PERKARA BAHASA

---

KANTOR PENERJEMAH SEMESTA

Tidak semua bahasa terdiri atas kata-kata. Karena itulah, jauh sebelum manusia menemukan kamus, semesta telah mendirikan sebuah Kantor Penerjemah.

Gedungnya tidak berada di negara mana pun. Jendelanya menghadap ke segala arah. Jam dindingnya tidak menunjukkan waktu, tetapi musim-musim ketika sesuatu akhirnya berhasil dipahami.

Pegawainya sangat banyak. Ada yang menerjemahkan hujan menjadi kerinduan. Ada yang menerjemahkan keriput menjadi usia. Ada yang menerjemahkan diam menjadi penghormatan. Ada pula yang setiap hari gagal menerjemahkan cinta menjadi satu definisi yang disepakati semua orang.

Ruang paling sibuk berada di lantai tiga. Di sanalah suara-suara yang tidak pernah sempat diucapkan diterjemahkan menjadi mimpi.

Setiap malam petugas menerima ribuan kiriman.
- Permintaan maaf yang tertahan di tenggorokan.
- Ucapan terima kasih yang dianggap terlambat.
- Kalimat "aku takut" yang berubah menjadi kemarahan sebelum sempat keluar.

Semua itu dikumpulkan, disortir, lalu diterjemahkan menjadi bunga yang tumbuh dalam tidur, hujan yang turun tanpa diduga, atau lagu yang tiba-tiba terngiang sepanjang perjalanan pulang.

Pekerjaan itu sangat melelahkan. Sebab manusia jarang mengatakan apa yang sebenarnya mereka maksud.

Di lantai lima bekerja para penerjemah sejarah. Mereka menerima peristiwa-peristiwa yang tampak biasa, lalu mencoba menemukan bahasa yang sanggup menjelaskannya kepada masa depan.

Seorang anak yang meminjamkan penghapus kepada temannya.

Seorang sopir yang menghentikan kendaraannya untuk memberi jalan seekor kura-kura.

Seorang perempuan tua yang setiap sore menyiram tanaman di depan rumah kosong.

"Perlukah semua ini dicatat?" tanya pegawai baru.

Kepala bagian mengangguk, "Sejarah terlalu sibuk mengingat perang. Kami bertugas mengingat hal-hal yang membuat perang masih mungkin berakhir."

Namun ruang yang paling sunyi berada di loteng. Di sana bekerja hanya satu orang. Tugasnya menerjemahkan kesunyian.

Tidak seorang pun tahu bagaimana caranya bekerja. Ia hanya duduk di dekat jendela, memandang langit, lalu sesekali menulis satu kalimat pendek pada secarik kertas.

Anehnya, setiap kali ia selesai menulis, di suatu tempat yang jauh seseorang tiba-tiba merasa lebih mampu memahami dirinya sendiri.

Suatu hari seorang filsuf datang mengunjungi kantor itu.

Ia bertanya kepada kepala penerjemah, "Bahasa apa yang paling sulit diterjemahkan?"

Kepala penerjemah tidak segera menjawab. Ia mengajak tamunya keluar gedung. Mereka berdiri di trotoar.

Seorang anak kecil sedang mencoba mengajari kakeknya menggunakan telepon genggam. Keduanya berkali-kali salah menekan tombol, lalu tertawa bersama.

"Itu?" tanya filsuf.

Kepala penerjemah mengangguk.

"Itu."

"Akan tetapi, mereka berbicara dalam bahasa yang sama."

"Justru itulah persoalannya."

Filsuf itu terdiam.

Kepala penerjemah melanjutkan, "Orang mengira penerjemahan terjadi ketika dua bahasa bertemu. Padahal pekerjaan kami yang sesungguhnya dimulai ketika dua orang memakai bahasa yang sama, tetapi membawa pengalaman yang berbeda."

Malam harinya, ketika kantor hampir tutup, semua pegawai mengembalikan kamus mereka ke rak.

Hanya satu meja yang tetap kosong. Meja itu disediakan untuk bahasa yang belum lahir.

Konon, setiap kali manusia mengalami sesuatu yang belum pernah dialami siapa pun sebelumnya, sebuah kata baru diam-diam berjalan menuju meja itu.

Ia belum memiliki ejaan, belum memiliki bunyi, belum memiliki arti. Ia hanya membawa harapan bahwa suatu hari nanti, seseorang akan cukup sabar untuk menerjemahkan dunia sekali lagi.

---

AKADEMI UNTUK TEOREMA YANG TIDAK BERHASIL DIBUKTIKAN

Di ujung sebuah kota yang dipenuhi universitas berdiri akademi yang tidak pernah menerima mahasiswa baru.

Bukan karena mereka sombong, melainkan karena setiap orang yang datang selalu mengira dirinya hendak belajar jawaban. Padahal akademi itu hanya mengajarkan cara hidup bersama pertanyaan.

Gedungnya sederhana. Tidak ada patung ilmuwan di halaman. Tidak ada semboyan dalam bahasa Latin. Di atas pintu masuk hanya tertulis satu kalimat:

"Beberapa hal benar jauh sebelum berhasil dibuktikan."

Di ruang pertama, para dosen mengajar teorema-teorema yang gagal.

Bukan teorema yang salah, melainkan teorema yang sepanjang sejarah terus diyakini benar, tetapi tidak seorang pun mampu menyusun pembuktiannya.

Seorang mahasiswa bertanya, "Kalau belum terbukti, mengapa tetap dipelajari?"

Dosen itu mengambil sebutir biji.

Ia menanamnya di tanah.

"Kau tahu ini akan tumbuh?"

"Mungkin."

"Apakah kau sudah melihatnya?"

"Belum."

"Lalu, mengapa kau tetap menyiramnya?"

Mahasiswa itu tidak menjawab.

Kuliah hari itu dianggap selesai.

Di ruang kedua, tidak ada papan tulis. Hanya meja-meja penuh penghapus.

Di sanalah para peneliti menghapus langkah-langkah pembuktian yang keliru. Bertahun-tahun. Berlembar-lembar. Tak seorang pun menganggap pekerjaan itu sia-sia. Karena mereka percaya, setiap kesalahan yang berhasil dihapus membuat jalan menuju kebenaran menjadi sedikit lebih lapang.

Yang paling dihormati di akademi itu bukanlah profesor, melainkan seorang petugas kebersihan.

Setiap pagi ia menyapu serpihan kapur dari lantai.

Konon, ia hafal semua rumus yang pernah ditulis di papan. Namun ia tidak pernah mengingat hasilnya. Yang diingatnya justru jeda ketika seseorang berhenti menulis, memandang keluar jendela, lalu menyadari bahwa persoalannya lebih besar daripada persamaan yang sedang dikerjakannya.

Suatu hari datang seorang anak kecil. Ia bukan calon mahasiswa. Ia hanya tersesat.

Melihat sebuah papan penuh simbol, ia bertanya, "Ini gambar apa?"

Seorang profesor menjawab, "Ini pembuktian."

Anak itu menggeleng, "Bukan."

"Lalu?"

"Ini orang yang sedang mencoba."

Profesor itu diam cukup lama.

Malamnya ia mencoret seluruh naskah kuliahnya dan mengganti satu kalimat pertama.

"Matematika bukanlah kumpulan jawaban, melainkan sejarah tentang manusia yang belajar untuk tidak menyerah pada sesuatu yang belum mereka pahami."

Sejak itu, banyak orang datang ke akademi tersebut. Sebagian pulang membawa rumus. Sebagian membawa kebingungan yang lebih besar. Namun ada segelintir orang yang pulang dengan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Mereka akhirnya mengerti bahwa kehidupan tidak selalu meminta kita menemukan bukti. Kadang-kadang ia hanya meminta kita cukup jujur untuk mengakui, "Aku belum tahu."

Dan anehnya, pengakuan itu sering menjadi langkah pertama menuju kebenaran yang selama ini mencari seseorang yang bersedia tidak tergesa-gesa menemukannya.

