MAYAT YANG TAK KEMBALI
KATA PENGANTAR
Kita tidak pernah tahu mengapa Ray Rizal memilih judul Mayat yang Kembali untuk kumpulan cerita pendeknya ini. Akan tetapi, tampaknya buku ini merupakan karyanya yang terakhir yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, karena ia sudah berpulang tanggal 7 Januari 1997.
Terlepas dari itu semua, karya-karyanya memang menampakkan bahwa wawasannya luas yang kemudian muncul dalam sindiran sosial yang tepat dan tajam. Tema-tema karyanya pun amat bervariasi tanpa ada pengulangan tema.
Semoga karya ini menambah perbendaharaan sastra di tanah air ini.
Balai Pustaka
•••
MAYAT YANG KEMBALI
Aku sangat respek pada sobatku Rastu. Aku menghargai kesederhanaannya. Bagi Rastu, menjadi orang yang sederhana itu tidak mudah. Apalagi, Rastu anak orang kaya yang hartanya melimpah ruah.
Suatu hari Rastu menceritakan penyakit tumor yang diderita oleh ayahnya. Tumor otak yang bersemayam di kepala Nadir, ayahnya itu, baru diketahui seminggu lalu, setelah terlanjur mengganas. Harapan hidup baginya sangat tipis.
Aku sudah biasa menyaksikan Rastu dalam keadaan terkendali menghadapi segala kesulitan. Sekarang aku melihat bagaimana ia menyongsong kemungkinan datangnya ajal atas orang yang dicintainya. Akan tetapi, menurutku nyaris tak ada bedanya. Rastu tidak memperlihatkan tanda-tanda kegelisahan dan kebingungan. Ia tampak tenang saja.
"Aku rela ayahku meninggal. Kasihan kalau dia menderita," ujar Rastu. "Tetapi, Ibu, adikku Alya, dan Bahran tidak siap."
Aku tidak heran mendengar penuturan Rastu. Aku sudah maklum bahwa Rastu sering kali memiliki pikiran atau pendapat yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan anggota keluarganya.
"Mati itu sesuatu yang pasti. Hanya waktunya saja yang kita tidak tahu," Rastu menjelaskan kepadaku.
Pagi itu ketika ayahnya meninggal, aku datang melayat. Wajah Rastu tetap tenang, laksana laut yang tak bergelombang.
Sorot matanya tetap jernih, seperti langit tak berawan. Sebaliknya, ibu dan adik-adik Rastu tersedu-sedan berselang-seling dengan raungan. Matanya Nyonya Nadir merah dan sembap karena kebanyakan menangis. Wanita itu bagai pohon tanpa akar yang dengan mudah dapat ditumbangkan oleh angin. Sementara itu, dua anaknya seperti ikan dilempar ke darat, menggelepar tak mampu bangkit dengan kekuatan sendiri.
Puluhan karangan bunga berjajar di halaman rumah almarhum Nadir. Mereka yang ingin menyampaikan rasa dukacita harus antre untuk mendapat kesempatan bersalaman dengan Nyonya Nadir. Rumah yang begitu besar dan berhalaman luas hampir tidak mampu menampung pelayat yang terus mengalir. Dahulu Nadir seorang pejabat di Departemen Pertanahan. Namanya sering muncul di surat kabar. Wajahnya kerap tampil di televisi. Popularitas Nadir memang tidak dapat dihindari. Kasus-kasus tanah yang diekspos media massa sangat menonjol dan menyita perhatian masyarakat. Dengan tangkas Nadir memberi jawaban-jawaban yang mampu meredakan emosi rakyat yang tanahnya tergusur. Untuk itu, Nadir mendapat penghargaan dan pujian dari pihak-pihak terkait. Reputasinya pun semakin menanjak dan kekayaannya bertambah.
Meskipun begitu, anaknya, Rastu hidup secukupnya saja. Ia tidak melanjutkan studi ke luar negeri. Ia hanya tamat dari fakultas hukum di dalam negeri. Adiknya, Alya, mengikuti sekolah mode di Paris dan Roma, sedangkan Bahran belajar manajemen di Los Angeles.
"Pada akhirnya yang menentukan harkat manusia itu bukan pendidikan formalnya, melainkan ukuran moralnya," kata Rastu kepadaku.
Ketika mayat Nadir diusung ke Pemakaman Utara, banyak handai tolan yang mengantarkan. Aku dan Rastu ikut memanggul keranda, bergantian dengan kerabat lain yang ingin menunjukkan atensi.
Setelah doa-doa dibacakan, jenazah Nadir yang dibungkus kain kafan dikeluarkan dari keranda, kemudian diturunkan ke liang lahat. Ternyata mayat tidak pas dimasukkan ke lubang yang tersedia.
"Mengapa lubangnya kurang panjang?" seru seseorang.
"Ukuran mayat tidak sesuai dengan liang lahat," sambung yang lain.
"Tadi sudah diukur, memang begini ukuran yang normal," terdengar jawaban.
"Itulah kalau bekerja tidak becus," ada yang mengumpat. Suara-suara saling menyalahkan terdengar di antara mereka yang berada di pinggir lubang.
"Sudah. Sudah. Masalah kecil jangan diperuncing. Gali lagi! Gali lagi!" Rastu berseru cukup keras.
Jenazah Nadir dimasukkan kembali ke keranda. Empat orang penggali kubur bergegas mengayunkan cangkul untuk memperpanjang liang lahat.
Aku dan Rastu berpandangan. Seperti biasa, Rastu tidak memperlihatkan reaksi menyesali siapa pun. Ketika lubang makam telah dianggap cukup panjang melebihi ukuran mayat, aku dan Rastu langsung terjun ke liang lahat untuk menyambut mayat. Ternyata lubang itu masih tidak muat juga. Kejadian itu terulang sampai tiga kali. Barulah orang-orang tersadar bahwa ada sesuatu yang ganjil. Komentar pun riuh bermunculan.
"Kenapa, ya? Ada apa ini?"
"Mayat itu makin memanjang."
"Orang mati tidak mungkin tumbuh lagi. Tanahnya barangkali yang menyempit."
"Mungkin terjadi longsor di wilayah ini."
"Sudahlah. Gali lagi lubang itu!" seru Rastu cukup berwibawa menghentikan suara-suara yang saling melontarkan argumen.
Kuburan pun digali lagi. Keringat bercucuran dari segenap tubuh penggali kubur. Suasana mendadak hening. Hanya terdengar suara cangkul yang kadang-kadang terbentur pada batu dan napas terengah-engah para penggali. Awan mendung perlahan-lahan melingkupi angkasa. Cuaca yang semula terang benderang menjadi kelabu dan suram. Udara di areal yang luas dan terbuka ini berembus tajam. Tampak para pelayat menyekapkan tangan mencoba menghalau tusukan angin dingin.
Mayat diupayakan masuk kembali ke lubang, tetapi tetap tidak berhasil menjejak di dasar tanah. Mayat itu bagai gabus yang dilemparkan ke air, tetap timbul ke permukaan, meskipun sudah berkali-kali dibenamkan. Tiba-tiba seperti ada yang mengomando, para pelayat serentak berlari lintang pukang. Ada yang terjatuh, lalu bangun lagi dan melanjutkan larinya. Ada yang terinjak, lalu bangkit terbirit-birit dan tersaruk-saruk menyeret kakinya menjauhi makam.
"Setaaannnn!"
"Hantuuuu!"
Semua, orang berlari, termasuk istri dan dua anak Nadir, tidak terkecuali para penggali kubur.
Tinggal aku dan Rastu terpukau menyaksikan kehebohan ini.
Upacara pemakaman yang biasanya sakral, telah berubah menjadi medan huru-hara. Sementara itu, sang mayat dibiarkan tergeletak di tubir makam dan tidak dikembalikan ke keranda. Kain kafan yang semula putih bersih telah menjadi kecokelatan karena bercak-bercak tanah. Di sana-sini malah tampak kotoran lumpur. Kuburan menjadi lengang tidak seorang pun yang tersisa, kecuali kami berdua.
Sadar pada apa yang terjadi, aku dan Rastu berunding. Kami sepakat untuk mengebumikan jenazah Nadir di pemakaman lain, yang petugasnya tidak tahu apa yang telah terjadi di pemakaman ini. Kami harus bergerak cepat. Jangan sampai tim peliputan televisi di kota ini mencium peristiwa yang kalau ditayangkan bisa menjadi sangat menggemparkan. Pasti akan terjadi berbagai penafsiran. Untunglah reporter televisi hanya meliput berita kematian Nadir di rumah duka tidak ada yang ikut ke pemakaman.
Aku dan Rastu akan membawa jenazah ke Pemakaman Timur. Akan tetapi, tidak mungkin kami berdua mampu mengangkat keranda besi yang berat itu. Kami sepakat menggotong jenazahnya saja.
Di pelataran parkir, ambulans sudah tidak kelihatan tinggal mobil pikap yang tadi dikemudikan oleh Rastu. Mau tidak mau kami harus merelakan sang mayat dibaringkan di bak belakang, ditutupi terpal.
Ketika sampai di Pemakaman Timur, aku terpaksa mengarang cerita kepada petugas dan penggali kubur, semata-mata agar mereka bersedia menyediakan fasilitas pemakaman.
Ternyata kejadian yang sama terulang lagi. Mayat itu masih tidak dapat dimasukkan ke lubang. Ketika dicoba dikuburkan dengan cara berdiri, kepalanya selalu muncul di permukaan.
Menjelang sore hari kami mencoba menguburkannya di Pemakaman Selatan, tetapi tidak juga berhasil.
Setelah gagal mengebumikan mayat di Pemakaman Barat, kami pun putus asa. Tiba-tiba terlintas ide di benakku untuk membakar saja mayat itu. Namun tidak mungkin aku mengusulkannya begitu saja kepada Rastu. Aku khawatir dia marah, meskipun aku tahu dia tidak pernah marah.
"Kalau begitu, kita bakar saja," cetus Rastu.
Aku terkejut mendengar usul sahabatku itu. Rupanya jalan pikiran kami sama. Lalu, kami berangkat ke tepi pantai yang sepi setelah membeli cukup banyak kayu bakar.
Kami meletakkan jenazah di atas tumpukan kayu setinggi tiga meter. Api dinyalakan sendiri oleh Rastu. Dalam sekejap kobarannya menjalar ke sana kemari menerangi kegelapan malam. Suara ombak yang memecah di bibir pantai berpadu dengan suara gemeresak kayu yang terbakar dan desau angin. Aku menggigil. Entahlah yang terjadi pada Rastu. Kami membisu. Kami menyaksikan dari kejauhan lidah api mulai menjilati mayat yang terbujur kaku itu. Tentu dalam sekejap tubuh Nadir akan hangus menjadi abu. Kami menunggu dengan sabar selama satu jam sampai tumpukan kayu menipis dan tinggal arang yang berserakan.
Ketika kami mendekat, kontan kami tercekat. Ternyata mayat tersebut masih utuh dan dalam keadaan terlentang. Hanya kain kafannya yang habis terbakar sehingga mayat menjadi telanjang bulat.
Terpaksa kami memutar otak, mencari jalan lain lagi. Tibalah kami pada gagasan untuk membakar mayat itu di krematorium.
"Kali ini kita tidak mungkin gagal," kata Rastu.
Aku menatapnya tanpa menyahut. Memang sepanjang sejarah krematorium belum pernah ada mayat yang selamat bila dimasukkan ke oven yang panasnya luar biasa itu. Kuharap mayat Nadir tidak terkecuali hancur menjadi abu.
Cukup lama kami menunggu, mulai dari petugas memasukkan mayat Nadir ke oven yang digerakkan oleh tenaga listrik, sampai oven tersebut padam secara otomatis. Akan tetapi, ketika oven dibuka, ternyata sang mayat masih berada di tempatnya, bergeming dan tetap bugil.
Aku dan Rastu syok. Baru kali ini aku menyaksikan Rastu terguncang. Tampak tubuhnya limbung dan gundah, tetapi hanya sebentar. Kemudian, kepercayaan dirinya pulih. Dia mendapat akal baru untuk menyelesaikan mayat ayahnya.
"Teman ayahku punya kapal pesiar," ujar Rastu sambil membeberkan rencananya. Setelah menelepon seseorang, malam itu juga kami menuju dermaga tempat berlabuh kapal-kapal mewah. Rastu tidak menemui kesulitan apa pun untuk meminjam kapal itu, lengkap dengan nakhodanya.
Setelah lima jam perjalanan meninggalkan dermaga, kapal yang berkecepatan tinggi itu memasuki kawasan yang bergelombang. Angin laut bertiup kencang. Langit hitam pekat.
"Di sini banyak hiu," ujar nakhoda yang sudah berpengalaman mengarungi lautan. "Kita undang hiu itu dengan daging sapi. Hiu segera datang jika mencium anyir darah."
Tanpa membuang-buang waktu mayat Nadir diturunkan ke laut menyusul daging sapi yang berbau darah. Begitu daging sapi menjamah air laut, belasan hiu bermunculan menyambar ke sana kemari dengan moncongnya yang garang. Dalam sekejap, potongan-potongan daging itu lenyap.
Akan tetapi, sang mayat tetap terapung-apung di permukaan laut, mengambang bagai perenang yang sedang memperagakan gaya punggung. Anehnya, hiu-hiu yang terkenal ganas itu tidak sedikit pun menyentuh mayat itu. Hiu-hiu itu malah pergi menjauh dan dengan cekatan menukik ke kedalaman laut yang gelap.
"Benar-benar keterlaluan," desah Rastu dengan murung.
Mayat yang telanjang itu kemudian diangkat kembali ke atas kapal. Malam sudah larut. Kami tertidur di atas kapal.
Keesokan harinya, kapal diarahkan ke suatu wilayah dengan gugusan bukit karang dan padang-padang stepa. Padang tandus yang hanya ditumbuhi pohon-pohon kaktus dan belukar itu tidak dihuni manusia. Di sini burung nasar dan burung gagak bersarang dan berkembang biak.
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, akhirnya kami tiba di tempat itu. Seketika perasaan ngeri menyergapku. Angin yang berembus meniupkan bau anyir dan bau bangkai yang memualkan. Dengan kayu seadanya kami membuat tandu untuk menggotong mayat. Nakhoda membekali kami teropong dan senapan. Ia sendiri harus menunggui kapal karena tidak ada dermaga untuk menambatkannya.
Aku dan Rastu kemudian berjalan menuju suatu tempat yang dapat mengundang minat burung-burung pemakan bangkai itu. Akhirnya kami tiba di kawasan terbuka yang dipenuhi tulang-belulang hewan yang mati sebagai mangsa. Di sini kami meletakkan tandu berisi mayat Nadir setelah membuka kain penutupnya, lalu kami buru-buru menjauh. Dari jarak tertentu kami menunggu sambil bergantian meneropong. Bila aku meneropong, Rastu bersiaga dengan senapan, begitu pula sebaliknya. Kami harus waspada terhadap keselamatan diri kami sendiri dari kemungkinan terjadinya serangan oleh burung-burung buas itu.
Cukup lama kami menanti. Kami berharap pada angin agar segera mengabarkan kepada burung nasar dan gagak bahwa ada hidangan yang tersedia untuk disantap. Tentu dengan paruh dan cakar-cakarnya yang tajam, tubuh Nadir akan menjadi tengkorak dalam sekejap. Kami sendiri telah mencium bahwa mayat Nadir telah mulai menyebarkan bau busuk.
Oak-oak-oak, terdengar dari kejauhan suara besar dan keras sekelompok burung nasar. Burung-burung itu mengepakkan sayap bagai pesawat pemburu, melesat ke arah mayat. Oak-oak-oak, disusul oleh sekelompok burung gagak yang bersuara berat dan dalam. Kawanan itu terbang lebih rendah, seperti gumpalan mendung yang berarak. Semakin banyak burung nasar dan gagak datang dari berbagai arah, yang berputar-putar membentuk formasi, seperti jala raksasa melingkupi bumi.
Jika selama ini kami hanya mendengar atau membaca cerita atau menonton film tentang burung nasar dan gagak, kini kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri burung-burung liar itu akan beraksi. Sebetulnya aku tidak tega menyaksikan pembantaian terhadap mayat ayah sahabatku. Akan tetapi, tidak ada jalan lain untuk melenyapkan mayat itu. Kami tunggu menit demi menit. Pembantaian itu tidak kunjung terjadi. Burung nasar dan burung gagak hanya berputar-putar di sekitar mayat itu, sekali-sekali hinggap di atas tanah, kemudian terbang lagi, menjauh, dan akhirnya menghilang.
Apa yang kami harapkan tidak terjadi. Sosok burung yang menakutkan itu ternyata tidak memperlihatkan naluri kebuasannya terhadap mayat yang kami bawa dengan susah payah. Padahal, mayat kami inginkan dapat lebur dan lenyap secara alamiah.
Kelompok demi kelompok burung itu telah pulang ke sarangnya. Tinggal kesunyian semesta yang mencekam.
Dengan lesu kami menghampiri mayat Nadir yang tetap seperti semula. Utuh. Telanjang. Kami menggotongnya lagi melewati laut yang sama, melewati daratan yang sama, dan membawanya kembali ke rumahnya yang besar berpekarangan luas. Di depan pintu, istri dan anak Nadir terbelalak melihat mayat orang yang mereka cintai dibawa pulang.
•••
LIDAH
Seluruh karyawan PT KARBITA gempar. Direkturnya yang bernama Drs. Jahul, yang dahulu hampir setiap hari mengadakan rapat, kini mengurangi kebiasaannya. Paling-paling rapat diadakan sekali seminggu itu pun karena ada hal penting yang hendak dibicarakan. Sebelumnya, untuk hal kecil yang semestinya dapat diselesaikan oleh stafnya, harus diadakan rapat terlebih dahulu. Jika memimpin rapat, suaranya terdengar lantang. Ia merasa berada di atas podium. Ia memang mampu memukau anak buahnya dengan retorika-retorika. Yang paling sering disebutnya adalah pengalaman masa lalunya. Tidak sungkan-sungkan ia menceritakan sejarah hidupnya, yang semula hanya sebagai pesuruh, tetapi karena memiliki kemauan besar, akhirnya ia menjadi direktur.
Drs. Jahul yang biasanya periang, kini berubah jadi pendiam. Ia jarang berbicara dengan sekretarisnya. Segala instruksi yang harus dilaksanakan cukup dengan menggunakan memo. Banyak yang menduga, Drs. Jahul sedang sakit gigi. Bahkan, belakangan ini ia menutup mulutnya dengan saputangan. Setiap kali ada yang bertanya, wajahnya menjadi pucat. Kalau terpaksa menjawab, ia tetap tidak mau membuka penutup mulutnya.
Ia sudah mencoba menghubungi para dokter terkemuka di Jakarta untuk mengobati penyakitnya, tetapi mereka menyerah.
Menurut mereka, penyakit yang diderita Drs. Jahul merupakan penyakit aneh yang belum ada obatnya. Tiap hari lidahnya bertambah panjang. Ia benar-benar malu jika ada yang melihat penyakitnya. Akhirnya, ia memilih menutupi mulutnya.
Bagi Drs. Jahul, apa yang dialaminya benar-benar merupakan suatu malapetaka. Andai kata ada dokter yang mampu mengobatinya, ia akan merelakan harta bendanya. Ia bersedia memberikan sebuah rumah gedung dan dua mobil mewah yang dimilikinya. Ia benar-benar sadar, bahwa kesehatan itu merupakan anugerah yang tidak ternilai harganya.
Drs. Jahul memperoleh informasi bahwa di Singapura ada seorang dokter bernama Chang. Dokter Chang memiliki kemampuan mengobati hampir semua penyakit dengan menggunakan metode modern yang dikombinasikan dengan kekuatan spiritual. Pasiennya berdatangan dari seluruh penjuru dunia. Untuk berobat, orang terpaksa antre selama berminggu-minggu.
Ketika Drs. Jahul menyuruh saudaranya mendaftarkan namanya kepada Dokter Chang, ia memperoleh penjelasan bahwa gilirannya untuk berobat dua bulan lagi. Drs. Jahul tidak sabar mendengarnya. Ia ingin segera berobat supaya penyakitnya hilang. Akhirnya, ia nekat datang ke rumah sakit Dokter Chang. Di ruang tunggu, dilihatnya memang banyak orang yang sedang antre.
Ia tidak mau menunggu lama-lama. Ia tidak mau melewati prosedur yang menempatkannya pada antrean ke seratus tujuh. Ia akan mencoba menempuh berbagai cara. Dengan wajah mengiba-iba, ia menemui sekretaris Dokter Chang. Ia utarakan apa yang dialaminya. Bahkan, tidak segan-segan ia menangis. Ia bersorak-sorai dalam hati, ketika permintaannya diluluskan.
Setelah menginap semalam di Singapura, pagi-pagi ia sudah datang di rumah sakit Dokter Chang. Sang dokter meminta Drs. Jahul membuka saputangan penutup mulutnya. Wajah Dokter Chang kaget. Tubuh Drs. Jahul menggigil. Belum pernah ada orang yang sempat melihat penyakitnya. Kali ini, karena ingin sembuh, ia membuka diri.
"Ini penyakit aneh," kata Dokter Chang.
Drs. Jahul diam. Keringat di lehernya makin deras keluar. Ia memandang wajah dokter yang hampir, sebaya dengannya penuh ketakutan. Sorot matanya yang tajam ketika mengadakan rapat di kantor, tiba-tiba sayup bagai lampu tempel kehabisan minyak.
Dokter Chang menyuruhnya membuka mulut. Drs. Jahul menjulurkan lidah. Sebenarnya, tanpa dijulurkan pun lidah Drs. Jahul cukup panjang. Bahkan, ketika dilepaskan, lidah itu menyentuh dagunya. Terbayang di matanya lidah anjing yang menjulur panjang bila sedang haus.
Drs. Jahul tidak pernah merasa ketakutan seperti ini. Tubuhnya seakan beku seolah-olah berada di dalam kulkas. Ketakutan dan ketakberdayaan kini menjadi miliknya. Ia harus mengalami semuanya ini di bawah tatapan mata Dokter Chang. Sungguh, ia tidak pernah bermimpi mengalami situasi yang menyebabkan ia tidak berdaya sama sekali.
"Penyakit apa, Dokter?" tanya Drs. Jahul memberanikan diri, supaya bayangan harapan segera melintas di depannya. Sebab, sejak beberapa menit yang lalu, Dokter Chang hanya melihat ke arah lidahnya. Bahkan, dokter itu mencuil-cuil lidahnya dengan sebuah penjepit logam.
"Sebenarnya ini penyakit biasa,” jelas Dokter Chang.
"Penyakit biasa?" tanya Drs. Jahul harap-harap cemas.
"Ini penyakit bawaan."
"Tidak ada keluarga saya yang panjang lidahnya," jelas Drs. Jahul sambil bersusah payah memasukkan kembali lidahnya ke mulut.
"Bukan itu maksud saya. Penyakit ini bawaan dari dalam diri seseorang."
"Saya tidak juga mengerti," ujar Drs. Jahul.
"Terus terang, ini untuk pertama kali saya menangani penyakit begini. Mereka yang berbakat terkena penyakit serupa ini sebenarnya cukup banyak. Biasanya orang malu untuk terbuka. Mereka takut penyakitnya diketahui orang.”
"Tolonglah saya, Dokter," Drs. Jahul mengiba-iba. "Apa pun akan saya lakukan agar penyakit saya dapat sembuh."
"Anda harus dioperasi. Tidak ada jalan lain," ungkap Dokter Chang.
Drs. Jahul pasrah. Apa pun yang dilakukan Dokter Chang akan diikutinya tanpa membantah. Ia tahu dokter itu bukan sembarang ahli medis. Kehebatannya sudah diakui dunia. Kini dokter itu akan melakukan operasi terhadapnya. Ia disuruh berbaring di sebuah tempat tidur berseprai putih. Kemudian, ia diminta menarik napas dalam-dalam sambil menjulurkan lidah. Apa yang dilakukannya itu terasa lucu. Ia teringat kejadian di waktu bocah ketika mengejek teman-temannya. Rasa geli segera sirna ketika ia melihat Dokter Chang mulai mengeluarkan peralatan medis.
Semangat Drs. Jahul tiba-tiba lenyap, ketika dilihatnya dua orang lelaki memasang sejenis belenggu di pergelangan tangan dan kakinya yang kemudian dihubungkan dengan tempat tidur. Kepasrahannya berubah menjadi ketakutan yang luar biasa. Ia merasa bagai sedang menjalani eksekusi di tiang gantungan atau disuruh duduk di kursi listrik.
Kini, ia merasa tangan dan kakinya tidak dapat digerakkan sedikit pun. Tubuhnya bergeming. Mendadak lampu sorot yang dipasang di atas tubuhnya menjadi terang benderang. Dokter Chang mengenakan pakaian serbaputih. Tangan kirinya memegang sebuah gunting yang berkilauan ditimpa cahaya lampu.
"Keluarkan lidah Anda," instruksi Dokter Chang.
Semula Drs. Jahul begitu berat untuk mengeluarkan lidahnya. Ia biarkan lidahnya yang panjang itu tetap terkulum di mulutnya. Kemudian, kembali terdengar permintaan Dokter Chang yang menyebabkan Drs. Jahul tidak berani menolak.
"Lebih panjang!" perintah Dokter Chang.
Drs. Jahul mengikutinya.
"Lebih panjang lagi, lebih panjang lagi. Jangan malu-malu! Tidak ada siapa-siapa di sini,” tandas Dokter Chang
Ketika Drs. Jahul menjulurkan lidahnya lebih panjang, Dokter Chang menangkap lidah itu bagai menangkap belut. Lidah itu dicekal dan dipelintirnya kuat-kuat supaya tidak masuk lagi ke tenggorokan. Setelah berhasil menahan supaya lidah itu tidak masuk lagi ke mulut pemiliknya, barulah ia lega.
"Hanya anjing dan ular yang berlidah panjang. Kalau manusia panjang lidahnya, ya, harus dipotong."
Setelah mengucapkan kata-kata itu gunting di tangan Dokter Chang bekerja cepat. Tasi milik Drs. Jahul bagian ujung lidah terputus. Ia tidak sempat lagi menjerit atau merintih. Yang ia ketahui lidahnya terasa ringan tidak ada ganjalan lagi. Sungguh galau perasaannya ketika melihat Dokter Chang mencampakkan bagian lidahnya yang panjang itu ke tempat sampah.
"Lidah yang panjang tidak ada gunanya," jelas Dokter Chang sambil membukakan belenggu di tangan dan kaki Drs. Jahul.
Ketika Drs. Jahul melihat lidahnya di cermin, ia kaget setengah mati. Darah telah berhenti menetes dan tampak lidahnya tidak ada ujungnya.
"Mengapa bentuk lidah saya jadi lain, Dokter?" ia memprotes.
"Anda lebih pantas memiliki lidah yang rata sebab jika ujungnya diruncingkan, saya khawatir akan memanjang kembali."
"Lidah saya kelihatan aneh, Dokter. Saya mohon agar diperbaiki seperti semula."
"Baiklah, jika begitu keinginan Anda," sahut Dokter Chang. Dengan segenap keahliannya, Dokter Chang akhirnya berhasil membentuk lidah Drs. Jahul menjadi normal kembali. Hati lelaki itu berbunga-bunga menyaksikan lidahnya di cermin. Ini berarti, ia dapat tampil lagi memimpin rapat di kantornya.
Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, berbagai hal muncul di kepala Drs. Jahul. Betapa tersiksanya memiliki lidah yang panjang. Ia merasa seperti berada di neraka. Ketika sampai di Bandara Soekarno-Hatta, ia disambut oleh keluarga dekatnya.
Istrinya amat bersukacita begitu mengetahui pengobatan yang dilakukan di Singapura berjalan lancar dan berhasil dengan memuaskan.
"Dalam beberapa hari ini istirahat saja dulu di rumah. Tidak usah masuk kantor dulu!" Istrinya mencoba mengingatkan ketika tiba di rumah.
Keesokan harinya ketika bangun tidur, Drs. Jahul bukan main terkejutnya. Tubuhnya menggigil hebat. Dikiranya ada tali yang menyangkut di badannya. Ketika diamati dengan saksama ternyata lidahnya itu menjulur lebih panjang dari sebelumnya. Lidah itu sudah sulit disembunyikan lagi. Panjangnya mirip dasi yang sering dikenakannya. Mustahil bagi Drs. Jahul untuk menyembunyikan lidahnya ke dalam mulut.
Kegembiraannya seusai berobat dari Dokter Chang kemarin tidak bersisa sama sekali. Kini, ketakutannya melebihi hari-hari sebelumnya. Ketika mencoba melihat dirinya di cermin,. ia menjadi sangat ngeri. Ia bergidik dan tidak mau bertemu dengan orang lain, bahkan juga dengan istrinya.
"Aku tidak mau keluar kamar!" teriak Drs. Jahul kepada istrinya.
"Aku istrimu," bujuk istrinya sambil menangis di balik pintu.
"Aku tahu itu," jelas Drs. Jahul. "Sorongkan makanan dari lubang terali jendela."
Sejak mengetahui lidahnya sudah sepanjang dasinya, Drs. Jahul memutuskan tidak akan keluar kamar. Ia mengunci diri. Ia tidak mau bertemu dengan siapa pun. Ia minder. Takut. Cemas. Semua itu menghantui dirinya.
Hari-hari yang dilaluinya dengan perasaan takut dan cemas itu bukannya bertambah kurang, malahan semakin berkecamuk. Setiap hari lidahnya bertambah panjang sejengkal demi sejengkal, menyebabkan ia sulit menelan makanan.
Tubuh Drs. Jahul yang dahulu gemuk dan bulat, kini menyusut. Dalam sekejap tubuh tambun itu tinggal kulit pembalut tulang. Matanya cekung karena kurang tidur. Ketika ia memaksakan diri melihat wajahnya di cermin, ia terkejut setengah mati. Ia seperti melihat makhluk aneh. Ia buru-buru menutup kedua matanya. Akan tetapi, apa yang baru saja dilihatnya justru makin jelas dan nyata.
Tiba-tiba Drs. Jahul menangis terisak-isak. Istrinya yang mendengar tangisan lelaki itu segera menggedor-gedor pintu. Akan tetapi, pintu tetap terkunci dari dalam. Seketika dalam pikiran Drs. Jahul terlintas niat untuk melakukan bunuh diri. Ia tidak tahan lagi menghadapi siksaan yang menyakitkan sekaligus memalukan.
Di kamar itu tidak ada tali. Ia mencoba menyambung kemeja dan celana untuk dijadikan tali supaya dapat digunakan untuk menggantung diri. Dengan demikian, ia akan terbebas dari penderitaan yang hebat ini. Akan tetapi, begitu ia mencoba menggantung diri, tubuhnya jatuh berdebam. Ia mengulanginya berkali-kali, tetapi tetap tidak berhasil. Usahanya untuk bunuh diri selalu gagal. Bahkan, ia merasa tubuhnya bertambah sakit akibat terjerembap atau terjengkang di lantai.
Keesokan harinya, seperti biasa istri Drs. Jahul mencoba memanggil-manggil suaminya, tetapi tidak ada sahutan sama sekali. Akhirnya, dengan bantuan beberapa orang saudaranya diputuskan mendobrak pintu kamar sampai terbuka. Mereka yang menyaksikan apa yang terjadi di dalam kamar, hampir-hampir tidak percaya. Drs. Jahul mati tergantung di kasau loteng dengan menggunakan lidahnya sendiri sebagai tali.
•••
PETI MATI
Siang itu kompleks WTS di pinggir kota gempar. Seseorang telah mengirimkan peti mati kepada Ning, primadona di sana. Tanpa ayal lagi Ning jatuh pingsan. Ia tidak kuat menatap peti mati berwarna cokelat tua itu berlama-lama. Begitu sadar dari pingsannya, ia langsung berteriak histeris. Ia belum siap dimasukkan ke peti mati itu. Ia tidak pemah membayangkan kematian di usianya yang baru menginjak tujuh belas. Ia sedang ranum-ranumnya. Semua mata tamu terpesona padanya bagai ditarik kekuatan magnet. Banyak lelaki tergila-gila kepadanya. Ada yang menyembah-nyembah berlutut di kakinya. Ada yang terang-terangan bersedia menceraikan istrinya asal Ning mau dikawini.
Gadis desa lugu yang ditemui oleh Mama, panggilan seorang germo di sana, telah menjelma menjadi primadona. Tidak hanya cantik dan sedikit genit, Ning juga banyak menelan berbagai pengalaman hidup Mama dan teman-temannya untuk membentengi diri dari serbuan janji gombal lelaki. "Jangan sekali-kali jatuh cinta pada tamu. Perlakukan mereka dengan hangat, lantas kuras isi kantongnya!" Demikian pesan Mama begitu melepaskan Ning menjadi penghibur profesional. "Andai kata mereka lelaki baik-baik, tidak akan mungkin mereka datang kemari."
Akan tetapi, dari sekian banyak tamu Ning, ada seorang tamu aneh yang bernama Juhud. Teman-teman Ning sering memerhatikan lelaki tampan itu setiap kali datang ke tempat Ning. Juhud seolah jatuh cinta dan seakan mabuk pada kecantikan Ning. Bahkan, ia hafal kebiasaan Ning setiap hari, sampai-sampai ia tahu tanggal lahir Ning.
Tiba-tiba teman-teman Ning menghubungkan peti mati itu dengan Juhud. Siapa lagi yang begitu akrab dengan Ning kalau bukan Juhud. Pastilah lelaki itu yang telah melakukannya. Mereka menduga-duga.
"Kemarin bunga melati yang diberikan Juhud saya buang ke comberan," ujar Ning yang baru saja sadar dari pingsannya.
"Kalau begitu, pasti dia yang melakukannya," ujar temannya.
"Tidak salah lagi," yang lain menimpali.
"Tenang, Ning! Kalau dia datang lagi akan kita hajar sampai babak belur," seorang tukang pukul yang sering diberi tip oleh Ning berjanji sambil memperlihatkan wajah sangar.
"Kamu salah, Ning! Saya 'kan sudah bilang jangan sekali-kali memberi harapan kepada tamu," tandas si Mama dengan wajah cemberut.
Begitu banyak orang yang khawatir akan diri Ning selain si Mama, yaitu teman-temannya seprofesi, tukang pukul di kompleks, sopir taksi yang mendapat tip seusai menurunkan tamu, dan para pedagang, misalnya pedagang bakso. Merupakan malapetaka bagi germo yang memelihara Ning jika sampai anak asuhnya jatuh cinta. Menurut anggapannya, cinta bisa membuat orang mabuk kepayang dan lupa diri. Dan, ia seperti mencium sesuatu. Ning sudah mulai memberi perhatian khusus kepada tamu yang satu ini.
"Jangan-jangan Juhud yang melakukannya, Ning," bisik si Mama sambil membelai rambut Ning.
Ning diam saja. Bungkam. Meskipun semua orang menduga peti mati itu dikirimkan oleh Juhud, dalam hati Ning membantah. Mana mungkin lelaki tampan yang berwajah tanpa dosa itu melakukan hal sekeji itu.
"Apa ucapan lelaki itu yang paling berkesan padamu, Ning?" si Mama masih saja bertanya.
"Dia tidak pernah mengatakan apa-apa," jawab Ning singkat.
"Mustahil. Kamu harus berterus terang pada Mama," desak wanita setengah baya itu.
"Dia mengajak saya pergi dari tempat ini," jelas Ning akhirnya.
Sebenarnya germo itu terkejut mendengar pengakuan Ning. Akan tetapi, ia berusaha tersenyum. Bukan hal yang sulit baginya untuk menutupi suasana hatinya. Ia sudah terlatih berhadapan dengan berbagai ulah manusia di kompleks ini. Semua kata berharga cuma masuk dari telinga kanan keluar dari telinga kiri. Jika ingin mencari cinta, bukan di sini tempatnya, demikian prinsip si Mama.
Hanya satu hal yang mengusik si germo dengan pengakuan Ning. Jika rayuan Juhud berhasil, tentu ia akan kehilangan Ning. Pasti ia akan kehilangan sumber rezeki dan sumber kehidupan. Sejak ia berhasil memoles gadis desa yang lugu itu menjadi wanita penghibur yang mahir, ia benar-benar merasa beruntung. Semakin banyak Ning menerima tamu, berarti semakin banyak pula ia menerima setoran.
Germo itu benar-benar marah kepada Juhud. Ia dendam. Meskipun Ning belum pergi, niat Juhud mengajak anak asuhnya membuatnya naik pitam. Diam-diam ia menyuruh tukang pukul yang ada di kompleks itu untuk menangkap Juhud jika datang menemui Ning. Juhud harus dihajar sampai babak belur, kalau perlu dibunuh dengan tubuh berlumuran darah.
"Jangan percaya mulut lelaki, Ning. Mama sudah lumutan di tempat semacam ini." Reaksi germo itu dengan suara dingin, tetapi sesungguhnya menyimpan dendam.
"Dia tidak seperti tamu yang lain," ujar Ning spontan.
"Maksudmu?"
"Dia sangat sopan."
"Itu hanya akal lelaki, Ning."
"Kurasa dia jujur."
"Tidak ada kejujuran di kompleks ini, Ning. Semua kata keluar dari mulut manis yang sedang berusaha menjerat mangsa."
"Bahkan, ... dia tidak pernah menyentuh saya." Ning memberi pengakuan yang kembali membuat germo itu kaget.
"Berarti dia lelaki tidak normal. Siapa tahu dia homo. Pasti dia yang mengirimkan peti mati itu. Mama yakin sekali, Ning.”
Sebelum keluar meninggalkan Ning, si Mama berpesan supaya Ning tidak menerima Juhud lagi. Akan tetapi, entah mengapa semakin dilarang Ning semakin disergap perasaan rindu terhadap lelaki itu. Tidak pernah ia mengalami perasaan semacam itu. Ia tidak yakin Juhud yang mengirimkan peti mati itu. Sorot mata lelaki itu penuh kebaikan. Tidak ada nafsu jalang di matanya. Bahkan, gerak-geriknya tidak seperti kebanyakan lelaki yang semula penuh kelemahlembutan, tetapi begitu diberi peluang untuk bermain cinta, akhirnya menjadi binal, garang, mirip anjing pemburu melihat mangsa.
Di mata Ning, Juhud jelas berbeda dari kebanyakan lelaki yang datang ke kamarnya dan kemudian bercinta dengannya. Juhud sangat sopan. Bahkan, kalau ia boleh memberi penilaian, lelaki itu tidak layak berada di kompleks itu. Tutur katanya lembut. Gerak-geriknya jauh dari liar dan jalang, tetapi sebaliknya begitu alim dan berwibawa.
Banyak pertanyaan tidak berhasil dijawab oleh Ning mengenai lelaki yang selalu berkemeja dan bercelana putih itu. Di hari pertama menerima Juhud, Ning sempat bingung menghadapinya. Bahkan, ia menjadi risi setelah seluruh pakaian ia lepaskan dari tubuh. Juhud tidak bereaksi. Ia justru memalingkan wajahnya. Ning sempat memaki lelaki aneh ini.
"Untuk apa kamu datang kemari, hah?!"
"Aku hanya ingin ngobrol."
"Tapi, waktuku bisa habis ...."
"Aku tidak akan merugikanmu."
"Berapa kamu berani membayarku?" tanya Ning sambil mengenakan pakaiannya kembali.
"Nih, kamu hitung sendiri," kata si tamu sambil mengeluarkan sebuah bungkusan kertas putih yang kemudian ditaruh di bawah bantal. Ketika tamu itu berlalu dari kamarnya, Ning segera menghambur ke arah bantal untuk mengetahui apa yang tersembunyi di dalam kertas putih itu. Siapa tahu isinya hanya guntingan koran bekas. Akan tetapi, Ning terkesima ketika membuka bungkusan itu ternyata isi uang puluhan ribu rupiah yang jumlahnya sama dengan penghasilan bersih Ning selama sebulan bekerja melayani tamu.
Ning sempat berpikir. Tentu tamunya yang bernama Juhud bukan orang sembarangan. Ia pasti orang kaya. Kalau ia ingin memiliki istri yang cantik, sebetulnya ia tidak perlu datang kemari. Pasti sangat mudah baginya untuk mencari calon istri. Selain banyak uang, wajahnya pun sangat tampan. Pasti banyak wanita yang akan tergila-gila kepadanya.
Malam itu tamu Ning sudah antre. Mereka sangat kecewa begitu memperoleh kabar bahwa Ning sangat syok akibat menerima kiriman peti mati dari orang tidak dikenal. Ning dilarang menerima tamu untuk menjaga kemungkinan terjadinya hal yang tidak diinginkan. Siapa tahu peti mati itu merupakan ancaman terhadap nyawa Ning.
"Jangan khawatir, Bu. Kalau orang itu muncul akan saya habisi," janji seorang tamu Ning, yang berbadan kekar dan berkumis tebal sambil memperlihatkan gagang pistol di pinggangnya.
"Ning boleh saja menerima tamu, kecuali tamu yang satu ini," kata sang germo begitu mengetahui tamu Ning sudah tidak sabar lagi untuk menemui anak asuhnya. Di matanya terbayang keuntungan yang bakal diterimanya jika Ning kembali bekerja.
"Bagaimana ciri lelaki itu, Bu?" tanya lelaki berpistol.
"Orangnya tampak baik, kayak bintang film. Dia selalu berpakaian warna putih. Dia pernah mengajak Ning kabur dari sini," lanjut germo itu.
"Enak saja! Emangnya Ning istrinya!" umpat lelaki yang lain tidak kalah sengit.
Sebenarnya Ning ingin menolak kedatangan tamu-tamunya yang ia nilai sangat buas. Lelaki berpistol itu benar-benar memperlakukannya seperti barang mainan. Ning tidak berani berbuat apa-apa sebab lelaki itu menaruh pistol di atas meja kecil di sisi tempat tidur. Ning takut melihat pistol, apalagi jika tergenggam di tangan lelaki berkumis tebal itu. Akan tetapi, Ning tidak berdaya membantah perintah si germo.
Suatu malam banyak tamu yang sudah pulang dan suasana di kompleks agak sepi. Tiba-tiba Ning mendengar suara gaduh tidak jauh dari tempatnya. Tubuh Ning menggigil. Apakah malapetaka itu akan menghampirinya? Apakah mimpi buruk itu akan menjadi kenyataan? Akan tetapi, entah kekuatan dari mana, Ning berusaha mengetahui apa yang terjadi. Ia mengintip dari celah jendela. Astaga, seorang lelaki dikeroyok tukang pukul beramai-ramai. Tubuhnya terlempar ke sana kemari, sementara si germo menonton dari jarak tertentu.
"Lihat KTP-nya!" seru si germo.
Kemudian, tiga tukang pukul yang bertampang sangar memeriksa saku celana lelaki itu. Di dalam KTP tercantum nama Amir. Berarti ia bukan Juhud. Akan tetapi, bisa saja itu nama samaran, demikian kecurigaan si germo tatkala ikut memeriksa KTP tersebut. Ketika seorang tukang pukul menyorotkan senter ke wajah orang itu, si germo berseru "Bukan dia orangnya!” Wajahnya hampir sama, tetapi orang ini berkulit hitam. Sudah, lepaskan saja!” perintahnya tanpa memperlihatkan wajah penyesalan.
"Usir saja orang ini dari sini!" kata seorang tukang pukul.
"Jangan, mungkin dia tamu Ning," sanggah si germo.
Lelaki yang sempat dihajar beramai-ramai itu segera berdiri. Ia tidak membalas perlakuan orang terhadapnya. Ia malah tersenyum. Ia seolah tidak tersentuh oleh tinju dan tendangan pengeroyoknya. Dengan tenang ia membersihkan pakaiannya dari debu tanah yang menempel, kemudian ia menuju ke tempat Ning.
Ia mengetuk pintu kamar Ning. Pintu segera terbuka. Ning merasa iba melihat tamunya ini. Entah mengapa Ning tidak tega melihat lelaki yang belum dikenalnya sebelum ini babak belur dikeroyok tukang pukul. Ning mengambilkan air putih, kemudian tamu itu meneguknya.
"Terima kasih. Dalam dirimu masih ada kebaikan," ujar tamu itu.
"Baru pertama kali datang kemari?" tanya Ning.
Lelaki itu cuma tersenyum. Memerhatikan senyum lelaki itu, Ning seolah pernah mengenalnya entah di mana.
"Ada pesan untukmu," kata lelaki itu.
"Dari siapa?"
"Juhud."
Ning tersentak.
"Apa pesannya?" tanya Ning tak sabar.
"Pesan Juhud, kamu jangan percaya dengan fitnah yang keji. Ia tidak pernah mengirimkan peti mati kepadamu. Peti mati itu adalah perbuatan majikanmu. Sebab, ia khawatir kamu mencintai Juhud dan kemudian meninggalkan tempat ini. Menurut Juhud, tempat ini rawa-rawa busuk yang harus ditinggalkan."
"Di mana Juhud sekarang?" tanya Ning tidak dapat membendung perasaan.
"Dia berada tidak jauh darimu."
Sebelum Ning bertanya lebih lanjut, lelaki itu berlalu dari kamar Ning bagai asap putih yang ditiup angin. Tubuh Ning menggigil. Meskipun lelaki itu tidak mengaku bernama Juhud, gerak-geriknya tidak berbeda jauh dengan Juhud. Tiba-tiba saja Ning tidak mampu mengendalikan dirinya. Ia berteriak keras-keras memanggil nama lelaki itu.
"Juhuddd!"
Penghuni kompleks gempar. Mereka segera berhamburan ke kamar Ning yang tengah menjerit-jerit histeris. Kemudian, mereka memeriksa setiap sudut yang tersembunyi untuk mencari orang yang bernama Juhud. Akan tetapi, usaha itu sia-sia. Mereka terpelik melihat peti mati yang berwarna cokelat tua sekarang berada di kamar si germo. Tukang pukul yang semula sempat mundur melihat peti berwarna cokelat itu, kemudian memberanikan diri membukanya. Mereka yang menyaksikan nyaris tidak memercayai penglihatannya. Di dalam peti mati itu terbujur tubuh si germo.
•••
HUJAN
Angin seolah terkunci. Kemarau tahun ini menyebabkan bumi menggeliat. Daun-daun gugur sebelum tiba waktunya. Rumput-rumput menggelepar direjam matahari. Debu-debu beterbangan mencari tempat hinggap.
Lisa tidak betah tinggal seharian di rumah. Ia harus membersihkan debu-debu yang menempel di kaca, mengelap perabot berulang-ulang, dan menyiapkan air minum lebih banyak. Selain itu, ia juga harus menyiram bunga-bunga di halaman. Aroma tanah kering yang tersiram air menguap ke udara memberondong lubang hidungnya.
Masih mujur Lisa tinggal di pinggiran kota Jakarta. Udara di kawasan Ciputat masih bersih. Masih dapat dijumpai pepohonan rindang yang tiap pagi jadi arena burung-burung bernyanyi menyambut cahaya matahari.
Pada musim kemarau ini tiba-tiba Lisa begitu rindu kepada Reza. Suaminya pergi pagi dan pulang menjelang malam. Padahal, ia amat mengharapkan kehadiran Reza di saat-saat seperti ini. Musim kemarau mempertegas kesendiriannya sebagai istri.
Sudah berkali-kali ia merencanakan untuk mengajak Reza pergi ke luar rumah. Pergi ke mana saja asal dapat berpegangan tangan dan bercanda dengan Reza, sudah cukup baginya. Akan tetapi, angan-angannya itu tidak kunjung menjadi kenyataan. Setiap kali melihat Reza pulang dari kantor dengan wajah lusuh, Lisa benar-benar tidak tega. Tentu suaminya perlu istirahat dan perlu perhatian.
Akan tetapi, hari ini Lisa nekat. Ia tidak mau terpengaruh melihat penampilan Reza yang kuyu sepulang dari kantor. Ia ingin mengajak Reza pergi ke supermarket untuk berbelanja. Tempat itu lokasinya tidak jauh dari rumah. Selain dapat membeli kebutuhan sehari-hari, tentu mereka dapat berpegangan tangan dan berbincang-bincang. "Kemesraan kecil seperti itu sudah cukup," bisik Lisa dalam hati.
Hari itu Lisa menunggu Reza pulang di halaman. Tidak biasanya ia berbuat demikian. Sebab, ada yang meronta di dalam jiwanya dan sulit dibujuk. Lisa membuka pintu pekarangan. Mobil memasuki halaman. Seperti biasa wajah Reza terlihat kusut dan capek. Kali ini Lisa tidak peduli lagi. Ia harus mengajak Reza keluar. Ia harus mencairka nkebekuan hubungan mereka. Ia tidak mau hidupnya bagai rumah tua yang sunyi dan berdebu.
"Reza, yuk kita jalan-jalan," ujar Lisa begitu Reza mengempaskan tubuh di kursi.
Reza menatap wajah istrinya, kemudian mencoba tersenyum.
"Jalan-jalan ke mana?" tanya Reza sambil membuka sepatu.
"Ya, ke mana saja. Sudah lama kita tidak pergi berdua," jawab Lisa sambil memegang tangan Reza.
Sejenak Reza tertegun. Lalu, ia menjawab dengan enggan.
"Baik, tetapi aku mandi dulu, ya," ujarnya seraya menuju ke kamar mandi.
Mendengar jawaban Reza, Lisa bagai merasa air sejuk menyiram kalbunya. Kemarau yang meresahkan terasa raib dari hatinya. Ia berdandan sambil membayangkan kemesraan-kemesraan di saat mereka belum dikukuhkan sebagai suami-istri.
Bagi Lisa, sebenarnya Reza seorang lelaki yang romantis. Mereka sering melewati hari-hari yang manis saat masih berpacaran. Jika tidak di pegunungan, ya di pantai, mereka bercerita tentang keindahan alam, tentang udara desa yang masih belum dirasuki polusi, dan tentang burung-burung yang terbang bebas di perrmukaan gelombang lautan.
Biasanya Reza menulis sebait puisi untuk Lisa. Bukan main senangnya Lisa membaca puisi itu. Jiwanya terasa melambung. Betapa bahagianya menjadi istri Reza. Betapa indahnya kelak hari-hari yang dilaluinya bersama Reza di rumah kecil yang terletak di pinggir Jakarta.
"He, jangan ngelamun," tegur Reza yang sudah berdiri di belakang Lisa. Bayang-bayang yang menari di pelupuk mata Lisa raib seketika.
Malam itu mereka meninggalkan rumah. Mereka sengaja tidak menggunakan mobil karena ingin menikmati kebersamaan. Mereka naik becak ke pinggir jalan. Dari pinggir jalan, mereka meneruskan lagi naik omprengan.
Berada di supermarket menyebabkan Lisa merasa senang.
Ia menggandeng tangan Reza. Sambil memilih barang-barang kebutuhan sehari-hari, tangan kirinya memegang tangan Reza. Kini ia merasa begitu dekat dengan Reza.
Ketika Reza melepaskan tangan Lisa, wanita itu menoleh dan berusaha menjangkau suaminya. Ia takut kehilangan suasana yang sudah lama tidak dirasakannya itu.
"Mau ke mana?" tanya Lisa.
"Aku mau mengambil kereta barang. Biar lebih mudah kamu membawa barang-barang yang dibeli," tukas Reza sambil tersenyum senang. "Kukira kamu mau kabur," kata Lisa bercanda.
Kemudian, Reza mengikuti langkah istrinya. Saat istrinya berhenti untuk memilih barang-barang keperluan, Reza menunggu di belakang. Suasana semacam inilah yang didambakan Lisa. Meskipun berada di supermarket, peluang untuk bercanda selalu terbuka.
Setelah tidak ada lagi yang perlu dibeli, Reza mendorong kereta barang ke kasir. Barang-barang yang dibeli dimasukkan ke kantong plastik. Reza menentengnya. Mereka kemudian menuju ke restoran yang ada di kiri supermarket.
Mereka memesan minuman ringan dan makanan kecil. Dari restoran mereka bebas memandang keluar melalui dinding kaca.
Mobil-mobil di halaman supermarket terlihat bagai ikan sarden. Hanpir tidak ada celah untuk mobil lain yang akan masuk. Banyak pemilik mobil dari kalangan eksekutif muda.
"Reza, kamu lihat anak kecil berpita merah dekat mobil putih itu," kata Lisa seraya menunjuk keluar.
Reza mencari apa yang dikatakan Lisa dengan matanya. Benar, di sebelah mobil putih tanpak seorang bocah perempuan dibimbing oleh orang tuanya. Mereka kelihatan seperti pasangan harmonis.
"Aku melihat anak itu," tukas Reza sambil menatap istrinya. "Ada yang aneh?"
"Maksudmu ...?"
Lisa menggeleng.
Lisa kecewa mendengar ucapan suaminya. Tidak terasa, ada yang tergenang di pelupuk matanya. Reza mencoba menganalisis ucapan istrinya. Akhirnya, Reza menemukan jawaban.
"Kamu ingin punya anak?” tanya Reza sambil memegang jari istrinya. Lisa bungkam. Reza terus memburunya. "Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan, Lisa. " Kali ini suara Reza terdengar bersungguh-sungguh.
"Kalau kamu pergi, aku selalu merasa terasing." ujar Lisa.
"Aku mengerti, tetapi aku harus bekerja."
"Kamu sudah lama tidak mengajakku pergi berdua."
"Kamu mau kita pergi tiap awal bulan?"
"Aku ingin tiap malam Minggu."
"Baik, kalau itu membuat kamu gembira.”
Reza mempererat genggamannya. Lisa menatap Reza lekat-lekat. Kenangan setahun lalu, saat mereka masih berpacaran, terbentang di matanya. Seluruh tubuhnya terasa sejuk dihujani kemesraan yang sudah lama tidak lagi dirasakannya.
"Lisa, hidup ini adalah pergantian musim. Biarkan kemarau datang karena musim hujan sedang menunggu giliran. Lisa, untuk mengatasi musim kemarau, banyak orang yang tidak sabar. Mereka menciptakan hujan buatan, ha-ha-ha." Reza tertawa berderai dan tidak peduli dengan beberapa pengunjung restoran yang menoleh padanya.
"Tetapi, aku tidak mau cintamu padaku juga buatan, Iho, Reza," Lisa mengucapkan kalimatnya sambil cemberut.
"Swear, ditanggung bukan cinta buatan," sahut Reza sambil tersenyum.
Suasana semacam inilah yang diharapkan Lisa, suasana yang penuh canda dan tawa. Perkawinan tidak mengubahnya menjadi benda-benda kuno yang teronggok di dalam museum. Hati Lisa bernyanyi riang menatap mata Reza yang kini dialiri gairah hidup.
Mereka meninggallkan supermarket. Mereka naik omprengan sampai di pertigaan jalan menuju ke rumah. Langit berwarna hitam. Bintang-bintang yang tadi kelihatan terang kini telah lindap. Ketika berada di pertigaan arah ke rumah, tidak terlihat becak yang mangkal. Biasanya banyak tukang becak tidur-tiduran di atas becak.
Mendadak hujan turun. Langit makin hitam. Kelam. Angin berembus kencang. Orang-orang berlarian mencari termpat berteduh. Lisa dan Reza juga berlari menuju emper-emper toko. "Berengsek, kita tidak bawa jas hujan atau payung." unpat Reza kalang kabut. "Kita terpaksa menunggu sampai hujan reda."
Reza segera mendekap tubuh istrinya.
Lisa diam. Ia memandang jauh. Lalu lintas menjadi macet. Lampu mobil terlihat bagai lampu kristal yang panjang di atas aspal yang basah. Daun-daun mahoni berguguran bersama panah-panah hujan yang berhamburan dari langit. Air merayap mencari lubang-lubang dan tempat-tempat yang rendah, kemudian tergenang di sana merekatkan kembali tanah-tanah kering yang semula rekah.
Pohon-pohon pelindung di pinggir jalan bagai tangan-tangan yang teracung ke langit mengelu-elukan kehadiran hujan. Rumput-rumput menggelinjang penuh berahi menyongsong serbuan hujan. Tiang-tiang listrik berkarat dan tertutup debu dibasuh jemari hujan dengan penuh kemesraan. Tanah kering menguapkan aroma tanah sebagai pertanda terbebaskan dari penjajahan musin kemarau.
Lisa mendengar suara irama daun-daun menyambut kedatangan hujan. Ia menangkap suara gemeretap hujan di atap-atap rumah. Hujan terdengar bagai nyanyian syandu seorang gadis yang meratapi kepergian kekasihnya selama bertahun-tahun. Kilat berkali-kali menghias angkasa dengan warna keemasan. Lisa dituntun oleh mata hatinya untuk menikmati pesona alam yang kini tergelar di depan matanya.
Ia masih ingat bahwa dulu Reza pernah mengajarkan padanya bagaimana menikmati keindahan alam. Sewaktu mereka berada di Puncak, di antara pohon-pohon teh, hujan turun. Lisa berusaha menghindari hujan, tetapi Reza malah tegak terpaku. Setelah berlari beberapa langkah, ia berbalik, diperhatikannya Reza bernyanyi dengan genbira. Reza tersenyum dan tertawa. Ia tidak takut pada hujan. Ia biarkan rambutnya basah. Ia biarkan hujan menbasuh tubuhnya. Ia biarkan butir-butir hujan menembus pori-pori kulitnya.
"Berlindung, Reza!" pekik Lisa. "Kita berteduh di pondok!"
Akan tetapi, lelaki itu bergeming. Ia mematung. Ia tetap kukuh di tempatnya berdiri.
Akhirnya, Lisa mendekati Reza yang merentangkan kedua tangannya sambil tersenyun. Bahlkan, Reza bernyanyi-nyanyi kecil. Hujan mengguyur rambut, mata, hidung, bibir, dan dagunya.
"Lisa, biarkan aku menyatu dalam hujan. Hujan adalah tangan ibunda yang memandikan kita dengan penuh kasih sayang. Lisa, keakraban kita dengan hujan telah diranpas." Suara Reza terdengar pelan disaingi suara hujan dan angin.
"Nanti kamu sakit, Reza!"
"Tidak, aku tidak akan sakit. Aku telah menyatu dengannya," kata Reza.
Akhirnya, Lisa juga mengikuti apa yang dilakukan Reza. Ia mematung dalam curahan hujan. Ia juga ikut bernyanyi. Aneh! Air hujan yang semula ia rasakan dingin kini terasa hangat di tubuhnya. Mereka berdua bernyanyi. Mereka berpelukan. Pohon-pohon teh ikut mengelu-elukan mereka yang telah menyatu dengan alam.
Hujan yang pernah mereka nikmati setahun yang lalu di Puncak, kini hadir lagi. Anehnya, kini berhadapan dengan hujan, Reza bagai melihat hantu. Ia ketakutan. Akan tetapi, sebalilnya Lisa begitu bergairah menyaksikan kaki-kaki hujan yang berlari dengan kencang. Lisa menangkap nyanyian hujan yang membangkitkan kerinduannya kepada masa bocahnya.
"Mari kita pulang," bisik Lisa lembut seraya mencoba melepaskan tangannya dari pegangan Reza.
"Masih hujan, Lisa!" Reza merasa khawatir Lisa basah kuyup.
"Aku mau pulang!” suara Lisa tegas.
"Nanti kamu sakit, Lisa!"' suara Reza terdengar keras. "Kamu jangan seperti anak kecil," kembali Reza memperingatkan.
Tiba-tiba Lisa meronta. Ia melepaskan diri dari Reza. Ia berlari menyongsong hujan. Reza berteriak-teriak. Lisa tidak mengindahkannya. Ia terus lari. Berlariii. Akhirnya, Reza terpaksa mengejar istrinya. Orang-orang tertawa menyaksikan tingkah mereka.
"Lisa! Kembali, Lisa!” suara Reza terdengar sayup di antara suara hujan. Lisa terus berlari. Reza mempercepat larinya. Reza menggigil kedinginan. Lisa berlari sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
Kebingungan Reza berubah menjadi kesal menghadapi tingkah Lisa yang di luar dugaannya. Mendadak Lisa menjadi keras kepala. Bebal. Makin dipanggil Lisa malah makin mempercepat larinya. Lisa berlari bagai orang mabuk, melayang-layang seolah kakinya tidak menjejak tanah. Hujan makin deras. Kilat melintas menerangi jalanan yang basah.
Ketika sampai di depan rumah, Lisa tidak langsung berteduh. Ia tegak di halaman. Ia tersenyum, tangannya terentang dengan wajah menengadah ke langit. Reza mendekati istrinya dengan pandangan ganjil.
"Lisa, kamu sadar apa yang kamu lakukan?” tanya Reza sambil memegang bahu istrinya.
Lisa hanya tersenyum, kemudian bernyanyi-nyanyi kecil.
"Aku ingin menyatu dengan hujan. Hujan adalah tangan ibunda yang memandikan kita dengan penuh kasih sayang,” bisik Lisa seperti menyanyikan bait-bait puisi. "Lisa, keakraban kita dengan hujan telah dirampas ...."
"Lisa ...!" Tiba-tiba Reza tersentak dan kenangannya bangkit kembali. Ya, Lisa mengulangi kalimat yang pernah diucapkannya setahun lalu, di saat mereka kehujanan di Puncak, di antara pepohonan teh.
Reza memburu Lisa. Dipeluknya wanita itu erat-erat. Lisa telah menyentuh dawai-dawai jiwa yang telah dilupakannya. Mereka berpelukan. Hujan menyatukan mereka bagai merekatkan kembali tanah-tanah musim kemarau yang saling terpisah. Daun-daun di halaman bernyanyi. Hujan bagai penari balet yang lincah bergerak ke sana kemari bersama irama angin.
•••
PULANG
Semula memang teramat berat hatiku untuk menyatakan kepada Anisa bahwa kami terpaksa pulang ke desa. Aku memahami perasaan istriku itu. Kami sudah cukup lama tinggal di Jakarta. Bagaimana mungkin dapat hidup di tempat yang sepi? Tampaknya tidak ada pilihan lain. Perusahaan surat kabar tempat aku bekerja telah gulung tikar. Alhamdulillah, ia ternyata tidak keberatan dengan rencanaku. Sebab, anak kami Fajar dan Laila sudah bekerja di perusahaan swasta. Mereka sudah dapat hidup mandiri.
Ternyata Fajar dan Laila tertawa terbahak-bahak mendengar ajakanku untuk pulang ke tanah leluhurnya. Menurut mereka, kehidupan di kota lebih menantang sehingga kemungkinan untuk maju dalam berkarier lebih terbuka. Jika ulet dan berkemauan keras, tidak mustahil dapat tercapai cita-cita betapapun tingginya. "Rambut cepat ubanan tinggal di desa," kilah Laila sambil tersenyum yang bernada mengejek.
"Orang berusia lanjut saja yang cocok tinggal di desa," timpal Fajar dengan blak-blakan.
'Kamu pikir Bapak sudah tua?" ujar Laila.
"Tua dan muda itu 'kan tergantung semangatnya. Orang yang memerlukan tantangan, walaupun sudah berusia tua, tetap saja dianggap masih muda," jawab Fajar kembali tertawa.
Aku dan Anisa diam saja mendengar komentar Fajar dan Laila. Di keluarga kami, sejak kecil mereka memang kami ajarkan untuk bebas menyatakan pendirian, asal disertai argumen.
Membayangkan kampung halaman, dengan sendirinya aku tidak dapat menghapus kenangan masa kecilku. Aku masih ingat waktu pertama kali belajar mengaji di surau Wakaf yang terkenal. Aku dan anak-anak sebayaku bermain layangan di padang rumput yang luas. Pulang sekolah kami berenang di tepian Danau Singkarak yang sering berombak, dilanjutkan dengan mencari udang di antara akar pohon beringin yang menjulur ke tepi danau. Di hari yang lain kami mencari sarang burung di pohon-pohon duku atau pohon petai di kawasan hutan yang berbukit-bukit. Jika merasa haus, kami menebang tebu yang memagari sebuah ladang yang terletak di pinggir desa. Semuanya terasa indah. Kenangan itu menggodaku untuk pulang.
Akhirnya, aku dan Anisa memilih pulang. Kami melalui jalan darat, walaupun amat meletihkan. Di sepanjang jalan, pemandangan yang terlihat dari jendela bus dapat menghilangkan keletihan. Alam bagai berlari dilewati kendaraan. Berbeda denganku, Anisa sejak berangkat sering tertidur pulas. Aku membangunkan Anisa jika kendaraan berhenti guna memberi kesempatan kepada penumpang untuk makan atau melakukan salat.
Kami tiba di kampung malam hari. Suasana tampak agak gelap. Penerangan listrik tidak mampu menjangkau pelosok-pelosok desa. Yang tampak terang adalah warung-warung minuman di pinggir jalan dan beberapa orang asyik bermain domino atau mengobrol di dalamnya. Di depan beberapa rumah penduduk tampak beberapa ekor anjing mondar-mandir.
Kami sampai di depan rumah ibu, kemudian mengucapkan salam. Terdengar sahutan dari dalam. Ibu keluar masih mengenakan mukena.
"Mengapa datang tidak memberi kabar?" tanya Ibu girang sambil menghapus air mata yang meleleh di pipinya dengan punggung tangan.
"Kami sengaja pulang diam-diam, supaya Ibu tidak sibuk mempersiapkan kedatangan kami," jawabku memberi alasan.
"Mana anak-anak, Anisa?" tanya Ibu dengan pandangan mencari-cari ke halaman. Selanjutnya, Ibu memeluk istriku.
"Mereka sibuk, Bu," jawab istriku. "Mereka sudah bekerja di kantor."
"Ada urusan penting pulang ke kampung?" Ibu menghapus sisa-sisa air matanya. "Ibu hampir-hampir tidak percaya kalian yang datang. Ibu serasa bermimpi."
Kuceritakan kepada Ibu bahwa kami ingin menetap di desa. Kami sudah bosan hidup di Jakarta. Kota terlalu berisik dan ingar-bingar. Hidup selalu dikejar-kejar persoalan.
"Benar-benar sudah kaupikirkan?" Ibu menatap mataku lekat-lekat seakan-akan ingin menggali rahasia yang tersembunyi di hatiku.
"Tidak ada pilihan lain, Bu. Umurku sudah tua. Melamar kerja di tempat lain pasti sulit," jawabku berteori seraya menarik napas panjang.
"Kalau kau sudah siap, Ibu setuju saja. Tetapi, apa kau kuat hidup bertani?" Pertanyaan yang dilontarkan Ibu seolah-olah merupakan ejekan padaku bahwa aku tidak akan kuat membanting tulang di sawah dan di ladang. "Kau biasanya pegang pena." Ibu mencoba tertawa. Di balik tawa ibu itu kutangkap bahwa ia tidak yakin dengan rencanaku bertani di desa.
"Akan kucoba, Bu. Hidup di hutan belantara Jakarta yang ganas saja aku sanggup, apalagi di kampung sendiri," sahutku terdengar gagah karena kata-kata Ibu terasa menyepelekan kemampuanku. "Aku yakin hidup di kampung tidak akan banyak persoalan, pasti kurang tantangan."
"Alhamdulillah. Mudah-mudahan kau betah. Banyak pekerjaan yang dapat kaulakukan di sini," kata Ibu memperbaiki letak kacamatanya.
Kuperhatikan Ibu seperti berpikir. Kerut di dahinya makin jelas. "Kita punya sawah, ladang, dan kolam ikan. Semuanya tergantung di tanganmu."
Aku mengangguk dalam-dalam, kemudian menghela napas. Sebenarnya, cukup banyak peninggalan almarhum Ayah yang dapat digarap. Apalagi aku anak satu-satunya yang masih hidup. Adikku Ramlan meninggal dunia lima tahun yang lalu akibat penyakit malaria.
"Surau Wakaf masih seperti dulu, Bu?" tanyaku.
Ibu tidak langsung menjawab pertanyaanku.
"Lebih baik kau dan Anisa beristirahat. Tentu kalian lelah seharian di perjalanan. Hari sudah larut malam. Surau Wakaf itu tidak akan lari," Ibu menjelaskan sambil tersenyum.
Surau Wakaf punya kenangan tersendiri bagiku. Sejak masa kecil sampai remaja, surau itu selalu penuh jemaah dan boleh dikatakan tidak pernah sepi. Setiap kali mendengar suara beduk yang diikuti suara azan, aku dan anak-anak sebayaku segera bergegas menuju ke surau Wakaf. Mengingat semua kenangan itu, diam-diam kupendam hasratku. Pada suatu saat aku tampil memberi khotbah di depan jemaah surau Wakaf. Angan-anganku itu selalu tenggelam timbul antara punya keberanian dan tidak. Akan tetapi, barangkali inilah saatnya aku dapat tampil di depan jemaah surau Wakaf, setelah lebih dua puluh tahun tinggal di rantau orang. Sebagai wartawan aku banyak melihat dan mendengar sehingga banyak pula yang dapat aku sampaikan, misalnya mengenai remaja Jakarta yang aktif dalam kegiatan pengajian dan kegiatan sosial. Ya, itulah sekadar bingkisan selama aku berada di rantau untuk anak-anak, remaja, dan orang-orang sekampung.
Tanpa sadar aku membayangkan diriku berdiri di depan mimbar sedang memberi khotbah. Jemaah melimpah. Mereka terpesona mendengar pengalamanku selama di kota Jakarta.
Kokok ayam pertama membangunkan aku dari tidur. Selesai salat Subuh aku keluar. Suasana masih gelap. Tujuanku adalah surau Wakaf, yang jaraknya sekitar tiga puluh meter dari rumah. Akan tetapi, aneh, surau itu tampak lengang. Biasanya, setiap kali memasuki waktu subuh terdengar suara beduk yang diikuti berkumandangnya suara azan. Penduduk melakukan salat berjamaah yang kemudian diikuti dengan acara pengajian. Kini suara beduk dan azan tidak kudengar sama sekali.
Ketika berdiri di depan surau Wakaf, tiba-tiba aku merasa aneh. Mendadak aku merasa asing. Padahal, dahulu aku begitu akrab dengan tempat ini. Di depan kolam tempat wudu yang dahulu airnya senantiasa mengalir bening, aku terpaku lama. Tidak ada genangan air di sana, kecuali batu-batu kali yang ditumbuhi rumput-rumput liar. Hari mulai terang. Pelan-pelan semuanya menjadi nyata. Dengan harap-harap cemas aku mencoba untuk mengenali kembali sudut-sudut surau itu. Pintu surau sudah tidak ada lagi. Jendelanya terlepas dari engsel. Lantai dan dinding papan sudah keropos dan sebagian sudah tidak kelihatan. Di sana-sini laba-laba membuat sarang.
Dengan perasaan galau aku meninggalkan surau itu. Aku benar-benar sedih. Keindahan kenanganku mengenai kampung halaman terusik. Aku mencoba terus berjalan menyusuri kembali jejak-jejak masa kecilku, yang kian lama kian bertambah buram.
Sekitar lima puluh meter dari surau Wakaf terdapat kolam ikan yang dahulu sangat membantu ekonomi orang tuaku. Kembali aku disergap perasaan aneh sehingga aku menjadi ragu-ragu akan penglihatanku. Di manakah kolam ikan itu kini? Kolam ikan yang kubayangkan kelak bisa kukelola dengan baik, ternyata bagai raib ditelan bumi. Selanjutnya, pandanganku menyapu tempat sekitar itu. Di sana hanya tampak rumput-rumput liar. Pohon keladi tumbuh tidak teratur. Sekeliling kolam dipenuhi semak dan rumput-rumput liar yang menjalar menutupi pangkal pohon kelapa yang sudah tidak berbuah. Kolam itu kering kerontang.
Segera kutinggalkan tempat itu. Tempat kami bermain dahulu yang berupa padang rumput yang kubayangkan masih penuh dengan kehijauan, kini tidak lebih dari tanah merah yang didera kemarau panjang. Tidak ada lagi kehijauan di sini, kecuali rumput-rumput liar yang berwarna kuning kecokelatan ditutupi debu. Ternak-ternak juga sudah jarang kelihatan. Dari sini aku terus menyusuri pematang sawah, tempat kami sering memburu burung ayam-ayaman. Setelah orang menuai padi, kami biasanya memilih batang padi yang baik untuk dijadikan puput. Kini, di depanku petak-petak sawah yang terhampar telah berubah menjadi tanah lapang dan di beberapa tempat terlihat gawang sepak bola yang terbuat dari bambu.
Setelah lelah berjalan mengitari kampung, aku kembali pulang. Ibu sudah menunggu sejak tadi. Ibu tersenyum. Aku mencoba membalas senyum Ibu, sambil berupaya menyembunyikan kekecewaan yang dalam di rongga dadaku.
"Perubahan itu begitu cepat," kataku sambil mengempaskan pantat di kursi rotan yang ada di beranda.
Ibu yang arif menangkap sesuatu di balik kalimatku. Akan tetapi, dia tidak mau lebih dahulu memberikan penjelasan.
"Sudah bulat tekadmu tinggal di kampung?" Kembali pertanyaan Ibu kurasakan sebagai ejekan, walaupun mungkin Ibu tidak bermaksud demikian.
"Ya, aku harus tinggal di sini, di tanah kelahiranku. Jika tidak, siapa lagi ...."
"Kau yang kami harapkan ...." Ibu memotong kalimatku. "Banyak orang menyebut-nyebut namamu. Kalau saja kau ada, keadaan kampung kita tidak separah ini."
Ucapan ibu itu seolah-olah menyalahkan mengapa dahulu aku berangkat ke Jakarta.
Aku tertunduk di depan ibu. Mengapa ibu dan warga kampung melimpahkan beban tersebut di atas pundakku, seolah-olah akulah pemilik kampung ini atau seolah-olah akulah yang harus bertanggung jawab.
Akhirnya, aku sadar. Mungkin mereka menilai aku mempunyai kesanggupan untuk mengembalikan kampung ini ke citranya semula.
"Kau sudah banyak menimba pengalaman di rantau.” Nada suara Ibu berharap padaku. "Langkah anak-anak muda di kampung kita harus diarahkan. Jika tidak, mereka makin terbawa arus ...."
"Mungkin mereka keliru mengartikan modernisasi. Modernisasi tidak sama dengan meniru perilaku orang Barat di televisi dan di film yang bertentangan dengan norma-norma agama dan adat kita," ujarku dengan suara datar. "Di mana biasanya orang salat berjamaah, Bu?"
"Sejak surau Wakaf tidak digunakan lagi, penduduk melakukan salat di Masjid Raya. Masjid itu dibangun atas swadaya orang rantau yang berhasil dalam usahanya. Itulah salahmu yang tidak pernah mau mendengar keadaan kampung kita dan tidak mau aktif dalam ikatan keluarga orang rantau.” Ibu menyalahkanku. "Nanti siang kau bisa salat Jumat di sana."
Hari Jumat aku menuju Masjid Raya. Aku datang lebih awal. Dengan harap-harap cemas kuamati satu per satu orang yang datang ke masjid. Mudah-mudahan jemaah akan berlipat ganda dibandingkan mereka yang pernah datang di surau Wakaf. Apalagi, kini tempat ibadahnya mentereng, besar, dan indah. Lantainya yang terbuat dari marmer dilapisi permadani tebal. Kubayangkan ada orang yang mengenal wajahku. Akan tetapi, semuanya itu tidak terjadi. Ternyata, yang banyak datang adalah orang yang sudah berusia senja. Tidak tampak remaja atau anak-anak. Aku bagai tidak percaya dengan penglihatanku. Salat dilanjutkan dengan khotbah yang disampaikan oleh seorang lelaki tua yang selalu menyelingi ayat-ayat suci Alquran yang dibacanya dengan batuk-batuk. Isi khotbah adalah tentang surga dan neraka yang sering kudengar ketika salat berjamaah bersama teman-teman di surau Wakaf.
Aku keluar masjid dengan tubuh terasa oleng dan kakiku bagai tidak mampu untuk kulangkahkan.
Perubahan demi perubahan segera kutangkap. Anak-anak muda di kampungku lebih suka berhura-hura. Mereka merasa bangga mengendarai sepeda motor model terbaru sambil membonceng seorang gadis yang memeluknya dari belakang. Dahulu berpelukan di depan umum seperti itu merupakan sesuatu yang tabu. Di rumah-rumah penduduk sudah terpancang antena yang menunjukkan bahwa pemiliknya mempunyai pesawat televisi.
Keadaan kampung halamanku tidak seperti yang hidup dalam angan-anganku. Di satu sisi, inilah kesempatan bagiku untuk membuktikan bahwa diriku mampu tinggal di desa. Akan tetapi, di sisi lain, aku tidak mungkin sanggup bertahan hidup di sini. Tidak ada lagi tegur sapa. Padahal, sikap ramah merupakan ciri di desa kelahiranku. Semuanya telah lenyap. Penduduk yang dahulu membanggakan sawah dan ladang yang subur dan memuji syukur atas karunia Tuhan, kini tidak ada lagi. Aku bagai ditarik oleh dua arus yang kuat. Aku harus memutuskan ....
"Tak baik melamun sambil berjalan, nanti kakimu tersandung," tegur ibu begitu aku memasuki halaman, setelah seharian mengelilingi desa. Kulihat ibu tersenyum senang. Di tangannya tergenggam sepucuk telegram. "Ini ada telegram dari Jakarta."
Aku membuka telegram itu di depan ibu. Kurobek sampul telegram itu dengan hati-hati. Ibu memerhatikan air mukaku. Isi telegram itu adalah "Saudara Ray Rizal segera kembali ke Jakarta. Surat kabar kita terbit kembali". Tanpa kata-kata kusodorkan telegram itu kepada ibu yang kemudian membacanya.
Kulihat Ibu mengangguk-angguk.
"Aku harus segera kembali ke Jakarta," jelasku singkat.
"Bagaimana dengan rencanamu tinggal di kampung?" tanya ibu untuk kesekian kalinya. Aku diam saja. Tidak sanggup aku memandang wajahnya. Tidak kuasa aku memandang matanya.
"Segala sesuatu memang mudah berubah, Nak," kata ibu yang kali ini menangis terisak-isak.
"Ibu mau ikut saya ke Jakarta?" Terdengar nada sumbang dalam pertanyaanku kepada ibu.
Ibu menggeleng. Air mata meleleh di pipinya yang keriput dan jatuh menimpa tangannya.
"Ternyata kau tidak sanggup," ujar ibu sembari menghapus air matanya dengan ujung selendang dan kini tampak memaksakan diri untuk tersenyum.
Kalimat ibu yang terakhir bagai hunjaman lembing tepat di jantungku. Walaupun tampak tersenyum, senyuman itu kurasakan sebagai ejekan. Aku tidak berani menatap wajah ibu. Sama halnya dengan aku tidak memiliki keberanian untuk tinggal di kampung halamanku. Aku tiba-tiba menjadi kerdil di hadapan ibu.
Sekarang baru aku sadari bahwa kenangan itu memang indah untuk dibayangkan, tetapi bukan untuk dijalani kembali. Syukurlah telegram yang dikirimkan anakku, Fajar, atas permintaanku, datang tepat pada waktunya sehingga aku mempunyai alasan kuat untuk kembali ke Jakarta.
•••
PINTU TERTUTUP
Sudah beberapa kali perempuan setengah tua itu melintas. Ia selalu menatap rumah bercat putih dan berpagar besi warna hitam. Tidak jarang ia berhenti di depan rumah dan menebarkan pandangan ke halamannya. Diamatinya satu per satu benda-benda yang ada di sana. Di sebelah kiri ada taman kecil penuh bunga-bunga. Banyak pohon bonsai di sudut sebelah kanan. Di teras terdapat dua kursi rotan yang menghadap ke jalan.
Wajah perempuan yang mengenakan baju kebaya lusuh itu menyimpan duka nestapa. Sorot matanya redup tanpa gairah. Akan tetapi, begitu membaca Hariman, S.H. di papan nama, matanya bersinar penuh harapan. Tanpa disadari ia berjalan mendekati rumah itu. Akan tetapi, lagi-lagi ia tertegun di depan gerbang besi yang kukuh itu.
Entah mengapa tubuhnya terasa bergoyang. Lututnya lemas bukan main. Dia tidak tahu pasti karena apa. Apakah tidak kuasa lagi berdiri karena kerentaan yang disandangnya atau karena perasaan yang membelenggu dirinya. Keringat dingin meleleh di dahinya. Dia menghela napas panjang. Kemudian, ia menghapus sesuatu yang meluncur di sudut matanya dengan ujung selendang.
Perempuan itu bernama Zahara. Dia memutuskan untuk meninggalkan rumah itu segera. Akan tetapi, baru saja dia membalikkan badan, terdengar suara di belakangnya. Zahara terkejut.
Dadanya berdebar kencang. Suara itu terdengar asing di telinganya. Dia mencoba menoleh. Seorang gadis manis bertubuh langsing mendekat ke pintu gerbang.
"Ibu mencari siapa?" Gadis itu menyapa karena merasa yakin bahwa perempuan yang tegak lama di depan pintu itu pasti bukan pengemis walaupun pakaiannya tampak kotor.
Semula Zahara diam. Ada sesuatu yang dipertimbangkannya.
Akan tetapi, akhirnya ia berkata juga dengan nada gugup dan bimbang.
"Apakah di sini rumah Pak Hariman … seorang pengacara?"
Gadis itu segera membukakan pintu. Wajah dan sikapnya tampak ramah. Dia mempersilakan Zahara masuk.
"Nama saya Mutia." Gadis itu memperkenalkan diri.
Mendengar nama itu Zahara terkejut, tetapi mencoba tenang,
"Mutia ... Mutia nama yang bagus sekali," puji Zahara. "Akan tetapi, biar saya duduk di luar saja."
"Lebih baik duduk di dalam, Bu," ajak Mutia dengan sopan.
Zahara masuk ke ruang tamu. Ia melepaskan sandal jepitnya yang telah tipis dan berdebu. Dengan langkah ragu dia menginjak karpet tebal berwarna hijau lumut.
"Tunggu sebentar, ya, Bu, saya ambilkan minuman. Tampaknya Ibu sangat haus," kata Mutia seraya beranjak pergi.
Perasaan senang merasuk ke dalam diri Zahara karena diperlakukan dengan baik. Matanya leluasa menyapu sekeliling ruang tamu. Berbagai foto keluarga yang ada di sana tidak lepas dari pengamatannya. Ketika melihat foto pemilik rumah dalam ukuran besar yang tergantung di dinding, darahnya tersirap. Dia bangkit. Ditatapnya foto itu lebih dekat dan lebih dekat lagi. Seketika pandangannya berkabut. Matanya berkunang-kunang. Kelam. Tubuhnya menggigil. Sementara itu, Mutia telah kembali membawakan secangkir teh.
"Mari minum, Bu," Mutia mempersilakan.
Zahara tersentak. Dia seperti kepergok. Akan tetapi, dia berusaha tenang dan memaksakan sebuah senyum. Dengan perlahan ia berusaha kembali ke tempat duduknya semula.
"Itu foto Pak Hariman?" Ia menunjuk dengan telunjuk gemetar. "Ya, itu foto ayah sewaktu muda," Mutia menjawab tanpa memerhatikan ekspresi Zahara yang berubah.
"Perempuan yang di sisi Pak Hariman itu ... istrinya?" Kembali Zahara mengajukan pertanyaan untuk mengikis keraguan.
"Ya, itu ibu saya. Sekarang ibu sedang pergi berbelanja." Mutia menjawab bangga.
Semula pembicaraan di antara mereka tampak kaku. Akan tetapi, gadis yang ramah itu dapat menghangatkan suasana.
"Apakah Ibu ingin bertemu dengan ayah? Ada keperluan penting barangkali?" tanya si gadis.
"Hem, iya." Zahara menjawab singkat sedangkan jiwanya bertambah galau.
"Kalau begitu biar saya telepon ayah di kantornya," ujar Mutia sembari bangkit dari kursi.
"Jangan, jangan." Zahara cepat mencegah. "Ayahmu mungkin sibuk. Tidak usah diganggu. Biar saya tunggu di sini saja."
Mutia kemudian bercerita panjang lebar mengenai kesibukan ayahnya, juga mengenai dirinya sendiri yang kini sudah kuliah di perguruan tinggi.
"Ambil jurusan apa?" tanya Zahara penuh perhatian.
"Saya ambil kedokteran, supaya dapat menolong orang yang sakit," jawab Mutia dengan rendah hati. Kalimat singkat yang diucapkan gadis itu melemparkan Zahara ke suatu masa yang jauh.
Bayangan masa lalu serta-merta terpampang di pelupuk mata Zahara. Kenangan itu menyergapnya begitu kuat. Untuk mengalihkan bayangan masa lalu yang menderanya itu, ia memerhatikan Mutia bercerita. Akan tetapi, sebenarnya yang menyita perhatian Zahara bukanlah omongan Mutia, melainkan wajahnya yang lembut dan tenang. Sorot mata itu teduh. Hidung bangir dan dagunya yang bagus, tidak jauh beda dengan miliknya di waktu muda. Hanya saja semuanya sekarang telah raib. Penderitaan yang berlarut-larut menyebabkan wajahnya kelihatan letih dan sangat tua. Betapa bahagianya mempunyai anak seperti Mutia. Gerak-geriknya menyenangkan. Ah, kalau saja prahara itu tidak terjadi ....
Tiba-tiba Zahara menghapus pipinya yang basah.
"Mengapa Ibu menangis?" tanya Mutia heran.
"Ah, tidak apa-apa." Zahara tersipu-sipu dan mencoba tersenyum. "Kalau anak ibu ada, pasti dia sebesar kamu dan secantik kamu.”
"Di mana anak Ibu sekarang?" tanya Mutia yang tidak mengerti apa yang bergejolak dalam pikiran dan perasaan perempuan tua itu.
"Dia ... dia sudah pergi jauh," jawab Zahara sambil menahan isakan.
Tiba-tiba bel berdering. Mutia segera berlari ke depan. Ibunya tiba membawa banyak belanjaan. Mutia mengambil alih sebagian jinjingan ibunya sambil menceritakan kedatangan perempuan tua itu. Ketika pandangan dua perempuan hampir sebaya itu bertemu, mereka langsung saling mengenali.
"Buuu!" pekik nyonya rumah hampir-hampir tidak memercayai penglihatannya. "Kapan Ibu datang?" Ia mengulurkan tangan kepada Zahara dengan tubuh membungkuk serendah-rendahnya.
"Mastinah, sudah cukup lama aku mencari-cari rumah Hariman." Suara Zahara terdengar serak dan bergetar. "Aku ingin minta maaf. Hanya minta maaf."
Zahara tunduk menatap lantai dan berbicara setengah berbisik.
"Dosaku kepadanya terlalu besar dan juga pada anak kami ...."
Setiap kata yang keluar dari mulut Zahara didengarnya dengan saksama. Mutia yang tidak mengerti persoalannya menjadi heran.
"Sebentar lagi Bapak pulang," kata Mastinah.
Wajah Zahara terangkat. Ia kembali menatap Mastinah seakan tidak yakin. Dia tidak pernah membayangkannya. Mastinah pembantu rumah tangganya dahulu ternyata kawin dengan suaminya, Hariman.
Akan tetapi, Zahara harus menerima kenyataan itu tanpa harus menyalahkan siapa-siapa. Semuanya itu justru terjadi karena salahnya sendiri.
Kalau saja waktu itu ia tidak meninggalkan Hariman yang dalam keadaan gegar otak akibat kecelakaan, pasti perjalanan hidupnya akan lain. Zahara sengaja meninggalkan Hariman yang saat itu memerlukan bantuan seorang istri yang setia. Ia justru pergi dengan lelaki lain membangun mahligai baru karena tidak mengira Hariman dapat sembuh dan hidup normal kembali. Seorang lelaki yang telah lama mengincarnya telah menggunakan kesempatan itu untuk membujuk dirinya. Zahara tergoda rayuannya yang ternyata hanya tipuan belaka. Lelaki pilihannya itu sebenarnya sudah lama menjadi buronan pihak berwajib dalam berbagai kasus kejahatan.
Mastinah, pembantu rumah tangga itu, kasihan melihat nasib si bayi yang ditinggalkan ibunya yang sedang dimabuk cinta. Ia mengasuh dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Ia juga memerhatikan majikannya yang dalam keadaan sakit tanpa daya, tanpa mengeluh, dan tanpa pamrih. Mastinah mengambil alih tugas-tugas rumah-tangga yang hancur berantakan ditinggalkan Zahara.
Berkat perawatannya, Hariman sembuh. Ia kembali bekerja dan kemudian dipindahkan ke Jakarta. Kariernya sebagai pengacara terus berkembang. Status Mastinah kemudian berubah. Dia bukan lagi sebagai pembantu rumah tangga, melainkan sudah menjadi pendamping hidup Hariman.
"Saya datang kemari hanya untuk minta maaf. Kemudian, saya juga ingin melihat ..," Zahara menoleh, mencari-cari di mana gerangan Mutia berada. Ternyata Mutia sedang berjalan ke arah telepon yang berdering, "Aku ingin melihat anakku, darah dagingku yang telah kusia-siakan." Zahara tersedu.
Tangis yang sejak tadi ditahan-tahan saat ini meledak. Ia seperti menemukan tempat untuk mencurahkan seluruh penderitaannya selama ini. "Mutia ... Mutiara anakku sekarang telah menjadi seorang gadis cantik, ramah, sopan …." Zahara memandang nanap ke arah Mutia yang sedang asyik berbicara di telepon.
Mastinah pucat mendengar ucapan bekas majikannya itu. Bukan apa-apa. Dia takut kata-kata Zahara terdengar oleh Mutia yang selama ini diakui sebagai anak kandung. Perasaan cemas, takut, dan sedih berbaur menjadi satu dalam dirinya.
"Terima kasih, Mastinah. Kau telah membesarkan dan mendidiknya. Kelak kalau Tuhan memanggilku, aku ... aku telah siap menghadap-Nya," ujar Zahara dengan kalimat terputus-putus.
Suasana kemudian berubah sunyi. Tidak ada suara, kecuali helaan napas Zahara. Ada yang menyeruak dalam dadanya. Apakah ia harus menunggu Hariman pulang atau segera berlalu. Akhirnya, ia menemukan keputusan sendiri.
"Inah," kata Zahara seraya bangkit dari kursi, "aku harus pergi. Aku tidak sanggup dan tidak berani melihat wajahnya."
"Tidak lama lagi Bapak datang." Mastinah mencoba menahan sambil memegang tangan Zahara.
Zahara menggeleng lemah sambil mengusap matanya.
"Tidak. Aku harus pergi. Sampaikan salamku pada Hariman. Aku tidak layak menjumpainya."
Mastinah tidak berdaya menahannya. Zahara melangkah ke luar rumah dengan tersaruk-saruk. Sempat ia menoleh sejenak ke arah Mutia yang tampak terpaku. Dia tahan hasrat untuk memeluk Mutia, anak kandungnya. Batinnya meronta ingin berteriak bahwa Mutia adalah anaknya bersama Hariman. Dia tidak kuasa. Ada bisikan lain dalam kalbunya yang mencegah supaya dia tidak berlaku bodoh untuk kedua kalinya. Tidak baik merusak rumah tangga yang harmonis itu.
"Kasihan ibu itu," ujar Mutia mendekat. "Apa hubungannya dengan ayah?"
"Dia saudara ayah." Mastinah menjawab gelagapan dan terpaksa berdusta.
Untunglah terdengar bunyi klakson mobil berkali-kali, sehingga Mutia tidak banyak bertanya lagi dan segera berlari ke depan. Mutia menenteng tas kerja Hariman dan membawanya masuk.
"Hampir saja aku menabrak orang," keluh Hariman dengan wajah agak tegang. "Perempuan itu tidak berjalan di atas trotoar, tetapi di tengah jalan dengan langkah terhuyung-huyung."
Mastinah mengambilkan segelas air putih untuk suaminya. Wajah lelaki itu kini kembali tenang. Dia duduk di kursi.
"Aneh, hari ini perasaanku tidak enak, seperti ada sesuatu yang akan terjadi," kata Hariman seraya menarik napas.
Mastinah tidak dapat menahan diri lagi. Diceritakannya tentang kedatangan Zahara yang baru saja pergi. Tidak ada satu pun yang luput. Hariman memerhatikannya dengan bersungguh-sungguh.
"Buat apa perempuan itu datang kemari?" Tiba-tiba wajah Hariman berubah merah.
"Mungkin ibu bermaksud ingin kembali. Saya kasihan melihat nasibnya," kata Mastinah dengan suara pelan.
"Perempuan seperti itu tidak perlu dikasihani. Biar dia memilih jalan hidupnya sendiri. Pintu rumahku telah tertutup untuknya." Hariman kelihatan berang.
Bagi Hariman, Mastinah adalah segala-galanya. Dia mencintai bekas pembantu itu karena kesetiaan dan pengorbanannya. Kendati Mastinah tidak terpelajar dan tidak secantik Zahara, ada sisi yang jarang ditemui pada perempuan lain, yaitu kejujuran. Hariman sudah membuktikan bagaimana Zahara yang berpendidikan, berwajah cantik, dan bertubuh menarik, justru mengkhianatinya. Di saat ia berada di tubir jurang Zahara tidak menolong, tetapi malah mendorongnya tanpa belas kasihan.
Tidak lama kemudian terdengar suara bel ditekan. Seorang polisi berdiri di depan pintu. Hariman segera melangkah ke luar.
"Seorang perempuan tua mengalami kecelakaan di jalan raya, Pak." Polisi itu melapor.
"Apa urusannya dengan saya?" tanya Hariman heran karena merasa tidak pernah mempunyai saudara perempuan di Jakarta.
"Di dalam dompet orang itu ditemui nama dan alamat Bapak. Siapa tahu orang itu ada hubungannya dengan Bapak. Sekarang korban dirawat di Rumah Sakit Cipto."
Setelah polisi itu pergi, Hariman menceritakannya kepada Mastinah. Mereka sangat yakin bahwa yang mendapat kecelakaan itu Zahara.
"Pak, kita harus pergi ke sana," desak Mastinah dengan khawatir.
"Saya tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya," bantah Hariman dengan suara tanpa emosi.
"Kalau Bapak tidak mau, biar saya yang pergi," ujar Mastinah dengan wajah memelas.
"Masa lalu itu, Mastinah," kata Hariman dengan pandangan menerawang jauh ke masa silam.
"Dia datang hanya untuk minta maaf."
Mastinah menggenggam tangan Hariman erat-erat dan memohon dengan teramat sangat supaya ia memaafkan bekas istri yang juga bekas majikannya itu. Akhirnya kekerasan hati Hariman mencair.
Mereka bergegas pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Zahara sudah tidak tertolong lagi karena luka di bagian kepalanya banyak mengeluarkan darah. Akan tetapi, wajahnya kelihatan lebih bersih dan tenang. Mastinah menangis terisak-isak, sedangkan Hariman berusaha menyembunyikan kesedihannya. Walau bagaimanapun, perempuan yang telah menjadi mayat itu adalah ibu dari anaknya dan kini telah pergi menjalani suratan takdirnya.
Lama mereka terpaku di depan jenazah. Mereka berdua berdoa semoga arwah Zahara diterima di sisi-Nya. Ketika mengangkat wajah selesai berdoa, mereka terpana melihat Mutia diam-diam telah sampai pula di sana. Mutia tidak berkedip menatap tubuh yang terbujur kaku di depannya itu.
•••
HATI NURANI
Bahtar meletakkan koran sore yang dibacanya di beranda ketika terdengar suara derit pintu pagar rumahnya dibuka. Ia tersenyum begitu mengetahui yang datang itu anaknya, Pertiwi. Biasanya Pertiwi datang ke rumah Bahtar ditemani anaknya, Ferdi. Kunjungan Ferdi menyebabkan Bahtar merasa senang. Ia sering mengingat kelucuan cucunya itu.
Kini semuanya berubah. Ferdi sudah besar. Ia sendiri berangsur tua. Dahulu Bahtar mengajar di fakultas hukum di beberapa perguruan tinggi. Sekarang ia mengurangi kegiatan mengajar, lalu mengisi waktunya dengan menulis buku yang sejak lama dicita-citakannya.
"Mengapa kamu datang sendiri?" tanya Bahtar. "Mana Ferdi?"
"Dia sibuk mencatat iklan lowongan kerja yang ada di koran dan ke sana kemari untuk melamar. Dia ingin segera bekerja," ujar Pertiwi.
"O, ya, Ferdi sudah selesai kuliah. Ha-ha-ha, hampir ayah lupa." Bahtar tertawa kecil sambil memegang dahinya.
Pertiwi kemudian melanjutkan ceritanya mengenai Ferdi, karena memang itulah maksud kedatangannya. "Ferdi sudah mengirim surat lamaran ke berbagai perusahaan, tetapi tidak pernah diterima. Ia juga sudah bosan mengikuti testing yang diadakan untuk calon pegawai karena hasilnya selalu nihil."
"Mencari pekerjaan itu memang tidak gampang. Kita harus sabar. Jumlah sarjana yang menganggur bukan lagi ratusan, tetapi sudah ribuan," kata Bahtar.
"Oleh sebab itu, kami memerlukan bantuan Ayah. Beban kami makin berat. Tahun ini Rina masuk SMU dan Santi naik kelas dua SMP. Saya bingung memikirkan biaya sekolah anak-anak," kata Pertiwi memelas.
Bahtar mengernyitkan dahi. Terbayang di pelupuk matanya sosok Ferdi, juga Rina dan Santi yang sering memijat kakinya. Ayah mereka yang berprofesi sebagai guru SMU tentu kewalahan membiayai pendidikan anak-anaknya.
"Ayah mengerti," Bahtar mengangguk-angguk. "Apakah kau ingin ayah membantu membayar uang masuk Rina ke SMU?"
"Bukan begitu. Saya ingin Ferdi mendapat pekerjaan sehingga seterusnya dapat membantu membiayai adik-adiknya. Paling tidak dia mampu membiayai diri sendiri," ujar Pertiwi. "Saya tahu Ayah mempunyai banyak kenalan yang memegang posisi di departemen atau di perusahaan swasta. Ayah cukup menulis surat kepada mereka untuk menitipkan Ferdi. Ayah mau 'kan?"
Bahtar tidak menjawab. Ia menengadahkan wajahnya ke langit-langit seolah-olah sedang mencari jawabannya di sana. Bahtar mulai mengumpulkan ingatannya tentang masa lalu. Wajah demi wajah mahasiswanya terpeta di matanya. Ia mencoba menghitung, tetapi tidak terhitung jumlah mahasiswanya yang telah sukses di masyarakat. Bahkan, beberapa di antara mereka menduduki posisi sangat penting di perusahaan swasta ataupun di instansi pemerintah. Bahtar bangga. Ia sering menceritakan kebanggaannya ini kepada Pertiwi dan juga cucunya setiap kali ia menerima surat atau kartu pos dari bekas mahasiswanya dari tempat mereka bertugas.
Kebanggaan bahwa mahasiswanya berhasil merupakan kebahagiaan yang tidak ternilai bagi Bahtar. Tiap kali menerima kartu ucapan selamat ulang tahun dari mahasiswanya, tanpa disadari sering air matanya merambat di pipi. Rasanya ia ingin berteriak keras-keras bahwa bimbingan yang diberikannya telah membuahkan hasil.
Hal lain yang membahagiakan hati Bahtar bahwa ia merasa bekas mahasiswanya mencintainya. Mahasiswanya mengaguminya. Bukan sekali dua kali mendadak Bahtar dikagetkan oleh suara mobil yang berhenti di depan rumahnya yang sederhana di pinggir kota. Mereka ada yang mampir sekadar melepaskan rasa kangen, menanyakan kesehatannya dan ada pula yang membawakan oleh-oleh berupa buah-buahan segar. Jika sudah bertemu dengan bekas muridnya, rumahnya penuh dengan gelak tawa.
"Bagaimana, Ayah?" suara Pertiwi menyentakkan lamunan Bahtar. "Ayah tentu bisa menolong kami."
"Tidak mungkin, Tiwi," tukas Bahtar cepat. "Ferdi harus mengikuti seleksi sebagaimana mestinya. Kita harus melalui prosedur."
"Ayah, sekarang ini zaman edan. Sampai bongkok mengirimkan lamaran kerja tidak bakalan diterima kalau tidak ada koneksi. Mengikuti prosedur itu sudah kuno."
"Tiwi ...." Belum selesai kalimat Bahtar, Pertiwi sudah memotongnya.
"Saya tidak mengerti jalan pikiran Ayah. Ayah lebih suka melihat kami sengsara daripada sekadar menulis surat kepada kenalan Ayah yang sekarang telah jadi orang. Mereka sukses berkat jasa Ayah juga. Ayah dulu yang mendidik mereka." Pertiwi mendesak ayahnya dengan wajah memberengut.
"Baik, baiklah," jawab Bahtar sembari menyeka keringat yang membasahi dahinya meskipun udara tidak panas. "Saya pikir-pikir dulu."
Setelah Pertiwi pulang, Bahtar tidak mampu melanjutkan membaca koran sore yang tergeletak di atas meja. Matanya mencari-cari sesuatu di antara rumput manila di halaman rumah, kemudian beralih pada pohon tanjung yang daun-daunnya bergerak ditiup angin. Wajah itu kemudian tengadah ke langit seolah menumpahkan kesumpekan dadanya ke sana.
Malam hari Bahtar mencoba menulis surat kepada bekas mahasiswanya. Ternyata itu bukan pekerjaan mudah bagi Bahtar.
Namanya dipanggil. Ia segera melangkah memasuki ruang kepala personalia. Di hadapan lelaki yang bakal menjadi dewa penolong itu Ferdi tampak ciut. Ia lantas menyerahkan surat dari kakeknya.
Karnaen berhati-hati menyobek surat itu. Lama dia membaca surat yang isinya tidak sampai memenuhi sebagian dari halaman kertas. Ia mengangguk dalam-dalam. Sangat kentara dia menghormati Bahtar.
"Baiklah, saya perhatikan surat ini," ujar Karnaen sambil memasukkan surat itu ke laci meja. "Walau begitu, segera Adik siapkan berkas-berkas lamaran karena minggu depan ada testing penerimaan karyawan baru."
"Terima kasih, Pak."
"Sampaikan salam saya kepada Pak Bahtar. Beliau manusia terbaik yang pernah saya kenal," kata Karnaen.
Di saat tinggal sendiri di ruang kerjanya, Karnaen sempat tercenung. Sulit ia memercayai apa yang baru saja terjadi. Ya, bekas dosennya menulis selembar katebelece.
Ia kenal betul watak dosennya itu, yakni seorang idealis yang menempatkan kejujuran di atas segala-galanya. Ia justru banyak belajar dari Bahtar bagaimana harus berjalan di atas rel kebenaran. Sampai sekarang ini yang paling membekas di hatinya adalah ucapan Bahtar, jika buntu menemukan jalan kebenaran, mintalah pertimbangan hati nurani.
Kembali Karnaen membaca surat itu, kata demi kata. Di hadapannya terpampang tulisan tangan Bahtar meskipun tarikan hurufnya tidak lancar dan setegas dahulu. Apakah ada perubahan dalam diri bekas dosennya itu di usia senja? Atau adakah tekanan psikologis yang tidak mampu dilawannya?
Karnaen merasa kasihan kepada Bahtar. Sungguh berat baginya menolak permintaan bekas dosennya itu ….
Sudah seminggu Bahtar diopname. Di rumah sakit ia ditunggui oleh istrinya, Pertiwi, dan Ferdi secara bergantian.
Malam hari Karnaen datang membesuk. Bahtar merasa senang, meskipun tidak banyak kata-kata yang mampu diucapkannya.
"Saya orang yang gagal ...." Suara Bahtar terdengar parau dan serak.
"Apa yang gagal, Pak?" Karnaen mengernyitkan dahi.
"Surat yang saya tulis demi Ferdi itu ...." Kalimat itu diucapkan Bahtar dengan bibir gemetar. "Sejak saat itu, saya tidak bisa melanjutkan menulis buku yang sejak muda merupakan obsesi saya. Saya tidak berani menulis tentang kebenaran, sementara saya sendiri orang yang tidak benar. Saya juga tidak sanggup lagi mengajar karena ...."
Karnaen terpana. Begitu hebatkah dampaknya? Ia menyesal tidak sejak awal menceritakan keadaan yang sebenarnya kepada Bahtar.
"Pak, sebetulnya bukan karena surat dari Bapak Ferdi diterima bekerja. Maaf, Pak, surat dari Bapak itu tidak saya pedulikan. Ferdi tetap ikut testing dan ternyata dia lulus ujian saringan."
"Betul? Bukan karena surat saya?" Bahtar tidak percaya pada apa yang barusan didengarnya. Air mata meleleh di pipinya.
Sebenarnya surat yang dikirim Bahtar kepada Karnaen tidak memengaruhi penerimaan cucunya sebagai karyawan. Karnaen tetap memegang teguh prinsip-prinsip kebenaran yang diajarkan Bahtar sekalipun ia harus berhadapan pada selembar katebelece dari bekas dosen yang paling dicintainya itu.
•••
ANAK
Fatwa meletakkan koran sore yang dibacanya di atas meja. Ia tertegun menyaksikan seorang perempuan menggendong anak memasuki halaman rumahnya. Langkah-langkahnya pasti menerobos gerimis. Fatwa bangkit untuk memastikan siapa yang datang. Setibanya di depan Fatwa, perempuan itu menghapus kulitnya yang basah. Sesaat ia menatap anaknya sebelum pandangannya mengarah ke Fatwa.
"Di sini rumah Fatwa?"
Pertanyaan itu begitu sopan keluar dari mulutnya yang mungil. Perempuan itu tersenyum melihat Fatwa mengangguk.
"Fatwa yang mana?" ujar Fatwa dengan perasaan ganjil karena seingatnya ia tidak pernah mengenal perempuan yang ada di depan hidungnya ini. "Mungkin Anda salah alamat?"
"Tidak," jawabnya pasti. "Saya yakin di sini rumah Fatwa. Saya datang mencari Fatwa."
"Saya Fatwa. Akan tetapi, saya tidak mengenal Anda." Fatwa tidak mampu lagi menyembunyikan perasaan aneh yang berbaur dangan perasaan kecut. Ia sendiri tidak mengerti mengapa perasaan seperti itu menyergapnya.
"Anak ini darah daging Anda, Fatwa."
Ucapan wanita itu menyempurnakan rasa aneh dalam diri Fatwa.
Anak? Apakah perempuan itu tidak salah ucap? Atau kupingnya yang salah dengar? Apalagi, selama lebih dua puluh tahun perkawinannya dengan Lastri mereka tidak dikaruniai anak? Kini mendadak ada perempuan yang mengaku melahirkan anaknya?
"Eh, mungkin Ibu keliru. Seumur hidup saya tidak pernah punya anak." Fatwa berusaha ramah. Ia mengatur volume suaranya supaya berkesan tenang. "Sebenarnya sudah lama kami merindukan rengek bayi di rumah ini, tetapi sampai sekarang semuanya itu tidak kunjung menjadi kenyataan."
Wanita itu mendengarkan penjelasan Fatwa dengan saksama, tetapi sorot matanya tetap memvonis bahwa anak yang ada di gendongannya itu adalah anak Fatwa.
"Kalau Anda tak bersedia mengakui anak ini sebagai darah daging Anda, saya tidak memaksa. Permisi."
Setelah mengucapkan kata-kata yang hampir tanpa emosi, wanita itu kemudian berlalu dengan langkah-langkahnya yang ringan menerobos tirai gerimis. Fatwa terkesiap. Wanita itu lenyap bagai kabut. Seribu pertanyaan mengebor pikiran Fatwa. Andai kata saat itu di rumah ada istrinya, pasti bisa tersulut pertengkaran hebat. Fatwa tinggal sendiri di rumah karena badannya kurang sehat, sementara istrinya pergi mengikuti arisan keluarga.
Fatwa sulit mengikis bayangan bocah dalam dekapan ibunya itu. Anak perempuan yang ditaksir berusia dua tahun itu tampak damai dalam dekapan ibunya. Bola matanya yang hitam pekat mengapung di telaga matanya yang bening. Andai kata wanita itu sudi meninggalkan anaknya, Fatwa akan menerimanya. Tentu istrinya setuju. Akan tetapi, mestinya ia jangan menggunakan cara-cara yang mirip dengan teror. Apa yang tersembunyi di dalam diri perempuan itu tetap merupakan misteri bagi Fatwa. Jika perempuan itu mencoba memerasnya dengan menggunakan sang bayi sebagai kedok, rasanya tidak masuk akal. Wanita itu sangat bersahaja. Ia tidak memaksa Fatwa untuk mengaku. Dengan langkahnya yang enteng, ia meninggalkan Fatwa yang tegak terpaku.
Namun, suatu kesadaran yang paling dalam pada diri Fatwa terkuak perlahan-lahan bagai angin menyingkapkan tirai. Sepertinya ia pernah melihat wajah wanita itu, tetapi kapan dan entah di mana. Ia mengarahkan seluruh jaringan saraf memorinya. Akan tetapi, bayangan samar itu tidak kunjung terjangkau. Sebenarnya, meskipun tidak dikaruniai anak, hasrat lelaki Fatwa masih tetap bergejolak. Mungkin istrinya yang mandul atau impian mereka belum juga sempat mengapung ke permukaan.
Sebagai kepala bagian di suatu departemen, Fatwa sering bertugas ke daerah-daerah meninjau beberapa proyek yang sedang dibangun. Selama beberapa hari ia menginap di hotel berbintang. Dalam kesendiriannya di dalam kamar hotel, ia sering merasa sepi, suatu jenis perasaan keterasingan yang sering melemparkannya ke daerah tidak bertuan. Ia seorang suami tanpa predikat ayah. Ah, betapa ia mendambakan anak-anak memanggilnya dan bergelayutan di tangannya. Peluang untuk menjadi ayah makin tertutup bagi Fatwa karena masa menopause telah menghampiri istrinya. Fatwa merasakan hidupnya lenggang meski kaya, mempunyai istri cantik, dan jabatan yang mencuatkan wibawa.
Beberapa tahun terakhir Fatwa mulai berani menghadirkan perempuan lain di ranjang saat ia bertugas keluar kota. Wanita-wanita itu memberikan kehangatan padanya. Mimpi Fatwa makin menyala-nyala bagai jerami kering disambar api. Meskipun sadar mimpi itu akhirnya jadi belati yang mengiris kalbunya, Fatwa tidak pernah jera karena hanya itulah miliknya yang tersisa.
Ia masih ingat waktu berada di Bandung, Yogya, dan Surabaya. Ia ditemani wanita-wanita muda yang menyulut mimpinya. Ia terapung-apung bagai capung meniti angin. Ia berdua dengan wanita di dalam kamar dan lantas berdua di atas ranjang mengarungi gelombang.
Fatwa yang berusaha merekam kembali pengalamannya mendadak tersentak melihat ada sesosok wanita yang lain lagi menggendong anaknya melangkah memasuki halaman rumahnya. Fatwa terkesima dan tidak mampu berdiri. Wanita yang mendekap anak lelaki di dadanya itu menatap Fatwa lekat-lekat.
"Di sini rumah Fatwa?" tanya wanita itu dengan suara tertahan. Bocah dalam gendongan perempuan itu tertawa kepada Fatwa. Lelaki itu meraba aneh mendengar pertanyaan hampir senada dengan perempuan sebelumnya.
"Betul. Maksud kedatangan Anda?" Fatwa justru bertanya, sambil menduga-duga jawaban wanita itu.
"Saya mau menyerahkan anak ini. Dia anakmu."
"Apa? Anak saya?" Dahi Fatwa berlipat mengucapkan kalimatnya.
"Ya."
"Saya tidak pernah mengenal Anda sebelumnya."
"Jangan mudah melupakan perbuatanmu, Fatwa."
"Sumpah."
Belum sempurna mulut Fatwa terkatup, perempuan itu sudah meninggalkan Fatwa. Langkah-langkahnya ringan menerobos tirai gerimis. Perempuan itu menghilang dari pandangan Fatwa bagai kabut di bawah matahari. Fatwa mengusap wajahnya untuk meyakinkan dirinya bahwa ia bukan sedang bermimpi.
Kesadaran Fatwa belum pulih untuk membedakan antara mimpi dan kenyataan. Tiba-tiba muncul lagi perempuan ketiga dengan perutnya yang mengisyaratkan dalam waktu dekat akan melahirkan. Fatwa bingung. Ia membiarkan wanita itu melangkah menghampirinya. Dalam m jarak dua meter, wanita itu menatap Fatwa lekat-lekat. Ia meraba perutnya yang membukit.
"Saya datang untuk mencari Fatwa."
"Maksud Anda?”
"Lihatlah perut saya."
"Lho …."
"Fatwa yang menghamili saya."
"Saya?"
"Ya."
"Saya tidak pernah mengenal Anda."
"Anak dalam perut saya ini suatu bukti Anda tidak hanya pernah bertemu dengan saya."
"Sumpah, saya tidak ...."
Kalimat Fatwa terputus. Wanita itu sudah beranjak pergi. Fatwa mengusap wajahnya untuk meyakinkan bahwa ia masih sadar. Ia masih normal dan belum sinting. Belum .... Kini di mata Fatwa terpampang wajah-wajah wanita yang pernah menemaninya waktu berada di luar kota. Fatwa berpikir. Mungkin di antara banyak wanita yang pernah bersamanya, tiga wanita yang datang itu tentulah yang ditinggalinya kartu nama. Seketika bulu tengkuk Fatwa berdiri. Rasa bahagia dan takut menjadi satu di dalam dirinya, saat membayangkan wanita penghibur yang pernah bersamanya itu menjadi ladang subur bagi keturunannya. Apa mungkin pelacur hamil dan melahirkan? Pertanyaan ini bagai bor menusuk dinding sukma Fatwa. Ia tersenyum kecut begitu mampu menjawab sendiri pertanyaan bodoh itu.
Entah dorongan dari mana, Fatwa kemudian meninggalkan rumahnya. Ia bermaksud mencari perempuan-perempuan itu. Ia yakin bocah-bocah dalam dekapan perempuan itu adalah anaknya. Bayi dalam perut wanita yang sedang hamil itu adalah anaknya. Anaknya. Anaknya. Anaknya. Selama ini hasrat memiliki anak sering meneror mentalnya, sering menjadi bunga mimpi dalam tidurnya. Akan tetapi, ketika mereka datang, mengapa ia justru menghindarinya?
Fatwa mencari mereka ke stasiun kereta api karena menduga mereka naik kereta api Senja Utama atau Bima. Nihil. Fatwa memacu kendaraan ke Bandara Soekarno-Hatta. Ia memperkirakan mereka naik pesawat. Nihil. Fatwa kembali ke rumah malam hari.
Istrinya melihat Fatwa dengan sorot mata ganjil. Perubahan wajah Fatwa begitu tegas di mata istrinya. Wanita itu menyarankan supaya Fatwa pergi ke psikiater. Fatwa malah marah mendengar nasihat istrinya. Malam harinya Fatwa tidak mampu tidur sepicing pun.
Pagi itu Fatwa mendadak cerah. Istrinya begitu takjub. Fatwa yang kemarin sore wajahnya murung, kini begitu cemerlang.
Istrinya mencuri pandang saat Fatwa menemaninya sarapan. Seperti biasa istrinya melambaikan tangan saat melepaskan keberangkatan Fatwa ke kantor.
Pada tengah hari Fatwa sudah tiba di rumah. Istrinya menduga tentu Fatwa sakit dan menyarankan supaya Fatwa beristirahat. Istrinya kaget begitu mengetahui Fatwa mendapat tugas ke luar kota mendadak.
"Ini tugas penting yang tidak dapat diwakilkan kepada orang lain," ujar Fatwa sebelum istrinya merepet. "Aku merasa lebih sehat hari ini ...."
Wanita itu tidak dapat berbuat apa-apa. Ia mempersiapkan pakaian Fatwa dalam koper kecil. Tidak lama kemudian taksi yang dipesan via telepon datang. Fatwa mencium istrinya sejenak sebelum memasuki taksi, suatu kebiasaan yang sudah lama dilakukannya.
"Aku segera meneleponmu.” Fatwa berjanji kepada istrinya.
Wanita itu melambaikan tangan melepaskan suaminya. Taksi meluncur cepat ke Bandara Soekarno-Hatta. Pikiran Fatwa lebih cepat dari mobil itu, bahkan lebih cepat dari pesawat yang ditumpanginya menuju Yogya.
Fatwa kembali ke Yogya. Ia menuju hotel, tempat ia pernah menginap dengan perempuan. Ia bertanya ke sana kemari. Nihil. Ia menginap di kamar yang pernah menjadi saksi keperkasaannya. Sia-sia Fatwa mencari wanita itu. Akhirnya, ia tidur ditemani bayang-bayang.
Keesokan harinya Fatwa memutuskan pergi ke Surabaya dengan pesawat pertama. Pikirannya lebih cepat dari pesawat. Ia naik taksi ke hotel yang pernah dipakainya untuk tempat menginap waktu berada di Surabaya. Ia bertanya ke sana kemari. Nihil. Ia bermalam di kamar yang jadi saksi kegagahannya.
Kembali keesokan harinya Fatwa memutuskan untuk pergi ke Bandung. Ia menginap di hotel yang pernah dipakainya bermalam. Tidak seorang pun mengenal wanita yang disebutkan Fatwa. Kenyataan ini benar-benar membuat Fatwa pusing tujuh keliling.
Padahal, ia sudah bertekad untuk mengambil anak yang berasal dari darah dagingnya, apa pun risiko yang harus dihadapinya. Bahkan, ia rela mengorbankan perkawinannya yang telah dibangunnya selama dua puluh tahun, demi anak, demi panggilan ayah yang sudah lama diimpikannya.
Setelah gagal mencari wanita-wanita itu, Fatwa kembali ke Jakarta. Akan tetapi, Fatwa tidak kembali ke rumahnya. Ia menelusuri jalan raya, lorong, dan gang. Ia menelusuri sepanjang rel. Ia menelusuri sepanjang kali. Ia menelusuri sepanjang waktu.
Setiap kali melihat anak kecil bermain-main di halaman rumahnya, Fatwa segera memburunya. Fatwa memerhatikan bocah-bocah itu dengan saksama. Fatwa tidak tinggal diam begitu melihat anak kecil yang dibimbing orang tuanya di sebuah taman. Ia sering terpaku di luar pekarangan panti asuhan. Ia sering mendatangi tempat pembuangan sampah dan menyaksikan anak-anak gelandangan bermain-main di samping gubuknya. Ternyata tidak seorang pun memedulikannya. Tidak seorang pun menoleh kepadanya, apalagi memanggil 'ayah' sebagaimana yang diharapkannya. Melihat kehadiran Fatwa, tidak jarang anak-anak menjauh, dan berlari ketakutan.
Fatwa terus berjalan menelusuri waktu. Ia tidak minum dan makan. Ia tidak peduli haus dan lapar, letih dan lelah, hujan atau matahari terik. Ia berjalan berhari-hari, berminggu, berbulan, dan bertahun. Sampai suatu hari ketika melintas di sebuah taman kota, ada perempuan yang mengikutinya.
"Fatwa!" panggil perempuan itu.
Fatwa mempercepat langkahnya. Perempuan itu juga mempercepat langkahnya sambil membimbing anaknya. "Ini anak kita, Mas!"
Perempuan itu terus memburu Fatwa. Dia adalah istri Fatwa yang sepeninggal lelaki itu ternyata hamil. la terus memburu Fatwa. Memburu. Memburu. Memburu. Fatwa ketakutan. Ia lari tunggang langgang. Di sebuah tikungan tubuh Fatwa disambar bus yang melaju kencang. Fatwa terpelanting. Istrinya mendekat.
Fatwa yang masih sadar, menutup matanya dan tidak mau bertatapan dengan istri dan anaknya. Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu berpandangan menyaksikan adegan lelaki sakit jiwa, seorang ibu, dan anaknya.
•••
NUANSA
Sebenarnya tidak ada yang kurang dalam kehidupan Bastian. Kedudukannya sebagai manajer pemasaran di perusahaan alat-alat elektronik cukup menjamin nafkah dan masa depan keluarga. Dua anaknya, satu perempuan dan satu laki-laki, sehat dan cerdas. Lisa duduk di kelas dua sekolah dasar dan Doni di taman kanak-kanak. Anti, istrinya cantik. Cintanya sudah teruji selama empat tahun masa pacaran, ketika mereka masih sama-sama kuliah. Setelah menikah lebih-lebih lagi. Anti memberikan pengabdian dan kesetiaan yang penuh sebagai ibu rumah tangga. Meskipun mengantongi gelar sarjana ekonomi sebagaimana Bastian, Anti sepakat tidak berkarier. Ia rela tinggal di rumah saja mengurus anak-anak.
Bastian sendiri sudah biasa berangkat kerja pukul setengah delapan pagi dan pulang ke rumah hampir selalu tepat pukul lima sore. Jika jalan macet, datangnya memang agak terlambat. Bila terpaksa pulang malam, tentu karena ada rapat di kantor, dan Anti pasti diberi tahu melalui telepon.
Entah mengapa Bastian mendadak merasa jenuh dengan rutinitas itu. Ia ingin merasakan suasana yang lain. Ia berangan-angan mempunyai teman wanita khusus sebagaimana yang banyak dilakukan oleh rekan sekantornya. Ketika iseng-iseng Bastian mengunjungi pameran lukisan di galeri gedung perkantoran tempatnya bekerja, ia bertemu dengan seorang wanita. Vea namanya.
Wajahnya cukup manis. Penampilannya trendi. Yang lebih menonjol lagi, potongan tubuhnya menggiurkan menunjukkan bahwa pemiliknya rajin merawat dengan senam.
Awalnya, sebuah lukisan berjudul Nuansa Pelangi sama-sama menarik perhatian Bastian dan Vea. Mereka berdiri demikian dekat di depan lukisan warna-warni itu, bahkan hampir bersentuhan. Ketika sadar keduanya saling menoleh. Sama-sama tersenyum. Bastian yang semula tidak pernah bertualang dengan wanita, agak kikuk berkenalan dengan Vea. Ia benar-benar canggung. Keringat di lehernya bercucuran. Akan tetapi, Bastian teringat angan-angannya belakangan ini. Ia memberanikan diri mengajak Vea makan siang. Tawarannya mendapat sambutan positif dan berlanjut dengan keakraban.
Sejak itu, Bastian sudah mulai belajar membohongi Anti. Jika ada janji dengan Vea sesudah jam kerja, ia bilang pada Anti sedang ada briefing dari atasan. Mula-mula keterlambatannya pulang ke rumah cuma satu dua jam. Lama-lama ia sampai bermalam. Alasan ada seminar atau penataran manajemen di luar kota mulai digunakan. Resep yang klise ini ternyata cukup ampuh. Maklum, di mana-mana sering diberitakan adanya seminar atau penataran ini itu untuk menambah pengalaman dan ilmu pengetahuan.
"Tidak lama, kok, Anti. Hanya tiga hari." Demikian Bastian mohon permisi dari sang istri.
"Enggak apa-apalah, demi karier," jawab Anti lugu.
"Kau mau pesan apa? Ingin oleh-oleh apa?" tanya Bastian mesra, padahal hatinya deg-degan.
"Ah, tak usah repot-repot. Yang penting kau sehat dan selamat di perjalanan." Anti malah menghadiahi suaminya kecupan.
Bersama Vea, Bastian menjadi bergairah. Hidupnya tidak lagi monoton. Berjalan di sisi Vea membuat Bastian merasa muda kembali. Dadanya lebih tegap dan sikapnya lebih jantan. Terasa sekali, bagaimana selama ini dia kurang memerhatikan penampilan dan mengabaikan kegagahan dirinya.
Vea masih gadis, meskipun usianya hampir berkepala tiga. Menurut Vea, ia sengaja menunda perkawinan sampai menemukan pria yang betul-betul sesuai. Ia tidak mau main tabrak lelaki saja, hanya gara-gara tidak mau dicap perawan tua. Ia toh mampu mencari uang sendiri dengan bekerja sebagai pramuwisata di sebuah biro perjalanan. Pekerjaan itu cocok dengan gerak-geriknya yang gesit dan energik.
Terhadap Vea, Bastian mengaku bujangan. Cukup mudah baginya untuk berkilah. Sekretaris di kantor dapat didikte untuk mengatakan apa saja. Rekan-rekan sejawat pun penuh toleransi. Tentang tempat tinggal, Bastian masih mengaku tinggal dengan orang tua. Ketika ditanyakan nomor telepon, Bastian bilang tidak punya.
Bila ingin bertemu, Bastian dan Vea saling berjanji lebih dahulu. Sesekali Bastian menjemput Vea di tempat indekosnya. Sewaktu berada di tempat-tempat hiburan, api romantisme yang mulai padam di dada Bastian, perlahan-lahan kembali menyala. Vea tidak pernah menolak dibawa pelesir ke mana saja, jika sedang tidak bertugas.
Dibelikan hadiah-hadiah Vea senang bukan main. Dia malah berani menunjuk kepingin ini kepingin itu. Sebagai lelaki yang mempunyai tujuan tertentu, Bastian mengabulkan semuanya, asal memperoleh apa yang diinginkan sebagai gantinya. Ketika pergi ke luar kota, Vea tidak menolak tidur sekamar. Akan tetapi, jangan dikira Bastian dapat menyentuhnya. "Tunggu sampai kita sah menjadi suami istri," Vea menolak tegas. Istri? Lho? Berarti Vea minta dinikahi secara resmi. Itu berarti pula Bastian mesti bercerai dengan Anti, sebab Anti tak mungkin mau dimadu. Cerai? Oh, Bastian merinding. Dia hanya main-main. Dia tidak bermaksud bersungguh-sungguh. Bagaimana ini? Bagaimana?
Vea benar-benar menjaga jarak. Hal ini membuat Bastian penasaran. Di satu sisi Bastian menduga, jangan-jangan Vea betul-betul masih perawan. Di sisi yang lain, Bastian capek menahan-nahan dan mengekang hasrat yang menggelegak tidak keruan.
Suatu malam di Ancol, Bastian mulai menyadari Vea bukanlah wanita yang mampu memberinya ketenteraman, apalagi kepuasan.
Wanita ini begitu agresif sekaligus egois. Dia tidak pernah memikirkan kepentingan Bastian. Tampaknya dia tidak mengerti arti kebersamaan. Vea bukan sosok wanita yang dapat diajak kompromi untuk menjadi orang ketiga. Wanita itu tidak mungkin diajak bersekutu menyimpan rahasia hubungan intim.
"Bas, kita pergi ke restoran saja, yuk. Aku tidak suka angin laut."
"Lho, kita 'kan baru sampai?" Bastian heran mendengar kata-kata Vea. Padahal, tadi Vea yang mengajaknya ke pantai. Apalagi, langit begitu cerah. Angin yang berembus pun terasa nyaman. Akan tetapi, Vea tetap berkeras.
"Pokoknya ke restoran ... aku bisa masuk angin duduk-duduk di sini."
"Baik ..., baiklah, Nona." Bastian bergegas mengejar Vea yang lebih dahulu melangkah meninggalkan pantai.
Akan tetapi, di saat menghadapi makanan, sebentar-bentar Vea membuka tasnya. Ia mengeluarkan cermin meneliti wajahnya, kemudian sisir, lalu lipstik untuk memulas bibir. Dia tidak pernah tenang menikmati hidangan. Di saat Bastian makan, Vea justru merokok. Bahkan konyolnya, setelah Bastian selesai makan, baru Vea asyik menghabiskan apa-apa yang tersisa di meja.
"Bas, mengapa sih kau tidak memelihara kumis? Lelaki berkumis tampak lebih jantan. Lihat tuh Charles Bronson dan Burt Reynold." Tiba-tiba saja Vea mengkritik Bastian. Meskipun cuma soal sepele, Bastian tersinggung.
Dengan nada datar, Bastian menyahut. "Lebih rapi dan bersih tidak pakai kumis."
"Ha-ha-ha, tampangmu jadi lucu." Vea tertawa sambil mencari-cari sasaran lain. "Perutmu yang mulai gendut itu dibawa berolahraga dong, supaya langsing. Malu 'kan, masih muda sudah seperti om-om."
"Iya ... ya ... aku akan pelihara kumis dan rajin olahraga." Bastian mengiakan sambil menahan kesal.
"Nah, gitu, supaya keren. Jangan marah dikasih tahu." Vea tertawa lagi, berderai-derai.
Rasa muak menggumpal di dada Bastian. Tidak pernah ia diperlakukan seperti anak kecil oleh siapa pun. Anti pun tidak pernah menasihatinya seperti orang tolol. Akan tetapi, Vea, tanpa tedeng aling-aling membuatnya seperti anak ingusan. "Keterlaluan!" Bastian membatin.
"Bas, apa yang membuatmu tertarik padaku?" Tiba-tiba Vea menatap Bastian lekat-lekat.
"Karena kau baik," jawab Bastian sekenanya.
"Bohong. Kau ngawur." Vea menampik.
"Lantas, karena apa?" Bastian balik bertanya.
"Karena aku cantik 'kan?"
Bastian mengangguk.
"Bekas pacar-pacarku semuanya mengatakan begitu. Mereka rata-rata lelaki munafik, mengaku bujangan padahal sudah punya istri."
Jantung Bastian nyaris copot mendengar umpatan Vea tentang lelaki munafik. Padahal, manusia yang ada di hadapan Vea saat ini lebih kurang sama dengan orang-orang yang dimakinya. Untunglah Vea sudah selesai makan dan mengajak Bastian kembali ke pantai.
"Nanti kau bisa masuk angin." Bastian mengingatkan.
"Ah, itu 'kan tadi sebelum makan.” Seenaknya saja Vea menyahut.
Mereka berjalan-jalan di sepanjang pantai. Vea menggandeng lengan Bastian. Di tempat yang gelap dan cukup sunyi, Bastian meraih wajah Vea. Sekali ini Vea menurut. Bastian siap hendak melumat bibir Vea, tetapi ia mencium bau rokok yang kental dari hidung dan mulut Vea. Bastian tidak merokok, dia tidak suka bau rokok. Dengan sendirinya niat mencium pun batal. Akan tetapi, Vea cepat membaca gelagat. Ia lebih dahulu menarik wajahnya. Dengan cekatan ia berucap, "Kalau kau sudah memelihara kumis, baru aku mau dicium. Sekarang ini kau seperti banci di Taman Lawang."
Darah Bastian benar-benar mendidih. Ia naik pitam.
"Jangan kauulangi lagi kata-kata yang merendahkanku, Vea!" Kalimat Bastian keras dan membentak.
"Digoda begitu saja, kok, marah. Ternyata kau bukan lelaki yang sabar." Suara Vea pun bernada tinggi. "Kalau begitu kita pulang saja." Vea menjauh.
"Vea ...."
"Pokoknya aku mau pulang." Vea terus melangkah meninggalkan Bastian.
"Vea ...."
Vea berjalan semakin cepat tanpa menghiraukan panggilan Bastian. Bastian memburu.
"Vea ...." Panggilannya disaput angin lalu.
Sampai di tepi jalan, Vea menyetop taksi yang lewat. Bastian berusaha mencegah, tetapi Vea tidak peduli. Dia tetap naik taksi dan berlalu. Bastian melangkah gontai menuju mobilnya. Di dalam mobil Bastian menatap ke laut lepas. Di sana kelam. Hanya di kejauhan tampak kerlap-kerlip lampu nelayan. Suara gelombang berkejaran mengempas pantai. Kebiruannya lenyap ditelan gelap. Wajah Anti muncul lamat-lamat, kian lama bertambah jelas. Bergantian dengan wajah Vea, wajah Anti malah semakin nyata. Di bawah bayangan Vea, sosok Anti semakin mencuat tegas. Wajah Vea lama-lama kabur, lalu hilang tanpa bekas. Tinggal Anti tersenyum lembut kepada Bastian. Teduh. Tenteram. Anti tidak pernah mengeluh. Tidak pernah melukai hati, tidak pernah bicara kasar, tidak pernah pula menuntut macam-macam.
Bastian segera memacu mobilnya menuju rumah. Namun, di tengah jalan ia tidak tahan. Melihat telepon umum Bastian berhenti dan memutar nomor dengan tangan gemetar.
"Halo, Anti, kau belum tidur?"
"Hampir saja aku tertidur ketika mengeloni anak-anak. Akan tetapi, aku ingat kau belum pulang, Aku menunggumu ...."
"Terima kasih, Sayang. aku segera pulang ...."
"Kau tentu capek sehabis rapat. Hati-hati menyetir mobil ...."
"Oya, ya-ya-ya, tentu, tentu. Tetapi, aku rasanya ingin ngebut supaya cepat sampai di rumah."
"Jangan! Jangan ngebut ... pelan-pelan saja. Aku tidak akan lari ke mana-mana. Aku ada di sini, menunggumu ...."
"Ya, tunggu aku, Anti. Aku pasti pulang ...."
Klik! Telepon ditutup. Bastian menahan napas. Dadanya berdebar tidak menentu. Pernah dirasakannya sensasi serupa ini, dulu, dulu sekali, ketika ia pertama kali jatuh cinta kepada Anti.
•••
HASRAT
Telah sekian hari Rini menunggu jawaban dari Heru. Apakah lamaran untuk menjadikan Heru suaminya, diterima atau ditolak. Semula Rini memang merasa janggal, wanita kok melamar pria. Biasanya pria yang melamar wanita. Akan tetapi, mengapa harus terpaku pada kelaziman, begitu pikir Rini. Mengapa tidak mencoba membuat perubahan. Banyak hal yang seingat Rini dahulu ditabukan akhirnya menjadi lumrah. Tentu karena ada yang berani memulai lalu ada yang mengikuti, lambat laun tidak aneh lagi.
Soal perempuan melamar lelaki tidak ada salahnya diawali dari dirinya sendiri, demikian Rini mencanangkan tekad. Apalagi, ini sebenarnya permainan kata. Mengajak kawin pria dengan ucapan lewat mulut atau ditulis via surat, itulah yang belum biasa dilakukan wanita. Akan tetapi, melamar lelaki dengan berbagai ulah dan gaya, wuah, sudah tidak terkira transparannya. Rini pun lebih memantapkan pendirian, sekalian saja mengukuhkan hati seperti Srikandi.
Tentu saja lamaran tidak disampaikan di saat Heru menyetir, sedangkan Rini duduk di kursi belakang. Rini memperkirakan Heru akan kaget sehingga bisa menabrak apa saja atau malah pingsan. Oleh sebab itu, Rini membawa Heru ke sebuah kafe. Tentu saja Heru heran sekali. Namun, tak urung Heru terhuyung membuntuti Rini, bahkan nyaris tersandung ketika hendak duduk. Cukup lama ia mengatur napas sembari mengubah-ubah posisi sampai bisa tenang berhadapan dengan Rini. Mereka meneguk minuman ringan diselingi makan kue sambil Rini mengajak ngobrol ini itu dan Heru tergugu mengimbangi. Barulah Rini masuk ke percakapan yang serius, tetapi dengan nada sesantai mungkin.
"Kamu sudah punya pacar, Her?" tanya Rini.
"Pacar?" Heru balik bertanya. Baru setelah itu ia menjawab agak tersipu, "Mmm, dulu sih ada, Bu, ... sekarang belum."
"Kamu memanggil saya Bu ... Ibu ... panggil Mbak gitu, atau Kak ..., saya 'kan dua tahun lebih tua dari kamu," Rini tertawa renyah, disambung kalimat, "yang dulu kenapa enggak sampai kawin?"
Heru menjawab lesu, "Dia kawin dengan orang lain."
"Terus kamu patah hati?" cecar Rini.
"Ah, enggak, saya masih naksir perempuan dua kali, tetapi tak dibalas." Heru cengar-cengir.
"Kalau ada yang mau kawin dengan kamu, apa kamu mau?" Rini melontarkan jurus mengajuk.
Heru terdiam sejenak. "Mana ada ...." Suaranya mengambang.
"Bagaimana kalau kita kawin ..., kamu dan saya," cetus Rini blak-blakan.
"Apa?" Heru gelagapan. "Jangan bercanda ah, jangan main-main."
"Betul, saya sungguh-sungguh mau kawin dengan kamu, asal kamu juga mau."
"Saya enggak percaya."
"Kamu mau apa tidak?"
"Saya enggak percaya."
"Ya, sudah. Pokoknya saya melamarmu jadi suami saya. Pertimbangkan saja dulu. Kalau sudah tahu jawabannya, bilang pada saya, ya."
Heru mengangguk, kemudian menggeleng. Setelah itu, ia mengangguk pula. Rini tahu Heru bingung, tetapi dia ingin bergerak cepat. Hari-harinya mulai terasa singkat, walaupun tidak ada orang yang melecehkannya sebagai perawan tua. Rini tahu bahwa wanita yang belum menikah di umur 30 plus tak pernah digunjingkan lagi dewasa ini. Paling-paling ia diperingatkan, "Awas, lho, melahirkan di atas umur tiga lima itu bahaya."
Dasar Rini, kalau dia belum mau, ya, belum mau. Baru sekarang dia mau kawin. Akan tetapi, pria di sekitarnya sebagian besar sudah beristri. Setelah tengok sana tengok sini, tidak ada lelaki yang dikehendakinya, perjaka atau duda, yang membalas gejala "keterbukaan" yang diperlihatkannya. Rini pun penasaran. Memperoleh suami bagi Rini rupanya tidak segampang meningkatkan jenjang kariernya. Padahal, ia cantik. Jabatannya general manager, punya rumah, punya mobil, dan gaji gede. Siapa tahu justru karena asetnya itu lelaki tidak ada yang tertarik menjadi suami Rini. Begitulah teori yang dilontarkan ayah, ibu, dan abangnya ketika Rini membeberkan niatnya.
Rini mencoba mengkaji pencapaiannya selama ini. Tamat dari fakultas ekonomi Rini bekerja sebagai asisten manajer bidang pemasaran di sebuah perusahaan. Berturut-turut di kantor yang berbeda dan selalu lebih bonafide, Rini menduduki jabatan manajer untuk urusan yang beragam. Dari manajer produksi, manajer promosi, ia berhasil menjadi general manajer. Di samping bekerja, Rini pun senantiasa menambah ilmu dengan mengikuti berbagai kursus, dari bahasa asing sampai manajemen di dalam dan luar negeri.
Pengalaman demi pengalaman mengajarkan Rini untuk senantiasa optimis. Dalam upaya mencari calon suami pun Rini pantang menyerah. Pilihannya kemudian jatuh pada Heru, sopirnya yang baru. Setiap hari selama dua puluh hari Rini tidak luput mengamati Heru. Rini menjajaki kemungkinan-kemungkinannya. Kalau lelaki ini didandani dengan pakaian yang berkualitas, jelas tambah keren. Sedangkan mengenakan jin dengan t-shirt atau hem dan sepatu kets yang semuanya dari kelas murah, Heru sudah kelihatan gagah. Hanya tinggal mengganti segala perlengkapan itu dengan jenis yang bermerek, Heru tentu tampil beda. Kalau Heru memakai jas, pantalon, dan dasi, lalu diajak menghadiri resepsi, pasti khalayak menyangkanya pria eksekutif.
Tentang penampilan lahiriah tidak ada masalah. Soal wawasan? Itu pun bukan perkara sulit. Heru dapat memasuki berbagai kursus dengan biaya dari Rini. Kalau mau kuliah di perguruan tinggi, Rini juga akan mendukung. Sementara itu, tidak ada salahnya sebagai suami, Heru masih mengantar dan menjemput Rini. Itulah semua rancangan Rini yang dianggapnya sangat praktis dan logis.
Sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, Rini menanti respons dari Heru. Akan tetapi, Heru tenang-tenang saja menjalankan tugas tanpa banyak bicara. Hari kelima justru ada kejutan. Tidak biasanya Rini melihat Heru menunggunya di lobi ketika pulang kantor. Yang membuat Rini sangat tercengang, Heru memakai pantalon, hem lengan panjang, dan berdasi. Dari jauh Heru tampak tersenyum dan melambai, lalu bangkit menghampiri Rini dan berjalan meenjajari langkahnya.
Rini hampir semaput menghadapi perubahan yang mendadak ini. Untunglah dia cuma sempoyongan. Di satu sisi Rini takjub karena penampilan Heru tidak meleset dari apa yang dibayangkannya, persis pria eksekutif. Seperti itulah keadaan Heru yang direka Rini, ketika ia setiap hari selama perjalanan di dalam mobil, menaksir naksir. Heru, dengan dandanan yang perlente tidak akan memalukan untuk dibawa ke mana saja untuk mendampinginya. Terbukti tidak hanya sekadar penampilan, gayanya ternyata juga pas, sama sekali tidak kikuk, dan jauh dari kesan norak. Rini sendiri agak terkecoh dibuatnya.
Di sisi lain Rini tidak habis pikir. Dari mana Heru mendapat uang banyak untuk membeli segalanya itu? Gaji yang diberikan Rini kemarin tidak cukup, walaupun hanya buat membayar sepatu seperti yang dikenakannya sekarang. Di samping itu, Rini juga syok. Heru belum menjawab lamarannya, tetapi telah berani bertingkah macam-macam. Rini menganggap Heru lancang sekali. Lebih-lebih sesampai di beranda gedung perkantoran, Heru bukan bergegas mengambil mobil, malahan menggamit lengan Rini diajak ke pelataran parkir.
"Duduk di depan yuk, Rin," kata Heru sesampai di dekat mobil seraya membuka pintu. Tersaruk-saruk Rini masuk lalu duduk di samping Heru. Tidak ayal lagi wajahnya jadi merah padam, badannya panas dingin. Apalagi, Heru menyebut namanya tanpa embel-embel. Ke mana Heru yang sebelumnya pendiam, agak pemalu, dan hanya berbicara kalau ditanya? Tahu-tahu dia muncul dalam wujudnya yang berbeda seperti bumi dan langit. Rini menggerutu di dalam hati karena Heru seenaknya mengambil alih kepemimpinan.
Heru yang tidak mendengar protes majikannya itu terus menggiring Rini ke coffee shop di hotel berbintang lima. Ia sedikit pun tidak canggung duduk di depan Rini seraya memesan kopi dan makanan kecil. Sesaat Rini merasa bagai mimpi. Secepat inikah rancangannya menjadi kenyataan, mengubah Heru yang minder menjadi sosok berwibawa dan penuh percaya diri. Mustahil, bantah Rini masih di dalam hati. Lebih masuk akal, Heru diserang penyakit snob, saking kagetnya mendengar lamaran Rini.
"Tentang lamaranmu, Rin ...."
Rini justru yang kaget mendengar ucapan Heru. Lebih terkejut lagi mengetahui kelanjutannya. "Sebetulnya aku cuma pura-pura menjadi sopirmu, Rin. Aku ini presiden direktur di beberapa perusahaan. Cukup lama aku naksir kamu, tetapi aku ingin tahu dulu, apa sih handikap memperistri perempuan yang telat kawin. "Heru tersenyum sejenak. "Aku sendiri terlambat kawin karena khawatir perempuan cuma mengincar harta orang tuaku. Tadinya aku ingin seperti ... yah semacam dongeng Lutung Kasarung. Dua hal yang ingin kucapai dengan penyamaran ini. Yang pertama kamu mengira aku lutung ...." Sampai di sini Heru tertawa terbahak sampai matanya berair.
Sebaliknya, Rini salah tingkah. Lutung Kasarung? Ah!
Setelah puas tertawa Heru meluncurkan lagi penjelasannya, "Yang kedua, aku mengharap ... sayang Rin, kamu lebih dulu melamar aku. Ternyata, kamu bukan Dewi Purbasari yang lemah lembut dan sabar itu. Kamu wanita yang serbacepat ... sangat berani .... Aku jadi ngeri ...." Heru mengangkat bahu sambil menggidik-gidikkannya, sedangkan Rini terperangah. Marah, kecewa, dan penasaran sekaligus menyergapnya. Akan tetapi, seperti biasa ia dapat menjaga sikap. Ia tetap kelihatan tegar di hadapan lawan bicaranya. Bahkan, ketika Heru meneguk kopinya dengan nikmat, Rini pun tidak mau ketinggalan menghirup kopinya pula dengan berselera.
"Aku punya tawaran lain yang lebih pas buat kamu, Rini," Heru menyambung omongannya. "Aku akan membuka perusahaan baru dan butuh direktur. Aku mau orang seperti kamu, siap bekerja habis-habisan, all out. Kita dapat mengembangkan sayap lebar-lebar. Bagaimana?" Heru bertanya, tetapi Rini diam tidak menjawab. Heru mengambil sesuatu dari dompetnya, menyodorkan kepada Rini. "Ini kartu namaku. Kalau kamu berminat, silakan datang!"
Rini tetap bergeming. Heru meletakkan kartu nama itu di atas meja. "Oya, ini kunci mobilmu. Sudah, ya, ... sampai jumpa!"
Senyuman dan lambaian Heru sudah tidak berkenan bagi Rini. Serta-merta ia pun bangkit, bersiap hendak meninggalkan tempat yang membuatnya mendadak gerah. Sekilas terlihat olehnya kartu nama Heru tergeletak di atas meja. Rini menahan langkahnya. Diraihnya kartu mungil itu dengan ujung jari. Dengan lirikan saja dibacanya nama lengkap Heru berikut gelar kesarjanaannya. Sederet nama perusahaan yang tertera di sana membuat Rini membaca ulang secara lebih cermat. Jumlah perusahaan itu akan bertambah sebentar lagi. Jabatan direktur ditawarkan kepada Rini. Mata Rini menajam, semakin lama semakin tajam, dan berkilat, persis seperti anak panah yang berada di rentangan busurnya, siap untuk melesat.
•••
AH, SARAH ...
"Hai, Sarah!" Aku setengah berteriak ketika melihat seorang wanita di sebuah toko buku di Melawai. Aku mengenalnya. Dia teman baikku. Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengannya setelah sekian tahun berpisah. "Kapan datang?" lanjutku.
Sarah juga tidak mampu menyembunyikan rasa senangnya. Kami berjabat tangan. Erat sekali. Kuajak Sarah memasuki restoran terdekat. Aku memesan minuman ringan dan makanan kecil. Kami duduk berhadap-hadapan supaya bisa saling memandang. Ini kebiasaan yang disukai Sarah, sewaktu kami sama-sama kuliah di perguruan tinggi.
Kuamati wajahnya. Penampilan Sarah masih seperti dahulu. Gayanya santai. Ia mengenakan kaus oblong putih dengan kombinasi blue jeans. Akan tetapi, wajahnya agak tirus. Matanya yang tajam hampir tersuruk ke dalam karena cekung. Sarah tidak lagi sesegar dulu. Aku masih ingat, bila ia berdiri di bawah matahari pagi, pipi Sarah yang montok akan merona kemerahan.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Sarah," kataku sambil menatap matanya.
"Hm, sorry, aku sudah seminggu di sini. Kangen tanah air."
"Mengapa kamu enggak pernah ngirim surat?"
"Aku khawatir takut merepotkanmu. Kau pasti sibuk."
Ah, Sarah kata-katamu begitu lugas dan gamblang. Akan tetapi, dari sorot matamu aku menangkap ada sesuatu yang kau tekan dalam-dalam. Maukah kau menceritakannya kepadaku?
"Aku masih seperti dulu. Tak ada yang berubah." Sarah seperti menangkap apa yang ada di benakku.
"Waktu sering membuat orang berubah, Sarah," aku meyakinkannya.
Sarah malah tersenyum. Dia mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam tas, mencabutnya sebatang, dan menyelipkannya di celah bibir. Aku meraih korek api di atas meja dan menyalakan rokoknya. Sarah mengucapkan terima kasih sambil mengembuskan asap rokok dengan nikmat.
"Aku masih Sarah yang kaukenal. Kau tahu, aku enggak suka sesuatu yang mapan," Sarah mulai mengemukakan pendirian. Wajahnya mulai serius. Matanya menyipit.
Aku memandang lurus-lurus. Ada kerinduan yang mencuat untuk menyaksikan gaya bicaranya. Tangannya selalu ikut bergerak. Mimiknya sangat ekspresif.
"Pasti banyak pelajaran yang kautimba dari Amerika?" aku mengajuk. Sarah tampak senang. Dia justru tidak suka jika aku bertindak sebagai pendengar.
"Aku setuju dengan pola berpikir wanita-wanita Barat. Mereka telah melepaskan ketergantungan kepada lelaki. Mereka hidup mandiri. Tinggal di apartemen-apartemen. Kau tahu, perkawinan menyebabkan wanita harus tunduk dengan segala aturan-aturan. Menjadi istri? Ufh ... menyebalkan. Wanita akan melahirkan anak-anak, jadi ibu, jadi nenek, dan kemudian diusung ke Jiang kubur. Oh, aku tidak sanggup membayangkannya," Sarah bicara serius. Wajahnya bersungguh-sungguh. Asap rokok mengitari wilayah tempat duduk kami.
Sarah menarik napas panjang. Menunduk. Suasana tiba-tiba terasa hening. Yang terdengar hanya langkah-langkah pelayan yang mengantarkan hidangan kepada pemesan. Sarah seperti menunggu reaksi dariku.
"Sarah, bukankah kodrat wanita menjadi seorang ibu?"
"Aku tahu itu." Wajah Sarah terangkat, wajahnya yang bening membiaskan kecerdasan. "Tetapi apakah wanita-wanita yang berpikiran maju itu telah melanggar kodrat? Kau lihat, dong, kesewenang-wenangan lelaki terhadap wanita. Terlalu panjang jika kujelaskan satu per satu."
Kembali Sarah menghela napas. Aku mengangguk-angguk. Sungguh tidak pernah aku membayangkan pikiran Sarah seperti itu. Dia menjentikkan puntung rokok ke mulut asbak.
"Aku kagum dengan wanita-wanita berhati baja. Mereka enggan hidup dalam dominasi lelaki. Hm, jika semua kebutuhan bisa dipenuhi sendiri, masih berartikah lembaga perkawinan?"
Kali ini aku benar-benar tersentak mendengar pernyataan Sarah. Ah, Sarah, kau yang dahulu suka membaca novel-novel percintaan dan menonton drama tragedi, kini benar-benar alergi terhadap perkawinan?
"Jadi, kau sendiri juga sudah memutuskan untuk tidak kawin?" Pertanyaanku meluncur begitu saja.
Bukan apa-apa. Setahuku usia Sarah sudah mendekati kepala empat. Sudut bibir Sarah melebar mendengar pertanyaanku. Sarah tersenyum, kemudian berubah menjadi tawa terbahak-bahak. Dalam tawanya aku menangkap nada ejekan yang menganggap aku telah melontarkan pertanyaan tolol.
"Bagiku perkawinan sudah tidak penting lagi. Banyak yang harus kukerjakan. Perkawinan merupakan pagar-pagar yang menghambat kebebasanku. Kau tahu, dalam usia seperti sekarang ini aku tidak perlu memikirkan seorang suami, apalagi mengirimkan data-data pribadi ke biro kontak jodoh yang ada di mana-mana. Sepulang dari Amerika nanti aku bisa bekerja dan menghidupi diri sendiri. Sebenarnya, perkawinan hanya berarti bagi wanita-wanita lemah. Anak? Sekarang ini begitu banyak anak-anak yang terlantar dan orang bisa mengadopsi anak tanpa harus melahirkan. Apakah perkawinan merupakan jaminan bagi setiap individu dapat berbahagia? Bukankah sekarang ini banyak rumah-tangga yang hanya merupakan pentas sandiwara?"
"Kapan kamu kembali ke Amerika?" tanyaku dalam perjalanan.
"Bulan depan," Sarah menjawab singkat.
Kemudian, kami banyak berdiam diri sampai akhirnya mobil masuk ke halaman rumah.
Kulihat Sarah menyebarkan pandangan ke sekeliling halaman. Matanya menyapu bunga-bunga yang tumbuh di sana. Ada bougenville, soka, kembang sepatu, dan palem merah. Sarah mengikuti langkahku masuk ke ruang tamu.
"Kamu mau minum apa?" tanyaku begitu Sarah duduk di sofa.
"Teh hangat." Sarah seperti malas menjawab.
"Sebentar ya ...."
Aku beranjak pergi meninggalkan Sarah, masuk kemudian kembali lagi sambil menggendong anakku Bela. Sarah agak terkejut, lalu bangkit dan kemudian menyongsong.
"Anakmu? Siapa namanya?" Sarah mengambil Bela dari tanganku.
"Tanya sendiri, dong, padanya." Aku menyarankan.
"Siapa namamu, Sayang?" suara Sarah terdengar lembut di gendang telingaku.
"Ela ...," jawab anakku.
"Wow, nama yang bagus. Hm, kamu cakep sekali. Pasti ibumu juga cantik." Sarah tampak gemas.
Sarah yang tadi kaku, begitu melihat Bela jadi berubah. Dia begitu lembut dan bersahaja. Sarah mencium dan memeluk Bela dengan gembira. Bela tertawa cekikikan dalam pangkuan Sarah. Akan tetapi, entah mengapa wajah Sarah berubah serius. Mungkin kini dia baru sadar mengapa rumah ini sepi? Ke mana penghuninya?
"Istrimu mana?" tanya Sarah bagai tersadar dari lamunan panjang.
Aku, yang sedang mengawasi sikap Sarah yang hangat terhadap Bela, agak terkejut mendengar pertanyaan tersebut.
"Kau tidak dapat kabar ...."
"Nyeleweng?" Sarah memotong kalimatku.
Aku menggeleng.
"Istriku meninggal akibat kanker payudara." Suaraku sangat datar hampir-hampir tanpa emosi, padahal ada kepedihan yang kutahan dalam dada.
"Maaf, maafkan aku ...," suara Sarah terdengar penuh penyesalan. Sarah menjatuhkan pandangannya ke wajah Bela, seolah-olah mencari bayangan istriku di sana.
"Ah, tak apa-apa." Aku mencoba tersenyum supaya Sarah tidak merasa bersalah atas pertanyaannya tadi.
Sarah mengitari pandangan ke sekitar rumah. Sepi. Ada dua lukisan dekoratif yang dipasang berjajar di ruang tamu. Di sudut ruangan tampak sebuah guci besar dengan paduan warna biru dan putih, bermotif sepasang burung bangau yang sedang terbang. Itu benda kesayangan istriku. Berbagai pertanyaan bergalau dalam kepala Sarah.
"Siapa yang mengasuh Ela?" Sarah penasaran sendiri.
"Ibuku ...."
Bertepatan dengan itu ibuku muncul membawa baki berisi air dan makanan kecil.
"Bu, ini Sarah." Aku memperkenalkan Sarah.
"Oh, ibu pernah dengar namamu." Ibu seperti berpikir sejenak. "Kalau enggak salah ... Sarah, ya, yang sedang menyelesaikan program doktor di Amerika?"
Sarah mengulurkan tangan sambil tersipu-sipu. Ibu menyambutnya hangat, kemudian pergi ke belakang. Sarah menyandarkan tubuhnya di kursi. Bela masih duduk di pangkuannya.
"Ela belum sekolah?" tanya Sarah.
"Belum. Kalau udah gede, Ela masuk sekolah teka."
"Kamu cerdas sekali, Ela." Sarah memuji. "Berapa umurmu?"
"Tiga tahun," jawab Bela cepat.
Sarah mendekap Bela. Dibelainya kepala bocah itu dan dihujaninya dengan ciuman, sampai akhirnya Bela tertidur di pangkuan Sarah.
Kemudian, Bela diangkat dan dibawa masuk oleh neneknya. Kini, di ruang tamu hanya ada aku dan Sarah. Mulut kami sama-sama terkunci.
"Kau tahan hidup sendiri?" Pertanyaan Sarah terdengar begitu tiba-tiba, membuat aku hampir tidak sempat berpikir.
"Mengapa tidak," jawabku sekenanya.
"Sampai kapan?" Sarah penasaran.
"Ya, jelas sampai aku tidak sanggup lagi."
"Kau tidak ingin mencari pendamping?"
"Tentu .... tentu saja, Sarah, aku toh bukan malaikat."
Aku tersenyum geli mendengar pertanyaan Sarah yang beruntun dan to the point. Mata Sarah menancap di mataku. Aku menarik napas. Di luar tidak terasa hari bertambah gelap. Kami telah melewati waktu yang cukup panjang. Tampak Sarah dengan enggan bangkit dari sofa. Dia meninggalkan rumah.
Sebelum tidur, aku masih sempat membayangkan masa lalu bersama Sarah. Dahulu kami sekampus. Sarah kuliah di jurusan sosiologi dan aku di psikologi. Setelah jadi sarjana, Sarah mendapat beasiswa ke Amerika, tetapi aku langsung mencari kerja. Di tempat bekerja aku bertemu dengan Yasmin, berkenalan tiga bulan, langsung dikukuhkan dalam perkawinan.
Yang jelas, sejak pertemuan itu, Sarah sering meneleponku ke kantor. Kemudian, berlanjut di restoran, dan terdampar di rumahku. Kini Sarah tidak lagi membicarakan gaya hidup wanita-wanita Barat. Pesan Sarah sewaktu aku mengantarkannya di bandara, "Please promise, kau akan membalas surat-suratku ...."
Aku hanya mengangguk. Wajah Sarah kelihatan tidak puas. Setelah aku menjawab, "Sure, Sarah." Barulah dia tampak lega. Reda. Aku menangkap sekelebat cahaya di matanya diikuti getaran halus di bibirnya. Ah, Sarah ….

Komentar
Posting Komentar