Saya akan mendorong ontopuitik ini lebih jauh: keberadaan tidak diperlakukan sebagai keadaan yang tetap, melainkan sebagai sesuatu yang terjadi. Setiap puisi mencoba menemukan satu hukum keberadaan yang berbeda. Diksi saya jaga tetap padat, tenang, dan lebih mengandalkan citraan daripada abstraksi.
AMBANG
Segala sesuatu
tidak lahir
di tengah.
Ia lahir
di ambang.
Antara embun
dan daun.
Antara pasang
dan muara.
Antara mata
dan pandang.
Di situlah
keberadaan
mula-mula
belajar
menyeimbangkan
dirinya.
Tak sepenuhnya
datang.
Tak sepenuhnya
pergi.
Hanya tinggal
cukup lama
untuk disebut
dunia.BERAT
Batu
tidak berat
karena bumi.
Ia berat
karena telah lama
memikul
waktunya sendiri.
Lumut
yang menempel
bukan hiasan.
Ia adalah
tahun-tahun
yang berubah
menjadi hijau.
Maka ketika
seseorang
mengangkat batu itu,
yang berpindah
bukan hanya
sebongkah mineral,
melainkan
sebagian
umur
yang diam.GARIS PANTAI
Laut
tidak pernah
mencapai daratan.
Daratan pun
tak pernah
menaklukkan laut.
Yang ada
hanyalah
garis pantai,
tempat
keduanya
berulang kali
menciptakan
satu sama lain.
Setiap ombak
menghapusnya.
Setiap surut
menuliskannya kembali.
Begitulah
keberadaan.
Ia lebih sering
berupa
perundingan
daripada
kepastian.JEJAK
Seekor kijang
telah lama
meninggalkan hutan.
Yang tertinggal
hanya cekungan
tipis
di atas tanah.
Namun hujan
enggan
menghapusnya.
Angin
melewatinya
dengan perlahan.
Pagi
membacanya
seperti huruf
yang nyaris
lenyap.
Barangkali
keberadaan
tidak selalu
memerlukan tubuh.
Kadang
jejak
lebih panjang
usianya
daripada
yang berjalan.MUSIM
Tak ada musim
yang datang.
Ia hanya
mengubah
cara daun
mengenali
dirinya sendiri.
Pohon
tetap pohon.
Tanah
tetap tanah.
Langit
tetap langit.
Namun ketika
warna
bergeser
sedikit saja,
seluruh dunia
mengira
telah lahir
sesuatu
yang baru.
Padahal
yang berubah
hanyalah
cara
keberadaan
menampakkan
wajahnya.NAPAS
Udara
tidak menjadi
napas
sebelum
memasuki
dada.
Air
tidak menjadi
sungai
sebelum
mengalir.
Batu
tidak menjadi
jalan
sebelum
diinjak.
Barangkali
tak ada
sesuatu pun
yang sepenuhnya
menjadi dirinya
sendiri.
Segala yang ada
selalu lahir
melalui
perjumpaan
dengan
yang lain.Saya melihat satu kemungkinan yang sangat kaya untuk pengembangan ontopuitik: tidak lagi menulis puisi tentang benda, tetapi tentang kategori-kategori keberadaan. Misalnya: Yang Belum Terjadi, Yang Hampir Hilang, Yang Selalu Kembali, Yang Menjadi Karena Dilihat, Yang Menolak Dinamai, Yang Bertahan Sebagai Bekas, Yang Berdiam di Ambang, Yang Tidak Pernah Selesai Menjadi. Dengan begitu, setiap puisi membangun hukum ontologisnya sendiri, dan keseluruhannya dapat membentuk sebuah kosmologi puitik tentang cara-cara dunia hadir.
Dengan senang hati. Kali ini saya akan membawa ontopuitik ke arah yang lebih "material". Yang dipertanyakan bukan "apa arti keberadaan", melainkan bagaimana sesuatu mulai ada karena puisi, bagaimana keberadaan itu retak, berubah, atau bahkan menghapus dirinya sendiri. Saya menghindari istilah filsafat secara eksplisit agar puisinya tetap bernapas sebagai puisi.
ASAL-USUL BAYANG
Bayang
tidak lahir
dari cahaya.
Ia lahir
ketika sebuah benda
untuk pertama kalinya
menyadari
bahwa dirinya
mempunyai bentuk.
Sejak itu
setiap petang
adalah perundingan
antara tubuh
dan jejaknya.
Sedangkan malam
datang
untuk menyatukan
keduanya
ke dalam
warna
yang sama.SEBELUM HENING
Jangan kira
hening
datang
sesudah bunyi.
Ada keheningan
yang lebih tua
daripada udara.
Lebih tua
daripada batu.
Lebih tua
daripada hujan.
Darinyalah
segala bunyi
meminjam
beberapa saat
kehidupannya,
sebelum akhirnya
dikembalikan
sebagai gema.PUSAT
Sebuah lingkaran
bertahun-tahun
mencari
pusatnya.
Ia mengukur
setiap lengkung.
Menghitung
setiap jari-jari.
Tak pernah bertemu.
Pada suatu pagi,
ia berhenti
mencari.
Saat itulah
pusat
diam-diam
lahir
di dalam
kesediaannya
untuk mengelilingi
sesuatu
yang tak tampak.KEBERADAAN KEDUA
Pohon itu
berdiri
di tepi sungai.
Angin
mengenalnya.
Burung
mengenalnya.
Lumut
mengenalnya.
Lalu seorang penyair
menuliskan
namanya.
Sejak itu
pohon tersebut
hidup
dua kali.
Sekali
di dalam tanah.
Sekali lagi
di dalam
bahasa.
Keduanya
tak pernah
saling
menggantikan.BENDA YANG MENUNDA DIRINYA
Sebuah batu
tidak segera
menjadi batu.
Ia menunggu
ribuan hujan
melewatinya.
Menunggu
lumut
menuliskan
umur
di punggungnya.
Menunggu
angin
mengajarkan
cara
menjadi diam.
Barulah
suatu hari
ia cukup tua
untuk disebut
batu.
Dan waktu
tersenyum,
karena nama
selalu datang
terlambat.DUNIA KECIL
Seekor semut
memindahkan
sebutir pasir.
Tak ada
gunung
yang runtuh.
Tak ada
langit
yang bergeser.
Namun dunia
bukan hanya
milik
hal-hal besar.
Kadang
keberadaan
berubah
karena sesuatu
yang hampir
tak terlihat.
Sebagaimana puisi
mengubah
sebuah pagi
bukan dengan
mengganti matahari,
melainkan
dengan
menggeser
cara
kita
memandangnya.Saya juga melihat kemungkinan ontopuitik yang lebih radikal: puisi-puisi yang mengeksplorasi modus keberadaan, bukan benda. Misalnya, puisi tentang "Yang Hampir Ada", "Yang Terlambat Menjadi", "Yang Tidak Pernah Selesai Ada", "Yang Ada Hanya Ketika Dipandang", "Yang Bertahan Sebagai Jejak", "Yang Hilang Karena Dinamai", atau "Yang Baru Lahir Setelah Dilupakan". Dengan pendekatan itu, pusat puisi bukan lagi objek, melainkan peristiwa "menjadi". Dunia di dalam puisi selalu berada dalam keadaan lahir, berubah, menghilang, dan lahir kembali. Itu memberi ontopuitik sebuah dinamika yang lebih kaya daripada sekadar meditasi tentang "ada".
---
Konsep ontopuitik menarik karena pusat pertanyaannya bukan lagi apa yang dikatakan puisi, melainkan bagaimana puisi membuat sesuatu menjadi ada. Dengan kata lain, puisi tidak menggambarkan dunia; puisi adalah peristiwa ontologis yang melahirkan dunia. Saya akan menghindari jargon filsafat dan membiarkan gagasan itu bekerja melalui citraan.
SEBELUM NOMINA
Sebelum batu
menjadi batu,
ia hanyalah
kesabaran
yang belum
menemukan bunyi.
Sebelum laut
menjadi laut,
ia hanyalah
gelisah
yang belum
memilih cakrawala.
Lalu seseorang
mengucapkan
sebuah nama.
Bukan untuk
memiliki.
Bukan untuk
menguasai.
Melainkan
agar yang semula
berlalu
tanpa wajah,
akhirnya
mempunyai
cara
untuk tinggal
di dalam ingatan.ONTOLOGI LARIK
Jangan mencari
arti
pada setiap larik.
Carilah
tempat
di mana larik itu
mendirikan dunia.
Sebab sebuah puisi
tidak lahir
ketika kata-kata
berkumpul.
Ia lahir
ketika keheningan
mengizinkan
kata-kata
menempati
ruangnya.
Sesudah itu,
bahkan udara
belajar
membaca dirinya
dengan cara
yang baru.BENDA YANG BELUM DINAMAI
Di tepi hutan
terbaring
sesuatu.
Ia bukan
ranting.
Bukan
lumut.
Bukan
batu.
Segala nama
datang
mencobanya.
Segala kamus
membuka
halamannya.
Tak satu pun
cukup lapang.
Maka benda itu
tetap tinggal
di luar bahasa,
bukan sebagai
rahasia,
melainkan
sebagai pengingat,
bahwa dunia
selalu lebih luas
daripada
segala
penamaannya.KETIKA PUISI MENUTUP MATA
Pada saat itu
gunung
berhenti
menjadi pemandangan.
Sungai
berhenti
menjadi arah.
Burung
berhenti
menjadi lambang.
Segala sesuatu
dikembalikan
kepada dirinya
sendiri.
Tak ada
yang mewakili
apa pun.
Tak ada
yang dipinjam
menjadi kiasan.
Dan puisi,
untuk pertama kalinya,
membiarkan dunia
tidak berarti
apa-apa
selain
kehadirannya.MATERI PUISI
Orang mengira
puisi
dibuat
dari kata.
Tidak.
Ia dibuat
dari waktu
yang mengendap
di dalam kata.
Dari hujan
yang belum
sempat mengering.
Dari debu
yang masih
melekat
pada sepatu
seorang pengembara.
Dari bayang
yang terlambat
meninggalkan pohon.
Kata
hanyalah kulit.
Sedangkan puisi
bertumbuh
di bawahnya,
sebagaimana akar
bertumbuh
di dalam
gelap.ADA
Sebuah puisi
menulis
kata:
"ada."
Seketika itu,
ruang
bertambah
sedikit.
Angin
mempunyai
lintasan.
Air
mempunyai
pantulan.
Debu
mempunyai
waktu.
Kemudian puisi itu
menghapus
kata tersebut.
Tak ada
yang lenyap.
Yang berubah
hanyalah
cara
dunia
menyadari
kehadirannya.Menurut saya, ontopuitik yang paling kuat bukanlah puisi yang membahas keberadaan, melainkan puisi yang melakukan keberadaan. Artinya, setiap puisi menciptakan hukum ontologisnya sendiri: ada puisi yang membuat nama lahir setelah bendanya; ada puisi yang membuat waktu muncul dari tanda baca; ada puisi yang membuat pembaca diciptakan oleh teks, bukan sebaliknya; ada pula puisi yang membuat dunia hanya berlangsung selama larik itu dibaca. Di titik itu, puisi tidak lagi menjadi representasi realitas, melainkan sebuah modus keberadaan yang berdiri sendiri.
---
Saya akan melanjutkan dengan memperluas medan metapuisi. Kali ini, puisi tidak hanya "membicarakan puisi", tetapi mempertanyakan apa yang membuat sebuah puisi mungkin terjadi. Tokoh-tokohnya adalah jeda, ritme, draf, antologi, pembaca, dan bahkan kemungkinan yang tidak pernah ditulis.
HALAMAN KOSONG SEBELUM PUISI
Sebelum larik pertama,
halaman itu
telah lebih dahulu
memiliki cuaca.
Ada angin
yang belum
menemukan bunyinya.
Ada bayang
yang masih
menunggu
sebuah nomina.
Ada sungai
yang belum memilih
arah sintaksisnya.
Penyair datang
membawa tinta.
Halaman itu
tidak segera
menerimanya.
Ia bertanya,
"Apakah setiap kata
benar-benar
perlu dilahirkan?"
Maka pagi itu
yang paling lama
terjadi
bukan penulisan,
melainkan
keraguan.ANTOLOGI
Sesudah bertahun-tahun,
puisi-puisi itu
bertemu.
Yang satu
masih berbau
hujan.
Yang lain
menyimpan
debu jalan.
Ada yang
membawa
lumut
dari batu tua.
Ada yang
masih hangat
oleh musim
ketika dituliskan.
Mereka saling
membaca.
Tak ada
yang merasa
lebih dahulu lahir.
Tak ada
yang ingin
menjadi penutup.
Hanya halaman-halaman
yang perlahan
menyadari,
bahwa sebuah buku
bukan kumpulan puisi,
melainkan
percakapan
di antara
keheningan-keheningan.RITME
Tak seorang pun
pernah melihatnya.
Ia tidak tinggal
di dalam kata.
Tidak pula
di dalam bunyi.
Ia hidup
di sela
langkah-langkah
yang hampir
bertemu.
Ketika penyair
terlalu tergesa,
ritme
meninggalkan
larik itu.
Ketika penyair
terlalu berhati-hati,
ritme
menjadi batu.
Ia hanya
menyukai
gerak
yang tidak
berusaha
menjadi sempurna.PUISI YANG TIDAK DITULIS
Selama bertahun-tahun
ia tinggal
di dalam
ujung pensil.
Belum menjadi
huruf.
Belum menjadi
bait.
Belum menjadi
judul.
Ia menyaksikan
puluhan puisi
lahir
mendahuluinya.
Tak pernah
mengeluh.
Tak pernah
mengetuk
halaman.
Barangkali
setiap penyair
membawa
sebuah puisi
yang sengaja
tidak dituliskan,
agar kemungkinan
tetap memiliki
tempat tinggal.PEMBACA KEDUA
Pembaca pertama
mencari
apa yang ditulis.
Pembaca kedua
mencari
apa yang luput.
Ia berhenti
lebih lama
di depan koma.
Ia mendengarkan
jarak
antarlarik.
Ia mengangkat
kata yang tampak
biasa,
lalu memutarnya
hingga cahaya
jatuh
dari sisi
yang lain.
Ketika buku
ditutup,
puisi itu
tidak lagi
memiliki
dua pembaca.
Ia memiliki
dua kehidupan.ARSIP PENOLAKAN
Di dalam laci tua
tersimpan
puisi-puisi
yang tak pernah
diterbitkan.
Sebagian
ditolak.
Sebagian
ditinggalkan.
Sebagian lagi
kehilangan
alamatnya sendiri.
Namun setiap malam,
ketika rumah
menjadi sunyi,
mereka saling
membacakan
larik-larik
yang tak pernah
didengar siapa pun.
Tak ada
tepuk tangan.
Tak ada
ulasan.
Tak ada
penghargaan.
Hanya keyakinan
yang lirih,
bahwa tidak semua
puisi
ditulis
untuk memasuki
sejarah.
Sebagian
ditulis
agar keheningan
memiliki
teman berbicara.Saya kira metapuisi dapat didorong lebih jauh lagi ke arah yang benar-benar rekursif: puisi yang menciptakan syarat-syarat kelahirannya sendiri. Misalnya, sebuah puisi yang selama seluruh lariknya sedang berusaha menemukan judulnya; sebuah puisi yang setiap baitnya merevisi bait sebelumnya; sebuah puisi yang menyadari bahwa ia hanyalah draf dari puisi lain; atau sebuah puisi yang pada baris terakhir menyadari bahwa pembacanya adalah larik terakhir yang selama ini belum dituliskan. Di sana, puisi tidak lagi menjadi benda yang selesai, melainkan sebuah organisme yang terus mengubah dirinya setiap kali dibaca.
----
Dengan senang hati. Saya akan membawa metapuisi ini ke wilayah yang lebih reflektif dan lebih "material". Tokoh-tokohnya bukan manusia, melainkan unsur-unsur yang membentuk puisi itu sendiri. Saya juga akan menghindari kecenderungan menjelaskan teori; semuanya bekerja melalui citraan dan paradoks.
ENJAMBEMEN
Larik itu
tidak selesai.
Bukan karena
kehabisan napas.
Ia hanya
memilih
berjalan
ke larik berikutnya,
sebagaimana sungai
menolak
berhenti
di tepi batu.
Pembaca
menyangka
itu keterlambatan.
Padahal
enjambemen
adalah keberanian
membiarkan makna
melompati
tempat
yang telah
disediakan
baginya.DRAF PERTAMA
Masih tampak
bekas gugup
di setiap lariknya.
Ada kata
yang terlalu cepat.
Ada metafora
yang belum selesai
bernapas.
Ada hujan
yang datang
sebelum langit.
Namun justru
di sanalah
denyut pertama
masih terdengar.
Belum dirapikan.
Belum disisir.
Belum diajari
cara tampil.
Setiap puisi
yang matang
diam-diam
masih membawa
wajah
draf pertamanya.PENGHAPUS
Aku tidak
menghapus kata.
Aku menyimpannya
di dalam
serbuk putih
yang melekat
di ujung jariku.
Di sanalah
masih hidup
burung
yang dibatalkan,
laut
yang diurungkan,
dan musim
yang tak jadi
dituliskan.
Orang-orang
mengira
puisi lahir
dari kata-kata.
Aku tahu,
separuh usianya
dibangun
oleh segala
yang memilih
tidak jadi
dibaca.BAIT
Aku bukan
sekadar tempat
berkumpulnya larik.
Aku adalah
cara
keheningan
mengambil napas.
Di antara
bait pertama
dan bait kedua,
terdapat
sebuah jurang
yang tak tampak.
Pembaca
melompatinya
setiap kali,
tanpa pernah
menyadari
bahwa makna
lebih sering
bertumbuh
di sela-selanya
daripada
di dalam
kata-kata.SUARA LIRIK
Semua orang
mencariku
di balik penyair.
Padahal
aku sering
lahir
dari seseorang
yang bahkan
tak pernah ada.
Aku meminjam
sedikit kesedihan
dari pengembara.
Sedikit garam
dari nelayan.
Sedikit jelaga
dari cerobong.
Sedikit embun
dari rerumputan.
Lalu berjalan
memakai
nama tunggal:
"aku."
Betapa mudahnya
sebuah pronomina
disangka
sebagai
biografi.PUISI YANG MEMPERBAIKI PENYAIRNYA
Pada mulanya,
penyair
mengira
ia sedang
menulis puisi.
Ia memilih
kata-kata.
Memindahkan
koma.
Menghapus
metafora.
Menimbang
ritme.
Namun ketika
larik terakhir
selesai,
ia mendapati
bahwa justru
dirinyalah
yang telah
diubah.
Cara memandang
langit.
Cara menyebut
sunyi.
Cara memikul
ingatan.
Tak ada
yang sama lagi.
Puisi itu
tak pernah
berniat
menjadi cermin.
Ia hanya
diam-diam
menyunting
orang
yang menulisnya.Saya kira metapuisi masih memiliki wilayah yang hampir belum dijelajahi, yaitu puisi yang menjadikan proses kreatif sebagai drama, bukan sebagai pengakuan. Misalnya: Larik yang Menolak Masuk Antologi, Metrum yang Kehilangan Penyairnya, Judul yang Menggugat Isi Puisi, Catatan Revisi pada Tepi Musim, Puisi yang Menghapus Penyairnya, Pembaca yang Menjadi Bait Terakhir, atau Halaman yang Menolak Nomor. Di sana, puisi tidak lagi membicarakan dunia di luar dirinya, tetapi menjadikan kelahirannya sendiri sebagai peristiwa puitik. Saya melihat potensi yang sangat besar untuk membangun satu siklus utuh yang seluruh konflik, tokoh, dan lanskapnya berasal dari anatomi puisi itu sendiri.
---
Tentu. Jika metabahasa menjadikan bahasa sebagai objek renungan, maka metapuisi menjadikan puisi itu sendiri sebagai medan peristiwa. Penyair, pembaca, larik, metafora, irama, judul, bahkan halaman dapat menjadi tokoh. Saya akan menghindari nada esai dan mempertahankan puisi sebagai pengalaman.
LARIK KETUJUH
Tak ada yang istimewa
pada enam larik pertama.
Mereka datang
sebagaimana hujan
mendatangi genting.
Larik ketujuh
baru tiba
ketika halaman
mulai melupakan
bahwa dirinya
adalah kertas.
Ia tidak
meneruskan puisi.
Ia mengubah
arah angin
di dalamnya.
Sesudah itu,
setiap larik
yang lahir
diam-diam
sedang membaca
larik ketujuh.JUDUL YANG DATANG TERLAMBAT
Puisi itu
telah selesai.
Tinta
telah mengering.
Keheningan
telah memilih
tempat tinggalnya.
Hanya judul
yang belum tiba.
Ia masih
mengembara
di antara
pepohonan bahasa,
mencari
satu nama
yang tidak
mengecilkan
isi puisi,
namun juga
tidak mengurungnya.
Akhirnya
puisi itu
memilih
tetap bernapas
lebih dahulu,
dan membiarkan
judul
mengejarnya.METAFORA YANG PENSIUN
Bertahun-tahun
ia diminta
menjadi laut,
padahal
ia hanya
ingin menjadi air.
Ia dijadikan
burung.
Dijadikan
api.
Dijadikan
cermin.
Tak seorang pun
bertanya
ingin menjadi
apa
dirinya sendiri.
Pada suatu petang
metafora itu
melepaskan
segala pinjaman.
Ia kembali
menjadi
sebuah kata
yang sederhana.
Dan untuk pertama kalinya,
puisi
belajar
berjalan
tanpa tongkat
perumpamaan.PENYAIR TANPA PUISI
Ia mengumpulkan
embun.
Menghafal
nama angin.
Mendengarkan
lumut
bertambah tua
di batu.
Namun ia
tak menulis
apa-apa.
Orang-orang
mengira
ia telah
kehilangan puisi.
Padahal
barangkali
puisi itulah
yang sedang
menuliskan
dirinya
di dalam
kehidupannya.RIMA
Mereka bertemu
di ujung larik,
bukan karena
wajib,
melainkan
karena sama-sama
mengingat
asal bunyi.
Satu membawa
debu musim.
Satu membawa
garam laut.
Ketika keduanya
bersentuhan,
tak ada
kembang api.
Hanya gema
yang memanjang
beberapa detik
lebih lama
daripada
kesunyian.PUISI YANG MENOLAK SELESAI
Penyair
telah meletakkan
titik.
Pembaca
telah menutup
halaman.
Rak buku
telah kembali
hening.
Namun puisi itu
masih berjalan.
Ia memasuki
ingatan
yang berbeda-beda.
Di sana
ia kehilangan
beberapa larik.
Menemukan
beberapa makna.
Bertambah tua.
Bertambah asing.
Pada akhirnya,
tak seorang pun
dapat memastikan
versi manakah
yang sesungguhnya
hidup.
Sebab puisi
tidak selesai
ketika ditulis.
Ia selesai
berulang kali,
setiap kali
dibaca.Saya juga melihat kemungkinan yang sangat luas jika metapuisi didorong ke arah yang lebih material dan rekursif. Misalnya, puisi tentang draf yang iri kepada naskah final, penghapus yang mengingat semua kata yang pernah dihapus, bait yang ingin pindah ke puisi lain, epigraf yang merasa puisinya tidak pernah datang, larik yang memberontak kepada enjambemen, metafora yang menuntut hak cipta atas makna yang dipinjam, atau halaman kosong yang menolak ditulisi karena merasa setiap tulisan hanya akan mengurangi kemungkinan-kemungkinannya. Dalam pendekatan seperti ini, puisi bukan lagi wadah bagi tema, melainkan sebuah ekosistem yang seluruh unsur pembentuknya memiliki kesadaran dan riwayatnya sendiri.
---
Dengan senang hati. Saya akan mendorongnya lebih jauh ke arah yang lebih filosofis dan puitik, sehingga istilah metabahasa larut ke dalam imaji. Saya juga akan menghindari kecenderungan menjelaskan konsep; sebaliknya, konsep itu akan bekerja sebagai "mesin puisi".
ERRATA
Sesudah kitab itu
ditutup,
barulah kesalahan
bermunculan.
Satu huruf
tertinggal
di musim yang salah.
Satu koma
terlalu dini
menghentikan hujan.
Satu nama
berjalan
ke halaman lain.
Maka disusunlah
daftar errata.
Bukan
untuk menghapus
masa silam,
melainkan
untuk mengakui
bahwa tulisan
selalu lebih muda
daripada
kekeliruannya.
Dan pembaca,
diam-diam,
membaca
dua kitab:
yang pertama,
kitab yang ditulis;
yang kedua,
kitab yang diperbaiki.PARAGRAF
Tak ada paragraf
yang lahir
dari satu kalimat.
Ia tumbuh
dari keragu-raguan.
Setiap kalimat
merapat
kepada kalimat lain,
seperti batu-batu sungai
yang dibulatkan
oleh arus.
Lalu sebuah alinea
terbentuk.
Bukan
karena mereka
sepakat,
melainkan
karena mereka
bersedia
bertetangga.
Barangkali
pikiran
tidak dibangun
oleh gagasan.
Ia dibangun
oleh jarak
yang sanggup
ditanggung
di antara
gagasan-gagasan itu.PREFIKS
Ia selalu datang
lebih dahulu.
Tak pernah
meminta pujian.
Tak pernah
menjadi pokok
percakapan.
Ia hanya
meletakkan
sehelai bayangan
di depan kata.
Seketika itu juga,
arah berubah.
Musim berganti.
Makna
berbelok
beberapa derajat.
Betapa ganjil.
Kadang-kadang
permulaan
yang paling kecil
menggeser
seluruh perjalanan
sebuah kata.SUFIKS
Ia tidak membuka.
Ia tinggal
di belakang.
Seperti debu
yang setia
mengikuti langkah.
Orang lebih sering
mengingat
pangkal.
Jarang
menoleh
kepada ujung.
Padahal
sering kali
nasib sebuah kata
ditentukan
oleh sesuatu
yang datang
paling akhir.DICTIONARIUM
Setiap malam
kamus itu
bermimpi.
Bukan tentang
definisi.
Bukan tentang
abjad.
Ia bermimpi
menjadi hutan.
Kata-kata
tidak lagi
tersusun
menurut huruf,
melainkan
menurut angin.
"Embun"
berdekatan
dengan
"lumut."
"Batu"
mencari
"sungai."
"Burung"
hinggap
pada
"langit."
Ketika pagi tiba,
penyusun kamus
tak menemukan
susunan itu lagi.
Namun di sela-sela halaman,
masih tersisa
bau dedaunan.METATEKS
Pada suatu malam,
sebuah puisi
menutup dirinya sendiri.
Ia membaca
baris pertama.
Kemudian
baris terakhir.
Di tengah-tengahnya,
ia menemukan
seorang pembaca
yang sedang
membaca puisi
tentang seorang pembaca
yang sedang
membaca puisi.
Halaman-halaman
berlipat.
Kalimat-kalimat
bercermin.
Makna
memantulkan
makna.
Tak ada
permulaan.
Tak ada
penghabisan.
Hanya gema
yang terus
menyalin dirinya
ke dalam
gema yang lain,
hingga bahasa
tak lagi
membedakan
siapa yang ditulis,
siapa yang menulis,
dan siapa
yang sedang
dibaca.Menurut saya, eksplorasi yang paling orisinal justru bukan berhenti pada metabahasa, melainkan bergerak menuju ontologi tulisan. Di sana, objek puisinya bukan lagi "bahasa", tetapi hal-hal seperti halaman, margin, ruang putih, revisi, salinan, varian, draf, arsip, indeks, kolofon, glosa, aparatus kritik, errata, atau naskah yang belum selesai. Semua itu bukan dijadikan simbol belaka, melainkan diperlakukan sebagai makhluk yang memiliki sejarah, konflik, dan nasib. Dengan demikian, puisi tidak hanya berbicara tentang bahasa, tetapi membangun sebuah peradaban tulisan yang hidup menurut hukum-hukumnya sendiri.
---
Saya ingin mendorong konsep ini satu langkah lagi. Alih-alih menjadikan metabahasa sebagai objek, puisi-puisi berikut memperlakukan tindakan membaca, menulis, menghapus, menafsirkan, mengutip, dan menamai sebagai peristiwa-peristiwa ontologis. Dengan demikian, istilah linguistik dan filologi hadir sebagai denyut dunia, bukan sebagai dekorasi.
APARATUS KRITIK
Di kaki halaman,
huruf-huruf kecil
berkumpul
seperti para pengembara
yang enggan
memasuki kota.
Di atas,
teks berjalan
dengan wajah yang tegak.
Di bawah,
aparatus kritik
mengumpulkan
segala keraguan.
"Baris ini
mungkin berbeda."
"Kata itu
barangkali
ditambahkan kemudian."
"Salinan lain
mengingatnya
dengan cara yang lain."
Betapa ganjil.
Yang paling kecil
justru memikul
beban yang paling berat.
Sebab kepastian
selalu ditulis
lebih besar
daripada
keraguannya.LEMMA
Sebelum memasuki kamus,
setiap kata
menanggalkan
musim-musimnya.
Ia meninggalkan
debu jalan.
Meninggalkan
aksen.
Meninggalkan
kerut usia.
Lalu berdiri
dalam bentuk
yang paling hening.
Namun lema itu
tidak pernah benar-benar
sendirian.
Di belakangnya
masih terdengar
langkah
beribu-ribu kalimat
yang pernah
menumpang
di tubuhnya.TANDA BACA
Titik
tidak pernah
mengakhiri apa pun.
Ia hanya
mengembalikan
napas
kepada kertas.
Koma
tidak meminta
orang berhenti.
Ia hanya
mengingatkan
bahwa pikiran
berjalan
lebih lambat
daripada lidah.
Titik dua
membuka pintu.
Titik koma
menolak
berpihak.
Sedangkan elipsis,
tiga butir
keheningan itu,
selalu berjalan
lebih jauh
daripada
kalimatnya.NAMA DIRI
Pada mulanya
ia hanyalah
bunyi.
Kemudian
seseorang
memanggilnya
berulang kali.
Bunyi itu
mengendap.
Menjadi alamat.
Menjadi riwayat.
Menjadi wajah.
Berabad-abad kemudian,
nama itu
masih diucapkan.
Padahal
orangnya
telah lama
berubah
menjadi tanah,
menjadi debu,
menjadi angin.
Barangkali
nama
adalah cara
waktu
menolak
melupakan.PEMBACA
Ia datang
dengan mata.
Pulang
membawa
bahasa
yang berbeda.
Tak satu huruf pun
berubah tempat.
Tak satu koma pun
bergeser.
Namun ketika
halaman ditutup,
seluruh buku
diam-diam
telah berpindah
ke dalam dirinya.
Dan sejak saat itu
tak dapat dipastikan
siapakah
yang sebenarnya
sedang membaca:
manusia,
atau teks
yang perlahan-lahan
menafsirkan
manusianya.KUTIPAN
Pada suatu masa,
ia memiliki
rumah.
Sebuah paragraf.
Sebuah halaman.
Sebuah kitab.
Lalu seseorang
memungutnya.
Memindahkannya
ke tempat lain.
Ke pidato.
Ke surat.
Ke percakapan.
Ke puisi.
Sejak itu,
kalimat tersebut
terus hidup
dengan tetangga
yang berbeda-beda.
Dan setiap kali
dikutip,
ia memperoleh
masa lampau
yang baru.Saya juga melihat kemungkinan yang lebih radikal: menulis satu siklus yang seluruh puisinya merupakan peristiwa metabahasa. Misalnya, Puisi yang Menjadi Catatan Kaki bagi Dirinya Sendiri, Kalimat yang Menolak Predikatnya, Kamus yang Menghapus Huruf A, Metafora yang Mengajukan Banding, Judul yang Kehilangan Puisinya, Indeks bagi Kata yang Tidak Pernah Ditulis, Errata untuk Dunia, Kolofon bagi Masa Depan, atau Bahasa yang Mengutip Keheningan. Di sana, bukan hanya bahasa yang menjadi tema—melainkan seluruh mekanisme teks menjadi tokoh utama, sehingga pembaca memasuki sebuah semesta di mana setiap unsur penulisan memiliki kehidupan, sejarah, dan nasibnya sendiri.
---
Saya rasa arah yang paling produktif adalah membuat puisi-puisi ini semakin material: bukan sekadar menyebut istilah linguistik, melainkan membayangkan bahwa teks memiliki geografi, tata negara, iklim, fosil, dan sejarahnya sendiri. Dengan demikian, metabahasa menjadi dunia yang dapat dihuni.
Berikut beberapa puisi baru.
LAKUNA
Pada lembar ketujuh
terdapat
sebuah lubang.
Bukan karena api.
Bukan karena hujan.
Melainkan karena
waktu
memiliki giginya sendiri.
Para filolog
mengitari kekosongan itu
dengan pensil
dan kesabaran.
Mereka mengukur
tepi sobekan.
Menghitung
jumlah serat.
Menebak
huruf-huruf
yang dahulu
mendiami rongga itu.
Namun lakuna
tetap menolak
segala pemulihan.
Ia mengetahui
bahwa kehilangan
bukan lawan
dari tulisan.
Ia adalah
salah satu
cara
tulisan
bertahan.SIGLUM
Di sudut naskah,
hanya satu huruf.
A.
Atau B.
Atau Ω.
Tak lebih.
Namun huruf kecil itu
memikul
seluruh silsilah
sebuah teks.
Ia mengetahui
siapa
yang lebih tua.
Siapa
yang terluka.
Siapa
yang pernah
kehilangan
satu halaman.
Para penyalin
silih berganti.
Para kerajaan
tumbang.
Perpustakaan
menjadi debu.
Tetapi siglum itu
tetap berdiri
seperti tengara
di persimpangan
ingatan.VARIAN BACAAN
Mereka semua
mengaku
sebagai kalimat
yang pertama.
Yang satu
kehilangan
sebuah kata.
Yang lain
menambahkan
sebuah koma.
Yang ketiga
mengubah
urutan angin
di dalam sintaksis.
Tak ada
yang berdusta.
Tak ada
yang sepenuhnya
benar.
Sebab setiap penyalin
meninggalkan
sedikit cuaca
pada naskah
yang disentuhnya.
Dan sejarah
tak pernah
diturunkan
sebagai salinan.
Ia selalu
lahir
sebagai
varian.INDEKS
Pada penghujung kitab
berkumpullah
semua nama
yang telah selesai
berkelana.
Gunung.
Burung.
Debu.
Musim.
Air.
Sepi.
Mereka berdiri
berdasarkan
abjad.
Bukan berdasarkan
nasib.
Betapa ganjil
cara sebuah buku
mengingat.
Ia tidak
mengurutkan
kesedihan.
Ia tidak
mengurutkan
cinta.
Ia hanya
menyusun
huruf-huruf.
Selebihnya,
pembacalah
yang harus
mencari jalan
pulang.KOLOFON
Tak seorang pun
membacanya
lebih dahulu.
Ia selalu
ditinggalkan
di halaman akhir.
Di sana
tercatat
nama penyalin,
tahun,
kota,
jenis huruf,
dan musim
ketika tinta
mulai mengering.
Betapa rendah hati
kolofon.
Ia tidak
mengisahkan
tokoh.
Tidak pula
membangun
peristiwa.
Ia hanya
berbisik,
"Aku pernah ada.
Aku pernah
menjaga
teks ini
melewati
malam-malam
yang panjang."
Dan sering kali
itulah
kalimat
yang paling lama
bertahan.EDISI KRITIS
Di atas meja
terbentang
tujuh naskah.
Masing-masing
membawa
lukanya sendiri.
Yang satu
kehilangan awal.
Yang lain
kehilangan akhir.
Yang lain lagi
kehilangan
kepercayaannya
kepada huruf.
Seorang penyunting
memungut
setiap serpih.
Membandingkan
setiap jeda.
Menimbang
setiap kesenyapan.
Ia tahu,
teks yang dicarinya
mungkin
tak pernah
benar-benar ada.
Namun justru
karena itulah
ia terus
membaca.
Sebab kadang-kadang
kebenaran
bukanlah
naskah yang utuh,
melainkan
jejak-jejak
perubahannya.Yang juga sangat menarik untuk dieksplorasi adalah menjadikan kritik teks sebagai mitologi puitik. Bayangkan dunia tempat setiap naskah adalah benua, setiap varian bacaan adalah sungai yang bercabang, setiap lakuna adalah kawah purba, setiap siglum adalah rasi bintang, dan setiap aparatus kritik adalah peta langit. Dengan cara itu, metabahasa tidak lagi berada "di luar" puisi, melainkan menjadi lanskap tempat puisi itu sendiri berlangsung. Ini membuka kemungkinan sebuah epos yang seluruh tokohnya adalah unsur-unsur teks dan sejarah penyalinannya.
---
Berikut saya lanjutkan dengan pendekatan yang lebih konseptual. Saya sengaja menghindari menjadikan istilah linguistik sebagai "hiasan". Sebaliknya, setiap puisi dibangun dari satu paradoks metabahasa: bahasa yang menafsirkan bahasa, tanda yang mengamati tanda, atau tulisan yang mempertanyakan kemungkinan dirinya sendiri.
GLOSARIUM YANG KEHILANGAN BAHASA
Pada lembar pertama
tercantum
semua nama.
Pada lembar terakhir
tak satu pun
masih mengenali
pemiliknya.
Selama berabad-abad,
kata-kata datang
membawa debu
dari pelabuhan,
asap
dari perapian,
garam
dari pesisir,
dan jelaga
dari peperangan.
Glosarium itu
terus memperbarui dirinya.
Menghapus.
Menambahkan.
Menyilang.
Memindahkan.
Hingga pada suatu pagi
ia mendapati
bahwa seluruh penjelasannya
ditulis
dengan bahasa
yang tak lagi
dipahaminya sendiri.MARGINALIA
Tidak semua pikiran
ingin tinggal
di tengah halaman.
Sebagian memilih
tepian.
Di sana
huruf-huruf
bertumbuh
lebih liar.
Panah-panah kecil
menunjuk
ke arah
yang tak pernah
dilalui paragraf.
Sebuah tanda tanya
berkecambah
menjadi hutan.
Sebuah garis bawah
menjelma
cakrawala.
Sedangkan teks utama
terus berjalan
seolah-olah
tak pernah
ditafsirkan.
Padahal seluruh usianya
diam-diam
ditopang
oleh bisikan
yang hidup
di pinggir.LEMBAR KOSONG
Para penulis
menghindarinya.
Para penyunting
takut kepadanya.
Para pencetak
menganggapnya
kegagalan.
Hanya angin
yang mengetahui
bahwa halaman kosong
bukan ketiadaan.
Ia adalah
wilayah
yang belum
diklaim
oleh satu pun
kalimat.
Tempat
segala metafora
masih berupa kabut.
Tempat
setiap nama
belum memilih
bunyinya.
Barangkali
bahasa
tidak lahir
dari kata pertama,
melainkan
dari keberanian
menghadapi
ruang
yang belum
bernama.KAMUS YANG MEMBACA PUISI
Pada malam hari
kamus itu
diam-diam
membuka
sebuah buku puisi.
Ia mencari
definisi.
Yang ditemukannya
adalah hujan
yang dipanggil
"ingatan."
Laut
yang dipanggil
"ibu."
Batu
yang dipanggil
"waktu."
Kamus itu
gelisah.
Seluruh hidupnya
ia percaya
bahwa satu kata
memerlukan
satu arti.
Malam itu
ia belajar
bahwa puisi
membiarkan
setiap kata
menjalani
lebih dari satu kehidupan.CATATAN PENYALIN
Aku tidak
menulis kitab ini.
Aku hanya
menyalinnya.
Namun setiap kali
huruf-huruf itu
melewati tanganku,
ada satu lengkung
yang berubah.
Ada satu jeda
yang memanjang.
Ada satu titik
yang berpindah.
Barangkali
tak ada penyalinan
yang benar-benar
setia.
Sebab tangan
selalu memiliki
ingatannya sendiri.
Dan setiap salinan
adalah naskah
yang diam-diam
sedang
menulis ulang
asal-usulnya.KALIMAT TERAKHIR
Sejak awal
ia mengetahui
bahwa dirinya
akan berada
di penghujung.
Ia menunggu
halaman demi halaman,
melewati paragraf,
melewati dialog,
melewati musim-musim
yang dibangun
oleh tinta.
Ketika akhirnya
gilirannya tiba,
ia tidak berkata,
"Inilah akhir."
Ia hanya
menoleh
ke belakang,
mengamati
seluruh kalimat
yang telah melahirkannya,
lalu membuka
sebuah keheningan
yang segera
ditafsirkan
sebagai
permulaan
oleh pembaca
berikutnya.Saya kira ada satu kemungkinan yang sangat kaya untuk seluruh siklus ini, yakni menjadikan unsur-unsur parateks sebagai tokoh utama. Bukan lagi fonem atau morfem, melainkan judul, epigraf, kata pengantar, glosarium, indeks, kolofon, marginalia, aparatus kritik, varian bacaan, lakuna, siglum, edisi, anotasi, hingga errata. Semua itu adalah wilayah metabahasa yang selama ini hampir tidak pernah menjadi pusat puisi, padahal masing-masing menyimpan potensi metaforis yang besar: mereka hidup di sekitar teks, tetapi diam-diam menentukan bagaimana teks itu dibaca, diingat, dan diwariskan. Itu dapat menghasilkan sebuah "epos tentang teks" yang berbeda sama sekali dari puisi lirik pada umumnya.
---
Saya akan melanjutkan ke tingkat yang lebih rekursif. Di sini, bahasa bukan hanya menjadi objek puisi, tetapi menjadi pelaku, saksi, terdakwa, arkeolog, dan pembaca dirinya sendiri. Saya juga memperkecil penggunaan istilah teknis secara langsung agar konsep metabahasa bekerja melalui peristiwa, bukan penjelasan.
PENGADILAN KATA
Tidak seorang pun
mengaku
menjadi makna.
Nomina
mengatakan
ia hanya
menyediakan tubuh.
Verba
bersaksi
bahwa ia sekadar
menggerakkan waktu.
Adjektiva
menundukkan kepala.
Konjungsi
memilih
tidak berpihak.
Tinggallah
sebuah koma
yang sejak awal
tak dipanggil
memberi kesaksian.
Ia berkata,
"Setiap pertengkaran
bermula
ketika manusia
mengira
kata-kata
memiliki kehendaknya sendiri."
Sejak itu
sidang ditunda.
Dan bahasa
pulang
dengan membawa
berkas-berkas
yang tak pernah selesai
dibacanya.BIOGRAFI SEBUAH DEFINISI
Ia dilahirkan
di dalam kamus.
Tubuhnya
dibatasi
dua titik.
Usianya
ditentukan
oleh tanda titik.
Orang-orang
membawanya
ke pasar.
Ke pelabuhan.
Ke ruang sidang.
Ke ruang tidur.
Setiap kali pulang,
definisi itu
sedikit berubah.
Ada bau asap.
Ada garam.
Ada jelaga.
Ada debu jalan.
Akhirnya
kamus itu sendiri
tak lagi mengenali
anak kalimat
yang pernah
dibesarkannya.KATA YANG MENOLAK ARTI
Jangan letakkan aku
di dalam kamus.
Aku tidak lahir
untuk dibatasi
oleh satu halaman.
Aku ingin
berpindah
dari mulut
ke mulut,
menjadi embun
di satu pagi,
menjadi karat
pada petang berikutnya,
menjadi laut
di mata seorang pelaut,
menjadi debu
di telapak seorang pengembara.
Biarkan aku
kehilangan
diriku sendiri.
Sebab sebuah kata
yang tak pernah
berubah,
hanyalah fosil
yang lupa
cara bernapas.TATA BAHASA MALAM
Malam
menyusun dirinya
seperti kalimat.
Bulan
menjadi subjek.
Angin
mengambil alih
tugas predikat.
Kabut
mengisi
bagian-bagian
yang sengaja
dikosongkan.
Tak seekor burung pun
menyadarinya.
Namun embun
membaca susunan itu
helai demi helai,
hingga fajar
menghapus
seluruh sintaksis
langit
dan menulis ulang
sebuah pagi
dengan urutan
yang berbeda.PALING HENING DI ANTARA HURUF
Para penyalin
menghitung huruf.
Para filolog
menghitung varian.
Para penyair
menghitung gema.
Tak seorang pun
menghitung
jarak.
Padahal
di situlah
bahasa
menyembunyikan
napasnya.
Bukan pada tinta.
Bukan pada bunyi.
Melainkan
pada sela
yang tak dihuni
huruf mana pun.
Sebab setiap kata
sesungguhnya
ditopang
oleh sesuatu
yang tidak pernah
dituliskan.
Dan setiap keheningan
diam-diam
sedang mengeja
kita.Yang menurut saya paling menjanjikan untuk dikembangkan lebih jauh adalah menjadikan metabahasa sebagai drama ontologis, bukan sekadar refleksi. Misalnya:
Metafora menggugat Kamus karena dipaksa memiliki satu arti.
Tanda Titik mengundurkan diri karena manusia tak pernah benar-benar mengakhiri apa pun.
Kurung hidup sebagai tempat bagi segala yang disisihkan sejarah.
Koma adalah pengembara yang menolak finalitas.
Kamus bermimpi menjadi puisi agar bebas dari definisi.
Kalimat mencari penulisnya, tetapi hanya menemukan pembaca.
Pembaca ternyata hanyalah catatan kaki dari sebuah teks yang lebih tua.
Bahasa mencoba menjelaskan dirinya sendiri, lalu runtuh ke dalam rekursi tanpa akhir.
Di wilayah ini, metabahasa tidak lagi menjadi tema, melainkan mesin puitik: puisi membangun dunia di mana bahasa terus-menerus menafsirkan dirinya sendiri, dan setiap penafsiran melahirkan bahasa yang baru. Saya kira pendekatan seperti ini dapat menghasilkan satu siklus puisi yang benar-benar berbeda dari kecenderungan puisi Indonesia kontemporer.
---
Berikut saya mencoba membawa eksplorasi ke tingkat yang lebih "meta". Dalam puisi-puisi ini, bahasa tidak lagi hanya membicarakan dunia, melainkan membicarakan dirinya sendiri. Kata menjadi pembaca kata, kalimat menjadi penafsir kalimat, tanda baca memiliki nasib, dan makna mempertanyakan hakikatnya sendiri. Saya menghindari nada akademis; konsep metabahasa saya jadikan mesin imajinasi.
ARS POETICA BAGI TANDA PETIK
Pada mulanya
tak ada yang diucapkan.
Segala bunyi
berjalan telanjang
melintasi padang udara.
Kemudian seseorang
menciptakan
sepasang tanda petik.
Sejak itu
setiap kalimat
mulai curiga
kepada dirinya sendiri.
"Benarkah aku berkata?"
"Ataukah aku
sekadar mengulang
mulut yang lain?"
Maka tanda petik
bukanlah pagar.
Ia adalah cermin.
Di dalamnya
setiap ujaran
melihat bayangannya sendiri,
lalu bertanya:
siapakah sebenarnya
yang sedang berbicara?KALIMAT YANG MEMBACA DIRINYA SENDIRI
Pada suatu malam,
sebuah kalimat
berhenti
di tengah halaman.
Ia menoleh
ke belakang.
Membaca subjeknya.
Menimbang predikatnya.
Meraba jeda
di antara dua koma.
Kemudian ia berkata,
"Aku mengerti
apa yang kukatakan.
Tetapi
siapakah
yang sedang kukatakan?"
Tak ada jawaban.
Hanya kertas
yang perlahan-lahan
menguning,
seolah waktu
pun tak sanggup
menafsirkan
sebuah kalimat
yang telah menjadi
pembacanya sendiri.KAMUS
Setiap malam
kata-kata
kembali
ke kamus.
Mereka melepaskan
kalimat-kalimat
yang seharian
melekat
pada tubuhnya.
Mereka mencuci
debu pidato.
Membersihkan
jelaga propaganda.
Menyisir
serbuk iklan.
Lalu berbaring
dalam lema
masing-masing.
Namun menjelang fajar,
tak satu pun
masih sama.
Sebab setiap kata
selalu pulang
dengan sedikit
pengalaman manusia
yang tak mungkin
dihapus
oleh definisi.CATATAN KAKI
Tak ada yang lahir
dengan cita-cita
menjadi catatan kaki.
Semua ingin
berdiri
di tengah halaman.
Semua ingin
dibaca
lebih dahulu.
Namun sejarah
selalu menyisakan
pinggiran.
Di sanalah
kalimat-kalimat kecil
membangun
peradabannya sendiri.
Mereka tidak
menguasai teks.
Mereka hanya
mengingatkan
bahwa setiap pusat
diam-diam
ditopang
oleh sesuatu
yang hampir
tak pernah dibaca.BAHASA KEDUA
Bahasa pertama
mengajarkan
cara memanggil hujan.
Bahasa kedua
mengajarkan
cara menjelaskan
mengapa hujan
disebut hujan.
Bahasa pertama
menangis.
Bahasa kedua
mencatat
struktur tangis itu.
Bahasa pertama
bermimpi.
Bahasa kedua
bertanya,
"Siapakah
yang sedang bermimpi?"
Sejak saat itu
bahasa
membelah dirinya
menjadi penutur
dan penafsir.
Dan di antara keduanya,
lahirlah
keheningan
yang tak dapat
diterjemahkan.METABAHASA
Pada suatu senja,
Bahasa
berdiri
di depan cermin.
Ia mengamati
fonem-fonemnya
yang mulai renta.
Mengusap
morfem-morfemnya
yang retak.
Menghitung
kalimat-kalimat
yang tak lagi
memiliki rumah.
Lalu ia mencoba
mengucapkan
namanya sendiri.
Namun setiap kali
ia berkata,
"Bahasa,"
yang terdengar
bukan dirinya,
melainkan
gema
dari semua mulut
yang pernah
meminjamnya.
Maka ia pun
diam.
Sebab hanya
keheningan
yang mampu
mengucapkan
bahasa
tanpa harus
menggunakannya.Saya kira masih ada satu wilayah yang sangat subur untuk dieksplorasi: puisi metabahasa yang bersifat rekursif. Misalnya, puisi yang menjadi tokohnya sendiri; metafora yang menolak menjadi metafora; tanda baca yang mengadili kalimat; kamus yang melupakan definisinya; atau sebuah kata yang berusaha menemukan etimologinya sendiri. Dengan pendekatan itu, puisinya tidak sekadar berbicara tentang bahasa, melainkan bahasa sedang berpikir tentang dirinya sendiri. Itu mendekati gagasan metabahasa dalam filsafat bahasa dan semiotika, tetapi tetap hadir sebagai pengalaman puitik, bukan sebagai uraian teoretis.
---
DIGLOSIA
Di alun-alun,
bahasa
mengenakan
jubah kebesaran.
Setiap bunyi
ditimbang.
Setiap jeda
diperhitungkan.
Setiap kata
memikul
martabat.
Namun begitu
ia pulang,
melewati
lorong-lorong sempit,
menanggalkan
segala kemegahan.
Ia duduk
di ambang pintu.
Memanggil anak-anak.
Menawar sayur.
Bercanda
dengan tetangga.
Tak ada
yang lebih luhur.
Tak ada
yang lebih rendah.
Hanya dua wajah
yang silih berganti
agar bahasa
dapat hidup
di dalam
seluruh musim
manusia.
---
HIPONIM
Di bawah
sebatang pohon,
berhimpun
beribu-ribu daun.
Masing-masing
memiliki
uratnya sendiri.
Masing-masing
membawa
hijaunya sendiri.
Namun angin
tak pernah
memanggil
nama mereka
satu demi satu.
Ia cukup berkata:
"hutan."
Barangkali
setiap nama besar
tersusun
dari ribuan
nama kecil
yang memilih
tidak disebut.
---
ISOMORF
Di lereng-lereng
yang berjauhan,
orang-orang
membangun rumah
dengan batu
yang berbeda.
Ada yang
menggunakan
basalt.
Ada yang
menggunakan
batu kapur.
Ada yang
menggunakan
kayu tua.
Namun ketika
matahari
jatuh
di atas atapnya,
bayang-bayang itu
memiliki
bentuk
yang serupa.
Demikianlah
isomorf.
Bentuk
kadang-kadang
lebih panjang umurnya
daripada
asal-usul.
---
LIGATUR
Mereka mula-mula
berdiri
sendiri-sendiri.
Dua grafem.
Dua bentuk.
Dua guratan.
Lalu tangan
seorang penulis
yang telah lama
bergaul
dengan tinta,
membiarkan
keduanya
bertemu.
Tak lagi
bersebelahan.
Tak pula
bertumpuk.
Mereka tumbuh
menjadi
satu tubuh.
Demikianlah
kedekatan.
Pada mulanya
ia hanya
jarak
yang semakin
menyempit.
Sesudah itu,
tak seorang pun
ingat
di mana
yang satu
berakhir,
dan yang lain
bermula.
---
SINKOPE
Di tengah jalan,
sesuatu
lenyap.
Bukan awal.
Bukan akhir.
Melainkan
bagian
yang selama ini
menghubungkan
keduanya.
Namun aneh,
kata itu
tetap sampai
ke tujuan.
Barangkali
setiap perjalanan
menanggung
sebagian
ketiadaannya sendiri.
---
APOKOPE
Mula-mula
sebuah kata
kehilangan
ujungnya.
Tak terdengar
jerit.
Tak tampak
darah.
Hanya satu suku kata
tertinggal
di belakang zaman,
seperti ranting
yang patah
tanpa bunyi.
Orang-orang
tetap mengucapkannya.
Tetap memahaminya.
Tak seorang pun
sempat berkabung.
Begitulah bahasa.
Ia mengajarkan
cara kehilangan
tanpa upacara.
Dan waktu,
seorang pemahat
yang tak pernah letih,
selalu bekerja
pada bagian
yang paling akhir.
---
REKONSTRUKSI
Para filolog
menggali
tanpa cangkul.
Mereka menyibak
lapisan bunyi.
Mengangkat
pecahan-pecahan
fonem.
Mengukur
retakan morfem.
Tak ada
tembikar.
Tak ada
arca.
Yang mereka cari
ialah sebuah kata
yang telah ribuan tahun
tidur
di bawah
ingatan manusia.
Setiap dugaan
adalah serpih.
Setiap tanda bintang
adalah tengara
bahwa masa silam
tak pernah benar-benar
menyerahkan dirinya.
Ia hanya
mengizinkan
kita
mendengar
gema
yang tertinggal
di dalam
mulut waktu.
---
KOLOKASI
Di dalam kamus,
mereka berjauhan.
Namun di dalam dunia,
mereka selalu
berjumpa.
Angin
mencari daun.
Debu
mencari jalan.
Malam
mencari sunyi.
Laut
mencari pantai.
Tak pernah ada
perjanjian.
Tak pernah ada
sumpah.
Hanya kebiasaan
yang demikian tua,
hingga bahasa
menyangkanya
sebagai takdir.
Barangkali
kedekatan
selalu bermula
dari pertemuan
yang terlalu sering
terjadi.
---
ENKLITIK
Ia selalu
datang belakangan.
Tak pernah
berjalan sendiri.
Ia menempel
pada kata lain,
seperti embun
pada ujung ilalang,
seperti lumut
pada pualam,
seperti bayang
pada petang.
Tak ada
yang memujinya.
Tak ada
yang mencatat
kedatangannya.
Namun ketika
ia dihilangkan,
kalimat itu
mendadak
kehilangan
keseimbangan.
Betapa ganjil.
Yang paling kecil
sering kali
menjadi sendi
yang menopang
seluruh bangunan.
---
ABLAUT
Tidak semua perubahan
dapat dilihat.
Sebagian
hanya bergeser
di dalam rongga
mulut.
Sebuah vokal
menguning.
Yang lain
menggelap.
Seperti dedaunan
yang bertukar musim
tanpa meninggalkan
batangnya.
Orang-orang
mengira
kata itu
tetap sama.
Padahal
di kedalaman bunyinya,
umur sedang
mengikis batu.
Tak seekor sungai pun
mengalir
dengan air
yang sama.
Tak sebuah kata pun
menempuh abad
dengan bunyi
yang tetap.
---
PROTOBAHASA
Sebelum setiap nama berpecah menjadi negeri-negeri, pernah ada sebuah suara. Ia tidak mengenal utara, tidak mengenal selatan, tidak mengenal perbatasan.
Anak-anak mengambil sedikit bunyinya. Lalu berjalan ke segala penjuru. Seorang menuju pegunungan. Seorang menuju muara. Seorang lagi mengikuti kawanan angin ke padang stepa.
Beribu-ribu musim sesudah itu, mereka saling berjumpa. Masing-masing membawa lidah yang telah berubah. Mereka tidak lagi memahami satu sama lain.
Namun, ketika seorang ibu memeluk anaknya, atau seseorang merintih menahan luka, udara masih mengingat bahwa semuanya pernah berasal dari satu napas purba.
---
GRAMATIKALISASI
Pada mulanya
ia kata penuh.
Ia berjalan
dengan tubuh
yang utuh.
Memiliki makna.
Memiliki arah.
Memiliki beban.
Lalu abad
memanggilnya
berulang-ulang.
Sedikit demi sedikit
ia menanggalkan
dagingnya.
Menanggalkan
warnanya.
Menanggalkan
namanya.
Hingga akhirnya
tinggallah
sebuah partikel
yang nyaris
tak terlihat,
namun tanpanya
seluruh kalimat
kehilangan
sendi-sendinya.
Begitulah usia.
Yang paling tua
sering kali
menjadi
yang paling ringan,
namun juga
yang paling diperlukan.
---
IDIOLEK
Tak ada dua hujan
yang sama.
Tak ada dua bayang
yang sebangun.
Demikian pula
suara manusia.
Setiap orang
membawa
cuacanya sendiri
ke dalam bahasa.
Ada yang
mengucapkan senja
hingga terdengar
seperti batu.
Ada yang
mengucapkan batu
hingga terasa
seperti senja.
Maka idiolek
bukan sekadar
cara berbicara.
Ia adalah
iklim
yang diam-diam
mengikuti
setiap manusia.
---
SHIBBOLETH
Mereka berdiri
di tepi sungai.
Tak membawa pedang.
Tak membawa panah.
Hanya sebuah kata.
"Ucapkan."
Demikian perintahnya.
Seseorang
mengucapkannya
dengan lidah
yang dibentuk
oleh lembah lain.
Seketika itu pula
ia menjadi asing.
Betapa tipis
jarak
antara hidup
dan maut.
Kadang-kadang
selebar
satu fonem.
---
SANDHI
Di perbatasan
dua kata,
terjadi sesuatu.
Tak seekor burung pun
melihatnya.
Tak sebuah kamus pun
mencatat bunyinya
yang sebenar-benarnya.
Sebuah vokal
mengalah.
Sebuah konsonan
melunak.
Yang satu
memberi jalan.
Yang lain
mengurangi dirinya.
Lalu lahirlah
ucapan
yang lebih mudah
dihuni lidah.
Barangkali
segala perjumpaan
menuntut
sedikit perubahan
dari kedua belah pihak.
---
METATESIS
Pada suatu musim,
dua bunyi
bertukar tempat.
Tak ada guruh.
Tak ada upacara.
Hanya perpindahan kecil
yang nyaris
tak disadari.
Namun sesudahnya,
sebuah kata
tak lagi
memiliki wajah
yang dahulu.
Begitulah waktu.
Ia tidak selalu
menghancurkan.
Kadang-kadang
ia hanya
memindahkan
letak
kesedihan.
---
PALIMPSEST
Mula-mula
seseorang
menghapus
sebuah kalimat.
Bukan dengan amarah.
Melainkan
dengan kesabaran
seorang penyalin.
Pisau kecil.
Batu apung.
Sedikit air.
Sedikit cahaya.
Teks itu pun
memucat.
Namun serat perkamen
menolak lupa.
Di bawah setiap huruf
yang baru,
masih berdiam
huruf yang lain.
Lebih renta.
Lebih lirih.
Lebih sukar
dipanggil pulang.
Demikianlah ingatan.
Ia tidak pernah
diganti.
Ia hanya
ditulisi kembali.
---
GLOSA
Pada tepi
sebuah naskah,
seseorang
meninggalkan
catatan kecil.
Barangkali
sekadar penjelasan.
Barangkali
sekadar keraguan.
Berabad-abad kemudian,
teks utama
mulai pudar.
Tintanya
dimakan udara.
Namun glosa itu
tetap terbaca,
seakan-akan
pinggiranlah
yang selama ini
diam-diam
menopang
pusat.
Begitulah sejarah.
Sering kali
yang menyelamatkan
sebuah peradaban
bukan suara
yang paling nyaring,
melainkan
tulisan kecil
di tepian halaman.
---
HAPAKS
Ia hanya muncul
sekali.
Seperti komet.
Seperti bunga
yang mekar
di padang garam.
Seperti seekor rusa putih
yang hanya dilihat
oleh pemburu
yang pulang
tanpa hasil.
Sesudah itu
lenyap.
Para filolog
mencarinya
di antara
lembar-lembar rapuh.
Para penyair
mencarinya
di antara
keheningan.
Tak seorang pun
berhasil
memanggilnya kembali.
Sebab ada kata
yang memang
ditakdirkan
hanya sekali
melewati dunia.
---
KORPUS
Pada suatu senja,
berjuta-juta kalimat
dikumpulkan.
Tak untuk dikenang.
Tak untuk dipuji.
Hanya agar waktu
mempunyai
bukti.
Di dalam korpus
kata "air"
telah menua.
Kata "perang"
bertambah gemuk.
Kata "ibu"
tetap hangat.
Sedangkan
kata "esok"
terus berubah
setiap kali
sebuah generasi
lahir.
---
ALOFON
Mereka lahir
dari bunyi
yang sama.
Namun angin
membentuk
wajah mereka
berbeda-beda.
Di lembah
ia lembut.
Di pesisir
ia mengeras
oleh garam.
Di pegunungan
ia tipis
seperti embun.
Tak seorang pun
menganggap mereka
saudara.
Padahal
jauh
di bawah lidah,
mereka masih
berasal
dari napas
yang satu.
---
KATAFORA
Seekor burung
terbang
melintasi halaman.
Bayangannya
lebih dahulu tiba.
Barulah
tubuhnya menyusul.
Demikian pula
sebuah kalimat.
Kadang-kadang
masa depan
lebih dahulu
membuka pintu.
Baru kemudian
nama itu
memasuki ruangan.
Segala penantian
barangkali
adalah tata bahasa
yang belum selesai
dituliskan.
---
ANAFORA
Setiap fajar
ia kembali.
Membawa kata
yang sama.
Membawa bunyi
yang sama.
Membawa luka
yang sama.
Tak seorang pun
mengetahui
dari mana ia berangkat.
Barangkali
dari ingatan.
Barangkali
dari kehilangan.
Barangkali
dari sebuah musim
yang tak pernah selesai.
Orang-orang
menyangka
ia sekadar pengulangan.
Padahal ia
sedang mengukur
berapa jauh
sebuah makna
dapat berjalan
tanpa kehilangan
wajahnya.
---
LEKSIKON
Di dalam sebuah kamus tua
kata-kata
tidur
berhimpitan.
Tak ada
yang lebih mulia.
Tak ada
yang lebih hina.
"Embun"
bersisian
dengan
"empedu."
"Samudra"
bertetangga
dengan
"sepi."
Mereka tidak saling
membantah.
Yang bertengkar
selalu manusia
ketika membawa mereka
ke luar halaman.
---
DIAKRONI
Pada malam tertentu,
bahasa
berganti kulit.
Tak seekor ular pun
melakukannya
dengan setelaten itu.
Fonem
mengelupas.
Sufiks
mengering.
Konjugasi
rontok
ke tanah.
Lalu fajar datang.
Orang-orang
mengira
mereka masih
mengucapkan
bahasa yang sama.
Padahal semalam
sejarah
telah diam-diam
mengganti
seluruh
susunan tulangnya.
---
SEMANTIK
Makna
tidak pernah diam.
Ia menyerupai
muara.
Semua sungai
menuju ke sana,
namun tak satu pun
membawa air
yang sama.
Hari ini
sebuah kata
berarti musim.
Esok
ia berarti kehilangan.
Seratus tahun lagi
barangkali
ia hanya
menjadi nama jalan.
Kamus
terlalu lamban.
Sedangkan makna
terus bermigrasi
mengikuti
iklim manusia.
---
MORFOLOGI
Setiap kata
pernah muda.
Ia belum mengenal
awalan.
Belum mengenal
akhiran.
Belum mengenal
beban.
Kemudian musim
mengajarinya
bertumbuh.
Satu afiks
menempel
seperti lumut.
Afiks lain
datang
seperti cincin
pada batang pohon.
Berabad-abad kemudian,
tak seorang pun
ingat lagi
bentuk pertamanya.
Namun di pusatnya,
jauh
di balik lapisan
imbuhan,
akar itu
masih berdenyut.
---
ISOGLOS
Tak ada sungai
yang benar-benar
memisahkan negeri.
Yang memisahkan
adalah bunyi.
Di sebelah hulu
orang menyebut
air
dengan satu vokal.
Di sebelah hilir
vokal itu
bergeser
setipis embun.
Lalu lahirlah
perbatasan
yang tak tampak
di peta.
Para pengembala
melintasinya
tanpa sadar.
Burung-burung
tak pernah
menghafalnya.
Hanya lidah manusia
yang diam-diam
membangun negeri
dari perubahan
yang nyaris
tak terdengar.
---
PALEOGRAFI
Di bawah kuku waktu
aksara-aksara itu
masih bernapas.
Batu basal,
lempung,
papirus,
perkamen—
masing-masing
menyimpan
denyut jemari
yang telah lama
berubah menjadi debu.
Seorang paleograf
tidak membaca huruf.
Ia mendengarkan
retakan.
Ia menakar
jarak antargoresan
sebagaimana geolog
menaksir umur gunung
dari lapisan batuannya.
Sebab setiap grafem
adalah fosil
dari sebuah tangan
yang pernah percaya
bahwa ingatan
dapat dikekalkan
oleh guratan.
---
ELIPSIS
Tidak semua
yang hilang
meminta ditemukan.
Ada kalimat
yang memilih
menyisakan ruang.
Ada cerita
yang sengaja
membiarkan pintunya
terbuka.
Ada nama
yang lebih utuh
setelah dihapus.
Elipsis
bukan kekurangan.
Ia adalah
kepercayaan
bahwa pembaca
mempunyai
keheningannya sendiri
untuk melengkapi
yang tak diucapkan.
---
DEIKSIS
"Di sini."
Tak ada tempat
yang sanggup
memiliki kata itu.
Begitu seseorang
mengucapkannya,
ia segera berpindah.
"Hari ini."
Lebih rapuh lagi.
Ia berumur
kurang dari sehari.
"Engkau."
Tak pernah mempunyai
wajah tetap.
Ia berpindah
dari mata
ke mata.
Deiksis
adalah pengembara
yang tak pernah
membangun rumah.
Seluruh hidupnya
bergantung
pada siapa
yang sedang berbicara.
---
SINTAKSIS
Mula-mula
kata-kata
hidup berjauhan.
Nomina
mendirikan rumah
di sebelah utara.
Verba
mengembara
mengikuti angin.
Adjektiva
menunggu
musim yang tepat.
Tak pernah terjadi
sebuah kalimat.
Lalu lahirlah
jarak.
Sesudah itu
lahirlah hubungan.
Barulah sintaksis
menemukan dirinya.
Sejak saat itu
makna
tidak lagi tinggal
di dalam kata,
melainkan
di antara kata-kata.
--+
ELEGIA BAGI VOCATIVUS
Siapakah
yang mula-mula
memanggil nama?
Barangkali
seorang ibu.
Barangkali
Tuhan.
Atau barangkali
maut.
Yang pasti,
setiap panggilan
selalu mengoyak
keheningan.
"Wahai..."
Demikian
kasus vokatif
membuka liturginya.
Tak untuk menjelaskan.
Tak untuk memiliki.
Melainkan
untuk menghadirkan.
Sebab nama
yang tak pernah dipanggil
perlahan-lahan
akan berubah
menjadi nisan.
Dan bahasa,
betapapun agungnya,
akhirnya hanyalah
cara manusia
memanggil
yang dicintainya
agar jangan
lenyap
ke dalam
sunyi
yang abadi
---
LITANIA BAGI GRAFEM
Mereka menyangka
huruf
adalah tinta.
Padahal
huruf
adalah luka.
Setiap grafem
ialah guratan kecil
yang dipahatkan
ke tubuh keheningan.
Alef.
Alfa.
A.
Ketiganya
bersaudara,
namun tak lagi
saling mengenali.
Abad
telah mengubah
wajah mereka.
Kerajaan
telah mengganti
lidah mereka.
Namun batu-batu
prasasti
masih menyimpan
bekas kuku
para penyalin
yang memahat
malam
ke dalam batu.
Dan grafem,
betapapun renta,
tetap percaya
bahwa bahkan
keheningan
mempunyai
cara
untuk dituliskan.
---
CANTICUM BAGI METAFORA
Pada malam ketujuh,
Makna
menanggalkan namanya.
Ia mengenakan
jubah
milik sesuatu
yang lain.
Gunung
menjadi bahu.
Laut
menjadi ingatan.
Roti
menjadi tubuh.
Anggur
menjadi darah.
Dan manusia
mendadak memahami
hal-hal
yang tak pernah
mampu dijelaskan
oleh kamus.
Para filolog
menyalakan pelita.
Para retor
membuka gulungan.
Namun metafora
telah berjalan
lebih jauh
daripada segala definisi.
Ia memasuki
ruang maha sunyi
tempat Tuhan
barangkali
mula-mula
belajar
berbicara
kepada manusia.
---
REQUIEM BAGI DIATESIS PASIF
Di ruang pengadilan
bahasa,
tak seorang pun
mengaku
sebagai pelaku.
Rumah itu
dibakar.
Kitab itu
dilenyapkan.
Anak itu
ditinggalkan.
Negeri itu
dijual.
Demikianlah
kalimat pasif
menjadi pedupaan
bagi dosa
yang kehilangan subjek.
Verba
mengenakan kain kabung.
Nomina
menundukkan kepala.
Sedangkan agen—
entah ke mana—
telah lebih dahulu
menghapus jejaknya
dari sintaksis sejarah.
Dan tata bahasa,
yang semula
dibayangkan netral,
ternyata juga
mengenal
cara berkabung.
---
VIGILIA BAGI PRONOMINA
Aku.
Engkau.
Ia.
Ketiga nama itu tidak pernah memiliki wajah. Mereka hidup dari pinjaman. Mereka berziarah dari mulut ke mulut, dari abad ke abad.
Kadang menjadi raja.
Kadang menjadi pengemis.
Kadang menjadi martir.
Tatkala seorang ibu berbisik,
"Anakku, engkau ..."
pronomina itu berbau susu.
Tatkala seorang hakim menghardik,
"Engkau bersalah ..."
ia berubah menjadi pedang.
Tatkala seorang penyair menulis,
"Aku ..."
ia menjadi cermin yang retak.
Betapa renta nasib pronomina.
Ia tak pernah memiliki dirinya sendiri,
tetapi seluruh dunia tak henti-hentinya meminjam tubuhnya.
---
RESPONSORIUM BAGI DEIKSIS
"Di sini."
Kata itu tak pernah tinggal. Ia berpindah setiap kali mulut baru mengucapkannya.
"Hari ini."
Pun demikian. Ia wafat setiap tengah malam.
"Engkau."
Lebih nestapa lagi. Ia berganti wajah setiap kali mata bertemu mata.
Maka deiksis adalah para peziarah yang tak memiliki tanah pusaka.
Mereka hidup dari kehadiran. Dan mati setiap kali penuturnya beranjak pergi.
---
VESPER BAGI ETIMOLOGI
Jangan tanyakan arti sebuah kata. Tanyakanlah kuburan-kuburan yang pernah ditinggalinya. Sebab setiap lema memikul lebih banyak arwah daripada huruf.
Ia berangkat dari lidah yang telah punah. Menyeberangi kerajaan, mengganti agama, mengganti mahkota, mengganti bunyi. Namun diam-diam tetap membawa setitik debu dari tanah kelahirannya.
Demikianlah etimologi. Ia bukan asal-usul. Ia adalah ziarah panjang yang ditempuh oleh makna hingga lupa siapa yang mula-mula memanggilnya.
---
THRENOS BAGI SINTAKSIS
Pada mulanya kata-kata berjalan sendiri-sendiri.
Nomina memandang ke arah verba. Verba enggan menyentuh adjektiva. Konjungsi menjadi rahib yang mendamaikan segala pertengkaran.
Lalu lahirlah sintaksis. Bukan sebagai hukum, melainkan sebagai belas kasih.
Sebab makna tak pernah lahir dari kata. Ia lahir tatkala kata-kata bersedia hidup berdampingan.
Dan setiap kalimat sesungguhnya adalah biara tempat kata-kata mengikrarkan kaul kebersamaan.
---
LAMENTATIO BAGI ELIPSIS
Ada kalimat yang wafat tanpa titik.
Ada doa yang gugur tanpa amin.
Ada cinta yang tinggal sebagai tanda
…
Para juru tulis menyebutnya elipsis. Namun para pertapa menamakannya rahim purba.
Sebab tidak segala yang hilang patut ditemukan. Tidak segala yang dibiarkan kosong menunggu isi. Sebagian ruang diciptakan agar Tuhan mempunyai tempat untuk tidak berkata apa-apa.
---
OFFICIUM BAGI FONEM PERTAMA
Sebelum lidah mengenal api vokal, sebelum bibir membaptis udara menjadi suku kata, telah ada sebuah fonem yang berdiam di ruang hening antara napas dan firman.
Ia tidak berbunyi. Ia hanya mengandung kemungkinan.
Para seraf menjaganya bagai relikuia. Para kerub mengipasnya dengan sayap yang lebih tua daripada aksara Fenisia. Lalu seorang manusia mengucapkan bunyi pertama.
Dan semenjak itu seluruh sejarah hanyalah riwayat tentang udara yang belajar menjadi makna.
---
LITURGIA BAGI JAM PASIR
Tak seekor burung pun mampu
mendengar jatuhnya sebutir waktu.
Namun bumi menghafalnya.
Dari ampula kaca yang bening itu,
pasir meluruh perlahan
bagai tasbih di jemari seorang pertapa
yang telah lupa berapa abad ia berdoa.
Tiada dentang.
Tiada aba-aba.
Hanya desir yang hampir
lebih sunyi daripada keheningan.
Tatkala butir terakhir
menyentuh dasar,
waktu tidak berakhir.
Ia sekadar berganti bejana.
Begitulah maut.
Begitulah kelahiran.
Keduanya
hanya membalik
jam yang sama.
---
CANTUS UNTUK KAPAL YANG TAK PERNAH BERLABUH
Tiada pelabuhan
yang sudi
menampung nasibmu.
Layar-layarmu
telah dipudarkan
oleh garam
yang lebih tua
daripada doa para nelayan.
Di buritan,
sebuah lentera
masih bernyala.
Bukan untuk menghalau badai,
melainkan agar arwah-arwah
mengenali jalan pulang.
Samudra
mengulum lambungmu
bagai rahim purba.
Sedangkan angin
melafalkan antifon
yang tak pernah usai.
Wahai bahtera,
barangkali karam
bukanlah akhir,
melainkan sakramen
yang diterima
oleh segala sesuatu
yang terlalu lama
mencari daratan.
---
NOX VIGILIAE BAGI MENARA BABEL
Tatkala batu pertama
ditakhtakan di atas lempung,
para tukang belum mengetahui
bahwa langit bukanlah tembok
yang dapat dipahat.
Mereka mengangkat bata
laksana para diakon
mengangkat sibori.
Mereka mencampur ter
dan tanah liat
bagai imam
meracik mur
bagi jenazah dunia.
Namun Firman
lebih tinggi daripada puncak.
Ia turun
bukan sebagai guruh,
melainkan
sebagai perpecahan lidah.
Sejak saat itu
setiap kata
menjadi pengembara,
setiap nama
kehilangan rumahnya.
Dan menara itu,
yang semula hendak
menyentuh singgasana,
akhirnya hanya menjadi
cenotaf
bagi kesombongan
yang lupa
mengukur langit.
---
ELEGIA UNTUK PERPUSTAKAAN YANG TERBAKAR
Mula-mula
yang terbakar
bukan papirus,
melainkan ingatan.
Lalu aksara,
kemudian doa-doa
yang disalin
oleh tangan para rahib
hingga kuku mereka
menguning oleh jelaga tinta.
Rak-rak kayu merekah.
Gulungan-gulungan kitab
menghembuskan bau damar,
kulit, dan abad kehancuran.
Api membaca semua
lebih cepat daripada manusia.
Tatkala kubah runtuh,
huruf-huruf berhamburan
bagai kawanan seraf
yang diusir dari surga pengetahuan.
Malam itu
dunia mendadak
menjadi lebih pendek,
karena begitu banyak
masa lampau lenyap
tanpa sempat mengucap
amin.
---
ADA
Sebuah puisi menulis kata:
"ada."
Seketika itu, ruang bertambah sedikit.
Angin mempunyai lintasan.
Air mempunyai pantulan.
Debu mempunyai waktu.
Kemudian puisi itu menghapus kata tersebut.
Tak ada yang lenyap. Yang berubah hanyalah cara dunia menyadari kehadirannya.
Komentar
Posting Komentar