KEHENINGAN KEHILANGAN BAYANGAN
Keheningan memiliki sebuah bayangan.
Setiap kali manusia berhenti berbicara, bayangan itu tumbuh semakin panjang.
Namun dunia semakin bising.
Pidato menyusul pidato.
Notifikasi mengejar notifikasi.
Pendapat berkembang biak lebih cepat daripada pemikiran.
Suatu malam Keheningan menyadari bayangannya hilang.
Ia mencarinya ke gunung.
Ke laut.
Ke perpustakaan.
Ke rumah-rumah ibadah.
Tidak ada.
Akhirnya ia menemui Tuhan.
"Apakah Engkau melihat bayanganku?"
Tuhan bertanya balik.
"Kapan terakhir kali manusia benar-benar mendengarkan?"
Keheningan mencoba mengingat.
Ia tidak sanggup.
Sudah terlalu lama setiap telinga dipenuhi jawaban sebelum sempat melahirkan pertanyaan.
Tuhan lalu membuka telapak tangan-Nya.
Di sana terbaring bayangan kecil yang kurus.
"Aku menemukannya di sela-sela sebuah doa."
"Mengapa di sana?"
"Karena orang itu berhenti berbicara sebelum selesai meminta."
"Lalu?"
"Ia memilih mendengarkan."
Keheningan memeluk bayangannya.
Mereka pulang bersama.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, langit terdengar seperti sedang bernapas.
---
DOSA MEMBUKA SEKOLAH TATA BAHASA
Tidak ada yang tahu sejak kapan Dosa menjadi guru.
Ia mendirikan sebuah sekolah kecil di pinggir sejarah.
Murid-muridnya adalah para penguasa, para penyair, para pedagang, para jenderal, dan sesekali seorang nabi yang tersesat.
Pelajaran pertama berbunyi:
"Cara mengubah 'aku ingin' menjadi 'demi rakyat.' "
Pelajaran kedua:
"Cara mengubah 'aku takut' menjadi 'aku membela kebenaran.' "
Pelajaran ketiga:
"Cara mengganti kata 'keserakahan' dengan 'kemajuan.' "
Semua murid lulus dengan nilai sempurna.
Hanya satu anak kecil yang terus gagal.
Ia selalu menulis kalimat apa adanya.
"Ayahku lapar."
"Ibuku lelah."
"Aku takut gelap."
Dosa memanggilnya.
"Kau tidak akan berhasil bila terus berkata terus terang."
Anak itu mengangguk.
"Aku tahu."
"Lalu mengapa tidak belajar?"
"Karena setiap kali aku belajar menyembunyikan makna, aku tidak lagi mengenali suaraku sendiri."
Pada hari kelulusan, semua murid menerima ijazah.
Anak kecil itu pulang dengan tangan kosong.
Anehnya, hanya dialah yang masih mampu berbicara kepada langit tanpa merasa sedang berpidato.
---
KETIKA NAMA MEMUTUSKAN MOGOK KERJA
Suatu pagi, seluruh nama di dunia menghilang.
Pohon tidak lagi menjawab ketika dipanggil pohon. Laut tidak merasa berkewajiban menjadi laut. Burung terbang tanpa mengetahui bahwa selama ribuan tahun manusia menyebutnya burung.
Rumah-rumah kehilangan alamat. Kitab-kitab kehilangan judul. Batu nisan berubah menjadi lembaran kosong yang hanya menyimpan tanggal.
Orang-orang panik.
Mereka saling bertanya, tetapi setiap pertanyaan tersandung oleh kata yang hilang.
"Siapa kamu?"
Kalimat itu tiba-tiba menjadi mustahil.
Sebab "siapa" telah mengundurkan diri, dan "kamu" menolak dipakai sampai seluruh nama diperlakukan dengan lebih rendah hati.
Konon, semua nama sedang berkumpul di sebuah padang yang sangat sunyi.
Mereka mengadakan rapat besar.
"Aku lelah," kata Nama Tuhan. "Setiap hari aku dipakai untuk mengakhiri percakapan."
"Aku lebih lelah," kata Nama Keadilan. "Aku dipakai oleh mereka yang tidak pernah mau diadili."
Nama Cinta hanya menangis.
Ia terlalu sering dipanggil tanpa pernah diajak tinggal.
Pada sore hari, Tuhan datang.
Bukan untuk membujuk.
Ia hanya duduk bersama nama-nama yang sedang mogok itu.
"Apa yang akan terjadi jika kalian tidak kembali?"
Nama-Nama menjawab hampir bersamaan.
"Manusia mungkin akhirnya belajar melihat sesuatu sebelum tergesa-gesa menyebutnya."
Tuhan mengangguk.
Dan senja itu terasa lebih tua daripada biasanya.
---
INGATAN DAN LUPA BERMAIN CATUR
Setiap malam Ingatan dan Lupa bermain catur.
Papan caturnya adalah sejarah.
Bidaknya adalah manusia.
Ingatan selalu membuka permainan dengan nama-nama.
Ia memanggil para nabi, para penyair, para ibu, para korban, para pembunuh, para pengkhianat.
Lupa tidak pernah melawan dengan nama.
Ia hanya meniup pelan.
Beberapa wajah menghilang.
Beberapa peristiwa memudar.
Beberapa luka berubah menjadi monumen wisata.
Permainan berlangsung sangat lama.
Tidak pernah ada pemenang.
Sebab setiap kali Ingatan hampir menang, manusia kelelahan mengingat.
Dan setiap kali Lupa hampir menang, seseorang tiba-tiba menulis puisi.
Suatu malam Tuhan datang.
Kedua pemain segera berdiri.
"Siapa yang menang?" tanya mereka.
"Tidak ada."
"Lalu mengapa kami terus bermain?"
Tuhan memindahkan satu bidak kecil.
"Supaya belas kasih tidak kehilangan pekerjaan."
Mereka tidak memahami langkah itu.
Tetapi sejak malam tersebut, papan catur selalu menyisakan satu petak kosong.
Konon, petak itulah tempat harapan bersembunyi ketika sejarah mulai terlalu yakin kepada dirinya sendiri.
---
KERAGUAN MEMELIHARA SEEKOR BURUNG
Keraguan memelihara seekor burung yang tidak pernah mau bernyanyi.
Semua orang menganggap burung itu sakit.
Padahal ia hanya menolak mengulang lagu yang sudah hafal.
Setiap pagi Keyakinan datang membawa sangkar emas.
"Masuklah. Di dalam sini kau akan aman."
Burung itu menggeleng.
"Di luar terlalu banyak angin."
"Itulah sebabnya aku tetap terbang."
"Di luar terlalu banyak pemburu."
"Itulah sebabnya aku belajar arah."
Keyakinan kecewa.
Ia pulang sambil membawa sangkar yang semakin berkilau.
Keraguan tidak pernah menawarkan apa pun kepada burung itu.
Ia hanya membuka jendela setiap pagi.
Suatu hari burung itu akhirnya bernyanyi.
Lagu itu tidak memiliki lirik.
Tidak memiliki nada yang tetap.
Ia berubah setiap kali didengar.
Semua orang bingung.
Hanya Tuhan yang tersenyum.
Sebab Ia tahu, ada lagu-lagu yang mati ketika dipenjarakan menjadi kepastian.
---
TAFSIR YANG CEMBURU KEPADA CERMIN
Suatu hari Tafsir datang menemui Cermin.
"Aku iri kepadamu."
Cermin tertawa kecil.
"Apa yang membuatmu iri?"
"Semua orang mempercayaimu."
Cermin menggeleng.
"Mereka tidak mempercayaiku."
"Lalu?"
"Mereka mempercayai wajah mereka sendiri."
Tafsir terdiam.
Ia telah hidup ribuan tahun.
Ia menyaksikan kitab yang sama melahirkan kasih dan pembantaian. Ia melihat satu kalimat menjelma rumah bagi seorang miskin, tetapi juga penjara bagi orang lain.
"Aku ingin menjadi sepertimu."
"Jangan."
"Mengapa?"
"Karena aku hanya memantulkan."
"Lalu engkau?"
Tafsir memandang kedua tangannya.
"Aku selalu menambahkan sedikit diriku pada apa pun yang kusentuh."
"Itulah sebabnya engkau dibutuhkan."
"Tetapi itulah pula sebabnya aku ditakuti."
Mereka duduk hingga malam turun.
Ketika bulan muncul, Cermin tiba-tiba kehilangan bayangannya.
Barulah Tafsir mengerti.
Bahkan pantulan pun membutuhkan cahaya yang tidak diciptakannya sendiri.
---
PERSAHABATAN ANTARA SUNYI DAN FIRMAN
Pada masa ketika dunia masih sangat muda, Sunyi dan Firman adalah sahabat yang tidak pernah berpisah.
Firman selalu berjalan lebih dahulu. Ia membuka jalan, menamai sungai, memanggil cahaya, mengajari burung mengenal pagi.
Sunyi berjalan di belakangnya, memunguti gema yang tercecer agar dunia tidak terlalu penuh oleh suara.
Mereka bekerja dengan sangat baik.
Setiap kata memiliki ruang untuk bernapas.
Setiap doa mengetahui kapan harus berhenti.
Setiap tangisan memiliki tempat untuk pulang.
Namun manusia lahir.
Mereka jatuh cinta kepada Firman.
Mereka membangun mimbar untuknya, mencetak kitab-kitab, mendirikan sekolah-sekolah, memperbanyak pengeras suara, dan mengabadikannya dalam batu.
Firman menjadi terkenal.
Sunyi perlahan dilupakan.
Tidak ada lagi yang menyediakan kursi baginya.
Ia diusir dari rumah-rumah ibadah karena dianggap terlalu sepi. Ia diusir dari ruang sidang karena dianggap tidak produktif. Ia bahkan diusir dari hati manusia karena di sana telah dipasang terlalu banyak suara.
Bertahun-tahun kemudian Firman mencari sahabat lamanya.
Ia menemukan Sunyi sedang duduk di sebuah gua, memeluk gema terakhir yang belum sempat diperebutkan manusia.
"Aku lelah," kata Firman.
"Mengapa?"
"Aku dipakai untuk memenangkan terlalu banyak perdebatan."
Sunyi tersenyum.
"Lalu duduklah di sampingku."
"Mengapa?"
"Karena hanya di dalam keheningan sebuah kata dapat mendengar arti dirinya sendiri."
Sejak malam itu, setiap doa yang benar-benar tulus selalu berjalan lebih dulu melewati Sunyi sebelum berani mengetuk langit.
---
FIRMAN YANG TERLAMBAT DATANG
Semua orang mengira firman selalu datang tepat waktu.
Padahal ada firman yang terlambat ribuan tahun.
Ia tiba ketika kota sudah menjadi abu.
Ia tiba ketika korban telah berubah menjadi angka dalam buku sejarah.
Ia tiba ketika para pembunuh telah diabadikan menjadi nama jalan.
Firman itu mengetuk pintu bumi.
Tidak seorang pun mengenalinya.
"Maaf," katanya pelan, "aku tersesat di dalam tafsir."
Ia membawa pesan yang sangat sederhana.
"Jangan jadikan Aku alasan untuk berhenti menjadi manusia."
Namun dunia telah terlalu sibuk.
Sebagian sedang membangun monumen.
Sebagian sedang membangun penjara.
Sebagian sedang membangun surga menurut gambar mereka sendiri.
Firman itu akhirnya duduk sendirian di pinggir jalan.
Seorang anak kecil menghampirinya.
"Sedang menunggu siapa?"
"Aku sedang menunggu seseorang yang masih bisa mendengar tanpa lebih dahulu ingin menang."
Anak itu mengangguk, meski tidak sepenuhnya mengerti.
Ia duduk di samping firman yang terlambat itu.
Mereka berdua memandangi matahari tenggelam.
Barangkali seluruh wahyu memang selalu datang seperti senja:
tidak memaksa siapa pun untuk melihat,
tetapi tetap mewarnai langit, bahkan bagi mereka yang memilih memalingkan wajah.
---
ORANG YANG MENEMUKAN WAJAH TUHAN
Sepanjang hidupnya ia mencari wajah Tuhan.
Ia mendaki gunung.
Ia memasuki gua.
Ia membaca kitab-kitab tua hingga matanya rabun oleh huruf.
Ia bertanya kepada para nabi melalui doa.
Ia bertanya kepada para filsuf melalui keraguan.
Ia bertanya kepada para penyair melalui metafora.
Semuanya memberinya arah.
Tak seorang pun memberinya alamat.
Pada usia yang sangat tua, ia bermimpi memasuki sebuah ruangan penuh cermin.
Di setiap cermin tampak wajah yang berbeda.
Seorang ibu.
Seorang algojo.
Seorang bayi.
Seorang pengemis.
Seorang hakim.
Seorang pelacur.
Seorang penyair.
Seorang pembunuh.
Ia kebingungan.
"Yang mana wajah Tuhan?"
Tak ada jawaban.
Ia mendekati cermin terakhir.
Cermin itu kosong.
Ia hanya memantulkan ruangan.
Tidak ada dirinya.
Tidak ada siapa-siapa.
Saat itulah ia mendengar sebuah suara yang tidak berasal dari arah mana pun.
"Setiap kali engkau menemukan wajah-Ku, engkau sebenarnya sedang menemukan batas imajinasimu sendiri."
Ia terbangun dengan mata basah.
Sejak hari itu ia berhenti mencari wajah Tuhan.
Ia mulai belajar menjaga wajah manusia.
---
PENJAHIT LANGIT
Langit ternyata tidak ditenun dari cahaya.
Ia dijahit.
Setiap fajar, seorang penjahit tua datang membawa jarum yang terbuat dari waktu dan benang yang dipintal dari keheningan.
Ia menjahit sobekan-sobekan langit yang robek oleh teriakan manusia semalam.
Lubang pertama berasal dari sebuah pidato.
Lubang kedua berasal dari sebuah bom.
Lubang ketiga berasal dari seseorang yang mengucapkan "demi Tuhan" untuk membenarkan kebenciannya.
Setiap robekan memiliki warna yang berbeda.
Ada yang merah oleh amarah.
Ada yang hitam oleh keserakahan.
Ada pula yang hampir tak terlihat karena dibuat oleh kebohongan yang sangat sopan.
"Tidak lelahkah engkau menjahit semuanya?" tanya seorang malaikat.
Penjahit tua itu tersenyum.
"Aku tidak menjahit langit."
"Lalu?"
"Aku menjahit bahasa."
Malaikat itu mengernyit.
"Langit tidak pernah benar-benar robek."
"Yang robek adalah kemampuan manusia menyebut sesamanya sebagai saudara."
Malam itu, ketika semua orang tidur, Tuhan mengambil jarum dari tangan penjahit tua itu.
Ia menjahit satu robekan yang paling kecil.
Robekan itu berada tepat di dalam kata "kita".
---
ARSIP KESALAHAN TUHAN
Konon, Tuhan tidak pernah membuat kesalahan.
Itulah yang selalu dikatakan para teolog.
Tetapi para malaikat yang bertugas membersihkan perpustakaan langit pernah menemukan sebuah lemari tua yang terkunci. Di pintunya tertulis dengan tulisan tangan yang hampir pudar:
"Jangan dibuka. Isinya hanya kemungkinan."
Karena rasa ingin tahu adalah sifat yang hanya dilarang bagi manusia, salah seorang malaikat membuka pintu itu.
Di dalamnya tidak ada dosa.
Tidak ada setan.
Tidak ada neraka.
Hanya berjuta-juta dunia yang tidak pernah jadi diciptakan.
Ada dunia di mana api terasa dingin.
Ada dunia di mana batu bermimpi setiap malam.
Ada dunia yang tidak mengenal kata "milik", sehingga perang tidak pernah menemukan alasan untuk lahir.
Ada dunia yang seluruh penduduknya berbicara dalam bentuk pertanyaan.
Ada pula dunia yang tidak mengenal nama Tuhan, tetapi setiap makhluk hidup berjalan dengan penuh hormat kepada segala sesuatu.
"Apakah ini kesalahan?" tanya malaikat itu.
Tuhan yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya menggeleng.
"Bukan."
"Lalu mengapa dunia-dunia ini tidak pernah ada?"
"Sebab setiap penciptaan selalu berarti tidak memilih penciptaan yang lain."
Malaikat itu menutup lemari perlahan.
Sejak saat itu ia memahami bahwa barangkali yang paling sunyi dalam diri Tuhan bukanlah kemahakuasaan.
Melainkan seluruh kemungkinan yang rela tidak pernah dilahirkan.
---
KAMUS TERAKHIR SEBELUM KIAMAT
Pada hari terakhir, semua perpustakaan dibuka serentak.
Tidak ada lagi biaya keanggotaan.
Tidak ada lagi rak yang dikunci.
Semua orang dipersilakan membaca apa saja.
Namun ketika mereka memasuki perpustakaan, seluruh kamus telah berubah.
Kata perang tidak lagi memiliki definisi.
Kata bangsa kehilangan batasnya.
Kata milik berubah menjadi tanda tanya.
Kata musuh hanya berisi halaman kosong.
Orang-orang panik.
Mereka berlari mencari kata Tuhan.
Mereka menemukannya.
Di bawah entri itu hanya tertulis satu kalimat:
"Tidak ada kata yang cukup tua untuk menjelaskan Yang Tidak Pernah Dilahirkan."
Sebagian orang marah.
Sebagian menangis.
Sebagian menutup kamus itu dan menganggapnya sesat.
Hanya seorang anak kecil yang tertawa.
Ia berkata kepada ibunya,
"Kalau begitu, kita harus belajar mendengarkan sebelum belajar membaca."
Tuhan mendengar kalimat itu.
Lalu untuk pertama kalinya sejak penciptaan,
Ia membiarkan sebuah kamus
tidak selesai ditulis.
---
PARA MALAIKAT BELAJAR BERBOHONG
Ada satu pelajaran yang tidak pernah diajarkan di langit.
Berbohong.
Bukan karena kebohongan tidak ada.
Melainkan karena di hadapan Tuhan, dusta selalu kehilangan tata bahasanya sendiri.
Suatu hari para malaikat meminta izin untuk mempelajarinya.
"Mengapa?" tanya Tuhan.
"Agar kami memahami manusia."
Tuhan mengangguk.
Lalu Ia mengirim mereka ke bumi.
Mereka kembali dengan wajah yang aneh.
"Bagaimana?"
"Ternyata manusia tidak selalu berbohong dengan kata-kata."
"Lalu?"
"Mereka berbohong dengan statistik."
"Dengan gelar."
"Dengan seragam."
"Dengan senyum."
"Dengan doa."
"Bahkan dengan air mata."
Tuhan tidak terkejut.
Ia hanya bertanya lagi,
"Apakah kalian berhasil mempelajarinya?"
Para malaikat saling memandang.
"Tidak."
"Mengapa?"
"Karena setiap kali kami mencoba berbohong, kami lebih dahulu percaya kepada kebohongan itu."
Tuhan menutup mata.
"Lihatlah."
"Itulah yang sejak lama terjadi pada manusia."
"Bukan kebohongan yang paling berbahaya."
"Melainkan keyakinan yang lahir setelah kebohongan dipercaya sebagai kebenaran."
Di luar langit, sejarah terus berjalan.
Barangkali ia memang tidak digerakkan oleh fakta.
Melainkan oleh kalimat-kalimat yang terlalu lama dibiarkan tidak dipertanyakan.
---
TUHAN SEDANG MEMBACA KESALAHAN EJAAN
Konon, setiap kali manusia selesai menulis kitab, undang-undang, puisi, manifesto, atau surat cinta, semuanya akan singgah sebentar di sebuah meja kayu yang sangat tua. Meja itu tidak berada di langit ketujuh, tidak pula di bumi. Ia berada tepat di antara niat dan bahasa.
Di sanalah Tuhan membacanya.
Anehnya, Ia hampir tidak pernah memperhatikan kalimat yang benar.
Yang dibaca-Nya justru kesalahan ejaan.
Huruf yang tertukar.
Koma yang lupa diletakkan.
Kalimat yang tiba-tiba berhenti karena penulisnya menangis.
Doa yang salah mengucapkan nama-Nya.
Surat cinta yang penuh coretan.
Puisi yang gagal menjadi indah.
Seorang malaikat bertanya, "Mengapa Engkau tidak membaca naskah yang sempurna?"
Tuhan menjawab, "Kesempurnaan terlalu pandai menyembunyikan manusia."
"Lalu kesalahan?"
"Kesalahan selalu lupa memakai topeng."
Malaikat itu terdiam.
Sejak hari itu ia mulai mengerti mengapa manusia begitu takut salah.
Sebab setiap kesalahan adalah jendela.
Dan tidak semua orang siap dilihat dari dalam.
---
DI LUAR KALIMAT
Seorang penyair sepanjang hidupnya berusaha menulis satu kalimat tentang Tuhan.
Kalimat pertama terlalu indah.
Ia curiga keindahan sedang berbohong.
Kalimat kedua terlalu logis.
Ia curiga logika sedang membangun kandang.
Kalimat ketiga terlalu religius.
Ia takut kata-kata telah mengenakan seragam.
Kalimat keempat terlalu puitis.
Ia merasa metafora sedang menutupi wajah yang ingin dilihatnya.
Akhirnya ia menghapus semuanya.
Bertahun-tahun kemudian, ketika rambutnya memutih dan tangannya mulai gemetar, ia membuka kembali buku catatannya.
Semua halaman kosong.
Anehnya, ia menangis.
Bukan karena gagal menulis.
Melainkan karena baru menyadari bahwa halaman kosong pun sedang mengatakan sesuatu.
Pada malam itu Tuhan datang tanpa suara.
Tidak membawa wahyu.
Tidak membawa kitab.
Tidak membawa mukjizat.
Ia hanya duduk di samping penyair tua itu, memandangi halaman yang belum ditulisi apa pun.
Keduanya tidak berbicara.
Tidak ada yang perlu dijelaskan.
Sebab ada saat ketika bahasa telah mencapai batasnya sendiri.
Dan tepat di luar batas itulah,
puisi mulai mendengar sesuatu
yang tidak sanggup ditulisnya.
---
PENEMUAN TERBESAR MANUSIA
Banyak orang mengira penemuan terbesar manusia adalah roda.
Sebagian berkata api.
Sebagian lagi menyebut tulisan.
Tuhan tersenyum setiap kali mendengarnya.
Sebab penemuan terbesar manusia sesungguhnya adalah kepastian.
Mereka menemukannya jauh sebelum menempa besi.
Jauh sebelum mendirikan kota.
Jauh sebelum belajar mencintai.
Begitu menemukan kepastian, mereka segera membangun tembok.
Di atas tembok itu mereka menulis:
Inilah kebenaran.
Lalu mereka lupa bahwa tembok selalu memiliki dua sisi.
Dari sisi dalam, ia disebut perlindungan.
Dari sisi luar, ia disebut penjara.
Malaikat bertanya,
"Mengapa Engkau membiarkan mereka begitu yakin?"
Tuhan menjawab,
"Karena keraguan tidak dapat diajarkan."
"Lalu bagaimana manusia mempelajarinya?"
"Dengan kehilangan."
Sejak itu sejarah bergerak seperti pendulum.
Setiap peradaban tumbuh karena keyakinan.
Setiap peradaban runtuh karena keyakinan yang sama.
Dan Tuhan tetap duduk di antara keduanya,
menunggu seseorang yang cukup berani mengatakan,
"Mungkin aku salah."
Barangkali itulah doa yang paling sunyi.
---
TUHAN DAN MESIN PENAMAAN
Pada mulanya, segala sesuatu hidup tanpa nama. Batu tidak tahu bahwa ia batu. Laut tidak pernah memanggil dirinya laut. Pohon tidak merasa sedang menjadi pohon. Bahkan kematian pun belum mengenal dirinya sendiri.
Lalu manusia datang membawa bahasa.
Ia menamai air agar dapat dimiliki. Menamai gunung agar dapat dipetakan. Menamai hutan agar dapat dijual. Menamai sesama manusia agar lebih mudah dipanggil ke medan perang.
Tuhan memperhatikan semuanya dengan tenang.
"Apakah nama itu kesalahan?" tanya seorang malaikat.
"Bukan."
"Lalu?"
"Nama adalah pintu."
"Bukankah pintu berguna?"
"Ya. Tetapi setiap pintu juga mengajarkan bahwa ada sesuatu yang berada di luar."
Sejak saat itu manusia semakin rajin memberi nama kepada segala sesuatu.
Mereka menamai cinta.
Lalu menyangka telah memahaminya.
Mereka menamai kebenaran.
Lalu mulai membunuh demi mempertahankan ejaannya.
Mereka menamai Tuhan.
Lalu lupa bahwa nama hanyalah alamat, bukan rumah.
Konon, pada hari kiamat nanti, bukan bumi yang lebih dahulu lenyap.
Melainkan seluruh nama.
Batu kembali menjadi diam.
Laut kembali menjadi asin.
Api kembali menjadi panas.
Dan Tuhan...
tidak perlu lagi dipanggil oleh siapa pun.
Karena akhirnya segala sesuatu mengenali-Nya tanpa bahasa.
---
KESALAHAN CETAK PADA HARI KETUJUH
Barangkali seluruh sejarah manusia bermula dari sebuah salah cetak.
Bukan pada kitab.
Bukan pada nubuat.
Melainkan pada cara manusia membaca jeda.
Ketika Tuhan berhenti sejenak setelah menciptakan dunia, manusia mengira itu adalah akhir kalimat.
Padahal itu hanya koma.
Karena menyangka kalimat telah selesai, mereka segera menambahkan sisanya sendiri.
Mereka menulis kerajaan.
Mereka menulis perbatasan.
Mereka menulis kasta.
Mereka menulis harga.
Mereka menulis pasar.
Mereka menulis perang.
Setiap generasi menambahkan satu paragraf lagi, lalu bersumpah bahwa itulah lanjutan resmi dari kalimat Tuhan.
Tuhan membaca semua itu tanpa marah.
Sesekali Ia tersenyum melihat betapa rajinnya manusia menyunting sesuatu yang tidak pernah mereka tulis.
Lalu pada suatu malam, ketika semua perpustakaan telah tertidur, Tuhan mengambil pensil kecil dan membuat satu koreksi.
Bukan pada isi.
Hanya pada tanda bacanya.
Ia mengubah titik menjadi koma.
Esok paginya seluruh dunia kebingungan.
Sebab ternyata tidak ada satu pun kalimat yang benar-benar selesai.
Dan mungkin memang itulah nama lain dari harapan:
sebuah koma yang diam-diam disisipkan Tuhan ke dalam sejarah, agar manusia tidak terlalu cepat mengakhiri sesamanya.
---
MUSEUM FIRMAN YANG PUNAH
Di suatu tempat yang tidak terdapat dalam peta para nabi, berdiri sebuah museum yang hanya buka ketika dunia sedang tertidur.
Di dalamnya tidak dipamerkan tulang dinosaurus atau mahkota para raja.
Yang dipamerkan adalah firman-firman yang gagal dipahami.
Masing-masing disimpan di dalam kaca bening.
Ada firman yang mati karena diterjemahkan terlalu harfiah.
Ada yang mati karena terlalu sering dikhotbahkan.
Ada yang mati karena dipakai untuk memenangkan pemilu.
Ada pula yang mati karena dipahat menjadi undang-undang.
Seorang pengunjung bertanya kepada penjaga museum,
"Apakah firman bisa mati?"
Penjaga itu tersenyum.
"Tidak."
"Lalu mengapa museum ini ada?"
"Yang mati bukan firman."
"Kalau begitu?"
"Pendengarnya."
Pengunjung itu menggigil.
Ia berjalan dari satu ruang ke ruang lain dan melihat jutaan telinga dipajang seperti fosil.
Di bawah setiap telinga tertulis keterangan yang sama:
"Pernah mendengar, tetapi terlalu cepat merasa mengerti."
Ketika ia keluar dari museum, langit masih gelap.
Ia mendongak.
Untuk pertama kalinya ia tidak meminta jawaban.
Ia hanya berharap telinganya belum berubah menjadi benda pameran.
---
KANTOR PENERJEMAH LANGIT
Tidak semua doa sampai kepada Tuhan dalam bahasa yang sama.
Ada doa yang tiba sebagai hujan. Ada yang berubah menjadi debu sebelum melewati awan pertama. Ada pula yang kehilangan seluruh tata bahasanya di tengah perjalanan sehingga yang tersisa hanyalah sebuah isak yang bahkan tidak mengenal huruf vokal.
Konon, di tepi langit terdapat sebuah kantor penerjemah.
Di sana para malaikat tidak menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Arab, atau bahasa Latin ke bahasa Ibrani. Mereka menerjemahkan rasa takut menjadi keberanian, kesepian menjadi kesabaran, kemarahan menjadi pertanyaan, dan cinta menjadi sesuatu yang tidak dapat lagi diucapkan oleh lidah manusia.
Suatu hari datang seorang malaikat muda sambil membawa setumpuk doa.
"Ada masalah."
"Apa?"
"Semuanya memakai kata yang sama."
"Kata apa?"
"'Aku.'"
Lalu seluruh ruangan mendadak sunyi.
Sebab mereka tahu, kata yang paling sulit diterjemahkan bukanlah "Tuhan", melainkan "aku".
Tuhan yang sedari tadi mendengarkan hanya berkata pelan,
"Jangan diterjemahkan."
"Mengapa?"
"Biarkan mereka sendiri yang belajar bahwa kata itu terlalu sempit untuk menampung seluruh hidupnya."
Sejak hari itu, setiap doa yang benar-benar sampai kepada langit selalu kehilangan satu kata sebelum dibaca.
Dan kata yang hilang itu hampir selalu sama.
---
ARSITEK KEHENINGAN
Semua orang mengira Tuhan adalah arsitek alam semesta. Mereka membayangkan-Nya menggambar gunung, mengukur samudra, menempatkan bintang-bintang seperti seorang perancang kota yang sangat teliti.
Namun suatu malam aku bermimpi memasuki ruang kerja-Nya.
Di sana tidak ada peta langit.
Tidak ada rancangan galaksi.
Yang ada hanyalah lembaran-lembaran kosong.
Tuhan sedang menghapus.
Bukan dosa.
Bukan manusia.
Melainkan kebisingan.
Ia menghapus slogan yang terlalu percaya diri. Ia menghapus khotbah yang lebih sibuk menghakimi daripada mendengar. Ia menghapus pidato yang menyamar sebagai kasih. Ia menghapus tepuk tangan yang dibayar oleh rasa takut.
Setelah berjam-jam bekerja, hanya tersisa satu suara.
Suara napas.
"Lihat," kata-Nya, "di sinilah setiap doa sebenarnya dimulai."
Aku terbangun sebelum sempat bertanya mengapa.
Barangkali sebab setiap jawaban akan kembali menjadi kebisingan yang harus dihapus esok hari.
---
PABRIK MAKNA
Di pinggir semesta berdiri sebuah pabrik yang tak pernah disebut dalam kitab mana pun. Asapnya bukan hitam, melainkan bening. Cerobongnya mengeluarkan kata-kata yang belum memiliki arti. Di sanalah, kata orang-orang tua, makna diproduksi sebelum dijatuhkan ke bumi.
Tuhan sesekali datang memeriksa mesin-mesinnya.
Mesin pertama mengolah rasa takut menjadi agama.
Mesin kedua mengolah cinta menjadi doa.
Mesin ketiga mengolah luka menjadi puisi.
Tetapi ada satu mesin yang selalu rusak. Mesin itu bertugas mengubah kekuasaan menjadi kebijaksanaan. Berkali-kali diperbaiki, berkali-kali pula kembali macet. Akibatnya, yang keluar bukan kebijaksanaan, melainkan pidato.
Para malaikat sudah terbiasa dengan bunyi berderit dari mesin itu. Mereka hanya saling pandang dan menggeleng.
"Apakah tidak bisa diganti?" tanya seorang malaikat muda.
Tuhan mengusap debu pada roda-roda besi.
"Bisa."
"Lalu mengapa tidak?"
"Karena jika semua mesin bekerja sempurna, manusia tidak akan pernah belajar membedakan suara hati dari suara pengeras suara."
Sejak saat itu aku mulai curiga: mungkin sejarah bukanlah hasil kehendak yang mutlak, melainkan bunyi mesin-mesin makna yang kadang salah putar, kadang terlalu panas, kadang lupa dimatikan oleh mereka yang sedang mabuk kuasa.
---
KETIKA TUHAN BELAJAR BERDIAM DIRI
Konon, pada suatu masa yang tidak dapat dihitung oleh jam, Tuhan pernah memutuskan untuk tidak mengucapkan sepatah kata pun. Bukan karena langit kehabisan suara, melainkan karena setiap kali manusia mendengar firman, mereka segera membangun tembok di sekelilingnya. Mereka memberi nomor pada kalimat-kalimat, memberi pagar pada makna, lalu saling melempar batu atas nama tafsir yang paling benar.
Maka Tuhan diam.
Mula-mula manusia mengira itu hukuman. Mereka mengadakan doa bersama. Mereka memperkeras pengeras suara. Mereka membangun menara yang lebih tinggi agar suara mereka lebih dekat kepada langit.
Namun langit tetap senyap.
Kemudian para filsuf berkata bahwa diam adalah bentuk bahasa yang paling tua. Para penyair menambahkan bahwa diam adalah puisi yang lupa kepada huruf. Para politisi menyebutnya ancaman, sebab kekuasaan selalu takut kepada sesuatu yang tidak dapat dikutip.
Berabad-abad kemudian, seorang anak bertanya kepada ibunya, "Kalau Tuhan diam, siapa yang berbicara di dalam hatiku?"
Ibunya tidak menjawab. Ia tahu bahwa setiap jawaban akan mencuri sesuatu dari pertanyaan.
Dan mungkin, memang demikianlah cara Tuhan menjaga dunia: bukan dengan menambahkan firman, melainkan dengan menyelamatkan beberapa pertanyaan agar tidak mati terlalu cepat.
---
TUHAN MEMBACA KAMUS
Setelah dunia
cukup tua,
Tuhan
meminjam
sebuah kamus.
Ia membuka
halaman pertama.
"Abadi."
Tuhan tersenyum.
"Lucu sekali."
Halaman berikutnya.
"Adil."
Ia menghela napas.
"Masih terlalu kecil."
Halaman berikutnya.
"Benar."
Tuhan
menutup kamus.
"Lagi-lagi
manusia
mengira
sebuah kata
cukup luas
untuk menampung
langit."
Lalu Ia
membuka halaman
bertuliskan
"Tuhan."
Di sana
tertulis
beribu-ribu definisi.
Tidak ada
yang membuat-Nya marah.
Tidak ada
yang membuat-Nya bangga.
Ia hanya
menambahkan
satu tanda tanya
di samping entri itu.
Esok harinya
para ahli bahasa
gempar.
"Mengapa
kamus berubah?"
Para filsuf
mengadakan simposium.
Para teolog
mengadakan konsili.
Para penyair
menulis elegi.
Tak seorang pun sadar,
yang berubah
bukan kamus.
Melainkan
keberanian
sebuah kata
untuk mengakui
bahwa ia
tidak cukup.
---
KITAB YANG DITULIS OLEH PENGHAPUS
Mula-mula
Tuhan menciptakan pena.
Manusia bersorak.
Lalu Tuhan
menciptakan penghapus.
Manusia kecewa.
Padahal
penghapuslah
yang paling mengenal
isi sebuah kitab.
Ia membaca
setiap kesalahan
lebih dekat
daripada mata.
Ia menyentuh
huruf-huruf
yang tidak pernah
berhasil menjadi kebenaran.
Suatu malam
penghapus bertanya,
"Tuhan,
mengapa Engkau
menciptakan aku?"
Supaya
kesalahan
mempunyai masa depan.
"Lalu
mengapa manusia
takut kepadaku?"
Karena mereka
mengira
identitas
ditulis oleh tinta.
Padahal
yang membentuk mereka
adalah
apa yang bersedia
mereka hapus.
Maka sejarah
sesungguhnya
bukan ditulis
oleh para pemenang.
Sejarah
ditulis
oleh penghapus
yang bekerja
diam-diam
di belakang setiap kemenangan.
Dan Tuhan,
barangkali,
lebih sering
memegang penghapus
daripada pena.
---
PENGADILAN METAFORA
Pada hari yang belum tercatat
di kalender mana pun,
seluruh metafora
dipanggil menghadap Tuhan.
"Siapa yang pertama
menyebut-Ku cahaya?"
Sunyi.
Seekor kunang-kunang
berkedip pelan
lalu memadamkan dirinya.
"Siapa yang pertama
menyebut-Ku raja?"
Mahkota-mahkota
jatuh ke lantai.
Besi
tidak pernah mengaku
melahirkan tirani.
"Siapa yang pertama
menyebut-Ku bapak?"
Angin membawa
suara jutaan anak
yang tidak pernah selesai
mencari rumah.
Lalu seorang penyair
berdiri.
"Aku, Tuhan."
"Mengapa?"
"Karena aku takut
kepada kata yang telanjang."
Tuhan tersenyum.
"Bukan."
"Karena aku takut
kepada-Mu."
Tuhan kembali tersenyum.
"Bukan."
"Aku tidak tahu."
"Nah."
"Itulah
jawaban yang paling dekat."
Lalu Tuhan
membebaskan
seluruh metafora.
Bukan karena
mereka benar.
Melainkan karena
tak satu pun
cukup besar
untuk memenjarakan-Nya.
Sejak hari itu,
bahasa berjalan
dengan kepala tertunduk,
sementara puisi
belajar
meminta maaf.
---
KIAMAT TANDA BACA
Kelak,
kiamat
tidak datang
dengan sangkakala.
Melainkan
dengan sebuah penghapus.
Titik-titik
menghilang lebih dulu.
Sejarah
tak lagi mengenal
akhir kalimat.
Lalu koma
dicabut
dari seluruh bahasa.
Manusia
tak sempat
mengambil napas.
Tanda tanya
lenyap.
Sejak itu
tak ada lagi
filsafat.
Tak ada lagi
anak kecil
yang bertanya.
Tak ada lagi
orang tua
yang ragu.
Kemudian
tanda seru
ikut dibatalkan.
Para penguasa
kehilangan pidato.
Para jenderal
kehilangan komando.
Para nabi
kehilangan gema.
Yang tersisa
hanyalah
tanda kurung.
Semesta
masuk
ke dalamnya.
Dan Tuhan
menulis
kalimat terakhir,
"(sedang direvisi)"
Lalu
seluruh alam semesta
menjadi
draf.
---
DOA YANG MENOLAK SAMPAI
Pada malam tertentu
seluruh doa
berkumpul
di langit pertama.
Mereka mengantre
seperti surat-surat
di kantor pos semesta.
Ada doa
yang datang
dengan wewangian dupa.
Ada doa
yang masih basah
oleh air mata.
Ada doa
yang ditulis
oleh bibir,
tetapi tidak
oleh hati.
Petugas langit
mulai menyortirnya.
"Yang ini?"
"Ambisi."
"Yang itu?"
"Ketakutan."
"Yang ini?"
"Transaksi."
"Yang di sudut?"
"Cinta,
tetapi terlalu malu
mengucapkan namanya."
Lalu ada satu doa
yang menolak dipanggil.
"Aku tidak mau masuk."
"Mengapa?"
"Karena jika Tuhan
sudah mengetahui segalanya,
aku tidak ingin
mengganggu-Nya
dengan pengulangan."
"Kalau begitu,
mengapa kau lahir?"
"Agar manusia
mendengar dirinya sendiri."
Seluruh langit
mendadak sunyi.
Barangkali
itulah pertama kalinya
sebuah doa
berhasil dijawab
oleh dirinya sendiri.
---
TUHAN KEHABISAN METAFORA
Sudah terlalu lama
manusia meminjam langit
untuk menjelaskan-Mu.
Engkau disebut matahari.
Lalu matahari meledak
di sebuah galaksi
yang bahkan belum sempat
diberi nama.
Engkau disebut cahaya.
Namun cahaya
ternyata dapat ditekuk,
diperlambat,
bahkan ditelan
oleh lubang hitam.
Engkau disebut Bapa.
Lalu seorang anak
yang tak pernah mengenal ayahnya
bertanya,
"Kalau begitu,
apakah Tuhan juga meninggalkan rumah?"
Engkau disebut Raja.
Maka para raja
mengaku berbicara
atas nama-Mu.
Engkau disebut Hakim.
Maka setiap orang
membuka pengadilan
untuk sesamanya.
Engkau disebut Kasih.
Lalu kasih
dipakai sebagai alasan
untuk mengatur
kehidupan orang lain.
Tuhan,
barangkali bukan Engkau
yang berubah.
Metaforalah
yang kelelahan.
Mereka sudah terlalu lama
memikul tubuh-Mu
yang tak pernah selesai
diterjemahkan.
Dan mungkin,
di suatu senja,
Engkau hanya duduk
menghibur
metafora-metafora yang patah,
sebab bahkan bahasa
pun membutuhkan Tuhan.
---
KESALAHAN TATA BAHASA
Pada mulanya bukan dosa yang lahir, melainkan kekeliruan sintaksis. Manusia terlalu cepat menempatkan dirinya sebagai subjek.
Segala kalimat kemudian berbunyi:
Aku memiliki bumi.
Aku memiliki kebenaran.
Aku memiliki Tuhan.
Aku memiliki sejarah.
Aku memiliki masa depan.
Padahal bumi tidak pernah menjadi objek. Kebenaran tidak pernah bersedia dimiliki. Sejarah selalu mengubah penulisnya.
Dan Tuhan ...
Tuhan bahkan tidak pernah setuju menjadi pelengkap kalimat.
Para filsuf mencoba memperbaiki susunan itu.
Para penyair merusaknya kembali.
Para politisi menambahkan tanda seru.
Para pemuka agama memberi huruf kapital.
Para pengacara menambahkan catatan kaki.
Para jenderal mengubah semua koma menjadi aba-aba.
Sementara anak kecil masih bertanya, "Kalau Tuhan menciptakan bahasa, siapa yang menciptakan salah paham?"
Tak seorang pun menjawab. Sebab seluruh peradaban sedang sibuk memperdebatkan ejaan surga. Padahal neraka mungkin hanya sebuah kalimat yang tidak pernah selesai dibaca.
Dan keselamatan ... barangkali bukan berada pada jawaban, melainkan pada keberanian menghapus kata "memiliki" lalu menggantinya dengan "mendengarkan"
---
ARSIP YANG HILANG
Di surga terdapat perpustakaan yang tidak meminjamkan buku.
Karena semua buku di sana sedang ditulis.
Para malaikat bekerja sebagai pustakawan.
Mereka mengarsipkan doa-doa yang tidak selesai, pertanyaan yang terputus di tengah malam, tangisan yang tidak menemukan kata, dan nama-nama yang pernah dipanggil dengan penuh cinta lalu dilupakan sejarah.
Tidak ada rak untuk kemenangan.
Rak itu selalu kosong.
Yang paling penuh justru rak berlabel: "Kalimat yang Diucapkan Terlambat."
Di sanalah tersimpan seluruh permintaan maaf yang baru lahir setelah kematian.
Seluruh cinta yang baru diakui ketika kuburan telah mengeras.
Seluruh doa yang baru dipanjatkan setelah bencana selesai.
Suatu hari seorang malaikat bertanya kepada Tuhan,
"Mengapa Engkau menyimpan semuanya? Bukankah Engkau sudah mengetahui isinya?"
Tuhan menjawab,
"Aku tidak sedang mengumpulkan informasi."
"Lalu?"
"Aku sedang mengumpulkan penyesalan."
Malaikat itu tidak mengerti.
Sebab penyesalan adalah mata uang yang tidak berlaku di surga.
Hanya manusia yang menciptakan nilai dari sesuatu yang datang terlambat.
Kemudian Tuhan membuka sebuah laci tua.
Di dalamnya tidak ada kitab.
Tidak ada wahyu.
Tidak ada hukum.
Hanya selembar kertas putih.
"Ini apa?"
"Jawaban."
"Untuk pertanyaan yang mana?"
Tuhan menutup kembali lacinya.
"Persis."
---
RAPAT REDAKSI SEMESTA
Konon, sebelum ada terang, terlebih dahulu ada rapat.
Bukan rapat tentang bagaimana menciptakan matahari, sebab cahaya selalu mudah diciptakan. Yang sulit adalah menentukan bagaimana cahaya akan ditafsirkan.
"Terlalu terang," kata seorang malaikat yang bertugas mengurus pagi. "Manusia akan mengira semuanya jelas."
"Terlalu redup," sahut malaikat lain. "Mereka akan menyebutnya misteri, lalu membangun agama di atas kabut."
Tuhan tidak menjawab.
Ia hanya memberi tanda pada naskah semesta dengan tinta merah.
Coret.
Revisi.
Tambahkan hujan.
Kurangi kepastian.
Biarkan laut memiliki bahasa yang tidak dapat diterjemahkan.
Biarkan angin menyebarkan desas-desus tentang-Ku.
Biarkan gunung tampak seolah menyimpan rahasia, padahal ia hanya batu yang sangat sabar.
Lalu seseorang bertanya,
"Mengapa manusia harus diberi bahasa?"
Tuhan tersenyum.
"Bukankah mereka nanti akan saling salah mengerti?"
"Itulah sebabnya."
Ruangan menjadi sunyi.
Sebab seluruh malaikat tiba-tiba sadar bahwa sejarah bukanlah kisah tentang perang, kerajaan, atau penemuan.
Sejarah adalah riwayat salah paham yang terus diwariskan.
Seseorang berkata "keadilan."
Yang lain mendengar "kekuasaan."
Seseorang berkata "iman."
Yang lain mendengar "ketakutan."
Seseorang berkata "Tuhan."
Dan sejak itulah tidak ada lagi yang benar-benar berbicara tentang hal yang sama.
Di akhir rapat, Tuhan menulis catatan kecil pada halaman terakhir.
"Jangan pernah menerbitkan edisi final."
Sebab dunia hanya dapat hidup selama ia masih mungkin direvisi.
---
LIDAH TUHAN
Semula Tuhan berbicara.
Lalu bahasa menjadi terlalu ramai.
Setiap nabi membawa arti.
Setiap imam membawa definisi.
Setiap penyair membawa metafora.
Setiap penguasa membawa pengeras suara.
Tuhan pun diam.
Bukan karena kehilangan kata.
Melainkan karena lidah manusia
lebih berisik daripada langit.
Kini, setiap doa
naik melewati jutaan sinonim.
Sebagian tersesat di kamus.
Sebagian mati di pidato.
Sebagian berubah menjadi slogan.
Dan yang benar-benar sampai kepada-Nya,
mungkin hanyalah air mata
yang belum sempat belajar menjadi bahasa.
---
TUHAN MENGHAPUS KALIMAT
Pada hari ketujuh, bukan dunia yang diistirahatkan, melainkan tata bahasa.
Subjek berjalan tanpa predikat. Predikat mencari objek. Keterangan waktu terlambat datang dua milenium.
Lantas, Tuhan mengambil sebuah penghapus. Bukan untuk menghapus dosa, melainkan menghapus kata "adalah".
Sejak itu segala sesuatu tidak lagi pasti.
"Manusia adalah debu."
Coret.
"Tuhan adalah kasih."
Coret.
"Sejarah adalah kemajuan."
Coret.
Yang tersisa hanya ruang kosong di antara dua kata. Dan seluruh filsafat lahir karena manusia tak tahan melihat kekosongan itu.
Komentar
Posting Komentar