SITA DEWI DALAM PENJARA RAWANA




KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT BAHASA

Di dalam sastra ada ilmu, ada kehidupan, dan ada keindahan. Oleh karena itu, sastra dapat menjadi media pembelajaran tentang ilmu dan kehidupan. Hal itu telah terjadi berabad-abad yang lalu. Untuk lebih meningkatkan peran sastra tersebut dalam kehidupan generasi ke depan, Pusat Bahasa berupaya meningkatkan pelayanan kepada anak-anak Indonesia akan kebutuhan bacaan sebagai salah satu upaya peningkatan minat baca dan wawasan serta pengetahuan dan apresiasi seni terhadap karya sastra Indonesia.

Sehubungan dengan itu, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, melalui Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, secara berkelanjutan menggiatkan penyusunan buku bacaan sastra anak dengan mengadaptasi dan memodifikasi teks-teks cerita sastra lama ke dalam bentuk dan format yang disesuaikan dengan selera dan tuntutan bacaan anak masa kini. Melalui langkah ini diharapkan terjadi dialog budaya antara anak-anak Indonesia pada masa kini dan pendahulunya pada masa lalu agar mereka semakin mengenal keragaman budaya bangsa yang merupakan jati diri bangsa Indonesia.

Bacaan keanekaragaman budaya dalam kehidupan Indonesia baru dan penyebarluasannya ke anak-anak Indonesia dalam rangka memupuk rasa saling memiliki dan mengembangkan rasa saling menghargai diharapkan dapat menjadi salah satu sarana pembentukan jati diri anak bangsa.

Atas penerbitan buku Sita Dewi dalam Penjara Rawana ini saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada para penyusunnya. Kepada Sdr. Slamet Riyadi Ali, Pemimpin Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta beserta staf, saya ucapkan terima kasih atas usaha dan jerih payah mereka dalam penyiapan penerbitan buku ini. Ucapan terima kasih saya sampaikan pula kepada Sdr. Indra selaku ilustrator dalam buku ini.

Mudah-mudahan buku Sita Dewi dalam Penjara Rawana ini dibaca oleh segenap anak Indonesia, bahkan oleh guru, orang tua, dan siapa saja yang mempunyai perhatian terhadap cerita rakyat Indonesia demi memperluas wawasan tentang kehidupan masa lalu yang banyak memiliki nilai yang tetap relevan dengan kehidupan masa kini.


Jakarta, 22 November 2004




Dr. Dendy Sugono

•••

SEKAPUR SIRIH

Rasa syukur yang dalam penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Pengasih, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan cerita Sita Dewi dalam Penjara Rawana ini akhirnya terselesaikan. Cerita Sita Dewi dalam Penjara Rawana ini bersumber pada disertasi Achadiati Ikram, Hikayat Sri Rama: Suntingan Naskah Disertai Telaah Amanat dan Struktur, yang diterbitkan oleh Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 1980, yang di dalamnya antara lain terdapat episode kisah Sita Dewi.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Drs. Teguh Dewabrata selaku Pemimpin Bagian Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, yang telah memberikan dorongan kepada penulis untuk merampungkan penulisan cerita ini. Ucapan terima kasih yang sama penulis sampaikan kepada Dra. Yeni Mulyani S. (Balai Bahasa Bandung), yang telah mencarikan dan meminjami penulis Hikayat Sri Rama: Suntingan Naskah Disertai Telaah Amanat dan Struktur sebagai bahan penulisan centa ini. Dan, ucapan terima kasih yang sama juga penulis lontarkan kepada siapa pun—di antaranya Drs. Abdul Rozak Zaidan, M.A. selaku Kepala Bidang Pengembangan Bahasa dan Sastra dan Dra. Siti Zahra Yundiafi, M.Hum. selaku Kepala Subbidang Sastra—yang telah memberikan dorongan dan memompakan semangat sehingga penulisan cerita ini akhirnya terselesaikan. Mudah-mudahan Allah Yang Maha Pemurah membalaskan budi baik mereka itu.

Akhir kata, penulis hanya bisa berharap, mudah-mudahan cerita ini pada akhirnya "enak dibaca dan perlu", sebuah harapan yang barangkali tidak terlalu muluk.


Penyusun

•••

SATU
RAWANA MENYAMAR DAN MENCULIK SITA DEWI

Telah lama Rawana mendambakan Sita. Telah lama Rawana membayangkan Sita sebagai kekasih. Paras Sita yang cantik, sorot matanya yang bening dan sejuk, cara bicaranya yang lembut, lekuk tubuhnya yang sempurna sebagai perempuan, senantiasa menggoda angan Rawana. Siang malam benak Rawana mabuk Sita. Rawana ingin benar memiliki Sita, tetapi dia tak tahu caranya. Otaknya terasa buntu dan mampet, tak pernah menemukan cara untuk mendapatkan Sita. Pikirannya jadi kusut, tetapi niatnya untuk berdekatan dengan Sita tak pernah surut.

Setelah sekian lama hatinya hanya disesaki damba dan rindu pada Sita yang tak pernah kesampaian, tiba-tiba saja saat itu Rawana memperoleh cara untuk menjebak Sita. Dengan bersemangat dipanggilnya dua orang raksasa yang berwujud anjing. yaitu Tiki dan Martinja. Dua orang raksasa itu kemudian diperintahkannya memasuki kereta terbangnya. Dengan kereta terbangnya itu Rawana bertolak meninggalkan Langkapuri. Setelah beberapa lama terbang, mendaratlah Rawana di sebuah tanah lapang. Dia langsung mengomando Tiki dan Martinja, “Tiki, jadilah kamu sebagai kijang emas, dan kamu Martinja, jadilah kamu sebagai kijang perak. Setelah itu, pergilah kalian berdua ke halaman depan rumah Sri Rama, lalu melompat-lompat dan menari-narilah kalian berdua."

Seketika kedua raksasa itu—yang semula berwujud anjing—telah berubah menjadi kijang emas dan kijang perak. Kedua kijang itu menari-nari dan melompat-lompat dengan lincah di hadapan rumah Sri Rama, sementara Rawana mengikuti dari atas dengan kereta terbangnya. Sita yang tengah bersanding bersama Sri Rama di beranda rumahnya, terpesona dengan kedua kijang itu. Dia merasa teramat gemas dengan kedua kijang itu.

“Kakanda," kata Sita pada Sri Rama, "tangkaplah kedua kijang itu untukku. Aku teramat ingin memiliki kedua kijang itu."

"Tampaknya kedua kijang itu terlalu lincah. Rasanya cukup sulit menangkap kedua kijang itu hidup-hidup. Bagaimana kalau aku memanah kedua kijang itu?"

"Jangan, Kakanda! Aku ingin memiliki kedua kijang itu dalam keadaan hidup. Lagi pula, aku merasa sayang pada kedua kijang itu. Aku tak sampai hati seandainya Kakanda memanah kedua kijang itu."

“Baiklah, kalau begitu! Aku akan meminta Laksmana untuk menungguimu, sementara aku akan memburu dan menangkap kedua kijang itu."

Ketika Sri Rama telah jauh dari istananya memburu kedua kijang itu, Rawana pun langsung bersembunyi di balik pepohonan di hutan sekitar rumah Sri Rama. Kemudian Rawana menjerit-jerit minta tolong dengan suara menyerupai suara Sri Rama. Jeritan minta tolong itu terdengar oleh Sita Dewi. Katanya pada Laksmana, "Hai, Laksmana, itu suara Kakanda menjerit-jerit minta tolong."

"Kakanda, janganlah Kakanda terpengaruh suara dengar-dengaran itu," kata Laksmana berusaha menenangkan Sita Dewi.

Namun, jeritan minta tolong yang menyerupai suara Sri Rama itu berulang lagi. Sita Dewi pun gelisah. Katanya pada Laksmana, "Laksmana, nyata sekali itu suara Kakanda yang minta tolong!"

"Kakanda, janganlah Kakanda gubris suara dengar-dengaran itu. Aku sama sekali tak yakin itu suara Sri Rama. Bukankah Sri Rama bukan orang sembarangan? Binatang besar dan ganas, seperti gajah, harimau, dan kerbau liar, dengan gampang bisa ditundukkan dan dibunuh oleh Sri Rama tanpa minta tolong kepada siapa pun, apalagi sekarang ini yang dihadapi Sri Rama cuma kijang. Aku sama sekali tak yakin Sri Rama menjerit-jerit minta tolong hanya gara-gara berhadapan dengan kijang."

Baru saja Laksmana berkata demikian, tiba-tiba terdengar lagi suara jeritan minta tolong yang menyerupai suara Sri Rama. Sita Dewi makin gelisah dan cemas. Katanya pada Laksmana dengan penuh khawatir, "Laksmana, segeralah keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi pada Sri Rama! Siapa tahu Sri Rama sedang menghadapi kesulitan!"

“Kanda Putri, Sri Rama telah berpesan padaku untuk menunggui dan menjaga Kakanda. Aku akan merasa sangat berdosa pada Sri Rama jika aku meninggalkan rumah ini dan kemudian terjadi sesuatu pada Kakanda."

Belum selesai Laksmana berkata, terdengar kembali suara jeritan minta tolong yang menyerupai suara Sri Rama. Sita Dewi semakin cemas dan kalut. Katanya pada Laksmana dengan nada tinggi, "Laksmana, apakah kamu berniat membunuh Sri Rama dengan sikapmu ini?”

"Kanda Putri, janganlah berpikir begitu! Aku teramat sangat yakin bahwa tidak akan ada manusia maupun binatang yang berani mengganggu Sri Rama!"

Suara jeritan minta tolong itu terdengar kembali. Dan, Sita Dewi pun makin cemas dan makin kesal pada Laksmana. Katanya pada Laksmana, "Laksmana, tahulah aku sekarang akan niat hatimu! Jika Sri Rama telah tiada, istrinya akan kamu ambil sebagai istri!"

Laksmana menangis mendengar perkataan Sita Dewi yang demikian itu. Katanya, "Aku menangis bukan karena dirimu, Kanda Putri! Aku menangis karena teringat bahwa Sri Rama mempertaruhkan keselamatan diri Kakanda kepadaku. Baiklah, Kakanda, aku akan pergi meninggalkan rumah ini untuk mengetahui keadaan Sri Rama."

Laksmana pun kemudian mengelilingi istana seraya jari kakinya menggores tanah sambil berucap, "Hai, bumi, kupertaruhkan dan kuserahkan keselamatan Sita Dewi kepadamu! Barang siapa melangkahi garis yang aku goreskan ini, palingkanlah olehmu!"

Beberapa saat kemudian, setelah Laksmana menjauh dari Sita Dewi dan tidak lagi terdengar suara langkah kakinya, Rawana pun datang menampakkan diri sebagai brahmana dan berdiri di hadapan Sita Dewi. Katanya, "Hai, Sita Dewi, berikanlah sesuatu padaku!"

“Brahmana, tak ada sesuatu pun padaku kecuali bunga di tanganku ini," kata Sita Dewi.

"Tak masalah, Sita Dewi! Barang apa pun yang kau berikan padaku akan aku ambil!"

Mendengar perkataan yang demikian itu, Sita Dewi pun mengunjukkan bunga di tangannya kepada Rawana. Akan tetapi, Rawana berkata, "Sita Dewi, aku tak dapat melangkahi goresan yang mengelilingi keratonmu ini! Cobalah ulurkan bunga itu kepadaku!"

Sita Dewi pun turun dari rumahnya dan melangkah ke halaman seraya tangannya mengulurkan bunga kepada Rawana yang menyamar sebagai brahmana. "Sita Dewi, aku tetap saja tidak dapat melangkahi garis itu. Berdirilah dirimu pada garis itu, dan ulurkanlah bunga di tanganmu kepadaku!"

Baru saja Sita Dewi berdiri pada garis seraya mengulurkan bunga di tangannya, Rawana langsung menyambar tangan Sita Dewi, dan kemudian menerbangkannya ke udara dengan menggunakan kereta terbangnya. Ketika disambar dan ditangkap oleh Rawana, Sita Dewi mengenakan kain berwarna kesumba. Sepanjang jalan Sita Dewi mencabik-cabik kain kesumba itu dan menyerakkannya ke tanah dengan maksud memudahkan Sri Rama mengikuti jejaknya.

Tatkala Rawana tengah menerbangkan Sita Dewi, seekor burung yang teramat besar—Jatayu namanya—melihatnya. Jatayu adalah anak seorang brahmana yang sangat sakti. Melihat Rawana tengah melarikan seorang perempuan yang teramat cantik dan molek dengan pakaian berwarna kesumba, Jatayu termenung sesaat. "Itu tampaknya Sita Dewi, istri Sri Rama," pikir Jatayu menduga-duga. Tanpa menyia-nyiakan waktu, Jatayu segera mengejar Rawana.

“Hai, Rawana, mengapa kamu larikan istri Sri Rama?! Bukankah kamu pernah berjanji untuk tidak akan berbuat onar dalam dunia ini?" hardik Jatayu pada Rawana.

“Hai, Jatayu! Aku telah memperoleh Sita Dewi yang aku idam-idamkan! Apa urusanmu sehingga kamu berusaha mengacak-acak yang telah aku peroleh ini?"

"Bukan begitu! Kamu sebagai maharaja telah menistakan martabatmu sendiri! Bukan raja namanya kalau pekerjaanmu merampok hak orang! Bukankah yang berhak atas Sita Dewi adalah Sri Rama? Kamu telah merampoknya dari Sri Rama dengan cara yang licik! Kelak kamu akan mati oleh tangan manusia dan kera yang akan membinasakanmu!"

Amarah Rawana meledak mendengar perkataan Jatayu. Keduanya bertempur dengan sengitnya. Jatayu mengeluarkan suara-suara yang dahsyat menyerupai bunyi guruh, halilintar, dan kilat. Rawana tak mau kalah, dia meraung mengeluarkan suara seperti gunung meletus-letus, Jatayu langsung memanah kepala Rawana pada kesempatan pertama. Kepala Rawana terpenggal terkena panah Jatayu dan terlempar ke bawah, tetapi dalam sekejap tumbuh

kembali kepala Rawana dari tubuhnya. Melihat kepala Rawana yang muncul kembali setelah terpenggal, Jatayu memanah tangan Rawana. Tangan Rawana putus dan terlempar ke bumi, tetapi dalam sekejap tangan Rawana tumbuh kembali pula. Dengan penuh amarah tangan Rawana yang telah tumbuh kembali itu menghantam bahu Jatayu. Jatayu pun robohlah dan langsung terpelanting ke bumi, Rawana segera berlalu dari tempat pertempuran.

Amarah Rawana meledak mendengar perkataan Jatayu. Keduanya bertempur dengan sengitnya.



Tatkala Jatayu telah sampai ke bumi, dia menggelepar-gelepar sekarat. Dia menatap langit sambil bermohon, "Dewata Mulia, pertemukanlah kiranya hamba ini dengan Sri Rama sebelum hamba ini mati." Pada saat yang bersamaan, dua ekor burung melintas di atas Jatayu yang tergeletak tak berdaya. "Hai, Jatayu, inilah upah orang yang usil dengan urusan orang lain," kata seekor burung. "Janganlah berkata demikian," kata burung yang lain, "kita ‘kan tak tahu duduk persoalannya. Lagi pula, kita semua pada akhirnya akan mati. Tak ada yang abadi di antara kita."

Jatayu sekali lagi bermohon dalam doanya, "Dewata Mulia, perkenankanlah hamba ini mati setelah hamba ini Kau pertemukan dengan Sri Rama."

Sementara itu, Sri Rama yang tengah memburu dua ekor kijang yang amat didambakan istrinya, Sita Dewi, tak kunjung menangkap kedua ekor kijang itu. Dua ekor kijang itu terus berlari menghindar kejaran Sri Rama. Sri Rama pun merasa dipermainkan oleh dua ekor kijang itu. Dengan rasa geram dipanahnya kedua kijang itu, hingga seketika keduanya langsung mati. Diambilnya sepotong kayu oleh Sri Rama, dan dengan kayu itu dipanggulnya kedua kijang yang telah mati itu. Ketika tengah berjalan ke istananya, tiba-tiba Sri Rama berpapasan dengan Laksmana. Dengan rasa terperanjat yang dalam, Sri Rama bertanya pada Laksmana, "Hai, Laksmana, mengapa kamu kemari? Di mana Sita Dewi kamu tinggalkan?”

Laksmana pun mengisahkan semua hal yang terjadi sepeninggal Sri Rama. Pada suatu saat Sita Dewi mendesaknya untuk mencari Sri Rama yang terdengar menjerit minta tolong sampai terdengar berulang-ulang. Mendengar penjelasan Laksmana itu, Sri Rama naik pitam. Kedua kijang yang tengah dipanggulnya itu diempaskannya ke tanah, dan kemudian dimintanya Laksmana untuk memanggul kedua kijang itu. Setengah berlari Sri Rama bergegas menuju ke istana, penasaran akan nasib yang menimpa Sita Dewi.

Sesampainya di istananya, tidak dilihatnya Sita Dewi, Sri Rama langsung bertanya pada dayang-dayang perempuan yang ada, "Kalian lihat ke manakah Sita Dewi pergi?"

Salah seorang dayang perempuan itu menjelaskan, "Saya tidak tahu ke mana perginya. Akan tetapi, sepeninggal Laksmana, seorang brahmana datang kemari dan melarikan Sita Dewi."

Sri Rama langsung pingsan setelah mendengarkan penjelasan dari salah seorang dayangnya. Empat hari empat malam dia tidak sadarkan diri. Pada hari kelima barulah Sri Rama membuka mata. Selama Sri Rama pingsan itu, Laksmana dengan setia duduk menunggui saudaranya—Sri Rama—sama sekali tanpa makan dan tidur barang sekejap pun.

"Laksmana," tanya Sri Rama begitu siuman dari pingsannya, "apakah telah kamu dengar kabar Sita Dewi?"

"Sama sekali belum! Bukankah aku di sini saja tak ke mana-mana, hanya menunggui Kakanda selama pingsan berhari-hari?" jawab Laksmana.

Wajah Sri Rama muram dan masygul. "Baru sekarang aku mengalami dan merasakan kehilangan orang yang paling aku cintai," keluh Sri Rama.

"Kakanda, ayolah kita cari Sita Dewi sekarang juga! Semakin lama kita berdiam diri, kita akan semakin kehilangan jejak!" kata Laksmana yang langsung membuyarkan kemasygulan Sri Rama.

Sri Rama pun bangkit dari kemuramannya. Berdua dengan Laksmana, ia berusaha menemukan jejak Sita Dewi dengan menjelajah hutan belantara, mengarungi sepi dan gelap malam, dan membiarkan rasa lapar dan dahaga menggempur perut mereka berdua.

"Kakanda, ini cobaan dari Dewata Mulia! Tabahlah!" kata Laksmana memecah kesunyian belantara yang mereka lalui.

"Ya, nasib kita memang berada di tangan kuasa Dewata Mulia. Cuma aku tak habis mengerti, kenapa harus kehilangan orang yang paling aku cintai? Untukku, Sita Dewi bukanlah sembarang perempuan, wajahnya sangat cantik, dan budinya teramat halus. Sebagai perempuan, Sita Dewi teramat sempurna! Sulit bagiku untuk menemukan perempuan yang seperti Sita Dewi! Barangkali, di dunia ini tak ada duanya!" kata Sri Rama dengan muka kuyu.

•••

DUA
SRI RAMA MENCARI SITA DEWI

Satu purnama telah terlampaui. Telah puluhan hari Sri Rama dan Laksmana menjelajahi hutan belantara, gunung, lembah, dan ngarai, tetapi Sita Dewi belum juga terdengar kabar beritanya. Selama penjelajahan untuk mencari Sita Dewi itu, Sri Rama tak menemukan satu pun makhluk hidup untuk bertanya, entah itu manusia ataupun binatang.

Sri Rama nyaris putus asa, tetapi cintanya pada Sita Dewi mengalahkan segalanya. Ketika Sri Rama dalam keadaan nyaris putus asa itu, tiba-tiba saja dia menemukan cabikan kain kesumba milik Sita Dewi. Matanya berbinar-binar menyaksikan cabikan kain Sita Dewi, dan semangatnya yang nyaris surut bangkit kembali. "Cabikan kain ini paling tidak menunjukkan Sita Dewi masih ada, tetapi entah di mana," pikir Sri Rama.

Sri Rama dan Laksmana terus saja melangkahkan kaki mereka untuk menemukan Sita Dewi. Beberapa ratus meter mereka berdua melangkah, mereka kembali menyaksikan cabikan kain kesumba milik Sita Dewi. Sri Rama merasa gamang. "Isyarat apa ini?" tanyanya dalam hati dengan perasaan kalut. "Apakah Sita Dewi sengaja mengisyaratkan jejaknya dengan cabikan kainnya? Ataukah Sita Dewi telah diperkosa orang sehingga kain yang dikenakannya tercabik-cabik?"

Saat pikiran Sri Rama kalut mencoba menafsirkan cabikan kain Sita Dewi, tiba-tiba ia menyaksikan seekor burung jantan tengah bertengger di atas pokok kayu bersama keempat bininya. "Hai, burung!" sapa Sri Rama pada kelima ekor burung itu. "Apakah kalian melihat istriku dilarikan orang, atau apakah kalian dengar kabar berita istriku?"

"Kamukah yang bernama Sri Rama itu?" tanya burung pada Sri Rama.

"Ya, akulah Sri Rama."

"Hai, Sri Rama, namamu termasyhur ke mana-mana. Kamu berdua bersaudara hanya dengan seorang istri, tetapi istrimu tak terurus olehmu, bahkan sampai dibawa kabur orang; sedangkan aku yang hanya burung, keempat biniku semuanya kuberi makan dan semuanya kupeliharakan."

Sri Rama merasa kesal dan sakit hati dengan perkataan burung itu, lalu katanya, "Hai, burung, kamu bukannya merasa iba dan kasihan dengan nasibku yang tengah tertimpa musibah, malah kamu hina aku dengan perkataanmu itu! Hai, burung, mudah-mudahan kamu tak bisa melihat lagi keempat binimu, sebagaimana aku tak bisa lagi berdekatan dengan istriku karena istriku telah diculik orang!"

Seketika mata burung jantan itu pun butalah hingga tak mampu lagi memandangi keempat bininya yang disayanginya. Sri Rama terheran-heran menyaksikan perkataannya mampu membutakan mata si burung jantan yang takabur itu. Akan tetapi, rasa heran Sri Rama tak lama. Dia segera beranjak meninggalkan si burung jantan yang telah buta itu, melanjutkan perjalanannya bersama Laksmana mencari Sita Dewi, sang istri tercinta.

Setelah berjalan beberapa lama bertemulah Sri Rama dengan seekor burung bangau yang sedang minum air pada sebuah danau. Sri Rama pun bertanya pada burung bangau itu, "Hai, bangau, apakah kamu lihat istriku Sita Dewi dilarikan orang?”

“Aku tiada tahu," kata bangau itu, "tetapi beberapa waktu yang lalu ketika aku tengah minum pada air danau ini kulihat pada permukaan air danau bayang-bayang kereta terbang. Aku pun penasaran dan menoleh ke atas, dan kulihat Maharaja Rawana tengah bersama seorang perempuan yang teramat elok rupanya dengan kereta terbangnya. Perempuan itu berkain kesumba, dan kain itu kemudian disobeknya sedikit demi sedikit lalu sebagian sobekan kain itu disebarkannya di atas danau. Aku tak tahu apa maksudnya."

Sri Rama merasa berterima kasih dengan keterangan yang diberikan oleh burung bangau itu. Katanya, "Hai, bangau! Keteranganmu sungguh berharga untukku! Dengan keteranganmu tadi aku merasa mendapatkan petunjuk untuk menemukan istriku, Sita Dewi. Nah, bangau, apa pun yang kamu inginkan akan aku mohonkan pada Dewata Mulia agar terkabul. Bangau, sekarang sebutlah apa yang kamu inginkan?”

"Aku hanya ingin leherku panjang," jawab bangau itu. “Bila leherku panjang, aku akan mudah mencari makan di danau.”

"Hai, bangau, jika kumohonkan keinginanmu dalam doaku, kelak kamu akan menyesal," kata Sri Rama.

"Ya, jika bangau berleher panjang, dengan mudah orang akan menjerat lehernya," kata Laksmana menimpali.

"Akan tetapi terserah saja!" kata Sri Rama pada akhirnya. "Bangau, aku tak akan ingkar janji untuk memohonkan apa pun keinginanmu.”

Setelah berkata demikian, Sri Rama pun berdoa memohon pada Dewata Mulia. Seketika leher bangau pun memanjang. Sri Rama dan Laksmana pun langsung beranjak meninggalkan si bangau yang telah terkabul keinginannya.

Sepeninggal Sri Rama dan Laksmana datang seorang anak ke danau itu. Dilihatnya leher bangau itu yang teramat panjang menyerupai ular. Tanpa pikir panjang si anak langsung menjerat leher bangau itu, dan bangau itu oleh si anak dibawanya ke pasar hendak dijual. Ketika bangau itu akan dijual di pasar, kebetulan Sri Rama dan Laksmana tengah melintas depan pasar. Si bangau langsung merengek, "Paduka Sri Rama, masihkah Paduka mengenaliku?"

"Aku tak tahu!" jawab Sri Rama singkat.

"Bukankah itu bangau yang saat bertemu dengan Kakanda mengabarkan Sita Dewi, dan setelah itu, ia meminta pada Kakanda untuk memanjangkan lehernya? Kakanda kemudian bermohon pada Dewata Mulia, hingga leher bangau itu pun panjangilah!" kata Laksmana mengingatkan riwayat si bangau pada Sri Rama.

Setelah mendengar penjelasan Laksmana itu, Sri Rama pun memanggil si anak yang akan menjual bangau. Diberinya anak itu sebentuk cincin, dan dimintanya bangau itu darinya. Tanpa ragu si anak menyerahkan bangau itu kepada Sri Rama, dan Sri Rama pun langsung melepaskan bangau itu.

"Beginilah jadinya kalau berleher terlalu panjang!" celetuk Sri Rama pada si bangau.

Mendengar perkataan Sri Rama yang demikian itu, burung bangau hinggap di sisi Sri Rama. "Apa lagi yang akan kamu pinta?" tanya Sri Rama.

"Apa pun anugerah Paduka akan aku junjung," kata bangau itu pasrah.

“Kalau begitu katamu, moga-moga Dewata Mulia menganugerahi hidupmu! Dan, untuk memperoleh anugerah Dewata Mulia, duduklah kamu pada sebuah batu di bawah naungan pokok kayu, empat ekor bangau yang lain akan senantiasa mengantarmu makan tiap pagi dan petang!"

"Terima kasih, Paduka! Aku akan selalu ingat akan anugerah yang Paduka limpahkan kepadaku," ucap bangau itu pada Sri Rama seraya melompat terbang. Sri Rama dan Laksmana pun melanjutkan perjalanan untuk mencari dan menemukan Sita Dewi.

Karena terlalu lama berjalan, Sri Rama merasa teramat dahaga. Katanya, “Laksmana, cobalah cari air!"

Laksmana kebingungan. Tanyanya, "Di mana harus kucari air, Kakanda? Bukankah di sekitar sini hanya bukit dan belantara?"

"Hai, Laksmana, akan kubidikkan anak panah ini! Ikutilah olehmu arah anak panah ini, di tempat anak panah ini jatuh di situ akan ada air!" kata Sri Rama sembari melepaskan anak panahnya.

Laksmana mengikut arah anak panah, yang ternyata jatuh di suatu sungai yang airnya tawar. Dengan sehelai daun kayu jati yang dijadikan sebagai timba, Laksmana menimba air sungai itu, kemudian dibawa dan diberikannya kepada Sri Rama, termasuk pula anak panah Sri Rama. Ketika akan meminum air yang dibawa Laksmana itu, Sri Rama mencium bau busuk. "Hai, Laksmana, dari mana kamu ambil air ini?" tanya Sri Rama.

"Air ini aku ambil dari tempat jatuhnya anak panah sebagaimana pesan Kakanda kepadaku," jawab Laksmana.

“Kalau begitu, antarkan aku ke tempat itu!"

Berjalanlah Sri Rama dan Laksmana ke tempat jatuhnya anak panah Sri Rama. Di tempat itu Sri Rama mencium bau busuk yang mendesak-desak ke hidungnya. "Laksmana," kata Sri Rama, "di hulu sungai ini aku pikir ada binatang besar yang mati sehingga air sungai ini berbau busuk. Ayo, Laksmana, kita telusuri hingga ke hulu sungai ini!"

Ternyata benar dugaan Sri Rama. Di hulu sungai itu mereka berdua menyaksikan seekor burung yang teramat besar—menyerupai bukit—tengah menjelang ajal. Sayap burung itu yang sebelah rontok. Burung itu dikenal oleh Sri Rama. Ia pun bertanya dengan penasaran, "Hai, Jatayu, kenapa kamu jadi begini?”

“Hai, Sri Rama, aku jadi begini karena Paduka," jawab Jatayu.

"Karena aku? Gara-gara aku kamu jadi begini?"

"Sayapku ini patah karena melawan Maharaja Rawana yang melarikan istri Paduka, Sita Dewi. Aku mencoba merebut Sita Dewi dari tangan Rawana, tetapi dia tak menyerahkannya sehingga peranglah aku melawan dia. Aku pagut kepalanya hingga putus, tetapi kepalanya langsung tumbuh kembali menggantikan kepalanya yang telah terputus itu. Aku coba lagi memagut kepalanya hingga putus, tetapi kepalanya senantiasa tumbuh kembali. Begitu berulang-ulang. Lalu aku pagut tangannya hingga putus, tetapi tangan Rawana itu serupa kepalanya, selalu tumbuh kembali setelah terputus. Aku kewalahan menghadapi Rawana, dari tengah hari hingga petang aku bertanding melawannya. Akhirnya, bahuku dipukulnya dengan teramat keras hingga sayapku patah, dan aku terjatuh ke bumi. Aku merasa sekarat, tetapi aku bermohon pada Dewata Mulia untuk dipertemukan dengan Paduka Sri Rama terlebih dahulu sebelum ajal menjemputku, karena aku ingin mengabarkan pada Paduka jikalau istri Paduka—Sita Dewi—dilarikan Rawana. Doaku agaknya terkabul karena sekarang ini telah dipertemukan dengan Paduka. Aku hanya bermohon pada Paduka, jika aku mati nanti bakarlah jasadku."

Selesai berkata demikian itu, Jatayu langsung mati setelah sekian lama menunggu ajal dan menanggungkan penderitaan. Sri Rama dan Laksmana pun menimbunkan kayu ke tubuh Jatayu, lalu membakarnya.

Telah dua purnama Sri Rama dan Laksmana menyisiri berbagai hutan belantara untuk menemukan jejak Sita Dewi. Sri Rama merasa bagaikan merambati benang kusut yang tak berujung. Akan tetapi, keterangan Jatayu bahwa Sita Dewi dilarikan Rawana membersitkan harapan pada hati Sri Rama, dan makin menguatkan tekadnya untuk menemukan dan mendapatkan kembali Sita Dewi, istri tercintanya.

Tibalah saatnya Sri Rama tak mampu lagi melawan rasa letih dan lelah setelah berpuluh-puluh hari menjelajahi belantara mencoba menemukan Sita. Katanya pada saudaranya, "Hai, Laksmana, aku merasa teramat letih setelah berjalan tak henti-hentinya. Duduklah bersandar di bawah pohon asam ini! Aku ingin sekali tidur untuk menghilangkan rasa letih."

Laksmana pun duduk bersandar pada pohon asam memenuhi permintaan Sri Rama, dan Sri Rama pun tidur dalam pangkuan Laksmana. Karena terlalu letihnya, Sri Rama tertidur empat hari empat malam. Selama Sri Rama tertidur empat hari empat malam itu, Laksmana sedikit pun tidak menggerakkan pahanya yang menjadi alas tidur Sri Rama. Dia juga tidak menggerakkan tubuhnya; yang dilakukannya semata-mata hanya menunggui dan menjaga saudaranya yang tengah tertidur itu.

"Wah, setia dan sayang sekali orang itu pada saudaranya! Empat hari empat malam dia tidak menggerakkan paha dan tubuhnya agar tidak mengusik saudaranya yang tengah tertidur," gumam Sugriwa yang tengah bertengger di atas pohon asam dan diam-diam menyaksikan kedua bersaudara itu. Sugriwa pun menangis teringat akan saudaranya, Subali. Air matanya menetes menjatuhi dada Sri Rama yang tertidur pulas di pangkuan Laksmana. Sri Rama terbangun dan dengan rasa terkejut dipandanginya Laksmana. "Hai, Laksmana," katanya, "kenapa kamu menangis? Apakah kamu menyesal telah menyertaiku mencari Sita Dewi? Kalau kamu menyesal telah menyertaiku, aku bersedia mengantarmu pulang kembali ke ayahanda agar kamu dapat hidup tenang dan tenteram. Biarlah aku sendiri tak tentu rimbanya mencari istriku, Sita Dewi!”

"Mengapa tiba-tiba Kakanda berkata demikian?” tanya Laksmana keheranan. "Sekalipun ada berbagai rintangan yang akan menghadang kita, aku akan tetap setia menyertai Kakanda mencari Sita Dewi. Daripada aku berpisah dengan Kakanda, lebih baik aku mati di sini saja!"

Seusai berkata demikian itu, Laksmana pun bermohon dalam doanya: "Dewata Mulia, hendaklah Engkau memperlihatkan kebesaran-Mu pada diri hamba-Mu ini!" Sesaat kemudian, seusai Laksmana memanjatkan doanya itu, daun pohon asam itu pun luruh. Daun asam yang semula besar-besar seperti daun birah berubah menjadi berbelah-belah dan berkeping-keping karena doa Laksmana.

Setelah daun asam itu berbelah-belah dan berkeping-keping, Sugriwa yang berada di puncak pohon asam itu terlihat oleh Sri Rama, yang kemudian menyuruhnya turun. Sugriwa pun turun dari puncak pohon asam, dan langsung menyembah kaki Sri Rama.

"Siapa kamu ini?" tanya Sri Rama.

"Aku ini Sugriwa, adik Subali,” jawab Sugriwa. "Ketika berada di puncak pokok asam tadi, kulihat Paduka dua bersaudara hidup rukun dan saling menyayangi. Aku pun tak mampu lagi menahan tangisku, teringat akan saudaraku. Yang menetes di dada Paduka itu tadi adalah air mataku."

“Hai, Sugriwa, katakanlah padaku apakah kejahatan yang telah dilakukan saudaramu terhadap dirimu itu?"

"Ya, Paduka Sri Rama, paras istriku cantik adanya. Oleh saudaraku, istriku direbut, lalu aku diusirnya. Aku ditangkapnya, kemudian aku dilemparkannya hingga aku tercampak di pohon asam ini."

"Jika demikian nasibmu," kata Sri Rama, "bersetialah padaku, kelak akan aku upayakan untuk mendapatkan istrimu kembali agar bisa bersamamu."

"Jika Paduka benar-benar mau mengembalikan istriku dari tangan saudaraku kepadaku, maka apa pun yang akan Paduka lakukan akan aku dukung. Aku bisa mengerahkan rakyatku yang banyak," kata Sugriwa.

“Hai, Sugriwa, bolehkah aku ke negerimu supaya aku bisa membantumu?"

“Paduka, besok saja kita berangkat."

Sementara itu, dalam hatinya Sugriwa berpikir, “Saudaraku itu bukan main kuatnya, lagi pemberani! Maharaja Rawana yang amat perkasa saja tak mampu melawan Subali! Kati Bucara yang bertangan seribu dan berkaki enam ribu dengan gampang juga dibunuh oleh saudaraku, Subali. Sri Rama ini masih muda, masih tampak kanak-kanak. Mampukah dia menundukkan Subali? Baiklah, kalau begitu akan kucoba dulu Sri Rama karena Sri Rama belum terbukti perkasa, sedangkan Subali saudaraku itu jelas-jelas perkasa dan sulit ditandingi."

Setelah berpikir demikian, Sugriwa berkata pada Sri Rama, "Paduka, maukah Paduka bertamasya ke suatu hutan? Dalam hutan itu ada tujuh pohon nangka, masing-masing pohon itu besarnya tujuh pelukan orang dewasa. Nangka itu tumbuh di belakang ular, ketika ular itu membujur ke pohon nangka, maka pohon nangka itu akan tampak berbaris-baris: dan jika ular itu melingkar di pohon nangka, maka pohon nangka itu akan tampak berkeliling."

"Baik, Sugriwa! Besok saja kita ke sana, setelah dari sana aku akan membunuh saudaramu yang keji itu!"

Keesokan paginya Sri Rama, Laksmana, dan Sugriwa berjalan menuju ke hutan ular itu. Tampaklah oleh Sri Rama ular itu sedang melingkar. Ular itu diinjaknya dan menggeliat-geliat kesakitan. Lalu ular itu membujurkan dirinya sehingga pohon nangka itu pun tampak berbaris-baris. Sri Rama langsung membidikkan anak panahnya, dan tujuh pohon nangka itu pun langsung luluh lantak berkeping-keping. Sugriwa terheran-heran menyaksikan kesaktian anak panah Sri Rama. Akan tetapi, dia masih meragukan keperkasaan Sri Rama. Diajaknya Sri Rama ke suatu hutan yang bernama Tulas. Di hutan Tulas itu Sri Rama melihat tulang raksasa yang membentang dari bumi hingga ke angkasa.

"Tulang apakah ini?" tanya Sri Rama.

“Paduka, itu tulang raksasa yang bernama Kati Bucara. Kepalanya ada tiga ribu, tangannya enam ribu dan kakinya pun enam ribu; sementara bini raksasa itu juga enam ribu. Suatu ketika Kati Bucara diserang oleh Maharaja Rawana; dan karena kewalahan berhadapan dengan Rawana, dia kabur melarikan diri. Akan tetapi, tak berapa lama kemudian, Kati Bucara bertemu dengan Subali, saudaraku itu. Berperanglah keduanya, dan Kati Bucara—raksasa itu—mati terbunuh oleh saudaraku. Paduka, luluh lantakkanlah tulang raksasa itu dengan panah Paduka!"

"Aku tak akan memanah tulang itu, karena panahku tidak untuk demikian!" kata Sri Rama seraya ibu jari kakinya mengungkit tulang raksasa itu hingga terlempar dan terjatuh ke tengah laut.

Sugriwa pun bersujud di hadapan Sri Rama setelah menyaksikan kesaktian dan keperkasaan Sri Rama. Katanya, "Paduka, sekarang aku yakin Paduka mampu mengalahkan dan membunuh saudaraku yang keji itu! Terus terang, ketika Paduka berjanji padaku akan membunuh saudaraku itu, timbul keraguan dalam hatiku, kalau-kalau Paduka tidak mampu mengalahkan dan membunuh saudaraku itu karena dia terlalu perkasa. Karena itu, aku ingin mencoba Paduka dengan mengajak Paduka ke hutan ini. Sekarang aku telah menyaksikan keperkasaan dan kegagahan Paduka. Ternyata Paduka lebih gagah dan lebih perkasa daripada saudaraku itu.”

Mendengar perkataan Sugriwa itu, Sri Rama hanya tersenyum. Katanya, "Hai, Sugriwa, bawalah aku kepada saudaramu itu!"

Sugriwa pun mengantar Sri Rama dan Laksmana berjalan menuju ke negeri Lakurkatakina. Di tengah perjalanan Sri Rama berpesan pada Sugriwa, "Sugriwa, pancinglah saudaramu keluar dari singgasananya, dan kemudian bertarunglah melawannya! Saat kamu tengah bertarung melawan saudaramu itu, aku akan memanah saudaramu!"

Sugriwa pun pergi ke istana Subali dan menyeru-nyeru namanya. Subali yang mengenali suara Sugriwa langsung keluar dani singgasananya. Dilihatnya Sugriwa tengah berdiri di tanah lapang depan istana. Dihampirinya Sugriwa, ditangkapnya leher Sugriwa, diempaskannya Sugriwa hingga mengucur darah dari mulut Sugriwa. Sugriwa yang merasa tidak mampu menandingi Subali segera berlari ke hutan berusaha meminta bantuan Sri Rama.

"Paduka," kata Sugriwa sembari menyembah Sri Rama, "bukankah Paduka Sri Rama telah berjanji akan membantuku? Akan tetapi kenapa Paduka berdiam diri ketika aku hampir luluh lantak diterjang Subali?"

"Tadi aku lihat kalian berdua serupa," kata Sri Rama. "Aku khawatir anak panahku salah alamat. Jika kupanah saudaramu, aku takut kamu yang terkena. Kalau begitu, sekarang punggungmu akan aku tandai!"

Sri Rama pun mengambil air pinang dan dibubuhkannya pada punggung Sugriwa. Katanya pada Sugriwa, "Nah, sekarang pulanglah! Ajaklah saudaramu, Subali, berperang tanding!"

Sugriwa langsung kembali ke istana Subali, dan dengan sesumbar berteriak-teriak menantang Subali. Subali—yang tengah menikmati kicau burung perkutut di istananya—naik pitam mendengar Sugriwa berteriak-teriak menantang. Dia langsung turun dari singgasananya, dan kemudian diterjangnya Sugriwa dengan pukulannya. Dua bersaudara itu berpukul-pukulan dengan sengit. Saat dua bersaudara itu tengah bertarung dengan sengit, tiba-tiba sebuah anak panah meluncur ke arah Subali. Dengan sigap Subali menangkap anak panah yang nyaris saja memangsa dirinya.

"Siapa yang memanah aku ini?” teriak Subali.

Sri Rama langsung keluar dari hutan dan menampakkan dirinya seraya berkata, "Akulah Sri Rama yang memanah kamu tadi!"

“Hai, Sri Rama!" kata Subali, "kamulah anak raja yang terkenal bangsawan, hartawan, dan dermawan. Namamu telah termasyhur di mana-mana. Apa sebabnya maka kamu panah diriku yang tak bersalah ini?"

"Kata saudaramu, kamu telah menganiaya dia!’

"Hai, Sri Rama, mengapa kamu dengar perkataan orang yang dusta dan sesat?"

"Karena dia berjanji akan membantu semua rencanaku."

"Bagaimana Sugriwa akan mampu membantu dan melaksanakan rencanamu itu?" kata Subali, "sedangkan aku tanpa kenal lelah akan membantumu merebut kembali istrimu, Sita Dewi, dari tangan Rawana!"

"Jika sungguh katamu itu, sekarang kembalikanlah anak panahku kepadaku!" kata Sri Rama.

"Aku tak mungkin mengembalikan anak panah ini, karena anak panah ini kelak akan memangsaku juga! Jika aku hidup pun rasanya tak ada lagi gunanya. Barangkali lebih baik mati saja daripada hidup sebagai raja tetapi menanggung aib. Hanya satu permintaanku: jika aku mati di tanganmu, sudilah kamu memandikan jasadku dan kemudian membakar jasadku. Hanya dengan begitu, kelak aku akan masuk surga setelah mati.”

Mendengar perkataan Subali itu, Sri Rama hendak mengambil kembali anak panahnya dari tangan Subali, tetapi Subali tidak memberikannya. Subali menjatuhkan anak panah itu ke tanah. Anak panah itu pun langsung terbang melejit ke angkasa begitu lepas dari genggaman tangan Subali, dan kemudian menukik ke bawah menikam dada Subali. Subali pun seketika roboh. Sembari berpegang pada tangan Sri Rama, Subali menyampaikan pesan terakhirnya: "Hai, Sri Rama, jika kamu sungguh laki-laki, teguhkanlah dan laksanakan janjimu padaku!"

"Janji apa yang kamu minta padaku?" tanya Sri Rama.

"Pertama, istriku janganlah kamu serahkan kepada Sugriwa. Kedua, hendaklah kamu mengasihi kedua anakku, Anila dan Anggada. Adapun Sugriwa itu, dia tak akan pernah mewujudkan rencanamu karena dia hanyalah seorang pendusta. Adapun yang akan melaksanakan semua rencanamu adalah Hanuman, anak salah seorang saudaraku. Moga-moga semua rencanamu akan terwujud olehnya."

Setelah meninggalkan pesan terakhirnya pada Sri Rama, Subali pun melepaskan genggamannya pada tangan Sri Rama. Sesaat kemudian Subali pun matilah. Saat melepas nyawa itu, dari kepala Subali terbit sinar seperti batang nyiur yang menjulang ke langit. Sri Rama pun segera menyandarkan jasad Subali pada Sugriwa, dan kemudian memangkukannya pada Laksmana. Baru setelah itu Sri Rama membasuhkan air pada jasad Subali, dan kemudian membakarnya dengan bara api kayu cendana.

Seusai pembakaran jasad Subali, Sri Rama, Laksmana, dan Sugriwa berjalan beriringan menuju istana Subali. Ribuan kera menyambut mereka bertiga sesampainya di istana Subali. Rakyat kera itu mengelu-elukan Sri Rama sebagai maharaja yang dituakan.

•••

TIGA
SRI RAMA MENGUTUS HANUMAN

Berita kematian Subali telah beredar luas di kalangan rakyat kera itu. Melalui musyawarah akhirnya mereka sepakat menerima Sugriwa sebagai pengganti Subali. Rakyat kera pun berkumpul di balairung istana merayakan naik takhtanya Sugriwa di negeri Lakurkatakina.

Sri Rama dan Laksmana pun berada di tengah-tengah rakyat kera yang tengah berkumpul itu. Sri Rama membawa seceper sirih dan menyodorkannya kepada Laksmana seraya berkata, "Laksmana, bawalah sirih ini kepada segala raja kera yang tengah berkumpul di sini. Katakan pada mereka, barang siapa dapat menemukan Sita Dewi yang berada di Langkapuri dengan melompat tiga bulan perjalanan, dia berhak atas sirih seceper ini!"

Laksmana pun melaksanakan permintaan Sri Rama. Satu per satu raja-raja kera itu ditanyanya, tetapi di antara mereka tidak ada yang sanggup melompat tiga bulan perjalanan ke Langkapuri. Mereka hanya mampu melompat antara lima belas hari hingga sebulan perjalanan ke Langkapuri.

Sri Rama tiba-tiba teringat pada Hanuman yang dikatakan Subali dalam pesan terakhirnya. "Mana anak Sugriwa yang bernama Hanuman itu?"

"Itu Hanuman, kera kecil yang duduk di ujung balairung ini," kata Sugriwa. "Mukanya buruk dan tubuhnya berlumur kotoran hingga dia tiada kuajak ke hadapan Yang Mulia."

Rama pun menyuruh Laksmana untuk memanggil Hanuman. Hanuman segera duduk bersimpuh di hadapan Sri Rama. Sri Rama mengamat-amati Hanuman yang berada di hadapannya dan melihat di telinga Hanuman terdapat anting-anting. Sri Rama pun teringat akan kelakuannya ketika berada di rimba Kala Sehari Bunting. Dengan berbisik Sri Rama berkata pada Laksmana, "Ya, Laksmana, Hanuman ini anakku rupanya. Aku bisa mengenalinya dari anting-anting yang dipakainya."



"Tampaknya memang begitu," kata Laksmana. "Sebaiknya Kakanda tanyakan saja pada Sugriwa."

Sri Rama pun bertanya pada Sugriwa, "Hai, Sugriwa, siapakah ibu Hanuman ini?"

"Ibu Hanuman adalah kakak saya yang bernama Dewi Anjani," jawab Sugriwa.

"Nama bapaknya?"

"Oh, Hanuman tiada berbapak! Kakak saya itu bertapa di tengah laut bertumpu pada ribuan jarum selama seratus tahun. Selama bertapa itu mulutnya senantiasa ternganga, dan barang apa pun yang masuk ke mulutnya dimakannya. Suatu saat, dengan anugerah Dewata Mulia bertiuplah angin Bayu Bata. Angin Bayu Bata kemudian meniupkan setetes embun ke dalam mulut Dewi Anjani. Mulut Dewi Anjani pun terkatup, dan akhirnya dia hamil. Setelah usia kehamilannya genap bulannya, beranaklah Dewi Anjani akan Hanuman."

Sri Rama tersenyum-senyum seusai mendengarkan penjelasan Sugriwa. Kemudian dia berbisik pada Laksmana, "Nyata benar kalau Hanuman itu anakku, tetapi jangan kamu sebarkan ke mana-mana, karena aku malu beranakkan kera."

"Tenang saja, Kakanda," kata Laksmana, "aku akan tutup mulut soal ini!”

Sri Rama pun kemudian bertanya kepada Hanuman, "Hai, Hanuman, sanggupkah kamu melompat tiga bulan perjalanan ke Langkapuri untuk melihat keadaan Sita Dewi?"

"Mudah-mudahan aku sanggup," jawab Hanuman, "tetapi ada satu permintaanku."

"Apa permintaanmu itu, Hanuman? Katakanlah, agar aku dapat memberikannya kepadamu."

"Jika Paduka berkenan, aku ingin sekali makan sedaun dengan Yang Mulia."

Sri Rama diam tertunduk mendengar permintaan Hanuman yang demikian itu.

"Penuhi saja permintaan Hanuman," bisik Laksmana. "Siapa tahu semua rencana Kakanda untuk menemukan kembali Sita Dewi akan berjalan mulus bila Kakanda memenuhi permintaan Hanuman."

Sri Rama masih diam tertunduk. Kemudian katanya pada Hanuman, "Hai, Hanuman, aku mau saja makan sedaun denganmu, tetapi pergilah dulu ke pusat tasik dan mandilah di sana. Setelah itu bawa olehmu tanda bahwa kamu telah mandi di pusat tasik."

Hanuman meloncat kegirangan mendengar perkataan Sri Rama. Katanya, "Aku akan segera ke pusat tasik untuk mandi!"

Beberapa saat kemudian Hanuman telah berada kembali di hadapan Sri Rama. Bulu-bulunya tampak basah, sementara tangan kanannya menggenggam sembilan batu permata yang berkilauan dan tangan kirinya memegang sembilan macam kembang yang teramat harum. Dipersembahkannya segala yang dibawanya itu kepada Sri Rama.

"Hai, Hanuman," kata Sri Rama, "tampaknya kamu benar-benar telah mandi di pusat tasik. Karena itu, sekarang makanlah sedaun bersamaku dan Laksmana.”

"Sekarang aku merasa lebih kuat setelah makan sedaun dengan Paduka," kata Hanuman. "Apa pun yang Paduka titahkan kepadaku akan aku laksanakan!"