---

MUSEUM UNTUK HAL-HAL YANG MENOLAK DIKLASIFIKASIKAN

Museum itu tidak memiliki ruang mamalia, tidak memiliki ruang mineral, tidak memiliki ruang sejarah, tidak pula memiliki ruang seni.

Direkturnya pernah berkata, "Museum lain mengumpulkan benda. Kami mengumpulkan kegagalan memberi nama."

Karena itu, koleksi mereka sangat aneh.

Di lemari pertama tersimpan tawa yang terdengar tepat sebelum seseorang menangis. Kurator berkali-kali mencoba menggolongkannya sebagai kegembiraan. Tidak berhasil. Mencatatnya sebagai kesedihan juga keliru. Akhirnya benda itu diberi label:

"Masih diperdebatkan."

Di ruang berikutnya terdapat sebuah kursi kayu.

Setiap pengunjung yang duduk di sana mengingat orang yang berbeda. Seorang perempuan teringat gurunya. Seorang anak mengingat anjing peliharaannya. Seorang narapidana mengingat pohon mangga di halaman rumah masa kecil.

Kursi itu telah diperiksa oleh para ahli material, neurolog, psikolog, bahkan sejarawan.

Tak seorang pun sepakat tentang apa sebenarnya yang disimpannya.

Ada yang berkata ingatan. Ada yang berkata kehilangan. Ada pula yang mengusulkan agar kursi itu dipindahkan ke ruang furnitur.

Usulan itu ditolak.

"Furnitur tidak pernah membuat seseorang pulang ke masa lalu," kata direktur.

Setiap tahun museum mengadakan rapat besar untuk memperbarui sistem klasifikasi.

Para ahli datang dari berbagai disiplin. Ahli biologi membawa pohon evolusi. Ahli bahasa membawa kamus. Ahli matematika membawa teori himpunan. Ahli filsafat membawa pertanyaan.

Rapat selalu berlangsung berhari-hari. Hasilnya selalu sama. Kategori bertambah. Pengecualian bertambah lebih cepat.

Direktur tampak senang setiap kali itu terjadi.

Suatu hari seorang mahasiswa magang bertanya, "Mengapa Bapak tidak berusaha membuat sistem yang sempurna?"

Direktur mengajaknya ke gudang belakang. Di sana terdapat ribuan kotak kardus tanpa label.

"Ini apa?"

"Semua yang gagal kami pahami."

"Kenapa tidak dibuang?"

"Karena sejarah ilmu pengetahuan sering dimulai dari sesuatu yang mula-mula dianggap tidak cocok dengan kotak mana pun."

Mahasiswa itu terdiam. Ia mulai memerhatikan gudang tersebut. Ternyata di sanalah benda-benda paling hidup berada.

Mereka berubah bentuk. Berpindah tempat. Kadang saling bertukar nama. Seolah-olah sedang mengejek seluruh upaya manusia untuk menertibkan dunia.

Pada hari terakhir masa magangnya, direktur memberinya sebuah kotak kecil.

Kosong.

"Apa isinya?"

"Belum ada."

"Lalu untuk apa diberikan?"

"Suatu hari nanti kau akan bertemu seseorang, mengalami sesuatu, atau memikirkan sebuah gagasan yang tidak berhasil kaujelaskan dengan kategori apa pun."

"Lalu?"

"Simpan di dalam kotak ini."

Mahasiswa itu membawa pulang kotak tersebut.

Bertahun-tahun kemudian, isinya semakin banyak. Tatapan pertama anaknya yang baru lahir. Keheningan setelah ayahnya meninggal. Perasaan ketika membaca sebuah puisi yang membuatnya merasa dipahami oleh seseorang yang telah lama tiada. Cara matahari sore jatuh pada dinding rumah masa kecil.

Tak satu pun cocok dengan label yang tersedia. Tak satu pun ingin dikelompokkan.

Barulah ia mengerti mengapa museum itu tidak pernah selesai dibangun. Sebab dunia memang menyukai keteraturan.

Namun kehidupan, dengan segala kerumitannya, selalu menghasilkan sesuatu yang lolos dari setiap klasifikasi.

Dan mungkin, justru hal-hal itulah yang paling pantas disimpan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI