RADEN JAKA PEKIK DARI GERBANG TINATAR


KATA PENGANTAR




Usaha pelestarian sastra daerah perlu dilakukan karena di dalam sastra daerah terkandung warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang sangat tinggi nilainya. Upaya pelestarian itu bukan hanya akan memperluas wawasan kita terhadap sastra dan budaya masyarakat daerah yang bersangkutan, melainkan juga pada gilirannya akan memperkaya khazanah sastra dan budaya masyarakat Indonesia. Dengan demikian, upaya pelestarian yang dilakukan itu dapat dipandang sebagai dialog antarbudaya dan antardaerah yang memungkinkan sastra daerah berfungsi sebagai salah satu alat bantu dalam usaha mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan.

Sehubungan dengan hal itu, Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional menerbitkan buku sastra anak-anak yang bersumber pada sastra daerah. Cerita rakyat yang dapat membangkitkan kreativitas atau yang mengandung nilai luhur dan jiwa serta semangat kepahlawanan perlu dibaca dan diketahui secara meluas oleh generasi muda, terutama anak-anak, agar mereka dapat menjadikannya sebagai sesuatu yang patut dibaca, dihayati, dan diteladani.

Buku Raden Jaka Pekik dari Gerbang Tinatar ini bersumber pada terbitan Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Tahun 1980 dengan judul Raden Jaka Pekik yang disusun kembali dalam bahasa Indonesia oleh Djamari.

Kepada Drs. Utjen Djusen Ranabrata, M.Hum. (Pemimpin Bagian Proyek), Budiono Isas, S.Pd. (Sekretaris Bagian Proyek), Hartatik (Bendahara Bagian Proyek), serta Sunarto Rudy, Budiyono, Rahmanto, dan Ahmad Lesteluhu (Staf Bagian Proyek), saya ucapkan terima kasih atas usaha dan jerih payah mereka dalam menyiapkan naskah buku ini. Ucapan terima kasih saya tujukan juga kepada Drs. Utjen Djusen Ranabrata, M.Hum. sebagai penyunting dan Sdr. Mansyur Daman sebagai pewajah kulit dan ilustrator buku ini.

Mudah-mudahan buku ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pembaca.


Kepala Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa




Dr. Hasan Alwi

•••










UCAPAN TERIMA KASIH




Raden Jaka Pekik dari Gerbang Tinatar merupakan kisah seorang putra raja yang berwajah tampan, tetapi tersebab sumpah ayahnya, berubah menjadi seperti biawak. Dalam cerita ini, antara lain, dilukiskan pengembaraan putra raja itu sampai wajahnya kembali seperti semula dan menjadi raja. Cerita ini bersumber dari buku Raden Jaka Pekik pengalih aksara dan pengalih bahasa oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto yang diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah tahun 1980.

Penulisan cerita ini bertujuan untuk menumbuhkan minat baca di kalangan anak-anak, khususnya anak-anak di tingkat sekolah dasar.

Penulisan cerita anak ini tidak dapat selesai tanpa dukungan dari beberapa pihak. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada Dr. Hasan Alwi, Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Drs. Utjen Djusen Ranabrata, M.Hum., Pemimpin Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta beserta staf yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyusun kembali cerita ini.


Penyusun

•••










1.
RADEN JAKA PEKIK JADI MENYAWAK




Pagi itu langit cerah. Burung-burung menyambutnya dengan gembira. Dari puri Kerajaan Madenda tampak sepasang murai bertengger di dahan angsana. Yang jantan berkicau sambil mengepakkan sayapnya. Yang betina menari-nari. Manja. Kemudian, kedua burung itu terbang kembali ke sarangnya. Kedua anaknya yang masih kecil dibelainya dengan mesra. Murai jantan lalu terbang lagi meninggalkan yang betina. Dia hendak mencari makan untuk kedua anaknya. Murai betina dengan setia menjaga kedua anaknya di sarang itu. Prabu Semaya tercengang melihatnya. Berulang kali Baginda berdecak menyatakan kekagumannya. Burung itu sangat mengasihi kedua anaknya.

Perilaku murai itu menggugah pikiran Prabu Semaya. Baginda sadar bahwa dirinya sudah tua. Dia merasa sudah tidak sekuat murai jantan itu. Dia mampu terbang ke sana kemari mencari makan buat anaknya. Baginda merasa sudah tak mampu lagi memimpin Kerajaan Madenda. Baginda diam sambil merenungi apa yang telah dilakukan selama menjadi raja. Pembangunan dalam berbagai bidang telah dilakukan. Gedung-gedung pemerintahan berdiri megah. Tempat peribadatan dan berbagai perguruan dibangun di mana-mana. Bendungan pengairan lengkap dengan saluran airnya dibangun pula. Pengairan lahan persawahan dan perkebunan sangat merata sehingga hasil pertanian dan perkebunan melimpah-ruah. Kesuburan alamnya menjadikan Madenda sebagai negeri penghasil padi dan palawija yang terkenal. Keadaan itu membuat Prabu Semaya dan seluruh rakyatnya hidup tenteram dan sejahtera.

Prabu Semaya dan permaisurinya sangat menyayangi kedua anaknya, Raden Jaka Pekik dan Dewi Rara Ujum. Kedua anak itu menjadi tumpuan harapan mereka. Raden Jaka Pekik mendapat perhatian sangat besar. Dialah yang kelak diharapkan dapat menggantikan kedudukan Baginda sebagai raja Madenda.

Sebagai putra mahkota, Raden Jaka Pekik mendapat pendidikan yang baik. Beberapa guru dari berbagai penjuru didatangkan. Mereka mengajarkan ilmu pemerintahan, ilmu perbintangan, ilmu silat, ilmu sastra, dan pendidikan budi pekerti kepada Raden Jaka Pekik. Dalam waktu singkat Raden Jaka Pekik mampu menyerap ilmu yang diajarkan oleh para gurunya.

Raden Jaka Pekik kini telah menjadi pemuda yang gagah dan tampan. Tidak sedikit gadis yang mendambakan Raden Jaka Pekik menjadi kekasihnya. Demikian pula Dewi Rara Ujum, dia telah menjadi remaja putri yang cantik jelita. Banyak pemuda putra bangsawan yang tertarik akan kecantikannya. Para pemuda itu sering mencuri-curi pandang hanya sekadar ingin melihat kecantikannya. Dewi Rara Ujum sangat mengasihi Raden Jaka Pekik. Sebaliknya, Raden Jaka Pekik juga sangat mengasihi Dewi Rara Ujum. Ke mana Dewi Rara Ujum pergi, Raden Jaka Pekik selalu menjaganya. Prabu Semaya sangat bangga melihat kedua anaknya yang telah tumbuh menjadi remaja.

Prabu Semaya berpikir bahwa dalam pertemuan nanti akan dibahas masalah penobatan Raden Jaka Pekik menjadi raja. Sebagai putra mahkota, dia sudah pantas menerima anugerah itu. Di samping sudah memiliki kepandaian yang cukup, dia sudah dewasa. Lebih-lebih jika teringat usia semakin lanjut, Prabu Semaya berpikir penobatan itu perlu segera dilaksanakan. Prabu Semaya meninggalkan puri kerajaan lalu menghampiri permaisurinya. Maksud itu disampaikan kepadanya. Permaisurinya setuju dengan rencana Baginda.

Di balairung para prajurit sibuk dengan masing-masing tugasnya. Sejak pagi mereka berjaga di setiap pintu gerbang istana. Setiap yang masuk satu per satu diperiksanya dengan saksama. Para mantri, bupati, demang, lurah para tamtama, dan undangan telah berdatangan memadati balairung memenuhi undangan Baginda.

Prabu Semaya memasuki balairung diiringkan oleh permaisuri dan pengawal kerajaan. Semua yang hadir memberi hormat. Prabu Semaya langsung duduk di singgasana. Permaisuri duduk di samping kirinya. Raden Jaka Pekik tampak hadir dan duduk bersimpuh di sebelah kanan ayahandanya. Mahapatih Kerajaan Madenda duduk berhadapan dengan Baginda. Para pejabat yang lain mengambil tempat sesuai dengan derajat kepangkatannya.

"Yang Mulia, semua penggawa siap melaksanakan titah Paduka," kata Mahapatih mengawali pembicaraannya. Suasana di balairung pun menjadi hening seketika.

"Mahapatih dan hadirin, ada masalah penting yang perlu kusampaikan dalam pertemuan ini. Seperti kalian ketahui, aku ini sudah tua. Rasanya, aku tak mampu lagi mengendalikan roda pemerintahan. Oleh karena itu, aku bermaksud mengangkat putraku, Raden Jaka Pekik sebagai Raja Madenda. Dengan pertimbangan, saat ini Pekik sudah dewasa. Dia sudah mampu menggantikan kedudukanku sebagai raja di negeri ini. Untuk melengkapi penobatan itu, Pekik harus memilih seorang gadis sebagai pendampingnya. Meskipun demikian, aku ingin mendengar pendapat kalian."

"Ampun, Yang Mulia. Rasanya tak satu pun abdi Paduka yang tak sependapat. Kapan rencana penobatan Raden Jaka Pekik, kami siap melaksanakan titah Paduka," kata Mahapatih seraya memberi hormat.

"Mahapatih, aku gembira jika kalian semua sependapat. Mengenai pelaksanaannya, aku rencanakan bulan depan. Sekarang, suruh Jaka Pekik ke hadapanku."

"Raden Jaka Pekik, Yang Mulia meminta Raden mengambil tempat duduk di hadapan Baginda," kata Mahapatih ramah.

"Terima kasih, Paman," kata Raden Jaka Pekik sambil berpindah tempat duduk ke hadapan Baginda.

"Ananda Jaka Pekik, dengarkan baik-baik! Mengingat usia Ayahanda ini sudah tua, Ananda akan kuserahi takhta Kerajaan Madenda. Untuk itu, pilihlah seorang gadis sebagai pendamping Ananda. Sekarang aku minta kesediaan Ananda," pinta Prabu Semaya dengan tulus.

"Ayahanda, Ananda mengucapkan terima kasih atas anugerah yang Paduka berikan. Ampun beribu ampun, Ananda tidak bermaksud mengecewakan Paduka. Ananda belum siap menerima anugerah ini. Ananda merasa belum mampu menjalankan roda pemerintahan. Ananda khawatir kalau negeri ini hancur hanya karena kedunguan Ananda. Padahal, Paduka telah bertahun-tahun membinanya. Mengenai pendamping, sampai saat ini Ananda belum mempunyai pilihan," kata Raden Jaka Pekik sambil bersujud di hadapan Baginda.

"Pekik, ini sudah menjadi keputusanku. Semua penggawa kerajaan sudah setuju. Ada pepatah sabda pandita ratu, pantang seorang raja membatalkan keputusannya. Mahapatih, bagaimana pendapatmu?"

"Yang Mulia, izinkan hamba berbicara dengan putra Paduka."

"Mahapatih, nasihati dia agar tahu tata krama."

"Raden Jaka Pekik, anugerah ini diberikan oleh Paduka dengan pertimbangan yang bijaksana. Segala kemungkinan sudah dipikirkan masak-masak, Raden. Terimalah anugerah itu. Soal memimpin negeri dapat dipelajari. Apalagi soal gadis pendamping, tentu buat Raden tidak ada masalah, bukan?" bujuk Mahapatih.

"Raden, pemberian anugerah itu tentu dilandasi dengan kasih sayang yang tulus. Terimalah, Raden! Menerima anugerah itu berarti Raden telah membalas budi Yang Mulia. Tidak baik Raden menolak anugerah itu," sahut yang lain pula.

"Ampun beribu ampun, Paman. Saya benar-benar belum siap menerima anugerah itu."

Mendengar jawaban Raden Jaka Pekik, Prabu Semaya beranjak dari singgasananya. Dia berjalan ke arah Raden Jaka Pekik. Semula dia bermaksud hendak menamparnya. Wajahnya merah padam menahan amarah. Akan tetapi, tiba-tiba Baginda sadar. Tindakan itu tak pantas dilakukan oleh seorang pemimpin besar, apalagi di hadapan orang banyak. Prabu Semaya mengurungkan niatnya. Ia berjalan ke arah singgasana, kemudian duduk kembali. Matanya tak berkedip menatap wajah putranya. Semua yang hadir di balairung sangat cemas. Mereka tak tahu apa yang hendak diperbuat. Tak seorang pun berani berbicara.

Raden Jaka Pekik bersujud. Dia bermaksud hendak meminta maaf kepada ayahandanya. Akan tetapi, Prabu Semaya justru salah paham. Pikirannya semakin dikuasai oleh hawa nafsunya. Kemarahannya pun semakin menjadi-jadi.

"Pekik, kau memang anak tak tahu berbalas budi. Kau mau apa? Kau menolak keinginanku berarti kau menantangku, mengerti? Kecil dibesarkan, setelah besar kau berani memalukan orang tua. Dasar, kau tak berperasaan seperti hewan. Pergi! Aku muak melihatmu!”

Prabu Semaya tak memikirkan akibat dari perkataannya. Baginda khilaf bahwa dia adalah seorang raja yang sakti mandraguna. Akibatnya, Raden Jaka Pekik seketika itu juga berubah menjadi menyawak (biawak). Dia bergegas lari meninggalkan balairung. Tak seorang pun yang hadir di ruangan itu melihat ke mana Raden Jaka Pekik pergi. Mereka tetap menundukkan kepala. Pikiran mereka masih diliputi oleh perasaan takut kepada Baginda.

"Mengapa kalian diam saja? Bubar!" teriak Prabu Semaya sambil meninggalkan ruangan.

Suasana di balairung itu menjadi ingar-bingar. Mahapatih, para menteri, hulubalang, serta para lurah tamtama segera meninggalkan ruangan itu. Mereka menjadi saksi kepedihan hati Raden Jaka Pekik. Dia pergi entah ke mana.

•••










2.
DEWI RARA UJUM MENYUSUL JAKA MENYAWAK




Raden Jaka Pekik pergi ke rumah Ki Mangkupraja. Meskipun telah menjadi Jaka Menyawak, pamannya masih mengenalinya. Itulah sebabnya, ketika ia datang disambutnya dengan perasaan iba.

Jaka Menyawak menemui Ki Mangkupraja

"Paman, tolong saya, Paman!" kata Jaka Menyawak sambil bersimbah air mata.

"Pekik, bersabarlah, Nak! Menurut paman, sebaiknya Ananda segera pergi. Tinggalkan negeri ini. Pamanda tidak rela melihat Ananda jadi tontonan orang banyak."

"Menurut Paman, saya harus pergi ke mana?"

"Pergilah ke Andongmanis. Temui Eyang Guru Ki Ajar Mustakim. Mintalah petunjuk kepada beliau!"

"Baik, Paman. Ananda mohon doa restu."

"Hati-hatilah! Doa restu paman menyertai Ananda."

Tak lama kemudian, Jaka Menyawak lenyap dari pandangan Ki Mangkupraja. Dia berjalan sangat cepat. Maksudnya, agar ia segera sampai di Andongmanis. Sebenarnya, para penggawa kerajaan ingin tahu kepergian Jaka Menyawak. Akan tetapi, mereka telah kehilangan jejak. Tak satu pun di antara mereka yang tahu ke mana Jaka Menyawak pergi. Peristiwa itu menjadi bahan pembicaraan seluruh rakyat Madenda.

Dewi Rara Ujum sangat terpukul setelah tahu penyebab peristiwa itu ayahandanya. Dia tidak dapat berpisah dengan kakandanya. Itulah sebabnya, dia bertekad akan mencarinya.

Sementara itu, di Andongmanis, Ki Ajar Mustakim sedang dihadap oleh para muridnya.

"Anak-anak, tampaknya akan ada tamu. Kalian boleh istirahat," kata Ki Ajar Mustakim kepada para muridnya.

"Siapa, Guru?" salah seorang di antara mereka bertanya.

"Cucuku dari Madenda."

"Raden Jaka Pekik, Guru?" tanya yang lain ingin tahu.

Ki Ajar Mustakim tak menjawab. Dia tampak ragu. Jenggotnya yang mulai memutih dielusnya. Sebentar-sebentar dia menggelengkan kepala. Para muridnya heran. Mereka dapat merasakan. Gurunya tampak merahasiakan sesuatu.

"Anak-anak, kalian tak usah heran. Dugaanku mudah-mudahan tidak keliru. Entah mengapa tiba-tiba aku ragu menjawab pertanyaan kalian. Tamu pedepokan kita ini jelas cucuku dari Madenda. Akan tetapi, agaknya dia sangat menderita. Aku hampir tak dapat mengenalinya."

Belum sampai selesai Ki Ajar Mustakim bercakap dengan muridnya, Jaka Menyawak datang. Dia berjalan gontai. Dia tampak kelelahan. Dia menempuh perjalanan jauh dari Madenda ke Andongmanis tak henti-hentinya.

Di Pedepokan Selamanik Ki Ajar Mustakim dan murid-muridnya sedang menerima kedatangan Jaka Menyawak


"Eyang, saya yang datang, Eyang!"

Mendengar suara itu, Ki Ajar Mustakim dan muridnya berdiri. Salah seorang murid membukakan pintu untuknya. Setelah melihat tamu itu, murid Ki Ajar Mustakim ketakutan. Yang lain pun membayangkan bahwa yang datang itu seorang pemuda tampan. Akan tetapi, yang mereka lihat manusia berwujud binatang, biawak.

"Jaka Menyawak, masuklah!"

"Terima kasih, Eyang!"

Setelah Jaka Menyawak masuk, Ki Ajar Mustakim dan para muridnya duduk kembali.

"Jaka Menyawak, ada perlu apa datang kemari?" Ki Ajar Mustakim bertanya ramah.

"Maaf, Eyang, saya lama tidak kemari. Kedatangan saya saat ini ingin memohon petunjuk Eyang."

"Petunjuk?" Ki Ajar Mustakim menghentikan pertanyaannya.

"Benar, Eyang! Petunjuk untuk mengatasi penderitaan ini. Jika menurut Eyang masih ada ilmu yang perlu saya pelajari, saya akan belajar di Pedepokan Selamanik ini."

"Cucuku, penderitaan ini sebagai cobaan. Kamu sendiri yang harus mengatasi. Akan tetapi, memerlukan waktu cukup lama. Menurut Eyang, kamu harus mengembara. Dalam pengembaraan nanti, kamu harus sabar. Siapa pun yang bermaksud baik, jangan disia-siakan. Meskipun orang yang bermaksud baik itu sangat miskin. Jika kamu dihina, terimalah dengan lapang dada. Jika ada orang yang perlu pertolongan, tolonglah! Jangan lupa, mohonlah perlindungan Yang Mahakuasa."

"Baik, Eyang."

"Soal ilmu, menurut Eyang sudah cukup. Semua yang Eyang ajarkan dapat diterapkan selama dalam pengembaraan."

"Eyang, saya mengucapkan terima kasih. Semua petunjuk Eyang akan saya indahkan. Saya mohon doa restu, Eyang!"

"Jaka Menyawak, pergilah ke utara. Berjalanlah menyusuri pantai. Di sana nanti akan kamu temukan jalan untuk mengakhiri penderitaanmu, Cucuku!"

"Terima kasih, Eyang."

Ki Ajar Mustakim mengelus kepalanya. Jaka Menyawak terharu menerima ketulusan hati gurunya. Air matanya mengalir perlahan membasahi kerut pipinya. Para murid Ki Ajar Mustakim terkesima memandangnya. Jaka Menyawak berjalan cepat. Sebentar saja lenyap dari pedepokan itu. Para murid Ki Ajar Mustakim tetap memalingkan pandangan ke arah Jaka Menyawak.

"Anak-anak, sudahlah! Tamu kita sudah pergi."

"Guru, sebenarnya siapa tamu tadi?"

"Kalian tidak tahu?"

"Benar, kami tidak tahu, Guru!"

"Pantas kalian tetap memalingkan pandangan ke arah Jaka Menyawak. Itulah sebabnya aku tadi ragu menjawab pertanyaan kalian. Cucuku dari Madenda, kalian tentu kenal. Kalau rupanya berubah, sulit kita mengenalnya."

"Tamu tadi benar Raden Jaka Pekik?"

"Kalian masih tak percaya. Benar, tamu tadi Raden Jaka Pekik!"

"Kasihan!" kata salah seorang di antara mereka.

"Mengapa dia datang tidak dengan adiknya?"

"Entahlah! Paling-paling nanti dia menyusul kemari."

"Kasihan juga, dia datang kakaknya sudah pergi."

"Sudahlah! Mereka itu calon pemimpin. Biar cobaan ini mereka alami. Jika mereka berhasil mengatasi cobaan itu, niscaya kelak mereka akan menjadi pemimpin yang tangguh dan bertanggung jawab."

Murid Ki Ajar Mustakim membenarkan pernyataan itu. Seorang pemimpin harus mampu mengatasi masalah, baik yang ia hadapi maupun yang dihadapi orang lain. Cobaan itu sebagai batu ujian baginya.

Sementara itu, perjalanan Dewi Rara Ujum sampai di wilayah Andongmanis. Dia langsung menuju ke Pedepokan Selamanik. Dia ingin segera bertemu dengan Ki Ajar Mustakim. Meskipun menempuh perjalanan jauh, dia tetap tegar. Rasa ingin bertemu dengan kakaknya membuat perjalanan yang jauh pun menjadi dekat. Dia berharap kakaknya masih berada di pedepokan itu.

"Eyang, saya yang datang, Eyang!" teriaknya dari kejauhan.

"E ..., sini, Cucu!" Ki Ajar Mustakim menyambutnya dengan gembira. Murid-murid wanita Ki Ajar Mustakim pun ikut menyambutnya. Mereka berpelukan. Yang laki-laki menyambutnya dengan senyuman disertai hormat. Ki Ajar Mustakim bangga melihatnya.

"Dewi, kamu kemari sendirian?"

"Benar, Eyang!"

"Mengapa kamu meninggalkan puri kerajaan?"

"Eyang, saya bermaksud akan menyusul Kanda Jaka Menyawak. Saya datang kemari ingin memohon bekal dan doa restu Eyang."

"Jaka Menyawak belum lama pergi dari sini. Dia berjalan ke utara, menyusuri pantai. Kalau kamu mau menyusul, susullah! Eyang restui. Kamu minta bekal?"

"Benar, Eyang."

Ki Ajar Mustakim mengeluarkan cupu manik berisi dua buah azimat berupa bunga cempaka.

"Dewi, perhatikan azimat ini."

"Baik, Eyang!"

"Ini yang disebut Cempaka Mulia. Gunanya, kalau kamu menemukan orang terbunuh, meninggal sebelum saatnya, bunga ini dapat menghidupkannya. Caranya, usapkan di badan orang itu. Yang satu ini Cempaka Wulung. Gunanya untuk menghadapi musuh yang berbahaya. Caranya, usapkan azimat ini ke badannya. Orang itu akan mati. Nah, bawalah kedua azimat ini. Pesan Eyang, jangan takabur. Azimat ini hanya sarana. Tuhan jualah yang berkuasa. Untuk itu, tetaplah memohon kebesaran-Nya. Niscaya semua yang menghalangi dapat kamu hadapi dengan mudah.”l"

"Terima kasih, Eyang! Saya mohon doa restu," kata Dewi Rara Ujum sambil bersujud kepada Ki Ajar Mustakim.

"Hati-hatilah! Eyang doakan semoga kau selamat dan berhasil."

Para murid Ki Ajar Mustakim mengantarkan Dewi Rara Ujum sampai ke pintu gerbang pedepokan. Mereka terharu melihat keberanian gadis itu. Meskipun hari menjelang malam, dia pantang menyerah. Tekad dan niatnya yang luhur menjadi teladan adik-adik seperguruannya. Mereka mendoakan semoga tidak berselisih jalan dengan kakaknya.

•••










3.
JAKA MENYAWAK IKUT NYI RANGDA KASIYAN




Jaka Menyawak berjalan tak henti-hentinya. Dia menyusuri pantai siang dan malam. Kata-kata ayahnya terus terngiang. Wajah adiknya selalu terbayang. Itulah yang membuat air matanya sebentar-sebentar berlinang. Hanya petunjuk Ki Ajar Mustakim yang selalu diingat selama dalam perjalanan. Perasaan pilu yang dideritanya pun berangsur-angsur sirna.

Karena merasa lelah, Jaka Menyawak menghentikan langkahnya di tepi pantai yang sangat luas. Di dekat pantai itu terbentang rawa-rawa. Airnya dangkal. Ikannya besar-besar dan banyak. Tak mengherankan jika orang dari berbagai penjuru berdatangan ke tempat itu. Tentu saja mereka hendak menangkap ikan. Mereka datang dengan membawa jala dan tangguk. Air yang dangkal sangat memudahkan mereka menangkap ikan di tempat itu. Itulah sebabnya, mereka mendapat ikan sangat banyak. Ada yang mendapat satu ember. Ada yang mendapat satu bakul. Bahkan, ada yang pulang membawa ikan sepikul.

Melihat orang terus berdatangan di tempat itu, Jaka Menyawak menyelinap di semak-semak. Dia membenamkan badannya ke dalam air. Dia berlindung di sela dedaunan. Di dekatnya ada seorang wanita yang juga sedang menangkap ikan. Akan tetapi, tak seekor ikan pun didapatnya. Wanita itu bernama Nyi Rangda Kasiyan.

"Malang benar nasibku! Ikan begitu banyak, aku tidak bisa menangkapnya. Bodoh benar aku ini! Apa karena bodoh, aku jadi miskin?" Nyi Rangda Kasiyan kesal.

Jaka Menyawak iba mendengarnya. Dia berniat hendak menolongnya. Akan tetapi, dia tak tahu apa yang akan diperbuatnya. Nyi Rangda Kasiyan terus berusaha menangkap ikan, tetapi tak seekor ikan pun diperoleh. Dia tak tahu kalau penangguknya berlubang. Setiap ikan yang ditangkap dapat lepas melalui lubang tangguk itu.

Ketika itu hari mulai senja. Orang yang mencari ikan satu per satu meninggalkan tempat itu. Nyi Rangda Kasiyan tak tahu kalau dia tinggal sendirian. Dia tak putus asa. Dia terus mencoba menangkap ikan. Karena merasa lelah dan tak mendapat ikan, dia menangis. Setelah menyadari hari sudah petang, dia meninggalkan tangguknya. Dia berlari-lari kecil sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Setelah tahu tak seorang pun berada di tempat itu, dia mengangkat kain yang dipakainya. Lalu, dia berlari menghampiri tangguknya. Tak jauh dari alat penangkap ikan itu, dia jatuh ke dalam lumpur. Dia meraung-raung sambil memukul-mukulkan kedua tangannya ke lumpur. Lumpur pun terpercik ke muka. Sampai-sampai mukanya penuh dengan lumpur.

Jaka Menyawak melihat Nyi Rangda Kasiyan kebingungan. Dia bermaksud memberikan pertolongan. Dia tahu wanita itu bingung karena sendirian. Kemudian, Jaka Menyawak berdoa kepada Tuhan. Dia memohon agar badannya yang besar itu menjadi kecil. Permohonannya terkabul. Jaka Menyawak lalu masuk ke tangguk Nyi Rangda Kasiyan. Nyi Rangda Kasiyan terkejut melihat sesuatu masuk ke tangguknya. Dia mendekati tangguk itu sambil menahan tangisnya.

"E-e-e copot. E ... copot! Jin atau setan ini?"

Jaka Menyawak tak menjawab. Nyi Rangda Kasiyan mencoba melihatnya lebih dekat lagi.

"Hiii!" katanya sambil berdiri.

Nyi Rangda Kasiyan semakin ketakutan. Badannya terasa meremang. Bulu kuduknya berdiri. Dia tahu bahwa yang masuk ke tangguk itu bukan seekor ikan. Dia mengangkat kain yang dipakai dengan kedua tangannya. Dia akan lari meninggalkannya. Jaka Menyawak semakin kasihan. Dia berkata pelan. Maksudnya agar Nyi Rangda Kasiyan tidak meninggalkannya.

"Mak, jangan takut. Aku ini anakmu, Mak. Jangan tinggalkan aku sendirian di tempat ini!"

Mendengar suara itu, Nyi Rangda Kasiyan merasa takut bercampur heran. Dia merasa tak punya anak. Akan tetapi, ada binatang dapat bicara dan mengaku anaknya. Dia memberanikan diri mendekati tangguknya lagi.

"Kamu sebenarnya siapa, siluman atau jin?"

"Bukan, Mak. Aku bukan setan, siluman, atau jin."

"Lalu siapa?"

"Aku Jaka Menyawak dari Madenda. Aku sampai di sini karena bingung. Aku pergi dari rumah karena diusir ayahku, Mak. Aku mau ikut Mak saja."

"Kasihan benar nasibmu, Nak. Kamu boleh ikut aku. Akan tetapi, kamu harus tahu. Aku ini orang miskin, sangat melarat. Rumahku gubuk kecil, tak punya harta dan keluarga."

"Aku tidak perlu harta, Mak. Aku hanya ingin berlindung saja."

"Baiklah kalau begitu. Diamlah dalam tangguk. Kamu akan kugendong pulang ke gubukku."

Nyi Rangda Kasiyan merasa senang. Di rumah dia akan mempunyai teman. Dia berjalan cepat. Meskipun seharian mencari ikan, dia tak merasa lelah. Bahkan, Jaka Menyawak tak terasa berat dalam gendongannya. Perjalanan dari pantai sampai di rumah Nyi Rangda Kasiyan agak jauh. Karena senang, perjalanan jauh pun terasa dekat.

"Nak, ini rumahku. Gubuk kecil!"

"Tak apa-apa, Mak. Di rumah ini lebih baik daripada di istana."

"Kamu jangan meracau. Gubuk kecil dibilang lebih baik dari istana."

"Maksudku, suasana rumah ini, Mak."

"Sudahlah! Kamu mau di mana?"

"Aku di dekat belanga saja. Akan tetapi, tolong buatkan aku tempat bertengger."

"Iya!" kata Nyi Rangda Kasiyan sambil keluar rumah hendak mengambil dua batang kayu. Kemudian, kayu itu diletakkan di dekat belanga.

"Nak, istirahatlah!"

"Ya, Mak!"

Malam itu merupakan malam pertama Jaka Menyawak dapat beristirahat. Semenjak kepergiannya dari Madenda, dia hampir tak pernah tidur.

Keesokan harinya, Nyi Rangda Kasiyan pergi ke warung. Di warung itu dia bercerita bahwa dia tidak sendirian. Dia ditemani oleh seekor menyawak yang dapat berbicara seperti manusia. Orang-orang di warung itu heran bercampur kasihan mendengarnya. Nyi Rangda Kasiyan hidup sendiri saja susah cari makan. Apalagi ada yang lain yang juga perlu makan. Itulah sebabnya mereka memberikan bantuan kepadanya. Di antara mereka ada yang memberi kue lepat, ketupat, dan goreng pisang. Ada pula yang memberi beras dan sayur-sayuran. Nyi Rangda Kasiyan senang menerimanya.

Sejak saat itu Nyi Rangda Kasiyan selalu menerima bantuan orang-orang untuk meringankan bebannya. Tidak seperti sebelumnya. Jangankan minta, utang pun tak ada yang percaya. Pendek kata, tak seorang pun di Desa Karangkelentang yang peduli kepadanya. Lama-kelamaan Nyi Rangda Kasiyan sadar. Belas kasihan orang-orang itu datang karena keberadaan Jaka Menyawak di rumahnya. Itulah sebabnya, dia semakin menyayanginya. Hari-hari itu mereka lalui dengan gembira. Suasana di rumah itu bertambah menyenangkan. Nyi Rangda Kasiyan seakan-akan menemukan kembali harapannya yang selama ini telah hilang.

•••










4.
DEWI RARA UJUM BERTEMU RADEN SELAMAYA




Sejak pagi matahari berselimut awan. Udara hari itu terasa sangat dingin. Orang-orang yang biasa pergi ke sawah, ke ladang, atau ke pasar enggan meninggalkan kamar. Di mana-mana jalan tampak sepi. Hanya Dewi Rara Ujum yang ketika itu tampak berjalan sendirian. Dia berjalan menelusuri lembah, melewati semak-belukar; dan tak tentu tujuan. Sudah hampir tiga bulan dia berjalan tak henti-hentinya. Hanya pada waktu malam dia beristirahat. Dia tetap tabah meskipun belum dapat menemukan kakaknya, Jaka Menyawak.

Perjalanan Dewi Rara Ujum sampai di kaki Gunung Resingan namanya. Kakinya terasa berat. Dia hendak beristirahat di kaki gunung itu. Dia tidak tahu bahwa kedatangannya diawasi oleh raksasa yang bernama Lodradaksa. Raksasa itu sangat sakti dan kejam. Dia kebal terhadap senjata tajam, dapat terbang tanpa sayap; dan suka membunuh orang yang akan dijadikan santapannya. Orang yang berjalan sendirian melewati Gunung Resingan itu tak urung menjadi korbannya.

Sebelum Dewi Rara Ujum sampai di tempat itu, Lodradaksa telah membunuh seorang pemuda tampan dari Pedepokan Argawilis bernama Raden Selamaya. Pemuda itu dibunuh karena tak mampu menandingi kesaktiannya. Setelah dibunuh, pemuda itu dibawa ke dalam gua kediamannya. Pemuda itu akan disantapnya. Kini Dewi Rara Ujum yang menjadi sasaran berikutnya.

Lodradaksa terus mengawasi Dewi Rara Ujum. Setelah Dewi Rara Ujum menyandarkan badannya pada pohon beringin besar di kaki gunung itu, Lodradaksa bergegas melompat dari mulut gua. Dewi Rara Ujum sangat terkejut melihat Lodradaksa tertawa terbahak-bahak sambil berjoget di dekatnya.

"Anak manis, siapa namamu?" Lodradaksa bertanya sambil memegang bahu Dewi Rara Ujum.

"Hai, raksasa. Jangan kurang ajar! Siapa namamu dan dari mana asalmu?" tanya Dewi Rara Ujum sambil menepis tangan Lodradaksa.

"Ditanya belum menjawab malah berbalik tanya. Baiklah, aku mengalah. Aku Lodradaksa, penghuni Gua Resingan ini. Siapa namamu dan dari mana asalmu?"

"Aku Dewi Rara Ujum dari Pedepokan Selamanik. Mau apa kau kemari? Jika kau mau membunuhku, bunuhlah!"

"Jangan salah mengerti, anak manis. Memang aku suka membunuh dan memakan daging manusia. Akan tetapi, aku tak pernah membunuh seorang wanita. Apalagi wanita cantik sepertimu. Oleh karena itu, turutilah kemauanku. Aku ingin mengajakmu tinggal di Gua Resingan. Kamu akan kujadikan teman di kediamanku. Bagaimana?"

"Apa? Dasar raksasa! Sudah wajah buruk, menjijikkan, tak tahu diri lagi. Siapa yang sudi menuruti kemauanmu."

"Apa? Hai, Rara Ujum. Kata-katamu memerahkan telinga. Kau belum tahu siapa Lodradaksa. Jaga mulutmu! Diajak bicara baik-baik malah bicara seenaknya."

"Biar! Mau apa kau? Kalau tak malu, bunuhlah aku!"

"Apa?"

Lodradaksa marah bukan kepalang. Pinggang Dewi Rara Ujum disambar dengan tangan kanannya, lalu dibawa terbang ke dalam gua.

"Lodradaksa, bunuh saja aku," kata Dewi Rara Ujum.

"Apa? Aku tak akan membunuhmu. Kamu akan kujadikan teman hidup di gua ini. Kuberi waktu, pikirkan baik-baik," kata Lodradaksa sambil mendudukkan Dewi Rara Ujum pada sebuah batu datar di dalam gua itu.

Dewi Rara Ujum bungkam. Pikirannya mulai larut dalam suasana yang mencekam. Gua itu sangat gelap. Tak sedikit pun sinar dari luar masuk. Mungkin karena gua itu terlindung oleh dedaunan pohon-pohon besar yang berada di sekelilingnya. Di samping itu, hari pun mulai malam. Lodradaksa meninggalkan Dewi Rara Ujum sendirian. Dia berjalan ke tengah gua. Dia mendekati tempat tidurnya. Tak lama kemudian, raksasa itu merebahkan badannya dan tertidur lelap.

Suasana dalam gua itu semakin mencekam. Dewi Rara Ujum melihat ke kiri dan ke kanan. Perasaan takut pun mulai dirasakannya. Tampak sesosok lelaki muda tergeletak di dekatnya. Dewi Rara Ujum memberanikan diri mendekati lelaki itu. Dia semakin ketakutan setelah tahu bahwa lelaki itu tak bernyawa. Meskipun demikian, wajah lelaki itu tetap memancarkan cahaya.

"Kasihan benar pemuda ini. Sayang sudah meninggal. Tampaknya, belum lama dia mati terbunuh."

Dewi Rara Ujum merenung sejenak. Dia teringat bekal dari gurunya, Ki Ajar Mustakim. Kemudian, dia meraba cupu manik di dalam kantongnya.

"Hai, pemuda. Maaf, aku bermaksud menolongmu. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih mengabulkan niat baikku."

Dewi Rara Ujum mengambil azimat berupa bunga Cempaka Mulia. Kemudian, dia usapkan ke wajah pemuda itu. Tak berselang lama, pemuda itu hidup kembali. Tulangnya yang patah, kulitnya yang luka, dan dagingnya yang memar pulih kembali. Pemuda itu mencoba bangun. Wajahnya tampak seperti baru bangun tidur.

"Maaf, apa aku sedang mimpi? Adik ini siapa, peri atau bidadari?" Raden Selamaya tampak agak kebingungan.

"Anda tidak bermimpi. Aku manusia, bukan peri atau bidadari."

"Maaf, aku mengira Anda bidadari. Wajah Anda cantik sekali," kata Raden Selamaya ramah.

"Kalau boleh tahu, Anda siapa, dari mana, dan mengapa berada di dalam gua?" Dewi Rara Ujum berbalik tanya.

"Aku Raden Seiamaya dari Pedepokan Argawilis. Aku pergi dari pedepokan hendak ke Majapahit. Akan tetapi, aku tak ingat mengapa aku berada di sini. Maaf, Anda siapa, dari mana, dan mengapa pula berada di sini?"

"Aku Dewi Rara Ujum dari Pedepokan Selamanik. Aku berada di sini karena dibawa oleh Lodradaksa."

"Nah, aku jadi ingat. Dalam perjalanan tadi aku bertemu raksasa itu. Aku berkelahi."

"Anda kalah, bahkan sampai terbunuh."

"Benar. Mengapa aku hidup lagi?"

"Itu kebesaran Tuhan. Bersyukurlah! Tadi ketika aku melihat Anda, aku menduga Anda mati terbunuh. Itulah sebabnya, aku mencoba memanfaatkan bekal dari guruku untuk menolong Anda. Berkat kebesaran Yang Maha Pengasih Anda hidup lagi."

"Terima kasih. Aku berutang budi kepada Anda."

"Sudah sepantasnya manusia hidup saling menolong."

"Terima kasih. Anda baik sekali."

"Apakah Anda tidak berniat untuk melawan Lodradaksa?"

"Aku tak mampu. Raksasa itu sakti dan kejam."

"Bukankah Anda membawa sebilah keris?"

"Dia kebal senjata tajam."

"Coba hunuslah keris itu. Dengan bekal yang kubawa, niscaya Lodradaksa tak mampu menahannya."

Raden Selamaya menghunus kerisnya. Dewi Rara Ujum mengambil azimat berupa bunga Cempaka Wulung. Keris itu diusap tiga kali dengan bunga itu.

"Lekas cari Lodradaksa. Tusukkan keris ini ke ulu hati."

"Baiklah!"

Raden Selamaya berjalan ke tengah gua. Dilihatnya Lodradaksa sedang tidur pulas. Keris itu ditikamkan ke ulu hati raksasa itu hingga tembus ke punggungnya. Sirnalah raksasa itu. Raden Selamaya kembali menghampiri Dewi Rara Ujum.

"Bagaimana, berhasil?"

"Berhasil."

"Syukurlah!"

"Dewi, aku berutang budi kepadamu. Aku berjanji akan membalas kebaikanmu."

"Sudahlah! Aku tak merasa demikian."

"Dewi, aku memang tak sehebat Anda. Meskipun demikian, aku berjanji akan melindungi Anda."

"Aku sebenarnya tak mengharap apa-apa. Kukira sia-sia jika aku berharap banyak terhadap pemuda tampan seperti Anda."

"Dewi, seharusnya aku yang berkata demikian. Kalau Anda tak keberatan, janjiku akan kubuktikan."

"Terima kasih."

"Bagaimana kalau aku menyapa Adinda."

"Boleh juga!"

"Nah, mulai sekarang, kita dapat berbicara santai," kata Raden Selamaya sambil mengajaknya berjabatan tangan. "Sebenarnya Dinda mau ke mana? Mengapa pergi sendirian?" lanjut Raden Selamaya.

"Aku pergi tidak seizin orang tua. Aku sebenarnya sedang mencari kakakku. Dia pergi karena diusir ayahku. Sudah tiga bulan aku mencarinya. Akan tetapi, sampai saat ini belum berhasil menemukannya."

"Kasihan. Bagaimana kalau kita pergi dari gua ini. Masalah kakakmu nanti kita cari bersama. Aku 'kan sudah berjanji mau membalas budi?" Raden Selamaya mencoba menggodanya.

"Sudah, sudah! Bisa saja menggoda. Kalau Kanda mau ke Majapahit, aku ikut. Siapa tahu aku dapat bertemu kakakku di sana," kata Dewi Rara Ujum manja.

"Baiklah. Mari kita lekas pergi dari sini!"

Raden Selamaya dan Dewi Rara Ujum keluar dari dalam gua. Mereka berjalan perlahan. Raden Selamaya menggandeng tangan Dewi Rara Ujum penuh kasih sayang. Dewi Rara Ujum merasa aman malam itu. Raden Selamaya setia menjaganya. Hal itulah yang mengingatkan Dewi Rara Ujum kepada kakaknya. Sambil berjalan dia berdoa kepada Yang Mahakuasa. Semoga usahanya mencari kakaknya tak sia-sia.

•••










5.
JAKA MENYAWAK IKUT BERLAYAR KI ANGGADITA




Tiga bulan sudah Jaka Menyawak tinggal di rumah Nyi Rangda Kasiyan. Di rumah itu dia merasa tenteram. Nyi Rangda Kasiyan menyayanginya sepenuh hati. Kasih yang tulus itu kadang mengingatkan Jaka Menyawak kepada kedua orang tuanya. Akan tetapi, dia belum juga mampu melupakan ketika ayahnya marah dan mengusirnya dari istana. Ingatan yang membuatnya tampak menderita.

"Sudahlah, Nak! Tenangkan pikiranmu. Serahkan semua kepada Yang Mahakuasa. Ambil saja hikmahnya. Semoga ini hanya cobaan. Kamu harus tabah!"

"Terima kasih, Mak. Mudah-mudahan benar apa yang Mak katakan. Aku harus tabah."

"Sudahlah, lupakan saja! Jangan kamu berpikir mundur. Yang berlalu biar berlalu. Lihat masa depanmu masih panjang. Lagi pula, larut dalam kepedihan itu tidak menyelesaikan persoalan. Bahkan, hal itu akan menambah masalah."

"Baik, Mak. Aku akan melupakan semua itu."

Ketika itu hari mulai malam. Suara burung hantu terdengar bersahut-sahutan. Udara yang dingin dan suara burung itu membuat malam terasa semakin mencekam. Penduduk Desa Karangkelentang malam itu enggan keluar rumah. Meskipun malam belum larut, kebanyakan dari mereka telah tertidur lelap.

Malam semakin larut. Hujan gerimis rintik-rintik membasahi atap rumah Nyi Rangda Kasiyan. Meskipun hanya terbuat dari daun kelapa, atap rumah itu tidak bocor. Jaka Menyawak mencoba memejamkan mata. Tak lama kemudian, terdengar olehnya gemuruh angin bertiup kencang. Suara anjing melolong dan kekeh orang tertawa membuat bulu kuduknya berdiri. Tiba-tiba terdengar olehnya orang memanggil namanya.

"Jaka Pekik, dengarkan baik-baik! Peristiwa yang sudah berlalu, biarkan berlalu. Tataplah masa depanmu yang masih panjang. Untuk mengatasi masalah itu, pergilah berlayar. Di tengah laut sana ada sebuah pulau. Di pulau itu ada seorang guru yang sedang menunggu kedatanganmu. Ki Ajar Kismayajati namanya. Temuilah dia! Ha-ha-ha!" Suara itu lalu menghilang.

Tubuh Jaka Menyawak bermandi peluh. Sejak mendengar suara itu hingga pagi hari dia tak dapat tidur. Suara itu terus terngiang di telinganya. Nyi Rangda Kasiyan heran melihatnya. Tidak biasa bangun tidur Jaka Menyawak melamun seperti itu. Rangda Kasiyan mendekatinya sambil berkata ramah.

"Menyawak, ada apa lagi? Katanya mau melupakan peristiwa yang sudah berlalu. Kenapa melamun lagi?"

"Saya tidak melamun, Mak! Saya sedang memikirkan sesuatu. Boleh saya bertanya kepada Mak?" kata Jaka Menyawak menjawabnya dengan ramah pula.

"Tanya soal apa?"

"Saya tahu, Mak sayang sama saya. Akan tetapi, saya tidak tahu apakah Mak benar-benar menyayangi saya."

"Menyawak, kamu ini bicara apa? Mak benar-benar menyayangimu, Nak!"

"Kalau benar begitu, tentu Mak mau memenuhi keinginanku."

"Tentu! Jika Mak bisa. Keinginanmu akan kupenuhi. Asalkan kamu tidak minta harta. Kamu tahu, Mak hanya punya nyawa. Mak tidak punya apa-apa, kecuali kasih yang tulus, Nak!"

"Menurut saya, nyawa dan kasih yang tulus lebih mahal harganya daripada harta, Mak! Kalau benar Mak sayang, saya mau ikut berlayar dengan Ki Anggadita."

"Apa?" tanya Nyi Rangda Kasiyan sambil membelalakkan matanya.

"Boleh saya ikut berlayar dengan saudagar itu?"

"Aku bisa mati kalau kau pergi. Kamu satu-satunya tumpuan harapanku. Jangan tinggalkan Mak sendirian, Nak!"

"Mak, saya pergi tidak lama. Nanti saya kembali lagi ke sini. Jika saya berhasil, Mak akan ikut menikmati hasilnya. Izinkan saya ikut berlayar dengan saudagar itu," bujuk Jaka Menyawak ramah.

"Ikut berlayar bersama Ki Anggadita? Memangnya kamu bisa apa?" Nyi Rangda Kasiyan menghentikan pembicaraannya. Dia menyesali kata-katanya. Dia khawatir kalau dianggap meremehkannya.

Jaka Menyawak membenarkan pernyataan Nyi Rangda Kasiyan itu. Dirinya berjalan saja susah. Apalagi harus bekerja keras bongkar pasang muatan perahu. Tentu Nyi Rangda Kasiyan meragukan kemampuannya.

"Saya hanya mau ikut berlayar, tidak mau bekerja. Saya mau menemui guruku di sebuah pulau, di tengah laut sana, Mak. Katakan kepada Ki Anggadita kalau saya mau ikut berlayar. Mak tidak usah cerita kalau saya mau bertemu guru."

Nyi Rangda Kasiyan semakin tidak mengerti maksud Jaka Menyawak. Tak terlintas dalam benaknya, siapa sebenarnya anak angkatnya itu. Rupanya seperti binatang, tetapi mempunyai guru di sebuah pulau di tengah laut. Larut dalam keheranan itu, Nyi Rangda Kasiyan meninggalkannya.

Dia pergi ke rumah Ki Anggadita.

"Pagi-pagi sudah datang! Dasar pemalas, mau mengemis, ya, Mak?" celoteh anak buah Ki Anggadita sinis.

"E ..., jangan sembarang bicara! Apa kamu bilang? Aku memang miskin, apa pernah aku mengemis di sini? Lagi pula apa urusanmu, pakai tanya-tanya segala!"

"Maaf, Mak! Saya pikir mau mengemis! Kalau tidak, ya sudah, pakai marah segala."

"Maaf-maaf! Kelihatannya kamu ikut orang besar, tetapi kerdil benar jiwamu. Menyangka orang seenaknya, sinis lagi! Dasar tak punya perasaan."

"Sudah-sudah! Ada apa, Nyi?" Ki Anggadita menyapanya ramah.

"Maaf, Juragan. Saya datang kemari mau minta tolong," kata Nyi Rangda Kasiyan setengah gugup.

"Minta tolong apa, Nyi?"

"Anak saya, Menyawak, mau ikut berlayar dengan Juragan."

"Ikut berlayar?" Ki Anggadita berbalik tanya.

"Benar, Juragan! Biar dia ikut perahu Juragan."

"Oooo, ya, boleh-boleh!"

"Kapan perahu Juragan berangkat?"

"Selasa pagi. Ajaklah Jaka Menyawak kemari."

"Terima kasih, Juragan. Saya permisi dulu."

Nyi Rangda Kasiyan menganggap Ki Anggadita bermurah hati kepadanya. Dia sangat gembira. Berita itu akan segera disampaikan kepada anaknya. Padahal, pernyataan Ki Anggadita itu tidak tulus. Pagi itu hari Selasa, hari keberangkatan perahunya. Maksudnya, biarpun Nyi Rangda Kasiyan segera memberitahukan kepada anaknya, pasti akan terlambat. Akibatnya, dia akan tertinggal, dan tidak dapat ikut berlayar.

"Menyawak, Ki Anggadita baik hati. Kamu diizinkan ikut berlayar," kata Nyi Rangda Kasiyan setelah sampai di rumah.

"Kapan berangkatnya, Mak?"

"Selasa pagi, Nak!"

"Selasa pagi?" Jaka Menyawak mengulangi jawaban.

Nyi Rangda Kasiyan.

"Kenapa? Kamu tak percaya sama Mak?"

"Bukan tak percaya, Mak! Tampaknya, Mak tidak mengerti maksud Juragan Anggadita."

"Aku tak mengerti, Nak! Apa maksudnya?"

"Hari ini hari Selasa. Berarti, pagi ini perahunya berangkat. Akan tetapi, biarkanlah Mak! Orang itu tidak tulus karena tahu keadaanku. Mungkin dia merasa tak pantas mengajakku berlayar."

Di pelabuhan tampak Ki Anggadita dan anak buahnya naik perahu. Perahu siap berlayar.


Sementara itu, Ki Anggadita dan seluruh awak perahunya telah bersiap-siap untuk berangkat. Juru mudi dan juru batu bersorak-sorak sambil membongkar sauh dan mengembangkan layar. Akan tetapi, perahunya tak mau bergerak. "Coba betulkan layarnya!" Ki Angganaya berseru kepada teman-temannya.

"Coba periksa lagi tali-talinya!" Ki Anggadita berseru pula.

Seluruh awak perahu terus berusaha. Akan tetapi, perahu itu tetap tidak bergerak. Ki Angganaya membakar setanggi dan dupa. Lalu Ki Anggadita menebarkan uang logam ke air. "Buang sial," katanya. Meskipun demikian, perahu itu tetap bergeming dari tempatnya.

"Mari kita berdoa. Kalau doa kita dikabulkan, sekembali berlayar kita berpesta pora," Ki Anggadita berkata sungguh-sungguh.

Perahu itu tetap tidak bergerak. Ki Anggadita memalingkan pandangan ke arah Ki Angganaya. Ki Angganaya pun memalingkan pandangannya ke arah juru batu dan juru mudi. Mereka tak habis pikir, mengapa tiba-tiba perahu itu demikian. Ki Anggadita teringat Jaka Menyawak. Dia memberi isyarat Ki Angganaya agar mendekat.

"Berangkatlah sekarang juga! Jemput anak Nyi Rangda Kasiyan!" kata Ki Anggadita setengah berbisik.

Ki Angganaya segera berangkat. Dia menuju ke Desa Karangkelentang.

"Permisi! Apa benar ini rumah Nyi Rangda Kasiyan?" Ki Angganaya bertanya ramah.

"Benar, Ki Angganaya! Ada apa?"

"Saya disuruh menjemput Jaka Menyawak, Nyi!"

Nyi Rangda Kasiyan sangat gembira. Dia bergegas menghampiri anaknya. Tak lama kemudian, ia keluar mengiringkan Jaka Menyawak. Ki Angganaya tak berkedip memandanginya. "Ini orangnya. Kasihan, mirip benar dengan buaya!" gumam dalam hatinya.

"Ki Angganaya, ini anak saya."

"I-i-i-iya, Mak! Mari kita berangkat, Nak!"

"Baik-baik di rumah, Mak!"

"Iya, Nak! Mak doakan semoga selamat dalam perjalanan."

Tak lama kemudian, Ki Angganaya dan Jaka Menyawak sampai di perahu. Layar perahu segera dikembangkan. Perahu pun mulai bergerak perlahan. Seluruh awak perahu bersorak-sorak kegirangan.

"Bagaimana? Jaka Menyawak sudah terbawa?" Ki Anggadita bertanya seraya mengurai senyumnya.

"Sudah, Juragan!" sahut Ki Angganaya.

Angin berembus kencang. Perahu Ki Anggadita bergerak cepat. Tak lama kemudian, perahu itu lenyap dari pandangan.

•••










6.
JAKA MENYAWAK MEMPEROLEH MESTIKA LABU CINA




Sejak pagi matahari berselimut awan. Meskipun hampir tengah hari, udara terasa sejuk. Ketika itu perjalanan Ki Anggadita dan anak buahnya telah sampai di tengah lautan. Ki Anggadita memberi isyarat kepada juru mudi untuk menghentikan perahunya. Layar perahu segera digulung. Perahu pun berjalan perlahan-lahan. Tak lama kemudian, perahu itu berhenti di dekat sebuah pulau.

"Istirahat dulu! Kita makan!" seru Ki Anggadita kepada anak buahnya.

Mendengar seruan itu, Ki Angganaya mengajak kawan-kawannya berkumpul. Jaka Menyawak ikut bersama mereka. Akan tetapi, dia mengambil tempat duduk di belakang, agak jauh dari mereka. Melihat hal itu, Ki Anggadita menghampirinya.

"Menyawak, jangan di situ. Di sini, agak maju."

"Terima kasih, Juragan. Saya sampai di sini saja."

"Kenapa, Nak? Ikut saja! Nanti perahuku mogok lagi?"

"Maaf, tadi pagi perahu Juragan mogok bukan kehendak saya. Juragan tidak usah khawatir. Permintaan saya, sekembali Juragan nanti, jemput saya di sini. Saya mau pergi ke pulau itu."

"Kalau begitu biar diantarkan ke sana!"

"Terima kasih. Juragan tidak usah repot. Saya pergi ke sana sendiri saja."

"Terserahlah! Kalau begitu, hati-hati, ya, Nak!"

"Terima kasih, Juragan."

Jaka Menyawak melompat dari perahu. Lalu, dia berenang dengan cepat.

"Kasihan anak itu. Persis seperti anak buaya," kata Ki Angganaya setengah berbisik.

Sebentar saja dia lenyap dari pandangan Ki Anggadita dan anak buahnya. Jaka Menyawak terus berenang. Akhirnya, sampailah dia pada sebuah pulau. Di pulau itu tinggallah seorang mahaguru bernama Ki Ajar Kismayajati. Ketika itu, dia sedang berada di kebun. Dia sedang menjaga Mestika Labu Cina. Mestika buah itulah yang akan diserahkan kepada Jaka Menyawak.

Setelah mengetahui Jaka Menyawak datang, Ki Ajar Kismayajati segera meninggalkan Mestika Labu Cina itu. Kemudian, ia menjemputnya.

"Ananda Jaka Pekik, selamat datang!" kata Ki Ajar Kismayajati ramah. Dia tahu bahwa Jaka Menyawak itu adalah Raden Jaka Pekik. "Akhirnya, yang kutunggu datang juga. Kemarilah, Nak! Mari kita masuk ke kebun. Di dalam udaranya sejuk," lanjut Ki Ajar Kismayajati.

"Terima kasih, Guru!"

Ki Ajar Kismayajati berjalan mengiringkan Jaka Menyawak. Tak lama kemudian, mereka sampai di kebun. Mereka berhenti setelah sampai di dekat Mestika Labu Cina.

"Ananda Pekik, menurut ilham yang saya terima, dua buah Mestika Labu Cina ini harus kuberikan kepada Ananda," kata Ki Ajar Kismayajati sambil menunjuk buah itu.

"Terima kasih, Guru," sahut Jaka Menyawak seraya mencium kaki Ki Ajar Kismayajati.

"Bawalah Mestika Labu Cina ini. Jagalah baik-baik. Khasiat mestika ini, jika dibelah, akan terjadi sebuah negara lengkap dengan isinya. Pesan saya, pada waktu membelah, memohonlah kepada kebesaran Sang Pencipta. Negara seperti apa yang Ananda kehendaki."

"Baik, Guru! Bagaimana dengan wujud saya ini, Guru?"

"Ananda Pekik, wujud Ananda seperti biawak ini akibat dari kulit yang menutupi tubuh Ananda. Kulit ini seperti pakaian. Artinya, kulit ini dapat Ananda lepas seperti pakaian. Akan tetapi, jangan dilepas kalau Ananda tidak benar-benar terpaksa. Kulit ini dapat Ananda lepas pada saat Ananda akan menciptakan negara."

"Baik, Guru," kata Jaka Menyawak sambil menundukkan kepala. Dia tampak kecewa.

"Ananda tidak usah kecewa. Ingatlah bahwa kehebatan manusia tidak diukur dari gemerlap atau indahnya pakaian yang dikenakannya. Kehebatan manusia dapat diukur dengan budi pekertinya. Biarpun sakti atau pandai kalau budi pekertinya buruk, pasti tabiatnya buruk juga."

"Apa hubungannya dengan saya, Guru?"

"Kulit Ananda ini ibarat pakaian. Artinya, biarpun wujud Ananda seperti biawak, kalau Ananda berbudi pekerti baik, orang tetap akan menghormati Ananda."

Jaka Menyawak lega. Ki Ajar Kismayajati telah menguraikan penderitaan yang selama ini menyesakkan dadanya. Wajahnya tampak memancarkan cahaya. Melihat hal itu, Ki Ajar Kismayajati turut gembira.

"Selain itu, saya juga akan memberikan keris ini kepada Ananda. Keris ini dapat Ananda pakai jika benar-benar terpaksa. Sarung keris ini juga dapat membantu Ananda membawa Mestika Labu Cina ini."

"Terima kasih, Guru."

"Supaya besok pagi tetap segar, mari kita istirahat," ajak Ki Ajar Kismayajati ramah.

Ki Ajar Kismayajati merebahkan badannya di dekat Mestika Labu Cina itu. Jaka Menyawak pun mencoba memejamkan matanya. Tak lama kemudian, mereka pun tidur.

Bintang-bintang di langit memancarkan sinarnya. Meskipun tak ada lampu, di kebun itu tampak terang.

Keesokan harinya, Ki Ajar Kismayajati heran melihat Jaka Menyawak bangun lebih cepat.

"Sudah bangun, Nak?"

"Sudah, Guru."

"Supaya tidak tertinggal perahu, bersiap-siaplah!"

"Baik, Guru."

Ki Ajar Kismayajati menghunus keris yang akan diberikan kepada Jaka Menyawak. Kemudian, sarungnya dibanting ke tanah. Tiba-tiba muncul dua orang laki-laki. Tubuhnya pendek, kekar, punggungnya berlubang. Wajah kedua orang itu buruk sekali. Matanya besar, seperti akan keluar. Mulutnya seperti mulut kuda.

"Ananda, kedua orang ini bernama Saraganja dan Saraganji. Mereka dapat Ananda perintah apa saja. Nah, mengingat perjalanan Ananda masih panjang, segeralah kembali ke Desa Karangkelentang. Nyi Rangda Kasiyan menunggu kedatangan Ananda."

"Baik, Guru."

Ki Ajar Kismayajati mengambil dua buah Mestika Labu Cina. Jaka Menyawak memandangi Saraganja dan Saraganji.

"Kawan, bantulah saya membawa Mestika Labu Cina ini," pinta Jaka Menyawak ramah.

Saraganja dan Saraganji membungkukkan badannya. Lubang pada punggungnya siap menerima Mestika Labu Cina. Ki Ajar Kismayajati mengangkat mestika itu dan meletakkan pada lubang punggung mereka.

"Ananda, ingat baik-baik pesan saya. Jangan sampai lupa!"

"Baik, Guru," kata Jaka Menyawak sambil mencium kaki Ki Ajar Kismayajati.

Saranganja dan Saranganji membawa Mestika Labu Cina.


Jaka Menyawak berjalan ke luar dari kebun. Ki Ajar Kismayajati mengantarkannya sampai di luar pintu masuk kebun. Dalam waktu sekejap, Jaka Menyawak serta Saraganja dan Saraganji lenyap dari pandangan Ki Ajar Kismayajati.

Sementara itu, perjalanan perahu Ki Anggadita telah merapat ke pulau. Jaka Menyawak serta Saraganja dan Saraganji tak menunggu terlalu lama. Mereka segera masuk ke perahu itu. Perahu pun bergerak perlahan, kemudian bergerak cepat ke tengah lautan. Ki Anggadita dan anak buahnya bertepuk tangan sambil bernyanyi ria.

•••










7.
NYI RANGDA KASIYAN PERGI KE MAJAPAHIT




Perahu Ki Anggadita berjalan lancar. Saat itu telah merapat ke pelabuhan. Ki Angganaya dan teman-temannya terus bersorak-sorak gembira. Ki Anggadita tersenyum lega. Masyarakat sekitar pelabuhan pun mendengarnya. Beberapa pemuda berlari-lari ingin membantunya. Mereka biasa membantu Ki Angganaya membongkar muatan. Kemudian, Ki Anggadita memberi imbalan berupa uang kepada para pemuda itu.

Berita kedatangan Ki Anggadita pun sampai ke telinga Nyi Rangda Kasiyan. Ketika itu dia baru habis mandi. Dia memakai kain buru-buru. Belum sampai selesai memakai angkin, dia berlari ke luar. Sampai di depan pintu, dia terjatuh. Angkinnya tersangkut pintu.

Sementara itu, Ki Angganaya dan teman-temannya sudah hampir selesai membongkar muatan. Orang-orang yang membantunya masih berlalu-lalang di situ. Jaka Menyawak pun berada di antara mereka. Akan tetapi, dia terhalang oleh tumpukan barang-barang. Dia sedang bercakap-cakap dengan Ki Anggadita. Entah apa yang dibicarakannya.

Kedatangan Nyi Rangda Kasiyan menambah ramai suasana. Masalahnya, ketika menanyakan Jaka Menyawak, orang-orang menjawabnya tidak tahu. Itulah sebabnya dia menangis keras-keras. Kemudian, Nyi Rangda Kasiyan menemui Ki Angganaya.

"Mana Menyawak?"

"Itu bersama Juragan!"

"Orang-orang itu bohong. Katanya, anak saya tidak ada."

"Makanya, Mak jangan cengeng. Baru digoda begitu saja menangis seperti anak kecil."

"Salah siapa? Aku benar-benar mencari malah digoda."

Ki Anggadita mengiringkan Jaka Menyawak. Saraganja dan Saraganji berjalan di belakangnya. Mereka berjalan menuju ke arah Nyi Rangda Kasiyan.

"Nyi, ini anakmu! Kalau perlu beras, gula, atau kue-kue, ambil saja. Saya membawa banyak sekali. Ambillah, Nyi."

Nyi Rangda Kasiyan memandangi Jaka Menyawak. Kemudian, ia merangkulnya erat-erat.

"Tidak usah mengambil, Mak. Kita berutang budi dengan Juragan. Dia sudah banyak membantu kita, Mak," kata Jaka Menyawak setengah berbisik.

"Ambil, Nyi! Berkat doa anakmu ini aku untung banyak. Itu lihat! Daganganku tambah banyak."

"Terima kasih, Juragan. Nanti saja kalau Mak memerlukan," sahut Jaka Menyawak.

Ki Anggadita menggelengkan kepala. Dia heran mendengar pernyataan Jaka Menyawak.

"Ini siapa, Nak?" tanya Nyi Rangda Kasiyan sambil menunjuk Saraganja dan Saraganji.

"Ini Saraganja dan Saraganji, Mak!"

"Siapa?"

"Ayo, kita pulang. Nanti saya jelaskan."

Mereka pun segera pulang. Tak lama kemudian, sampailah mereka di rumah. Nyi Rangda Kasiyan terus menciumi pipi Jaka Menyawak. Jaka Menyawak dapat merasakan betapa tulusnya kasih sayang Nyi Rangda Kasiyan kepada dirinya.

"Sudahlah, Mak!"

"Apa yang kauperoleh, Nak?" tanya Nyi Rangda Kasiyan sambil melepaskan pelukannya.

"Saya memperoleh dua buah Mestika Labu Cina dan sebilah keris."

"Dari siapa?"

"Dari Ki Ajar Kismayajati."

"E, mana dua orang jelek tadi?"

"Maksud Mak, Saraganja dan Saraganji? Jelek rupanya, tetapi baik tabiatnya. Mereka sebenarnya berasal dari sarung keris ini, Mak. Mereka yang disuruh Guru untuk membantu saya membawa kedua Mestika Labu Cina ini."

"Terus, di mana mereka?"

"Mereka kembali ke wujud asalnya."

"Maksudmu, jadi sarung keris lagi?"

"Benar, Mak! Lihat! Ini dia."

Nyi Rangda Kasiyan sangat gembira. Kepala Jaka Menyawak terus dielus-elusnya. Nyi Rangda Kasiyan semakin yakin bahwa Jaka Menyawak bukan anak sembarangan. Rasa kasih sayang Nyi Rangda Kasiyan semakin besar. Jaka Menyawak sudah seperti anak kandungnya. Sebaliknya, Jaka Menyawak menganggap Nyi Rangda Kasiyan sebagai orang tuanya sendiri. Hanya dialah yang diharapkan dapat membantu untuk mewujudkan cita-citanya.

Ketika itu matahari mulai memasuki peraduan. Bintang-bintang di langit mulai memancarkan cahayanya. Angin bertiup semilir. Nyi Rangda Kasiyan pun terlelap di atas balai-balai. Dia mulai tertidur nyenyak. Pada saat itu Jaka Menyawak memikirkan rencana selanjutnya. Dia bermaksud melamar putri Majapahit. Nyi Rangda Kasiyan yang akan diminta untuk melamarkannya.

Pagi harinya, sebelum matahari terbit, Nyi Rangda Kasiyan sudah bangun. Dia langsung menemui Jaka Menyawak. Dia tahu kalau Jaka Menyawak semalaman tidak tidur.

"Nak, mikir apa lagi?"

"Saya mau minta tolong lagi. Mak mau, 'kan?"

"Minta tolong apa? Asal Mak bisa, mau saja!"

"Saya ingin menikah, Mak!"

"Menikah? Dengan siapa?"

"Dengan putri Raja Majapahit."

"Menyawak, jangan turuti keinginan itu, Nak! Kita ini orang miskin. Carilah gadis desa sini saja. Kalau melamar putri raja, kita tidak akan mampu memenuhi persyaratannya. Kalau Raja merasa dihina, kita pasti dihukum, Nak. Bisa-bisa kita dihukum pancung."

"Mak tidak usah takut. Apa pun yang diminta Raja, sanggupi saja."

"Saya takut. Kita ini tidak punya harta, Nak!"

"Saya sanggup memenuhi persyaratannya, Mak. Akan tetapi, kalau Mak tidak mau, saya akan melamar sendiri."

"Baiklah kalau begitu!"

Nyi Rangda Kasiyan percaya dengan kesanggupan Jaka Menyawak. Dia bergegas ke belakang. Maksudnya, hendak menyiapkan kepergiannya ke Majapahit. Meskipun demikian, keadaan yang serbamiskin tetap saja menghantui pikirannya. Dalam hatinya terus bertanya-tanya. Kalau dia tidak dapat memenuhi permintaan Raja, nyawa sebagai taruhannya. Akhirnya, Nyi Rangda Kasiyan membulatkan tekadnya. Dia berserah diri kepada Yang Mahakuasa.

•••










8.
LAMARAN JAKA MENYAWAK DITERIMA


Nyi Rangda Kasiyan sampai di Kerajaan Majapahit. Ketika itu Sri Baginda berada di puri istana bersama permaisuri dan keempat putrinya. Kedatangan Nyi Rangda Kasiyan disambut oleh dayang puri kerajaan.

"Bibi, ada perlu apa?" tanya dayang ramah.

"Saya mau menghadap Sri Baginda Raja."

"Bibi dari mana?"

"Dari Desa Karangkelentang."

"Tunggu sebentar! Saya sampaikan kepada Sri Baginda Raja."

"Terima kasih!"

Dayang itu segera pergi ke puri istana. Ketika itu Sri Baginda sedang bercakap-cakap dengan permaisurinya. Melihat dayang masuk ke ruangan, Sri Baginda menegurnya.

"Dayang, ada apa?"

"Ampun, Yang Mulia. Ada tamu dari Desa Karangkelentang ingin menghadap Paduka."

"Suruh dia masuk."

Dayang itu keluar dari puri istana. Dia langsung menemui Nyi Rangda Kasiyan.

"Bibi, Sri Baginda meminta supaya segera menghadap."

Nyi Rangda Kasiyan merapikan baju dan kain yang dipakainya. Dia berjalan diiringkan dayang. Badannya terasa ringan. Perasaan takut menyelimuti pikirannya. Dia khawatir kalau-kalau Sri Baginda tidak berkenan menerimanya.

"Selamat pagi, Yang Mulia!"

"Bibi, masuklah! Bibi ini siapa dan dari mana?"

"Hamba Nyi Rangda Kasiyan. Hamba dari Desa Karangkelentang, Yang Mulia," katanya sambil memberi hormat.

"Apa yang dapat saya bantu, Bibi?"

"Ampun seribu ampun, Yang Mulia. Hamba datang memenuhi keinginan anak hamba."

"Apa keinginan anakmu, Bibi?"

"Ampun, Sri Baginda. Anak hamba memohon kepada Paduka. Jika Paduka berkenan, anak hamba yang bernama Jaka Menyawak, bermaksud melamar salah satu dari keempat putri Paduka."

"Melamar putriku? Namanya aneh. Apa putramu itu seperti biawak?"

"Benar, Paduka, anak hamba memang buruk, seperti anak buaya. Akan tetapi, entah mengapa hamba disuruh melamarkan putri Paduka."

"Sebelum maksudmu kujawab, aku tanyakan dulu kepada anak-anakku."

"Terima kasih, Yang Mulia."

"Anak-anak, kalian mengerti maksud kedatangan Nyi Rangda Kasiyan kemari. Siapa di antara kalian yang bersedia menerima lamaran anaknya."

"Ayahanda, saya tidak sudi. Saya lebih baik tidak bersuami. Apa enaknya punya suami seperti biawak," kata Dewi Indrawati ketus.

"Kencanawati, bagaimana?"

"Ayahanda, saya juga tidak sudi. Lebih baik mati daripada punya suami seperti buaya," jawab Dewi Kencanawati sinis.

"Bagaimana, Kusumawati?"

"Ayahanda, saya tidak bersedia. Saya pikir Bibi ini tidak tahu diri. Sudah tahu anaknya buruk rupa, berani melamar putri raja yang cantik-cantik. Kalau lamaran ditolak, itu salah sendiri. Pokoknya, saya tidak mau," jawab Dewi Kusumawati tegas.

"Nah, sekarang Patah?"

"Ayahanda, ampun beribu ampun. Meskipun anak Bibi ini seperti biawak, saya bersedia menerima lamarannya," kata Dewi Patah ramah.

"Patah, apa Ayah tidak salah dengar?"

"Tidak, Ayahanda. Saya menerima lamaran Jaka Menyawak ini setulus hati."

"Patah! Jangan sampai kau menyesal, Nak. Coba pikir masak-masak."

"Tidak, Ayahanda. Apa pun yang terjadi, saya siap menjalaninya."

Mendengar jawaban itu, Sri Baginda Raja tertegun. Lututnya terasa lemas. Demikian pula permaisurinya. Seluruh tubuhnya bermandi peluh. Gemetar! Mulutnya seperti terkunci. Dia tak mampu menyatakan perasaannya. Hanya air matanya yang mengalir membasahi pipinya. Perasaan penyesalan pun mewarnai pikirannya. Lain halnya dengan Nyi Rangda Kasiyan. Dia sangat lega mendengarnya. Kedua tangannya mengelus dada sambil mengucap syukur kepada Yang Mahakuasa.

"Kalau begitu, mari kita pindah ke pendapa."

"Dayang, katakan kepada prajurit jaga. Dia supaya menghubungi mahapatih, lurah tamtama, dan seluruh penggawa kerajaan," kata permaisuri.

Sri Baginda Raja dan Permaisuri masuk ke puri. Demikian pula Dewi Indrawati, Dewi Kencanawati, Dewi Kusumawati, dan Dewi Patah. Mereka ganti busana. Nyi Rangda Kasiyan dengan perasaan cemas menunggu di ruang tamu puri istana.

Sementara itu, mahapatih, lurah tamtama, dan para penggawa Kerajaan Majapahit memasuki pendapa. Mereka tidak tahu maksud Sri Baginda.

Tak lama kemudian, Sri Baginda Raja, Permaisuri, dan Nyi Rangda Kasiyan masuk ke pendapa. Dewi Indrawati dan ketiga adiknya ikut pula ke ruangan itu. Mahapatih, lurah tamtama, dan para penggawa memberi hormat. Baginda dan Permaisuri segera duduk. Nyi Rangda Kasiyan dan keempat putri Sri Baginda Raja segera duduk pula. Sri Baginda Raja segera memulai sabdanya.

"Mahapatih, aku menerima kedatangan Nyi Rangda Kasiyan. Maksud kedatangannya hendak melamar salah satu dari keempat putriku. Dan, yang bersedia menerima lamarannya ialah Dewi Patah. Kalian aku minta datang, akan kuajak bermusyawarah. Bagaimana baiknya menurut kalian."

"Sri Baginda Raja, hamba kira sebaiknya Paduka menentukan dulu persyaratan pinangan putri Paduka. Sanggup atau tidak Nyi Rangda Kasiyan dengan persyaratan itu. Setelah itu, kami akan memberikan masukan sebagai bahan pertimbangan."

"Baiklah! Aku ingin menyampaikan masalah ini kepada Nyi Rangda Kasiyan."

Sri Baginda ingin menyampaikan persyaratan pinangan yang berat. Maksudnya, agar Nyi Rangda Kasiyan tidak dapat memenuhinya.

"Silakan, Yang Mulia," kata Mahapatih.

"Bibi, lamaran putramu aku terima. Apakah Bibi sanggup memenuhi syarat pinangannya?"

"Ampun, Yang Mulia. Hamba sanggup memenuhi asalkan Paduka tidak minta bulan atau bintang."

"Itu hal yang tidak mungkin, Bibi! Permintaanku ini hal yang wajar. Akan tetapi, jika tidak dapat memenuhi, hukumannya berat. Hukum pancung."

"Hamba bersedia memenuhi, Yang Mulia. Jika terbukti hamba tidak dapat memenuhi pinangan putri Paduka, hamba siap menerima hukuman itu."

"Nyi Rangda, aku heran. Hukuman itu berat. Lehermu menjadi taruhan. Kalau tidak dapat memenuhi, lehermu dipotong, ditebas hingga putus," sahut salah seorang lurah tamtama.

"Hamba mengerti. Hamba sanggup!"

"Aku jadi heran. Padahal, permintaanku ini berat untuk dipenuhi orang sepertimu, Bibi. Coba pikir baik-baik," sahut Sri Baginda Raja.

"Sudah hamba pikir, Yang Mulia."

"Dengar baik-baik! Pinangannya, aku minta seperangkat alat tenun dari emas. Kemudian, aku minta tujuh buah lumbung penuh dengan padinya. Di samping itu, aku juga minta bermacam-macam kandang lengkap dengan ternaknya."

Mendengar itu Nyi Rangda Kasiyan gelagapan. Mahapatih, lurah tamtama, dan para penggawa iba melihatnya. Permaisuri senang mendengar persyaratan pinangan itu.

"Sanggup tidak, Bibi? Ini belum selesai."

"l-i-iya, sanggup!"

"Putramu harus mempunyai negeri sendiri yang sama luas dan besarnya dengan Kerajaan Majapahit. Ketika menjemput dan mengarak pengantin, jalan yang dilalui harus dihampari harta. Jalan harus dilandasi kain yang halus-halus. Pesta pernikahan harus dimeriahkan dengan hiburan dan bermacam-macam pertunjukan. Pengantin harus diusung dengan tandu atau jenis usungan yang indah. Benar, Bibi sanggup?"

"Sanggup!"

"Jika tidak bisa memenuhi, akan kupenggal lehermu," sahut lurah tamtama.

"Baik, Yang Mulia. Hamba sanggup memenuhi pinangan putri Paduka."

"Kalau begitu, segeralah pulang. Jika semua sudah siap, segera beri tahu kemari."

"Terima kasih, Yang Mulia. Hamba mohon pamit," kata Nyi Rangda Kasiyan sambil bersujud di hadapan Sri Baginda Raja.

Nyi Rangda Kasiyan segera meninggalkan pendapa istana Kerajaan Majapahit. Sri Baginda Raja tercengang melihatnya. Demikian pula Mahapatih dan seluruh penggawa kerajaan. Mereka meragukan kemampuan Nyi Rangda Kasiyan. Akan tetapi, Nyi Rangda Kasiyan sendiri sama sekali tidak memperlihatkan perasaan cemas sedikit pun. Dalam benak mereka bertanya-tanya, siapa sebenarnya Jaka Menyawak. Mampukah dia memenuhi pinangan Dewi Patah? Dapatkah dia menciptakan kerajaan seluas Kerajaan Majapahit?

•••










9.
KERAJAAN GERBANG TINATAR BERDIRI




Nyi Rangda Kasiyan berjalan tak henti-hentinya. Sejak keluar dari pendapa istana sampai di tengah perjalanan, pikirannya kacau. Jika yang teringat lamarannya diterima, dia sangat gembira. Akan tetapi, kalau yang teringat persyaratan pinangan, hukum pancung yang terbayang dalam benaknya. Akhirnya, dia berdoa kepada Yang Mahakuasa. Pikirannya yang kacau itu berangsur-angsur reda. Dia percaya bahwa Jaka Menyawak dapat memenuhi pinangan putri Majapahit yang dilamarnya.

"Bagaimana, berhasil, Mak?" Jaka Menyawak bertanya setelah Nyi Rangda Kasiyan sampai di rumah.

Nyi Rangda Kasiyan tidak menjawab. Dia langsung memeluk Jaka Menyawak. Dia tak dapat menahan tangisnya. Setelah melepaskan pelukannya lalu menceritakan semua persyaratan pinangan kepada Jaka Menyawak.

"Mak, sudahlah jangan menangis. Mak tidak usah khawatir. Doakan saja, semoga Tuhan mengabulkan cita-cita kita."

Nyi Rangda Kasiyan menganggukkan kepala. Lalu, dia pergi meninggalkan Jaka Menyawak. Dia pergi ke kamarnya hendak beristirahat. Jaka Menyawak memahami perasaan ibu angkatnya itu. Persyaratan pinangan putri raja Majapahit memang berat. Apabila Jaka Menyawak tidak dapat memenuhi pinangan itu, leher Nyi Rangda Kasiyan sebagai taruhannya.

Udara malam itu sangat dingin. Penduduk Desa Karangkelentang enggan meninggalkan rumah. Dingin udara malam itu membuat mereka cepat mengantuk. Nyi Rangda Kasiyan pun tertidur nyenyak. Tak lama kemudian, seluruh penduduk desa itu tertidur lelap. Desa itu menjadi sepi. Malam itu hanya Jaka Menyawak yang belum tidur. Dia terus membayangkan Kerajaan Majapahit; luasnya, besarnya, serta isinya. Dia bayangkan pula persyaratan pinangan calon istrinya. Dia memejamkan mata sambil berdoa. Dia memohon kebesaran Sang Pencipta. Dia hendak memanfaatkan Mestika Labu Cina pemberian Ki Ajar Kismayajati untuk menciptakan sebuah kerajaan.

Tiba-tiba terdengar bisikan di telinganya. "Pekik, tanggalkan kulitmu. Bawalah ke luar Mestika Labu Cina itu. Belahlah keduanya dengan kerismu!"


Jaka Menyawak segera melepaskan kulitnya. Dia berubah menjadi Raden Jaka Pekik, seorang pemuda sangat tampan. Kemudian, dia mengambil dua buah Mestika Labu Cina itu dan membawanya ke luar rumah. Dia berhenti di tengah halaman. Mestika Labu Cina itu diletakkan di tanah. Lalu, dia menghunus kerisnya. Sambil berdoa, kedua Mestika Labu Cina itu dibelahnya.


Sungguh merupakan suatu keajaiban. Jika Tuhan telah menghendaki sesuatu terjadi, terjadilah. Kerajaan yang dikehendaki Raden Jaka Pekik pun terwujud. Raden Jaka Pekik bersujud sambil mengucap syukur kepada Tuhan. Dia benar-benar kagum melihat keindahan istana kerajaan itu. Dia bayangkan istana kerajaan ayahandanya, Kerajaan Madenda. Istana itu jauh lebih megah. Raden Jaka Pekik diam sejenak. Dia memikirkan nama kerajaan itu. Akhirnya, kerajaan itu dia beri nama Gerbang Tinatar.

Raden Jaka Pekik semakin penasaran. Dia ingin tahu. Apakah Kerajaan Gerbang Tinatar itu sesuai dengan persyaratan pinangan calon istrinya? Dia putuskan untuk memeriksanya. Dia tertegun melihat kursi kebesaran. Kursi itu terbuat dari kayu jati yang diukir indah sekali. Dudukan kursi itu berlapiskan sutra berwarna-warni. Di bagian pinggirnya direnda dengan benang keemasan. Raden Jaka Pekik pindah ke puri istana. Di puri itu, tampak Nyi Rangda Kasiyan tidur nyenyak di atas kasur. Di dekat tempat tidur itu berdiri beberapa lemari pakaian. Semua lemari itu terbuat dari kayu jati yang diukir bagus sekali. Setelah selesai memeriksa di sekitar istana, Raden Jaka Pekik memeriksa yang lain. Raden Jaka Pekik tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Yang Mahakuasa. Semua yang diinginkannya terkabul. Kemudian, dia kembali ke puri istana. Dia cari kulitnya, lalu dipakainya lagi. Raden Jaka Pekik kembali menjadi Jaka Menyawak. Dia berjalan perlahan mendekati tempat tidur ibu angkatnya. Dia membaringkan badannya di lantai. Dia memejamkan mata sambil memuji kebesaran Tuhan. Sementara itu, Nyi Rangda Kasiyan bangun dari tidurnya. Dia kagum melihat kejadian itu. Dia merasa seperti bermimpi. Lalu, dia memanggil Jaka Menyawak.

"Menyawak! Apa saya ini mimpi, ya?" dia bertanya kepada dirinya.

"Mak tidak mimpi. Ini kenyataan," sahut Jaka Menyawak.


"Kenyataan?" ulang Nyi Rangda Kasiyan tak percaya. Dia bergegas turun dari tempat tidur. Dia berdiri di lantai, lalu bersujud. Dia memuji kebesaran Tuhan.

"Bagus, Mak! Kita wajib bersyukur kepada Tuhan. Doa kita dikabulkan."

"Benar, Nak! Doa kita dikabulkan Tuhan."

"Sebaiknya, Mak lekas mandi. Lalu, Mak ganti pakaian. Mak tinggal pilih pakaian yang Mak anggap bagus di lemari-lemari itu."

Nyi Rangda Kasiyan menuruti saran anaknya. Dia segera ke kamar mandi. Dia mandi pun tak berlama-lama. Kemudian, dia kembali ke kamar itu. Semua lemari dibukanya. Lemari-lemari itu penuh dengan pakaian yang bagus-bagus. Nyi Rangda Kasiyan memilih kebaya dan kain batik. Baju yang dipilih terbuat dari sutra berwarna biru muda. Kainnya berwarna kuning kecokelat-cokelatan. Batik tulis asli buatan Cirebon. Setelah dipakai, Nyi Rangda Kasiyan tampak lebih muda dari sebelumnya.

"Nak, aku mau pergi ke Majapahit. Sri Baginda Maharaja pasti menunggu jawaban kita."

"Sebaiknya begitu, Mak! Hati-hati di jalan, ya, Mak!"

Nyi Rangda Kasiyan segera pergi meninggalkan Jaka Menyawak. Kini langkahnya lebih mantap. Dia yakin kalau cita-cita Jaka Menyawak akan menjadi kenyataan.

Sementara itu, Sri Baginda Maharaja Majapahit sedang berada di pendapa. Mahapatih dan para penggawa berkumpul di pendapa itu. Permaisuri Sri Baginda Maharaja dan keempat putrinya hadir pula di tempat itu.

"Mahapatih, menurutmu bagaimana kesanggupan Nyi Rangda Kasiyan? Mungkinkah dia mampu memenuhi persyaratan pinangan putriku?" tanya Sri Baginda Maharaja.

"Ampun, Sri Baginda. Kalau melihat keadaan Nyi Rangda Kasiyan ketika datang, hamba meragukan kemampuannya. Akan tetapi, kalau melihat keberaniannya, mungkin saja dia mampu memenuhi persyaratan pinangan putri Paduka."

Sri Baginda Maharaja tertegun mendengar jawaban itu. Dia membenarkan pendapat Mahapatih. Para penggawa pun tampaknya berpendapat demikian.

"Patah, bagaimana menurutmu, Nak?"

"Ayahanda, saya siap menerima Jaka Menyawak. Apalagi dia dapat memenuhi persyaratan yang Paduka minta," jawab Dewi Patah sambil melirik ketiga kakaknya.

Dewi Indrawati, Dewi Kusumawati, dan Dewi Candrawati mencibirkan bibir. Mereka mengejek Dewi Patah. Mereka tak suka dengan pilihan adiknya itu. Mereka menganggap pilihan itu tidak sesuai. Dewi Patah cantik jelita, sedangkan calon suaminya seperti buaya. Sri Baginda Maharaja pun menyesali pilihan putri bungsunya itu. Mengapa dia memilih Jaka Menyawak sebagai calon suaminya.

Belum sempat pembicaraan Sri Baginda Maharaja dengan para penggawa selesai, seorang prajurit datang menghadap.

"Prajurit, ada apa?" tanya Mahapatih ingin tahu.

"Ampun, Yang Mulia. Ada seorang wanita ingin menghadap Sri Baginda Maharaja."

"Suruh dia masuk," perintah Mahapatih kepada prajurit.

Prajurit itu segera keluar. Wanita yang dimaksud prajurit itu masuk ke pendapa. Sri Baginda Maharaja, Mahapatih, dan seluruh penggawa tertegun melihat tamu itu. Mereka hampir tak mengenal kalau wanita itu Nyi Rangda Kasiyan.

"E ..., Nyi Rangda, silakan duduk!" pinta Mahapatih ramah.

"Terima kasih," jawab Nyi Rangda Kasiyan sambil memberi hormat.

"Sri Baginda, Nyi Rangda Kasiyan menghadap," kata Mahapatih sambil memberi hormat.

"Bibi, selamat datang. Bagaimana dalam perjalan? Baik-baik saja, 'kan?"

"Doa restu Paduka, hamba selamat."

"Bagaimana mengenai persyaratan pinangan putriku, Bibi?"

"Semua sudah siap, Sri Baginda."

"Sudah siap?" Sri Baginda Maharaja mengulang jawaban itu.

"Benar, Yang Mulia."

Sri Baginda Maharaja dan semua yang hadir di pendapa itu heran. Nyi Rangda Kasiyan ternyata mampu memenuhi persyaratan pinangan Dewi Patah.

"Kalau begitu, Bibi segera menyiapkan penjemputan putriku. Besok pagi kami menunggu di sini. Bagaimana, Bibi setuju?"

"Terima kasih, Yang Mulia. Hamba setuju. Pesta perayaan ini lebih cepat lebih baik."

"Bagus! Aku pun berpikir demikian. Sekarang Bibi sebaiknya segera kembali ke Karangkelentang."


"Maaf, Yang Mulia. Negeri kami bernama Gerbang Tinatar, bukan Karangkelentang."

"Oh, ya? Nama negerimu bagus sekali. Supaya dapat segera mempersiapkan perayaan pernikahan anak kita, Bibi segera kembali ke Gerbang Tinatar. Kami juga akan segera menyiapkan pesta perayaan ini."

"Baik, Sri Baginda. Hamba mohon diri."

"Hati-hati di jalan, Bibi!"

Nyi Rangda Kasiyan memberi hormat. Lalu, dia meninggalkan pendapa itu. Sri Baginda Maharaja terus memandangi Nyi Rangda Kasiyan. Tak lama kemudian, wanita itu lenyap dari pandangan matanya.

"Mahapatih dan semua penggawa istana, aturlah agar penjemputan putriku berjalan dengan baik. Seusai pertemuan ini, kalian dapat segera memulainya."

"Baik, Yang Mulia. Kami siap melaksanakan titah Paduka."

Sri Baginda Maharaja meninggalkan pendapa. Dia berjalan bergandengan tangan dengan permaisurinya. Dewi Indrawati, Dewi Kusumawati, dan Dewi Candrawati juga keluar dari pendapa. Mereka berjalan di belakang kedua orang tuanya. Hanya Dewi Patah yang tinggal di pendapa itu. Dia menangis tersedu-sedu karena ketiga kakaknya selalu mengejeknya. Mahapatih dan para penggawa mengerumuninya. Lalu, mereka memberi nasihat dan memintanya agar segera mempersiapkan diri.

•••










10.
RADEN JAKA PEKIK JADI REBUTAN




Ketika Nyi Rangda Kasiyan ke Majapahit, Jaka Menyawak berada di Istana Gerbang Tinatar. Dia sedang memikirkan persiapan penjemputan calon istrinya, Dewi Patah. Untuk melaksanakan rencana itu, dia merasa kesulitan. Dia memerlukan bantuan orang lain. Dia teringat pesan Ki Ajar Kismayajati, gurunya. Jika dalam keadaan terpaksa, Jaka Menyawak diizinkan melepaskan kulitnya. Dia teringat pula bahwa sarung kerisnya pun dapat membantu jika diperlukan.

Jaka Menyawak memejamkan mata sambil memohon kepada Tuhan. Dia hendak melepaskan kulitnya. Doanya dikabulkan. Jaka Menyawak berubah menjadi Raden Jaka Pekik. Kemudian, dia mengambil kerisnya. Sambil berdoa, sarung keris itu dibantingnya ke lantai. Seketika itu juga muncullah Saraganja dan Saraganji. Wajah kedua orang itu tidak seburuk ketika mereka membawa Mestika Labu Cina. Wajah mereka seperti prajurit kembar. Bentuk wajah mereka hampir sama. Besar dan tinggi tubuh mereka pun sama.

"Saraganja, siapkan kereta kencana lengkap dengan kuda dan kusirnya!" perintah Raden Jaka Pekik ramah.

"Baik, Raden!"

"Tugas hamba apa, Den?" tanya Saraganji.

"Kamu siapkan semua hiburan yang ada di negeri ini. Pasang panji-panji kebesaran di setiap pojok istana. Pasang pula umbul-umbul di sepanjang jalan Gerbang Tinatar."

"Baik, Den!"

"Kalian jangan kerja sendiri. Kalian minta bantuan prajurit yang lain. Suruh mereka membantu kalian."

"Baik, Raden!" jawab mereka serentak.

Saraganja dan Saraganji segera melaksanakan tugas itu. Para prajurit dan penduduk Gerbang Tinatar giat membantu mereka. Tak berselang lama, kereta kencana lengkap dengan kuda dan kusirnya telah siap di halaman puri istana. Panji-panji kebesaran kerajaan dipasang di setiap pojok istana. Umbul-umbul dipasang orang di pinggir-pinggir jalan. Para prajurit dan penduduk terus membantu persiapan perayaan itu. Mereka tampak lalu-lalang, sibuk dengan tugas mereka masing-masing.

Ketika orang-orang sibuk menyiapkan rencana perayaan itu, Raden Jaka Pekik memakai kulitnya. Dia berubah menjadi Jaka Menyawak lagi. Tak lama kemudian, Saraganja dan Saraganji kembali ke istana. Mereka segera melaporkan persiapan perayaan itu kepada Jaka Menyawak.

"Bagaimana, semua sudah kalian siapkan?”

"Sudah, Den! Para prajurit dan penduduk giat membantu persiapan ini," jawab Saraganji.

"Bagus! Tugas kalian sekarang berjaga di sekitar istana ini. Laporkan jika ada yang tidak beres."

"Baik, Den!" jawab Saraganja seraya memberi hormat.

Suasana di istana Gerbang Tinatar sepi kembali. Akan tetapi, di sepanjang jalan para penduduk masih tampak lalu lalang. Di antara mereka ada yang memasang umbul-umbul. Ada pula yang pergi ke sanggar-sanggar tari. Tak lama kemudian, di sanggar-sanggar tari itu terdengar suara gamelan ditabuh orang. Semua penduduk akhirnya tahu bahwa di Gerbang Tinatar akan diselenggarakan pesta pernikahan calon pemimpinnya.

Ketika itu perjalanan Nyi Rangda Kasiyan sampai di wilayah Gerbang Tinatar. Dia heran melihat para prajurit dan penduduk menyiapkan rencana perayaan. Dalam benaknya, bertanya-tanya, Siapa yang menyuruh, ya? Dia heran karena belum ada orang yang tahu rencana perayaan itu.

Nyi Rangda Kasiyan berjalan cepat. Setelah sampai di halaman pendapa istana, dia menemui Saraganja dan Saraganji yang ketika itu sedang berjaga.

"Siapa yang menyuruh kalian jaga di sini?"

"Raden Jaka Menyawak!" jawab Saraganja ramah.

"Siapa? Raden?" ulang dalam hatinya.

"Jaka Menyawak," sahut Saraganji menegaskan.

"O .... Lalu, kalian ini siapa, Nak?"

"Saya Saraganja dan ini Saraganji."

"Kok wajah kalian tidak buruk seperti waktu baru datang?"

"Benar, Nyi," Saraganja tidak dapat menjelaskan.

Nyi Rangda Kasiyan senang sekali mendengar keterangan Saraganja dan Saraganji. Dia dapat menduga bahwa persiapan perayaan itu Jaka Menyawak yang mengaturnya. Saraganja dan Saraganji yang diminta membantunya.

"Bagaimana, Mak? Kapan kita harus menjemput Dewi Patah?" tanya Jaka Menyawak ketika Nyi Rangda Kasiyan sampai di istana.

"Besok pagi, Nak!"

"Kalau begitu, kita harus berangkat sore ini, Mak."

"Ya, supaya tepat waktu."

"Sekarang, Mak istirahat. Biar saya yang mengatur keberangkatan sore nanti. Kalau sudah siap, nanti Mak diberi tahu," kata Jaka Menyawak sambil ke luar istana. Dia hendak menemui Saraganja dan Saraganji.

"Bagaimana, Den?" tanya Saraganja setelah melihat Jaka Menyawak berada di dekatnya.

"Kita harus berangkat sore nanti. Sri Baginda Maharaja menunggu penjemputan putrinya besok pagi."

"Apa tugas kami, Den?" tanya Saraganja.

"Kalian hubungi prajurit. Perintahkan supaya segera menghubungi pengawal pengantin. Perintahkan pula agar semua penduduk menyalakan lampu di sepanjang jalan. Jalan ke istana ini tolong dilapisi permadani."

"Apa lagi, Den?" sahut Saraganji.

"Perintahkan kepada prajurit agar menyiapkan semua kesenian. Beri tahukan agar kedatangan pengantin putri besok sore disambut dengan tari-tarian. Kesenian itu supaya ditampilkan sampai menjelang malam. Kemudian, malam harinya diadakan pertunjukan wayang kulit. Setelah selesai memberitahukan kepada prajurit, tugas kalian mengawal rombongan ke Majapahit."

"Baik, Den!" sahut Saraganja dan Saraganji bersamaan.

Ketika itu matahari sudah bergeser ke barat. Para penggawa desa telah berkumpul d halaman istana. Tampak Nyi Rangda Kasiyan berada di antara mereka. Tokoh-tokoh masyarakat pun telah hadir di halaman itu. Saraganja dan Saraganji telah kembali dari menghubungi prajurit. Tampak mereka memberi aba-aba kusir agar menempatkan kereta kencana di depan. Kemudian, di belakangnya para penggawa desa dan tokoh masyarakat. Tak lama kemudian, rombongan penjemput calon pengantin itu bergerak meninggalkan halaman istana.

Sementara itu, di Majapahit para penggawa juga sibuk menyiapkan persiapan pesta perayaan. Dari sore hingga pagi mereka berkumpul di pendapa istana. Dewi Patah pagi itu telah dirias, cantik sekali. Sri Baginda Maharaja dan Mahapatih mengenakan pakaian kebesaran. Para penggawa kerajaan memakai pakaian seragam kerajaan. Para tokoh masyarakat ikut berkumpul di halaman pendapa. Mereka juga mengenakan pakaian seragam batik.

Perjalanan rombongan dari Gerbang Tinatar telah sampai di wilayah Majapahit. Saraganja dan Saraganji tampak berada di depan. Kereta kencana berjalan di belakangnya. Berikutnya para penggawa desa dan tokoh masyarakat. Rombongan itu mulai memasuki halaman istana Kerajaan Majapahit. Nyi Rangda Kasiyan langsung menghadap Sri Baginda Maharaja.

"Selamat datang, Bibi! Aku senang Bibi datang tepat waktu," kata Sri Baginda Maharaja ramah.

"Terima kasih, Yang Mulia."

"Mahapatih, bawa rombongan Gerbang Tinatar ke pendapa. Setelah ramah-tamah, kita segera berangkat ke Gerbang Tinatar. Perintahkan kepada prajurit agar mempersiapkan rombongan kita. Serahkan pengaturannya kepada lurah tamtama."

"Baik, Yang Mulia."

Ramah-tamah pun usailah sudah. Kedua rombongan siap berangkat ke Gerbang Tinatar. Dewi Patah didampingi Sri Baginda Maharaja dan permaisurinya. Mereka naik kereta kencana dari Gerbang Tinatar. Dewi Indrawati dan kedua adiknya, Dewi Kusumawati dan Dewi Candrawati naik kereta kencana Kerajaan Majapahit. Tak lama kemudian, kedua rombongan itu mulai bergerak meninggalkan halaman istana.

Iring-iringan rombongan Gerbang Tinatar dan Majapahit itu panjang sekali. Paling depan tampak kereta kencana yang dikendarai oleh Dewi Patah, Sri Baginda Maharaja, dan Permaisuri. Di belakangnya, kereta kencana yang dikendarai Dewi Indrawati, Dewi Kusumawati, dan Dewi Candrawati. Mahapatih dan para penggawa membentuk pasukan berkuda mengiringkan kereta kencana. Di tengah iring-iringan itu barisan musik. Berikutnya para pengiring pengantin dari kedua negara. Paling belakang adalah barisan prajurit pengawal.

Meskipun perlahan, kedua rombongan itu akhirnya sampai di Gerbang Tinatar. Rombongan itu berhenti di halaman istana. Di halaman itu penyambutan kesenian dilakukan. Penyambutan tamu yang pertama adalah tari-tarian. Disusul dengan penampilan lawak dan topeng. Seusai penyambutan, hidangan pun telah disiapkan di pendapa. Dewi Patah diiringkan Sri Baginda Maharaja dan Permaisuri masuk ke pendapa. Mahapatih dan para penggawa berjalan di belakang mereka.

Setelah mereka beramah-tamah, acara pernikahan pun berlangsung. Acara demi acara berjalan lancar. Orang-orang yang menyaksikan acara itu hampir semua bersedih. Mereka kasihan kepada Dewi Patah. Dia mendapat suami seperti biawak atau buaya.

Di luar pendapa, berbagai kesenian digelar orang. Yang paling banyak dilihat orang adalah tari dan lawak. Pertunjukan tari banyak menarik perhatian orang karena tariannya bagus dan penarinya cantik-cantik. Pertunjukan lawak juga banyak dilihat orang karena lawakannya bagus. Seusai acara pernikahan, rombongan dari Majapahit pun menyaksikan tari-tarian dan lawak itu. Tepuk tangan dan gelak tawa penonton semakin ramai. Kedua pertunjukan itu baru berhenti menjelang matahari terbenam.

Malam harinya pertunjukan wayang kulit digelar di halaman istana. Sejak sore para penduduk berdatangan ke tempat itu. Pertunjukan itu juga banyak peminatnya. Di samping pemain musik gamelannya muda-muda, dalang yang ditampilkan pun dalang muda yang sudah kondang.

Menjelang pertunjukan dimulai, datang seorang pemuda tampan ke arena itu. Dia langsung berbaur dengan pemain musik dan duduk menggantikan pemain gendang. Kedatangan pemuda itu membuat penonton bertambah banyak. Pemuda itu sangat pandai memainkan gendang. Banyak pula gadis yang terpikat oleh ketampanan pemuda itu. Di antaranya adalah putri raja Majapahit: Dewi Indrawati, Dewi Kusumawati, dan Dewi Candrawati.

Mengetahui Dewi Patah juga menyaksikan pertunjukan, pemuda itu menyerahkan gendang kepada orang yang berada di dekatnya. Dia bermaksud hendak segera kembali ke puri istana. Akan tetapi, pemuda itu dicegat oleh Dewi Indrawati, Dewi Kusumawati, dan Dewi Candrawati.

Pemuda itu berhasil ditangkap lalu dibawa ke puri istana. Mengetahui perbuatan ketiga kakaknya itu, Dewi Patah cepat-cepat kembali ke puri istana. Di puri istana mereka bertemu dengan Dewi Patah. Pemuda itu berusaha melepaskan tangan ketiga gadis yang menangkapnya. Dia memandang Dewi Patah sebentar lalu berlari ke kamar. Tak lama kemudian, pemuda itu menghampiri Dewi Patah.

"Dewi, kau tahu bajuku."

"Baju? Di kamar itu tidak ada bajumu. Yang kutemukan kulit biawak."

"Itu bajuku, Dewi! Di mana sekarang?"

"Sudah kubakar habis."

"Ya sudahlah! Mungkin ini sudah takdir."

"Berarti?" Dewi Patah terperanjat.

"Benar, Dinda. Kalau kupakai baju itu, yang tampak Jaka Menyawak. Akan tetapi, kalau baju itu kulepas yang Dinda lihat, aku, Raden Jaka Pekik."

Dewi Patah langsung memeluk Raden Jaka Pekik erat-erat. Dewi Indrawati, Dewi Kusumawati, dan Dewi Candrawati geram melihatnya. Mereka merasa tersaingi keinginannya menjadi kekasih Raden Jaka Pekik. Meskipun tahu Jaka Pekik adalah Jaka Menyawak, mereka tak peduli lagi. Akhirnya, tangan Dewi Patah ditariknya keras-keras.

Raden Jaka Pekik menjadi rebutan


"Patah! Kamu ini perempuan apa? Tak tahu malu!" seru Dewi Indrawati.

"Kanda Dewi! Ampun, Kanda. Apa salah Dinda?"

"Kamu sudah bersuami. Suamimu biawak, binatang! Kenapa tertarik dengan pemuda ini? Kamu tahu, ini kekasihku."

Pertengkaran itu semakin seru. Tak puas dengan kata-kata, Dewi Indrawati menampar pipi Dewi Patah. Raden Jaka Pekik berusaha melerai. Namun, dia dihalangi Dewi Kusumawati dan Dewi Indrawati. Dewi Indrawati terus berusaha menampar muka Dewi Patah. Akan tetapi, Dewi Patah dapat mengelak. Lama-lama Dewi Indrawati seperti kesetanan. Muka Dewi Patah ditampar sekeras-kerasnya dan mengena. Menjeritlah Dewi Patah. Semua orang yang berada di puri istana terkejut mendengar jeritan itu.

"Ada apa, Den!" tanya Saraganja yang lebih cepat datang ke tempat itu.

"Bagus! Kalian segera datang. Lekas laporkan kepada Sri Baginda Maharaja. Biar beliau yang mengadili perkara ini."

"Baik, Den!"

"Saraganji, ajak beberapa prajurit pengawal. Kawallah kami. Sekarang kami akan ke pendapa."

"Baik, Den!"

Raden Jaka Pekik dan Dewi Patah berjalan duluan. Dewi Indrawati, Dewi Kusumawati, dan Dewi Candrawati berjalan mengikuti mereka. Di pendapa itulah mereka menunggu pengadilan Sri Baginda Maharaja. Orang-orang pun semakin penasaran. Mereka ingin menyaksikan Raden Jaka Pekik diadili.

•••










11.
RADEN JAKA PEKIK DIHUKUM PANCUNG




Suasana di pendapa istana Gerbang Tinatar terasa tegang. Raden Jaka Pekik dengan gelisah menunggu hukuman Sri Baginda Maharaja. Dia merasa malu karena dialah penyebabnya. Dewi Patah merasa cemas. Dia menyesali perbuatan ketiga kakaknya, Dewi Indrawati, Dewi Kusumawati, dan Dewi Candrawati. Kini mereka menunggu kedatangan Sri Baginda Maharaja. Tak lama kemudian, Sri Baginda Maharaja pun memasuki ruangan itu.

"Ada apa, Patah?" tanya Sri Baginda sambil duduk di pendapa itu.

Dewi Patah tidak menjawab. Dia menangis semakin keras. Dewi Indrawati, Dewi Kusumawati, dan Dewi Candrawati bungkam. Mulut mereka seperti terkunci.

"Pemuda ini siapa?"

"Ampun, Yang Mulia. Hamba Jaka Pekik. Sebenarnya, hambalah penyebab keributan ini."

"Masalahnya?"

"Mereka menganggap bahwa hamba ini bukan Jaka Menyawak. Padahal, sebenarnya mereka sudah tahu. Perlu Paduka ketahui bahwa hamba berupa Jaka Menyawak karena hamba memakai baju atau kulit biawak. Setelah Tuhan mengabulkan hamba dapat melepaskan baju itu, hamba berubah rupa seperti ini. Akan tetapi, ketiga putri Paduka tetap menginginkan hamba menjadi kekasihnya. Tentu saja Dinda Dewi Patah tak mau mengalah."

"Kulit biawak itu mana?"

"Sudah kubakar, Ayahanda," sahut Dewi Patah.

"Kalau begitu, aku akan menghukum Jaka Pekik," kata Sri Baginda Maharaja.

"Jangan, Ayahanda. Kanda bertiga yang bersalah," sahut Dewi Patah.

"Demi keadilan, Jaka Pekik tetap akan kujatuhi hukuman."

Semua orang yang berada di pendapa bungkam. Mereka cemas mendengar putusan itu. Sri Baginda Maharaja memberi isyarat kepada seorang algojo agar mendekat.

"Demi keadilan, Jaka Pekik kujatuhi hukum pancung. Algojo, laksanakan!"

"Jangan, Ayahanda! Aku tidak setuju! Yang bersalah Kanda bertiga, Ayah!" kata Dewi Patah sambil menangis.

"Jaka Pekik, bersiaplah! Ini sudah menjadi keputusanku," kata Sri Baginda Maharaja tidak menghiraukan kata-kata Dewi Patah.

Raden Jaka Pekik dihukum pancung (dipenggal lehernya)


Raden Jaka Pekik membaringkan badannya di lantai. Algojo itu mendekat. Lalu, ia menghunus pedangnya. Leher Raden Jaka Pekik ditebasnya dengan pedang itu. Dengan sekali tebas, putuslah lehernya. Darah pun menyembur membasahi lantai.

Melihat Raden Jaka Pekik terkapar, Dewi Patah, Dewi Indrawati, Dewi Kusumawati, dan Dewi Candrawati pingsan. Para penggawa dan prajurit yang berada di pendapa tertegun. Mereka tak tahu mengapa Sri Baginda Maharaja menjatuhkan hukuman itu. Mereka bungkam. Orang-orang yang berada di pendapa pun bubar seketika.

Orang-orang yang meninggalkan pendapa, di luar bercerita kepada orang lain. Salah satu yang mereka ajak bicara adalah Dewi Rara Ujum dan Raden Selamaya. Mendengar Raden Jaka Pekik akan dihukum pancung, Dewi Rara Ujum mengajak Raden Selamaya ke pendapa.

Sesampainya di pendapa, Dewi Rara Ujum tertegun melihat Raden Jaka Pekik terkapar di lantai. Dewi Rara Ujum teringat azimat pemberian Ki Ajar Mustakim berupa Cempaka Mulia. Sambil meraba azimat itu dia menatap wajah Raden Jaka Pekik tak berkedip.

Tak lama kemudian, Dewi Patah mulai siuman. Dewi Indrawati, Dewi Kusumawati, dan Dewi Candrawati siuman pula. Mereka masih tampak lemas. Dewi Patah menangis lagi setelah melihat jenazah Raden Jaka Pekik masih tergeletak di dekatnya. Sri Baginda Maharaja tak sedikit pun memperlihatkan rasa kasihan kepada keempat putrinya itu.

Melihat Dewi Patah tampak lemas dan terus menangis, Dewi Rara Ujum mendekat.

"Kanda Dewi, tenanglah! Perkenalkan, saya adik Kanda Jaka Pekik. Tenanglah, Kanda! Nanti saya bantu," bisik Dewi Rara Ujum kepada Dewi Patah.

"Terima kasih, Dinda," bisik Dewi Patah pula.

"Nah, demi keadilan, kematian Jaka Pekik ini kujadikan sayembara. Siapa di antara kalian yang dapat menghidupkan akan kunikahkan dengan Jaka Pekik."

"Ampun, Ayahanda. Saya menyerah," sahut Dewi Indrawati.

"Ayahanda, saya tidak mampu. Maafkan saya, Ayahanda," kata Dewi Kusumawati.

"Candrawati, cobalah, Nak!"

"Saya juga tidak mampu, Ayahanda."

Dewi Rara Ujum memberikan azimatnya kepada Dewi Patah. Dia segera memberitahukan cara penggunaannya. Dewi Patah mulai tampak tegar. Dia memohon kepada Yang Mahakuasa semoga niat baik Dewi Rara Ujum menjadi kenyataan.

"Patah, sekarang giliranmu!"

"Ayahanda, saya mohon doa restu. Semoga Kanda Jaka Pekik yang telah ditakdirkan menjadi jodoh saya dapat hidup kembali."

Dewi Patah segera mengusapkan Cempaka Mulia itu ke wajah Raden Jaka Pekik. Keajaiban pun terjadi. Lehernya yang putus tersambung lagi. Tak lama kemudian, tangan dan kakinya dapat bergerak. Akhirnya, Raden Jaka Pekik dapat bangun. Dia langsung bersujud di hadapan Sri Baginda Maharaja. Dia tampak seperti bangun tidur.

Raden Jaka Pekik hidup kembali setelah ditolong oleh Dewi Patah atas bantuan Dewi Rara Ujum.


"Patah, syukur Tuhan melindungi Jaka Pekik. Sekarang aku percaya! Raden Jaka Pekik memang jodohmu, Nak."

"Terima kasih, Ayah!"

"Mulai sekarang, aku doakan semoga kalian berbahagia."

Mendengar kata-kata itu, Dewi Patah memeluk Raden Jaka Pekik. Dewi Indrawati sangat malu. Dia mengajak Dewi Kusumawati dan Dewi Candrawati pergi. Mereka semakin kesal dengan Dewi Patah dan Raden Jaka Pekik. Mereka meninggalkan pendapa tanpa permisi kepada Sri Baginda Maharaja.

Sri Baginda Maharaja keluar dari pendapa diikuti para penggawa dan pengawal. Dia bermaksud mencegah kepergian ketiga putrinya. Akan tetapi, ketiga putri telah berlari dan pergi entah ke mana. Sri Baginda Maharaja berusaha mencegah karena malam sudah larut. Akhirnya, dengan rasa khawatir Sri Baginda Maharaja membiarkan ketiga putrinya pergi.

Di pendapa itu, Raden Jaka Pekik sangat bahagia. Di samping Dewi Patah resmi menjadi istrinya, dia dapat bertemu dengan Dewi Rara Ujum, adiknya. Mereka berpelukan. Kemudian, Raden Jaka Pekik mengajak Dewi Patah dan Dewi Rara Ujum ke puri istana. Di puri itu, Dewi Rara Ujum memperkenalkan Raden Selamaya kepada Raden Jaka Pekik. Raden Jaka Pekik bergembira setelah tahu Raden Selamaya telah menjadi suami adiknya.

Sementara itu, perjalanan Dewi Indrawati telah sampai di luar wilayah Gerbang Tinatar. Dia bersama kedua adiknya merencanakan akan menggempur Gerbang Tinatar. Mereka mencari bala bantuan ke Desa Kerangdan. Mereka bermaksud hendak meminta bantuan Jaka Hermaya dan Jaka Tampingan. Kedua pemuda itu di samping tampan juga terkenal sakti. Usaha mereka tak sia-sia karena kedua pemuda itu menyanggupi permintaan Dewi Indrawati. Akhirnya, kedua pemuda itu segera diajak ke Gerbang Tinatar.

Di puri istana Gerbang Tinatar, Raden Jaka Pekik sedang bercakap-cakap dengan Raden Selamaya. Dewi Patah tampak sedang bercakap-cakap dengan Dewi Rara Ujum. Saraganja dan Saraganji bersiaga di halaman puri itu. Mereka melihat ada seorang prajurit berlari menghampirinya.

"Prajurit, ada apa?" tanya Saraganja.

"Ada musuh menyerang Gerbang Tinatar!"

"Musuh?"

"Benar! Musuh itu dipimpin oleh dua orang pemuda. Sambil merusak apa saja yang mereka lalui. Mereka berteriak-teriak sambil menantang Raden Jaka Pekik."

"Baiklah! Kamu kumpulkan prajurit Gerbang Tinatar. Akan tetapi, kalian jangan bertindak gegabah. Tunggu perintahku! Saya akan segera melapor kepada Raden Jaka Pekik," kata Saraganja sambil berlari meninggalkan prajurit itu.

"Saraganja, ada apa?" tanya Raden Jaka Pekik setelah melihat Saraganja datang menghadap.

"Ampun, Den! Ada musuh datang di wilayah Gerbang Tinatar."

"Musuh?"

"Benar, Den. Musuh itu dipimpin dua orang pemuda. Prajuritnya banyak. Akan tetapi, mereka menantang Raden."

"Baiklah! Kamu pilih prajurit yang hebat. Nanti kita hadapi bersama."

"Maaf, Kanda. Boleh saya membantu menghadapi mereka?" tanya Raden Selamaya.

"Boleh! Saya senang! Kebetulan musuh itu dipimpin oleh dua orang pemuda. Kita dapat melawan satu per satu."

Jaka Hermaya dan Jaka Tampingan berjalan menuju ke alun-alun Gerbang Tinatar. Prajurit pengawalnya banyak sekali. Prajurit-prajurit itu tampak urakan. Pagar-pagar di sepanjang jalan yang mereka lalui dirusak. Tak lama kemudian, sampailah mereka di alun-alun. Raden Jaka Pekik dan Raden Selamaya telah menghadang mereka di alun-alun itu.

"Hai, Jaka Pekik! Perkenalkan sebelum kupenggal lehermu. Aku Jaka Hermaya dan ini Jaka Tampingan."

"Sebentar, Jaka Hermaya! Kalau boleh tahu, mengapa kalian datang-datang menantangku? Masalahnya apa?"

"Tak usah banyak tanya, Pekik! Kalau kamu takut, menyerahlah! Serahkan Dewi Patah dan Gerbang Tinatar ini menjadi milikku."

"Jaka Hermaya dan Jaka Tampingan, saya heran. Kalian ini berwajah tampan. Akan tetapi, kelakuan kalian menjijikkan. Perempuan sudah beristri masih juga kauharapkan. Pagar dan tanaman yang tidak bersalah kalian rusak."

"Apa peduliku! Kalau takut, cepat serahkan Dewi Patah dan Gerbang Tinatar kepadaku."

"Baiklah! Tantangan kalian kuterima. Sebelum kalian berlutut, perkenalkan ini adik saya, Raden Selamaya."

"Kebetulan! Kita perang tanding."

Jaka Hermaya menghadapi Raden Jaka Pekik. Jaka Tampingan berhadapan dengan Raden Selamaya. Mereka bertanding disaksikan oleh prajurit pengawal. Raden Jaka Pekik dan Raden Selamaya terus waspada. Mereka mengawasi gerak-gerik Jaka Hermaya dan Jaka Tampingan. Tiba-tiba Jaka Hermaya menendang Raden Jaka Pekik. Akan tetapi, tendangannya dapat ditepis. Jaka Hermaya terjatuh. Jaka Tampingan memukul wajah Raden Selamaya. Serangannya juga dapat ditangkis. Para prajurit Gerbang Tinatar bersorak-sorak sambil melompat-lompat.

Perang tanding itu semakin seru. Raden Jaka Pekik dapat menandingi Jaka Hermaya. Demikian pula Raden Selamaya, dia juga mampu menghadapi Jaka Tampingan. Keempat orang itu benar-benar hebat. Keempat-empatnya lincah. Di samping itu mereka sama-sama tahan pukul dan senjata tajam. Para prajurit terpukau melihat kebolehan mereka. Perang tanding itu berlangsung sangat lama, tetapi tak satu pun di antara mereka yang kalah.

Di alun-alun itu semakin banyak orang. Di samping para prajurit, para penduduk pun berdatangan ke tempat itu. Mereka bermaksud hendak memberikan bantuan. Akhirnya, para penduduk mengetahui bahwa di alun-alun Gerbang Tinatar sedang terjadi perang tanding antara Raden Jaka Pekik melawan Jaka Hermaya. Berita itu pun sampai ke telinga para pemimpin Kerajaan Majapahit, yang ketika itu belum meninggalkan Gerbang Tinatar. Sri Baginda Maharaja meminta Mahapatih agar perang tanding itu segera dihentikan. Mahapatih dengan dikawal para prajurit segera pergi ke alun-alun.

"Berhenti!" seru Mahapatih setelah memasuki arena perang tanding itu.

Raden Jaka Pekik dan Jaka Hermaya menghentikan perang tanding itu. Demikian pula Raden Selamaya dan Jaka Tampingan; mereka juga menghentikan perkelahian mereka.

"Sudah, Nak! Hentikanlah perang tanding kalian. Sekarang, mari kita ke pendapa. Ajaklah para prajurit kalian. Sri Baginda Maharaja menunggu kalian di sana."

Mahapatih berjalan duluan. Raden Jaka Pekik, Raden Selamaya, Jaka Hermaya, dan Jaka Tampingan berjalan mengikuti Mahapatih. Para prajurit berjalan di belakang mereka. Tak lama kemudian, mereka sampai di pendapa. Sri Baginda Maharaja telah menunggu agak lama.

"Silakan duduk!" perintah Sri Baginda Maharaja.

Mahapatih dan Raden Jaka Pekik duduk berhadapan dengan Sri Baginda Maharaja. Raden Selamaya, Jaka Hermaya, dan Jaka Tampingan duduk di belakang mereka.

"Ananda, laporkan kejadian ini!" pinta Sri Baginda kepada menantunya.

"Terima kasih, Yang Mulia. Hamba didatangi oleh Jaka Hermaya dan Jaka Tampingan. Kedua pemuda ini menantang perang tanding. Kalau hamba tidak melayani, Dinda Patah dan Negeri Gerbang Tinatar agar diserahkan kepada mereka."

"Benar begitu, Jaka Hermaya?"

"Ampun, Yang Mulia. Hamba sebenarnya tidak bermaksud demikian."

"Lalu, apa maksudmu?" desak Sri Baginda Maharaja.

"Hamba berdua dimintai bantuan oleh ketiga putri Paduka, Yang Mulia."

"Apa jaminannya kalau kalian menang?"

"Hamba tidak meminta jaminan, Yang Mulia."

"Baik! Aku mengerti maksudmu. Kalau begitu, aku yang akan memutuskannya. Kalian setuju?"

"Hamba setuju, Yang Mulia," jawab Jaka Hermaya.

"Agar masalah ini beres, Jaka Hermaya kujodohkan dengan Dewi Indrawati. Jaka Tampingan kujodohkan dengan Dewi Kusumawati. Dewi Candrawati kujodohkan dengan putra Mahapatih. Bagaimana, kalian setuju?" tanya Sri Baginda sambil tersenyum.

"Terima kasih, Yang Mulia. Hamba setuju dengan keputusan Paduka."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI

NEGERI PARA JIN