ROBOHNYA RAKSASA DAN TUMBANGNYA KEJAHATAN
KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT BAHASA
Masalah kesastraan di Indonesia tidak dapat terlepas dari kehidupan masyarakat pendukungnya. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia telah terjadi berbagai perubahan baik sebagai akibat tatanan kehidupan dunia yang baru, globalisasi, maupun sebagai dampak perkembangan teknologi informasi yang amat pesat. Kondisi itu telah memengaruhi perilaku masyarakat Indonesia. Gerakan reformasi yang bergulir sejak 1998 telah mengubah paradigma tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tatanan kehidupan yang serba sentralistik telah berubah ke desentralistik, masyarakat bawah yang menjadi sasaran (objek) kini didorong menjadi pelaku (subjek) dalam proses pembangunan bangsa. Oleh karena itu, Pusat Bahasa harus mengubah orientasi kiprahnya. Sejalan dengan perkembangan yang terjadi tersebut, Pusat Bahasa berupaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat akan kebutuhan bacaan sebagai salah satu upaya perubahan orientasi dari budaya dengar-bicara menuju budaya baca-tulis serta peningkatan minat baca di kalangan anak-anak.
Sehubungan dengan itu. Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, melalui Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta. secara berkesinambungan menggiatkan penyusunan buku bacaan sastra anak dengan mengadaptasi dan memodifikasi teks-teks cerita sastra lama ke dalam bentuk dan format yang disesuaikan dengan selera dan tuntutan bacaan anak masa kini. Melalui langkah ini diharapkan terjadi dialog budaya antara anak-anak Indonesia pada masa kini dan pendahulunya pada masa lalu agar mereka akan semakin mengenal keragaman budaya bangsa yang merupakan jati diri bangsa Indonesia.
Bacaan keanekaragaman budaya dalam kehidupan Indonesia baru dan penyebarluasannya ke warga masyarakat Indonesia dalam rangka memupuk rasa saling memiliki dan mengembangkan rasa saling menghargai diharapkan dapat menjadi salah satu sarana perekat bangsa.
Buku sastra anak ini merupakan upaya memperkaya bacaan sastra anak yang diharapkan dapat memperluas wawasan anak tentang budaya masa lalu para pendahulunya.
Atas penerbitan ini saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada para penyusun buku ini. Kepada Sdr. Teguh Dewabrata, S.S., Pemimpin Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta beserta staf, saya ucapkan terima kasih atas usaha dan jerih payah mereka dalam menyiapkan penerbitan buku ini. Ucapan terima kasih saya sampaikan pula kepada Sdr. Urip Widodo yang telah membantu menjadi ilustrator dalam penerbitan ini.
Mudah-mudahan buku Robohnya Raksasa dan Tumbangnya Kejahatan ini dibaca oleh segenap anak Indonesia, bahkan oleh guru, orang tua, dan siapa saja yang mempunyai perhatian terhadap cerita rakyat Indonesia demi memperluas wawasan kehidupan masa lalu yang banyak memiliki nilai yang tetap relevan dengan kehidupan masa kini.
Dr. Dendy Sugono
•••
SEKAPUR SIRIH
Pertama-tama penulis panjatkan rasa syukur yang dalam pada Allah Yang Mahakuasa, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan cerita anak-anak Robohnya Sang Raksasa dan Tumbangnya Kejahatan ini akhirnya terselesaikan.
Selanjutnya, penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Dr. Hasan Alwi selaku Kepala Pusat Bahasa dan Drs. Abdul Rozak Zaidan, M.A. selaku Kepala Bidang Pengembangan Bahasa dan Sastra.
Robohnya Sang Raksasa dan Tumbangnya Kejahatan semula berupa karya Raden Ngabehi Sindusasra, yang berjudul Maesasura Jatasura, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka dan pada tahun 1978 diterbitkan kembali oleh Proyek Penerbitan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Maesasura Jatasura ditulis dalam bentuk puisi Jawa tradisional.
Mudah-mudahan Robohnya Sang Raksasa dan Tumbangnya Kejahatan ini—yang ditulis untuk pembaca usia Sekolah Dasar—bermanfaat bagi anak-anak yang membacanya, baik itu berupa kenikmatan membaca maupun moral dan nilai-nilai tertentu yang disodorkan oleh cerita ini. Akhir kata, saran dan kritik pembaca untuk penyempurnaan buku ini akan penulis terima dengan senang hati.
Suyono Suyatno
•••
1.
SANG RAKSASA, MAESASURA
Malam itu bulan tampak temaram. Sunyi mengalir bersama angin lalu. Terdengar gemeresik lalang tersentuh angin. Sesekali terdengar salak anjing di kejauhan. Gemerencik air sungai yang mengalir terdengar sayup-sayup.
Dingin malam itu terasa menggigit tulang, tetapi tak seorang pun berani menyalakan api unggun untuk penghangat tubuh. Suasana mencekam merayap bersama kegelapan malam. Ketakutan singgah di hati segelintir orang yang masih bertahan di desa-desa sekitar Gua Kiskenda.
"Kang," bisik seorang perempuan kepada suaminya, "apakah malam ini Maesasura tak berkeliaran?”
"Ssst!" suaminya balas berbisik. "Lebih baik tak usah bicara. Siapa tahu Maesasura sedang mencari mangsa."
Bayangan Maesasura semakin merambati hati perempuan itu. Dia buru-buru merapatkan wajahnya ke dada suaminya sambil terisak-isak ketakutan.
"Jangan menangis," bisik laki-laki itu sambil merapatkan mulutnya ke telinga istrinya. "Jangan sampai terdengar suara dari gubuk ini. Itu bisa jadi bahaya buat kita," katanya sambil tangannya berusaha menutup mulut istrinya.
Tangis perempuan itu akhirnya berhenti juga. Dia memeluk erat-erat suaminya untuk melepaskan rasa takutnya. Sang suami membelai-belai rambutnya untuk menenangkan hati perempuan itu.
Waktu terasa berjalan teramat lambat malam itu. Kedua suami istri itu belum juga bisa memejamkan mata karena rasa cemas yang mengimpit. Tiba-tiba bumi terasa bergetar. Terdengar langkah-langkah berat menjejak bumi. Suami istri itu buru-buru masuk ke kolong dipan. Degup jantung keduanya berpacu kencang. Napas mereka berdua seakan berhenti.
“Monyet!" Terdengar seseorang mengumpat dengan suara parau. "Tak ada tanda-tanda kehidupan di sekitar sini!"
"Belum tentu!" jawab seseorang yang lain dengan suara tak kalah parau. "Coba, aku tendang gubuk itu! Siapa tahu masih ada penghuninya."
Braak! Terdengar suara tendangan dahsyat yang merobohkan sebuah gubuk.
“Ah, dasar sial!" umpat seseorang. "Gubuk itu sudah tak ada penghuninya!"
"Lebih baik kita ke desa sebelah saja sekarang! Aku rasa desa ini sudah kosong. Tak ada lagi manusianya!"
Setelah percakapan singkat itu, terdengar langkah-langkah bergerak menjauh. Suami istri itu perlahan-lahan keluar dari kolong dipan tempat mereka bersembunyi. Keringat dingin masih membasahi tubuh keduanya. Kedua orang itu bertatapan dalam gelap sambil saling mendekap.
"Untung kita masih selamat!” bisik laki-laki itu kepada istrinya.
"Rasanya aku tak tahan lagi!" bisik perempuan itu dengan mata berlinang. "Batinku lelah menghadapi Maesasura, raksasa gila itu!"
"Sudahlah! Sekarang kita tidur saja. Lupakan saja raksasa gila itu. Toh dia sudah berlalu dari sekitar sini," kata lelaki itu dengan suara pelan, takut terdengar sang raksasa.
"Akan tetapi, sebaiknya mulai besok kita angkat kaki dari desa ini."
"Ya, ya!"
"Lama-lama di sini kita bisa mati ketakutan. Cuma kita saja yang gila, dan masih bertahan di sini. Yang lain sudah banyak yang pergi meninggalkan desa ini."
"Ya, ya! Besok kita tinggalkan desa ini. Sekarang kita tidur saja!" kata lelaki itu sambil mulai memejamkan matanya.
Malam merayap dalam sepi. Desa itu tinggal dihuni segelintir orang saja. Sebagian besar penghuni desa itu telah mengungsi ke tempat-tempat yang jauh. Bahkan, desa-desa tetangga makin hari juga makin kosong ditinggalkan penduduknya. Mereka ketakutan pada Maesasura, seorang raksasa sakti berkepala kerbau yang tinggal di Gua Kiskenda.
Gua Kiskenda merupakan kerajaan raksasa dengan Maesasura sebagai rajanya. Patihnya bernama Lembusura. Ada pula saudara Maesasura yang bertugas sebagai kendaraan perang untuk Maesasura, yaitu Jatasura. Jatasura, yang berbadan banteng dan berkepala raksasa itu, terkenal sangat sakti. Selain itu, Maesasura pun memiliki bala tentara yang terdiri dari para raksasa.
Semua orang takut dan tak berdaya berhadapan dengan Maesasura dan bala tentaranya. Maesasura memang menakutkan siapa saja yang melihatnya. Betapa tidak, wajahnya garang. Matanya merah melotot. Taringnya kuat mencuat dari mulutnya. Apalagi, tubuhnya yang tinggi besar—hampir dua kali lipat manusia biasa—Maesasura tampil bak raksasa. Langkah-langkah kakinya yang berat menggetarkan bumi jika dia berjalan. Langkahnya juga menggetarkan hati orang yang menyaksikannya.
Selain menakutkan, Maesasura juga sering mengganggu orang-orang di sekelilingnya. Ada saja yang dia minta dari penduduk di sekitar Gua Kiskenda, tempat dia bersemayam bersama bala tentaranya. Beras, unggas, ternak, dan harta benda lainnya selalu dia minta dengan paksa. Apabila tak diberi, Maesasura pun akan mengamuk membabi buta sehingga orang-orang di sekitarnya lari tunggang langgang ketakutan.
Maesasura bukan hanya merampas harta benda milik penduduk. Dia juga tak segan-segan mengganggu para perempuan, baik yang masih gadis maupun yang sudah bersuami. Oleh karena itu, tiap melihat Maesasura para perempuan langsung lari terbirit-birit menyelamatkan diri. Tak ada suami yang berani membela ketika istrinya sedang diganggu Maesasura. Apabila ada juga yang nekat membela istrinya, sang suami akan babak belur dihajar Maesasura.
Bukan hanya Maesasura yang suka mengganggu penduduk di sekitar Gua Kiskenda. Bala tentaranya juga melakukan hal yang sama. Hampir-hampir tak ada ruang gerak bagi para penduduk. Ke mana pun pergi mereka selalu diganggu Maesasura dan para raksasa pengikutnya. Mereka dari waktu ke waktu bergerak dalam bayang-bayang ketakutan. Berdiam di rumah pun bukan jaminan aman untuk mereka karena Maesasura dan para raksasa itu bisa datang tiap saat dengan berbagai alasan.
Lama-kelamaan banyak penduduk yang tak tahan berada dalam siksaan ketakutan. Keluarga yang memiliki anak gadis pun banyak yang mencemaskan nasib anaknya.
"Pak, bagaimana dengan Mirah, anak gadis kita?" tanya seorang ibu pada suaminya. "Kita begitu berhati-hati membesarkan dan menjaga Mirah. Bahkan, kita menolak beberapa perjaka yang akan meminang Mirah. Akan tetapi, para raksasa anak buah Maesasura seenak perut saja mencolek-colek Mirah. Mereka pikir, anak gadis kita barang obralan."
"Sabar, Bu! Sabar!” hibur sang suami.
“Ini bukan soal sabar! Ini soal harga diri!" kata perempuan itu semakin naik darah. "Apa kamu rela harga dirimu diinjak-injak dengan membiarkan anak gadismu dicolek-colek raksasa biadab itu?"
"Aku katakan, sabar!" kata sang suami. "Apa aku harus mati konyol dimangsa raksasa gila itu?"
"Kamu 'kan tidak harus melawan raksasa itu. Itu jelas tidak mungkin, kecuali kamu ingin mati konyol. Akan tetapi, kamu 'kan bisa menyelamatkan Mirah dengan mengungsikannya ke rumah neneknya. Aku rasa para raksasa itu tak akan mungkin merambah desa nenek Mirah karena letaknya yang amat jauh dari Gua Kiskenda."
"Sabar, kataku!” sang suami mulai tak mau dipojokkan terus-menerus. "Tunggu aku sehat dulu! Apa kamu tidak tahu kalau aku belum begitu sehat? Aku perlu sehat dulu untuk menempuh jarak sejauh itu."
Perempuan itu terdiam menatap suaminya. Dia tersadar bahwa kemelut akibat ulah Maesasura dan para raksasa telah membunuh akal sehatnya.
Diam-diam makin banyak penduduk yang mengungsi ke tempat-tempat yang jauh dari Gua Kiskenda. Mereka berusaha meloloskan diri dari desa-desa sekitar Gua Kiskenda. Dengan berbagai cara mereka menyamar agar upaya pelarian mereka tidak diketahui oleh Maesasura dan anak buahnya. Apabila ada penduduk yang berusaha melarikan diri menjauhi Gua Kiskenda, para penguasa Gua Kiskenda itu akan menjatuhkan hukuman yang semena-mena. Hukuman itu bisa berupa hukum cambuk, bisa juga berupa penyitaan harta kekayaan, seperti ternak atau perhiasan.
Para penduduk melarikan diri dari desanya. Mereka mengungsi ke tempat yang aman. Sebagian dari mereka tak segan-segan menyuap raksasa penguasa Gua Kiskenda itu. "Daripada tertangkap dan akhirnya kena hukuman juga, lebih baik menyuap raksasa-raksasa gila itu. Toh raksasa-raksasa serakah itu tak pernah menolak apa pun, bahkan selalu mencari-cari mangsa dan kesempatan!" demikian pikir mereka.
Apa pun yang dapat memperlicin pelarian, mereka berikan kepada para raksasa itu. Misalnya, kerbau, sapi, kuda, atau gelang emas. Raksasa-raksasa penghuni Gua Kiskenda semakin berjaya dan merajalela. Desa-desa sekitar Gua Kiskenda pun makin sunyi dan sepi. Nyaris hanya ada suara angin, bunyi serangga, gemeresik lalang dan ketakutan yang tertinggal. Gubuk-gubuk dan pepohonan telah banyak yang roboh dan tumbang. Semua itu diterjang para raksasa yang sering kali mengamuk tanpa sebab yang jelas.
•••
2.
MAESASURA DAN DEWI TARA
Akhir-akhir ini Maesasura sering mengurung diri saja di dalam Gua Kiskenda. Mulutnya tak banyak bicara dan matanya menerawang jauh. Gairah hidup seakan padam dari wajahnya yang garang. Nafsu makannya yang selama ini luar biasa rakus mendadak sirna. Dia seperti orang sedang berpuasa saja. Hidangan apa pun yang disajikan kepadanya hampir-hampir tak pernah disentuhnya.
Patih Lembusura terheran-heran melihat perubahan tingkah sang raja junjungannya. Dia merasa sedih menyaksikan wajah Maesasura yang selalu muram belakangan ini. Suatu ketika Patih Lembusura tak dapat menahan rasa penasarannya. Dia ingin tahu mengapa akhir-akhir ini Maesasura selalu berwajah muram dan tidak banyak bicara.
"Prabu," kata Patih Lembusura perlahan, "kalau boleh hamba tahu, apa yang menyusahkan perasaan Prabu?"
"Patih, seharusnya aku merasa bahagia," jawab Maesasura dengan pandang mata nanar.
“Kalau begitu, apa yang Prabu susahkan?"
"Ternyata aku bisa jatuh hati!"
"Prabu jatuh hati?"
"Ya! Itu yang membuat perasaanku kalang kabut."
"Lo? Kok aneh? Jatuh hati bukannya bahagia?"
"Apa anehnya?” Maesasura setengah membentak karena merasa dipermainkan patihnya. "Kamu yang aneh! Kamu tidak bisa memahami perasaan orang."
"Bukan begitu, Prabu! Maksud hamba, seharusnya Prabu 'kan bahagia karena sedang jatuh hati. Jadi, apa yang Prabu susahkan?"
"Kamu tahu aku jatuh hati pada siapa?"
"Bagaimana hamba tahu kalau Prabu tak mengatakannya?"
"Dewi Tara, Patihku! Dewi Tara! Menurutmu, apa mungkin Dewi Tara mau menerimaku?"
"Dewi Tara? Bidadari jelita putri Batara Endra itu?"
"Ya! Menurutmu, apa mungkin dia mau hidup bersamaku?"
Patih Lembusura termenung sambil mengerutkan kening. Dia tidak ingin mengecewakan Maesasura. Dia akan berusaha agar Dewi Tara bersedia menjadi istri Maesasura.
"Prabu," kata Lembusura, "bagaimana kalau kita lamar saja Dewi Tara? Prabu bisa mengutus hamba untuk menemui Batara Endra. Kemudian, hamba akan melamarkan putrinya yang cantik jelita itu untuk Prabu."
"Kalau Batara Endra tidak merelakan putrinya untukku, bagaimana?"
"Ah! Terus terang hamba heran melihat perubahan sikap Prabu. Sekarang Prabu tiba-tiba seperti anak kecil, belum apa-apa sudah menyerah!"
"Bukan belum apa-apa sudah menyerah. Akan tetapi, itu namanya perhitungan. Kita perlu memperhitungkan seandainya saja Batara Endra menolak lamaranku, kita harus bagaimana?”
"Kok pusing-pusing! Kita gempur saja Kaendran! Selama ini kita 'kan selalu di atas angin. Semua segan dan tak berani sembarangan terhadap kita."
"Patihku! Kalau begitu, besok kamu berangkat ke Kaendran! Sampaikan pada Batara Endra bahwa aku meminang putrinya, Dewi Tara."
"Baik, Prabu! Besok hamba akan berangkat melaksanakan mandat Paduka!"
Sementara itu, malam menyelimuti Gua Kiskenda. Maesasura gelisah dalam tidurnya. Matanya tak kunjung terpejam. Dia bolak-balik turun naik dari tempat tidurnya. Menjelang subuh Maesasura baru tertidur. Dalam tidurnya Maesasura terdampar di sebuah taman bunga yang terasa asing baginya. Di taman bunga itu banyak kupu-kupu berwarna-warni. Maesasura tergerak untuk menangkap kupu-kupu itu. Akan tetapi, tiap dia bergerak mendekat kupu-kupu itu dengan cepat menjauh. Kupu-kupu itu selalu luput dari penangkapan Maesasura. Maesasura kecewa dan gemas. Dientak-entakkan kakinya ke tanah. Kawanan kupu-kupu itu semakin menghambur jauh.
Tanpa dapat ditahan semburat sinar matahari fajar mulai merambati Gua Kiskenda. Seberkas cahaya menyentuh mata Maesasura. Maesasura pun tersadar dari mimpinya.
"Jangan-jangan itu tadi alamat buruk. Jangan-jangan Dewi Tara tak bakal pernah terjamah olehku, sekalipun dalam mimpi!" kata Maesasura dalam batinnya.
Sisa mimpi buruk semalam masih membekas di wajah Maesasura. Mukanya muram dan cahaya matanya pudar. Dengan gelisah dia melangkah ke sana kemari. Benaknya mencoba menafsir-nafsirkan mimpinya semalam.
"Biasanya aku menaklukkan siapa pun dengan gampang, pikir Maesasura dalam hati. "Sekarang aku kebingungan gara-gara seorang bidadari jelita. Aku harus mendapatkan Dewi Tara, apa pun taruhannya. Aku tak akan surut. Segala cara dan langkah akan aku tempuh untuk menaklukkan bidadari idamanku itu."
Sementara itu, Patih Lembusura sampai di Kaendran setelah menempuh perjalanan berhari-hari yang melelahkan. Di halaman istana Kaendran para hulubalang kerajaan yang sedang berjaga keheranan melihat kedatangan Lembusura yang bertubuh raksasa, tinggi besar. Diam-diam mereka langsung meningkatkan kewaspadaan dan dalam posisi siap tempur. Mereka berancang-ancang menggempur sang raksasa yang datang.
"Salam," kata Patih Lembusura menghormat sambil membungkukkan badannya. "Bolehkah hamba menghadap yang mulia Batara Endra?"
"Kalau boleh kami tahu, kamu berasal dari mana?" tanya salah seorang hulubalang.
"Hamba berasal dari Gua Kiskenda."
Hulubalang itu tiba-tiba saja bergidik ketakutan mendengar tamu raksasa yang datang itu berasal dari Gua Kiskenda. Akan tetapi, dia berusaha keras tidak memperlihatkan ketakutannya.
"Ada keperluan apa sehingga kamu ingin menghadap Batara Endra?" tanya hulubalang itu menyelidik.
"Hamba hanya ingin menyampaikan pesan raja junjungan kami, Prabu Maesasura, kepada yang mulia Batara Endra."
"Kamu saudara Prabu Maesasura?"
"Bukan, hamba patihnya."
"Baik! Kalau begitu, Patih tunggu sebentar di sini. Hamba akan menanyakan pada yang mulia, apakah yang mulia siap menerima kedatangan Patih?"
Beberapa saat setelah menemui Batara Endra, hulubalang tadi keluar menemui Patih Lembusura. Lembusura masih terpaku berdiri di tempatnya semula.
"Patih, yang mulia Batara Endra bersedia menerima Patih. Silakan Patih menghadap," kata hulubalang mempersilakan Patih Lembusura menghadap Batara Endra.
"Sembah, Paduka," begitu kata Patih Lembusura di hadapan Batara Endra. "Hamba datang kemari akan menyampaikan pesan raja junjungan hamba, Prabu Maesasura."
"Apa pesan rajamu itu?" tanya Batara Endra.
"Pertama, Prabu Maesasura ingin menyerahkan ini untuk Paduka," kata Lembusura seraya meletakkan satu kotak berisi perhiasan emas berupa cincin, gelang, dan kalung di hadapan Batara Endra. “Kedua, mudah-mudahan Paduka tidak terkejut mendengarnya, Prabu Maesasura ingin meminang putri Paduka, Dewi Tara."
Batara Endra terkejut bukan main mendengar pernyataan Lembusura. Dia merasa seperti disambar petir di siang bolong. Walaupun demikian, Batara Endra berusaha menguasai diri sesempurna mungkin. Dia tidak ingin menampakkan perasaannya sama sekali.
"Patih Lembusura," kata Batara Endra, "antara percaya dan tak percaya aku dengarkan semua yang Patih ucapkan tadi."
"Jadi, Paduka belum yakin dengan niat Prabu Maesasura untuk meminang putri Paduka?"
“Bukan itu soalnya, Patih! Dewi Tara, putriku itu, aku rasa masih belum ingin terikat dengan seorang laki-laki pun. Jadi, sampaikan saja kepada Prabu Maesasura bahwa aku belum bisa menerima lamarannya. Mungkin aku tidak akan pernah bisa."
"Kalau itu alasan Paduka, Paduka sebagai orang tua Dewi Tara 'kan bisa memaksa putri Paduka untuk menerima lamaran ini," kata Lembusura mencoba meluluhkan hati Batara Endra.
"Maaf, Patih, aku bukan orang yang suka memaksa!”
“Paduka, hamba rasa Prabu Maesasura benar-benar sayang dan akan selalu mencintai putri Paduka. Beliau tidak akan menyia-nyiakan Dewi Tara. Sekarang bagaimana keputusan Paduka terhadap lamaran Prabu Maesasura?"
"Bukankah telah aku katakan dengan jelas bahwa aku belum bisa menerima lamaran itu? Mungkin pula, aku tidak akan pernah bisa menerima lamaran itu!"
"Berarti Paduka menolak lamaran Prabu Maesasura?"
"Terserah bagaimana Patih menafsirkan perkataanku."
“Paduka tahu apa akibatnya menolak lamaran Prabu Maesasura?"
“Janganlah coba-coba mengancam! Lagi pula, Patih di sini hanyalah seorang tamu! Seorang tamu tidak pada tempatnya mengancam tuan rumah!"
"Hamba tidak mengancam, Paduka. Hamba hanya mengatakan, menolak lamaran Prabu Maesasura berarti mengundang masalah."
“Tidak usahlah Patih berbelit-belit! Sekarang pulanglah kembali ke Gua Kiskenda! Sampaikan pada Prabu Maesasura apa yang telah kukatakan pada Patih. Oh, ya, aku rasa aku tidak memerlukan perhiasan yang diberikan Prabu Maesasura kepadaku. Patih bisa mengambilnya kembali."
Muka Patih Lembusura merah padam mendengar kata-kata Batara Endra. "Ini benar-benar suatu penghinaan yang menyakitkan!" kata Lembusura dalam batin. Tanpa pamit, Lembusura buru-buru angkat kaki dari hadapan Batara Endra. Akan tetapi, beberapa puluh langkah kemudian Lembusura tiba-tiba berbalik. Dia memandang tajam Batara Endra. Kemudian, dia berseru, "Paduka, hamba dan Prabu Maesasura akan datang lagi kemari untuk merebut Dewi Tara!" Setelah mengucapkan kata-kata itu, Lembusura dengan langkah bergegas melanjutkan perjalanan pulang ke Gua Kiskenda.
![]() |
| "Paduka, hamba dan Prabu Maesasura akan datang lagi kemari untuk merebut Dewi Tara!" |
Sementara itu, Dewi Tara yang diincar Maesasura hanya berdiam diri di kamarnya saat Patih Lembusura menyampaikan rencana Maesasura untuk meminang dirinya kepada ayahnya. Keringat dingin ketakutan membasahi tubuhnya yang ranum. Tak terbayang olehnya bagaimana menjadi istri seorang raksasa yang berwajah menyeramkan dan jahat. "Barangkali lebih baik mati saja daripada bersuamikan dia," pikirnya.
Selama pembicaraan Patih Lembusura dengan ayahnya, rasa cemas dan takut membelit batin Dewi Tara. Walaupun ayahnya menolak kehendak Maesasura yang akan melamar dirinya, dia merasa belum terbebas dari bayang-bayang Maesasura yang mengincar dirinya. "Suatu saat dia pasti datang untuk merebutku. Dia akan memaksa diriku menjadi istrinya," katanya dalam hati sambil berlinang air mata.
Tangis Dewi Tara makin menjadi-jadi. Pipinya yang ranum telah basah oleh air mata. Mukanya kusut. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya yang ayu. Rambutnya itu seolah-olah menyembunyikan kegalauan hati yang memancar dari wajahnya. Tiba-tiba saja batin Dewi Tara merasa teramat letih setelah beberapa saat bergulat melawan bayangan Maesasura yang menakutkan. Tubuhnya tersandar ke dinding.
"Untung Ayah menolak perhiasan yang diberikan Maesasura. Rasanya aib menerima perhiasan hasil jarahan terhadap orang-orang yang tak berdaya. Perhiasan itu sama saja dengan darah dan keringat mereka yang ditindas Maesasura selama ini,” Dewi Tara bergumam perlahan dengan mata masih basah.
Sementara itu, di balairung istana Batara Endra merasa gelisah karena putrinya, Dewi Tara, tidak juga muncul-muncul sejak kedatangan Patih Lembusura. Dengan langkah cemas dia berjalan menuju kamar putri kesayangannya. Begitu sampai di depan pintu kamar Dewi Tara, Batara Endra terkejut dan terharu. Dia menyaksikan putrinya itu duduk tersandar di dinding kamar dengan mata sembap.
"Anakku, apa yang kamu tangisi?" tanya Batara Endra sambil membelai rambut putrinya yang kusut.
"Aku takut, Ayah," kata Dewi Tara seraya memeluk ayahnya erat-erat seakan-akan mencari tempat berlindung.
“Tak usah takut! Bukankah raksasa itu telah pergi?"
"Akan tetapi, suatu saat mereka akan datang, merebutku, dan memaksaku menjadi istri Maesasura, raja raksasa yang serakah dan sewenang-wenang itu."
"Tidak usah terlalu kamu pikirkan soal itu! Dewa-dewa berpihak pada kita! Dewa-dewa akan melindungi kita!"
"Akan tetapi, bagaimana kalau para raksasa itu nekat menyerbu kita?"
“Itu Ayah yang akan mengatur nanti. Kalau perlu, Ayah akan perintahkan prajurit-prajurit pilihan untuk menghancurkan Gua Kiskenda sebelum mereka datang menyerang."
"Bagaimana kalau mereka yang menang, lalu mereka menculikku dan memaksaku menjadi istri Maesasura?”
“Kalau perlu, akan Ayah buatkan ruang persembunyian bawah tanah untukmu. Mereka tidak mungkin menemukan dirimu. Sekarang jaga dirimu baik-baik! Ayah akan mengumpulkan semua panglima perang untuk mengatur rencana penyerbuan Gua Kiskenda. Raksasa-raksasa itu akan kita tumpas lebih dahulu sebelum mereka sempat menyerang kemari!" kata Batara Endra sambil mencium kening Dewi Tara.
Gejolak ketakutan dalam batin Dewi Tara sedikit demi sedikit surut. Wajahnya kembali memancarkan semburat pesona. Matanya yang bening tampak seperti telaga teduh yang menyejukkan. Senyum yang mengalir dari bibirnya mencerminkan kedalaman hati yang tak terduga.
Sementara wajah Dewi Tara kembali cerah, langit di atas Istana Kaendran tiba-tiba suram. Awan hitam datang bergelombang menggelapkan cuaca. Angin datang menerjang-nerjang dengan garang.
•••
3.
MEMERANGI MAESASURA DAN JATASURA
Batara Endra tak mau Kaendran kebobolan oleh gempuran Maesasura dan anak buahnya. Dia yakin, Maesasura pasti akan datang untuk menyerang Kaendran. Kemudian, Maesasura akan merebut Dewi Tara, putri kesayangannya. Dia tak mau ini terjadi. Dia akan mengamankan dan melindungi Dewi Tara dengan kemampuan yang ada padanya.
Batara Endra segera menemui dan berunding dengan para dewa. Akhirnya, Batara Endra dan para dewa bersepakat bahwa daripada digempur lebih baik menggempur lebih dahulu. Batara Endra pun memerintahkan panglima perang untuk mempersiapkan bala tentara pilihan yang telah terlatih dengan baik. Segala jenis persenjataan juga dipersiapkan. Lubang-lubang perlindungan rahasia bawah tanah digali siang malam. Lubang-lubang perlindungan itu terutama dipersiapkan untuk anak-anak, perempuan, dan orang tua yang tak berdaya. Juga dipersiapkan lubang-lubang jebakan di sekitar istana, yang disamar dengan daun-daunan.
Siang malam bala tentara Kaendran berlatih dan mempersiapkan diri untuk menggempur Gua Kiskenda. Para dewa yang diperbantukan untuk memperkuat bala tentara Kaendran juga telah siap di tempat, tinggal menunggu komando. Pasukan mata-mata Kaendran pun telah disusupkan ke dalam wilayah Gua Kiskenda. Mereka bertugas mengumpulkan keterangan tentang kekuatan dan kelemahan lawan.
Sementara itu, Patih Lembusura telah tiba di Gua Kiskenda. Dia segera menghadap Prabu Maesasura dan melaporkan penolakan Batara Endra. Prabu Maesasura langsung naik darah mendengar laporan Patih Lembusura.
"Patih, apa kamu tidak memaksa agar lamaranku diterima?" tanya Maesasura dengan wajah mendidih.
“Sudah Prabu, tetapi sia-sia. Batara Endra selalu berkelit. Malah dia mengatakan bahwa selamanya dia tidak akan pernah bisa menerima lamaran itu!" jawab Lembusura.
"Patih, apa kamu tidak mencoba untuk menekan Batara Endra agar dia mau menerima lamaranku?"
"Sudah, Prabu, tetapi percuma. Dia seakan-akan tidak bisa digertak."
“Baik! Kalau begitu, kita tidak perlu menggertak dia lagi! Langsung saja kita gempur Kaendran! Patih, kamu siapkan pasukan mulai dari sekarang! Kita jangan membuang-buang waktu."
"Siap, Prabu!"
Pagi-pagi buta ketika mentari belum menampakkan diri, Patih Lembusura telah mempersiapkan bala tentara lengkap dengan persenjataannya. Mereka digelar di alun-alun untuk apel siaga. Belum sempat Lembusura memberi petunjuk kepada bala tentaranya, tiba-tiba dia dikejutkan suara gemuruh dari langit. Dia langsung menoleh ke atas. Ternyata bala tentara Kaendran seperti awan hitam menyerbu bergelombang dengan dahsyatnya ke arah Gua Kiskenda.
Persiapan Lembusura menjadi berantakan. Dia setengah kalang kabut. Segera dia berlari menemui Prabu Maesasura dan memberitahukan padanya serangan mendadak itu.
"Benar-benar keterlaluan Batara Endra itu! Sakit hatiku belum hilang, dia malah datang menyerang! Patih, kita habisi pasukan Kaendran!" Kemarahan meluap dari mulut Maesasura.
“Siap, Prabu! Akan hamba tumpas bala tentara Kaendran dan barangkali Batara Endra bagian Prabu!"
"Ya, ya! Aku akan menghabisi Batara Endra biar Dewi Tara menjadi bagianku kelak!"
Di luar Gua Kiskenda genderang perang terdengar bergemuruh memekakkan telinga. Kedua belah pihak terdengar saling membentak, menghardik, dan memaki. Meskipun telah memasuki wilayah Gua Kiskenda, bala tentara Kaendran belum melancarkan serangan. Kedua belah kubu hanya berhadapan. Masing-masing sibuk mengatur dan memperkuat posisi sambil mengukur kekuatan lawan.
Para adipati andalan dari Gua Kiskenda adalah Wil Surakutung, Wil Surapragalba, Ditya Suramomongmurka, Ditya Surakunjara, dan Patih Lembusura. Dalam tempo sekejap mereka telah berhasil mengatur dan menyiagakan barisan. Batara Endra yang menyaksikan barisan di pihak musuh telah berada di posisi siaga, tidak mau kehilangan peluang. Dia segera memberikan aba-aba untuk menggempur barisan raksasa itu. Bala tentara Kaendran seperti air bah tumpah melanda pasukan Gua Kiskenda. Mereka dengan semangat menggelora menerjang para raksasa anak buah Prabu Maesasura. Akan tetapi, para raksasa itu tak mau dikalahkan begitu saja. Mereka melakukan perlawanan sengit. Pasukan Kaendran yang berhasil mereka tangkap, mereka empaskan ke udara hingga banyak di antara mereka yang mati dengan tubuh remuk tercerai-berai.
Para dewa yang berpihak pada pasukan Kaendran tak tinggal diam menyaksikan kekejian para raksasa Gua Kiskenda. Mereka segera turun tangan. Terjadilah pertempuran sengit antara para raksasa dan para dewa. Dengan pedang di tangan para raksasa itu mencoba membantai dewa-dewa yang terjun ke medan laga. Para raksasa itu lupa kalau dewa-dewa tak bisa mati. Akhirnya, senjata para raksasa sia-sia menyentuh para dewa. Tak satu pun dewa yang luka tergores oleh senjata lawan.
Para raksasa Gua Kiskenda satu per satu roboh bergelimpangan oleh terjangan para dewa. Akan tetapi, para raksasa itu seperti mata air yang tak henti-hentinya memancarkan air. Begitu ada raksasa yang tumbang, raksasa yang lain maju menggantikan. Para dewa mulai kewalahan, tetapi dewa-dewa tak mengenal rasa capai. Dewa-dewa tetap maju menerjang dengan gencar.
Bumi telah bersimbah darah. Sementara itu, langit mulai redup dan meninggalkan rona merah yang sayup. Matahari nyaris tenggelam di ufuk barat. Akan tetapi, pertempuran belum juga usai. Akhirnya, kedua belah pihak bersepakat akan melanjutkan peperangan keesokan hari.
Malam hari Batara Endra gelisah memikirkan bala tentaranya yang sebagian telah kocar-kacir oleh serangan para raksasa Gua Kiskenda. Dia mulai ragu, apakah dia akan memenangkan peperangan? Kalau gagal menumpas Maesasura. berarti dia memberi peluang pada Maesasura untuk menculik putri kesayangannya, Dewi Tara. "Aku harus melindungi Dewi Tara! Kalau perlu, akan kukorbankan diriku ini!” tekad Batara Endra.
Batara Endra segera menemui dewa-dewa yang berada di pihaknya untuk mengatur siasat bagaimana menumpas Maesasura dan para raksasa Gua Kiskenda.
"Dewa," tanya Batara Endra, "apa Dewa yakin kita mampu mengalahkan para raksasa Gua Kiskenda?"
"Harus yakin!" kata salah satu dewa mencoba memompakan semangat pada Batara Endra. "Bukankah sudah kamu lihat kami tidak bisa mati, kami tidak mempan oleh goresan senjata? Apa kamu belum yakin dengan semua itu?"
“Yakin! Akan tetapi, jumlah mereka teramat banyak! Waktu sehari dua hari rasanya tak akan cukup untuk menumpas mereka!"
