PERKARA BAHASA NOMOR 33:
NEGARA YANG DIPERINTAH OLEH KATA SIFAT
Pada mulanya negara itu diperintah oleh kata benda.
Jalan adalah jalan.
Rumah adalah rumah.
Sekolah adalah sekolah.
Rumah sakit adalah rumah sakit.
Definisi-definisi sederhana semacam itu membuat hidup tenang.
Lalu datanglah kata sifat.
Dan segala sesuatu menjadi lebih rumit.
Jalan tidak lagi cukup disebut jalan.
Ia harus menjadi:
jalan unggul,
jalan strategis,
jalan visioner,
jalan berkelanjutan,
jalan berkelas dunia.
Rumah sakit tidak lagi cukup menjadi rumah sakit.
Ia harus menjadi:
rumah sakit modern,
transformatif,
inklusif,
adaptif,
progresif.
Sekolah tidak lagi boleh disebut sekolah.
Ia harus menjadi:
pusat pembelajaran unggulan berbasis inovasi berkelanjutan.
Kata benda mulai kelelahan.
Mereka merasa ditindih.
Setiap tahun jumlah kata sifat bertambah.
Mutunya tidak.
Suatu hari sebuah jembatan roboh.
Para insinyur berkata:
"Jembatan ini rapuh."
Pejabat menjawab:
"Tetapi namanya Jembatan Unggul Nasional."
Dan untuk beberapa saat mereka mengira kata sifat bisa menahan gravitasi.
---
PERKARA BAHASA NOMOR 34:
PARALELISME YANG MENJADI MENTERI
Paralelisme adalah gaya bahasa yang tertib.
Ia menyukai keteraturan.
Menyukai keseimbangan.
Menyukai bentuk yang simetris.
Awalnya ia menjadi penyair.
Lalu menjadi orator.
Lalu menjadi politisi.
Di sinilah masalah bermula.
Pidatonya sangat indah.
"Kita bekerja untuk rakyat."
"Kita berjuang untuk rakyat."
"Kita berkorban untuk rakyat."
"Kita hidup untuk rakyat."
Rakyat terharu.
Tepuk tangan bergemuruh.
Musik dimainkan.
Bendera dikibarkan.
Drone diterbangkan.
Lalu seorang wartawan bertanya:
"Selain struktur kalimat yang seimbang, apa yang sebenarnya telah dilakukan?"
Ruangan mendadak sunyi.
Karena paralelisme dapat menyelaraskan bunyi.
Tetapi tidak otomatis menyelaraskan kenyataan.
---
PERKARA BAHASA NOMOR 35:
LEGENDA TENTANG METONIMIA
Metonimia adalah makhluk yang aneh.
Ia suka mengganti sesuatu dengan sesuatu yang dekat dengannya.
Mahkota untuk raja.
Istana untuk pemerintah.
Kursi untuk jabatan.
Meja hijau untuk pengadilan.
Suatu hari Metonimia menjadi jurnalis.
Dan segera melihat masalah.
"Istana mengatakan..."
tulisnya.
Padahal istana tidak punya mulut.
Yang bicara manusia.
"Pasar menginginkan..."
tulisnya.
Padahal pasar tidak punya keinginan.
Yang ingin adalah para pemilik modal.
"Negara memutuskan..."
tulisnya.
Padahal negara tidak pernah duduk rapat.
Yang duduk rapat adalah sejumlah orang dengan nama dan tanda tangan.
Lama-kelamaan Metonimia merasa bersalah.
Karena ia menyadari dirinya telah membantu menyamarkan pelaku.
Ia telah mengubah manusia menjadi bangunan.
Keputusan menjadi abstraksi.
Kepentingan menjadi institusi.
Dan tidak ada tempat yang lebih aman bagi seorang penjahat selain di belakang kata benda kolektif.
---
PERKARA BAHASA NOMOR 36:
PENGADILAN HOMONIM
Di sebuah kota kecil, dua kata ditangkap.
Namanya sama.
Maknanya berbeda.
Mereka adalah homonim.
Jaksa kesulitan.
Hakim kebingungan.
Wartawan panik.
Karena tidak jelas siapa yang dituduh.
"Saudara Korupsi, apakah benar Anda mencuri?"
tanya hakim.
"Aku Korupsi yang berarti rusak."
jawab terdakwa pertama.
"Bukan Korupsi yang berarti pencurian uang publik."
Hakim menggaruk kepala.
Sidang ditunda.
Masalah semakin besar.
Karena di luar gedung pengadilan ternyata ada banyak kata lain yang mengalami nasib serupa.
Reformasi.
Demokrasi.
Kebebasan.
Pembangunan.
Perubahan.
Semua terdengar sama.
Tetapi masing-masing pihak memakainya dengan makna berbeda.
Akhirnya hakim menyerah.
Ia berkata:
"Persoalan terbesar republik ini ternyata bukan kurangnya kata."
"Melainkan terlalu banyak orang menggunakan kata yang sama untuk menunjuk dunia yang berbeda."
---
---
---
Komentar
Posting Komentar