LIDAH TUHAN
Semula
Tuhan berbicara.
Lalu bahasa
menjadi terlalu ramai.
Setiap nabi
membawa kamus.
Setiap imam
membawa definisi.
Setiap penyair
membawa metafora.
Setiap penguasa
membawa pengeras suara.
Tuhan pun diam.
Bukan karena kehilangan kata.
Melainkan karena
lidah manusia
lebih berisik
daripada langit.
Kini,
setiap doa
naik
melewati jutaan sinonim.
Sebagian tersesat
di kamus.
Sebagian mati
di pidato.
Sebagian berubah
menjadi slogan.
Dan yang benar-benar
sampai kepada-Nya,
mungkin hanyalah
air mata
yang belum sempat
belajar
menjadi bahasa.
---
TUHAN MENGHAPUS KALIMAT
Pada hari ketujuh, bukan dunia yang diistirahatkan, melainkan tata bahasa.
Subjek berjalan tanpa predikat. Predikat mencari objek. Keterangan waktu terlambat datang dua milenium.
Lantas, Tuhan mengambil sebuah penghapus. Bukan untuk menghapus dosa, melainkan menghapus kata "adalah".
Sejak itu segala sesuatu tidak lagi pasti.
"Manusia adalah debu."
Coret.
"Tuhan adalah kasih."
Coret.
"Sejarah adalah kemajuan."
Coret.
Yang tersisa hanya ruang kosong di antara dua kata. Dan seluruh filsafat lahir karena manusia tak tahan melihat kekosongan itu.
Komentar
Posting Komentar