LITANI BAGI JOAN
untuk Jeanne d'Arc
I
Di Rouen,
fajar datang
membawa bau jerami
dan salib yang retak.
Tak ada burung
yang berani bernyanyi.
Api sedang belajar
menjadi uskup,
sementara langit
menjadi hakim
yang terlalu jauh
untuk mendengar tangis.
II
Engkau berdiri
lebih muda
daripada seluruh kerajaan.
Mahkotamu
adalah asap.
Jubahmu
adalah nyala.
Dan Tuhan,
yang konon
mengutus malaikat,
hanya meninggalkan
sepotong angin
di telapak tanganmu.
III
Ketika kayu
mulai menghafal api,
orang-orang
menyebutnya hukuman.
Padahal
yang sedang terbakar
bukan tubuhmu—
melainkan rasa malu
sebuah zaman
yang takut
kepada seorang gadis
yang mendengar
suara langit
lebih jelas
daripada suara raja.
---
DIES IRAE
untuk Federico García Lorca
I
Granada masih menyimpan
debu bulan
di antara pohon-pohon zaitun.
Malam itu
peluru-peluru
lebih fasih
daripada puisi.
Seekor gitar
menggigil
di bawah langit Andalusia,
sementara bintang-bintang
menutup mata
agar tak perlu
menjadi saksi.
II
Wahai penyair,
siapa yang mengajari darah
menulis elegi
di atas tanah?
Siapa yang membisikkan
kepada maut
bahwa setiap penyair
adalah lonceng
yang harus dibungkam?
Angin tak menjawab.
Ia hanya membawa
bau roti,
anggur,
dan mesiu
ke seluruh desa.
III
Pagi datang
tanpa kemenangan.
Hanya embun
yang mencuci
jejak sepatu para algojo.
Dan sejak hari itu,
setiap kali seorang anak
membuka buku puisi,
Granada diam-diam
mengembalikan
satu halaman langit
yang pernah
dirampas peluru.
---
LUX AETERNA
untuk Hypatia
I
Di Caesareum, Alexandria,
matahari datang
lebih tua daripada filsafat.
Di antara gulungan papirus,
debu berdoa
kepada huruf-huruf Yunani
yang mulai kehilangan rumah.
Tak seorang pun mengerti
bahwa sebuah teorema
dapat berdarah,
bahwa lingkaran
pun mempunyai nasib,
dan garis lurus
kadang berakhir
pada amuk manusia.
II
Engkau berjalan
dengan toga putih,
membawa geometri
seperti seorang imam
membawa hosti.
Tetapi kota
lebih mencintai
teriakan
daripada penjelasan.
Kitab-kitab
lebih mudah dibakar
daripada dibaca.
Dan Tuhan,
barangkali,
sedang memejamkan mata
ketika kebencian
menemukan liturginya.
III
Biarkan papirus
menghafal sidik jarimu.
Biarkan kompas
tetap membuka lingkaran
yang tak sempat kauselesaikan.
Karena semenjak pagi itu,
setiap perpustakaan
diam-diam
menyalakan lilin
untuk seorang perempuan
yang percaya
bahwa cahaya
lebih sabar
daripada api.
---
NOCTURNE
untuk Anne Frank
I
Di Prinsengracht,
malam dilipat
ke dalam lemari-lemari tua.
Jendela
belajar menjadi doa.
Lantai kayu
menghafal langkah-langkah
yang tak boleh bersuara.
Di luar,
Eropa sedang menulis
sebuah kitab
yang seluruh halamannya
berbau asap.
II
Engkau mencintai langit
melalui celah
yang terlalu sempit.
Seekor burung
lebih bebas
daripada seluruh benua.
Namun buku harianmu
tetap tumbuh,
seperti sepotong musim semi
yang diam-diam
membantah musim dingin.
III
Ketika kereta-kereta
berangkat
tanpa kembali,
siapa yang masih percaya
bahwa kata-kata
dapat menyelamatkan?
Mungkin tidak seorang pun.
Namun sesudah perang,
dunia belajar
bahwa sebuah buku kecil
dapat membuat
jutaan manusia
menangis
lebih lama
daripada sirene.
---
MISERERE
untuk Giordano Bruno
I
Di Campo de' Fiori,
subuh mengasah
lidah-lidah api.
Lonceng berdentang
lebih muram
daripada Injil.
Angin membawa
bau kayu,
minyak,
dan ketakutan.
Langit Roma
terlihat begitu rendah,
seolah hendak ikut
menjadi saksi.
II
Engkau memandang
ke arah bintang-bintang
dengan mata
yang tak pernah puas
kepada satu langit.
Betapa luas
alam semesta,
hingga dogma
terlihat sekecil
paku
yang menembus
tiang hukuman.
Para hakim
membacakan putusan.
Tetapi galaksi
terus berputar
tanpa meminta izin.
III
Biarkan api
menghanguskan tubuhmu.
Ia tak akan pernah
menghanguskan
jarak
di antara bintang.
Sebab setelah abu
jatuh ke bumi,
malam-malam
tetap dipenuhi
gugusan cahaya
yang diam-diam
mengulang
kesaksianmu,
bahwa kebenaran
selalu lebih luas
daripada ketakutan manusia.
---
TENEBRAE
untuk Rosa Luxemburg
I
Di Hotel Eden, Berlin,
musim dingin menggembalakan
salju yang letih.
Lorong-lorong
mencium bau tinta,
mesiu,
dan manifesto
yang gagal menjadi musim semi.
Malam itu
jam-jam berdetak
lebih pelan
daripada denyut ketakutan.
II
Wahai perempuan
yang menulis revolusi
dengan huruf-huruf rapuh,
siapa yang mengajari
burung pipit
agar tetap bernyanyi
di tengah negara
yang sedang mengasah bayonet?