“Ini perang besar! Perang besar tak akan pernah selesai dalam sehari dua hari! Mungkin bertahun-tahun! Perang besar memang memerlukan kesabaran dan keuletan. Tenang-tenang sajalah! Yang penting, Maesasura tak akan pernah bisa menculik Dewi Tara!"
"Ya, itu yang aku harapkan!" kata Batara Endra penuh semangat.
Sementara itu, tanpa terasa setelah beristirahat semalaman, subuh mulai merambati langit Gua Kiskenda. Warna biru sayup-sayup merayapi langit. Lama-kelamaan langit makin terang dan makin membiru. Bala tentara Kaendran dan Gua Kiskenda telah terbangun dari tidurnya. Masing-masing mulai menyiagakan diri.
Kali ini pihak Gua Kiskenda yang tak mau kehilangan peluang dalam perang. Mereka menyerang terlebih dahulu. Akan tetapi, para raksasa dari Gua Kiskenda itu seperti menyerahkan nyawa saja. Mereka mati berkaparan terpental oleh tangkisan para dewa. Akan tetapi, seperti yang terjadi sebelumnya, jumlah raksasa yang maju perang itu tak surut-surut. Satu mati, yang lain langsung muncul menggantikan yang mati.
Para raksasa itu menerjang seperti gelombang yang dahsyat. Akan tetapi, para raksasa yang maju menerjang itu langsung tewas oleh hantaman para dewa. Lama-kelamaan para raksasa itu terbasmi habis karena tiap ada yang mati tak ada lagi yang menggantikan. Yang hidup tinggal Maesasura, Jatasura, dan para adipati saja.
Maesasura murka bukan main menyaksikan bala tentaranya habis terbasmi. Dia yang semula tidak turun ke gelanggang—hanya menonton jalannya pertempuran—langsung menerjunkan diri ke medan laga bersama Jatasura. Para dewa pun kelabakan menghadapi Maesasura dan Jatasura. Maesasura dan Jatasura seperti sepasang nyawa yang saling melengkapi. Apabila Jatasura mati, Maesasura langsung mengamuk, dan Jatasura pun hidup kembali. Sebaliknya, apabila Maesasura mati, Jatasura pun langsung mengamuk, dan Maesasura hidup kembali. Akhirnya, Batara Endra kalah. Dia jatuh terjungkal dan disoraki para adipati raksasa yang masih hidup.
Walaupun telah jatuh terjungkal, Batara Endra belum menyerah. Dia memberikan isyarat pada para dewa untuk menyingkir dari medan laga. Kemudian, tanpa terduga oleh pihak lawan, Batara Endra tiba-tiba menyemburkan senjata pamungkasnya yang berupa api. Para raksasa Gua Kiskenda pun langsung mati dengan tubuh hangus terbakar. Hanya Maesasura dan Jatasura yang masih bertahan hidup.
![]() |
| "Batara Endra menyembur-nyemburkan api dari mulutnya, sementara Maesasura maju menerjang dengan gadanya." |
Begitu mengetahui yang hidup di pihak lawan tinggal Maesasura dan Jatasura, Batara Endra langsung memerintahkan para dewa untuk menghunjamkan segala jenis senjata ke arah mereka berdua. Akan tetapi, tak satu pun senjata yang mampu menggores, apalagi membunuh Maesasura dan Jatasura. Dengan gadanya Maesasura menerjang lawan-lawannya dengan ganas. Para dewa memberi tahu Batara Endra agar berhati-hati dengan gada Maesasura. Gada itu amat berbahaya dan mematikan.
Meskipun di pihak Gua Kiskenda yang hidup tinggal Maesasura dan Jatasura, pertempuran tetap berjalan alot dan berkepanjangan. Para dewa pun merasa jenuh karena tak kunjung bisa menghabisi Maesasura dan Jatasura. Akhirnya, dewa-dewa itu mengusulkan gencatan senjata, dan menunda peperangan untuk sementara waktu. Usul para dewa ternyata disetujui Maesasura. Tanpa membuang waktu dewa-dewa itu segera kembali ke kahyangan untuk beristirahat. Maesasura dan Jatasura yang merasa kelelahan dan mengantuk juga langsung masuk ke Gua Kiskenda untuk tidur.
Tengah malam Maesasura dan Jatasura terbangun. Keduanya berpandangan. Rasa pedih terpancar dari mata kedua raksasa itu.
"Benar-benar keparat Batara Endra! Bala tentara kita tak disisakannya satu pun!" kata Maesasura memaki-maki.
"Biar saja," kata Jatasura, "dalam perang lanjutan nanti giliran Batara Endra yang bakal mati! Dan Paduka akan mendapatkan Dewi Tara!"
"Kamu yakin itu?"
"Yakin! 'Kan dia dibantu para dewa! Dewa-dewa tak tahu malu itu sekarang lagi mimpi di kahyangan."
"Jadi, maksudmu, sekarang juga kita habisi Batara Endra selagi para dewa sedang asyik mimpi di kahyangan?"
"Ya! Kita jangan membuang-buang kesempatan!"
"Akan tetapi. tunggu dulu! Aku masih ingin berbaring barang setengah atau satu jam lagi. Otot-ototku masih kaku gara-gara Batara Endra keparat!"
Belum sempat Maesasura dan Jatasura mendahului menyerang Batara Endra, keduanya dikejutkan suara gemuruh di luar gua. Ternyata pasukan dewa telah datang menyerbu. Maesasura dan Jatasura segera keluar dari gua untuk menyongsong musuh.
Segala jenis senjata pun menyambut Maesasura dan Jatasura. Akan tetapi, keduanya tak terluka sedikit pun.
Peperangan antara Maesasura dan Jatasura melawan Batara Endra yang dibantu para dewa tetap berjalan alot. Peperangan berlangsung tujuh hari tujuh malam. Apabila malam istirahat, kemudian dilanjutkan keesokan paginya. Akan tetapi, tetap saja para dewa tidak mampu merobohkan kedua raksasa sakti itu. Batara Endra masygul hatinya dengan perang yang berlarut-larut itu. Pada malam ketujuh dia pun berunding dengan para dewa untuk mengatasi situasi yang pelik itu.
"Dewa, menurut Dewa, bagaimana caranya agar kedua raksasa itu cepat mati sehingga tidak membebani pikiranku?" tanya Batara Endra kepada dewa.
"Susah! Nyatanya sudah semua jurus dan segala jenis senjata kami kerahkan. Akan tetapi, dua raksasa gila itu tak juga mati,” kata dewa.
"Kita harus cari siasat!"
"Satu-satunya siasat, kita harus melakukan gencatan senjata. Selama masa gencatan senjata itu, kita mencari bantuan. Orang yang berhasil menumpas Maesasura dan Jatasura, kita hadiahi Dewi Tara sebagai istri," usul dewa.
“Lo! Kok Dewi Tara yang dijadikan sebagai hadiah?" kata Batara Endra terkaget-kaget.
"Ya! Kamu harus mengikhlaskan Dewi Tara diperistri orang yang berhasil menumpas Maesasura dan Jatasura."
“Alasannya?”
“Gampang saja! Kalau kamu kalah dalam perang ini. Maesasura akan menculik Dewi Tara. Kemudian, dia memaksa putri kesayanganmu itu untuk menjadi istrinya. Jadi, 'kan sudah selayaknya kalau orang yang berhasil melenyapkan Maesasura berhak memperistri Dewi Tara," kata dewa menjelaskan.
“Baik, kalau begitu! Sekarang kita umumkan gencatan senjata dengan dua raksasa siluman itu!"
Tanpa banyak mulut Maesasura dan Jatasura ternyata menerima usul gencatan senjata itu. Keduanya telah merasa teramat letih dengan perang yang berkepanjangan. Keduanya berpikir, siapa tahu dengan gencatan senjata itu mereka berdua akan mampu menghimpun tenaga untuk membantai lawan-lawan mereka yang tak kunjung mati.
Kedua belah pihak yang saling berperang itu bersepakat melakukan gencatan senjata. Itu berlaku empat puluh hari. Gencatan senjata itu tak dapat diperpanjang dengan alasan apa pun. Demikianlah kesepakatan antara Batara Endra dan Maesasura, yang dituliskan dengan darah masing-masing.
•••
4.
SUBALI DAN SUGRIWA
Subali dan Sugriwa adalah dua orang kakak beradik yang terkenal sakti tanpa tanding. Mereka berdua hidup di pertapaan dan jarang memperlihatkan diri di depan umum. Dua kakak beradik itu hidup dalam kesunyian. Keduanya senantiasa mengolah dan mengasah kesaktian. Mereka berdua selalu berupaya mendekatkan diri pada dewa-dewa. Mereka tak terpikat lagi pada nikmat duniawi. Segala nafsu duniawi, seperti makan dan tidur, tidak lagi memenjarakan raga mereka berdua. Subali dan Sugriwa sanggup tidak makan dan tidak tidur selama berhari-hari. Bahkan, mereka pernah tidak makan dan tidak tidur selama empat puluh hari empat puluh malam. Perempuan cantik pun bukan lagi godaan yang luar biasa buat dua kakak beradik itu.
Kabar kesaktian kakak beradik Subali dan Sugriwa itu terdengar juga oleh Batara Endra. Batara Endra mendengar bahwa dua kakak beradik putra Gotama itu telah mengalahkan Prabu Dasamuka dari Alengka. Padahal, Prabu Dasamuka merupakan manusia sakti yang luar biasa. Dia memiliki aji pancasona, yang membuatnya tidak akan pernah mati oleh penggalan dan tikaman senjata. Semua lawan-lawannya gentar berhadapan dengannya.
Walaupun Prabu Dasamuka terkenal sakti dan ditakuti lawan-lawannya, tetapi Subali dan Sugriwa berhasil menaklukkan Dasamuka dalam suatu pertempuran sengit. Dalam pertempuran itu Dasamuka bertahan dengan alot dan tak satu pun senjata yang mampu membungkam gerak perlawanan tubuhnya. Suatu saat kepala Dasamuka terkena panah. Dasamuka bukannya roboh terhunjam, malah bangkit menerjang dengan kepala banyak. Agaknya, kepala Dasamuka yang terhunjam panah melahirkan kepala-kepala lain, sekitar sepuluh jumlahnya. Hal itu selalu terjadi. Tiap kali kepala Dasamuka terkena panah, kepala yang terkena panah itu melahirkan kepala-kepala lain yang banyak jumlahnya. Dasamuka makin garang menerjang lawan-lawannya.
Subali dan Sugriwa tidak gentar menghadapi terjangan Dasamuka yang ganas dan membabi buta. Mereka berdua segera melepaskan panah bramastra yang dapat mengeluarkan api. Panah-panah bramastra yang dilepas Subali dan Sugriwa meluncur dan menyambar-nyambar kepala-kepala Dasamuka yang banyak jumlahnya itu. Kepala-kepala Dasamuka pun hangus terbakar. Dasamuka ketakutan karena kepalanya yang banyak itu hangus tersambar api. Dia segera melambung ke langit melarikan diri sehingga Dasamuka lolos dari kejaran api. Dengan kesaktiannya Dasamuka berusaha memadamkan panah-panah api itu dari langit. Akan tetapi, Subali dan Sugriwa tidak tinggal diam. Mereka berdua segera melepaskan panah-panah bramastra tiap kali panah-panah api itu dipadamkan Dasamuka. Panah-panah bramastra pun menyambar-nyambar seperti petir dengan bunyi yang bergemuruh. Nyali Dasamuka menciut menghadapi serangan panah-panah api bramastra itu. Dia terkatung-katung di langit dan tidak berani mendekat ke bumi karena takut dihajar panah-panah api bramastra. Subali dan Sugriwa yang menyaksikan Dasamuka seorang diri tidak berdaya di langit akhirnya merasa iba juga. Mereka berdua diam-diam meninggalkan kancah pertempuran untuk memberi kesempatan Dasamuka turun ke bumi.
Prabu Dasamuka yang menyaksikan kedua lawannya pergi menjauh segera turun ke bumi dan berteriak sesumbar, "Hai. Subali dan Sugriwa! Tunggu pembalasanku nanti! Pada saatnya nanti, datanglah kalian kemari dan aku akan memenggal kepala kalian berdua!"
Subali dan Sugriwa tidak banyak bicara menghadapi sesumbar Dasamuka. Mereka berdua kembali langsung melepas panah bramastra. Panah itu secepat kilat melejit akan menghajar tubuh Dasamuka. Dasamuka terkejut bukan main menghadapi serangan mendadak itu. Dengan sisa-sisa tenaganya—sebelum panah bramastra itu menghajar dan menghanguskan dirinya—ia segera melambungkan dirinya ke langit untuk menyelamatkan diri. Dasamuka kini benar-benar kalah. Dia tidak berani mengumbar sesumbarnya lagi dan membiarkan Subali dan Sugriwa pergi menjauh. "Daripada repot sendiri. biar saja mereka pergi!” katanya dalam hati.
Batara Endra telah mendengar ketangguhan Subali dan Sugriwa ketika menundukkan Prabu Dasamuka. "Siapa tahu Subali dan Sugriwa mampu menaklukkan Maesasura dan Jatasura,” pikir Batara Endra. "Yang penting. aku ikuti saja saran para dewa. Siapa pun yang mampu menundukkan Maesasura dan Jatasura akan aku hadiahi Dewi Tara sebagai istri. Ya, daripada Dewi Tara jatuh ke dalam pelukan Maesasura, lebih baik Dewi Tara aku serahkan kepada siapa saja yang melenyapkan Maesasura dari muka bumi ini!"
Tanpa banyak membuang waktu Batara Endra segera mencari Subali dan Sugriwa. Akan tetapi, ternyata mencari dua orang sakti itu bukan pekerjaan mudah. Subali dan Sugriwa sering berpindah-pindah tempat bertapa. Selain itu, tempat bertapa Subali dan Sugriwa senantiasa berada di tempat-tempat yang teramat rahasia. Tempatnya sulit dijangkau manusia biasa karena letaknya yang berada di pucuk gunung. Untuk sampai ke sana, seseorang harus menempuh perjalanan panjang yang melelahkan. Seseorang harus melewati jurang yang dalam, memanjat dan mendaki tebing yang curam, serta menyeberangi sungai yang deras arusnya. Belum lagi bahaya tersesat di hutan yang lebat, yang banyak dihuni binatang buas. Batara Endra berhati-hati dalam perjalanannya. Dia takut kalau-kalau ada harimau yang tiba-tiba datang menyergap atau ular yang mendadak datang membelit sambil menyemburkan bisanya.
Dengan bantuan para dewa akhirnya Batara Endra menemukan tempat pertapaan Subali dan Sugriwa. Dua kakak beradik itu terkaget-kaget menerima kedatangan Batara Endra yang tidak disangka-sangka.
"Prabu! Tumben Prabu datang kemari!" sapa Subali kepada Batara Endra.
“Subali dan Sugriwa! Maafkan kalau kedatanganku ini hanya mengganggu ketenangan kalian berdua," kata Batara Endra kepada Subali dan Sugriwa.
"Kalau boleh hamba tahu, apa yang mendorong Prabu datang kemari?" tanya Sugriwa penasaran.
“Kerajaanku sedang dalam keadaan genting! Kami sedang berperang melawan Maesasura dari Gua Kiskenda."
“Bagaimana mulanya sehingga Prabu sampai berperang melawan Maesasura?"
“Maesasura menginginkan putriku, Dewi Tara. Tentu saja aku tak sudi menyerahkan Dewi Tara pada Maesasura. Lalu, Maesasura mengancam akan menyerbu dan akan menculik Dewi Tara untuk diperistri. Sebelum Maesasura menyerbu Kaendran, aku lebih dulu menyerang Gua Kiskenda. Semua raksasa jahanam dari Gua Kiskenda telah kami tumpas. Tinggal Maesasura dan Jatasura yang masih hidup. Konyolnya dua raksasa bedebah itu tidak mati-mati juga meskipun para dewa telah membantu kami. Maesasura dan Jatasura seakan-akan memiliki nyawa cadangan. Apabila salah satu dari mereka mati, yang satu lagi bangkit menyerang dengan garang. Apabila yang hidup tiba-tiba mati karena serangan kami, yang tadinya mati mendadak hidup kembali dan menyerang dengan ganas. Begitulah seterusnya sehingga kami pusing dan kewalahan menghadapi dua raksasa siluman itu!"
"Jadi, Prabu datang kemari untuk meminta hamba memerangi Maesasura dan Jatasura?"
"Ya, tentu saja! Para dewa telah membantu kami, tetapi para dewa tetap saja tidak mampu menumpas Maesasura dan Jatasura. Padahal, berbagai senjata telah kami kerahkan untuk menghajar dua raksasa keparat itu, tetapi mereka tidak mati-mati juga! Nah, sekarang aku mohon dengan sangat kalian berdua bersedia membantu kami."
"Hamba berdua lebih suka seandainya ada pihak lain yang bersedia membantu Prabu. Hamba untuk sementara menarik diri dari pertumpahan darah yang tidak perlu," kata Subali perlahan.
"Tolonglah kami, Subali!” kata Batara Endra memohon. “Kami telah mencoba segala cara untuk menundukkan Maesasura dan Jatasura. Bahkan, kami telah meminta bantuan para dewa untuk menggempur dua raksasa bedebah itu. Akan tetapi. semuanya sia-sia! Sekarang, bantulah kami! Bantulah kami untuk mengalahkan dua raksasa yang telah banyak berbuat nista itu! Harapan kami hanya tinggal pada kalian berdua, Subali dan Sugriwa!"
Subali dan Sugriwa tampak termenung. Keduanya menimbang-nimbang semua perkataan Batara Endra.
"Oya," Batara Endra melanjutkan kata-katanya, "para dewa telah menyarankan padaku untuk menyerahkan putriku, Dewi Tara, kepada siapa pun yang berhasil mengalahkan Maesasura. Aku telah setuju! Aku rasa, lebih baik begitu daripada putri kesayanganku itu jatuh ke tangan Maesasura yang akan memperistrinya secara paksa."
Mata Subali dan Sugriwa berbinar-binar mendengar kata-kata Batara Endra terakhir. Dua kakak beradik itu untuk sesaat terhanyut dalam kecantikan Dewi Tara yang penuh pesona. Belum apa-apa keduanya seakan-akan terbius oleh tatapan mata Dewi Tara yang sejuk dan meneduhkan. Dalam benak dua kakak-beradik itu kecantikan Dewi Tara telah terbayangkan.
“Jadi, Prabu akan menyerahkan putri kesayangan Prabu, Dewi Tara, kepada siapa pun yang berhasil mengalahkan Maesasura?" tanya Subali bergairah.
"Tentu saja! Itu sudah aku putuskan!" kata Batara Endra.
"Kalau begitu, hamba akan mencoba melenyapkan Maesasura dari muka bumi ini!" kata Sugriwa tak kalah bergairahnya dengan kakaknya, Subali.
"Syukur, kalau begitu! Itu memang yang aku harapkan dari kalian berdua!" kata Batara Endra lega.
“Prabu, apa hamba boleh berangkat sekarang untuk menggempur Gua Kiskenda?"
“Jangan sekarang! Sekarang aku terikat gencatan senjata. Biarpun Maesasura bakal mampus, aku harus tetap menghormati perjanjian gencatan senjata antara aku dan dia."
“Jadi, kapan hamba harus menghabisi Maesasura dan Jatasura?”
"Sekitar sebulan lagi!"
•••
5.
ROBOHNYA MAESASURA
Hari telah jauh larut malam. Tak terdengar suara manusia. Berbagai kesibukan manusia di siang hari surut dalam pelukan malam. Di halaman istana Kaendran para prajurit pengawal kerajaan siaga berjaga dalam diam sambil melawan rasa kantuk dan dinginnya udara malam.
Sementara itu, di salah satu kamar di dalam istana Dewi Tara gelisah seorang diri. Matanya tak kunjung terpejam meskipun sesekali terdengar suara kokok ayam, pertanda hari telah mendekati subuh. Mata Dewi Tara nyalang menatap nyala lilin di sudut-sudut kamar.
"Jangan-jangan nasibku bakal serupa lilin," pikir Dewi Tara dalam hati. "Usia sebatang lilin tak sampai semalam habis termakan api. Jangan-jangan begitu pula peruntungan diriku. Kebahagiaanku bersama orang-orang yang kucintai dan yang mencintaiku hanya sesaat saja. Rasanya aku hanya akan menikmati sisa-sisa kebahagiaanku yang akan segera berakhir."
Lalu, melintas di hati Dewi Tara bayangan Maesasura yang menakutkan. Maesasura, sosok raksasa yang ingin menaklukkan dan merebut hatinya. "Tak mungkin itu!" jerit Dewi Tara dalam hati. "Aku tak akan mau!"
Dewi Tara resah dan gelisah di atas tempat tidurnya. Tubuhnya tak bisa diam dalam dekapan selimut. Dia bergerak ke sana kemari, berubah-ubah posisi, tetapi matanya tetap saja nyalang tak mau terpejam. Kemudian, dia turun dari tempat tidur dan mondar-mandir di kamar.
"Ayah yang telah dibantu para dewa tetap tak mampu mengalahkan Maesasura. Sekarang terjadilah gencatan senjata antara Ayah dan Maesasura. Pada siapa lagi Ayah meminta bantuan untuk mengalahkan Maesasura?" tanya Dewi Tara dalam hati. "Jangan-jangan semua langkah Ayah hanya sekadar menunda kekalahan! Lalu, bagaimana nasibku ini?"
Dewi Tara menangis terisak-isak, membayangkan dirinya telah terjatuh dalam pelukan Maesasura. "Kalau itu sampai terjadi, berarti cintaku akan mengalir di antara pasir dan batu tandus. Aku tak mau! Aku tak mau! Enyahlah Maesasura, raksasa jahanam!" Gadis manis itu menjerit dan meradang dalam hati.
Sementara itu, Batara Endra berada di perbatasan wilayah Kaendran dan Gua Kiskenda. Dia menyongsong detik-detik terakhir gencatan senjata antara dirinya dan Maesasura. Subali dan Sugriwa juga tak kalah gelisahnya saat itu. Mereka berdua telah membayangkan Dewi Tara sebagai hadiah apabila mereka berhasil mengalahkan Maesasura dan Jatasura.
Tepat pada saat yang telah disepakati Subali dan Sugriwa terbang secepat kilat dari pertapaan mereka menuju ke Gua Kiskenda. Kakak beradik itu tepat berhenti di depan Gua Kiskenda ketika fajar sedang merekah. Mereka mengamat-amati keadaan Gua Kiskenda.
"Tampaknya di dalam gua gelap sekali,” kata Sugriwa.
"Jangan-jangan raksasa konyol itu masih tertidur," kata Subali.
"Bagaimana kalau kita masuk saja?"
"Jangan! Kita belum tahu situasi di dalam sana! Kita bisa terjebak!"
"Lalu, bagaimana?"
"Bagaimana kalau kamu yang maju lebih dahulu menghadapi Maesasura? Aku akan menjauh."
Subali pun pergi menjauhi Gua Kiskenda, sementara Sugriwa berteriak keras-keras memancing Maesasura keluar dari guanya. Maesasura yang masih tertidur mendengar suara keras di luar gua. Tiba-tiba dia teringat bahwa gencatan senjata antara dirinya dan Batara Endra telah berakhir. "Jangan-jangan para dewa telah datang menyerang. Dasar dewa tak tahu peraturan! Orang masih tidur diajak perang! Dewa konyol!” umpat Maesasura.
Segera Maesasura keluar dari Gua Kiskenda diikuti Jatasura. Begitu sampai di luar gua, Maesasura terheran-heran. Di hadapannya berdiri seekor kera yang tinggi besar. Kera itu adalah Sugriwa. Dia mengaku sebagai sekutu Batara Endra. "Dasar monyet!" umpat Maesasura dalam hati. Yang mengirim monyet ini kemari pasti lebih monyet dari monyet! Siapa tahu Batara Endra sudah gila karena tak kunjung bisa menundukkanku, lalu dikirimkannya monyet ke sini."
Dengan mata masih menahan kantuk, Maesasura memaki-maki Sugriwa. “Hai, monyet keparat! Ini upahmu mengganggu orang tidur!" kata Maesasura sambil melemparkan gada ke arah Sugriwa. Sugriwa pun jatuh terlempar terlanda gada. Dia jatuh pingsan di hadapan kakaknya yang bersembunyi di balik semak-semak. Maesasura yang mengira lawannya telah mati langsung berbalik ke dalam gua dan melanjutkan tidurnya.
Di luar gua dengan penuh kesabaran Subali menunggui adiknya yang pingsan. Dia membasuh dan membersihkan muka adiknya dengan air yang sejuk. Lama-kelamaan Sugriwa siuman kembali.
"Apa kamu masih kuat melawan Maesasura?" tanya Subali pada adiknya.
"Rasanya tidak," kata Sugriwa.
"Kalau begitu, kamu tidak usah memaksakan diri. Kamu tunggu saja di luar gua. Aku akan masuk ke gua. Aku akan melihat keadaan di dalam. Kamu jangan ke mana-mana! Kamu tunggu saja aku di sini!" Begitu pesan Subali pada adiknya, Sugriwa.
Begitu sampai di mulut gua, Subali berpaling kepada adiknya dan berkata, “Di dalam gua ini ada kali yang mengalir ke luar. Kamu amat-amati warna air kali yang mengalir itu. Apabila air kali berwarna merah, itu berarti Maesasura yang mati. Segeralah kamu masuk ke gua. Sebaliknya, kalau air kali yang mengalir itu berwarna putih, itu berarti aku kalah dan mati. Oleh karena itu, jika air kali berwarna putih, cepat-cepatlah kamu berlari menyelamatkan diri!"
Sugriwa mengangguk mendengar pesan terakhir kakaknya sebelum berperang melawan Maesasura dan Jatasura. Subali pun cepat-cepat menyelinap masuk ke gua. Di dalam gua Subali tertegun-tegun keheranan menyaksikan keindahan gua yang ditata sedemikian rupa sehingga mirip dengan suasana Kaendran yang menawan. Dinding-dinding gua penuh ukiran dari tembaga yang menggambarkan bunga-bunga dan daun-daunan. Tiap sekian jengkal terdapat nyala obor yang menerangi keadaan dalam gua.
Di bawah temaram nyala obor Subali tiba-tiba menyaksikan Maesasura dan Jatasura yang sedang lelap tertidur. Subali dengan langkah cepat tanpa suara menghampiri kedua raksasa yang masih mendengkur itu. Dia tersenyum-senyum seorang diri mendengar suara dengkur Maesasura yang menggelegar. "Raksasa laknat ini pantasnya aku apakan?" timbang Subali dalam hati.
Sesaat kemudian Subali menendang tubuh Maesasura sehingga Maesasura jatuh terjungkal dari tempat tidurnya. Maesasura yang masih terkaget-kaget segera bangkit dan memandang Subali dengan beringas. Dalam hatinya Maesasura merasa keheranan menyaksikan Subali yang bertubuh kera dengan ekornya yang panjang, tetapi mengenakan pakaian, gelang, dan kalung sebagaimana layaknya manusia.
"Dasar monyet, kamu!" maki Maesasura kepada Subali.
"Biar monyet, yang penting kamu bakal mati!" kata Subali tak mau kalah.
Diam-diam Subali gentar juga berhadapan dengan Maesasura. "Para dewa saja, yang telah mengeroyoknya, tak mampu menumbangkan Maesasura. Apalagi aku seorang diri!” pikir Subali. Akan tetapi, Subali telah bertekad akan menaklukkan sang raksasa kali ini. Kesejukan dan kelembutan wajah Dewi Tara, yang akan dihadiahkan kepadanya sebagai istri apabila dia berhasil mengalahkan Maesasura, membayang-bayanginya siang malam.
Sementara itu, Maesasura yang merasa keduluan oleh tendangan Subali, tidak mau membuang-buang waktu. Dia segera menghantam Subali dengan gadanya. Secepat kilat Subali mengelakkan diri dari serangan Maesasura, dan Maesasura pun nyaris terpelanting karena serangannya mengenai tempat kosong. Subali yang melihat Maesasura terhuyung-huyung tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia melayangkan pukulan ke muka Maesasura. Namun, Jatasura ternyata tak tinggal diam menyaksikan Maesasura diserang lawannya. Dia langsung menubruk dan berusaha meringkus Subali. Akan tetapi, dengan cekatan Subali mampu berkelit. Dia berhasil meloloskan diri dari sergapan musuh.
Maesasura naik pitam melihat musuhnya berada di atas angin. "Hai, monyet, terimalah gadaku ini!" teriaknya. Subali dengan tangkas menyambut serangan Maesasura. Tangannya menyambar gada Maesasura yang dilemparkan ke arah dirinya, kemudian dengan kecepatan tinggi Subali menghantamkan gada itu ke tubuh Maesasura. Maesasura langsung terbanting rubuh dan tulang-tulangnya remuk. Dia mati terkapar di lantai gua.
Jatasura yang masih hidup tak memberi kesempatan pada Subali untuk bernapas. Dengan garang dia menerjang dan menggasak Subali. Akan tetapi, dengan tangkas Subali melayani serangan Jatasura. Diringkusnya tubuh Jatasura, kemudian dicekik dan dipelintirnya leher Jatasura hingga putus. Jatasura yang meregang nyawa diempaskannya ke lantai gua.
Begitu Jatasura mati terempas di lantai gua, mendadak Maesasura hidup kembali. Dia menyerang Subali dengan membabi buta. "Dasar siluman!” umpat Subali dalam hati. "Pantas saja para dewa kewalahan menghadapi dua raksasa laknat ini!" Dalam pergumulan sengit melawan Maesasura, Subali berhasil merobohkan Maesasura. Kemudian, dia menginjak-injak dada Maesasura hingga tulang-tulang dadanya remuk berpatahan. Maesasura tewas terkapar.
Belum sempat Subali bernapas lega, mendadak Jatasura hidup kembali dan langsung menerjang dengan garang. Meskipun masih mampu melayani serangan Jatasura, Subali merasa makin kewalahan. "Akhirnya aku akan senasib dengan para dewa kalau dua raksasa laknat ini selalu bergantian hidup mati dan selalu bergantian menyerang. Tenagaku bisa habis terkuras. Aku harus mencari akal agar keduanya benar-benar mati dan tidak hidup-hidup lagi," pikir Subali dalam hati.
Subali kemudian mendapatkan akal. Dia tidak akan menyerang Jatasura sampai mati. Ketika kesempatan untuk membalas serangan Jatasura itu muncul, Subali tidak menggunakan kesempatan itu sepenuhnya. Dia hanya membuat Jatasura sekarat. Dia ingin Jatasura tidak berdaya. "Siapa tahu apabila salah satu sekarat, yang satu lagi juga akan hidup kembali dari matinya. Kemudian, dia bangkit menyerang?" duga Subali dalam hatinya.
Dugaan Subali ternyata benar. Begitu Jatasura jatuh sekarat, Maesasura menggeliat bangkit dan menyerang dengan ganas. Subali tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Secepat kilat dibekuknya leher Maesasura dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menyambar leher Jatasura yang masih sekarat. Lalu, dengan sepenuh tenaganya dibenturkannya kepala Maesasura dengan kepala Jatasura sambil berteriak, "Mati kalian kali ini!" Terdengar suara yang dahsyat mirip-mirip bunyi petir menyambar. Kepala kedua raksasa itu pecah berantakan. Otak berlelehan mengalir dari dua kepala raksasa yang pecah itu.
![]() |
| Dengan tangan kanannya Subali membekuk leher Maesasura dan tangan kirinya menyambar leher Jatasura yang masih sekarat. |
Dua raksasa yang telah pecah kepalanya itu tidak bangkit-bangkit lagi seperti semula. Subali merasa girang bukan kepalang karena berhasil merobohkan Maesasura dan Jatasura, dua raksasa yang ditakuti banyak orang dan para dewa pun kewalahan menghadapi mereka. Wajah Dewi Tara semakin membayang-bayang di mata hati Subali. "Suatu saat nanti Dewi Tara akan menjadi istriku,” kata hati kecilnya.
Di dalam gua seorang diri lama-kelamaan Subali merasa gelisah. Dia menunggu adiknya, Sugriwa, yang tak kunjung datang. Padahal, tadi telah dipesankannya pada adiknya itu untuk segera masuk ke gua bila air kali yang mengalir dari gua itu berwarna merah. "Jangan-jangan adikku itu tertidur atau mungkin jatuh pingsan lagi. Bisa jadi, dia berkeliling ke mana dulu dan belum kembali kemari." pikir Subali.
Sugriwa sesungguhnya tidak ke mana-mana. Sesuai dengan pesan kakaknya, dia mengamat-amati warna air kali yang mengalir dari Gua Kiskenda. Ternyata warna air kali merah dan putih sehingga Sugriwa menyimpulkan bahwa baik Maesasura dan Jatasura maupun kakaknya telah mati di dalam gua. Lalu, Sugriwa mengambil sebuah batu gunung yang besar dan menyumbatkannya ke mulut gua.
"Siapa tahu kesaktian Maesasura dan Jatasura seimbang dengan kesaktian kakakku sehingga akhirnya mereka mati semua. Tak ada satu pun yang menang, semua kalah," pikir Sugriwa.
Sugriwa akhirnya bergegas ke Kaendran untuk melaporkan kepada Batara Endra mengenai kematian Maesasura dan Jatasura, dan juga kematian Subali, kakaknya.
"Prabu, dua raksasa laknat itu telah mati terbunuh! Akan tetapi, kakak hamba, Subali, juga mati terbunuh!" kata Sugriwa pada Batara Endra dengan nada sedih.
Batara Endra tertegun mendengar laporan Sugriwa, "Jadi, Subali, kakakmu itu juga mati terbunuh?"
"Ya, Prabu."
"Bagaimana mungkin kedua belah pihak terbunuh semua? Coba kamu katakan bagaimana peristiwanya!"
“Begitu sampai di Gua Kiskenda, hamba yang pertama kali menghadapi Maesasura. Dia menghajar hamba dengan gadanya dan hamba langsung pingsan. Setelah hamba siuman, Subali masuk ke Gua Kiskenda. Sebelum masuk ke gua, dia berpesan kepada hamba. Katanya, kalau air kali yang mengalir dari dalam gua berwarna putih berarti yang mati Subali. Sebaliknya, kalau air kali berwarna merah berarti yang mati Maesasura. Ternyata air kali berwarna merah dan putih. Jadi, Maesasura dan Subali sama-sama mati."
Batara Endra mengangguk-angguk paham. Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian berkata, "Aku merasa bahagia karena Maesasura dan Jatasura telah mati tertumpas. Dengan begitu, putriku—Dewi Tara—terlepas dari ancaman Maesasura yang akan menculik dan memperistrinya secara paksa. Akan tetapi, aku juga merasa sedih karena kakakmu terpaksa menjadi tumbal untuk kematian dua raksasa laknat itu."
Sugriwa hanya terdiam mendengar kata-kata Batara Endra. Dia teringat peristiwa di Gua Kiskenda. Dia lolos dari maut yang akan menyergapnya, sementara Subali, kakaknya, harus membayar kematian Maesasura dan Jatasura dengan kematiannya pula.
"Sugriwa." kata Batara Endra perlahan, “sesungguhnya Subali yang berhak akan janjiku dulu. Aku telah berjanji kepada kalian berdua untuk menyerahkan putriku sebagai istri apabila sanggup melenyapkan Maesasura. Ternyata Subali juga mati terbunuh. Akan tetapi, aku tak akan ingkar janji. Oleh karena itu, sekarang kamu yang berhak untuk memperistri Dewi Tara. Mudah-mudahan kamu tidak menyia-nyiakan putri kesayanganku itu."
Mata Sugriwa berbinar-binar mendengar kata-kata Batara Endra. Dia merasa amat berbahagia. Katanya, "Terima kasih, Prabu! Hamba tak akan menyia-nyiakan Dewi Tara. Hamba akan selalu menyayanginya!”
Sementara itu, Subali makin gelisah di dalam Gua Kiskenda. Dia mondar-mandir di sekitar mayat Maesasura dan Jatasura sambil memikirkan adiknya yang tak kunjung datang. Karena semakin dirongrong kegelisahan memikirkan adiknya yang tak muncul-muncul juga, akhirnya lahir prasangka di hati Subali, "Aku yang mempertaruhkan nyawa untuk menghabisi Maesasura dan Jatasura! Jangan-jangan adikku itu hanya ingin memetik hasilnya, mendapatkan Dewi Tara sebagai istri, sebagai imbalan terbunuhnya Maesasura dan Jatasura. Siapa tahu, begitu melihat air kali berwarna merah dia langsung pergi menemui Batara Endra di Kaendran. Akan tetapi, apa mungkin dia setega itu?”
•••
6.
PERANG TANDING SUBALI DENGAN SUGRIWA
Pesta perkawinan Dewi Tara dengan Sugriwa berlangsung meriah selama tiga hari tiga malam. Segala macam hidangan lezat tak henti-hentinya dihidangkan siang dan malam. Rakyat bersukacita atas perkawinan Dewi Tara dengan Sugriwa. Rakyat juga mensyukuri kematian Maesasura dan Jatasura.
Sugriwa merasa amat berbahagia. Dia merasa inilah puncak hidupnya yang paling indah dan membahagiakan. Ke mana pun pergi, dia senantiasa diiringi para bidadari yang selalu siap sedia melayani segala keperluannya. Para pengawal kerajaan dengan setia juga selalu menjaga keselamatannya siang malam.
Begitu pesta perkawinan usai, Sugriwa dan Dewi Tara pergi berbulan madu ke Taman Kahyangan. Taman itu dipenuhi bunga-bunga dan hamparan rumputnya bak hamparan permadani. Di Taman Kahyangan itu dua insan yang sedang kasmaran itu sama sekali tak merasakan segala kerumitan hidup. Persoalan hidup yang pelik-pelik seakan-akan menyingkir dan menjauh. Seandainya ada, persoalan itu akan terlupakan atau ditinggalkan begitu saja. Yang menghampar di depan mata batin Sugriwa dan Dewi Tara hanya keindahan dan kenikmatan. Mereka berdua merasa hidup dalam genangan madu yang melimpah-limpah.
"Kekasihku," bisik Sugriwa sambil membelai rambut Dewi Tara, “keindahan hidup bersamamu tak pernah terbayangkan. Tak pernah terbayangkan aku akan mendapatkan istri secantik dan seanggun dirimu."
"Sungguh?" tanya Dewi Tara sambil mencubit Sugriwa.
"Sungguh!"
"Akan tetapi, aku 'kan hanya barang hadiah. Aku dihadiahkan kepadamu karena Maesasura telah mati terbunuh."
“Jangan berkata begitu! Biarpun hadiah, tetapi tidak begitu saja jatuh dari langit! Subali dan diriku mempertaruhkan hadiah itu dengan nyawa. Aku nyaris mati ketika mencoba menghadapi Maesasura. Ternyata Subali yang harus mati untuk mengakhiri sepak terjang Maesasura yang berniat menculik dirimu. Jadi. untuk mendapatkan dirimu nyawalah taruhannya dan tebusannya. Bahkan, nyawa Subali telah melayang. Karena itu, aku akan selalu setia padamu.”
"Aku tidak perlu kata-kata. Aku tidak perlu janji. Aku hanya mengharapkan kesungguhan hatimu dalam mencintaiku."
Sugriwa mengecup kening Dewi Tara seraya berkata, "Ini hatiku yang berbicara padamu!" Dewi Tara pun tersenyum bahagia. Getaran sayang merambati urat-uratnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Matanya bersinar-sinar memancarkan madu yang mengalir hangat dalam darahnya.
Sementara itu, waktu terus bergulir di Gua Kiskenda. Subali yang semula hanya mondar-mandir dan duduk termenung makin kehilangan kesabarannya. Dia mencoba menelusuri jauh ke dalam Gua Kiskenda, tetapi dia tidak menemukan pintu keluar. Lalu, dia berbalik ke arah mulut gua. Ternyata mulut gua telah disumbat dengan batu gunung yang besar.
"Ini pasti ulah Sugriwa!" kata Subali seorang diri. "Diam-diam rupanya adikku punya rencana busuk!"
Dengan kemarahan yang meluap-luap akhirnya Subali menendang dinding gua. Terdengar suara gemuruh dan robohlah dinding gua itu. Subali pun segera keluar meninggalkan Gua Kiskenda. Dia langsung terbang ke Kaendran untuk menemui Batara Endra.
"Prabu! Maesasura dan Jatasura telah mati hamba bunuh!" kata Subali kepada Batara Endra seraya menyerahkan tanduk dan taring Maesasura sebagai bukti kematian Maesasura.
Batara Endra amat terkejut melihat Subali di hadapannya. "Jangan-jangan Subali telah merebut jimat Maesasura sehingga dia mampu hidup kembali dari matinya," pikir Batara Endra dalam hati kecilnya.
“Lo! Kata Sugriwa, kamu sudah mati terbunuh! Sekarang tiba-tiba kamu muncul di hadapanku. Apa kamu pinjam jimat Maesasura sehingga kamu mirip Maesasura, bisa hidup lagi setelah mati?" kata Batara Endra penasaran.
"Siapa yang mengatakan hamba mati?" tanya Subali.
"Adikmu sendiri yang berkata!"
"Ke mana Sugriwa sekarang?"
"Di Taman Kahyangan."
"Sendiri?"
"Dengan Dewi Tara."
"Hah!" seru Subali terkejut.
Wajah Batara Endra menampakkan penyesalan. Dia tidak menyangka akan menghadapi persoalan seperti ini. Dia pikir, Subali benar-benar mati sebagaimana dikatakan Sugriwa.
"Subali, maafkan aku yang ceroboh ini!" kata Batara Endra kepada Subali. "Kalau aku tahu kamu masih hidup, tentu aku akan menyerahkan Dewi Tara kepadamu."
"Prabu tidak perlu menyesali kejadian ini. Ini bukan salah Prabu! Ini dosa adik hamba yang laknat! Yang tega mengkhianati kakaknya yang telah menyelamatkan nyawanya ketika menghadapi Maesasura. Bahkan, hamba pula yang mempertaruhkan nyawa untuk menghabisi Maesasura! Akan tetapi, adik hamba yang merebut imbalan dan janji Prabu! Hamba akan melumatnya biar dunia ini bersih dari manusia-manusia laknat!" kata Subali dengan mata berapi-api.
Batara Endra tertegun mendengar kata-kata Subali yang terbalut amarah. Akan tetapi, dia tidak berupaya mencegah niat Subali. Dia khawatir, langkahnya hanya akan menambah kekhilafannya pada Subali. Dia telah khilaf karena menyangka Subali mati terbunuh gara-gara laporan Sugriwa. Kini dia tidak mau mencampuri tindakan apa yang akan diambil Subali terhadap Sugriwa. "Itu urusan mereka. Aku tak perlu tahu," pikir Batara Endra.
"Terserah kamu, apa yang akan kamu lakukan terhadap Sugriwa, adikmu itu!" kata Batara Endra kepada Subali. "Akan tetapi, kamu perlu berkepala dingin! Siapa tahu adikmu benar-benar tak tahu kalau kamu masih hidup!"
“Tak tahu apa? Bukankah dia sudah hamba pesan berkali-kali bahwa kalau air kali yang mengalir berwarna putih, itu berarti yang mati hamba. Kalau air kali berwarna merah, itu berarti yang mati Maesasura."
"Akan tetapi, kata adikmu, air kali ketika itu berwarna merah dan putih."
"Ah, itu mengada-ada! Prabu, sekarang hamba akan menyusul Sugriwa!"
"Silakan."
Tanpa menoleh lagi Subali langsung terbang ke Taman Kahyangan. Hatinya mendidih mendengar kabar dari Batara Endra bahwa Sugriwa tengah berbulan madu bersama Dewi Tara di Taman Kahyangan. "Seorang pengkhianat harus memperoleh ganjaran yang setimpal!” tekadnya.
Begitu tiba di Taman Kahyangan Subali mendapatkan Taman Kahyangan berada dalam penjagaan ketat. Subali lupa bahwa sekarang Sugriwa adalah menantu raja yang ke mana-mana selalu dikawal. Namun, Subali tidak gentar sedikit pun. Dia menerobos masuk Taman Kahyangan setelah merobohkan beberapa orang pengawal. Akan tetapi, di pelataran Taman Kahyangan seekor gajah putih langsung menerjangnya. Subali terpental. Dia berusaha bangkit, tetapi gajah putih itu segera menyerang Subali dengan gadingnya. Subali dengan kesaktiannya mampu mengelakkan diri dari serangan gading gajah. Akan tetapi, gajah putih itu terus memburu Subali, kemudian menyedot Subali dengan belalainya dan mencampakkannya. Bumi bergemuruh dan terasa seperti gempa karena pertarungan Subali melawan gajah putih itu.
Tanpa pertolongan para dewa Subali telah mati diinjak-injak gajah putih yang mengamuk dengan kalap. Merasa diserang terus-menerus oleh sang gajah, akhirnya Subali mengamuk membabi buta dan mengeluarkan segala jurus kesaktiannya. Dalam tempo singkat gajah putih itu hancur terbanting oleh Subali dan tewas seketika.
Setelah sang gajah putih mati, Subali langsung berteriak menantang Sugriwa, "Hai, Sugriwa! Pengkhianat dan penipu, keluarlah! Ini Subali datang!"
Sugriwa terheran-heran bukan main menyaksikan kedatangan Subali, kakaknya. Dia benar-benar menyangka kakaknya telah mati di Gua Kiskenda bersama Maesasura dan Jatasura. Ternyata kini Subali datang dan menuduh dirinya penipu dan pengkhianat. Sugriwa tahu benar tabiat Subali apabila sedang marah. Dia senantiasa akan mengamuk dengan kalap mengumbar rasa amarahnya. Sugriwa diam-diam merasa gentar juga terhadap kakaknya yang sedang naik darah itu. Akan tetapi, dia merasa kalau tidak melayani tantangan Subali harga dirinya di depan Dewi Tara akan jatuh. Dewi Tara akan menganggapnya sebagai seorang laki-laki pengecut. Oleh karena itu, dia bulatkan tekad untuk menghadapi sang kakak, Subali.
"Siapa itu, Kak?" tanya Dewi Tara ketika mendengar Subali berteriak-teriak menantang.
"Subali, kakakku," kata Sugriwa menjelaskan.
"Tampaknya dia marah sekali padamu?"
"Jangan tanya macam-macam sekarang! Aku harus segera meladeni tantangannya!"
"Hati-hati, Kak!"
Sugriwa segera bergegas menemui Subali. "Ayo, kita buktikan siapa di antara kita yang penipu dan pengkhianat!" kata Sugriwa begitu berhadapan dengan Subali.
Darah Subali semakin mendidih. Tanpa berkata sepatah pun dicengkeramnya bahu Sugriwa, kemudian dicampakkannya. Sugriwa bangkit dan memberikan perlawanan sengit. Terjadi pergumulan seru di antara dua kakak beradik itu. Gapura Taman Kahyangan roboh tersambar tendangan Subali. Sementara itu, pohon-pohon di sekitar tempat pergumulan Subali dan Sugriwa bertumbangan terkena tendangan dan pukulan nyasar. Pohon-pohon yang tidak sampai tumbang pun bergetar hebat sehingga daun-daun dan bunga-bunganya berguguran. Taman Kahyangan yang semula indah dan tertata rapi berubah menjadi porak-poranda. Pohon-pohon yang bertumbangan melintang di mana-mana. Daun-daun dan bunga-bunga yang berguguran juga berserakan di mana-mana.
"Hai, Subali dan Sugriwa!” teriak seorang dewa yang menonton perkelahian dua kakak beradik itu. "Kalau berkelahi jangan di kahyangan, berkelahilah di luar kahyangan saja! Gara-gara kalian, kahyangan menjadi kotor dan rusak berantakan!"
Teriakan dewa tidak digubris Subali dan Sugriwa. Dua kakak beradik itu terus mengumbar keinginan untuk saling membinasakan. "Seorang penipu dan pengkhianat harus mati di tangan orang yang ditipu dan dikhianatinya!" teriak Subali.
"Coba saja kalau bisa!” teriak Sugriwa tak mau kalah.
Pergumulan antara dua kakak beradik itu makin seru dan menegangkan. Para bidadari yang menonton pergumulan itu menjerit-jerit ketakutan dan berlarian menjauh. Mereka khawatir terkena tendangan atau pukulan nyasar. Masing-masing berusaha menyelamatkan diri.
Batara Endra yang telah menerima laporan tentang terjadinya perkelahian sengit antara Subali dan Sugriwa segera menuju ke Taman Kahyangan. Dia merasa sedih menyaksikan Taman Kahyangan berantakan dan porak-poranda. Dia juga merasa sedih karena putri kesayangannya, Dewi Tara, telah menyulut api permusuhan di antara dua kakak beradik itu. “Mengapa putriku selalu menjadi incaran dan sasaran? Lepas dari ancaman penculikan Maesasura yang akan memperistrinya secara paksa, kini Dewi Tara diperebutkan dua kakak beradik yang melenyapkan Maesasura. Kapan putriku bisa hidup damai dan memancarkan kedamaian bagi semua orang?" keluh Batara Endra.
"Subali, Sugriwa!" teriak Batara Endra kepada dua kakak beradik yang sedang berkelahi itu. “Hentikan perkelahian! Kalau kalian masih juga ingin melanjutkan perkelahian, jangan porakporandakan Taman Kahyangan! Berkelahilah di luar Taman Kahyangan!"
Hati dua kakak beradik itu telah terbakar nafsu amarah. Sugriwa tidak mampu lagi mendengar perkataan mertuanya. Sementara itu, Subali pun tidak lagi menggubris permintaan calon mertuanya untuk menghentikan perkelahian. Para dewa yang menyaksikan tingkah Subali dan Sugriwa hanya bisa mengurut dada. Para dewa menyayangkan, mengapa Subali dan Sugriwa yang berhasil melenyapkan Maesasura kini terjerumus dalam nafsu angkara murka untuk membinasakan satu sama lain. Yang satu merasa ditipu dan dikhianati. Yang satu lagi juga tidak mau mengalah.
Batara Endra, yang merasa kata-katanya tidak lagi digubris oleh dua kakak beradik yang telah membantunya dalam merobohkan Maesasura, akhirnya bersikap masa bodoh. Diam-diam dia menyingkir dari Taman Kahyangan dan kembali ke Kaendran. "Daripada pusing-pusing di sini mengurus dua orang yang tidak lagi punya telinga!” kata Batara Endra dalam hati.
Di sudut taman yang tersembunyi, agak jauh dari tempat pergumulan Subali dengan Sugriwa, Dewi Tara menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya dan menangis tersendat-sendat. Hatinya remuk menyaksikan nasib suaminya, Sugriwa, berada di ujung tanduk. Dia melihat suaminya tidak bisa lagi mengimbangi gempuran Subali yang menggasak dengan kalap. Sugriwa makin lama makin terpojok.
"O, dewa!" keluh hati Dewi Tara. "Mengapa nasibku selalu tersudut, dari bahaya yang satu ke bahaya yang lain? Belum lama aku lepas dari Maesasura yang mengancam akan menculik dan memaksaku menjadi istrinya. Sekarang aku belum lama bersuamikan Sugriwa, Sugriwa telah bermain-main api di atas jurang maut. Kalau tidak berhati-hati, suamiku akan tergelincir ke dalam jurang maut itu, yang akan mengantarnya ke kematian. Aduh, dewa!”
Sementara itu, Sugriwa makin kewalahan berhadapan dengan Subali, kakaknya. Dia hanya sanggup bertahan dan tidak mampu lagi memberikan perlawanan yang berarti. Sugriwa yang telah terpojok itu akhirnya benar-benar tidak berkutik. Dia jatuh terjungkal tersambar pukulan Subali. Secepat kilat kaki kiri Subali langsung melayang, kemudian menginjak dengan kuat dada Sugriwa yang masih terebah di atas tanah. Sementara itu, kaki kanan Subali telah berancang-ancang untuk melumatkan muka Sugriwa.
"Inilah saat kematianmu, adikku pengkhianat! " teriak Subali kalap.
![]() |
| "Inilah saat kematianmu, adikku pengkhianat!" teriak Subali kalap. |
"Subali," kata Sugriwa datar, "aku tidak keberatan untuk mati saat ini juga! Apalagi yang akan membunuhku kakakku sendiri. Aku rela kehilangan segalanya, termasuk kehilangan Dewi Tara. Apalah artinya memiliki Dewi Tara apabila kamu menuduhku sebagai pengkhianat dan penipu! Subali, sebelum aku mati, berilah kesempatan padaku untuk menjelaskan semuanya.”
"Ayo, jelaskan semuanya sekarang!"
"Subali, begitu kamu masuk ke Gua Kiskenda untuk menghabisi Maesasura dan Jatasura, aku selalu mengamati warna air kali sebagaimana kamu pesankan padaku."
"Ayo, jelaskan semuanya sekarang!"
"Subali, begitu kamu masuk ke Gua Kiskenda untuk menghabisi Maesasura dan Jatasura, aku selalu mengamat-amati warna air kali sebagaimana kamu pesankan padaku. Waktu itu kamu mengatakan, kalau air kali berwarna putih, itu berarti yang mati kamu. Kalau air kali berwarna merah, itu berarti yang mati Maesasura dan Jatasura. Ternyata air kali beberapa saat kemudian berwarna merah dan putih. Aku bingung untuk sesaat ketika itu. Kemudian, aku menyimpulkan semuanya pasti mati, yaitu Maesasura, Jatasura, dan dirimu! Lalu, aku tutup mulut gua dengan batu gunung yang besar. Setelah itu, aku ke Kaendran untuk melaporkan kepada Batara Endra bahwa Maesasura telah mati terbunuh. Pada Batara Endra aku sama sekali tidak mengatakan bahwa akulah yang membunuh Maesasura! Jadi, bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa aku telah menipu Batara Endra dan mengkhianati dirimu?"
Sesaat setelah Sugriwa selesai memberikan penjelasannya, mata Subali berlinang-linang. Kemudian, dia langsung mendekap erat Sugriwa, adiknya, sambil meneteskan air matanya.
"Sugriwa, adikku," kata Subali terbata-bata, "maafkan aku! Maafkan kakakmu ini! Aku telah berburuk sangka padamu."
Sugriwa terdiam. Dengan mata berlinang dia menatap lembut Subali, kakaknya. Telah sirna bara amarah di matanya.
Di langit barat matahari pun perlahan-lahan membaringkan dirinya. Hari berangkat senja. Rembulan telah membayang di langit timur. Sesaat lagi kegarangan matahari akan bertukar dengan kelembutan dan keteduhan rembulan.
•••
7.
SUBALI DAN SUGRIWA MENGHADAP BATARA ENDRA
Di kahyangan para dewa telah kenyang dengan berbagai perang dan keonaran yang terjadi di bumi. Mereka tersenyum-senyum lega menyaksikan perkelahian antara Subali dan Sugriwa telah berakhir. Sebelumnya para dewa telah cemas dengan ulah Subali yang mata gelap. Dewa-dewa itu sadar jika Subali telah kalap para dewa akan kewalahan menghadapinya. Oleh karena itu, para dewa merasa bersyukur ketika pertikaian antara Subali dan Sugriwa akhirnya usai.
"Untuk sementara, dunia ini bebas dari kelaknatan dan keonaran," pikir salah seorang dewa. "Maesasura dan Jatasura adalah dua raksasa laknat yang selama ini malang melintang mengganggu manusia. Keduanya telah dilenyapkan oleh Subali. Akan tetapi, Subali seakan-akan kerasukan roh jahat sehingga tega akan menghabisi adiknya. Akhirnya, dia sadar akan ulahnya. Semoga kedamaian di dunia ini abadi!"
Sementara itu, Subali merasa penasaran mengapa air kali yang mengalir dari Gua Kiskenda berwarna merah dan putih. Dia ingin menanyakan soal itu kepada adiknya, tetapi dia ragu-ragu. Dia khawatir. kalau-kalau Sugriwa merasa keterangannya tidak dipercaya. Akhirnya, Subali lebih banyak berdiam diri. Akan tetapi, kebungkaman dan kecanggungan di antara dua kakak beradik itu—setelah keduanya nyaris berbunuhan—perlahan-lahan mencair.
"Subali, bagaimana kamu membunuh Maesasura dan Jatasura?” tanya Sugriwa.
"Ternyata membunuh dua raksasa itu bukan pekerjaan gampang," kata Subali. "Semula Maesasura telah mati, tetapi Jatasura langsung menyerang dengan garang. Kemudian, Jatasura mati. Maesasura yang telah mati itu mendadak hidup lagi dan menyerang dengan kalap. Selalu begitu berulang-ulang sehingga aku kewalahan. Akhirnya, dua kepala raksasa itu aku adu hingga pecah, hingga otak mereka keluar berceceran, dan tak mungkin hidup lagi."
Sugriwa diam termenung. Dia seperti memikirkan sesuatu. Tiba-tiba dia berkata, "Jangan-jangan, gara-gara dua otak raksasa itu pecah berceceran, air kali berwarna merah dan putih."
"Mengapa begitu?" tanya Subali ingin tahu seakan-akan rasa penasarannya yang terpendam mendapatkan jalan keluar.
"Bukankah otak berwarna putih dan darah berwarna merah? Karena menghanyutkan ceceran otak dan genangan darah, air kali berwarna merah dan putih."
Subali diam terpaku. Dia seperti terlempar ke masa silam. Tiba-uba Subali berseru, "Sekarang aku sadar! Aku sadar, aku belum apa-apa! Aku belum sempurna! Aku bukan dewa, yang bisa menentukan warna lambang kematianku! Aku terlalu takabur! Ketakaburanku nyaris mengantarmu ke kematian."
“Ya, ya!" Sugriwa menimpali. "Kita masih manusia! Bukan manusia sempurna, tetapi manusia monyet yang selalu berpaling pada nafsu."
“Sugriwa, aku sadar aku belum sempurna. Oleh karena itu, aku akan meningkatkan hidupku untuk mencapai kesempurnaan. Aku akan melanjutkan bertapa di Sunyapringga. Sebelum aku ke Sunyapringga, sebaiknya kita berdua menghadap Batara Endra untuk memohon ampun atas ulah kita di Taman Kahyangan."
Di Kaendran Batara Endra terkaget-kaget ketika Subali datang berkunjung bersama Sugriwa. Dia kira, salah satu dari dua kakak beradik itu bakal mati dalam pergumulan.
"Lo, bukankah kemarin kalian baru saja bergumul habis-habisan?” tanya Batara Endra.
"Ampun, Prabu!" kata Subali dan Sugriwa hampir berbarengan.
“Prabu,” kata Subali penuh penyesalan, "hamba berdua telah khilaf. Hamba berdua telah salah paham dan hanya mengikutkan nafsu amarah. Hamba berdua datang kemari untuk memohon ampun atas ulah hamba dan adik hamba yang telah memorakporandakan Taman Kahyangan. Semoga Prabu berkenan mengampuni hamba berdua!"
“Syukur kalau kalian sadar! Sekarang bagaimana nasib Dewi Tara, putriku?"
"Hamba telah menyerahkannya dengan tulus pada Sugriwa meskipun mungkin hamba lebih berhak atas Dewi Tara. Biarlah Dewi Tara hidup berbahagia bersama Sugriwa. Biarlah Sugriwa mencintai Dewi Tara sepenuh hati."
“Lalu, bagaimana dengan dirimu?"
"Hamba sadar bahwa hamba belum apa-apa. Hamba akan melanjutkan bertapa di Sunyapringga untuk menyempurnakan hidup hamba.”
"Bagaimana dengan Gua Kiskenda?"
"Hamba rasa lebih baik Gua Kiskenda untuk Dewi Tara dan Sugriwa saja. Bukankah hamba di Sunyapringga melanjutkan pertapaan?"
Beberapa saat kemudian Subali melanjutkan pertapaannya di Sunyapringga. Sugriwa dan Dewi Tara menempati Gua Kiskenda. Dewi Tara merasa amat berbahagia di Gua Kiskenda. Bagi Dewi Tara, Gua Kiskenda serupa dengan Taman Kahyangan, yaitu hening, sejuk, dan damai.
Mata Dewi Tara berlinang-linang merenungkan makna Gua Kiskenda bagi dirinya. Baginya, Gua Kiskenda adalah sebuah perjalanan panjang yang mempertemukan dirinya dengan Sugriwa. Bermula dari raksasa laknat, Maesasura, yang mengancam akan menculik dan memperistrinya secara paksa. Lalu, perjuangan berat dilaksanakan untuk melenyapkan sang raksasa laknat. Disusul dengan pergumulan antara Subali dan Sugriwa karena masing-masing merasa berhak atas dirinya. Kemudian, semuanya berakhir dengan penyerahan Gua Kiskenda dari Subali kepada Sugriwa, suaminya tercinta.
Serupa dengan Dewi Tara, mata Sugriwa pun berlinang mengenangkan Gua Kiskenda. Baginya, Gua Kiskenda adalah sebuah awal dan akhir yang senantiasa mempertautkannya dengan Dewi Tara, sang kekasih. Bermula dari perjuangannya membebaskan sang kekasih dari ancaman raksasa laknat. Disusul dirinya yang salah menafsirkan warna air kali sehingga harus berkelahi melawan Subali, kakaknya. Akan tetapi, semuanya berakhir pada ketulusan sang kakak. Subali menyerahkan Gua Kiskenda kepadanya dan merelakan Dewi Tara menjadi istrinya.
Malam merayap hening dan damai di Gua Kiskenda. Air kalinya mengalir jernih dan bening. Tak ada lagi warna merah darah. Tak ada lagi suara onar dan gemuruh perang. Tak ada lagi jerit ketakutan dan bayangan mencekam. Di Gua Kiskenda daun-daun dan bunga-bunga yang rontok mulai bersemi dan berkembang lagi.
•••





Komentar
Posting Komentar