung, untung enteng! Ya kalau mau makan angin itu gampang," kata Ki Saudagar dengan nada tinggi.
"Ah, Ki Haji! Mentang-mentang pada orang bodoh, miskin lagi! Biarpun Embi pembantu, tetapi masa tidak boleh memberi saran! Ngomong belum selesai sudah dipotong."
Ki Saudagar agak kesal pada ucapan pengasuh anaknya. Namun, ia tidak bisa marah. Meskipun Sujimah itu pembantu, mereka sudah menganggapnya keluarga. Apalagi Nyi Hasanah menganggap Sujimah itu ibunya. Sujimahlah tempat mengadu setelah Nyi Hasanah ditinggalkan ibunya. Akhirnya, Ki Saudagar bertanya pada Sujimah, "Coba Embi terangkan, bagaimana enteng-untung itu?"
"Ah, percuma diterangkan juga."
"Kalau ditanya sebenarnya, malah bikin penasaran!"
Sujimah akhirnya berkata juga, "Entengnya hanya dengan kata-kata, tidak susah. Kalau Ki Haji keberatan, Embi juga mau menyampaikan. Untungnya tidak pakai ongkos. Tidak usah menyusahkan orang lain sekadar menghadapi anak sendiri. Ki Haji juga tahu, Nyai jadi bisu setelah dijodohkan dengan Haji Latif. Putuskan saja perjodohan itu, beres kan?"
"Iya, putuskan dengan si itu, kawinkan dengan si ini, tukang luntang-lantung! Betapa enaknya! Untuk apa? Hanya mengikuti kata hati? Sayang, punya anak semata wayang diberikan pada orang seperti itu! Mana hartanya? Apa harkatnya? Penghasilan sedikit cukup apa? Apa Embi tidak kasihan pada Nyai? Hidupnya nanti dibawa sengsara! Lain kali Embi kalau berbicara harus dipikir dulu!"
Sujimah tidak menjawab lagi. Ia berdiri akan pergi, tetapi tidak jadi. Nyi Hasanah memberi isyarat pada pengasuhnya supaya tidak meninggalkannya. Nyi Hasanah hatinya panas melihat orang yang disayanginya dibentak oleh ayahnya. Kata-kata terasa mendesak tenggorokannya, tetapi tidak terucapkan.
Ki Saudagar kesal dan pusing tanpa sebab melihat putrinya lebih menyayangi pembantu daripada ayahnya. Ia keluar kamar sambil menarik-narik baju takwanya. Ia menuju taman belakang. Si manis, beo kesayangannya, tak henti-hentinya berbicara seperti menyambut kedatangan majikan, "Kulhu-kulhu!"
"Ada apa, manis?" tanya Ki Saudagar.
"Kulhu, Kulhu."
Ketika Ki Saudagar sedang asyik dengan burung beonya tanpa diduga muncul Salnasik. Ki Saudagar berubah air mukanya. "Bagaimana hasilnya?"
"Hasil, Gan, hasil!" Salnasik gembira. "Mujur hamba membawa seorang dukun."
"Hah? Mana?"
"Itu masih di jalan. Hamba datang lebih dulu untuk memberi tahu supaya Juragan tidak kaget. Dukun yang satu ini agak aneh, adatnya tidak sama dengan orang lain. Banyak kelainannya, tetapi sakti mandraguna. Nanti juga Juragan mengetahuinya."
"Jangan-jangan orang sinting?" kata Ki Saudagar tidak percaya.
"Aduh, Gan! Jangan sembarangan. Ini dukun keramat, nanti Juragan kena tulahnya," Salnasik meyakinkan majikannya.
"Syukurlah! Sekarang istirahatlah dulu!"
Salnasik pergi ke sumur, mencuci muka, tangan, dan kaki. Dari situ ia ke dapur makan seperlunya, lalu menghampiri majikannya. Salnasik menceritakan semua peristiwa yang dialaminya. Yang kurang pantas, dipantas-pantaskan supaya majikannya yakin. Waktu Salnasik menceritakan kesaktian dukun, Ki Saudagar manggut-manggut, tasbih jatuh kena lantai tidak terasa karena asyiknya mendengar cerita Salnasik.
"Tasbih jatuh, Gan," kata Salnasik.
"Biar saja! Terus bagaimana ceritanya?" Ki Saudagar ingin tahu kelanjutannya.
Sementara itu, Salnasik mengeluarkan bakau dari sakunya. Buru-buru Ki Saudagar mengeluarkan cerutu. "Kebetulan, ada cerutu satu lagi," katanya sambil memberikan cerutu pada Salnasik.
Salnasik tidak melewatkan kesempatan itu. Meskipun ia mandor kepercayaan, jarang-jarang majikannya memberi cerutu. Cerutu dinyalakan. Serebung asapnya mengepul. Salnasik batuk-batuk tidak biasa mengisap cerutu. "Ih, cerutu apa ini rasanya keras banget," celetuknya.
Tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk di luar. Ki Saudagar penasaran, "Salnasik, lihat ke luar! Sudah datangkah dukun itu?"
Salnasik segera ke luar, dan kemudian langsung lapor, "Benar, Gan! Salwasim dan dukun itu sudah sampai.”
Ki Saudagar menuju ruang tengah diiringkan oleh Salnasik. Ki Saudagar menyambut kedatangan Salwasim, "Terus ke dalam, Sim!"
"Baiklah, Gan, tetapi hamba ingin ke sumur dulu," Salwasim menjawab.
Sementara itu, embah dukun berdiri saja di depan pintu. Ki Saudagar buru-buru menyambut embah dukun, terus menyalaminya, "Mangga, Embah masuk saja!"
"Ayo duluan! Aku tidak tahu harus ke mana," jawab embah dukun.
"Silakan, Embah masuk lebih dulu," kata Ki Saudagar.
"Mengapa kemari kalau aku harus di depan?" Embah dukun berkata sambil melangkahkan kakinya ke dalam, lalu duduk di atas lantai.
"Tidak baik duduk di lantai, Embah. Duduknya di sana," kata Ki Saudagar sembari menunjuk permadani yang telah terhampar.
"Aduh! Susah jadi embah," kata embah dukun.
Semua yang mendengar tersenyum. Ki Saudagar heran melihat dukun dengan penampilan yang kumal, senyumnya menyeringai, dan jalannya penuh keragu-raguan, sambil matanya melongok-longok ke segala arah.
"Di mana duduknya? Di sana tidak boleh, di sini salah! Seperti di gedung larangan saja," kata embah dukun lagi.
"Itu di sana!" Ki Saudagar menunjuk pada satu tempat.
Embah dukun pindah duduknya. Ia duduk di atas permadani. Tidak henti-hentinya ia melirikkan matanya ke kiri dan ke kanan, ke atas lalu ke bawah. Ia terpesona oleh perabotan rumah yang serba gemerlap. Kaca setinggi badan menempel pada dinding tembok dengan kuatnya. Embah dukun melihat bayangan dirinya dalam cermin. Timbul berbagai rasa dalam dirinya.
