MOMOSAN
KATA PENGANTAR
Usaha pelestarian sastra daerah perlu dilakukan karena di dalam sastra daerah terkandung warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang sangat tinggi nilainya. Upaya pelestarian itu bukan hanya akan memperluas wawasan kita terhadap sastra dan budaya masyarakat daerah yang bersangkutan, melainkan juga akan memperkaya khazanah sastra dan budaya Indonesia. Dengan kata lain, upaya yang dilakukan itu dapat dipandang sebagai dialog antarbudaya dan antardaerah yang memungkinkan sastra daerah berfungsi sebagai salah satu alat bantu dalam usaha mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan.
Sehubungan dengan itu, sangat tepat kiranya usaha Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta dalam menerbitkan buku sastra anak-anak yang bersumber pada sastra daerah. Cerita yang dapat membangkitkan kreativitas atau yang mengandung nilai, jiwa, dan semangat kepahlawanan perlu dibaca dan diketahui secara meluas oleh anak-anak agar mereka dapat menjadikannya sebagai sesuatu yang patut diteladani.
Buku Momosan ini bersumber pada terbitan Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 1982, yaitu terbitan dengan judul Si Momosan yang dikarang oleh Drs. Dalimunthe dalam bahasa Batak.
Kepada Dr. Nafron Hasjim, Pemimpin Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta tahun 1992/1993, beserta stafnya (Drs. Farid Hadi, Suwanda, Sujatmo, Ciptodigiyarto, dan Warno) saya ucapkan terima kasih atas penyiapan naskah buku ini. Ucapan terima kasih saya tujukan pula kepada Drs. Zulkarnain, sebagai penyunting dan Sdr. Edy Soedjarwanto sebagai ilustrator buku ini.
Jakarta, Maret 1993
Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Dr. Hasan Alwi
•••
1.
PUTRA FAJAR
Siang itu matahari menyengat tajam. Debu jalanan yang diterjang kendaraan yang lalu lalang mengepul ke udara. Sebuah bus kota yang melaju terseok-seok kepenuhan penumpang seakan sedang melintasi padang pasir. Peluh berlelehan di wajah para penumpang bus kota itu. Bau keringat yang bercampur bau penderitaan menyeruak ke mana-mana. Wajah-wajah resah mewarnai bus kota itu.
Tagor salah satu di antara penumpang bus kota yang resah itu. Ia tersiksa di antara bau keringat, panasnya cuaca, dan penumpang yang berjubel. Akan tetapi, ia tidak bisa marah. Ia hanya bisa mengumpati nasibnya yang malang, yang menjebloskannya ke bus kota yang berengsek itu. Tiba-tiba terbayang pada Tagor istrinya yang hamil tua. Ia membayangkan seandainya istrinya yang hamil tua, dengan perutnya yang besar membusung itu, berada dalam impitan penumpang yang penuh sesak. Untung saja, sebelum berangkat tadi ia mencegah keinginan istrinya untuk menemaninya dalam perjalanan ini.
Di tengah-tengah suasana bus yang gerah itu tiba-tiba menyeruak seorang bocah pengamen. "Sungguh terpaksa/ aku mengamen/ menyanyikan/ jeritan batin …," dendangnya mencoba menghibur sekaligus meminta belas kasihan para penumpang. Sebagian penumpang menatap pengamen cilik itu dengan pandangan kesal, sebagian lagi memandanginya dengan perasaan iba. Tagor tersentuh hatinya melihat nasib pengamen cilik itu. Tubuhnya kurus kering, pakaiannya dekil, tatapan matanya sayu, seolah-olah tanpa masa depan. Dengan hati terenyuh Tagor memberi bocah pengamen itu seratus rupiah.
Malam harinya ingatan Tagor masih terbayang-bayang pada pengamen cilik itu. Dalam hati ia berdoa agar nasib malang bocah pengamen itu tak menimpa bakal anaknya yang sedang dikandung istrinya tercinta. Ia berharap mudah-mudahan nasib anaknya jauh lebih baik daripada nasib dirinya.
Pikiran Tagor amat gelisah malam itu. Matanya belum juga bisa terpejam meskipun hari sudah larut malam. Matanya nanar memandangi perut istrinya yang membesar. Ia menduga-duga kapan anak pertamanya akan lahir. Ia menebak-nebak apakah anaknya perempuan atau laki-laki. Ia amat gelisah mengharapkan kelahiran anak pertamanya itu. Dengan langkah letih ia melangkah ke luar rumah, kemudian berbaring-baring di teras memandangi bulan yang sedang purnama penuh. Langit yang cerah, bulan yang purnama penuh, dengan bintang-bintang yang berserakan di langit agak meredakan kegelisahan perasaannya.
Ketika kegelisahannya agak surut itu, tiba-tiba muncul istri Tagor dengan wajah kusut dan pucat. Tagor terkejut melihat keadaan istrinya yang demikian.
"Kenapa kau, Ida?" tanya pada istrinya, Haida.
"Bang, perut Ida terasa mulas-mulas. Barangkali malam ini saatnya aku akan melahirkan," kata Haida dengan wajah letih.
"Kalau begitu, baiklah kau tunggu di rumah saja. Aku akan panggil bidan," kata Tagor dengan muka tegang.
Tagor segera angkat kaki meninggalkan istrinya. Dengan langkah tergesa-gesa, ia menuju ke rumah bidan bersalin. Bidan bersalin yang tengah tertidur pulas dibalut mimpinya kaget melihat Tagor datang dengan muka tegang.
"Ada yang perlu saya bantu, Tagor?" tanyanya pada Tagor.
"Istri saya akan melahirkan, Bu. Tolonglah, Bu, sekarang juga," kata Tagor dengan muka cemas.
Bidan bersalin itu merasa haru melihat ketegangan yang terbayang di wajah Tagor. "Baiklah, aku akan segera ke sana," katanya.
Bidan bersalin itu, diiringi Tagor, segera melangkah ke rumah Tagor untuk membantu Haida yang akan melahirkan. Tiba di rumah, Tagor menemukan istrinya tengah terbaring-baring sambil memegangi perutnya.
"Tagor, buka semua yang terkunci atau terikat di rumah ini," kata bidan bersalin itu kepada Tagor. Tagor segera melaksanakan perintah bidan bersalin itu karena menurut kepercayaan di kampung, tiap kelahiran memang harus diawali dengan membuka semua yang terkunci dan terkatup agar jalan kelahiran menjadi lebih lancar.
Dengan hati cemas, Tagor menanti-nanti kelahiran anak pertamanya. Tetangga berdatangan menemani Tagor menunggu kelahiran anak pertamanya itu. Bercangkir-cangkir kopi habis direguk orang-orang yang menemani Tagor itu. Menjelang subuh, ketika sinar matahari pagi mulai membayang di langit timur, terdengarlah jerit tangis bayi. Perasaan lega meledak di hati Tagor. Dengan bergegas, ia segera melangkahkan kakinya ke kamar Haida. Di sana dilihatnya seorang bayi yang mungil, tampak sehat, bercahaya, dan penuh harapan. Dengan penuh kasih dibelai-belainya bayi itu.
"Inilah putra fajar yang menjanjikan masa depan," kata Tagor dalam hati. "Kelahirannya pada fajar hari adalah isyarat bahwa bayi ini kelak akan menerangi dunia, akan menerangi hidupku, dan akan selalu cemerlang, seperti sinar matahari yang tak pernah pudar dari fajar hingga sore hari. Ia akan menghangati kehidupan keluargaku."
Setelah membelai-belai bayi itu yang matanya masih terkatup, dengan penuh sayang Tagor mengecup kening istrinya, Haida, perempuan yang telah memberinya bayi yang sehat dan menjanjikan masa depan.
"Bang, gembira sekali perasaanku pagi ini," kata Haida lirih kepada suaminya.
"Ida, perasaan yang sama juga menghinggapi hatiku," balas Tagor dengan muka cerah dan dikecupnya dagu istrinya. Haida hanya tersenyum dan memandangi wajah suaminya dengan tatapan mata lembut.
"Ida, istirahatlah dulu kau," kata Tagor pada Haida, kemudian meninggalkan istrinya di pembaringan. Tagor bergegas menemui para tetangga, sanak saudara, dan handai tolan yang tengah berkumpul merayakan kelahiran anak Tagor yang pertama.
"Tagor, cepat-cepatlah kau panggil Datu Porkas. Ia dukun yang paling terkenal dalam meramal nasib orang. Bayimu perlu segera diramal agar ketahuan nasibnya di kemudian hari," kata seorang tetangga kepada Tagor. Telah menjadi kebiasaan di daerah Tagor, seorang bayi yang baru lahir segera diramal untuk mengetahui peruntungannya di kemudian hari.
"Aku akan memanggil Datu Porkas untuk meramal nasib anakku dua tiga hari lagi. Sekarang ini tubuhku terasa letih setelah semalaman cemas dan tegang menunggu istriku melahirkan," jelas Tagor pada tetangganya.
Beberapa hari kemudian, ketika matahari mulai merambat naik, Tagor berangkat menuju rumah Datu Porkas. Sesampainya di rumah Datu Porkas dilihatnya sang dukun sedang bersemadi. Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Nalurinya yang terlatih tajam segera mencium kedatangan Tagor.
"Hai, Tagor!" kata Datu Porkas pada Tagor. "Ada perlu apa kau datang sepagi ini?"
"Maaf, Datu. Istri saya tiga hari yang lalu baru saja melahirkan. Laki-laki bayi itu. Untuk itu, saya dengan segala kerendahan hati mohon pada Datu untuk berkunjung ke rumah saya. Saya perlu segera tahu nasib anak saya kelak," kata Tagor.
"Baiklah, kalau begitu," jawab sang dukun.
Datu Porkas berdua dengan Tagor melangkahkan kaki ke rumah Tagor. Tagor berharap, mudah-mudahan yang baik-baik saja yang akan diramalkan oleh sang dukun.
"Mana anak dan istri kau?" tanya Datu Porkas setibanya di rumah Tagor.
"Nah, itu dial" kata Tagor karena dilihatnya Haida ke luar rumah menyongsong kedatangan keduanya.
"Selamat pagi, Datu,” sapa Haida pada sang dukun. "Silakan masuk ke rumah kami yang berantakan ini."
Datu Porkas segera melangkah memasuki kamar tempat tidur si bayi. Beliau berdecak kagum menyaksikan ketampanan bayi itu. Mata bayi itu dilihatnya bercahaya-cahaya seperti bintang di kegelapan malam. Tubuhnya yang kecil mungil itu seperti menyimpan tenaga yang terpendam, yang tak terduga.
"Umur bayi ini," sang dukun memulai ramalannya, "aku tidak dapat meramalkannya. Panjang pendek umur manusia Tuhanlah yang berkuasa menentukan dan yang paling mengetahui."
"Nasib anak ini?" tanya Tagor penasaran.
"Menilik hari kelahirannya yang teramat bagus, anak ini kelak akan menjadi orang yang sangat istimewa. Baru kali ini aku menemukan orang yang hari kelahirannya sebagus ini."
"Alhamdulillah," kata Tagor dengan perasaan bahagia yang meluap-luap.
"Di sekolah anak ini akan menjadi anak yang paling pintar dan cerdas.” Datu Porkas melanjutkan ramalannya. "Guru-gurunya akan sayang kepadanya. Teman-temannya juga akan menyukainya. Singkatnya, ia memang anak yang istimewa. Makin dewasa anak ini, keistimewaannya akan makin tampak. Dan pada puncaknya, anak ini kelak akan menjadi wakil presiden. "
"Kok cuma wakil presiden?" sela Tagor.
"Jangan banyak protes!" kata Datu Porkas agak berang karena ramalannya setengah tidak dipercaya. "Ini perkataan dukun. Ramalan dukun tidak bisa diganggu gugat dalam bentuk apa pun.”
![]() |
| Sang dukun, Datu Porkas, sedang meramal nasib sang bayi kelak. |
"Maaf, Datu," kata Tagor. "Saya lupa kalau sedang berhadapan dengan Datu Porkas yang ramalannya selalu menjadi kenyataan."
"Semua yang aku ramalkan tadi akan menjadi kenyataan," lanjut Datu Porkas setelah marahnya reda. "Akan tetapi, sebelum semua itu menjadi kenyataan, ada syarat yang harus kau penuhi. Bayi yang baru lahir ini harus diupa-upa (diberkati) dalam sebuah pesta mangupa (pemberkatan). Para pemuka agama dan orang-orang terpandang harus diundang dalam pesta mangupa itu."
"Syarat yang Datu berikan akan saya laksanakan dengan sepenuh hati," jawab Tagor.
"Barangkali hanya ini yang bisa aku ramalkan tentang nasib bayi ini kelak," kata Datu Porkas menutup ramalannya.
"Mudah-mudahan semua yang Datu ramalkan akan menjadi kenyataan. Saya sangat berterima kasih atas kesediaan Datu meramal nasib bayi ini," kata Tagor sambil menyelipkan sebuah amplop kepada Datu Porkas sebagai tanda terima kasih.
Keesokan harinya Tagor dan istrinya, Haida, bersama sanak keluarga yang lain bermusyawarah untuk menentukan hari diadakannya pesta mangupa itu. Setelah memperhitungkan hari baik dan segala adat yang berlaku di kampung itu, mereka sepakat bahwa pesta mangupa akan diadakan setelah si bayi genap berusia sepuluh hari. Karena masih ada waktu lima hari lagi untuk acara itu, mereka juga sepakat dalam pesta mangupa itu akan disembelih kambing yang besar sebagai rasa syukur.
Segala sesuatunya dipersiapkan orang untuk pelaksanaan pesta mangupa itu. Dari mencari kambing yang bertubuh tambun, mencari sayuran ke kebun, mendirikan tenda tempat perhelatan, hingga menyebarkan undangan kepada handai tolan. Semuanya menyibukkan diri untuk meriahnya acara yang satu itu.
Hari yang dinanti-nantikan itu pun tibalah. Para tetangga, handai tolan, tanpa kecuali, semua telah berkumpul. Begitu juga para pemuka agama dan adat. Kambing yang tambun pun, yang akan disembelih, telah tertambat di halaman belakang. Sepanjang hari kambing itu mengembik-embik seakan-akan tahu akan disembelih.
"Saudara-saudaraku yang aku hormati," kata Tagor memulai acara, "hari ini kami bermaksud melaksanakan syukuran anak kami yang baru lahir dan sekaligus memberi nama kepadanya. Untuk itu, kami mohon doa restu Saudara-saudara yang hadir di sini, dengan harapan anak kami dapat tumbuh sehat, kuat, dan berguna bagi masyarakatnya kelak. Karena Bapak Lurah yang akan memimpin acara syukuran ini telah hadir di sini, barangkali lebih baik acara ini kita mulai saja. Bapak Lurah kami persilakan!"
"Terima kasih. Karena kita semua telah maklum apa yang dikehendaki tuan rumah dengan acara ini, sebaiknya acara ini langsung kita buka dengan pembacaan doa, dengan harapan anak ini dapat tumbuh sesuai dengan harapan dan cita-cita orang tuanya."
Doa pun dipanjatkan dengan khusyuk. Setelah pembacaan doa selesai, acara dilanjutkan dengan pembacaan selawat dan marhaban. Bayi yang baru lahir itu pun kemudian dibopong ke tengah-tengah arena. Orang-orang yang hadir di situ secara bergantian membopong bayi itu sambil membacakan marhaban. Selesai pembacaan selawat dan marhaban, bayi itu kemudian dibopong menuju sebuah sungai besar. Sepanjang perjalanan menuju sungai itu, orang-orang yang mengiringi bayi itu berzikir, membaca selawat, dan menabuh rebana.
Tiba di sungai bayi itu segera dimandikan. Kemudian kepalanya ditaburi bunga dua warna, merah dan putih. Setelah kepala bayi itu ditaburi bunga dua warna, lurah kampung itu yang merangkap sebagai dukun segera mengambil gunting. Dengan tangkas diguntingnya rambut bayi yang belum bernama itu.
"Hari ini, dengan menimbang dan memerhatikan rasa yang suci, cita-cita yang tinggi, dan iktikad baik yang kuat, aku beri nama kau Momosan. Dengan demikian, sejak hari ini, dari bayi tak bernama kau menjadi manusia bernama Momosan. Momosan, semoga dengan pengguntingan rambutmu panjanglah umurmu! Semoga pula di sungai ini segala hal yang tidak baik yang ada pada dirimu menjadi hanyut. Yang baik-baik saja yang akan lekat selalu padamu!" Demikian kata-kata lurah ketika menamai bayi putra Tagor dan Haida. Dengan kata-kata lurah itu lengkap sudahlah acara mangupa itu.
Bersamaan dengan selesainya acara mangupa yang diadakan oleh Tagor, kehidupan kampung kembali berjalan seperti biasa. Petani-petani kembali sibuk di sawahnya, gadis-gadis kembali merajut kain, sementara sesekali kendaraan melintas di jalan kampung dan angin mendesah melintasi perkampungan.
![]() |
| Di sungai, kepala bayi yang belum bernama itu ditaburi bunga dua warna, merah dan putih. |
•••
2.
KEHILANGAN AYAH
Apa yang diramalkan Datu Porkas tentang diri Momosan sedikit demi sedikit menjadi kenyataan. Makin yakinlah Tagor pada omongan orang bahwa Datu Porkas seorang dukun ramal yang ampuh. Tagor merasa bahwa sejak kelahiran Momosan rezekinya makin bertambah-tambah. Pada saat kelahiran Momosan saja kedatangan rezeki telah mulai terbaca. Tidak sedikit tetangga dan handai tolan yang berdatangan mengantarkan baju, selimut, beras, ayam, telur, dan lain-lain keperluan rumah tangga. Ketika Momosan tumbuh makin besar, aliran rezeki juga semakin bertambah-tambah pula. Tagor menyaksikan pohon-pohon kopinya yang berbuah lebat, berwarna merah-merah, dan siap untuk dipetik. Kebun sayuran juga makin subur saja dan banyak menghasilkan kol, wortel, kentang, tomat, dan cabai-cabaian. Semuanya laku terjual di pasar dan mendatangkan uang yang lebih dari cukup untuk keperluan hidup Tagor sekeluarga.
Tagor mensyukuri semua rezeki yang datang padanya dan ia pun makin sayang pada Momosan. Dengan penuh perhatian diikutinya setiap perkembangan Momosan dan terlihat olehnya bahwa anaknya itu memang istimewa, tampak lain daripada anak-anak sebayanya. Ia tumbuh lebih cerdas, lebih lincah, dan lebih dewasa. Ia pun suka menolong teman-teman sepermainannya yang sedang dalam kesulitan. Tidak mengherankan jika teman-temannya teramat suka dan teramat sayang kepadanya. Guru-gurunya di sekolah juga teramat sayang kepadanya karena kecerdasannya. Tiap pelajaran yang dijelaskan oleh guru-gurunya dengan cepat ia tangkap. Pelajaran yang sulit untuk murid-murid lainnya, seperti matematika, dengan cepat ia kuasai. Angka delapan, sembilan, sepuluh bertebaran dalam rapornya sehingga guru-gurunya dan bapak ibunya merasa puas dan bangga akan kepintaran Momosan.
Meskipun pintar di sekolah, Momosan tidak pernah bersikap sombong. Tingkah lakunya tetap sederhana dan rendah hati. Bahkan, di rumah ia dengan penuh sayang mengasuh kedua adiknya yang masih kecil-kecil, Neli dan Totop. Dengan sikap Momosan yang demikian itu, kedua orang tuanya merasa ringan beban hidupnya.
"Ida, sungguh bangga aku punya anak seperti Momosan," kata Tagor suatu hari pada istrinya, Haida.
"Ya," sahut istrinya, "Momosan memang anak yang mengherankan. Tanpa perlu kita beri tahu, ia telah mengerti apa yang harus ia lakukan. Sungguh ia anak yang istimewa. Tepatlah ramalan Datu Porkas kalau begitu."
"Meskipun masih kanak-kanak bocah itu tampak sangat bijaksana," lanjut Tagor pada istrinya, "sehingga kita pun tidak perlu merasa khawatir meninggalkannya. Seandainya orang tuanya meninggal, aku yakin anak itu akan mampu mengurusi dan menjaga adik-adiknya."
"Abang! Mengapa kau berkata demikian? Yang kau pikirkan yang bukan-bukan saja. Apa kau tega melihat aku sendirian mengurus anak-anak kita?" kata istri Tagor dengan pandangan mata tajam.
"Bukan begitu, Ida," kata Tagor sambil membelai rambut istrinya.
"Habis, Abang ngomongnya yang bukan-bukan saja," kata istrinya merajuk. Tagor hanya tersenyum sambil memandangi wajah istrinya.
"Sudahlah," katanya, "yang jelas, anak kita memang sangat membanggakan hati kedua orang tuanya.”
Haida tersenyum-senyum mendengar kata-kata suaminya. Sementara itu, di luar rumah, bulan sedang purnama penuh. Anak-anak banyak yang berjalan-jalan keliling kampung sambil bernyanyi-nyanyi. Sebagian lagi menabuh-nabuh apa saja yang bisa ditabuh dan mondar-mandir ke sana kemari. Suasana malam jadi semarak dan agak hiruk-pikuk. Di tengah suasana malam yang semarak itu, di sudut kampung sebagai bapak-bapak asyik memojokkan diri sambil menghangatkan tubuh di dekat api unggun yang membara menjilat-jilat malam. Mereka mengobrol tentang apa saja, dari harga-harga yang tidak pernah turun, tanah-tanah yang mulai tergusur, hingga pemilihan ratu kecantikan.
Malam itu Momosan juga larut dalam permainan dengan anak-anak sebayanya. Akan tetapi, ia tidak betah berlama-lama bermain-main dengan teman-teman sebayanya. Ia segera menggabungkan diri dengan orang-orang yang jauh lebih dewasa darinya. Ia langsung terlibat dalam obrolan mereka. Banyak orang yang menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan menyaksikan cara berpikir Momosan yang lebih matang daripada usianya.
Suatu hari, ketika matahari telah mulai merayap naik di langit, Tagor belum juga bangun dari tidurnya. Padahal, biasanya ia selalu bangun pagi dan tidak pernah lupa melakukan salat Subuh. Haida yang menyaksikan suaminya belum juga bangun merasa keheranan. Ia segera menghampiri Tagor di tempat tidurnya.
"Bang, bangun, Bang!" katanya pada suaminya. Akan tetapi, Tagor hanya menggeliat mendengar kata-kata istrinya. Haida segera meraba kening suaminya yang ternyata terasa panas.
"Bang, kenapa kau, Bang?" tanya Haida cemas.
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa tidak enak badan saja pagi ini," kata Tagor lirih.
"Kalau begitu, tidur sajalah kau. Aku akan sediakan sarapan untukmu," kata istrinya sambil bergegas ke dapur. Haida segera menyiapkan sarapan untuk suaminya. Dengan perasaan sayang disuapkan makanan ke mulut suaminya. Momosan yang tahu ayahnya sakit juga menunggui bapaknya.
Dari hari ke hari penyakit Tagor bukannya menghilang, malah bertambah parah saja. Ia tidak mampu lagi berjalan. Duduk pun hampir-hampir ia tak sanggup. Makan pun kalau tidak dipaksa-paksa istrinya, ia sudah tak bernafsu lagi. Haida cemas melihat sakit suaminya yang seperti itu. Tubuh Tagor telah kurus kering dimakan penyakit. Matanya tak lagi memancarkan sinar. Suaranya pun hampir-hampir tak terdengar lagi.
Berminggu-minggu ia menderita seperti itu. Padahal, sudah beberapa dukun—termasuk dukun dari kampung yang jauh—dipanggil untuk mengobati penyakitnya.
Tidak hanya Haida yang cemas melihat keadaan Tagor. Sanak keluarga dan para tetangga yang menjenguk Tagor juga harap-harap cemas melihat sakitnya yang semakin gawat. Rasanya tak ada harapan lagi untuk sembuh. Apalagi, belakangan ini makin sering saja mengigau karena demamnya tinggi. Dalam igauannya itu, omongannya sudah tidak keruan.
Karena sakit ayahnya yang parah itu, Momosan tak bisa lagi memusatkan perhatiannya pada pelajaran-pelajaran di sekolah. Ia tidak tega meninggalkan ayahnya yang sedang tidak berdaya melawan penyakit. Berhari-hari bersama ibunya ia menunggui ayahnya yang sedang sakit itu.
Suatu malam dengan perasaan gelisah yang amat sangat Haida terbangun dari tidurnya. Dengan pandangan kosong ditatapnya langit-langit kamar yang masih terbalut warna hitam malam. Lalu, diraba-rabanya tubuh suaminya. Jari-jari tangannya masih merasakan kehangatan yang meruap dari tubuh suaminya. Kemudian jari-jari tangan Haida berpindah ke dada suaminya. Ternyata masih ia rasakan juga degup jantung dan napas suaminya yang naik turun ke dada suaminya. Haida merasa lega.
![]() |
| Tagor terbaring sakit di tempat tidur. Istrinya, Haida, dan anaknya, Momosan, dengan setia menungguinya. |
Malam itu Haida baru saja bermimpi. Dalam mimpinya itu, salah satu giginya tanggal. Menurut kepercayaan, bila bermimpi gigi tanggal itu berarti isyarat akan mendapatkan musibah. Salah seorang anggota keluarga akan ada yang meninggal dunia. Oleh karena itu, Haida menjadi gelisah setelah bermimpi itu, apalagi sakit Tagor makin hari makin parah saja.
Haida makin hari makin kehilangan harapan. Hatinya pilu melihat keadaan Tagor yang sudah menyerupai mayat hidup. Rasanya tidak mungkin lagi mengharapkan kesembuhan Tagor. Tagor sendiri kelihatan pasrah menanti ajal yang sewaktu-waktu akan datang menjemput. Sementara itu, istri dan anak-anaknya hanya bisa mendoakan.
Kematian itu akhirnya datang juga. Para tetangga Tagor yang bersiap-siap berangkat tidur karena hari telah larut malam dikejutkan oleh suara jerit tangis yang berhamburan dari rumah Tagor. Terdengar istri Tagor meratap-ratap, sementara Momosan dan adik-adiknya menangis dan menjerit-jerit berkepanjangan. Para tetangga segera berdatangan ke rumah Tagor ingin mengetahui apa yang terjadi. Di rumah Tagor mereka menyaksikan jenazah lelaki yang baik hati itu terbaring tenang. Bibirnya yang terkatup seakan-akan sedang tersenyum, sedangkan matanya yang terpejam seolah-olah seseorang yang sedang tertidur pulas. Di wajahnya sama sekali tak terbayangkan kematian yang menakutkan itu telah datang menjemput Tagor.
"Begitulah kalau orang baik hati meninggal dunia," kata seorang tetangga. "Wajahnya tak mencerminkan penderitaan panjang yang telah dilaluinya. Wajahnya pasrah menerima ajal. Mudah-mudahan arwahnya diterima di sisi-Nya."
Sementara itu, Haida dan ketiga anaknya masih menangis berkepanjangan. Para tetangga dan sanak keluarga yang berada di rumah Tagor memaklumi perasaan anak dan istri yang ditinggal mati. Mereka seakan-akan memberi kesempatan kepada Haida dan anak-anaknya meluapkan perasaan duka. Mereka juga berusaha menghibur Haida dan anak-anaknya yang sedang dirundung duka.
"Momosan, diamlah kau, Nak,” kata Soaloon, kakak kandung Tagor, kepada Momosan. "Lihatlah, adik-adikmu semua jadi ikut menangis. Bukankah ayah tidak akan hidup lagi dengan air matamu itu?"
"Paman, saya merasa sedih sekali dengan kepergian ayah. Siapa yang akan membiayai sekolahku?" kata Momosan sambil meratap kepada pamannya itu.
"Momosan, bukankah masih ada aku sebagai pamanmu?" kata pamannya. "Akulah yang akan membiayai sekolahmu. Aku juga akan menjaga kau dan kedua adikmu, malah ibumu."
Momosan tampak lega mendengar kata-kata pamannya itu. Ia berhenti menangis. Kedua adiknya kemudian juga berhenti menangis. Momosan lalu tampak sibuk membantu menerima tamu-tamu yang akan datang melayat.
Haida yang telah reda rasa dukanya tampak berunding dengan sanak keluarga tentang pemakaman suaminya. Akhirnya, mereka sepakat bahwa dalam upacara pemakaman itu akan disembelih seekor kerbau mengingat Tagor masih keturunan ningrat. Juga akan diundang para ulama dan pemuka masyarakat dalam upacara pemakaman jenazah Tagor.
Jenazah Tagor telah dimandikan. Sanak keluarga dan handai tolan yang datang melayat kemudian bersama-sama berdoa untuk keselamatan arwah Tagor di akhirat.
"Bapak, Ibu, Saudara semua yang saya hormati," kata Soaloon memberikan sambutan. "Saya sebagai kakak kandung almarhum mewakili keluarga dalam upacara pemakaman ini. Seandainya ada kesalahan yang pernah diperbuat almarhum Tagor semasa hidupnya, kami mohon Bapak dan Ibu sekalian berkenan memaafkannya. Seandainya pula ada utang-piutang yang pernah diperbuat almarhum semasa hidupnya, mohon segera dilaporkan kepada kami agar dapat menyelesaikannya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Barangkali hanya itu yang bisa kami katakan. Semoga kita semua ikhlas melepas kepergiannya. Semoga pula almarhum mendapatkan tempat yang layak di akhirat sesuai dengan amal baktinya selama hidup di dunia ini. Amin."
Jenazah Tagor kemudian diberangkatkan ke pemakaman. Sebelum jenazah diberangkatkan, Haida dan ketiga anaknya mendapat kesempatan berjalan di bawah keranda jenazah. Begitulah adat kebiasaan yang berlaku di kampung Momosan, dengan maksud keluarga yang ditinggalkan benar-benar ikhlas melepas orang yang meninggal itu dan tidak lagi selalu mengingat-ingatnya.
Dengan mata agak basah, Haida berjalan di bawah keranda jenazah suaminya, diiringi Momosan dan kedua adiknya yang masih kecil-kecil. Orang-orang yang menyaksikan memandangnya dengan penuh haru. Kemudian, jenazah segera diberangkatkan ke pemakaman. Sepanjang jalan menuju pemakaman orang-orang dengan khusyuk mengantar jenazah Tagor ke peristirahatannya yang terakhir. Sesampainya di pemakaman—didahului dengan pembacaan doa—jenazah Tagor segera ditanamkan di liang kubur. Lalu, bunga pun ditaburkan di atas pusaranya.
Haida dan anak-anaknya bergegas kembali ke rumah. Langit mendung sepanjang hari itu dan gerimis jatuh kadang-kadang. Alam seperti ikut berkabung dengan kematian Tagor.
![]() |
| Haida dan ketiga anaknya berjalan di bawah keranda jenazah suaminya, Tagor. |
Hari-hari kembali berjalan seperti biasa dan sedikit demi sedikit rasa duka surut dari dada Haida. Kemurungan telah sirna dari wajahnya. Ia mulai bisa bercanda dengan anak-anaknya lagi. Momosan juga telah kembali bermain-main, tertawa-tawa dengan teman-teman sebayanya. Ia mulai melupakan kematian ayahnya. Akan tetapi, kadang-kadang kesedihan melintasi pikirannya. Momosan khawatir kalau-kalau ia tidak mampu lagi sekolah sehingga putus sekolah. Apalagi kedua adiknya masih kecil-kecil dan belum bisa diharapkan untuk mencari nafkah.
•••
3.
WASIAT
Sumbangan yang terkumpul dari orang-orang yang melayat ketika kematian Tigor cukup untuk keperluan hidup Haida dan ketiga anaknya selama dua tahun. Sumbangan yang terkumpul itu juga akan dipergunakan untuk membiayai sekolah Momosan. Keperluan rumah tangga Haida juga terpenuhi dengan sumbangan yang berupa beras, minyak, telur, dan kain.
Sepeninggal ayahnya, Momosan tampak jauh lebih dewasa. Dengan penuh tanggung jawab, ia mengasuh dan membimbing kedua adiknya. Di sekolah ia juga tetap unggul. Nilai-nilai yang diperolehnya jauh melebihi teman-teman sekelasnya. Guru-gurunya yang tahu keadaannya makin sayang kepadanya. Ibunya juga makin sayang kepadanya karena Momosan dengan tekun membantu meringankan beban hidup ibunya.
Pada suatu malam, sehabis sembahyang Isya, datanglah salah satu paman Momosan yang bernama Jasiregar.
"Assalamualaikum," sapa Jasiregar.
"Waalaikumsalam," balas Momosan dari dalam rumah sambil segera membuka pintu. “O, Paman," kata Momosan begitu mengetahui pamannya datang.
"Momosan, ibumu ada 'kan?" tanya paman Momosan.
"Ada, Paman." kata Momosan sembari memanggil ibunya yang sedang berada di dapur.
"O, Kakak," kata Haida begitu melihat wajah kakak iparnya yang lama tak datang berkunjung. "Kok Kakak datang malam-malam begini? Ada yang perlu Kakak sampaikan, agaknya?"
"Ya. Kedatanganku kemari untuk menyampaikan wasiat mendiang Tagor. Jauh sebelum almarhum sakit, almarhum telah merasa ajalnya yang akan tiba. Oleh karena itu, almarhum menitipkan wasiatnya kepadaku untuk disampaikan kepada Momosan. Aku memang tidak segera menyampaikan wasiat itu ketika almarhum tiada karena beliau berpesan wasiat itu baru boleh disampaikan kepada Momosan saat Momosan genap berusia sepuluh tahun. Jadi, baru sekaranglah saat yang tepat untuk menyampaikan wasiat itu."
"Kalau begitu, boleh aku mendengar isi wasiat itu, Paman?" kata Momosan tak sabar.
"Wasiat itu berisi empat hal," kata Jasiregar mulai mengungkapkan wasiat almarhum Tagor. Momosan, ibunya dan kedua adiknya, dengan penuh perhatian mendengarkan kata-kata Jasiregar. Almarhum Tagor seolah-olah hidup kembali. Wajahnya yang teduh seakan-akan hadir di antara mereka. "Pertama, Momosan harus mengaji sehingga kau tahu apa agama Islam itu. Kau harus tahu apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang agama. Kau juga harus tahu apa yang halal dan apa yang haram menurut agamamu. Kedua, kau harus belajar melagukan kasidah dan menabuh rebana. Ketiga, kau harus belajar silat untuk membela dirimu jika terjadi apa-apa atas dirimu. Keempat, kau harus patuh dan hormat kepada ibumu, kau juga harus sayang kepada adikmu-adikmu. Momosan, itulah wasiat yang disampaikan almarhum ayahmu. Mudah-mudahan kau bisa melaksanakannya."
"Terima kasih, Paman," kata Momosan. "Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan wasiat almarhum ayah. Mudah-mudahan tidak ada apa pun yang merintangi niatku ini. Aku hanya mohon doa restu dari Ibu dan Paman.”
![]() |
| Momosan, ibunya, dan kedua adiknya tengah mendengarkan Jasiregar yang menyampaikan wasiat almarhum Tagor. |
"Semua yang diwasiatkan ayahmu almarhum itu," lanjut paman Momosan, "kelak akan amat bermanfaat bagi dirimu apabila kau bisa melaksanakannya. Dengan mengaji, kau akan menjadi orang yang saleh dan beriman. Dengan belajar melagukan kasidah, kau akan memiliki banyak teman. Dengan belajar bersilat, kau akan menjadi laki-laki yang tangguh dan disegani lawan dan kawan serta dengan hormat dan sayang kepada ibumu, kelak kau akan mendapatkan tempat di surga karena pepatah mengatakan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Jadi, sesungguhnya yang diwasiatkan almarhum ayahmu itu merupakan bekal hidupmu. Momosan, barangkali hanya itu yang bisa diberikan almarhum ayahmu kepadamu. Kau harus bersyukur mempunyai ayah yang sebaik itu."
"Aku tidak akan menyia-nyiakan kebaikan ayahku, yang jauh-jauh hari telah mempersiapkan anaknya untuk menghadapi masa depannya," kata Momosan.
"Ayah Momosan memang orang yang sangat baik hati. Rasanya sulit bagiku untuk melupakan kebaikannya. Rasanya sulit pula menemukan laki-laki yang sebaik dia," sambung Haida.
Jasiregar hanya tersenyum-senyum mendengar kata-kata Haida. Ia tahu Haida sedang terkenang-kenang pada almarhum suaminya. Ia mengerti perasaan Haida yang sangat mencintai suaminya.
Jasiregar setelah menyampaikan wasiat almarhum Tagor segera berpamit pulang karena hari telah larut malam. Haida dan anak-anaknya pun segera berangkat tidur. Dalam tidurnya itu Haida bermimpi bertemu dengan suaminya. Dilihatnya suaminya tengah bercanda dengan anak-anaknya. Momosan tak banyak tertawa dalam mimpinya itu. Ia kelihatan seperti bukan bocah lagi. Raut mukanya tampak lebih dewasa dari usianya. Bahkan, kadang-kadang ia menasihati kedua adiknya yang masih kecil-kecil.
Haida terjaga dari mimpinya. Dipandanginya wajah ketiga anaknya yang tertidur pulas. Karena hari belum subuh, ia pun berangkat tidur lagi, tetapi matanya tak kunjung terpejam. Berkali-kali ia mencoba memejamkan mata, tetapi pikirannya tetap saja terjaga. Pikirannya dibayang-bayangi wasiat almarhum suaminya. Ia bertekad anaknya harus bisa melaksanakan yang diwasiatkan suaminya itu.
Haida mengerti almarhum suaminya teramat sayang kepada Momosan. Dari ketiga anaknya, hanya Momosanlah yang paling diharapkan. Momosan menjadi tumpuan harapan suaminya. Oleh karena itu, ia akan berusaha untuk tidak mengecewakan suaminya. Ia akan mendidik Momosan seperti yang dicita-citakan suaminya. Ia akan menyekolahkan Momosan setinggi mungkin, biarpun ia tahu untuk itu diperlukan biaya yang tidak sedikit. Ia akan berusaha mencari nafkah lebih giat lagi untuk dapat membiayai sekolah Momosan.
Menjelang subuh Haida baru bisa memejamkan mata. Kokok ayam telah terdengar di sana-sini. Suara langkah kaki pedagang sayur yang berangkat ke pasar juga telah kedengaran. Menjelang subuh itu jantung kehidupan mulai berdenyut.
Tidur beberapa jam terasa cukup buat Haida. Beberapa saat setelah terdengar suara azan dari masjid, ia terbangun. Ia buru-buru melakukan salat Subuh dan kemudian membangunkan ketiga anaknya yang masih tertidur.
"Momosan," kata Haida ketika sedang sarapan bersama anak-anaknya, “cukup jelas bagimu apa yang disampaikan oleh pamanmu semalam. Aku rasa, kau memang harus bisa melaksanakan apa yang diwasiatkan oleh almarhum ayahmu. Untuk itu, kau teruskan saja sekolahmu yang tinggal dua tahun lagi. Sambil sekolah kau juga bisa belajar mengaji dan melagukan kasidah. Belajar silat mungkin belum waktunya sekarang. Kau baru bisa belajar silat setelah sekolahmu tamat. Bagaimana, Momosan? Aku sependapat dengan apa yang Ibu katakan?”
"Ya, Ibu," jawab Momosan. "Aku juga berpikir kalau belajar mengaji dan berkasidah itu bisa dilakukan sambil tetap sekolah. Rasanya kegiatanku di sekolah tidak akan terganggu oleh dua kegiatan itu."
"Kalau begitu pikiranmu minggu depan kita cari seorang guru mengaji.”
Selesai sarapan, Haida dibantu Momosan berangkat ke pasar untuk berjualan hasil kebun mereka. Sayur-mayur, kopi—kebetulan kebun kopi mereka sedang berbuah lebat—, dan pisang mereka jual di pasar. Hasil berjualan itu dipergunakan Haida untuk menghidupi ketiga anaknya, termasuk membiayai sekolah mereka. Haida merasa bersyukur karena rezekinya selalu lancar. Apa saja yang dijualnya senantiasa habis terjual. Haida merasa itu semua sebagai pemberian Tuhan yang berbelas kasih kepadanya. Karena rezekinya yang selalu lancar itu, ia tidak merasakan nasibnya yang menjanda ditinggal mati suami itu sebagai kemalangan. Ditinggal mati suami ia rasakan sebagai cobaan Yang Mahakuasa yang harus dijalani dengan tabah dan pasrah.
Haida tidak pernah menyerah pada nasib. Meskipun janda, ia tetap ulet bergelut dengan nasib. Perjuangannya tidak kenaI siang dan malam. Sehabis berjualan di pasar, sering kali ia masih ke kebun memetik sayur-sayuran dan buah-buahan. Malam hari kadang-kadang ia juga membuat kue untuk dijual di pasar. Semua itu dilakukan Haida demi cintanya pada ketiga anaknya. Tetangga-tetangganya yang menyaksikan merasa keheranan karena meskipun seorang janda, Haida mampu menyekolahkan ketiga anaknya.
Sebagai anak sulung, Momosan tidak tinggal diam melihat ibunya pontang-panting mencari nafkah. Sebelum berangkat sekolah—Momosan sekolah siang—pagi-pagi benar ia ke kebun nira. Dengan kapak peninggalan almarhum ayahnya dibelahnya pohon nira itu, lalu dibersihkannya. Ia membersihkan pohon nira itu selama sebulan terus-menerus. Sehari lima puluh kali digoyang-goyangkannya sumber nira itu. Setelah sebulan, pangkal tandan nira itu akan berwarna kuning. Itu tandanya tiga hari lagi sudah bisa ditebas. Setelah tiga hari biasanya akan terlihat banyak lalat yang berkerumun. Itu tandanya benar-benar sudah saatnya untuk ditebas. Begitu ditebas air nira akan mengalir terus.
Sehari itu kapak Momosan menghasilkan dua mata sadapan. Mata sadapan itu mengeluarkan air yang sangat deras. Sudah dua kali Momosan mengambil buluh penampung yang besar, tetapi air masih saja keluar sehingga tidak tertampung. Untuk menampung air nira yang terus mengalir itu, Momosan menaruh kaleng minyak tanah di bawah pohon nira. Dua buluh penampung dan kaleng minyak tanah itu penuh dengan air nira. Momosan tak sanggup lagi membawa air nira itu pulang ke rumah karena banyaknya. Di dekat pohon nira itu kemudian Momosan mendirikan sebuah dangau untuk tempat memasak air nira. Air nira itu dimasak di sebuah belanga besar yang dipinjam Momosan dari pamannya, Jasiregar.
Air nira yang dimasak Momosan menghasilkan banyak gula. Sehari Momosan bisa memperoleh enam puluh bungkal dan bungkalannya tebal-tebal pula. Enam puluh bungkal gula nira itu oleh Momosan dikemas dalam enam bungkus sehingga dalam waktu enam hari diperolehnya tiga puluh enam bungkus. Gula nira buatan Momosan sangat terkenal karena rasanya lebih manis dari gula yang lain. Oleh karena itu, ketika Haida menjual gula yang dihasilkan Momosan selalu habis terjual. Uang hasil penjualan itu mereka kumpulkan untuk bekal Momosan di kemudian hari.
![]() |
| Momosan tengah menyadap pohon nira. Di dekat pohon nira itu terletak dua buluh penampung yang besar dan sebuah kaleng minyak tanah untuk menampung air nira. |
•••
4.
BELAJAR MENGAJI
Hari yang dijanjikan Haida kepada Momosan tibalah. Pagi hari setelah sarapan, Haida langsung memanggil Momosan.
"Momosan, masih kau ingat apa yang aku katakan kepadamu seminggu yang lalu?" tanya Haida pada Momosan.
"Masih, Ibu," jawab Momosan.
"Kalau begitu, kau segera berganti pakaian karena pagi ini juga kita akan pergi ke rumah guru mengaji itu."
Momosan segera merapikan dirinya. Dikenakannya kemeja bagus yang dimilikinya. setelah Momosan dan ibunya siap, mereka segera berangkat ke rumah guru mengaji itu.
"Assalamualaikum," sapa Haida sambil mengetuk pintu setibanya di rumah guru mengaji.
"Waalaikumsalam," sahut guru mengaji dari dalam rumah. Ia langsung membukakan pintu untuk tamunya.
"Silakan duduk, kata guru mengaji begitu dilihat yang datang Haida bersama Momosan.
"Begini, Pak Guru," kata Haida menjelaskan maksud kedatangannya. "Suamiku almarhum berwasiat agar anaknya, si Momosan ini, pintar mengaji. Oleh karena itu, aku bawa Momosan ke sini agar ia dapat belajar mengaji kepada Bapak. Agar kelak—setelah belajar mengaji—ia dapat membedakan mana yang halal dan mana yang haram, mana yang diperbolehkan dan mana yang dilarang oleh agama. Kelak ia menjadi anak yang saleh dan patuh pada perintah agama, yang terang mata batinnya dan terpuji tingkah lakunya."
"Kalau demikian maksudmu, aku terima anak ini sebagai muridku," jawab guru mengaji itu.
Sejak saat itu setiap malam Momosan selalu belajar mengaji. Mula-mula ia agak ketinggalan dari teman-temannya sepengajian. Akan tetapi, lama-kelamaan ia mengungguli teman-temannya itu. Momosan memang anak yang cerdas. Ayat demi ayat dihafalnya dengan mudah dan cepat.
Sementara itu, Momosan juga tidak melupakan sekolahnya. Di sekolah nilai-nilai yang diperoleh Momosan masih selalu mengungguli teman-teman sekelasnya. Guru-guru semakin sayang saja kepadanya karena tahu Momosan juga belajar mengaji di samping belajar di sekolah. Guru-gurunya pun tahu Momosan tidak pernah alpa membantu ibunya mencari nafkah. Momosan dengan sabar dan penuh perhatian juga membantu adik-adiknya belajar. Karena bimbingan seorang kakak yang pintar dan baik hati itu, kedua adik Momosan selalu diperhitungkan teman-teman sekelasnya. Keduanya menjadi tempat bertanya apabila yang diajarkan guru di kelas tidak jelas.
Di suatu tempat Momosan belajar mengaji itu, Momosan bertemu dengan Layar yang masih saudara sepupu. Momosan rukun dan akrab sekali dengan saudara sepupunya itu. Ke mana-mana mereka selalu berdua. Mereka berdua tidak pernah lepas satu sama lain bagaikan ikan dengan kolamnya.
Di situ Momosan dan Layar tidak hanya belajar mengaji. Mereka juga belajar melagukan kasidah dan menabuh rebana. Karena ketekunan mereka berdua berlatih dan belajar itu, mereka sangat terampil menabuh rebana. Tabuhan rebana Momosan dan Layar iramanya sangat memukau orang yang mendengarnya. Suara Momosan dan Layar ketika melagukan kasidah juga amat memesona.
Momosan dan Layar menjadi sangat terkenal karena keterampilannya menabuh rebana dan melagukan kasidah. Orang-orang di sekeliling surau dengan gencar memperbincangkan mereka berdua. Orang-orang di kampung-kampung yang agak jauh pun mendengar nama Momosan dan Layar dari mulut ke mulut. Bahkan, di antara orang-orang tua ada yang mengincar keduanya sebagai calon menantu.
Biarpun Momosan dan Layar menjadi buah bibir di mana-mana, keduanya tidak menjadi sombong, tetapi tetap rendah hati. Keduanya dengan tulus membantu siapa saja yang memerlukan tenaga mereka. Mereka pun sering membesarkan hati orang-orang yang sedang kesusahan.
Suatu hari salah seorang di kampung tetangga mengadakan hajatan karena istrinya baru saja melahirkan seorang anak. Dalam hajatan itu akan dilakukan pengguntingan rambut si bayi sekaligus pemberian nama bayi itu. Untuk memeriahkan acara itu, yang empunya hajatan mengundang Momosan dan Layar untuk menabuh rebana dan melagukan kasidah. Momosan dan Layar dengan senang hati menerima undangan itu.
Pada hari yang ditentukan tibalah Momosan dan Layar di rumah yang empunya hajat. Mereka berdua dengan khusyuk mengikuti acara pengguntingan rambut dan pemberian nama bayi. Acara kemudian dilanjutkan dengan melagukan kasidah dan menabuh rebana. Khalayak tak sabar lagi menunggu penampilan Momosan dan Layar.
Momosan dan Layar dengan tenang tampil ke depan. Sorak gemuruh mengiringi langkah keduanya. Gadis-gadis yang hadir memandangi keduanya dengan decak kagum yang tak henti-hentinya. Momosan dan Layar—setelah mengucapkan salam pembuka—langsung menabuh rebana dan melagukan kasidah. Suaranya mendayu-dayu menggetarkan perasaan. Rebana yang ditabuh Momosan bunyinya juga mengguncang-guncang perasaan yang mendengarkan. Hadirin terhanyut dalam bunyi tabuhan rebana Momosan dan suara kasidah yang dilagukan Layar.
![]() |
| Momosan menabuh rebana, sementara Layar melagukan kasidah dalam suatu perhelatan di kampung tetangga. |
"Jantungku terasa mau rontok mendengar tabuhan rebana Momosan," kata seorang gadis di barisan belakang.
"Jantungku mau rontok karena mendengar tabuhan rebana Momosan atau melihat wajah Momosan!" Salah seorang teman gadis itu menyela.
"Ah! Kau ini bisa saja," kata gadis itu seraya mukanya merah padam.
"Anak bau kencur sudah berani naksir anak orang," celetuk salah seorang yang lain.
"Siapa yang naksir anak orang?" sahut gadis itu tersipu-sipu.
Tanpa terasa acara perhelatan itu akhirnya mencapai ujungnya. Orang-orang yang terpukau pada Momosan dan Layar masih ingin mendengarkan suara lagu dan tabuhan rebana keduanya. Akan tetapi, acara tidak mungkin dilanjutkan lagi karena Momosan dan Layar telah merasa letih.
Selepas perhelatan itu, nama Momosan makin terkenal, terutama di kalangan remaja. Budi bahasanya terkenal santun, sikap dan tingkah lakunya pun terkenal baik karena ia memang sungguh-sungguh bertekad melakukan apa yang diwasiatkan almarhum ayahnya. Suatu ketika Momosan menanyakan kepada pamannya makna wasiat ayahnya itu.
"Paman, hidupku terasa makin hari makin menanjak saja. Apakah itu barangkali maksud wasiat ayahku?" tanya Momosan kepada pamannya.
"Itu belum seberapa, Momosan," jawab Jasiregar, pamannya. "Itu baru awal. Kelak di kemudian hari kau akan menemukan jawaban pertanyaanmu tadi. Kau akan merasakan manfaat wasiat itu bagi dirimu. Kau akan bersyukur kepada Tuhan karena wasiat yang diberikan almarhum ayahmu itu."
Kehidupan Momosan makin hari memang makin lancar saja. Rezekinya bertambah-tambah saja karena air nira tetap mengalir seperti semula dan kebun kopi makin lebat berbuah. Di sekolah dan di surau ia pun makin pintar.
Karena ketekunannya, Momosan akhirnya menamatkan pelajaran mengajinya di surau. Tibalah waktunya baginya untuk meninggalkan surau. Hatinya merasa berat meninggalkan surau itu karena teman-temannya di surau sudah seperti saudara sendiri. Gurunya mengaji pun dianggapnya sebagai bapak sendiri. Ia tiba-tiba merasa kehilangan orang-orang yang sangat disayanginya dan menyayanginya. Air mata Momosan berlinang memikirkan perpisahan yang akan dialaminya. Teman-teman Momosan juga merasa amat bersedih. Mereka akan kehilangan Momosan yang baik hati, suka menolong, dan tidak pernah marah.
Teman-teman Momosan akhirnya sepakat untuk mengumpulkan barang-barang dan uang untuk diserahkan kepada Momosan sebagai bekal dan tanda mata. Dengan tanda mata itu, teman-teman Momosan berharap Momosan akan senantiasa mengenang mereka. Kebaikan yang diperbuat Momosan selama di surau itu rupanya membekas dalam hati teman-temannya. Kebaikan yang diperbuat Momosan seperti benih yang ditabur di tanah yang subur, yang kini memberikan buahnya. Momosan akan selalu memetik buah kebaikannya itu.
Saat perpisahan itu pun datanglah. Suasana haru menyelimuti surau itu. Tanpa kecuali, semua yang ada di surau menitikkan air mata. Sungguh berat melepas Momosan yang cerdas dan baik hati. Kebaikan dan kecerdasan yang dimiliki Momosan dirasakan teman-temannya sebagai barang langka yang sulit dicari gantinya. Mereka hanya bisa mendoakan Momosan, dengan harapan semua amal baik Momosan mendapatkan imbalan yang setimpal kelak.
"Momosan, aku ucapkan selamat kepadamu karena kau telah berhasil menamatkan pelajaran mengaji di surau ini," kata guru mengaji ketika melepas Momosan. "Semoga semua yang kau peroleh selama kau berada di sini menjadi bekal hidupmu kelak. Aku pun minta maaf kepadamu seandainya ada kata-kataku atau sikapku yang tidak mengenakkan hatimu. Mudah-mudahan hanya yang baik-baik saja yang kau kenang dari surau ini."
"Rasanya aku yang harus meminta maaf kepada Bapak dan teman-temanku di sini. Aku yakin selama berada di sini pasti telah banyak kesalahan yang aku perbuat. Barangkali, tanpa aku sadari, ada sikap atau kata-kataku yang mengecewakan dan menyakitkan hati. Untuk itu, aku mohon maaf dari Bapak dan teman-teman semua," kata Momosan.
"Aku juga minta maaf seandainya selama di surau ini ada kata-kata dan sikapku yang menyakitkan hati," kata Layar menyambung perkataan saudara sepupunya.
"Kami semua juga minta maaf," kata salah seorang murid di surau itu mewakili teman-temannya. "Kami semua hanya bisa berdoa semoga kalian berdua, Momosan dan Layar, sudi mengenang kami untuk selama-lamanya. Mudah-mudahan persahabatan kita abadi, takkan pernah putus oleh zaman."
"Terima kasih," kata Momosan dan Layar hampir bersamaan. "Kami berdua akan selalu ingat akan kebaikan hati teman-teman semua. Kami berdua juga yakin tidak akan ada satu pun yang bisa menggoyahkan persahabatan kita yang kokoh, yang tumbuh dari rasa cinta yang tulus."
Teman-teman Momosan dengan mata basah kemudian menyalami Momosan dan Layar. Setelah itu, Momosan dan Layar menyalami dan mencium tangan guru mengaji surau itu. Dengan penuh haru teman-teman Momosan memberikan uang dan barang yang terkumpul kepada Momosan dan Layar sebagai kenang-kenangan. Air mata Momosan dan Layar menitik membasahi pipi. Keduanya terharu melihat kebaikan hati teman-teman di surau. Dengan langkah berat, keduanya berangkat meninggalkan surau, sementara teman-temannya menyaksikan kepergian keduanya hingga keduanya lenyap dari pandangan mata.
•••
5.
BERGURU SILAT
Hampir bersamaan dengan selesainya Momosan belajar mengaji di surau, Momosan juga menamatkan pelajarannya di sekolah dasar. Ia lulus dengan amat memuaskan. Ibunya teramat bangga memiliki anak sepandai Momosan. Melihat anaknya yang berotak cerdas itu, Haida memberi kesempatan pada Momosan untuk melanjutkan belajar di sekolah menengah. Dengan otaknya yang cerdas, Momosan dengan mudah lulus tes masuk sekolah menengah dan jadilah ia murid sekolah menengah.
Momosan tampak makin dewasa. Ia pun makin tekun belajar karena ia tahu ibunya telah bersusah payah membiayai sekolahnya. Meskipun tekun belajar, Momosan tidak melupakan isi wasiat almarhum ayahnya. Belajar mengaji, belajar melagukan kasidah dan menabuh rebana, sayang kepada ibu dan adik-adik, semua telah dilakukannya. Hanya satu yang belum dilaksanakannya, yaitu belajar silat. Ia mulai berpikir-pikir bagaimana caranya membagi waktu agar sekolahnya tetap lancar dan dapat melaksanakan apa yang diwasiatkan almarhum ayahnya. Setelah merasa yakin dirinya dapat membagi waktu dengan baik, suatu malam menjelang tidur Momosan mengungkapkan isi hatinya kepada ibunya.
"Ibu, ada yang mengganggu pikiranku belakangan ini," kata Momosan kepada ibunya.
"Apa yang mengganggu pikiranmu?”
"Aku merasa masih punya utang pada almarhum ayah."
"Utang apa?" tanya ibunya tak mengerti.
"Ada satu wasiat ayah yang belum aku laksanakan, yaitu belajar silat."
"Oh, itu. Ibu hampir saja lupa. Maklum, ibumu ini makin tua saja, makin pikun."
"Ah, Ibu. Bu, bagaimana pendapat Ibu kalau aku mulai belajar silat dari sekarang?"
"Boleh saja. Hanya Ibu berpesan, dengan belajar silat kau jangan merasa sok jagoan, merasa diri hebat. Ayahmu mewasiatkan kau belajar silat semata-mata agar kau dapat membela diri jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan atas dirimu."
"Ibu seperti tidak tahu siapa diriku. Apakah Ibu pernah melihat aku merasa sok jagoan?"
"Bukan begitu, Momosan. Ibu hanya mengingatkan. Ibu juga mengingatkan, bisa-bisalah kau membagi waktu, sehingga biarpun belajar silat pelajaranmu di sekolah tidak terlantar."
"Baik, Bu, kalau begitu. Kebetulan Layar juga mengatakan bahwa ia pun ingin belajar silat. Jadi, aku bisa belajar silat berdua dengan Layar."
"Ibu setuju saja," kata ibunya.
Keesokan harinya pagi-pagi benar Momosan berdua dengan Layar langsung menemui guru silat di kampungnya. Guru silat di kampung Momosan terkenal di mana-mana. Murid-muridnya banyak yang berasal dari kampung-kampung yang jauh. Guru silat itu usianya sudah cukup tua, tetapi sorot matanya masih memancarkan kewibawaan. Raut mukanya keras dan kokoh, tetapi tidak menampakkan kesan seorang yang kejam. Tubuhnya pun tegap, tidak mudah tumbang oleh serangan lawan.
"Assalamualaikum," kata Momosan setibanya di rumah guru silat itu.
"Waalaikumsalam," kata guru silat itu menyambut kedatangan Momosan dan Layar.
"Begini, Pak Guru," kata Momosan menjelaskan maksud kedatangannya. "Almarhum ayahku mewasiatkan pada diriku untuk belajar silat. Oleh karena itu, berdua dengan Layar aku datang kemari. Mudah-mudahan Bapak berkenan menerima kami berdua sebagai murid."
"Kalau itu yang diwasiatkan almarhum ayahmu, baiklah. Kalian berdua aku terima sebagai muridku," jawab guru silat.
"Terima kasih," kata Momosan dan Layar hampir bersamaan.
"Sebagai muridku tentunya ada persyaratan yang harus kalian penuhi. Sebagai muridku, kalian tidak boleh takabur, tidak boleh sombong, merasa diri lebih unggul dari yang lain. Kalian harus tetap rendah hati. Jangan sekali-kali kalian memperlihatkan kelebihan yang kalian miliki. Juga jangan sekali-kali menyerang lawan terlebih dahulu. Bila kalian diserang lawan, kalian peringatkan terlebih dahulu lawan yang menyerang kalian. Bila lawan tetap saja nekat, baru kalian boleh mematahkan tangan lawan. Jadi, ilmu silat yang akan kalian pelajari nanti bukan untuk melatih kalian mencari musuh, melainkan semata-mata untuk membela diri. Itu saja pesanku sebagai gurumu.” Demikian kata guru silat itu menasihati Momosan dan Layar.
Momosan dan Layar mengangguk-angguk mengerti. “Almarhum ayahku juga mewasiatkan demikian," kata Momosan menyambung perkataan gurunya.
"Bagus kalau begitu. Kau tinggal melaksanakan wasiat ayahmu itu," kata guru silat.
Sejak saat itu Momosan dan Layar seminggu tiga kali berlatih silat. Mula-mula mereka berdua diberi latihan-latihan dasar, seperti pernapasan, olah gerak, ketangkasan gerak. Mereka juga dilatih lari jarak jauh, mendaki gunung dan tebing-tebing yang curam.
Pada mulanya Momosan dan Layar kewalahan menghadapi latihan-latihan yang keras. Napas keduanya tersengal-sengal karena latihan yang berat itu. Tubuh keduanya juga terasa remuk karena dibanting, dipukul, ditendang, dan diempaskan dalam tiap latihan. Akan tetapi, lama-kelamaan keduanya terbiasa dengan latihan-latihan yang berat. Jika semula Momosan dan Layar selalu merasa pegal-pegal pada malam hari sehabis latihan, sekarang mereka tidak merasakannya lagi. Malahan tubuh keduanya sering merasa kaku apabila mereka tidak berlatih silat.
Momosan memang anak yang cerdas dan cekatan dalam segala hal. Dalam waktu amat singkat ia telah menguasai ilmu silat yang diajarkan gurunya. Berbagai jurus silat telah menyatu dengan gerak tubuhnya. Dengan kecepatan yang sulit diduga lawan, ia memperagakan bermacam-macam jurus silat yang diterimanya dari gurunya. Lawan-lawannya dalam latihan menjadi sangat kecil hati melihat kemampuan Momosan yang menakjubkan. Ia pun dengan telak menangkis serangan lawan yang datang bertubi-tubi. Tak ada serangan yang lolos dari tangkisannya. Bahkan, lawan dibuatnya tak berkutik, diempaskan dan dipojokkan. Datuk Janani, guru silat Momosan, memuji kepandaian Momosan dalam bersilat.
"Momosan, kau memang anak yang pandai. Biarpun kau pendatang baru dalam perguruanku ini, ternyata kau salah satu murid andalanku."
"Ah, aku merasa diriku biasa saja," kata Momosan ketika mendengar pujian gurunya.
"Kau terlalu merendahkan diri," kata Datuk Janani. "Bagaimanapun aku puas dan bangga dengan kesungguhanmu berlatih. Hanya satu yang aku pesan darimu, tetaplah rendah hati biarpun kau orang yang berilmu."
"Pesan Guru akan selalu aku ingat di mana pun aku berada," kata Momosan kepada gurunya. "Aku merasa bersyukur dan beruntung sekali mempunyai guru silat setangguh Datuk. Hanya dengan bimbingan Datuklah aku bisa seperti ini.”
Datuk Janani hanya tersenyum-senyum mendengar perkataan Momosan. Ia tahu betul sifat Momosan yang selalu tahu diri, yang suka merendahkan diri di hadapan orang tua-tua. Karena sifat Momosan itu, ia teramat sayang kepada Momosan. Momosan dianggapnya sebagai anak kandung sendiri.
![]() |
| Momosan tengah berlatih silat di bawah bimbingan guru silat yang tangguh, Datuk Janani. |
Sementara itu, Momosan mulai berangkat remaja. Ia bukan bocah cilik lagi yang suka main kejar-kejaran di halaman rumah.
Momosan kadang-kadang terkenang-kenang pada masa kanak-kanaknya. Ketika itu ia bersama teman-teman sebayanya sering main layang-layang di pematang sawah. Kini ia merasa tak mungkin lagi melakukan itu.
Kumis tipis telah tumbuh menghiasi wajah Momosan. Ia tampak semakin tampan saja. Gadis-gadis berusaha mencuri pandang kepadanya. Akan tetapi, Momosan seolah-olah tak peduli pada gadis-gadis yang mengincarnya.
Suatu hari Momosan berjalan berdua dengan adiknya yang bungsu, Neli. Gadis-gadis yang mengincar Momosan telah menunggunya di sudut jalan. Momosan yang ditunggu-tunggu akhirnya lewat juga. Ia tampak tengah berbincang-bincang dengan adiknya. Pinta, salah satu gadis yang mengincar Momosan itu, segera mencegat keduanya, kemudian menyapa Neli.
"Hai, Neli, apa kabar?" tanya Pinta seramah mungkin.
"Baik-baik saja, Kak,” jawab yang ditanya.
"Dari mana kau, Nel?"
"Dari menemani Abang di sawah," kata Neli seraya tersenyum.
Kedua gadis itu, Neli dan Pinta, akhirnya terlibat dalam sebuah obrolan panjang. Sementara itu, Momosan hanya diam seribu bahasa. Dalam hati Pinta merasa amat gemas karena sebetulnya ia sangat mengharapkan tegur sapa dari Momosan. Akan tetapi, Momosan hanya tersenyum-senyum kecil tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya adiknya saja, Neli, yang mengobrol dengan dirinya. Padahal, ia menyapa Neli sekadar sebagai pembuka jalan untuk dapat berbincang-bincang dengan Momosan. Harapannya ternyata meleset. Ia jadi salah tingkah. Teman-temannya yang menyaksikan itu semua lalu menyembunyikan wajah dan tertawa terpingkal-pingkal.
"Pinta, Kau harus pesan jimat dulu biar yang kau incar langsung nempel," celetuk salah seorang teman Pinta begitu Momosan dan adiknya berlalu dari pandangan mata. Teman-teman Pinta yang lain langsung meledak tertawanya mendengar celetukan itu. Muka Pinta merah padam mendengar temannya tertawa terbahak-bahak.
"Kalian jahat!" protes Pinta. "Orang sedang sedih malah kalian tertawakan."
"Masa kita harus ikut-ikutan sedih?" timpa salah seorang lain. "Kau juga sendiri saja mendekati Momosan."
"Ah, kau!" kata Pinta dengan muka kesal. Teman-teman Pinta tidak tega meledek Pinta lebih lanjut. Dibiarkannya Pinta hanyut dalam kekecewaannya. Bukankah lama-kelamaan Pinta akan melupakan Momosan? Demikian pikir teman-teman Pinta.
Malamnya Pinta bermimpi Momosan. Dalam mimpinya itu ia tengah bercanda dengan Momosan. Momosan membelai-belai rambutnya dengan pandangan mata sayang. Akan tetapi, alangkah kecewanya hati Pinta karena tiba-tiba ia terbangun dan didapatkannya gulingnya yang terjatuh ke lantai.
Sementara itu, pada waktu yang hampir bersaman Momosan juga memimpikan Pinta. Pinta selalu mencuri pandang dan berusaha merebut perhatiannya dalam mimpinya itu. Akan tetapi, Momosan tak meladeninya. Akhirnya berlinang air mata Pinta. Lama-kelamaan Momosan tak tega melihat keadaan Pinta yang seperti itu. Dibelainya rambut Pinta dengan pandangan sayang.
Tengah Momosan bermimpi itu, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang. Momosan terentak bangun dan mengusap-usap matanya. Dilihatnya Layar telah berdiri di hadapannya.
"Ada apa kau datang malam-malam begini?" tanya Momosan.
"Datuk Janani memanggilmu malam ini juga,” jawab Layar. "Salah seorang di kampung tetangga sedang dijarah perampok. Istrinya lalu mengadu kepada guru kita dan guru menugasi kita untuk menghadapi perampok itu."
"Kalau begitu, baiklah kita berangkat malam ini juga. Jangan biarkan penjahat itu lolos," kata Momosan bersemangat.
Malam itu juga Momosan dan Layar tiba di rumah gurunya, Datuk Janani. Di sana telah tampak siap tiga murid yang lain. Begitu melihat Momosan dan Layar datang, Datuk Janani langsung memberi petunjuk.
"Kalian belajar silat bukan semata-mata untuk membela diri, tetapi kalian juga berkewajiban melindungi dan membela mereka yang lemah dan tertindas. Oleh karena itu, malam ini kalian berlima aku tugasi untuk menghadapi perampok yang sedang menjarah rumah penduduk di kampung tetangga. Kebetulan istri orang yang dirampok itu berada di sini. Kalian antarkan orang ini kembali ke rumahnya dan kalian tundukkan penjahat itu."
"Baik, Datuk. Kami akan melaksanakan pesan Datuk sebaik-baiknya," kata Momosan mewakili teman-temanya.
Diiringi keempat temannya, Momosan berjalan berdampingan dengan perempuan yang malang itu. Sepanjang perjalanan, perempuan itu menangis terisak-isak memikirkan peristiwa malang yang baru saja dialami keluarganya. Penjahat yang menjarah rumahnya kebetulan ganas-ganas. Suaminya terluka tangannya dibabat golok penjahat. Anaknya yang dua orang pun disekap perampok itu. Untung ia bisa meloloskan diri dari keganasan penjahat.
Setelah berjalan hampir setengah jam sampailah Momosan, Layar, dan ketiga temannya di rumah penduduk yang sedang kemalangan. Momosan menyaksikan rumah penduduk itu dalam keadaan berantakan, sementara rombongan penjahat telah kabur. Melihat situasi itu, Momosan menugasi temannya untuk berjaga-jaga di rumah itu, sementara ia bersama Layar dan seorang temannya lagi mengejar penjahat yang kabur itu.
Di dekat bukit-bukit yang berhutan, Momosan menemukan rombongan penjahat yang melarikan diri. Mereka berjumlah tiga orang, berpakaian dan berikat kepala hitam-hitam. Ketiganya bersenjatakan golok. Meskipun penjahat itu semua bersenjatakan golok, Momosan, Layar, dan temannya yang seorang lagi sama sekali tidak gentar menghadapi mereka.
"Jangan coba-coba lari!" bentak Momosan.
"Anak kemarin sore jangan coba-coba menghalangi perjalanan kami!" kata salah satu dari ketiga penjahat itu dengan sorot mata bengis.
"Kami tidak akan menghalangi perjalanan kalian kalau kalian tidak berbuat yang bukan-bukan," kata Momosan dengan nada tinggi."
"Lebih baik kalian serahkan kembali harta benda yang kalian jarah tadi."
"Apa urusanmu?" kata penjahat itu menantang.
"Kami tidak akan mencampuri urusan kalian. Akan tetapi, kami tidak akan tinggal diam menyaksikan kalian merampas dengan kekerasan harta yang bukan milik dan bukan hak kalian," kata Momosan tegas.
"Tutup mulutmu! Jangan banyak mulut di tempat ini!" kata penjahat itu sambil menyerang Momosan. Golok penjahat itu berkelebat ke arah Momosan, tetapi Momosan cepat berkelit menghindari serangan mendadak itu. Penjahat itu semakin bernafsu menumbangkan Momosan, tetapi Momosan tetap tak tertundukkan. Sementara itu, dua penjahat yang lain secara berbarengan menyerang Layar dan temannya. Layar dengan temannya cepat mengelak dan menangkis serangan para penjahat itu.
Ketiga penjahat yang amat ditakuti di daerah itu merasa kewalahan menghadapi murid-murid Datuk Janani. Persenjataan golok yang mereka miliki sia-sia saja berhadapan dengan murid-murid Datuk Janani yang tangguh. Tiba-tiba saja di luar dugaan golok pemimpin penjahat itu terpental ditendang Momosan. Setelah tahu golok pemimpin penjahat itu terpental, Momosan semakin gencar melancarkan serangan untuk menaklukkan penjahat itu. Layar dan temannya pun melancarkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Akhirnya, lama-kelamaan ketiga penjahat itu tak berdaya menghadapi desakan murid-murid Datuk Janani. Mereka menyerah.
![]() |
| Momosan, Layar, dan seorang temannya lagi sedang bertarung dengan tiga orang penjahat yang bersenjatakan golok. |
"Baik! Kami menyerah," kata pemimpin penjahat itu, "tetapi jangan bunuh dan jangan siksa kami."
"Kami bukan pembunuh," kata Momosan. "Sekarang kalian serahkan kepada kami harta benda yang baru saja kalian jarah itu!"
"Baik! Akan kami serahkan sekarang juga," kata penjahat itu sambil menyerahkan hasil jarahannya.
"Karena kami telah memenuhi apa yang kau minta, sekarang izinkan kami pergi," kata salah seorang penjahat itu kepada Momosan.
"Kami tidak akan mempersulit kalian. Akan tetapi, sebelum kalian meninggalkan tempat ini kalian harus berjanji untuk tidak mengulang perbuatan kalian. Apalagi di kemudian hari kami masih memergoki kalian berbuat hal yang sama, kami bertindak lebih keras," kata Momosan dengan pandangan mata tajam.
"Kami akan mencoba melaksanakan apa yang kau minta itu," kata penjahat itu seraya mengulurkan tangan ke Momosan. Momosan, Layar, dan seorang temannya lagi bersalam-salaman dengan ketiga penjahat itu. Momosan selanjutnya membiarkan penjahat itu berlalu dari tempat itu, sementara ia bersama Layar dan seorang temannya segera bergegas ke rumah penduduk yang baru saja dijarah itu untuk menyerahkan harta benda yang berhasil direbut kembali dari tangan para penjahat.
"Biarpun penjahat, mereka manusia juga," kata Momosan dalam perjalanan. "Kita beri mereka kesempatan untuk insaf, untuk kembali ke jalan yang benar, dan berbuat baik. Siapa tahu mereka kelak lebih baik daripada kita."
"Pikiranmu luas dan bijaksana," kata Layar membenarkan kata-kata Momosan.
•••
6.
PELABUHAN HATI
"Kau benar-benar murid andalanku," kata Datuk Janani memuji Momosan begitu ia mendengar Momosan berhasil menaklukkan penjahat.
"Itu semua berkat latihan yang Datuk berikan kepadaku," kata Momosan sambil tersenyum-senyum bangga.
"Untuk sekadar membela diri seperti yang diwasiatkan almarhum ayahmu rasanya ilmu yang kau miliki sudah memadai, bahkan lebih dari cukup," kata Datuk Janani. "Sekarang terserah kepadamu, kau mau terus berguru di sini atau berhenti."
"Pelajaran-pelajaran di sekolah rasanya tambah berat," kata Momosan. "Rasanya aku harus lebih memusatkan diri pada pelajaran di sekolah apalagi tahun depan aku ujian akhir. Mungkin sekali aku terpaksa meninggalkan perguruan yang Datuk asuh ini. Lebih-lebih, seperti yang Datuk katakan tadi, aku telah memenuhi yang diwasiatkan almarhum ayahku. Biarpun demikian, kalau ada waktu luang, aku akan tetap menyempatkan diri berlatih di sini."
"Aku setuju sekali dengan yang kau kemukakan tadi. Aku akan selalu mendoakan semoga kau bisa mencapai semua yang kau cita-citakan," kata Datuk Janani.
"Terima kasih, Datuk. Aku akan selalu berusaha mengingat semua yang Datuk ajarkan dan pesankan selama aku belajar silat di sini," kata Momosan terharu.
Sejak saat itu Momosan jarang berlatih silat lagi. Ia lebih memusatkan perhatiannya pada pelajarannya di sekolah. Semua buku ia baca dan ia pelajari dengan tekun. Walaupun demikian, ia tetap tidak pernah lupa membantu ibunya mencari nafkah. Karena ketekunannya belajar itu, akhirnya Momosan berhasil lulus dari sekolahnya dengan angka-angka yang amat memuaskan. Ibunya dan guru-gurunya teramat bangga melihat kecerdasan Momosan yang cemerlang.
"Tidak sia-sia isi wasiat almarhum ayahmu itu," kata Haida kepada Momosan suatu hari. "Kau telah menjadi anak yang cerdas, berilmu, saleh, dan berbakti kepada orang tua. Kini kau tinggal melangkahkan kaki ke gelanggang kehidupan yang sesungguhnya. Mungkin di kemudian hari akan lebih banyak tantangan yang akan kau temui. Akan tetapi, aku yakin dengan bekal yang kau peroleh selama ini kau akan sanggup mengatasi semua tantangan dan kesulitan yang akan menimpamu."
"Aku akan berserah diri kepada Yang Mahakuasa dalam menghadapi masa depanku. Akan tetapi, aku percaya dengan doa restu Ibu. Semua kesulitan akan dapat aku atasi dengan mudah," kata Momosan.
"Aku akan senantiasa mendoakanmu."
"lbu, Layar kemarin mengajakku ke Deli untuk mencari pekerjaan di sana."
"Kapan kau akan berangkat?"
"Belum tahu, Bu."
"Kalau menurut pendapatku sebaiknya kau menemui Datu Porkas dulu sebelum berangkat. Kau tanyakan kepadanya kapan hari baik untuk keberangkatanmu bersama Layar. Datu Porkaslah yang meramalkan peruntunganmu waktu kau baru saja lahir. Semua yang diramalkannya waktu itu sekarang telah menjadi kenyataan. Kau menjadi anak yang baik, cerdas, lancar rezeki, seperti yang diramalkannya."
"Baik, Bu, aku akan segera menemui beliau. Besok aku akan ke tempat Datu Porkas bersama Layar.”
Keesokan harinya berdua dengan Layar, Momosan berkunjung ke rumah Datu Porkas. Di rumah Datu Porkas dilihatnya seorang tua yang berambut putih, berpipi cekung, tetapi sorot matanya masih bening dan tajam. Ingatannya pun masih tajam. Ia langsung mengenali Momosan begitu Momosan datang.
"Hai, Momosan. Kau rupanya sudah bukan bayi lagi. Hampir dua puluh tahun yang lalu kulitmu masih berwarna kemerahan dan rambutmu pun masih jarang. Kini kau telah menjadi laki-laki dewasa yang tampan dan perkasa," kata Datu Porkas.
"Ah, Datu," kata Momosan tersipu-sipu.
"Sekarang, apa maksud kedatanganmu kemari?" tanya Datu Porkas pada Momosan.
"Begini, Datu. Aku dan Layar bermaksud akan mencari pekerjaan ke Deli. Karena itu, aku berharap Datu berkenan memberikan petunjuk kepadaku kapan hari baik untukku. Maksudku, hari baik untuk mengawali semua langkahku," kata Momosan.
"Baik, kalau begitu," kata Datu Porkas sambil mengambil penanggalan yang terbuat dari tanduk kerbau yang terselip di dinding rumah. Mulut Datu Porkas mulai komat-kamit membaca mantra, sementara matanya tajam menatap penanggalan yang terbuat dari tanduk kerbau itu.
"Aku tidak akan mendahului kehendak Tuhan Yang Mahakuasa,” kata Datu Porkas memulai ramalannya, "Yang aku ramalkan ini pun belum tentu menjadi kenyataan."
"Biarpun begitu, aku akan percaya saja semua yang Datu ramalkan," kata Momosan.
"Hari baik keberangkatanmu ialah hari Senin atau Rabu. Bila kau berangkat hari Senin kau harus menunggu beberapa lama, baru kau mendapatkan pekerjaan. Sebaliknya, bila kau berangkat hari Rabu kau akan langsung mendapatkan pekerjaan. Namun, hari Rabu hari yang panas, hari yang penuh marabahaya. Jadi, bila kau berangkat hari Rabu akan ada marabahaya yang menghadangmu dalam perjalanan. Akan tetapi, kau tak perlu khawatir. kau akan dapat meredam setiap bahaya yang muncul dengan mudah."
"Baiklah, Datu," kata Momosan. "Kami akan berhati-hati dalam perjalanan nanti. Ada lagi yang akan Datu sampaikan kepadaku?"
"Setelah mendapatkan pekerjaan kau juga akan mendapatkan seorang gadis sebagai pendamping hidupmu."
"Siapa, Datu?" tanya Momosan ingin tahu.
"Gadis itu masih memiliki hubungan darah denganmu. Selama ini diam-diam hatinya telah berat kepadamu. Hanya saja ia masih malu-malu memperlihatkannya kepadamu."
"Siapa, Datu? Sungguh aku tak tahu gadis yang Datu katakan itu," kata Momosan semakin penasaran.
"Pada waktunya kau akan tahu sendiri. Aku tidak perlu memberitahukanmu sekarang," jawab Datu Porkas dengan tenang.
"Kalau begitu pendapat Datu, aku tidak akan memaksa," kata Momosan. "Kalau tidak ada yang Datu sampaikan lagi, aku akan pamit dan mengucapkan terima kasih atas semua ramalan yang Datu berikan. Kami berdua hanya bisa mohon doa restu Datu saja."
"Aku akan selalu mendoakan kalian berdua, Momosan dan Layar. Jika terjadi apa-apa atas diri kalian, aku akan membela kalian dari jauh. Percayalah!"
"Terima kasih , Datu," kata Momosan dan Layar berbarengan.
Sehabis menemui Datu Porkas, hati Momosan dan Layar bertambah mantap. Tanpa banyak membuang-buang waktu, mereka berdua segera mengurus surat-surat yang diperlukan untuk melamar pekerjaan, seperti surat keterangan berkelakuan baik dari polisi, surat pernyataan sehat jasmani dan rohani dari dokter, surat bebas utang, dan seterusnya. Mereka berdua juga tak lupa membekali diri dengan uang dan pakaian yang cukup.
Tibalah hari Rabu yang dinanti-nantikan Momosan dan Layar. Mereka telah merapikan diri, siap untuk berangkat. Di teras rumah, selain ibu dan adik-adik Momosan, tampak pula Lena dan Misnar. Lena dan Misnar adalah saudara sepupu Momosan.
Mereka semua tampak terharu karena harus berpisah dengan Momosan dan Layar. Akan tetapi, Lena agaknya yang paling sedih ketika melepas Momosan dan Layar berangkat ke Deli. Sejak pagi matanya tampak merah dan basah. Ia pun terus-menerus memandangi Momosan seakan-akan takut kehilangan Momosan. Hati Momosan bergetar menyaksikan sikap Lena pagi itu. Inikah gadis yang dikatakan Datu Porkas itu? tanya Momosan dalam hati.
Saat perpisahan pun datanglah. Momosan dan Layar melangkahkan kaki meninggalkan halaman rumah. Lena terus saja memandangi Momosan yang mulai beranjak pergi. Tiba-tiba Lena berlari kecil menyusul Momosan. Dengan mata merah dan basah diraihnya tangan Momosan, kemudian diciumnya.
"Bang," kata Lena, "jangan lupa berkirim surat kepadaku sesampaimu di Deli nanti."
Momosan hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum terharu ketika mendengar permintaan adik sepupunya itu. Kemudian dilepaskannya pegangan tangan Lena.
"Sudahlah," kata Momosan pada Lena. "Aku pergi dulu sekarang. Nanti, sesampai di Deli aku akan berkirim surat kepadamu."
![]() |
| Lena dengan mata basah melepas Momosan yang berangkat ke Deli. |
Lena dengan mata masih basah memandangi sosok tubuh Momosan yang beranjak pergi. Perlahan-lahan tubuh Momosan dan Layar lenyap ditelan bukit dan pepohonan. Seharian itu perasaan Lena menjadi gundah. Sia-sia saja permintaan Haida kepada keponakannya itu untuk makan yang kenyang. Lena hanya makan beberapa suap nasi. Itu pun sekadar untuk tidak mengecewakan bibinya.
Haida diam-diam geleng-geleng kepala. "Dasar anak muda! Tadinya malu-malu, akhirnya kelabakan," kata Haida dalam hati sembari mengenang masa remajanya. Sementara itu, Momosan dan Layar tengah melintasi hutan lebat. Mereka berdua berjaga-jaga kalau-kalau ada gangguan binatang buas yang berkeliaran di hutan. Di ujung jalan setapak di pinggiran hutan tiba-tiba Momosan melihat seorang yang tinggi besar, berkumis lebat, dan berikat kepala hitam-hitam, menghadang perjalanannya.
"Berhentilah kalian!" hardik orang itu. "Serahkan semua uang yang kalian bawa!’
"Memang ini uang siapa? Uang nenek kau?" kata Momosan tak mau menyerah.
"Berengsek juga ini anak!” kata orang itu yang agaknya perampok sambil bergerak menikamkan pisau belatinya.
Momosan tak gentar menghadapi serangan itu. Dengan sekali tendang, ia berhasil mementalkan belati yang dipegang perampok itu. Penjahat itu yang tak mengira akan mendapatkan perlawanan yang jitu menjadi terperangah. Ia menjadi kaget dan gugup. Belum lagi gugupnya reda, Momosan telah menyerangnya kembali dan menyarangkan tendangan ke perutnya. Penjahat itu keok dan meringis kesakitan.
"Ampun!” kata penjahat itu meminta belas kasihan.
"Sekali ini aku berbaik hati mengampuni kejahatanmu," kata Momosan. "Akan tetapi, di kemudian hari apabila kau masih melakukan kejahatan ini lagi kau akan jadi bangkai."
Penjahat itu mengangguk-angguk ketakutan mendengar ancaman Momosan. Sementara itu, Momosan dan Layar cepat-cepat beranjak dari tempat itu karena hari telah menjelang malam.
"Tepat apa yang diramalkan Datu Porkas," kata Layar dalam perjalanan.
"Tidak hanya kejadian baru saja yang menjadi kenyataan. Perasaanku juga mengatakan jangan-jangan Lena gadis yang dimaksudkan Datu Porkas. Bagaimana kalau menurut pendapatmu?" kata Momosan.
"Melihat sikapnya terhadapmu ketika kita akan berangkat, mungkin sekali Lena itulah gadis yang dikatakan Datu Porkas dalam ramalannya."
"Aku pun berharap mudah-mudahan Lenalah gadis itu."
"Ah, kau! Diam-diam kau suka juga kepadanya," kata Layar.
"Bukankah dia seorang gadis yang baik hati? Ia sering membantu ibuku. Ia pun baik terhadap adik-adikku," kata Momosan.
Sepuluh hari berjalan kaki melintasi hutan, semak belukar, bukit, sungai, dan sawah, akhirnya sampai juga Momosan dan Layar di Deli. Mereka berdua segera menuju rumah Padumpang, salah seorang paman Momosan. Keduanya terheran-heran melihat rumah Padumpang yang indah dan bagus. Bangunannya tampak kokoh dan membuat betah. Di halaman rumah pun ada taman yang tertata rapi, ditumbuhi cemara dan beberapa jenis bunga. Beberapa ekor anak kucing bermain kejar-kejaran di sudut halaman rumah.
"Kebetulan sekali kalian datang," kata Padumpang menyambut kedatangan keponakannya.
"Baru sempat sekarang, Paman," kata Momosan.
"Beberapa bulan ini di bank tempatku bekerja kebetulan ada pegawai yang pensiun sehingga memerlukan pegawai baru. Aku akan mengusulkan kau diterima di tempatku bekerja, sedangkan Layar bisa melamar ke perusahaan kontraktor karena di sana kabarnya juga memerlukan pegawai," kata Padumpang kepada Momosan dan Layar.
"Sungguh kami tak mengira," kata Momosan girang. "Kami bermaksud datang ke sini untuk mencari pekerjaan. Tahu-tahu pekerjaan telah tersedia. Sungguh kami tak menyangka.”
"Nasibmu saja yang baik."
Keesokan harinya—dengan diantar Padumpang—Momosan dan Layar segera mengajukan lamaran bekerja ke bank dan perusahaan kontraktor. Tanpa banyak kesulitan keduanya langsung diterima. Momosan di bank dan Layar di perusahaan kontraktor.
Sebagai pegawai baru, Momosan dan Layar berusaha menunjukkkan prestasi semaksimal mungkin. Keduanya bekerja tanpa mengenal waktu. Karena kepintaran dan keterampilan keduanya, Momosan dan Layar dengan cepat naik pangkat. Gajinya pun naik. Penghasilan mereka yang besar itu mereka tabung. Sebulan sekali Momosan tak lupa mengirim wesel kepada ibunya untuk membiayai kedua adiknya yang masih sekolah. Ia pun tak lupa mengirim surat kepada Lena yang selalu merindukannya.
Sejak Momosan berada di Deli, hubungannya dengan Lena semakin akrab saja. Haida pun menangkap gelagat itu. Ia tak berkeberatan anaknya berhubungan dengan Lena. Ia malahan sengaja memberi angin kepada keduanya. Lena pun tak malu-malu lagi memperlihatkan perasaannya terhadap Momosan.
Momosan tak tahan lagi menunda-nunda. Ia merasa tabungannya telah cukup untuk berumah tangga. Ia pun merasakan betapa sepinya hidup seorang diri tanpa pendamping. Entah mengapa, tiba-tiba saja Momosan mendambakan seorang gadis yang setia, baik hati, penuh pengertian, dan bisa menampung suka dukanya dalam hidup. Ia merasa Lenalah gadis yang didambakannya itu. Tanpa menunda-nunda waktu lagi, ia langsung berkirim surat kepada ibunya meminta ibunya meminang Lena.
Haida amat bahagia ketika menerima surat Momosan. Tanpa berpikir panjang lagi ia langsung memenuhi permintaan Momosan. Hati Haida berbunga-bunga karena anaknya telah menemukan pelabuhan hati yang tepat. Momosan yang selama ini berjuang seorang diri menggantikan almarhum ayahnya, menanggung suka duka hidupnya seorang diri, kini telah menemukan tempat persinggahannya. Kelelahan menghadapi hidup yang dulu tak pernah dirasakannya, kini semakin tak dirasakannya karena di sisinya ada seorang pendamping yang setia, yang senantiasa mengobarkan semangat hidupnya.











Komentar
Posting Komentar