KUTAI KARTANEGARA


KATA PENGANTAR


Usaha pelestarian sastra daerah perlu dilakukan karena di dalam sastra daerah terkandung warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang sangat tinggi nilainya. Upaya pelestarian itu bukan hanya akan memperluas wawasan kita terhadap sastra dan budaya masyarakat daerah yang ber­sangkutan, melainkan juga akan memperkaya khazanah sastra dan budaya Indonesia. Dengan kata lain, upaya yang dilakukan itu dapat dipandang sebagai dialog antarbudaya dan antardaerah yang memungkinkan sastra daerah berfungsi sebagai salah satu alat bantu dalam usaha mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan.

Sehubungan dengan itu, sangat tepat kiranya usaha Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta dalam menerbitkan buku sastra anak-anak yang bersumber pada sastra daerah. Cerita yang dapat membangkitkan kreativitas atau yang mengandung nilai, jiwa, dan semangat kepahlawanan perlu dibaca dan diketahui secara meluas oleh anak-anak agar mereka dapat menjadikannya sebagai sesuatu yang patut diteladani.

Buku Kutai Kartanegara ini bersumber pada terbitan Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan judul Silsilah Kutai Kartanegara yang dikarang oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai dalam bahasa Melayu Kutai.

Kepada Drs. Farid Hadi, Pemimpin Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta tahun 1994/1995, beserta stafnya (Drs. Sriyanto, Sdr. Ciptodigiyarto, Sdr. Sujatmo, Sdr. Endang Bachtiar, dan Sdr. Sunarto Rudy) saya ucapkan terima kasih atas usaha dan jerih payah mereka dalam menyiapkan naskah buku ini. Ucapan terima kasih saya tujukan kepada Drs. Syamsarul sebagai penyunting dan Sdr. Saifur R. sebagai ilustrator buku ini.

Mudah-mudahan buku ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pembaca yang memerlukannya.

Jakarta, Januari 1995

Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa




Dr. Hasan Alwi

•••










1.
AJI BATARA


Fajar mulai memancarkan semburat merahnya di langit timur. Dingin masih terasa mengusap-usap tubuh. Di langit burung-burung sesekali terbang melintas. Beberapa ayam jantan berkokok bersahut-sahutan dengan nyaringnya membangunkan orang-orang yang masih tidur. Sementara itu, embun pagi belum menghilang dari dedaunan.

Dusun masih sepi sepagi itu. Seorang lelaki setengah baya duduk termenung di depan kopinya. Sambil mengisap dalam-dalam rokoknya pikirannya menerawang jauh. Ditatapnya langit yang mulai membiru. Perasaannya diselimuti sepi. Kesepian yang setia menemaninya belasan tahun, atau barangkali puluhan tahun—lelaki itu telah bosan menghitung tahun-tahun yang berlalu begitu saja.

Sambil perlahan-lahan menghirup kopinya lelaki itu membayangkan perkawinannya yang telah berjalan demikian lama. Selama bertahun-tahun istrinya dengan setia mendampinginya. Pahit getir kehidupan mereka tempuh berdua dengan tabah. Istrinya tak pernah cemberut menghadapi kepahitan hidup. Kegetiran hidup yang datang menimpanya tak pernah memudarkan cahaya matanya yang senantiasa bersinar. Wanita itu tak pernah surut berhadapan dengan situasi apa pun.

Lelaki itu tersenyum seorang diri membayangkan istrinya yang cantik, setia, dan tabah menghadapi hidup. Diembuskannya asap rokok dari mulut dan hidungnya, dan diusap-usapnya rambutnya yang memutih sebagian. Terasa ada yang belum kesampaian dalam hidupnya, terasa ada sesuatu yang ditunggu-tunggunya begitu lama.

Tengah lelaki itu melamun, tiba-tiba di depannya melintas sekelompok anak-anak. Anak-anak itu berkumpul di suatu tempat dan di sana mereka dengan muka ceria mulai bermain gundu. Sesekali terdengar tawa lepas anak-anak itu. Hati lelaki itu menjadi ciut mendengar suara riuh anak-anak yang sedang bermain gundu itu. Harapan yang sekian lama belum juga kesampaian, keluhnya dalam hati sambil matanya nanar memandangi anak-anak yang tengah bermain di ujung jalan.

Dengan mata nanar seorang lelaki setengah baya memandangi sekelompok anak-anak yang tengah bermain gundu.


"Hai, Abang! Melamun melulu kerja Abang!" sapa istrinya tiba-tiba. Lelaki itu terkejut karena tak menyangka istrinya telah berada di hadapannya.

"Bagaimana? Sarapan sudah siap?" tanya lelaki itu kepada istrinya.

"Sarapan telah siap dari tadi," kata istrinya. "Sedari tadi aku menunggu-nunggu Abang untuk sarapan bersama. Akan tetapi, Abang tak juga kunjung tampak. Tidak tahunya Abang sedang melamun di sini. Apa saja yang Abang lamunkan?"

"Anak-anak itu," kata lelaki itu, "mereka sehat-sehat, ceria, dan penuh harapan. Rasanya aku sayang sekali kepada anak-anak itu. Aku suka mendengar tawa mereka, aku suka mendengar canda mereka, aku suka mendengar mereka menjerit-jerit. Akan tetapi, mereka bukan milik kita."

"Ab, Abang! Bersabarlah, Abang! Suatu saat kita juga akan memilikinya. Aku akan menimang-nimang seorang bayi yang sehat, cerdas, lincah, dan cahaya matanya bening.”

"Belum ada tanda-tanda kau hamil. Kita telah menunggu demikian lama, belasan atau barangkali puluhan tahun hingga rambutku memutih, tetapi belum juga datang isyarat bahwa kita akan memiliki anak."

"Sabar, Bang! Bukankah kita telah memberikan sesajian, menuang arak, membakar dupa untuk para dewa yang berkuasa? Saatnya nanti pasti akan tiba. Sekarang lupakan saja anak-anak yang tengah bermain di ujung jalan itu. Nasi telah dingin, dan tentunya Abang pun telah lapar," kata perempuan itu sambil menggandeng suaminya ke dalam rumah.

Dengan penuh sayang perempuan itu meladeni suaminya. Rasa gamang yang melanda hati suaminya diredamnya dengan penuh kesabaran. Disiramkannya harapan demi harapan ke lubuk hati suaminya. Lama-kelamaan lelaki setengah baya itu berhasil menyingkirkan rasa gundah dari hatinya. Senyumnya mulai mekar. Wibawanya sebagai seorang petinggi di negeri Jaitan Layar mulai bangkit. Harapan akan kehadiran seorang anak dalam perkawinannya tidak lagi mengganggu pikirannya.

Rumah petinggi negeri Jaitan Layar itu dikelilingi kebun tebu, pisang, dan ubi-ubian. Berkebun, membersihkan ladang adalah pekerjaan sehari-hari petinggi negeri Jaitan Layar. Ketuaan yang mulai menghinggapi tubuhnya tidak begitu dirasakannya lagi. Dengan mengolah ladang dan kebun miliknya, lelaki setengah baya itu merasakan gairah dan semangat hidup yang mengalir dalam dirinya. Sementara rambutnya memutih, tubuh lelaki itu tetap kekar, sorot matanya masih tajam, gerak tubuhnya masih gesit, dan napasnya masih seperti napas pemuda belasan tahun. Pekerjaan seberat apa pun ia lakukan tanpa mengeluh, tanpa mengenal rasa lelah.

Hari-hari berlalu. Buah pisang menguning sebagian. Kelelawar yang beterbangan malam hari mulai rajin mengincar buah-buahan lain yang mulai meranum di kebun petinggi negeri Jaitan Layar itu. Sebagian buah itu, yang matang dan tak sempat dipetik, rontok ke tanah. Petinggi negeri Jaitan Layar berdua dengan istrinya kadang-kadang memunguti buah-buahan yang berjatuhan ke tanah.

Malam hari sunyi senyap merambati negeri Jaitan Layar. Tidak lagi terdengar suara manusia. Suara serangga berbaur dengan suara air sungai yang mengalir menggelayuti malam yang dingin. Mimpi mulai merasuki sebagian orang yang tidur pulas. Tiba-tiba petinggi negeri Jaitan Layar mendengar suara hiruk-pikuk di udara. Diikuti istrinya ia membuka pintu untuk mengetahui peristiwa yang terjadi. Begitu pintu terbuka, mendadak menyambar suara yang amat bergelegar seperti tembakan meriam raksasa diikuti cahaya yang amat terang benderang seperti bulan sedang purnama. Petinggi negeri Jaitan Layar terkesiap melihat peristiwa yang dahsyat itu. Akan tetapi, ia tegak berdiri berdua dengan istrinya. Beberapa saat kemudian petinggi negeri Jaitan Layar itu mendengar suara batu yang jatuh dari langit. Dengan rasa penasaran dihampirinya tempat batu itu jatuh.

Di tengah malam buta tiba-tiba jatuh batu berpijar dari langit. Cahayanya terang benderang seperti bulan empat belas hari.


Batu yang jatuh dari langit itu ternyata bernyala-nyala, warnanya merah membara, dan panasnya menyambar-nyambar ke sekitarnya. Petinggi negeri Jaitan Layar bergerak hendak mundur, tetapi tiba-tiba terdengar suara dari langit, "Wahai, manusia! Jangan kau takut! Telah kami kabulkan yang kau pinta selama ini. Dekatilah batu di depanmu. Panasnya akan surut begitu engkau mendekat."

Petinggi negeri Jaitan Layar segera berlutut menyembah karena diyakininya suara dari langit itu suara dewa. Setelah menyembah, ia mendekat ke batu berpijar itu. Batu pijar itu tidak lagi memancarkan panas, dan semakin didekati petinggi Jaitan Layar pancaran baranya semakin redup. Begitu petinggi Jaitan Layar, tepat berada di depan batu itu, tiba-tiba batu itu terbelah menjadi dua dan di dalamnya tampak seorang bayi mungil. Bayi itu berIampin kuning, tangan kirinya memegang telur, dan tangan kanannya memegang keris yang terbuat dari emas.

Rasa syukur dan rasa kaget berbaur dalam diri petinggi Jaitan Layar. Yang diidam-idamkannya sekian lama akhirnya menjadi kenyataan. Seorang bayi mungil yang sehat telah berada di depan matanya. Sebagai rasa syukurnya yang dalam karena permohonannya telah dikabulkan para dewa, petinggi Jaitan Layar itu berlutut menyembah para dewa. Tengah ia menyembah para dewa itu, di hadapannya telah berdiri tujuh dewa. Salah seorang dewa itu berkata, "Kesabaranmu dalam memohon anak telah meluluhkan hati kami bertujuh. Oleh karena itu, malam ini kami berkenan memberimu seorang bayi yang sehat, kuat, dan di kemudian hari akan menjadi salah seorang pemimpin di kawasan ini. Jangan kau remehkan anakmu ini karena ia adalah putra Batara Kedang Dewa Wijiling Tapa Ramping."

"Hamba sekali-sekali tidak akan meremehkan anak karunia para dewa yang aku hormati dan muliakan," kata petinggi Jaitan Layar dengan takzimnya.

"Satu hal lagi yang perlu kau perhatikan," kata dewa melanjutkan wejangannya. "Selama empat puluh hari empat puluh malam jangan sekali-sekali kau baringkan bayi ini di atas tikar. Sebaiknya kau kumpulkan para kerabatmu untuk mengasuh dan memangku bayi ini selama empat puluh hari empat puluh malam secara bergantian."

"Semua permintaan dewa akan hamba laksanakan dengan sebaik-baiknya," kata petinggi Jaitan Layar dengan penuh hormat.

"Enak saja engkau mengomong!" kata dewa dengan berang. "Yang kami katakan kepadamu itu tadi bukan permintaan, tetapi perintah yang wajib kau laksanakan. Masa ada dewa mengajukan permintaan kepada manusia? Dewa itu martabatnya tinggi, pantang mengemis atau meminta-minta. Tahu?"

"Maaf, maaf," kata petinggi Jaitan Layar ketakutan. "Hamba tadi salah ucap. Ampuni semua kesalahan hamba yang tidak sengaja itu."

"Sekali ini kami ampuni," kata dewa. "Akan tetapi, apabila kau salah mengomong lagi, bayi ini akan kami tarik kembali ke kahyangan. Oleh sebab itu, kalau sedang mengomong dengan dewa, gunakan otakmu!"

"Ya, ya," kata petinggi Jaitan Layar terbata-bata. "Hamba mengerti dan mengakui semua kesalahan hamba pada para dewa yang terhormat."

"Sekarang dengarkan baik-baik!" kata dewa melanjutkan amanatnya." Jika kau ingin memandikan anakmu itu, hendaknya kau endapkan dulu air mandinya sehari semalam. Sudah itu baru kau pakai untuk memandikan anakmu. Jika anakmu sudah cukup besar, jangan sekali-kali kau pijakkan anakmu itu ke tanah sebelum engkau menjalankan syarat yang kami wajibkan ini. Kau wajib memijakkan anakmu di atas kepala orang hidup, kepala orang mati, kepala kerbau hidup, dan kepala kerbau mati. Setelah itu, baru engkau boleh memijakkan anak kesayanganmu ke atas tanah."

"Semua amanat dewa akan hamba laksanakan dengan sebaik-baiknya," kata petinggi Jaitan Layar.

"Semua yang kami amanatkan tadi wajib kau laksanakan. Artinya, engkau tak boleh mengurangi atau melebihkan dari yang kami amanatkan. Ingat, anakmu itu anak dewa, yang kelak akan menjadi putra mahkota," kata dewa mengakhiri amanatnya. Selesai menyampaikan amanatnya, tujuh dewa itu tiba-tiba lenyap dari pandangan mata, hilang ditelan langit.

Petinggi negeri Jaitan Layar gembira bukan kepalang. Yang ditunggu-tunggunya hingga rambutnya memutih akhirnya kesampaian juga. Dengan senyuman yang mekar di bibirnya diusap-usapnya rambutnya yang telah dipenuhi wama putih. Lalu, dengan langkah ringan ia bergegas menuju rumah sambil membopong bayi. Di pintu rumah istrinya telah menyambut dengan senyum bahagia. Anak adalah buah cinta, kata mereka berdua dalam hati hampir bersamaan.

Dengan penuh sayang istri petinggi negeri Jaitan Layar menimang-nimang bayi yang baru diperolehnya dari para dewa. Diusap-usapnya dengan lembut kening bayi itu. Tiba-tiba bayi yang masih berwarna kemerahan itu menangis ingin menetek. Istri petinggi Jaitan Layar kebingungan karena payudaranya tidak mengeluarkan air susu. Ia pun membakar dupa setanggi dan menabur beras memohon air susu kepada Dewa Batara. Katanya, "Jika aku sungguh diberi anak, aku memohon agar aku juga diberi air susu untuk meneteki anakku ini."

Sehabis berkata demikian, tiba-tiba perempuan itu mendengar suara, "Permohonanmu kami kabulkan. Tetekilah anakmu agar ia tumbuh sehat dan kuat. Usaplah payudaramu, kiri dan kanan, masing-masing tiga kali. Setelah kau usap, payudaramu akan berisi air susu."

Perempuan itu melaksanakan pesan dewa. Diusapnya payudaranya, kiri dan kanan, masing-masing tiga kali. Setelah perempuan itu mengusap-usap payudaranya, keluarlah air susu dari payudaranya. Air susu yang keluar dari payudara perempuan itu memancarkan keharuman bunga kasturi.

Sukacitalah hati perempuan itu. Ditetekinya bayinya dengan penuh sayang. Dibelai-belainya kepala bayi itu.

"Bayi ini akan tumbuh menjadi seorang laki-laki yang perkasa, yang tak ada tandingnya," kata petinggi Jaitan Layar di samping istrinya.

"Abang, bayi yang tampan ini kita beri nama siapa?" tanya istrinya.

Lelaki itu termenung sejenak karena ia belum siap memberi nama anaknya. Setelah berpikir beberapa saat, ia pun berkata, "Karena anak ini anak pemberian dewa, anak ini sepantasnya bernama Aji Batara Agung Dewa Sakti. Mudah-mudahan di kemudian hari anak ini memancarkan sifat-sifat dewa."

"Nama yang bagus," kata istrinya sambil tersenyum bahagia.

•••










2.
PUTRI KARANG MELINU


Kegelapan malam mulai menggelayuti negeri Hulu Dusun. Kunang-kunang, mulai beterbangan menyinari kegelapan malam. Segerombol kunang-kunang membentuk cahaya lilin. Sekelompok serangga malam tak mau kalah dengan kunang-kunang. Melalui suaranya yang mendesir-desir, mereka menunjukkan kehadiran diri mereka.

Seorang perempuan tua merapatkan selimutnya ke tubuhnya. Angin malam yang dingin mulai menyapa perempuan itu. Dengan menahan dingin perempuan itu melangkah ke arah api unggun di halaman belakang. Ia mencoba menghangatkan badannya dengan mendekatkan diri ke kobaran api unggun.

Malam semakin sunyi. Rasa gelisah mulai merambati diri perempuan itu. Dingin malam telah menyergap tulang-tulang tubuhnya. Lelaki yang ditunggu-tunggunya tidak juga kunjung datang. Tiap terdengar lolong anjing di kejauhan dilongoknya pintu. Siapa tahu suaminya datang dan mengetuk pintu perlahan karena mengira dirinya telah tertidur.

Rasa gelisah makin membelit hati perempuan itu. Sedari pagi suaminya telah meninggalkan rumah untuk mencari kayu bakar ke hutan. Tiba-tiba perempuan itu membayangkan yang bukan-bukan. Siapa tahu seekor harimau yang kelaparan memangsa suaminya. Dibayangkannya seekor harimau yang kelaparan sedang menyantap tubuh suaminya.

Tidak ada tanda-tanda ada manusia yang lewat di sekitar rumah yang dihuni perempuan itu. Hanya terdengar suara serangga, desir angin, gemeresik dedaunan diterpa angin, dan suara aliran sungai di kejauhan. Perempuan itu tiba-tiba bergidik.  Siapa tahu tiba-tiba datang hantu bertamu ke rumahnya. Tanpa sadar dipejamkannya matanya. Ia mencoba melupakan sekitarnya.

Ketika perempuan itu memejamkan matanya, mendadak datang petir dengan suara menggelegar. Seketika langit terang benderang. Sesaat hari bagaikan siang. Segala sesuatunya tampak jelas di mata perempuan itu. Belum hilang rasa kaget perempuan itu, tiba-tiba di depannya telah berdiri sesosok tubuh tinggi besar. Hantukah itu? bisik hati perempuan itu penuh takut.

Di tengah malam buta seorang perempuan yang rambutnya dipenuhi uban tengah berhadapan dan berbincang-bincang dengan dewa yang datang menemuinya.

"Jangan kau takut!" kata sosok tubuh tinggi besar itu menyapanya.

"Siapa engkau yang bertamu kemari semalam ini?" tanya perempuan itu dengan suara bergetar ketakutan.

"Jangan kau takut!" kata sosok tubuh yang berdiri di hadapan perempuan itu dengan suara berat berwibawa. "Aku ini dewa yang kau tunggu-tunggu siang malam. Akan tetapi, begitu aku datang, engkau malah ketakutan. Manusia macam apa engkau ini? Bukannya senang didatangi dewa, malah ketakutan. Ingat, jadwal dewa-dewa di kahyangan sangat padat, tidak bisa mengunjungi manusia di bumi sembarang waktu. Jadi, mestinya kau bersyukur dengan kedatanganku ini.”

"Ampun, Dewa yang hamba muliakan. Hamba sama sekali tidak mengira kalau yang datang selarut ini dewa yang aku tunggu. Habis, dewa datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu."

"Engkau ini!" kata dewa dengan muka agak bersungut. "Memangnya aku ini kau anggap apa? Masa dewa datang ke sini minta permisi segala. Kata permisi hanya untuk manusia—itu pun manusia yang tahu diri—bukan untuk dewa. Tahu?"

"Ampun, dewa. Hamba salah tingkah. Habis, hamba kagok berhadapan dengan dewa untuk pertama kali dalam hidup hamba," kata perempuan itu agak terbata-bata.

"Ya, ya. Aku maklum dengan keadaanmu. Sekarang, langsung saja aku katakan padamu. Begini, kira-kira seminggu yang lalu tujuh dewa telah membentuk Dewan Pertimbangan Permohonan Manusia. Sesuai dengan namanya, dewan ini bertugas mempertimbangkan semua permohonan manusia dalam bentuk apa pun yang masuk ke kahyangan. Semua permohonan yang masuk kahyangan itu disortir dalam suatu proses administratif. Artinya, semua permohonan yang masuk itu harus memiliki kelengkapan administratif, seperti harus ada tanda tangan lurah, surat kelakuan baik dari pihak yang berwajib, dan seterusnya. Kebetulan sekali permohonanmu itu telah dilengkapi dengan syarat-syarat administratif tersebut. Akan tetapi, engkau jangan marah atau kecewa apabila engkau harus antre dan menunggu demikian lama—belasan tahun—sampai rambutmu penuh uban. Engkau harus maklum bahwa manusia di bumi seabrek, jutaan orang, sementara dewa di kahyangan jumlahnya hanya segelintir saja. Dewa yang segelintir itu harus memerhatikan permohonan manusia yang seabrek. Padahal, engkau mengetahui bahwa manusia itu paling rajin memohon kepada dewa di kahyangan. Mereka minta apa saja dalam permohonan mereka, yang mereka ajukan tanpa kenal waktu: siang, malam, bahkan tengah malam buta. Manusia selalu saja minta ini dan itu, dari minta anak, minta jodoh, minta kawin lagi, sampai minta penangkal santet. Bayangkan! Apa dewa tidak pusing dengan permintaan itu? Engkau barangkali perlu mengetahui pula saat aku berbicara bahwa sekarang ini di kahyangan belum dikenal komputer. Apa dewa tidak mabuk menghadapi semua tetek bengek yang disampaikan ke kahyangan? Lagi pula, dewa dilarang keras mengeluh. Jadi, manusia enak banget. Manusia boleh mengeluh setiap saat, di mana saja, kepada siapa saja. Manusia juga boleh minum obat pusing kalau pusing, sedangkan dewa, tidak. Begitu dewa ketahuan minum obat pusing—walaupun dewa sedang pusing tujuh keliling—dewa tersebut langsung digusur dari kahyangan dan dicampakkan ke bumi, berbaur dengan manusia yang pengeluh.”

"Enak saja manusia dikatakan pengeluh," kata perempuan itu dalam hati. "Lagi pula, dewa yang satu ini mengoceh panjang lebar. Dia pikir kupingku tidak capai mendengar ocehannya? Atau, barangkali dia sedang mabuk karena kebanyakan sesajian?"

Perempuan itu hanya berani mengeluh dalam hati. Ia tidak berani mengungkapkannya kepada dewa. Lagi pula, ia masih memiliki rasa segan dan hormat terhadap dewa yang mendatanginya malam-malam.

Tujuh dewa yang tergabung dalam Dewan Pertimbangan Permohonan Manusia mengadakan sidang paripurna untuk membahas semua permohonan yang masuk ke kahyangan.

Dewa seakan-akan mengetahui apa yang berkecamuk dalam hati perempuan yang berdiri di hadapannya. Setelah menghela napas sejenak, dewa pun melanjutkan perkataannya, "Dalam. tempo tiga hari tiga malam akan terjadi sesuatu yang luar biasa pada dirimu. Tiga hari yang lalu tujuh dewa yang tergabung dalam Dewan Pertimbangan Permohonan Manusia telah berkenan mengadakan sidang paripurna. Semua permohonan yang masuk dibahas semuanya dalam sidang itu. Permohonanmu kebetulan berada di nomor urut 989796. Akan tetapi, para dewa yang berkenan bersidang secara maraton akhirnya sempat juga menangani surat permohonanmu. Aku selaku sekretaris dewan datang kemari untuk menyampaikan hasil sidang itu."

"Bagaimana hasil sidang itu?" tanya perempuan itu penasaran.