Barangkali harapan
selalu bersarang
di dada makhluk
yang paling kecil.
Barangkali kasih
selalu kalah
di hadapan parade.
III
Ketika kanal Landwehr
menerima tubuhmu,
air tak lagi
sekadar air.
Ia menjadi halaman terakhir
dari sebuah surat
yang tak selesai
ditulis kepada dunia.
Dan sejak saat itu,
setiap musim dingin
diam-diam
mengembalikan
namamu
ke permukaan es.
---
DE PROFUNDIS
untuk Oscar Wilde
I
Reading Gaol.
Dinding-dinding batu
menghafal
langkah para narapidana
lebih baik
daripada doa-doa mereka.
Jendela
terlalu kecil
untuk dilewati matahari.
Namun kenangan
selalu berhasil
menyelundup masuk.
II
Engkau kehilangan
kemewahan,
gelar,
dan tepuk tangan.
Tetapi bahasa
tak pernah meninggalkanmu.
Ia duduk
di sudut sel
seperti seorang biarawan tua
yang terus menyalin
kitab kesabaran.
Sunyi
adalah editor
yang paling teliti.
Ia mencoret
segala kesombongan
hingga hanya tersisa
seorang manusia.
III
Tatkala pintu penjara
akhirnya dibuka,
engkau telah menjadi
lebih asing
daripada kota-kota
yang dahulu memujamu.
Tetapi puisi
mengenalimu.
Ia menyembunyikan
namamu
di dalam setiap bunga
yang mekar
tanpa meminta izin
kepada kerajaan mana pun.
---
REQUIEM AETERNAM
untuk Walter Benjamin
I
Portbou.
Perbatasan
adalah kalimat
yang lupa
menentukan subjeknya.
Pegunungan
berdiri
seperti hakim-hakim tua,
sementara laut
menunggu
segala sesuatu
yang gagal
menyeberang.
II
Di dalam koper kecil,
engkau membawa
lebih banyak dunia
daripada yang mampu
dipikul sebuah abad.
Kertas-kertas
bernapas pelan.
Filsafat
mencari paspor.
Dan sejarah
berjalan tertatih
dengan sepatu
para pengungsi.
III
Ketika malam
menutup kelopak matamu,
tak ada sangkakala.
Tak ada mazmur.
Hanya angin
yang membalik
halaman-halaman
tak terlihat.
Dan sejak Portbou,
setiap perbatasan
diam-diam
menyembunyikan
seorang peziarah
yang membawa
masa depan
di dalam
koper yang terlalu kecil
bagi dunia.
---
ASPHODEL
untuk Virginia Woolf
I
Di tepian Ouse,
musim semi tertunda
pada sejumput kabut
yang menganyam firmamen
ke dalam riak-riak timah.
Tak seekor burung pun
berani mengucapkan fajar.
Hanya rerumputan
yang menyisir embun
dengan sisir asfodel,
sementara batu-batu
menghafal nama
yang sebentar lagi
akan menjadi arus.
II
Engkau memasuki sungai
sebagaimana palimpsest
menerima aksara baru—
bukan untuk menghapus,
melainkan membiarkan
segala kenangan
mengendap
menjadi sedimen waktu.
Air mengenakan
selendang obsidian.
Langit menggulung
warna timbel
ke dalam lipatan senyap.
III
Sesudah itu,
sungai tak lagi
mengalir menuju laut.
Ia mengalir
ke dalam setiap kalimat
yang tak selesai
dituliskan manusia.
Dan malam,
dengan jubah abisalnya,
terus menenun
rambutmu
menjadi lumut
di tepian bahasa.
---
PALIMPSEST
untuk Cleopatra
I
Di Iskandariyah,
angin menggeser
layar-layar papirus
hingga ufuk
berwarna lapis lazuli.
Istana-istana
berdiri
bagai dolmen
yang lupa
asal mula matahari.
Sungai Nil
mengangkut
bayang-bayang ibis
ke muara
yang belum bernama.
II
Mahkota
tak lebih abadi
daripada serbuk cinnabar.
Takhta
hanyalah pasir
yang sedang belajar
menjadi batu.
Namun matamu—
dua azimut
yang menuntun armada
melintasi kabut
kekuasaan.
III
Ketika asp
menutup lingkar nasib,
senja menumpahkan
vermilion
ke wajah langit.
Tak ada ratapan.
Hanya angin gurun
yang menyusun
huruf-hurufmu
ke dalam palimpsest
yang tak selesai
dibaca abad.
---
EKINOKS
untuk Sylvia Plath
I
Subuh menggantung
di atas atap London
bagai cakram tembaga
yang kehilangan azimut.
Embun
membeku
pada bingkai jendela.
Di dalam rumah,
jam-jam
merunduk
kepada sunyi
yang lebih tua
daripada musim dingin.
II
Engkau memungut
pecahan cahaya
lalu menyusunnya
menjadi cermin
bagi wajah waktu.
Setiap metafora
adalah serpih nefrit.
Setiap kesunyian
adalah alkahest
yang melarutkan
nama,
ingatan,
dan hari-hari.
III
Tatkala pagi
akhirnya membuka
kelopak kabut,
langit tampak
lebih lengang.
Seakan dunia
kehilangan
sebuah konstelasi
yang diam-diam
menyamar
menjadi perempuan,
lalu berubah
menjadi musim
yang tak pernah
selesai gugur.
---
OBSIDIAN
untuk Marina Tsvetaeva
I
Di Yelabuga,
angin memintal rami
ke dalam lengkung senja.
Atap-atap kayu
mengembunkan jelaga,
sementara cakrawala
meluruhkan oker
ke bahu-bahu cemara.
Tak seorang pun mengetahui
bahwa petang
sedang menatah
sebuah epitaf
pada urat udara.
II
Burung-burung gagak
membentuk azimut
yang tak selesai.
Engkau memungut
setiap bayang
bagai serpih obsidian,
menggosoknya
hingga memantulkan
wajah-wajah
yang telah disita abad.
Betapa lengang
sebuah nama
ketika tak lagi
dipanggil manusia,
melainkan
oleh kabut.
III
Biarkan embun
menggarami rambutmu.
Biarkan lumut
menjahit kembali
retakan-retakan bumi.
Sebab sejak petang itu,
setiap cemara
menyimpan desir
yang menyerupai puisimu—
gelap,
namun berkilau
seperti batu
yang lahir
dari letusan purba.
---
CATABASIS
untuk Sappho
I
Di Lesbos,
fajar menumpahkan
serbuk koral
ke permukaan Laut Aegea.
Pulau itu
berbau damar,
garam,
dan dedaunan murad
yang gugur
bahkan sebelum
musim mengenal dirinya.
Langit
menggantung rendah
bagai velum
yang ditiup
napas samudra.
II
Kecapi
telah lama lapuk.
Namun dawai-dawainya
masih bergetar
di dalam kerang,
di sela alang-alang,
di bawah pasir
yang memucat.
Setiap ombak
mengucapkan
sepotong bait
lalu menghapusnya
dengan busa.
Barangkali demikianlah
ingatan bekerja—
ia menyisakan gema,
bukan suara.
III
Tak seorang pun
menemukan makam
bagi nyanyian.
Ia berdiam
di dalam angin,
berpindah
dari tanjung
ke tanjung,
dari lidah
ke lidah,
hingga laut sendiri
menjadi manuskrip
yang tak pernah
selesai disalin.
---
CENOTAPH
untuk Emily Dickinson
I
Amherst
dibalut salju tipis.
Pepohonan elm
mengangkat ranting-rantingnya
bagai aksara runik
yang tergores
di atas kulit musim dingin.
Jendela kecil itu
memandang dunia
tanpa tergesa.
Di dalamnya,
debu
bergerak perlahan
mengikuti
peredaran cahaya.
II
Tak semua pengembaraan
membutuhkan jalan.
Ada yang menempuh
serat-serat kertas,
mengembara
dari koma
ke koma,
dari jeda
ke jeda,
hingga bahasa
menemukan
bentuk mineralnya.
Kau memahat
kesunyian
sebagaimana sungai
memahat ngarai.
Tanpa bunyi.
Tanpa tergesa.
III
Dan ketika
musim semi datang,
bunga-bunga liar
tak bermekaran
di padang,
melainkan
di sela-sela
hurufmu.
Sejak itu,
setiap halaman putih
menyimpan
kemungkinan
bagi seekor lebah,
sepotong langit,
dan seorang perempuan
yang memilih
keabadian
dalam
sehelai amplop.
---
FULGURITE
untuk Amelia Earhart
I
Di atas Pasifik,
langit menanggalkan
selubung indigonya.
Azimut bergeser
setipis urat kaca.
Baling-baling
menganyam angin
menjadi filamen
yang tak sempat
dihafal samudra.
Jauh di bawah,
ombak-ombak
menggosok karang
hingga berkilau
bagai fulgurite
yang lahir
dari petir purba.
II
Tak ada cakrawala
yang benar-benar lurus.
Ia selalu melengkung
ke dalam mata
para pengembara.
Kompas
mulai meragukan
kutubnya sendiri.
Bintang-bintang
berpindah
tanpa meninggalkan
jejak debu.
Barangkali
kehilangan
adalah nama lain
bagi jarak
yang tak selesai
diukur manusia.
III
Sesudah itu,
laut menyimpan
sebuah gema.
Bukan suara mesin.
Bukan namamu.
Melainkan desir
yang bergerak
di antara arus
dan konstelasi,
seolah cakrawala
masih membuka
sebuah lintasan
yang hanya dikenali
oleh burung-burung
pengelana.
---
PORFIRI
untuk Akhmatova
I
Neva
membawa salju
ke dalam urat batu.
Kubah-kubah
membeku
dalam cahaya timah,
sementara kabut
mengelupaskan
warna porfiri
dari dinding-dinding
yang renta.
Pagi itu
udara berbau
arang,
kertas,
dan penantian.
II
Di depan antrean,
waktu
tak lagi berdetak.
Ia membatu.
Wajah-wajah
berubah
menjadi prasasti,
mata-mata
menjadi telaga
yang membeku
tanpa angin.
Engkau
menggenggam kata
seperti seseorang
menggenggam bara
di tengah salju.
III
Tatkala musim
berganti kulit,
sungai
tetap mengalir
di bawah es.
Begitu pula
sebuah puisi—
ia tak membutuhkan
teriakan,
cukup
sebutir napas
yang bertahan
lebih lama
daripada
sebuah imperium.
---
NOCTILUCA
untuk Frida Kahlo
I
Coyoacán
tertidur
di bawah kaktus
dan debu basalt.
Senja
menyisipkan
serbuk kermes
ke sela dedaunan,
hingga taman-taman
berpendar
seperti noctiluca
yang tersesat
di daratan.
II
Tubuhmu
adalah peta
yang dilipat
terlalu sering.
Retaknya
membentuk
sungai-sungai halus
yang tak pernah
dicatat
kartografer mana pun.
Warna-warna
mencair,
bercampur
dengan damar,
oker,
dan hijau malakit,
lalu menjelma
musim
yang tak dikenali
kalender.
III
Sesudah kanvas
mengering,
cat-cat itu
tetap bernapas.
Mereka merambat
ke dinding,
ke jendela,
ke langit sore,
hingga matahari
belajar
bahwa luka
kadang-kadang
lebih cemerlang
daripada cahaya
yang melahirkannya.
---
THALWEG
untuk Walter Benjamin
I
Portbou.
Petang menggeser
urat-urat pualam
ke lereng Pirenia.
Laut memucat
bagai timah yang didinginkan,
sementara burung-burung camar
menggambar lingkar
di atas azimut
yang mulai kehilangan utara.
Tak ada suara.
Hanya desir
yang berpindah
dari batu
ke batu.
II
Engkau memanggul
sebuah koper kecil—
lebih berat
daripada seluruh pegunungan
yang sedang kaudaki.
Di dalamnya
lembaran-lembaran
mengembunkan abad.
Setiap kalimat
mencari muara.
Setiap gagasan
menolak
menjadi reruntuhan.
Namun perbatasan
selalu lebih fasih
daripada manusia.
III
Ketika malam
menurunkan velumnya,
laut menelan
segala jejak.
Hanya thalweg,
alur terdalam
yang tak tampak,
terus membawa
namamu
ke samudra
yang tak pernah
mengenal
garis negara.
---
CARNELIAN
untuk Nefertiti
I
Akhetaten
menguning
di bawah debu kuarsa.
Kolom-kolom batu
menyimpan gema
yang lebih tua
daripada dinasti.
Fajar
menggosok langit
dengan serbuk carnelian,
hingga matahari
tampak
bagai cakram
yang baru ditempa.
II
Takhta
adalah pasir
yang sedang mengeras.
Mahkota
adalah cahaya
yang sebentar lagi
menjadi debu.
Hanya profilmu
tetap tinggal
di dalam pori-pori
batu gamping,
seperti sungai
yang mengingat
hulu purbanya.
III
Berabad-abad kemudian,
gurun
masih meniupkan
namamu
ke wajah
para pengelana.
Dan setiap senja
patung-patung
menjadi lebih sunyi,
seolah batu
sedang belajar
bagaimana caranya
menjadi ingatan.
---
ALEMBIC
untuk Nikola Tesla
I
Colorado Springs.
Malam menjulang
dengan kubah kobalt.
Petir-petir
bercabang
bagai akar cahaya,
menggali
langit
hingga terdengar
bunyi logam
yang belum
ditemukan manusia.
II
Engkau memungut
kilat-kilat itu,
memasukkannya
ke dalam alembic
imajinasi,
lalu menunggu
hingga listrik
berubah
menjadi mimpi.
Betapa ganjil—
masa depan
selalu lahir
dari tangan
yang dianggap
terlalu sepi.
III
Sesudah laboratorium
menjadi debu,
petir
tetap mengenalimu.
Ia turun
setiap musim hujan,
menyentuh
pepohonan,
menyentuh menara,
menyentuh wajah anak-anak
yang memandang langit
dengan rasa ingin tahu
yang belum selesai.
---
ORRERY
untuk Galileo Galilei
I
Arcetri.
Subuh
mengendapkan embun
di atas dedaunan zaitun.
Langit
berputar
perlahan-lahan,
seperti orrery
yang digerakkan
oleh tangan tak terlihat.
Jauh di ufuk,
Venus
menanggalkan
selubung kabutnya.
II
Teleskop
bukan sekadar tabung.
Ia adalah jembatan
yang dibangun
di antara retina
dan ketakterhinggaan.
Setiap bintang
mematahkan
satu kepastian.
Setiap orbit
menggeser
pusat dunia
setipis
helaan napas.
III
Tatkala malam
menguncup,
konstelasi
tetap bergerak
tanpa meminta
persetujuan
siapa pun.
Dan langit
terus menyalin
lingkarannya sendiri
di atas mata
setiap manusia
yang masih percaya
bahwa cahaya
selalu datang
lebih dahulu
daripada penjelasan.
---
PALIMPSEST MUSIM
I
Musim gugur
tidak pernah benar-benar gugur.
Ia hanya memindahkan
klorofil
ke dalam aksara
yang tak terbaca.
Setiap daun
adalah palimpsest.
Hijau
masih tinggal
di balik oker,
sebagaimana masa silam
selalu bernaung
di bawah nama-nama baru.
II
Kabut
menenun velum
di atas lembah.
Pepohonan
berdiri
bagai menhir
yang sedang melupakan
para pemahatnya.
Tak seekor burung pun
mengucapkan pagi.
Hanya lumut
yang perlahan-lahan
menerjemahkan
bahasa batu.
III
Dan ketika hujan turun,
bumi
membuka
lembaran terdalamnya.
Akar-akar
membaca kembali
huruf-huruf tanah,
sementara angin
menghapus
semua tanda baca
yang pernah
dibuat manusia.
---
GEOMETRI KABUT
I
Kabut
bukan sekadar udara
yang kehilangan arah.
Ia adalah arsitek
yang membangun
katedral-katedral
dari kehampaan,
lalu merobohkannya
sebelum matahari
sempat memberi nama.
II
Di antara pepohonan,
cahaya
bergerak
seperti juru tulis tua
yang menyalin
kitab pagi
ke atas kulit embun.
Tak ada garis lurus.
Segala sesuatu
melengkung
mengikuti
lengkung napas
alam semesta.
III
Ketika siang tiba,
kabut
tidak lenyap.
Ia hanya berpindah
ke dalam ingatan,
menjadi ruang
yang selalu kita rindukan,
meskipun
tak pernah
benar-benar kita masuki.
---
KARTOGRAFI SENYAP
I
Pada suatu malam,
langit
melipat dirinya
menjadi peta.
Bintang-bintang
bergeser
seperti noktah tinta
di atas perkamen.
Tak ada utara.
Tak ada selatan.
Hanya lintasan-lintasan
yang saling mencari.
II
Seorang pengembara
menggambar
cakrawala
dengan ujung jarinya.
Namun laut
selalu mengubah
garis pantai.
Pasir
menghapus
segala koordinat.
Dan ombak
lebih mahir
menggambar dunia
daripada
seluruh kartografer.
III
Barangkali
setiap perjalanan
bukanlah perpindahan,
melainkan
cara bumi
mengajari kaki
bahwa jarak
sesungguhnya
adalah
bahasa
yang belum selesai
dipelajari.
---
ARKHE
I
Sebelum batu
menemukan beratnya,
sebelum embun
mengenal pagi,
dunia hanyalah
segumpal silam
yang mengembara
di antara eon
tanpa nama.
Tak ada ufuk.
Tak ada musim.
Hanya debu kosmik
yang menaburkan
huruf-huruf pertama
ke dalam kehampaan.
II
Lalu granit
mengajari angin
bagaimana caranya diam.
Basalt
menumbuhkan bayang.
Kuarsa
mengumpulkan cahaya
ke dalam urat-urat beningnya.
Segala mineral
diam-diam
menyusun alfabet
yang tak pernah
dibaca manusia.
III
Maka bumi
bukan sekadar tanah.
Ia ialah manuskrip
yang masih basah,
tempat setiap sungai
menyalin
kalimat purba
yang terus diucapkan
oleh batu-batu
dengan aksen
kesenyapan.
---
FILOLOGI ANGIN
I
Angin
tak pernah menulis.
Ia menghapus.
Ia memindahkan
serbuk sari,
garam,
dan bau damar
ke halaman-halaman
yang disebut
cakrawala.
II
Daun-daun
adalah aksara
yang mudah gugur.
Burung-burung
tanda diakritik
yang berpindah
dari langit
ke ranting.
Sedangkan kabut
adalah tinta
yang terlalu lembut
untuk ditampung
oleh kertas.
III
Sesudah senja,
pepohonan
menutup
kitab mereka.
Namun angin
terus membacanya
hingga larut,
dengan suara
yang tak pernah
berhasil
ditirukan
oleh manusia.
---
LITOGRAFI SENJA
I
Senja
menggerus tebing
dengan pahat cahaya.
Sedikit demi sedikit
warna oker
menjadi tembaga.
Tembaga
menjadi arang.
Arang
menjadi malam.
Tak ada perubahan
yang tergesa.
Bahkan gelap
membutuhkan
kesabaran geologi.
II
Di lereng,
lumut
menyalin hujan
ke atas batu.
Seekor siput
membawa rumahnya
melewati
retakan-retakan
andesit,
seakan seluruh dunia
dapat dipikul
oleh seekor makhluk
yang begitu lamban.
III
Tatkala bintang pertama
terbit,
tebing-tebing
masih menyimpan
hangat matahari.
Begitulah ingatan.
Ia selalu tinggal
lebih lama
daripada cahaya
yang melahirkannya.
---
HERBARIUM MALAM
I
Pada lembaran vellum
yang telah menguning,
seorang botanis purba
mengepres kelopak-kelopak senja.
Mawar menjadi oker.
Lavendel menjadi debu.
Melati menjadi bau
yang tak lagi memerlukan bunga.
Hanya waktu
yang tetap hijau
di antara urat-urat daun.
II
Setiap tumbuhan
menyimpan dialeknya sendiri.
Pakis
berbicara dengan lengkung.
Lumut
dengan kesabaran.
Pinus
dengan resin
yang mengeras
menjadi ambar.
Sedangkan angin
hanyalah juru salin
yang tak pernah selesai
mengeja hutan.
III
Ketika malam menutup herbarium,
kelopak-kelopak itu
bangkit perlahan.
Bukan menjadi bunga,
melainkan aroma,
dan aroma
adalah satu-satunya ingatan
yang sanggup
bertahan
lebih lama
daripada warna.
---
ASTROLABE HUJAN
I
Hujan
menggambar lingkaran-lingkaran kecil
di permukaan telaga.
Setiap riak
adalah astrolabe
yang kehilangan
langitnya sendiri.
Awan
menurunkan
selendang timah,
sementara pepohonan
mengangkat ranting-rantingnya
bagai antena
yang mencari
bahasa petir.
II
Tak ada tetes
yang jatuh sia-sia.
Masing-masing
membawa koordinat
dari laut
yang telah lama
melupakan namanya.
Air
selalu pulang,
meski tak pernah
mengulangi jalan
yang sama.
III
Sesudah hujan,
langit
menjadi lebih ringan.
Namun bumi
bertambah tua
oleh berjuta-juta
cerita
yang diserap
ke dalam
akar.
---
BESTIARIUM KABUT
I
Kabut memelihara
hewan-hewan
yang tak pernah
dicatat zoologi.
Seekor rusa
bertanduk embun.
Seekor serigala
bermata lumut.
Seekor bangau
yang sayapnya
terbuat
dari desir alang-alang.
Mereka melintas
tanpa jejak.
II
Fajar
adalah pemburu
yang paling sabar.
Ia tak membawa tombak.
Hanya cahaya.
Dan cahaya
perlahan-lahan
membuat setiap makhluk
kembali
menjadi udara.
III
Tetapi jauh
di dalam hutan,
ketika matahari
telah lelah,
bestiarium itu
dibuka kembali
oleh malam,
halaman demi halaman,
hingga kabut
sekali lagi
mempunyai tubuh.
---
ROMANCE DEL OLIVO
untuk Federico García Lorca
I
Di Fuente Vaqueros,
fajar masih mengasah
warna delima
pada pucuk-pucuk zaitun.
Sungai Genil
mengangkut bayang
ke arah dataran Vega,
sementara burung-burung
menyulam udara
dengan benang-benang
yang tak pernah selesai
dipintal musim.
Tak seorang pun menduga,
bahwa tanah
sedang menyiapkan
sebuah liang
bagi nyanyian.
II
Wahai Federico,
betapa ringkih
leher puisi
di hadapan
baja dan perintah.
Namun siapakah
yang sanggup
menembak gema?
Peluru
hanya mengenal tubuh.
Sedangkan sajak
telah lama
bersembunyi
di dalam daun,
di dalam air,
di dalam mata
anak-anak gipsi
yang mengembara.
III
Kini setiap kali
angin Andalusia
menggoyang dahan zaitun,
langit
mengucapkan namamu
tanpa suara.
Dan bumi
mengangkat
setangkai rumput
sebagai satu-satunya
prasasti
yang tak sanggup
diruntuhkan
abad.
---
CANTE JONDO
untuk Federico García Lorca
I
Malam turun
dengan mantel nila.
Granada
mengeratkan
gerbang-gerbang batunya.
Di kejauhan,
sebuah gitar
memetik sunyi
hingga bulan
berubah
menjadi mangkuk perak
yang dipenuhi
air mata.
II
Barangkali
setiap lagu
memiliki kuburnya sendiri.
Barangkali
setiap metafora
lahir
dari luka
yang terlalu dalam
untuk disebut luka.
Engkau mengetahui itu.
Sebab kata-kata
selalu datang
sesudah darah.
Tak pernah sebelumnya.
III
Maka jangan tanyakan
di mana jasadmu.
Tanyakanlah
di mana suara gitar
berasal.
Karena setiap dawai
yang bergetar
pada malam Andalusia
diam-diam
sedang mengulang
namamu.
---
ELEGÍA DEL LUCERO
untuk Federico García Lorca
I
Subuh
merekahkan
warna safron
di lereng Sierra Nevada.
Kabut
melintasi kebun-kebun delima
bagai selendang tipis
yang lupa
kepada bahu
pemiliknya.
Segalanya
terlihat tenteram.
Hanya tanah
yang mengetahui
betapa mahalnya
harga sebuah pagi.
II
Mereka mengira
maut
berakhir
pada dentum.
Padahal
ia baru bermula
ketika nama
dilarang
diucapkan.
Ketika buku
ditutup.
Ketika lagu
dipatahkan.
Ketika seorang ibu
tak lagi berani
menyanyikan
nina bobo.
III
Namun malam
tak pernah tunduk
kepada larangan.
Ia mengumpulkan
bintang-bintang,
menaruhnya
di atas ladang,
lalu membiarkan
anak-anak
mengira
itu hanyalah
embun.
Padahal
itulah puisi
yang pulang
ke Granada.
---
UMBRA GRANATENSIS
untuk Federico García Lorca
I
Di kaki Sierra Elvira,
fajar menggerus
cinnabar
ke dalam urat-urat langit.
Kebun-kebun zaitun
menegakkan batangnya
bagai stele
yang ditinggalkan
suatu peradaban angin.
Di antara daun-daun
yang bersepuh embun,
bulan
masih menyisakan
sejumput kapur pucat
pada firmamen
yang letih.
Tak seorang pun
mendengar
waktu
sedang menajamkan
bilahnya.
II
Wahai Federico,
barangkali tanah
lebih dahulu
mengenal namamu
daripada manusia.
Ia menyimpannya
di bawah akar,
di bawah serpih pualam,
di bawah urat kuarsa
yang diam-diam
menyalin
setiap denyut
ke dalam eon.
Sementara peluru
hanya mengetahui
cara menembus daging.
Tak pernah
cara menembus gema.
III
Kini,
setiap kali
angin Vega
menuruni lereng,
dedaunan
bergesekan perlahan,
membentuk
alfabet hijau
yang tak sanggup
dibaca sejarah.
Hanya malam
yang masih hafal
bagaimana
mengeja
namamu.
---
PALIMPSEST BULAN
untuk Federico García Lorca
I
Andalusia
memintal senja
dari benang-benang
safron
dan debu alabaster.
Sungai Genil
mengangkut
bayangan cemara
ke arah dataran
yang dipenuhi
amarantus liar.
Di atasnya,
bulan menggantung
bagai segel
yang belum dipecahkan.
II
Setiap penyair
meninggalkan
palimpsest.
Bukan pada kertas.
Melainkan
di udara,
di sela
bau roti hangat,
di lengkung gitar,
di mata
anak-anak gipsi
yang berjalan
mengikuti
bintang petang.
Engkau pun demikian.
Abad
boleh menghapus tinta,
tetapi tidak
bekas goresannya.
III
Maka Granada
tak pernah selesai
menjadi naskah.
Setiap musim semi
angin
membuka lagi
halaman-halamannya.
Dan zaitun
menjatuhkan
buah-buah kecil
bagai noktah
yang sedang
menyempurnakan
sebuah elegi.
---
SIDERA
untuk Federico García Lorca
I
Malam
membentangkan
velarium nila
di atas lembah-lembah
Andalusia.
Konstelasi
berlayar perlahan,
membawa
debu-debu sidera
ke pucuk
pepohonan zaitun.
Tak seekor burung
berani
mengusik
hening itu.
II
Hanya gitar
yang masih menyimpan
urat kayu
tempat musim-musim
pernah berdiam.
Ketika jemari
menyentuh dawainya,
terdengar
sesuatu
yang lebih tua
daripada nyanyian,
lebih purba
daripada ratapan,
seakan bumi
sedang mengingat
bahasa pertamanya.
III
Dan ketika fajar
mengelupaskan
warna nila
dari langit,
tak ada
yang benar-benar hilang.
Sebab puisi
tidak tinggal
di dalam buku.
Ia berdiam
di dalam debu,
di dalam angin,
di dalam zaitun,
dan di dalam
cahaya pertama
yang menyentuh
Granada
setelah malam
menutup
kelopak abad.
---
GLOSA ORFIK
untuk Federico García Lorca
I
Granada.
Sebelum fajar
menatah cinnabar
ke dahi Sierra Nevada,
seekor burung hudhud
mengibaskan
abjad-abjad embun
dari pucuk zaitun.
Di bawah firmamen
yang berurat pualam,
angin
membuka palimpsest
musim-musim purba,
tempat setiap leksem
masih berpendar
sebagai batu,
setiap morfem
masih berdesir
sebagai mata air,
dan bahasa
belum dipisahkan
dari akar rerumputan.
Tak seorang pun mengetahui,
bahwa pagi itu
etimon sedang berkabung.
---
II
Wahai Federico,
engkau tidak dibunuh
oleh timah.
Engkau dibatalkan
oleh sintaksis
ketakutan.
Mereka mengubah
subjek
menjadi sasaran,
predikat
menjadi perintah,
dan jeda
menjadi kuburan
bagi segala metafora.
Namun semiosis
lebih panjang
daripada usia peluru.
Sebab setiap fonem
yang pernah kautanam
di lereng Andalusia
berkecambah
menjadi burung,
menjadi delima,
menjadi gitar,
menjadi angin
yang tak mengenal
imperatif.
---
III
Pada malam-malam tertentu,
Orfeus
masih menuruni
lorong-lorong abisal
bukan untuk mencari
Euridike,
melainkan
mencari sebuah vokal
yang tercecer
di tanah Granada.
Hermes
mengangkat
huruf-huruf Yunani
yang retak,
sementara Mnemosyne
mencuci
konsonan-konsonan
dengan embun
agar ingatan
tidak membatu.
Di kejauhan,
para Moirai
memintal
benang-benang kalimat
ke dalam gelendong eon,
tetapi gunting mereka
tak pernah mencapai
akar sebuah puisi.
---
IV
Maka sejak itu,
setiap kali
seorang anak
belajar mengeja,
alef,
alpha,
alif,
A—
huruf pertama itu
selalu membawa
debu Vega,
aroma zaitun,
dan desir Genil,
seakan seluruh alfabet
masih menyembunyikan
sepotong suara
yang dahulu
berjalan
bersama Federico,
lalu menjelma
burung tanpa bayang,
gitar tanpa pemain,
dan langit
yang tak pernah selesai
diterjemahkan.
---
ETYMON BAGI ORFEUS
untuk Federico García Lorca
I
Sebelum Granada
mewarisi debu besinya,
sebelum Genil
menghafal warna timah,
para Nereid
masih membasuh
vokal-vokal purba
di muara air.
Konon,
setiap huruf
bermula sebagai burung,
setiap diftong
adalah sepasang sayap,
dan setiap jeda
ialah lembah
tempat gema
menyimpan asal-usulnya.
Pada waktu itu,
bahasa
belum mengenal
kematian.
Ia hanya mengenal
perubahan bunyi.
---
II
Lalu engkau datang,
membawa gitar
yang dipahat
dari batang zaitun
dan senyap.
Engkau tidak memainkan lagu.
Engkau menguraikan
morfologi angin.
Kauperlihatkan
bahwa akar kata
serupa akar pohon—
semakin dalam
menyusup ke bumi,
semakin tinggi
daunnya
menggapai firmamen.
Tetapi para pemburu
selalu takut
kepada akar
yang tak sanggup
mereka cabut.
---
III
Ketika peluru
memecahkan udara,
fonem-fonem
berhamburan
bagai burung layang-layang
yang kehilangan musim.
Hermes,
pengembara alfabet,
memunguti
setiap konsonan
yang retak,
sementara Orfeus
mengikat
huruf-huruf itu
ke leher liranya,
agar dunia
tetap mempunyai
satu nyanyian
yang tak dapat
dibinasakan
oleh logam.
---
IV
Dan kini,
setiap kali
angin Andalusia
menggeser
bayang zaitun,
orang-orang mengira
itu hanya
daun-daun
yang saling bersentuhan.
Padahal
itulah etimon
yang sedang
mencari
mulut baru
untuk mengucapkan
Federico.
---
Mnemosyne
menyalin malam
ke atas perkamen.
Tak satu pun
aksara itu
diperuntukkan
bagi raja.
II
Pada telapak tanganmu,
delima
menjadi nomina,
darah
menjadi verba,
bulan
menjadi afiks
yang menempel
pada seluruh
kesunyian.
Dan tata bahasa
berubah
menjadi hutan belantara.
---
III
Di bawah akar zaitun,
para Moirai
tidak lagi
memintal benang.
Mereka memintal
kalimat.
Clotho
memintal
fonologi.
Lachesis
mengukur
prosodi.
Atropos
menggunting
diam.
Tetapi yang terputus
hanyalah napas.
Bukan makna.
---
IV
Sebab makna
selalu menemukan
jalan pulang.
Ia merembes
melalui pori batu,
melalui urat kayu,
melalui embun,
hingga suatu pagi
Granada terbangun
dan mendengar
seluruh pepohonan
mengucapkan
sebuah nama
tanpa lidah.
---
MISERERE
untuk Ophelia
I
Avon—
atau barangkali
bukan lagi sungai,
melainkan
vena semesta
yang dialiri
air sebelum air
mengenal dirinya.
Di tepian itu
gelagah
melafalkan psalmus
dengan fonem-fonem
yang bahkan
para malaikat
telah lupa
asal-usulnya.
Ophelia,
engkau menanggalkan
namamu
seperti para rahib
menanggalkan dunia
di ambang kenosis.
II
Tubuhmu
tidak tenggelam.
Yang tenggelam
adalah gramatika
yang selama ini
memungkinkan manusia
membedakan
napas
dan keabadian.
Ikan-ikan
menggembalakan
vokal-vokal purba.
Ganggang
menyalin Injil air
ke atas tulang cahaya.
Sedangkan bulan
mengatupkan
kelopak peraknya
agar tak menyaksikan
sakramen
yang terlalu abisal.
III
Sejak petang itu
setiap cermin
adalah liang.
Setiap embun
adalah relik.
