PANJI YANG PERKASA




KATA PENGANTAR

Usaha pelestarian sastra daerah perlu dilakukan karena di dalam sastra daerah terkandung warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang sangat tinggi nilainya. Upaya pelestarian itu bukan hanya akan memperluas wawasan kita terhadap sastra dan budaya masyarakat daerah yang bersangkutan, melainkan juga akan memperkaya khazanah sastra dan budaya Indonesia. Dengan kata lain, upaya yang dilakukan itu dapat dipandang sebagai dialog antarbudaya dan antardaerah yang memungkinkan sastra daerah berfungsi sebagai salah satu alat bantu dalam usaha mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan.

Sehubungan dengan itu, sangat tepat kiranya usaha Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta dalam menerbitkan buku sastra anak-anak yang bersumber pada sastra daerah. Cerita yang dapat membangkitkan kreativitas atau yang mengandung nilai, jiwa, dan semangat kepahlawanan perlu dibaca dan diketahui secara meluas oleh anak-anak agar mereka dapat menjadikannya sebagai sesuatu yang patut diteladani.

Buku Panji Yang Perkasa ini bersumber pada terbitan Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 1979 yaitu terbitan dengan judul Panji Sekar yang dikarang oleh Sunan Pakubuwono IV dalam bahasa Jawa.

Kepada Dr. Nafron Hasjim, Pemimpin Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta tahun 1993/1994, beserta stafnya (Drs. Farid Hadi, Sdr. Suwanda, Sdr. Endang Bachtiar, Sdr. Sujatmo, dan Sdr. Ciptodigiyarto) saya ucapkan terima kasih atas penyiapan naskah buku ini. Ucapan terima kasih saya tujukan pula kepada Dra. Hartini Supadi, sebagai penyunting dan Sdr. Waslan Sanjaya sebagai ilustrator buku ini.


Jakarta, Januari 1994


Kepala Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa




Dr. Hasan Alwi

•••

1.
SURAT RAJA BRAMA KUMARA

Zaman dahulu di tanah Jawa hidup empat orang raja, yaitu Raja Jenggala, Raja Daha, Raja Ngurawan, dan Raja Singasari. Keempat raja tersebut hidup rukun berdampingan dan bersatu padu dalam menghadapi musuh yang datang menyerang. Keempatnya juga terkenal gagah perkasa dalam peperangan sehingga musuh yang akan menyerang menjadi segan. Di samping disegani lawan-lawannya, keempat raja itu juga memiliki wibawa yang tinggi di mata rakyat. Rakyat keempat kerajaan itu mengabdi sepenuh hati dengan tulus, bahkan tidak segan-segan mengorbankan nyawa demi kejayaan raja yang mereka segani itu.

Konon, keempat raja itu—selain memiliki harta yang melimpah ruah—kaya pula akan istri. Wanita-wanita di pelosok kerajaan memimpikan menjadi istri raja yang gagah perkasa di medan laga. Keperkasaan keempat raja itu ditunjang oleh angkatan perang yang kuat, angkatan perang yang tentaranya terlatih baik dan teruji dalam berbagai medan pertempuran.

Salah seorang dari keempat raja itu, yaitu Raja Jenggala yang bernama Lembu Amiluhur, berbesanan dengan raja Kediri yang bernama Lembu Amijaya. Putra Lembu Amiluhur bernama Panji, sedangkan putri Lembu Amijaya bernama Candra Kirana dan dikenal pula dengan nama Retna Sekartaji. Setelah Panji dan Sekar menikah, keduanya mendirikan sebuah kota yang bersebelahan dengan Kerajaan Kediri dan bernama Pandhak. Di kota Pandhak Panji memiliki bala tentara dalam jumlah cukup besar.

Pada suatu hari terjadi sesuatu yang luar biasa di istana Kerajaan Kediri. Para hulubalang yang dipimpin oleh Patih Jayabadra berdatangan menghadap Raja, demikian pula putra-putra raja, yaitu Panji, Arya Brajanata, Arya Wukirsari, Wirun, Andaga, dan Kartala. Istana pun penuh hiasan dan semua yang hadir berpakaian indah-indah.

Hari itu Raja Kediri akan menemui utusan Raja Bramakumara dari Kerajaan Makassar. Raja Bramakumara mengutus patihnya yang bernama Patih Guna Saronta, yang terkenal sakti dan gagah berani di medan laga. Kedatangan Patih Guna Saronta disertai pasukan sebanyak delapan ribu orang yang dipersenjatai lengkap dan dipimpin oleh empat orang daeng sebagai panglimanya. Maksud Raja Bramakumara mengutus Patih Guna Saronta dan pasukannya adalah untuk menundukkan Panji yang telah tersohor keberanian dan kesaktiannya. Apabila Panji berhasil ditundukkan, maka kerajaan Kediri dan kerajaan-kerajaan di sekitarnya akan dikuasai, demikian angan-angan Raja Bramakumara. Ia pun mengincar istri Panji yang muda dan jelita.

Sementara itu, Patih Guna Saronta telah menghadap Raja Kediri. Setelah menyembah dan memberikan hormat, ia menyampaikan surat Raja Bramakumara kepada Raja Kediri. Dengan hati penasaran Raja Kediri membaca surat itu:

"Surat hamba dari Makassar ini menemui Raja Kediri yang berkedudukan di Daha. Hamba ingin menyampaikan kepada Raja yang mulia dan agung bahwa hamba ingin menyatakan perang terhadap putra Paduka, yaitu Panji, yang dahulu telah menewaskan saudara hamba, Raja Nusa Kencana, dalam suatu peperangan. Kini saatnya hamba menuntut balas atas kematian saudara hamba itu. Apabila Panji takut kepada hamba, Paduka perintahkan kepadanya untuk menyerahkan diri pada hamba beserta seluruh istri, pasukan, dan harta kekayaannya. Hamba berharap Paduka berlapang dada menerima kenyataan ini. Dan hamba pun berharap Paduka tidak ikut campur dalam masalah ini. Mudah-mudahan Paduka berkenan menyampaikan keinginan hamba ini kepada putra Paduka."

Seusai membaca surat Raja Bramakumara, Raja Kediri langsung memberikan surat itu kepada Panji. Panji tertegun membaca surat Raja Makassar itu. Akan tetapi, ia segera memerintahkan menulis surat balasan untuk Raja Bramakumara. Surat balasan kemudian diserahkan kepada Patih Guna Saronta untuk disampaikan kepada Raja Bramakumara. Begitu menerima surat balasan, Patih Guna Saronta segera beranjak dan langsung terbang melejit ke langit. Para hulubalang Kediri yang menyaksikan Patih Guna Saronta terbang melejit ke langit berdecak-decak kagum. "Yang baru saja menghadap Raja, manusia atau burung?” komentar mereka.

Begitu menerima surat balasan dari Panji, Patih Guna Saronta segera melejit ke langit. Kemudian ia melangkah di antara gumpalan awan.


Sementara itu, Patih Guna Saronta dengan tenang melangkah di antara gumpalan awan. 

Menyaksikan keterampilan Patih Guna Saronta terbang di angkasa itu, hati Panji tidak menjadi ciut. "Itu 'kan hanya keterampilan maling untuk melarikan diri," kata Panji dalam hati. Tekad Panji pun semakin tumbuh untuk menumbangkan lawannya nanti, yang belum apa-apa telah unjuk gigi memamerkan kemampuannya terbang di angkasa.

Begitu Patih Guna Saronta lenyap dari pandangan mata, Panji berbincang-bincang dengan ayahnya merencanakan peperangan sematang mungkin. “Ayahanda penuhi saja permintaan Kerajaan Makassar untuk tidak turun tangan dalam peperangan nanti. Lagi pula, hamba cukup mampu mengatasi lawan yang hanya seperti itu,” kata Panji kepada ayahnya.

"Aku tidak ragu lagi akan kemampuanmu mengatasi lawan. Aku percaya, lawan yang telah terkenal kuat dan sakti itu tidak akan menggoyahkan nyalimu nanti," kata Raja Kediri kepada Panji.

Sementara itu, Patih kerajaan memerintahkan para prajurit untuk mempersiapkan diri menyongsong peperangan. Jadwal latihan diperketat, izin cuti bagi para prajurit dicabut, senjata-senjata diasah, para prajurit yang baru menikah dilarang berbulan madu. Pendeknya, segala daya dimanfaatkan habis-habisan untuk memenangkan peperangan.

Di luar istana Retna Sekartaji diserang rasa gelisah yang memuncak. Panji yang ditunggu-tunggunya masih terlibat perbincangan serius di dalam istana. Retna Sekartaji bersama-sama selir-selir Panji yang lain dengan mata nanap memandangi matahari yang bergeser ke tengah. Terik matahari telah terasa menyengat. Akhirnya Panji yang ditunggu-tunggu keluar dari istana dengan muka sedikit kuyu. "Hampir saja aku tak sabar menunggu Kakanda," kata Retna Sekartaji pada Panji.

"Ada masalah gawat yang aku bicarakan dengan Ayahanda Raja," kata Panji. "Ayahanda Raja baru saja menemui utusan Raja Bramakumara dari Makassar. Surat yang dibawa utusan itu memaksa aku tunduk pada Raja Bramakumara. Raja Bramakumara akan menuntut balas karena aku pernah menewaskan kerabatnya, yaitu Raja Nusa Kencana. Apabila Raja Bramakumara berhasil menundukkanku, aku akan dipaksanya untuk menyerahkan dirimu dan para istriku yang lain.”

"Malapetaka semacam itu yang akan aku alami?" seru Retna Sekartaji tertegun.

"Ya," kata Panji lirih. "Namun, aku akan berusaha mati-matian agar malapetaka itu tidak akan pernah menimpa dirimu."

"Aku pun akan berusaha menghindarkan diri dari incaran raja angkara murka itu," ujar Retna Sekartaji.

“Biarpun aku berusaha melindungimu habis-habisan, kau harus berusaha mempertahankan dirimu dari jamahan tangan raja jahanam itu," kata Panji melanjutkan.

“Raja jahanam itu tak mungkin menjamah tubuhku," kata Retna Sekartaji lirih.

Sementara itu, Surengrana, salah seorang selir Panji yang menyaksikan kegelisahan Panji akan keselamatan Retna Sekartaji segera menimpali: "Seandainya Paduka memperkenankan, hambalah yang akan maju ke medan laga untuk meladeni pernyataan perang Raja Makassar. Nyawa Raja Makassar yang sesumbar itu akan hamba susulkan pada saudaranya yang lebih dahulu mati."

"Jangan kau berkata begitu. Raja Makassar tidak bisa diremehkan. Ia terkenal kuat dan sakti. Cukup banyak lawan yang tumbang di tangannya. Lebih baik kita mohon perlindungan kepada dewa saja,” kata Panji menasihati.

Karena sedari pagi belum makan, Retna Sekartaji akhirnya merasa kelaparan. Ia mengajak Panji bersantap. Hari pun makin gelap karena matahari telah membenamkan dirinya di langit barat. Retna Sekartaji pun telah membenamkan wajahnya di dada Panji. Dengan penuh sayang Panji mengusap-usap muka Retna Sekartaji.

"Tak terbayangkan Paduka seandainya aku kehilangan dirimu yang jelita," bisik Panji dalam kegelapan malam.

"Ah, Kakanda. Kakanda bisa saja berkata begitu. Bukankah masih banyak wanita lain di hati Kakanda?”kata Retna Sekartaji.

"Tetapi, kaulah wanita utama dalam hidupku," kata Panji. "Kaulah satu-satunya wanita yang menyita perasaanku."

"Kakanda, aku akan senantiasa mendampingi Kakanda. Tidak ada satu pun yang mungkin memisahkan kita. Akan tetapi, Kakanda, berhati-hatilah. Semalam aku bermimpi. Dalam mimpiku itu aku mendapat isyarat tentang marabahaya yang akan datang menimpa kita. Oleh karena itu, aku mengharapkan Kakanda lebih berhati-hati dalam menentukan langkah Kakanda," kata Retna Sekartaji kepada Panji.

"Aku akan selalu mengingat pesanmu itu,” kata Panji membesarkan hati Retna Sekartaji.

•••

2.
PANJI MENYONGSONG MUSUH

Siang malam anak buah Panji sibuk mempersiapkan perang yang telah membayang di pelupuk mata. Serdadu-serdadu terbaik dipanggil dari seluruh pelosok, senjata-senjata andalan dikeluarkan dari gudang, tokoh-tokoh sakti dikumpulkan.

Di tengah persiapan perang itu suatu hari Retna Sekartaji mengidam. Ia mengidamkan buah ketan. Katanya pada Panji, "Semalam aku bermimpi. Dalam mimpiku itu sayup-sayup terdengar suara yang memerintah padaku. Katanya, ‘Hai, Sekar Taji. Percayalah kata-kataku ini. Makanlah buah ketan tanamanku, yang dari dahulu kala tak seorang pun mengetahuinya. Manusia tak boleh memakannya, hanya para bidadari dan dewa-dewa saja yang diperkenankan memakannya. Adapun buah ketan itu rasanya tiada tara, tak tertandingi oleh jenis makanan apa pun, manis, harum, lezat, segar. Bila kau memakannya hatimu akan merasa sejuk, jauh dari segala gejolak hati. Semua penyakit yang barang kali menimpamu juga akan lenyap. Lagi pula, buah ketan itu berwarna indah bagaikan intan permata, dan bunga-bunganya berwarna merah jingga di sela-sela warna kuning. Kalau kau makan buah ketan itu, semua yang kau ingini akan terkabul. Putra yang kau kandung sekarang ini akan menjadi seorang anak laki-laki yang amat tampan dan pemberani dalam medan laga. Kelak ia pun akan menjadi seorang raja yang utama dan perkasa.’ Demikian, Kakanda, pesan yang aku dengar dalam mimpiku semalam."

"Aku akan berusaha mendapatkan apa yang dipesankan dalam mimpimu itu," kata Panji.

"Tak usahlah, Kakanda," kata Retna Sekartaji. "Bukankah Kakanda sibuk mempersiapkan perang menyongsong musuh yang akan datang menyerang?"

"Tidak apa-apa. Aku cukup siap menghadapi musuh. Lagi pula para prajurit di kerajaan ini telah siap menghadapi perang.”

"Kenapa Kakanda demikian mementingkan diriku ini?" tanya Retna Sekartaji.

"Karena aku sayang kamu. Aku tak ingin mengecewakan hatimu. Apalagi mimpimu itu merupakan pesan dewa. Kakek kita dulu pernah bertapa dengan permohonan menjadi raja. Kakek kita telah diberi tahu letak Taman Sari tempat buah ketan itu terdapat. Tempatnya indah seperti taman di surga. Semuanya berhiaskan emas dan di mana-mana berserakan bunga dan buah. Matahari bersinar lembut di sana, tak pernah menyengat. Udara selalu sejuk, tak panas, tak dingin. Di sana pun tak ada rasa lapar, dahaga, sakit dan sepi. Hanya kebahagiaan dan kedamaian terdapat di sana. Akan tetapi, tidak sembarang orang boleh menginjakkan kaki di sana."

"Mudah-mudahan Kakanda berhasil mencapai tempat itu," kata Retna Sekartaji membesarkan hati Panji.

Keesokan harinya, ketika matahari samar-samar mulai menampakkan dirinya, berangkatlah Panji diiringi dua orang pengawalnya, Bancak dan Dhoyok. Retna Sekartaji memeluk Panji erat-erat seakan-akan takut kehilangan Panji yang amat dicintainya.

Angin semilir mengantar keberangkatan Panji. Langit tampak bersih dan cerah. Embun pagi masih menempel di daun-daun. Kokok ayam masih terdengar sesekali pula kawanan burung terbang melintas.

Di tengah-tengah perjalanan mencari buah ketan itu, tiba-tiba melintas burung layang-layang dan burung merak. Suara kedua burung itu seperti mengingatkan Panji, "Hai, Panji. Hasratmu mendapatkan permintaan wanita yang kau sayangi akan berakibat surutnya cita-citamu. Oleh karena itu, berhati-hatilah!"

Panji terperangah mendengar peringatan itu. Hatinya menjadi ciut. Di pelupuk matanya membayang bencana yang mungkin datang. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi waswas. Akan tetapi, ia tetap saja meneruskan langkahnya. Sekonyong-konyong pandangan matanya tertumbuk pada rumput lalang yang bergerak-gerak. Ia menduga pasti ada manusia di balik rumput lalang yang menjulang tinggi itu. Dugaan Panji ternyata benar. Seseorang mendadak muncul dari balik lalang dengan menyandang senjata. Bancak dan Dhoyok yang telah siaga di belakang Panji segera membekuk orang itu.

"Hai, monyet!" gertak Dhoyok, "bila kau masih ingin hidup, tunjukkan segera di mana pemimpinmu bersembunyi!"

"Aku ... aku tak punya pemimpin," kata orang itu berbata-bata.

"Kalau kau tak punya pemimpin, jelaskan dari mana kau berasal!” ancam Dhoyok sambil menempelkan kerisnya ke dada orang itu.

"Aku dari sekitar sini saja," jawab orang itu.

"Bohong!" kata Dhoyok sambil menampar.

"Baiklah. Aku berterus terang padamu. Aku dari Makassar," jawab orang itu ketakutan.

"Nah, sekarang tunjukkan di mana komplotanmu bersembunyi?" desak Dhoyok.

Sebelum orang itu sempat menjawab, Panji yang sedari tadi telah mengitari sekitar tempat itu segera berseru, “Dhoyok, tak usah kau tanya lagi monyet itu! Aku telah menemukan tempat persembunyian mereka."

Dhoyok dan Bancak yang mendengar suara Panji segera memberesi tawanan itu dan bergegas ke arah Panji. Mereka berdua menyaksikan Panji tengah mengamati tenda-tenda musuh yang bertebaran di kejauhan. Musuh tampak bergerombol di sana-sini. Bendera musuh berkibaran di mana-mana. Persenjataan musuh—yang belum sempat digunakan—bergeletakan di mana-mana. Akan tetapi, hati Panji tak gentar sedikit pun melihat musuh yang datang menyerbu bagai gelombang badai, rasa percaya diri Panji belum tumbang Oleh kehadiran musuh yang banyaknya beribu kali.

Panji tengah memerhatikan tenda-tenda musuh yang bertebaran di kejauhan.



Dengan langkah mantap diiringi Dhoyok dan Bancak, Panji mendatangi tempat musuh bergerombol. Musuh yang tengah bersantai-santai menjadi terperanjat melihat kehadiran Panji tak terduga. Dengan tergopoh-gopoh mereka merenggut senjata masing-masing yang bergeletakan.

"Jangan beri kesempatan lolos!" kata salah seorang di antara musuh memberi komando.

"Mana mungkin lolos! Bukankah mereka bertiga datang ke sini untuk menyerahkan nyawa karena sudah bosan hidup?" kata yang lain menimpali.

"Jangan banyak mulut!” kata Panji berang. "Sesumbar kalian tak ada gunanya di tanganku."

Dengan tak banyak membuang kesempatan, Panji segera menerjang barisan musuh. Belasan orang langsung tumbang seketika. Namun, ratusan orang yang lain tetap nekat bertahan. Akan tetapi, kenekatan mereka sia-sia saja. Satu per satu mereka tumbang tanpa sempat memberikan perlawanan.

Melihat situasi yang tidak menguntungkan, sebagian di antara musuh yang selamat mencoba melarikan diri.

"Jangan lari!” teriak salah seorang pemimpin musuh. "Kalian jauh-jauh dikirim ke sini bukan untuk piknik, tetapi untuk menghabisi Panji!"

"Jangan buang-buang waktu dengan mengoceh tak keruan,” kata Panji sambil menggebrak orang yang baru saja bicara itu. Orang itu langsung roboh seketika.

Melihat pemimpinnya roboh, barisan musuh yang tersisa kontan melarikan diri. Panji membiarkan mereka berlalu. Akan tetapi, beberapa orang di antara mereka tumbang oleh serangan Dhoyok dan Bancak yang tak membiarkan mereka berlalu begitu saja.

"Biarkan mereka lolos dari kematian. Bukankah mereka sekadar melaksanakan perintah raja mereka? Yang perlu kita beresi adalah raja mereka yang memerintahkan penyerbuan ini," kata Panji berusaha menenangkan Dhoyok dan Bancak.

"Akan tetapi, mereka perlu juga diberi pelajaran," kata Bancak.

Sementara itu, langit berwarna kelabu seakan-akan ikut berkabung terhadap korban-korban yang berjatuhan. Gerimis pun jatuh rintik-rintik memperkelam suasana. Bau amis darah menusuk-nusuk hidung. Sekawanan burung gagak sesekali melintas.

Panji diiringi Bancak dan Dhoyok segera beranjak meninggalkan tempat itu. Baru saja Panji berjalan beberapa puluh langkah pasukan Makassar yang tadi bergerak mundur tiba-tiba telah menghadang kembali.

“Barangkali masih ada nyawa yang perlu kalian setor pada kami," kata Panji mengejek.

"Jangan sesumbar dulu! Kini giliran untuk setor nyawa atau barangkali kau punya nyawa serep?" kata Daeng Makincing, salah seorang pemimpin pasukan Makassar, balas mengejek. Sehabis berkata begitu Daeng Makincing langsung menikamkan kerisnya ke arah Panji.

Di luar dugaan Daeng Makincing, Panji ternyata lolos dari tikaman keris, bahkan Panji berhasil merebut keris yang akan ditikamkan ke arah dirinya itu.

“Keris ini memang pantas untuk mengantarmu ke akhirat," kata Panji sambil secepat kilat menikamkan keris itu ke tubuh Daeng Makincing. Keris menembus perut Daeng Makincing dan Daeng Makincing menggelepar tewas.

Melihat rekannya tewas, Daeng Batobara segera memberikan komando: "Serbu saja Panji keparat ini! Jangan biarkan dia hidup!"

Pasukan Makassar yang jumlahnya empat ratus orang dengan serentak menembakkan panah ke tubuh Panji. Biarpun panah jatuh serentak mengenai tubuh Panji bagai hujan panah, tetapi Panji tetap saja bergeming. Panah-panah yang mengenai tubuh Panji bermentalan dan sebagian berbalik mengenai para penyerang sehingga pasukan Makassar kalang kabut.

Tiba-tiba saja Panji berbalik menyerang. Panah-panah yang dilepaskan Panji menyambar musuh bagai kilat. Puluhan pasukan Makassar tewas seketika tersambar panah Panji. Namun, ratusan yang lain tetap nekat mengepung dan menyerang Panji. Akan tetapi, dalam tempo singkat para penyerang itu terkapar menjadi mayat.

Daeng Batobara yang menyaksikan anak buahnya tewas berkaparan lalu naik pitam. Katanya kepada Panji. "Percuma saja kesaktianmu itu apabila hanya melawan anak buahku. Karena itu, sekarang lebih baik kita mengadu kekuatan satu lawan satu."

"Kau belum pantas mengadu kekuatan satu lawan satu dengan diriku. Kau pun belum tentu bisa menundukkan Dhoyok sekarang ini. Sebelum berhadapan dengan diriku, lebih baik kau mencoba lawan Dhoyok dulu," kata Panji.

Tanpa menunggu komando lebih lanjut Dhoyok segera menerjang Daeng Batobara. Daeng Batobara yang tidak menduga serangan mendadak itu jatuh terjungkal. Dhoyok segera menginjak-injak dada Daeng Batobara. Daeng Batobara mengaduh kesakitan dan menggelepar-gelepar berusaha meloloskan diri. Dhoyok akhirnya jatuh tergelepar terlempar karena dorongan Batobara. Begitu Dhoyok terjatuh Daeng Batobara langsung mencabut kerisnya akan menikam Dhoyok. Akan tetapi, Panji yang sedari tadi waspada segera melindungi Dhoyok. Ditikamkannya keris ke tubuh Daeng Batobara dan Daeng Batobara pun tak berkutik lagi.

Melihat Daeng Batobara tewas di tangan Panji, Daeng Malobah marah bukan kepalang. Dibunyikannya gong sebagai perintah untuk mengepung dan menghabisi Panji. Dalam tempo singkat pasukan cadangan yang berjumlah delapan ribu orang bergerak mengepung Panji.

Menghadapi lawan yang beribu-ribu jumlahnya itu, Panji tetap tenang dan bergeming. Panji segera menarik kerisnya dan barang siapa mendekati dengan seketika akan terkena tikam. Puluhan orang bergeletakan terkena tikam keris Panji. Akan tetapi, para penyerang itu tak kunjung menyerah. Dengan membabi buta mereka menerjang Panji. Panji dengan lincah berkelit menghindar dari semua serangan. Ia meloncat ke sana kemari meloloskan diri dari senjata-senjata yang menyerang mengancam nyawanya.

Sementara itu, Bancak juga tak luput dari keroyokan para penyerang. Bancak diserang, diterjang, ditikam, dipukuli ramai-ramai. Akan tetapi, Bancak bagaikan belut yang dengan mudah lolos dari sergapan. Para penyerang itu malahan kalang kabut merasakan serangan balasan Bancak. Serangan balasan Bancak sering tak terduga arah datangnya sehingga para penyerang itu seperti berhadapan dengan setan.

Lama-kelamaan para penyerang kewalahan meladeni serangan Bancak. Satu per satu mereka melarikan diri. Daeng Malobah menyaksikan anak buahnya berlarian mengundurkan diri dari medan laga menjadi naik darah. Katanya dengan muka merah padam, "Kalian ternyata tak beda jauh dengan kucing-kucing jalanan yang lari ketakutan melihat seekor anjing kurap lewat!"

Sehabis dimaki Daeng Malobah pasukan yang tadi bergerak mundur kembali maju menyerang. Namun, serangan mereka sia-sia. Mereka seperti menyerahkan nyawa saja karena mereka segera kandas di tangan Bancak. Ratusan dan ribuan yang lain juga terkapar di tangan Panji. Daeng Malobah yang menyaksikan pasukannya berkaparan di tangan Panji dan dua orang pengikutnya segera turun tangan. Tanpa banyak bicara ia langsung menghunus pedangnya dan disabetkan ke arah Panji. Akan tetapi, Panji yang sedari tadi telah bersiap menghadapi Daeng Malobah lebih cepat menembakkan anak panahnya. Daeng Malobah roboh terguling terkena panah Panji.

Daeng Batokawis terperangah menyaksikan Daeng Malobah yang terkenal sakti itu roboh. Ia cepat-cepat menembakkan anak panahnya ke tubuh Panji. Akan tetapi, sebelum anak panah itu mengenai tubuh Panji anak panah itu telah tersambar anak panah berapi yang ditembakkan Panji. Anak panah berapi yang lain yang ditembakkan Panji dengan tepat menyambar tubuh Daeng Batokawis sehinggga ia roboh dengan tubuh hangus terbakar.

Sementara itu, puluhan anak panah berapi yang lain yang dilepaskan Panji berubah menjadi kobaran api yang menyambar-nyambar ke sana kemari menghanguskan tubuh para penyerang. Mereka bergelimpangan mati atau luka parah. Sementara yang lain, yang lolos dari sergapan api kalang kabut menyelamatkan diri.

Panji menembakkan anak panah berapi, yang begitu ditembakkan berubah menjadi kobaran api yang menyambar-nyambar.


“Tak ada gunanya kita mati konyol menghadapi badak sarap yang lagi mata gelap," kata salah seorang yang lari menyelamatkan diri.

•••

3.
MATA-MATA MUSUH

Sementara pasukan Makassar bersembunyi di hutan—yang akhirnya porak-poranda karena Panji memergoki tempat persembunyian mereka—diam-diam Patih Guna Saronta menyelinap ke dalam istana Panji. Dia mengamat-amati situasi sekitar istana Panji yang menjadi musuhnya. Segala gerak-gerik Panji tak luput dari pengamatannya. Siang malam ia selalu mengikuti ke mana pun Panji pergi.

Hati Patih Guna Saronta menjadi masygul menyaksikan kehancuran pasukan Makassar. Pasukan Makassar yang jumlahnya begitu besar dan dipimpin oleh empat orang Daeng yang sakti ternyata bisa dikalahkan oleh Panji yang hanya didampingi dua orang pengikut. Masa tiga orang saja tak bisa ditundukkan oleh pasukan Makassar yang jumlahnya hampir seribu orang, demikian pikir Patih Guna Saronta penasaran.

Api dendam membara dalam hati Patih Guna Saronta melihat mayat-mayat pasukan Makassar bergelimpangan. Rasanya ia ingin sekali berperang tanding melawan Panji. Akan tetapi, ia segera sadar bahwa ia diutus Raja Bramakumara untuk mengetahui situasi musuh. Ia harus segera memberikan laporan situasi kepada Raja Makassar.

Oleh karena itu, tanpa membuang waktu lagi ia segera terbang menuju Kerajaan Makassar.

Raja Bramakumara yang tengah bercengkrama dengan istri-istrinya tiba-tiba melihat kehadiran Patih Guna Saronta di angkasa. Ia segera melambaikan tangannya ke arah Patih Guna Saronta. Setelah menjejakkan kakinya di tanah, Patih Guna Saronta segera memberikan laporannya.

"Pasukan penyerang yang kita kirim untuk menaklukkan Panji ternyata sia-sia saja. Mereka porak-poranda diterjang Panji yang hanya didampingi dua orang pengawal. Empat orang Daeng yang pernah berjasa memperluas wilayah kerajaan kita juga tak mampu membendung Panji," kata Patih Guna Saronta melapor.

"Kalau begitu, menurut pendapatmu, patutkah Panji melawan aku?" tanya Raja Bramakumara.

"Paduka sangat patut berperang melawan Panji,” kata Patih Guna Saronta seketika. "Hamba rasa hanya Paduka yang mampu menundukkan Panji."

"Kau yakin dengan perkataanmu?" tanya Raja Bramakumara.

Hamba merasa teramat yakin. Kalau hamba tidak yakin, buat apa hamba menyarankan Paduka melawan Panji?" kata Patih Guna Saronta berupanya meyakinkan rajanya.

"Kalau begitu, katakan apa yang harus aku lakukan?” kata Raja Bramakumara mendesak.

"Paduka perlu mengetahui bahwa Panji sekarang sedang berada di rimba belantara. Ia lagi asyik-asyiknya berburu burung dan berusaha mendapatkan buah ketan yang diidamkan istrinya yang jelita, yaitu Retna Sekartaji. Retna Sekartaji adalah wanita yang jelita luar biasa. Di antara istri-istri Panji yang sekian banyaknya itu, dialah yang paling anggun, manis, jelita, dan penuh pesona. Pendeknya, tak ada satu pun istri Panji yang bisa menandingi kejelitaan Retna Sekartaji. Oleh karena itu, Paduka larikanlah Retna Sekartaji. Panji pasti akan merasa sangat kehilangan dan kebingungan. Apabila Panji telah dalam keadaan bingung, majulah Paduka untuk memerangi Panji. Panji pasti terkalahkan karena Panji kehilangan akal sehatnya," kata Patih Guna Saronta memberikan keterangan dan petunjuk sekaligus.

“Bagus!” kata Raja Bramakumara. "Keteranganmu amat bermanfaat. Aku harus segera mendapatkan Retna Sekartaji."

"Paduka pasti akan mendapatkannya!" kata Patih Guna Saronta memberi sernangat.

Terdorong nafsunya untuk memperoleh Retna Sekartaji yang sedang ditinggal pergi Panji, Raja Bramakumara langsung mengadakan rapat kilat yang dihadiri para patih dan petinggi negeri lainnya. Setelah memperhitungkan berbagai siasat dan kemungkinan, akhirnya rapat menyepakati bahwa Raja Bramakumara akan segera berangkat ke Kerajaan Kediri untuk merebut Retna Sekartaji. Sementara itu, Patih Guna Saronta yang telah mengetahui situasi Kerajaan Kediri bertugas mengawal dan mendampingi Raja Bramakumara.

Dalam tempo tiga hari setelah keputusan rapat, berangkatlah Raja Bramakumara diiringi Patih Guna Saronta. Mereka berdua terbang melintasi laut, angkasa, bukit, gunung, petak-petak sawah, dan pulau-pulau yang berserakan. Seperti burung camar yang tak kenal lelah, mereka berdua terbang tanpa berhenti sekejap pun menempuh jarak yang jauh. Akhirnya, sampai juga mereka berdua di istana Panji.

Setibanya di lingkungan istana Panji, Raja Bramakumara dan Patih Guna Saronta langsung hinggap di bubungan atap sehingga tak seorang pun mengetahuinya. Mereka berdua menyaksikan orang-orang yang berjaga dengan kesiagaan penuh di seputar istana, meskipun hari telah larut malam. Agaknya, sebelum kedatangan Raja Bramakumara dan Patih Guna Saronta, Retna Sekartaji telah mendapatkan peringatan dari dewa tentang bahaya yang akan datang. Retna Sekartaji kontan memerintahkan semua orang untuk waspada dan berjaga-jaga. Sementara itu, Panji yang tengah mencari-cari buah ketan di rimba belantara juga mendapatkan peringatan dari dewa tentang malapetaka yang akan berkobar di istananya. Dengan pertolongan dewa, Panji berubah menjadi seekor burung yang bisa terbang. Ia pun berubah menjadi siluman yang tak mungkin terlihat oleh orang lain. Karena berubah menjadi siluman itu, setibanya di istananya Panji bisa mengetahui kehadiran Raja Bramakumara dan Patih Guna Saronta, sementara kedua orang itu tidak bisa menyaksikan sosok Panji.

Setelah menunggu beberapa waktu, Raja Bramakumara merasa tak sabar lagi untuk segera merebut Retna Sekartaji. Katanya kepada Patih Guna Saronta, "Rasanya kita sudah terlalu lama menunggu. Bisa-bisa kita jadi tua di sini.”

"Terserah pada Paduka untuk mulai penyerangan sekarang atau nanti," kata Patih Guna Saronta.

"Eh, Patih," kata Raja Bramakumara seperti teringat sesuatu. “Bukankah kau memiliki ilmu sirap yang ampuh? Bagaimana kalau kau keluarkan ilmumu itu untuk memperlancar rencana kita?"

"Hamba merasa belum saatnya menggunakan ilmu sirap tersebut. Lagi pula hamba merasa masih sanggup mengatasi monyet-monyet yang berjaga itu!" kata Patih Guna Saronta.

"Kalau begitu, sendiri saja kau jajaki dulu kekuatan musuh. Aku akan membantumu bila keadaan memaksa," kata Raja Bramakumara.

"Siap, Paduka!" jawab Patih Guna Saronta.

Seusai berkata begitu Patih Guna Saronta langsung menyamar sebagai seorang pedagang yang kemalaman. Dengan berjalan merunduk-runduk ia berlagak akan mencari penginapan.

Patih Guna Saronta menyamar sebagai seorang pedagang kambing. Dengan berjalan merunduk-runduk ia berlagak mencari penginapan.



Setibanya di istana Panji ia segera menghampiri Raden Andaga yang sedang duduk-duduk. Raden Andaga sangat terkejut karena sekonyong-konyong di hadapannya telah berdiri orang lain yang tidak dikenalnya. Orang itu segera ditegurnya, "Hai! Dari mana asalmu sehingga malam-malam begini engkau berada di tempat ini?”

"Hamba ini berasal dari gunung dan kemalaman ketika berdagang kambing. Hamba ke sini hendak mencari penginapan," jawab Patih Guna Saronta.

"Pedagang kambing?" tanya Raden Andaga tak percaya. "Masa pedagang kambing berpakaian seperti yang kau kenakan sekarang ini?"

"Pakaian hamba ini pakaian pinjaman. Masa kau tidak percaya?" kata Patih Guna Saronta sambil meninju dada Raden Andaga. Raden Andaga merasa kesakitan dan jatuh terhuyung-huyung. Akan tetapi, ia segera bangkit dan langsung menyerang.

"Kau memang benar-benar maling!" kata Raden Andaga marah. “Sekarang jelaskan dulu asal-usulmu sebelum maju berperang melawan diriku!"

"Belum saatnya aku maju berperang," jawab Patih Guna Saronta. “Dan sebagai maling aku tidak akan menjelaskan asal-usulku."

“Boleh saja kau berkata belum saatnya perang. Namun, sekarang giliranmu mampus!" kata Raden Andaga sambil secepat kilat menerjang Patih Guna Saronta. Patih Guna Saronta jatuh terguling-guling, tetapi ia cepat bangkit kembali membalas serangan Raden Andaga. Meskipun Patih Guna Saronta sering terjatuh melayani serangan Raden Andaga, ia tak kunjung menyerah. Sementara itu, Raden Andaga hanya berkelit bila diterjang Patih Guna Saronta.

Pertempuran antara Patih Guna Saronta dan Raden Andaga makin bertambah seru. Patih Guna Saronta yang terpojok akhirnya mengeluarkan kerisnya. Ditikamkannya kerisnya berkali-kali ke tubuh Raden Andaga. Namun, ternyata tubuh Raden Andaga tidak mempan oleh tikaman keris. Raden Andaga yang merasa penasaran karena Patih Guna Saronta tidak tumbang-tumbang juga meskipun telah terjatuh berkali-kali akhirnya menendang selangkangan Patih Guna Saronta. Patih Guna Saronta terhuyung terjatuh dan Raden Andaga langsung memegang kedua tangannya. Akan tetapi, ketika Raden Andaga akan membekuk tubuhnya, Patih Guna Saronta cepat-cepat membaca mantra. Seketika Patih Guna Saronta langsung berubah menjadi belut putih yang dengan mudah meloloskan diri. Begitu bisa meloloskan diri, Patih Guna Saronta melejit ke langit. Raden Andaga hanya bengong menyaksikan lawannya lolos dan melarikan diri ke angkasa.

"Yang aku hadapi baru saja setan atau manusia?" Raden Andaga bertanya-tanya penasaran.

Sementara itu, Patih Guna Saronta yang lolos dari bekukan Raden Andaga segera menemui Raja Bramakumara.

"Siapa musuhmu itu? Tampaknya dia ampuh sekali sehingga tak mempan oleh senjatamu dan kau pun kewalahan dibuatnya," kata Raja Bramakumara.

"Musuh hamba yang tadi bukan tandingan hamba yang sepadan," jawab Patih Guna Saronta. "Karena dia bukan apa-apa hamba, tak tega hamba menghabisinya."

"Kau ini!" kata Raja Bramakumara. "Kau selalu saja sesumbar, tidak mau mengaku kalah, biarpun kau berkali-kali terbanting dan terpojok."

"Hamba sengaja mengalah, Paduka," kata Patih Guna Saronta meringis.

"Kalau kau memang benar-benar merasa perkasa, cobalah sekarang kau cari sekali lagi lawan yang seimbang denganmu," kata Raja Bramakumara. "Aku ingin melihat kekuatanmu menghadapi anak buah Panji."

"Baik, Paduka,” kata Patih Guna Saronta sambil segera pergi mencari mangsa.

Di keremangan malam Patih Guna Saronta melihat Raden Wirun sedang berjaga sambil tidur-tidur ayam karena menahan kantuk yang berat. Patih Guna Saronta segera menghampiri Raden Wirun dan menepuk bahunya. Raden Wirun yang sedang merem-melek terkantuk-kantuk terkesiap kaget begitu mengetahui ada orang lain didekatnya. L

"Siapa kau ini?" gertak Raden Wirun. “Tamu tak tahu adat! Malam-malam begini datang, colak-colek lagi?"

"Siapa yang tak tahu adat?" kata Patih Guna Saronta. "Kau ini tuan rumah yang tak tahu adat. Masa ada tamu datang bertandang malah kau gertak.”

Seusai berkata begitu Patih Guna Saronta segera melayangkan tinjunya. Namun, Raden Wirun dengan tangkas menangkap tangan Patih Guna Saronta dan mencengkeramnya kuat-kuat. Dengan susah-payah Patih Guna Saronta berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Raden Wirun dan langsung menerjang Raden Wirun. Akan tetapi, Raden Wirun bertahan dengan kokohnya. Bahkan dalam tempo yang tidak terlalu lama Raden Wirun berhasil mencampakkan Patih Guna Saronta sehingga tubuhnya terbentur tembok dan bercucuran darah. Merasa dirinya terpojok, Patih Guna Saronta segera melarikan diri dan melejit ke langit. Raden Wirun pun kelabakan mencari-cari sosok Patih Guna Saronta yang tak tampak lagi.

"Kau memang benar-benar besar mulut!" kata Raja Bramakumara kesal melihat darah meleleh di kening Patih Guna Saronta. "Kau ternyata hanya mengandalkan ketakaburanmu! Masa menghadapi lawan seperti itu saja kau lari terbirit-birit?”

“Musuh yang aku hadapi tadi mungkin bukan manusia. Masa senjata yang hamba tikamkan ke tubuhnya tak ada yang mempan satu pun!" kata Putih Guna Saronta dengan muka merah padam.

"Makanya jadi orang jangan terlalu sesumbar! Yang kau andalkan mulut melulu! Menghadapi anak buah Panji saja kebingungan," kata Raja Bramakumara mengomel.

•••

4.
RAJA BRAMA KUMARA MELAWAN PANJI

Biarpun Patih Guna Saronta telah keok dua kali menghadapi anak buah Panji, Raja Bramakumara masih bersemangat merebut Retna Sekartaji. Baginya Retna Sekartaji adalah wanita yang menjanjikan mimpi-mimpi indah. Mimpi indah yang masih bergantung di awang-awang itu akan digapai Raja Bramakumara dengan segala upaya. Bahkan ia akan mempertaruhkan nyawanya untuk mendapatkan Retna Sekartaji dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dengan semangat memperoleh Retna Sekartaji yang belum padam, Raja Bramakumara berkata pada Patih Guna Saronta, "Daripada engkau selalu berlaku konyol—lari terbirit-birit ketakutan menghadapi anak buah Panji—keluarkanlah ilmu sirepmu sekarang juga! Barangkali engkau akan di atas angin menghadapi musuh yang tertidur."

"Baik, Paduka," kata Patih Guna Saronta. "Hamba akan berusaha sebaik mungkin untuk menyakinkan Paduka bahwa Paduka tidak sia-sia membawa hamba kemari."

Patih Guna Saronta menyembah kemudian segera mendekapkan kedua tangannya dan membaca mantra-mantra. Tidak lama kemudian udara pun berkabut, cuaca menjadi pekat, disusul datangnya angin ribut yang bercampur dengan gemuruh hujan lebat. Petir menyambar bersahut-sahutan. Perlahan-lahan ilmu sirep yang dipancarkan Patih Guna Saronta merambat dan menyergap orang-orang di sekitar Patih Guna Saronta. Prajurit-prajurit yang sedang berjaga mengawal istana jatuh bergeletakkan. Para putri yang sedang berkumpul di dalam istana mendadak terserang rasa kantuk yang berat sehingga mereka roboh berserakan.

Prajurit yang berjaga di sekitar istana roboh bergeletakan terkena sirep.



Di tengah-tengah situasi seperti itu Retna Sekartaji masih bisa mempertahankan diri dari rasa kantuk yang menyerangnya bertubi-tubi. Air matanya berlinang-linang sedih karena merasa sendiri saja ketika marabahaya datang mengancam. Panji menyamar sebagai siluman tidak tampak oleh pandangan mata Retna Sekartaji. Merasa bahaya akan segera datang, Retna Sekartaji cepat-cepat mengambil kerisnya untuk berjaga-jaga.

Sementara itu, Panji yang menyaksikan istri-istrinya bergeletakan tak keruan merasa iba. Hampir saja ia menampakkan diri untuk menolong para istrinya yang sedang terancam bahaya. Akan tetapi, ia segera sadar dan membatalkan niatnya itu. Ia ingin menangkap basah musuh yang telah menyirep istri-istrinya.

Musuh yang ditunggu-tunggu Panji belum juga menampakkan diri. Raja Bramakumara dan Patih Guna Saronta masih berada di angkasa membaca situasi, mengukur kekuatan lawan. Setelah merasa situasi cukup aman, Raja Bramakumara dan Patih Guna Saronta menjejakkan kaki ke halaman istana. Keduanya langsung bergerak memasuki istana. Mereka berdua menyaksikan orang-orang yang bergeletakan tertidur. Akan tetapi, begitu akan memasuki istana keduanya terhalang oleh pintu-pintu istana yang terkunci rapat. Tanpa menunggu lebih lama lagi Patih Guna Saronta segera membaca mantra. Mulutnya komat-kamit selama beberapa menit. Beberapa saat kemudian pintu-pintu istana yang tadinya tertutup rapat langsung membuka seketika.

Begitu memasuki ruangan dalam istana, Raja Bramakumara menyaksikan seorang wanita jelita sedang duduk bersemadi dan tangannya memegang lentera. Raja Bramakumara merasa agak khawatir karena ternyata ada wanita yang lolos dari serangan sirep patih Guna Saronta. Ia pun bertanya pada Patih Guna Saronta, "Patih, siapakah wanita itu sehingga ia mampu bertahan dari sergapan sirapmu?"

“Dialah istri Panji, Retna Sekartaji, yang selama ini Paduka dambakan," kata Patih Guna Saronta.

Raja Bramakumara pun terbelalak memandangi Retna Sekartaji yang bertubuh menawan, berwajah jelita. Tiba-tiba saja Raja Bramakumara seperti tersedot magnet yang kuat. Ia merasa seperti baru pertama kali seumur hidup menemukan seorang wanita jelita yang selama ini hanya terdapat dalam mimpi-mimpinya. Mimpi itu sekarang telah terbentang di depan matanya. Hatinya merasa amat tergoda.

Ketika Raja Bramakumara telah berjarak selangkah dari Retna Sekartaji, ia menyaksikan sebilah keris di genggaman tangan Retna Sekartaji. Ternyata Retna Sekartaji bertekad dalam hati, "Apabila musuh datang menyentuh tubuhku akan aku tikamkan keris ini ke tubuhku. Lebih baik mati daripada diri ini menanggung dosa bersentuhan dengan laki-laki yang bukan suamiku."

Perasaan Raja Bramakumara semakin penasaran melihat Retna Sekartaji berdiam diri dan sama sekali tidak memedulikan kehadirannya. Dengan lemah lembut Raja Bramakumara berusaha melelehkan hati Retna Sekartaji. Katanya, "Aduh, putri pujaanku. Mengapa kau berdiam diri dan bemuram durja seperti ini sehingga kehadiranku sia-sia saja? Percayalah, wahai, gadis manis, aku datang ke tempat ini tanpa niat jahat sedikit pun! Aku bermaksud membahagiakanmu kelak. Apa pun keinginanmu akan kupenuhi."

Bujuk rayu Raja Bramakumara ternyata tidak mempan. Retna Sekartaji tetap bungkam seribu bahasa. Akan tetapi, Raja Bramakumara belum juga menyerah. Ia tetap membujuk-bujuk Retna Sekartaji. Katanya, "Wahai, putri jelita yang tiada tara. Apakah engkau tega menyaksikan aku mati kesepian mendambakanmu siang malam?" Bukankah engkau selalu hadir dalam mimpi-mimpiku dan sekarang, ketika engkau berada di depan mata, kau siksa aku sedemikian rupa. Bukankah aku dengan penuh damba sangat mengharapkanmu? Wahai, gadis manis, mengapa kau yang teramat jelita tega menghancurkan harapanku yang suci ini?"

Retna Sekartaji tetap saja bergeming. Matanya terpejam tidak mau memandang Raja Bramakumara. Mimik mukanya tidak berubah sedikit pun seolah-olah kata-kata Raja Bramakumara hanya angin lalu saja.

Raja Bramakumara yang penasaran masih saja memberondong Retna Sekartaji tadi dengan bujuk rayunya. Katanya, "Wahai, putri jelita yang tiada duanya. Akan aku serahkan seluruh hidupku hanya untukmu. Kelak bila kau menjadi istriku kita akan berbulan madu ke Bali, Danau Toba, Danau Maninjau, Pelabuhan Ratu, Parangtritis; bahkan Eropa, Amerika, Arab akan kita kunjungi. Pendeknya, ujung dunia mana pun akan kita jelajah."

Hati Retna Sekartaji ternyata bagaikan kulit yang tidak mempan oleh tikaman senjata tajam. Bujuk rayu Raja Bramakumara satu pun tidak ada yang mempan. Bahkan Retna Sekartaji dengan wajah dingin mengeluarkan kata-kata tajam, "Cepat enyah engkau dari sini! Engku adalah raja yang tak tahu malu! Engkau lebih pantas menjadi maling daripada menjadi seorang raja! Oleh karena itu, mana mungkin aku memenuhi keinginanmu yang terkutuk itu!"

Hati Raja Bramakumara merasa tertampar oleh kata-kata Retna Sekartaji. Tanpa sadar tangannya bergerak akan menyakiti Retna Sekartaji. Akan tetapi, Panji yang menyamar sebagai siluman dan selalu mengikuti gerak-gerik Raja Bramakumara langsung menangkap tangan Raja Bramakumara. Disentakannya tangan Raja Bramakumara dan ditariknya ke luar.

Sesampainya di halaman istana Panji berkata, "Engkau ini benar-benar seorang raja yang tak tahu adat! Memerangi lawan dengan cara maling! Kalau engkau seorang raja yang kesatria, engkau tidak akan memasuki istanaku dengan sembunyi-bunyi!"

“Jangan cepat-cepat menuduhku demikian! Ketika aku memasuki istanamu keadaan sunyi sepi. Semua orang tidur bergeletakkan, sehingga apa salahnya aku langsung masuk ke istanamu tanpa permisi?" kata Raja Bramakumara.

"Kau memang benar-benar maling yang pintar mungkir," kata Panji sengit.

"Maling atau bukan maling, aku datang kemari untuk menuntut balas atas kematian kerabatku!" kata Raja Bramakumara tak kalah sengitnya.

"Nah, kalau begitu, jangan banyak ngomong lagi sekarang! Keluarkaniah kesaktianmu yang selama ini kau bangga-banggakan. Aku tidak akan beranjak menghadapimu," kata Panji.

Merasa ditantang Raja Bramakumara segera mengeluarkan senjata trisula yang terkenal sakti. Senjata itu segera menyambar-nyambar Panji dengan ganasnya. Akan tetapi, Panji tetap bertahan dengan kokoh di tempat dan tidak tergoyahkan sedikit pun. Dalam tempo tidak sampai semenit Panji berhasil merebut senjata trisula Raja Bramakumara.

Raja Bramakumara tertawa terkekeh-kekeh ketika senjatanya berhasil direbut Panji. Katanya mengejek Panji, "Diam-diam ternyata kau sakti juga. Mungkin senjata trisula tadi terlalu ringan untukmu. Kalau begitu, sekarang rasakan senjataku yang ini!"

Setelah berkata demikian, Raja Bramakumara langsung menembakkan anak panah berapi yang berbisa. Panah-panah berbisa yang bernyala-nyala bertebaran mengurung Panji. Namun, Panji dengan tangkas membabat semua anak panah yang mengarah ke dirinya. Lama-kelamaan Raja Bramakumara kehabisan persediaan anak panah karena anak panah yang ditembakkannya selalu dibabat habis Panji. Akan tetapi, Raja Bramakumara dengan wajah garang tetap saja menerjang dan menyerang.

Anak panah berapi berbisa yang telah habis ditembakkan segera diganti Raja Bramakumara dengan anak panah jenis lain yang lebih ganas, yang dikenal sebagai Panah Taksaka. "Kali ini kau tak mungkin lolos dari sambaran panahku," kata Raja Bramakumara sesumbar.

Panah-panah berapi berbisa yang ditembakkan Raja Bramakumara mengurung Panji, tetapi tak satu pun mengenainya.



Panji diam tak menjawab. Namun ia segera melepaskan panahnya. Anak panah yang ditembakkan Panji langsung menyambar Panah Taksaka yang dilepaskan Raja Bramakumara sehingga menimbulkan kobaran api di angkasa.

Merasa senjatanya dapat ditandingi oleh Panji, Raja Bramakumara secepat kilat mengeluarkan senjata Uwa yang terkenal amat sakti dan selama ini tak ada tandingannya. Senjata tersebut konon tak ada satu orang pun yang dapat menangkisnya dan dapat berubah-ubah wujud mengikuti kemauan yang memilikinya. Sesuai dengan keinginan pemiliknya senjata Uwa dapat berwujud rantai, tali, bahkan dapat berubah menjadi seekor burung ataupun ular yang dengan ganas menyambar dan melilit.

Panji tak gentar menyaksikan Raja Bramakumara mengeluarkan senjata yang menggetarkan dunia itu. Dengan tenang Panji mengeluaran senjata Sarutama yang disegani para tokoh sakti di muka bumi untuk menandingi senjata Raja Bramakumara. Tanpa menunggu terlalu lama kedua senjata sakti itu beradu laga mengikuti kemauan kedua pemiliknya yang sedang mabuk perang. Dengan cepat senjata Uwa berubah bentuk menjadi seekor ular yang dengan garang dan cepat berusaha membelit tubuh Panji. Akan tetapi, Panji bergerak seperti kilat sehingga dengan mudah meloloskan diri. Tanpa membuang waktu Panji segera membalas. Senjatanya menerkam leher ular yang berasal dari senjata Uwa Raja Bramakumara. Kepala ular itu pun putus seketika dan tubuhnya menggeliat-geliat sekarat. Tiba-tiba saja senjata Uwa itu berbisik kepada Raja Bramakumara, "Kau terlalu meremehkan lawanmu tadi sehingga sekarang aku sangat menderita. Rasanya aku tak tahan lagi menanggung penderitaan ini." 

Sehabis berbisik demikian senjata Uwa itu tiba-tiba lenyap seperti ditelan bumi. Raja Bramakumara merasa amat kehilangan. Akan tetapi, ia segera sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan musuh. Ia pun berkata, "Hai, Panji! Buang senjatamu karena sekarang aku tak lagi bersenjata!"

"Jangan takut! Tanpa kau minta pun aku akan membuang senjataku! Aku bukan pengecut seperti kau!” kata Panji berapi-api.

Begitu mendengar jawaban Panji, Raja Bramakumara langsung menerjang Panji. Tidak tinggal diam. Keduanya terjang-menerjang, banting-membanting, saling berusaha menjatuhkan satu sama lain. Ketika berdekapan, Raja Bramakumara yang telah kehabisan tenaga karena terlalu lama bertempur, akhirnya terjatuh. Panji segera menarik kepala dan rambutnya dan mencampakannya ke bawah. Raja Bramakumara pun jatuh rebah dan tidak berdaya lagi. Seluruh kekuatannya tiba-tiba surut dari tubuhnya. 

"Hai, Raja Bramakumara! Apa yang kau inginkan sekarang ini?" Hidup atau mati?" tanya Panji pada Raja Bramakumara yang telah tak berdaya.

"Mati sajalah!" kata Raja Bramakumara. "Seorang raja yang kalah dalam medan laga lebih baik mati daripada menanggung aib dan malu. Lebih baik aku mati tak berjejak daripada orang-orang di kerajaanku mengetahui bahwa rajanya kalah."

Panji segera mencabut kerisnya dan bergerak akan menikamkan kerisnya ke tubuh Raja Bramakumara. Akan tetapi, sebelum keris itu mengenai tubuh Raja Bramakumara sekonyong-konyong terjadi sesuatu yang luar biasa. Alam mendadak menjadi hitam pekat, bunyi petir menggelegar berulang-ulang, angin ribut bergemuruh menerjang kencang. Beberapa saat kemudian alam pulih kembali seperti semula. Akan tetapi, Raja Bramakumara telah tak tampak lagi sosoknya. Angin ribut telah membawanya pergi dan mencampakkannya ke hutan yang jauh. 

Panji tertegun menyaksikan peristiwa yang baru saja terjadi. Ia menghela napas panjang. Kemudian dengan perasaan letih, ia berjalan menuju istananya.

•••

5.
MENCARI RAJA BRAMAKUMARA YANG HILANG

Hutan sunyi sepi. Bulan yang bercahaya di langit yang sinarnya tak mampu menembus pekatnya dedaunan seakan-akan sendirian saja. Suara serangga yang terdengar bersahut-sahutan timpa-menimpa dengan bunyi dedaunan yang bergesek-gesek terkena angin.

Raja Bramakumara yang tercampak di hutan seperti linglung. Ia berjalan mondar-mandir seorang diri. Di tengah kegelapan malam Raja Bramakumara yang merasa kelaparan tangannya bergerak mencari-cari buah yang barangkali jatuh tercecer di tanah. Udara dingin merayapi seluruh tubuh Raja Bramakumara yang malang itu. Ia mengeluh berkepanjangan karena seorang diri tercampak di hutan yang asing yang tak dikenalnya.

Di hutan yang sepi dan asing Raja Bramakumara berjalan mondar-mandir seorang diri.



Sementara itu, Patih Guna Saronta yang bertempur melawan Arya Brajanata ketika Raja Bramakumara beradu kesaktian dengan Panji juga mengalami nasib sial. Setelah bertempur seru melawan Arya Brajanata, Patih Guna Saronta terpaksa mengakui keunggulan Arya Brajanata. Keris yang ditikamkan Arya Brajanata ke tubuh Patih Guna Saronta membuat tubuh Patih Guna Saronta kepanasan. Patih Guna Saronta pun berlari-lari berputar-putar kebingungan dan ketakutan menahan rasa panas yang bukan kepalang. Sambil menerjang Arya Brajanata ia segera melejit ke langit untuk menyelamatkan diri.

Patih Guna Saronta membubung tinggi di angkasa. Matanya mencari-cari Raja Bramakumara yang menghilang dari pandangan, tetapi Raja Bramakumara tidak juga tertemukan ke tempat-tempat lain. Raja Bramakumara belum juga tampak sosoknya. Akhirnya Patih Guna Saronta menjejakkan kakinya ke suatu hutan yang tak dikenalnya. Ia berjalan di dalam hutan sambil tangannya memunguti buah-buahan yang tercecer dan memakannya.

Sementara itu, orang-orang di Kerajaan Makassar kalang kabut. Raja dan patihnya yang mereka tunggu-tunggu tidak juga menampakkan diri. Istri-istri Raja Bramakumara telah bersedih hati menantikan kedatangan Raja Bramakumara. Raut muka mereka menjadi kering dan susut dilanda duka yang berkepanjangan.

Karena raja yang ditunggu-tunggu tidak juga datang, para pemuka di kalangan istana akhirnya mengadakan sidang istimewa. Sidang memutuskan untuk mengirim Arya Prajalena untuk memata-matai keadaan musuh. Arya Prajalena juga bertugas mencari dan menemukan Raja Bramakumara dan Patih Guna Saronta yang hilang tak tentu rimbanya.

Arya Prajalena yang ditugasi mencari Raja Bramakumara segera terbang ke angkasa menuju Tanah Jawa. Diseberanginya lautan yang luas tak bertepi, gunung dan hutan, petak-petak sawah yang menghampar kuning. Sesampainya di Tanah Jawa Arya Prajalena hinggap di salah satu hutan. Ia kemudian menyusuri hutan siang malam.

Setelah berjalan beberapa malam Arya Prajalena akhirnya menemukan Patih Guna Saronta yang tengah berjalan terlunta-lunta. Ditepuknya bahu Patih Guna Saronta dari belakang. Patih Guna Saronta yang tak menyangka ada manusia lain di hutan itu terkejut. Dengan gelagapan ia menoleh ke belakang. Perasaannya antara kaget dan gembira menyaksikan Arya Prajalena telah berdiri di belakangnya.

"Kau tak merasakan betapa sengsaranya aku terdampar di hutan yang asing ini,” kata Patih Guna Saronta.

"Mengapa kau bisa berada di sini seorang diri?" tanya Arya Prajalena ingin tahu.

"Aku kewalahan menghadapi Arya Brajanata, anak buah Panji terkutuk itu! Raja Bramakumara pun ternyata tidak sanggup melayani sepak terjang Panji, dan sekarang Raja Bramakumara hilang tak ketahuan rimbanya. Aku berada di sini untuk mencari Raja Bramakumara yang telah berhari-hari, berminggu-minggu tak juga aku temukan," kata Patih Guna Saronta.

"Kalau begitu, kita cari Raja Bramakumara sampai kita temukan," kata Arya Prajalena.

"Kau ke sini seorang diri?” tanya Patih Guna Saronta sambil memandang Arya Prajelena.

“Para raja bawahan, para panglima perang, dan para prajurit dalam jumlah yang sangat besar telah bergerak ke Surabaya. Mereka berangkat dengan menggunakan puluhan kapal. Sebentar lagi panji-panji kebesaran Kerajaan Makassar akan berkibar di sini!" kata Arya Prajalena percaya diri.

"Kau jangan sesumbar dulu!" kata Patih Guna Saronta, "Akan kau lihat nanti bahwa anak buah Panji tangguh-tangguh dan tidak bisa diremehkan begitu saja."

"Aku jadi penasaran dengan ketangguhan anak buah Panji! Masa aku akan menyerah begitu saja pada anak buah Panji?" kata Arya Prajalena meremehkan kata-kata Patih Guna Saronta.

Patih Guna Saronta diam saja tak menimpali perkataan Arya Prajalena. Ia terus melangkahkan kakinya menyeruak semak-semak yang penuh onak. Arya Prajalena berjalan mengiringinya. Beberapa saat kemudian terdengarlah derap langkah ratusan manusia. Patih Guna Saronta dan Arya Prajalena terperangah sesaat. Tidak lama kemudian tampaklah iring-iringan pasukan yang bersenjata lengkap. Agaknya, mereka pasukan dari Kerajaan Jenggala yang diperbantukan pada Kerajaan Daha.

Di pinggiran hutan Patih Guna Saronta dan Arya Prajalena berpapasan dengan serombongan pasukan dari Kerajaan Jenggala yang akan diperbantukan pada Kerajaan Daha.



"Rupanya kita tak mungkin menghindarkan diri dari musuh," kata Patih Guna Saronta.

"Kita serang saja mereka!" kata Arya Prajalena.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi keduanya langsung menerjang iring-iringan pasukan dari Kerajaan Jenggala itu. Pasukan yang berdua dengan Arya Prajalena sanggup memorakporandakan mereka.

"Kalian mundur saja! Kalian tak usah berhadapan dengan kerbau gila yang lagi ngamuk!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang memerintah.

Pasukan yang berantakan karena kewalahan menghadapi Patih Guna Saronta dan Arya Prajalena itu segera mundur. Pratama dan Pratistha yang agaknya menjadi pemimpin pasukan itu langsung telah mengundurkan diri dari medan laga.

Patih Guna Saronta dan Arya Prajalena tidak memberikan kesempatan bernapas kepada Pratama dan Pratistha. Kedua orang itu langsung dihajar habis-habisan. Akan tetapi, kedua orang itu ternyata jauh lebih sakti daripada pasukannya yang dengan mudah dibuat berantakan. Pratama dan Prastistha tidak segera tumbang di tangan Arya Prajalena dan Patih Guna Saronta. Kedua orang itu malah memberikan perlawanan yang keras dan sering tak terduga. Lama-kelamaan Arya Prajalena dan Patih Guna Saronta kewalahan menghadapi kedua orang itu. Tiap serangan Patih Guna Saronta dan Arya Prajalena selalu berhasil dipatahkan Pratama dan Pratistha.

Keringat telah mengucur dari tubuh Arya Prajalena dan Patih Guna Saronta. Akan tetapi, Pratama dan Pratistha tak juga rontok. Patih Guna Saronta dan Arya Prajalena mulai kehabisan akal. Tiba-tiba saja Patih Guna Saronta berseru, "Lebih baik kita kabur daripada mati konyol digasak musuh!"

Tanpa menunggu aba-aba lebih lanjut Arya Prajalena segera melejit ke langit diikuti Patih Guna Saronta. Pratama dan Pratistha yang tengah bergerak akan menghantam Patih Guna Saronta dan Arya Prajalena terjatuh, karena lawan mereka kabur tak terduga. Keduanya kemudian buru-buru bangkit sambil menyumpah-nyumpah. "Mereka berdua memang benar-benar setan yang tak tahu diri! Diberi kesempatan berperang malah kabur tanpa permisi!" kata Pratama bersungut-sungut.

Sementara itu, Patih Guna Saronta dan Arya Prajalena yang telah berada di angkasa melanjutkan usaha mereka menemukan Raja Bramakumara. Tiap tempat yang mereka curigai terdapat Raja Bramakumara mereka datangi. Akan tetapi, hasilnya nihil. Karena kecapaian, mereka berdua akhirnya menjejakkan kaki di suatu hutan untuk beristirahat.

Di pinggiran hutan bocah-bocah yang tengah menggembala kerbau terbengong-bengong keheranan menyaksikan dua orang manusia turun dari langit. Mereka segera berlari-lari ke arah Patih Guna Saronta dan Arya Prajalena. Salah seorang bocah itu lalu berkata, "Sebelum burung raksasa ini terbang lagi lebih baik kita jerat saja sekarang!"

Patih Guna Saronta yang mendengar perkataan bocah itu buru-buru berkata, "Hai, bocah cilik! Jangan kalian jerat kami! Kami bukan burung! Kami manusia juga seperti kalian."

“Ini uang picis untuk kalian,” kata Arya Prajalena menimpali sambil membagi-bagikan uang picis. Bocah-bocah itu tersenyum-senyum riang memperoleh uang picis dari Arya Prajalena.

"Barangkali kalian tahu raja kami yang tersesat di hutan,” kata Patih Guna Saronta. "Kalau kalian tahu, kalian tunjukkan pada kami di mana raja kami berada!"

"Berapa waktu yang lalu kami pernah melihat seseorang berpakaian raja-raja di sekitar daerah situ,” kata salah seorang bocah sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke suatu tempat. "Tampaknya ia ingin meninggalkan tempat itu, tetapi ia tidak bisa. Ia hanya berjalan berputar-putar saja.”

"Terima kasih, anak manis," kata Patih Guna Saronta. "Keteranganmu sangat berharga bagi kami."

Setelah beristirahat beberapa saat Patih Guna Saronta dan Arya Prajalena segera menuju tempat yang ditunjukkan bocah penggembala itu. Tak berapa lama kemudian mereka menemukan Raja Bramakumara yang tengah berjalan-jalan seorang diri. Patih Guna Saronta dan Arya Prajalena langsung bersujud menyembah Raja Bramakumara. Raja Bramakumara tertegun kaget menyaksikan kedua orang itu telah berdiri di depannya.

"Ke mana saja Paduka selama ini?” tanya Patih Guna Saronta.

"Kesaktian Panji ternyata di luar perhitunganku. Ia sulit sekali dirobohkan. Malahan dalam suatu kesempatan aku berhasil dipojokkannya. Aku nuaris saja mati di ujung kerisnya. Untung saja terjadi keajaiban yang tiba-tiba; yaitu terjadi angin ribut yang membawaku ke tempat ini. Akan tetapi, di tempat ini aku tidak bisa menemukan jalan keluar dan kehilangan arah. Sekarang bawalah aku keluar dari tempat ini agar kelak aku dapat merobohkan Panji," kata Raja Bramakumara.

"Hamba juga kerepotan menghadapi Arya Brajanata ketika Paduka sedang bertempur dengan Panji," kata Patih Guna Saronta. “Mereka ternyata musuh yang tangguh, yang tidak bisa diremehkan."

"Namun," kata Arya Prajalena menimpali, "dari Makassar telah berangkat para panglima perang yang sakti dan ratusan ribu prajurit yang tangguh. Merekalah yang akan mencoba menundukkan Panji."

“Itu bisa diatur nanti!" kata Raja Bramakumara. “Aku merasa terlalu letih. Aku ingin istirahat dulu."

•••

6.
PANJI MENANG PERANG

Langit pagi berwarna kesumba. Matahari baru saja menampakkan diri. Burung-burung dengan riang beterbangan ke sana kemari menyemarakkan pagi. Angin bertiup lembut seakan-akan tak ingin menyakiti siapa pun.

Sementara itu, orang-orang di istana Panji baru saja bangun dari tidur mereka setelah hari-hari terakhir ini diselimuti ketegangan. Suasana perang masih membalut wajah-wajah para penghuni istana. Retna Sekartaji masih uring-uringan karena buah ketan yang diidamkannya belum diperoleh Panji. Panji juga masih pusing karena perang belum selesai.

Di ruang tengah Panji berunding dengan Arya Brajanata membicarakan kemungkinan menyongsong musuh yang belum tumpas. "Biarpun Raja Bramakumara telah hilang, tetapi ia belum mati. Ia dan para sekutunya masih mungkin menyerang lagi kemari,” kata Panji.

Di dalam istana Panji tengah berunding dengan Arya Brajanata membicarakan kemungkinan perang selanjutnya.



"Firasat hamba juga mengatakan demikian," kata Arya Brajanata. "Pasti mereka akan mengirim tentara dalam jumlah yang sangat besar karena Raja Bramakumara dan Patih Guna Saronta tak berdaya berhadapan dengan kita."

"Ada satu hal yang mengganjal perasaanku sekarang ini," kata Panji. "Aku pusing memikirkan permintaan istriku, Retna Sekartaji, yang sampai kini belum aku penuhi.”

"Buah ketan itu?" tanya Arya Brajanata.

"Ya. Bersama Bancak dan Dhoyok aku telah sampai di tempat yang ditunjukkan dalam mimpi Retna Sekartaji. Akan tetapi, belum sempat aku memperoleh buah ketan yang diidam-idamkan istriku itu datang peringatan dari dewa, yang memberitahukan musuh yang akan menyerang. Jika keadaan telah tenang aku ingin kembali lagi ke tempat itu. Tidak ada tempat di muka bumi yang bisa menandingi tempat yang ditunjukkan dalam mimpi istriku. Rasanya seperti di surga," kata Panji.

"Kau ini!" Tiba-tiba dewa nyeletuk. "Dasar manusia! Maunya yang enak-enak melulu, tidak bisa membedakan mana yang boleh, mana yang larangan."

Panji terkejut seketika melihat kedatangan dewa yang tiba-tiba. Mukanya merah padam dan mulutnya tidak bisa bicara. Arya Brajanata yang tidak melihat kedatangan dewa menjadi penasaran dengan perubahan raut muka Panji, lalu bertanya, "Apa yang Paduka pikirkan sehingga wajah Paduka menjadi muram? Tampaknya ada sesuatu yang sangat berat yang sedang Paduka pikirkan."

"Tak ada yang mengganggu pikiranku," kata Panji menyembunyikan perasaannya.

"Kau telah menginjak tempat yang terlarang untuk manusia," kata dewa melanjutkan perkataannya. "Gara-gara permintaan seorang wanita cantik kau menjadi tak tahu diri. Tempat peristirahatan yang diperuntukan bagi dewa-dewa kau injak-injak seenak jidatmu! Masa tempat peristirahatan dewa kau anggap sebagai hutan perburuan saja. Dasar manusia tak tahu diri!"

Panji diam termenung memikirkan perkataan Dewa. Dewa yang menyaksikan Panji terdiam makin bertambah sewot. Ia marah membentak-bentak. Katanya, "Hai, manusia tidak tahu diri! Kamu punya mulut tidak? Masa aku ngomong kamu diam saja. Sudah salah, bungkam lagi! Benar-benar manusia tak tahu malu!"

Sebelum Panji sempat minta maaf pada dewa tiba-tiba datang seorang perwira dengan langkah tergopoh-gopoh. Ia segera melapor pada Panji, "Paduka, musuh telah datang mengepung kita. Jumlah mereka amat banyak dengan persenjataan yang sangat lengkap."

"Kau hadapi dulu saja mereka," kata Panji.

"Sekali ini kau masih aku maafkan," kata dewa. "Kau selesaikan perang ini dulu. Dalam perang ini kau masih aku beri kesempatan menang. Jangan khawatir!" Selesai berkata begitu dewa langsung melenyapkan diri dan tak tampak lagi oleh mata Panji.

Panji termenung sesaat merenungkan perkataan dewa.

Namun, ia segera menyadari situasi yang gawat. Dengan tergesa-gesa ia melangkah ke luar istana. Di luar istana ia menyaksikan pasukan Makassar yang tampaknya seperti lautan saja karena teramat banyaknya. Akan tetapi, hati Panji tak gentar sedikit pun. Dengan ketenangan yang menakjubkan ia mengatur anak buahnya menghadapi perang yang akan meledak.

Sementara itu, pasukan Makassar yang telah tak sabar lagi mulai maju menyerang. Raja Bramakumara pun kali ini tidak sendiri. Ia dibantu dua orang sekutu utamanya, Raja Siyem dan Raja Manila, yang masing-masing mengerahkan pasukan kerajaannya dalam jumlah yang banyak. Pasukan Makassar yang amat banyak itu bergerak di bawah komando Raja Manila dibantu oleh beberapa panglima. Raja Manila yang menyaksikan anak buah Panji jumlahnya tidak seberapa banyak dibandingkan jumlah pasukan Makassar akhirnya merasa malu. Ia langsung memberi komando, "Kalian tidak usah maju semua! Cukup beberapa orang saja! Yang lain mundur!"

Salah seorang hulubalang Kerajaan Manila yang bernama Dhanyang Lobah segera maju, sementara yang lain bergerak mundur. Sambil memutar-mutarkan lembingnya Dhanyang Lobah berkata dengan sesumbar, "Ayo, kalian maju! Aku tak bakal mati oleh kalian!"

"Belum apa-apa kau telah berbesar muiut! Dari dulu kalian selalu mengandalkan mulut! Kalau kau benar-benar hebat, serangiah aku! Aku tak akan mundur!" kata Pratistha meladeni tantangan Dhanyang Lobah.

Dhanyang Lobah yang naik pitam mendengar perkataan Pratistha langsung menghantam Pratistha bertubi-tubi. Namun, Pratistha tak bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri. Ia bertahan dengan kokohnya. Dhanyang Lobah yang semakin naik pitam segera menikamkan lembingnya. Akan tetapi, tubuh Pratistha ternyata tak mempan oleh tikaman lembing. Pratistha pun, yang sedari tadi berdiam diri hanya menerima serangan Dhanyang Lobah, sekarang balas menerjang. Sekali terjang Dhanyang Lobah yang bertubuh tinggi besar roboh terguling. Dhanyang Lobah yang dibakar amarah segera bangkit lagi dan berusaha membekuk tubuh Pratistha. Akan tetapi, Pratistha tak tinggal diam. Ia langsung menendang Dhanyang Lobah sehingga Dhanyang Lobah terlempar jauh dan kepalanya pecah membentur pohon.

Raja Manila yang menyaksikan Dhanyang Lobah roboh segera membunyikan gong sebagai isyarat menyerbu. Pasukan Makassar yang jumlahnya puluhan ribu begitu mendengar isyarat, langsung menyerbu. Darah pun mengalir di mana-mana. Bau amis darah menyeruak sepanjang siang dan malam selama berhari-hari, karena perang itu berlangsung berhari-hari, tanpa ada satu pihak pun yang berusaha mundur.

Di tengah-tengah peperangan itu tiba-tiba Panji teringat akan istrinya, Retna Sekartaji yang amat dicintainya. Perasaannya menjadi gelisah tak menentu memikirkan perang dan istri tercinta. Tiba-tiba saja ia ingin perang ini cepat-cepat berakhir. Ia pun berkata pada Arya Brajanata, "Aku merasa muak melihat perang yang berkepanjangan ini! Aku ingin perang ini cepat selesai. Aku merasa jijik berhadapan dengan musuh yang pengecut dan takabur. Oleh karena itu, aku akan memohon kepada dewa agar perang ini segera berakhir."

Setelah Panji bersemadi memohon kepada dewa agar mengakhiri perang, terjadilah angin ribut yang mengempas-empaskan pasukan musuh.



Tak lama kemudian Panji pun bersemadi memohon kepada dewa agar segera mengakhiri perang. Setelah Panji bersemadi beberapa saat, dewa pun mengabulkan permohonan Panji. Terjadilah angin ribut yang memorakporandakan pasukan musuh. Pasukan musuh terempas ke sana kemari sehingga banyak yang mati dan luka parah. Yang selamat pontang-panting menyelamatkan diri.

Panji menarik napas lega. Ia terdiam beberapa saat menyaksikan korban-korban di pihak musuh yang bergelimpangan. Ia pun membayangkan Retna Sekartaji yang setia, yang terlupakan selama perang berlangsung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI

NEGERI PARA JIN