PUTRI TUNJUNG SEKAR
KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT BAHASA
Sastra itu menceritakan kehidupan orang-orang dalam suatu masyarakat, masyarakat desa ataupun masyarakat kota. Sastra bercerita tentang pedagang, petani, nelayan, guru, penari, penulis, wartawan, orang tua, remaja, dan anak-anak. Sastra menceritakan orang-orang itu dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan segala masalah yang menyenangkan ataupun yang menyedihkan. Tidak hanya itu, sastra juga mengajarkan ilmu pengetahuan, agama, budi pekerti, persahabatan, kesetiakawanan, dan sebagainya. Melalui sastra, orang dapat mengetahui adat dan budi pekerti atau perilaku kelompok masyarakat.
Sastra Indonesia menceritakan kehidupan masyarakat Indonesia, baik di desa maupun di kota. Bahkan, kehidupan masyarakat Indonesia masa lalu pun dapat diketahui dari karya sastra pada masa lalu. Karya sastra masa lalu masih cocok dengan tata kehidupan masa kini. Oleh karena itu, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional meneliti karya sastra masa lalu, seperti dongeng dan cerita rakyat. Dongeng dan cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia ini diolah kembali menjadi cerita anak.
Buku Putri Tunjung Sekar ini berasal dari daerah Provinsi Jawa Timur (Madura). Ada pelajaran yang dapat diperoleh dari membaca buku cerita ini karena buku ini memang untuk anak-anak, baik anak Indonesia maupun anak luar Indonesia yang ingin mengetahui tentang Indonesia. Untuk itu, kepada peneliti dan pengolah kembali cerita ini saya sampaikan terima kasih.
Semoga terbitan buku cerita seperti ini akan memperkaya pengetahuan kita tentang kehidupan masa lalu yang masih cocok dengan kehidupan masa kini. Selamat membaca dan memahami cerita ini untuk memperluas pengetahuan tentang kehidupan ini.
Jakarta, Mei 2007
Dendy Sugono
•••
PRAKATA
Rasa syukur yang dalam, penulis panjatkan kepada Allah yang Maha Pengasih, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan cerita "Putri Tunjung Sekar" ini dapat terselesaikan. Cerita "Putri Tunjung Sekar" ini bersumber dari cerita rakyat dalam khazanah sastra Madura, yakni Raden Sagoro yang ditulis oleh Zawawi lmron (Surabaya: Bintang, 1984).
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Drs. Slamet Riyadi Ali selaku Koordinator Penyusunan Naskah Sastra Cerita Anak Tahun 2005 yang telah memberikan dorongan kepada penulis untuk merampungkan penulisan cerita ini. Dan, ucapan terima kasih yang sama juga penulis lontarkan kepada siapa pun yang telah memberikan dorongan dan memompakan semangat sehingga penulisan cerita ini terselesaikan. Mudah-mudahan Allah yang Maha Pemurah membalaskan budi baik mereka itu.
Akhir kata, penulis hanya bisa berharap, semoga cerita ini bermanfaat.
Jakarta, Akhir September 2005
Suyono Suyatno
•••
SATU
MIMPI YANG MEMBAWA PETAKA
Konon, di Jawa Timur, tepatnya di lereng Pegunungan Tengger, berdiri sebuah kerajaan. Kerajaan itu bernama Kerajaan Medangkamulan dengan rajanya Prabu Gilingwesi. Sang Raja terkenal sebagai seorang yang arif bijaksana. Oleh karena itulah, Prabu Gilingwesi sangat dihormati serta ditaati oleh rakyatnya.
Dalam memimpin kerajaan, Sang Prabu dibantu oleh seorang perdana menteri yang terkenal dengan julukan Ki Patih Pranggulang. Sang Prabu sangat sayang dan menaruh kepercayaan kepadanya. Ki Patih sangat berjasa dalam memecahkan masalah-masalah kerajaan. Sang Prabu benar-benar bangga pada kecerdasan dan ketangkasan patihnya. Demikian pula, rakyat Medangkamulan sangat bangga memiliki seorang patih kerajaan yang tangkas dan gagah berani.
Selain cerdas dan tangkas, Prabu Gilingwesi juga memiliki seorang putri yang sangat cantik. Sang putri yang elok menawan ini memiliki nama yang indah pula, Raden Ayu Tunjung Sekar. Kecantikan dan keelokan sang putri sebagai bunga kerajaan harumnya menyebar ke mana-mana. Para putra raja dari kerajaan-kerajaan tetangga telah banyak yang mengajukan lamaran kepada Sang Prabu. Akan tetapi, semua lamaran itu ditolaknya dengan santun. Sang Putri merasa dirinya belum waktunya untuk menikah.
Putri Tunjung Sekar sehari-hari kerjanya bertenun membuat selendang dan kain dari benang sutra. Hasil tenunan sang putri sangat halus dan memesona tiap orang yang melihatnya. Kehalusan dan keindahan tenunan itu adalah buah karya Sang Putri yang begitu tekun menjalani pekerjaannya. Ketekunannya dalam bertenun menjadi contoh dan teladan bagi orang-orang di Medangkamulan. Tidak mengherankan, dalam waktu singkat, kain dan selendang hasil tenunan Medangkamulan menjadi terkenal ke negeri-negeri lain. Dan, kain serta tenunan Sang Putri menjadi
cenderamata khas Tengger. Banyak orang dari luar berdatangan ke Pegunungan Tengger untuk mencari kain dan selendang yang tak ada dan tak mungkin dibuat orang di negeri lain.
Pendek kata, pada zaman itu, Kerajaan Medangkamulan sedang dalam puncak kejayaan. Raja yang bijaksana, patih yang gagah perkasa, dan seorang putri kerajaan yang cantik rupawan. Tambahan lagi dengan rakyatnya yang giat mengolah tanah yang membuat wilayah kerajaan ini menjadi negeri yang subur. Setiap hari, beratus-ratus gerobak mengangkut hasil pertanian ke daerah-daerah lain. Siapa pun pasti akan senang bermukim di Pegunungan Tengger ini. Keindahan alamnya pun tidak kurang indahnya. Lautan pasir yang luas dengan Gunung Batok di tengah-tengahnya. Serta, Gunung Semeru yang biru menjulang ke langit. Semua itu adalah karunia Tuhan bagi insan yang berdiam di daerah ini.
Rakyat Medangkamulan sangat bersyukur atas rahmat dan nikmat yang datang dari Yang Mahakuasa. Mereka juga berterima kasih kepada Prabu Gilingwesi karena atas kepemimpinannya. Rakyat yang awalnya pemalas, mereka kini berubah menjadi manusia-manusia yang gigih bekerja. Orang-orang yang dahulu miskin, kini tidak lagi kekurangan sandang dan pangan.
Segala ketenangan dan kebahagiaan itu, tiba-tiba sirna hilang begitu saja, setelah terjadi sesuatu pada diri Putri Tunjung Sekar.
Kisahnya, suatu malam, Putri Tunjung Sekar sedang tidur pulas di kamarnya. Seperti biasa, Sang Putri didampingi seorang inang pengasuh. Dalam tidurnya, Sang Putri bermimpi sangat indah. Ia merasa sedang berjalan-jalan di tengah-tengah taman yang penuh dengan bunga yang harum semerbak. Bunga-bunga yang tengah bermekaran menjadikan aroma udara di taman itu segar dan wangi. Keindahan taman semakin memesona dengan cahaya purnama. Akan tetapi, ketika itu, cahaya sang bulan lain dari biasanya. Sinarnya redup, putih temaram, dan begitu lembut. Sang Putri pun bergumam dalam hatinya, "Aiangkah indahnya bulan malam ini!"
Saat Sang Putri asyik menatap sang rembulan, tiba-tiba dengan sangat menakjubkan, bulan itu bergerak perlahan ke arah Sang Putri. Bulan itu semakin rendah, kian lama kian mendekat ke arah sang putri.
Setelah jaraknya begitu dekat dengan Sang Putri, bulan itu baru berhenti bergerak. Tiba-tiba, Putri Tunjung Sekar mendengar suara, "Wahai, Putri yang baik budi, bulan yang ada di hadapanmu ini adalah sebuah hadiah untukmu. Jangan ragu, makanlah!"
Begitu suara gaib itu menghilang, bulan pun berubah menjadi buah mangga yang ranum dan menggiurkan. Putri Tunjung Sekar dengan cepat mengambil buah mangga yang kuning dan ranum itu, lalu dimakannya. Rasanya manis dan lezat.
Setelah buah itu habis dimakan, Sang Putri terjaga dari tidurnya. Ia memerhatikan keadaan sekelilingnya. Ia ternyata tidak sedang berada di taman bunga, tetapi di dalam kamar tidur. Ia tersadar, dirinya sedang bermimpi.
Inang pengasuh Sang Putri yang senantiasa berada di sisinya bertanya kepadanya, "Ada apa, Tuanku? Mengapa Tuanku bangun dengan terkejut?"
"O, tidak apa-apa! Aku baru saja bermimpi."
"Bermimpi? Bermimpi apa?" tanya inang pengasuh.
Sang Putri pun menceritakan mimpi indah yang baru saja dialaminya. Inang pengasuh yang baik hati itu mendengarkan cerita tuannya dengan penuh perhatian.
Setelah selesai menceritakan mimpinya, Sang Putri bertanya, "Menurut Bibi, apakah makna mimpiku itu?"
"Menurut hamba yang bodoh ini, Tuanku kelak akan mendapatkan kebahagiaan yang tak terhingga. Akan tetapi, sebelum itu, Tuanku haruslah tabah! Tuanku akan mendapatkan cobaan yang teramat berat," kata inang pengasuh menjelaskan.
"Apa betul, Bi?"
"Begini, Tuanku. Bulan adalah cahaya yang terang benderang. Tuanku sudah mempunyai alat penerang yang akan berguna bagi kehidupan Tuanku saat kelak kemudian."
"Benarkah, Bibi?" tanya Sang Putri ragu. "Lalu bagaimana dengan cobaan yang Bibi katakan tadi?"
"Ya, Bibi hanya menerka-nerka saja. Umumnya, orang yang akan mendapatkan kebahagiaan, dia akan mengalami penderitaan."
"Kalau memang demikian, aku akan selalu berdoa kepada Tuhan. Siapa tahu yang kau katakan itu benar-benar akan terjadi," ujar Sang Putri dengan wajah duka bercampur gembira. Berduka karena akan mendapatkan cobaan yang berat. Gembira karena pada akhirnya, ia akan menemukan kebahagiaan.
"Benar, Tuanku! Sebaiknya, dalam setiap urusan jangan sampai kita melupakan Tuhan. Karena dengan pertolongan-Nya, kita akan dapat mencapai yang kita cita-citakan," ujar pengasuh Sang Putri.
Malam itu, Sang Putri tidak bisa tidur lagi sampai hari menjelang fajar. Ia masih merasakan indahnya mimpi di taman bunga itu.
Bagi Putri Tunjung Sekar, mimpi yang indah itu tak mudah dilupakan. Ia sering termangu mengenang mimpinya itu. Bahkan, tidur pun semakin jarang. Makannya tidak teratur lagi. Kadang makan, kadang pula tidak dan enggan menyentuh nasi. Alat tenun yang dulu hampir tak pernah ditinggalkannya, sudah tak disentuhnya lagi. Sang Putri menjadi seorang yang sangat malas bekerja. Sifat tekun dan ulet sudah tak tampak lagi dalam dirinya.
Keadaan ini tentu saja membuat orang-orang dalam keraton menjadi heran. Baginda Prabu pun merasa heran pada perubahan sifat putrinya. Akan tetapi, seorang pun tak berani menegur atau bertanya kepada Sang Putri. Apa gerangan yang merisaukan hatinya.
Hal itu terus berlanjut sampai berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan. Menginjak bulan ketiga, setelah peristiwa itu terjadi, suatu sore Sang Putri muntah-muntah. Inang pengasuh menolong Sang Putri dengan perasaan panik.
"Tuan ... Tuanku! Kenapa? Masuk angin?" tanyanya bertubi-tubi.
Putri Tunjung Sekar tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya bisa memegang perut dan memijit-mijit kepalanya. Wajahnya pucat dan matanya seperti berkaca-kaca. Inang pengasuh terus memapah Sang Putri. Ia membawa Sang Putri ke tempat tidur. Direbahkannya tubuh Sang Putri, lalu memijit-mijit kaki dan kepala tuannya. Akhirnya, Sang Putri pun tertidur.
Keesokan harinya, peristiwa yang sama terjadi lagi. Putri Tunjung Sekar kembali muntah-muntah. Inang pengasuh menjadi waswas, khawatir sesuatu terjadi pada tuannya. Dengan terburu-buru, ia menghadap Sang Prabu. Ia pun menghaturkan sembah, "Tuan, Tuan Raja, Tuan Putri muntah-muntah sudah berkali-kali."
Baginda Prabu Gilingwesi terkejut mendengar ucapan inang pengasuh putrinya. Tanpa menunggu lagi, Baginda segera menuju keraton putrinya. Benar saja, Baginda mendapati putrinya sedang muntah-muntah.
"Anakku? Apa yang terjadi kepadamu?" tanyanya penuh cemas.
"Ayah, perutku mual-mual dan kepalaku pusing sekali," jawab Sang Putri dengan suara lemah.
"Sudah berapa lama hal ini terjadi? Mengapa kamu diam saja?"
"Beberapa hari ini, Ayah. Tiap bangun tidur, perut terasa mual."
"Bi, Bibi!" Sang Prabu memanggil-manggil pengasuh putrinya. "Perintahkan pada pengawal supaya memanggil dukun ke sini!"
Inang pengasuh pun memerintahkan dua orang pengawal yang tidak jauh dari dirinya. Tidak lama kemudian, dukun itu sudah datang. Dukun itu berusaha mengobati Sang Putri. Untuk sementara waktu, berkat obat-obat penahan muntah, Sang Putri terbebas dari serangan mual-mual. Akan tetapi, keesokan harinya, Sang Putri muntah-muntah lagi. Kali ini, semua pengobatan dukun dan bantuan para abdi keraton sia-sia. Sang Putri masih saja muntah-muntah. Beberapa minggu kemudian, ketahuanlah penyebab mual-mual yang mengakibatkan Sang Putri muntah-muntah tiap pagi. Ternyata, ia hamil.
Semua abdi keraton yang mengetahui kehamilan Sang Putri merasa heran. Mengapa ini bisa terjadi? Sebab, kediaman Sang Putri selalu dijaga ketat tiap hari, baik siang maupun malam. Tak mungkin seorang lelaki pun dapat masuk dan berbuat keji pada Sang Putri.
Kejadian ini benar-benar dirahasiakan. Inang pengasuh berpesan kepada seluruh abdi keraton agar tidak membocorkan kehamilan Sang Putri kepada siapa pun. Sekalipun kepada Baginda Prabu.
Serapi-rapinya orang menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga baunya. Demikian kata peribahasa. Demikian pula dengan kehamilan Sang Putri. Meskipun sudah diusahakan untuk tidak terdengar oleh orang lain, termasuk Baginda Prabu Gilingwesi, akhirnya mengetahui juga kehamilan putrinya. Baginda Prabu lalu memanggil putrinya untuk menghadap. Putri Tunjung Sekar berjalan menghadap ayahnya sambil menundukkan kepala. Melihat perut putrinya yang besar itu, Baginda Prabu nyaris tak kuat menahan amarah. Ia ingin sekali menampar wajah anaknya itu.
Dengan suara keras dan muka merah, Baginda Prabu membentak putrinya, "Siapa laki-laki yang telah berani berbuat tak senonoh denganmu, hah?"
"Tidak ada, Ayah," jawab Sang Putri singkat.
"Tidak ada?" ujar Baginda Prabu dengan suara tinggi.
"Benar, Ayah, tidak ada," kata Sang Putri memberanikan diri menjawab lagi.
"Mustahil kalau tak ada lelaki yang masuk ke kamarmu! Kalau kamu tidak merasa berbuat, mengapa kamu mengandung?" Baginda Prabu bertanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mendengar pertanyaan ayahnya, Sang Putri tak bisa menjawab. Sang Putri hanya menangis tersedu-sedu menyesali nasibnya yang malang. Ia benar-benar tidak mengetahui harus menjawab apa pada ayahnya. Tiba-tiba, ia teringat pada mimpinya. Kehamilannya itu terjadi saat bermimpi berada di taman dan memakan buah mangga yang ranum. Dengan suara yang hampir tidak terdengar, Sang Putri menceritakan perihal mimpinya kepada ayahnya. Akan tetapi, Baginda Prabu tak mau percaya kepada perkataan putrinya.
"Kamu bermimpi memakan mangga penjelmaan bulan? Ah, kamu terlalu mengada-ada. Kamu benar-benar pandai berbohong! Sampai-sampai ayahmu pun hendak kamu bohongi dengan cerita palsu semacam itu? Aku sama sekali tidak percaya!" ujar Baginda Prabu.
"Ananda tidak berbohong, Ayah," ujar sang Putri dengan halus.
"Diam!" bentak Baginda Prabu bersamaan dengan tamparan keras di pipi Sang Putri. Putri jelita yang tidak bersalah itu tersungkur ke lantai. Tak seorang pun berani membendung amarah Baginda Prabu yang sedang dalam keadaan kalap. Semua yang ada di situ hanya berdiam diri.
"Kamu sudah mencoreng arang di mukaku! Takhta dan kejayaanku yang telah termasyhur ke mana-mana itu, kucapai bukan dengan cara yang mudah. Aku membangun kerajaan dengan berjuang dan membanting tulang. Seluruh rakyat tanah Jawa ini mengakui kebesaran kerajaanku. Sekarang, segenap kebesaran dan kejayaan itu tak ada artinya lagi. Orang-orang sudah tahu bahwa putriku yang jelita mengandung tanpa suami."
Sang Putri terdiam mendengar semua perkataan ayahnya. Ia mengerti dan paham betul mengapa amarah ayahnya demikian meluap. Akan tetapi, ia sama sekali tak berdaya dan tak dapat berbuat apa-apa lagi. Sejenak terlintas di benaknya, perkataan inang pengasuhnya ketika menerangkan arti mimpinya. Hal itu menjadi kenyataan.
"O, mungkin ini yang dimaksud dengan Bibi bahwa aku akan mendapatkan cobaan yang berat," kata Sang Putri dalam hati.
Sang Putri pun menguatkan hatinya. Ia berusaha tabah dan sabar menghadapi cobaan ini. Ia terus berdoa kepada Tuhan agar senantiasa diberi kekuatan.
Suara Sang Prabu yang keras terdengar kembali di ruangan itu. Kali ini, ia memanggil patih kesayangannya, Patih Pranggulang. Beberapa saat kemudian, Ki Patih sudah menghadap.
"Ki Patih, putriku Tunjung Sekar telah hamil, tidak jelas siapa laki-lakinya. Aku dan seluruh rakyatku pasti akan menanggung malu selama-lamanya. Sesuai dengan janjiku, siapa saja yang menodai kejayaan dan keluhuran keraton—tak peduli ia anakku—harus dikenai hukuman!" kata Sang Prabu.
Ki Patih Pranggulang terdiam. Ia merenung sejenak memikirkan kata-kata yang baru saja diucapkan Sang Prabu. Ia merasa terkejut dan setengah tidak percaya kenapa Sang Prabu begitu tega akan menghukum anaknya sendiri. Tidak berapa lama kemudian, Prabu Gilingwesi berkata kembali, "Ki Patih! Sekarang kau kuperintahkan untuk memberi hukuman yang setimpal dengan dosanya kepada putriku yang tak tak tahu adat ini!"
Ki Patih Pranggulang dengan tenang berkata memberikan pendapatnya, "Tuanku, apakah perintah untuk menghukum Tuan Putri itu sudah dipikir masak-masak? Hamba agak ragu dengan tuduhan Tuan. Hamba yakin, Tuan Putri tidak akan melakukan perbuatan tidak senonoh. Mungkin saja yang dikatakan Tuan Putri itu benar."
"Patih!" Prabu Gilingwesi membentak dengan suara keras. "Kau berani menentang kehendakku? Alasan apa pun yang diberikan anakku dan pertimbanganmu itu tetap tidak akan mengubah keputusanku!"
Patih Pranggulang diam termangu. Hatinya masygul. Nyalinya menciut menghadapi Sang Prabu yang sedang terbakar amarah. Ia tidak berani lagi menyampaikan pendapatnya pada Sang Prabu. Ki Patih dengan perasaan gelisah menunggu perintah Sang Prabu lebih lanjut.
"Ki Patih! Hukumlah putriku!" perintah Sang Prabu tegas.
"Siap, Tuanku!"
"Bawalah Si Tunjung Sekar ke dalam hutan! Di sana laksanakan hukuman itu! Aku memberikan tugas kepadamu untuk membunuh putriku! Sebagai bukti, kau harus membawa kepalanya yang sudah kau penggal ke hadapanku!"
Patih Pranggulang nyaris pingsan mendengar perintah Sang Prabu. Ia tidak menduga sama sekali bakal mendapatkan perintah untuk membunuh Putri Tunjung Sekar yang sangat disayanginya. Dengan halus, Ki Patih berusaha menolak perintah itu.
'Tuanku, hamba selama ini selalu mengikuti perintah Tuanku. Akan tetapi, hamba kali ini tak sanggup mengerjakan perintah itu," kata Patih Pranggulang dengan lembut.
"Tak sanggup? Mengapa kau tak sanggup? Apa hanya karena perintah itu ditujukan pada Tunjung Sekar? Apa engkau sudah bosan mengabdi kepadaku? Ayo, jawab!" Sang Prabu makin kalap.
"Ampun, Tuanku! Hamba tak pernah merasa bosan mengabdi kepada Tuanku. Tugas yang bagaimanapun beratnya, hamba sanggup mengerjakannya. Sekalipun, hamba harus mempertaruhkan nyawa sebagai bukti kesetiaanku kepada Paduka. Akan tetapi, perintah yang satu ini, hamba merasa tak sanggup karena harus membunuh seorang putri yang sangat hamba sayangi."
"Ki Patih, aku juga sayang pada anakku. Akan tetapi, sekarang, aku sudah tidak sayang lagi kepadanya. Bunuhlah dia! Ia telah menodai dan mengkhianati kebesaran Kerajaan Medangkamulan."
"Baiklah, Tuanku," jawab Patih Pranggulang sambil menyembah. "Hamba akan segera melaksanakan perintah Tuanku."
"Hendaknya kau ingat," ujar Sang Prabu. "Kalau kau pulang kemari tanpa membawa bukti kepala Tunjung Sekar, kepalamu sendiri nanti yang akan kupenggal!"
Ki Patih Pranggulang lalu berangkat bersama Putri Tunjung Sekar. Semua penghuni keraton dan seluruh rakyat Medangkamulan berduka dalam diam dan isak tangis. Mereka menangis ketika melihat Putri Tunjung Sekar digiring ke luar keraton. Mereka merasa sangat berat ditinggalkan Sang Putri. Apalagi, kali ini, kepergian Sang Putri untuk menjalani hukuman mati. Hanya Prabu Gilingwesi yang tidak menangis. Hatinya menggumpal keras bagaikan batu cadas yang tak mudah dihancurkan. Bahkan, Sang Prabu memerintahkan kepada seluruh abdi keraton untuk tidak hanyut dalam kesedihan.
"Wahai, seluruh penggawa! Kematian Tunjung Sekar tak usah ditangisi! Kematian Tunjung Sekar adalah penebus aib kerajaan!" titah Sang Prabu dengan suara menggelegar. Titah Sang Prabu itu tidak dihiraukan oleh seluruh abdi keraton Medangkamulan. Para abdi keraton itu tidak kuasa menahan kesedihan karena sudah banyak merasakan budi baik Sang Putri. Sesungguhnya, putri yang malang ini adalah seorang putri yang baik hati. Bahkan, semua orang di Medangkamulan mengakui ketulusan dan keluhuran budi pekertinya.
Kabar yang menyedihkan ini dengan cepat menyebar ke mana-mana. Akhirnya, semua rakyat di kerajaan itu mengetahui bahwa putri yang sangat mereka cintai menjalani hukuman mati dari ayahnya. Mereka berduka dengan peristiwa ini. Beberapa hari lamanya, rakyat Medangkamulan tidak memedulikan pekerjaannya. Sawah dan ladang dibiarkan tak terurus. Medangkamulan sedang berbelasungkawa. Kematian Putri Tunjung Sekar telah melukai hati rakyat Medangkamulan.
•••
DUA
MENJALANI HUKUMAN
Matahari hampir terbenam di ufuk barat. Sinarnya lembut memancarkan semburat kemerahan. Sengatan panasnya telah mereda sehingga sudah tidak terasa lagi. Semilir angin pegunungan mulai terasa mengelus tubuh. Suara gemeresik dedaunan di sekitar hutan seperti tengah berbisik mesra ke telinga. Di langit yang biru bersih, burung-burung sesekali terbang melintas.
Kerajaan Medangkamulan sudah tidak tampak lagi. Ki Patih Pranggulang berjalan mengiringkan Putri Tunjung Sekar. Mulut mereka membisu seperti terkunci. Sepatah kata pun tak ada yang mereka percakapkan. Perjalanan mulai memasuki hutan belantara. Semakin jauh berjalan, semakin lebat hutan yang dirambah.
Dalam hati, Ki Patih Pranggulang tak henti-hentinya bertanya tentang perintah Sang Prabu yang harus ia kerjakan. Berat hatinya untuk membunuh Sang Putri di tengah hutan yang jauh dari keramaian ini. Pikirnya, "Sanggupkah aku membunuhnya? Rasanya, aku tak sanggup melihat cucuran darah Sang Putri tumpah ke tanah ini! Sanggupkah aku memenggal leher Sang Putri yang tidak berdaya ini? Apalagi, ia sedang dalam keadaan mengandung! Dosaku tentu berlipat ganda karena membunuh dua orang sekaligus. Ah …, sungguh berat tugas yang hendak kulakukan ini. Aku memang sering membunuh, tetapi hal itu kulakukan di medan perang, menumpas musuh dan kejahatan."
Berbagai pertanyaan menyerbu di benak Ki Patih. Ia pun teringat pesan Sang Prabu yang disampaikannya ketika akan berangkat. Apabila, ia tidak membawa kepala Sang Putri sebagai bukti pelaksanaan hukuman, kepalanya sendiri yang harus menggantikan kepala Sang Putri.
"Ah …, mengapa semua ini harus terjadi kepadaku? Memenggal kepala Sang Putri jelas tidak mungkin. Akan tetapi, seandainya tidak kulakukan, aku pasti dihukum oleh Baginda Prabu. Aku pasti dibunuhnya!"
Putri Tunjung Sekar tidak lagi risau memikirkan nasibnya. Hatinya sudah pasrah dan tidak ingin melawan keputusan ayahnya. Sang Putri malah memuji sikap ayahnya yang memiliki pendirian yang teguh dan menaati aturan yang telah ditetapkan oleh Sang Raja sendiri.
Putri Tunjung Sekar sangat menghormati keputusan ayahnya. Ia akan menjalani hukuman yang akan dilakukan oleh Ki Patih Pranggulang dengan tabah. Dengan tenang, ia terus saja melangkahkan kaki di sela-sela belukar hutan yang tumbuh dengan lebat. Sekali-kali, matanya melirik Ki Patih Pranggulang yang berjalan di sampingnya. Sang Putri seperti dapat membaca pikiran Ki Patih yang sedang menerawang jauh entah ke mana. Ia juga dapat merasakan kegelisahan Ki Patih. Untuk menghilangkan rasa gelisah Ki Patih, Sang Putri memecahkan kesunyian dengan suaranya yang lembut.
"Paman, janganlah ragu dan bimbang lagi. Aku sudah siap menerima hukuman itu. Meskipun, aku merasa tak pernah berbuat salah."
Ki Patih Pranggulang tetap diam seribu bahasa. Ia seakan-akan tidak menggubris perkataan Sang Putri. Waktu terus bergulir. Perjalanan mereka berdua telah menempuh waktu sehari semalam. Hutan lebat telah terlewati. Sang Putri merasa heran. Ia bertanya-tanya dalam hati, "Kenapa Ki Patih diam saja? Kenapa tidak segera melaksanakan perintah Baginda Prabu?"
Ki Patih Pranggulang dan Putri Tunjung Sekar terus saja berjalan. Sebenarnya, Sang Putri menunggu-nunggu perintah dari Ki Patih untuk berhenti. Karena Ki Patih diam saja, Putri Tunjung Sekar tidak sabar lagi. Ia ingin Ki Patih Pranggulang segera melaksanakan hukuman itu. Sang Putri pun lalu menegur Ki Patih, "Paman Patih, laksanakanlah hukuman itu! Aku sudah lelah berjalan. Aku pun sudah siap untuk meninggalkan dunia ini."
Ki Patih Pranggulang tidak menjawab. Ia sudah bertekad akan melaksanakan perintah Baginda Prabu saat itu juga. Tanpa diduga, Ki Patih lalu menghunus pedangnya. Dia mengheningkan cipta untuk beberapa saat, kemudian dengan tanpa ragu, pedangnya diayunkan ke arah leher Sang Putri.
Keajaiban pun tiba-tiba terjadi. Pedang yang sedang diayunkan Ki Patih sekuat tenaga itu, tiba-tiba saja jatuh ke tanah. Patih Pranggulang keheranan dengan kejadian itu. Ia lalu memungut pedang itu kembali dan dengan cepat ditebaskannya ke leher Putri Tunjung Sekar. Namun, sebelum sampai ke leher Sang Putri, pedang itu terjatuh lagi. Peristiwa itu terjadi tiga kali berturut-turut, Ki Patih berusaha memenggal kepala Putri Tunjung Sekar. Akan tetapi, tiga kali pula pedangnya terjatuh.
Akhirnya, Ki Patih berpikir bahwa Sang Putri tidak berhak dan tidak pantas menerima hukuman karena memang ia tidak bersalah. Katanya dalam hati, "Jatuhnya pedangku sampai tiga kali telah membuktikan bahwa Sang Putri berada di pihak yang tidak bersalah. Aku yakin, hamilnya Sang Putri bukan karena kecerobohan Sang Putri, tetapi terjadi oleh sesuatu yang berada di luar kekuasaan dirinya."
Sementara itu, Putri Tunjung Sekar yang sejak tadi telah siap menunggu pelaksanaan hukuman belum juga merasakan apa-apa. Matanya yang terpejam tidak menyaksikan bahwa sebenarnya Ki Patih sudah mengayunkan pedang sampai tiga kali dan tiga kali pula pedang itu terjatuh. Saat Putri Tunjung Sekar membuka mata karena ingin mengetahui apa yang terjadi, Sang Putri malah terkejut melihat Ki Patih yang sedang menyembah kepadanya.
"Paman Patih! Apa yang terjadi? Apa yang sedang Paman lakukan ini?"
Ki Patih Pranggulang yang sedang menyembah kepada Putri Tunjung Sekar berujar, 'Tuan Putri! Ampunilah hamba! Hamba ini telah lancang berani mencoba membunuh Tuanku. Padahal, hamba juga percaya Tuanku tidaklah bersalah."
"Engkau tidak bersalah kepadaku, Paman! Paman hanyalah menjalankan perintah. Hukuman yang hendak kau lakukan tadi bukanlah kehendakmu sendiri, tetapi berdasarkan perintah Baginda Raja yang kau cintai dan hormati."
"Hamba tidak akan mencoba lagi membunuh Tuan Putri. Hamba juga tidak akan kembali lagi ke keraton," kata Ki Patih.
"Mengapa, Paman?" tanya Sang Putri.
"Kalau kembali, hamba pasti dihukum mati oleh Baginda Prabu karena pulang tanpa membawa kepala Tuanku."
"Oh …. Kalau begitu, lalu apa yang hendak kita perbuat?" tanya Putri Tunjung Sekar.
"Kita mengembara. Kalau hamba tidak kembali ke keraton, Baginda Raja pasti mencari kita. Oleh sebab itu, Tuanku sebaiknya cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Demikian pula, hamba akan segera mencari ke tempat lain untuk bersembunyi."
"Paman! Kandunganku sudah semakin besar. Aku tidak kuat berjalan lagi," jawab Sang Putri.
'Tuanku tak usah berjalan kaki," kata Ki Patih.
"Kalau tidak berjalan, aku meninggalkan daerah ini dengan apa?" tanya Putri Tunjung Sekar.
"Daerah hutan ini sudah dekat dengan laut. Coba, Tuanku dengarkan! Bunyi yang menggemuruh itu adalah suara deburan ombak. Untuk mengarungi laut itu, hamba akan buatkan sebuah rakit. Di pulau seberang, Tuanku akan bebas memelihara bayi yang ada dalam kandungan itu. Tempat ini tidak aman karena sewaktu-waktu akan datang utusan Baginda Prabu Gilingwesi untuk mencari Tuanku dan juga mencari hamba."
"Benarkah? Kalau begitu, Paman segera buatkan rakit untukku. Terima kasih atas nasihatmu, Paman," kata Putri Tunjung Sekar dengan wajah riang.
Di hutan dekat pantai itu, Ki Patih Pranggulang menebangi beberapa batang kayu. Batang-batang kayu itu kemudian diikat dengan tali yang kuat sehingga menjadi sebuah rakit. Setelah selesai, Ki Patih Pranggulang membawa rakit itu ke pantai. Putri Tunjung Sekar mengiringkannya dari belakang.
Sebelum berpisah, Ki Patih Pranggulang berpesan kepada Putri Tunjung Sekar, "Tuan Putri, ingatlah kata-kata terakhirku! Sejak saat ini, hamba bukanlah Patih Medangkamulan yang bernama Pranggulang. Hamba tidak akan kembali ke keraton, tetapi hamba akan bertapa sambil mengembara. Nama hamba sekarang adalah Kiai Poleng."
"Tekadmu untuk tidak kembali ke keraton sangat aku hargai, Paman!" kata Putri Tunjung Sekar.
"Nah, naiklah ke rakit ini. Tuan Putri, silakan berangkat," ujar Kiai Poleng setelah menurunkan rakit itu ke laut. Lanjutnya, "Kalau Tuanku mendapatkan kesulitan di perjalanan atau di negeri orang, injakkan kuat-kuat kaki Tuanku ke bumi dan hamba akan datang membantu Tuanku."
"Terima kasih, Paman! Pesan Paman tak akan kulupakan," kata Putri Tunjung Sekar seraya naik ke rakit.
Putri Tunjung Sekar duduk dengan tenang di atas rakit. Kiai Poleng alias Patih Pranggulang pun mendorong rakit itu ke tengah laut. Pelan-pelan rakit yang dinaiki Putri Tunjung Sekar beranjak meninggalkan pantai. Tidak ada rasa takut sedikit pun di hati Sang Putri. Ia melambaikan tangan sambil tak lupa mengucapkan selamat tinggal kepada Kiai Poleng yang baik hati.
"Selamat tinggal, Kiai!" ujar Sang Putri.
"Selamat jalan! Hati-hati dalam perjalanan dan ingatlah pesanku!" jawab Kiai Poleng.
"Ya, Paman! Sekali lagi saya ucapkan terima kasih."
Rakit yang dinaiki Sang Putri melaju dibawa arus ke tengah laut. Semakin lama, semakin jauh dari pantai. Kiai Poleng yang masih berdiri di bibir pantai mengiringi kepergian Putri Tunjung Sekar sambil berdoa untuk keselamatannya. Akhirnya, rakit dan Putri Tunjung Sekar tampak sebagai noktah kecil di tengah laut yang mahaluas. Beberapa saat kemudian, rakit Sang Putri sudah tidak kelihatan lagi. Kiai Poleng pun meninggalkan tempat itu mencari tempat pertapaan untuk bersembunyi.
•••
TIGA
RADEN SAGORO
Putri Tunjung Sekar sudah berada di tengah lautan. Seluas-luas mata memandang, yang tampak, hanyalah kebiruan air. Rakit yang dinaiki Sang Putri hanyut terbawa arus gelombang tanpa arah tujuan. Kadang-kadang rakit itu seperti mengarah ke barat, tetapi sebentar kemudian mengarah ke timur. Siang berpanas, malam berembun. Begitulah yang dialami Sang Putri.
Beberapa minggu lamanya, Putri Tunjung Sekar terkatung-katung di tengah laut. Dengan segenap ketabahan, Sang Putri mengharap segera menemukan sebuah pulau untuk mendarat. Ia juga tak lupa selalu berdoa kepada Yang Mahakuasa. Semoga dirinya diberi kekuatan dan kesabaran untuk menghadapi segala cobaan ini.
Putri Tunjung Sekar sudah tidak tahu lagi pada waktu dan hari. Hanya yang ia tahu, siang selalu berganti malam. Sang Putri sudah merasa cukup lama diombang-ambingkan ombak dan gelombang.
Hari-hari berlalu, bayi yang berada dalam kandungannya sudah semakin membesar. Sang Putri sering merasakan getaran-getaran dari dalam perutnya. Kadang-kadang bayi itu bergerak-gerak dan kakinya menendang-nendang dinding perut Sang Putri. Bayi itu seperti memberi isyarat, ia akan lahir beberapa hari lagi.
Suatu malam, bulan purnama bersinar terang tepat di atas kepala Sang Putri. Bulan yang berada di atas laut itu memancarkan sinarnya menerangi sekeliling rakit Sang Putri. Tidak sedikit pun awan menodai langit. Ombak laut pun seakan-akan mengerti pada apa yang akan terjadi, tidak berdeburan seperti biasa. Ombak sangat tenang. Suasana sekitar terasa sunyi. Waktu seakan berhenti bergerak. Putri Tunjung Sekar pun merenung. Pikirannya menerawang ke mana-mana membayangkan bayinya yang akan lahir.
Saat itu, perut Putri Tunjung Sekar terasa sedikit mulas. Dan, bayi dalam perutnya terasa mulai bergerak-gerak. Sang Putri yakin, telah saatnya, ia melahirkan. Ia pun lalu bersiap seraya memanjatkan doa, "Ya, Tuhanku! Aku begini karena kehendak-Mu. Lindungilah hamba-Mu ini! Aku hanya memohon kepada-Mu."
Beberapa saat kemudian, Putri Tunjung Sekar merasakan perutnya semakin mulas dan sakit. Ia mencoba menarik napas kuat-kuat untuk meredakan rasa sakit yang demikian hebat. Setelah itu, dorongan kuat dari dalam tidak dapat ditahan lagi. Hanya satu kali entakan, bayi dalam kandungan lahir dengan selamat. Putri Tunjung Sekar telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang elok paras mukanya. Sungguh aneh, saat itu tidak ada darah dan aroma bau amis sedikit pun atas kelahiran bayi di tengah laut itu.
Putri Tunjung Sekar bersyukur, "Ya, Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu! Berkat pertolongan-Mu, hamba dapat melahirkan dengan selamat."
Putri Tunjung Sekar memeluk bayi itu. Kemudian, ia memandikannya dengan air laut yang ada di sekitarnya. Wajah bayi yang baru lahir itu cemerlang bagaikan bulan purnama yang sedang bersinar menerangi kelahirannya. Putri Tunjung Sekar merasa sangat gembira. Bayi itu tidak henti-hentinya dipeluk dengan penuh rasa kasih sayang.
"Anakku! Karena engkau lahir di tengah laut, engkau kuberi nama Raden Sagoro, artinya laut," kata Tunjung Sekar kepada bayinya yang baru lahir itu.
"Kelak, Ibu akan menceritakan semua peristiwa ini kepadamu, Nak," katanya lagi sambil mencium bayinya.
Entah sampai kapan Putri Tunjung Sekar dan putranya, Raden Sagoro, berada di atas rakit yang terus melaju tanpa arah tujuan. Tiada lain yang dikerjakan Sang Putri tiap hari, selain memomong dan menimang-nimang bayinya. Tidak bosan-bosannya, ia menyanyi sambil memangku putranya. Sang Putri juga senantiasa berharap untuk segera menemukan tanah daratan. Hampir setiap saat, ia melihat ke seluruh penjuru kalau-kalau ada daratan, tetapi tak ada tanda-tanda, rakit yang dinaikinya itu akan mendekati tanah daratan.
Penantian datang juga. Doa yang selalu dipanjatkan Putri Tunjung Sekar didengar Tuhan Yang Mahakuasa. Suatu pagi, Tunjung Sekar melihat warna biru memanjang di kaki langit sebelah utara. Pada mulanya, ia menduga warna biru itu hanya sebersit awan panjang. Akan tetapi, setelah diperhatikan, ternyata sebuah pulau.
Alangkah gembira hati Putri Tunjung Sekar. Sambil meluapkan kegembiraannya, putranya yang masih bayi itu pun diajaknya bicara, "Anakku, lihatlah pulau yang memanjang di utara itu. Kita akan segera mendarat di sana. Engkau akan bermain-main dan berlari-lari sepuasmu di sana.”
Raden Sagoro yang belum dapat berbicara dan masih belum mengerti kata-kata ibunya diam saja. Akan tetapi, matanya yang jeli memandang juga ke arah pulau yang ditunjukkan oleh ibunya.
Arus laut bergerak dengan membawa rakit ke arah pulau itu. Rakit itu bergerak melaju dengan kekuatan penuh, seperti ada kekuatan gaib yang mendorongnya menuju daratan. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, keesokan harinya, rakit sudah berada di sebuah teluk. Putri Tunjung Sekar mengucapkan syukur karena sudah berada di pulau itu. Begitu rakit merapat ke pantai, Tunjung Sekar berteriak sekuat-kuatnya melepaskan kegembiraan dan kelegaan hatinya. Hal ini disebabkan, selama berbulan-bulan, hanyalah kegelisahan dan kekalutan menyesaki seluruh rongga dadanya.
Sang Putri dengan segera turun ke pasir sambil menggendong bayinya. Setelah berada di pinggir pantai dengan pasir putih yang luas, Raden Sagoro yang masih berumur beberapa hari itu meronta dari gendongan ibunya. Putri Tunjung Sekar tak kuasa menahan rontaan putranya sehingga terpaksa melepaskannya. Setelah terlepas dari gendongan, Raden Sagoro merangkak beberapa meter. Lalu, tiba-tiba, bayi itu bisa berdiri di atas pasir putih dan langsung bisa berjalan. Putri Tunjung Sekar begitu takjub melihat Raden Sagoro yang masih bayi berdiri di atas tanah dan langsung dapat berjalan.
"Mahakuasa Tuhan, apa yang terjadi pada anakku?" serunya.
Raden Sagoro tanpa menghiraukan ibunya terus berjalan meninggalkan pantai. Putri Tunjung Sekar mengikutinya dari belakang dengan penuh rasa kagum.
"Anakku, Raden Sagoro, hendak ke mana engkau?" tanya Tunjung Sekar.
"Ada yang kucari, lbu," jawab Raden Sagoro. Putri Tunjung Sekar lebih heran lagi setelah mendengar anaknya sudah dapat berbicara dengan lancar. Tanpa bertanya lagi, ia dengan sabar terus mengikuti perjalanan Raden Sagoro. Ia ingin tahu apa sebenarnya yang dicari oleh anaknya.
Tiba di sebuah tanah yang luas, Raden Sagoro mendekati sebatang pohon—satu-satunya—yang tumbuh di situ. Pada salah satu dahan yang paling rendah, ada sebuah sarang lebah yang besarnya seperti tempayan. Raden Sagoro mendekati pohon itu. Lebah yang bersarang di pohon itu menyingkir berterbangan entah ke mana seperti memberi jalan pada Raden Sagoro. Dengan mudahnya, Raden Sagoro dapat mengambil madu lebah itu. Kemudian, Raden Sagoro memberikan madu itu kepada ibunya.
"Bu, Ibu sudah berbulan-bulan di lautan tanpa makanan yang cukup. Lihatlah, badan Ibu mulai mengurus dan melemah. Makanlah madu lebah ini agar badan Ibu pulih kembali," kata Raden Sagoro seraya menyerahkan madu kepada ibunya.
"Nak, belum hilang rasa heran dan kagum Ibu kepada pertumbuhan badanmu yang sangat pesat! Kini, Ibu dikejutkan lagi dengan sikapmu yang santun, penuh perhatian, dan penuh kasih sayang kepada Ibu," kata Putri Tunjung Sekar dengan berlinang air mata.
"Sudahlah, Bu! Saya juga tidak paham akan hal ini. Rasanya, saya tadi masih dalam gendongan Ibu, tetapi begitu turun dari rakit badan saya seolah memiliki kekuatan gaib untuk dapat berdiri dan berjalan. Saya juga sebenarnya tidak mengerti bahwa di sini ada madu lebah. Rasanya seperti ada yang membimbing dan menunjukkan jalan ke tempat ini."
Putri Tunjung Sekar tidak berkata lagi. Seperti halnya peristiwa kehamilannya yang misterius, peristiwa yang dialami Raden Sagoro pun rasanya tidak perlu dipertanyakan lebih lanjut. Ia hanya berucap dalam hati, "Semua ini sudah menjadi kehendak Yang Mahakuasa dan takdir hidupku."
Tanpa menunggu waktu lagi, setelah perbincangan itu, Putri Tunjung Sekar dan anaknya mengambil madu lebah lalu menikmatinya bersama-sama.
Di kemudian hari, madu yang ditemukan di tanah datar yang luas itu tercatat sebagai latar belakang untuk memberi nama pulau yang baru ditemukan Raden Sagoro dan Putri Tunjung Sekar. Pulau itu diberi nama Madura. Nama Madura berasal dari madu e tanggara-ara, yang artinya 'madu di tengah tanah datar yang luas'. Nama Madura untuk pulau yang terletak di bagian utara Jawa Timur itu tetap dipakai sampai sekarang.
Sejak menemukan pulau itu, Putri Tunjung Sekar dan Raden Sagoro hidup di sana. Sudah dua tahun mereka tinggal di pulau itu. Usia Raden Sagoro pun sudah menginjak dua tahun. Raden Sagoro berbeda dengan anak-anak lain. Pada seusia itu, tubuhnya sudah sebesar anak yang berumur enam belas tahun. Demikian pula, kecerdasan dan ketangkasannya sungguh luar biasa.
Raden Sagoro sering berburu rusa dengan cara mengejar dan menangkap. Larinya sangat cepat bagai anak panah yang melesat dari busurnya. Hanya membutuhkan waktu beberapa· menit saja, seekor rusa sudah berhasil ditangkapnya.
Tentu saja Tunjung Sekar sangat senang akan ketangkasan anaknya. Ia juga sangat kagum pada anaknya yang memiliki sopan santun yang tinggi. Tidak habis-habis rasa takjubnya pada perkembangan Raden Sagoro. Ingin rasanya, ia menceritakan semua ini kepada siapa saja, terutama pada inang pengasuhnya yang selama tinggal di keraton menjadi tempat curahan jiwanya. Akan tetapi, apa hendak dikata, ia hanyalah berdua dengan Raden Sagoro di pulau itu.
Pada saat itu, Pulau Madura memang belum berpenghuni. Penghuninya hanyalah binatang, seperti kera, kijang, banteng, dan aneka burung. Jadi, Putri Tunjung Sekar dan Raden Sagorolah manusia pertama yang menghuni Pulau Madura.
Suatu siang, Raden Sagoro sedang bermain-main di tepi laut. Ia berlari-lari di atas pasir pantai ke sana kemari. Apabila merasa bosan, ia berbaring di atas pasir. Setelah itu, Raden Sagoro berenang di laut. Tidak mustahil kalau tubuh kesatria yang masih muda belia ini tampak kekar dengan otot-otot bagaikan kawat.
Ketika sedang asyik berenang di laut, tiba-tiba Raden Sagoro melihat dua ekor naga raksasa datang menghampirinya dengan sikap tidak bersahabat. Raden Sagoro segera menghindari naga itu. Naga itu mengikutinya, bahkan hendak menyerang Raden Sagoro. Merasa dirinya dalam bahaya, Raden Sagoro segera berlari ke tepi. Akan tetapi, kedua naga raksasa itu tetap mengejarnya.
Dengan kecepatan lari yang luar biasa, Raden Sagoro meninggalkan tempat itu. Ia pun menemui ibunya dan menceritakan pada ibunya tentang dua naga raksasa yang mengancam dirinya. Raden Sagoro bertekad akan menghadapi kedua naga itu, apabila naga itu mengancam nyawa ibunya.
"Bu, tunggulah di dalam. Saya akan melawan kedua naga itu. Tampaknya kedua naga itu akan menyerang kita. Saya tidak ingin Ibu menjadi mangsanya," katanya pada ibunya.
"Jangan, Nak! Ibu bukannya tidak percaya pada kekuatan dan ketangkasanmu! Naga-naga itu tampaknya ganas sekali. Lihatlah matanya!" kata Putri Tunjung Sekar pada anaknya dengan rasa khawatir.
"Biarkanlah, Bu! Izinkanlah saya menyelamatkan nyawa Ibu," pinta Raden Sagoro.
"Sabarlah, Nak! Sebaiknya, kita meminta bantuan saja."
"Minta bantuan? Minta bantuan kepada siapa, Bu?" tanya Raden Sagoro penuh dengan rasa heran.
Putri Tunjung Sekar tidak menjawab pertanyaan anaknya. Ia ingat dengan pesan Kiai Poleng, jika perlu bantuannya, dia harus mengentakkan kaki tiga kali ke tanah. Ia pun dengan segera mengentakkan kakinya ke tanah tiga kali. Betul juga, pada saat itu, Kiai Poleng sudah berada di dekatnya seraya bertanya, "Ada apa, Tuan Putri?"
"Kiai, tolonglah! Ada dua ekor naga hendak menyerang anakku dan akan menyerangku juga," jawab Tunjung Sekar.
"Di mana naganya, Cucuku?" tanya Kiai Poleng kepada Raden Sagoro.
"Tadi, di tepi laut sana, Embah. Naga itu terus mengikutiku."
"Ya, betul, Kiai! Cobalah lihat ke sana! Aku takut sekali," kata Tunjung Sekar menimpali perkataan anaknya.
"Janganlah takut! Asalkan, kita tidak mengganggu terlebih dahulu," ujar kakek yang berpakaian lurik itu.
"Baiklah, kita lihat ke sana. Ayo, kedua naga itu kita hadapi!"
"Takut!" kata Sang Putri dan Raden Sagoro hampir berbarengan.
"Tak usah takut, kita berada di pihak yang benar!" ujar Kiai Poleng meyakinkan hati Raden Sagoro dan Putri Tunjung Sekar. Kiai Poleng meneruskan perkataannya, "Yakinlah, Tuhan akan menolong orang yang benar."
Mendengar kata-kata Kiai Poleng, terbit keberanian pada Raden Sagoro dan Putri Tunjung Sekar. Dengan langkah yang tegap, Raden Sagoro berjalan diiringkan Kiai Poleng, sedangkan Putri Tunjung Sekar menunggu di gubuknya. Mereka berdua telah siap untuk menghadapi serangan kedua ekor naga raksasa itu.
Benar saja, di tepi pantai, dua ekor naga itu sedang mencari mangsa. Melihat manusia, kedua naga itu mendesis-desis dengan mata melotot. Mulutnya menyemburkan api yang menyala-nyala. Kedua ekor naga bersiap akan menyerang.
"Tenanglah, Cucuku!" kata Kiai Poleng kepada Raden Sagoro. "Tangkaplah ekor kedua ular itu dan bantinglah ke tanah. Jangan lupa, tangkap ekornya saja, Cucuku!"
Dengan tak ragu-ragu lagi, Raden Sagoro segera maju melawan. Seekor di antara ular itu menyerang dengan geram. Raden Sagoro mengelak serangan itu dengan gesit. Ular yang satu lagi tidak tinggal diam. Dengan secepat kilat, ular itu mencoba membelitkan tubuhnya pada Raden Sagoro. Akan tetapi, tubuh Raden Sagoro bagaikan berminyak. Belitan ular itu beberapa detik kemudian sudah dapat dilepaskan dan Raden Sagoro tegak berdiri lagi.
Sementara itu, Kiai Poleng menyaksikan perkelahian Raden Sagoro dengan kedua ular itu dari jarak yang cukup jauh. Ia tetap waspada karena takut kalau Raden Sagoro kalah dalam pertarungan itu. Apabila Raden Sagoro nanti dalam keadaan bahaya, Kiai Poleng siap untuk menaklukkan kedua ular itu. Akan tetapi, Raden Sagoro belum membutuhkan bantuan. Gerakan dan ketangkasannya semakin gesit. Dan, ular itu pun belum juga mau menyerah. Ular itu menyerang Raden Sagoro bertubi-tubi. Raden Sagoro tidak gentar. Ia terus berusaha meraih ekor ular itu.
Dengan segala usaha, Raden Sagoro pun berhasil memegang ekor salah satu ular itu. Ular yang satunya menjadi sangat marah. Lalu, Raden Sagoro dicambuknya dengan ekornya. Akan tetapi, malang, ekor yang digunakan untuk mencambuk itu berhasil ditangkap oleh tangan kiri Raden Sagoro. Kini, ekor kedua ular naga itu sama-sama terpegang oleh kedua belah tangan Raden Sagoro. Raden Sagoro lalu memutar-mutar kedua ular itu sehingga tampak seperti baling-baling yang sedang berputar dengan cepat.
Kiai Poleng yang kagum menyaksikan ketangkasan Raden Sagoro memberi aba-aba dari jauh dengan berteriak, "Bantinglah, Cucuku! Ayo, cepat banting!"
Raden Sagoro pun segera membanting kedua ular naga itu ke tanah. Bunyi bantingan itu bagaikan dua batang pohon besar yang rubuh.
Dua ekor ular naga yang ganas itu terempas ke tanah. Seketika itu juga, kedua naga raksasa itu berubah wujud menjadi dua pucuk tombak. Raden Sagoro sangat takjub melihat peristiwa ini.
"Embah, mengapa jadi begini?" tanya Raden Sagoro pada Kiai Poleng.
"Ini pertanda baik, Cucuku!" jawab Kiai Poleng.
"Lalu bagaimana, Embah? Mau diapakan kedua tombak ini?" Raden Sagoro bertanya lagi.
"Ambillah kedua pucuk tombak itu, Cucuku!" perintah Kiai Poleng.
Raden Sagoro yang belum habis rasa herannya, lalu memungut kedua tombak itu dan membawanya kepada Kiai Poleng. Kiai Poleng menyambutnya dengan penuh rasa bangga bercampur gembira, katanya, "Selamat atas kemenanganmu, Cucuku! Engkau adalah kesatria perkasa!"
"Terima kasih, Embah!" jawab Raden Sagoro merendah. "Tanpa nasihat dari Embah, saya tentu sudah mati dibelit kedua naga itu."
Kiai Poleng lalu menerangkan kepada Raden Sagoro, "Kedua ular itu adalah penjelmaan dari salah satu ujian hidup. Seandainya, engkau sejak awal takut dan lari ketika menghadapi kedua ular itu, engkau tak akan mendapatkan hadiah dua pucuk tombak sebagus ini. Tombak dua pucuk ini adalah sebagai ijazah atas keberanian dan ketangkasanmu. Rawat dan jagalah kedua pucuk tombak ini baik-baik. Suatu saat nanti, engkau akan memerlukannya."
Mendengar kata-kata Kiai Poleng, Raden Sagoro mengangguk-angguk tanda mengerti pada nasihat dan keterangan yang berharga ini. Tangannya mengelus-elus tombak yang panjang, tajam, dan runcing itu dengan hati-hati.
"Sudahlah, Cucuku! Mari kita pulang. Ibumu tentu menunggumu dengan gelisah," ujar Kiai Poleng.
"Kalau begitu, baiklah! Mari kita menemui ibu," jawab Raden Sagoro.
Kiai Poleng dan Raden Sagoro segera meninggalkan tempat itu. Tidak lama kemudian, mereka sudah bertemu dengan Putri Tunjung Sekar yang sejak tadi menunggu putranya dengan hati berdebar-debar. Sang Putri takut kalau Raden Sagoro cedera atau mati dalam pertarungan melawan dua ekor naga raksasa itu. Alangkah bahagia Putri Tunjung Sekar begitu melihat kedatangan putranya dalam keadaan selamat tidak kurang suatu apa.
"Bagaimana, Nak, keadaanmu? Tombak dari mana itu?" Putri Tunjung Sekar menanyakan tombak yang dipegang Raden Sagoro.
Wajah Raden Sagoro tampak berseri-seri dan sebentar-sebentar melihat ke ujung tombaknya yang bagus itu.
"Tenanglah, Bu! Saya dapat menemui Ibu kembali berarti saya tidak apa-apa. Kedua tombak ini nanti akan saya ceritakan asal-usulnya."
Kiai Poleng yang menyaksikan pertemuan antara ibu dan anaknya merasa berbahagia. Dalam hatinya berkata, "Alangkah berdosanya, apabila dulu, aku telah membunuh mereka berdua. Untunglah peristiwa yang tidak kukehendaki itu tidak terjadi."
Kiai Poleng pun menyuruh Raden Sagoro untuk segera menceritakan perihal perkelahian yang seru dengan kedua ular naga raksasa kepada ibunya. Putri Tunjung Sekar mendengarkan cerita putranya sambil sesekali menggeleng-gelengkan kepala karena takjub dan bangga atas ketangkasan dan keperkasaan Raden Sagoro.
"Kau memang hebat, Anakku! Ibu sangat bangga kepadamu!" puji Putri Tunjung Sekar kepada putranya yang sangat disayanginya itu.
"Ah, Ibu! Semua itu berkat karunia Yang Mahakuasa dan doa dari Ibu. Dan, tentu saja, atas pertolongan Embah Poleng yang selalu memberi aba-aba di belakangku," kata Raden Sagoro merendah.
Kiai Poleng mendengar jawaban Raden Sagoro hanya tersenyum dengan tidak memberi komentar lagi. Ia kemudian menyuruh Raden Sagoro supaya memberi nama pada kedua tombak yang sejak tadi tidak lepas dari tangannya itu.
"Sebaiknya kedua tombak itu engkau beri nama," kata Kiai Poleng kepada Raden Sagoro.
"Saya tidak bisa memberi nama, Embah. Tolonglah, Embah saja yang mencarikan nama yang cocok untuk kedua tombak ini."
Kiai Poleng merenung sejenak. Setelah beberapa saat barulah terdengar suaranya, "Baiklah, kalau itu memang keinginanmu. Embah akan memenuhi permintaan Raden. Tombak yang kau pegang dengan tangan kanan itu kuberi nama Si Nanggolo, sedangkan tombak yang berada di tangan kirimu sebut saja Si Alugoro.”
Raden Sagoro mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan nama itu. Ia merasa sangat puas dengan pemberian nama yang bagus itu.
'Terima kasih, Embah. Kedua nama itu sangat cocok dengan kehebatan tombak ini. Sekali lagi, terima kasih," katanya sambil menyebut nama-nama tombak itu.
Setelah bercakap-cakap beberapa saat lamanya, Kiai Poleng berpamit pulang. Seketika itu juga, sang Kiai lenyap dari pandangan mata Putri Tunjung Sekar dan Raden Sagoro. Raden Sagoro yang selama ini menyimpan rasa penasaran tentang keingintahuannya pada Kiai Poleng, ia pun langsung bertanya pada ibunya.
"Ibu, siapa sebenarnya Kiai Poleng itu?" tanyanya.
"Ceritanya panjang, Nak. Akan tetapi, suatu saat, Ibu pasti akan menceritakan semuanya kepadamu. Hal yang harus kamu ketahui sekarang adalah, bahwa Kiai Poleng itu dulunya adalah seorang Patih Kerajaan Medangkamulan, namanya Patih Pranggulang. Patih Pranggulang inilah yang menolong Ibu dalam pengembaraan."
Raden Sagoro manggut-manggut. Namun, pikirannya masih menyimpan pertanyaan. Akan tetapi, karena ibunya sudah mengatakan bahwa suatu saat kelak akan bercerita, Raden Sagoro tidak berani lagi bertanya pada ibunya. Putri Tunjung Sekar pun mengalihkan pembicaraan pada hal lain agar Raden Sagoro melupakan Kiai Poleng.
"Kedua pucuk tombak yang kini kau miliki itu, janganlah sampai engkau salah menggunakannya," kata Tunjung Sekar kepada putranya. "Kedua tombak pusaka itu bukanlah alat untuk menyombongkan diri dan bukanlah alat untuk membunuh orang. Orang yang sombong dan orang yang senang membunuh orang dengan sewenang-wenang adalah musuh Tuhan."
"Ya, Bu. Saya paham. Saya juga tentu akan melaksanakan pesan Ibu. Akan tetapi, Bu, kalau begitu, jadi untuk apa kedua tombakku ini?" tanya Raden Sagoro meminta penjelasan pada ibunya.
"Tombak itu adalah alat untuk membela kebenaran. Tidak sembarang waktu, engkau boleh mempergunakan kedua tombak itu. Kalau pada suatu saat datang kemari orang-orang yang hendak merampas tanah tumpah darahmu ini, itulah saatnya, engkau harus bangkit untuk mengusir orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu.”
Dengan penjelasan dari ibunya, Raden Sagoro pun mengerti bahwa dua tombak yang merupakan senjata pusaka yang dimilikinya harus dipergunakan sebaik-baiknya dan tidak dipergunakan untuk merugikan orang lain.
"Baiklah, Bu. Kalau demikian, saya berjanji kepada Ibu bahwa saya akan memakai tombak ini di jalan yang benar."
"Ya, memang harus begitu. Syukurlah, engkau telah memahaminya."
Putri Tunjung Sekar dan Raden Sagoro tidak berkata-kata lagi. Putri Tunjung Sekar meneruskan pekerjaannya yang tertunda, sedangkan Raden Sagoro membaringkan tubuhnya di atas balai-balai.
Putri Tunjung Sekar dan Raden Sagoro hidup dan bermukim di lereng Gunung Geger di Pulau Madura. Di sekitar gunung itu, pemandangan alam sangatlah indahnya sehingga membuat kedua orang itu merasa tenteram. Udara pegunungan yang sejuk melegakan pikiran mereka berdua. Hanya satu hal yang meresahkan perasaan Raden Sagoro, gubuknya agak jauh dari laut. Raden Sagoro memang sangat suka pada laut. Ia selalu rindu pada deburan ombak laut, rindu pada pasir putihnya, dan selalu ingin berenang di laut sambil menikmati empasan ombak yang kuat mengguncang tubuhnya.
Kerinduannya pada laut begitu menggelora, sampai-sampai, ia ingin hidup di pinggir pantai dan tidak di lereng gunung seperti sekarang ini. Keinginannya itu, ia sampaikan kepada ibunya. Ia berharap, ibunya bisa mengerti akan kemauannya.
"Ibu, namaku Raden Sagoro kan?" kata Raden Sagoro pada ibunya suatu hari.
"Ya, namamu Raden Sagoro, mengapa kamu pertanyakan lagi?" kata ibunya terheran-heran.
"Ya, namaku Raden Sagoro, yang artinya laut. Namun, mengapa hidupku di atas gunung?"
"Mengapa? Apa memang hanya karena arti namamu laut dan kita tinggal di lereng gunung jadi aneh?" tanya Putri Tunjung Sekar kurang mengerti apa yang dimaksudkan oleh ucapan putranya itu.
"Aku dilahirkan di tengah laut, kedua tombak pusaka kudapatkan di tepi laut, namaku juga sama dengan laut, tetapi sampai sekarang hidupku jauh dari laut. Aku selalu rindu pada laut, Bu! Rindu sekali!" kata Raden Sagoro bersemangat.
Putri Tunjung Sekar semakin heran pada perkataan putranya, katanya, "Engkau kan sering bermain-main ke laut! Ah, ada-ada saja engkau ini!"
"Sungguh, Bu! Meskipun sering pergi ke laut, aku selalu ingin kembali ke sana!"
"Ya, kalau demikian sekarang pergilah ke laut!"
"Ah, Ibu. Bukan itu maksudku."
"Kalau bukan itu, lalu apa maksud perkataanmu itu?"
"Izinkanlah aku tinggal di tepi laut, Bu. Aku ingin melihat ombak dan gelombang yang berdeburan setiap saat. Aku ingin melihat buih-buih yang berkejaran menuju pantai dari dalam rumahku.”
"Jadi, maksudmu, engkau ingin tinggal di tepi pantai?"
"Ya, Bu."
Barulah Putri Tunjung Sekar mengerti maksud putranya itu. "Ah, engkau, dasar anak laut!" katanya.
"Nah, Ibu, sekarang mengerti kan pada perasaanku?"
"Memang apa istimewanya hidup di tepi laut daripada di lereng gunung?" tanya Putri Tunjung Sekar masih penasaran dengan keinginan putranya.
"Kalau soal itu sama saja, Bu. Yang jelas, keistimewaan hidup di tepi laut bagi saya karena bisa berdekatan dengan laut. Bisa merasakan aroma laut."
"Engkau bisa saja, Anakku!"
"Benar, Bu! Saya kalau lama tidak melihat laut, hati ini rasanya menjadi gelisah."
"Kalau begitu, kita pindah saja ke pesisir secepatnya," kata Tunjung Sekar.
Ucapan ibunya itu sangat menggembirakan Raden Sagoro. Ia merasa sangat berterima kasih kepada ibunya.
"Terima kasih, Bu! Ibu adalah ibu yang baik. Ibu yang memahami perasaan hati anaknya yang selalu bergejolak tiap kali ingat laut."
Beberapa hari kemudian, Tunjung Sekar dan Raden Sagoro berangkat meninggalkan Gunung Geger. Mereka berjalan menuju ke arah utara, kemudian membelok ke timur.
Mencari tempat tinggal di tepi laut tidaklah mudah. Putri Tunjung Sekar dan Raden Sagoro memilih tempat yang aman dari empasan ombak laut yang sewaktu-waktu bisa pasang. Setelah tiga hari mencari tempat tinggal, mereka sampailah di sebuah tempat yang banyak ditumbuhi pohon nipah. Putri Tunjung Sekar dan Raden Sagoro merasa cocok dengan tempat itu. Raden Sagoro membersihkan tempat itu. Dengan cekatan, ia membangun gubuk yang sederhana.
Raden Sagoro memberi nama daerah itu Nepa atau Nipah karena tempat itu banyak ditumbuhi pohon nipah. Putri Tunjung Sekar sangat setuju dengan nama itu karena sesuai dengan tumbuh-tumbuhan yang banyak tumbuh di tempat itu.
Di tengah pohon-pohon nipah yang subur itu, banyak sekali kera yang jumlahnya sampai ribuan. Kera-kera itu semua tunduk kepada Raden Sagoro. Bahkan, setiap hari secara bergiliran, kera-kera itu mengantarkan buah-buahan ke pondok Raden Sagoro. Mereka seperti layaknya manusia. Raden Sagoro beserta ibunya merasa sangat senang tinggal di dekat pantai yang banyak berpenghuni kera itu.
"Bu, saya sangat senang tinggal di sini. Selain berdekatan dengan laut, banyak kera di sini. Kera-kera itu sangat baik pada kita, Bu!" kata Raden Sagoro pada suatu siang.
"Ya, Nak! Ibu juga merasa sangat senang. Kita tidak kesepian lagi. Meskipun hanya berteman dengan kera-kera, tetapi mereka itu berperangai seperti manusia."
Pada saat itu, Raden Sagoro sudah bertambah usianya sehingga cara berpikirnya pun sudah mulai dewasa. Sikap dan perilakunya semakin santun. Ia juga sangat menghormati ibunya dan selalu taat pada pesan-pesan yang diberikan oleh ibunya. Demikian juga, sikapnya pada kera-kera yang selalu mengelilinginya. Raden Sagoro sering mengajak berbicara pada kera-kera itu. Raden Sagoro memperlakukan kera-kera itu dengan lemah-lembut dan penuh kasih sayang sehingga kera-kera itu pun membalas budi baik Raden Sagoro. Sejak saat itu, Raden Sagoro telah dianggap menjadi raja atau penguasa bagi seluruh penghuni pulau itu. Dan, kera-kera yang taat itu menjadi rakyatnya.
•••
EMPAT
PERANG
Sementara itu, Kerajaan Medangkamulan setelah ditinggalkan Putri Tunjung Sekar dan Patih Pranggulang tampak suram. Rakyat kurang bergairah untuk bekerja. Sawah ladang merana seperti seorang gadis yang ditinggal kekasihnya. Daerah pegunungan Tengger tidak lagi kelihatan bekasnya sebagai daerah yang terkenal dengan kesuburannya. Di mana-mana tidak tampak kesibukan yang mencolok. Di sawah, di pasar, atau di jalan-jalan, bahkan di lingkungan keraton pun tampak sepi. Kerajaan Medangkamulan sudah seperti kota mati. Orang-orang lebih suka mengurung diri di dalam rumahnya masing-masing.
Bencana alam pun menimpa beberapa daerah. Gunung Batok yang berada di tengah lautan pasir itu meletus dan banyak memakan korban jiwa. Bahkan, di lereng gunung itu berkali-kali terjadi longsor. Penduduk Medangkamulan semakin enggan ke luar rumah karena takut tertimpa bencana.
Prabu Gilingwesi masih tetap bertakhta. Akan tetapi, kekuasaannya sudah tidak sekuat dulu lagi. Selain Patih Pranggulang yang sudah tidak tinggal di situ, patih pengganti pun belum bisa menandingi kehebatan Patih Pranggulang. Patih yang ditunjuk untuk menggantikan Ki Patih Pranggulang juga kurang cerdas dan tidak tangkas. Prabu Gilingwesi menjadi murung, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah sekian tahun keadaan itu berjalan, Kerajaan Medangkamulan mengalami kemunduran di segala bidang. Suatu hari, musuh datang dari negeri seberang. Musuh itu menyerang secara mendadak Kerajaan Medangkamulan. Rakyat kecil di desa-desa banyak yang dibunuh dan harta mereka dirampas.
Kejadian ini segera dilaporkan kepada Prabu Gilingwesi. Salah seorang patih menghadap Prabu Gilingwesi, "Mohon ampun, Paduka. Hamba hendak melaporkan bahwa kerajaan kita mendapat serangan dari negeri seberang. Rakyat kita banyak yang dibunuh dan dijarah hartanya," kata seorang patih.
Alangkah marahnya Sang Prabu mendengar berita yang mengejutkan itu. "Mengapa kamu diam saja?" kata Sang Prabu dengan suara tinggi.
"Ampun, Paduka! Kami sudah berusaha menangkis serangan musuh, tetapi musuh jauh lebih kuat," kata patih itu.
"Ayo, siapkan bala tentara!" perintah Prabu Gilingwesi.
"Siap, Paduka!" jawab patih.
Patih itu, yang sekaligus berperan sebagai panglima perang, lalu mengumpulkan seluruh angkatan perang Medangkamulan. Semua senjata, seperti tombak, keris, pedang, dan belati dipersiapkan untuk menghadapi musuh. Semua prajurit yang sedang tidak bertugas diperintahkan untuk siaga dan kembali ke markas masing-masing. Setelah siap, berangkatlah seluruh angkatan perang Medangkamulan menuju ke medan perang. Di tengah jalan, mereka berteriak-teriak untuk menbangkitkan semangat juang.
Di sebuah lembah, mereka bertemu dengan pasukan musuh. Panglima perang Kerajaan Medangkamulan memberi komando untuk menyerang musuh.
"Siap! Serang!" perintah panglima dengan suara yang menggelegar.
Perang pun pecah. Bala tentara Medangkamulan yang gagah berani menyerang dengan semangat menyala-nyala. Mereka tidak sudi negerinya dirampas dan dijajah oleh orang-orang dari negeri seberang.
Tidak kalah semangatnya pasukan perang negeri seberang. Tentara negeri seberang lebih banyak dan persenjataan perangnya lebih lengkap. Pasukan negeri seberang menghadapi tentara Kerajaan Medangkamulan dengan sikap lebih gagah berani daripada pasukan Medangkamulan. Mereka bernafsu hendak menguasai Kerajaan Medangkamulan.
Berpuluh-puluh orang roboh bermandi darah dalam pertempuran sengit itu. Semua berperang untuk mendapatkan kemenangan. Akan tetapi, apa hendak dikata, bala tentara yang gugur di medan perang itu lebih banyak dari pihak Kerajaan Medangkamulan.
Tentara negeri seberang yang merupakan tentara musuh Kerajaan Medangkamulan ternyata lebih canggih persenjataannya. Akhirnya, bala tentara Medangkamulan merasa kewalahan membendung musuh dan banyak yang gugur sia-sia.
Panglima perang Kerajaan Medangkamulan melihat situasi yang mengkhawatirkan itu, ia lalu memerintahkan anak buahnya untuk menghentikan perang dan mundur.
"Mundur! Pasukan segera mundur!" perintah panglima perang dengan suara keras.
Tanpa menunggu perintah lagi, pasukan perang Kerajaan Medangkamulan yang tinggal sedikit itu mundur. Pertahanan mereka hancur, para prajurit lari tunggang-langgang. Pada sore hari, pertempuran selesai dengan kekalahan di pihak tentara Medangkamulan. Sebagian tentara yang masih hidup segera melarikan diri ke rumahnya masing-masing. Mereka tidak kembali ke keraton.
Prabu Gilingwesi mendengar laporan kekalahan tentaranya menjadi sangat terpukul. Tentara yang masih hidup sudah tinggal sedikit. Persenjataan mereka juga sudah tidak memadai lagi untuk menghadapi musuh yang kuat.
Saat itulah, Sang Prabu teringat kepada Patih Pranggulang yang gagah perkasa, "Seandainya Pranggulang berada di sini, ia pasti dapat menumpas tentara musuh."
Sang Prabu pun untuk pertama kalinya menyesali ancaman yang diberikan kepada Patih Pranggulang, "Aku menyesal telah mengancam akan memenggal kepala Pranggulang, apabila ia tidak membawa kepala Tunjung Sekar. Akan tetapi, Pranggulang lebih cerdik daripada aku. Tentu saja, ia tidak akan menjalankan perintahku karena ia sangat sayang pada putriku. Baginya sangat mudah menghindari ancamanku, ia tidak kembali ke sini. Duh, betapa bodohnya aku."
Prabu Gilingwesi menyesali kekeliruan yang telah dilakukannya itu. Akan tetapi, apa gunanya menyesal, nasi sudah menjadi bubur. Hal yang perlu dipikirkan selanjutnya ialah bagaimana menghadapi musuh yang demikian kuat itu?
Lamunan Sang Prabu buyar ketika mendengar suara panglima perang.
"Paduka, musuh yang datang itu ternyata tak bisa dilawan," kata panglima perang melaporkan situasi.
"Jadi, menurut pendapatmu, bagaimana?" tanya Sang Prabu.
"Sebaiknya kita menyerah saja," jawab panglima perang.
"Menyerah? Menyerah kepada musuh yang hendak merampas tanah air kita? Sikap itu bukanlah sikap seorang kesatria sejati," kata Raja Gilingwesi dengan marah.
Tanpa menghiraukan panglima perang yang masih tetap berada di situ, Raja Gilingwesi meninggalkan singgasananya. Ia menuju kamarnya.
Di dalam kamar, Raja Gilingwesi bermeditasi, berdiam diri, dan mengheningkan cipta. Sang Prabu meminta petunjuk kepada Yang Mahakuasa.
"Ya, Tuhan! Hamba mohon petunjuk-Mu. Hamba mengaku bersalah telah menghukum putri hamba yang tidak jelas kesalahannya. Hamba juga berdosa kepada patih hamba, Pranggulang, yang sangat setia kepada hamba. Mungkin inilah akibat dari perbuatan hamba. Ya, Tuhan, ampunilah hamba-Mu ini."
Sampai tengah malam, Raja Gilingwesi tetap bermeditasi. Tidak makan dan minum. Tidak juga berbicara. Ia hanya berdiam menunggu isyarat dari Tuhan. Tanpa terasa, Prabu Gilingwesi tertidur di tempat duduknya.
Dalam tidurnya, Prabu Gilingwesi bermimpi didatangi seorang laki-laki tua, rambut dan jenggotnya putih bagaikan kapas. Orang tua itu bertanya kepada Sang Prabu, "Apa yang merisaukan hatimu?"
"Kerajaan hamba sedang menghadapi ancaman dari negeri seberang," jawab Prabu Gilingwesi. "Tentara hamba tak mampu menghadapi serangan tentara seberang itu. Hamba mohon petunjuk, Tuan!"
"Di sebelah utara kerajaanmu ini ada sebuah pulau. Di sana ada seorang kesatria muda bernama Raden Sagoro. Carilah sampai ketemu! Hanya dia yang dapat mengalahkan dan menumpas musuhmu itu!"
"Benarkah, Tuan? Raden Sagoro di sebelah utara kerajaan hamba?"
"Benar! Raden Sagoro, temukan dial"
"Raden Sagoro, Raden Sagoro …,” kata Prabu Gilingwesi seperti mengigau. Sampai akhirnya, ia terjaga dari tidurnya. Bibirnya masih mengucapkan nama itu berkali-kali. Setelah terjaga dari tidurnya, malam itu juga, Prabu Gilingwesi memanggil Perdana Menteri.
"Wahai, Perdana Menteri! Malam ini juga, engkau berangkat naik perahu ke sebuah pulau di sebelah utara kerajaan ini. Tiba di sana, carilah seorang pemuda sakti bernama Raden Sagoro. Sampaikan salamku kepadanya, serta katakan bahwa Prabu Gilingwesi dalam bahaya dan memohon bantuannya!" perintah Sang Prabu kepada Perdana Menteri.
"Siap, Paduka! Perintah Paduka akan kami laksanakan malam ini juga. Izinkanlah hamba berangkat," kata Perdana Menteri.
"Berangkatlah!"
Pada malam yang gelap gulita, Perdana Menteri Medangkamulan berangkat menunggang kuda menuju ke pantai bersama lima orang pengiringnya. Pagi hari, mereka tiba di pelabuhan. Setelah menyiapkan perahu, mereka berangkat menuju ke utara.
Perahu pun berlayar ke arah utara. Angin tenggara bertiup dengan kencang sehingga perahu yang mereka naiki meluncur melaju di atas laut. Sore hari, mereka telah melihat sebuah pulau.
"Kita akan segera sampai!" kata Perdana Menteri.
"Ya, kita akan sampai. Pulau yang kita tuju sudah tampak dari sini," kata pengiring Perdana Menteri.
Di pulau yang dituju itu, mereka berlabuh. Mereka tidak mengetahui bahwa itulah pulau yang kelak bernama Madura. Ketika itu, Raden Sagoro sedang beristirahat di pantai setelah berhasil membuat sebuah perahu. Perahu itu dikerjakannya sendiri selama dua bulan. Penduduk Pulau Madura yang berpenghuni kera tidak dapat membantu Raden Sagoro untuk membuat perahu.
Perahu yang dibuat Raden Sagoro tidak terlalu besar. Bentuknya sangat bagus dipandang mata. Layar perahu itu terbuat dari serat nanas. Putri Tunjung Sekar-lah yang menenun layar perahu itu.
Setelah beristirahat sebentar, ia memasang layar ke atas perahunya. Raden Sagoro pun berteriak nyaring, "Lalloooo ….”
Sesaat kemudian, berpuluh-puluh kera datang berteriak-teriak dengan gembira. Raden Sagoro lalu memberi isyarat agar kera-kera itu naik ke perahunya. Dengan cepat, kera-kera itu melompat naik ke perahu.
Dengan perlahan, perahu Raden Sagoro bergerak meninggalkan pantai. Raden Sagoro memegang kemudi. Layar perahu itu terkembang ditiup angin. Tak lama kemudian, perahu itu sudah berada di tengah laut. Dari tengah laut itu, Raden Sagoro melihat Gunung Geger, tempat ia dibesarkan. Alangkah senang hati Raden Sagoro. Ia bermain-main di atas perahu bersama kera-kera yang lucu-lucu itu.
"Hai, kera, lihatlah gunung itu!" katanya kepada kera-kera itu sambil tangannya menunjuk ke arah Gunung Geger. Kera-kera itu berteriak bersahutan sambil mengarahkan pandangan ke tempat yang ditunjukkan Raden Sagoro.
"Di sanalah aku dibesarkan. Di lereng gunung itu!"
Kera-kera itu kembali berteriak. Raden Sagoro bergembira ria dengan kera-kera itu di atas perahu. "Inilah hidupku yang kuimpikan selama ini. Aku selalu ingin bermain-main di laut. Laut telah memberi semangat pada hidupku."
Setelah puas berayun-ayun di atas ombak, Raden Sagoro mengarahkan haluan perahunya ke pantai. Angin yang sepoi-sepoi mengantar perahu itu kembali ke tempatnya semula. Raden Sagoro kembali ke darat dengan selamat.
Ketika Raden Sagoro berjalan hendak pulang, tiba-tiba ada enam orang mendekat ke arahnya. Ketika Raden Sagoro hendak bertanya, salah seorang di antara mereka lebih dahulu bertanya.
“Siapakah engkau, pemuda tampan?" tanya yang tertua di antara enam orang itu.
"Namaku Raden Sagoro," jawab Raden Sagoro singkat.
"Raden Sagoro, engkaulah yang kami cari-cari," kata orang itu.
"Siapa engkau? Dan dari mana asalmu?" tanya Raden Sagoro heran karena selama ini tidak seorang manusia pun yang datang ke tempat itu.
"Kami adalah utusan Prabu Gilingwesi. Saya adalah Perdana Menteri Kerajaan Medangkamulan. Kami datang kemari untuk menemui Tuan atas perintah Prabu Gilingwesi," kata Perdana Menteri menjelaskan maksud kedatangannya pada Raden Sagoro.
“Prabu Gilingwesi? Siapa Prabu Gilingwesi?" tanya Raden Sagoro lagi.
"Beliau adalah Raja Medangkamulan."
"Apa maksud kedatangan Perdana Menteri kemari? Apakah hanya karena diutus oleh Prabu Gilingwesi untuk menemui saya?"
"Ya, Raden, kami diutus Paduka Raja untuk meminta bantuan kepada Tuan. Kerajaan kami, Medangkamulan, saat ini sedang kewalahan menghadapi musuh dari negeri seberang. Atas petunjuk Yang Mahakuasa, hanya Raden Sagoro-lah yang dapat menumpas musuh kami itu," kata Perdana Menteri.
Raden Sagoro mengangguk tanda mengerti. Kemudian, ia berkata kepada Perdana Menteri itu, "Baiklah, saya bersedia membantu Prabu Gilingwesi menumpas musuh. Tunggulah di sini! Saya akan minta izin dahulu kepada ibuku."
"Terima kasih, Tuan. Kami akan menunggu Tuan di sini."
Raden Sagoro melangkah pergi menemui ibunya. Setibanya di rumah, ia memberitahukan kedatangan Perdana Menteri yang diutus oleh Raja Gilingwesi. Mereka akan meminta bantuan Raden Sagoro untuk menumpas musuh yang datang dari negeri seberang.
Putri Tunjung Sekar terkejut mendengar nama ayahnya disebut oleh putranya. Akan tetapi, ia cepat-cepat menyembunyikan perasaan itu. Lalu, ia balik bertanya pada putranya, "Kata utusan itu, bagaimana keadaan Prabu Gilingwesi dan kerajaannya sekarang?"
"Katanya, Kerajaan Medangkamulan sedang gawat. Pasukan tentara kerajaan tidak dapat menahan serangan musuh. Prabu Gilingwesi baik-baik saja, dialah yang memerintahkan utusan itu mencari saya."
Putri Tunjung Sekar terdiam sesaat. Pikirannya menerawang ke masa silam.
"Bagaimana, Bu? Mereka sekarang menunggu saya di tepi pantai," tanya Raden Sagoro kepada ibunya.
Putri Tunjung Sekar merasa keberatan putranya pergi membantu peperangan ke Medangkamulan. Bukan karena dendam kepada ayahnya, tetapi Raden Sagoro—meskipun sakti dan cekatan—umur dan pengalamannya belum memadai. Ia masih terlalu belia untuk terjun ke medan perang. Putri Tunjung Sekar sangat khawatir akan keselamatan putranya.
Melihat ibunya terdiam, Raden Sagoro kembali bertanya pada ibunya, "Bolehkah aku pergi, Bu?"
"Ibu belum bisa mengizinkan engkau pergi."
"Kalau demikian, saya akan menyampaikan hal ini kepada utusan itu," kata Raden Sagoro sambil ke luar.
Raden Sagoro tanpa berpikir panjang lagi langsung menemui para utusan dari Kerajaan Medangkamulan yang sedang menunggunya. Rombongan dari Kerajaan Medangkamulan sedang menunggu kedatangan Raden Sagoro di bawah sebatang pohon besar. Mereka menanti dengan harap-harap cemas. Perdana Menteri dan lima orang penggawa kerajaan agak ragu, apakah Raden Sagoro diizinkan oleh ibunya.
"Jangan-jangan Raden Sagoro tidak diizinkan ibunya, ya?" kata Perdana Menteri pada salah seorang penggawa. Salah seorang penggawa membenarkan pendapat itu, katanya,"Hamba juga agak ragu. Tampaknya, Raden Sagoro itu masih sangat muda dan kurang pengalaman."
"Ya, benar. Pasti ibunya khawatir kalau anaknya ikut berperang," kata yang lain menimpali.
"Mudah-mudahan saja ibunya mau mengerti. Nah, lihatlah! Itu Raden Sagoro menuju kemari," kata Perdana Menteri.
Raden Sagoro dengan tergesa-gesa menghampiri Perdana Menteri seraya berkata, "Maafkanlah, Perdana Menteri. Saya tidak diizinkan pergi dengan Paman ke Medangkamulan," kata Raden Sagoro dengan sopan.
Dengan nada menyesal Perdana Menteri menjawab, "Akan tetapi negeri kami dalam bahaya. Raden harus datang ke negeri kami untuk membantu kami dalam peperangan. Kalau kami pulang ke Medangkamulan tanpa bersama Raden, kami akan mendapat murka dari Baginda Prabu."
"Bukannya tidak mau membantu rakyat Medangkamulan, saya tidak berani melanggar keputusan ibu saya. Jadi, maafkanlah," kata Raden Sagoro dengan suara agak tinggi karena utusan itu tidak menghormati ibunya.
"Bagaimanapun, Tuan harus ikut dengan kami," kata Perdana Menteri memaksa sambil menarik tangan Raden Sagoro.
Raden Sagoro pun melepaskan pegangan itu. Tiga orang pengiring Perdana Menteri dengan serentak menangkap tubuh Raden Sagoro. Raden Sagoro berhasil didekap. Raden Sagoro marah. Ia lalu meronta dan menggerakkan tubuhnya ke depan. Tiga orang pengiring Perdana Menteri yang mendekapnya terpelanting jatuh. Mereka terkapar di tanah sambil menahan rasa sakit.
Perdana Menteri memberi isyarat kepada dua orang pengiringnya yang sedang berjaga-jaga untuk mendekap kembali Raden Sagoro. Dan, Perdana Menteri Medangkamulan dan dua orang pengiringnya maju lagi untuk menangkap Raden Sagoro. Akan tetapi, Raden Sagoro tidak mudah ditaklukkan. Akhirnya, mereka pun bertarung. Perdana Menteri dan pengiringnya berusaha menangkap Raden Sagoro, sedangkan Raden Sagoro berusaha mengelak. Pertarungan itu semakin lama semakin seru.
Kera-kera anak buah Raden Sagoro menyaksikan peristiwa itu dari atas pohon. Kera-kera itu berteriak-teriak seperti memberi semangat kepada Raden Sagoro yang sedang bertarung mengelakkan sergapan lawan-lawannya.
Sementara itu, Putri Tunjung Sekar agak khawatir pada putranya. Raden Sagoro sejak tadi belum juga kembali. Ia pun keluar mencari Raden Sagoro. Dari jauh samar-samar terdengar suara kera-kera Raden Sagoro tengah berteriak-teriak. Putri Tunjung Sekar semakin cemas.
"Ada apa gerangan? Mengapa kera-kera itu demikian ribut?" Hati Putri Tunjung Sekar bertanya-tanya.
Putri Tunjung Sekar berlari ke arah suara kera-kera itu. Alangkah terkejut Putri Tunjung Sekar begitu melihat putranya sedang bertarung menghadapi enam orang sekaligus. Ia sangat khawatir, ia pun menginjakkan kakinya ke bumi tiga kali. Seketika itu juga, Kiai Poleng sudah berdiri tegak di hadapannya.
"Terima kasih, Kiai, engkau sudah datang. Tolonglah, Kiai! Anakku dalam bahaya," ujar Tunjung Sekar.
"Tenanglah, Putri! Mereka tidak akan dapat mengalahkan putramu," kata Kiai Poleng seraya mendekati arena pertarungan itu.
"Berhenti!" teriak Kiai Poleng.
Teriakan Kiai Poleng itu seperti mempunyai kekuatan gaib. Seketika itu juga, pertarungan jadi terhenti. Baik Raden Sagoro maupun Perdana Menteri dan para pengiringnya berdiri menghadap Kiai Poleng.
Kiai Poleng bertanya, apa penyebab yang menimbulkan perkelahian itu.
"Coba jelaskan, mengapa terjadi seperti ini?"
Raden Sagoro yang telah mengenal Kiai Poleng menjelaskan secara jujur pada Kiai Poleng, "Saya menolak ajakan mereka ke Kerajaan Medangkamulan untuk berperang karena ibu tidak mengizinkan. Akan tetapi, mereka tidak mau menerima itu. Saya malah diserang."
Kiai Poleng percaya dengan perkataan Raden Sagoro, tetapi ia tetap saja menanyakan hal itu kepada Perdana Menteri, "Hai, Kisanak! Tuan-tuan datang kemari membawa keributan, benarkah semua yang dikatakan oleh Raden Sagoro?"
Utusan dari Medangkamulan membenarkan semua perkataan Raden Sagoro.
"Maafkanlah, Kiai! Kami berbuat seperti itu pada Raden Sagoro karena kami khawatir kepada negeri Medangkamulan yang sedang terancam musuh."
"Jadi, Kerajaan Medangkamulan sekarang sedang terancam?" tanya Kiai Poleng kepada Perdana Menteri.
"Benar, Kiai!" jawab Perdana Menteri.
Para utusan dari Medangkamulan itu sudah tidak kenal lagi kepada Kiai Poleng yang sebenarnya Patih Pranggulang, Patih Kerajaan Medangkamulan yang gagah berani. Jenggot dan pakaian lurik yang dipakai Kiai Poleng tidak mengingatkan mereka pada Patih Pranggulang yang dulu pernah berjasa di Kerajaan Medangkamulan.
"Kalau demikian keadaannya, engkau sebaiknya datang ke Medangkamulan untuk membantu mereka, Cucuku!" kata Kiai Poleng kepada Raden Sagoro.
"Akan tetapi, ibu melarang saya pergi, Embah!" jawab Raden Sagoro.
"Aku sudah tahu hal itu. Tunggulah di sini! Aku akan bermusyawarah dengan ibumu," ujar Kiai Poleng seraya pergi menemui Putri Tunjung Sekar.
"Izinkanlah Raden Sagoro berangkat ke Medangkamulan!" kata Kiai Poleng kepada Putri Tunjung Sekar.
"Putraku teramat muda untuk menghadapi peperangan besar, Kiai," jawab Tunjung Sekar memberikan alasan.
"Jangan khawatir! Meskipun masih muda, Raden Sagoro bukanlah kesatria sembarangan. Ia mempunyai kekuatan luar biasa. Yakinlah, putramu akan mendapat pertolongan dari Yang Mahakuasa. Apalagi yang dibantu adalah Prabu Gilingwesi, masih kakek Raden Sagoro."
“Saya percaya pada ketangkasan dan kehebatan putraku. Akan tetapi, bagaimanapun, ia belum berpengalaman.” Putri Tunjung Sekar masih bertahan.
"Justru, saat inilah, waktu yang tepat bagi putramu untuk mencari pengalaman. Pertarungan dengan dua ekor naga raksasa dulu sudah cukup sebagai pengalaman awal. Izinkanlah! Ia akan berbakti kepada kakeknya."
Mendengar ucapan Kiai Poleng, berdiri bulu roma Tunjung Sekar. Ia sadar bahwa kepergian Raden Sagoro ke medan perang untuk membela ayahnya sendiri.
Kiai Poleng tampaknya mengerti dengan perasaan Putri Tunjung Sekar yang masih diam. Ia menyangka Putri Tunjung Sekar dendam pada ayahnya.
"Meskipun Prabu Gilingwesi pernah menghukummu, sebagai seorang anak yang baik, Tuan Putri harus tetap berbakti kepada beliau," kata Kiai Poleng. "Tuanku tidak boleh dendam kepada ayah Tuan sendiri!"
Putri Tunjung Sekar tidak menjawab lagi. Ia cepat-cepat berlari menuju Raden Sagoro.
"Berangkatlah, Anakku!" ujar Tunjung Sekar dengan air mata mengalir ke pipinya. "Usirlah musuh yang hendak merusak Kerajaan Medangkamulan!"
"Baiklah, Ibu. Kalau Ibu mengizinkan, saya akan berangkat sekarang. Ibu, nasib manusia ada di tangan Tuhan," kata Raden Sagoro kepada ibunya. "Kalau saya ditakdirkan Tuhan tewas di medan perang, Ibu hendaknya rela dan ikhlas agar arwahku tenang menuju alam baka.”
"Aku ikhlas, Anakku, karena engkau berjuang membela tanah air," jawab Putri Tunjung Sekar sambil memeluk putranya.
Raden Sagoro lalu mengambil tombak Si Nanggolo, sedangkan tombak Si Alugoro ditinggal di rumah sesuai dengan petunjuk Kiai Poleng. Setelah mendapat restu dan doa dari ibunya, Raden Sagoro berangkat bersama rombongan utusan Kerajaan Medangkamulan. Mereka berlayar naik perahu hasil karya Raden Sagoro menuju Kerajaan Medangkamulan.
Sementara itu, musuh yang datang menyerang Kerajaan Medangkamulan kini semakin ganas. Mereka menyerang rakyat yang tinggal di desa-desa. Rakyat di desa-desa itu melarikan diri ke atas laut pasir di atas pegunungan Tengger. Musuh tidak berani mengejar ke tengah laut pasir itu karena udara di situ sangat dingin. Bagi rakyat Medangkamulan udara dingin seperti itu adalah hal yang biasa.
Prabu Gilingwesi sangat mengharap kedatangan kesatria muda yang ditunjukkan orang tua dalam mimpinya. Telah lima hari menunggu, tetapi yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.
Betapa gembira Prabu Gilingwesi setelah Raden Sagoro akhirnya datang. Raden Sagoro datang menghadap Sang Prabu dengan penuh sopan santun. Dipandanginya wajah Raden Sagoro yang bersih dan berseri. Sang Prabu sama sekali tidak mengetahui bahwa wajah yang sedang diperhatikannya itu adalah cucunya sendiri.
"Kedatanganmu kemari sungguh membesarkan hatiku," kata Prabu Gilingwesi. "Semoga engkau berhasil mengalahkan musuhku."
"Doa Tuanku sungguh saya harapkan," ujar Raden Sagoro. "Dan, sekarang izinkanlah saya berangkat ke medan perang.”
"Baiklah dan berangkatlah," kata Prabu Gilingwesi sambil mengusap ubun-ubun Raden Sagoro.
Raden Sagoro pun berangkat ke medan perang. Ia dengan gagah melangkah sambil tangan kirinya memegang tombak Si Nanggolo. Ia juga diiringi oleh prajurit-prajurit Medangkamulan.
Pada saat itu, musuh yang datang dari negeri seberang sedang mengadakan pesta besar-besaran atas kemenangan mereka. Sapi-sapi milik rakyat Medangkamulan yang sedang mengungsi disembelih untuk pesta.
Para prajurit musuh itu ada yang mabuk-mabukan, ada juga yang menari-nari. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa kini Kerajaan Medangkamulan memiliki seorang kesatria muda, gagah perkasa, Raden Sagoro. Ketika mereka sedang asyik bergembira berpesta pora, Raden Sagoro datang beserta para prajurit kerajaan.
Raden Sagoro tidak langsung menyerang. Ia dan para pengiringnya berdiri di sebuah ladang di dekat tempat pesta pora itu. Raden Sagoro mengutus salah seorang pengiringnya untuk menyampaikan tantangan kepada panglima tentara musuh.
"Pergilah ke sana! Katakan kepada panglima perang mereka bahwa aku datang menantang negeri seberang," kata Raden Sagoro kepada seorang prajurit.
"Siap!" kata prajurit itu.
Setelah utusan Raden Sagoro menyampaikan tantangan perang, tentara musuh yang sedang berpesta pora kalang kabut seketika. Tentara negeri seberang itu sibuk ke sana kemari untuk mencari senjatanya masing-masing.
Beberapa saat kemudian, kedua kelompok tentara itu sudah siap untuk berlaga. Tentara seberang menyerang lebih dahulu. Tentara Medangkamulan menahan serangan itu sambil sekali-kali membalas serangan. Raden Sagoro waktu itu belum menggunakan tombaknya. Pertarungan sangat seru. Banyak prajurit dari kedua belah pihak yang tewas.
Menyaksikan para prajuritnya cukup banyak yang tewas, Raden Sagoro segera mempergunakan tombak Si Nanggolo. Ia maju tanpa sedikit pun merasa gentar. Demikian pula, tentara seberang maju ke gelanggang untuk melawan Raden Sagoro. Dengan geram, panglima perang tentara seberang menyerang Raden Sagoro. Panglima perang itu mengayunkan pedangnya. Raden Sagoro dengan gesit mengelak ke kiri dan ke kanan. Saat itulah, ia mengangkat tombaknya. Ia memutar-mutarkan tombaknya sehingga panglima tentara musuh itu terjungkal ke belakang.
"Hah?" panglima perang musuh terkejut melihat tombak Raden Sagoro. "Tombak apakah itu? Kena desiran anginnya saja, aku terpental ke belakang!" katanya dalam hati.
Raden Sagoro mengetahui bahwa panglima perang terkejut melihat tombaknya, tetapi, ia tidak menghiraukannya. Ia terus saja memutar-mutarkan tombaknya.
Perang terus berlanjut. Prajurit Medangkamulan yang jumlahnya sedikit makin tidak tampak. Mereka tak bisa berbuat banyak menghadapi musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak dan persenjataannya jauh lebih lengkap.
Raden Sagoro hilang kesabarannya melihat prajurit di pihaknya banyak yang berguguran. Dengan kemarahan yang meluap-luap, ia mengamuk dengan menggunakan tombak Si Nanggolo.
Setiap kali tombak Si Nanggolo digerakkan, api menyembur dari ujung tombak itu. Prajurit-prajurit tentara seberang roboh ke tanah menjadi mayat. Semangat Raden Sagoro semakin bulat untuk mengalahkan tentara seberang.
Tanpa diketahui Raden Sagoro dan prajuritnya, Kiai Poleng ikut juga bertempur. Akan tetapi, Kiai Poleng tidak kelihatan. Tentara musuh pun sudah tinggal sedikit dan tak kuasa mengadakan perlawanan. Panglima perang musuh sebenarnya ingin kabur, tetapi dapat diketahui oleh Raden Sagoro.
"Hei! Mau ke mana, pengecut?" bentak Raden Sagoro.
Panglima perang musuh tidak kalah galaknya dari Raden Sagoro. Ia menjawab bentakan itu dengan suara yang keras untuk menutupi ketakutannya.
"Jangan sombong dulu, anak muda! Aku tidak akan lari ke mana-mana. Ayo! Hadapi aku, panglima perang negeri seberang!" katanya sambil matanya tak lepas dari tombak Si Nanggolo yang siap merobek-robek dadanya.
"Aku sudah siap dari tadi!" seru Raden Sagoro.
Panglima perang negeri seberang maju untuk kedua kalinya. Raden Sagoro menyambutnya dengan ujung tombak Si Nanggolo.
"Hai, terimalah ujung tombakku," kata Raden Sagoro sambil menghunjamkan tombak itu. Tak ampun lagi, panglima perang negeri seberang itu terkena tombak di dadanya. Seketika itu juga, ia terkapar di tanah tidak bernyawa lagi.
Melihat panglima perang mereka roboh, para prajurit negeri seberang hilang nyalinya. Pertahanan mereka berantakan. Masing-masing hendak melarikan diri. Raden Sagoro sudah dapat membaca situasi.
"Jangan kabur, pengecut!" teriak Raden Sagoro sambil menyerang.
Tombak Si Nanggolo terus bergerak ke segala arah sehingga sisa-sisa tentara musuh mati semua. Tidak ada seorang pun yang dapat melarikan diri dan luput dari tombak Si Nanggolo.
Raden Sagoro menyeru menyebut nama Tuhan tiga kali sambil bersujud di bumi pertiwi, 'Tuhan Mahabesar! Tuhan Mahabesar! Tuhan Mahabesar!"
Perbuatan Raden Sagoro itu pun diikuti pula oleh prajurit Medangkamulan yang masih hidup. Raden Sagoro berkata kepada prajuritnya, "Musuh sudah kita tumpas. Sekarang, kita kembali ke keraton.”
"Ya, Raden. Semua ini berkat bantuan Raden Sagoro. Selama ini, kami sudah berkali-kali menghadapi musuh, tetapi selalu gagal," kata seorang prajurit.
"Ya, tombak Si Nanggolo-lah yang berjasa kepada kita semua. Tuhan sudah mengirimkan tombak ini kepada saya."
"Tombak ini sangat kuat dan runcing," kata prajurit itu lagi.
Setelah itu, Raden Sagoro dengan sisa prajurit Medangkamulan yang masih hidup kembali ke keraton untuk melaporkan kemenangan mereka kepada Prabu Gilingwesi. Dalam perjalanan pulang, prajurit Medangkamulan tak henti-hentinya mengagumi tombak Si Nanggolo.
Prabu Gilingwesi sangat gembira setelah mendengar bahwa tentara musuh tewas semua tanpa sisa.
"Selamat atas kemenanganmu!" ujar Prabu Gilingwesi kepada Raden Sagoro.
"Terima kasih, Paduka," jawab Raden Sagoro singkat.
"Engkau telah berhasil mengembalikan kekuasaanku yang nyaris jatuh ke tangan musuh. Aku dan rakyatku sangat berterima kasih kepadamu."
"Ya, Paduka. Semua sudah menjadi kewajibanku menolong yang sedang kesusahan," kata Raden Sagoro.
Prabu Gilingwesi kagum pada sikap kerendahan hati pemuda itu. Ia melanjutkan perkataannya, "Sebagai penghargaan atas jasa-jasamu pada Kerajaan Medangkamulan, engkau kuberi gelar Tumenggung Gemmet. Tumenggung yang telah menghabiskan musuh."
Raden Sagoro mengangguk-angguk tanda setuju. Prabu Gilingwesi juga memberi hadiah lain untuk Raden Sagoro. Dengan suara lembut Prabu Gilingwesi berucap kepada Raden Sagoro, "Tanda terima kasihku yang lain adalah aku berkehendak mengawinkan engkau dengan putriku yang bungsu."
Raden Sagoro terperangah mendengar perkataan Sang Prabu. Buru-buru, ia menjawab dengan tegas, "Saya berjuang membebaskan Medangkamulan dari ancaman musuh bukan mengharapkan tanda terima kasih dari Tuanku. Saya berperang mengusir musuh Paduka karena sebagai kesatria berkewajiban untuk menghapuskan penjajahan dan kezaliman di muka bumi ini."
"Aku sangat menghargai kemuliaan hatimu, anak muda," kata Prabu Gilingwesi. "Aku yakin bahwa engkau membantu mengenyahkan musuhku yang datang dari negeri seberang itu semata-mata karena engkau berjiwa kesatria, yang senang membela kebenaran. Akan tetapi, tanda penghargaan atas jasa-jasamu, aku mohon jangan sampai kau tolak. Aku tetap mengharapkan agar engkau sudi menjadi menantuku."
"Saya tak bisa memutuskan, Paduka. Saya akan bermusyawarah dulu dengan orang tua saya," jawab Raden Sagoro penuh hormat.
"Aku menghormati keputusanmu, anak muda," kata Prabu Gilingwesi tidak memaksa lagi.
"Sekarang, saya mohon diri, Paduka," kata Raden Sagoro berpamit pada Prabu Gilingwesi.
"Baiklah! Setelah mendapatkan persetujuan dari orang tuamu, aku minta engkau segera kembali kemari!" kata Raja Gilingwesi dengan penuh harap.
Keesokan harinya, Raden Sagoro kembali ke Madura diiiringi oleh dua belas orang abdi keraton Medangkamulan. Dalam perjalanan, Raden Sagoro dielu-elukan oleh rakyat Medangkamulan. Semua orang yang melepas kepergiannya mengucapkan terima kasih. Mereka merasa berutang budi kepada pahlawan yang telah membebaskan negeri mereka dari ancaman musuh.
•••
LIMA
PUTRI TUNJUNG SEKAR DAN RADEN SAGORO RAIB
Putri Tunjung Sekar sangat gelisah. Siang malam, ia selalu memikirkan putranya yang pergi ke medan perang. Dalam hatinya, ia tak henti-hentinya berdoa. Semoga Raden Sagoro bisa mengalahkan musuh Kerajaan Medangkamulan dan cepat-cepat kembali dengan selamat.
Ketika hati Putri Tunjung Sekar sedang dalam gundah itu, ia mendengar suara kera ramai sekali. Ia mengerti bahwa putranya sudah datang. Mudah diduga, suara kera yang ramai itu adalah suara kegembiraan menyambut kedatangan Raden Sagoro.
Putri Tunjung Sekar pun segera keluar. Benar saja, Raden Sagoro datang diiringkan para penggawa dari Kerajaan Medangkamulan.
Raden Sagoro bersimpuh di depan ibunya. Ia menunjukkan rasa hormat dan pengabdian yang setinggi-tingginya. Hal itu dilakukan karena wanita itulah yang telah melahirkan dan mendidiknya sehingga menjadi seorang kesatria yang gagah berani.
"lbu, ananda telah datang." Suara Raden Sagoro lirih seraya bersimpuh mencium tangan ibunya.
"Anakku, syukurlah, engkau telah kembali dengan selamat," kata ibunya.
"Ibu, saya datang dengan para penggawa kerajaan. Paduka Raja Gilingwesi yang menghendaki semua ini," kata Raden Sagoro menjelaskan.
"Ya, Ibu mengerti," kata ibunya. "Sekarang masuklah!”
Putri Tunjung Sekar membimbing putranya ke dalam dengan penuh rasa haru bercampur gembira. Para penggawa yang mengantar Raden Sagoro dari Medangkamulan dipersilakan duduk di serambi.
"Masuklah! Beristirahatlah di dalam," kata Putri Tunjung Sekar mempersilakan.
Para penggawa itu saling berbisik-bisik. Di antara mereka ada yang masih mengenali wajah Putri Tunjung Sekar. Akan tetapi, mereka belum ada yang berani menegur Sang Putri, takut salah menduga. Sementara itu, di dalam rumah, Putri Tunjung Sekar mendengarkan laporan putranya tentang pertempuran melawan musuh dari tanah seberang.
"Musuh sedang berpesta ketika saya datang," kata Raden Sagoro mengawali.
"Engkau tidak langsung menyerang, kan?" tanya ibunya.
"Tentu saja tidak, Bu! Masa saya menyerang orang yang sedang lengah. Itu bukan sikap seorang kesatria," kata Raden Sagoro menjelaskan.
"Syukurlah, lalu bagaimana kelanjutannya?"
"Melalui seorang utusan, saya menyampaikan tantangan kepada panglima perang musuh."
Senang hati Putri Tunjung Sekar mendengarkan cerita putranya. Ia juga ingin tahu bagaimana kelanjutan cerita Raden Sagoro.
"Setelah kau sampaikan tantangan itu, bagaimana sikap musuh?"
"Mereka kaget karena dugaan mereka keliru. Mereka berpesta pora karena mengira Medangkamulan sudah jatuh ke tangan mereka," kata Raden Sagoro. "Selanjutnya terjadi pertempuran."
"Pertempuran itu tentunya sangat seru," sela ibunya.
"Ya, Ibu. Mereka sangat kuat. Untunglah, saya membawa tombak pusaka itu. Tombak itulah yang berhasil menjatuhkan panglima perang tanah seberang."
Putri Tunjung Sekar pun gembira mendengar musuh yang kejam yang memorakporandakan tanah airnya dapat ditaklukkan oleh putranya.
Raden Sagoro tidak lupa menceritakan gelar yang diberikan oleh Prabu Gilingwesi kepadanya.
"Bu, Paduka Raja Gilingwesi sangat berterima kasih kepada saya. Dan, sebagai rasa terima kasih, beliau memberi gelar Tumenggung Gemmet kepada saya."
"Tumenggung Gemmet?"
"Ya, Bu. Katanya, gelar itu sesuai dengan perjuangan dan sepak terjang saya yang telah menghacurkan musuh."
"Engkau memang pantas mendapatkannya, Anakku," kata Putri Tunjung Sekar terharu.
Raden Sagoro pun menceritakan kepada ibunya perihal dirinya yang akan diambil sebagai menantu oleh Prabu Gilingwesi.
"Bu! Ada satu lagi tanda ucapan terima kasih dari Paduka. Hal ini perlu dimusyawarahkan dulu dengan Ibu," kata Raden Sagoro.
"Satu lagi? Mengapa harus dimusyawarahkan dengan Ibu? Mengenai apa?" tanya Putri Tunjung Sekar penasaran.
"Paduka Raja Gilingwesi meminta saya sebagai menantunya. Beliau akan menikahkan saya dengan Putri Medangkamulan yang bungsu."
Putri Tunjung Sekar seperti mendengar guntur yang menggelegar di dekat telinganya ketika Raden Sagoro mengatakan hal itu.
"Ini tidak boleh terjadi, tidak boleh! Masa keponakan menikah dengan bibinya?" Putri Tunjung Sekar meronta dalam hati.
Melihat perubahan air muka ibunya, Raden Sagoro juga merasa heran. Ia pun menghampiri ibunya seraya berkata, "Bu, mengapa, Bu? Ibu tidak apa-apa? Ibu tidak setuju saya menjadi menantu Paduka Gilingwesi?"
Raden Sagoro seperti memberondong ibunya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Ibu hanya terkejut, Anakku! Sudahlah, duduklah kembali!"
"Ibu belum menjawab pertanyaan saya," kata Raden Sagoro penasaran.
"Dengarkan baik-baik, Anakku! Sudah saatnya Ibu menceritakan semuanya kepadamu!" kata Putri Tunjung Sekar.
"Cerita, Bu? Cerita apa?" Raden Sagoro semakin penasaran.
"Cerita tentang masa lalu Ibu," kata Putri Tunjung Sekar. "Anakku, sebenarnya Prabu Gilingwesi itu adalah ayahku. Jadi, Raja Medangkamulan itu adalah kakekmu. Engkau telah berjasa menaklukkan musuh kakekmu sendiri."
Alangkah terkejutnya Raden Sagoro mendengar penjelasan ibunya. Ia tidak menyangka sama sekali karena Prabu Gilingwesi adalah kakeknya sendiri.
"Mengapa Ibu tidak memberitahukan hal ini ketika saya hendak berangkat ke Medangkamulan?" tanya Raden Sagoro.
"Aku lupa memberitahukannya kepadamu. Saat itu, keselamatanmu semata yang ada di pikiranku."
"Jadi, perihal permintaan Paduka yang meminta saya jadi menantunya—?" tanya Raden Sagoro tidak melanjutkan kata-katanya.
"Jangan, Anakku! Jangan engkau penuhi permintaan Paduka yang satu itu! Engkau tidak boleh menikah dengan bibimu!" cegah Putri Tunjung Sekar.
''Tentu saja tidak akan saya lakukan, Bu!" kata Raden Sagoro tegas.
"Ibu!" lanjut Raden Sagoro. "Saya ingin bertanya kepada Ibu, tetapi takut nanti Ibu marah.”
"Tanyakanlah, Anakku! Ibu tak akan marah. Ibu akan menceritakan semuanya."
"Aku hanya ingin tahu, siapakah ayahku?"
"Aku juga tidak tahu siapa ayahmu," jawab Putri Tunjung Sekar.
Raden Sagoro mengerutkan dahinya. Ia bertanya-tanya dalam hati. Putri Tunjung Sekar dapat membaca kebingungan yang menyelimuti benak putranya. Ia pun melanjutkan penjelasannya.
"Sebelum aku mengandungmu, aku bermimpi melihat bulan yang datang ke hadapanku. Lalu, ia berubah menjadi sebuah mangga. Mangga itu kumakan. Setelah itu, aku mengandung.”
"Jadi, saya ini putra lbu dengan siapa?"
"Aku juga tidak tahu, Anakku. Soal ini memang sulit diterima dengan akal. Akan tetapi, begitulah ceritanya. Ibu benar-benar tidak mengarang-ngarang cerita. Barangkali, ayahmu itu sebangsa makhluk gaib yang menjelma menjadi bulan dan berubah menjadi mangga supaya dapat Ibu makan. ibu kan tidak mungkin makan bulan," kata Putri Tunjung Sekar.
"Saya paham, Bu!"
"Syukurlah, Nak! Engkau adalah orang kedua yang dapat menerima ceritaku setelah Kiai Poleng. Kakekmu tidak bisa menerima penjelasanku sehingga aku mendapatkan hukuman," kata Putri Tunjung Sekar sambil berlinang air mata.
"Sudahlah, Ibu!" kata Raden Sagoro memeluk ibunya. Sementara itu, para penggawa Kerajaan Medangkamulan yang sejak tadi mendengarkan percakapan Raden Sagoro dan Putri Tunjung Sekar, semua diam terpana.
"Benar dugaanku! Ibu Raden Sagoro itu Putri Tunjung Sekar, putri Kerajaan Medangkamulan yang dulu mendapatkan hukuman," kata seorang penggawa.
"Tidak kusangka, ternyata Putri Tunjung Sekar masih hidup!" kata yang lain.
"Sekarang, bagaimana langkah kita?" tanya seorang penggawa kepada pemimpinnya.
"Kita boyong dua-duanya ke keraton!"
"Ayo, kawan-kawan! Kita bersimpuh ke hadapan putra mahkota Kerajaan Medangkamulan, Raden Sagoro dan Putri Tunjung Sekar!" perintah pemimpin penggawa pada teman-temannya.
Saat akan menemui mereka dan akan melakukan sembah, mereka sangat terkejut karena Raden Sagoro dan Tunjung Sekar sudah tidak ada di tempat. Keduanya menghilang entah ke mana.
Rupanya, setelah menjelaskan peristiwa masa lalunya kepada Raden Sagoro, Putri Tunjung Sekar dan Raden Sagoro raib dari pandangan mata. Mereka menghilang entah ke mana. Keduanya raib tanpa meninggalkan jejak. Demikian pula, gubuk dan perahu milik Raden Sagoro ikut pula raib.
Para penggawa pun kembali ke Kerajaan Medangkamulan. Mereka melaporkan tentang kejadian itu kepada Prabu Gilingwesi. Sang Prabu begitu terkejut mendengar penuturan para penggawanya. Sang Prabu terdiam terkesima. Penyesalan pun tak terkira berkecamuk dalam hatinya.




Komentar
Posting Komentar