SELAMAT ULANG TAHUN, HANYA SEBUAH KALIMAT

untuk Lutfi Mardiansyah

I

Hari ini orang-orang akan berkata:

"Selamat ulang tahun."

Kalimat pendek. Subjek dihilangkan. Predikat disamarkan. Objeknya adalah waktu yang sedang berpura-pura menjadi manusia.

Aku pun hendak mengucapkannya.

Namun, sebelum kata selamat sempat mencapai lidah, aku curiga: siapa sebenarnya yang sedang diselamatkan?

Usia? Ingatan? Atau bahasa yang setiap tahun kehilangan satu makna lagi?

Maka kuberikan kepadamu sebuah koma, dua titik, dan tanda petik yang belum ditutup.

Rawatlah.

Barangkali suatu hari kau membutuhkan tempat untuk menyimpan umur.

II

Aku tahu kau lebih percaya pada kata daripada kalender. Sebab kalender hanya pandai menghitung. Sedangkan kata pandai berpura-pura mengerti.

Maka pada hari ulang tahunmu kubawakan hadiah berupa kosakata.

Ada "esok" yang belum dipakai. Ada "barangkali" yang masih menganggur. Ada "semoga" yang mulai kelelahan karena terlalu sering dipaksa optimistis. Ada pula kata "nanti" yang diam-diam menjadi rumah bagi semua penundaan manusia.

Pilihlah sesukamu. Tidak ada yang mahal. Semua kata dibayar menggunakan tafsir.

III

Hari ini usiamu bertambah satu.

Benarkah? Atau hanya angka yang berganti pakaian?

Bukankah dua puluh, tiga puluh, empat puluh, hanyalah morfem yang disuruh bekerja oleh aritmetika?

Tubuhmu mungkin menua, tetapi fonem tidak mengenal keriput.

Huruf A masih tetap A sejak pertama kali ia belajar membuka mulut.

Huruf Z masih menjadi ujung alfabet, meskipun dunia berkali-kali mengubah kamus.

Barangkali yang bertambah tua bukan manusia, melainkan cara kita menyebutnya.

IV

Aku ingin menghadiahimu sebuah kamus.

Akan tetapi, setiap kali kubuka, definisi-definisi itu sibuk mendefinisikan dirinya sendiri.

Kata "bahagia" meminjam arti dari kata "cukup". Kata "cukup" mengemis makna kepada kata "syukur". Sedangkan kata "syukur" diam-diam mencari alamat ke kata "bahagia".

Tak ada jalan keluar.

Semua kata hidup dengan saling meminjam kehidupan.

Mungkin manusia juga begitu. Kita saling mengucapkan agar tidak hilang.

V

Di meja ulang tahunmu tidak ada lilin. Yang menyala justru tanda tanya.

?

Berapa banyak usia yang berhasil diterjemahkan menjadi kebijaksanaan?
Berapa banyak kalimat yang kau selamatkan dari kesalahpahaman?
Berapa banyak sunyi yang akhirnya memilih berubah menjadi puisi?

Tidak usah dijawab.

Pertanyaan kadang lebih panjang umur daripada jawabannya.

VI

Aku sempat ingin menulis:
"Semoga panjang umur."

Lalu kuhapus.

Umur tidak pernah pendek. Yang pendek adalah kesempatan menggunakannya.

Aku ingin menulis:
"Semoga sehat selalu."

Lalu kuhapus lagi.

Sehat ternyata bukan keadaan. Ia hanya jeda antara dua kunjungan ke rumah sakit.

Akhirnya kutulis saja:
"Semoga kau tetap mencintai kata."

Karena selama masih ada kata, sunyi belum sepenuhnya menang.

VII

Lutfi, jika suatu hari orang bertanya apa hadiah ulang tahun yang paling berharga, jangan sebut puisi ini.

Puisi terlalu mudah menjadi kertas.

Sebut saja bahwa seseorang pernah memberimu sebuah kalimat yang tidak selesai.

Karena ucapan terbaik selalu menolak titik. Ia memilih koma, lalu berlanjut menjadi tahun berikutnya, menjadi kalimat berikutnya, menjadi hidup berikutnya.

Dan akhirnya, izinkan aku mengucapkannya tanpa metafora, tanpa teori tanda, tanpa membedah sintaksis, tanpa mencurigai semantik.

Selamat ulang tahun, Lutfi. Semoga umurmu tetap menjadi bahasa yang tidak pernah selesai untuk ditafsir.

Sebab pada akhirnya, yang kita rayakan bukan angka, melainkan kemungkinan bahwa dari sekian juta kata di dunia, masih ada satu yang besok pagi belum pernah kau tulis.

---




TEORI TINDAK TUTUR PADA HARI ULANG TAHUN

untuk Lutfi Mardiansyah

I

Hari ini aku hendak memberimu hadiah. Bukan buku, bukan jam tangan, bukan kopi, melainkan satu kalimat:

"Selamat ulang tahun."

Kalimat yang terlalu sering dipakai hingga kata-katanya mulai kehilangan sidik jari.

Setiap tahun jutaan orang mengucapkannya.

Namun, anehnya, tak seorang pun benar-benar tahu bagaimana bunyi sebuah usia.

II

Aku membongkar kalimat itu.

"Selamat."

Sebuah adjektiva yang dipaksa bekerja sebagai doa.

"Ulang."

Sebuah verba yang berpura-pura menjadi waktu.

"Tahun."

Nomina yang diciptakan bumi ketika ia terlalu lama mengitari matahari.

Lalu ada namamu.

Lutfi.

Satu-satunya kata yang tidak bisa diganti oleh sinonim.

Kamus menyerah. Tesaurus mengangkat tangan. Karena nama tak pernah berarti. Ia hanya menunjuk.

III

Aku sempat berpikir bagaimana kalau hari ulang tahun tidak diucapkan? Apakah umur tetap bertambah?

Barangkali ya.

Bahasa memang tidak menggerakkan matahari, tetapi bahasa membuat manusia percaya bahwa pertambahan usia layak dirayakan.

Bukankah itu keajaiban yang cukup besar?

IV

Aku pernah melihat kata "semoga" duduk sendirian di ruang tunggu kamus.

Ia tampak letih.

Setiap hari ia dipanggil untuk kelulusan, pernikahan, perjalanan, operasi, kelahiran, kematian, dan ulang tahun.

Ia berkata kepadaku, "Aku hanyalah adverbia harapan. Mengapa manusia menyuruhku menanggung masa depan?"

V

Hari ini, biarkan akut idak mendoakan apa pun. Aku hanya ingin mengembalikan semua kata kepada asalnya.

"Bahagia" kembali menjadi bunyi.
"Cinta" kembali menjadi udara.
"Sehat" kembali menjadi susunan huruf.

Dan "panjang umur" kembali menjadi empat belas fonem yang belum tahu nasib siapa yang sedang mereka bicarakan.

Bukankah itulah keadaan semua bahasa sebelum dipercaya?

VI

Kau penyair. Dan aku tahu kau akan curiga. Setiap ucapan selalu membawa niat tersembunyi.

Maka jangan percaya pada puisiku. Percayalah kepada jeda di antara larik-lariknya.

Karena sering kali yang paling jujur bukan kata, melainkan keheningan yang membiarkan kata tertidur tanpa dengkur.

VII

Pada akhirnya, aku tetap akan mengucapkannya. Bukan karena yakin kata-kata dapat memperpanjang hidup, melainkan karena diam terlalu miskin kosakata.

Jadi, terimalah kalimat sederhana ini.

Bukan sebagai doa. Bukan sebagai mantra. Bukan sebagai nubuat. Hanya sebagai bukti bahwa di antara sekian miliar kalimat yang pernah diucapkan manusia, masih ada satu yang hari ini memilih menyebut namamu.

Dan mungkin, itulah arti paling tua dari sebuah ucapan: bukan mengubah dunia, melainkan mengingatkan seseorang bahwa ia masih dapat dipanggil oleh bahasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI