PERKARA BAHASA
LAPORAN EKSKAVASI PERADABAN ABAD KE-21
Pada tahun 4821,
para arkeolog
menggali lapisan tanah
yang dahulu
disebut "kota."
Mereka menemukan
sebuah sendok plastik.
Laporan resmi berbunyi:
"Diduga merupakan
alat ritual
untuk memanggil hujan."
Tidak ada yang membantah.
Lima meter dari sana,
ditemukan
charger telepon genggam.
Para ahli
berdebat selama tiga bulan.
Sebagian berpendapat
itu lambang kekuasaan.
Sebagian lagi
meyakini
ia dipakai
untuk menyembuhkan jiwa.
Tak seorang pun
menebak
bahwa manusia dahulu
selalu panik
ketika benda itu hilang.
Di ruang laboratorium,
mereka membersihkan
sebuah kartu identitas.
Foto di dalamnya
sudah pudar.
Nama
tak terbaca.
Yang tersisa
hanya barcode.
Maka lahirlah teori baru:
"Peradaban abad ke-21
menyembah
garis-garis hitam."
Teori itu
mendapat penghargaan internasional.
Sementara itu,
seorang mahasiswa
menemukan
sebuah buku puisi.
Halaman-halamannya
masih utuh.
Profesor memeriksanya
dengan hati-hati.
"Ini menarik."
"Mengapa, Profesor?"
"Tak ada petunjuk
bahwa buku ini
pernah dibaca."
Seluruh ruangan
hening.
Di sudut lain,
mereka menemukan
tombol bertuliskan
LIKE.
Selama puluhan tahun
para ilmuwan
menganggapnya
simbol keagamaan.
Konon,
setiap kali
seseorang menyentuhnya,
ia berharap
keberadaannya
diakui
oleh semesta.
Teori itu
tidak pernah dibantah.
Sebab hingga abad ke-49,
manusia masih melakukan
hal yang sama,
hanya medianya
yang berubah.
Penemuan terbesar
terjadi
pada musim panas.
Sebuah tempat sampah.
Kosong.
Para arkeolog
bersorak.
"Ini pasti makam
seorang tokoh besar."
Mengapa?
"Karena begitu bersih."
Semua mengangguk.
Tak seorang pun
menduga
bahwa benda itu
justru gagal
menjalankan
tugasnya.
Ketika penggalian
hampir selesai,
seorang anak magang
bertanya,
"Profesor,
apa sebenarnya
peradaban itu?"
Profesor
menutup buku laporannya.
Lama sekali.
Lalu berkata,
"Peradaban adalah
cara suatu zaman
meninggalkan
kesalahpahaman
bagi zaman berikutnya."
Malam itu,
seluruh artefak
dikembalikan
ke ruang penyimpanan.
Diberi nomor.
Diberi label.
Diberi makna.
Hanya satu benda
yang tidak berhasil
diklasifikasikan.
Sebuah cermin.
Setiap peneliti
yang mencoba
mendeskripsikannya,
selalu menulis
tentang dirinya sendiri.
---
MUSEUM HAL-HAL YANG TELAH PUNAH
Selamat datang.
Silakan membeli tiket
di loket sebelah kiri.
Anak-anak di bawah dua belas tahun
gratis.
Kenangan
membayar dua kali.
---
Ruang pertama
memamerkan
KEHENINGAN.
Di balik kaca antipeluru
terbaring
satu menit
tanpa notifikasi.
Pengunjung berdiri lama.
Sebagian menangis.
Sebagian memotretnya.
Foto-fotonya
langsung diunggah.
Pihak museum
tidak mempermasalahkan ironi itu.
---
Ruang kedua
berisi
PERCAYA.
Benda ini
diperkirakan hidup
hingga awal abad kedua puluh satu.
Setelah itu
populasinya
terus menurun.
Kini
ia hanya dapat dijumpai
dalam cerita anak-anak
dan beberapa puisi.
Mohon
jangan mengetuk kacanya.
Kepercayaan
mudah terkejut.
---
Di lantai dua
tersimpan
RASA MALU.
Dahulu
ia berkembang biak
di sekolah,
rumah,
dan meja makan.
Kini
spesimen terakhir
dipelihara
dengan sangat hati-hati.
Setiap hari
para peneliti
memberinya makan
berupa
introspeksi.
Namun
ia tetap
enggan berkembang.
---
Ruang ketiga
adalah favorit
anak-anak.
Di sana
dipamerkan
MENUNGGU.
Seekor makhluk tua
yang dahulu
mampu duduk
berjam-jam
di halte,
di teras,
di depan surat,
di samping radio,
tanpa merasa
waktunya dicuri.
Kini
ia hampir punah.
Generasi baru
tak mengenalinya.
Mereka bertanya,
"Berapa kecepatan
makhluk itu?"
Kurator menjawab,
"Ia tidak bergerak."
Mereka tertawa.
Mereka mengira
itu lelucon.
---
Di ujung koridor
ada ruang kecil.
Lampunya redup.
Tak banyak pengunjung.
Di pintu tertulis
EMPATI.
Mohon masuk
satu orang
setiap kali.
Benda ini
tidak dapat dilihat
jika dibawa
beramai-ramai.
---
Sebelum pulang
setiap pengunjung
menerima suvenir.
Bukan gantungan kunci.
Bukan magnet kulkas.
Melainkan
sebuah pertanyaan:
*"Hal apa
yang hari ini
masih kau miliki,
tetapi diam-diam
sedang menjadi
koleksi museum
masa depan?"*
---
PRAKIRAAN CUACA UNTUK BESOK PAGI
Besok pagi
diperkirakan turun
penyesalan ringan
di sebagian wilayah ingatan.
Angin
bertiup
dari arah masa kecil
menuju
keputusan-keputusan dewasa.
Suhu
berkisar
antara rindu
dan penerimaan.
Di daerah pegunungan
kabut
berpotensi menutupi
tujuan hidup.
Pengendara
diminta
menyalakan
kesadaran.
Jarak pandang
hanya sejauh
pertanyaan berikutnya.
---
Siang hari
awan-awan
akan membawa
kemungkinan.
Sebagian berubah
menjadi keberanian.
Sebagian lagi
menguap
sebelum sempat
dijalankan.
---
Sore
berpotensi
terjadi hujan
kata-kata
yang seharusnya
diucapkan
bertahun-tahun lalu.
Harap
tidak berteduh.
Ada kalanya
seseorang
memang harus
basah.
---
Malam
langit kembali cerah.
Bintang-bintang
muncul
seperti catatan kaki
yang ditulis semesta
untuk menjelaskan
bahwa tidak semua gelap
bermaksud
menghilangkan arah.
---
Prakiraan ini
dapat berubah
sewaktu-waktu.
Sebab
tidak seperti cuaca,
manusia
sering kali
memilih
menjadi
musimnya sendiri.
---
KANTOR BARANG HILANG
Setiap Senin sampai Jumat
dibuka
Kantor Barang Hilang.
Jam pelayanan
08.00–16.00.
Istirahat
ketika hujan.
Orang-orang datang
membawa formulir.
"Apa yang hilang?"
"Dompet."
"Silakan loket satu."
"Apa yang hilang?"
"Kunci motor."
"Loket dua."
"Apa yang hilang?"
"Keinginan hidup."
Petugas berhenti menulis.
"Maaf.
Itu bukan
barang."
Lelaki itu mengangguk.
"Lalu
harus saya cari
di mana?"
Petugas membuka
lemari arsip.
Di sana
tersimpan:
keberanian
yang tertinggal
di bangku sekolah,
janji
yang jatuh
di halte bus,
tawa
yang lupa dibawa pulang,
dan ribuan mimpi
yang alamat pemiliknya
tidak lagi terbaca.
Namun
tak satu pun
berlabel
"milikmu."
Sebelum pulang,
lelaki itu bertanya,
"Kalau saya
kehilangan diri sendiri?"
Petugas tersenyum.
"Kalau itu,
Bapak tidak sedang
mencari.
Bapak sedang
menulis."
---
RAPAT PARA BAYANGAN
Malam tadi
semua bayangan
mengadakan rapat.
Agenda pertama:
apakah manusia
masih layak
diikuti?
Bayangan pohon berkata,
"Manusia
terlalu sering
memotong sumberku."
Bayangan gedung berkata,
"Mereka
semakin tinggi,
tetapi semakin pendek
melihat langit."
Bayangan buku berkata,
"Aku
makin tipis.
Yang tebal
justru komentarnya."
Bayangan seorang anak
mengangkat tangan.
"Aku masih ingin
mengikuti manusia.
Kadang-kadang
mereka masih bermain."
Ruangan hening.
Usul itu
diterima
dengan satu syarat.
Manusia
tidak boleh
kehilangan
matahari
di dalam dirinya.
---
PETUNJUK PENGGUNAAN MANUSIA
Buka kemasan
dengan hati-hati.
Produk ini
mudah terluka.
Jangan dijatuhkan
ke dalam
kesombongan.
Jauhkan
dari api
kebencian.
Simpan
pada suhu
kasih sayang.
Apabila muncul
gejala:
iri,
takut,
marah,
atau putus asa,
jangan langsung
dibuang.
Kemungkinan besar
produk ini
hanya
sedang
menjadi manusia.
Garansi
tidak berlaku
untuk waktu.
Namun,
jika dirawat
dengan perhatian,
produk ini
kadang-kadang
mampu
menciptakan
keajaiban
yang bahkan
tidak tercantum
di buku petunjuk.
---
PERPUSTAKAAN MASA DEPAN
Konon, di suatu tempat yang tidak dapat ditemukan oleh peta mana pun, berdiri sebuah perpustakaan yang tidak mengoleksi buku-buku tentang masa lalu. Semua raknya dipenuhi oleh masa depan. Setiap buku memuat kehidupan seseorang, tetapi belum ada satu pun yang selesai ditulis. Halaman-halamannya terus berubah setiap kali seseorang mengambil keputusan.
Para pustakawan di sana bekerja dengan aturan yang aneh. Mereka tidak pernah menyusun buku berdasarkan nama pengarang, sebab belum ada pengarang yang dapat mengaku sepenuhnya memiliki hidupnya sendiri. Mereka juga tidak menggunakan nomor klasifikasi. Sebuah buku ditempatkan di rak yang sama dengan buku-buku lain yang mengandung keraguan serupa. Ada rak khusus untuk orang-orang yang hampir menyerah tetapi tidak jadi. Ada rak untuk keputusan-keputusan kecil yang diam-diam mengubah sejarah keluarga. Ada pula rak yang hanya berisi halaman kosong milik orang-orang yang sepanjang hidup terlalu sibuk menunggu kesempatan sempurna.
Sesekali datang seorang pengunjung yang ingin mengetahui nasibnya. Para pustakawan selalu mengizinkan mereka membuka satu halaman secara acak, tetapi melarang mereka membacanya sampai selesai. Bukan karena masa depan adalah rahasia, melainkan karena manusia mempunyai kebiasaan buruk: setelah mengetahui akhir sebuah cerita, mereka berhenti memperhatikan setiap kalimat sebelumnya. Padahal hidup tidak pernah tinggal di akhir cerita; ia berdiam di antara paragraf-paragraf yang tampak tidak penting.
Ada seorang lelaki yang setiap minggu datang untuk mencari bukunya sendiri. Anehnya, setiap kali ia menemukannya, sampulnya selalu berganti warna dan jumlah halamannya tidak pernah sama. Pada kunjungan pertama, bukunya setebal seribu halaman. Setahun kemudian tinggal lima ratus. Tahun berikutnya bertambah menjadi dua ribu. Ia mengira pustakawan sedang mempermainkannya.
"Kalian tidak konsisten," protesnya.
Pustakawan tertua tersenyum. "Bukan kami yang mengubah buku itu."
"Lalu siapa?"
"Setiap keputusan yang kauanggap remeh."
Lelaki itu tidak percaya. Ia membuka halaman tengah. Di sana tertulis satu kalimat yang belum selesai. Ia membalik halaman berikutnya. Kalimat itu berpindah. Ia membuka halaman terakhir. Ternyata halaman terakhir telah menjadi halaman pertama. Seluruh buku seperti sedang menulis dirinya sendiri sambil menghapus apa yang baru saja ditulis.
Sejak hari itu ia berhenti mencari bab terakhir. Ia datang hanya untuk memastikan bahwa bukunya masih belum selesai. Anehnya, setiap kali menutup buku itu, ia merasa lebih ringan. Ia mulai memahami bahwa harapan bukanlah keyakinan bahwa akhir cerita akan indah. Harapan hanyalah kesediaan menerima bahwa cerita masih mungkin berubah.
Ketika usianya sangat tua, ia datang lagi untuk terakhir kalinya. Kali ini pustakawan menyerahkan sebuah buku yang sangat tipis. Hanya satu halaman.
"Akhirnya selesai?" tanyanya.
Pustakawan menggeleng.
"Bukan. Kini seluruh sisanya sedang ditulis oleh orang-orang yang pernah hidup karena kehadiranmu."
Lelaki itu membuka halaman tunggal tersebut. Isinya kosong.
Untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa hidup seseorang mungkin tidak dikenang melalui kisahnya sendiri, melainkan melalui kalimat-kalimat yang tanpa sadar ia tinggalkan di dalam kehidupan orang lain.
---
KEMENTERIAN KEBETULAN
Tidak banyak orang mengetahui bahwa dunia memiliki sebuah kementerian yang bekerja dua puluh empat jam sehari tanpa pernah muncul dalam berita. Namanya Kementerian Kebetulan. Gedungnya tidak memiliki alamat tetap. Kadang berdiri di ujung mimpi seseorang, kadang berpindah ke bangku taman yang diduduki orang asing, kadang bersembunyi di sela-sela dua detik yang membuat seseorang terlambat berangkat.
Tugas kementerian itu sederhana: mengatur semua peristiwa yang kelak akan disebut "kebetulan". Mereka menentukan buku mana yang jatuh dari rak tepat ketika seseorang sedang kehilangan harapan. Mereka mengatur agar dua orang yang kelak saling mencintai berdiri dalam antrean yang sama. Mereka menggeser hujan lima belas menit lebih lambat agar seorang anak sempat pulang membawa layang-layangnya.
Namun setiap keputusan harus melalui rapat.
"Ada seorang perempuan yang hampir membatalkan perjalanannya."
"Biarkan jadi berangkat."
"Mengapa?"
"Karena tiga puluh tahun lagi cucunya akan lahir akibat keputusan kecil itu."
Semua mengangguk.
Lalu keputusan disahkan.
Anehnya, kementerian itu memiliki satu aturan yang tidak pernah dilanggar: mereka tidak boleh menciptakan kebetulan. Mereka hanya boleh mempertemukan kemungkinan-kemungkinan yang memang sudah ada. Selebihnya, manusialah yang menyebutnya takdir, nasib, keberuntungan, atau mukjizat, sesuai kamus yang mereka sukai.
Suatu hari seorang pegawai baru bertanya kepada atasannya, "Kalau begitu, apa bedanya kebetulan dengan pilihan?"
Atasannya menutup map yang sedang dibacanya.
"Kebetulan adalah nama yang diberikan manusia kepada pilihan-pilihan yang tidak sempat mereka lihat sedang dibuat."
---
PABRIK KENANGAN
Di pinggir sebuah kota yang tidak pernah dicantumkan dalam atlas berdiri sebuah pabrik tua. Cerobongnya masih mengepulkan asap, tetapi tidak seorang pun tahu apa yang diproduksinya. Orang-orang hanya mencium aroma hujan pertama, suara radio tua, halaman buku yang menguning, dan bau kayu lemari yang lama tidak dibuka.
Baru setelah bertahun-tahun, seseorang menemukan papan nama yang hampir lapuk:
PABRIK KENANGAN.
Di dalamnya tidak ada mesin besar. Yang ada hanyalah ribuan pekerja yang setiap hari menjahit hal-hal kecil ke dalam ingatan manusia. Mereka menjahit aroma tertentu pada wajah ibu, lagu tertentu pada perjalanan pulang, dan secangkir teh pada sore yang tidak pernah istimewa ketika sedang berlangsung.
Mandor pabrik selalu mengingatkan para pekerja, "Jangan pernah memasukkan kenangan ke dalam peristiwa besar. Manusia sudah pasti mengingatnya. Simpanlah kenangan pada hal-hal yang tampaknya remeh."
Maka mereka menyisipkan masa kecil ke dalam suara sendok yang membentur gelas. Mereka menyimpan cinta pertama di balik bau buku perpustakaan. Mereka menaruh rasa kehilangan pada kursi kosong yang tak sengaja dilihat seseorang bertahun-tahun kemudian.
Itulah sebabnya manusia sering kali menangis bukan ketika mengingat peristiwa besar, melainkan ketika tanpa sengaja mencium aroma yang pernah menjadi rumah bagi hidupnya.
---
KOTA YANG MELARANG MASA LALU
Di sebuah kota, pemerintah mengeluarkan peraturan yang terdengar masuk akal: setiap warga dilarang membawa masa lalu ke tempat umum. Alasannya sederhana. Masa lalu dianggap mengganggu ketertiban. Orang-orang terlalu sering bertengkar karena kenangan, terlalu lama berhenti karena penyesalan, dan terlalu mudah saling membenci akibat sesuatu yang telah selesai bertahun-tahun sebelumnya.
Maka setiap pintu masuk kota dilengkapi mesin pemindai. Sebelum masuk, setiap orang wajib menitipkan masa lalunya di loker. Mereka hanya boleh membawa identitas, uang secukupnya, dan hari ini.
Pada minggu-minggu pertama kota itu menjadi sangat damai. Tidak ada dendam. Tidak ada trauma. Tidak ada rasa malu. Semua tersenyum kepada semua orang.
Namun perlahan muncul masalah yang tak terduga.
Seorang ibu tidak mengenali anaknya.
Seorang pemusik lupa mengapa ia mencintai lagu.
Seorang penulis tidak lagi menemukan alasan menulis.
Seorang lelaki memandangi cincin di jarinya selama berjam-jam tanpa mengerti mengapa ia merasa harus pulang.
Pemerintah segera mengadakan rapat darurat.
Barulah mereka menyadari kesalahan yang sangat mendasar. Ternyata masa lalu bukan hanya tempat menyimpan luka. Ia juga menyimpan kasih sayang, keterampilan, persahabatan, bahasa, dan seluruh alasan seseorang masih menjadi dirinya sendiri.
Sejak hari itu, peraturan dicabut.
Warga dipersilakan membawa masa lalunya kembali.
Dengan satu syarat:
mereka harus belajar membawanya seperti membawa koper—cukup untuk perjalanan, tetapi tidak begitu berat hingga membuat mereka lupa ke mana hendak pergi.
---
BALAI LELANG TAKDIR
Setiap awal bulan, sebuah balai lelang membuka pintunya hanya selama satu jam. Tidak ada papan nama. Tidak ada katalog. Orang-orang yang datang juga tidak pernah benar-benar tahu apa yang hendak mereka beli. Mereka hanya mendengar desas-desus bahwa di tempat itu, takdir dapat dipertukarkan.
Pelelang berdiri di depan podium dengan sebuah palu kayu yang konon terbuat dari cabang pohon pertama yang pernah dipakai manusia untuk mengambil keputusan.
"Lot pertama," katanya. "Seorang anak yang akan menemukan bakatnya pada usia enam puluh dua tahun. Penawaran dimulai."
Tak ada yang mengangkat tangan.
Terlalu lama.
"Lot kedua. Seorang perempuan yang akan kehilangan segalanya tiga kali, tetapi pada kehilangan ketiga ia menemukan hidup yang sebenarnya."
Ruangan mulai gelisah.
Sebagian orang ingin kehidupan yang tenang.
Sebagian lagi diam-diam iri kepada siapa pun yang memiliki cerita.
Lalu muncullah lot terakhir.
"Takdir biasa. Tidak terlalu bahagia. Tidak terlalu sengsara. Banyak hari yang membosankan. Beberapa kegembiraan kecil. Sedikit penyesalan. Cukup banyak tawa. Dan satu cinta yang datang terlambat."
Seluruh ruangan serentak mengangkat tangan.
Pelelang tersenyum.
"Maaf. Lot terakhir ini tidak untuk dijual."
"Lalu untuk apa ditampilkan?"
"Agar kalian tahu bahwa selama ini kalian meremehkan kehidupan yang sedang kalian jalani."
---
PENGADILAN WAKTU
Setelah manusia meninggal, konon mereka tidak langsung diadili berdasarkan baik atau buruknya hidup. Mereka terlebih dahulu dipanggil sebagai saksi dalam perkara yang diajukan oleh Waktu.
Waktu menggugat umat manusia atas tuduhan pencemaran nama baik.
Hakim membuka sidang.
"Silakan penggugat."
Waktu berdiri.
"Saya dituduh terlalu cepat ketika mereka bahagia."
Ia membuka berkas lain.
"Saya juga dituduh terlalu lambat ketika mereka menunggu."
Berkas berikutnya.
"Saya dibilang menyembuhkan semua luka."
Ia menghela napas.
"Padahal saya tidak pernah menyembuhkan apa pun. Saya hanya lewat."
Ruangan menjadi sunyi.
Lalu seorang saksi dipanggil.
Seorang lelaki tua.
"Apakah benar waktu mencuri masa mudamu?"
Lelaki itu berpikir lama.
"Seingat saya, bukan."
"Lalu siapa?"
"Saya sendiri. Saya terlalu sibuk menunda."
Hakim mencatat sesuatu.
Sidang ditunda.
Sampai hari ini belum ada putusan.
Bukan karena buktinya kurang.
Melainkan karena Waktu tidak pernah dapat hadir tepat waktu.
Ia selalu sudah lewat sebelum sidang dimulai.
---
KAMPUNG PARA PERTANYAAN
Di sebuah lembah terdapat kampung yang seluruh penduduknya adalah pertanyaan. Mereka hidup rukun selama ribuan tahun.
"Siapa aku?" tinggal bersebelahan dengan "Apa arti bahagia?"
"Ke mana kita pergi setelah mati?" setiap sore bermain catur dengan "Mengapa manusia mencintai?"
Yang paling tua adalah "Mengapa ada sesuatu, bukan tidak ada apa-apa?"
Ia sudah begitu tua hingga tanda tanyanya mulai membungkuk.
Suatu hari datang serombongan jawaban.
Mereka membangun rumah-rumah baru.
Memasang plang.
Membuat seminar.
Mengadakan pelatihan.
Sebagian pertanyaan merasa lega.
Sebagian lagi mulai sesak napas.
Sebab setiap jawaban menuntut kepastian.
Sedangkan pertanyaan hidup dari kemungkinan.
Lama-kelamaan kampung itu berubah menjadi kota.
Jawaban bertambah banyak.
Pertanyaan semakin sedikit.
Hingga suatu malam, listrik padam.
Semua jawaban menghilang bersama cahaya proyektor.
Yang masih terdengar hanyalah suara seorang anak kecil yang bertanya kepada ayahnya,
"Kalau semua sudah dijawab, mengapa kita masih ingin belajar?"
Tidak ada yang menjawab.
Dan justru karena itulah,
kampung itu perlahan hidup kembali.
---
PUSAT DAUR ULANG PENYESALAN
Di pinggir kota berdiri sebuah bangunan tanpa jendela yang setiap hari menerima kiriman penyesalan dari seluruh dunia. Truk-truk datang sejak dini hari. Muatannya bermacam-macam: permintaan maaf yang terlambat, surat yang tidak pernah dikirim, telepon yang tidak pernah diangkat, keputusan yang diambil karena marah, dan kalimat "andai saja" yang telah mengeras seperti semen.
Di dalam gedung, para pekerja memilah semuanya dengan sangat teliti. Penyesalan yang masih segar dipisahkan dari penyesalan yang telah menjadi kebiasaan. Penyesalan yang lahir dari cinta ditempatkan di rak kayu. Penyesalan yang lahir dari kesombongan dimasukkan ke dalam tungku peleburan.
Seorang pekerja baru bertanya mengapa tidak semua penyesalan dimusnahkan saja.
Mandornya menggeleng.
"Kalau semua penyesalan dimusnahkan, manusia akan kehilangan kemampuan belajar."
"Lalu hasil daur ulangnya menjadi apa?"
Mandor menunjukkan gudang di belakang.
Di sana tersusun rapi ribuan benda kecil: kebijaksanaan, kesabaran, kerendahan hati, dan keberanian untuk meminta maaf.
"Semua itu," katanya, "dibuat dari bahan yang sama."
Pekerja baru memandang gudang itu lama sekali. Baru kali itu ia menyadari bahwa mungkin tidak ada manusia bijaksana yang lahir dari hidup yang selalu benar.
---
STASIUN PEMBERHENTIAN TERAKHIR BAGI KALIMAT
Konon, setiap kalimat yang gagal diucapkan akan tiba di sebuah stasiun tua. Tidak ada kereta yang datang, tidak ada jadwal keberangkatan, hanya bangku-bangku panjang yang dipenuhi kalimat.
Di sudut timur duduk kalimat cinta yang gugup sejak tahun 1987. Di peron sebelah barat menunggu permintaan maaf yang selalu terlambat beberapa detik. Ada pula ucapan terima kasih yang terlalu lama disimpan hingga orang yang dituju telah tiada.
Kalimat-kalimat itu tidak saling berbicara. Mereka hanya mendengarkan pengeras suara yang dari pagi sampai malam mengumumkan hal yang sama.
"Keberangkatan berikutnya ditunda sampai seseorang memperoleh keberanian."
Pengumuman itu telah diputar selama ratusan tahun.
Tidak ada yang tahu kapan kereta akan benar-benar datang.
Mungkin ketika seseorang akhirnya memilih berbicara sebelum penyesalan membeli tiket lebih dulu.
---
BALAI KOTA UNTUK HARI-HARI BIASA
Di setiap negara selalu ada monumen untuk perang, kemenangan, pahlawan, atau revolusi. Anehnya, tidak pernah ada monumen untuk hari Selasa yang biasa-biasa saja.
Padahal hidup manusia sebagian besar berlangsung di sana.
Di hari-hari ketika tidak ada sejarah ditulis.
Ketika seseorang menyiram tanaman tanpa mengetahui bahwa itu adalah kali terakhir ia melakukannya bersama ayahnya. Ketika seorang ibu mengikat tali sepatu anaknya tanpa sadar bahwa beberapa tahun lagi anak itu akan belajar melakukannya sendiri. Ketika dua sahabat tertawa begitu keras di warung kopi, sama sekali tidak tahu bahwa percakapan itu kelak menjadi kenangan terakhir sebelum mereka memilih jalan hidup yang berbeda.
Karena itulah, di sebuah kota yang sangat tua, pemerintah akhirnya membangun Balai Kota untuk Hari-Hari Biasa. Tidak ada patung jenderal di depannya. Tidak ada api abadi.
Yang dipamerkan hanyalah secangkir teh yang pernah diminum sampai habis, kursi kayu yang telah aus karena sering diduduki, sapu lidi yang patah di halaman rumah, dan jam dinding yang terus berdetak tanpa pernah merasa sedang membuat sejarah.
Pengunjung sering keluar dengan mata berkaca-kaca. Mereka baru mengerti bahwa kehidupan tidak terutama dibentuk oleh peristiwa-peristiwa besar, melainkan oleh ribuan hari yang saat dijalani terasa tidak penting.
---
PETERNAKAN MIMPI
Di sebuah dataran yang tidak pernah muncul di peta, orang-orang memelihara mimpi sebagaimana orang lain memelihara kambing atau sapi. Setiap keluarga memiliki kandang sendiri. Ada yang mengembangbiakkan mimpi menjadi ilmuwan, ada yang memelihara mimpi menjadi pelukis, ada pula yang turun-temurun merawat mimpi-mimpi kecil: memiliki rumah yang tidak bocor ketika hujan, makan malam bersama setiap akhir pekan, atau tidur tanpa dihantui kecemasan.
Mimpi-mimpi itu harus diberi makan setiap hari. Makanannya sederhana: keberanian, kerja, dan sedikit kesabaran. Yang paling berbahaya adalah memberi mereka harapan kosong. Mimpi yang terlalu sering diberi makan janji akan tumbuh besar, tetapi tulangnya rapuh. Ia tampak megah dari kejauhan, namun roboh ketika disentuh kenyataan.
Ada pula penyakit yang paling ditakuti para peternak: perbandingan. Sekali seekor mimpi melihat kandang tetangganya, ia mulai kehilangan selera makan. Mimpi menjadi gelisah. Ia ingin menjadi mimpi orang lain. Banyak yang akhirnya mati bukan karena kekurangan makanan, melainkan karena terus-menerus iri kepada kehidupan yang tidak pernah menjadi miliknya.
Ketika seorang anak lahir, orang tuanya selalu bertanya kepada tetua kampung, "Mimpi apa yang cocok dipelihara anak ini?"
Tetua itu selalu menjawab sama.
"Jangan memilih sekarang. Biarkan ia berjalan-jalan dulu. Kadang-kadang justru mimpilah yang memilih pemiliknya."
---
PASAR MUSIM
Setiap musim gugur, sebuah pasar dibuka hanya selama satu hari. Tidak ada uang yang berlaku di sana. Semua transaksi dilakukan dengan waktu.
Di kios pertama dijual musim semi yang belum pernah dipakai. Bunganya masih utuh, baunya masih baru. Harganya tiga tahun masa muda.
Di kios sebelah dijual musim hujan yang mampu membuat siapa pun kembali mengingat rumah. Harganya satu penyesalan yang benar-benar diikhlaskan.
Seorang lelaki tua membawa seluruh tabungan waktunya. Ia ingin membeli kembali musim panas ketika ayahnya masih hidup.
Pedagang memeriksa daftar persediaan.
"Maaf. Barang itu sudah habis sejak lama."
"Kalau begitu, apakah ada musim yang mirip?"
Pedagang menggeleng pelan.
"Musim selalu diproduksi satu kali. Yang bisa kami jual hanya cuacanya."
Lelaki itu pulang tanpa membawa apa-apa.
Namun dalam perjalanan, angin membawa aroma tanah yang baru diguyur hujan. Entah mengapa, ia tiba-tiba teringat suara ayahnya memanggil dari beranda rumah.
Barulah ia mengerti bahwa kenangan tidak pernah dijual di pasar mana pun. Ia selalu tumbuh liar di tempat-tempat yang tidak sempat kita perhatikan.
---
ORANG YANG BEKERJA SEBAGAI SENJA
Di kota itu ada seorang lelaki yang pekerjaannya sangat aneh. Setiap sore ia berjalan perlahan dari timur ke barat sambil membawa koper tua berisi warna-warna langit. Ketika tiba di batas kota, ia membuka koper itu sedikit demi sedikit. Dari sanalah jingga keluar, lalu merah, kemudian ungu yang pelan-pelan larut menjadi malam.
Tak seorang pun mengenalnya. Orang-orang hanya berkata, "Senjanya bagus hari ini," tanpa pernah membayangkan bahwa ada seseorang yang setiap hari lembur agar langit memiliki alasan untuk dikenang.
Pernah suatu kali ia sakit. Ia tidak sanggup datang bekerja. Senja tetap terjadi, tetapi warnanya pucat. Burung-burung pulang terlalu cepat. Anak-anak berhenti bermain sebelum waktunya. Para penyair kehilangan satu paragraf. Para fotografer pulang dengan kartu memori yang hampir kosong.
Seminggu kemudian ia kembali bekerja.
Tidak ada upacara penyambutan.
Tidak ada kenaikan gaji.
Hanya seorang anak kecil yang sedang berjalan bersama ibunya menunjuk langit dan berkata, "Bu, senjanya sembuh."
Lelaki itu mendengar kalimat itu dari kejauhan. Ia tersenyum, menutup kopernya, lalu pulang.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa pekerjaannya benar-benar dilihat oleh seseorang.
Barangkali begitulah cara dunia bertahan. Bukan karena semua pekerjaan dihargai, melainkan karena sesekali ada mata yang masih mampu mengucapkan terima kasih kepada hal-hal yang selama ini dianggap terjadi dengan sendirinya.
---
PABRIK HARI ESOK
Tidak ada yang tahu di mana hari esok dibuat. Para ilmuwan mencarinya di observatorium, para filsuf di dalam bahasa, para agamawan di dalam kitab-kitab suci, sementara para penyair mengaku pernah melihat bayangannya lewat jendela kereta. Tidak seorang pun dapat membuktikannya.
Namun ada desas-desus yang bertahan selama berabad-abad: di luar jangkauan kalender berdiri sebuah pabrik yang setiap malam memproduksi hari esok.
Pabrik itu bekerja tanpa libur. Ribuan pekerja memasang matahari pada tempatnya, menimbang jumlah angin yang diperlukan setiap benua, menentukan di mana hujan akan turun, dan berapa banyak embun yang harus diletakkan di setiap helai rumput. Bagian yang paling rumit bukanlah menyusun cuaca, melainkan menyebarkan kemungkinan. Sebab setiap hari esok harus mengandung cukup banyak harapan agar manusia bersedia bangun dari tidurnya, tetapi tidak boleh terlalu banyak hingga mereka berhenti berusaha.
Konon pernah terjadi kesalahan produksi. Seorang pekerja baru secara tidak sengaja memasukkan terlalu banyak kepastian ke dalam satu hari. Akibatnya, seluruh manusia yang menjalaninya tidak lagi bertanya, tidak lagi memilih, tidak lagi bermimpi. Hari itu berjalan begitu sempurna hingga tak seorang pun merasa benar-benar hidup.
Sejak saat itu, kepala pabrik mengeluarkan aturan baru. Setiap hari esok wajib memiliki cacat kecil: sebuah hujan yang datang terlalu cepat, sebuah kereta yang terlambat, sebuah pertemuan yang tak direncanakan, atau sebuah kesalahan yang kelak mengubah jalan hidup seseorang.
"Bukankah itu tidak efisien?" tanya seorang pekerja.
Kepala pabrik tersenyum.
"Kesempurnaan adalah produk yang tidak laku bagi manusia."
---
KEBUN YANG MENANAM KEPUTUSAN
Di sebuah lembah, terdapat kebun yang tidak menanam pohon, bunga, atau sayur-mayur. Yang tumbuh di sana adalah keputusan-keputusan yang belum diambil.
Setiap pagi para pekebun menyiram benih-benih seperti "menerima", "menolak", "berangkat", "bertahan", "memaafkan", dan "mengakui". Sebagian tumbuh menjadi pohon yang rindang. Sebagian lagi mati sebelum sempat berkecambah karena terlalu sering ditunda.
Konon, setiap manusia tanpa sadar memiliki satu petak tanah di kebun itu. Ada yang rajin merawatnya sehingga hidupnya dipenuhi pohon-pohon yang kokoh. Ada pula yang membiarkannya dipenuhi ilalang bernama "nanti". Lama-kelamaan ilalang itu menjalar, menutupi semua jalan setapak, hingga pemiliknya sendiri lupa bahwa ia pernah memiliki begitu banyak kemungkinan.
Suatu hari seorang anak bertanya kepada pekebun tertua, "Mengapa pohon penyesalan tumbuh paling besar?"
Pekebun itu menghela napas.
"Karena manusia lebih rajin menyiram keputusan yang tidak pernah mereka ambil daripada keputusan yang telah mereka jalani."
Anak itu tidak segera mengerti. Ia baru memahami puluhan tahun kemudian, ketika berdiri di hadapan pohon yang diam-diam ia tanam sendiri.
---
KOTA YANG KEHABISAN LANGIT
Pada mulanya, langit adalah milik semua orang. Orang-orang dapat memandangnya kapan saja tanpa harus meminta izin kepada siapa pun. Anak-anak mengenal arah pulang dari warna senja. Para petani membaca musim dari gerak awan. Bahkan para penyair yang miskin masih merasa memiliki sesuatu yang tidak dapat disita.
Lalu kota itu tumbuh.
Gedung-gedung bertambah tinggi. Reklame naik lebih cepat daripada pepohonan. Kabel-kabel saling melilit seperti akar yang lupa bahwa tanah berada di bawahnya.
Lama-kelamaan, langit tinggal sepotong. Mula-mula sebesar jendela. Kemudian sebesar layar telepon genggam. Akhirnya hanya menjadi pantulan pada kaca-kaca gedung.
Pemerintah membentuk tim khusus untuk menyelidiki hilangnya langit. Para ahli geografi menyalahkan tata ruang. Para ekonom menyalahkan kebutuhan pembangunan. Para politikus saling menyalahkan satu sama lain.
Tak seorang pun bertanya kepada burung.
Padahal burunglah yang pertama kali menyadari bahwa langit tidak pernah benar-benar hilang. Manusialah yang pelan-pelan membangun atap di dalam cara mereka memandang dunia.
Beberapa tahun kemudian, seorang anak menggambar rumah. Di atas rumah itu tidak ada langit. Gurunya bertanya, "Mengapa?"
Anak itu menjawab dengan polos, "Karena aku belum pernah melihat rumah yang cukup rendah untuk bertemu langit."
Sejak saat itu, kota tersebut tidak lagi dikenal karena gedung-gedungnya yang tinggi. Orang-orang mengingatnya sebagai tempat di mana langit perlahan mengundurkan diri, bukan karena marah, melainkan karena merasa tidak lagi dibutuhkan.
---
BANK WAKTU
Di pusat kota berdiri sebuah bank yang tidak menyimpan uang. Orang-orang datang membawa usia mereka. Ada yang menyetor satu sore yang bahagia, ada yang menarik kembali seminggu yang terbuang sia-sia, ada pula yang menggadaikan masa mudanya demi membeli keberanian yang tak pernah berhasil ia kumpulkan.
Di balik loket duduk para kasir yang wajahnya tidak pernah berubah. Mereka tidak menghitung dengan angka, melainkan dengan detak jantung. Semakin penuh seseorang menjalani hidupnya, semakin lambat mereka menghitung. Sebaliknya, orang-orang yang menghabiskan bertahun-tahun tanpa benar-benar hadir hanya membutuhkan beberapa detik untuk menyelesaikan transaksi.
Bank itu memiliki satu peraturan yang tertulis sangat kecil di belakang pintu masuk: waktu tidak dapat diwariskan. Banyak orang baru membacanya ketika semuanya telah terlambat.
Pernah seorang miliarder datang dengan keyakinan bahwa segala sesuatu pasti memiliki harga. Ia menawarkan seluruh hartanya untuk membeli sepuluh tahun lagi.
Kasir membuka buku besar, lalu menggeleng.
"Maaf, kami tidak menjual waktu."
"Lalu apa yang kalian lakukan?"
"Kami hanya mengingatkan orang-orang berapa banyak yang telah mereka belanjakan tanpa sadar."
Miliarder itu pulang dengan tangan kosong. Untuk pertama kalinya ia merasa miskin.
Beberapa hari kemudian ia kembali. Kali ini ia tidak membawa uang. Ia membawa cucunya. Mereka duduk di taman sampai matahari terbenam.
Kasir yang kebetulan lewat hanya tersenyum. Tanpa disadari lelaki itu baru saja melakukan setoran terbesar dalam hidupnya.
---
PABRIK NAMA
Sebelum seorang bayi lahir, namanya belum ada. Ia masih berupa bunyi yang berjalan-jalan di dalam gudang besar. Ribuan nama tergantung seperti pakaian yang menunggu pemiliknya. Ada nama yang telah berabad-abad tidak dipilih siapa pun. Ada pula nama yang begitu populer hingga benangnya mulai aus karena terlalu sering dikenakan.
Para pekerja di pabrik itu tidak menciptakan nama. Mereka hanya mencocokkan bunyi dengan kehidupan yang mungkin sanggup dipikulnya.
Seorang pekerja muda pernah bertanya kepada mandornya, "Mengapa tidak semua orang diberi nama yang indah?"
Mandor mengambil sebuah nama yang berkilau, lalu meletakkannya di atas meja.
"Nama ini sangat indah. Tetapi terlalu berat. Tidak semua anak sanggup membawanya."
Ia kemudian mengambil nama lain yang terdengar biasa saja.
"Yang ini sederhana. Namun ia memiliki ruang yang cukup luas untuk diisi oleh siapa pun."
Sejak saat itu pekerja muda mengerti bahwa nama bukanlah ramalan. Ia hanyalah rumah pertama yang diberikan bahasa kepada manusia. Selebihnya, penghuni rumah itulah yang menentukan apakah ia akan dipenuhi cahaya, kesunyian, atau keduanya sekaligus.
---
PASAR SUARA
Setiap malam Jumat, ketika kota sudah tertidur, sebuah pasar dibuka di alun-alun. Tidak ada yang menjual buah, pakaian, atau rempah. Semua pedagang menawarkan suara.
Di kios paling depan dijual suara hujan yang pernah jatuh di atap rumah masa kecil. Di sebelahnya ada pedagang yang khusus menjual suara daun ketika disentuh angin bulan Agustus. Semakin tua sebuah suara, semakin mahal harganya.
Pengunjung yang paling ramai justru mengerubungi kios kecil di pojok pasar. Di sana seorang perempuan tua menjual suara orang-orang yang telah tiada. Ia tidak pernah memasang harga.
"Berapa yang harus saya bayar untuk mendengar suara ayah saya sekali lagi?" tanya seorang pembeli.
Perempuan itu menggeleng.
"Suara seperti itu tidak dijual."
"Lalu mengapa dipajang?"
