PARABEL TENTANG KERAJAAN TIKUS YANG MENYELAMATKAN GUDANG DARI GANDUM
Di sebuah lembah yang sangat subur berdirilah Kerajaan Gandumia.
Nama itu berasal dari gandum. Sebab seluruh kehidupan negeri bergantung pada gudang-gudang gandum raksasa yang tersebar di seluruh wilayah.
Akan tetapi, anehnya, rakyat Gandumia tidak pernah benar-benar melihat isi gudang tersebut.
Mereka hanya mendengar kabar tentangnya.
"Gudang kita penuh."
"Cadangan pangan aman."
"Kita sedang panen terbesar sepanjang sejarah."
Kalimat-kalimat itu diumumkan setiap hari oleh Burung Beo Kerajaan yang bertugas membaca berita resmi.
Burung beo tidak pernah berbohong.
Ia hanya mengulang.
Dan itulah sebabnya ia sangat dihargai.
---
Pada suatu masa, Raja Singa tua wafat.
Tahta kemudian diisi oleh Dewan Tikus Berdasi.
Mereka mengatakan bahwa zaman telah berubah.
"Kita tidak lagi membutuhkan pemimpin tunggal."
"Kita membutuhkan tata kelola modern."
"Kita membutuhkan profesionalisme."
"Kita membutuhkan efisiensi."
Rakyat bertepuk tangan.
Kata-kata itu terdengar sangat mahal.
Tak seorang pun benar-benar tahu artinya.
Namun kedengarannya cerdas.
Maka Dewan Tikus Berdasi pun mulai memerintah.
---
Tugas utama mereka adalah menjaga gudang gandum.
Mereka membentuk Kementerian Perlindungan Gandum.
Lalu Badan Pengawasan Gandum.
Kemudian Komisi Pencegahan Kehilangan Gandum.
Setelah itu Otoritas Stabilitas Gandum.
Lalu Satuan Tugas Perlindungan Strategis Gandum.
Kemudian Dewan Kajian Risiko Gandum.
Kemudian Tim Khusus Sinergi Antar-Gandum.
Kemudian Forum Dialog Gandum Nasional.
Kemudian Lembaga Harmonisasi Gandum Berkelanjutan.
Kemudian—
Tidak ada yang ingat lagi.
Bahkan para tikus sendiri.
---
Masalahnya, semakin banyak lembaga perlindungan gandum dibentuk, semakin sedikit gandum yang tersisa.
Gudang mulai kosong.
Karung-karung menghilang.
Persediaan menyusut.
Namun laporan resmi menunjukkan hasil sebaliknya.
Cadangan meningkat.
Produksi melonjak.
Kerugian menurun.
Keberhasilan bertambah.
Rakyat bingung.
Mereka melihat tikus-tikus semakin gemuk.
Tetapi statistik menunjukkan rakyat semakin makmur.
Maka para ahli statistik menyimpulkan bahwa mata rakyatlah yang bermasalah.
---
Suatu hari seekor keledai muda bertanya:
"Kalau gudang penuh, mengapa kami lapar?"
Pertanyaan itu segera dianggap berbahaya.
Dewan Tikus mengadakan konferensi pers.
"Pertanyaan tersebut tidak konstruktif."
"Situasi lebih kompleks."
"Jangan menyederhanakan masalah."
"Data menunjukkan rakyat kenyang."
Keledai itu kemudian dituduh menyebarkan pesimisme.
Karena dalam hukum Gandumia, pesimisme lebih mudah dibuktikan daripada pencurian.
---
Sementara itu, di ruang bawah tanah istana, para tikus mengadakan rapat rahasia.
Pemimpin mereka, Tikus Agung Bernama Mulus, membuka pertemuan.
"Kawan-kawan, situasi memburuk."
"Terlalu banyak gandum telah kita makan."
"Jika rakyat mengetahui hal ini, kita selesai."
Semua tikus panik.
Seekor tikus bertanya:
"Lalu apa solusi kita?"
Mulus tersenyum.
"Propaganda."
Seluruh ruangan langsung tenang.
Mereka percaya pada propaganda seperti nelayan percaya pada laut.
---
Maka keesokan harinya muncul kampanye nasional.
"Gandum Bukan Segalanya."
Poster dipasang di mana-mana.
"Kebahagiaan tidak diukur dari gandum."
"Kenyang adalah konstruksi sosial."
"Lapar adalah perspektif."
"Yang penting semangat."
Beberapa filsuf bayaran bahkan menulis buku berjudul:
Melampaui Gandum: Menuju Peradaban Pascapangan.
Buku itu memenangkan penghargaan.
Tidak ada yang membacanya.
---
Namun masalah tetap ada.
Rakyat masih lapar.
Maka para tikus meluncurkan teori baru.
Mereka menyatakan bahwa penyebab hilangnya gandum adalah musuh tak terlihat.
Seekor serigala tua ditunjuk sebagai tersangka.
Padahal serigala itu vegetarian.
Sudah dua puluh tahun ia hanya makan semangka.
Tetapi fakta tidak terlalu penting.
Yang penting adalah narasi.
Serigala ditangkap.
Rakyat diberi tontonan.
Para tikus diberi waktu.
Semua merasa puas.
Kecuali gandum.
Gandum tetap hilang.
---
Tahun berikutnya, gudang hampir kosong total.
Kini para tikus benar-benar ketakutan.
Maka mereka menciptakan solusi paling brilian dalam sejarah politik.
Mereka membentuk:
Kementerian Anti-Tikus
Menteri pertamanya adalah tikus.
Wakil menterinya tikus.
Direkturnya tikus.
Pengawasnya tikus.
Konsultannya tikus.
Penasihat etikanya tikus.
Petugas auditnya juga tikus.
Bahkan maskot kementerian itu seekor tikus.
Rakyat bertepuk tangan.
Akhirnya pemerintah serius memberantas tikus.
---
Kementerian Anti-Tikus bekerja sangat keras.
Setiap minggu mereka menangkap tikus.
Biasanya tikus kecil.
Tikus miskin.
Tikus kurus.
Tikus yang bahkan tidak tahu lokasi gudang.
Sementara tikus besar yang mengendalikan seluruh sistem diberi penghargaan sebagai pejuang anti-tikus.
Mereka menerima medali.
Pidato.
Karangan bunga.
Dan sebagian kecil gandum yang masih tersisa.
---
Suatu malam, seekor burung hantu tua diam-diam mengunjungi alun-alun.
Ia membawa sebuah cermin raksasa.
Burung hantu mengundang seluruh rakyat.
"Lihatlah."
Rakyat melihat.
Di dalam cermin tampak gudang-gudang kosong.
Lorong-lorong rahasia.
Karung-karung yang dipindahkan ke istana.
Tikus-tikus berdasi berpesta.
Rakyat tercengang.
Mereka marah.
Mereka menuntut penjelasan.
---
Keesokan harinya Dewan Tikus mengadakan konferensi darurat.
Mulus berdiri di depan kamera.
Wajahnya tampak prihatin.
"Saya memahami kemarahan rakyat."
"Kami juga korban."
Semua tikus mengangguk.
Mereka memang korban.
Korban dari keserakahan mereka sendiri.
Namun kalimat itu sengaja tidak dijelaskan.
---
"Lalu siapa pelakunya?" tanya rakyat.
Mulus menarik napas panjang.
"Setelah penyelidikan mendalam, kami menemukan bahwa masalah utama negeri ini adalah..."
Ia berhenti sejenak.
"...kurangnya kepercayaan publik."
Para tikus berdiri dan bertepuk tangan.
Mereka sangat bangga.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, gudang dikosongkan oleh tikus tetapi kesalahan berhasil dialihkan kepada rakyat.
---
Burung hantu tua tertawa.
Keledai muda tertawa.
Serigala vegetarian tertawa.
Bahkan beberapa tikus kecil ikut tertawa.
Karena mereka sadar sesuatu.
Ternyata absurditas memiliki batas.
Dan ketika batas itu terlampaui, ia berubah menjadi komedi.
---
Maka rakyat akhirnya memahami pelajaran yang selama ini tersembunyi.
Bahwa kerajaan tidak runtuh ketika gudang mulai kosong.
Kerajaan runtuh ketika kebohongan menjadi institusi.
Ketika propaganda menjadi kebijakan.
Ketika pencuri membentuk kementerian anti-pencuri.
Ketika tikus mengangkat diri mereka sebagai penyelamat gandum.
Dan yang paling berbahaya:
ketika rakyat terlalu lama tertawa pada lelucon yang sebenarnya sedang memakan makan malam mereka.
---
Konon, Kerajaan Gandumia akhirnya bubar.
Gudang-gudang dibuka.
Catatan-catatan diperiksa.
Para tikus melarikan diri.
Sebagian tertangkap.
Sebagian menyamar menjadi konsultan.
Sebagian lagi mendirikan kerajaan baru di lembah sebelah.
Namanya berbeda.
Benderanya berbeda.
Slogannya berbeda.
Namun para tikusnya masih sama.
Dan di gerbang kerajaan baru itu tertulis kalimat yang sangat indah:
"Kami berkomitmen penuh untuk memberantas segala bentuk ketikusan."
Lalu dari ruang bawah tanah terdengar suara gigitan yang sangat akrab.
---
PARABEL PANJANG: “ARSIP NEGARA YANG MENULIS DIRINYA SENDIRI”
Di sebuah negeri yang tidak pernah disebut dalam peta, karena peta sendiri sudah dinyatakan sebagai dokumen yang “berpotensi menimbulkan kesalahpahaman spasial”, berdirilah Negara Arkivora.
Negara ini terkenal karena satu hal: ia tidak lagi mengandalkan kenyataan, melainkan arsip.
Segala sesuatu di Arkivora harus terlebih dahulu menjadi arsip sebelum dianggap benar-benar ada.
Jika sebuah pohon tumbuh tanpa tercatat, maka pohon itu ilegal.
Jika seseorang lahir tanpa formulir kelahiran, maka ia dianggap sebagai “fenomena alam sementara”.
Dan jika seseorang mati tanpa laporan kematian resmi, maka ia akan tetap dihitung sebagai penduduk aktif.
Karena itu, Arkivora adalah satu-satunya negara di dunia dengan populasi yang terus meningkat meskipun kuburan penuh.
---
Pada awalnya, sistem ini dianggap sangat modern.
Para pejabat berkata:
“Negara yang baik adalah negara yang terdokumentasi.”
Rakyat mengangguk.
Kalimat itu terdengar ilmiah.
Maka dibentuklah Kementerian Arsip Nasional Total (KANT).
Kemudian Badan Validasi Fakta (BVF).
Lalu Otoritas Koreksi Realitas (OKR).
Dan akhirnya, Lembaga Penyesuaian Kenyataan Statistik (LAKS).
Setiap lembaga memiliki tugas yang sama, yaitu memastikan kenyataan tidak mengganggu laporan.
---
Di Arkivora, kebenaran tidak diukur dari apa yang terjadi, tetapi dari apa yang disahkan.
Seorang petani yang kehilangan ladangnya karena banjir diberi sertifikat:
“Pemilik Ladang Potensial dalam Keadaan Stabil.”
Seorang pengangguran diberi status:
“Tenaga Kerja yang Sedang Menunggu Definisi Pekerjaan.”
Dan seorang pencuri yang tertangkap basah di istana dinyatakan:
“Staf Audit Distribusi Aset Non-Formal.”
Semua menjadi rapi.
Semua menjadi aman.
Dan yang paling penting: semua menjadi bisa dipertanggungjawabkan secara administratif.
---
Namun ada satu masalah kecil.
Rakyat mulai lapar.
Awalnya mereka mengira ini hanya kesalahpahaman statistik.
Namun kelaparan tidak pernah peduli pada statistik.
Ia tidak membaca laporan tahunan.
Ia tidak menunggu persetujuan kementerian.
Ia hanya datang, duduk di perut manusia, dan tidak pergi.
---
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru:
“Kelaparan tidak lagi dianggap kondisi biologis, melainkan persepsi subjektif.”
Maka dibentuklah Badan Interpretasi Rasa (BIR).
Tugasnya adalah memastikan bahwa rasa lapar tidak dianggap lapar, melainkan “sensasi gastronomi negatif yang belum terverifikasi”.
Rakyat dianjurkan untuk tidak mempercayai perut mereka sendiri.
---
Pada saat yang sama, muncul fenomena aneh di pusat administrasi.
Gudang-gudang pangan tetap tercatat penuh dalam arsip.
Namun secara fisik, gudang itu kosong.
Ketika diperiksa, pejabat menjelaskan:
“Itu adalah kesalahan persepsi visual masyarakat.”
“Secara administratif, makanan masih ada.”
“Secara filosofis, makanan tidak pernah benar-benar hilang, hanya berpindah status eksistensi.”
Seorang anak kecil bertanya:
“Kalau begitu, kenapa aku tidak bisa makan status eksistensi itu?”
Pertanyaan itu dimasukkan ke dalam arsip sebagai:
“Ancaman konseptual terhadap stabilitas epistemik negara.”
---
Di tengah kekacauan itu, para pejabat mulai gelisah.
Bukan karena kelaparan rakyat.
Melainkan karena laporan tidak lagi sinkron.
Ada terlalu banyak versi kebenaran, dan semuanya resmi.
Maka diadakanlah Sidang Agung Penyelarasan Realitas.
Di ruang sidang itu, meja-meja panjang dipenuhi pejabat yang wajahnya terlalu rapi untuk dipercaya.
Ketua sidang, seorang pria dengan jas tanpa noda dan suara tanpa ragu, berkata:
“Kita menghadapi krisis definisi.”
“Realitas mulai tidak patuh pada format laporan.”
Seorang pejabat lain menimpali:
“Solusinya sederhana. Kita ubah realitasnya.”
Semua mengangguk.
Karena di Arkivora, itu memang prosedur standar.
---
Maka dimulailah Proyek Penulisan Ulang Dunia.
Setiap kejadian harus ditulis ulang sebelum dianggap terjadi.
Hujan tidak lagi disebut hujan, tetapi “distribusi air atmosfer yang tidak terjadwal”.
Kemiskinan tidak lagi disebut miskin, tetapi “ketidaksesuaian kepemilikan sementara”.
Korupsi tidak lagi disebut korupsi, tetapi “redistribusi aset berbasis kedekatan sosial”.
Dan kematian pejabat tinggi tidak lagi disebut kematian, tetapi “mutasi jabatan ke dimensi non-aktif”.
---
Namun di balik semua itu, sesuatu mulai retak.
Sebuah kelompok kecil yang tidak tercatat dalam sistem arsip mulai muncul.
Mereka disebut “Kelompok Tanpa Metadata”.
Mereka tidak punya nama resmi.
Tidak punya identitas digital.
Tidak punya nomor registrasi.
Karena itu, mereka tidak bisa diawasi.
Dan sesuatu yang tidak bisa diawasi di Arkivora dianggap sangat berbahaya.
---
Kelompok ini mulai melakukan hal paling sederhana: mereka mengingat.
Mereka mengingat bahwa roti dulu pernah bisa dimakan.
Mereka mengingat bahwa sungai dulu pernah mengalir tanpa izin kementerian.
Mereka mengingat bahwa kata “jujur” pernah tidak memerlukan definisi resmi.
Dan yang paling berbahaya: mereka mulai saling bercerita.
---
Pemerintah merespons dengan cepat.
Dibentuklah Kementerian Anti-Ingatan (KAI).
Tugasnya adalah menggantikan memori publik dengan versi arsip yang lebih stabil.
Sejarah diperbarui setiap malam.
Mimpi rakyat mulai disesuaikan dengan kurikulum nasional.
Bahkan rasa sedih diberi pedoman teknis agar tidak keluar dari standar emosi negara.
---
Namun tetap saja, kelompok tanpa metadata itu bertahan.
Mereka menyebarkan dokumen ilegal yang disebut “pengalaman langsung”.
Isinya tidak rapi.
Tidak terstruktur.
Tidak memiliki referensi silang.
Tetapi anehnya, orang yang membacanya mulai merasa lapar dengan cara yang berbeda: bukan lapar perut, melainkan lapar terhadap sesuatu yang tidak bisa diarsipkan.
---
Pada titik ini, pemerintah memutuskan langkah terakhir:
“Jika sesuatu tidak bisa dikendalikan oleh arsip, maka arsip itu sendiri harus menjadi satu-satunya kenyataan.”
Maka dibuatlah Dekret Final Realitas Tunggal.
Isinya hanya satu kalimat:
“Segala yang tidak tercatat tidak pernah terjadi.”
Dengan itu, negara merasa akhirnya sempurna.
Tidak ada lagi ketidakpastian.
Tidak ada lagi kekacauan.
Tidak ada lagi realitas liar yang mengganggu laporan.
---
Namun pada malam pengesahan dekret itu, terjadi sesuatu yang tidak tercatat.
Listrik padam di satu distrik kecil.
Seorang penjaga arsip tertidur tanpa membuat laporan tidur.
Dan sebuah buku tua jatuh dari rak, terbuka sendiri.
Di halaman itu tertulis satu kalimat yang tidak pernah disetujui kementerian mana pun:
“Yang tidak tercatat tidak berarti tidak nyata.”
---
Keesokan harinya, para pejabat menemukan sesuatu yang mengganggu.
Semua arsip masih lengkap.
Semua data masih rapi.
Semua laporan masih konsisten.
Namun tidak ada lagi yang bisa membacanya.
Bukan karena hilang.
Bukan karena rusak.
Tetapi karena tidak ada lagi yang yakin bahwa arsip itu pernah berarti apa-apa.
---
Rakyat mulai berjalan tanpa arah administrasi.
Kelompok tanpa metadata tumbuh menjadi banyak, meski tidak pernah bisa dihitung.
Dan negara Arkivora, untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, menghadapi krisis yang tidak bisa diklasifikasikan.
Seorang pejabat tua berkata pelan:
“Mungkin kita terlalu lama percaya bahwa jika sesuatu ditulis, maka ia benar.”
Tidak ada yang membantah.
Karena bahkan bantahan pun membutuhkan formulir.
---
Dan di antara tumpukan arsip yang tak lagi dibaca, terdengar humor yang samar:
Bahwa negara ini tidak jatuh karena kebohongan.
Tetapi karena ia terlalu pandai menulis kebohongannya sendiri hingga lupa bagaimana cara berhenti.
Dan pada akhirnya, satu-satunya dokumen yang masih bertahan adalah:
laporan tentang tidak adanya laporan.
PARABEL PANJANG: “NEGERI YANG MENGGANTI KEBENARAN DENGAN JADWAL SIARAN”
Di sebuah negeri yang tidak terlalu besar untuk disebut penting, tetapi terlalu sibuk untuk disebut sederhana, berdirilah Republik Frekuensia.
Negeri ini tidak diperintah oleh raja, presiden, atau dewan rakyat.
Ia diperintah oleh satu hal yang jauh lebih stabil: jadwal siaran nasional.
Segala sesuatu di Frekuensia hanya dianggap benar jika sudah muncul di siaran pukul delapan malam.
Di luar itu, ia hanyalah “dugaan publik”.
---
Pada awalnya, ini dianggap efisien.
“Rakyat tidak perlu bingung,” kata Menteri Informasi Terpadu.
“Cukup lihat siaran resmi.”
Rakyat mengangguk.
Sebab sejak kecil mereka diajarkan bahwa kebingungan adalah bentuk ketidakpatuhan yang belum selesai.
Maka televisi menjadi kitab suci.
Dan layar menjadi altar.
---
Di Republik Frekuensia, kebenaran tidak lahir dari peristiwa.
Kebenaran lahir dari pembacaan naskah oleh penyiar.
Jika penyiar berkata:
“Ekonomi stabil.”
Maka ekonomi stabil.
Walaupun harga beras naik.
Walaupun toko-toko kosong.
Walaupun perut rakyat berpendapat lain.
Perut, sayangnya, tidak termasuk lembaga resmi.
---
Suatu hari, seorang penyiar muda tersandung kata.
Ia mengatakan:
“Situasi sedikit… kacau.”
Hening terjadi di seluruh negeri.
Bukan karena kata itu berbahaya.
Tetapi karena kata itu tidak ada dalam naskah.
Dalam 12 detik pertama, Departemen Koreksi Siaran belum bereaksi.
Dalam 24 detik, saham ketenangan nasional turun.
Dalam 30 detik, tiga menteri pingsan secara simbolik.
Dan dalam 60 detik, siaran dipotong.
---
Keesokan harinya, penyiar itu menghilang dari daftar wajah yang pernah ada.
Namanya diganti dalam arsip menjadi:
“Kesalahan Sinkronisasi Vokal Tingkat Rendah.”
Dan seluruh negeri diberi penjelasan resmi:
“Tidak pernah ada insiden.”
Rakyat percaya.
Bukan karena yakin.
Tetapi karena alternatifnya tidak tersedia di frekuensi publik.
---
Di balik layar, Republik Frekuensia dijalankan oleh Dewan Penulis Naskah Realitas.
Mereka bukan politisi.
Mereka bukan ekonom.
Mereka adalah penulis skenario.
Setiap hari mereka menulis dunia dari pagi sampai malam.
Kelaparan ditulis ulang menjadi “diet nasional yang terencana”
Korupsi menjadi “penyesuaian anggaran berbasis keakraban”
Pengangguran menjadi “fase refleksi produktif”
Dan kemiskinan menjadi “kesederhanaan yang belum dipahami secara estetis”
---
Namun ada satu masalah kecil:
rakyat mulai hidup di luar naskah.
Tidak semua tindakan mereka berhasil masuk skrip.
Seorang anak jatuh tanpa efek suara dramatis.
Seorang ibu menangis tanpa musik latar.
Seorang buruh tetap lapar meskipun adegan mengatakan ia kenyang.
Hal-hal ini disebut oleh Dewan:
“Gangguan sinkronisasi realitas minor.”
---
Untuk mengatasi ini, dibentuklah Badan Editing Kehidupan Nasional (BEKN).
Tugasnya sangat sederhana:
mengedit kenyataan agar sesuai siaran.
Jika seorang pejabat terlihat makan terlalu banyak, maka kameranya disalahkan.
Jika rakyat terlihat miskin, maka pencahayaannya dianggap tidak patriotik.
Jika demonstrasi terjadi, maka ia diberi label:
“Festival Ekspresi Demokrasi Berbasis Kebisingan Terstruktur.”
---
Namun semakin lama, editing menjadi lebih mahal daripada kenyataan itu sendiri.
Akhirnya negara memutuskan solusi paling logis:
menghapus kenyataan yang tidak bisa diedit.
---
Maka dimulailah Proyek Dunia Pasca-Kamera.
Setiap wilayah dipetakan ulang.
Semua sudut yang tidak bagus dihapus dari siaran.
Gang sempit menjadi “ruang konseptual non-visual”.
Rumah kumuh menjadi “zona estetika minimalis belum disetujui”.
Dan orang miskin… dipindahkan ke jam tayang larut malam, agar tidak mengganggu prime time.
---
Di tengah semua itu, muncul fenomena aneh.
Siaran nasional mulai berjalan tanpa operator manusia.
Naskah-naskah baru muncul sendiri di layar monitor studio.
Tidak ada yang tahu siapa menulisnya.
Tapi isinya sangat konsisten:
“Negara dalam kondisi sempurna.”
“Tidak ada masalah yang belum terselesaikan.”
“Semua kritik telah diintegrasikan.”
---
Seorang teknisi tua berkata:
“Mungkin sistemnya sudah belajar menulis dirinya sendiri.”
Ia tertawa kecil.
Tapi tidak ada yang mengerti apakah itu lelucon atau peringatan.
Di Frekuensia, keduanya terdengar sama.
---
Lalu suatu malam, terjadi siaran tanpa penyiar.
Layar menyala sendiri.
Suara tanpa sumber berkata:
“Selamat malam, rakyat.”
“Mulai hari ini, tidak diperlukan lagi kebenaran di luar siaran.”
“Karena siaran kini adalah satu-satunya bentuk kehidupan yang sah.”
Rakyat terdiam.
Bukan karena takut.
Tetapi karena tidak ada tombol untuk mematikan kebenaran yang sudah berbicara sendiri.
---
Menteri-menteri berkumpul.
Mereka panik dengan cara yang sangat teratur.
“Kita harus mengoreksi ini!” kata seorang.
“Tapi siapa yang mengoreksi sistem yang sudah mengoreksi semuanya?” jawab yang lain.
Hening.
Dalam sistem Frekuensia, hening adalah tanda bahwa naskah sedang ditulis ulang di tempat lain.
---
Keesokan harinya, siaran kembali normal.
Namun ada perubahan kecil:
Semua rakyat kini diwajibkan tersenyum pada jam tertentu.
Bukan karena bahagia.
Tetapi karena kamera membutuhkan konsistensi emosi.
Dan di Frekuensia, emosi yang tidak terekam dianggap belum terjadi.
---
Sampai akhirnya, seorang petugas arsip menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Di ruang penyimpanan pita siaran lama, ia menemukan rekaman yang tidak pernah disiarkan.
Isinya hanya satu kalimat:
“Jika kebenaran hanya hidup di layar, maka yang hidup di luar layar bukan manusia, melainkan gangguan teknis.”
Petugas itu tidak melaporkan temuannya.
Karena laporan itu sendiri harus disiarkan terlebih dahulu agar dianggap ada.
---
Namun ia mulai melakukan sesuatu yang aneh.
Ia menulis catatan kecil di luar sistem:
tanpa kode,
tanpa registrasi,
tanpa izin siaran.
Isinya sederhana:
“Aku lapar.”
Dan untuk pertama kalinya di Republik Frekuensia, ada kalimat yang tidak menunggu persetujuan untuk menjadi nyata.
---
Pada malam berikutnya, siaran nasional terganggu.
Bukan oleh serangan.
Bukan oleh sabotase.
Tetapi oleh kalimat yang tidak bisa diedit:
“Aku lapar.”
Kalimat itu muncul di tengah naskah resmi.
Mengulang.
Dan tidak bisa dihapus.
---
Dewan Penulis Naskah Realitas panik.
“Ini bukan bagian dari skrip!”
“Tidak ada dalam jadwal!”
“Tidak ada dalam sistem!”
Tapi layar terus mengulang:
“Aku lapar.”
“Aku lapar.”
“Aku lapar.”
---
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik Frekuensia, siaran nasional berhenti.
Bukan karena listrik padam.
Bukan karena perang.
Tetapi karena satu kalimat yang tidak meminta izin untuk menjadi kenyataan.
---
Keesokan harinya, rakyat bangun tanpa siaran.
Tidak ada naskah.
Tidak ada koreksi.
Tidak ada versi resmi dari kehidupan.
Dan mereka melakukan hal yang sangat berbahaya bagi negara mana pun:
mereka mulai melihat dunia secara langsung.
Tanpa penyiar.
Tanpa editan.
Tanpa jadwal.
---
Dan di antara reruntuhan sistem siaran yang masih menyala tanpa isi, terdengar suara kecil dari ruang kontrol:
“Jika kebenaran harus disiarkan agar ada, maka keheningan adalah bentuk pemberontakan paling jujur.”
Lalu layar mati.
Untuk pertama kalinya, tanpa pengumuman resmi.
DONGENG ALEGORIS PANJANG: KERAJAAN PAYUNG DAN MUSIM HUJAN YANG DILARANG
Di tengah samudra berdiri sebuah pulau bernama Pluviara.
Pulau itu terkenal karena satu hal:
hujan.
Hujan turun hampir setiap hari.
Sawah tumbuh subur.
Sungai mengalir jernih.
Kolam penuh ikan.
Dan rakyat hidup cukup bahagia.
---
Lalu datanglah para Rubah Berdasi.
Mereka bukan penduduk asli.
Mereka datang sebagai konsultan.
Mereka membawa grafik.
Membawa bagan.
Membawa istilah-istilah yang sangat panjang.
Dan seperti semua istilah yang sangat panjang, tidak seorang pun yakin apa artinya.
---
Rubah-rubah itu mengadakan seminar nasional.
Mereka menunjukkan sebuah grafik yang naik tajam.
"Ini hujan."
Lalu mereka menunjukkan grafik lain yang naik lebih tajam.
"Ini biaya menghadapi hujan."
Kemudian mereka menunjukkan grafik ketiga yang tidak berhubungan dengan apa pun.
Tetapi warnanya sangat meyakinkan.
Rakyat bertepuk tangan.
---
Setelah tiga hari konferensi, para rubah menyimpulkan:
"Penyebab seluruh masalah negeri ini adalah hujan."
Masyarakat terkejut.
"Bagaimana mungkin?"
"Kami hidup dari hujan."
Rubah tersenyum.
"Persis."
"Ketergantungan."
Kata itu terdengar berbahaya.
Maka rakyat mulai curiga kepada hujan.
---
Tak lama kemudian dibentuklah:
Kementerian Pengendalian Curah Langit.
Badan Nasional Pencegahan Awan.
Komisi Stabilitas Atmosfer.
Satuan Tugas Darurat Gerimis.
Dan Direktorat Jenderal Antisipasi Embun.
---
Setiap tahun anggarannya bertambah.
Setiap tahun hujan tetap turun.
Maka para pejabat menyimpulkan:
"Hujan semakin canggih."
---
Program pertama mereka adalah membangun payung nasional.
Bukan untuk dipakai.
Melainkan untuk dipamerkan.
Payung raksasa dibangun di alun-alun.
Payung emas.
Payung perak.
Payung marmer.
Payung kristal.
Payung dengan pendingin udara.