"Tadi sudah aku katakan," kata dewa yang menjabat Sekretaris Dewan Pertimbangan Permohonan Manusia. "Maka dari itu, kalau ada dewa berbicara, pasang kupingmu baik-baik. Masa omongan dewa kau anggap ocehan penjual jamu."

Mendengar perkataan dewa yang agak sewot, perempuan itu agak ciut juga hatinya. Dengan tergagap ia berkata, "Ampun, dewa! Hamba agak mengantuk ketika dewa berkata-kata tadi. Lagi pula, pikiran hamba agak kalut memikirkan suami hamba yang belum pulang juga."

"Jangan khawatir! Suamimu itu orangnya setia. Ia tidak akan meninggalkanmu. Mungkin ia tersesat di hutan," kata dewa.

"Kapan ia kembali ke sini?" tanya perempuan itu.

"Begitu anakmu lahir, suamimu hadir di sampingmu," kata dewa menjelaskan.

"Oh!" jerit perempuan itu tak bisa menahan luapan rasa bahagia yang mengalir dalam dadanya. "Jadi, aku akan beranak?"

"Engkau ini bagaimana," kata dewa. "Yang kau ajukan dalam surat permohonanmu itu adalah anak atau kau inginkan yang lain?"

"Tidak, dewa," kata perempuan itu tersipu-sipu. "Yang hamba dambakan hanya anak. Hamba amat bersyukur kalau para dewa di kahyangan berkenan memberi kami anak. Dewa yang hamba muliakan, boleh hamba bertanya?"

"Boleh, boleh," kata dewa dengan muka ramah. "Jangan sungkan-sungkan bertanya. Mumpung ada dewa di depanmu. Akan tetapi, jangan lama-lama. Aku takut dituduh pacaran dengan manusia. Engkau harus maklum, dewa dilarang pacaran, apalagi pacaran dengan manusia. Itu sangat diharamkan dalam undang-undang dasar yang berlaku untuk para dewa."

"Kalau dewa pacaran?" tanya perempuan itu.

"Eh! Jangan coba-coba menggoda aku! Aku belum ingin dikutuk dan dicampakkan ke bumi yang penuh penderitaan. Sekarang, langsung saja kau tanyakan yang ingin kau tanyakan," kata dewa.

"Hamba ingin mengetahui tanda-tanda apa yang muncul begitu anakku akan lahir?" tanya perempuan itu.

"Engkau tak perlu jawabnya," kata dewa. "Bukankah sudah aku katakan dengan sangat jelas bahwa dalam tempo tiga hari tiga malam permohonanmu akan dikabulkan para dewa. Kedatanganku kemari pun sudah merupakan isyarat."

Perempuan itu merasa penasaran dengan jawaban dewa yang seperti teka-teki. Namun, ia tidak berani lagi bertanya. Ia takut dianggap sebagai perempuan bawel yang tak tahu diri. Akan tetapi, dewa seakan-akan bisa membaca perasaan perempuan yang berada di hadapannya. Kata dewa, "Sesungguhnya sebagai perempuan, kau beruntung sekali. Engkau tak perlu hamil selama sembilan bulan. Jadi, engkau juga tak perlu membeli baju hamil. Engkau tinggal terima beres. Tahu-tahu akan ada seorang bayi mungil di pangkuanmu."

"Oh, terima kasih, dewa begitu baik kepada kami," kata perempuan itu dibalut perasaan bahagia yang meluap-luap seraya membayangkan seorang bayi mungil di pangkuannya."

Baru saja perempuan itu menyampaikan terima kasihnya kepada dewa, tiba-tiba dewa telah lenyap dari pandangan matanya. Hanya seberkas cahaya yang amat terang membersit sesaat mengikuti kepergian dewa. Perempuan itu terpukau dan terpaku sejenak di tempatnya berdiri.

"Semua ini seperti dalam mimpi. Semua berjalan begitu cepat tanpa dapat kuduga sebelumnya," kata perempuan itu dalam hati. Kemudian, dibayangkannya waktu yang telah berjalan belasan, atau barangkali puluhan tahun, yang menyita hari-harinya tanpa terasa. Tahu-tahu rambutnya telah dipenuhi uban, pipinya agak peyot, dan keningnya ditumbuhi kerut. Ia nyaris putus asa mengharapkan seorang anak yang tak kunjung tiba. Tahu-tahu dewa muncul di depan matanya, mengobarkan harapannya yang nyaris sirna. Ia merasa bersyukur sekali. Rasa bahagia memenuhi dadanya yang mulai tipis dimakan usia. Tanpa terasa air mata bergulir membasahi kedua pipi perempuan itu. Ia kemudian menangis terisak-isak. "Hidupku tidak sunyi lagi," bisik hatinya sambil tangannya menyeka air matanya.

"Kenapa kau menangis, istriku sayang?” Tiba-tiba suara seorang lelaki membelah kesunyian malam.

"Oh, Abang!" kata perempuan itu dengan mata yang masih basah memerah. "Ke mana saja Abang pergi? Hampir dini hari begini baru pulang. Abang tidak mengetahui betapa gelisahnya perasaanku menunggu-nunggu kedatangan Abang."

"Ketika sedang mencari kayu bakar di hutan, tiba-tiba saja di depanku melintas seekor rusa. Lalu timbul keinginanku untuk menangkap rusa itu. Bukankah dagingnya bisa kita bakar dan kulitnya bisa kita buat sepatu? Siapa tahu, kelak—kalau kita pun sudah tamat dari hidup ini—sepatu kulit rusa buatan kita akan menjadi incaran turis yang datang kemari," kata lelaki itu tersenyum menggoda istrinya.

"Ah, Abang! Abang seperti orang mengigau saja. Turis mana yang mau datang kemari? Bukankah tempat kita terpencil dan dikelilingi hutan lebat?"

"Kan aku katakan kelak. Jadi, belum tentu kita sempat menyaksikan kedatangan turis. Barangkali benar katamu itu, tidak akan ada turis yang datang kemari. Eh, hidungku seperti mencium seseorang yang baru datang kemari. Siapa yang datang kemari?"

"Ah, Abang! Bukan manusia yang datang kemari. Dewa yang datang kemari!" kata perempuan itu dengan wajah yang memancarkan rasa bahagia.

"Dewa?" Lelaki itu terpekik kaget mendengar penjelasan istrinya. "Dewa datang malam-malam?"

"Ya, dewa baru saja pergi menghilang setelah menyampaikan kabar baik untuk kita," kata istrinya dengan mata berbinar.

"Kabar baik apa?" tanya lelaki itu penasaran. "Seorang bayi mungil untuk kita?"

"Betul dugaanmu," kata perempuan itu sambil mengecup kening suaminya. "Hidup kita tidak akan sepi lagi. Hidup kita akan diramaikan oleh suara kanak-kanak. Kita tidak akan lagi termangu-mangu membayangkan seorang anak dalam rumah kita."

Suami istri itu terdiam beberapa saat dan keduanya memandangi langit malam yang diterangi cahaya bulan purnama. Bintang-bintang berserakan mengukir langit malam. Sekonyong-konyong petir menyambar-nyambar malam yang sedang mandi cahaya bulan. Suara petir yang menyambar-nyambar itu sangat memekakkan telinga. Timbul perasaan gentar di hatinya.

Mendadak turun hujan teramat deras seperti air bah dicurahkan dari langit. Sementara itu, tak ada awan di langit. Langit masih bermandikan cahaya bulan yang bersinar penuh. "Ini isyarat dewa," pikir suami istri itu hampir bersamaan.

Hujan belum juga reda. Dari kejauhan terdengar suara sungai yang bergemuruh menampung luapan air hujan. Di beberapa tempat banjir telah mencapai setinggi lutut. Suami istri itu mulai cemas. Jangan-jangan hujan luar biasa yang berkepanjangan akan menenggelamkan mereka berdua. "Ini rahmat dewa atau kutukan dewa," pikir mereka berdua tak habis mengerti.

Hujan yang teramat deras tiba-tiba saja berhenti. Suami istri itu menarik napas lega. Cahaya bulan kembali merambati malam dengan leluasa. Sekonyong-konyong terdengar suara tangis bayi. Suami istri itu terbelalak kaget dan berpandangan beberapa saat.

"Kita cari di mana bayi itu berada," kata lelaki itu kepada istrinya sambil kakinya menyibakkan genangan air banjir. Kira-kira lima belas langkah dari tempatnya berpijak, lelaki itu melihat sebuah sinar yang temaram bergantung di atas sebuah sampan. Sampan itu hanya bergoyang-goyang perlahan karena gerakan air tidak terlalu kuat. Didekatinya sampan itu dan samar-samar dilihatnya seorang bayi tergeletak di atasnya. Dipercepatnya langkahnya, dan ketika telah sampai di dekat sampan itu, dilihatnya bayi itu menangis sambil meronta-ronta. Buru-buru dipungutnya bayi itu dan diserahkannya kepada istrinya. Dengan senyuman mekar di bibir istrinya yang bernama Babu Jaruma itu langsung menimang-nimang bayi itu.

Sebuah sinar temaram bergantung di atas sebuah sampan, dan di atas sampan itu tergeletak seorang bayi mungil.

Lelaki itu tersenyum seorang diri. Rasa bahagia merambati lubuk hatinya yang paling dalam. "Dengan hadirnya bayi ini berarti sekarang ini aku memiliki keturunan, yang kelak akan melanjutkan kepemimpinanku sebagai petinggi negeri Hulu Dusun," kata lelaki itu sambiI mengusap-usap wajahnya yang mulai dipenuhi kerut.

Di tengah-tengah rasa bahagia yang menyelimuti dirinya, Babu Jaruma tiba-tiba merasa sedih. "Keinginanku untuk mempunyai anak telah kesampaian. Akan tetapi, payudaraku sedikit pun tak mengeluarkan air susu. Bayiku ini tidak bisa menetek. Bisa-bisa bayiku ini mati kehausan," keluhnya dalam hati. Diam-diam air matanya menetes karena sedih memikirkan nasib bayinya.

"Aku akan memohon kepada dewa agar payudaraku ini mengeluarkan air susu," kata Babu Jaruma dalam hati. Lalu, dimohonnya kepada dewa di kahyangan agar berkenan melimpahkan air susu pada kedua payudaranya. Sewaktu ia memohon kepada dewa, tiba-tiba terdengar suara sayup-sayup sampai. Kata suara itu, "Hai, Babu Jaruma! Jangan kau bersedih! Bayimu itu tidak akan mati kehausan. Tepuklah payudaramu yang sebelah kanan, kedua payudaramu akan memancarkan air susu. Tetekilah bayimu itu dengan penuh sayang. Rawat ia baik-baik!"

Babu Jaruma yakin bahwa suara yang sayup-sayup sampai ke telinganya itu suara dewa. Oleh karena itu, diturutinya amanat yang sampai ke telinganya. Ditepuknya payudaranya yang sebelah kanan. Sesaat kemudian memancarlah air susu dari kedua payudaranya. Tercium harum bunga kasturi dari air susu yang memancar dari kedua payudaranya.

Dengan penuh sayang Babu Jaruma meneteki bayinya. Dibelai-belainya dengan lembut kepala bayi itu. TIdak terasa keletihan menyergap diri perempuan itu. Babu Jaruma pun jatuh tertidur sambil mendekap bayinya.

Babu Jaruma bermimpi sewaktu tertidur. Dalam mimpinya itu didengarnya suara dewa. Kata dewa, "Hai, Babu Jaruma! Anakmu ini kau namai Putri Karang Melinu. Rawat anakmu ini sebaik mungkin karena anakmu ini adalah anak titipan dewa." Dewa terdiam sejenak, lalu berkata, "Jangan baringkan anakmu di atas tikar dalam waktu empat puluh hari empat puluh malam. Jangan pula kau pijakkan anakmu ke atas tanah sebelum ia kau pijakkan ke atas kepala orang hidup, kepala orang mati, dan besi. Engkau baru boleh memijakkan Putri Karang Melinu ke atas tanah setelah kau melakukan yang aku amanatkan tadi.”

Babu Jaruma terjaga dari mimpinya. Dilihatnya suaminya masih mendengkur di sampingnya. Perlahan-lahan dibangunkannya suaminya, kemudian diceritakan kepada suaminya pesan dewa yang disampaikan melalui mimpi itu. Suaminya dengan mata yang masih merah manggut-manggut. "Kita laksanakan sebaik-baiknya yang diamanatkan dewa itu," kata suaminya.

"Mudah-mudahan bayi ini kelak menjadi seorang putri yang jelita, yang baik budinya, yang lembut perangainya," kata Babu Jaruma kepada suaminya.

Suaminya mencoba tersenyum sambil menahan kantuk. "Kita mohon saja kepada dewa," katanya.

•••

















3.
PUTRI JELITA


Rumah petinggi negeri Hulu Dusun yang semula selalu lengang kini tak lagi sunyi. Suara tangis bayi memenuhi rumah itu siang malam. Babu Jaruma dengan penuh kesabaran mengasuh bayinya. Ditimang-timangnya dengan sayang apabila anaknya itu menangis.

Putri Karang Melinu tumbuh sebagai seorang bayi yang sehat. Pipinya kian hari kian berisi. Matanya tampak bening dan memancarkan sorot yang lembut. Kepalanya pun kian hari kian dipenuhi rambut. Badannya makin berisi. Kedua orang tuanya merasa bahagia menyaksikan pertumbuhan anaknya yang menjanjikan harapan.

Babu Jaruma masih ingat yang diamanatkan dewa dalam mimpinya. Beberapa hari lagi anaknya akan genap berumur empat puluh hari. Ia merencanakan suatu perayaan untuk menyambut empat puluh hari anaknya. Katanya pada suaminya, "Beberapa hari lagi anak kita genap berumur empat puluh hari. Menurut Abang, apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?"

"Kita laksanakan pesan dewa," kata suaminya. "Kita adakan pesta adat menyambut empat puluh hari anak kita. Sebaiknya sekarang kita suruh orang untuk mencari dan menyembelih sapi, kerbau, banteng, rusa, dan hewan apa saja yang bisa dimakan.”

"Usul yang baik," kata Babu Jaruma. "Selain acara makan-makan, dalam pesta adat nanti sebaiknya juga kita gelar acara kesenian. Kita akan berpesta tiga hari tiga malam secara meriah. Para kerabat dari negeri-negeri jauh akan kita undang. Bukankah anak kita anak dewa yang perlu kita sambut secara istimewa?

"Sekarang kau beristirahat saja," kata petinggi negeri Hulu Dusun kepada istrinya. "Sekarang aku akan mengumpulkan orang untuk berburu binatang-binatang yang akan kita sembelih. Aku akan mengurus pesta yang akan kita adakan."

Babu Jaruma ke kamar dan menyusui bayinya. Sementara itu, rumah petinggi negeri Hulu Dusun telah dipenuhi orang-orang yang akan berburu ke hutan. Peralatan yang diperlukan dalam perburuan, seperti panah, lembing, mandau, dan berbagai senjata tajam, mereka persiapkan selengkap mungkin. Mereka juga tidak lupa membawa tali dan jaring penjerat.

Subuh, ketika langit mulai merekah merah, serombongan pemburu berangkat ke hutan lengkap dengan peralatan berburu mereka.


Subuh, ketika kokok ayam mulai terdengar, langit mulai merekah merah, dan cicit burung mulai ramai terdengar, serombongan lelaki pemburu mulai bergerak ke hutan lengkap dengan peralatan mereka. Dari kejauhan rombongan pemburu itu, seperti sepasukan prajurit yang akan berangkat perang.

Perlahan-lahan matahari mulai bergerak naik, terang merambati muka bumi. Putri Karang Melinu dalam gendongan ibunya mandi matahari pagi. Bibirnya yang mungil bergerak-gerak lucu. Ibunya, Babu Jaruma, dengan penuh sayang membelai-belai rambut anaknya.

"Kapan kau hamil?" tanya seorang tetangga yang kebetulan lewat. "Tahu-tahu engkau telah menggendong dan menyusui bayi."

"Aku tidak perlu hamil," kata Babu Jaruma sambil senyum-senyum.

"Lalu dari mana bayi ini?" tanya tetangganya keheranan.

"Apakah aku menemui bayi di tong sampah?!" kata Babu Jaruma mengolok-olok tetangganya.

"Lalu, bayi ini kau peroleh dari siapa?" tanya tetangganya penasaran.

"Dewa telah berbaik hati kepadaku," kata Babu Jaruma dengan tenang. "Dewa telah memberiku seorang anak yang manis."

"Engkau beruntung sekali!" kata tetangganya. "Mengapa kamu diam-diam saja, tidak memberi tahu aku kalau mempunyai nasib seberuntung itu?"

"Habis, kapan aku sempat bertemu kau. Kau jarang ada di rumah."

"Kan aku mencari nafkah di rantau," kata tetangganya. "Benar-benar beruntung kau! Aku telah menunggu puluhan tahun, tetapi belum juga mendapatkan seorang anak. Berbagai macam jamu aku minum, puluhan dukun sakti aku datangi, sesajian aku persembahkan pada dewa-dewa di kahyangan hampir tiap malam, tetapi belum juga ada hasilnya."

"Sabar!" kata Babu Jaruma menghibur tetangganya. "Siapa tahu kau masih memiliki kesempatan. Jangan terburu-buru mengeluh. Peruntungan manusia tidak bisa kita ramal. Lagi pula, dewa juga pantang mendengar keluhan kita yang berkepanjangan. Sabar sajalah! Siapa tahu permohonanmu sedang dlpertimbangkan di kahyangan? Dewa tidak hanya mengurusi nasib kamu."

“Masa cuma kau yang diperhatikan dewa?" kata tetangganya iri.

"Jangan iri!" kata Babu Jaruma menyabarkan tetangganya. "Rasa iri mencegat keberuntungan kita."

"Ya, ya. Aku akan sabar menunggu dan mengharapkan kedatangan seorang anak dalam hidupku. Siapa tahu dewa berbaik hati kepadaku. Eh, kapan kau syukuran?"

"Beberapa hari lagi," kata Babu Jaruma. "Sekarang orang-orang sedang sibuk berburu hewan di hutan untuk disembelih nanti. "

"Jangan lupa mengundang aku, ya?" pinta tetangganya.

"Pasti!" kata Babu Jaruma sambil tersenyum. "Masa aku lupa dengan tetangga?"

Hari berangsur malam. Kesepian mulai merayapi dinding­-dinding rumah. Orang-orang yang berburu ke hutan mulai berdatangan berkelompok-kelompok. Banteng, kerbau, rusa, dan macam-macam hasil perburuan dari hutan mengalir ke rumah petinggi negeri Hulu Dusun. Sementara itu, laki-laki yang tidak ikut berburu ke hutan juga beramai-ramai mengumpulkan binatang-binatang yang bisa didapatkan di kampung, seperti ayam, angsa, itik, kambing, dan lembu. Hewan-hewan itu dikumpulkan di halaman rumah petinggi negeri Hulu Dusun yang amat luas untuk disembelih pada saatnya nanti.

Kerabat petinggi negeri Hulu Dusun tidak tinggal diam. Masing-masing mencari kesibukan yang dapat meringankan beban pekerjaan petinggi negeri Hulu Dusun dalam menyambut empat puluh hari anaknya. Salah seorang kerabat perempuan petinggi negeri Hulu Dusun mengumpulkan juru masak dari berbagai tempat. Juru masak dari tempat-tempat yang jauh didatangkan karena tamu-tamu juga akan diundang dari negeri-negeri jauh. Keluarga petinggi negeri Hulu Dusun berusaha melayani tamu-tamunya yang berselera makan macam-macam itu.

Hari yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Aneka macam hiasan menyemarakkan rumah petinggi negeri Hulu Dusun. Pada hari itu Babu Jaruma tampil dengan pakaian terbaiknya dan menghias diri dengan cincin, gelang, dan kalung yang elok-elok. Dandanan Babu Jaruma tak ubahnya seorang putri kahyangan. Wajahnya berseri-seri memancarkan rasa bahagia yang dalam dan kelihatan belasan tahun lebih muda dari usia yang sesungguhnya.

Di halaman depan putri-putri jelita berdiri berjajar menyambut kedatangan para undangan. Malam yang biasanya gelap dan sunyi senyap tak ubahnya seperti siang ketika itu karena lampu yang terang-benderang bertebaran di mana-mana. Suara serangga yang pada malam-malam biasa ramai terdengar malam itu digantikan oleh suara tetabuhan yang bunyinya bertalu-talu dipukul orang. Kunang-kunang yang biasanya terbang melintas malam itu juga enggan menampakkan diri karena takut bersaing dengan cahaya lampu. Hanya sesekali terdengar lolongan anjing dari kejauhan.

Hidangan yang lezat-lezat menyambut para tamu yang berdatangan. Mulut mereka seperti tidak mempunyai waktu untuk berhenti mengunyah. Meskipun perut mereka telah kenyang, sebagian besar tamu penasaran untuk menyantap masakan yang dihidangkan karena baru kali itu mereka mengenal jenis-jenis masakan yang dihidangkan.

Suara tetabuhan bunyinya bertalu-talu dipukul orang. Suasana riang merasuki para tamu yang datang. Sementara itu, sayup-sayup terdengar juga bunyi tetabuhan yang dipukul orang di negeri Jaitan Layar. Negeri Jaitan Layar juga tengah mengadakan pesta menyambut empat puluh hari usia Aji Batara Agung Dewa Sakti. Aji Batara dan Putri Karang Melinu kebetulan lahir pada hari yang bersamaan. Aji Batara lahir pada siang hari, sedangkan Putri Karang Melinu lahir pada malam hari.

Bunyi tetabuhan yang dipukul orang di negeri Jaitan Layar dan negeri Hulu Dusun terdengar bersahut-sahutan meramaikan malam. Dewa yang menyaksikan dari kahyangan tersenyum-senyum. Semua acara berlangsung sesuai dengan amanat dan permintaan dewa. "Manusia ternyata masih segan kepada kita," kata salah seorang dewa kepada rekannya di kahyangan. Dewa yang mendengar perkataan tadi hanya senyum-senyum.

Salah seorang dewa yang sedari tadi diam kebingungan tiba-tiba berkata, "Aku mempunyai usul yang bagus. Bagaimana kalau kita uji manusia yang sedang berpesta ria itu? Kita kirim­kan ke tengah-tengah mereka lembu Sawana. Lembu Sawana itu kita tugasi membawa Aji Batara dan Putri Karang Melinu ke kahyangan. Kita akan menimang-nimang Aji Batara dan Putri Karang Melinu untuk beberapa saat. Setelah itu, kita kembalikan lagi kepada orang tua mereka di bumi."

"Pikiran yang cemerlang," kata salah seorang dewa. "Memang perlu kita ciptakan rasa tergantung manusia pada kita yang bertakhta di kahyangan."

"Putri Karang Melinu dan Aji Batara kita jodohkan saja semenjak bayi," kata salah seorang dewa yang lain. "Kita pertemukan keduanya di kahyangan sehingga suatu saat nanti mereka akan berjodoh di bumi nanti."

"Kita perintahkan saja lembu Sawana untuk membawa keduanya kemari!" kata salah seorang dewa yang sedari tadi belum berbicara.

Begitu mendapat perintah dari dewa, lembu Sawana pun segera meluncur ke bumi. Lembu Sawana terbang menyibakkan awan yang menyelimuti langit. Dalam tempo singkat lembu Sawana telah berada di atas kerumunan orang yang tengah berpesta pora. Para undangan di rumah petinggi negeri Hulu Dusun menjadi kalang kabut karena sekonyong-konyong seekor lembu terbang melintas di atas mereka. Dengan segera mereka berancang-ancang meninggalkan tempat perhelatan. Akan tetapi, sebelum mereka sempat beranjak, lembu itu telah mendarat di tengah-tengah mereka.

Lembu Sawana terbang melintas di atas orang-orang yang tengah berpesta pora.


"Jangan takut!" kata lembu Sawana kepada orang-orang yang ketakutan. "Aku utusan para dewa di kahyangan. Aku dititahkan para dewa datang kemari untuk menjemput Putri Karang Melinu. Ibu dan bapak Putri Karang Melinu tidak perlu khawatir. Para dewa di kahyangan sedang rindu pada Putri Karang Melinu karena para dewa telah berpisah dengan Putri Karang Melinu selama empat puluh hari. Begitu kerinduan para dewa hilang, Putri Karang Melinu akan segera dipulangkan lagi kemari. Jadi, jangan khawatir! Putri Karang Melinu tidak akan hilang. Ia akan senantiasa dijaga selama berada di kahyangan.

Lembu Sawana tiba-tiba bergerak ke dalam rumah menghampiri Putri Karang Melinu. Babu Jaruma yang menyaksikan hanya diam terpaku. Tiba-tiba Putri Karang Melinu yang sedari tadi hanya diam buka suara, "Lembu Sawana, rendahkan punggungmu! Aku akan naik ke punggungmu." Babu Jaruma terperanjat keheranan karena bayinya telah dapat berkata-kata. "Ini semua pasti telah diatur oleh penguasa kahyangan," katanya dalam hati. Ia pun hanya pasrah karena mau tak mau ia harus tunduk pada kehendak yang berkuasa di kahyangan.

Putri Karang Melinu telah berada di atas punggung lembu Sawana. Lembu Sawana pun segera melejit ke langit setelah Putri Karang Melinu menepuk-nepuk punggungnya. Orang-orang yang menyaksikan hanya bisa berdecak kagum. Orang-orang juga terpesona dengan kecantikan Putri Karang Melinu yang luar biasa.

"Masih bayi saja sudah terlihat sangat cantik, apalagi kalau sudah mulai dewasa," kata salah seorang sambil mengusap-usap matanya seakan-akan tidak yakin dengan yang baru saja dilihatnya.

"Seorang putri yang luar biasa jelita," kata salah seorang yang lain. "Putri seperti itu biasanya hanya terdapat dalam dongeng dan mimpi. Akan tetapi, sekarang aku melihatnya dengan mata kepala sendiri. Barangkali hanya kali ini dalam hidupku aku bisa menyaksikan seorang putri yang begitu cantik."

Lembu Sawana terbang melintasi langit tanpa peduli pada orang-orang yang berdecak kagum. Tahu-tahu dalam tempo singkat lembu Sawana telah berada di atas negeri Jaitan Layar. Lembu Sawana pun segera menuju rumah petinggi negeri Jaitan Layar yang tengah mengadakan pesta menyambut empat puluh hari Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Lembu Sawana dengan tenang melintas di atas kerumunan orang-orang yang sedang berpesta di rumah petinggi negeri Jaitan Layar. Seperti kejadian di rumah petinggi negeri Hulu Dusun, di rumah petinggi negeri Jaitan Layar orang-orang yang tengah berpesta juga terperanjat kaget melihat lembu Sawana terbang di atas mereka. Mereka berhamburan meninggalkan tempat pesta. Akan tetapi, lembu Sawana dengan lembut berkata, "Jangan lari dan jangan takut! Aku utusan para dewa di kahyangan. Aku dititahkan para dewa untuk menjemput Aji Batara Agung Dewa Sakti."

Orang-orang yang semula berhamburan melarikan diri seketika menjadi tenang setelah mendengar penjelasan lembu Sawana. Orang-orang pun terperangah melihat kecantikan Putri Karang Melinu yang berada di atas punggung lembu Sawana. Seketika suasana yang sepi mencekam dipenuhi decak kagum. "Ia pasti putri kahyangan," kata orang-orang yang memandangnya dengan penuh kagum. "Lembu yang ditungganginya saja bisa terbang, bisa berbicara, dan memang diutus dari kahyangan kemari.”

Belum hilang rasa kagum orang-orang terhadap kejelitaan Putri Karang Melinu, tiba-tiba lembu Sawana melanjutkan perkataannya, "Dewa-dewa di kahyangan sedang rindu pada Aji Batara Agung Dewa Sakti karena dewa-dewa telah berpisah dengan Aji Batara selama empat puluh hari. Sekarang para dewa ingin sekali berjumpa dengan Aji Batara di kahyangan. Oleh karena itu, sekarang ikhlaskan Aji Batara untuk sementara waktu pergi ke kahyangan. Apabila rasa rindu dewa-dewa pada Aji Batara telah hilang, Aji Batara pasti segera akan kembali kemari."

Aji Batara yang masih bayi dan sedari tadi diam saja tiba-tiba buka mulut, "Bawalah aku ke kahyangan! Aku pun rindu pada dewa-dewa di kahyangan.” Ibu bapak Aji Batara hanya terperangah keheranan menyaksikan keajaiban yang terjadi di depan mata mereka berdua. Orang-orang di sekitar Aji Batara pun hanya terdiam pasrah karena menyadari bahwa semua kehendak dewa belaka.

Tanpa banyak bicara, Aji Batara segera bergerak dan melangkah ke arah lembu Sawana. Lalu dengan tenang dinaikinya punggung lembu Sawana, dan duduk di belakang Putri Karang Melinu. "Baru kali ini ada bayi umur empat puluh hari yang bisa berjalan!" kata salah seorang yang menyaksikan.

Begitu Aji Batara Agung Dewa Sakti telah berada di atas punggungnya, lembu Sawana pun segera terbang menuju langit. Lembu Sawana bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Tahu-tahu orang-orang yang memandangi kepergiannya tak dapat lagi melihat sosoknya.

Dewa-dewa di kahyangan telah gelisah menunggu kedatangan Aji Batara dan Putri Karang Melinu. Salah seorang dewa dengan muka cemberut mengomel, "Lambat amat lembu Sawana membawa Aji Batara dan Putri Karang Melinu kemari! Aku curiga, jangan-jangan lembu Sawana mampir dulu entah ke mana. Siapa tahu dia mempunyai simpanan di bumi, atau barangkali ada manusia yang menjadi gundiknya?"

"Ah, kau!" kata dewa yang lain. "Jangan cepat-cepat curiga! Lembu Sawana biasanya selalu menjalankan tugas dengan baik. Ia tidak pernah menyeleweng jika kita beri tugas."

“Nah, itu dia!" kata salah seorang dewa yang sedari tadi bingung memandangi langit. "Di punggungnya telah berada Putri Karang Melinu dan Aji Batara."

“Dari mana saja kau?" tanya dewa yang curiga pada lembu Sawana.

“Maaf, Paduka," kata lembu Sawana dengan sikap hormat. "Di langit sempat terjadi kemacetan lalu lintas. Di belahan bumi yang belum diketahui letaknya konon ada seorang panglima perang yang sangat sakti. Begitu hamba akan lewat ternyata dia sedang mengadakan latihan perang di langit bersama para anak buahnya. Mereka jungkir balik di langit dan melakukan gerakan-gerakan serbuan di langit sehingga lalu lintas di langit pun menjadi macet. Hamba terpaksa mengambil jalan memutar yang lebih jauh."

"Kenapa tidak kau terjang saja mereka?" tanya salah satu dewa penasaran. "Kau takut kepada mereka?"

"Bukannya hamba takut, tetapi hamba mengkhawatirkan keselamatan Putri Karang Melinu dan Aji Batara seandainya terjadi sesuatu."

"Bagus kalau begitu! Berarti engkau tidak hanya mementingkan harga dirimu saja. Engkau juga memikirkan keselamatan orang lain. Engkau memang pantas menjadi lembu teladan!"

Putri Karang Melinu dan Aji Batara turun dari punggung lembu Sawana. Dengan lincah keduanya segera menuju ke pangkuan para dewa. Dewa-dewa menyambut keduanya dengan senyum ramah. Dewa-dewa itu pun berebut memangku Putri Karang Melinu dan Aji Batara. Putri Karang Melinu dengan manja bergelayut di pundak salah satu dewa yang ada di kahyangan. Tangannya mencubit-cubit dewa dan dewa pun tersenyum-senyum kegelian.

Setelah melepaskan rindunya pada dewa-dewa, Aji Batara dan Putri Karang Melinu bermain-main di pelataran kahyangan. Keduanya bermain petak umpet. Putri Karang Melinu bersembunyi di suatu tempat dan Aji Batara berusaha mencarinya. Apabila Aji Batara berhasil menemukan Putri Karang Melinu di tempat persembunyiannya, Aji Batara bergantian bersembunyi.

"Sekarang ini masih bayi, kalian berdua telah bisa bermain petak umpet. Akan tetapi, begitu kalian berdua telah kembali ke bumi, kalian akan kembali menjadi manusia biasa. Sebagai manusia biasa, kalian tentu tidak selincah di sini karena kalian masih bayi. Sekarang ini saja kalian bisa bermain-main dengan leluasa karena dewa-dewa di kahyangan ingin menyaksikan kalian berdua bermain-main," kata salah satu dewa sambil tersenyum-senyum.

"Ih, dewa!" kata Putri Karang Melinu merajuk. "Dewa kok jahat? Masa Putri cuma dijadikan tontonan? Apakah Putri boneka?"

"Masa dewa jahat?" kata dewa sambil tersenyum penuh sayang. "Dewa sayang kepada Putri dan Aji Batara."

"Dewa ingin berjumpa dengan kalian berdua karena dewa-dewa yang ada di kahyangan sayang kepada kalian berdua," kata dewa yang lain. "Namun, kalian tidak boleh lama-lama berada di kahyangan. Bisa-bisa kalian lupa menjadi manusia nanti. Lagi pula, ibu bapak kalian berdua di bumi sana sudah menunggu-nunggu kalian dengan gelisah.”

"Ah, dewa!" kata Aji Batara dengan manja, "Kami berdua masih ingin di kahyangan,"

"Kalau begitu," kata dewa sambil melihat jam tangannya, "kami beri perpanjangan waktu dua jam untuk kalian berdua. Setelah itu kalian berdua harus segera berada di rumah masing-masing. Tentu ibu bapak kalian telah menunggu?"

Putri karang Melinu dan Aji Batara melonjak-lonjak kegirangan mendengar perkataan dewa yang memperbolehkan mereka berdua lebih lama berada di kahyangan. Keduanya melanjutkan permainannya di pelataran kahyangan.

Tidak terasa perpanjangan waktu dua jam yang diberikan dewa berakhir. Dengan muka sedih Putri Karang Melinu dan Aji Batara mencium tangan dewa-dewa yang ada di kahyangan untuk berpamitan. Sementara itu, lembu Sawana telah menunggu, siap memberangkatkan Aji Batara dan Putri Karang Melinu ke orang tua masing-masing di bumi.

Di negeri Jaitan Layar dan negeri Hulu Dusun rasa gelisah yang dalam menyergap ibu bapak Aji Batara dan Putri Karang Melinu. Sebentar-sebentar kedua orang tua itu menengadahkan kepalanya ke langit. Siapa tahu lembu Sawana terbang melintas membawa Aji Batara dan Putri Karang Melinu.

•••

4.
PUTRA MAHKOTA


Tatkala rasa gelisah orang tua Aji Batara dan Putri Karang Melinu telah mencapai puncaknya, tiba-tiba lembu Sawana mendarat di halaman rumah Aji Batara. Muka ibu bapak Aji Batara yang semula kuyu berubah menjadi berseri-seri. "Anakku!” jerit keduanya sambil berlomba mencium wajah Aji Batara. Aji Batara pun meronta-ronta mendapatkan ciuman yang bertubi-tubi dari kedua orang tuanya.

Disaksikan Lembu Sawana, petinggi negeri Jaitan Layar dan istrinya menciumi wajah Aji Batara yang baru saja tiba dari kahyangan dengan penuh rindu.


"Selama kau tinggalkan rasanya aku seperti kehilangan nyawa saja," kata ibu Aji Batara sambil mengusap matanya yang berlinang-linang karena rasa haru yang mendalam.

Aji Batara hanya terdiam memandangi kedua orang tuanya.

"Aku merasa seperti baru saja terlepas dari mimpi buruk yang mencekam," kata petinggi negeri Jaitan Layar sambil membelai-belai rambut anaknya.

Setelah menyaksikan petinggi negeri Jaitan Layar dan istrinya melepas rindu pada anaknya, lembu Sawana pun segera terbang meninggalkan negeri Jaitan Layar menuju negeri Hulu Dusun untuk mengantarkan Putri Karang Melinu kepada kedua orang tuanya. Dalam tempo beberapa menit lembu Sawana telah sampai di halaman rumah petinggi negeri Hulu Dusun.

"Anakku!" pekik Babu Jaruma menyaksikan kedatangan anaknya yang menghilang beberapa hari di kahyangan. "Aku kira engkau tak akan kembali lagi ke pangkuanku," kata Babu Jaruma dengan mata berlinang sambil mengangkat Putri Karang Melinu dari punggung lembu Sawana.

"Engkau tambah cantik saja," kata petinggi negeri Hulu Dusun sambil memandangi anaknya dengan muka cerah. Keletihan karena beberapa malam begadang menunggu kedatangan anaknya telah sirna dari wajahnya.

"Barangkali saja wajah anakmu telah dipermak dewa ketika berada di kahyangan," kata lembu Sawana sambil cengar-cengir.

"Memang kau menyaksikan begitu?" tanya petinggi negeri Hulu Dusun penuh penasaran pada lembu Sawana.

"Mana aku tahu?" kata lembu Sawana. "Aku bukan kendaraan para dewa yang disimpan di garasi kahyangan sehingga aku tidak mungkin mengetahui apa pun yang terjadi di kahyangan. Baiklah, daripada kau bertanya macam-macam kepadaku lebih baik aku kembali saja ke kahyangan!"

Selesai berkata begitu, lembu Sawana segera angkat kaki meninggalkan petinggi negeri Hulu Dusun yang terbengong-bengong. Rasa penasaran terlintas di kepala petinggi negeri Hulu Dusun. "Barangkali lembu Sawana hanya mengolok-olokku saja," katanya dalam hati. "Siapa tahu dia sedang mengigau?"

Tanpa memedulikan omongan lembu Sawana, dihampirinya segera Putri Karang Melinu yang sedang berada di pangkuan Babu Jaruma. Dilepaskannya rasa rindunya yang mendalam kepada anaknya dengan mencium wajah anaknya berkali-kali. Putri Karang Melinu hanya memejamkan mata mendapatkan ciuman yang bertubi-tubi dari bapaknya karena ia sedang tertidur di pangkuan ibunya.

"Sudahlah!" kata Babu Jaruma pada suaminya. "Nanti ia terbangun. Barangkali ia terlalu letih setelah beberapa hari di kahyangan."

Tahun berganti tahun. Tanpa terasa pohon beringin yang tumbuh di halaman depan rumah petinggi negeri Jaitan Layar semakin rindang. Tidak terasa pula rambut petinggi negeri Jaitan Layar semakin dipenuhi warna putih. Sementara itu, Aji Batara telah tumbuh menjadi seorang remaja pria yang perkasa. Dadanya tampak lebar dan sehat, dan kumis yang tercukur rapi melintang di wajahnya. Tinggi badannya pun telah menyamai tinggi badan bapaknya.

Petinggi negeri Jaitan Layar tertegun menyaksikan pertumbuhan putranya yang semakin hari semakin dewasa itu. Ia pun merenungi dirinya yang semakin tua. "Barangkali telah tiba saatnya untuk mempersiapkan Aji Batara memimpin negeri ini," katanya dalam hati. "Sebagai putra mahkota, Aji Batara akan aku bekali dengan bermacam-macam ilmu dan keterampilan sehingga kelak ia menjadi seorang pemimpin yang disegani."

Sejak saat itu, petinggi negeri Jaitan Layar sibuk membekali putranya dengan bermacam-macam ilmu dan keterampilan. Siang malam Aji Batara ia latih dengan keterampilan bela diri. Berbagai kebijaksanaan hidup juga ia tuangkan ke dalam benak anaknya.

"Sebagai putra tunggal, kau akan mewarisi takhta kepemimpinan dari diriku," kata petinggi Jaitan Layar suatu malam kepada anaknya. "Aku akan mempersiapkan dirimu sebaik mungkin sehingga kau benar-benar siap memimpin negeri ini bila aku telah tiada."

"Aku pun akan berusaha mematangkan diriku sebaik mungkin dengan mengikuti semua petunjuk yang Bapak berikan kepadaku," kata Aji Batara dengan penuh hormat.

“Satu hal yang harus kau ingat, Anakku," kata petinggi Jaitan Layar, "Janganlah kau sekali-kali menyakiti hati rakyat yang kau pimpin, betapapun lemah dan tak berdayanya rakyat di hadapan kekuasaanmu. Ingat, rakyat adalah sumber kekuasaan seorang pemimpin. Oleh karena itu, seorang pemimpin yang menyakiti hati rakyatnya adalah seorang pemimpin yang mengingkari kenyataan dirinya."

"Maksud Bapak?" tanya Aji Batara.

"Seorang pemimpin yang menyakiti rakyatnya berarti ia tidak menyadari bahwa kekuasaannya itu sesungguhnya bersumber dari rakyat. Tanpa rakyat, tidak akan ada seorang pemimpin."

Aji Batara mencoba meresapkan kata-kata bapaknya ke dalam hatinya. Makin hari ia pun makin terampil dalam berbagai hal. Kepandaiannya dalam bermain silat tidak ada yang menandingi di negeri Jaitan Layar. Nama Aji Batara dengan cepat terkenal ke negeri-negeri jauh. Raja Cina pun telah mendengar nama Aji Batara.

Semakin hari kejagoan Aji Batara semakin merasuk telinga Raja Cina. Lama-kelamaan timbul rasa penasaran pada diri Raja Cina. Ia pun ingin menjajal kemampuan Aji Batara dalam mengadu ayam karena kabar yang sampai ke telinga Raja Cina mengatakan bahwa Aji Batara tak pernah kalah dalam mengadu ayam.

Dengan menumpang perahu berukuran besar dan diikuti serombongan pengawal dan pengikut Raja Cina berangkat ke negeri Jaitan Layar. Gelombang besar yang mengombang-ambingkan perahu Raja Cina selama perjalanan di laut berhasil diatasi sehingga beberapa minggu kemudian Raja Cina pun sampailah di negeri Jaitan Layar. Aji Batara yang telah memperoleh berita sebelumnya telah menyambut di pelabuhan. Begitu Raja Cina datang, Raja Cina pun diajak Aji Batara ke rumahnya untuk beristirahat. Keesokan harinya, tanpa banyak membuang waktu, Aji Batara langsung mengajak Raja Cina ke arena adu ayam yang terletak tidak begitu jauh dari rumahnya.

"Paduka telah datang dari negeri Cina yang jauh, menempuh perjalanan panjang berminggu-minggu, bahkan menghadapi ancaman gelombang laut—yang kalau kita lengah—bisa mematikan," kata Aji Batara kepada Raja Cina. "Tentunya Paduka telah mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan diriku di arena adu ayam ini, dan tentu pula Paduka pasti telah mempersiapkan taruhan yang layak. Kalau aku boleh tahu apa yang  menjadi taruhan Paduka?"

"Ayam jago yang aku bawa ini modalku satu-satunya," kata Raja Cina penuh percaya diri. "Oleh karena itu, bila ayam jagoku ini sampai kalah, aku dan rombonganku inilah yang menjadi taruhannya. Perahu berikut isinya juga akan menjadi milikmu."

"Jadi, seandainya Paduka kalah, Paduka akan menjadi hambaku?" tanya Aji Batara.

"Betul katamu itu," jawab Raja Cina.

"Kalau begitu, aku juga harus memberikan taruhan yang sepadan. Kalau ayam jagoku ini sampai kalah, aku beserta orang-orangku akan menjadi tawananmu—yang kalau kau anggap perlu, boleh kau angkut ke negeri Cina. Sebagai tawanan kami akan tunduk pada semua perintahmu," kata Aji Batara.

"Bagaimana kalau kita mulai saja adu ayam ini?" tanya Raja Cina dengan tak sabar.

"Kalau kau siap, aku pun siap," jawab Aji Batara sambil mengelus-elus kepala ayam jago kesayangannya.

Dua ayam jago itu pun segera berhadapan di arena yang dipadati penonton seperti dua orang yang bermusuhan yang berhadapan di medan laga. Masing-masing siap menerjang lawannya. Setelah aba-aba diberikan, kedua ayam jago itu pun saling menerjang dengan garang. Satu sama lain tidak mau kalah. Masing-masing berusaha lebih dulu menyabet lawannya.

Belum ada tanda-tanda salah satu dari dua jago yang sedang berlaga itu akan tumbang. Masing-masing dengan semangat tinggi tetap berusaha merobohkan lawannya. Penonton yang melihat belum ada satu pun dari dua jago yang berlaga itu roboh menjadi penasaran. Tepukan dan sorakan penonton riuh meramaikan sekitar arena.

Lama-kelamaan serangan ayam jago Raja Cina itu kelihatan surut. Terjangannya tidak segarang tadi lagi. Raja Cina pun mulai tampak khawatir. Ia berbisik-bisik dengan salah seorang pengikutnya. Sementara itu, walaupun serangannya telah surut, jago Raja Cina itu masih tetap berusaha merobohkan lawannya dengan sisa-sisa kekuatannya. Jago Aji Batara pun tidak mau kalah. Ia berusaha sesegera mungkin mematahkan serangan lawannya.

Aji Batara yang merasa pertarungan ini terlalu lama segera bersemadi sejenak. Kemudian, ia menyebut-nyebut nama jago kesayangannya. Tiba-tiba saja jago Aji Batara seperti kesurupan. Gerakannya menjadi amat cepat sehingga sulit ditebak lawannya. Jago Raja Cina kewalahan dan semakin terpojok. Mendadak jago Raja Cina jatuh terpuruk karena serangan jago Aji Batara yang tak terduga. Raja Cina pun mengelus-elus dada menahan kekecewaan yang mendalam. "Baru kali ini jagoku bisa dikalahkan," katanya lirih menyesali kekalahan jagonya.

Jago Raja Cina roboh dikalahkan jago Aji Batara di arena adu ayam.


Aji Batara segera menghampiri Raja Cina yang duduk terpaku menyesali kekalahan ayam jagonya. "Sebagai seorang raja kau tentu tidak akan ingkar janji," katanya kepada Raja Cina.

“Jangan khawatir," kata Raja Cina. "Sejak detik ini aku beserta orang-orangku adalah hambamu, yang tunduk pada semua perintahmu. Aku tidak akan lari. Akan tetapi, sebelum menjadi orang yang tunduk pada perintahmu, izinkanlah kami menghirup kebebasan sesaat, apalagi kami baru kecewa berat menghadapi kekalahan ini. Kalau kau mengizinkan, kami ingin berjalan-jalan hingga malam nanti menikmati keindahan alam pegunungan.”

"Gunung itu yang kau maksud?" tanya Aji Batara sambil menunjuk hamparan pegunungan yang tampak oleh pandangan mata.

"Ya," kata Raja Cina. "Tidak jauh, bukan? Besok pagi-pagi benar kami pasti telah berada di sini."

"Baiklah," kata Aji Batara. "Aku mengizinkan kalian melepas lelah sekalian membuang kekecewaan yang menimpa diri kalian."

"Terima kasih atas kemurahan hatimu," kata Raja Cina dengan muka berseri-seri.

Raja Cina diikuti rombongannya segera bergerak ke arah pegunungan. Sementara itu, Aji Batara dengan muka ceria menuju rumahnya sambil mengelus-elus ayam jagonya yang telah memberinya kemenangan yang gemilang. "Raja Cina itu tampaknya tidak akan ingkar janji. Akan tetapi, bila ia ingkar janji, ia akan celaka sendiri," kata Aji Batara dalam hati.

Aji Batara merasa puas sekali karena jagonya berhasil mengalahkan jago Raja Cina. Jago kesayangannya ternyata jago unggulan yang sulit dikalahkan. Tiba-tiba saja timbul niat Aji Batara untuk mencoba keunggulan jagonya di mana-mana. Ia akan berkelana ke tempat-tempat jauh untuk menunjukkan bahwa jago kesayangannya benar-benar jagoan. Dengan harapan jagonya akan menang di mana-mana. Aji Batara pun berangkat tidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi bahwa jagonya selalu menang sehingga dirinya berhasil mengantongi taruhan yang mahal-mahal.

Esoknya Aji Batara bangun kesiangan. Ketika bangun, tahu-tahu telah ada orang datang menghadapnya. "Ada peristiwa apa sepagi ini?" pikir Aji Batara.

"Paduka, Raja Cina itu telah kabur," kata orang yang menghadap Aji Batara. "Perahu Raja Cina itu tidak kami lihat lagi. Apa yang sebaiknya kami lakukan, Paduka?"

"Biarkan saja!" kata Aji Batara.

"Siapa tahu kita masih mungkin mengejar Raja Cina, penipu itu!"

"Biarkan saja!" kata Aji Batara. "Raja Cina itu tidak mungkin akan sampai ke negerinya. Ia akan kandas di laut!"

Benar saja ucapan Aji Batara. Ketika Raja Cina beserta rombongannya tengah berlayar di laut, tiba-tiba angin berhenti bertiup, dan air laut pun mendadak berubah menjadi daratan. Raja Cina dan rombongannya kalang kabut. Mereka berlarian meninggalkan perahu menuju hutan.

Aji Batara telah berkemas-kemas hendak memulai perjalanan panjang mengadu keberuntungan. Katanya pada salah seorang pengikutnya, "Persiapkan semua perbekalan yang kau anggap perlu. Aku akan mengadakan perjalanan panjang yang memakan waktu lama. Jago kesayanganku ini akan memberi keberuntungan di mana-mana. Negeri-negeri jauh akan kita kunjungi untuk mencari keberuntungan."

"Siapa saja yang akan berangkat menemani Paduka?" tanya pengikut Aji Batara itu.

"Kita berdua saja. Kita akan repot bila terlalu banyak orang," jawab Aji Batara.

Setelah semua perbekalan yang diperlukan dalam perjalanan disiapkan, berangkatlah Aji Batara bersama seorang pengikutnya ke negeri Brunai. Berhari-hari kedua orang itu melintasi hutan, mendaki gunung, dan menyeberangi sungai. Akhirnya, sampailah keduanya di istana Raja Brunai. Raja Brunai yang tidak menduga kedatangan kedua orang itu menjadi terperanjat.

"Mimpi apa aku semalam sehingga tahu-tahu kalian berdua telah berada di hadapanku," kata Raja Brunai menyambut kedua tamunya.

"Ah, kami hanya main saja," kata Aji Batara.

"Ayam jago yang kau bawa itu tampaknya bagus," kata Raja Brunai ketika melihat ayam jago Aji Batara.

"Kalau Paduka berkenan, kami ingin mengadu keberuntungan," kata Aji Batara menimpali perkataan Raja Brunai.

"Oh, jadi begitu maksud kedatanganmu," kata Raja Brunai. "Kebetulan sekali. Ayam jagoku sudah lama tidak mendapatkan lawan yang setanding. Sekarang, tahu-tahu ada tamu datang menyuguhkan lawan untuk jagoku. Kita coba saja! Akan tetapi, aku ingin tahu, taruhan apa yang kau bawa kemari?"

"Emas lima puluh bungkal akan aku serahkan seandainya jagoku kalah," kata Aji Batara dengan yakin.

"Aku juga akan menyerahkan emas lima puluh bungkal seandainya jagoku kalah," tantang Raja Brunai.

Tanpa banyak membuang waktu kedua orang itu segera menggelar jagonya masing-masing di arena. Kedua ayam jago itu berhadapan dengan beringas, masing-masing siap memangsa lawannya. Begitu aba-aba diberikan, jago Aji Batara langsung merobohkan jago Raja Brunai. Raja Brunai pun terduduk lemas menyaksikan jagonya begitu cepat dikalahkan tanpa perlawanan. Sementara itu, mata Aji Batara berbinar-binar melihat jagonya sangat jagoan.

"lni emas lima puluh bungkal untukmu,” kata Raja Brunai sambil menyerahkan emas yang dijadikan taruhan.

Setelah mengantongi kemenangan dari Raja Brunai, Aji Batara melanjutkan perjalanan ke negeri Sambas. Di negeri Sambas jago Aji Batara kembali mengulang kemenangan yang dicetaknya di negeri Brunai. Emas yang diperoleh Aji Batara pun bertambah banyak karena emas yang ada di tangan Aji Batara dijadikannya sebagai taruhan. Oleh karena itu, di Sambas emas yang dipertaruhkan Aji Batara adalah seratus bungkal.

Aji Batara berpikir bahwa emas seratus lima puluh bungkal yang diperolehnya dari negeri Brunai dan Sambas sudah cukup banyak. Ia merasa seandainya ia bertaruh di negeri lain lagi ia akan tetap menang. Ia takut mengantongi emas terlalu banyak. "Menjadi orang terlalu kaya tidak enak juga," pikirnya. "Lebih enak jadi orang biasa-biasa saja."

Merasa emas yang diperolehnya dari taruhan telah cukup banyak, Aji Batara pun memutuskan untuk kembali pulang ke negerinya. Akan tetapi, dalam perjalanan pulang tiba-tiba pikirannya terusik. Di perjalanan tiba-tiba ia teringat bahwa jago dari negeri Sukadana dan negeri Matan sangat tersohor. Siapa tahu jagonya bakal kalah di negeri Sukadana atau negeri Matan.

Dengan semangat menyala-nyala didatanginya negeri Sukadana. Aji Batara ingin melihat keunggulan jago kesayangannya: mampukah jagonya melawan jago Raja Sukadana? Sesampainya di negeri Sukadana Aji Batara langsung mencari alamat Raja Sukadana. Setelah bertanya ke sana kemari, Aji Batara akhirnya berhasil menemukan istana Raja Sukadana. Raja Sukadana kebetulan sedang berangin-angin di halaman istana.

"Hai, apa kabar?" sapa Raja Sukadana begitu melihat Aji Batara dan seorang pengikutnya.

"Baik-baik saja," kata Aji Batara sambil tersenyum-senyum.

"Tidak seperti biasanya engkau datang kemari," kata Raja Sukadana. "Pasti ada apa-apa, apalagi engkau membawa-bawa ayam jago segala!"

"Kau tampaknya telah menangkap gelagatku. Aku memang penasaran. Kata orang, jagomu sangat jagoan. Siapa tahu kata orang itu betul," kata Aji Batara.

"Jadi, kau datang kemari ingin mengadu ayam?" tanya Raja Sukadana tersenyum-senyum. "Kau berani membayar berapa seandainya jagomu sampai kalah?"

"Emas dua ratus bungkal akan langsung aku serahkan begitu jagoku kalah," kata Aji Batara percaya diri.

"Baik, aku pun akan menyerahkan emas dua ratus bungkal begitu jagomu bisa mengalahkan jagoku," kata Raja Sukadana. "Sebaiknya kita mulai saja sekarang."

Aji Batara dan Raja Sukadana segera membawa jagonya masing-masing ke arena. Pertarungan ternyata berjalan alot. Dalam tempo tiga puluh menit belum satu jago pun tumbang. Raja Sukadana telah cemas. Keringat dingin mengalir di keningnya. Barangkali sekarang saatnya jagonya dikalahkan, begitu pikirnya.

Tiba-tiba dengan kecepatan tinggi jago Aji Batara menyambar leher jago Raja Sukadana. Jago Raja Sukadana langsung terkapar dan tidak berkutik lagi. Aji Batara pun segera mengurut dada lega. Pertarungan yang menegangkan sudah berakhir. Sebaliknya, Raja Sukadana langsung bermuka masam. Jago yang selama ini dibangga-banggakannya ternyata berhasil dikalahkan. "Akan tetapi, ini semua adalah bagian dari nasib," pikirnya mencoba menghibur diri.

Raja Sukadana yang masih larut dalam kesedihannya karena kematian ayam jagonya tiba-tiba disadarkan oleh Aji Batara yang datang menghampirinya. "Ini pasti menagih taruhan," kata Raja Sukadana dalam hati.

"Ini emas dua ratus bungkal untukmu," kata Raja Sukadana kepada Aji Batara.

"Terima kasih," kata Aji Batara dengan muka berseri-seri.

Setelah menerima emas dua ratus bungkal dari Raja Sukadana, Aji Batara pun melanjutkan perjalanan ke negeri Matan bersama seorang pengikutnya. "Di negeri Matan nanti akan aku pertaruhkan emas empat ratus bungkal," kata Aji Batara kepada pengikutnya. "Jago kesayanganku pasti akan menang di sana!"

Sesampainya di negeri Matan, kebetulan Raja Matan sedang mengadu ayam. Sambil menunggu peraduan ayam selesai, Aji Batara bersama pengikutnya ikut menonton. "Seru juga!" kata Aji Batara. Di akhir pertarungan, jago Raja Matan menunjukkan keunggulannya dengan membabat habis ayam jago lawannya.

Raja Matan yang baru saja mabuk kemenangan tiba-tiba melihat Aji Batara yang sedang membawa jago unggulannya. "Agaknya ada lagi orang yang ingin menantang jagoku," kata Raja Matan. "Namun, aku yakin jagoku akan tetap unggul."

"Sebaiknya jago Paduka biarlah beristirahat sesaat sebelum bertarung lagi," kata salah seorang pengawal Raja Matan.

"Betul juga pendapatmu itu!" kata Raja Matan kepada pengawalnya.

"Selamat siang, Paduka!" Tiba-tiba berkata Aji Batara yang telah berada di dekat Raja Matan.

"Hai, kau rupanya yang datang kemari!" seru Raja Matan menyambut kedatangan tamunya. "Agaknya kau ingin mengadu jagomu kemari."

"TIdak salah dugaanmu," jawab Aji Batara. "Akan tetapi, bukankah jago Paduka perlu beristirahat dulu sehabis bertarung tadi?"

"Ya, biarkan jagoku beristirahat dulu," kata Raja Matan. "Yang jelas, ia siap berhadapan dengan jagomu. Sebaiknya engkau pun perlu beristirahat dulu sehabis menempuh perjalanan yang jauh. Silakan minum-minum dulu!"

Setelah merasa cukup beristirahat, Aji Batara segera menemui Raja Matan. "Jagoku dalam keadaan siap,” katanya kepada Raja Matan. "Aku ingin mengetahui berapa bungkal emas yang kau pertaruhkan?"

"Tidak banyak!" kata Raja Matan. "Seribu bungkal emas saja! Dan kau, berapa?"

"Aku hanya ada empat ratus bungkal," kata Aji Batara.

"Bukan masalah!" kata Raja Matan penuh keyakinan diri. "Jagoku pasti menang!"

"Sebaiknya kita mulai sekarang saja," kata Aji Batara penasaran.

Di arena, pertarungan pun berlangsung seru dan alot. Kedua jago saling berusaha mendahului untuk merobohkan lawannya. Satu pun tidak ada yang mau kalah karena kalah berarti kematian. Masing-masing berusaha menjunjung nama tuannya seolah-olah tidak ada yang rela tuannya dikalahkan dalam pertaruhan.

Setelah hari hampir petang, tiba-tiba jago Raja Matan terpuruk tidak bergerak lagi terkena sabetan paruh jago Aji Batara. "Inilah imbalan sikap Raja Matan yang terlalu sesumbar. Ia terlalu yakin jagonya akan menang sehingga ia tidak segan-segan memasang taruhan seribu bungkal emas," kata Aji Batara dalam hati.

Dengan langkah lunglai Raja Matan datang menghampiri Aji Batara. "Ini emas seribu bungkal untukmu," katanya. "Bawalah dan cepatlah pergi dari sini. Kaulah penyebab kematian jago yang paling aku sayangi. Jika engkau tidak cepat angkat kaki dari sini, barangkali engkau harus menebus kematian jagoku,” lanjut Raja Matan dengan sorot mata berapi-api.

Tanpa mengucapkan terima kasih, Aji Batara langsung meninggalkan tempat itu. "Bertaruh dengan orang gila ternyata hanya mencari penyakit!" katanya dalam hati. Akan tetapi, sikap Raja Matan yang tidak menyenangkan itu akhirnya lewat begitu saja dari hatinya. "Jagoku akan tetap unggul di mana-mana!" katanya dalam hati penuh keyakinan.

Malam pun semakin larut. Perjalanan pulang ke rumah Aji Batara masih panjang. Sepanjang perjalanan telinga Aji Batara hanya menangkap bunyi serangga malam. Tiba-tiba tanpa diduga sama sekali sebelumnya, ayam jago Aji Batara melarikan diri secara mendadak dan langsung lenyap ditelan kegelapan malam. Aji Batara kalang kabut karena jago kesayangannya kabur secara tidak terduga. "Kau cari jagoku sampai bertemu!" perintah Aji Batara pada pengikutnya. "Sementara aku akan ke rumah dulu. Aku telah terlalu lama meninggalkan ibu bapakku. Kasihan mereka berdua! Mereka pasti telah merindukanku."

Aji Batara melanjutkan perjalanan pulang ke rumah karena perasaan rindu yang mendalam terhadap kedua orang tuanya, sementara pengikutnya mencari-cari jago Aji Batara yang kabur melarikan diri. Malam semakin sepi, dan gelap malam pekat. Sinar rembulan dan bintang-bintang di langit tertahan daun pepohonan yang tumbuh lebat di hutan belantara dilalui Aji Batara.

Walaupun suasana sangat sunyi dan malam telah larut sekali, Aji Batara tetap melanjutkan perjalanannya. Ia ingin cepat sampai di rumah karena perasaan rindu yang mendesak-desak kalbunya. "Apalah arti emas seribu empat ratus bungkal yang berada di tanganku, yang sebagian besar aku peroleh dari taruhan, dibandingkan perasaan rinduku kepada ibu bapakku!" katanya dalam hati. Tengah Aji Batara melangkahkan kaki seorang diri itu, tiba-tiba matanya menemukan sebuah padang rumput yang luas. Sinar rembulan dengan leluasa menerangi padang rumput itu. Padang rumput itu pun dipagari hutan yang lebat. "Tempat ini seperti kahyangan saja!" kata Aji Batara seorang diri. "Kahyangan yang biasanya hanya terjumpa dalam mimpi-mimpiku sekarang hadir di depan mata. Aku akan mati dan terkubur di tempat yang seindah ini. Di sini kelak juga akan kubangun istanaku. Aku akan segera kembali kemari untuk mendirikan istanaku setelah aku bertemu dengan ibu bapakku. Tempat seindah ini sebaiknya aku namakan Kutai Kartanegara. Mudah-mudahan rakyatku kelak hidup makmur dan sejahtera, dengan Kutai Kartanegara sebagai pusat pemerintahannya."

Setelah menautkan hati sejenak dengan keindahan tempat yang dinamainya Kutai Kartanegara, Aji Batara bergegas meninggalkan tempat itu. Kelak ia akan kembali ke sana. Sekejap ia menoleh ke belakang. Ditatapnya langit dan bulan yang bersinar lembut. "Di sana kutanamkan hati dan kalbuku," bisik hatinya.

•••

5.
KUTAI KARTANEGARA


Panas matahari membakar tubuh Aji Batara. Keringat pun mengucur di sekujur tubuhnya. Akan tetapi, Aji Batara tidak menghiraukannya. Ia makin mempercepat langkahnya. Akhirnya, setelah berjalan berhari-hari melalui rimba belantara, sungai, dan pegunungan, Aji Batara bertemu dengan kedua ibu bapaknya. Hati Aji Batara bergetar menyaksikan kedua orang tuanya yang tampak bertambah uzur. "Ibu bapakku tampaknya tinggal menunggu waktu saja," katanya dalam hati.

"Oh, kau, Aji!" sapa ibu Aji Batara sambil memeluk anaknya erat-erat. "Akhirnya, kau datang juga! Aku pikir kau hilang di rimba belantara."

"Kami berdua merasa kesepian tanpa kau di sini," lanjut bapaknya. "Akan tetapi, sudahlah! Tidak usah terlalu kau pikirkan kami berdua! Kami berdua tinggal menghitung hari-hari yang tersisa. Baik-baik sajalah kau menjaga diri.”

"Bapak jangan berkata begitu," kata Aji Batara dengan mata agak basah. "Aku masih merasa memerlukan naungan ibu bapak. Masa Bapak tega meninggalkanku?"

"Siapa yang tega meninggalkan kau?" kata bapak Aji Batara. "Aku selalu ingin bersamamu selama-lamanya. Akan tetapi, itu tidak mungkin. Hanya dewa yang bisa begitu. Sekarang kau persiapkan saja dirimu baik-baik sebagai penggantiku. Pimpinlah negeri ini seadil mungkin—dan seperti pesanku dulu—jangan sekali-kali kau sakiti hati rakyat yang kau pimpin."

"Kalau begitu permintaan Bapak, aku akan mencoba melaksanakan sebaik-baiknya," kata Aji Batara. "Kebetulan aku telah menemukan tempat yang aku rasa cocok untuk mendirikan istana. Aku pun telah berangan-angan mendirikan istana secepat mungkin di tempat itu. Aku hanya mohon doa restu ibu bapak."

"Nah," lanjut bapak Aji Batara, "apalagi engkau telah menemukan tempat yang kau anggap cocok untuk mendirikan istanamu. Kalau begitu, kau tinggal meyakinkan diri saja bahwa engkau memang bisa memimpin negeri ini."

Sewaktu Aji Batara berbincang-bincang dengan bapaknya itu, tiba-tiba muncul pengikut Aji Batara yang beberapa waktu lalu mencari ayam jago Aji Batara yang kabur di kegelapan hutan belantara. "Eh, kau!" sapa Aji Batara begitu melihat kedatangan salah seorang pengikutnya. "Bagaimana? Telah kau temukan jagoku yang hilang itu?"

"Ampun, Paduka," kata pengikut itu. "Hamba telah menemukannya. Ayam jago Paduka ternyata berada di rumah seorang putri yang cantik jelita. Akan tetapi, sayang sekali, putri yang berwajah manis itu tidak bersedia melepaskan ayam jago Paduka. Katanya, ayam jago Paduka adalah pasangan ayam betina kepunyaannya."

"Begitu katanya?" tanya Aji Batara.

"Ya. Ia mengatakan demikian, dan bersikeras mempertahankan ayam jago kepunyaan Paduka."

"Kalau begitu, besok antarkan aku ke rumah putri yang jelita itu. Sekarang kau beristirahat saja dulu!"

Keesokan harinya setelah menempuh perjalanan berhari-hari, Aji Batara bersama pengikutnya itu tiba di rumah putri yang cantik jelita. Aji Batara mengusap-usap matanya seakan-akan tidak percaya dengan yang dilihatnya. "Bukankah aku sedang tidak bermimpi?" tanyanya dalam hati.

"Ada apa kau datang lagi kemari?" tanya putri itu kepada pengikut Aji Batara.

"Aku hanya mengantarkan pemilik ayam jago," kata pengikut Aji Batara. "Kau tanya langsung saja kepada yang mempunyai ayam jago bila engkau tidak yakin bahwa ayam jago itu miliknya."

"Benarkah ayam jago itu milikmu?" tanya putri yang manis itu kepada Aji Batara.

"Duh, Tuan Putri!" kata Aji Batara. "Orang begini cantik galak amat?"

"Biar saja galak," jawab putri itu. "Kalau tidak galak, kalian tidak tahu diri. Kalian akan selalu mengusik hidupku!"

"Duh, Tuan Putri!" goda Aji Batara. "Tambah galak saja! Bisa-bisa aku mati ketakutan di sini."

"Biar saja kau mati di sini!" kata putri itu ketus.

"Tidak usah kau marah, Putri yang manis!" kata Aji Batara. "Aku rela ayam jagoku menjadi milikmu. Akan tetapi, tentu saja ada syaratnya."

"Apa syaratnya?"

"Syaratnya, ayam jagoku itu kau tukar dengan hatimu," kata Aji Batara sambil tersenyum-senyum.

"Apa katamu? Apakah hatiku semurah itu?" tanya putri dengan muka merah. "Engkau tak akan mungkin mendapatkan hatiku."

"Aku tidak pernah menghargai murah hatimu," kata Aji Batara lembut. "Ayam jagoku sudah aku anggap sebagai bagian hidupku yang tak terpisahkan lagi. Jadi, sama sekali aku tak pernah menghargai murah dirimu.”

"Baiklah," kata putri yang cantik itu. "Barangkali aku salah sangka saja."

Melihat sikap putri yang jelita mulai melunak, Aji Batara merasa di atas angin. Ia langsung jual mahal. "Aku pulang dulu," katanya. "Kapan-kapan—kalau sempat—aku kemari lagi." Selesai berkata begitu, Aji Batara langsung angkat kaki. Putri jelita pun tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka Aji Batara akan secepat itu angkat kaki.

Putri jelita yang ternyata Putri Karang Melinu menyesali sikapnya terhadap Aji Batara. Ia merasa bodoh karena telah bersikap judes terhadap Aji Batara. Padahal, diam-diam ia merasa tertarik pada Aji Batara. Bermalam-malam setiap menjelang tidur ia menyesali sikapnya itu. Dalam tidurnya pun wajah Aji Batara selalu menghiasi mimpi-mimpinya.

Diam-diam Aji Batara pun menyesali sikapnya yang jual mahal ketika hendak berpisah dengan putri jelita. Ia merasa tolol berlaku demikian. Apa salahnya agak mengalah terhadap putri yang manis dan lembut itu, pikirnya. Barangkali saja ia lagi keluar judesnya pada waktu itu. Seperti Putri Karang Melinu, Aji Batara pun hampir tiap malam bermimpikan wajah ayu yang kini jauh di mata. Karena merasa tersiksa oleh mimpi-mimpinya tiap malam, akhirnya Aji Batara pun berkunjung lagi ke rumah putri jelita.

Putri Karang Melinu nyaris pingsan ketika tiba-tiba Aji Batara telah berada di hadapannya. Orang yang didamba-dambakannya, yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya, tiba-tiba telah berada di depan mata. Mulut putri jelita terasa terkunci ketika Aji Batara dengan ramah menyapanya, "Halo, gadis manis! Mudah-mudahan engkau tidak segalak dulu!"

Putri Karang Melinu hanya tersipu-sipu mendengar sapaan Aji Batara yang lembut dan ramah. Hatinya bergetar. Jantungnya berdenyut lebih cepat. Mukanya memerah.

Putri Karang Melinu yang berwajah lembut dan manis tertunduk malu-malu ketika berhadapan dengan Aji Batara.


Hati Aji Batara pun bergetar menyaksikan gadis manis yang diincarnya hanya tersipu-sipu malu di hadapannya. "Barangkali ini yang namanya cinta," pikir Aji Batara. Tiba-tiba bibir Aji Batara seperti terkunci ketika ia ingin berbicara lebih lanjut dengan putri jelita. Hanya batinnya yang berbicara.

Dua hati sudah bertemu. Dalam perjalanan waktu dua hati itu akhirnya menyatu dan tak terpisahkan. Aji Batara dan Putri Karang Melinu bersama-sama mengarungi hidup. Cinta mereka berdua seperti pasang surut yang seirama dengan gelombang kehidupan, tetapi badai tak mampu mengikis cinta mereka. Bagai benih yang ditabur di atas tanah yang subur, cinta mereka berdua tumbuh kian kokoh dan tak tergoyahkan.

Sementara itu, istana yang diangan-angankan Aji Batara di Kutai Kertanegara telah tegak berdiri. Aji Batara memerintah dengan adil sehingga rakyat sayang kepadanya. Rakyat berkecukupan pangan, dan tak ada satu pun yang berpakaian compang-camping.

Pada masa pemerintahan Aji Batara itu datang pula seorang wali. Mula-mula Aji Batara meragukan ajaran agama Islam yang dibawa oleh wali itu ke Kutai. Akan tetapi, setelah menyaksikan kelebihan agama Islam yang diperkenalkan oleh wali itu di Kutai, Aji Batara akhirnya menyatakan diri masuk Islam. Masjid pun berdiri di mana-mana. Setiap subuh terdengar kumandang azan dari masjid. Perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama Islam, seperti berjudi dan bertaruh, sedikit demi sedikit berkurang di Kutai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI

NEGERI PARA JIN