"Supaya kalian ingat bahwa ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat, dari telinga ke ingatan."
Menjelang subuh, pasar ditutup. Semua suara dikemas kembali ke dalam kotak-kotak kayu. Ketika matahari terbit, alun-alun tampak kosong seperti biasa.
Namun siapa pun yang pernah datang ke pasar itu akan menjalani harinya dengan cara yang berbeda. Mereka mulai mendengarkan lebih saksama: bunyi sendok yang beradu dengan piring, langkah kaki di lorong rumah, tawa yang datang dari kamar sebelah, dan ucapan "hati-hati di jalan" yang selama ini lewat begitu saja.
Mereka akhirnya memahami bahwa kehilangan sering kali bukan dimulai ketika suara terakhir menghilang, melainkan ketika kita berhenti sungguh-sungguh mendengarkannya.
---
POHON YANG BERBUAH NAMA
Di tengah sebuah hutan berdiri sebatang pohon yang tidak pernah menghasilkan bunga. Setiap musim ia hanya berbuah nama.
Buah-buah itu menggantung dalam berbagai ukuran. Ada yang masih hijau, ada yang telah ranum, ada pula yang jatuh ke tanah lalu pecah menjadi gema.
Setiap kali seorang bayi lahir, seekor burung datang mematuk satu buah, membawanya terbang melintasi gunung dan laut, lalu menjatuhkannya tepat di dekat rumah yang akan memanggil nama itu untuk pertama kalinya.
Tidak semua buah segera dipetik. Beberapa nama terlalu dini. Beberapa lagi terlalu tua. Ada nama yang harus menunggu puluhan tahun sebelum akhirnya menemukan pemiliknya.
Para tetua hutan percaya bahwa nama-nama yang tidak pernah dipanggil tidak akan membusuk. Mereka berubah menjadi lumut yang menyelimuti batang pohon. Karena itulah pohon itu tampak semakin tua, padahal sesungguhnya ia sedang menyimpan semua kemungkinan yang tidak pernah terjadi.
Suatu hari seorang anak bertanya kepada ayahnya, "Apakah kita memilih nama?"
Ayahnya memungut sebuah buah yang telah jatuh.
"Mungkin tidak."
"Lalu siapa?"
Ayahnya membelah buah itu.
Di dalamnya tidak ada biji.
Hanya gema seseorang yang suatu hari akan menjawab ketika namanya dipanggil.
---
LAUT YANG MENGHAFAL
Orang-orang mengira laut hanya pandai menelan. Mereka tidak tahu bahwa laut memiliki ingatan yang jauh lebih baik daripada manusia.
Setiap ombak adalah kalimat yang diulang-ulang agar tidak lupa.
Laut masih mengingat nama pelaut pertama yang memberinya rasa takut. Ia masih mengingat kapal-kapal yang pulang dengan layar sobek, surat-surat yang dibuang karena tak pernah sampai, serta air mata yang larut begitu saja di geladaknya.
Anehnya, laut tidak pernah mengingat wajah. Ia hanya mengingat cara seseorang pergi.
Itulah sebabnya dua orang yang berdiri di pantai yang sama dapat mendengar ombak yang berbeda. Seseorang mendengar suara perpisahan. Yang lain mendengar panggilan pulang. Seorang anak mendengar permainan. Seorang nelayan mendengar cuaca.
Suatu senja seorang lelaki tua bertanya kepada laut, "Mengapa kau tidak pernah bosan mengulang bunyi yang sama?"
Laut menjawab dengan ombak.
Lelaki itu tidak memahami jawabannya.
Tetapi ketika ia pulang, ia mendapati dirinya memeluk cucunya lebih lama daripada biasanya.
Barangkali memang ada bahasa yang tidak dimaksudkan untuk dimengerti, melainkan untuk perlahan-lahan mengubah cara seseorang hidup.
---
ORANG YANG MEMUNGUT SENYAP
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, seorang lelaki berjalan mengelilingi kota sambil membawa keranjang rotan. Orang-orang mengira ia pemulung.
Mereka tidak sepenuhnya salah.
Yang ia pungut adalah senyap.
Ia mengambil senyap yang tertinggal di bangku taman setelah dua sahabat berdamai. Ia mengumpulkan senyap dari kamar rumah sakit ketika dokter selesai berkata, "Operasinya berhasil." Ia juga memungut senyap yang jatuh di ruang tamu setelah seorang ayah akhirnya mengucapkan, "Maaf."
Tidak semua senyap layak disimpan.
Ada senyap yang berbau ketakutan. Ada senyap yang dipenuhi kebencian. Ada pula senyap yang begitu berat hingga keranjangnya nyaris patah.
Menjelang sore, lelaki itu membawa semua senyap ke sebuah bukit di luar kota. Di sana ia membuka keranjangnya dan membiarkan semuanya terbang ke langit.
Malam pun tiba.
Orang-orang mendongak dan melihat langit penuh bintang.
Tak ada yang mengetahui bahwa setiap bintang sebenarnya adalah sebutir senyap yang berhasil menemukan tempatnya.
Karena itulah langit malam tidak pernah benar-benar ramai. Ia hanya dipenuhi oleh keheningan-keheningan yang akhirnya belajar bercahaya.
---
ARITMETIKA UNTUK ORANG-ORANG YANG TIDAK PERCAYA PADA HASIL AKHIR
Pada mulanya
manusia menciptakan angka
karena jari-jari
tidak lagi cukup
untuk mengingat dunia.
Lalu angka
mulai menghitung balik
penciptanya.
Sejak itu
tak ada yang benar-benar bebas
dari penjumlahan.
---
Seorang anak
menghitung bintang.
Ibunya berkata,
"Jangan.
Langit tidak dibuat
untuk selesai."
Anak itu
tetap menghitung.
Ketika sampai
pada angka seratus,
ia kehilangan
bulan.
---
Seorang guru
mengajarkan pengurangan.
Lima dikurangi dua
sama dengan tiga.
Murid-murid mengangguk.
Tak seorang pun bertanya,
mengapa kehilangan
selalu menghasilkan
sesuatu yang lebih sedikit,
padahal kadang-kadang
setelah seseorang pergi,
yang tertinggal
justru lebih banyak.
---
Di pasar,
seorang pedagang
menjual pecahan.
Setengah keyakinan.
Seperempat keberanian.
Tiga per lima
harga diri.
Diskon besar
untuk harapan
yang retak.
Pembeli
membayar
dengan pembulatan.
---
Di universitas,
para profesor
membuktikan teorema.
Mereka menulis:
Jika...
Maka...
Dengan demikian...
Mahasiswa
mencatat semuanya.
Di luar kelas,
seekor burung
terbang
tanpa mengetahui
bahwa ia
belum pernah
mempelajari geometri.
---
Aku pernah jatuh cinta.
Kami mencoba
membaginya
secara adil.
Setengah untukmu.
Setengah untukku.
Entah mengapa,
yang tersisa
malah kesepian.
Mungkin cinta
bukan bilangan
yang mau dibagi.
---
Suatu malam
nol
mengunjungi satu.
"Aku iri padamu."
"Mengapa?"
"Kau selalu dihitung."
Satu tersenyum.
"Tanpa kau,
aku hanya
kesendirian."
Nol tidak menjawab.
Ia berdiri
di belakang satu.
Tiba-tiba
mereka menjadi
sepuluh.
---
Di pemakaman,
orang-orang
menghitung usia.
Enam puluh delapan.
Tujuh puluh tiga.
Delapan puluh satu.
Kuburan
tetap diam.
Ia tidak mengenal
aritmetika.
Baginya
setiap nama
bernilai
sama.
---
Pada akhirnya
kita semua
hanyalah soal cerita.
"Diketahui:
seorang manusia
lahir.
Ditanyakan:
bagaimana caranya
hidup?"
Tak ada rumus.
Tak ada kunci jawaban.
Yang tersedia
hanya
kertas buram
bernama waktu,
dan pensil pendek
yang setiap hari
semakin habis
dipakai
menghitung
hal-hal
yang sebenarnya
tak pernah ingin
dihitung.
---
KARTOGRAFI UNTUK TEMPAT-TEMPAT YANG TIDAK PERNAH DITEMUKAN
Pada mulanya
manusia menggambar garis
agar tidak tersesat.
Lalu garis-garis itu
berkumpul
menjadi peta.
Aneh,
semakin lengkap petanya,
semakin sering
manusia kehilangan dirinya.
---
Di sudut kanan atas
tertulis:
Skala 1 : Tak Terhingga.
Artinya,
satu sentimeter
di atas kertas
setara dengan
seluruh keraguan
yang belum sempat
kau tempuh.
---
Para kartografer
menggambar gunung
dengan segitiga.
Laut
dengan warna biru.
Hutan
dengan bercak hijau.
Tak seorang pun
berhasil menggambar
rasa malu,
penyesalan,
atau suara ibu
yang memanggilmu pulang
ketika senja.
Padahal
manusia
lebih sering
tersesat
di sana.
---
Kompas
adalah benda
yang paling sopan.
Ia tidak pernah berkata,
"Pergilah."
Ia hanya menunjuk.
Yang memilih berjalan
tetap kakimu.
---
Suatu hari
seorang anak
menggambar peta rumahnya.
Ia memberi tanda X
di bawah pohon mangga.
"Garis harta karun?"
tanya ayahnya.
"Bukan.
Di situ
aku pernah
berdamai
dengan diriku sendiri."
Ayahnya tersenyum.
Malam itu
ia diam-diam
menggambar
petanya sendiri.
Ternyata
ia lupa
di mana
terakhir kali
merasa utuh.
---
Di perpustakaan,
aku menemukan
atlas tua.
Negara-negara
di dalamnya
sudah berganti nama.
Perbatasannya
berubah.
Ibukotanya
berpindah.
Hanya laut
yang tetap
enggan
memiliki paspor.
---
Ada jalan
yang tidak pernah
muncul di peta.
Namanya:
"Kalau saja."
Banyak orang
menghabiskan hidup
berjalan
di sana.
Tak seorang pun
berhasil
sampai.
---
Legenda
adalah bagian
yang paling jujur
dari sebuah peta.
Ia mengakui
bahwa setiap gambar
hanya lambang.
Gunung
bukan segitiga.
Sungai
bukan garis.
Kota
bukan titik.
Begitu pula
kata "bahagia"
bukanlah
bahagia.
Ia hanya simbol
yang berharap
suatu hari
bertemu
dengan pengalaman.
---
Pada akhirnya,
bumi
terlalu luas
untuk dipetakan.
Dan manusia
terlalu rumit
untuk dijelaskan
oleh koordinat.
Mungkin karena itulah
setiap perjalanan
selalu dimulai
dengan membuka peta,
tetapi selalu berakhir
dengan menutupnya,
lalu bertanya
kepada langit,
kepada angin,
kepada diri sendiri,
"Apakah aku
sudah benar-benar
tiba?"
---
TATA BAHASA BAGI HAL-HAL YANG TIDAK PERNAH DIAJARKAN
Di sekolah
kami diajari
bahwa setiap kalimat
harus memiliki
subjek
dan predikat.
Tidak ada guru
yang sempat menjelaskan
mengapa
begitu banyak manusia
hidup
tanpa keduanya.
---
Aku pernah bertemu
sebuah koma
yang melarikan diri
dari buku pelajaran.
Katanya,
"Aku lelah
terus-menerus
disuruh
memberi jeda.
Kadang
manusia
harus belajar
berhenti
tanpa bantuanku."
---
Tanda titik
adalah pegawai negeri.
Datang paling akhir.
Bekerja singkat.
Tetapi
tanpa dirinya
semua kalimat
lembur
sampai pagi.
---
Sedangkan
tanda tanya
adalah penyair.
Ia memperoleh gaji
dari kemungkinan.
Semakin sedikit
jawaban,
semakin panjang
umurnya.
---
Kata benda
selalu iri
kepada kata kerja.
"Kalian
boleh bergerak."
Kata kerja
tertawa.
"Kalian
lebih lama dikenang."
Lalu keduanya
diam.
Masing-masing
baru sadar
bahwa kalimat
tidak pernah selesai
tanpa yang lain.
---
Di perpustakaan
aku membaca
kamus
yang seluruh isinya
kata sambung.
Dan.
Atau.
Tetapi.
Namun.
Sedangkan.
Melainkan.
Anehnya,
tak satu pun
menjelaskan dirinya sendiri.
Mereka hanya tahu
cara
mempertemukan
yang berbeda.
Mungkin
itulah
pekerjaan
yang paling sunyi.
---
Konon,
ada sebuah negara
yang dipimpin
oleh imbuhan.
Awalan
bertugas
menciptakan harapan.
Akhiran
mengurus
konsekuensi.
Sisipan
menjadi oposisi
karena terlalu sering
dilupakan.
Sedangkan
konfiks
mengundurkan diri.
Katanya,
terlalu sulit
memeluk dua sisi
sekaligus.
---
Aku bertanya
kepada
kata "aku",
"Siapa sebenarnya
dirimu?"
Ia membuka
halaman pertama
sebuah novel.
Lalu
halaman terakhir
sebuah buku harian.
Kemudian berkata,
"Aku
selalu berubah
sesuai
siapa
yang mengucapkanku."
---
Di ruang kelas
anak-anak
belajar
kalimat aktif
dan pasif.
Tak ada
yang mengajarkan
kalimat
yang menyerah,
kalimat
yang memaafkan,
atau
kalimat
yang pulang
setelah bertahun-tahun
tersesat
di dalam
mulutnya sendiri.
---
Ketika ujian
selesai,
semua murid
mengumpulkan
lembar jawabannya.
Hanya bahasa
yang belum selesai.
Ia terus
mengoreksi
manusia.
Dari abad
ke abad.
Dari mulut
ke mulut.
Sebab ternyata
yang sedang
belajar
tata bahasa
bukan hanya kita.
Bahasa pun
sedang belajar
menjadi
cukup luas
untuk menampung
seluruh
kesalahan
manusia.
Komentar
Posting Komentar