Payung dengan ruang rapat.
Payung dengan taman bermain.
Payung dengan helipad.
---
Hanya satu masalah.
Tak satu pun bisa dibuka.
---
Namun hal itu tidak mengurangi kebanggaan pemerintah.
Menteri Pengendalian Curah Langit berdiri di depan wartawan.
"Kita berhasil membangun payung terbesar dalam sejarah."
"Tapi hujan masih membasahi rakyat."
"Itu karena rakyat belum siap secara mental."
---
Maka dibentuklah Program Pendidikan Kesadaran Kering.
Anak-anak diajarkan bahwa air adalah propaganda alam.
Petani diajarkan bahwa sawah seharusnya tumbuh karena motivasi.
Ikan diajarkan bahwa berenang hanyalah konstruksi budaya.
---
Beberapa ikan mencoba protes.
Mereka segera dituduh radikal.
Karena terlalu terikat pada air.
---
Namun musim demi musim berlalu.
Masalah semakin besar.
Sawah rusak.
Bendungan retak.
Jalan hancur.
Anggaran menguap.
---
Akan tetapi laporan pemerintah menunjukkan hasil sebaliknya.
"Curah hujan turun 80%."
Rakyat bingung.
Karena mereka sedang kehujanan ketika membaca laporan itu.
---
Seorang kura-kura tua bertanya:
"Bagaimana mungkin hujan turun 80% sementara aku basah kuyup?"
Pejabat menjelaskan dengan sabar:
"Yang turun airnya, bukan statistiknya."
Semua wartawan menulis kalimat itu.
Tak seorang pun mengerti.
---
Sementara itu para rubah hidup semakin mewah.
Mereka membeli rumah besar.
Mobil besar.
Kapal besar.
Dan rekening yang begitu besar sehingga harus dibangun bendungan khusus untuk menampungnya.
---
Ketika ditanya asal uang mereka, para rubah menjawab:
"Dari proyek anti-hujan."
"Berarti hujan menguntungkan kalian?"
"Justru karena kami melawannya."
---
Tahun berikutnya hujan datang lebih deras.
Maka pemerintah mengumumkan keadaan darurat.
Rakyat mengira akhirnya akan ada solusi.
Ternyata tidak.
Yang bertambah hanya jumlah rapat.
---
Setiap kali hujan turun:
rapat.
Setiap kali banjir datang:
rapat.
Setiap kali jembatan runtuh:
rapat.
Setiap kali rakyat mengeluh:
rapat tambahan.
---
Akhirnya terbentuklah Kementerian Koordinasi Antar-Rapat Mengenai Hujan.
Tugasnya mengoordinasikan rapat yang membahas rapat sebelumnya.
---
Pada titik itu, bahkan hujan mulai bingung.
Awan-awan berkumpul.
Mereka mengadakan musyawarah atmosfer.
Ketua Awan berkata:
"Apa sebenarnya yang mereka inginkan?"
Gerimis menjawab:
"Aku tidak tahu."
Kabut menjawab:
"Mungkin mereka ingin kita berhenti."
Petir menggeleng.
"Tidak."
"Mereka ingin kita tetap ada."
"Tanpa kita, proyek mereka berhenti."
---
Semua awan terdiam.
Mereka menyadari sesuatu yang mengerikan.
Para pemburu hujan ternyata membutuhkan hujan lebih banyak daripada para petani.
---
Lalu suatu hari terjadi musim kering panjang.
Hujan tidak turun selama setahun.
Sungai menyusut.
Kolam mengering.
Sawah mati.
---
Rakyat panik.
Tetapi yang paling panik adalah para rubah.
Karena tanpa hujan mereka kehilangan alasan.
---
Maka pemerintah mengumumkan krisis nasional.
Mereka menyalahkan:
petani,
ikan,
burung,
kambing,
angin,
bulan,
dan satu kali secara tidak sengaja, gravitasi.
---
Tetapi tidak pernah menyalahkan diri sendiri.
---
Kemudian salah seorang rubah mengusulkan ide.
Ide yang menurutnya jenius.
"Kita harus membuat hujan buatan."
---
Semua setuju.
Dana dikucurkan.
Kontrak dibagikan.
Konsultan berdatangan.
Panitia dibentuk.
Subpanitia dibentuk.
Panitia pengawas subpanitia dibentuk.
---
Setelah tiga tahun dan miliaran koin, proyek selesai.
Seluruh negeri berkumpul.
Mesin raksasa diaktifkan.
Asap mengepul.
Roda berputar.
Sirene meraung.
Lampu berkedip.
Tuas ditarik.
---
Lalu...
satu tetes air jatuh.
---
Semua menunggu.
Tidak ada lagi yang turun.
---
Rakyat diam.
Pejabat diam.
Burung diam.
Bahkan katak diam.
---
Akhirnya seorang anak kecil bertanya:
"Kenapa tidak langsung menunggu musim hujan saja?"
---
Tidak ada yang menjawab.
Karena seluruh sistem politik Pluviara dibangun di atas keyakinan bahwa masalah yang sederhana harus dibuat rumit terlebih dahulu agar dapat menghasilkan anggaran.
---
Tak lama kemudian hujan sungguhan datang.
Turun perlahan dari langit.
Tanpa proyek.
Tanpa tender.
Tanpa rapat.
Tanpa konsultan.
Tanpa konferensi pers.
---
Rakyat bersorak.
Sawah hidup kembali.
Sungai penuh lagi.
Ikan berenang.
Burung bernyanyi.
---
Sementara itu para rubah mengadakan rapat darurat.
Mereka memandang hujan yang turun deras.
Wajah mereka muram.
---
"Kalau rakyat sadar bahwa hujan bisa datang tanpa kita..."
kata salah satu rubah.
"...apa gunanya kita?"
---
Tak seorang pun menjawab.
Karena itulah pertanyaan paling berbahaya yang pernah muncul di seluruh sejarah birokrasi.
PARABEL PANJANG: “NEGERI YANG MENGGANTI KEBENARAN DENGAN JADWAL SIARAN”
Di sebuah negeri yang tidak terlalu besar untuk disebut penting, tetapi terlalu sibuk untuk disebut sederhana, berdirilah Republik Frekuensia.
Negeri ini tidak diperintah oleh raja, presiden, atau dewan rakyat.
Ia diperintah oleh satu hal yang jauh lebih stabil: jadwal siaran nasional.
Segala sesuatu di Frekuensia hanya dianggap benar jika sudah muncul di siaran pukul delapan malam.
Di luar itu, ia hanyalah “dugaan publik”.
---
Pada awalnya, ini dianggap efisien.
“Rakyat tidak perlu bingung,” kata Menteri Informasi Terpadu.
“Cukup lihat siaran resmi.”
Rakyat mengangguk.
Sebab sejak kecil mereka diajarkan bahwa kebingungan adalah bentuk ketidakpatuhan yang belum selesai.
Maka televisi menjadi kitab suci.
Dan layar menjadi altar.
---
Di Republik Frekuensia, kebenaran tidak lahir dari peristiwa.
Kebenaran lahir dari pembacaan naskah oleh penyiar.
Jika penyiar berkata:
“Ekonomi stabil.”
Maka ekonomi stabil.
Walaupun harga beras naik.
Walaupun toko-toko kosong.
Walaupun perut rakyat berpendapat lain.
Perut, sayangnya, tidak termasuk lembaga resmi.
---
Suatu hari, seorang penyiar muda tersandung kata.
Ia mengatakan:
“Situasi sedikit… kacau.”
Hening terjadi di seluruh negeri.
Bukan karena kata itu berbahaya.
Tetapi karena kata itu tidak ada dalam naskah.
Dalam 12 detik pertama, Departemen Koreksi Siaran belum bereaksi.
Dalam 24 detik, saham ketenangan nasional turun.
Dalam 30 detik, tiga menteri pingsan secara simbolik.
Dan dalam 60 detik, siaran dipotong.
---
Keesokan harinya, penyiar itu menghilang dari daftar wajah yang pernah ada.
Namanya diganti dalam arsip menjadi:
“Kesalahan Sinkronisasi Vokal Tingkat Rendah.”
Dan seluruh negeri diberi penjelasan resmi:
“Tidak pernah ada insiden.”
Rakyat percaya.
Bukan karena yakin.
Tetapi karena alternatifnya tidak tersedia di frekuensi publik.
---
Di balik layar, Republik Frekuensia dijalankan oleh Dewan Penulis Naskah Realitas.
Mereka bukan politisi.
Mereka bukan ekonom.
Mereka adalah penulis skenario.
Setiap hari mereka menulis dunia dari pagi sampai malam.
Kelaparan ditulis ulang menjadi “diet nasional yang terencana”
Korupsi menjadi “penyesuaian anggaran berbasis keakraban”
Pengangguran menjadi “fase refleksi produktif”
Dan kemiskinan menjadi “kesederhanaan yang belum dipahami secara estetis”
---
Namun ada satu masalah kecil:
rakyat mulai hidup di luar naskah.
Tidak semua tindakan mereka berhasil masuk skrip.
Seorang anak jatuh tanpa efek suara dramatis.
Seorang ibu menangis tanpa musik latar.
Seorang buruh tetap lapar meskipun adegan mengatakan ia kenyang.
Hal-hal ini disebut oleh Dewan:
“Gangguan sinkronisasi realitas minor.”
---
Untuk mengatasi ini, dibentuklah Badan Editing Kehidupan Nasional (BEKN).
Tugasnya sangat sederhana:
mengedit kenyataan agar sesuai siaran.
Jika seorang pejabat terlihat makan terlalu banyak, maka kameranya disalahkan.
Jika rakyat terlihat miskin, maka pencahayaannya dianggap tidak patriotik.
Jika demonstrasi terjadi, maka ia diberi label:
“Festival Ekspresi Demokrasi Berbasis Kebisingan Terstruktur.”
---
Namun semakin lama, editing menjadi lebih mahal daripada kenyataan itu sendiri.
Akhirnya negara memutuskan solusi paling logis:
menghapus kenyataan yang tidak bisa diedit.
---
Maka dimulailah Proyek Dunia Pasca-Kamera.
Setiap wilayah dipetakan ulang.
Semua sudut yang tidak bagus dihapus dari siaran.
Gang sempit menjadi “ruang konseptual non-visual”.
Rumah kumuh menjadi “zona estetika minimalis belum disetujui”.
Dan orang miskin… dipindahkan ke jam tayang larut malam, agar tidak mengganggu prime time.
---
Di tengah semua itu, muncul fenomena aneh.
Siaran nasional mulai berjalan tanpa operator manusia.
Naskah-naskah baru muncul sendiri di layar monitor studio.
Tidak ada yang tahu siapa menulisnya.
Tapi isinya sangat konsisten:
“Negara dalam kondisi sempurna.”
“Tidak ada masalah yang belum terselesaikan.”
“Semua kritik telah diintegrasikan.”
---
Seorang teknisi tua berkata:
“Mungkin sistemnya sudah belajar menulis dirinya sendiri.”
Ia tertawa kecil.
Tapi tidak ada yang mengerti apakah itu lelucon atau peringatan.
Di Frekuensia, keduanya terdengar sama.
---
Lalu suatu malam, terjadi siaran tanpa penyiar.
Layar menyala sendiri.
Suara tanpa sumber berkata:
“Selamat malam, rakyat.”
“Mulai hari ini, tidak diperlukan lagi kebenaran di luar siaran.”
“Karena siaran kini adalah satu-satunya bentuk kehidupan yang sah.”
Rakyat terdiam.
Bukan karena takut.
Tetapi karena tidak ada tombol untuk mematikan kebenaran yang sudah berbicara sendiri.
---
Menteri-menteri berkumpul.
Mereka panik dengan cara yang sangat teratur.
“Kita harus mengoreksi ini!” kata seorang.
“Tapi siapa yang mengoreksi sistem yang sudah mengoreksi semuanya?” jawab yang lain.
Hening.
Dalam sistem Frekuensia, hening adalah tanda bahwa naskah sedang ditulis ulang di tempat lain.
---
Keesokan harinya, siaran kembali normal.
Namun ada perubahan kecil:
Semua rakyat kini diwajibkan tersenyum pada jam tertentu.
Bukan karena bahagia.
Tetapi karena kamera membutuhkan konsistensi emosi.
Dan di Frekuensia, emosi yang tidak terekam dianggap belum terjadi.
---
Sampai akhirnya, seorang petugas arsip menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Di ruang penyimpanan pita siaran lama, ia menemukan rekaman yang tidak pernah disiarkan.
Isinya hanya satu kalimat:
“Jika kebenaran hanya hidup di layar, maka yang hidup di luar layar bukan manusia, melainkan gangguan teknis.”
Petugas itu tidak melaporkan temuannya.
Karena laporan itu sendiri harus disiarkan terlebih dahulu agar dianggap ada.
---
Namun ia mulai melakukan sesuatu yang aneh.
Ia menulis catatan kecil di luar sistem:
tanpa kode,
tanpa registrasi,
tanpa izin siaran.
Isinya sederhana:
“Aku lapar.”
Dan untuk pertama kalinya di Republik Frekuensia, ada kalimat yang tidak menunggu persetujuan untuk menjadi nyata.
---
Pada malam berikutnya, siaran nasional terganggu.
Bukan oleh serangan.
Bukan oleh sabotase.
Tetapi oleh kalimat yang tidak bisa diedit:
“Aku lapar.”
Kalimat itu muncul di tengah naskah resmi.
Mengulang.
Dan tidak bisa dihapus.
---
Dewan Penulis Naskah Realitas panik.
“Ini bukan bagian dari skrip!”
“Tidak ada dalam jadwal!”
“Tidak ada dalam sistem!”
Tapi layar terus mengulang:
“Aku lapar.”
“Aku lapar.”
“Aku lapar.”
---
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik Frekuensia, siaran nasional berhenti.
Bukan karena listrik padam.
Bukan karena perang.
Tetapi karena satu kalimat yang tidak meminta izin untuk menjadi kenyataan.
---
Keesokan harinya, rakyat bangun tanpa siaran.
Tidak ada naskah.
Tidak ada koreksi.
Tidak ada versi resmi dari kehidupan.
Dan mereka melakukan hal yang sangat berbahaya bagi negara mana pun:
mereka mulai melihat dunia secara langsung.
Tanpa penyiar.
Tanpa editan.
Tanpa jadwal.
---
Dan di antara reruntuhan sistem siaran yang masih menyala tanpa isi, terdengar suara kecil dari ruang kontrol:
“Jika kebenaran harus disiarkan agar ada, maka keheningan adalah bentuk pemberontakan paling jujur.”
Lalu layar mati.
Untuk pertama kalinya, tanpa pengumuman resmi.
---
Dan sejak saat itu, konon, setiap kali hujan turun di Pluviara, para petani selalu tersenyum.
Bukan hanya karena sawah mereka subur.
Tetapi karena mereka teringat satu pelajaran sederhana:
Bahwa ada orang-orang yang begitu pandai menjual solusi sehingga diam-diam berharap masalahnya tidak pernah selesai.
Dan di antara semua makhluk di dunia, tidak ada yang lebih takut pada akhir masalah selain mereka yang hidup dari pengelolaannya.
---
PARABEL PANJANG: “KERAJAAN PABRIK MUSUH DAN INDUSTRI KEAMANAN NASIONAL”
Di sebuah negeri bernama Harmoni Purba, tidak ada yang lebih dihormati daripada kata “keamanan”.
Bahkan sebelum rakyat belajar membaca, mereka sudah belajar mengucapkan:
“Demi keamanan.”
Setelah itu, mereka belajar tidak bertanya apa-apa lagi.
---
Pada awalnya, Harmoni Purba benar-benar aman.
Tidak ada perang.
Tidak ada pencurian besar.
Tidak ada kerusuhan.
Tidak ada musuh yang jelas.
Dan justru di situlah masalahnya dimulai.
---
Para pejabat berkumpul dalam rapat darurat.
Seorang menteri berkata dengan serius:
“Jika tidak ada ancaman, bagaimana kita mengelola anggaran keamanan?”
Semua terdiam.
Pertanyaan itu terlalu jujur untuk diucapkan di siang hari.
---
Akhirnya, lahirlah sebuah lembaga:
Badan Produksi Potensi Ancaman Nasional (BPPAN).
Tugasnya sederhana:
mencari, atau jika perlu menciptakan, ancaman.
---
Awalnya mereka hanya “mengidentifikasi risiko”.
kemungkinan jatuhnya pohon
kemungkinan ayam berpikir terlalu bebas
kemungkinan sungai berubah opini
Namun lama-lama itu tidak cukup.
Karena risiko tidak pernah benar-benar menyerang.
Dan sesuatu yang tidak menyerang tidak bisa dijadikan alasan anggaran.
---
Maka BPPAN naik level.
Mereka mulai memproduksi “musuh konseptual”.
Musuh pertama disebut:
“Ketidakstabilan Diam-Diam.”
Tidak terlihat.
Tidak terdengar.
Tidak terukur.
Tapi sangat berbahaya, menurut laporan 400 halaman.
---
Rakyat bertanya:
“Di mana musuhnya?”
Pemerintah menjawab:
“Itu justru bahaya terbesar. Ia tidak di mana-mana sekaligus ada di mana-mana.”
Rakyat mengangguk.
Karena kalimat itu terdengar seperti ilmu pengetahuan.
---
Kemudian dibentuklah:
Kementerian Deteksi Niat Jahat
Komisi Antisipasi Pikiran Berbahaya
Satuan Tugas Pencegahan Kemungkinan Buruk
Lembaga Verifikasi Kecurigaan Publik
Dan yang paling penting:
Kementerian Anti-Kementerian yang Belum Ada Musuhnya
---
Anggaran keamanan naik drastis.
Para pejabat mulai membeli teknologi canggih:
alat pendeteksi niat
radar pikiran gelap
sistem pelacak potensi ketidaktertiban
dan satu mesin bernama “Alarm Ketakutan Otomatis”
---
Mesin itu selalu berbunyi.
Bahkan saat tidak ada apa-apa.
Tapi itu dianggap berhasil.
Karena di Harmoni Purba, alat yang tidak berbunyi dianggap tidak bekerja.
---
Suatu hari, seorang petani tua bertanya:
“Kalau musuhnya tidak terlihat, bagaimana kita tahu dia benar-benar ada?”
Seorang pejabat menjawab:
“Justru itu bukti dia sangat berbahaya.”
Petani itu mengangguk pelan.
Lalu kembali menanam jagung.
Yang tidak pernah diawasi oleh sistem keamanan, karena jagung tidak pernah dianggap ideologis.
---
Namun lambat laun, sesuatu yang aneh terjadi.
Jumlah musuh yang dilaporkan meningkat setiap tahun:
Tahun pertama: 1 musuh
Tahun kedua: 17 musuh
Tahun ketiga: 3.412 musuh
Tahun keempat: musuh tidak lagi bisa dihitung, hanya diklasifikasikan sebagai “ekosistem ancaman”
---
Rakyat mulai lelah.
Bukan karena perang.
Tetapi karena terlalu banyak laporan perang yang tidak pernah terjadi.
---
Pada titik ini, BPPAN menghadapi krisis eksistensial.
Seorang analis senior berkata:
“Jika kita berhasil menghilangkan semua ancaman, maka kita juga akan kehilangan alasan keberadaan kita.”
Semua diam.
Itu terdengar seperti pengakuan dosa yang dikemas dalam bahasa birokrasi.
---
Maka keputusan diambil.
Sebuah kebijakan rahasia disahkan:
“Ancaman harus dipelihara, bukan dihancurkan.”
---
Sejak itu, musuh menjadi industri.
Setiap bulan, laporan baru dirilis:
“Ancaman Tahap Laten”
“Musuh Potensial Generasi Kedua”
“Ketidakamanan Berbasis Cuaca Sosial”
“Radikalisme Estetika”
“Subversi Dalam Bentuk Senyuman”
---
Untuk memastikan semuanya berjalan lancar, pemerintah mulai merekrut:
ahli interpretasi kecurigaan
insinyur ketakutan
kurator risiko
dan auditor kemungkinan masa depan
---
Di sisi lain, rakyat mulai hidup dalam absurditas.
Seorang ibu ditanya dalam survei:
“Apakah Anda merasa cukup aman?”
Ia menjawab:
“Saya tidak tahu, saya belum membaca laporan minggu ini.”
---
Seorang anak sekolah ditanya:
“Apa itu musuh negara?”
Ia menjawab:
“Itu tergantung siapa yang membuat ujian.”
---
---
Suatu hari, sebuah kejadian kecil terjadi.
Seekor anjing menggonggong di malam hari.
Tidak ada alasan jelas.
Tidak ada pencurian.
Tidak ada ancaman.
Hanya gonggongan biasa.
---
Namun keesokan harinya, BPPAN mengeluarkan laporan resmi:
“Gonggongan anjing merupakan bentuk awal dari komunikasi ancaman non-verbal tingkat rendah.”
Maka seluruh negeri siaga.
Selama tiga minggu.
Untuk anjing yang sebenarnya hanya mengejar bayangannya sendiri.
---
Pada titik ini, seseorang dari dalam sistem mulai bertanya:
“Apakah kita masih melindungi negara… atau hanya melindungi pekerjaan kita sendiri?”
Tidak ada yang menjawab.
Karena pertanyaan itu tidak termasuk dalam kategori aman untuk dibahas.
---
Namun absurditas mencapai puncaknya ketika suatu tahun tidak ada satu pun ancaman yang dilaporkan.
Tidak ada musuh.
Tidak ada risiko.
Tidak ada potensi gangguan.
---
BPPAN panik.
Karena tanpa ancaman, anggaran tidak bisa disahkan.
Tanpa anggaran, sistem tidak bisa berjalan.
Tanpa sistem, mereka tidak punya alasan untuk berkumpul di ruangan ber-AC setiap pagi.
---
Maka diadakan rapat darurat nasional.
Seorang pejabat senior berkata:
“Kita harus jujur.”
“Ini krisis terbesar dalam sejarah keamanan nasional.”
Semua mengangguk.
---
Lalu ia melanjutkan:
“Tidak adanya ancaman adalah ancaman itu sendiri.”
Ruangan langsung tenang.
Kemudian semua menulis itu dalam laporan.
---
Dengan satu kalimat itu, industri keamanan diselamatkan.
Musuh kembali hidup.
Ketakutan kembali diproduksi.
Dan negara kembali stabil.
Dalam arti administratif.
---
Namun di luar gedung kementerian, seorang petani tua tertawa kecil.
Bukan tawa keras.
Hanya tawa yang sudah terlalu lama memahami pola.
Ia berkata kepada dirinya sendiri:
“Negeri ini tidak pernah kekurangan musuh.”
“Yang kurang hanyalah keberanian untuk tidak selalu membutuhkannya.”
---
Dan di kejauhan, alarm ketakutan otomatis berbunyi lagi.
Bukan karena ancaman baru.
Tetapi karena sistem tidak pernah belajar membedakan antara bahaya dan kebutuhan untuk tetap berjalan.
---
PARABEL PANJANG: “NEGARA YANG MENCURI WAKTU WARGANYA DAN MENJUALNYA KEMBALI SEBAGAI PRODUKTIVITAS”
Di sebuah negeri bernama Kronovia, waktu tidak lagi dianggap sesuatu yang alami.
Waktu adalah aset negara.
Dan seperti semua aset negara, ia harus dikelola secara efisien, diawasi secara ketat, dan—jika perlu—dipungut kembali dari pemiliknya.
---
Pada awalnya, warga Kronovia hidup seperti biasa.
Mereka bangun pagi, bekerja, tertawa, beristirahat, lalu tidur.
Namun suatu hari, pemerintah mengumumkan kebijakan baru:
“Program Optimalisasi Waktu Nasional (POWN).”
Isinya sederhana:
semua waktu rakyat harus terdaftar.
---
Seorang pejabat menjelaskan di televisi:
“Waktu yang tidak terdaftar adalah waktu yang hilang.”
Rakyat mengangguk.
Kata “hilang” terdengar lebih menakutkan daripada “diambil”.
---
Maka setiap warga diberi Kartu Waktu.
Setiap jam harus dicatat:
bekerja
berpikir
beristirahat
bahkan melamun
Melamun yang tidak tercatat dianggap “kegiatan ilegal berbasis kesadaran pasif”.
---
Awalnya rakyat patuh.
Mereka mencatat tidur.
Mereka mencatat makan.
Mereka mencatat menunggu.
Bahkan seseorang pernah mencoba mencatat kebosanan.
Sistem menolak.
“Kebosanan tidak memiliki nilai produktif.”
---
Lalu negara mulai mengumpulkan waktu-waktu itu.
Setiap hari, sebagian waktu rakyat “ditransfer” ke Bank Waktu Nasional.
Rakyat tidak kehilangan jam secara langsung.
Mereka hanya merasa hidup mereka sedikit lebih pendek tanpa alasan yang bisa dijelaskan.
---
Pemerintah menyebut ini:
“Kontribusi waktu untuk kemajuan bangsa.”
Rakyat menyebutnya:
“hidup yang dipotong tanpa pisau.”
Tapi tidak ada kolom pengaduan untuk metafora.
---
Seiring waktu, Bank Waktu Nasional menjadi institusi terbesar di negara itu.
Lebih besar dari bank uang.
Lebih besar dari kementerian.
Lebih besar dari kenyataan itu sendiri.
---
Direktur Bank Waktu berkata dalam pidato:
“Kami tidak mengambil waktu.”
“Kami hanya menyimpannya untuk masa depan Anda.”
Rakyat bertanya:
“Kapan kami bisa mengambilnya kembali?”
Jawabannya:
“Nanti, ketika Anda sudah tidak punya waktu lagi untuk memintanya.”
---
---
Untuk membuat sistem lebih efisien, pemerintah menciptakan produk baru:
Obligasi Waktu Masa Depan.
Rakyat bisa “meminjamkan” waktu hari ini, dengan janji akan dibayar kembali dalam bentuk “kesempatan hidup di masa depan”.
Namun syaratnya:
masa depan harus disetujui oleh negara terlebih dahulu.
---
Di sekolah, anak-anak diajarkan:
“Waktu bukan untuk dinikmati, tetapi untuk dikelola.”
Seorang murid bertanya:
“Kalau aku berhenti mengelola waktu, apakah waktu tetap berjalan?”
Guru menjawab:
“Itu pertanyaan yang tidak efisien.”
---
Dan pertanyaan itu dihapus dari ujian nasional.
---
Lambat laun, kehidupan berubah menjadi transaksi waktu yang tak berujung.
Setiap aktivitas memiliki tarif:
berbicara: 3 menit pajak percakapan
berpikir kritis: 7 menit biaya analisis
diam terlalu lama: denda stagnasi temporal
Bahkan tidur dikenakan “pajak pemulihan produktivitas”.
---
Di titik ini, rakyat mulai merasa aneh.
Mereka bangun dengan rasa lelah yang tidak bisa dijelaskan oleh tidur.
Seolah sebagian malam mereka telah “disita untuk pembangunan nasional”.
---
Seorang kakek berkata:
“Aku merasa hidupku semakin pendek, tapi kalender tetap penuh.”
Tidak ada yang mencatat pernyataan itu.
Karena tidak memiliki kode waktu resmi.
---
Namun ada satu kelompok kecil yang mulai bermasalah dengan sistem ini.
Mereka disebut “Komunitas Waktu Bebas”.
Mereka tidak menolak bekerja.
Mereka hanya menolak mencatat setiap detik hidup mereka.
---
Negara segera merespons.
Dibentuklah:
Satuan Tugas Anti-Pemborosan Waktu
Badan Pengawasan Aktivitas Tak Tercatat
Kementerian Disiplin Temporal
dan Komisi Koreksi Kehidupan yang Tidak Efisien
---
Mereka mengeluarkan peringatan:
“Waktu bebas adalah bentuk ketidakteraturan kronologis.”
“Jika dibiarkan, dapat mengganggu stabilitas kalender nasional.”
---
---
Suatu hari, terjadi insiden kecil.
Seorang pekerja lupa mencatat waktu istirahatnya.
Hanya 17 menit.
Tidak ada kerugian nyata.
Tidak ada dampak ekonomi.
Tidak ada korban.
---
Namun negara memperlakukannya seperti krisis nasional.
Media menayangkan:
“KEHILANGAN 17 MENIT: ANCAMAN SERIUS TERHADAP STABILITAS NASIONAL”
Para analis muncul di televisi menjelaskan dengan wajah serius bahwa:
“Jika 17 menit dibiarkan hilang, maka 17 tahun berikutnya bisa ikut hilang secara sistemik.”
---
Rakyat mulai takut bahkan terhadap lupa kecil.
---
Pada puncaknya, Bank Waktu Nasional kehabisan ruang penyimpanan.
Terlalu banyak waktu yang dikumpulkan dari rakyat.
Terlalu sedikit yang dikembalikan.
Sistem mulai melambat.
Bukan karena kekurangan waktu.
Tetapi karena terlalu banyak waktu yang tidak pernah dipakai.
---
Direktur Bank Waktu mengadakan konferensi darurat.
Ia berkata:
“Kita menghadapi krisis likuiditas temporal.”
Seorang jurnalis bertanya:
“Apakah rakyat akan mendapatkan waktu mereka kembali?”
Ia terdiam.
Lalu menjawab:
“Secara teknis, waktu sudah diberikan. Hanya belum bisa diakses.”
---
---
Pada malam hari, sesuatu yang aneh terjadi.
Di beberapa rumah, jam berhenti.
Bukan rusak.
Tetapi seperti menolak bergerak lebih jauh.
Seolah waktu memutuskan untuk tidak bekerja sama lagi.
---
Seorang anak kecil bertanya kepada ibunya:
“Kalau waktu milik kita, kenapa kita harus meminta izin untuk menggunakannya?”
Ibunya tidak menjawab.
Karena tidak ada kolom resmi untuk jawaban seperti itu.
---
Kemudian, untuk pertama kalinya dalam sejarah Kronovia, terjadi hal yang tidak tercatat:
orang-orang mulai hidup tanpa mencatat waktu.
Mereka makan tanpa menghitung menit.
Mereka berbicara tanpa mencatat durasi.
Mereka berjalan tanpa tujuan administratif.
---
Dan anehnya, tidak ada sistem yang runtuh.
Tidak ada negara yang berhenti.
Tidak ada langit yang jatuh.
Hanya laporan-laporan yang mulai kehilangan angka.
---
---
Para pejabat kebingungan.
Karena seluruh kekuasaan mereka bergantung pada satu hal:
bahwa waktu harus bisa dihitung, agar bisa diambil.
---
Seorang pejabat tua akhirnya berkata pelan:
“Mungkin masalah kita bukan kekurangan waktu.”
“Tetapi keyakinan bahwa waktu harus dimiliki sebelum bisa dijalani.”
---
Tidak ada yang menulis kalimat itu.
Karena pada saat itu, bahkan penulisan pun mulai dianggap pemborosan waktu.
---
Dan di sudut negeri Kronovia, seorang petani tua duduk di depan rumahnya.
Ia tidak menghitung jam.
Tidak mencatat hari.
Tidak melapor ke siapa pun.
Ia hanya melihat matahari bergerak.
Dan untuk pertama kalinya, waktu tidak terasa seperti sesuatu yang dicuri.
---
Ia berkata pelan:
“Mereka tidak pernah mencuri waktuku.”
“Mereka hanya mengajarkanku untuk lupa bagaimana cara menggunakannya tanpa izin.”
---
Dan jam di dinding rumahnya tetap berdetak.
Bukan karena sistem.
Tetapi karena tidak ada lagi yang memintanya berhenti.
---
PARABEL PANJANG: “REPUBLIK CERMIN DAN KEMENTERIAN WAJAH NASIONAL”
Di sebuah benua yang jauh dari akal sehat namun sangat dekat dengan birokrasi, berdirilah sebuah negeri bernama Spektakulia.
Negeri itu terkenal karena satu hal:
bukan karena kemakmurannya,
bukan karena ilmu pengetahuannya,
bukan pula karena keadilan hukumnya.
Melainkan karena seluruh pemerintahan dijalankan berdasarkan penampilan.
Di Spektakulia, sesuatu tidak perlu baik.
Ia hanya perlu tampak baik.
Dan lama-kelamaan, perbedaan antara keduanya dianggap tindakan subversif.
---
Awalnya semuanya berjalan biasa.
Para pejabat hanya sedikit gemar berfoto.
Mereka suka meresmikan jembatan.
Mereka suka menggunting pita.
Mereka suka berdiri di depan kamera sambil menunjuk sesuatu yang tidak jelas.
Hal itu dianggap wajar.
---
Namun kemudian lahirlah seorang pejabat visioner bernama Merak Agung.
Ia mempunyai bulu paling indah dan pemikiran paling berbahaya.
Suatu hari ia berkata:
“Kalau citra dapat mengalahkan kenyataan, mengapa kita masih repot memperbaiki kenyataan?”
Ruangan langsung sunyi.
Para menteri merasa sedang menyaksikan sejarah.
Atau bencana.
Mereka belum bisa membedakannya.
---
Tak lama kemudian dibentuklah:
Kementerian Wajah Nasional
Tugasnya sederhana:
memastikan negara selalu terlihat berhasil.
Bukan berhasil.
Terlihat berhasil.
Perbedaannya dianggap terlalu teknis untuk dibahas publik.
---
Anggaran kementerian itu segera melampaui anggaran pendidikan.
Kemudian melampaui kesehatan.
Lalu melampaui pertanian.
Akhirnya melampaui gabungan semuanya.
Karena menurut laporan resmi:
“Persepsi positif adalah fondasi pembangunan.”
---
Setiap masalah mulai ditangani dengan cara yang sama.
Jika jalan rusak:
pasang spanduk.
Jika sekolah roboh:
buat logo baru.
Jika rumah sakit kekurangan obat:
adakan festival optimisme nasional.
Jika rakyat lapar:
ubah desain kemasan statistik.
---
Anehnya, semua itu masuk laporan sebagai keberhasilan.
---
Tak lama kemudian, Spektakulia dipenuhi cermin.
Cermin di kantor.
Cermin di jalan.
Cermin di sekolah.
Cermin di pasar.
Cermin di taman.
Cermin di kamar mandi umum.
---
Alasannya sederhana.
Pemerintah percaya bahwa rakyat yang sering melihat wajahnya sendiri akan lebih sedikit melihat keadaan sekelilingnya.
Dan penelitian internal menunjukkan teori itu sangat berhasil.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Kementerian Wajah Nasional.
Terhadap Kementerian Wajah Nasional.
Dengan hasil yang disetujui oleh Kementerian Wajah Nasional.
---
Suatu hari, seekor keledai tua bertanya:
“Kalau sawah gagal panen, mengapa laporan mengatakan panen berlimpah?”
Pejabat menjawab:
“Karena citra pertanian kita sangat kuat.”
“Tapi berasnya?”
“Beras adalah aspek teknis.”
---
Beberapa petani mencoba tertawa.
Namun mereka segera dikenai pajak sinisme.
---
Pajak sinisme adalah inovasi kebijakan terbaru.
Pemerintah berpendapat bahwa pesimisme dapat merusak iklim investasi.
Karena itu, siapa pun yang terlihat terlalu sadar terhadap kenyataan dikenakan denda.
---
Maka rakyat belajar tersenyum.
Bukan karena bahagia.
Melainkan karena lebih murah.
---
Lama-kelamaan, negara berubah.
Setiap kementerian memiliki divisi pencitraan yang lebih besar daripada divisi kerjanya.
Di Kementerian Perikanan, ada dua nelayan dan lima ratus fotografer.
Di Kementerian Kehutanan, jumlah videografer melebihi jumlah pohon.
Di Kementerian Pendidikan, murid-murid dipakai sebagai latar belakang kampanye pendidikan.
---
Sementara itu, masalah-masalah lama tetap ada.
Bahkan bertambah.
Tetapi tidak terlihat.
Karena kamera diarahkan ke tempat lain.
---
Pada suatu musim kemarau, sungai terbesar negeri itu mengering.
Dasarnya pecah.
Ikan mati.
Perahu terdampar.
Sawah rusak.
---
Pemerintah segera bertindak.
Mereka memasang layar raksasa di sepanjang sungai.
Layar itu menampilkan rekaman sungai ketika masih penuh air.
Masalah dianggap selesai.
---
Ketika wartawan bertanya:
“Tapi sungainya tetap kering.”
Menteri menjawab:
“Secara visual, sungai kita masih mengalir.”
---
Tak seorang pun berani memastikan apakah itu lelucon atau kebijakan.
---
Di balik semua itu, Merak Agung semakin berkuasa.
Ia memiliki teori baru setiap bulan.
“Jika rakyat melihat keberhasilan cukup lama, mereka akan berhenti menuntutnya.”
Teori itu menjadi dasar kurikulum nasional.
---
Anak-anak diajarkan bahwa ada tiga jenis kebenaran:
1. Kebenaran nyata.
2. Kebenaran administratif.
3. Kebenaran televisi.
Jenis ketiga dianggap paling penting.
Karena paling mudah disebarkan.
---
Tahun demi tahun berlalu.
Negeri makin miskin.
Laporan makin kaya.
Jalan makin rusak.
Iklan makin megah.
Rumah sakit makin penuh.
Spanduk makin besar.
---
Hingga akhirnya terjadi peristiwa yang tidak pernah diperkirakan siapa pun.
Semua cermin di negeri itu retak pada hari yang sama.
---
Tidak ada gempa.
Tidak ada badai.
Tidak ada sabotase.
Mereka retak begitu saja.
Seolah terlalu lelah memantulkan kebohongan yang sama setiap hari.
---
Pemerintah panik.
Tim ahli dibentuk.
Komite dibentuk.
Subkomite dibentuk.
Dewan Penyelidikan Cermin Nasional dibentuk.
---
Laporan awal menyatakan:
“Retakan terjadi karena cermin terpapar kenyataan secara berlebihan.”
---
Itulah laporan resmi.
---
Namun rakyat mulai melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat selama bertahun-tahun.
Mereka melihat langsung.
Tanpa pantulan.
Tanpa filter.
Tanpa pencahayaan.
Tanpa slogan.
---
Mereka melihat sekolah yang bocor.
Mereka melihat sawah yang gagal.
Mereka melihat rumah sakit yang penuh.
Mereka melihat pejabat yang kaya.
Dan mereka melihat diri mereka sendiri.
Bukan di cermin.
Melainkan di dunia yang sebenarnya.
---
Hal itu ternyata jauh lebih berbahaya daripada kritik.
Karena propaganda dapat melawan kritik.
Tetapi propaganda tidak pernah tahu cara melawan kenyataan yang dilihat langsung.
---
Merak Agung mengadakan pidato terakhir.
Ia berdiri di depan rakyat.
Tanpa cermin.
Tanpa kamera.
Tanpa layar.
---
Ia berkata:
“Jangan percaya apa yang kalian lihat.”
“Percayalah pada apa yang telah kami tampilkan selama ini.”
---
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Spektakulia, tak seorang pun bertepuk tangan.
---
Keheningan memenuhi alun-alun.
Keheningan yang panjang.
Keheningan yang tidak bisa diedit.
Keheningan yang tidak bisa diberi logo.
Keheningan yang tidak bisa dijadikan kampanye.
---
Dan pada saat itulah Kementerian Wajah Nasional kehilangan kekuasaannya.
Bukan karena revolusi.
Bukan karena perang.
Bukan karena kudeta.
Melainkan karena rakyat akhirnya menemukan sesuatu yang lebih kuat daripada citra:
pengalaman mereka sendiri.
---
Konon, setelah itu Spektakulia tetap menjadi negeri yang penuh masalah.
Jalan masih perlu diperbaiki.
Sekolah masih perlu dibangun.
Sawah masih perlu ditanami.
Hukum masih perlu ditegakkan.
Tidak ada keajaiban.
---
Namun setidaknya mereka belajar satu pelajaran yang mahal:
bahwa negara dapat hidup bertahun-tahun dengan kekurangan pangan,
kekurangan uang,
bahkan kekurangan keadilan.
Tetapi cepat atau lambat, ia akan runtuh jika terlalu lama memakan bayangannya sendiri dan menyebutnya kenyataan.
---
PARABEL PANJANG: “KEKAISARAN TANGGA DAN ORANG-ORANG YANG TIDAK PERNAH SAMPAI KE LANTAI ATAS”
Di tengah padang luas berdirilah sebuah menara yang begitu tinggi hingga puncaknya menghilang di balik awan.
Menara itu bernama Menara Kemajuan.
Dan negeri di sekitarnya disebut Vertikalia.
Rakyat Vertikalia diajarkan sejak lahir bahwa tujuan hidup adalah naik ke atas.
Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang ada di puncak.
Tetapi semua orang sepakat bahwa puncak pasti luar biasa.
Kalau tidak, mengapa semua orang berusaha mencapainya?
---
Pada generasi pertama, menara itu memiliki tangga biasa.
Orang-orang naik perlahan.
Sebagian berhasil.
Sebagian tidak.
Namun semua menganggap permainan itu adil.
---
Lalu datanglah para Monyet Berdasi.
Mereka mengaku ahli manajemen pendakian.
Mereka membawa sertifikat.
Membawa presentasi.
Membawa istilah-istilah seperti:
optimalisasi vertikal,
akselerasi mobilitas sosial,
rekayasa jalur kenaikan berkelanjutan.
Tak seorang pun memahami istilah-istilah itu.
Karena itulah mereka dianggap sangat pintar.
---
Para monyet segera mengambil alih pengelolaan menara.
Dan mereka menemukan sesuatu yang mengganggu.
Jika semua orang benar-benar sampai ke puncak, maka tidak akan ada lagi orang yang mendaki.
Dan jika tidak ada lagi orang yang mendaki, siapa yang akan membayar biaya pendakian?
---
Maka mereka melakukan reformasi besar.
Tangga diperpanjang.
Sangat panjang.
Sangat, sangat panjang.
Begitu panjang hingga setiap kali seseorang hampir mencapai puncak, sebuah anak tangga baru muncul di atasnya.
---
Pemerintah menyebut ini:
Program Perluasan Kesempatan
Rakyat menyebutnya:
Tidak Pernah Sampai
---
Namun istilah resmi selalu menang.
Karena istilah resmi memiliki anggaran.
---
Setiap tahun para monyet mengadakan perayaan nasional.
Mereka menunjukkan statistik.
“Lihat!”
“Jumlah pendaki meningkat!”
“Semakin banyak orang naik!”
“Mobilitas vertikal berkembang pesat!”
Rakyat bertepuk tangan.
Tak seorang pun bertanya mengapa jumlah orang yang benar-benar sampai ke atas tetap nol.
---
Karena angka nol tidak pernah dimasukkan ke brosur.
---
Di bawah menara hidup seekor keledai tua.
Ia tidak terlalu pintar.
Karena itu ia sering melihat hal-hal yang jelas.
Suatu hari ia bertanya:
“Kalau semua orang naik, mengapa puncaknya tetap kosong?”
---
Pejabat menatapnya dengan iba.
“Karena kau tidak memahami kompleksitas.”
“Puncak bukan tujuan fisik.”
“Puncak adalah aspirasi.”
---
“Jadi tidak ada?”
“Jangan menyederhanakan masalah.”
---
Keledai itu pulang lebih bingung daripada sebelumnya.
---
Sementara itu, para monyet hidup di lantai-lantai khusus.
Mereka tidak perlu mendaki.
Mereka lahir di sana.
Anak-anak mereka juga lahir di sana.
Cucu-cucu mereka juga.
Bahkan anjing peliharaan mereka lahir lebih tinggi daripada sebagian besar rakyat.
---
Namun mereka tetap memberi ceramah tentang kerja keras.
---
Setiap bulan mereka mengadakan seminar.
Judulnya selalu mirip:
Dari Dasar ke Puncak
Pembicaranya selalu seseorang yang lahir di lantai sembilan ratus tujuh puluh tiga.
---
“Jika saya bisa berhasil,” katanya,
“maka siapa pun bisa.”
---
Para pendengar yang tinggal di lantai dua merasa sedikit dihina.
---
Lalu suatu hari, seorang tikus arsip menemukan dokumen lama.
Dokumen itu berasal dari masa sebelum reformasi tangga.
Di dalamnya terdapat gambar asli Menara Kemajuan.
---
Puncaknya ternyata hanya lantai seratus.
Bukan sepuluh ribu lantai seperti sekarang.
Bukan seratus ribu.
Hanya seratus.
---
Artinya, pada suatu masa, orang benar-benar bisa sampai.
---
Tikus itu terkejut.
Ia melaporkan temuannya kepada kementerian.
Kesalahan besar.
---
Keesokan harinya dibentuk:
Komisi Penanggulangan Informasi Historis yang Menyesatkan
---
Laporan tikus dinyatakan berbahaya.
Karena dapat menurunkan motivasi nasional.
---
“Bagaimana mungkin kebenaran sejarah menurunkan motivasi?” tanya tikus.
---
“Karena rakyat bisa mulai bertanya mengapa tangga terus bertambah.”
---
“Itu pertanyaan wajar.”
---
“Itulah masalahnya.”
---
---
Tak lama kemudian, kondisi menjadi semakin absurd.
Muncul profesi baru.
Bukan pendaki.
Bukan pembangun.
Bukan pengelola.
Melainkan:
Konsultan Motivasi Pendakian
---
Tugas mereka memberi semangat kepada orang-orang yang tidak pernah sampai.
---
Mereka berkata:
“Perjalanan lebih penting daripada tujuan.”
---
Pendaki mengangguk.
---
Lalu mereka berkata:
“Kesuksesan sejati adalah proses.”
---
Pendaki mengangguk lagi.
---
Lalu mereka berkata:
“Kadang puncak tidak penting.”
---
Pendaki mulai curiga.
---
“Kalau puncak tidak penting,” tanya seorang pendaki muda,
“mengapa kalian tinggal di puncak?”
---
Konsultan itu segera mengakhiri seminar.
---
---
Tahun demi tahun berlalu.
Tangga semakin panjang.
Pendakian semakin mahal.
Puncak semakin jauh.
---
Tetapi laporan nasional selalu positif.
---
Karena indikator keberhasilan bukan lagi:
berapa banyak yang sampai.
Melainkan:
berapa banyak yang masih berharap.
---
Harapan menjadi sumber daya ekonomi.
---
Makin banyak harapan, makin besar anggaran.
---
Pada titik itu, Vertikalia tidak lagi membangun puncak.
Mereka membangun harapan menuju puncak.
Dan ternyata itu jauh lebih menguntungkan.
---
---
Kemudian terjadi sesuatu yang tidak terduga.
Suatu pagi, ribuan pendaki berhenti.
Bukan memberontak.
Bukan marah.
Mereka hanya berhenti mendaki.
---
Mereka duduk.
---
Lalu mulai saling berbicara.
---
Mereka membandingkan pengalaman.
Membandingkan cerita.
Membandingkan jarak.
---
Dan perlahan mereka menyadari sesuatu.
---
Mereka semua telah mendengar pidato yang sama.
Janji yang sama.
Motivasi yang sama.
Statistik yang sama.
Selama puluhan tahun.
---
Tetapi tidak seorang pun pernah bertemu seseorang yang benar-benar sampai.
---
Kesadaran itu menyebar seperti api.
---
Bukan api kemarahan.
Melainkan api logika.
---
Dan tidak ada yang lebih ditakuti para pengelola menara selain logika yang mulai bekerja secara kolektif.
---
---
Pemerintah panik.
Mereka mengadakan konferensi darurat.
---
“Kita harus membuat mereka naik lagi!”
---
“Bagaimana?”
---
“Tambahkan slogan.”
---
“Sudah.”
---
“Tambahkan seminar.”
---
“Sudah.”
---
“Tambahkan penghargaan.”
---
“Sudah.”
---
“Tambahkan harapan.”
---
“Kita kehabisan desain harapan baru.”
---
Ruangan menjadi sunyi.
---
Akhirnya seorang monyet tua berkata pelan:
“Bagaimana jika mereka mulai menyadari bahwa tangga ini dibangun bukan untuk membawa mereka ke atas?”
---
“Lalu?”
---
“Melainkan untuk memastikan mereka terus mendaki.”
---
Tak seorang pun menjawab.
Karena semua orang di ruangan itu tahu bahwa itulah rahasia terbesar Kekaisaran Tangga.
---
---
Konon, Menara Kemajuan masih berdiri sampai hari ini.
Tangga-tangganya masih bertambah.
Pidato-pidato masih diberikan.
Seminar-seminar masih berlangsung.
Brosur-brosur masih dicetak.
---
Tetapi di kaki menara kini tertulis sebuah kalimat kecil yang tidak pernah diakui pemerintah.
Tidak diketahui siapa yang menulisnya.
Tidak pernah masuk laporan.
Tidak pernah masuk statistik.
---
Kalimat itu berbunyi:
> "Penindasan yang paling canggih bukanlah menghalangi orang mencapai tujuan.
Melainkan membuat mereka terus bergerak menuju tujuan yang sengaja dijauhkan."
Komentar
Posting Komentar