Setiap perempuan
yang menundukkan wajah
ke permukaan air
diam-diam
sedang membaca
epitafmu
yang ditulis
bukan dengan tinta,
melainkan
dengan aksara
yang mendahului
Firman.
---
DE PROFUNDIS
untuk Lady Macbeth
I
Malam
menggantungkan
cenotaph kabut
di atas Inverness.
Lonceng-lonceng
berbunyi
tanpa logam.
Mazmur dilantunkan
oleh lumut,
sedangkan dinding-dinding
mengeluarkan
bau kapur kubur
dan damar purba.
Di telapak tanganmu
mahkota
telah berubah
menjadi stigma.
II
Betapa fana
air.
Ia membasuh darah,
namun gagal
menghapus metafisika
yang mengendap
di bawah kuku jiwa.
Maka engkau
menggosok tanganmu
hingga kulit
menjadi litani,
hingga tulang
menjadi rosario,
hingga tidur
menolak
menjadi belas kasih.
Tetapi noda itu—
bukan merah.
Ia lebih tua
daripada warna.
Ia adalah
substansi malam
yang tertinggal
setelah Tuhan
menarik cahaya-Nya.
III
Kini lorong-lorong istana
dipenuhi
somnambulisme para arwah.
Setiap cermin
menolak
memantulkan wajah.
Sebab bayanganmu
telah lebih dahulu
menjadi penghuni
segala pantulan.
Dan waktu
masih mencuci
telapak tanganmu
dengan sungai
yang hulunya
tak pernah
diciptakan.
---
TENEBRAE
untuk Medea
I
Sebelum subuh
menyarungkan jelaga
ke wajah cakrawala,
Kolkhis telah menjadi
palimpsest
yang ditulisi berkali-kali
oleh aksara khtonik
dan darah para argonaut.
Di serambi senjakala,
Medea menumbuk
herba-herba arkana
ke dalam lesung obsidian,
sementara bulan
mengulum dirinya sendiri
bagai hosti
yang dibatalkan liturginya.
Tak seekor burung pun
berani mengeja fajar.
Sebab bahkan cahaya
takut
kepada nama
yang telah disucikan
oleh murka.
II
Apakah dosa
selalu lahir
dari tangan?
Ataukah ia bermula
jauh sebelumnya—
ketika para dewa
mengubah kasih
menjadi takdir
dan rahim
menjadi altar kurban?
Malam membuka
kitab nefand.
Di sana
setiap huruf
dibuat
dari sumsum bayi
dan abu nubuat.
Angin membaca
halaman demi halaman,
namun tak sanggup
mengucapkan
amin.
III
Kini bumi
menyimpanmu
bukan sebagai perempuan,
melainkan
sebagai retakan
di dalam ontologi kasih.
Dan setiap ibu
yang bermimpi
tentang sungai hitam,
sesungguhnya sedang
menyeberangi
umbra
yang dahulu
engkau tinggalkan
di balik wajah
seluruh dunia.
---
DIES IRAE
untuk Hypatia
I
Alexandria
terbangun
dalam bau perkamen,
kapur,
dan laut.
Di perpustakaan langit,
bintang-bintang
masih mengeja
teorema
dengan aksara cahaya.
Engkau berjalan
membawa kompas
seperti seorang imam
membawa sakramen.
II
Tetapi kebencian
selalu takut
kepada pikiran
yang bening.
Mereka merobek tubuhmu
sebagaimana api
merobek halaman-halaman
yang enggan
menjadi dogma.
Debu-debu kapur
bercampur darah,
lalu berubah
menjadi alfabet
yang tak sanggup
dibakar zaman.
III
Kini setiap perpustakaan
menyimpan
sedikit napasmu.
Setiap buku
yang dibuka
adalah lilin kecil
di atas makam
akal budi.
Dan setiap pertanyaan
yang diucapkan
tanpa rasa takut
sesungguhnya sedang
membangkitkan
Hypatia
untuk kesekian kalinya.
---
Gunung Sipylus
menyimpan
ratapan batu.
Langit pun
enggan menyebut
namamu
terlalu keras.
Airnya
tak deras,
tak pula keruh—
melainkan setetes demi setetes
litani
yang dijatuhkan waktu
ke pangkuan bumi.
---
Di pantai itu,
laut menyalakan
seribu mazmur garam
bagi seorang perempuan
yang belajar
bahwa penantian
adalah liturgi
yang paling suci.
Angin membuka rambutmu
seperti gulungan papirus
yang tak pernah selesai
ditafsirkan matahari.
Ia adalah tata bahasa
yang diam-diam
menuntun manusia
keluar dari labirin dirinya.
Maka ombak
menghapus telapak kaki
lebih tekun
daripada sejarah
menghapus perempuan.
---
Malam menggantungkan
obor-obornya di dahi kota.
Undang-undang
berjalan dengan pedang,
sedangkan kasih
hanya membawa
segenggam debu
dan nama seorang saudara.
Tak ada hakim
yang mampu mengadili
air mata
yang berasal
dari rahim bumi.
Tanah menerima
setiap butir air matamu
sebagai doa
yang tak memerlukan imam.
Kini gua
tempat engkau berbaring
telah berubah
menjadi kapel kecil
bagi semua mereka
yang memilih nurani
daripada mahkota.
---
DIES IRAE
Tak seorang pun sudi
mereguk nubuat
yang berbau kutuk.
---
Gema adalah satu-satunya nabi
yang tak pernah berdusta.
Orpheus membawa kecapi
terus memetik
abjad-abjad sunyi
seperti seorang rahib
membawa lilin
ke dalam perut malam
yang belum selesai diciptakan.
Bahkan batu-batu
menanggalkan kekerasannya
demi mendengar sebuah lagu
yang lebih tua daripada kesedihan.
Seluruh semesta
berubah menjadi koma
yang menggantung
di ujung kalimat kehancuran.
Komentar
Posting Komentar