MIMI SANG PRIMADONA




KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT BAHASA

Masalah kesastraan di Indonesia tidak terlepas dari kehidupan masyarakat pendukungnya. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia telah terjadi berbagai perubahan baik sebagai akibat tatanan kehidupan dunia yang baru, globalisasi, maupun sebagai dampak perkembangan teknologi informasi yang amat pesat. Kondisi itu telah memengaruhi perilaku masyarakat Indonesia. Gerakan reformasi yang bergulir sejak 1998 telah mengubah paradigma tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tatanan kehidupan yang serba sentralistis telah berubah ke desentralistis, masyarakat bawah yang menjadi sasaran (objek) kini didorong menjadi pelaku (subjek) dalam proses pembangunan bangsa. Sejalan dengan perkembangan yang terjadi tersebut, Pusat Bahasa berupaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat akan kebutuhan bacaan sebagai salah satu upaya perubahan orientasi dari budaya dengar-bicara menuju budaya baca-tulis serta peningkatan minat baca di kalangan anak-anak.

Sehubungan dengan itu, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, melalui Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, secara berkelanjutan menggiatkan penyusunan buku bacaan sastra anak dengan mengadaptasi dan memodifikasi teks-teks cerita sastra lama ke dalam bentuk dan format yang disesuaikan dengan selera dan tuntutan bacaan anak masa kini. Melalui langkah ini diharapkan terjadi dialog budaya antara anak-anak Indonesia pada masa kini dan pendahulunya pada masa lalu agar mereka akan semakin mengenal keragaman budaya bangsa yang merupakan jati diri bangsa Indonesia.

Bacaan keanekaragaman budaya dalam kehidupan Indonesia baru dan penyebarluasannya ke warga masyarakat Indonesia dalam rangka memupuk rasa saling memiliki dan mengembangkan rasa saling menghargai diharapkan dapat menjadi salah satu sarana perekat bangsa.

Buku sastra anak ini merupakan upaya memperkaya bacaan sastra anak yang diharapkan dapat memperluas wawasan anak tentang budaya masa lalu para pendahulunya.

Atas penerbitan ini saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada para penyusun buku ini. Kepada Sdr. Teguh Dewabrata, Pemimpin Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta beserta staf, saya ucapkan terima kasih atas usaha dan jerih payah mereka dalam menyiapkan penerbitan buku ini. Ucapan terima kasih saya sampaikan pula kepada Sdr. Lalan Sutisna yang telah membantu menjadi ilustrator dalam penerbitan ini.

Mudah-mudahan buku Mimi, Sang Primadona ini dibaca oleh segenap anak Indonesia, bahkan oleh guru, orang tua, dan siapa saja yang mempunyai perhatian terhadap cerita rakyat Indonesia demi memperluas wawasan kehidupan masa lalu yang banyak memiliki nilai yang tetap relevan dengan kehidupan masa kini.



Dr. Dendy Sugono

•••

SALAM PEMBUKA

Adik-adik,

Cerita Mimi, Sang Primadona ini kakak persembahkan kepadamu. Sumber penulisan cerita ini kakak petik dari Sri Panggung karya Caraka, yang diterbitkan di Bandung tahun 1965. Sri Panggung merupakan prosa berbahasa Sunda.

Mimi, Sang Primadona ini menampilkan kisah asmara antara Mimi (yang semula bernama Empat) dan Tatang. Jika dalam kesusastraan Inggris kita mengenal kisah Romeo dan Juliet karya Shakespeare, ternyata dalam susastra Sunda pun terungkap kisah cinta yang tidak kalah unik dan menariknya, seperti dalam cerita Mimi ini.

Semoga buku cerita ini dapat mendewasakan, mempertajam imajinasi, dan memperluas wawasan keindonesiaanmu.

Selamat membaca.



Suyono Suyatno

•••

1.
PANDANG PERTAMA

Di antara dedaunan teh yang hijau membentang, bukit-bukit yang menjulang di kejauhan, dan semilir angin yang menerpa wajahnya, hati Tatang seperti tersedot oleh suara mendayu yang sayup-sayup sampai ke telinganya. Dia terus melangkah, berusaha mencari dan menemukan suara yang telah memerangkap hatinya.

"Siapakah pemilik suara itu?" tanya Tatang dalam hati. "Adakah seorang bidadari telah tersesat ke tempat ini?"

Tatang kemudian membayangkan dirinya sebagai Jaka Tarub, yang mencuri dan menyembunyikan pakaian bidadari yang sedang mandi sehingga sang bidadari tak mungkin kembali lagi ke kahyangan.

"Akan saya jebak sang bidadari hingga tak mungkin lagi terbang ke kahyangan," bisik hati Tatang. "Bukankah dia pun telah menjebak dan memerangkap hati saya dalam pesona suaranya?”

Tatang terus melangkah dengan hati gelisah. Dia merasa amat penasaran dengan suara yang begitu memukau hatinya. Tiba-tiba saja dia merasa bergidik.

"Bagaimana kalau pemilik suara itu ternyata peri, bukan bidadari?" tanyanya pada diri sendiri.

"Biar saja! Persetan dengan peri!" Tatang mencoba memberanikan diri. "Saya harus tahu lebih dulu siapa pemilik suara itu! Peri atau bidadari, itu nomor dua!"

Hati Tatang yang sempat ragu kini seperti tak tergoyahkan. Suara itu pun terdengar makin dekat. Tatang pun merasa seperti benda yang terseret dan tersedot ke dalam pusaran arus air yang deras.

Tiba-tiba langkah Tatang terhenti. Dia tertegun. Di depannya berdiri mandor perkebunan teh. Di dekat sang mandor, seorang gadis malu-malu menyembunyikan wajahnya. Dan, suara yang tadi memerangkap hatinya tak lagi terdengar. Mandor itu pun tersenyum dan menegur Tatang dengan ramah.

"Sedang liburan, Aden?" tanya Mang Mandor.

''Ya, Mang!" jawab Tatang singkat sembari menyembunyikan perasaannya.

Untuk beberapa saat Tatang berusaha meredakan gemuruh di dalam dadanya. Selintas matanya menangkap wajah manis gadis yang berada di dekat Mang Mandor.

"Mang, tadi yang bersenandung gadis itu?" tanya Tatang pada Mang Mandor sambil matanya memandang ke arah gadis yang masih saja menyembunyikan wajahnya.

"Ya, Den!"

"Saya benar-benar terpukau dengan suaranya! Baru kali ini saya mendengar suara semerdu itu. Hati saya seperti terlempar dan terdampar di langit ketujuh mendengar lagu tadi."

Si gadis memerah wajahnya mendengar pujian Tatang. Jantungnya berdegup lebih kencang. Akan tetapi, rasa malu dan segan telah menyurutkan keinginannya untuk menatap wajah Tatang.

"Nyi, coba teruskan senandungmu tadi! Aden ingin mendengar suaramu," kata Mang Mandor pada si gadis.

Si gadis diam seribu bahasa. Wajahnya makin memerah menyembunyikan perasaan malu. Walaupun Mang Mandor berulang kali mendesaknya untuk melanjutkan senandungnya, dia tetap saja bungkam. Setengah berlari dia menyembunyikan diri di balik rimbunnya rumpun pohon teh.

"Nyi, bernyanyilah! Den Tatang akan memberimu seribu rupiah!" kata Mang Mandor mencoba mengiming-iming si gadis.

Namun, iming-iming Mang Mandor tidak mempan sedikit pun. Si gadis tetap bertahan menyembunyikan diri di balik rimbunnya perdu teh, dan tetap bungkam seribu bahasa.

Tatang tertegun melihat seorang gadis berdiri di dekat mandor perkebunan



Gadis itu—­Patmah namanya, biasa dipanggil Empat­—tahu siapa Tatang. Akan tetapi, dia belum mengenal Tatang. Dia hanya tahu Tatang anak Mandor Besar perkebunan teh yang bersekolah di kota, di Bandung. Patmah merasa segan untuk menatap wajah Tatang yang belum dikenalnya. Dia merasa risih tiba-tiba saja berhadapan dengan anak Mandor Besar tanpa menduga sebelumnya. Patmah, yang di perkebunan teh hanya sebagai buruh pemetik, merasa kehilangan nyali.

Tatang tidak tega melihat si gadis di hadapannya terus tertunduk dengan wajah malu-malu. Dia tidak ingin menyiksa lebih lama lagi perasaan gadis yang memiliki suara memukau itu.

"Mang," kata Tatang pada Mang Mandor, "saya ingin pulang dulu. Di rumah ibu barangkali terlalu lama menunggu saya."

Diam-diam Mang Mandor membaca perasaan Tatang. Tatang yang merasa kikuk karena sikap Patmah yang malu-malu. Dia ingin mencairkan kekakuan dan kebekuan suasana di antara mereka berdua.

"Den, datanglah malam nanti ke rumah saya! Nanti malam saya akan menggelar acara tembang Sunda. Kebetulan, Nyi Empat akan menembang dalam acara malam nanti," kata Mang Mandor.

"Siapa Nyi Empat, Mang?" tanya Tatang.

"O, ya, saya belum mengenalkan pada Aden. Nyi Empat sekarang ini berada dekat Aden. Gadis yang tadi bernyanyi, dan suaranya begitu memukau Aden," kata Mang Mandor sambil matanya memandang ke arah Patmah yang masih menyembunyikan wajahnya. "Namanya Patmah. Orang biasa memanggilnya Nyi Empat."

Tatang tersenyum dan mengangguk-­angguk. Matanya memancarkan cahaya. Mang Mandor pun ikut tersenyum. Hatinya berbahagia menyaksikan kekakuan dan kebekuan di antara dua remaja itu mulai agak mencair. Dia hanya ingin membahagiakan anak majikannya, anak Mandor Besar.

Sebagai anak Mandor Besar, Tatang mampu bersekolah di kota, di sekolah Belanda. Dia duduk di kelas tiga setingkat SMU. Dalam usianya yang delapan belas tahun, wajahnya tampak matang, dan ketampanan yang dimilikinya memancarkan daya tarik. Daya tarik lainnya yang dimilikinya adalah kerendahan hatinya. Meskipun bersekolah di sekolah Belanda dan di sekolah diajarkan bahasa Belanda, tetapi dia tidak pernah mengumbar bahasa Belandanya. Dia pun ramah kepada setiap orang.

“Mang, banyak yang datang dalam acara malam nanti?” tanya Tatang sambil mengiringi Mang Mandor berjalan ke arah pabrik teh.

''Tidak banyak. Orang­-orang sekitar sini saja, Aden!"

"Silakan, Aden! Silakan melihat­-lihat pabrik teh ini! Bukankah Aden lagi berlibur?" Tiba­-tiba istri Mang Mandor muncul dan menyambut kedatangan Tatang.

"Ya, Bi! O, ya, Bi, suguhan apa saja yang diperlukan untuk acara malam nanti?”

"Biasa saja, Aden! Paling nasi uduk dengan telur, kue-kue sekadarnya, dan kopi."

Tatang langsung mengeluarkan sejumlah uang begitu mendengar penjelasan istri Mang Mandor. Istri Mang Mandor berusaha menolak pemberian uang dari Tatang, tetapi Tatang bersikukuh menyerahkan uang itu sehingga istri Mang Mandor terpaksa menerimanya. Diam-diam Mang Mandor memelototi istrinya. Pikirnya, tidak ada salahnya berbuat baik pada putra Mandor Besar; siapa tahu dengan berbuat baik pada anaknya itu dia akan mendapatkan kenaikan pangkat atau kenaikan gaji.

Sementara itu, sambil mengiringi Mang Mandor memasuki pabrik teh, Tatang—yang masih merasa penasaran dengan Nyi Empat—melihat-lihat dengan cermat tiap barak yang dilewatinya. Dia berharap dapat bertemu dengan Nyi Empat sekali lagi.bAkan tetapi, meskipun seluruh barak tempat penampungan buruh pabrik teh itu telah terlewati, dia tetap tidak menemukan Nyi Empat. "Jangan-jangan aku telah berjumpa dengannya, tetapi aku tak mengenali wajahnya. Bukankah tadi di kebun teh dia menyembunyikan wajahnya?" kata Tatang dalam hati mencoba menghibur diri sendiri.

Dengan perasaan masygul karena tidak menemukan Nyi Empat kembali, Tatang pun berpamit pulang pada Mang Mandor. Di rumahnya Tatang hanya berbaring-baring di tempat tidurnya. Pikirannya menerawang jauh. Selera makannya luntur. Makan siang yang telah tersaji di meja makan sama sekali tidak menggugah seleranya. Ibunya terheran-­heran menyaksikan perubahan tingkah laku anak tunggalnya yang amat disayanginya.

Tatang merasa waktu terlalu lama berputar. Dia ingin hari segera malam. Dia ingin menggeser jarum jam. Akan tetapi, apa daya, biarpun jarum jam bisa digeser-­geser, waktu terasa beranjak begitu lambat. Tatang merasa terjepit di antara dinding waktu yang kukuh.

"Ah, tolol!" makinya pada diri sendiri. "Biarpun jarum jam bisa digeser, tetapi waktu tak akan bergeser sedikit pun!"

Tatang gelisah bukan main. Hatinya telah terjerat suara Nyi Empat yang menyejukkan perasaannya, yang melambungkan angannya entah ke mana. Tatang juga merasa penasaran dengan wajah Nyi Empat, yang sejak pertemuan tadi selalu menyembunyikan wajahnya. Wajahnya pasti secantik dan seindah suaranya, begitu Tatang menduga-duga.

•••

2.
GETAR HATI

Begitu malam tiba, Tatang segera berangkat memenuhi undangan Mang Mandor. Dia membawa gitar karena berniat mengiringi tembang-tembang yang akan dilantunkan Nyi Empat dengan gitarnya.

"Bu, saya akan ke rumah Mang Mandor," kata Tatang pada ibunya.

"Ada acara apa di sana?" tanya ibu Tatang pada anak kesayangannya.

"Acara tembang Sunda. Kebetulan yang akan menyanyi nanti Nyi Empat. Suaranya merdu bukan main.”

"Kalau begitu, pada akhir liburanmu nanti, menjelang kau kembali ke kota, Ibu akan menanggap Nyi Empat."

Tatang tersenyum bahagia mendengar perkataan ibunya. Dia seperti mendapat angin.

Di tempat Mang Mandor Tatang terkagum-kagum oleh wajah Patmah alias Nyi Empat. Malam itu Nyi Empat berkebaya merah jambu dan berselendang hijau pupus. Kebaya tipis yang dikenakan Nyi Empat membayangkan keindahan tubuh Nyi Empat yang kecil, ranum, dan padat berisi. Lekuk tubuh Nyi Empat jelas membayang. Mata Tatang terbelalak terpukau. Dia sama sekali tidak menduga Nyi Empat tampil begitu matang dan dewasa bagai buah yang siap dipetik. Dia tak berkedip seperti tersihir. Tabuhan degung dan tiupan suling seperti makin menyedot penglihatan Tatang ke dalam pesona yang memancar dari diri Nyi Empat. Di antara tabuhan degung dan tiupan suling, Tatang mencoba mengiringi dengan petikan gitarnya Nyi Empat yang tengah melantunkan lagu "Kembang Beureum" ('Bunga Merah') dengan suara yang menghanyutkan sembari jari-jemarinya yang lentik dengan lincahnya memetik kecapi.

Tatang sesungguhnya telah terlatih memainkan gitar. Akan tetapi, entah kenapa, malam itu dia merasa seluruh jari-jarinya kaku dan kehilangan tenaga. Dia bengong. Segenap perhatiannya tersita oleh kecantikan Nyi Empat yang memancarkan daya magnet yang luar biasa. Kemerduan suara Nyi Empat dalam melantunkan lagu dan kepiawaiannya dalam memainkan kecapi seperti telah membius Tatang. Tiba-­tiba gitar yang dipegang Tatang terjatuh. Dia tak mampu lagi menyembunyikan perasaannya. Dengan gugup diambilnya gitarnya yang terjatuh. Tatang mencoba menenangkan diri, tetapi hatinya bergolak bagai lidah-­lidah ombak yang berkejar-kejaran menggapai pantai. Sambil memetik gitar mengiringi Nyi Empat yang tengah bernyanyi, sebentar-sebentar Tatang mencuri pandang ke wajah Nyi Empat yang putih menawan. Tatang tidak habis pikir, kenapa Nyi Empat yang berdandan seadanya tampil begitu menarik penuh pesona.

Siang tadi ketika berjumpa dengan Nyi Empat di kebun teh, Tatang terpukau dengan suara Nyi Empat, dan hanya samar-samar menyaksikan wajah Nyi Empat yang selalu berusaha menyembunyikan wajahnya. Siang tadi hingga senja tiba, suara Nyi Empat ketika melantunkan lagu di kebun teh seakan-akan melekat di gendang telinga Tatang, terbayang-bayang selalu dan senantiasa mengikuti Tatang ke mana pun dia pergi. Malam ini di atas panggung untuk kedua kalinya Tatang terpukau oleh Nyi Empat. Kali ini oleh wajahnya yang bagai magnet yang teramat kuat daya tariknya. Wajah yang siang tadi hanya selintas dan samar-samar terpandang oleh Tatang.

Merasa diperhatikan Tatang, wajah Nyi Empat memerah. Akan tetapi, cahaya panggung yang temaram menyelamatkan perubahan wajah Nyi Empat. Sebagaimana Tatang yang mengagumi kecantikan Nyi Empat, dia pun diam-diam mengagumi ketampanan Tatang. Beberapa kali dia mencuri pandang ke wajah Tatang. Beberapa kali pula—tanpa sengaja—tatap mata antara Tatang dan Nyi Empat beradu. Hati Nyi Empat pun bergetar.

Hati Nyi Empat makin bergetar ketika acara usai. Pada saat berpamit pulang, Tatang mencium tangan Nyi Empat.

"Sebelum kembali ke kota karena masa liburan usai, saya akan kemari tiap hari untuk belajar bernyanyi padamu," kata Tatang sambil menggenggam tangan Nyi Empat.

Nyi Empat hanya mengangguk sembari tersenyum manis. Sesaat bibirnya bergetar menahan luapan perasaan. Di relung hatinya yang paling dalam mekar rasa bahagia. Dua hati telah saling menyapa dan menyatakan rasa yang sama. Akan tetapi, di antara rasa bahagia itu kecemasan tiba-tiba menghinggapi Nyi Empat.

"Jangan-jangan saya si burung pungguk yang merindukan rembulan. Jangan-jangan saya terlalu jauh bermimpi," keluh Nyi Empat dalam hati. "Atau, jangan-jangan saya hanya akan jadi burung peliharaan, yang ditempatkan di sangkar emas, diberi minum susu madu tiap hari sembari Cep Tatang memandangi dan menyapa, 'Empat! Empat! Empat!’"

Esok harinya Tatang tidak sabar lagi ingin segera bertemu dengan Nyi Empat. Dari jauh dia melihat serombongan gadis-gadis pemetik teh di perkebunan. Diamat-amatinya gadis-gadis itu. Siapa tahu salah satunya Nyi Empat, pikir Tatang penuh harap. Akan tetapi, meskipun Tatang telah memasuki perkebunan, Nyi Empat tidak terlihat di antara gadis-gadis pemetik teh itu.

Hati Nyi Empat bergetar ketika Tatang berpamitan pulang sambil mencium tangannya.



"Cari siapa, Aden?" sapa salah seorang mandor perkebunan.

"Ah, tidak, Mang!" kata Tatang tersipu­-sipu.

"Nyi Empat belum terlihat. Barangkali kesiangan, Den.”

"Barangkali sakit, Mang. Semalam dia terlalu larut."

“Ya, barangkali!"

"Mang, di mana kamarnya? Saya akan menengoknya."

"Itu, barak yang ketujuh, yang menghadap ke barat. Silakan saja kalau mau menengok!"
Tatang pun melangkah ke barak yang ketujuh. Di barak itu hanya ada dua kamar. Satu kamar kosong dan tertutup rapat, satu kamar lagi jendelanya sedikit terbuka. Tatang mendekat ke kamar yang jendelanya terbuka, dan mengintip untuk mengetahui siapa yang berada di dalam kamar. "Sendiri! Nyi Empat sendiri saja!" Tatang berseru girang dalam hatinya.

"Punten!" sapa Tatang begitu mengetahui Nyi Empat hanya sendiri saja. "Bagaimana keadaan Nyai?"

Nyi Empat langsung membuka pintu saat mendengar suara Tatang.

"Nyi Empat sakit?"

"Ti … dak!" jawab Nyi Empat terpatah-patah.

"Hari ini tidak memetik teh?"

"Kesiangan!"

"Rugi atuh! Memang berapa upah memetik teh?"

Nyi Empat tergagap mendengar pertanyaan Tatang. Pipinya memerah.

"Tiga ribu rupiah?"

"Ah, malu menyebutnya!"

"Berapa atuh?”

"Kadang-kadang lima ribu rupiah."

"Tenang saja! Kang Tatang akan mengganti …,” kata Tatang sembari menyodorkan dua lembar puluhan ribu rupiah.

Nyi Empat enggan menerima pemberian Tatang. Akan tetapi, Tatang melangkah mendekat ke Nyi Empat. Dipegangnya lengan Nyi Empat, ditatapnya wajah Nyi Empat dari jarak amat dekat, dan disodorkannya dua lembar puluhan ribu ke genggaman Nyi Empat.

"Pat. Besok tidak usah memetik teh, ya! Kang Tatang besok akan belajar bernyanyi kepadamu!" kata Tatang sembari meremas lengan Nyi Empat.

Nyi Empat hanya menundukkan wajahnya. Bibirnya sesekali bergetar, dan matanya berbinar-binar.

"Mimpikah ini?" bisik hati Nyi Empat.

•••

3. DINDING PENGHALANG

Tatang bergegas pulang ke rumah setelah memberikan uang ke Nyi Empat. Dia ingat pesan ibunya untuk memakan sarapannya sebelum pergi tadi. Dia tidak ingin mengecewakan ibunya.

"Eh, Cep!" seru ibu Tatang begitu melihat kedatangan Tatang. "Dari mana saja? Kok belum sarapan? Nanti masuk angin! Kan kalau Cecep sakit, Mami ikut sedih!"

Tatang, tanpa menjawab pertanyaan ibunya, langsung ke meja makan.

"Ayo segera makan bersama Mami! Nanti Cecep sakit kalau terlambat makan!" kata ibu Tatang.

Ketika tengah makan, Tatang melihat seseorang sedang membersihkan pekarangan rumah.

"Siapa itu, Mi?" tanya Tatang kepada ibunya sambil pandang matanya tertuju ke orang itu.

"Oh, itu si Kasim! Kenapa, Cep?"

"Roti untuk sarapan saya tadi ada di mana?”

"Di lemari! Kenapa? Mau Cecep berikan ke si Kasim? Si Kasim mah tidak pantas makan roti seperti itu, roti bermentega!"

"Biar saja, Mi!"

Tanpa mendengarkan perkataan ibunya lagi, Tatang langsung mendekati Mang Kasim.

"Mang Kasim! Di barak ketujuh yang menghadap ke barat, dekat rumah Mandor Sura, ada seorang gadis bernama Nyi Empat. Dia biasa bernyanyi. Apa tempat Mamang berdekatan dengan tempatnya?"

"Ada perlu apa, Cep?"

"Kalau sempat, apakah Mamang bersedia menyampaikan roti ini kepadanya?"

"Empat itu mah anak saya!"

Tatang amat terperanjat. Dia sama sekali tidak menduga orang yang berada di rumahnya itu, yang kadang-kadang disuruh-suruh itu, ternyata bapak Nyi Empat. Tangannya yang memegang roti langsung gemetar begitu mendengar Nyi Empat itu anak Mang Kasim. DIA merasa tidak pantas menyuruh Mang Kasim membawakan roti untuk Nyi Empat. Dia ingin mengantarkan sendiri roti itu untuk Nyi Empat.

Namun, belum sempat Tatang menjalankan niatnya, ibu Tatang telah berdiri di hadapan Tatang, dan berkata, "Oh, roti itu untuk si Empat, buruh yang biasa menembang itu?"

"Ya, Mi!”

"Mang, tolong antarkan roti ini buat Empat!" kata ibu Tatang pada Mang Kasim.

Tatang merasa senang, karena ibunya akhirnya yang menyuruh Mang Kasim untuk mengantarkan roti ke Nyi Empat. Biar saja, bukankah Mang Kasim tahu yang akhirnya menyuruh bukan saya, pikir Tatang.

Mang Kasim juga merasa senang. Pikirnya, jika Nyi Empat kelak menikah dengan Tatang, dirinya juga akan ikut senang. Sementara Mang Kasim pergi mengantarkan roti ke Nyi Empat, ibu Tatang mengomel, "Biarpun cantik ternyata dia anak Mang Kasim, pesuruh kita. Bapaknya cuma begitu saja, apalagi anaknya!"

Tatang terdiam mendengar perkataan ibunya. Akan tetapi, perasaan Tatang terhadap Nyi Empat tidak berubah sedikit pun. Keesokan harinya, roti untuk sarapannya tidak dimakannya, tetapi dibungkusnya dan diantarkannya ke rumah Nyi Empat. Di rumah Nyi Empat, sang gadis pujaan Tatang ternyata tidak ada. "Barangkali sedang di kebun teh," pikir Tatang. Tatang pun langsung menggerakkan kakinya ke kebun teh.

Nyi Empat terkejut melihat kedatangan Tatang ke kebun teh. Dia tidak menyangka Tatang akan menyusulnya ke kebun teh. Dia merasa salah tingkah. Dia merasa risih dengan bajunya yang lusuh karena habis dikenakan untuk memetik teh. Nyi Empat mengusap-usap wajahnya sambil sesekali melirik ke arah teman-temannya sesama pemetik teh.

"Kemari, Empat! Ini roti untukmu!" kata Tatang tanpa peduli pada Nyi Empat yang salah tingkah.

Bibir Nyi Empat bergetar sembari matanya menatap Tatang. Diterimanya roti dari Tatang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Ada apa, Den?" Tiba-tiba terdengar seseorang menyapa.

Tatang terkejut dan menoleh ke belakang. Ternyata di belakangnya telah berada seorang mandor perkebunan teh.

"Aden mah hanya memberi kepada Nyi Empat, untuk Emang mana?" kata Mandor itu dengan muka bersungut-sungut.

"Emang mah besok akan saya belikan rokok putih!"

"Rokok putih atau cerutu, Aden?"

"Bagaimana kalau rokok cap Monyet, Mang? Kalau Emang suka, nanti akan saya belikan kalau saya ke Bandung."

'Wah, kebetulan! Itu mah nikmat!"

"Berapa lama Aden di Bandung nanti?"

"Lima hari, Mang!"

"Nyi Empat! Pat, ikut saja ke Bandung bersama Aden!" kata sang mandor menggoda Nyi Empat.

Nyi Empat seketika menoleh sembari matanya melotot. Mukanya langsung memerah.

"Aden, kapan Emang bisa mendengarkan lagi Nyi Empat menyanyi?"

"Entahlah, Mang!"

"Bagaimana kalau malam nanti saja?"

"Terserah Emang sajalah!"

"Pat! Nyi Empat, malam nanti menyanyilah bersama Aden! Emang akan mendengarkan!" kata sang mandor melanjutkan menggoda Nyi Empat.

Nyi Empat diam saja. Mukanya cemberut.

"Mang Mandor!" kata Tatang pelan. "Esok pagi tolong Nyi Empat diizinkan untuk tidak memetik teh. Saya akan belajar menyanyi pada Nyi Empat. Lagu "Buah Kawung" belum saya kuasai."

Sang Mandor agak kebingungan mendengar permintaan Tatang. Akan tetapi, akhirnya dia berkata, "Silakan! Silakan saja, Aden! Asal jangan lupa membawakan cerutu cap Monyet untuk Emang!"

"Ah, itu mah mudah! Nanti sore juga akan saya antar!"

''Terima kasih, Den, terima kasih! Wah, Nyi Empat nanti bakal bersedih ditinggal Aden! Akan tetapi, jangan menangis, ya, Nyi! Tiap libur Aden akan kemari!”

Tiba-tiba seorang gadis pemetik teh mendekat ke Nyi Empat dan langsung menyela, "Air diaduk-aduk dengan es jadi dingin, Mandor! Akan tetapi, dekat dengan Aden jadi hangat!"

Muka Nyi Empat merah padam. Tatang tidak sampai hati melihat Nyi Empat digoda dan diolok-olok terus-menerus karena dirinya yang berada dekat Nyi Empat. Dia segera berpamit pulang.

Setelah Tatang berada di kejauhan, Mandor mendekat kepada Nyi Empat dan menanyakan pemberian Tatang tadi. "Roti, Mang!" kata Nyi Empat.

"Boleh Emang lihat?"

Bungkusan berisi roti itu pun dibuka oleh Nyi Empat.

"Astaga!" Mandor berseru kagum. "Sudah pakai mentega, pakai selai lagi!"

"Selai itu bukannya yang berwarna merah, Mang Mandor?"

"Dasar gadis dusun! Itu memang benar selai, tempatnya biasanya di kaleng."

"Silakan, Mang! Emang sepotong, saya sepotong!"

"Kalau roti mentega Emang tiap hari juga makan, tetapi kalau pakai selai sebulan sekali!"

"Oh, ya, Mang! Besok saya tidak bisa ke kebun teh, mau mengajarkan lagu "Buah Kawung" ke Aden."

"Hanya itu? Hanya mengajarkan lagu?”

Nyi Empat hanya tersenyum mendengar olok­-olokan Mang Mandor.

"Aden tampaknya mencintai Nyai," kata Mang Mandor.

"Ah, masa? Saya kan cuma gadis pemetik teh, jelek, tinggal di kampung, dan miskin lagi!"

"Oh, ya, sudah diberi apa saja oleh Aden?"

"Tidak tahu atuh! Rasanya baru diberi roti saja!"

"Bohong!"

"Sungguh!"

Tiba­-tiba seorang gadis pemetik teh yang berada dekat Nyi Empat berkata, "Boleh mencoba, Nyai? Rasanya seperti apa roti yang diselai?"

"Silakan saja!"

"Enak benar dicinta anak menak euy!" kata seseorang.

"Makanya jadi gadis cantik atuh! Roti bermentega bakal datang sendiri!" celetuk yang lain.

"Memang enak punya pacar anak menak euy! Disayang-sayang selalu dan disenang-senangkan!"

Nyi Empat hanya mendengarkan celoteh teman-temannya sembari tersenyum. Hatinya berbunga-bunga mendengar teman-temannya memuji nasibnya yang beruntung, berpacarkan anak menak.

Keesokan harinya Nyi Empat tidak memetik teh di kebun setelah mendapatkan izin Mandor. Dia menunggu kedatangan Tatang sembari menghias diri. Tepat pukul delapan Tatang pun muncul.

"Punten! Apakah Nyi Empat ada?" tanya Tatang pada seorang perempuan yang berada di teras rumah.

"Ada, Cep!" kata perempuan itu sembari memanggilkan Nyi Empat.

"Silakan masuk, Cep!"

Tanpa dipersilakan untuk kedua kalinya, Tatang langsung masuk ke rumah menemui si jantung hati.

"Itu tadi siapa?"

"Emak!"

"Emak Nyi Empat?"

“Ya!''

"Baru kali ini bertemu!"

"Biasanya Emak mah di pabrik, memilih teh. Sekarang saja di rumah karena agak sakit."

Tatang melongok ke luar sembari bertanya, "Emak lagi sakit apa?"

"Pusing, Cep!"

Tatang segera menawarkan aspirin untuk meredakan rasa pusing emak Nyi Empat.

“Wah, gagal kali ini!" bisik hati Tatang. "Calon ibu mertua ada di rumah!"

Esoknya, saat Tatang berkunjung ke rumah Nyi Empat, di rumah hanya ada Nyi Empat saja. Dia merasa memperoleh peluang. Begitu Nyi Empat menggelar tikar, Tatang langsung tengkurap, dan tangannya menggapai Nyi Empat supaya Nyi Empat duduk mendekat. Nyi Empat pun mendekat. Begitu Nyi Empat berada di dekatnya, Tatang langsung merebahkan kepalanya ke pangkuan Nyi Empat.

"Kang Tatang besok akan balik ke kota," kata Tatang sembari menatap wajah Nyi Empat. "Sebelum pulang, Kang Tatang ingin dinyanyikan satu lagu saja!"

"Malu atuh!"

"Malu pada siapa? Bukankah tak ada orang lain, hanya kita berdua?"

"Bagaimana kalau main kecapi saja?"

"Akan tetapi Kang Tatang lagi tak ingin mendengarkan kecapi! Kang Tatang ingin mendengarkan suara Nyi Empat!"

Nyi Empat tersenyum manis.

"Buruan atuh!" kata Tatang sembari menyentuh pipi Nyi Empat.

Nyi Empat langsung melantunkan satu lagu. Tatang tampak gemas menyaksikan mimik muka Nyi Empat saat menyanyi. "Aduh, bibir kamu …," seru Tatang tertahan sembari menyentuh bibir Nyi Empat.

Tiba-tiba saja terdengar pintu diketuk dari luar. Tatang buru-buru bangkit dari pangkuan Nyi Empat dan membuka pintu. Begitu pintu terbuka, Tatang terperanjat.

"Mami!" seru Tatang tergagap. "Mau apa Mami ke sini?"

"Kenapa Cecep berada di sini?"

"Lagi belajar menyanyi, Mami! Ada apa, Mami, sehingga ke sini segala?"

"Mami ke sini mah mau mengajak Cecep jalan-jalan! Ayolah, Cep!"

"Silakan saja, Mami! Saya mah lagi belajar bernyanyi!"

"Pulang dulu! Belajar bernyanyi itu tidak penting! Suruh saja Empat untuk bernyanyi di rumah! Di sini mah kotor! Bisa-bisa kutu yang ada di sini nanti terbawa ke rumah! Ayolah, Cep, kita pulang!"

"Mami saja yang pulang!"

Lama-lama ibu Tatang habis kesabarannya. Dipegangnya lengan Tatang sambil berkata, "Ayo cepat, Cep! Malu atuh!"

Tatang tidak bisa lagi mengelak dari ajakan ibunya. Dia menoleh ke Nyi Empat, lalu berjalan mengikuti ibunya. Sepanjang jalan ibu Tatang mengomel, mencela kejelekan perempuan yang biasa menyanyi. "Perempuan seperti itu tidak ada bedanya dengan ronggeng atau doger! Meronggeng atau mendoger adalah pekerjaan yang paling hina! Tahu kau, Cep? Doger adalah perempuan bayaran! Bila dibayar, dia akan menggoyang-goyangkan dan meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti irama tetabuhan. Jijik atuh!”

Tatang hanya berdiam diri dan bermuka masam mendengarkan semua perkataan ibunya. Karena Tatang hanya berdiam diri, ibunya makin mengumbar rasa antipatinya pada Nyi Empat. "Cecep mah kan bersekolah tinggi, anak Papi yang disayang Juragan Besar di perkebunan teh ini, turunan menak, dan suatu saat Cecep akan bergelar Raden. Kenapa atuh tertarik kepada si Empat, yang cuma buruh pemetik teh dan bakal jadi doger itu?"

Muka Tatang memerah dan berkata sambil menahan rasa amarah yang memuncak, "Sudah, Mami, sudah! Jangan bicara terus!"

Setelah berkata demikian, Tatang melepaskan diri dari pegangan ibunya dan berjalan meninggalkan ibunya.

"Dinasihati orang tua kok tidak mau?" kata ibu Tatang mengomel seorang diri. Lalu, terbayang pada ibu Tatang adegan ketika sedang mengintip Tatang di rumah Nyi Empat. Tatang membaringkan kepalanya di pangkuan Nyi Empat sembari Nyi Empat melantunkan sebuah lagu.

"Empat memang cantik! Pantas saja Tatang jatuh cinta padanya! Sayang, dia cuma anak pembantu, pemetik teh, ronggeng lagi! Hina! Jangan-jangan Tatang terlanjur terpikat kepadanya! Apalagi itu anak baru beranjak remaja. Bagaimana kalau Tatang benar-benar terpikat pada Empat?" bisik hati ibu Tatang dengan cemas.

Begitu sampai rumah, Tatang langsung mendekam di kamarnya. Ajakan ibunya untuk makan siang bersama sama sekali tidak digubris.

“Kenapa Tatang tidak mau makan? Sakit?" tanya Ayah Tatang.

"Begini, Pap!" kata ibu Tatang. “Tadi Tatang berada di rumah si Empat."

“Si Empat siapa?”

“Anak si Kasim."

“Si Kasim siapa?”

"Itu, si Kasim yang sehari-hari bekerja di rumah kita."

“Memang si Kasim punya anak perempuan?"

"Heuy! Anak si Kasim mah cantik sekali! Bisa menyanyi lagi!”

“Apa Mami baru saja marah pada Tatang?”

"Ya! Habis, masa dia jatuh cinta pada anak pembantu?"

"Memang Empat benar-benar cantik?"

"Ya! Cantik sekali! Makanya Tatang jatuh cinta!"

"Biar saja, Mam! Tidak usah dihalangi! Apalagi kalau si Empat benar-benar cantik! Kan wajar Tatang yang lagi beranjak remaja jatuh hati pada gadis cantik."

“Ih! Papi ini bagaimana? Mami mah takut! Bagaimana kalau dia menuntut dijadikan istri? Lagi pula Tatang kan masih sekolah! Bisa-bisa pelajarannya di sekolah terganggu!"

"Ah, tenang saja, Mam! Paling-paling cinta Tatang pada Nyi Empat cuma cinta monyet! Tenang sajalah, Mam! Jangan terlatu diurusi!"

Ibu Tatang terdiam dan hanya menatap pada ayah Tatang dengan pandangan melotot. Sementara itu, di dalam kamar Tatang tersenyum-senyum mendengarkan perkataan ayahnya yang membela dirinya. "Papi bisa berkata begitu karena Papi laki-laki. Papi pasti juga pernah muda!” kata hati Tatang.

•••

4. JANJI SETIA

"Besok Cecep akan pulang ke Bandung, kembali ke sekolah! Mam, bagaimana kalau si Empat kita tanggap?" tanya ayah Tatang pada ibu Tatang.


“Bagus begitu! Kita panggil saja si Kasim kemari!"

Mang Kasim pun dipanggil dan diberi penjelasan secukupnya tentang rencana syukuran keberangkatan Tatang ke Bandung.

“Mengerti dan paham, Mang?" tanya ayah Tatang pada Mang Kasim.

“Mengerti, Aden!"

"Untuk hidangan, kita persiapkan satai kambing dan bir," kata ibu Tatang menambahkan. "Mang, jangan lupa, semua manajer perkebunan, kaum bangsawan, beserta istri mereka, kita undang! Dalam acara nanti, sambil menikmati satai dan bir, para undangan juga akan menikmati lagu-lagu yang dinyanyikan Nyi Empat."

"Bagaimana kalau ada undangan yang tidak menyukai lagu-lagu yang dibawakan Nyi Empat?" tanya Mang Kasim.

“Biar saja!" tukas ayah Tatang. "Suka atau tidak suka kita sajikan saja lagu-lagu Nyi Empat untuk menghibur undangan yang datang."

Sambil makan Tatang mendengarkan semua perbincangan ayahnya dengan Mang Kasim. Mukanya berseri-seri. Dia merasa mendapatkan dukungan dari sang ayah dalam menjalin cinta dengan Nyi Empat. "Mami saja yang bawel!" kata hati Tatang. "Belum apa-apa sudah melarang saya!"

Keesokan malamnya rumah Tatang tampak terang benderang. Di teras rumah yang luas para undangan berdatangan memenuhi tempat. Tepat pukul delapan terdengar bunyi kecapi mengiringi lagu pembuka, sementara dari dapur tercium bau satai dibakar. Bersamaan dengan penyajian hidangan, Nyi Empat pun mulai menyanyi.

Begitu Nyi Empat tampil di atas panggung dan menyanyi, banyak undangan yang terkagum-kagum dengan kemolekan Nyi Empat dan kemerduan suaranya. Sebagian tamu yang sedang makan satai terbengong-bengong dan hanya memandangi Nyi Empat, sementara satai yang akan disantap tertunda masuk ke mulut dan hanya terpegang di tangan saja.

"Pantas saja si Cecep terbius!"” komentar ayah Tatang begitu menyaksikan penampilan Nyi Empat.

"Daripada memelihara burung perkutut, lebih baik memelihara Nyi Empat," celetuk seseorang di sudut. "Bukankah suara Nyi Empat lebih indah daripada suara perkutut?"

Anton, salah seorang juragan perkebunan, diam-diam menghampiri Mang Mandor dan dengan berbisik menanyakan, "Nyi Empat sudah punya suami belum?"

Rumah Tatang terang benderang dan para undangan memenuhi tempat pesta itu.



Malam itu Nyi Empat bagaikan magnet yang teramat kuat daya sedotnya. Semua mata terpaku dan seakan-akan tidak bisa lepas dari kemolekan tubuh dan kecantikan wajah Nyi Empat. Para istri manajer dan juragan perkebunan teh yang hadir malam itu merasa cemas, jangan-jangan suami mereka bakal tergoda dan terpikat oleh kecantikan Nyi Empat. Diam-diam para istri itu mengukur kecantikan mereka dan membandingkannya dengan kecantikan Nyi Empat. Mereka benar-benar khawatir kalau-kalau suami mereka berpaling pada Nyi Empat.

Sementara itu, Tatang—begitu tahu banyak yang terkagum-kagum dan tergila-gila pada Nyi Empat—merasa menyesal telah menyetujui usul ayahnya untuk mengundang Nyi Empat. "Wah, gawat!" bisik hatinya cemas. "Nyi Empat pasti bakal jadi rebutan! Padahal beberapa hari lagi Empat akan saya tinggalkan karena harus kembali ke Bandung untuk bersekolah."

Acara syukuran di rumah Tatang berakhir pukul dua belas malam. Nyi Empat pulang ke rumahnya diantar Tatang. Esoknya Tatang mendekam saja di rumah Nyi Empat. Kebetulan rumah Nyi Empat teramat sepi. Ayah ibunya sedang bekerja, tetangga kiri kanan juga meninggalkan rumah masing-masing.

"Semalam siapa itu yang kurang ajar, yang terus saja memerhatikan saya?" tanya Nyi Empat begitu Tatang membaringkan kepalanya di pangkuan Nyi Empat.

“Oh, Anton itu! Barangkali dia naksir kamu!"

"Ah! Tak mungkin! Tak mungkin saya dengan dia!”

"Kenapa?"

"Kan dia Belanda!"

“Kalau dengan Tatang bagaimana?"

Nyi Empat hanya memandang Tatang sambil tersenyum.

"Bagaimana kalau dengan Tatang?" kejar si laki-laki.

"Ah!" seru Nyi Empat sembari mencubit Tatang. "Besok Cecep kan kembali ke kota. Kalau sudah di kota mah, tidak bakal ingat saya lagi!"

"Tatang mah tidak akan balik ke kota! Tatang akan di sini bersama Empat!"

“Bohong!"

"Tatang kan masih bersekolah. Terpaksa Empat saya tinggalkan, tetapi tidak sampai setahun. Sebulan sekali pasti Tatang menengok Empat kemari!"

"Bagaimana kalau saya ikut Cecep ke kota? Kalau saya ikut Cecep, saya kan bisa membantu mencucikan pakaian Cecep."

"Sabar saja! Setahun itu tak lama! Setelah lulus sekolah nanti, Tatang akan jadi orang, jadi pegawai tinggi seperti Anton atau Leon. Pada saat itulah saya akan melamar Empat."
"Akan tetapi Mam dan Papi Cecep tidak akan merestui Cecep beristrikan saya."

"Memilih istri itu mah bukan urusan orang tua! Jangan khawatir, Pat! Sekarang Empat milk Tatang, dan Tatang milk Empat! Tatang amat sayang Empat, dan tidak akan mempermainkan Empat."

Nyi Empat terdiam sesaat. Air mata mengalir di pipinya. Dia merasa sedih karena merasa tidak pantas menjadi istri Tatang, tetapi hatinya terlanjur mencintai Tatang.

"Ah, Cecep! Perbedaan kita seperti bumi dan langit!" kata Nyi Empat tersedu.

"Biar saja! Bumi memang jauh dari langit, tetapi Tatang dan Empat teramat dekat, tak berjarak sedikit pun!"

Tiba-tiba suasana hening. Di sudut dinding seekor cecak mendadak berdecak "cak! cak! cak!", menghadang senyap yang tengah merayap. Cecak itu seakan-akan tertawa menyaksikan Tatang dan Nyi Empat yang tengah kasmaran. Tatang dan Nyi Empat pun serentak menoleh ke arah cecak. "Ah, cecak kurang ajar!" kata Tatang sembari menatap Nyi Empat.

Nyi Empat tersedu-sedu di pangkuan Tatang. Dia merasa menyesal telah jatuh hati pada Tatang. Dia merasa cintanya pada Tatang kelak akan terhadang oleh dinding pemisah yang sulit ditembus.

Tatang mengusap-usap wajah Nyi Empat dan menghapus air mata yang mengalir di pipi Nyi Empat. "Pat, jangan cemas, jangan khawatir! Tatang tak akan pernah ingkar janji!” bisik Tatang sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Nyi Empat sembari membelai-belai rambutnya.

"Eh, itu ibu datang!” kata Empat sambil menggenggam jari-jemari Tatang.

"Eh, ada Cecep?" sapa ibu Nyi Empat pada Tatang. "Sudah lama?"

Tatang diam saja kebingungan.

“Bukankah besok akan kembali ke kota?" lanjut ibu Nyi Empat.

"Ya!"

“Pulang saja atuh! Nanti ibu datang ke sini lagi."

"Ya!" kata Tatang sambil melirik ke Empat yang masih menggenggam jari-jemarinya. “Saya mah tidak seperti ibu! Saya betah berada di sini, meskipun harus bersekolah kembali. Oh, ya, Bu, saya hanya nitip Empat ke Ibu!"

“Nitip bagaimana, Cep?"

“Ya nitip …. Jangan diberikan ke siapa-siapa!"

“Cuma begitu?"

"Ya! Setelah saya lulus sekolah nanti, Empat akan saya peristri!”

"Ya, Cep! Meskipun agak mustahil, pesan Cecep akan Ibu perhatikan! Jangan terlalu mengkhawatirkan Empat mah!"

"Terima kasih! Saya permisi dulu, Bu! Tolong, nanti disampaikan ke Bapak! Pat, Tatang pulang dulu, ya!"

Nyi Empat melepaskan genggamannya, dan Tatang pun menghampiri ibu Nyi Empat sembari memberikan bungkusan amplop. Begitu Tatang pergi, bungkusan amplop itu dibuka, dan terdapat selembar ratusan ribu rupiah di dalamnya. "Ini tanda pengikat, Empat!" kata ibu Nyi Empat.

Mang Kasim, ayah Nyi Empat, setelah tahu Tatang telah memberikan tanda pengikat, hanya berkomentar, "Tampaknya memang mustahil, anak bangsawan berjodoh dengan anak orang kebanyakan! Akan tetapi, jodoh kan berada di tangan Tuhan!"

Sepeninggal Tatang. Nyi Empat langsung kehilangan gairah. Wajahnya letih lesu nafsu makannya surut, dan matanya terus nyalang seakan-akan mencari sesuatu yang hilang dan tak bakal kembali lagi. Hingga subuh, hingga terdengar suara beduk di masjid, mata Nyi Empat belum juga terpejam. Tidak lama kemudian terdengar suara derum mobil yang akan berangkat.

"Itu pasti mobil yang akan membawa Tatang ke kota!" bisik hati Nyi Empat sambil berlinang air mata.

"Cep, Cecep!" Nyi Empat merintih dalam hati. "Jangan lupakan saya, jangan ingkar janji! Tak terbayang pedihnya luka hati ini seandainya Cecep ingkar janji!"

•••

5. NYI EMPAT MENGHILANG

Anton seperti mendapat angin dengan kembalinya Tatang ke Bandung untuk melanjutkan sekolahnya. “Ini peluang! Jangan sia-siakan peluang!" seru hati Anton girang. Anton pun segera mengutus seseorang ke rumah Nyi Empat.

"Saya kemari diutus Tuan Anton!" kata seorang mandor yang diutus Anton ketika ditanya Mang Kasim maksud kedatangannya.

"Tuan Anton ada perlu apa, Mang?"

"Begini, Mang! Tuan Anton ingin mengundang Nyi Empat untuk menyanyi di rumahnya. Tuan berpesan, Nyi Empat datang sendiri saja! Tuan ingin menikmati suara Nyi Empat," kata mandor yang diutus seraya menyerahkan lembaran lima puluh ribu rupiah.

"Wah! Kok banyak sekali?" kata Mang Kasim terkejut menerima lembaran lima puluh ribu rupiah.

"Ah, biasa itu, Mang! Tuan Anton mah orangnya royal, tidak sayang mengeluarkan duit!"

“Sayang, Mang! Nyi Empat beberapa hari ini lagi sakit! Tubuhnya demam!"

Mang Mandor yang diutus Anton tiba-tiba tampak cemas. Dia merasa khawatir kalau-kalau mengecewakan Anton yang telah mengutusnya dan mendapatkan semprotan amarah darinya. “Sakit apa?” tanyanya sambil segera menghampiri Nyi Empat.

"Tidak tahu, Mang Mandor! Rasanya pusing dan demam sekujur badan," jawab Nyi Empat pelan.

"Sayang sekali, Nyi! Kalau Nyi Empat tidak sakit dan bisa ke rumah Tuan Anton sekarang juga, dia akan memberikan uang lagi. Dia sama sekali tidak sayang mengeluarkan duit!" kata Mang Mandor berusaha membujuk Nyi Empat.

"Akan tetapi, bagaimana? Saya 'kan lagi sakit!"

Diam-diam Mang Kasim merasa curiga dengan keinginan Anton. Apalagi Anton berpesan ayar Nyi Empat datang sendiri saja ke rumahnya, dan memancing dengan sejumlah uang yang besarnya tidak lazim. Mang Kasim buru-buru mengembalikan uang yang baru saja diterimanya. "Maaf, Mang," katanya, "saya terpaksa mengembalikan uang ini karena Nyi Empat lagi sakit dan tidak bisa datang ke rumah Tuan Anton."

Mang Mandor yang diutus Anton akhirnya meninggalkan rumah Nyi Empat dengan wajah kecewa bercampur cemas. Terbayang di benaknya Tuan Anton yang bakal naik darah karena keinginannya untuk mendatangkan Nyi Empat tidak terpenuhi.

“Sayang sekali!" kata istri Mang Kasim. “Uang sebesar itu kenapa dikembalikan?”

"Ah, kamu ini! Selalu hijau kalau melihat uang! Bukankah rasanya ada sesuatu yang tidak wajar dengan permintaan Tuan Anton? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Nyi Empat? Apalagi Tatang telah memberikan sejumlah uang sebagai tanda pengikat! Di mana harga diri kita kalau sampai terjadi apa-apa?"

Istri Mang Kasim terdiam mendengar perkataan suaminya, sementara Nyi Empat merasa cemas dengan permintaan Anton. Terbayang di benak Nyi Empat Anton yang selalu memerhatikannya dengan pandangan mata yang jalang. Seketika wajah Tatang hadir di hati Nyi Empat. “Saya tidak akan memberikan diri saya kepada laki-laki lain," bisik hatinya seraya membayangkan tengah menggenggam jari-jemari Tatang.

Keesokan harinya Mang Mandor utusan Anton datang lagi ke rumah Mang Kasim untuk menjemput Nyi Empat. Begitu tahu utusan Anton datang lagi, Nyi Empat—yang sebenarnya telah agak sehat—langsung berpura-pura sakit. Dia cepat-cepat menyelimuti tubuhnya dan membaringkan dirinya di dipan.

“Bagaimana? Nyi Empat sudah sembuh?" tanya Mandor utusan Anton kepada Mang Kasim.

"Belum! Tubuhnya masih panas dingin!"

"Wah, ini gelagat tidak baik!" kata Mandor dengan wajah cemas. "Tuan Anton pasti marah sekali. Bukankah dia sangat mengharapkan kedatangan Nyi Empat ke rumahnya? Dia selalu marah bila keinginannya tidak terpenuhi."

Mang Kasim terdiam mendengar kata-kata Mang Mandor.

"Bagaimana kalau kita berdua menemui Tuan Anton, menjelaskan kepadanya jika Nyi Empat masih sakit sehingga belum bisa datang ke rumahnya?" tanya Mang Mandor.
Mang Kasim terdiam. Wajahnya tampak ragu dan cemas, membayangkan kegalakan Tuan Anton. Akan tetapi, akhirnya dia berkata, "Ya, ya! Barangkali lebih baik kita berdua ke sana saja."

Setibanya di rumah, Anton tampak sedang mondar-mandir gelisah seperti ayam akan bertelur. Begitu melihat Mang Mandor, Anton langsung bertanya, "Mana Empat? Saya sudah tidak sabar menunggu! Itu siapa?"

“Ini Mang Kasim, bapak si Empat."

"Hot perdom! Kenapa Kasim datang ke sini, hah?"

Mang Kasim gemetar ketakutan, dan berkata, "Empat masih sakit."

"Apa? Empat sakit? Bohong!"

“Sungguh! Kalau tidak percaya, silakan Tuan lihat ke rumah."

"Hot perdom! Kamu berani menyuruh juragan!"

“Sama sekali tidak! Maksud saya, kalau Tuan tidak percaya, silakan Tuan lihat di rumah."
“Ayo kita ke sana! Akan tetapi awas kalau kamu berbohong! Eh, Mang Mandor, betul Empat lagi sakit?”

"Ya! Waktu saya ke sana Empat sedang merintih kesakitan."

"Kasim bodoh hah! Suruh Empat buru-buru ke sini! Nanti saya akan memberimu seratus ribu rupiah!"

"Ya, nanti setelah sembuh akan saya antar kemari."

"Benar? Berapa hari lagi Empat akan sembuh?"

“Sekitar dua atau tiga hari lagi."

"Jangan berbohong! Kalau berbohong, saya akan memerintahkan Mang Mandor untuk membawa Empat ke sini. Dan kamu akan diusir dari rumah yang kamu tempati selama ini. Mengerti? Hot perdom! Ayo, sekarang kamu pulang! Besok jangan lupa bawa Empat ke sini!"

“Ya!”

“Ini obat buat Empat! Diminum tiga kali sehari! Mengerti?"

"Ya! Terima kasih!"

Sekitar dua puluh langkah Mang Kasim meninggalkan rumah Anton, tiba-tiba Anton memanggilnya. Jantung Mang Kasim berdegup kencang. "Ada apa lagi?” tanyanya dalam hati. Dia buru-buru berbalik menemui Anton yang memanggilnya. Ternyata Anton memberinya sebungkus rokok putih.

Sesampainya di rumah Mang Kasim menceritakan kepada istrinya semua tingkah dan perkataan Anton. Istri Mang Kasim ketakutan mendengar cerita dari suaminya.

"Cepat sembuh, Nyai!" kata ibu Nyi Empat. “Bagaimana kalau Tuan Anton marah nanti? Nyai akan dipaksa ke rumahnya, ibu dan bapak akan diusir dari rumah ini!"

Nyi Empat hanya terdiam, kemudian menyembunyikan wajahnya ke balik bantal dan menangis terisak-isak. Nyi Empat teringat tatapan mata Anton yang seperti mengintai mangsa ketika dia sedang menyanyi di rumah Tatang.

Keesokan harinya Mang Kasim bersama istrinya bekerja seharian penuh di perkebunan teh. Sorenya, sekitar pukul empat, ketika mereka berdua pulang ke rumah, Nyi Empat tidak ada di rumah. Semua tetangga yang ditanya tidak ada yang tahu di mana Nyi Empat berada.

"Siapa tahu diculik Tuan Anton," kata istri Mang Kasim. "Coba saja kamu tengok ke rumahnya!"

Mang Kasim merasa mendapatkan titik terang begitu mendengar perkataan istrinya, tetapi sekaligus dia juga merasa ragu. "Bukankah saya telah berjanji pada Tuan Anton untuk mengantarkan Empat ke rumahnya?” katanya dalam hati. "Apa kata dia nanti kalau saya menanyakan Empat kepadanya?" Rasa bingung dan takut menyelimuti hati Mang Kasim. Akan tetapi, akhirnya dia berangkat juga ke rumah Anton untuk menanyakan Nyi Empat.

Muka Anton langsung berkerut-kerut begitu Mang Kasim menanyakan Nyi Empat kepadanya. "Apa-apaan ini!" pikir Anton. "Saya menunggu kedatangan Empat yang akan diantar Kasim, tahu-tahu Kasim malah ke sini menanyakan Empat!"

"Tuan," kata Mang Kasim terpatah-patah, "dari siang tadi Empat tidak ada di rumah. Saya tidak tahu ke mana dia."

Anton merasa dipermainkan. Tanpa banyak bicara dia langsung mengajak Mang Kasim ke rumahnya untuk membuktikan benar tidaknya perkataan Mang Kasim. Setibanya di rumah Mang Kasim, Anton langsung masuk ke rumah tanpa menghiraukan tata krama. Semua tempat yang dia curigai sebagai tempat persembunyian Nyi Empat dia periksa. Lemari yang ada juga dia buka, khawatir kalau-kalau Empat bersembunyi dalam lemari. Kolong tempat tidur pun tidak luput dari pemeriksaannya. Walaupun demikian, Anton tidak menemukan Nyi Empat.

Istri Mang Kasim ketakutan melihat tingkah Anton yang kalap dan membabi buta. Dia bersembunyi di dapur. Ketika melihat istri Mang Kasim berada di dapur, Anton langsung berteriak garang, "Empat disembunyikan di mana, hah!"

"Tidak tahu, Tuan!"

Karena takut kena marah Anton, istri Mang Kasim langsung ke kamar Nyi Empat, ingin memperlihatkan kepada Anton bahwa dia pun sedang mencari-cari Empat. Tiba-tiba dia berteriak, "Semua pakaian Empat sudah tidak ada!"

Mang Kasim terdiam, memandang ketakutan pada Anton. Anton mengerutkan keningnya, seperti sedang memikirkan sesuatu, kemudian berkata, "Kasim! Besok kamu harus mencari Empat! Kalau kamu tidak bisa menemukan Empat, jangan pulang ke rumah ini! Mengerti? Hot perdom!"

Sepulang Anton, Mang Kasim duduk tafakur, kebingungan memikirkan ke mana Nyi Empat pergi. "Jangan-jangan Empat pergi ke rumah saudara," pikir Mang Kasim. "Malam ini saya akan menemui bos perkebunan untuk minta izin tidak bekerja besok."

"Ada apa, Kasim, malam-malam kemari?" tanya bos perkebunan.

Mang Kasim pun menceritakan bahwa anaknya telah hilang dan dia akan meminta izin tidak bekerja beberapa hari untuk mencari anaknya yang hilang.

"Barangkali kamu telah memarahi anakmu sehingga anakmu kabur dari rumah," celetuk bos perkebunan.

Mang Kasim akhirnya bercerita tentang Anton yang mengincar dan menginginkan Nyi Empat. Bos perkebunan dan istrinya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Nyi Empat yang diincar Anton.

"Bodoh kamu ini, Kasim! Kenapa tidak kamu berikan saja Empat anakmu itu kepada Anton? Bukankah dengan begitu kamu bisa diangkat sebagai mandor? Bodoh euy, Kasim!"

"Saya dan istri mah tidak menahan-nahan Empat!”

"Begitulah kalau punya anak cantik!” celetuk istri bos perkebunan. “Bukannya membahagiakan, malah mendatangkan bencana dan menyusahkan orang tua saja."
Setelah mendapatkan izin dari bos perkebunan, Mang Kasim selama tiga hari mendatangi rumah saudara-saudaranya yang berada di daerah lain. Akan tetapi, tidak satu pun di antara saudara-saudaranya yang merasa melihat Nyi Empat. Mereka juga sama sekali tidak tahu ke mana Empat pergi.

Anton sangat marah karena merasa dipermainkan oleh Mang Kasim yang tidak berhasil menemukan Nyi Empat. Dia segera menghubungi polisi untuk menginterogasi Mang Kasim.

"Kasim!" bentak polisi. "Lebih baik jangan kamu sembunyikan Empat! Kamu bakal celaka karena kamu bakal didakwa telah menipu Tuan Anton! Kamu telah menggelapkan uang seratus ribu rupiah milik Tuan Anton! Kamu bakal dihukum penjara setahun!"

“Saya mah tidak merasa menerima uang seratus ribu rupiah."

"Apa? Lalu uang yang diberikan Mandor kepadamu ke mana?"

“Ih, sudah saya kembalikan dan sekarang berada di tangan Mang Mandor!"

"Kata Tuan Anton, kamu telah menerima uang, lalu Empat kamu sembunyikan. Itu menipu namanya, dan hukumannya setahun!"

"Saya bersumpah, saya bakal mati disambar petir seandainya Empat saya sembunyikan! Bukankah kalau Empat saya serahkan ke Tuan Anton derajat anak saya akan naik? Dan, saya sebagai orang tuanya juga akan ikut senang? Buat apa Empat saya sembunyikan segala? Saya sudah mencari Empat ke mana-mana, ke seluruh keluarga saya, tetapi tidak saya temukan!"

Anton naik pitam begitu mendengar laporan dari polisi. Dia menuding-nuding wajah polisi itu sambil membentak-bentak, menuduhnya bersekongkol dengan Mang Kasim. "Mang!" teriak Anton dengan amat gusar. "Besok usir Kasim dari rumah yang ditempatinya selama ini! Kalau besok saya tahu Kasim masih berada di sana, saya akan telepon camat untuk mengusirnya! Saya juga akan menelepon komandan polisi untuk menangkap kamu dan Kasim kalau sampai besok kamu tidak bisa mengusir Kasim dari rumahnya! Jangan bersekongkol dengan Kasim! Mengerti? Hot perdom!”

Perasaan Mang Kasim seperti tercampakkan setelah mendengar kabar dari polisi tentang dirinya yang akan diusir. Matanya menerawang jauh. “Sudah kehilangan anak, sekarang diusir dari rumah, dan diancam akan dipenjara!” keluh hati Mang Kasim. Dia duduk terpaku. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Batinnya kusut dan pikirannya kalut. Mang Kasim merasa berlari ke jalan buntu, sementara dari belakang dirinya begitu banyak persoalan datang memburunya.

Tengah runyam-runyamnya pikiran Mang Kasim, tiba-tiba istrinya menyeletuk, “Jangan-jangan Empat kabur ke tempat Tatang di Bandung! Lebih baik Akang susul saja ke sana! Akang berangkat saja besok sebelum subuh untuk menghindari polisi yang akan menangkap Akang!"

Mang Kasim termangu-mangu mendengar saran istrinya. "Bukankah saya belum pernah ke Bandung? Bagaimana saya bisa menemukan Cep Tatang?”

"Akang kan bisa tanya ke orang!"

Sesampainya di Bandung Mang Kasim kebingungan. Dengan keterangan sekadarnya yang diingatnya, dia menanyakan pada orang-orang yang dijumpainya di mana sekolah Tatang. Akan tetapi, selama berhari-hari dia tidak berhasil menemukan sekolah Tatang. Bahkan, pernah Mang Kasim berdiri di gerbang suatu sekolah dan mengamat-amati satu per satu wajah murid-murid yang pulang sekolah karena penasaran selama berhari-hari tidak menemukan Tatang.

Selama berhari-hari di Bandung bila malam tiba Mang Kasim tidur di bangku di taman kota beratapkan langit dan bertemankan dingin angin malam. Akhirnya, setelah mendatangi hampir semua sekolah di Bandung dan bertanya kepada murid-murid sekolah yang diduganya mengenal Tatang, Mang Kasim berjumpa dengan Tatang.

Mang Kasim menyampaikan kepada Tatang soal menghilangnya Nyi Empat dan dirinya yang diancam akan dipenjara karena disangka menyembunyikan Nyi Empat. Tatang amat terkejut dan bingung mendengar kabar itu. Bersama Mang Kasim, dia menelusuri dan melacak semua tempat di Bandung, termasuk tempat-tempat hiburan malam. "Siapa tahu Empat diculik orang dan dipaksa meladeni laki-laki hidung belang!" kata Tatang. "Yang penting sekarang kita cari dulu Empat sampai tertemukan, soal lain belakangan!"

Upaya Tatang dan Mang Kasim untuk menemukan Nyi Empat sia-sia belaka. Berbulan-bulan dicari, Empat tidak juga ditemukan. "Seandainya tewas juga tidak jelas di mana kuburnya," keluh Mang Kasim. Tatang yang merasa iba pada Mang Kasim akhirnya meminta pada penjaga sekolah untuk menerima Mang Kasim bekerja apa saja di sekolahnya demi membantu dia.

•••

6. MIMI SANG PRIMADONA

"Mi!" perintah Ibu Eneng. "Bersihkan kamar, sapu yang bersih! Setelah itu lap meja, kursi, dan lemari!"

Mimi tanpa banyak bicara melaksanakan perintah Ibu Eneng. Sesekali ketika tengah membersihkan kamar, Mimi bersenandung. Diam-diam Ibu Eneng mendengarkan senandung Mimi. Dia terperangah. "Suara Mimi luar biasa merdu!" katanya dalam hati penuh kekaguman. "Sayang sekali kalau dia di sini cuma sebagai pembantu!"

Sebagai mantan sinden papan atas, Ibu Eneng hidup berkelimpahan. Masa-masa puncaknya sebagai sinden telah membuahkan rumah besar dengan tanah yang luas, lengkap dengan perabotnya. Bekas-bekas kecantikan di masa muda masih membekas kuat di wajah Ibu Eneng. Meskipun usianya bertambah, daya pesona masih melekat pada raut mukanya dan dia pun masih tampak lincah. Apalagi dia pandai merawat tubuh dan wajah, dan tidak pernah lupa minum jamu untuk menjaga kebugaran tubuhnya.

"Tak ada salahnya saya bangkit lagi.” Tiba-tiba muncul keinginan dalam hati Ibu Eneng. "Mimi bisa saya jadikan primadona. Bukankah dia memiliki suara yang merdu, wajah yang memukau?"

Selang beberapa hari Ibu Eneng memanggil Mimi. “Mi, saya ingin mendirikan tonil yang akan saya namai Tonil Sunda Ibu Eneng. Kamu akan saya jadikan bintang panggung atau primadona dalam tonil yang akan kita bentuk itu. Kamu saya rasa sangat pas menjadi bintang panggung. Suaramu merdu, wajahmu cantik menawan. Saya sendiri juga telah berpengalaman sebagai sinden. Bagaimana, Mi?”

"Terserah Ibu saja. Apa pun permintaan dan keinginan Ibu akan selalu saya penuhi."

Akhirnya, Tonil Sunda Ibu Eneng terbentuk dengan Mimi sebagai primadona dan Bang Miun—suami Ibu Eneng—sebagai sutradara. Jika lakon yang akan dipentaskan menampilkan perempuan dan laki-laki tua, Ibu Eneng dan Bang Miun pun ikut tampil sebagai pemain. Kebetulan Bang Miun juga telah berpengalaman sebagai pemain lenong Betawi Mereka berpentas dari tempat yang satu ke tempat yang lain.

Tiap kali pentas, hampir semua pengunjung laki-laki terbius oleh kecantikan Mini. Mata mereka tak jemu-jemunya memandangi wajah Mimi yang memukau dan tubuhnya yang menawan, sepadan dengan kemolekan wajahnya. Mereka seperti enggan meninggalkan tempat meskipun pementasan telah usai. Dan, jika akhirnya mereka meninggalkan tempat pementasan Tonil Sunda Ibu Eneng, Mimi tetap saja menjadi buah bibir di antara mereka.

"Dia itu gadis atau janda?" tanya seseorang.

"Buat apa kamu persoalkan dia itu gadis atau janda. Kalaupun janda, daya pikatnya masih selangit! Banyak laki-laki yang mengejar-ngejar dia!"

"Ya, itu yang saya herankan! Seandainya janda kok seperti gadis, jual mahal! Dan seandainya gadis kok dingin-dingin saja, seperti tidak butuh pendamping!"

“Siapa tahu dia sudah punya calon!"

"Tampaknya dia belum punya calon!" celetuk seseorang yang amat menggandrungi Mimi sehingga ke mana pun Mimi berpentas dia hampir selalu menyempatkan diri menonton.

“Dari mana kamu tahu?"

“Saya belum pernah melihat ada yang mengantar jemput dia saat dia berpentas."

"Paling-paling kamu kan hanya nonton kalau dia lagi berpentas di daerah ini saja!"

“Siapa bilang? Ke mana pun dia pentas, saya hampir selalu menyempatkan diri menonton."

“Gila, Akang! Lalu bagaimana hasilnya?”

"Dia mah baik dan ramah terhadap semua orang. Murah senyum, tetapi sulit didekati. Digoda dan dirayu juga tidak mempan!"

Sementara itu, makin hari Ibu Eneng makin sayang Mimi. Ibu Eneng sadar Mimi memiliki daya tarik yang kuat sehingga tonilnya mampu menyedot banyak pengunjung dan selalu ditonton orang. Karena tidak mempunyai anak, dan dengan Bang Miun pun Ibu Eneng hanya menikah di bawah tangan, akhirnya dia menganggap dan memperlakukan Mimi sebagai anak kandung. "Kalau suatu saat saya tiada, seluruh harta kekayaan yang ada akan saya wariskan kepadamu," kata Ibu Eneng kepada Mimi. Mimi hanya berdiam diri mendengar perkataan Ibu Eneng. Dengan mata setengah basah dia hanya mampu menatap Ibu Eneng penuh haru.

Tanpa terasa waktu terus merayap. Mimi termenung seorang diri di kamarnya. Dia merenungi perjalanan hidupnya. Di benaknya dia mencoba memaparkan kilas balik hidupnya: Di rumah Ibu Eneng semula saya hanya pembantu. Namun saya tak menyesali pernah menjadi pembantu di rumah Ibu Eneng. Saya malah merasa bersyukur dan berterima kasih pada Ibu Eneng, yang telah mau menerima saya sebagai pembantu ketika saya kabur dari rumah untuk menghindari Anton yang akan memerangkap saya dengan nafsunya yang buta, sementara hati saya terpaut pada Cep Tatang. Untuk mencegah orang mengenali saya, terpaksa saya mengganti nama saya dari Empat menjadi Mimi. Dan, orang hanya mengenal Mimi sebagai bagian keluarga Ibu Eneng. Dan kini—sebagaimana dulu juga—saya alias Mimi telah melejit sebagai primadona, yang senantiasa diperebutkan laki-laki. Akan tetapi, oh, Tuhan, saya akan selalu setia pada Tatang. Akan selalu saya tunggu janji setianya dengan kesabaran tak berbatas. Perasaan saya terhadapnya tak akan pernah bergeser sedikit pun. Tuhan, mudah-mudahan suatu saat Kau berkenan mempertautkan kami kembali.

Tanpa sadar air mata Mimi berlinang merenungi perjalanan hidupnya. Sementara itu, di luar waktu terus bergulir, zaman berubah. Jepang datang ke Indonesia menggantikan Belanda sebagai penjajah. Pada zaman Jepang itu Toni Sunda Ibu Eneng mengalami masa puncak kejayaan. Jepang—untuk keperluan propagandanya—memesan Tonil Sunda Ibu Eneng untuk mementaskan lakon-lakon yang berpihak pada Jepang. Walaupun melayani pesanan Jepang, Tonil Sunda Ibu Eneng masih memiliki harga diri sehingga tidak dapat dibeli seutuhnya oleh Jepang. Dalam beberapa kali pentas terlontar cemooh terhadap manusia Indonesia yang menjadi abdi jepang, yang lebih Jepang daripada Jepang: jika Jepang galak dia lebih galak lagi, jika Jepang gila dia jauh lebih gila lagi.

Waktu terus melaju tanpa ada yang bisa menghalangi. Agustus 1945 kekuasaan Jepang runtuh dan Indonesia mencapai kemerdekaannya. Akan tetapi, kemerdekaan Indonesia yang baru beberapa tahun—dirongrong Belanda yang mencoba kembali menjajah. Tahun 1949 meletus pertempuran sengit di Bandung Selatan untuk mempertahankan kemerdekaan. Dalam tempo singkat Bandung Selatan berubah menjadi lautan api. Ibu Eneng termasuk salah seorang korban yang gugur. Dia tewas terkena pecahan peluru meriam Belanda yang ditembakkan untuk menghalau kaum gerilyawan.

Belanda akhirnya berhasil diusir dari bumi Indonesia, tetapi di mana-mana kehidupan masih morat-marit sehabis revolusi mempertahankan kemerdekaan. Mimi, walaupun menerima harta warisan yang melimpah dari Ibu Eneng, merasakan masa-masa sulit itu. Pesanan untuk pentas jauh merosot. Dan, Bang Miun hampir tiap hari mengeluh, "Pengeluaran jauh lebih besar daripada pemasukan. Pemasukan hampir-hampir tidak ada karena kita sekarang jarang diundang untuk pentas. Padahal, pengeluaran terus mengalir tiap saat. Sekaya apa pun pasti bakal bangkrut!"

Mimi termenung. Dia menyadari kelompok tonilnya yang berada di ambang kebangkrutan. Pesanan untuk pentas hampir-hampir tidak ada, padahal para pemain yang berjumlah sekitar tiga puluh orang selalu digaji tiap bulannya.

"Bagaimana dengan Harjo?" Tiba-tba Bang Miun menyeletuk. “Bukankah dia sangat kaya, sangat mengagumimu sehingga selalu mengejar-ngejarmu?"

“Gila atuh! Kalau saya dengan Harjo, saya jadi istrinya yang keberapa mah? Sekarang saja istrinya sudah empat!"

"Jangan pikirkan itu! Yang penting dia kaya, banyak duit! Kamu bisa minta dibelikan rumah, mobil, apa saja yang kamu inginkan!"

"Rasanya saya tak mungkin membayangkan orang seperti Harjo, yang selalu berganti-ganti istri, dan yang selalu tergoda tiap lihat perempuan cantik dan muda."

"Lupakan saja itu, Neng! Bagaimana kalau saya menghadap Harjo, memberi tahu dia bahwa kita memerlukan modal untuk kelompok tonil kita yang sedang sekarat?"

"Ah, Bang! Jangan menggampangkan masalah! Itu mah penuh risiko!"

"Ah, risikonya paling Eneng dijadikan istrinya, lalu dibelikan rumah dan mobil. Abang mah bersedia jadi sopir, asal sopir Neng Mimi!"

"Punten, sama sekali tak terbayang!"

Di luar dugaan Mimi, Bang Miun yang dikiranya hanya main-main ternyata benar-benar menemui Harjo. Harjo merasa mendapatkan angin. Keesokan harinya dia langsung ke rumah Mimi.

"Silakan masuk, Juragan!" kata Mimi menyambut kedatangan Harjo.

"Hus! Jangan panggil saya Juragan! Zaman sekarang tak ada juragan mah."

"Oh, silakan masuk, Pak!"

“Ya begitu, Neng!”

"Rasanya saya malu dengan kedatangan Bapak kemari. Rumah ini jelek, pasti tidak sebagus dan semegah rumah Bapak."

"Ah, Neng! Seandainya jelek pun membuat betah di sini penuh bunga-bunga yang indah dan cantik, secantik yang empunya."

Muka Mimi memerah dan setengah cemberut, tidak mengharap pujian dan sanjungan dari Harjo.

"Ayo, Mi, dandan dulu!" Tiba-tiba Bang Miun menyela. "Masa akan ke kota bersama Akang cuma begitu saja, tidak dandan?"

Wajah Mimi makin memerah, tetapi bibirnya terkunci rapat.

"Di kota nanti akan memborong pakaian, Mi?" kata Bang Miun masih saja menggoda Mimi.

"Ah, tidak! Saya kan tidak punya uang."

"Soal uang mah gampang! Serahkan saja ke Akang, tak ada masalah!" kata Bang Miun seraya mengedipkan matanya memberi isyarat ke Mimi supaya ikut saja.

Mimi balas mengedipkan matanya sepintas, lalu berkata sembari menatap Harjo, "Saya cuma menemani kan?" Tatapan mata Mimi agaknya menembus jantung hati Harjo. Jantung Harjo berdegup lebih kencang, dan dia pun merasa telah mampu menjinakkan Mimi. "Bukankah Mimi telah mau menemani?" pikir Harjo bangga.

Mimi bergegas ke kamar untuk berdandan. Dia memerhatikan dan mengamat-amati wajahnya pada cermin yang menempel di pintu lemari. Tiba-tiba hatinya bimbang. "Untuk apa berdandan?" tanya hatinya gelisah. "Cuma untuk menemani Harjo ke kota? Harjo yang terkenal suka mempermainkan perempuan dengan modal uangnya yang melimpah ruah itu? Duh, Gusti, apakah saya bakal bisa menjaga diri, mempertahankan kehormatan saya, berhadapan dengan laki-laki yang terkenal sebagai buaya itu, yang telah terbiasa mengumbar nafsunya? Duh, Gusti, beri saya kekuatan untuk mempertahankan diri!"

Selama berada di kota Harjo berusaha menyenangkan hati Mimi. Apa pun yang menjadi keinginan Mimi langsung dia belikan. Mimi juga merasa senang. Baginya, menumpang mobil Harjo adalah suatu pengalaman baru yang menikmatkan karena selama ini dia hanya menumpang truk jika akan berpentas dari satu tempat ke tempat yang lain. Mimi berusaha untuk tidak mempermalukan Harjo yang telah mengajaknya ke kota. Meskipun hanya seorang gadis kampung, dia berusaha tampil sebagaimana gadis kota. Dan, ketika Harjo mengajaknya makan di restoran, tiba-tiba Mimi teringat Ibu Eneng yang pernah mengatakan bahwa jika makan di restoran harus menggunakan sendok garpu. Mimi pun menggunakan sendok garpu dengan lagak seolah-olah dia telah terbiasa menggunakan sendok garpu. Pulang dari kota, mobil Harjo penuh dengan barang­-barang yang dibelikan oleh Harjo untuk Mimi.

Sejak saat itu tiap kali Mimi berpentas, Harjo selalu mengantarkan Mimi dengan mobilnya. Harjo merasa telah memiliki Mimi, tetapi pada Harjo Mimi selalu bersikap jinak-jinak merpati. Akhirnya, Harjo hanya bisa berdekatan dengan Mimi tetapi tetap saja tidak bisa menaklukkan hati Mimi. Walaupun demikian, hasrat Harjo untuk menaklukkan dan memiliki Mimi tidak pernah surut. Dengan kekayaannya yang melimpah ruah dia selalu berusaha memenuhi apa pun permintaan Mimi. Tonil Sunda Ibu Eneng yang nyaris bangkrut dia bantu sehingga bangkit kembali.

Suatu ketika Harjo mengajak Mimi untuk menemaninya ke Lembang. Di tengah perjalanan ke Lembang Mimi menunjuk suatu bungalo yang berdiri megah di pinggir jalan dan mengatakan pada Harjo seandainya dia memiliki bungalo seperti itu. Mendengar perkataan Mimi itu, Harjo langsung menjanjikan pada Mimi akan membelikan sebidang tanah di daerah Lembang. Di atas sebidang tanah itu kelak akan dibangun sebuah bungalo untuk Mimi.

Meskipun merasa telah terlalu banyak mengeluarkan uang, Harjo tidak berani bersikap sembarangan terhadap Mimi. Masih terngiang-ngiang ketika dia mencoba memeluk Mimi. "Jangan sekali-sekali mencoba memaksa Mimi! Mimi bakal marah dan tidak akan kenal lagi seumur hidup!”

•••

7. DUA PULUH TAHUN KEMUDIAN

Dalam perjalanan pulang dari Lembang sesampainya di perempatan Taman Merdeka Bandung pandangan mata Mimi terpaku pada seorang perempuan tua. Dia merasa mengenali perempuan itu. Buru-buru dia meminta sopir untuk menghentikan mobil. Dengan langkah tergesa Mimi segera menghampiri perempuan tua itu dan mendekapnya erat-erat sembari berseru, "Emak! Emak!"

Perempuan tua itu kaget dan tanpa sadar mengempaskan tubuh Mimi sehingga Mimi jatuh terjengkang. Mimi segera bangkit, memeluk perempuan itu dan berkata, "Emak! Emak! Saya ini Empat!"

Perempuan itu diam terbengong-bengong. Barang belanjaannya berserakan di sekitarnya. Pandangan matanya kosong menatap Mimi, tidak yakin kalau yang berada di hadapannya adalah anaknya.

Mimi menangis tersedu-sedu di dada perempuan tua itu sembari mencoba meyakinkan, “Saya ini Empat, Emak!"

"Em .... pat?" Perempuan tua itu terpatah-patah bertanya, masih tidak yakin.
"Bapak di mana?"

Perempuan tua itu terdiam, tetapi pandang matanya menghunjam ke arah Mimi. Keningnya berkerut-kerut mencoba menguak ingatannya tentang Empat yang telah lama surut dari kehidupannya.

“Mimi, kemari!" Tiba-tiba Harjo yang sedari tadi terdiam berkata. "Malu atuh berdekatan dengan manusia jelek seperti itu!"

Mimi bingung mendengar kata-kata Harjo, tetapi dia tidak menghiraukan. Tangannya tetap bergayut pada perempuan tua itu. Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan dari kejauhan menyangka telah terjadi keributan. Mereka bergerak mendekat. Mimi—yang tidak mau dirinya menjadi tontonan—segera meminta sopir untuk membereskan belanjaan ibunya yang berserakan, dan dengan tergesa meminta ibunya masuk ke mobil.

"Akan dibawa ke mana saya?" tanya ibu Mimi linglung.

"Emak! Saya ini Empat, anak Emak! Anak Emak yang dulu kabur karena ketakutan dikejar-kejar Anton."

Begitu mendengar nama Anton disebut-sebut, wajah perempuan tua itu bercahaya. Segera membersit pada benaknya peristiwa yang telah lama berlalu. Dengan cermat diamat-amatinya wajah Mimi. Dia menemukan tahi lalat di bawah telinga Mimi. Dia makin yakin bahwa yang di hadapannya itu benar-benar anaknya. Dipeluk dan diciuminya wajah Mimi dengan penuh haru.

"Pat, setelah sekian lama mencarimu ke mana-mana tetapi tak menemukan dirimu, Emak dan Bapak mengira kamu telah tiada. Sungguh Emak tidak pernah menduga pada akhirnya Emak berjumpa lagi dengan dirimu, setelah Emak berputus asa mengharapkan kedatanganmu."

"Bapak di mana, Emak?"

"Bapak bersama Emak. Nanti kamu akan bertemu dengannya."

"Cep Tatang, Emak?"

"Nanti akan Emak ceritakan."

Harjo menduga-duga dalam hatinya siapa Cep Tatang yang ditanyakan Mimi. "Dari raut muka Mimi yang penuh harap ketika menanyakan Cep Tatang, jangan-jangan dia mendapatkan tempat yang teramat istimewa di hati Mimi. Pantas saja rayuan saya tak pernah mempan!" katanya dalam hati menebak-nebak.

Mimi terdiam. Ingatannya melayang-layang ke masa lalunya. "Pada usia lima belas tahun saya dan Tatang saling jatuh hati," kenang Mimi. "Sementara Tatang ke Bandung untuk menyelesaikan sekolahnya, Anton memanfaatkan situasi dan berniat memaksa saya. Daripada saya ternoda oleh Anton dan menyakitkan hati Cep Tatang, saya pun kabur dari rumah. Itu terpaksa saya lakukan demi menjaga diri dan martabat saya, yang kelak akan saya serahkan pada Cep Tatang yang saya cintai. Mudah­-mudahan saya akan berjumpa dengan Cep Tatang, sebagaimana kini saya bertemu kembali dengan Emak dan Bapak setelah dua puluh tahun berpisah."

Ketika Mimi menanyakan Tatang, ibunya menjelaskan bahwa dia telah lama sekali tidak bertemu dengan Tatang. "Jadi, seandainya kamu telah menemukan laki-laki lain dan merasa cocok, lebih baik segera kawin saja!"

"Ah, tidak, Emak! Saya akan menunggu Cep Tatang saja!"

"Ya, tetapi Cep Tatang di mana?" kata ibu Mimi dengan muka agak cemberut. "Kan dia tidak ketahuan di mana rimbanya. Lagi pula, apa kamu yakin dia belum kawin dengan perempuan lain?"

"Saya yakin, Emak! Saya yakin Cep Tatang masih ingat dan masih cinta pada saya. Suatu saat Cep Tatang pasti datang ke sini untuk menjemput saya, sebagaimana yang dia janjikan dulu."

"Kalau begitu, terserah kamu saja mah!"

Sementara itu, bintang Mimi sebagai primadona panggung makin cemerlang. Tonil Sunda Ibu Eneng, yang sempat meredup, kembali melejit dengan bantuan keuangan dari Harjo. Tiap kali Tonil Sunda Ibu Eneng melakukan pementasan, penonton selalu berjubel memadati tempat. Penonton berebut mendapatkan tiket masuk, dan tiket masuk yang di tangan calo tarifnya melonjak dua kali lipat tetap saja habis terjual.

Suatu malam Mimi mementaskan lakon dirinya. Layar dibuka dan terpapar adegan Empat tengah menyanyi di perkebunan teh; seorang pemuda dengan penasaran menghampiri Mang Mandor dan menanyakan siapa yang menyanyi; Mang Mandor memanggil Empat tetapi Empat begitu melihat sang pemuda langsung malu dan menyembunyikan diri. Layar pun ditutup.

Seorang penonton tiba-tiba saja merasa penasaran dengan lakon yang dipentaskan Mimi. Dia tampak mencoba mengingat-ingat wajah pemain yang memerankan Empat. "Bukan, bukan Empat!" katanya dalam hati. "Akan tetapi kenapa kisahnya begitu? Kenapa ada kebun teh, Mang Mandor, seorang pemuda, dan ada yang bernama Empat?"

Dengan rasa penasaran yang menjadi-jadi penonton itu menyimak adegan selanjutnya: Sang Pemuda membaringkan kepalanya di pangkuan Empat sementara Empat melantunkan beberapa lagu; tiba-tiba muncul seorang perempuan tua menghampiri sang pemuda dan mengajaknya pergi dari tempat itu sambil berkata, "Kenapa Cecep berada di sini? Ayo pulang!"

Penonton yang penasaran dengan lakon yang dipentaskan Mimi itu tanpa sadar kemudian berteriak memanggil, "Empat!" Mimi yang tengah pentas di atas panggung terperanjat dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Jantung Mimi berdegup kencang. Samar-samar dia melihat Cep Tatang di antara penonton yang berjubel malam itu. Perasaannya langsung kacau, pandang matanya nanar. Akan tetapi, Mimi mencoba bertahan menyelesaikan pementasan. Sebagai pemain panggung, Mimi cukup terlatih menguasai diri. Begitu pementasan selesai, Mimi bergegas ke pintu keluar. Dia mengamati satu per satu penonton yang melewati pintu keluar, tetapi dia tidak menemukan Tatang di antara penonton yang jumlahnya ribuan.

Tatang pun melakukan hal yang sama. Dia menghadang Mimi pada salah satu pintu keluar. Akan tetapi, dia gagal menemukan Mimi. Setelah tempat pementasan sepi dan tidak ada lagi orang di sana, Tatang menghampiri sopirnya. "Mang, saya tidak menemukan Mimi. Emang melihat dia?" tanya Tatang penasaran.

''Ya, saya lihat dia pulang dengan mobil Fiatnya."

"Dia sendiri atau berdua?"

"Sendiri."

"Kenapa Emang tidak menyusul dia?"

"Kalau dia saya susul, lalu Bapak bagaimana? Masa malam-malam begini Bapak saya tinggal sendiri di sini?"

Tatang tertegun.

"Besok bisa kita cari, Pak! Saya akan membantu Bapak melacak dan menemukan dia," kata sopir Tatang mencoba menghibur.
Sementara itu, sesampainya di rumahnya, Mimi langsung memeluk erat-erat ibunya sembari menangis tersedu-sedu.

"Ada apa? Ada apa, Nyai?"

"Saya tadi melihat Cep Tatang.”

"Di mana?"

"Di tempat pentas."

"Kenapa Nyai tidak ajak dia kemari?"

"Saya sudah menungguinya di pintu keluar, tetapi karena penonton terlalu banyak akhirnya Cep Tatang lolos dari penglihatan saya."

"Sudahlah! Besok dia pasti akan mencarimu!"

Keesokan harinya begitu bangun tidur Mimi langsung berdiri di pinggir jalan depan rumahnya, berharap mobil Tatang akan lewat. Beberapa saat menunggu di pinggir jalan, Tatang tidak juga lewat. Hati Mimi gelisah. Dengan muka kusam dikeluarkannya mobil dari garasi, lalu dengan mobilnya Mimi mengitari jalan hingga ke Bandung. "Siapa tahu di jalan bakal bertemu dengan Cep Tatang," katanya dalam hati dengan harap-harap cemas.

Hampir satu jam Mimi berputar-putar dengan mobilnya, tetapi tidak juga menemukan Tatang. Dia merasa ragu-ragu ketika akan melanjutkan pencariannya. Dengan hati masygul Mimi pun kembali ke rumahnya. Mendekati rumah, jantung Mimi berdegup kencang. Dia melihat sebuah jip diparkir di depan rumah. Dengan langkah tergesa dia segera masuk rumah.

"Cep Tatang!" jerit Mimi dan langsung mendekap Tatang erat-erat.

Mimi menangis tersedu-sedu sambil menyandarkan wajahnya ke dada Tatang, sementara Tatang membelai-belai rambut Mimi dengan mata setengah basah. Mata keduanya bertatapan, mencoba saling menyelami perasaan masing-masing.

Mimi seakan-akan takut kehilangan Tatang lagi. Ke mana pun Tatang melangkah dia mengikuti dan tidak melepaskan pelukannya.

"Cep Tatang tega meninggalkan saya sekian lama," kata Mimi tersendat-sendat. "Bertahun-tahun saya menunggu kedatangan Cep Tatang."

"Saya kan tidak pernah ingkar janji. Bertahun-tahun saya mencari-cari Empat, tetapi tidak pernah menemukan. Saya kehilangan jejak."

"Cep Tatang masih ingat dengan janji Cecep dulu?"

"Saya tidak pernah melupakan janji saya pada Empat. Akan tetapi, bagaimana? Empat menghilang dari rumah tanpa meninggalkan pesan kepada siapa pun."

"Akan tetapi, waktu itu saya kan sedang menghindar dari Anton yang mengejar-ngejar saya. Saya teramat takut ketika itu. Daripada ternoda oleh Anton akhirnya saya kabur saja dari rumah."

''Ya! Akan tetapi Empat kan bisa memberi tahu Emak atau Bapak ke mana Empat akan pergi. Emak dan Bapak pasti bisa merahasiakan tempat persembunyian Empat."

Mimi merasa menyesal, dan terbayang padanya ketika itu usianya baru lima belas tahun. Saat itu sama sekali tidak terpikir olehnya kalau kelak Cep Tatang akan kesulitan menemukan dirinya. Yang dia pegang hanya janji Cep Tatang untuk memperistrinya dan niatnya untuk menyelamatkan diri dari jebakan Anton.

"Pat, Cep Tatang pulang dulu, ya?"

"Jangan, Cep! Jangan pulang! Bukankah Empat telah menunggu Cep Tatang bertahun-­tahun?" kata Mimi merajuk sembari memperketat dekapannya.

Wajah Tatang kebingungan. Cintanya pada Empat tidak akan pernah pudar, tetapi dia menyadari di rumah telah menunggu istri dan lima orang anaknya.

"Cep Tatang besok akan ke sini lagi!" kata Tatang mencoba meyakinkan Empat.

"Cep Tatang tidak bohong?" kata Mimi seraya menatap mata Tatang.

"Saya tidak akan bohong, Pat! Besok saya akan ke sini.”

Di rumah, di hadapan anak istrinya yang telah tertidur, Tatang berusaha meredam rasa bingungnya. Dia tidak akan mengingkari janjinya pada Empat, tetapi dia juga tidak mungkin meninggalkan istri dan kelima anaknya. Untuk menenangkan hatinya, malam itu Tatang berdoa. Sedikit demi sedikit kegundahan hatinya menjauh. Dengan perasaan tenang dia membangunkan istrinya dan menceritakan semua permasalahan dirinya. Istrinya terharu mendengarkan keterbukaan dan kejujuran Tatang.

Esok paginya, ketika Tatang kembali ke rumah Mimi, Mimi terkejut dan salah tingkah. Dia sama sekali tidak menyangka Tatang bakal datang berdua dengan istrinya. Akan tetapi, di luar dugaan Mimi, istri Tatang langsung memeluk dan menciumi Mimi.

"Pat, Cep Tatang hanya sanggup menganggap Empat sebagai adik," kata Tatang penuh haru sembari memegang tangan Mimi. "Empat akan selalu tersimpan di hati Cep Tatang."

Mimi terdiam memandangi Tatang.

"Cinta kita akan abadi," Tatang melanjutkan, "tetapi cinta tidak selalu berakhir dengan saling memiliki. Pat, mudah-mudahan Empat berbesar hati menerima kenyataan ini dan bisa memahami situasi diri Cecep."

Mimi mengangguk perlahan. Dia merasa penantiannya selama dua puluh tahun sia-sia. "Akan tetapi, sesungguhnya tak ada yang sia-­sia dalam hidup ini." Tiba-tiba hati Mimi berkata. "Seandainya saya tidak kabur dari rumah ketika itu, barangkali saya telah dimangsa Anton dan juga kehilangan cinta Cep Tatang. Tak ada yang perlu disesali dalam hidup ini. Yang akan terjadi biarlah terjadi!”

Walaupun telah berusia tiga puluh lima tahun—dan dua puluh tahun sia-sia menantikan janji Cep Tatang—Mimi sadar dirinya adalah kembang yang diperebutkan kumbang. "Dunia tak selebar daun kelor." Tiba-tiba saja benaknya teringat sebuah pepatah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI