RAJA BARJAH DAN PUTRI KALONG
KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT BAHASA
Penyediaan bacaan sastra untuk anak-anak merupakan investasi budaya untuk masa depan bangsa. Adalah suatu kenyataan bahwa anak-anak kita kini lebih akrab dengan Batman yang bisa berayun-ayun dari ketinggian dan terbang untuk menyelamatkan korban kejahatan daripada dengan Gatotkaca dalam cerita wayang yang juga bisa terbang dan berayun-ayun di udara. Anak-anak kita sekarang lebih mengenal Romi dan Yuli atau Romeo dan Juliet ketimbang mengenal Pranacitra dan Rara Mendut atau Jayaprana dan Layonsari.
Pentingnya bacaan anak-anak sudah menjadi kesadaran kolektif bangsa, bahkan sebelum kemerdekaan seperti yang dapat kita lihat pada terbitan Balai Pustaka baik pada masa penjajahan. Pada masa setelah kemerdekaan, misalnya, Balai Pustaka yang telah menjadi badan penerbit Pemerintah telah pula menerbitkan berbagai buku bacaan untuk anak-anak itu. Melalui bacaan anak-anak yang dipersiapkan dengan baik, akan dilahirkan para pembaca yang setelah dewasa akan memiliki kebiasaan membaca yang kuat. Tradisi membaca yang kuat memungkinkan berkembangnya dunia bacaan dan pada gilirannya akan mengembangkan pula kehidupan kesastraan. Hidup dan berkembangnya kesastraan sebuah bangsa akan bergantung pada para pembacanya yang setia.
Pusat Bahasa sudah sejak lama menyediakan bacaan yang digali dari kekayaan budaya bangsa masa lampau yang berasal dari naskah sastra lama dan sastra daerah. Inventarisasi yang sudah dilakukan sebelumnya telah menghasilkan sejumlah karangan yang berupa salinan dan terjemahan naskah sastra lama ke dalam aksara Latin dan dalam bahasa Indonesia. Penyediaan bacaan anak-anak yang didasarkan pada naskah tinggalan nenek moyang itu hakikatnya merupakan tindak lanjut yang berkesinambungan. Buku yang sekarang ada di tangan para pembaca hakikatnya merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pengembangan kesastraan yang disalingkaitkan dengan pembinaan.
Setelah wujud dalam bentuk seperti yang ada di tangan Anda, buku bacaan anak ini telah mengalami proses panjang yang tentu saja melibatkan berbagai pihak sejak naskah itu masih berada di berbagai tempat di tanah air hingga menjadi bacaan anak-anak yang layak baca. Untuk itu, Pusat Bahasa mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah turut serta terlibat dalam rangkaian kegiatan yang berujung pada penerbitan buku bacaan anak-anak ini. Semoga buku ini bermanfaat untuk menambah kecintaan anak Indonesia terhadap sastra Indonesia.
Jakarta, Juni 2010
Yeyen Maryani
Koordinator Intern
•••
PRAKATA
Rasa syukur yang dalam penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Pengasih, yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulisan cerita remaja ini akhirnya terselesaikan. Perlu dikemukakan, cerita ini bersumber dari cerita rakyat Sunda “Wawacan Barjah”, yang kemudian diteliti oleh Ruhaliah dan diterbitkan oleh Pusat Bahasa (Wawacan Barjah: Sebuah Teks Sunda).
Penulis jusza berterima kasih kepada Dr. Dendy Sugono selaku Kepala Pusat Bahasa, Dr. Sugiyono selaku Kepala Bidang Pengembangan Bahasa dan Sastra, dan Dr. Dedi Puryadi selaku Kepala Subbidang Pembakuan dan Kodifikasi, yang telah memercayai dan memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan ini.
Untuk adik-adik pembaca buku ini, penulis hanya berharap mudah-mudahan buku ini tidak hanya menghibur sebagai bacaan, tetapi juga bisa memberikan nilai-nilai dan moralitas tertentu yang bermanfaat.
Itu saja, terima kasih.
Jakarta, September 2008
Suyono Suyatno
•••
SATU
SEPENINGGAL RAJA SOKADANA
Sepanjang malam Jaka Barjah merenungi nasihat ayahandanya. Masih terngiang-ngiang di telinganya perkataan ayahnya yang mengharapkannya menjadi manusia yang utama. Dia pun masih teringat bagaimana suasana saat itu.
Sore yang sejuk dengan angin semilir yang begitu bebasnya masuk ke pendapa lewat jendela-jendela yang terbuka lebar.
Prabu Preman, Raja Negeri Sokadana, duduk di kursi kebesarannya, sedangkan putranya, Jaka Barjah bersila di hadapannya menundukkan kepala.
“Agus, dengarkan nasihat ayah. Ayah ingin menyampaikan empat perkara kepadamu supaya hidupmu selamat,” ucap Prabu Preman lemah lembut.
“Ya, Ayah. Ananda akan mendengarkan semua perkataan Ayah,” kata Jaka Barjah tak kalah lembutnya dari sang ayah.
“Mungkin kamu bertanya-tanya mengapa hanya engkau yang kupanggil, sedangkan kakangmu, Jayamukti tidak. Sekalian Ayah beri tahu padamu bahwa nasihat yang kusampaikan ini khusus untukmu. Di mataku hanya engkau yang bisa melaksanakannya. Aku agak ragu dengan Jayamukti karena dia selalu ingin bersenang-senang.”
Jaka Barjah diam saja mendengarkan perkataan ayahnya yang panjang lebar. Dia tidak mengiakan, juga tidak membantah. Hanya dalam hati dia berkata, “Ada apa ini sebenarnya? Ayah tampaknya akan menyampaikan sesuatu yang penting dan berharga?”
Prabu Preman menarik napas panjang. Tampaknya dia agak kurang sehat. Akan tetapi, tak urung terdengar pula suaranya, “Yang pertama, Agus, teruskan belajar mengaji. Dengan mengaji engkau akan mengetahui isi Alquran sebagai tuntunan hidupmu. Ayah juga berpesan jika di hadapan guru, engkau harus sopan santun, tunduk takzim seperti yang engkau lakukan sekarang!"
“Ya, Ayah. Ananda tidak akan berhenti belajar mengaji."
“Jangan lupa, jika guru sedang bicara sekali-sekali jangan memotong pembicaraannya. Tingkah lakumu juga jangan membuat benci orang lain. Pendeknya, engkau laksanakan perintahnya, tentu saja perintah yang baik-baik. He-he-he ….”
Prabu Preman tertawa oleh perkataannya sendiri, tetapi Jaka Barjah tidak berani ikut tertawa. Hanya saja suasana agak mencair. Jaka Barjah pun memanfaatkan suasana yang mulai mencair itu untuk mencuri pandang pada ayahnya. Tampak raut muka ayahnya cerah dan tidak tegang. Jaka Barjah pun menjadi lebih santai.
Prabu Preman meneruskan perkataannya, “Oh, ya, Agus! Satu lagi tata krama mengaji yang harus kau camkan! Jangan suka berpura-pura sudah paham akan isi ayat-ayatnya, tanyakanlah pada gurumu jika engkau tidak mengerti. Saat belajar ataupun sesudahnya, jaga mulutmu karena orang yang banyak mulut tidak disukai orang.”
“Ananda paham, Ayah!” Jaka Barjah mengangguk.
“Yang penting, Agus! Kau jaga tingkah lakumu, harus bersih, dan berpasrah kepada Allah!”
Jaka Barjah kembali mengangguk seraya berkata, “Moga-moga Ananda dapat melaksanakannya, Ayah!"
Prabu Preman lega hatinya mendengar jawaban putranya. Sejenak Sang Prabu berdiri, lalu berjalan pelan mengelilingi pendapa yang hening. Raut ketuaan menghiasi wajahnya, jalannya pun lambat. Terlalu lama duduk membuat pinggangnya sedikit pegal. Tak lama dia duduk kembali.
“Beginilah, Agus, kalau sudah bau tanah: duduk berlama-lama pinggang terasa pegal, berjalan jauh juga tak kuat. Akan tetapi, sabarlah! Masih ada tiga perkara yang akan kusampaikan,“ kata Prabu Preman sambil memijat-mijat tangan dan kakinya.
“Tak perlu buru-buru, Ayah! Sungguh sayang melewatkan sore yang begini indah, nikmati saja suasana yang jarang kita rasakan bersama.”
“Benar, Anakku! Sesungguhnya, aku ingin berlama-lama denganmu."
Jaka Barjah agak terkejut mendengar perkataan ayahnya yang lain dari biasanya. Dia hafal betul dengan kebiasaan ayahnya yang jarang bercengkerama dengan keluarga. “Pertanda apakah ini?" tanyanya dalam hati.
“Perkara yang kedua, Agus! Engkau harus bisa mengendalikan hawa nafsu. Semua yang dilarang, seperti berzina, mencuri, merampok, harus dihindari. Jangan sekali-sekali ingin memiliki harta orang lain, meskipun harta itu nilainya tak seberapa."
“Ya, Ayah! Ananda akan berusaha sekuat tenaga memerangi hawa nafsu untuk hal-hal yang tadi Ayah katakan!”
“Kalau engkau ingin berhasil dalam hidup, perangilah hawa nafsumu untuk semua perbuatan yang tercela itu!”
“Ananda akan selalu mengingatnya, Ayah!”
"Perkara ketiga, Agus! Pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan hati nuranimu. Jangan mentang-mentang anak raja lalu ingin jadi raja pula, meskipun aku mengharapkan engkau dapat meneruskan takhta kerajaan ini.”
“Tentu saja tidak, Ayah! Bahkan, Ananda bercita-cita ingin menjadi petani atau pedagang.”
“Bertani atau berdagang sama-sama pekerjaan yang baik. Kalau engkau ingin berdagang, sebaiknya belajar dulu menjadi pembantu pedagang. Ketelitian dan ketekunan menjadi modal utama. Engkau harus memperinci satu per satu barang sekaligus dengan harganya. Buatlah pembukuannya, berapa harga beli dan berapa harga jual. Perhitungan antara modal dan laba harus jelas,” kata Prabu Preman panjang lebar layaknya seorang pedagang berpengalaman.
Jaka Barjah hanya mengangguk-angguk tanda mengerti, meskipun sebenarnya agak kurang paham hingga timbul pertanyaan, “Bagaimana cara mengambil keuntungannya?”
Prabu Preman seperti memahami pikiran anaknya. Katanya, “Jangan lupa, Agus! Keuntungan janganlah diambil sebelum dagangan habis! Modal pun tak boleh termakan. Jika berhasil, ingat nasihat ayah yang kedua tadi, jangan lacur kepada perempuan karena akan mendatangkan kerugian. Dan, engkau akan sakit, bisa juga gila!”
“Ananda akan melaksanakannya jika kelak benar-benar berdagang. Bagaimana, Ayah? Masih ada yang lain? Ananda khawatir tak dapat mengingat nasihat Ayah.”
“Bisa saja kau, Agus! Sabarlah sedikit! Ayah masih punya satu perkara yang harus kau dengar!”
“Baiklah, Ayah, ananda akan mendengarnya.”
”Perkara keempat, harus banyak beribadah. Yang disebut ibadah itu tidak hanya beribadah kepada Allah. Bekerja juga ibadah. Sedekah kepada peminta-minta juga ibadah. Bersopan santun kepada yang lebih tua atau yang lebih muda juga ibadah. Ibadahlah semampu kita. Dan, jangan lupa di dalam beribadah tak usah mengharap imbalan. Sabar dan tawakal dengan hati pasrah kepada Yang Agung itulah modal kita, Agus!”
“Bagaimana dengan tetangga, Ayah? Berbuat baik dengan tetangga juga ibadah?”
“Benar, Agus! Engkau cepat paham. Jika engkau punya rezeki bagilah dengan tetangga.”
Jaka Barjah mengangguk-angguk seraya berkata, “Semua yang Ayah sampaikan saya pahami benar, Ayah! Ananda akan berusaha melaksanakan amanat ini. Ananda hanya mohon doa dari Ayah, moga-moga Ananda diberi kekuatan untuk melaksanakannya.”
“Agus, tanpa diminta pun ayah senantiasa mendoakan engkau supaya engkau berhasil dan bertemu dengan kebahagiaan. Matahari sudah terbenam. Magrib akan segera tiba. Siap-siaplah kita salat Magrib! Kita salat di musala!”
“Baiklah, Ayah. Ananda akan membersihkan diri!”
Prabu Preman dan Jaka Barjah berjalan beriringan meninggalkan pendapa.
Antara remang dan cahaya tiba-tiba terdengar suara azan berkumandang dengan irama yang mengalun syahdu, memanggil dan mengajak insan-insan yang masih terlelap. Jaka Barjah seperti tersadar dari mimpi panjang, “Ah, sudah subuh?"
Sepanjang malam rupanya dia tidak tidur membayangkan ayahnya yang telah tiada. Sepanjang malam itu dia menangis. Air matanya terkuras meratapi nasibnya yang telah menjadi anak yatim. Rindu pada ayahnya kini terhalang oleh alam yang berbeda.
“Ya, Allah, kuatkanlah hatiku! Rupanya pertemuan sore itu di pendapa merupakan pertemuan terakhir dengan ayah. Aku paham mengapa ayah beramanat seperti itu. Ayah tidak menginginkanku naik takhta begitu saja. Aku terlebih dahulu harus mengalami berbagai ujian untuk melatih kekuatan fisik dan mental. Aku harus menjadi raja dengan upayaku sendiri.”
Ketika tengah merenungkan nasihat ayahnya, tak terduga ibunya datang menghampirinya dan mengelus kepalanya dengan lembut. “Sudahlah, Agus! Ayahmu sudah tenang di alam sana. Laksanakanlah amanatnya! Lebih baik sekarang kita salat. Tidakkah kau dengar suara azan?”
“Tentu saja ananda mendengar, Bu!"
“Kalau begitu, ayolah kita salat!”
Jaka Barjah dan ibunya keluar kamar. Keduanya melaksanakan salat subuh. Jaka Barjah menjadi lebih tenang. Dia pun sudah bertekad bulat akan melaksanakan amanat ayahnya. Akan dia tinggalkan predikat sebagai anak raja dengan segala kemewahan dan kekayaan yang berlimpah. Sebagai langkah awal, dia akan keluar dari istana tanpa membawa apa pun. Dia ingin merasakan susahnya menjadi rakyat jelata. Pesan terakhir ayahnya yang paling diingatnya, “sebelum senang harus sengsara”, akan ditaatinya. Ibunya tak ketinggalan mengikutinya. Ibunya tak sampai hati melepas putra kesayangannya sengsara seorang diri.
Jaka Barjah pun menyamar sebagai petani. Dia membuka ladang dan mengolahnya menjadi lahan subur, dan bekerja di panas terik sepanjang hari tak kenal lelah, pantang menyerah. Dia pun senantiasa membantu para petani yang kebetulan membutuhkan pertolongannya. Malam hari pun dia kurang tidur. Perubahan status dari anak raja menjadi petani dengan pekerjaan kasar dan berat tentu saja membawa pengaruh buruk pada fisiknya. Jaka Barjah sakit. Nasi serasa sekam dan air serasa begitu pahit di lidahnya. Makanan enak dan lezat yang dikirim dari para petani di sekitarnya pun tak disentuhnya. Ibunya menjadi khawatir dan cemas teramat sangat.
“Agus, Raden Barjah, dengarkan ibu! Mengapa jadi begini? Sekarang bagaimana? Agus itu putra raja, Raja Sokadana, mengapa bertindak seperti ini? Mengapa jadi rakyat jelata? Mencangkul, mengolah ladang bukanlah pekerjaanmu!”
Jaka Barjah tidak menjawab. la tampak tenang dan tidak terbawa emosi oleh perkataan ibunya. Menyaksikan putranya diam saja, sang ibu kembali melanjutkan perkataannya, “Cobalah sekarang berpikir, engkau bekerja terlalu keras, akibatnya seperti ini. Cukup sudah menjadi petani! Cukup pula engkau menolong petani lain.”
“Tenanglah, Bu! Baru sekarang ananda mengalami dan merasakan beratnya sebagai petani. Akan tetapi, ananda bahagia karena telah berhasil melaksanakannya. Sakit ini janganlah terlalu dirisaukan. Ananda menjadi sadar, selama ini badan ananda hanya menerima kesenangan. Jadi, wajar saja saat digunakan untuk bekerja berat menjadi cepat lelah karena tidak terbiasa.”
Ibunya tidak berkata lagi. Ibunya pun sesungguhnya paham penyebab sakit yang menimpa putranya. Di dalam hatinya timbul rasa bangga pada putranya yang memiliki jiwa besar yang diwarisi dari ayahnya, “Duh, Kakang, engkau pasti bangga melihat putramu ini.”
![]() |
| Raden Barjah tergolek di balai-balai karena sakit. Ibunya dengan perasaan cemas menasihatinya. |
Waktu berlalu dengan cepatnya. Jaka Barjah sudah pulih seperti semula. Dia sudah berhasil menjadi petani. Dia pun sudah merasakan dan mengalami susah senangnya menjadi petani. Kini dia ingin mencoba yang lain, ingin menjadi pedagang. Berdagang adalah cita-citanya sejak kecil. Teringatlah pesan ayahnya tentang cara berdagang. Yang paling membekas dalam ingatannya adalah jika ingin berdagang harus punya modal. Modal besar tentu saja tidak punya. Hasil pertanian yang diperoleh selama ini selalu dibagi-bagikan kepada petani lain yang membutuhkannya. Terlintas di benaknya Jayamukti, kakaknya di Sokadana. “Ya, kakang Mukti pasti akan membantu mewujudkan cita-citaku!”
Jaka Barjah mengutus ibunya menemui Jayamukti karena ia akan panen dengan para petani. "Bu, ananda mohon pada Ibu, berangkatlah ke Sokadana menemui kakang Mukti. Ananda ingin meminjam uang pada kakang Mukti untuk modal berdagang. Ibu kan tahu ananda ini sejak kecil bercita-cita menjadi pedagang. Inilah saat yang tepat mewujudkan cita-cita itu.”
“Agus, ibu juga tahu cita-citamu itu. Ibu juga sependapat denganmu. Berdagang akan memperkaya pengalamanmu. Baiklah, aku akan ke sana,” kata ibunya berusaha menyenangkan Jaka Barjah.
Sementara itu, di Negeri Sokadana Jayamukti hidup bergelimang harta. Namanya terkenal ke seluruh negeri. Tentu saja semua orang mengenalnya. Selain sebagai putra Prabu Preman, Jayamuktilah yang mewarisi seluruh kekayaan ayahnya. Harta kekayaan yang berlimpah ruah itulah yang makin mengibarkan nama Jayamukti ke seluruh negeri.
Jayamukti sedang berada di istananya tatkala ibunya datang. “Selamat datang, Ibu! Bagaimana, Ibu sehat ‘kan?” sambutnya sambil mencium tangan ibunya.
Ibu dan anak itu berpelukan melepaskan rindu.
“Ibu sehat saja, Mukti. Bagaimana keadaanmu?”
“Seperti yang Ibu lihat, ananda baik-baik saja.”
Belum hilang rasa lelah ibunya, Jayamukti bertanya penuh penasaran kepada ibunya. “Bu, tumben benar Ibu kemari. Apa maksud kedatangan Ibu ini? Ananda menduga pasti Ibu punya alasan datang kemari!”
“Sabarlah dulu, Mukti. Keringat ibu saja belum kering,” kata sang ibu merasa tidak nyaman dengan sambutan putranya yang diliputi kecurigaan.
Jayamukti menahan diri untuk tidak bertanya lagi, meskipun hatinya dipenuhi ratusan tanya. Tidak sabar menunggu ibunya menjelaskan ihwal kedatangannya, dengan berbasa-basi Jayamukti menanyakan adiknya, “Bagaimana keadaan Barjah, Bu? Mengapa dia tidak kemari?"
“Barjah baik-baik saja. Dia tidak dapat kemari karena akan panen. Sesungguhnya, ibu kemari atas nama Barjah, adikmu!”
“Sudah kuduga Ibu kemari pasti punya maksud tertentu. Dari dulu Ibu memang lebih menyayangi si Barjah daripada kepadaku,” katanya dalam hati. “Barjah pesan apa, Bu?” tanyanya ingin segera tahu maksud Barjah mengutus ibunya.
“Begini, Mukti, adikmu akan belajar berdagang, tetapi tak punya modal. Dia ingin meminjam uang padamu untuk modal.”
“Boleh-boleh saja, Bu! Namun, sampaikan pada Barjah uang yang dipinjam harus beranak,” katanya dengan tenang.
Ibunya terkejut. “Mukti! Kamu seperti rentenir saja. Masa kepada adikmu meminjamkan uang dikenai bunga. Kamu harus ingat, di dalam hartamu masih ada milik Barjah,” serunya dengan wajah merah padam.
Jayamukti menjawab tenang, “Ibu juga pasti masih ingat bahwa tempo hari Barjah sudah menyerahkan harta miliknya padaku. Jadi, harta ini berkembang sampai dengan sekarang atas usahaku. Bagaimana, Bu? Jadi pinjam?” tanyanya tanpa perasaan bersalah sedikit pun.
Ibunya termenung sejenak. Di pelupuk matanya terbayang wajah Jaka Barjah sewaktu mengutarakan maksudnya ingin berdagang. “Jika tidak dapat uang, kasihan putraku, Barjah." Tanpa berpikir panjang lagi sang ibu menyetujui syarat yang diajukan Mukti. “Baiklah, Mukti! Ibu akan mengambil uang pinjaman.”
Jayamukti menerangkan aturan main pinjam uang, “Tiap sepuluh hari, bunga pinjaman sudah pasti. Uang sepuluh rupiah menjadi dua ringgit. Jika sampai jatuh tempo si Barjah tidak bayar tentu saja bunganya bertambah dan jika Si Barjah ....”
Ibunya tidak mendengarkan uraian Jayamukti yang panjang lebar tentang bunga pinjaman. Ibu mengambil uang dan langsung segera pulang. Dia hanya berkata, “Nantilah urusannya dengan Barjah. Ibu akan pulang.”
Ibu bergegas meninggalkan Jayamukti. Dia merasa kesal dan sakit hati oleh perlakuan Jayamukti. Dia ingin segera sampai di rumah, ingin segera bertemu dengan Jaka Barjah.
“Agus … Agus …,” panggilnya begitu sampai di rumah.
“Suara ibu?” tanya Jaka Barjah dalam hati. “Ibu sudah kembali? Betapa cepatnya?"
Buru-buru Jaka Barjah menghampiri ibunya. “Bu, sudah pulang? Bagaimana dengan uang pinjaman?”
“Ya, Agus. Ibu memang buru-buru pulang. Keterlaluan si Mukti, Agus!”
Jaka Barjah menduga ibunya tidak membawa uang pinjaman karena kakaknya tidak memberinya. “Mengapa, Bu? Ada apa dengan kakang Mukti? Apakah dia tidak memberi pinjaman?”
“Bukan Agus, bukan tidak memberi pinjaman. Ini uang sudah ibu bawa, hanya saja si Mukti keterlaluan, masa pinjam uang pakai bunga?”
“Bunga, Bu?” tanya Jaka Barjah terkejut.
“Ya, bunga. Katanya tiap sepuluh hari uang ini berbunga sekian persen, tiap bulan sekian persen.” Ibunya menerangkan aturan main pinjam-meminjam uang dengan Jayamukti.
Jaka Barjah termenung, sangat terkejut dengan bunga pinjaman yang besar. “Sungguh tega kakang Mukti pada adik sendiri,” gumamnya lirih. Katanya, “Bu, bunga itu demikian besar. Ananda tidak berani. Sangat mahal!”
“Benar, Agus! Lebih baik kembalikan saja uang ini,” kata ibunya menyuruh Jaka Barjah mengembalikan uang.
“Ya, Bu. Ananda akan mengembalikan uang ini. Ananda takut tidak dapat membayarnya.”
“Biarlah ibu yang mengembalikannya, Agus!”
“Ibu mau pergi ke sana?”
“Ya, biarlah ibu yang ke Sokadana.”
“Baiklah jika demikian. Ananda juga masih ada pekerjaan di sini!”
Ibu kembali ke Sokadana, dan langsung menuju rumah Jayamukti.
Jayamukti terheran-heran melihat ibunya datang kembali. Dia segera menanyai ibunya, “Bu, belum cukupkah uang yang Ibu bawa untuk modal?”
Ibu langsung menaruh uang, sambil berkata, “Mukti, adikmu batal pinjam uang darimu. Katanya, bunga terlalu besar. Ia tidak sanggup membayarnya."
Jayamukti mengerutkan dahinya. Akan tetapi, tak urung tangannya mengambil uang yang ditaruh oleh ibunya di atas meja. Bibirnya komat-kamit menghitung uang. Jumlah uang masih tetap seperti semula. Kemudian terdengar suaranya, “Ibu, ananda tidak terima uang ini kembali dalam jumlah yang sama seperti saat Ibu bawa."
“Memang kenapa, Mukti?” tanya ibunya tidak paham maksud Mukti.
“Uang ini sudah Ibu bawa, artinya sudah dipinjam. Jadi, jika uang ini dikembalikan jumlahnya harus lebih, tepatnya harus berjumlah enam belas rupiah,” jelas Mukti pada ibunya.
Ibunya tidak dapat berkata-kata. Dia hanya memandang wajah Jayamukti penuh kebencian. Terdengar kembali suara Jayamukti, “Meskipun baru satu jam dipinjam, uang ini harus dikembalikan dengan bunganya. Ananda tidak terima uang ini. Tolong sampaikan pada si Barjah.”
Ibunya tetap berdiam diri. Dalam hatinya ia hanya berkata, “Terbuat dari apakah hatimu itu, Mukti? Engkau demikian kejam dan bengis. Pantas saja ayahmu tidak peduli padamu.” Ibu membereskan kembali uang yang ditaruhnya di atas meja, mengambilnya, dan membawanya pulang. Ibu pergi meninggalkan rumah Jayamukti sambil berlinang air mata.
Ketika bertemu dengan Jaka Barjah, ibu menceritakan semuanya pada putranya. Jaka Barjah tidak dapat berbuat apa-apa. Dia sungguh iba pada ibunya yang sudah bersusah payah mengasuh dan membimbingnya. Sambil mengusap rambut ibunya, Jaka Barjah menenangkan ibunya, “Sudahlah, Bu. Sekarang pakailah uang itu untuk keperluan ibu. Nanti ananda yang akan mengembalikannya.”
Ibunya terharu dengan perlakuan Jaka Barjah. Dalam hatinya hanya terucap, “Sungguh mulia hatimu, Nak!”
Jaka Barjah kembali ke ladang. Dia duduk sejenak di saung yang sengaja dibuat di ladang untuk beristirahat. Angin bertiup semilir. Suaranya berbunyi tinghareong, tinghiliwir membelai-belai rambut Jaka Barjah. Kecipir dan wijen begitu lebat. Mentimun dan labu bergelantungan.
Penunggu ladang datang menghampiri, menyapanya dengan sopan. “Raden, telah tiba saatnya hamba mempersembahkan hasil pertanian kepada Raden,” katanya sambil membawa bermacam-macam hasil ladang.
Jaka Barjah terharu dengan sikap penunggu ladangnya. Penunggu ladang itu tiada lain pengasuhnya sejak kecil. Hanya dialah yang mengetahui siapa sesungguhnya Jaka Barjah. Oleh karena itu, dia begitu hormat pada Jaka Barjah.
“Sekalian hamba membawa persembahan dari sepuluh orang petani yang selama ini ditolong oleh Raden. Katanya tidak seberapa, tetapi mereka berharap Raden mau menerimanya. Ini ada padi, kacang, jagung, kecipir, dan hasil palawija lainnya.”
Jaka Barjah benar-benar terharu. Dia lalu berkata, “Paman, saya tidak mempunyai pamrih. Saya ikhlas menolong mereka, sama sekali tidak mengharapkan apa-apa. Saya hanya melaksanakan amanat ayahanda sesaat sebelum beliau meninggal. Saya bekerja hanya ibadah. Jadi, mereka tak perlu balas jasa."
“Tetapi, Raden, jika ditolak mereka pasti kecewa. Mereka bukan membalas jasa Raden. Mereka hanya ingin berterima kasih.”
“Baiklah, kalau begitu. Tolonglah bawa kepada ibu.”
Tanpa bicara lagi penunggu ladang membawa hasil panen ke rumah Jaka Barjah untuk dipersembahkan pada ibundanya.
Jaka Barjah kembali termenung di saungnya. Pikirannya melayang ke mana-mana. Sebentar muncul wajah ayahnya, berganti dengan wajah ibundanya. Kemudian, bayangan berganti dengan wajah kakaknya, Jayamukti. “Kang Mukti ... Kang Mukti ... engkau benar-benar tak punya hati!” Bayangan-bayangan itu pun lenyap dari benak Jaka Barjah karena akhirnya dia terlena terbuai semilir angin.
•••
DUA
MENJADI RAJA TAWANGGANTUNGAN
Matahari musim panas bersinar dengan cahayanya yang kekuningan. Cahaya kekuningan itu pun membayang di atas permukaan lautan luas. Hari itu tampaknya cuaca yang bakal datang akan cerah. Laut di Negeri Sadumuk itu tampak tenang. Sekali-sekali terdengar suara empasan ombak menderu menyeret pasir dan melemparkan kumang-kumang kecil ke tepi pantai. Suasana laut yang tenang dan penuh kemilau itu tidak mencerminkan suasana hati sang penguasa negeri yang sedang gundah.
Raja Negeri Sadumuk, penguasa laut Sadumuk yang berada di dasar laut, sedang panik dan gusar. Pasalnya, tiada lain ulah sang putri yang bernama Nagawati, yang menghilang dari istana. Ramailah di dasar laut dengan menghilangnya sang putri. Awalnya, sang putri ingin bermain-main di pinggiran negeri, ingin melihat keramaian dunia di luar sana. Tepat di atas permukaan tempat sang putri bermain-main terdapat sebuah pelabuhan tua, pelabuhan satu-satunya di daerah itu. Pelabuhan itu memang pelabuhan tua, tetapi waktu itu digunakan sebagai pelabuhan kapal dagang. Sudah tentu pelabuhan tua itu tak pernah tidur. Keramaian dan hiruk-pikuknya benar-benar menarik perhatian sang putri. Tanpa terasa dia sudah jauh dari negerinya. Ombak laut yang mengalun—meskipun tidak besar—mampu menghanyutkan sang putri. Para pengawalnya berusaha menyusul Putri Nagawati, tetapi mereka kehilangan jejak.
Nagasastra, Raja Negeri Sadumuk murka. Beliau mengerahkan bala tentaranya untuk mencari sang putri. Hasilnya tetap nihil, sang putri tidak ditemukan, hilang ditelan bumi. Nagasastra gelisah tidak menentu sebelum sang putri ditemukan. Otaknya berputar mencari upaya untuk menemukan putri kesayangannya. Nagasastra akhirnya mengadakan sayembara. Beliau bersabda kepada para menteri, “Wahai, para menteriku, aku akan mengadakan sayembara untuk menemukan putriku. Siapa yang berhasil menemukan dia, akan kuangkat menjadi bupati dan sekaligus kujadikan menantu. Itulah janjiku. Sebarkanlah pengumumanku ini!”
“Baiklah, Paduka. Kami akan meneruskan pengumuman ini kepada seluruh rakyat Negeri Sadumuk,” jawab salah seorang menteri.
Sementara itu, di Negeri Tawanggantungan Prabu Barjit dilanda kecemasan yang teramat sangat. Prabu Barjit cemas pada keselamatan rakyatnya karena negeri itu kemasukan ular berbisa. Ular itu selain berbisa juga sangat besar dan panjang. Sungguh menakutkan bagi siapa pun yang melihatnya. Ular itu melingkarkan badannya beberapa lingkaran sampai tampak bertumpuk-tumpuk layaknya ban mobil yang disusun ke atas. Ular itu menampakkan diri di tengah-tengah keramaian kota, tepatnya di alun-alun Tawanggantungan.
Prabu Barjit meminta bantuan kepada dua puluh lima raja. Dua puluh lima raja dari dua puluh lima negeri itu satu per satu berdatangan ke Tawanggantungan. Mereka membuat pesanggrahan sebagai markas untuk menyerang ular. Para raja beserta prajuritnya menyiapkan senjata dengan peluru yang siap dimuntahkan. Mereka beramai-ramai menembaki ular. Sungguh ajaib, tak satu peluru pun melukai tubuh ular. Ular tetap diam, tetap tidur nyenyak. Tak sedikit pun ular merasa terganggu sehingga bergeser oleh tembakan gencar.
Raja dari dua puluh lima negeri kehabisan akal. Sekeranjang peluru telah habis, tetapi ular tetap bergelung. Mereka mengambil panah dan busur. Ular dipanah. Panah pun tak mempan. Panah diganti dengan keris sebagai anak panah. Keris pun tak tembus ke badan ular. Akhirnya, tubuh ular tertimbun oleh peluru, panah, dan keris. Ular bergeming, tetap diam, dan tampak tidur nyenyak. Raja yang berjumlah dua puluh lima menyerah. Mereka bersama-sama menghadap Prabu Barjit.
![]() |
| Seekor ular melingkar di alun-alun di keramaian kota. Ular diserang oleh raja-raja, tetapi tidak terluka. |
“Kang Prabu, kami menyerah. Kami tak sanggup mengusir, apalagi membunuh ular itu!”
Prabu Barjit terpana dengan laporan itu. “Apakah kesaktian para raja ini sudah musnah?” tanyanya.
“Entahlah, Kang Prabu. Tampaknya ular itu bukan sembarang ular. Peluru, keris, dan panah kami yang panas dan tajam tak sanggup melukainya, apalagi membunuhnya,” kata salah seorang di antara mereka.
“Kami tak berani lagi mengganggunya, Kakang,” kata raja lainnya.
“Jangan-jangan ular itu ular jadi-jadian! Ih ...,” celetuk yang lain sambil bergidik bulu romanya.
Prabu Barjit terbawa oleh semua kesaksian itu. Dia pun menjadi ngeri, “Sudahlah kalau demikian. Aku pun tak dapat memaksa.”
“Kang Prabu, kami sekalian mohon pamit. Kami pun mohon maaf karena tidak dapat memenuhi keinginan Kakang,” kata salah seorang di antara dua puluh lima raja.
“Tak apa. Aku menghargai kebaikan para raja.”
Sepeninggal dua puluh lima raja, Prabu Barjit merenung, memikirkan bagaimana caranya mengusir ular dari negerinya. “Aku pasti tak mampu mengusiknya. Jangankan aku, sedangkan raja yang berjumlah dua puluh lima saja tak bisa menyentuhnya,” gumamnya. “Aku harus berbuat sesuatu. Siapa tahu ada orang yang dapat menaklukkan ular itu.”
Prabu Barjit membawa selembar kertas lalu menyerahkannya kepada salah seorang menterinya seraya berkata, “Menteriku, umumkan sayembara ini kepada seluruh rakyat. Katakan pada mereka, barang siapa yang dapat mengusir atau membunuh ular yang berada di alun-alun, dia berhak atas kerajaan ini. Selain itu, dia pun berhak atas putriku.”
Menteri pun melaksanakan permintaan Prabu Barjit. Ditempelnya pengumuman Prabu Barjit di tempat-tempat strategis. Khalayak ramai berkerumun membaca pengumuman Sang Prabu. Meskipun imbalannya menarik, di antara mereka tidak ada yang sanggup dan berani mengikutinya. Apalagi mereka sudah mengetahui dan menyaksikan upaya dua puluh lima raja yang tak mampu membunuh ular. Bahkan, di kalangan mereka sudah beredar cerita-cerita tentang ular itu yang membuat berdiri bulu kuduk.
Negeri Tawanggantungan menjadi kota mati. Orang lebih memilih berdiam diri di rumah. Di pasar hanya tampak satu dua orang. Demikian pula di jalan-jalan, jarang ada orang yang melintas. Mereka takut pada ular yang tetap bertahan di alun-alun.
Enam bulan berlalu begitu saja. Negeri Tawanggantungan masih tetap sama, masih tetap diliputi kecemasan dan ketakutan pada ular. Selama itu pula belum ada yang berani menghadapi ular.
Sementara itu, Jaka Barjah beranjak meninggalkan ladangnya. Dia membawa kucing dan anjing. Dia pergi menelusuri kampung satu ke kampung lainnya. Akhirnya, dia tiba di Tawanggantungan. Jaka Barjah menuju pasar. Akan tetapi, tidak seorang pun di sana. Dia menyusuri jalan menuju alun-alun. Tampak rumah-rumah penduduk tertutup rapat. Sepi tidak ada manusia.
“Mengapa negeri ini sesepi ini? Ke mana penduduknya? Apakah negeri ini sudah mati?” hatinya bertanya-tanya.
Jaka Barjah terus berjalan sambil matanya mencari-cari. Sebentar-sebentar dia berhenti menoleh ke kiri ke kanan dan ke belakang, sedangkan ke depan tatapannya tak pernah lepas. Namun, tetap tak ditemukan seorang pun. Jaka Barjah memutuskan akan meninggalkan Negeri Tawanggantungan. Perbuatan Jaka Barjah itu rupanya menarik perhatian seseorang dari atas loteng.
“Hai ... Ki Sanak!” panggilnya.
Jaka Barjah menoleh ke arah datangnya suara. Dilihatnya seseorang tengah berdiri di atas loteng. Dilambaikan tangannya dan disuruhnya turun, “Turunlah! Aku hendak menanyakan sesuatu."
Orang itu pun memenuhi permintaan Jaka Barjah dan menyapanya, “Hai ... anak muda! Engkau datang dari mana dan ke mana tujuanmu?”
“Dari Sokadana dan hendak berdagang kemari.”
“Engkau datang ke tempat yang salah."
“Apa yang terjadi di sini? Mengapa di mana-mana sepi?” tanya Jaka Barjah penasaran.
“Tidak tahukah engkau bahwa di sini sedang dirundung malang?”
Jaka Barjah menggelengkan kepala. “Dirundung malang? Ada apa sampai orang tidak berani ke luar?” tanyanya.
“Sudah enam bulan ini di alun-alun bersarang seekor ular. Dua puluh lima raja dan para prajuritnya tidak ada yang bisa mengusirnya atau membunuhnya. Prabu Barjit pun mengadakan sayembara dengan mempertaruhkan kerajaan dan putri cantiknya. Akan tetapi, belum ada orang yang mampu melakukannya.”
Mendengar cerita itu Raden Barjah tertarik untuk mengikutinya. Dia ingin menjajal kemampuannya berhadapan dengan ular. Hadiah yang menggiurkan juga menambah semangatnya untuk turut mengikuti sayembara. “Hai, Sobat, kalau engkau sudi mengantarkan aku ke istana, aku akan berterima kasih.”
“Kau akan ikut sayembara?” tanya orang itu penuh keraguan.
“Aku akan mencoba mendekati ular itu. Siapa tahu dapat membunuhnya atau menakutinya sehingga ular itu kabur.”
Tanpa menunda waktu, orang itu langsung mengantarkan Jaka Barjah ke istana. Keduanya menemui Patih dan mengemukakan maksud kedatangan mereka. Patih bertanya pada Jaka Barjah, “Benarkah engkau sanggup membunuh ular?”
“Benar, aku akan mencobanya."
“Baiklah, kita menghadap Prabu Barjit.”
Mereka berjalan beriringan menghadap Sang Prabu. Tiba di sana Patih menyuruh Jaka Barjah menunggu. “Tunggulah sebentar, aku akan berbicara terlebih dahulu kepada Prabu Barjit.” Patih masuk lalu menghilang di balik pintu.
Patih bersembah sujud di hadapan Prabu Barjit. Sang Prabu pun memeriksa patihnya, “Apa kehendakmu, Patih?”
“Yang Mulia, hamba membawa seorang pemuda asal Sokadana yang hendak menjajal ular. Katanya, dia sanggup membunuhnya,” Patih menerangkan.
“Dari Sokadana? Siapakah namanya?”
“Jaka Barjah.”
“Bawalah kemari!" perintah Prabu pada Patih.
Patih bergegas memanggil Jaka Barjah yang menunggu di luar. Diajaknya Jaka Barjah masuk, “Ayolah, Prabu Barjit menyuruhmu masuk!”
Jaka Barjah dan Patih menghadap Sang Prabu. Keduanya duduk di hadapan Sang Prabu dengan hormatnya.
“Apa betul engkau sanggup membunuh ular?” periksa Prabu Barjit pada Jaka Barjah.
“Benar, Paduka. Hamba sanggup mengusir ular itu.”
“Syukur kalau berani. Sekarang pergilah ke alun-alun. Bila ular sudah mati atau kabur, putri cantik dan jabatan Prabu Tawanggantungan menunggumu,” janji Prabu pada Jaka Barjah.
“Baiklah! Hamba mohon doa Paduka,” kata Jaka Barjah sembari undur diri dari hadapan Prabu Barjit.
Jaka Barjah dan Patih kembali berjalan beriringan menuju alun-alun. Keduanya menapaki jalan beraspal, memasuki celah-celah kebun aneka bunga yang tertata rapi di kiri kanan jalan. Beberapa saat kemudian tampak sebuah batu besar dengan tulisan yang terang “Alun-Alun Tawanggantungan”. Tiba-tiba Patih mengerem langkahnya dan tangannya menggenggam erat pundak Jaka Barjah.
“Lihatlah ke sebelah kanan,” kata Patih tiba-tiba. “Kau lihat tumpukan berwarna hitam yang menggunung?” katanya gemetar.
“Ya, aku melihatnya.”
“Itulah ular yang telah enam bulan bersarang di sana.”
Tak begitu jauh dari seberang jalan yang dilalui Jaka Barjah, tampak ular itu tidak seperti ular-ular yang pernah dia lihat di tengah-tengah ladang. Dia menyaksikan ular yang teramat besar, panjang, dan berwarna hitam kekuning-kuningan. Hari yang terang memungkinkan mata Jaka Barjah melihat dengan jelas sosok ular raksasa itu.
Patih yang sejak tadi gemetar berbisik pada Jaka Barjah, “Jaka! Aku tak tahan di sini. Aku akan melihatmu dari jauh. Kamu saja yang maju menghadapinya!”
Jaka Barjah mengangguk setuju. Sedikit pun dia tak gentar menghadapi ular itu. Entah mengapa dia sendiri juga tidak tahu. Meskipun besar dan panjang, ular itu tidak memperlihatkan keganasan dan kebuasannya seperti yang dikatakan orang. Jaka Barjah pun tak ragu menghampirinya. Dia menyaksikan ular itu menggeliat seperti tahu ada yang datang. Kemudian, kepalanya tegak mengarah pada Jaka Barjah. Barjah terkejut setelah matanya bertatapan dengan ular. Demikian pula dengan ular, tampak terkejut berhadapan dengan Barjah.
“Kang Barjah?" sapa ular pada Jaka Barjah.
“Kau masih ingat kepadaku, Sayang? Waktu aku masih sering main ke rumahmu, kau masih gadis tanggung bau kencur,” tanya Jaka Barjah.
“Tentu saja, Kang Barjah! Aku tak akan pernah melupakan wajahmu.”
“Nagawati! Bagaimana asal mulanya engkau sampai di sini?”
“Awalnya, aku sedang bermain di pinggir laut ingin melihat keramaian di pelabuhan tua. Karena keasyikan, tanpa terasa aku sudah jauh dari para pengawalku. Ombak yang mengalun juga mengayun-ayun tubuhku hingga terdampar ke sini. Setelah tinggal di darat, aku lebih aman mengubah wujudku dalam bentuk ular,” jelasnya pada Jaka Barjah.
“Ah ... Nagawati, Sayang …. Dasar kamu turunan ular.”
“Kang Barjah! Aku lelah berbulan-bulan di sini. Tubuhku ditembaki, dipanah, dan dilempari. Untunglah aku bisa bertahan. Sekarang keinginanku hanya satu, aku ingin pulang, Kakang!”
“Baiklah, Sayang. Memang sudah tugasku mengantarmu pulang. Kamu sudah cukup menghebohkan di sini, membuat semua orang takut keluar rumah. Pasar jadi sepi, jalanan sepi, di mana-mana sepi. Sejak kamu muncul di sini, orang lebih memilih tinggal di rumah.”
“Cepatlah, Kang Barjah. Aku sudah rindu pada kedua orang tuaku.”
“Tentu saja ayah ibumu sedih kehilangan anak tercinta. Ayolah, Sayang, kita pulang!”
Patih yang menyaksikan dari jauh terpana pada kemampuan Jaka Barjah yang begitu mudahnya menaklukkan ular tanpa harus bersusah payah. Dia pun lari tergopoh-gopoh ingin mengabarkannya pada Prabu Barjit.
Sementara itu, Jaka Barjah mengawal Nagawati menuju Negeri Sadumuk di dasar laut. Setibanya di pinggir laut, keduanya meluncur ke dasarnya. Raden Putri Nagawati pun sampai di istananya didampingi Jaka Barjah. Permaisuri dan Raja Sadumuk serta para pembesar istana menyambut kedatangan keduanya. Keraton bergemuruh merayakan kembalinya Putri Nagawati. Putri yang hilang telah kembali dengan membawa seorang lelaki tampan dan berbudi. Sang Putri menjadi bahan perbincangan ramai di dalam dan di luar keraton.
Nagasastra, Raja Sadumuk, tidak mengingkari janji. Putrinya dan Jaka Barjah segera dinikahkan. Jaka Barjah dan Nagawati melangsungkan pernikahan di dasar laut. Nagasastra mengangkat Jaka Barjah menjadi Bupati.
Waktu berjalan terasa begitu lambat bagi Jaka Barjah. Tiga ratus enam puluh lima hari sudah Jaka Barjah menjalani hidup bersama dengan Nagawati. Hidup di dasar laut bagi Jaka Barjah cepat membuatnya bosan. Selain tidak mengenal musim, juga membuatnya tidak bisa bergaul dengan dunia luar. Dengan sangat hati-hati, Jaka Barjah mengutarakan maksudnya hendak bertemu dengan ibunya yang telah lama ditinggalkannya. Meskipun keberatan, Nagasastra tidak dapat menahan Jaka Barjah. Dia pun paham bahwa sesungguhnya hidup di dasar laut bukanlah tempat yang tepat untuk menantunya.
Yang paling sedih ditinggalkan oleh Jaka Barjah tentu saja Nagawati. Apalagi saat itu Nagawati sedang mengandung tujuh bulan. Akan tetapi, seperti halnya ayahnya, Nagawati pun tak mampu menghalangi niat suaminya. Dia harus merelakan kepergian Jaka Barjah ke dunianya.
“Kang Barjah,” kata Nagawati terisak saat mengantar suaminya, “Hanya satu yang kuminta, Akang harus tetap ingat bahwa di sini akan tumbuh darah daging Akang. Darah daging inilah yang akan kembali mempertemukan kita kelak.”
“Sudah tentu, Sayang. Akang takkan melupakannya. Akan tetapi, Akang harus pergi. Masih banyak yang harus Akang lakukan di luar sana. Masih banyak amanat ayahanda yang belum Akang laksanakan. Sudah kewajiban Akang pula, Akang harus menjenguk ibu.”
“Aku mengerti, Akang."
Jaka Barjah cepat bergegas pergi. Dia takut berubah pikiran melihat keadaan istrinya. Bagaimanapun, Jaka Barjah sangat sayang pada Nagawati. Akan tetapi, perbedaan alam dan musim tak memungkinkan keduanya melanjutkan hidup bersama.
Matahari masih terang saat Jaka Barjah muncul di permukaan laut. Hanya udara mulai lembut dengan angin yang semilir menyapa. Jaka Barjah menghirup udara luas sebebas-bebasnya. Dia merasa lega seperti terbebas dari beban yang sangat berat. Akan tetapi, dia sedikit bingung ketika akan melangkahkan kaki. Langsung menemui ibunya rasanya belum pantas karena dia tidak membawa apa-apa. Tiba-tiba terlintas di benaknya penyebab pertemuannya dengan Nagawati: gara-gara Nagawati terdampar di Negeri Tawanggantungan dan kemudian menyamar sebagai ular. “Ya, Tawanggantungan adalah tempat yang harus kutuju. Aku masih punya urusan dengan Prabu Barjit. Prabu Barjit telah berjanji akan menyerahkan negeri dan putrinya jika aku berhasil menghalau ular dari negerinya.”
Tujuan Jaka Barjah sudah pasti: Prabu Barjit di Negeri Tawanggantungan. Jaka Barjah pun tiba di Wanayasa Pringgading, perbatasan antara Sadumuk dan Tawanggantungan. Jaka Barjah beristirahat di Wanayasa. Tiba-tiba dia berubah pikiran. Dia ingin tinggal di Wanayasa untuk sementara waktu. Di tempat tersebut dia berupaya kembali berdagang kucing dan anjing sampai akhirnya usahanya sukses. Tak hanya itu, dia pun berhasil mendirikan sebuah negeri yang dinamainya Argayasa. Argayasa di tangan Jaka Barjah tumbuh menjadi sebuah negeri yang makmur. Para prajurit yang kuat dan gagah siap membantu Jaka Barjah.
Suatu hari, Jaka Barjah mengutus prajuritnya mengantarkan surat kepada Prabu Barjit. Isi surat tiada lain menagih janji yang pernah diucapkan Sang Prabu. Surat sudah berada di tangan Sang Prabu. Di dalam surat Jaka Barjah menanyakan masalah Kerajaan Tawanggantungan dan Dewi Rayungwulan yang pernah dijanjikan.
Prabu Barjit berkata dengan murka pada prajurit utusan, “Sampaikan pada tuanmu, aku tak sudi bermenantukan Si Barjah, bandar kucing dan anjing. Tidak kurang raja-raja di sini. Masa Raja bermenantukan penyabit rumput?”
Prajurit utusan buru-buru kembali, langsung menghadap Jaka Barjah. Katanya kepada Jaka Barjah, “Paduka yang terhormat, Prabu Barjit merah padam mukanya saat membaca surat. Katanya dia tak akan memberikan putrinya pada bandar kucing dan anjing. Dia juga menyebut Paduka sebagai penyabit rumput.”
Jaka Barjah tak kalah murkanya dari Prabu Barjit. Tak berpikir panjang dia memerintahkan patihnya menyiapkan dan mengerahkan bala tentara untuk menyerang Tawanggantungan, “Patih! Siapkan pasukan, kita akan ke Tawanggantungan untuk memberi pelajaran pada Prabu Barjit yang telah ingkar janji!”
“Siap, Paduka!”
Tidak lama setelah itu serdadu Argayasa sudah berkumpul. Tak terhitung banyaknya serdadu yang menuju Tawanggantungan, seperti gulungan ombak samudra menghantam karang. Prajurit Argayasa pun menyerang Negeri Tawanggantungan.
Sementara itu, Prabu Barjit yang sebelumnya sudah menduga akan datang serangan, membalasnya tak kalah dahsyat. Raja dua puluh lima negeri yang selama ini menjadi kaki tangan Prabu Barjit berada di barisan paling depan. Perang antara pasukan Argayasa dan pasukan Prabu Barjit berlangsung seru. Suara peluru yang berdesingan di udara dan suara beradunya keris dan tombak melahirkan kengerian yang luar biasa.
Pasukan Argayasa terus mendesak pasukan Prabu Barjit. Akan tetapi, pasukan Prabu Barjit masih bertahan. Di antara kedua pasukan banyak yang berguguran. Pasukan Prabu Barjit telah banyak berkurang. Raja dua puluh lima negeri tinggal lima yang masih hidup. Yang lain telah tewas diamuk oleh Jaka Barjah yang perkasa.
Pasukan Argayasa yang dipimpin oteh Jaka Barjah semakin kuat saja setelah mendapat bantuan dari Nagasastra, mertuanya. Nagasastra sengaja menyusul Jaka Barjah untuk memberitahukan bahwa Nagawati sudah melahirkan.
“Jaka! Istrimu sudah melahirkan. Tengoklah ke Argayasa karena aku sudah membawanya ke sana! Biarlah aku yang meneruskan perang ini!”
“Baiklah, Ayah! Terima kasih atas bantuan Ayah.”
Nagasastra sepeninggal Jaka Barjah membacakan sebuah mantra pancasona. Tamat membaca pancasona hilanglah wujud Nagasastra bersalin rupa menjadi seekor ular. Ular besar menggunung, berwarna tembaga menggeliat, mengeluarkan hawa merah laksana api membara dari mulutnya. Panjangnya dua puluh lima meter, besarnya selingkaran gunung. Prajurit Prabu Barjit kocar-kacir tercerai-berai. Raja yang tinggal lima tidak mampu lagi melawan, mereka tiarap.
Prabu Barjit yang ingkar janji ditangkap dan ditawan oleh pasukan Argayasa. Putri Rayungwulan diboyong dan diserahkan pada Jaka Barjah. Jaka Barjah berterima kasih kepada mertuanya. Selanjutnya, dengan persetujuan Nagasastra, Jaka Barjah diangkat menjadi Raja Tawanggantungan dengan sebutan Raden Barjah. Nagasastra pun kembali ke Negeri Sadumuk.
•••
TIGA
BERKUMPUL KEMBALI DENGAN IBUNYA
Jayamukti bersenang-senang di Sokadana. Tiap hari dia berfoya-foya menghabiskan harta warisan yang ditinggalkan oleh ibunya dan adiknya, Jaka Barjah. Harta yang dimilikinya seperti tidak habis-habisnya. Harta itu terus bertambah dan bertambah. Usahanya tiada lain sebagai rentenir. Uang yang dipinjamkan pada siapa pun, tak terkecuali pada ibu dan adiknya, dikenai bunga tinggi.
Suatu hari Jayamukti menagih utang pada adiknya. Yang dijumpainya hanyalah ibunya seorang. Jayamukti tak mengurungkan niatnya. Dia tetap menagih utang pada ibunya.
“Bu, bagaimana uang yang tempo hari Ibu bawa? Ananda menunggu-nunggu si Barjah membayar utang, tetapi tak datang-datang,” katanya pada ibunya.
“Ya, Mukti. Ibu tahu adikmu berutang, tetapi sekarang dia tidak ada,” jawab ibunya.
“Aduh ..., bagaimana, Bu? Kalau dihitung-hitung uang itu sudah beranak banyak di tangan si Barjah!” Suara Jayamukti agak meninggi.
“Benar, Mukti! Akan tetapi, lihatlah, adikmu sudah lama meninggalkanku. Tak ada beritanya sedikit pun. Ibu juga tidak tahu, apa dia masih hidup atau sudah mati.” Ibunya menerangkan.
“Meskipun begitu utang tetap utang, tetap harus dibayar,” kata Jayamukti dengan muka merah padam.
“Sabarlah, Mukti! Si Barjah ‘kan bukan orang lain. Dia itu adikmu," kata ibunya berusaha menyabarkan Jayamukti.
“Urusan utang jangan dikaitkan dengan saudara, Bu.”
“Ya sudah, Mukti! Sekarang maumu apa?”
“Kalau Ibu tidak punya uang, bayarlah dengan beras. Kulihat leuit (tempat menyimpan beras hasil panen) penuh. Saya akan mengangkut beras itu.”
“Silakan saja, Mukti! Akan tetapi, ibu mohon tinggalkan sekarung saja untuk persediaan ibu."
Jayamukti tidak menerima permintaan ibunya. Dengan suara keras dia membentak ibunya, “Tak bisa, Bu! Sudah untung aku mau meminjamkan uang. Lain kali jika si Barjah perlu uang, aku tak akan memberinya."
Jayamukti mengangkut beras dari leuit. Padi itu ditimbangnya. Jayamukti menyesuaikan jumlah timbangan beras dengan nilai uang yang diutang oleh adiknya. “Lihatlah, Bu, kemari! Setelah beras ditimbang ternyata belum cukup untuk membayar utang si Barjah. Jadi, jangan harap aku mau menyisakan beras untuk Ibu.”
“Mukti! Sungguh keterlaluan! Di otakmu hanya duit, duit, dan duit saja. Apa tidak cukup harta yang ditinggalkan ayahmu? Ingatlah, Mukti! Di dalam harta yang kau makan itu sebagian juga milik adikmu, si Barjah!” kata ibunya dengan kesal.
Jayamukti tidak menghiraukan ucapan ibunya. Dia pergi meninggalkan luka dan sumpah serapah ibunya. Ibu kali ini benar-benar kesal, keluarlah dari mulutnya perkataan yang di luar batas kesadarannya. “Kau benar-benar anak durhaka, Mukti! Pada ibumu kau berbuat kejam dan bengis. Sadarlah akan perbuatanmu itu, karena suatu hari Allahlah yang akan membalas perbuatanmu itu.”
Jayamukti dibutakan harta. Harta dijadikan segala-galanya. Dia lupa bahwa harta, apalagi harta warisan, jika tidak dipergunakan sebagaimana mestinya akan habis dan hancur. Benar saja, tidak berapa lama setelah merampas beras dari ibunya, Jayamukti kena musibah. Binatang peliharaannya—kerbau, sapi, kuda, dan kambing—habis ditelan bencana. Tidak hanya itu, gedung megah peninggalan ayahnya pun terbakar. Kebakaran itu datangnya tiba-tiba, saat tengah malam pula, hingga Jayamukti tidak dapat menyelamatkan hartanya. Harta yang dipujanya musnah, tandas tak tersisa. Jayamukti membawa istri dan anaknya menuruti langkah kakinya. Untuk makan, dia meminta-minta pada siapa saja yang berbelas kasihan padanya.
Sementara itu, Raden Barjah sudah menduduki singgasananya di Tawanggantungan. Hal pertama yang dilakukannya setelah menjadi Prabu Tawanggantungan adalah menemui ibunya yang ditinggalkannya di ladang. Raden Barjah terkejut melihat keadaan ibunya yang sengsara. Tubuhnya kurus kering tidak terurus. Buru-buru dia menyalami ibunya, mencium tangannya sebagai tanda hormat.
“Ibu, maafkanlah ananda! Ananda sudah meninggalkan Ibu di sini,” katanya dengan lembut.
“Agus ... kamukah ini?” tanya ibunya dengan mata berkaca-kaca. “Ke mana saja kau, Nak?”
“Panjang ceritanya, Bu! Apa yang terjadi dengan Ibu sampai keadaan Ibu seperti ini?”
“Jayamukti, Agus! Kakakmulah yang membuat ibu seperti ini. Dia menguras beras simpanan kita. Katanya, karena engkau tak bayar utang, beras itulah penggantinya.”
“Sudahlah, Bu! Ibu tak usah khawatir, ananda akan mengganti semuanya. Sekarang berkemas-kemaslah!”
“Ke mana, Agus?”
“Kita ke Tawanggantungan, Bu. Ananda sekarang tinggal di Tawanggantungan. Ibu harus mendampingi ananda di sana."
Raden Barjah membawa ibunya ke Tawanggantungan. Raden Barjah menempatkan ibunya di tempat yang teramat patut. Sebuah kamar yang nyaman dan luas khusus disediakan untuk ibundanya tercinta.
Di tempat lain, Jayamukti sekeluarga terlunta-lunta. Sebagai pengemis dia meminta-minta pada siapa saja dan pergi ke mana saja mengikuti langkah kakinya tanpa arah dan tujuan. Akhirnya, sampailah Jayamukti di Negeri Tawanggantungan. Dia tidak menyadari bahwa tempat yang dijelajahinya kini adalah wilayah kekuasaan adiknya.
Sebaliknya, Raden Barjah mengetahui bahwa kakaknya setelah terkena musibah menjadi pengemis. Timbul iba di dalam hatinya dan ingin menolong kakaknya. “Buruk-buruk papan jati, baik buruk saudara sendiri,” demikian kata Raden Barjah teringat pada sebuah peribahasa Sunda. “Aku harus menolong Jayamukti!”
Diperintahkannya prajurit mencari Jayamukti seraya berkata, “Carilah kakakku yang bernama Jayamukti. Cari di antara para pengemis karena kakakku peminta-minta. Bawalah dia kemari bila sudah menemukannya!”
Prajurit mencari Jayamukti di antara para pengemis yang berkeliaran di negeri itu. Tidaklah sulit menemukan Jayamukti. Selain si prajurit telah memperoleh gambaran tentang ciri-ciri Jayamukti dari Raden Barjah, Jayamukti pun berbeda dengan pengemis lain. Dia ke mana-mana ditemani oleh istri dan anaknya. Prajurit membawa Jayamukti ke istana Tawanggantungan. Dia dan anak istrinya dihadapkan pada Raden Barjah yang sudah duduk menunggu didampingi oleh ibunya.
![]() |
| Raden Barjah menerima kedatangan pengemis, Jayamukti, kakaknya beserta istri dan anaknya sebagai pengemis. |
Jayamukti terkejut begitu mengetahui siapa yang duduk di hadapannya. Dia bangkit hendak berlari ke luar. “Kang Mukti!” Raden Barjah memanggilnya. “Duduklah kembali!”
Jayamukti berbalik. Dia tak kuasa menahan malu, apalagi harus berhadapan dengan ibunya yang telah dianiayanya. Tak kuasa menahan haru, Jayamukti bercucuran air mata. Dia bersujud ke hadapan ibunya. “Bu, ananda mohon maaf! Semua ini akibat perbuatan ananda yang durhaka pada Ibu,” katanya terbata-bata.
“Sudahlah, Mukti. Ibu bersyukur kamu sudah tobat. Sekarang dengarkan dan turutilah kemauan adikmu,” kata ibunya.
Jayamukti beralih pada adiknya. Dia pun merangkul kaki adiknya hendak memohon maaf. Buru-buru Raden Barjah menegakkan kakaknya. “Tak perlu begini, Kang Mukti! Aku sudah memaafkan semuanya. Sekarang tinggallah Kang Mukti di salah satu kampung di sini. Tinggallah di sebuah rumah yang telah aku siapkan untuk Kang Mukti!"
“Aduh, adikku, Raden Barjah, sungguh mulia hatimu!” Hanya itu yang terucap dari mulut Jayamukti.
Selanjutnya, Jayamukti tinggal di salah satu kampung di Tawanggantungan. Selain bangunan rumah, isi dan perlengkapan rumah pun telah disiapkan oleh Raden Barjah.
Raden Barjah benar-benar tenang hati dan tenang pikiran. Dia sudah berkumpul kembali dengan keluarganya. Di samping itu, dia pun merasa begitu puas dan lega karena telah melaksanakan beberapa amanat ayahnya almarhum.
•••
EMPAT
MENIKAHI PUTRI TERENGGANU
Negeri Cantakapura tengah bermuram durja. Pasalnya, sang putri yang bernama Putri Terengganu sedang bingung memilih calon suami. Banyak raja yang melamarnya, tetapi tidak satu pun yang memenuhi syarat. Dalam menentukan calon suami, Putri Terengganu mengajukan persyaratan tertentu. Persyaratan ini datangnya dari ayahandanya. Sesungguhnya, Putri Terengganu masih ingin menikmati kesendiriannya, belum ingin menikah. Akan tetapi, ayahnya berpendapat lain. Ayahnya menginginkan sang putri segera menikah.
“Nyai, Anakku! Sebaiknya yang memimpin negeri ini seorang laki-laki. Perempuan tidak pantas menjadi raja. Perempuan itu hanya pantas menjadi permaisuri.”
“Ah ... Ayah bisa saja! Maksud Ayah, supaya ananda cepat menikah?”
“Bukan, bukan itu maksudku! Menurut ayah, perempuan itu kurang cakap menjadi raja. Selain cengeng, jiwanya juga labil. Putusannya pun kadang-kadang tidak mantap,” kata ayahnya.
“Baiklah, Ayah. Ananda akan mengikuti keinginan Ayah.”
Ayahnya menyebutkan ciri-ciri seorang lelaki yang pantas menjadi raja. “Nyai! Laki-laki yang pantas mendampingimu haruslah seorang laki-laki yang memiliki kesaktian, kepandaian, dan kewibawaan yang tinggi! Laki-laki itu harus membawa burung dara, burung yang berbulu tiga warna, dan dapat menembangkan sinom serta dangdanggula. Burung itu pun harus pandai berbicara seperti halnya manusia. Itulah simbol seorang pemimpin negeri yang cakap.”
Persyaratan yang disampaikan oleh Raja Cantakapura dijadikan pegangan oleh Putri Terengganu saat memilih suami. Akan tetapi, persyaratan itu tak bisa dipenuhi oleh setiap laki-laki yang datang meminang. Tak heran jika Putri Terengganu kesulitan mendapatkan suami. Putri Terengganu memanggil semua penggawa untuk membicarakan persoalan yang dihadapinya.
“Penggawa! Sampaikan pada semua raja dan siapa saja yang berminat menjadi Raja Cantakapura, ikutilah sayembara yang aku adakan ini!”
“Baiklah, Tuan Putri. Hamba akan melaksanakan permintaan Tuan.”
Sayembara Putri Terengganu cepat beredar di kalangan para raja dan para pemuda yang bermimpi mendapatkan putri cantik dan menjadi raja. Semua yang ikut sayembara sibuk mencari burung berbulu tiga warna. Mereka menangkap sembarang burung. Lihat burung merak mereka langsung menangkapnya. Lihat burung kasintu mereka juga langsung menangkapnya. Dan, jenis burung lain seperti julang, elang, walik, dederuk, dan kadenca pun ditangkap. Burung-burung itu diserahkan pada Sang Putri. Akan tetapi, tidak seekor pun yang memenuhi persyaratan. Putri Terengganu tak bersedia menerima burung-burung itu. Burung-burung itu hanya dapat bercericit, sama sekali tidak dapat bernyanyi, apalagi menembangkan sinom dan dangdanggula.
“Wah ... kalau begini caranya, aku bisa tetap perawan seumur hidup,” keluh Putri Terengganu dalam hatinya.
Jika Putri Terengganu gelisah mencari calon suami, Raden Barjah pun gelisah karena belum sempurna menjalankan amanat ayahnya. Raden Barjah merasa belum cukup memiliki ilmu. Dia pun merasa belum pantas menjadi raja karena belum mendapat ujian secara fisik dan mental. Nasihat ayahnya yang mengatakan “Jangan senang sebelum merasakan sengsara! Jika mendadak menjadi raja akhirnya akan sengsara,” masih terngiang-ngiang di telinganya.
“Aku menjadi Prabu Tawanggantungan bukan usaha sendiri. Nagasastralah yang memorakporandakan pasukan Tawanggantungan. Ayah benar, aku harus menjadi raja atas usahaku sendiri.”
Setelah mempertimbangkan segalanya, Raden Barjah meninggalkan singgasananya. Dia menjelajahi hutan belantara dan hutan rimba yang penuh marabahaya. Sampailah Raden Barjah di hutan yang bernama Pringgandaning Tawangjajar. Hutan ini bertanah terjal karena terletak di pegunungan. Raden Barjah mendaki lereng dan menuruni lembah.
Selama perjalanan terdengar suara burung elang ngelik-ngelik. Suara tuweuw juga nyaring bunyinya. Suara burung-burung itu seperti memberi petunjuk bahwa Raden Barjah harus berhenti dan beristirahat di sana. Di bawah pohon kibodas dia berdiam diri, bersemadi, bersila dengan tangan di dada. Selama empat puluh hari empat puluh malam, Raden Barjah tidak bergerak laksana mati. Tubuhnya menyatu dengan hutan di sekitarnya. Tidak lama kemudian, terdengar suara yang memberi petunjuk pada Raden Barjah.
“Agus, Raden Barjah! Sekarang tinggalkan tempat ini! Raden pindah ke sana, ke kaki gunung! Jaraknya kira-kira sepengisapan rokok sebatang dari Pringgandaning Agung!”
Raden Barjah layaknya terbangun dari mimpi mendengar suara itu. Matanya melirik ke sana kemari mencari-cari asal suara, tetapi hutan itu tetap sepi. Bangkitlah dia dari duduknya dan berjalan mengikuti petunjuk yang tadi didengarnya. Gunung Merapi terlewati. Raden Barjah melihat sebuah gua. Penunggu gua, Ajar Panunggal yang sakti, menyambutnya, “Agus, selamat datang di gua ini. Eyang yakin segala keinginan Agus pasti terkabul. Sekarang pergilah ke arah timur, temui Ardi Sambungan, di sanalah Raden tinggal."
“Terima kasih, Eyang! Hamba akan menuju ke sana,” kata Raden Barjah.
Raden Barjah meneruskan perjalanan. Jalan menuju Ardi Sambungan lebih berat daripada sebelumnya. Jaka Barjah teringat pada ayahnya. Tak henti-hentinya dia menangis mengenangkan masa-masa indah bersamanya. Jalannya terseok-seok karena selama empat puluh hari tidak makan dan tidak minum. Raden Barjah kembali menemukan sebuah gua. Dia masuk ke dalamnya. Tiba-tiba sebuah batu besar menutup pintu gua. Di sanalah Raden Barjah akhirnya bertemu dengan seorang Brahmana yang sakti.
“Selamat datang di rumahku, Agus! Apa sebenarnya keinginanmu sampai engkau berjalan jauh kemari?” tanya Sang Brahmana pada Raden Barjah.
“Cucumu ini hendak belajar berbagai ilmu yang bermanfaat, Eyang. Meminta petunjuk dari Eyang supaya hidup ini lancar dan tidak menemukan bahaya,” jawab Raden Barjah.
“Baiklah, Cucuku. Karena engkau sudah berhasil melakukan tirakat selama empat puluh hari empat puluh malam, Eyang akan mengajarimu semua ilmu yang kumiliki.”
Raden Barjah senang hatinya. Dia meraih tangan Brahmana itu lalu menciumnya sebagai tanda terima kasih. “Terima kasih, Eyang! Eyang sudah menganggap hamba sebagai murid.”
Brahmana mulai memberikan pelajaran bagaimana caranya mengubah wujud, berganti-ganti rupa dari bentuk asal sampai menjadi bentuk lain sesuai dengan yang diinginkan. Brahmana memperagakan cara mengubah wujud dari seorang laki-laki menjadi seorang putri yang cantik jelita. Raden Barjah berdecak kagum melihat kemampuan Brahmana yang telah menjelma menjadi seorang putri.
“Luar biasa! Apakah aku dapat melakukannya?” kata hati Raden Barjah ragu.
Brahmana membaca pikiran Raden Barjah. “Engkau pun dapat mengubah wujudmu seperti yang kau inginkan, tetapi untuk sampai ke sana kau harus menjalani berbagai ujian.”
“Ujian? Ujian apa yang harus kutempuh, Eyang?”
“Kamu harus tirakat selama empat puluh hari empat puluh malam. Harus tahan tidak makan dan minum. Tahan menghadapi berbagai godaan. Bagaimana, sanggup?”
“Hamba akan mencoba melakukannya, Eyang!”
“Bagus! Kalau begitu, lakukanlah!”
Raden Barjah melakukan semadi. Dia duduk bersila di atas batu besar di bawah air terjun yang mengucur deras dari puncak gua. Selama itu berbagai godaan datang mengganggunya. Tiba-tiba di depan matanya menjelma seorang perempuan teramat cantik. Perempuan itu menggodanya. Raden Barjah tidak menghiraukannya. Hilang perempuan cantik muncul pula berbagai wajah menakutkan. Raden Barjah tidak gentar. Dia terus melakukan semadi. Tak lama kemudian, Raden Barjah mendengar suara anak kecil yang meminta tolong. Suara anak itu sungguh menyayat hati. Raden Barjah nyaris terganggu dan ingin menolongnya, tetapi segera sadar bahwa itu hanyalah cobaan untuk membuyarkan konsentrasinya. Muncul pula seekor ular yang hendak menerkamnya. Raden Barjah tersenyum dalam hati. “Ular? Aku pernah menaklukkan ular yang lebih seram dari ini.”
Raden Barjah bergeming dari berbagai cobaan sampai suatu hari terdengar suara yang dikenalnya, suara Brahmana, penunggu gua itu. “Agus! Cukup semadimu! Bangunlah!”
Raden Barjah membuka mata, tampaklah di hadapannya Brahmana sedang duduk menatapnya. “Engkau berhasil, Agus! Sekarang bersihkan dirimu!”
Raden Barjah bangkit lalu menceburkan diri ke dalam kolam tempat jatuhnya air terjun. Badannya terasa segar. Hilang rasa pegal dan gatal-gatal yang selama ini menyerangnya.
“Siap-siaplah menerima berbagai mantra yang akan kubacakan, Agus! Kamu harus mengingat mantra ini satu per satu karena setiap akan mengubah wujudmu menjadi sesuatu mantranya berbeda.”
“Siap, Eyang!”
Brahmana itu membacakan beberapa mantra. Raden Barjah mengikutinya. Demikian selanjutnya sampai Raden Barjah hafal satu per satu mantra itu.
“Sekarang, gunakan mantra itu, Agus! Aku ingin melihat hasilnya!”
Raden Barjah berkonsentrasi membacakan salah satu mantra, tak lama kemudian wujud Raden Barjah bersalin rupa menjadi seorang perempuan yang sangat memukau. Saat Raden Barjah membaca mantra yang lain berubahlah wujudnya menjadi orang yang sangat tinggi, kemudian berubah menjadi anak-anak, dan berubah lagi menjelma menjadi raksasa. Raden Barjah bisa berubah menjadi apa saja sesuai dengan keinginannya: kakek-kakek, ayam, burung, bahkan semut.
“Kau lulus pelajaran pertama, Agus! Sekarang beristirahatlah sebelum menerima pelajaran lainnya.”
“Baiklah, Eyang! Aku akan beristirahat.”
Raden Barjah benar-benar letih setelah berhari-hari tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur. Dia tak mampu lagi melawan rasa kantuk yang menyerangnya. Raden Barjah pun tidur di atas sebuah batu besar yang datar. Karena terlalu letihnya, Raden Barjah tertidur selama dua hari dua malam. Pada hari yang ketiga Brahmana membangunkannya dengan tetesan air yang dipercikkan ke wajah Raden Barjah. Raden Barjah terbangun, dipandanginya Brahmana, “Sudah lamakah aku tertidur?”
“Dua hari dua malam kau tertidur. Aku sengaja membiarkanmu tidur supaya tenagamu putih,” kata Brahmana.
Raden Barjah bangkit lalu mandi di bawah air terjun. Sekejap saja tubuhnya terasa segar. Setelah itu dia menghadap Brahmana yang telah menunggunya.
“Agus, bersiaplah menerima ilmu kekebalan tubuh!”
“Siap, Eyang!”
Brahmana menurunkan ilmu kekebalan tubuh pada Raden Barjah. Raden Barjah pun mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Setelah dirasa cukup, Brahmana mencoba menjajal ilmu yang baru diturunkannya pada Raden Barjah. Brahmana memukuli tubuh Raden Barjah sekeras-kerasnya. Raden Barjah diam saja tak merasakan apa-apa.
“Bagaimana, Agus?”
“Aku tak merasakan apa-apa, Eyang!”
“Bagus! Bersiaplah menerima ini,” kata Brahmana sambil menghunjamkan kapak yang teramat tajam ke kaki dan tangan Raden Barjah.
Raden Barjah tetap tenang. Dia berkonsentrasi membaca beberapa ajian yang diajarkan oleh Brahmana untuk menangkal dan meredam serangan senjata tajam.
“Bagaimana, Agus?” Brahmana bertanya pada Raden Barjah.
Raden Barjah hanya menggelengkan kepala pertanda tak merasakan tajamnya kapak. Kemudian, Brahmana memanah dan menyeruduk tubuh Raden Barjah, tetapi Raden Barjah benar-benar sudah kebal.
“Berhasil, Agus! Kamu termasuk cerdas cepat menerima pelajaran.” Brahmana memuji Raden Barjah.
“Terima kasih, Eyang. Akan tetapi, tadi aku sempat gentar, jangan-jangan mantra yang kubacakan belum ampuh sehingga bisa-bisa aku kehilangan tangan dan kaki,” kata Raden Barjah tersenyum.
Brahmana hanya tersenyum mendengar pengakuan Raden Barjah. Di wajahnya terpancar rasa bangga menyaksikan muridnya telah berhasil. Raut muka Raden Barjah pun memancarkan kebahagiaan dan kelegaan karena telah melewati masa-masa yang sulit dan penuh cobaan.
“Agus, kau telah memiliki kekuatan dan kekebalan serta ilmu untuk mengubah wujud. Eyang berpesan, gunakanlah ilmu yang kau peroleh itu untuk kebaikan.”
“Tentu, Eyang! Aku akan memanfaatkan ilmu ini untuk hal-hal yang baik!”
“Sekarang istirahatlah! Kamu pasti lelah karena ilmu yang baru saja kau peroleh begitu berat, sangat jarang yang berhasil menerimanya.”
“Baiklah, Eyang! Akan tetapi, kali ini aku tidak akan tidur. Aku akan berkeliling di sekitar sini. Sejak kemari aku belum mengenal daerah ini dengan baik."
Raden Barjah ke luar gua. Batu besar yang menutupi gua dengan mudahnya digeser dan diangkat oleh Raden Barjah. Raden Barjah berkeliling menikmati suasana di sekitar gua. Saat itu pendengaran dan perasaannya yang sudah terlatih menjadi peka. Sayup-sayup pendengarannya menangkap sebuah pengumuman tentang sayembara yang diadakan oleh Putri Terengganu. Raden Barjah tertarik untuk mengikuti sayembara itu. Disampaikannya keinginan itu pada Brahmana.
“Eyang! Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya aku berkeinginan mengikuti sayembara sang putri. Bagaimana menurut Eyang?” tanya Raden Barjah meminta pendapat.
“Agus, ilmu yang kau peroleh kurasa sudah cukup! Sudah saatnya kau turun gunung! Adapun kau ingin mengikuti sayembara putri, menurutku tidak ada salahnya sekalian kau mengamalkan ilmu yang baru kau dapat,” kata Brahmana.
Raden Barjah bersinar-sinar wajahnya karena niatnya direstui oleh gurunya. “Kalau begitu hamba tidak akan menunda waktu lagi.”
“Pergilah! Aku tidak berhak menahanmu di sini!”
“Terima kasih atas segalanya. Aku takkan melupakan budi baik Eyang,” kata Raden Barjah sambil mencium tangan Brahmana sebagai tanda hormat.
Brahmana membalasnya dengan mencium ubun-ubun Raden Barjah sembari berkata, “Kudoakan semoga engkau berhasil.”
Raden Barjah meninggalkan gua Ardi Sambungan. Dia kembali menjelajahi hutan belantara, gunung, dan bukit. Baru beberapa hari berjalan Raden Barjah kembali menemukan sebuah gua. Gua ini kelihatan lebih bagus dan terurus daripada gua Ardi Sambungan. Raden Barjah memutuskan akan beristirahat di gua itu. Dia melihat tanda-tanda kehidupan di dalam gua. Dengan mengucapkan permisi, Raden Barjah mengetuk-ngetuk pintu gua.
“Assalamualaikum.” Raden Barjah memberi salam.
Lukmanuntara, penghuni gua, menyambut hangat tamunya seraya berkata, “Waalaikumsalam! Wah ... ada cahaya baik datang ke gua ini. Ki Satria, dari mana engkau?”
“Saya Jaka Barjah, Kek! Boleh beristirahat di sini, Kek?”
“Tentu saja, Ki Satria,” kata kakek itu menyapa Raden Barjah dengan sebutan Satria.
“Kakek sudah lama tinggal di sini?” tanya Raden Barjah.
“Seingatku, sudah lama. Sebenarnya, Ki Satria ini hendak ke mana?”
“Sebenarnya saya akan ke Negeri Cantakapura. Saya berniat mengikuti sayembara putri!”
“Sudah kuduga! Sebelumnya Ki Satria juga dari gua Ardi Sambungan. Aku juga mengetahuinya.”
“Kakek ini sungguh luar biasa,” Raden Barjah memuji.
“Ah, biasa saja kok.”
“Sekarang bagaimana menurut pendapat Kakek tentang niatku ikut sayembara?” Raden Barjah ingin mengetahui pandangan sang kakek yang menurutnya bukan sembarang kakek.
“Kehendak Ki Satria menginginkan Putri Terengganu, menurutku tidak akan kesampaian,” kata sang kakek dengan tenang.
“Mengapa, Kek?” Raden Barjah penasaran.
“Karena berat permintaannya, Ki Satria; bakal susah mengabulkannya.”
Raden Barjah cepat menimpali perkataan kakek, “Dengan seizin Allah, saya sanggup memenuhi permintaan sang putri.”
“Benarkah?”
“Katakan saja oleh Kakek sebenarnya apa permintaan Putri Terengganu?”
“Kalau bisa menemukan burung tiga warna pasti keinginan Ki Satria tercapai.’
“Burung yang berbulu tiga warna? Apakah ada? Bagaimana seandainya aku sendiri yang menjelma menjadi burung itu?”
“Tentu saja boleh. Yang penting burung berbulu tiga warna dan burung itu bisa berbicara, bercerita, dan bertembang pupuh pucung, sinom, dan dangdanggula,” Kakek menerangkan.
“Saya dapat melakukan semuanya,” kata Raden Barjah meyakinkan.
“Ki Satria! Jika engkau sudah yakin dan mampu serta percaya diri, lakukanlah!”
“Lihatlah, Kek! Aku sekarang hendak berganti rupa menjadi burung berbulu tiga warna,” kata Raden Barjah berjongkok dan berposisi seperti burung. Raden Barjah menghilangkan pancaindra, berkonsentrasi. Raden Barjah seolah tidak sadar. Yang ada dalam benaknya hanyalah gurunya. Raden Barjah mulai membacakan mantra. Tidak lama kemudian, Raden Barjah sudah berubah menjadi burung yang berbulu tiga warna. Sayapnya berkilauan seperti perak. Bulu di bagian leher sampai ke bawah berwarna kuning bersinar laksana emas, dan di bagian kepalanya putih bercampur hijau bercahaya bak intan berlian. Dari jauh burung berbulu tiga warna itu sungguh gemerlap. Lalu burung itu bernyanyi sinom dan dangdanggula. Burung ajaib itu besarnya persis seperti ayam hutan jantan.
Kakek Lukmanuntara terpesona melihatnya. Di depan matanya bertengger seekor burung sangat bagus dan lucu sekali. Kakek itu pun berujar, “Sungguh menakjubkan, Ki Satria. Engkau benar-benar sakti tak tertandingi. Sekarang aku yakin engkaulah calon Raja Cantakapura untuk mendampingi Putri Terengganu. Tunggulah di sini! Engkau tak perlu datang ke Terengganu! Patih Terengganulah yang akan kemari, percayalah!”
“Baiklah, Kek!” kata Raden Barjah yang wujudnya belum kembali ke asal.
Sementara itu, di Cantakapura, Putri Terengganu gelisah karena sampai saat itu belum ada seorang pemuda pun yang datang melamarnya. Diam-diam dia memerintahkan patihnya ke tukang nujum, “Patih! Pergilah ke tukang nujum! Tanyakanlah bagaimana nasibku! Apakah akan ada seorang pemuda yang sanggup memenuhi persyaratan yang kutetapkan?”
Patih Jaya Sobala berangkat ke tukang nujum memenuhi permintaan Putri Terengganu. Setibanya di tukang nujum, Patih Jaya Sobala langsung berkata, "Tukang nujum! Teroponglah melalui air ajaibmu itu, adakah burung yang berbulu tiga warna? Jika ada di mana dia sekarang? Tunjukkanlah padaku!"
“Wahai, Patih, apakah hal ini perintah Paduka Putri ataukah kehendakmu sendiri?” tukang nujum balik bertanya pada Patih.
“Perintah Putri Terengganu, tetapi tidak ada salahnya jika aku pun ingin mengetahuinya karena aku pun ingin menjadi raja,” jawab Patih.
“Baiklah, kalau begitu.”
Mulut tukang nujum komat-kamit. Matanya tak lepas dari baskom yang berisi air dan penuh dengan bunga-bunga. Sesaat kemudian, muncullah burung berbulu tiga warna di dalam air. Tukang nujum terbelalak matanya ke dalam air seraya berkata, “Tuan Patih, lihatlah! Bayangan burung yang dicari itu muncul, artinya burung itu benar-benar ada. Pergilah Tuan ke Brahmana Lukmanuntara yang berada di dalam gua di Puncak Gunung Sambungan.”
Patih Jaya Sobala senang hatinya. Dia mengucapkan terima kasih kepada tukang nujum, “Aku takkan melupakan kebaikanmu, tukang nujum! Jika kelak aku menjadi Raja Cantakapura dan bersanding dengan Putri Terengganu, aku akan menjadikanmu penasihat dan akan mengabulkan seluruh permintaanmu. Sekarang aku akan berangkat menuju puncak Gunung Sambungan. Terima kasih atas bantuanmu."
Tanpa memberi tahu kepada Putri Terengganu, Patih Jaya Sobala berangkat ke puncak Gunung Sambungan akan menemui Brahmana Lukmanuntara. Setibanya di puncak Gunung Sambungan, Patih segera menghadap Brahmana Lukmanuntara.
“Permisi, Kanjeng Eyang,“ sapa Patih dengan hormatnya.
“Ki Patih, masuklah!”
“Kanjeng Eyang, hamba datang kemari ....”
Belum selesai Patih Jaya Sobala mengutarakan maksudnya, Brahmana Lukmanuntara memotong perkataan Patih, “Mencari burung berbulu tiga warna?”
Patih Jaya Sobala terperanjat mendengarnya, “Kanjeng Eyang sudah mengetahuinya?”
“Benar, Patih! Karena hanya akulah yang memiliki burung itu. Sekarang bagaimana kehendakmu selanjutnya?” Brahmana bertanya pada Patih.
“Hamba akan membawanya ke hadapan Tuan Putri!”
“Patih! Burung itu memang ada padaku, tetapi engkau akan sulit mengurusnya karena makanannya susah. Burung itu pun akan merugikanmu karena burung itu tidurnya harus di tempat tidur yang bagus dan luas, bukan dalam sangkar yang sempit, dan yang harus melayaninya pun Tuan Putri langsung.”
Patih Jaya Sobala berkecil hati mendengarnya. Katanya dalam hati, “Kalau lihat gelagatnya, aku bakal gagal menjadi Raja Cantakapura dan meminang Putri Terengganu yang aku idam-idamkan."
Brahmana Lukmanuntara dapat membaca isi hati Patih Jaya Sobala. Dia tersenyum-senyum menyaksikan sang Patih yang salah tingkah.
“Bagaimana, Patih?”
“Kanjeng Eyang, bolehkah hamba melihatnya?”
Brahmana Lukmanuntara memanggil burung, “Hai, tiga warna, kemarilah! Ini ada tamu dari Negeri Cantakapura menjemputmu!”
Burung itu pun keluar dengan anggunnya. Patih Jaya Sobala terheran-heran melihatnya. “Kanjeng Eyang! Baru sekarang hamba melihat burung seindah ini, sangat menarik hati. Seumur hidup hamba, baru kali ini hamba mengetahui ada burung begini bagusnya.”
“Bernyanyilah, hai burung!” perintah Brahmana. Tanpa disuruh dua kali terdengarlah suara merdu keluar dari mulut si burung berbulu tiga warna. Si tiga warna terus bersenandung melagukan beberapa lagu. Patih Jaya Sobala jatuh hati padanya. Dia sangat berniat akan membawa burung itu ke negerinya.
“Kanjeng Eyang! Tentukanlah harganya, si tiga warna akan hamba beli berapa pun mahalnya,” kata Patih Jaya Sobala.
“Patih! Berapa pun kau akan membeli, si tiga warna takkan kujual.” Brahmana menegaskan.
“Aduh! Kanjeng Eyang! Kasihanilah Putri Terengganu. Dia sangat mendambakan burung tiga warna,” pinta Patih Jaya Sobala.
“Patih! Dengarlah dulu perkataanku. Aku memang tidak menjualnya, tetapi akan memberikannya padamu. Bawalah si tiga warna kepada tuanmu!”
“Betapa mulia hatimu, Kanjeng Eyang.”
“Persembahkanlah burung tiga warna ini kepada Tuan Putri!” pesan Brahmana Lukmanuntara.
“Hamba akan melaksanakannya, Kanjeng Eyang!"
Patih Jaya Sobala undur diri dari hadapan Brahmana Lukmanuntara. Dia bergegas kembali ke Negeri Cantakapura. Si tiga warna tak lupa dibawanya untuk dipersembahkan pada Putri Terengganu. Setibanya di Negeri Cantakapura, Patih langsung menghadap Putri Terengganu, sedangkan burung tiga warna ditempatkan di sebuah puri yang khusus untuk tamu negara. Patih melaporkan pada Putri Terengganu bahwa burung berbulu tiga warna sudah ditemukan dari puncak Gunung Sambungan. Putri Terengganu berbinar matanya.
“Patih! Siapkan acara pernikahan di padaleman. Aku juga akan bersiap-siap. Bawalah burung tiga warna ke padaleman dengan kereta kencana! Perintahkan pada penggawa supaya memukul gong!”
Patih berbinar-binar raut mukanya, dikiranya Putri Terengganu akan menikah dengan dirinya. Patih seketika bertanya, “Tuan akan menikah dengan hamba?”
Putri Terengganu tersenyum. “Meskipun engkau yang membawanya kemari, aku tidak akan menikah denganmu!”
“Lalu? Tuan menikah dengan siapa?”
“Tentu saja dengan si tiga warna.”
“Dengan si tiga warna? Apakah Tuan menikah dengan burung?”
“Benar, Patih! Lakukanlah apa yang kuperintahkan!”
Patih tak berani bertanya lagi. Diperintahkannya penggawa memukul gong. Penggawa memukul gong keramat memenuhi permintaan Putri Terengganu. Bunyi gong nyaring terdengar ke seluruh negeri. Patih di istana mengumpulkan para penggawa, para jaksa, para penghulu, dan menteri-menteri. Semua berkumpul di padaleman. Suasana makin meriah dengan adanya pergelaran kesenian. Sekitar padelaman penuh sesak oleh rakyat Cantakapura yang berdatangan memenuhi panggilan Ratu.
Putri Terengganu sudah hadir di padaleman lengkap dengan pakaian pengantin. Putri Trenggono memerintahkan kepada Patih, “Patih, mulailah acara ini. Umumkan kepada seluruh hadirin bahwa sekarang aku akan menikah dengan si tiga warna.”
“Baiklah, Putri! Hamba akan memulainya.”
Patih menyapa khalayak, “Hadirin! Putri Terengganu hanya akan menikah dengan laki-laki yang berhasil membawa burung yang berbulu tiga warna. Akan tetapi, lelaki yang berhasil menemukan burung itu adalah seorang Brahmana, yakni Kanjeng Eyang Lukmanuntara yang berdiam di puncak Gunung Sambungan. Kanjeng Eyang berpesan padaku, bukan dia yang akan menjadi suami Putri Terengganu, tetapi burung tiga warna itulah yang akan menjadi suami Putri Terengganu!”
Patih pun terdiam sesaat. Riuh rendah komentar hadirin ketika mendengar penjelasan Patih. “Tuan Putri menikah dengan burung?” celetuk salah seorang.
“Seekor burung akan menjadi Raja Cantakapura?” tanya yang lain tak habis pikir.
“Tentu bukan burung sembarang burung, kita lihat saja bagaimana selanjutnya,” kata yang lain lagi.
Putri Terengganu menyaksikan kegaduhan di mana-mana. Buru-buru dia menenangkan rakyatnya. “Tenang! Tenanglah, wahai rakyatku! Benar aku akan menikah dengan burung itu. Aku melakukan ini atas kehendak ayahku,” tegasnya.
Putri Terengganu melanjutkan, “Patih, segeralah panggil si tiga warna ke sini!”
Genderang ditabuh, meriam pun disundut hingga ingar-bingar seperti gemuruh ribuan suara yang berseru memanggil-manggil sang burung tiga warna. Burung tiga warna pun datang menumpang kereta kencana. Yang terlihat hanya kepalanya, badannya yang tidak terlalu besar tenggelam. Putri Terengganu bersiap menyambutnya. Hadirin tertawa riuh. Burung tiga warna tenang saja tidak peduli pada situasi yang hiruk-pikuk.
Sesampainya di padaleman, si tiga warna dengan cekatan membuka pintu kereta kencana. Dengan anggunnya dia berjalan menghampiri Putri Terengganu. Kini tampak jelas sosok burung itu. Benarlah bulunya berwarna tiga macam. Ketiga macam warna itu berkilau-kilauan menerangi seluruh ruangan. Mata hadirin terbelalak tertuju pada burung tiga warna. Mereka takjub melihat burung yang demikian indahnya. Apalagi setelah burung itu menyapa Putri Terengganu. Suaranya yang lembut dan indah begitu memesona semua orang.
“Salam, Putri Terengganu,” sapanya sambil menyodorkan satu kakinya.
“Betapa cantiknya!” kata si tiga warna dalam hati menyaksikan kemolekan wajah Sang Putri.
Tanpa ragu Putri Terengganu menyambutnya dengan hangat, “Salam untukmu, tiga warna!” Dalam hatinya Sang Putri berkata, “Benar-benar ajaib! Suaranya yang merdu dan indah sesuai benar dengan sosoknya yang menawan.”
“Tidakkah Tuan menyesal menikah dengan diriku yang hina ini?” tanya si tiga warna ingin mengetahui isi hati Sang Putri.
“Tentu saja tidak, tiga warna. Akan tetapi, sebelum ijab kabul dilaksanakan aku hendak mendengar suaramu yang merdu itu menembangkan dangdanggula dan sinom.”
Tiga warna memenuhi permohonan Putri Terengganu. Menembanglah tiga warna melagukan dangdanggula dan sinom. Suaranya merdu mengalun membius semua orang. Hadirin pun berdecak kagum, tak terkecuali Putri Terengganu. Dia pun berkata dalam hatinya, “Benar! Inilah calon suamiku yang sebenarnya. Jodohku yang telah ditunjukkan oleh ayahku. Aku tidak akan menyesal menikah dengannya. Selain pandai menembang, tiga warna pun pandai berbicara."
“Bagaimana, Tuan Putri?" tiga warna masih menjajaki hati Putri Terengganu.
“Tiga warna, engkaulah jodohku,” jawab Putri Terengganu mantap.
“Kalau demikian, tunggulah sebentar,” kata tiga warna sambil memejamkan mata.
Tiga warna kembali memusatkan kelima indranya. Dia hanya membayangkan wajah gurunya yang telah membekalinya dengan ilmu mengubah wujud dan rupa. Sesaat kemudian, lenyaplah burung tiga warna dari pandangan mata dan berganti dengan Raden Barjah. Hadirin terheran-heran menyaksikan adegan yang mirip sulap itu. Raden Barjah pun berujar, “Perkenalkan hamba yang hina ini, Jaka Barjah! Burung tiga warna tadi tiada lain adalah aku, Si Jaka, atau biasa dipanggil Raden Barjah. Hamba berasal dari Sokadana. Sebelum berangkat ke puncak gunung, hamba menetap di Negeri Tawanggantungan.” Raden Barjah menyapa Putri Terengganu yang beberapa saat terdiam, “Tuan Putri, sudah siapkah Tuan menikah denganku?”
Karena Putri Terengganu masih terdiam, Raden Barjah bertanya setengah menggoda, “Ada apa dengan mata Tuan Putri? Sedari tadi tak berkedip memandangiku."
Putri Terengganu masih diam terpaku. Yang terdengar hanya celoteh keheranan hadirin. “Tidakkah salah penglihatanku ini?” tanya salah seorang seraya menggosok-gosok matanya.
“Benarlah dugaanku, burung itu bukan sebenar-benarnya burung,” kata yang lain.
“Raja manakah Raden Barjah itu? Ke mana saja beliau selama ini?” kata salah seorang perempuan yang terbius dengan ketampanan Raden Barjah.
“Pasti dia bersemadi di puncak gunung. Ditemukannya juga dari sana.”
“Raden Barjah pasti memiliki ilmu yang tinggi. Tidak sembarangan orang dapat mengubah-ubah wujud seperti itu.”
“Betapa beruntungnya kita memiliki seorang raja yang berilmu dan berbudi.”
Putri Terengganu seperti tersadar dari mimpi mendengar suara-suara yang mendengung mengalir ke telinganya.
“Aku sejak tadi sudah siap, Raden! Mataku ini teramat kaget karena belum pernah menyaksikan pemandangan yang menakjubkan ini. Belum selesai mengagumi burung tiga warna, tahu-tahu telah terjadi perubahan yang demikian mendadak yang lebih memesona,” kata Putri Terengganu menerangkan.
“Kalau demikian, tunggu apa lagi? Kita laksanakan pernikahan ini secepatnya.”
Putri Terengganu menikah dengan Raden Barjah. Selesai pernikahan, Putri Terengganu dan Raden Barjah mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam. Pergelaran wayang pada pesta itu menghibur rakyat Negeri Cantakapura. Saat itu pula, Raden Barjah dikukuhkan menjadi Raja Cantakapura dengan gelar Sri Nalendra Raja Barjah.
![]() |
| Acara pernikahan Raden Barjah dengan Putri Trengganu. |
Sri Nalendra Raja Barjah dan Putri Terengganu mengabadikan cinta di Cantakapura. Cinta tak kunjung padam berkobar di hati kedua insan itu, meneladan pada Rama dan Sita.
•••
LIMA
TEPERDAYA OLEH PUTRI KALONG
Sebuah negeri—Blambangan—konon merupakan negeri siluman, tepatnya siluman kalong. Yang memerintah negeri siluman kalong tiada lain adalah Raja Kuntani. Beliau mempunyai seorang anak perempuan cantik tiada tara senegeri Blambangan, yakni Dewi Kelongan.
Telah lama Dewi Kelongan mendambakan Raden Barjah. Telah lama Dewi Kelongan membayangkan Raden Barjah sebagai kekasih. Wajah Raden Barjah yang tampan, sorot matanya yang tajam, cara bicaranya yang lembut dan hangat, serta sosok tubuhnya yang jantan sebagai lelaki selalu menggoda angan sang dewi. Siang malam pikiran sang dewi dipenuhi oleh Raden Barjah. Dia sangat ingin memiliki Raden Barjah, tetapi tak tahu caranya. Otaknya berpikir keras mencari upaya untuk mendapatkan lelaki idamannya, tetapi tetap tak menemukan jalan. Akhirnya, Dewi Kelongan memutuskan akan mengadukan hal yang meruwetkan pikirannya itu kepada ayahandanya tercinta.
Ketika ayahnya sedang beristirahat, Dewi Kelongan menghampirinya seraya berkata manja, “Ayah, dengarkanlah keluh-kesahku.”
Raja Kuntani membalas sapaan anaknya dengan heran, “Ada apa, Putriku? Apa gerangan yang mengganggu pikiranmu?”
“Ayah, Ananda ingin berkelana ke luar negeri. Boleh?”
“Berkelana? Apa yang kau cari? Apa kau sudah tak betah di sini, Anakku?”
“Bukan begitu, Ayah. Ananda menginginkan sesuatu,” keluh sang dewi.
“Menginginkan apa, Anakku? Janganlah pergi jauh-jauh, Anakku! Ingatlah kandunganmu!”
Dewi Kelongan mengelus perutnya yang membuncit. “Benar, Ayah. Ananda memang sedang mengandung, tetapi tiap malam Ananda memimpikan seorang lelaki yang mengaku bernama Jaka Barjah. Ananda sangat merindukannya. Telah lama ananda mendambakannya. Dan, ingin memilikinya.”
“Aduh, Anakku Dewi Kelongan, aku tahu lelaki yang bernama Jaka Barjah. Benar dia sangat tampan, tiap perempuan akan tergila-gila padanya, tetapi dia itu seorang raja besar, Anakku. Engkau tidak akan sanggup menghadapinya. Jangankan engkau, banyak raja-raja tidak mampu menghadapinya.”
“Kalau demikian, aku akan menculiknya lalu membawanya kemari, dan akan kujadikan suami,” kata Dewi Kelongan berapi-api.
“Tetap saja engkau takkan mampu, Anakku. Raden Barjah itu orangnya sangat berhati-hati. Akan sulit menculiknya!”
Dewi Kelongan menunduk sedih. Tak terasa air matanya mengalir. Raja Kuntani iba melihatnya. Katanya menghibur, “Sudahlah, Anakku! Kandunganmu sudah berumur tujuh bulan, sebentar lagi engkau akan melahirkan. Engkau harus setia, Anakku! Jangan banyak pikiran! Lagi pula, Putri Terengganu permaisuri Raden Barjah, seperti halnya kamu juga sedang mengandung.”
“Akan tetapi, bagaimana, Ayah? Hatiku tak dapat berpaling darinya. Lebih baik mati daripada tidak terlaksana dengan Raden Barjah. Tolonglah, Ayah! Carilah akal supaya keinginanku tercapai.”
Raja Kuntani memutar otak. Dia tersenyum, telah ditemukannya suatu cara yang menurutnya sangat cemerlang.
“Bagaimana, Ayah? Tampaknya, Ayah telah menemukan akal?” tanya Dewi Kelongan tak sabar.
“Begini, Anakku! Satu-satunya cara yang harus dilakukan adalah kamu harus mengubah wujudmu dalam rupa Putri Terengganu, harus sama!"
Dewi Kelongan masih belum paham maksud ayahnya, “Bagaimana maksud Ayah?”
“Sebelumnya, engkau harus menculik Putri Terengganu atau membuangnya jauh-jauh dari hadapan Raden Barjah. Setelah itu, berpura-puralah menjadi istrinya,” kata ayahnya.
Dewi Kelongan manggut-manggut tanda mengerti. “Siasat yang jitu, Ayah!” katanya sambil mencium ayahnya.
“Sekarang pergilah! Berhati-hatilah! Jika mendapat kesulitan, panggillah Ayah!”
“Baik, Ayah!”
Dewi Kelongan berangkat. Dengan mengepakkan sayapnya, sang dewi melayang di udara. Payudaranya yang panjang menggelantung mendekati perut. Rambutnya terurai menutupi seluruh wajahnya. Satu bayangan yang tak sedap dipandang mata. Ketika waktu magrib tiba, putri kalong itu mendarat di Negeri Cantakapura. Dia bersembunyi di belakang pepohonan yang ada di sekitar sumur yang biasa digunakan oleh Putri Terengganu.
Putri Terengganu di Cantakapura sedang bercengkerama dengan suaminya, Sri Nalendra Raden Barjah. Wajah suami-istri itu memancarkan semburat merah. Kebahagiaan menyelimuti keduanya. Tampak perut permaisuri semakin membuncit saja. Kandungannya genap berusia tujuh bulan. Usia kandungan yang cukup untuk melahirkan. Kata orang tua, perempuan yang hampir melahirkan sering buang air kecil karena bayi yang semakin membesar menekan saluran kencing. Putri Terengganu pun demikian.
“Kang Barjah. Sebentar, ya! Aku hendak ke sumur,” katanya memberi tahu suaminya.
“Tahanlah sebentar, Sayang! Magrib hampir tiba. Di luar berkeliaran sandekala.” Raden Barjah memperingatkan istrinya.
“Aduh, Kang! Aku tak tahan.”
“Tahanlah, Sayang! Kata orang tua, perempuan hamil tidak boleh ke luar pada waktu magrib. Konon, menjelang malam berhala, terutama kunti kalong, keluar mencari mangsa."
“Akan tetapi, Kang Barjah, aku tak kuat lagi menahan ingin buang air.”
“Akan tetapi, ajaklah empat puluh dayang ke sumur untuk menjagamu,” kata Raden Barjah mengalah menyaksikan istrinya gelisah.
Putri Terengganu memanggil dayang-dayangnya sebanyak empat puluh orang sesuai dengan saran suaminya. Mereka beriringan ke sumur. Putri Terengganu masuk ke bilik mandi, sedangkan dayang-dayangnya menunggu di luar. Saat itulah Dewi Kelongan yang sejak tadi mengintai datang. Tanpa terlihat oleh empat puluh dayang, putri kalong menyambar tengkuk Putri Terengganu lalu menariknya ke atas. Secepat kilat putri kalong melayang-layang di udara menerbangkan Putri Terengganu. Teriakan Putri Terengganu yang meminta tolong tidak terdengar oleh para dayang karena jaraknya sudah terlalu jauh. Dewi Kelongan menjatuhkan Putri Terengganu di tengah hutan belantara. Buru-buru dia kembali ke Cantakapura. Dalam hitungan menit Dewi Kelongan sudah berada di bilik mandi dekat sumur. Dan, Dewi Kelongan yang telah mengubah diri sebagai Putri Terengganu keluar dari bilik mandi.
![]() |
| Putri Kalong melayang-layang di udara menerbangkan Putri Trengganu yang telah berhasil diculiknya. |
“Ayo, dayang-dayangku, kita kembali,” ajaknya pada para dayang.
Putri Terengganu jadi-jadian berjalan di depan, sedangkan para dayang mengiringinya dari belakang. Para dayang sama sekali tidak mengetahui bahwa yang berjalan di depan bukanlah Putri Terengganu. Dewi Kelongan hampir sempurna menyerupai Putri Terengganu. Hanya dua kekurangannya, tubuhnya mengeluarkan aroma busuk dan kedip matanya terlalu cepat. Hanya Raden Barjah yang dapat merasakan perubahan itu. Dengan heran dia bertanya pada istrinya, “Sayangku, sekembali dari sumur engkau tampak berubah. Apa yang terjadi?”
Dewi Kelongan belum menyadari kekurangannya. Dia balik bertanya pada Raden Barjah, “Apanya yang berubah, Kang? Selama di sumur tak terjadi apa-apa denganku, buktinya aku telah kembali dengan selamat.”
“Tubuhmu seperti bau busuk. Matamu juga sering berkedip,” kata Raden Barjah agak menjauh dari istri jadi-jadiannya.
“Ah ... Kang Barjah, ini hanya bau bawang. Tadi tubuhku agak pegal-pegal, dayang mengeroki aku dengan bawang. Barangkali bawangnya terlalu banyak. Kainku ini tadi juga jatuh terkena air kencing, jadi agak bau pesing.”
Raden Barjah tidak bertanya lagi. Dewi Kelongan memanfaatkan kesempatan itu untuk meyakinkan Raden Barjah. “Mataku ini kena kotoran, jadi agak perih,” katanya seraya mengedip-ngedipkan matanya.
Raden Barjah memercayai alasan itu. “Ya, sudah! Sebaiknya gantilah kainmu itu!”
Dewi Kelongan buru-buru meninggalkan Raden Barjah hendak ke kamar, tetapi dia tidak tahu mana kamarnya. Tanpa pikir panjang dia masuk ke salah satu kamar. Raden Barjah memerhatikan sang istri gadungan yang salah tingkah. “Sayang, hendak ke mana? Bukankah kamar kita yang ini?” katanya sambil menunjuk kamar tidurnya.
Dewi Kelongan terkejut takut terbongkar kedoknya. Dia cepat berkilah, dan tiba-tiba dapat akal begitu pintu terbuka dan di dalamnya terlihat boks bayi. “Aku hanya memeriksa kamar untuk buah hati kita, Kang Barjah!”
Dewi Kelongan berbalik dan masuk ke kamar yang ditunjukkan oleh Raden Barjah. Dibukanya lemari pakaian, diambilnya kain dan baju milik Putri Terengganu. Disemprotkannya parfum yang biasa digunakan oleh Putri Terengganu. Lalu, dia berdiri di depan cermin berusaha mengatur kedipan matanya supaya tampak lebih anggun. Tersenyumlah Dewi Kelongan melihat bayangannya di depan cermin, “Sempurnalah sudah penampilanku. Moga-moga Raden Barjah puas melihat penampilan ini dan tidak meragukanku lagi.” Dibaringkannya tubuhnya di atas kasur yang empuk dan nyaman. Angannya melayang membayangkan peristiwa yang bakal terjadi antara dia bersama Raden Barjah, lelaki impiannya.
Sementara itu, Putri Terengganu terlunta-lunta di tengah hutan belantara. Dia tidak dapat ke mana-mana karena waktu itu hari sudah malam. Pemandangan di sekelilingnya gelap. Hanya cahaya bulan yang menyorotkan sinarnya dapat menerobos sela-sela pepohonan. Putri Terengganu mencari tempat yang aman untuk membaringkan tubuhnya. Hatinya disesaki dengan penyesalan mendalam karena tidak mengikuti larangan suaminya.
“Oh, nasibku yang malang! Seandainya aku menuruti Kang Barjah, pasti kejadiannya tidak seperti ini,” gumamnya dengan berlinang air mata.
Alam di sekeliling Putri Terengganu begitu hening. Kesepian yang menyelimuti diri Putri Terengganu begitu menyiksanya. Sepanjang malam dia tak dapat memejamkan mata. Menjelang subuh akhirnya dia tertidur di atas rerumputan berselimutkan daun-daun kering.
Putri Terengganu tidak tahu harus berbuat apa di tengah hutan belantara. Apalagi dia seorang permaisuri yang biasa dimanjakan dengan berbagai kemudahan. Dia hanya bisa menangis. Perut yang keroncongan dan dahaga yang menyerang memaksa Putri Terengganu untuk mencari pertolongan.
Karena sedang hamil tua, Putri Terengganu cepat lelah. Ketika menemukan sebuah batang pohon yang besar, Putri Terengganu menghentikan perjalanannya. Duduklah dia di sana, dan pasrah pada nasibnya. Tiba-tiba terdengar suara auman harimau mengejutkan hatinya. Putri Terengganu ingin berlari menghindar, tetapi dia tak sanggup lagi berlari. Jangankan berlari, berdiri pun kakinya tak mampu lagi menyangga beban tubuhnya yang berat.
Tampaklah di hadapannya seekor harimau gunung mendekatinya. Putri Terengganu benar-benar pasrah. “Terkamlah aku, hai harimau! Aku tidak takut menghadapimu. Lebih baik mati daripada hidup seperti ini,” katanya pada harimau sambil merunduk bersiap-siap menerima terkaman harimau.
“Tenanglah, Paduka Ratu! Aku datang hendak menolongmu.”
Putri Terengganu mengangkat wajahnya memandang harimau, “Benarkah?”
“Tentu saja benar. Jika tidak, dari tadi aku sudah menyerangmu. Bukan sifatku menyerang orang yang tak berdaya sepertimu.”
“Oh ... aku telah salah menilaimu, wahai harimau yang baik hati!”
“Aku akan menunjukkan jalan padamu! Jalanlah ke arah sana,” kata harimau menunjukkan jalan yang harus ditempuhnya. “Tuan akan menemukan Negeri Panuruwan. Di sana ada sepasang suami-istri yang baik hati yang akan menolongmu! Mereka petani."
“Akan tetapi, aku tak sanggup lagi berjalan.”
“Tuan akan kuat kembali setelah makan buah-buahan yang kubawakan ini,” kata harimau meletakkan kantong berisi buah-buahan yang dibawa dengan mulutnya.
Putri Terengganu mengambil buah-buahan yang dibawakan oleh harimau. Benar saja, setelah makan beberapa buah, badannya terasa segar.
“Jika kelak Paduka Ratu melahirkan, berilah nama anak itu Rengganpulung,” kata harimau memberi saran. “Dan, jangan lupa, kelak setelah melahirkan, Paduka Ratu harus menyamar sebagai seorang kesatria. Ketahuilah bahwa suamimu Raden Barjah telah teperdaya oleh Dewi Kelongan, putri kalong.”
“Baiklah, harimau, aku akan mengikuti saranmu! Bagaimana dengan suamiku? Apakah aku dapat merebutnya dari tangan kunti kalong?”
“Mudah-mudahan bisa. Hanya Paduka Ratulah yang dapat merebut suamimu kembali.”
“Terima kasih, harimau, atas segala pertolonganmu. Aku telah berutang nyawa padamu! Budi baikmu akan kukenang sepanjang hayatku."
“Sekarang cepat berangkat! Tempat ini tidak pantas untuk Paduka Ratu.”
Putri Terengganu bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh harimau. Benar saja, tak jauh dari tempat itu sudah tampak sebidang ladang yang cukup luas. Dia terheran-heran karena teramat mudah menemukan ladang itu, padahal sudah berhari-hari sulit mencari jalan keluar dari hutan.
“Syukurlah, Yang Mahakuasa memberikan perlindungan padaku,” katanya dalam hati.
Putri Terengganu bertemu dengan petani. Setelah mengetahui nasib sang putri, dengan terbuka sepasang suami-istri itu—Abah dan Ambu—menerima Putri Terengganu.
Melewati dua purnama, Putri Terengganu melahirkan. Bayinya seorang laki-laki. Rupanya sangat tampan. Parasnya menunjukkan kemiripan dengan ayahnya. Sesuai dengan pesan harimau, bayi itu diberi nama Rengganpulung.
Putri Terengganu merasa telah saatnya meninggalkan ladang hendak merebut suaminya, Raden Barjah. Diutarakannya maksud itu pada Abah dan Ambu yang selama ini telah menolongnya. Berkatalah Putri Terengganu, “Abah, Ambu! Usia Rengganpulung menginjak dua tahun, artinya telah dua tahun pula aku tinggal di sini. Kini saatnya aku merebut kembali suamiku dari tangan Dewi Kelong."
“Aduh, sayang, Putriku! Ambu sudah menganggapmu sebagai anakku. Ambu sedih mendengar rencana kepergianmu,” kata Ambu terisak-isak.
“Benar, Anakku! Abah juga sudah menganggapmu sebagai putriku, mengapa engkau harus pergi?” kata Abah dengan wajah muram.
“Abah, Ambu. Aku masih teringat pesan harimau yang mengatakan hanya akulah yang dapat merebut suamiku. Hanya aku yang tahu di mana suamiku, sedangkan suamiku Raden Barjah tidak tahu di mana aku berada. Raden Barjah pun tidak merasa kehilangan aku karena disangkanya Dewi Kelong itu aku, istrinya.” Putri Terengganu menerangkan dengan wajah penuh duka.
“Sudah seharusnya, Anakku, engkau merebut Raden Barjah dari tangan kunti kalong yang jahat itu,” kata Abah.
“Bagaimana dengan Rengganpulung, Anakku? Apakah dia akan kau bawa juga?” tanya Ambu.
“Untuk sementara tidak, Ambu! Biarlah Rengganpulung tinggal di sini. Aku percayakan putraku pada Abah dan Ambu untuk menjaganya.”
“Kapan berangkat, Anakku?”
“Esok hari,” jawab Putri Terengganu singkat.
Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, Putri Terengganu meninggalkan rumah. Agar tidak diketahui identitasnya, Putri Terengganu menyamar sebagai seorang kesatria. Parasnya yang cantik, rambutnya yang panjang, dan lekuk tubuhnya yang menawan disembunyikannya dengan sempurna. Yang tampak kini hanyalah seorang kesatria yang sosoknya sederhana, tetapi cukup punya daya pikat di mata perempuan. Di punggungnya tersandang beberapa anak panah yang sudah disiapkannya untuk menembus dada kunti kalong. Tak ketinggalan, di pinggangnya juga terselip sebilah keris yang akan digunakannya untuk menusuk perut perempuan jadi-jadian yang telah merebut suaminya.
“Tunggulah pembalasanku, hai kunti kalong,” kata Putri Terengganu penuh emosi. “Aku akan datang untuk mengambil suamiku yang bukan hakmu!”
Perbuatan Dewi Kalong yang telah memperdaya Raden Barjah dan merenggutkan Putri Terengganu dari istana dengan tipu muslihat yang licik benar-benar menyisakan luka yang dalam di hati Putri Terengganu. Kesabarannya telah habis. Kini saatnya membebaskan suami tercinta dari tipu muslihat kunti kalong.
Di bawah asuhan petani yang sudah menganggapnya sebagai cucu, Rengganpulung tumbuh menjadi jejaka yang tangkas dan cekatan. Tubuhnya kuat berotot dan bertulang baja. Rengganpulung tiap harinya dilatih bekerja keras mengolah ladang. Berbeda dengan para pemuda di sekitarnya, Rengganpulung mempunyai kegemaran berburu ke dalam hutan. Dia pandai memanah dan menombak sehingga banyak binatang buruan yang roboh di tangannya. Sang petani sangat bahagia memiliki seorang cucu seperti Rengganpulung. Dia tidak harus bersusah payah menjaga ladang dari serbuan binatang yang selama ini mengganggu ladangnya. Rengganpulunglah yang menggantikan tugasnya.
Uyah moal tees ka luhur (garam tidak menetes ke atas), demikian pepatah Sunda yang sering dikatakan oleh sang petani pada istrinya.
“Maksudmu?” Ambu bertanya ingin tahu.
“Itu cucu kita, dari hari ke hari makin memperlihatkan siapa dia sebenarnya. Parasnya sangat rupawan, berbeda dengan kita yang goreng patut ‘jelek sekali'. Perilakunya sangat terpuji dan otaknya juga encer!”
“Tentu saja, Abah. Lihat saja ayahnya, Sri Nalendra Raden Barjah, wajahnya tak beda dengan Arjuna. Ibunya, Putri Terengganu parasnya laksana Srikandi. Masa turunannya seperti kita? Pasti ikut orang tuanya.”
“Abah jadi takut.”
“Takut? Takut apa, Abah?”
“Ya, takut kehilangan dia. Jika cucu kita tahu siapa dia sebenarnya, pasti akan meninggalkan kita.”
“Ah ... jangan takut, Abah! Itu sudah semestinya. Jika Raden Renggan tahu bahwa dirinya keturunan raja sudah sepantasnya dia hidup di istana, bukan di gubuk seperti ini.”
Yang sedang dibicarakan tiba-tiba saja menghampiri suami-istri itu seraya berkata, “Abah, Ambu, sedang bicara masalah apa? Renggan datang kok langsung terdiam?”
“Ah, tidak, Raden. Abah dan Ambu hanya bicara soal ladang kita yang tinggal beberapa hari akan panen.” Abah berkilah.
“Benar, Bah! Kecipir dan kacang merah tampaknya sudah pantas diambil.”
“Semua berkat kerja keras kita, Raden.” Ambu menimpali.
“Biarlah Renggan yang akan memanennya. Oh, ya, Abah, Ambu, Renggan akan ke sana untuk memeriksa ladang,” kata Renggan sambil meninggalkan Abah dan Ambu.
•••
ENAM
JAKA KARENDAKA DAN RENGGANPULUNG
Dewi Kalong di Cantakapura bersukacita. Impiannya untuk bersanding dengan Raden Barjah—lelaki idamannya—terwujud. Untuk sementara waktu hatinya merasa lega karena Raden Barjah tak pernah meragukan dirinya. Selain wajahnya, usia kandungan Dewi Kalong pun sama dengan Putri Terengganu. Tidak berapa lama tinggal di istana, Dewi Kalong melahirkan seorang putra yang kelak bernama Jaka Karendaka.
Seharusnya, Raden Barjah gembira karena putranya telah lahir. Akan tetapi, sebaliknya, Raden Barjah bingung dan resah melihat paras si bayi. Paras bayi itu sungguh menakutkan. Hidungnya pesek dan bibirnya tidak berbentuk sebagaimana layaknya bibir manusia.
“Mengapa anakku rupanya seperti ini?” katanya dalam hati. Ingin benar Raden Barjah mengatakannya pada “istrinya”, tetapi takut melukai perasaannya karena “istrinya” terlihat begitu bahagia.
Tidak hanya Raden Barjah yang bingung, orang lain pun yang melihat bayi itu bertanya-tanya. “Mengapa putra Sri Nalendra Raden Barjah rupanya tidak patut?”
“Rupanya benar-benar seperti monyet saja,” kata yang lain.
Salah seorang dayang yang biasa dipanggil Emban Sunti memberanikan diri bertanya pada permaisuri, “Paduka Ratu, mengapa putra tuanku jelek sekali? Sangat berbeda dengan ibunya, apalagi dengan ayahnya, tidak ada miripnya sama sekali!”
Permaisuri jadi-jadian naik darahnya mendengar perkataan itu. Dibentaknya Emban Sunti, “Hai, Sunti! Berani-beraninya engkau berkata seperti itu padaku, hah! Apa urusanmu? Jelek atau tampan tetap anakku. Kau tak berhak mencelanya.”
Emban Sunti terkejut bukan kepalang. Selama mengabdi pada Putri Terengganu, baru kali ini dia melihat tuannya marah, sangat marah. Di mata Emban Sunti sekilas terlihat bahwa yang baru saja marah bukanlah Putri Terengganu, melainkan kunti kalong. Dewi Kalong juga kaget melihat wajah dan tubuh Emban Sunti yang gemetar karena ketakutan. Dewi Kalong cepat sadar, takut Sunti buka mulut. Buru-buru dia minta maaf, “Sunti, maafkanlah, tadi aku emosi. Anakku memang jelek kata semua orang, tetapi bagiku anakku adalah bayi tertampan di dunia .... (kalong),” katanya sembari mengucapkan kata 'kalong” hanya di dalam hatinya.
Perkataan permaisuri jadi-jadian itu memang meluluhkan hati Sunti. Sunti pun sadar bahwa dia memang terlalu lancang pada permaisuri. Setelah memohon maaf, Sunti berlalu dari hadapan permaisuri.
Dewi Kalong dan putranya, Jaka Karendaka berhasil melewatkan waktunya selama lima belas tahun dengan Raden Barjah. Jaka Karendaka sudah berusia lima belas tahun. Sudah saatnya membutuhkan seorang pengiring untuk menemaninya ke sekolah. Raden Barjah memerintahkan Patih Sembawa mencari pengiring untuk Karendaka.
“Patih! Carilah seorang pengiring untuk menemani Jaka Karendaka ke sekolah. Kalau dapat carilah seorang pemuda yang sebaya dengan Karendaka.”
“Baik, Tuanku! Aku akan mudah menemukan seorang pemuda yang Paduka inginkan!"
Patih Sembawa sudah pasti tujuannya, ke ladang milik seorang petani yang mempunyai satu orang cucu yang gagah berani. Orang yang terpilih sebagai pengiring Jaka Karendaka oleh Patih Sembawa tiada lain adalah Rengganpulung.
“Anak siapa ini, Abah?” Patih menanyakan asal-usul Rengganpulung pada petani.
“Anak seorang ibu yang mengembara kemari. Sejak bayi, akulah yang mengurusnya. Jadi, Rengganpulung sudah kuanggap sebagai cucuku."
“Abah, bolehkah cucumu kubawa ke keraton? Sri Nalendra Raden Barjah sedang mencari seorang pengiring untuk putranya.“ Patih Sembawa menerangkan.
“Silakan, Tuan Patih. Biar cucuku mencari pengalaman di kota. Siapa tahu dengan menjadi pengiring kepintarannya akan bertambah.”
“Jika begitu, bersiap-siaplah, Rengganpulung! Kita berangkat sekarang!” kata Patih Sembawa mengajak Rengganpulung.
Rengganpulung bergegas berkemas-kemas. Tak lama kemudian, berangkatlah Rengganpulung ke Cantakapura mengikuti Patih Sembawa. Tiba di Cantakapura, keduanya menghadap Raden Barjah.
“Perkenalkan, hamba membawa seorang pemuda untuk pengiring Jaka Karendaka, Sri Paduka,” kata Patih Sembawa menunjuk Rengganpulung.
Raden Barjah belum mengiakan perkataan Patih Sembawa. Sri Paduka hanya menatap dalam-dalam pemuda itu. Tak lama antaranya, Sri Paduka bertanya, “Patih! Anak siapakah pemuda ini? Wajahnya begitu tampan, melebihi putraku?”
“Cucu seorang petani, Tuan, namanya Rengganpulung,” jawab Patih menerangkan.
“Hai, Rengganpulung, aku langsung jatuh hati dan sayang padamu sejak pertama melihatmu. Maukah kau jadi pengiring anakku?” tanya Sri Paduka.
“Tentu saja, Paduka! Hamba siap memenuhi permintaan Tuan!”
Raden Barjah terpesona oleh sopan santun dan tata krama yang diperlihatkan Rengganpulung. “Patih! Panggillah Karendaka!” perintahnya pada Patih.
Jaka Karendaka cepat datang menghadap ayahandanya. “Ayah! Ananda datang menghadap.”
Raden Barjah mengatakan pada Jaka Karendaka bahwa sekarang ada pengiring yang akan menemaninya ke sekolah. “Karendaka, perkenalkan ini seorang pengiring yang akan menemanimu ke sekolah. Ayo, kenalan!”
Jaka Karendaka melirik dengan ujung matanya pada Rengganpulung, sedangkan Rengganpulung mengulurkan tangannya pada Karendaka. Dengan sombongnya, Jaka Karendaka mengenalkan dirinya, “Namaku, Jaka Karendaka, putra mahkota Sri Nalendra Raden Barjah. Namamu siapa?”
“Rengganpulung, Tuan Muda! Hamba cucu seorang petani.”
“Ya sudah, sekarang ikutlah ke kamarku! Tugasmu tidak hanya mengiringiku ke sekolah, tetapi juga menemaniku belajar, dan beres-beres buku!"
“Baik, Tuan Muda!”
Setelah undur diri dari hadapan Sri Paduka, Jaka Karendaka kembali ke kamarnya, di belakang Rengganpulung mengikutinya.
Esoknya, Jaka Karendaka ke sekolah diiringi oleh Rengganpulung. Saat Jaka Karendaka belajar, Rengganpulung menunggunya dengan setia di luar. Guru yang sedang mengajar berbaik hati menyuruh Rengganpulung masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran. Jaka Karendaka tidak setuju Rengganpulung ikut belajar, tetapi ia tak berani membantah gurunya karena Jaka Karendaka takut pada ayahnya yang pernah menasihatinya bahwa dia harus selalu bersikap hormat pada gurunya.
Setelah dua bulan berlalu tampaklah perbedaan Jaka Karendaka dan Rengganpulung dalam menerima pelajaran. Jaka Karendaka sedikit pun tidak memahami pelajaran, sedangkan Rengganpulung dengan cepat dapat menerima pelajaran yang diberikan oleh guru. Saat kenaikan kelas, Jaka Karendaka tidak naik kelas, Rengganpulung berhasil merebut peringkat pertama di kelasnya.
Rengganpulung selain pintar juga mempunyai bakat menggambar yang selama ini hanya terpendam. Di bawah asuhan guru di sekolah, Rengganpulung mengembangkan bakatnya. Gambar-gambar yang dilukisnya benar-benar indah.
Suatu malam saat menjelang subuh, Rengganpulung bermimpi. Di dalam mimpinya muncul seseorang yang tidak dikenalnya. Orang itu menyuruh Rengganpulung menggambar seekor gajah putih yang dinaiki oleh tujuh orang putri. Rengganpulung hendak bertanya pada orang itu mengapa dia harus menggambar gajah putih dengan tujuh Orang putri, tetapi di luar ramai suara kokok ayam jantan dan suara azan subuh berkumandang yang membangunkannya dari mimpi.
Rengganpulung merenungkan mimpinya. “Aneh mimpiku ini! Mengapa aku harus menggambar gajah putih dan tujuh orang putri? Akan tetapi, bagus juga jika aku menggambarkannya.”
Rengganpulung mengambil kertas gambar dan pensilnya. Dilukiskannya semua yang diperintahkan oleh orang yang datang melalui mimpi dalam kertas gambarnya. Tangan Rengganpulung dengan lincahnya menari-nari di atas kertas. Sebentar saja gambar sudah jadi. Rengganpulung memandanginya dengan rasa puas. “Belum pernah aku menggambar sebagus ini,” katanya.
Karena gambarnya lain daripada yang lain dan objeknya datang melalui mimpi, Rengganpulung menganggapnya istimewa dan perlu menggantungnya di ruang depan. Ketika sedang memandangi hasil lukisannya, tiba-tiba muncul Jaka Karendaka menghampirinya.
“Bagus benar gambar ini, seekor gajah berwarna putih dan di punggungnya duduk tujuh orang putri yang cantik-cantik,” katanya berdecak kagum.
“Benar, Tuan. Hamba pun sejak tadi memandanginya.” Rengganpulung sependapat dengan Jaka Karendaka.
“Siapa yang melukisnya?” tanya Jaka Karendaka meskipun sebenarnya dia tahu bahwa yang melukis pasti Rengganpulung.
Rengganpulung tidak berani mengakuinya. Dia hanya menjawab, “Hamba tidak tahu, Tuan! Entah siapa yang melukisnya. Pastilah Tuan Muda yang melukisnya!”
Tanpa malu-malu, Jaka Karendaka mengakuinya, “Benar, Rengganpulung! Akulah yang melukisnya. Ketika kamu ke pasar, aku melukis gajah dan tujuh orang putri.”
“Bagaimana kalau hamba juga menggambar, meniru gambar Tuan?” Rengganpulung bertanya pada Jaka Karendaka.
“Aku akan memotong tanganmu sampai dengan sikut, kalau kamu meniru gambarku,” kata Jaka Karendaka mengancam pada Rengganpulung.
“Tanpa izin Tuan, hamba tentu takkan menggambar hal yang sama,” Rengganpulung berkata penuh hormat pada tuannya.
“Awas kalau kamu berani menggambar yang sama, ingat kataku tadi.”
“Tidak, Tuan, percayalah! Bagaimana kalau gambar ini kita bawa ke sekolah biar semua orang tahu bahwa Tuan pandai menggambar,” usul Rengganpulung pada Jaka Karendaka.
Jaka Karendaka mengembangkan hidungnya yang pesek merasa tersanjung oleh pujian Rengganpulung. “Bagus juga usulmu itu. Baiklah! Bawalah gambar itu dan gantungkan di dinding yang berada di depan ruang guru," perintahnya.
Rengganpulung menurunkan lukisan gajah dan tujuh orang putri. Dia membawanya ke sekolah. Setibanya di sekolah, dipasangnya lukisan itu di depan ruang guru. Lukisan itu sungguh menarik perhatian. Tak seorang pun melewatkan matanya dari lukisan yang indah itu. Tiap yang bertanya siapa pelukisnya, Jaka Karendaka mengakuinya bahwa lukisan itu hasil karyanya.
Suatu hari Sri Narendra Raden Barjah akan meninjau sekolah tempat putranya menuntut ilmu. Sri Nalendra Raden Barjah beserta rombongan tiba di sekolah. Semua menyambut kedatangan Sri Nalendra dengan gembira. Kepala sekolah mempersilakan Sri Nalendra ke ruangan yang telah dipersiapkan dengan rapi dan tertata dengan baik. Ketika hendak masuk, sejenak Sri Nalendra Raden Barjah berhenti menatap lukisan yang dipajang di dinding. Sri Nalendra bertanya sambil menunjuk pada seorang putri yang berada di antara tujuh orang putri, “Siapa yang melukis gajah ini? Cantik sekali yang menunggang gajah.” Belum ada yang menjawab, Sri Nalendra sudah bertanya kembali, “Putri dari mana yang berada dalam gambar ini? Dan, gajahnya, gajah putih yang langka. Pandai benar pelukisnya, siapa pelukisnya?" Raden Barjah penasaran ingin segera mengetahui pelukisnya.
“Tuan Muda Jaka Karendaka, putra Paduka yang melukisnya,” kata kepala sekolah menerangkan.
“Benarkah?” tanyanya agak ragu karena dia tahu putranya kurang pandai melukis.
“Benar, Ayah! Ananda yang melukisnya,” kata Jaka Karendaka meyakinkan ayahnya.
Raden Barjah baru merasa yakin setelah mendengar perkataan Jaka Karendaka.
“Pandai benar Ananda ini. Lukisanmu ini pasti tidak ada yang menyamai. Ayah juga bisa melukis, tetapi tentu tak bisa melukis seindah ini,” katanya bangga pada putranya.
Selanjutnya, Sri Nalendra Raden Barjah berkeliling meninjau gedung sekolah. Sesekali bertanya pada kepala sekolah tentang perkembangan anak-anak didiknya. Sri Nalendra Raja Barjah puas dengan perkembangan sekolah. Setelah acara selesai, Baginda pulang dengan perasaan lega.
Malamnya, Raden Barjah memanggil Jaka Karendaka dan Rengganpulung. Raden Barjah pun berujar, “Jaka Karendaka, Putraku! Ayah benar-benar tertarik dengan lukisan yang kau buat. Ayah jadi ingin melihat gajah putih dan menjadikan putri yang tercantik di antara tujuh putri yang ada dalam lukisan sebagai menantu.”
Jaka Karendaka mendadak berkeringat dingin mendengar perkataan ayahnya. Dengan memberanikan diri dia berkata, “Mana mungkin, Ayah! Itu ‘kan khayalan belaka.”
“Tunggu, Anakku! Meskipun lukisan itu hasil daya imajinatifmu, tidak berarti gajah putih dan putri cantik itu tidak ada. Yang Ayah maksudkan, engkau harus mencari gajah putih dan putri cantik untuk calon istrimu. Bukan berarti mencari gajah dan putri yang persis dengan lukisanmu, tetapi mencari yang sejenis dengan yang ada dalam lukisanmu."
Jaka Karendaka paham permintaan ayahnya. “Baiklah, Ayah! Ananda sanggup menemukan gajah putih yang dinaiki oleh tujuh orang putri seperti yang Ayah kehendaki,” kata Jaka Karendaka sesumbar.
Raden Barjah melanjutkan pembicaraan. Kali ini dia berkata pada Rengganpulung, “Hai, Rengganpulung! Aku juga menyuruhmu mencari gajah putih dan tujuh orang putri yang menungganginya. Bawalah ke hadapanku!”
Rengganpulung menjawab merendahkan diri, “Hamba pasti tidak sanggup menemukannya, Paduka! Apalah hamba ini jika dibandingkan dengan Raden Karendaka."
Jaka Karendaka berkata dengan bengis, “Kamu memang tidak punya nyali, Rengganpulung. Biarlah aku yang mencarinya. Kamu cukup sebagai pengiringku saja.”
“Hamba, Tuanku. Hamba tetap setia mengiring, Tuan.”
“Rengganpulung!” kata Raden Barjah. “Manfaatkanlah kesempatan ini! Jika kamu yang berhasil menemukannya, kamulah yang kunobatkan sebagai Raja Cantakapura, menggantikanku!”
Jaka Karendaka panas hatinya mendengar perkataan ayahnya. Dibentaknya Rengganpulung dengan kata-kata yang pedas, “Rengganpulung! Kamu tak pantas menjadi raja! Turunan rakyat jelata, apalagi cucu seorang petani miskin, jangan mimpi menjadi raja.”
Rengganpulung sakit hatinya. Abahnya yang tidak berdosa dihina dengan semena-mena oleh Jaka Karendaka. Rengganpulung diam saja, menahan amarah yang meledak-ledak dalam dada.
“Sekarang, kalian bersiap-siaplah!” kata Raden Barjah.
Jaka Karendaka dan Rengganpulung undur diri dari hadapan Sri Nalendra Raden Barjah. Esoknya keduanya meninggalkan istana. Tujuan mereka sudah pasti mencari gajah putih dan tujuh orang putri. Keduanya naik gunung turun gunung, menjelajahi hutan rimba, dan mendaki bukit-bukit terjal. Dahan kayu rindang yang terdapat di dalam hutan dijadikan sebagai tempat beristirahat. Sampai sejauh ini mereka tidak menemukan rintangan yang berarti. Akan tetapi, suatu malam, ketika Jaka Karendaka dan Rengganpulung sedang beristirahat di atas sebuah pohon tiba-tiba terdengar auman si raja hutan. Karendaka menjerit ketakutan, sedangkan Rengganpulung tak gentar.
“Tenanglah, Tuan! Harimau itu tak akan mengganggu kita asal kita juga tak mengganggunya,” kata Rengganpulung menenangkan Jaka Karendaka.
“Pulung! Aku paling takut dengan binatang yang satu itu! Kata ibuku, di negeri asalnya di Blambangan, rakyatnya belum pernah unggul jika bertarung dengan harimau," Karendaka menerangkan.
Rengganpulung terkejut mendengar nama Blambangan disebut oleh Jaka Karendaka. “Tuan, bukankah Blambangan itu negeri kalong? Apakah permaisuri berasal dari sana?”
“Ya, tetapi ibuku bukan turunan kalong,” kata Jaka Karendaka kesal, tetapi saat itu dia memang harus berbaik-baik pada Rengganpulung karena sangat membutuhkannya.
“Pulung! Agaknya si raja hutan sudah berlalu, suaranya tak terdengar lagi.”
“Tampaknya begitu,” kata Rengganpulung. Padahal, Rengganpulung yang pancaindranya sudah terlatih karena lama tinggal di ladang masih mencium aromanya dan dapat merasakan kehadiran si besar belang di sekitarnya.
Jaka Karendaka merasa lebih tenang dan dapat tertidur dengan pulas. Berbeda dengan Rengganpulung yang selalu waspada dan menjaga keselamatan tuannya, tak sekejap pun matanya terpejam.
Suara burung yang bercicit-cicit dan sinar mentari yang menerobos lewat daun-daun membangunkan Jaka Karendaka. Dilihatnya Rengganpulung sudah menunggunya di bawah. Jaka Karendaka turun. Baru saja kakinya menginjak tanah, suara yang ditakutinya kembali terdengar. Jaka Karendaka lari terbirit-birit. Ketika sudah jauh, dia baru sadar Rengganpulung tidak berada di sampingnya.
“Aduh, bagaimana ini? Rengganpulung tidak di sampingku! Jangan-jangan dia sudah tewas diterkam si raja hutan. Lebih baik aku kembali ke istana. Biarlah nanti kucari akal jika Ayah menanyakannya."
Jaka Karendaka pulang ke istana. Raden Barjah terkejut melihat putranya sudah kembali. “Sudah pulang, Anakku? Apa yang terjadi?”
“Hutan sangat menakutkan. Ananda telah berperang melawan seekor harimau dan dua raksasa yang ganas,” kata Jaka Karendaka menjelaskan pada ayahnya.
“Akan tetapi, mana gajah putih yang kau janjikan?” Raden Barjah bertanya kembali.
“Benar dugaanku, Ayah! Gajah putih dan putri tujuh hanya khayalan belaka. Ananda tidak menemukannya. Lebih baik pulang daripada jadi korban keganasan hutan seperti Rengganpulung.”
Mendengar Rengganpulung disebut, Raden Barjah menanyakannya, “Oh ya, Rengganpulung mana? Ayah tak melihatnya?”
“Tewas diterkam harimau!”
“Kasihan,” kata Raden Barjah. “Padahal, aku sangat mengharapkannya.”
Sementara itu, Rengganpulung tetap tenang tidak terpengaruh oleh Jaka Karendaka yang sudah pergi. Harimau terus mengaum. Rengganpulung tidak melayaninya. Dia malah bersila memusatkan perhatian, memohon doa pada Yang Mahakuasa. Meskipun harimau mendekat, Rengganpulung tak gentar. Karena tidak ada reaksi dari Rengganpulung, harimau lenyap. Muncullah dua raksasa menakut-nakuti Rengganpulung. Terdengarlah raksasa itu berkata, “Ini daging muda!”
“Pasti enak jadi santapan kita malam ini,” raksasa yang satu lagi menimpali.
Rengganpulung tak tergoyahkan, tetap duduk bersila. Raksasa pun lenyap setelah melihat Rengganpulung bergeming. Datang pula seekor ular. Ular melilit-lilit ke seluruh tubuh Rengganpulung, tapi Rengganpulung tak bergeser dari tempat duduknya. Akhirnya, ular pun melepaskan lilitannya dan raib dari hadapan Rengganpulung. Silih berganti makhluk-makhluk yang menakutkan menggoda Rengganpulung selama empat puluh hari empat puluh malam. Rengganpulung tetap tabah menghadapinya. Akhirnya, turunlah seorang yang berjubah putih menghampirinya.
“Bangunlah, cucuku!” sapa orang berjubah putih itu sambil tangannya mengusap-usap janggutnya yang panjang.
Rengganpulung membuka matanya perlahan. “Salam, Eyang!” batasnya sambil mencium tangan orang berjubah putih dengan takzim.
“Apa yang kau inginkan, cucuku? Berhari-hari engkau terdiam di sini.”
“Sesungguhnya, hamba mencari tujuh orang putri yang menunggang gajah putih, Eyang! Namun, perjalanan ini tertunda karena gangguan datang silih berganti.”
“Dan, engkau telah berhasil melewati gangguan itu.”
“Berkat doa dari Eyang,” kata Rengganpulung merendah.
“Terimalah pusaka ini sebagai hadiah dariku! Kudoakan segala kehendakmu tercapai!"
“Terima kasih, Eyang."
“Sekarang, pergilah ke arah Timur. Di sana engkau akan menemukan gua angker milik raksasa Waranggi. Waranggi telah menawan tujuh orang putri. Bebaskanlah ketujuh putri tersebut!"
“Baiklah, Eyang!”
Rengganpulung berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh orang tua itu. Benar saja, dari jauh tampak sebuah gua yang Cukup angker. Rengganpulung berjalan mengendap-endap mendekati gua lalu berlindung di balik pohon. Pandangannya tak lepas dari gua itu. Terlihatlah oleh Rengganpulung seorang putri keluar dari dalam gua. Rengganpulung menghampiri dan menyapanya, “Hai, putri cantik, hendak ke mana seorang diri di tengah hutan?”
Yang disapa terkejut dan balik bertanya, “Kakang siapa? Berani-beraninya datang ke sarang macan?”
Rengganpulung — memperkenalkan diri, “Aku, Rengganpulung, pengiring Jaka Karendaka, putra Raden Barjah di Cantakapura.”
Sang putri tak yakin dengan pengakuan Rengganpulung. “Parasmu sangat tampan dan postur tubuhmu begitu gagah, aku tak percaya Kakang pengiring putra raja. Janganlah berpura-pura, pasti kakanglah putra raja itu.”
“Sudahlah, itu tak penting. Benarkah gua ini milik raksasa yang menawan tujuh orang putri?" Rengganpulung ingin mengetahui yang sebenarnya.
“Benar, ini tempat raksasa Waranggi, enam putri berada di dalam. Tidak salahkah tujuanmu kemari? Jangan sia-siakan hidupmu, Kakang hanya mengantarkan nyawa saja ke gua ini. Waranggi memang menawan kami, tapi dia hanya suka pada daging laki-laki. Jadi, pergilah sebelum dia datang.”
“Sebenarnya aku hendak mencari gajah putih dan tujuh orang putri. Tujuh putri sudah kutemukan. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku akan pergi setelah membebaskan ketujuhnya."
“Benarkah? Jika demikian, ayolah kita beri tahu putri lainnya. Soal gajah putih, Kakang tak perlu susah mencarinya, akulah pemiliknya. Perkenalkan namaku, Dewi Sarsari.”
Rengganpulung gembira mendengarnya. Tak menunda waktu lagi, Rengganpulung masuk ke dalam gua mengikuti Dewi Sarsari. Rengganpulung mendapati enam putri di dalam. Dewi Sarsari menceritakan kedatangan Rengganpulung pada teman-temannya. Keenam putri senang mendengarnya karena telah datang seorang pembela yang akan membebaskan mereka dari cengkeraman raksasa. Rengganpulung pun menanyakan gajah putih, “Dinda Sarsari, mana gajah putih yang tadi kau katakan?”
“Kakang belum melihatnya? Itu di sana,” kata Dewi Sarsari seraya menunjuk seekor gajah yang setia menunggu tuannya.
Tampaklah oleh Rengganpulung seekor gajah, persis seperti yang ada dalam lukisannya. Rengganpulung menghampiri gajah dan berbisik dengan lemah lembut, “Wahai, gajah yang baik, aku mohon padamu, bawalah tujuh orang putri ini keluar.”
Gajah mengedipkan mata seolah mengerti maksud Rengganpulung. “Hai para putri, naiklah!” katanya pada tujuh orang putri sambil bersiap-siap membungkukkan badannya sebagai tangga untuk memudahkan ketujuh putri naik ke atas punggung gajah.
Tiba-tiba di luar terdengar langkah bergemuruh dan suara napas yang seperti dengus babi hutan. Ketujuh putri kenal dengan langkah dan suara napas itu. Mereka buru-buru menyembunyikan Rengganpulung. Waranggi masuk, penciumannya sangat tajam, hidungnya mendengus-dengus. “Aku mencium aroma manusia di sini!” katanya. “Kalian pasti menyembunyikan manusia.”
Dewi Sarsari memberanikan diri menjawab, "Kami manusia, penciumanmu tidak salah.”
“Bukan kalian yang kumaksudkan, bodoh! Bau laki-laki! Di mana kalian sembunyikan, hah?!”
“Tidak, tidak ada!”
“Bohong! Awas, kalian kubunuh semua!”
Waranggi mengamuk. Dia membanting-banting barang yang berada di dekatnya. “Jika kau tidak keluar, hai laki-laki, aku akan menewaskan semua putri ini,” ancamnya.
Rengganpulung benar-benar lelaki sejati dan bukan seorang pengecut. Dia keluar dari persembunyiannya. “Jangan kau ganggu mereka! Akulah yang kau cari.”
“Tak pernah salah penciumanku, ha ... ha ... ha ... , malam ini pesta besar. Ayo maju, lelaki! Kau akan kucincang, kujadikan sup sebagai hidangan pembuka,” Waranggi tertawa-tawa.
“Jangan gembira dulu, Waranggi! Kau belum tentu dapat merobohkanku,” Rengganpulung berkata dengan lantang.
Dewi Sarsari khawatir dengan keselamatan Rengganpulung. Dia memperingatkannya, “Kakang! Jangan maju berperang! Kaburlah bersamaku.”
“Tenanglah, adikku! Tidak sepantasnya aku meninggalkan medan perang. Pergilah bersama teman-temanmu! Kakang akan menghadapi Waranggi. Akan kuberi pelajaran, tidak sepantasnya raksasa memperbudak manusia. Tunggulah aku di tempat yang aman!"
“Baiklah, Kakang! Berhati-hatilah, Waranggi sangat sakti.”
Dewi Sarsari dan enam putri lainnya menunggang gajah meninggalkan gua. Raksasa Waranggi naik pitam melihat tawanannya kabur. Dia mengangkat batu yang paling besar lalu melemparkannya pada Rengganpulung. Rengganpulung menghindar, batu menghantam dinding gua dan menimbulkan suara bergemuruh.
“Hai, lelaki! Kau begitu lancang masuk ke rumahku dan membebaskan tawananku. Awas, pembalasanku!”
“Banyak bicara saja dari tadi, ayo cepatlah menyerang! Sedikit pun aku tak takut padamu! Ayo maju!” Rengganpulung menantang menambah panas hati Waranggi.
Waranggi menyerang Rengganpulung dengan ganas. Rengganpulung menghindar dengan cepat. Namun, Waranggi berhasil menjegal kaki Rengganpulung, dan kemudian menangkap badannya. Waranggi membanting-banting Rengganpulung dan mengayun-ayunkannya sehingga Rengganpulung rubuh. Rengganpulung terbanting ke atas hamparan batu. Waranggi tertawa menyaksikan lawannya tak berdaya. Ketika Waranggi mendekati Rengganpulung hendak mencincang tubuhnya, dengan sisa-sisa kekuatan yang ada Rengganpulung mengambil panah pusaka pemberian eyang berjubah putih. Dilepaskannya anak panah ke arah Waranggi yang sedang mendekati tubuhnya. Panah secepat kilat menembus dada Waranggi. Dia berusaha men cabut panah yang menancap di dadanya, dan kembali menyerang Rengganpulung. Rengganpulung dengan cepat melepaskan kembali anak panah ke arah Waranggi. Kali ini panah Rengganpulung berhasil menembus jantung Waranggi tersungkur lalu rubuh tak berdaya.
![]() |
| Rengganpulung mengalahkan Waranggi, raksasa yang mengganggu tujuh putri jelita. |
“Ternyata kekuatanmu tak seberapa,” ejek Rengganpulung.
Rengganpulung menyusul rombongan tujuh putri yang menunggang gajah putih. Karena belum begitu jauh, Rengganpulung dapat menyusulnya. Dewi Sarsari menyambut gembira kedatangan Rengganpulung yang selamat dari gempuran Waranggi. Eyang berjubah putih menampakkan diri di hadapan Rengganpulung dan tujuh putri.
“Selamat, Rengganpulung! Kau telah berhasil membebaskan tujuh orang putri dari tangan Waranggi,” katanya memberi selamat atas keberhasilan Rengganpulung.
“Terima kasih, semua berkat doa Eyang,” kata Rengganpulung. “Rengganpulung! Sebelum engkau pulang, aku akan memberi tahu suatu rahasia padamu."
“Rahasia? Rahasia apa, Eyang? Cucu ingin segera mengetahuinya.”
“Ketahuilah olehmu, Rengganpulung! Sesungguhnya engkau putra mahkota Cantakapura, sedangkan Jaka
Karendaka anak Dewi Kalong yang mengubah wajudnya dalam rupa ibumu, Putri Trengganu.” Eyang berjubah putih juga menceritakan peristiwa yang menimpa Putri Trengganu hingga Rengganpulung lahir dan dirawat oleh petani.
“Jadi, Raden Barjah itu ayahku, Eyang? Dan, yang kukenal sebagai permaisuri itu, Dewi Kalong? Apakah sampai detik ini ayahku belum mengetahuinya?”
“Belum, cucuku. Ayahmu telah teperdaya oleh Dewi Kalong! Engkaulah yang akan membongkar kedoknya. Sekarang cepatlah pulang! Bawalah gajah putih dan ketujuh putri ini! Selamatkanlah ayahmu!”
“Terima kasih, Eyang! Cucu benar-benar berutang budi pada Eyang. Kami mohon pamit.”
Rengganpulung meneruskan perjalanan mendampingi tujuh orang putri yang menunggang gajah putih.
•••
TUJUH
BERTEMU KEMBALI DENGAN PUTRI TERENGGANU
Cantakapura gempar. Di mana-mana tampak kerumunan orang. Mereka berteriak-teriak mengelu-elukan Rengganpulung yang berhasil membawa tujuh putri yang menaiki gajah putih. Menyaksikan tujuh orang putri yang berparas cantik merupakan pemandangan yang biasa, tetapi gajah putih yang hanya dikenal lewat cerita atau gambar-gambar indah merupakan sesuatu yang luar biasa. Tidak hanya berteriak, mereka pun ikut mengiringi Rengganpulung sampai dengan pintu gerbang istana.
Raden Barjah mendapat laporan dari penggawa bahwa Rengganpulung telah pulang membawa gajah putih dan tujuh orang putri. Raden Barjah terheran-heran mendapat berita seperti itu. Buru-buru dia ke pendapa akan menyambut kedatangan Rengganpulung.
Rengganpulung masuk ke pendapa, di belakangnya tujuh orang putri mengikutinya, sedangkan gajah putih dibiarkan di taman dikerumuni oleh orang-orang yang sejak tadi mengikutinya.
“Rengganpulung!” sambut Raden Barjah memeluk Rengganpulung. “Kau di sini hanya tinggal nama. Karendaka mengabarkan kau tewas diterkam harimau, nyatanya kau segar bugar.”
“Semua berkat doa Baginda sehingga hamba dapat kembali dengan selamat.”
“Keterlaluan, Jaka Karendaka! Dia berbohong padaku, Rengganpulung! Inikah putri-putri yang ada dalam lukisan itu?” Raden Barjah menanyakan putri-putri yang berada di samping Rengganpulung.
“Benar, Paduka. Yang ini namanya Dewi Sarsari, dialah yang memiliki gajah putih.”
“Salam, Paduka. Saya bersyukur bisa bertemu dengan Baginda. Tentu saja semua ini berkat bantuan Kang Rengganpulung yang gagah berani. Dia telah melumpuhkan raksasa Waranggi. Perkenalkan ini teman-teman saya, Paduka! Mereka anak-anak bupati yang ikut ditawan oleh Waranggi!”
Raden Barjah mengangguk-anggukkan kepala. Dewi Sarsari melanjutkan pembicaraannya. “Saya mengikuti Rengganpulung kemari sesungguhnya untuk membuktikan janji saya bahwa jika Rengganpulung berhasil membebaskan kami, saya bersedia menjadi istrinya dan memperlihatkan gajah putih pada Paduka.”
“Terima kasih, Dewi Sarsari. Aku juga berjanji pada siapa saja yang berhasil membawa tujuh orang putri yang menaiki gajah putih datang kemari, akan kunobatkan sebagai Raja Muda Cantakapura. Meskipun kau bukan putraku, Rengganpulung! Aku tak akan mengingkari janjiku. Di hadapan para menteri dan semua yang hadir di sini, Rengganpulung, kau kuangkat menjadi Raja Muda Cantakapura yang kelak menggantikanku!”
“Tunggu!” Terdengar suara permaisuri alias Dewi Kalong. “Aku keberatan, Paduka! Bagaimana dengan Jaka Karendaka? Bukankah Si Rengganpulung itu hanya seorang pengiring? Mana mungkin seorang pengiring menjadi raja, sedangkan putra mahkota tersingkir?” Dewi Kalong tidak menerima putusan Raden Barjah.
“Aku tak akan mengingkari janjiku, Dinda! Jaka Karendaka meskipun tak menjadi raja, dia tetap putraku," Raden Barjah menjelaskan.
“Namun, dia akan menjadi orang nomor dua. Dan, itu tak boleh terjadi!” Dewi Kalong tetap tak dapat menerima Rengganpulung menjadi Raja Muda Cantakapura.
Adu mulut terjadi antara Raden Barjah dan istri jadi-jadiannya. Akhirnya, seorang menteri memberanikan diri berbicara, “Paduka! Sekarang bagaimana jika diadakan perang tanding antara Jaka Karendaka dan Rengganpulung di alun-alun? Siapa di antara keduanya yang berhasil dialah yang menggantikan Paduka.”
“Setuju!” Dewi Kalong terdengar paling keras suaranya. “Ini kesempatan yang baik. Aku akan merasuk ke jiwa Karendaka. Dia akan kuat, pasti dapat menjatuhkan si pengiring,” katanya dalam hati.
“Baiklah, kalau begitu. Rengganpulung yang berbudi, kau harus perang tanding dengan Karendaka si pembohong,” kata Raden Barjah yang secara naluri dapat merasakan hubungan batin yang kuat dengan Rengganpulung.
“Batapapun lelahnya karena telah melawan Waranggi, hamba tak akan pernah gentar berhadapan dengan Jaka Karendaka,” jawab Rengganpulung. “Lagi pula ini kesempatan yang baik untuk membongkar kedok Dewi Kalong yang jahat dan membuktikan pada semua orang siapa sesungguhnya putra mahkota Cantakapura,” kata Rengganpulung dalam hatinya.
Rengganpulung tak membantah. Dia ke alun-alun ditemani oleh Dewi Sarsari, sedangkan Jaka Karendaka didampingi ibunya, Dewi Kalong. Raden Barjah dan para pengawalnya sudah berada di panggung kehormatan menyaksikan Rengganpulung dan Jaka Karendaka yang akan beradu kekuatan. Rakyat Cantakapura tak ketinggalan tumpah ruah ke alun-alun. Alun-alun Cantakapura yang berubah menjadi lautan manusia akan menjadi saksi bisu terjadinya perang tanding antara Rengganpulung dan Jaka Karendaka.
Rengganpulung dan Jaka Karendaka sudah berada di medan laga. Satu sama lain akan beradu kekuatan dengan tangan kosong. Rengganpulung mengepalkan tangannya bersiap-siap meninju Jaka Karendaka. Sekali pukulan saja, Jaka Karendaka terjungkal lalu telungkup. Jaka Karendaka cepat bangun hendak membalas Rengganpulung. Dengan tangkas Rengganpulung menghindar. Secepat kilat tinju Rengganpulung bersarang kembali di punggung Jaka Karendaka. Jaka Karendaka tersungkur. Jaka Karendaka tak berdaya menahan pukulan Rengganpulung yang bertubi-tubi di sekujur tubuhnya.
Yang menyaksikan bersorak kegirangan. Dewi Kalong sudah tak sabar ingin turun tangan membantu putranya. Amarahnya meledak, “Tunggulah pembalasanku! Kau telah menjatuhkan martabat anakku di depan semua orang!” katanya sambil melesat memasuki jasad Jaka Karendaka. Mendadak Jaka Karendaka yang sudah tak berdaya bangkit kembali. Dia pasang kuda-kuda dengan gagahnya. Matanya membelalak bersiap akan menyerang Rengganpulung. Dengan tangkas Jaka Karendaka menangkap Rengganpulung lalu mengangkatnya ke atas dan memontang-pantingkan tubuhnya di udara. Rengganpulung terempas. Tenaganya benar-benar terkuras. Saat Jaka Karendaka memburunya dan akan menghabisi nyawanya dengan sebilah keris, dengan sisa-sisa kekuatan yang ada Rengganpulung memanahnya hingga mengenai pipi Jaka Karendaka. Jaka Karendaka terjungkal. Jaka Karendaka masih berusaha bangkit dan coba membalas, tetapi Rengganpulung lebih cepat memanah leher Jaka Karendaka hingga terlepas kepala dari tubuhnya.
Seketika jasad Jaka Karendaka lenyap. Muncullah dua ekor kalong. Yang satu rupanya sangat jelek, payudaranya tergantung di dadanya, panjang sampai dengan kakinya. Satu lagi tidak berpayudara dan tubuhnya agak kecil. Itulah Dewi Kalong dan anaknya, Jaka Karendaka. Berdua melayang ke udara kabur meninggalkan medan laga.
Raden Barjah mengusap wajahnya dan menggosok-gosok matanya beberapa kali takut penglihatannya salah. Akan tetapi, pandangannya tetap tak berubah. Permaisuri yang selama puluhan tahun mendampinginya ternyata berubah menjadi seekor kalong. Jaka Karendaka yang selama ini dianggapnya sebagai putranya, juga anak kalong. Raden Barjah buru-buru meninggalkan arena, sedangkan lautan manusia yang memenuhi alun-alun bubar dengan perasaannya masing-masing.
Esok paginya Raden Barjah memanggil Rengganpulung ke keraton. Raden Barjah meminta Rengganpulung menceritakan peristiwa yang terjadi kemarin di alun-alun, “Rengganpulung! Ceritakanlah padaku apa yang sebenarnya terjadi? Aku memang berada di sana, tetapi peristiwanya terjadi dengan cepat sehingga aku tak mengetahui secara jelas!”
“Paduka Sri Nalendra, sesungguhnya permaisuri yang selama ini berada di keraton itu siluman kalong. Dia berasal dari Blambangan yang mendambakan Paduka menjadi kekasihnya. Siluman kalong itu menculik Putri Terengganu dan membuangnya ke hutan. Lalu dia datang ke hadapan Paduka sebagai Putri Terengganu.”
Raden Barjah takjub mendengarnya lalu bertanya kembali pada Rengganpulung, “Pulung! Bagaimana dengan Jaka Karendaka? Tahukah kau siapa dia sesungguhnya?”
“Saat itu siluman kalong sedang mengandung tujuh bulan bersamaan dengan usia kandungan Permaisuri. Jadi, Jaka Karendaka bukanlah putra Paduka.”
Raden Barjah langsung pingsan setelah mendengarkan penjelasan dari Rengganpulung. Berhari-hari dia tak sadarkan diri. Pada hari ketujuh barulah Raden Barjah membuka mata. Menangislah dia sepuas-puasnya, menyesali kebodohannya. Teringatlah dia pada istrinya, “Dinda, masih hidupkah engkau? Jika dia mati, mati pulalah aku ini,” kata Raden Barjah. Raden Barjah pun membayangkan penderitaan istrinya saat melahirkan lalu merawat bayinya seorang diri. “Bayi? Anakku? Jika dia hidup usianya sama dengan Karendaka? Pulung, Rengganpulung pasti tahu di mana anakku berada.”
Selama Raden Barjah pingsan, Rengganpulung menunggui ayahnya dengan sabar. Saat terdengar suara tangisan, Rengganpulung berbinar matanya karena artinya ayahnya sudah siuman.
“Pulung! Engkau pasti tahu di mana istri dan anakku berada?”
“Menurut keterangan Eyang yang telah menolongku, hambalah putra mahkota Cantakapura, sedangkan ibu hamba, Putri Terengganu telah lama pergi hendak merebut kembali Paduka dari tangan siluman kalong."
Raden Barjah sangat yakin dengan perkataan Rengganpulung. “Pulung, Anakku! Sejak melihatmu naluriku berkata engkaulah putraku,” katanya seraya memeluk Rengganpulung.
Rengganpulung pun menghaturkan sembah sujud pada Ayahanda tercinta seraya berkata, “Ayah! Ayolah kita cari Ibu. Siapa tahu kita dapat menemukannya.”
“Benar, Pulung, kita harus mencarinya. Katakan pada para menteri dan penggawa supaya menjaga negeri dan membiarkan Dewi Sarsari dengan gajah putih sesuka hatinya di sini.”
Raden Barjah bangkit dari kesedihannya. Berdua dengan Rengganpulung, dia berupaya mencari Putri Terengganu dengan menjelajahi hutan belantara, mengarungi sepi, terang, dan gelapnya malam yang senantiasa menyelimuti alam.
Sementara itu, di tengah hutan yang lain tampak seorang kesatria tengah berjalan menyusuri lembah. Kesatria itu parasnya sungguh tampan, perawakannya kecil, dan tampak ramping. Penampilan kesatria yang sedap dipandang mata itu menarik perhatian sepasang kalong yang tengah melarikan diri.
Kalong yang agak kecil berkata, “Lihatlah, Bu! Seorang kesatria tampan berjalan seorang diri di tengah hutan.”
“Benar, Anakku. Ayo, kita dekati dia,” kata ibunya.
Dua ekor kalong terbang mendekati si kesatria. Tanpa ragu, kalong kecil menegur kesatria, “Hai, kesatria tampan, sungguh berani engkau berjalan seorang diri di tengah hutan. Tahukah engkau bahwa hutan ini amat berbahaya?” tanyanya teringat pada raja hutan yang pernah menyerangnya di hutan.
“Tentu saja tahu. Berkali-kali aku bertemu dengan binatang buas, tetapi mereka bersahabat denganku."
“Asalmu dari mana, kesatria tampan? Kalau boleh tahu, engkau hendak ke mana?”
“Aku berasal dari Negeri Akarwangi. Namaku Gunaganda. Tujuanku mengembara tiada lain hendak mencari teman hidup.”
Kalong kecil yang tiada lain Karendaka berbisik pada ibunya, “Kebetulan, Bu. Kita jadikan saja dia raja kalong. Jadikan dia suami Ibu, pengganti Raden Barjah."
Gunaganda yang sudah terlatih pancaindranya dapat mendengar pembicaraan Karendaka dan ibunya. “Oh, jadi kalong ini yang menyengsarakanku?” katanya dalam hati.
Gunaganda tak menyia-nyiakan waktu. “Inilah saat yang kutunggu-tunggu. Aku tak perlu susah-susah mencarinya. Terimalah pembalasanku, hai siluman kalong,” katanya seraya melepaskan anak panah ke arah kalong betina. Anak panah melesat mengarah pada sasarannya, tertancap di jantung siluman kalong. Seketika siluman kalong rubuh tak bernyawa lagi. Anak kalong tak menduga mendapat serangan tiba-tiba. Dia membalas menyerang Gunaganda. Gunaganda yang telah bersiap-siap, kembali memanah kalong tepat ke lehernya hingga terpenggal leher kalong.
“Siluman kalong telah mati, artinya suamiku terbebas dari tipu dayanya. Aku harus segera menemuinya,” katanya sambil bergegas meninggalkan tempat itu.
Gunaganda meneruskan perjalanan. Beberapa ratus meter melangkah, dari jauh dia melihat sosok dua orang lelaki sedang menuju ke arahnya. Dialah Raden Barjah dan putranya, Rengganpulung. Gunaganda tidak mengenal dua orang itu. Jarak waktu yang begitu lama telah memisahkan mereka melupakan ingatannya pada wajah Raden Barjah dan Rengganpulung yang sejak kecil ditinggalkannya di rumah petani. Selain itu, wajah Raden Barjah pun tampak termakan usia hingga Gunaganda tidak mengenalinya.
Ketika mereka berhadapan, Raden Barjah juga tidak mengetahui bahwa yang berada di hadapannya Putri Terengganu. Raden Barjah menegur dengan santun, “Hatur salam, Ki Satria! Kebetulan kita bertemu di sini. Hendak ke mana Tuan?”
Gunaganda tak kalah santunnya menjawab, “Salam kembali, Tuan! Saya sedang mencari jejak seorang putri, tepatnya istri saya yang dibawa lari oleh raksasa.”
“Oh ... saya turut sedih. Istri Tuan pasti cantik hingga raksasa pun tertarik padanya. Bagaimana kejadiannya?” tanya Raden Barjah ingin tahu.
“Saat itu saya tidak di rumah, sedangkan istri saya bermain-main di taman memetik bunga. Raksasa menculik istri saya tanpa hambatan. Maaf, Tuan, sesungguhnya Tuan dari mana dan hendak ke mana? Mengapa sampai di hutan yang lebat ini? Dan, yang tampan ini siapa?” tanya Gunaganda menunjuk pada Rengganpulung.
“Oh, ya, perkenalkan ini putraku, Rengganpulung. Saya dari Cantakapura, sesungguhnya saya pun sedang mencari istri saya yang dibuang oleh kunti kalong ke hutan ini.”
Gunaganda jantungnya seperti meloncat ke luar. Gemetar seluruh tubuhnya mendengar penjelasan lelaki itu. Rasanya saat itu juga ingin memeluk kedua lelaki itu, tetapi hasratnya ditahan kuat-kuat.
“Mengapa badanmu menggigil, Ki Satria? Sakitkah?” Raden Barjah khawatir melihat Gunaganda tiba-tiba gemetar dengan hebatnya.
“Tidak, Tuan! Tidak apa-apa. Saya hanya terharu karena ternyata nasib kita sama,” Gunaganda berusaha menenangkan diri.
Raden Barjah tidak khawatir lagi. Bertiga bercakap-cakap dengan akrab seperti bertemu dengan sahabat lama. Rengganpulung yang sejak tadi ingin mengetahui asal-usul Ki Satria bertanya dengan hati-hati, “Barangkali kami dapat menemukan istri Tuan, kepada siapa dan ke mana saya harus mengabarkannya?”
“Cari saja Gunaganda di Negeri Akarwangi, pemuda tampan,” jawab Gunaganda singkat.
“Oh ... jadi Kakak dari Akarwangi?"
“Benar, Adikku!”
“Bagaimana kalau kita mencari istri kita bersama-sama?” Raden Barjah mengusulkan.
“Usul yang baik. Terimalah, Ki Satria, saran ayah saya,” Rengganpulung menyemangati Gunaganda.
Tanpa pikir panjang Gunaganda mengangguk, “Baiklah, saya setuju.”
“Mulai saat ini, saya Raden Barjah, Raja Cantakapura menganggap Ki Satria sebagai saudara sejati, sebagai adik,” kata Raden Barjah memeluk Gunaganda.
Gunaganda sedikit ragu membalas pelukan Raden Barjah. Dalam hatinya dia berbisik, “Kakang, inilah istrimu yang kau cari.” Akan tetapi, bibirnya berkata lain, “Terima kasih, Paduka! Tuan sungguh berbudi mau mengangkat adik pada orang yang sengsara, pada orang hina seperti saya.”
“Tentu saja, Adik! Kau sedang tenggelam, aku tak akan menambah airnya.”
“Sekarang tujuan kita ke mana, Kang Barjah? Bagaimana kalau ke Negeri Kawistana? Jika tak salah Kawistana berada di bibir hutan ini!”
“Boleh saja, siapa tahu istri kita berada di sana.”
Berangkatlah mereka bertiga ke Negeri Kawistana. Malam yang remang-remang menyambut kedatangan ketiga kesatria di Kawistana. Mereka berniat bermalam di keraton Kawistana. Raden Barjah mengutus Gunaganda menemui Eroh Alas terlebih dahulu, meminta izin akan bermalam di keraton. Gunaganda mendekati pintu keraton, tangannya yang akan mengetuk pintu diurungkan karena di dalam terdengar orang-orang sedang berbincang-bincang. Dia menempelkan telinganya ke pintu. Terdengarlah suara dari dalam dengan jelas.
“Patih! Pergilah ke Cantakapura. Raden Barjah malam ini juga harus terbawa. Aku sudah lama menginginkan Cantakapura yang makmur. Penjarakan dia di Gua Upas yang angker!”
“Baiklah, Paduka. Hamba pun sudah menghimpun pasukan akan menggempur Cantakapura."
Gunaganda mundur setelah mendengar percakapan itu. Buru-buru dia menemui Raden Barjah dan Rengganpulung. Terengah-engah dia melaporkan rencana Eroh Alas pada Raden Barjah, “Kang Barjah! Beruntung kita kemari, Adik tadi mendengar rencana jahat Eroh Alas yang akan menculik Paduka. Raja Kawistana ternyata menginginkan Cantakapura. Sekarang Patih tengah menghimpun pasukannya akan menggempur Cantakapura.”
“Benarkah itu, Adik?” Raden Barjah tak yakin.
“Benar, percayalah!”
“Kalau begitu, bersiaplah! Pulung, juga Gunaganda! Kita serang mereka sebelum mereka menyerbu Cantakapura,” kata Raden Barjah.
Bertiga mereka menyelinap ke dalam keraton. Tampaklah di dalam Raja Eroh Alas dan menterinya masih berbincang. Raden Barjah menyusun siasat untuk melumpuhkan mereka. “Pulung! Hadapilah menteri itu olehmu!”
“Siap, Ayah!”
“Gunaganda, Adikku! Patih-patih itu bagianmu!”
“Siap, Kakang!”
“Biarlah raja yang iri dengki itu bagianku! Majulah, sekarang!”
Tanpa dikomando dua kali, Rengganpulung dan Ganaganda mendobrak pintu lalu menyerang menteri dan patih Negeri Kawistana. Raden Barjah berdiri di hadapan Raja Eroh Alas. “Hai, Eroh Alas! Berani-beraninya engkau akan menculikku!”
Raja Eroh Alas terbelalak matanya melihat sasaran penculikan berada di depan mata. Dengan terbata-bata dia berkata, “Tidak salahkah penglihatanku? Benar-benar sakti Raja Cantakapura, belum diserang, eh, sudah menyerang duluan!”
“Bukalah matamu, hai, raja pendengki! Akulah Raden Barjah dari Cantakapura yang akan kau culik.”
Eroh Alas hilang nyalinya berhadapan dengan Raden Barjah yang terkenal kegagahan dan kesaktiannya. Dia teringat pada kesaktian Raden Barjah yang dapat berganti-ganti wujud dan rupa. Dia bersujud memohon maaf atas niatnya. “Maafkanlah, saya khilaf, Paduka! Saya berani sumpah tidak akan menculik Paduka!”
“Kau sungguh-sungguh, Eroh Alas?”
“Saya berjanji. Tidak sekali-kali menculik Paduka. Bahkan, kini saya dan para abdi dalem berjanji akan setia dan mengabdi pada Paduka!”
Raden Barjah tersenyum dan berkata-kata dalam hati, “Menggelikan Raja Eroh Alas, dia sudah kalah sebelum perang. Nyali kecil, tetapi niat besar. Baru melihatku saja sudah menggigil, apalagi jika melihat jelmaanku dalam wujud ular, jangan-jangan dia terkencing-kencing."
“Eroh Alas, aku mengampunimu! Tetaplah di sini menjadi raja!”
“Terima kasih, Paduka. Tuan sungguh terpuji!"
Raden Barjah memanggil Rengganpulung dan Gunaganda, “Pulung dan Gunaganda, Adikku! Sebaiknya urungkan niat kita bermalam di sini. Kita pulang saja ke Cantakapura! Nanti di sana kita menyusun rencana selanjutnya mencari istriku dan istrimu, Gunaganda.”
“Hamba mengikuti ke mana Tuan pergi,” jawab Gunaganda.
Malam itu juga mereka bertiga meneruskan perjalanan ke Cantakapura. Di Cantakapura, Raden Barjah, Rengganpulung, dan Gunaganda berkumpul di pendapa. Para menteri, hulubalang, dan seluruh penghuni keraton datang menghadap Sri Nalendra.
Salah seorang menteri bertanya pada Raden Barjah, “Bagaimana perkara Putri Terengganu? Apakah sudah ditemukan?”
“Kami belum menemukan Permaisuri, tetapi kami bertemu dengan ini, saudara sejati,” kata Sri Nalendra Raden Barjah menunjuk Gunaganda sambil memperkenalkannya.
Gunaganda tersenyum pada semua orang yang hadir sambil berkata, “Perkenalkan saya, Gunaganda asal Negeri Akarwangi. Sebagai bukti persaudaraan saya dengan Kang Barjah, saya hadiahkan panah, pedang, dan keris untuk putra mahkota tercinta, Rengganpulung!"
“Terima kasih,” kata Rengganpulung menerima hadiah dari Gunaganda.
Raden Barjah tak mau kalah dengan Gunaganda yang menghadiahi putranya senjata-senjata pusaka. Dia pun menobatkan Gunaganda sebagai pejabat di lingkungan keratonnya, “Dengarkan! Mulai saat ini, aku mengangkat Gunaganda sebagai Patih Utama di Cantakapura.”
Hadirin bertepuk tangan menyambut gembira pengangkatan Gunaganda.
“Terima kasih, Paduka,” balas Gunaganda bersujud ke hadapan Sri Nalendra.
Setahun telah berlalu. Raden Barjah belum dapat melupakan istrinya. Dipanggilnya Gunaganda selaku Patih Utama. Gunaganda sudah berada di hadapan Raden Barjah.
“Patih! Waktu berlalu begitu cepat, tetapi Putri Terengganu belum ada beritanya.”
“Benar, Paduka. Permaisuri seperti ditelan bumi. Kita sudah mencari ke mana-mana, tetapi jejaknya pun tak membekas.”
“Aku benar-benar merindukannya,” kata Raden Barjah dengan muka muram.
Patih sungguh iba. Ingin rasanya melepaskan pakaian dan segala benda yang melekat pada tubuhnya biar kelihatan siapa dirinya sebenarnya. “Akan tetapi, belum saatnya. Sebelum samaran ini dibuka, aku sebenarnya ingin menguji cinta dan kesetiaan suamiku,” kata Gunaganda dalam hati.
“Paduka, lupakan saja Putri Terengganu! Barangkali dia sudah menjadi santapan raja rimba di sana,” usul Gunaganda.
“Hati kecilku mengatakan bahwa istriku masih ada, Patih!”
“Paduka! Pepatah mengatakan jika kehilangan istri, obatnya tiada lain cari istri lagi. Biarlah yang hilang tetap hilang. Biarkanlah yang pergi tetap pergi. Sebaiknya, Paduka mencari permaisuri sebagai ganti Putri Terengganu. Tak kurang putri cantik di negeri ini. Hamba sudah menemukan calon pengganti permaisuri. Di Negeri Wirantanu ada perempuan teramat cantik. Perempuan itu sangat menggiurkan, masih perawan, dan sangat anggun.”
Raden Barjah terdiam seribu basa. Batinnya menolak usul yang disampaikan oleh Gunaganda.
“Bagaimana, Paduka?” Gunaganda tak sabar menanti jawaban Raden Barjah. “Jika Paduka berminat, hamba bersedia melamarkan putri itu untuk Paduka!”
“Patih! Di bumi ini hanya satu perempuan yang memikat hatiku dan tak tergantikan oleh yang lain, Terengganulah orangnya!”
Gunaganda terharu mendengarnya, tetapi dia belum merasa puas dengan pengakuan itu. Ditanyalah sekali lagi Raden Barjah. “Paduka! Hamba tidak meragukan itu, tetapi Putri Terengganu telah hilang. Jika Tuan ingin pada kembang Negeri Wirantanu yang langsing serta manis, seorang Banowati pun tak bisa menyamai kecantikannya, hamba akan melamarkan untuk Paduka! Bahkan, Terengganu tidak dapat menandinginya. Saat ini juga hamba bersedia menemui putri itu."
Raden Barjah tetap menggeleng. “Gunaganda, Patihku! Meskipun seperti bulan purnama cantiknya, aku tak akan mencari yang lain. Lebih baik tak mempunyai permaisuri daripada bersanding dengan perempuan lain.”
Gunaganda yakin sudah bahwa cinta Raden Barjah hanya untuk istrinya. Dia pun berniat akan membuka penyamarannya. Raden Barjah berkata kembali, “Patih! Jika engkau benar-benar setia dan ingin membelaku, mari kita cari kembali istriku!”
“Baiklah, Paduka! Hamba tak berani lagi menyodorkan calon permaisuri karena pintu hati Paduka sudah tertutup untuk perempuan lain. Esok pukul sepuluh malam, hamba akan menanti di kamar Paduka! Subuh kita berangkat.”
Sedikit pun Raden Barjah tidak menangkap sesuatu yang luar biasa dari perkataan Gunaganda. Raden Barjah hapal betul kebiasaan patihnya jika akan bepergian, tidurnya selalu di kamarnya dengan alasan takut tertinggal olehnya.
Waktu menunjukkan pukul delapan, Gunaganda cepat-cepat membersihkan diri. Rambut dan seluruh tubuhnya diguyur dengan air mawar. Setelah itu, dipakainya baju miliknya yang masih tersimpan rapi di lemari pakaiannya. Gunaganda mematut-matut diri di depan cermin. Setelah puas, dia duduk di bibir ranjang. Matanya berbinar-binar menanti saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya bertemu dengan suaminya di tempat yang paling disukainya, yaitu di kamar.
Sementara itu, Raden Barjah sudah beres dengan pekerjaannya. Dia hendak ke kamarnya. Matanya melihat ke tiap sudut keraton mencari seseorang. “Dari tadi aku tak melihat Gunaganda. Jangan-jangan dia sudah tidur?” Bergegas dia ke kamarnya.
Di kamar Gunaganda sepi tak ada siapa-siapa. “Ah, tidak biasanya Gunaganda dusta. Aku tak melihat batang hidungnya, tetapi harumnya memenuhi kamar ini. Hai, tetapi di mana orangnya?” katanya mencari-cari ke setiap sudut kamar.
Tak lama kemudian, terdengar suara, “Selamat malam, Paduka?”
Raden Barjah terkesima mendengar suara itu. Suara lembut yang sangat dirindukannya. “Kaukah itu, Sayang? Wahai, Terengganu, tunjukkanlah dirimu itu! Kau jangan bermain-main denganku.”
“Mengapa Paduka tak melihatku? Apakah sudah lupa dengan ilmu mengubah wujud? Dulu Paduka melamarku dalam wujud burung. Di mana kesaktian itu sekarang?”
Gunaganda alias Terengganu belum menampakkan diri. Rupanya dia memakai ilmu menghilangkan raga supaya tak tampak oleh Raden Barjah. “Suamiku, Sayang! Aku hanya akan bertemu denganmu di dunia yang lain. Dunia yang tak terlihat secara kasat mata.”
Raden Barjah tidak berkata lagi. Dia pun duduk bersila, bersedekap dengan kedua tangannya di dada, dan bersemadi dengan memejamkan kedua matanya. Diucapkanlah ajian-ajian untuk menghilangkan raga. Samar-samar tampaklah Putri Terengganu sedang duduk di pinggir ranjang. Raden Barjah bangkit seketika merangkul istri yang dirindukannya. Putri Terengganu membalasnya dengan penuh mesra.
“Aduh, istriku sayang! Mengapa begitu tega padaku? Di mana saja pujaanku selama ini? Mengapa kau terlalu lama menghilang?” tanyanya bertubi-tubi.
“Aku sudah lama di Cantakapura."
“Di Cantakapura?” tanya Raden Barjah tak percaya.
“Paduka telah mengangkatku menjadi Patih. Patih Utama di Cantakapura.”
Raden Barjah teringatlah pada Gunaganda, kesatria berperawakan kecil yang ditemuinya di hutan dan telah diangkatnya menjadi Patih Utama. “Gunaganda! Kau selama ini menjadi Gunaganda?”
“Ya, Paduka! Gunaganda itu hamba! Saat berkelana hamba menyamar sebagai laki-laki yang bernama Gunaganda.”
“Aku benar-benar buta, Sayang! Setahun lamanya Gunaganda bersamaku, tetapi aku tak mengenalimu.” Raden Barjah memeluk istrinya erat-erat.
“Semua ini pelajaran bagi Paduka. Meskipun Paduka terkenal sebagai Raja yang gagah dan perkasa, tetapi masih dapat teperdaya. Paduka teperdaya oleh siluman kalong. Paduka pun tak mengenali Rengganpulung dan Terengganu yang tersamar oleh Gunaganda."
“Benar, Sayang. Aku mengakuinya. Ini menunjukkan bahwa kita sebagai manusia tak mungkin menjadi sempurna. Maafkanlah, semua kekhilafanku.”
“Sudahlah! Semua sudah berlalu! Hai, mengapa Paduka masih bersedih? Bukankah aku sudah di sampingmu?” kata Putri Terengganu seraya memeluk dan menciumi Raden Barjah dengan mesra.
Raden Barjah bergetar. Jantungnya berdegup lebih kencang seperti genderang yang ditabuh ketika mau maju perang. Dia tidak menjawab perkataan istrinya. Dibalasnya pelukan istrinya dengan penuh rasa cinta. Mereka berdua sangat ingin bercinta melepaskan kerinduan yang bertahun-tahun tertunda. Malam itu menjadi malam bulan madu yang kedua bagi mereka.
Raden Barjah dan Putri Terengganu sepanjang malam tak memejamkan mata. Mereka berbagi cerita dan pengalaman masing-masing selama berpisah puluhan tahun. Sampai akhirnya terdengar ayam berkokok menunjukkan bahwa waktu sudah subuh. Raden Barjah merencanakan agenda hari ini bersama Putri Terengganu.
“Istriku, karena engkau sudah terbiasa memerankan patih utama di negeri ini, aku berharap teruskanlah peran itu.”
“Baik, Paduka! Apa tugasku hari ini?”
“Siapkanlah pertemuan dengan para pembesar Cantakapura, para menteri, patih, dan penghuni keraton ini. Aku ingin memberitahukan kepulanganmu dan membicarakan rencana pernikahan putra mahkota dengan Dewi Sarsari yang sempat tertunda.”
“Baik, Paduka. Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan putraku, Rengganpulung yang telah lama kutinggalkan! Setahun ini aku hanya dapat melihatnya dari jauh. Yang dapat kulakukan hanyalah memberikan senjata-senjataku."
Esok harinya pendapa ramai dan penuh sesak. Para pembesar keraton, para menteri, para patih, dan seluruh penghuni istana Cantakapura tumpah ke pendapa. Kabar tentang Putri Terengganu yang sudah kembali ke Cantakapura sudah beredar di kalangan istana. Kabar itu pun sudah sampai di telinga Rengganpulung yang saat itu sudah bersanding dengan kekasihnya, Dewi Sarsari.
![]() |
| Di hadapan para penggawa Kerajaan Cantakapura, Raja Barjah menyampaikan bahwa permaisuri, Putri Trengganu, telah kembali ke istana dengan selamat. |
Raden Barjah dan Putri Terengganu sudah masuk ke pendapa. Semua mata tertuju pada Putri Terengganu yang tampak anggun dan menawan. Meskipun puluhan tahun tidak di istana, Putri Terengganu tak kurang suatu apa pun. Merasa diperhatikan orang, Permaisuri Cantakapura itu menebarkan senyumnya pada semua yang hadir.
Raden Barjah mengisahkan pengalaman Putri Terengganu sejak dia terusir dari istana oleh siluman kalong sampai dengan kembalinya ke Cantakapura sebagai Gunaganda. Pengalaman Permaisuri Cantakapura itu sungguh menarik dan dijadikan pelajaran oleh semua orang. Para suami akan menjaga istrinya yang sedang mengandung jika si istri keluar waktu magrib.
Raden Barjah pun kemudian menyampaikan rencana pernikahan Rengganpulung dengan Dewi Sarsari yang akan diselenggarakan seminggu mendatang. Hadirin menyambutnya dengan gembira karena pesta pernikahan putra kerajaan sama dengan pesta rakyat.
Rengganpulung telah menikah dengan Dewi Sarsari. Tak lama setelah itu, Rengganpulung pun dinobatkan sebagai Raja Cantakapura menggantikan ayahnya.








Komentar
Posting Komentar