Salnasik dan Salwasim juga ikut duduk menghadap embah dukun. Mereka duduknya di atas lantai agak jauh dari embah dukun dan Ki Saudagar. Suguhan berbagai penganan disodorkan ke hadapan embah dukun. Salnasik dan Salwasim juga mendapat bagian. Suguhan untuk Salnasik dan Salwasim ditaruh pada baki kuningan, sedangkan untuk embah dukun ditaruh pada baki perak.
"Silakan, Embah minum dan ngopi seadanya," kata Ki Saudagar menyilakan.
"Ambu … ambu! Ini semua untuk embah?" kata dukun.
"Ya, untuk Embah. Semua yang dihidangkan untuk dimakan," kata Ki Saudagar sambil menoleh pada Salnasik dan Salwasim, "Ayo! Jangan dibiarkan saja."
"Ya, Gan," kata keduanya.
"Jauh-jauh datang kemari hanya disuruh makan ini? Ini manis, itu asin, yang ini juga manis! Rasanya mual! Apa tidak ada yang lain?" kata embah dukun sambil memegang perutnya.
"Kalau begitu, kita makan saja, embah! Bagaimana?"
"Mudah-mudahan nikmat karena sudah waktunya," embah dukun mengiakan.
Makanan cepat disediakan. Tanpa disuruh kedua kalinya, embah dukun makan dengan lahapnya. Selesai makan embah dukun jadi susah duduknya karena perutnya terasa penuh. Duduknya bergeser ke dinding tembok. Angin berembus dari taman belakang. Embah dukun seperti dikipas-kipas. Tanpa disadari matanya sudah terpejam. Tidak lama kemudian ia mendengkur.
Tidak seorang pun yang berani membangunkan embah dukun. Magrib sudah lewat, embah dukun belum juga bangun. Bangun-bangun setelah isya. "Astagfirullah," katanya, "sudah malam!" Di hadapannya masih duduk Ki Saudagar menunggu sejak tadi. Embah dukun berkata pada yang empunya rumah, "Malam ini aku menginap di sini!"
"Terima kasih, Embah mau tidur di sini. Dengan demikian, Embah banyak waktu mengobati Nyai. Saya mohon pertolongan Embah."
"Hah, pertolongan apa?" embah dukun kaget.
"Ya pertolongan Embah. Jauh-jauh Embah dibawa kemari hanya satu tujuannya, mengobati Nyai. Saya minta kemurahan hati Embah. Anak gadis saya sakit, mendadak bisu waktu akan dinikahkan. Calon mantu mengulur waktu, menunggu sampai anak saya sembuh. Saya menyerahkan semuanya pada Embah," kata Ki Saudagar.
"Laki-laki tidak tahu diri," kata embah dukun.
"Mengapa begitu, Embah?" Ki Saudagar heran.
"Orang lain mengidamkan seorang istri bisu. Calon Nyai mengapa bodoh? Punya istri bisu itu rumah menjadi tenang. Tidak ada yang cerewet," katanya teringat rumahnya yang ingar-bingar gara-gara istrinya cerewet.
Ketika Ki Saudagar sedang berbincang-bincang dengan embah dukun, berdatangan sanak famili. Mereka mendengar ada dukun aneh dan sakti yang akan mengobati Nyi Hasanah. Semua duduk mengelilingi embah dukun.
"Tidak banyak yang diminta, embah! Saya hanya ingin Nyi Hasanah seperti biasa lagi," kata Ki Saudagar.
Embah dukun gelisah dikelilingi orang sebanyak itu. "Waduh, celaka! Aku diperdaya, dibuat jadi gila. Si Iteung biang keladinya. Awas, Iteung, tunggu pembalasanku!”
Kabayan terlanjur dianggap dukun, tetapi mau bertindak sebagai dukun pun ia tidak tahu. Akhirnya, ia hanya dapat tertawa, "Hah ... hah ... hah ...," embah dukun terbahak-bahak tanpa putus sampai keluar air mata.
Yang menyaksikan melongo keheranan. Sebagian berbisik-bisik, "Jangan-jangan dia itu orang gila." Sebagian lagi mengatakan, "Dukun gila dibawa kemari!" Akan tetapi, ada pula yang mengatakan bahwa embah dukun sedang kesurupan. Orang yang memercayainya membenarkan perkataan itu, "Benar! Dia kemasukan! Biasanya bangsa keramat, bangsa para wali tingkah lakunya banyak yang tidak dimengerti oleh kita. Jangan kaget, kita tidak boleh berprasangka buruk. Terima saja bahwa kita tidak mengerti."
"Benar, benar! Memang begitu," kata orang yang duduk dekat dia.
"Ha-ha-ha, Ki Haji," kata embah dukun. "Ke sini mendekat, dengarkan kata-kata embah, ha-ha-ha …. Kasihan Ki Haji, geser kemari lebih dekat, dekat lagi. Nah, begitu!"
Ki Saudagar ketika bergeser mendekati embah dukun rasanya campur aduk, ada rasa malu, rasa takut, dan gembira. Keringat membasahi sekujur badannya, tetapi ia memberanikan diri.
Embah dukun berbicara. Suaranya berbeda dengan yang tadi. Orang semakin percaya embah dukun sedang kemasukan. Semua diam, semua bisu mendengarkan perkataan embah, "Ki Haji terima dulu, sudah nikah? Jawab yang benar!"
"Ya, saya terima!"
"Terima sudah dapat anak perempuan?"
"Ya, saya terima!"
"Menyaksikan dulu lahirnya anak itu?"
"Aduh, luput, embah."
Tanpa diduga, keletrok, jidat Ki Saudagar dijitak sekerasnya oleh embah dukun.
"Aduh, astagfirullah," kata Ki Saudagar meraba jidatnya, duduknya bergeser mundur.
"Diam, kalau terima salah," kata embah dukun, "anakmu kan sakit?"
"Ya."
"Penyakitnya bisu, bukan?"
"Ya, embah."
"Mulai terserang waktu akan dinikahkan, bukan?"
"Betul, embah."
"Sudah diobati ke mana-mana. Banyak dukun yang mencoba mengobati, tetapi tak kunjung sembuh, bukan?"
"Yang dikatakan embah benar semuanya."
"Tahu apa sebabnya?"
"Makanya saya bertanya, saya tidak tahu."
"Haji … haji!”
Jidat Ki Saudagar ditonjok sampai terjengkang dan kopiahnya terlempar.
"Aduh, Laillahailallah. Salnasik! Kamu kan kepercayaan kami? Mengapa orang seperti ini dibawa kemari?" Ki Saudagar menegur anak buahnya. Tampak kemarahan dan kekesalan terpancar dari mata orang tua itu.
"Ih, Gan! Hamba kan sudah menceritakan semuanya," kata Salnasik membela diri.
Ki Saudagar berdiri sambil menanyakan kopiahnya yang jatuh. Orang yang menyaksikan terkejut campur kasihan pada Ki Saudagar. Kata salah seorang, "Benar salah bapaknya. Anaknya sudah tidak mau, dipaksa terus."
Yang lain yang membela Ki Saudagar berkata, "Wah, anak itu tahu apa? Bagaimanapun orang tuanya saja!"
"Ha-ha-ha …." Terdengar lagi suara embah dukun yang tertawa terbahak-bahak. "Ki Haji! Maaf, maaf, tadi tangan embah kelepasan," bibirnya berkata demikian, tetapi hatinya berkata lain, "Aduh ... aduh, jangan-jangan besok tidak dapat jatah makan!"
Belum ada jawaban dari Ki Saudagar. Embah dukun bertambah rasa khawatirnya. Sekali lagi ia minta maaf pada Ki Saudagar, "Bagaimana Ki Haji, mau memaafkan?”
Kali ini Ki Saudagar menjawab, "Ya, Embah! Terserah, Embah! Saya memang tidak tahu penyebab bisunya anak saya."
"Nah, begitu. Terdengarnya enak, heh ... heh …. Mana orang yang sakit teh? Coba disuruh memperlihatkan diri!" perintah embah dukun.
Nyi Hasanah dan Sujimah dijemput ke kamarnya, lalu disuruh duduk di hadapan dukun. Ki Saudagar buru-buru mendekati putrinya menjaga segala kemungkinan yang bakal terjadi. Ia takut peristiwa tadi menimpa anaknya.
"Ini anak saya, Embah," kata Ki Saudagar.
Embah dukun hampir tidak percaya pada matanya bahwa gadis cantik dan montok yang berada di hadapannya adalah anak Ki Saudagar. Nyi Hasanah sama sekali tidak mirip dengan ayahnya. "Aduh ... aduh, cantik nian anakmu, Ki Haji."
"Ya, dia mirip ibunya."
Nyi Hasanah tersenyum sambil menundukkan kepala, mukanya merah. Ki Saudagar bertanya pada embah dukun, "Apakah masih ada harapan Nyai bisa sembuh, Embah? Lihat saja badannya segar, hanya saja ia bisu."
Embah dukun tersenyum seraya berkata pada Nyi Hasanah, "Nyai cobalah tengadah, Embah akan meramalkanmu. Sudah! Sekarang minggir ke sini, nah begitu! Sudah! Coba membelakangi embah. Cukup! Duduklah! Embah sudah melihat dari depan, dari belakang, dan dari samping."
Embah berbicara lagi dengan Ki Saudagar, "Cukup, Ki Haji! Untung punya anak seperti Nyai. Sekarang dipingit?"
"Tidak, Embah. Hanya tidak boleh ke luar rumah."
"Oh, tidak dipingit, tetapi dikurung, begitu? Suka disuruh jalan-jalan?"
Ki Saudagar tidak menjawab, merasa salah telah melarang anaknya ke luar kamarnya. Embah dukun kini bertanya pada Nyi Hasanah, "Ingin sembuh, Nyai?"
Nyi Hasanah diam saja. Menundukkan kepala. Tangannya tidak henti-hentinya memilin-milin ujung karpet. Embah dukun berkata lagi, "Jawab, Nyai! Ingin sembuh dan tidak jadi menikah dengan Ki Haji Latif?"
Nyi Hasanah masih tetap bisu, tetapi kepalanya mengangguk tanda setuju dengan pernyataan embah dukun. Sekilas matanya melirik pada embah dukun. Rasanya ingin tertawa melihat tampang embah dukun yang menggelikan hatinya, tetapi tetap ditahannya.
"Gampang-gampang susah, Ki Haji! Embah sudah mengerti. Dalam hatinya ia ingin berbicara, tetapi tidak terucapkan.”
"Apakah ada syaratnya, Embah? Apa yang harus disediakan?"
"Nanti dulu, Ki Haji, saya pegal-pegal," katanya sambil membaringkan badan. Kedua tangannya dipakai sebagai bantal. "Betapa enak hidup Ki Haji. Rumah gedung, kasur empuk, punya anak cantik. Senang Ki Haji!"
"Coba beri bantal!" Ki Saudagar menyuruh salah seorang mengambil bantal.
"Bagaimana, Embah? Saya harus menyediakan apa untuk syarat?" tanya Ki Saudagar.
"Mengapa harus bertanya? Yang sudah-sudah Ki Haji menyediakan apa?" Embah balik bertanya pada Ki Saudagar.
"Ya menyediakan bermacam-macam sesuai dengan permintaan dukun."
"Sekarang sediakan saja yang ada di rumah agar tidak susah mencari-cari."
Ki Saudagar memerintahkan Sujimah menyediakan bahan-bahan untuk keperluan embah dukun. Sujimah mengambil sirih dari bokor, air dalam kendi. Terus menyalakan sesajen, menyan sekepal, rampai, dan kembang dipincuk. Sesajen ditempatkan pada baki yang diberikan pada embah dukun.
"Sudah siap, Embah?' tanya Ki Saudagar.
Embah dukun baru terlelap ketika mendengar ada yang berbicara membentak, "Sudah, sudah! Berisik saja!”
Ki Saudagar terkejut. Ia mundur selangkah menjaga diri takut dijitak embah dukun. Ia mengira bentakan itu ditujukan pada dirinya. Sebenarnya embah dukun sedang bermimpi bertengkar dengan istrinya. "lni, Embah, untuk syarat sudah siap!" Ki Saudagar mengulang perkataannya.
"Waduh, tingkah Ki Haji semakin membingungkan saja," kata embah dalam hatinya. Embah dukun bertanya pada Ki Saudagar, "Untuk apa pembakaran?"
"Barangkali Embah memerlukan."
"Tidak! Panas ah! Rampe dan sirih berikan pada embah. Kendi tidak perlu. Untuk apa kendi dari tanah, lebih baik dari bambu, bekasnya dapat digunakan untuk kayu bakar. Ya sudah, sekarang bakar kemenyan!"
"Mana obat untuk Nyai?" Ki Saudagar mengerutkan dahi.
"Tuh air dari kendi diminumkan! Menyan dibakar!"
"Bagaimana membakarnya, Embah?"
"Jangan susah-susah, Ki Haji. Taruh saja di atas api. Apinya jangan sampai padam."
"Apakah asapnya harus diisap oleh Nyai?"
"Silakan kalau Nyai mau. Sekarang embah pamit tidak jadi bermalam di sini. Penyakit Nyai Hasanah gampang-gampang susah. Gampangnya tidak susah, susahnya tidak gampang. Untuk mengobati penyakit Nyai, Embah harus bertafakur di rumah. Besok lusa Embah kembali. Selama Embah tidak ada, ingatlah pesan Embah. Nyai jangan dicela, dihalang-halangi, apalagi dinasihati. Sayangilah! Sambil merem, wajah Nyai juga bakal terbayang."
![]() |
| "Apakah asapnya harus diisap oleh Nyai?" Ki Saudagar bertanya. |
Ki Saudagar berusaha mencegah kepergian embah dukun, "Sekarang sudah malam, besok saja pagi-pagi, Embah!"
"Kalau percaya pada Embah, ya harus percaya semua perkataan Embah! Biarkan saja Embah pulang!"
"Baiklah, Embah! Untuk malam ini tidak meninggalkan apa-apa?"
"Kalau mau bertanya seharusnya Ki Haji bertanya, Embah diberi bekal apa? Tetapi, Embah mengobati tidak mencari bayaran."
Ki Saudagar paham maksud embah dukun. Ia memberikan uang pada embah dukun. Embah dukun turun dari rumah Ki Saudagar membawa buntalan berisi bahan untuk nyirih, rampe, dan uang. Kebetulan waktu itu terang bulan. Embah dukun berjalan dalam cahaya bulan disaksikan Ki Saudagar sampai hilang ditelan gelap malam.
Setelah agak jauh dari rumah Ki Saudagar, ada yang memanggil-manggil Kabayan. Setelah ditengok ada bayangan hitam minta ditunggu. Kabayan berlari sekencang-kencangnya. Kain dibuka. Topi terlepas menggantung di atas punggungnya. Talinya mencekik leher.
"Lepaskan!" kata Kabayan sambil menoleh. Ia mengira tertangkap.
Yang mengejar tidak kalah cepatnya dengan Kabayan. Ia lebih muda daripada Kabayan. Dalam waktu sekejap Kabayan sudah tersusul. Ketika sudah agak dekat, orang itu berteriak, "Pak Dukun, tunggu!"
"Tidak," kata Kabayan.
"Ada perlu sedikit!"
"Apalagi ada perlu, tidak mau!”
"Ada yang menguntungkan!"
"Untuk siapa?"
"Ya, untuk Pak Dukun!"
"Betul?"
"Masa bohong! Buat apa Bapak saya kejar!"
"Ikuti saja!" kata Kabayan sambil jalan kaki, sudah tidak kuat lagi berlari, napasnya tersengal-sengal.
"Bercerita sambil jalan, Pak Dukun?"
"Sambil lari itu capek!"
"Jauh-jauh menyusul Pak Dukun, saya mohon pertolongan karena Bapak termasyhur sebagai dukun sakti."
"Minta diobati?"
"Ya, saya sakit!”
"Aku tidak membawa obat-obatan. Lagi pula tampaknya punya penyakit mahal?"
"Benar sekali, Pak Dukun, penyakit mahal."
"Supaya jelas hitam putihnya besok siang saja!"
"Tadinya saya mengharapkan Bapak singgah ke rumah!"
"Besok saja!"
"Ya, kalau demikian besok saya ke sana."
Sesudah berkata demikian orang itu berbalik arah dengan Kabayan. Malam semakin larut. Kabayan meneruskan perjalanan. Dalam pelupuk matanya wajah Nyi Iteung terbayang-bayang. "Tunggu, Iteung! Aku datang!"
Niat Kabayan melampiaskan kemarahan pada istrinya tertahan. Sesampainya di rumah, Nyi Iteung sudah terlelap di alam mimpi. Anaknya terbaring di sebelah ibunya. Dalam tidurnya wajah Nyi Iteung tampak tanpa dosa. Kabayan tidak sampai hati memarahi orang yang sedang tidur. Lagi pula Kabayan merasa lelah setelah seharian berperan sebagai dukun. Malam itu dukun sakti sangat mengantuk. Ia membiarkan matanya terus terpejam.
Menjelang matahari terbit, Kabayan dibangunkan oleh anaknya. Matanya terasa masih berat. Ia masih ingin tidur, tetapi anaknya mengatakan di luar ada tamu yang sedang menunggunya. Kabayan mendengar obrolan tamu itu dengan istrinya.
"Siapa?" tanyanya pada anaknya.
"Entahlah. Ia mengatakan pada Emak semalam telah berjanji dengan Bapak bertemu di sini," jawab anaknya.
Kabayan sama sekali tidak ingat dengan janjinya itu. Ia bangun juga mengambil handuk lalu pergi ke sumur. Tidak lama kemudian ia ke luar hendak menemui tamu yang sedang ditemani oleh Nyi Iteung. Kabayan memandang istrinya. Ia menangkap pancaran ketakutan dari mata perempuan itu. Buru-buru istrinya pergi ke dapur hendak memanaskan air untuk membuat kopi. Tamu itu seorang laki-laki. Ia sangat muda, tampan, dan gagah. Kabayan menduga laki-laki itu bukan orang kampung sini, tetapi datang dari kota. Kabayan batuk-batuk beberapa kali, sambil menyapa tamu, "Siapa ya?"
"Yang tadi malam menyusul Pak Dukun!"
"Oh iya, pagi ini Ujang kelihatannya sakit? Semalam belum terlihat."
"Benar, Pak Dukun. Saya sakit."
"Tidak enak makan?"
"Bukan hanya tidak enak makan, minum juga terasa pahit."
"Suka pusing dan berkunang-kunang?"
"Tidak, Pak Dukun!"
"Suka batuk?"
"Tidak punya penyakit batuk.”
"Masa tidak pernah batuk?"
"Sekali-sekali kalau sedang flu."
"Ya, suka batuk kalau begitu."
"Begini, Pak Dukun. Saya tidak pusing, batuk atau mengidap penyakit lainnya, hanya terganggu pikiran. Saya terpikat pada Nyi Hasanah. Begitu pula dengan gadis itu, dia tertarik pada saya. Akan tetapi, hubungan kami tidak disetujui ayah Nyi Hasanah. Sengaja saya kemari hendak minta tolong pada Pak Dukun," kata pemuda itu menerangkan.
"Oh, Nyi Hasanah si gadis bisu? Anak Ki Haji di kota?" sang dukun berusaha meyakinkan diri.
"Benar, Pak Dukun. Pak Dukun akan ke sana lagi?"
"Tentu."
"Di sana Pak Dukun pasti bertemu dengan Nyi Hasanah. Saya ingin Pak Dukun menyampaikan pesan pada gadis itu."
"Apa? Itu menghina namanya. Orang tua dijadikan mak comblang. Dukun sakti tidak bisa disuruh sembarangan," kata dukun dengan suara tinggi.
"Maafkanlah, Pak Dukun. Saya tidak bermaksud menghina Bapak. Saya hendak memohon pertolongan," kata pemuda itu sambil meletakkan dua ringgit di depan dukun.
"Itu buat apa?" Dukun matanya hijau melihat ringgit.
"Sebagai tanda terima kasih untuk Pak Dukun. Nanti ada tambahannya kalau sudah berhasil," pemuda itu menerangkan.
"Jadi, masih ada harapan tambahan?"
"Saya tidak akan ingkar janji, Pak Dukun."
"Bagaimana keinginan Ujang itu? Coba bisikkan kalau-kalau ada cecak. Ini saya simpan ya! Takut ada lalat putih," kata dukun sambil menyimpan ringgit ke dalam sakunya.
"Sebenarnya Nyi Hasanah tidak bisu.” Pemuda itu menjelaskan.
"Saya juga sudah menduganya! Ia hanya berpura-pura kan?" kata dukun.
"Pak Dukun sudah mengetahuinya?" Pemuda itu ragu-ragu. Dalam hatinya ia berpikir, "Wah, ini benar-benar dukun sakti."
"Tentu saja tahu. Nyai tidak ingin dijodohkan dengan laki-laki pilihan bapaknya. Ia punya pilihan sendiri. Karena takut dikawinkan dengan laki-laki itu ia jadi bisu," kata dukun mencoba-coba menebak karena sudah dapat membaca pikiran pemuda itu.
"Benar, Pak Dukun, benar begitu. Pilihan Nyi Hasanah itu hanya pada saya," kata si pemuda dengan gembira.
Mendengar perkataan pemuda itu dukun memejamkan mata sambil menundukkan kepala. Lalu mengangkat kepala dan membuka matanya sambil berkata, "Saya sudah ada akal untuk menyembuhkan Nyi Hasanah."
"Bagaimana, Pak Dukun?" tanya pemuda itu ingin tahu.
"Ujang harus ikut denganku ke rumah Ki Haji supaya dapat bertemu dengan Nyai," kata dukun.
"Ikut? Nanti Ki Haji mengusir saya!" kata si pemuda meragukan usul dukun.
"Ujang harus mengubah penampilan biar tidak dikenali," kata dukun.
"Nyamar, Pak Dukun?" tanya si pemuda.
"Ya, nyamar. Selanjutnya serahkan padaku."
"Baiklah! Saya akan mengikuti kata-kata Pak Dukun." Pemuda itu menyetujui usul dukun.
"Setelah senja, tunggulah aku di tempat semalam kita bertemu!" kata dukun lagi.
"Kalau begitu, saya pulang dulu, Pak Dukun!" Pemuda itu pamit.
"Ya, pulanglah!"
Setelah pemuda itu pulang Kabayan ingin bicara dengan istrinya. Kini kesempatan baik telah tiba. Ia pergi ke dapur dan berteriak memanggil istrinya, "Iteung! Iteung! Katanya membuat kopi! Mana kopinya?"
Nyi Iteung bergetar mendengar teriakan itu, "Ini, Kang, kopinya!”
Kabayan menatap istrinya. Ia menangkap kecemasan dalam wajah istrinya. Mata Kabayan yang tadi memancarkan amarah kini menjadi lembut. Tiba-tiba saja timbul perasaan iba di hati Kabayan pada istrinya.
"Kau tidak perlu cemas, Iteung. Akang tidak marah! Sekarang malah bersyukur, berkat caramu itu kita jadi punya ringgit."
Nyi Iteung kaget mendengar pernyataan Kabayan itu. Pernyataan seperti itu tidak pernah diduganya datang dari Kabayan. Ia mengerutkan kening. Nyi Iteung masih menyangsikan kata-kata itu. Akan tetapi, ia merasa Kabayan tidak berbohong. "Sudahlah, Iteung," kata Kabayan meyakinkan.
Kabayan meninggalkan istrinya yang masih tercenung. Ia membawa kopi ke ruang tengah. Tidak lama kemudian ia mengambil tikar pandan dan mengembangkannya di lantai. Ia membaringkan tubuh di atas tikar itu. Untuk sesaat matanya tidak bisa terpejam, mengenang berbagai peristiwa yang dialaminya. Peristiwa yang dianggapnya luar biasa karena ia sudah berperan sebagai dukun sakti.
Menjelang matahari terbenam, Kabayan dibangunkan oleh anaknya. Dan, sayup-sayup ia mendengar suara Nyi Iteung.
"Apa yang terjadi, Ujang?"
"Mak mencari-cari botol minyak tanah!”
"Botol minyak tanah? Ini sudah malam?"
"Ya, hampir magrib."
"Oh, Bapak harus pergi," katanya buru-buru bangkit hendak cuci muka.
Lampu yang dinyalakan oleh Nyi Iteung terlalu redup cahayanya karena kekurangan minyak. Nyi Iteung mencari-cari botol minyak tanah kian kemari, tetapi tidak menemukannya. Akhirnya, ia membiarkan cahaya lampu makin redup dan padam. Ia melangkah ke ruangan tengah. Lampu dinding di ruangan itu terang. Minyaknya masih banyak. Waktu ia mengambil lampu itu akan membawanya ke dapur, Kabayan datang dari sumur.
"Lampu di dapur padam karena kehabisan minyak," ujar Nyi Iteung.
"Biarkan saja, aku hendak ke kota," ucap Kabayan.
"Ke kota lagi?"
"Ya, sudah berjanji pada Ki Haji," ujarnya sambil bersiap-siap.
Nyi Iteung masih memegang lampu ketika Kabayan kembali. "Iteung, aku pergi. Doakan supaya berhasil."
Nyi Iteung hanya mengangguk. Nyi Iteung berdiri di pintu sampai Kabayan menghilang ditelan kegelapan. Ia baru meninggalkan pintu ketika anaknya memanggil-manggil.
Kabayan meninggalkan kampung sesuai dengan waktu yang ditentukannya. Hanya terlambat beberapa menit ia sampai di tempat yang dijanjikan dengan pemuda itu. Senja telah menjadi gelap, tetapi Kabayan dapat melihat bayangan pemuda yang sedang menunggunya.
"Jang," tegurnya.
"Eh, Pak Dukun. Saya kira tidak datang," kata si pemuda.
"Saya tertidur, untunglah dibangunkan oleh si Ujang!"
"Bagaimana penampilanku, Pak Dukun?" Pemuda itu minta pendapat dukun.
"Wah, tidak aku kira kau sehebat ini," kata dukun sambil mengacungkan jempolnya.
"Benar, Pak Dukun? Apa aku tidak dapat dikenali?" tanyanya menyakinkan.
"Benar," jawab dukun pendek.
"Nanti bila memang ada kesukaran saya minta bantuan, Pak Dukun," kata pemuda itu.
"Tenanglah! Kau harus mengikuti kata-kataku."
"Baiklah! Kalau demikian, kita berangkat sekarang."
"Ya, kita berangkat, Ki Haji pasti sudah menunggu."
Kabayan dan pemuda itu berjalan beriringan menuju rumah Ki Saudagar. Dengan bantuan pemuda itu karena Kabayan lupa-lupa ingat rumah Ki Saudagar, keduanya sampai juga ke rumah itu. Kabayan masuk ke pekarangan, sedangkan pemuda itu hanya berdiri saja ragu-ragu.
"Ayo, Ujang! Mengapa diam saja?"
"Saya agak ragu-ragu, Pak Dukun!"
"Ayolah! Katanya ingin bertemu dengan Nyi Hasanah!"
"Ya, tetapi di dalam sangat terang!"
"Ah, itu serahkan saja padaku!"
Keduanya berjalan beriringan. Di teras dilihatnya seorang perempuan tua agak bungkuk, bergerak menyongsong kedatangan keduanya. Itulah pengasuh Nyi Hasanah.
"Embah Dukun, untung Embah datang. Ki Haji selalu menyebut-nyebut Embah. Ia sudah lama menanti-nanti."
Kabayan diikuti pemuda itu langsung masuk. Ocehan pengasuh Nyi Hasanah menyesali perbuatan Ki Haji pada anaknya tidak digubrisnya. Di ruangan itu tampak kosong. Kabayan mencari-cari Ki Saudagar. Pengasuh Nyi Hasanah mengerti, dan buru-buru mengatakan pada Kabayan.
"Ki Haji masih di kamar. Duduklah, Embah!"
"Embi, tolong lampu teh digelapkan sedikit. Embah mah mudah kena sakit mata kalau tersorot lampu!”
Lampu jadi remang-remang. Barulah Kabayan dan pemuda itu duduk dengan tenang. Ki Saudagar yang telah diberi tahu kedatangan dukun keluar dari kamarnya.
"Alhamdulillah, Embah! Embah sudah datang kembali," ucap Ki Saudagar sambil matanya melirik lampu yang nyalanya kecil. "Embi, lampu itu habis minyaknya? Saya merasa tidak enak kalau lampu padam."
"Bukan tidak ada minyak, Ki Haji! Itu permintaan Embah," jawab pengasuh.
"Ya, Ki Haji. Embah yang memintanya karena mata Embah agak silau," Embah menjelaskan.
Pemuda itu yang sejak tadi diam saja bersorak dalam hati. Ia memuji kecerdikan dukun, "Pak Dukun terlalu cerdik, selalu banyak akalnya. Aku yakin dapat bertemu dengan pujaan hatiku."
Di ruangan itu Nyi Hasanah juga sudah duduk bersimpuh di atas permadani berwarna-warni. Nyi Hasanah tampak berbaju merah kesumba. Beberapa perhiasan emas menggayuti leher dan telinganya. Nyi Hasanah berkulit kuning langsat, bertubuh semampai, dan berparas cantik. Dalam cahaya temaram penampilan Nyi Hasanah jadi tambah memikat bagi setiap orang yang melihatnya.
Ki Saudagar sudah tidak sabar melihat embah dukun mengobati anaknya, "Bagaimana, Embah sudah menemukan obat atau jampi-jampi untuk Nyai?"
"Ki Haji! Embah mendapat petunjuk dari karuhun untuk mengobati Nyai. Caranya gampang, hanya dengan sirih ini. Nyi Hasanah telinganya yang kanan dan kiri harus ditiup dengan teropong yang dibuat dari sirih. Ini sirihnya! Yang meniupnya bukan Embah, tetapi harus oleh laki-laki muda."
"Laki-laki muda, Embah? Di mana mencari laki-laki muda malam-malam begini?" tanya Ki Saudagar bingung.
"Jangan bingung, Ki Haji. Embah sudah membawa laki-laki itu. Nah, ini orangnya!" kata embah dukun sambil menunjuk pada pemuda yang ada di sebelahnya.
Ki Saudagar melirik laki-laki yang sejak tadi luput dari perhatiannya. Ki Saudagar menanyakan laki-laki itu pada embah dukun, "Siapa Embah laki-laki ini?"
"Pemuda inilah yang akan mengobati Nyai. Embah yang memberi jampi-jampinya, benar kan Ujang?" ucap dukun bertanya pada si pemuda.
Pemuda itu terkejut ditanya oleh embah dukun. Akan tetapi, pelan-pelan ia menjawab juga, "Ya, Ki Haji. Aku datang kemari untuk membantu Embah Dukun. Kami akan mengobati Nyi Hasanah sampai sembuh.”
Ki Saudagar manggut-manggut tanda mengerti, "Kalau demikian, segeralah obati Nyai, Embah."
"Tetapi, sebelumnya ada syaratnya, Ki Haji!" kata embah dukun.
"Apa syaratnya?"
"Pemuda itu mau membantu asal Ki Haji mengabulkan satu permintaannya."
"Enteng, Embah. Hanya satu permintaan?"
"Ya, hanya satu!"
"Apa, Embah, katanya?"
"Permintaannya akan disampaikan setelah Nyai sembuh!"
Ki Saudagar merenung sebentar. Katanya dalam hati, "Ah, paling-paling minta ringgit! Kekayaanku berlimpah. Belum lagi kalau Haji Latif menjadi menantuku." Ki Saudagar menyanggupi syarat yang disampaikan embah dukun.
"Baiklah, Embah, saya setuju dengan syarat itu!"
Sebelum mulai mengobati Nyi Hasanah, Embah Dukun sekali lagi menyuruh mengecilkan lampu, "Kecilkan lagi lampu itu! Kurang, kurang, sudah! Ujang! Ke sini ke depan!" Ia menyuruh pemuda itu duduk agak ke depan.
Pemuda itu duduknya bergeser ke depan. Embah dukun juga menyuruh Nyi Hasanah maju, "Nyai, maju ke sini!”
Nyi Hasanah duduknya mendekati pemuda itu. Ia kini duduk berhadapan dengan pemuda itu. Nyi Hasanah tidak berani menatap wajah pemuda itu. Sesungguhnya ia sudah kesal dan bosan berurusan dengan dukun, tetapi ayahnya selalu memaksakan kehendaknya. Ia juga ingin marah dan mengeluarkan sumpah serapah pada dukun-dukun yang berusaha mengobati penyakitnya. Semuanya mau membujuk, mau menipu, hendak mendapatkan keuntungan dari harta ayahnya. Semuanya menjengkelkan Nyi Hasanah.
"Aku tidak boleh marah. Aku harus menuruti cara dan gaya mereka. Yang jelas, mereka tidak akan berhasil," kata Nyi Hasanah dalam hati.
"Nyai, Nyai! Jangan melamun. Si Ujang sudah siap mau meniup telingamu," kata embah dukun membuyarkan lamunan Nyi Hasanah.
"Ayo, Ujang! Sekarang mulai! Jangan lupa membaca jampi-jampinya!" perintah embah dukun.
Pemuda itu menempelkan teropong yang terbuat dari sirih pada kuping Nyi Hasanah. Ia berbisik pelan seolah sedang mengucapkan mantra. Nyi Hasanah terperangah mendengar suara yang begitu dikenalnya melalui teropong itu.
"Nyai tidak kenai pada Akang?" bisik pemuda itu.
"Hah? Ya Allah, Kang Agus ini teh?" jawab Nyi Hasanah pelan.
"He, ehm! Tenanglah! Masih memegang janji kita?"
"Sampai mati juga aku akan tetap setia."
"Kalau begitu sekarang harus sembuh!" ucap pemuda itu dengan tegas.
"Iya, Kang! Tetapi Akang janji tidak meninggalkan Nyai?"
"Akang janji!"
"Ujang, Ujang, cukup!" Tiba-tiba embah dukun menarik tubuh pemuda itu. "Sekarang Nyai minum air putih yang sudah dijampi oleh embah!"
Pemuda itu mengambil gelas dari tangan embah dukun. Air putih itu diminumkan oleh pemuda itu pada Nyi Hasanah. Pelan seperti berbisik terdengar suara Nyi Hasanah mengucapkan syukur, "Alhamdulillah, Embah, saya dapat berbicara lagi."
"Betapa bahagianya anak abah sembuh kembali. Embi akan beri tahu semua orang bahwa Nyai sudah sembuh! Besok kita akan pesta syukuran sekalian meresmikan hubungan Nyai dengan Haji Latif, " kata ayah Nyi Hasanah penuh semangat.
"Tidak, Abah, saya tidak mau! Dari dulu kan Nyai tidak mau dinikahkan dengan orang itu. Lebih baik mati daripada menjadi istri laki-laki yang sudah beranak enam," kata Nyi Hasanah sambil menangis.
Ki Saudagar terperangah, "Apa Nyai, bicara apa tadi?”
"Lebih baik mati daripada menjadi istri Haji Latif!”
"Astagfirullah, Subhanallah! Mengapa anak ini?"
"Pokoknya tidak mau! Bunuh saja anak Abah ini!" Nyi Hasanah tetap bertahan pada pendiriannya.
"Nyai, kenapa kau menolak?"
Nyi Hasanah bungkam seribu bahasa. Pertanyaan ayahnya tidak perlu dijawab karena sesungguhnya ia pun sudah tahu jawabannya.
Pengasuh Nyi Hasanah menengahi yang sedang ribut, "Ki Haji, sudahlah! Apa tidak malu pada embah dukun? Bukannya gembira anak sudah sembuh, ini malah ribut!"
“Aduh, Embah dukun, maafkanlah saya. Saya sampai lupa mengucapkan terima kasih. Embah benar-benar dukun sakti," kata Ki Haji pada Embah dukun.
"Jangan lupa, Ki Haji. Ki Haji juga harus berterima kasih pada pemuda itu. Tanpa dia, Nyai belum tentu dapat berbicara lagi," kata Embah dukun.
"Oh, ya, Ujang. Saya hampir lupa pada Ujang. Terima kasih sudah membantu kami. Berapa ringgit yang Ujang minta?" tanya Ki Haji.
"Ki Haji, bukan ringgit yang saya inginkan," kata pemuda itu.
"Hah? Ujang tidak minta ringgit? Lalu apa permintaan Ujang?" Ki Haji keheranan.
"Saya minta Nyi Hasanah menjadi istri saya!" jawabnya tegas.
Ki Haji tiba-tiba pusing. Belum selesai urusan dengan anaknya kini tiba-tiba pemuda itu minta anaknya untuk dijadikan istri. Ki Haji tidak dapat menahan rasa sakit di kepalanya yang terus-terusan berdenyut dan seperti ditusuk-tusuk jarum. Keringat membasahi tubuhnya. Ia pun pingsan.
"Abah!" jerit Nyi Hasanah sembari menggenggam tangan ayahnya.
"Biar, biarkan! Harap tenang! Tidak apa-apa, Ki Haji hanya beristirahat sebentar," kata embah dukun menenangkan semua orang.
"Coba cari air, Embi!" kata embah dukun.
Pengasuh Nyi Hasanah mengangguk. Ia ke belakang mengambilkan air untuk Ki Saudagar. Benar saja kata embah dukun, Ki Saudagar tidak lama kemudian siuman.
"Nyai, haus, haus ….”
Buru-buru Nyi Hasanah memberikan air untuk ayahnya. Ki Saudagar memandang pada anaknya, kemudian beralih pada embah dukun, dan pemuda itu yang berada di hadapannya. Ki Haji sekali lagi bertanya pada pemuda itu, "Benarkah kamu tidak mau ringgit, anak muda?"
"Tidak, Ki Haji," jawab pemuda itu.
"Tetapi anakku akan kawin dengan Haji Latif.”
"Tadi saya sudah dengar dia menolak."
Embah dukun yang mendengarkan pembicaraan itu menimpali, "Ki Haji harus menepati janji untuk mengabulkan permintaan pemuda itu."
Ki Saudagar termenung. Ia bingung menentukan pilihan. Memaksa anaknya, anaknya memilih mati. Menolak permintaan pemuda itu juga berarti ia ingkar janji. "Apakah anakku mau menjadi istri pemuda ini?" tanya Ki Haji agak ragu.
Terdengar lagi embah dukun berbicara, "Apabila Ki Haji tidak menepati janji, kami dapat mengembalikan Nyi Hasanah seperti semula, bisu lagi."
"Jangan, Embah, jangan lakukan itu! Bagaimanapun dia anak saya satu-satunya. Saya tidak ingin melihat dia bisu," pinta Ki Haji.
"Kalau demikian, kabulkan permintaan pemuda ini!" perintah embah dukun.
"Saya tidak menduga pemuda itu meminta Nyai jadi istrinya."
"Tetapi bagaimanapun Ki Haji tadi sudah berjanji."
"Baiklah, Embah Dukun. Saya tanya dulu Nyai," kata Ki Haji, yang menduga anaknya akan menolak permintaan pemuda itu karena ia tahu Nyi Hasanah sudah punya pilihan hati.
"Bagaimana, Nyai? Kau keberatan tidak menjadi istri pemuda ini?" tanya ayahnya.
"Abah, kali ini Nyai tidak akan membikin Abah malu. Karena sebelumnya Abah sudah berjanji, Abah harus menepatinya. Nyai tidak mau bisu lagi, Abah."
"Benarkah?" Ayahnya tidak percaya dengan kata-kata anaknya.
Nyi Hasanah mengangguk.
"Bukankah Nyai tidak ingin menikah dengan laki-laki lain selain Kang Agus?" tanya ayahnya.
"Ya, Abah. Benar kata Abah. Nyai hanya mau menikah dengan Kang Agus!"
Ki Haji bingung, tidak paham akan kata-kata anaknya. Ditanya akan menikah dengan pemuda itu jawabnya "ya", ditanya akan menikah dengan si Agus jawabnya juga "ya".
"Nyai, apa maksud Nyai? Mau menjadi istri dua orang laki-laki?"
Nyi Hasanah diam saja. Ia hanya tersenyum-senyum. Ki Haji semakin tidak mengerti. Demikian pula dengan pengasuhnya yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan itu. Hanya embah dukun dan pemuda itu yang mengerti perkataan Nyi Hasanah. Buru-buru embah dukun menjelaskan semuanya pada Ki Haji, "Ki Haji, pemuda ini bernama Agus."
Ki Haji mendadak kepalanya pusing, penglihatannya berkunang-kunang. Pusingnya terasa lebih menyengat dari yang pertama. Ia rubuh, pingsan lagi.
"Abah, Abah!" jerit Nyi Hasanah sembari mengguncang-guncang tubuh ayahnya.
Pengasuh Nyi Hasanah tersenyum puas. Ia memuji embah dukun sebagai dukun yang benar-benar sakti dan bijak. "Tidak salah Salnasik dan Salwasim membawa Embah dukun kemari," bisiknya dalam hati.
Malam telah larut. Kabayan dan pemuda itu pamit. Nyi Hasanah dan pengasuhnya mengantarkan keduanya sampai pintu. Sementara itu, Ki Haji masih terbaring lemas tidak berdaya.
•••
LIMA
KABAYAN BUKAN LAGI DUKUN
Keberhasilan Kabayan mengobati gadis bisu segera diketahui orang-orang sekampung. Nyi Iteung termasuk orang yang sibuk menyampaikan berita keberhasilan Kabayan kepada orang-orang yang dikenalnya. Kabayan mulai memainkan perannya sebagai dukun sakti.
Dari pagi sampai petang rumah Kabayan selalu penuh oleh orang yang ingin bertemu dukun sakti. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak berdatangan dari berbagai kampung. Mereka menderita berbagai penyakit. Bila matahari telah menghilang dari peredaran, mereka pun menghilang satu per satu.
Kehadiran mereka merepotkan Kabayan dan Nyi Iteung. Kabayan yang mulanya hidup tenang, santai, dan bebas terpaksa sepanjang hari melayani tamu-tamunya. Nyi Iteung pun harus berada di rumah lebih lama, dan hanya sekali-sekali pergi ke ladang.
Senja berangsur gelap. Rumah Kabayan pun jadi lengang. Orang-orang yang sejak pagi memenuhi rumah Kabayan kembali ke rumah masing-masing. Kabayan belum beranjak dari tempat duduknya walaupun terkantuk-kantuk. Nyi Iteung mengambilkan tikar dan bantal lalu memberikannya pada Kabayan.
"Akang terlalu letih, tidurlah," ujar Nyi Iteung.
Kabayan membaringkan tubuh. Akan tetapi, ia tidak dapat terlelap. Suara-suara keluh-kesah orang-orang yang meminta pertolongan seolah-olah terdengar sayup-sayup dalam tidurnya.
Jendela masih terbuka. Angin dingin terasa menerpa melalui bilik-bilik rumah. Kabayan memejamkan mata, tetapi pikirannya tetap melayang-layang. Ia tampaknya gelisah. "Aku tidak dapat terus-terusan seperti ini," katanya.
"Aku bukanlah dukun! Mereka yang beranggapan begitu. Mereka mengira aku seorang dukun yang sakti hingga tiap orang merasa tertarik datang kepadaku," pikir Kabayan. "Aku harus segera mengakhirinya."
"Iteung, Iteung!" Kabayan memanggil-manggil Nyi Iteung.
"Ada apa, Kang?"
"Begini, Iteung …," kata Kabayan sambil bangkit dari tikar.
Nyi Iteung mendekati suaminya, duduk di hadapannya. Ia kembali bertanya pada suaminya, "Begini bagaimana, Kang?"
"Dengarlah baik-baik, Iteung! Kamu tahu aku bukanlah dukun. Apalagi Embah atau apalah sebutannya, dukun dengan embel-embel sakti. Aku ingin berhenti berperan sebagai dukun! Aku capek harus berpura-pura terus, Iteung!"
Nyi Iteung mengerutkan dahinya. Ia berusaha meyakinkan suaminya, "Sudah terlanjur, Kang. Akang cukup cerdik. Harusnya kecerdikan itu dapat mengatasi orang kampung sini. Aku percaya Akang memang bisa jadi dukun. Buktinya, orang-orang datang kemari. Yang penting, Akang harus mau jadi dukun."
"Cukup, Iteung! Aku tidak mau jadi dukun. Aku lelah, Iteung."
"Bagaimana mengatakannya pada orang-orang, Kang?"
"Katakan saja aku berhenti jadi dukun!”
"Kalau begitu, terserah. Aku tidak dapat memaksa," kata Nyi Iteung penuh penyesalan.
Setelah menyampaikan isi hatinya pada Nyi Iteung, Kabayan merasa tenang. Ia seperti terbebas dari beban yang sangat berat dan mengimpitnya. "Menjadi Kabayan lebih enak daripada menjadi dukun. Meskipun ringgit terus menggoda, aku tetap tidak mau jadi dukun!"
Merasa telah menjadi Kabayan kembali, kebiasaan suka tidur pun menyerangnya. Tiba-tiba ia mengantuk dan menguap berkali-kali. Ia membaringkan tubuhnya. Tidak lama kemudian terdengar dengkurnya yang khas.
Nyi Iteung bangkit menutup jendela dan mengunci pintu. Ia pun mengecilkan lampu minyak. Rumah itu jadi remang-remang oleh cahaya bulan. Udara semakin dingin. Kabayan semakin pulas. Ia melingkarkan tubuh menahan dingin.
Asap tebal yang biasanya mengepul di sekitar rumah dukun yang terbang ke awan bersama mantranya tidak tampak lagi. Setumpuk sabut kelapa dan sekepal kemenyan yang biasanya dibakar Nyi Iteung sekarang teronggok begitu saja. Dukun terkenal yang bisa menangkis dan mengobati berbagai penyakit itu masih tergolek di atas tikarnya. Sementara itu, Nyi Iteung berulang-ulang mengatakan pada orang-orang yang datang bahwa suaminya telah berhenti jadi dukun.
"Mengapa Abah berhenti jadi dukun?" Beberapa orang bertanya pada Nyi Iteung.
"Capek, katanya.” Hanya itu yang dikatakan Nyi Iteung.
![]() |
| Kabayan berbaring-baring dengan malasnya sambil sesekali mengorek-ngorek kumisnya dengan bulu ayam. |
Orang-orang pun pulang dengan perasaan kecewa. Rumah pun kembali menjadi sepi. Yang terdengar hanya suara dengkur Kabayan dan omelan-omelan Nyi Iteung di dapur.
"Mentang-mentang sudah tidak menjadi dukun, hari siang begini masih tidur," kata Nyi Iteung menggerutu. "Memang itu yang menjadi keinginan Kang Kabayan, tidur, makan, mengkhayal, tidur lagi," kata Nyi Iteung meneruskan omelannya.
Berita bahwa Kabayan tidak menjadi dukun lagi cepat sekali menyebar di kampung itu. Berita hangat buat kampung itu. Di warung-warung, di ladang, di sawah, di sumur, di tempat orang berkumpul yang dibicarakan hanya berita itu saja. Mereka takjub bahwa Kabayan baru saja jadi dukun sakti, tetapi dia kini tidak mendukun lagi.
"Ia baru mulai menjalani pekerjaan jadi dukun, tiba-tiba berhenti. Siapa yang akan menggantikannya?" kata orang-orang mengeluh entah kepada siapa.
Sementara itu, orang yang menjadi bahan pembicaraan tenang-tenang saja, berbaring-baring dengan malasnya di tempat tidur sambil sesekali tangannya mengorek-ngorek kuping dengan bulu ayam.






Komentar
Posting Komentar