"Hai, Hanuman," kata Sri Rama, "hendaknya pada hati dan jiwamu kamu merasa sebagai anakku! Karena, bukankah aku telah menjadikanmu dari tubuhku? Akan Sita Dewi, anggaplah dia ibumu yang melahirkanmu."

Seusai berkata demikian, Sri Rama mengambil sebentuk cincin dan diserahkannya kepada Hanuman. Katanya, "Jika Sita Dewi meragukan dirimu, perlihatkanlah cincin ini kepadanya. Dia pasti mengenali kalau cincin itu berasal dari diriku."

Hanuman pun mengulum cincin yang baru diterimanya dari Sri Rama, lalu bertumpu pada pokok kayu yang besar hendak melompat. Akan tetapi, baru saja dia hendak melompat, pokok kayu itu roboh. Hanuman pun lalu bertumpu pada sebuah batu besar. Baru saja dia berancang-ancang hendak melompat, batu besar itu pun terbongkar dari tempatnya terbenam. Hanuman pun mencoba bertumpu pada bumi hendak melompat, tetapi baru saja dia berancang-ancang hendak melompat, tubuhnya langsung terbenam ke dalam tanah hingga lehernya.

"Ya, Paduka, bagaimana aku akan melompat? Tiap kali mencoba melompat, tenagaku terasa habis seperti tersedot," keluh Hanuman pada Sri Rama.

“Hai, Hanuman," kata Sri Rama, "cobalah bertumpu pada lenganku!"

Hanuman pun bertumpu pada lengan Sri Rama dan menghadap ke arah negeri Langkapuri. Kemudian melompatlah Hanuman ke negeri Langkapuri. Dia terjatuh di rumah seorang maharesi, Kipabara namanya.

"Paduka maharesi, di manakah letak negeri Langkapuri?" tanya Hanuman.

"Dari sini sekitar dua belas hari perjalanan jauhnya," jawab sang maharesi.

"Bolehkah aku minta tolong padamu, Paduka maharesi? Aku ingin ada seseorang yang mengantarku ke negeri Langkapuri. Aku takut salah jalan dan tersesat."

"Kalau begitu, berangkatlah besok! Akan aku suruh seseorang untuk mengantarmu ke negeri Langkapuri."

Beberapa lama berjalan sampailah Hanuman di negeri Langkapuri, dan orang yang mengantarnya ke negeri Langkapuri pulang kembali. Hanuman segera menjadikan dirinya sebagai seorang brahmana, dan berjalan menuju perigi. Dia duduk di sekitar perigi. Ketika duduk itu, Hanuman melihat empat puluh orang perempuan mengangkat air dengan tempayan emas. Dia bertanya pada salah seorang perempuan itu, "Untuk siapa air yang kalian ambil ini?"

"Hai, Brahmana," jawab si pengambil air, "kami mengambil air ini untuk Sita Dewi, istri Sri Rama yang dilarikan maharaja Rawana. Air ini untuk air mandinya."

Di antara sekian banyak tempayan air itu, salah satunya kemudian dimantrai oleh Hanuman. Tempayan yang dimantrai oleh Hanuman itu tidak terangkat oleh si pembawa air, sementara pembawa air yang lain telah mengangkut tempayannya masing-masing.

"Paduka Brahmana, tolonglah aku ini!" kata si pembawa air yang tempayannya telah dimantrai oleh Hanuman. "Aku takut Sita Dewi gusar padaku, karena aku yang paling lambat mengantarkan air kepadanya."

"Baiklah," kata Hanuman, "akan aku bantu mengangkatkan tempayan air ini.”

Hanuman pun bangkit dari duduknya, kemudian mengangkat tempayan air itu. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Hanuman. Cincin dari Sri Rama yang selama ini dikulumnya di dalam mulutnya langsung diludahkannya ke dalam tempayan air itu tanpa diketahui oleh si pembawa air.

Ketika Sita Dewi tengah mandi, dia menyaksikan sebentuk cincin terjatuh di depannya. Dipungutnya cincin itu dan diamat-amatinya. Lalu dikenakannya cincin itu ke jari manisnya. "Cincin ini cincin Sri Rama," kata Sita Dewi dalam hati.

Sita Dewi merasa penasaran dengan cincin Sri Rama yang tiba-tiba ditemukannya. Dia pun bertanya pada dayang pembawa air, "Hai, dayang pembawa air, saat kamu mengambil air ini siapa berada di dekatmu?"

“Paduka Tuan Putri, seorang brahmana berada di dekatku ketika aku sedang mengambil air itu. Dia duduk di bawah pohon maja," kata dayang pembawa air.

“Hai, dayang, pergilah dan panggillah brahmana itu kemari!"

Brahmana itu pun—yang tak lain Hanuman—segera datang menghadap Sita Dewi setelah dayang pembawa air memanggilnya. "Hai, Brahmana, duduklah mendekat kemari!" kata Sita Dewi pada Brahmana. Brahmana pun duduk mendekat pada Sita Dewi.

"Hai, Brahmana, siapakah kamu dan berasal dari manakah kamu ini?" tanya Sita Dewi.

"Aku ini datang dari negeri Lakurkatakina, negeri para kera. Aku datang kemari karena disuruh Sri Rama untuk melihat keadaan Tuan Putri," kata Brahmana.

“Hai, Brahmana, bagaimana kabar dan keadaan Sri Rama?"

"Sri Rama lebih banyak duduk termenung merindukan Tuan Putri selalu. Dia tidak banyak bicara selain menyebut-nyebut nama Tuan Putri dan menanyakan keadaan Tuan Putri. Karena itulah, Sri Rama akhirnya mengutus saya kemari untuk melihat keadaan Tuan Putri."

"Hai, Brahmana, siapakah kamu sebenarnya sehingga Sri Rama mengutusmu kemari?"

"Aku Hanuman, cucu Subali, raja segala kera. Aku telah diaku oleh Sri Rama sebagai anak. Dan Paduka Sri Rama pun berpesan kepadaku untuk menganggap Tuan Putri sebagai ibuku."

Mendengar perkataan Hanuman itu, Sita Dewi pun mengambil buah mangga makanan Rawana, dan diberikannya kepada Hanuman sebuah. Hanuman kegirangan dengan buah mangga pemberian Sita Dewi, dan bertanya penasaran, "Tuan Putri, di manakah pohon mangga itu?"

“Pohon mangga itu ada di kebun maharaja Rawana, tetapi kebun itu dipagar besi sekelilingnya dan di atasnya dipasang jaring-jaring kawat agar burung tidak bisa masuk," kata Sita Dewi. "Seratus orang raksasa juga duduk bergantian menjaga pohon mangga itu,” tambahnya pula.

"Aku akan ke sana, Tuan Putri!"

Hanuman pun kembali mengubah dirinya menjadi seekor kera kecil. Dia pergi ke bawah pohon mangga, dan daun-daun serta ranting-ranting pohon mangga yang jatuh berguguran disapunya bersih.

"Hai, kera, dari manakah kamu?" tanya salah seorang raksasa penjaga taman tempat tumbuh pohon mangga itu.

“Aku ingin hidup di negeri ini," kata Hanuman. "Jika kamu izinkan, tiap hari taman ini akan aku bersihkan."

“Tentu saja kami tak keberatan kamu berada di sini, asal tiap hari kamu bersihkan taman ini. Sebagai imbalan, kami sediakan buah mangga untukmu," kata sang raksasa.

Hanuman merasa girang dengan buah mangga yang dijanjikan sang raksasa. Tiap hari dia menyapu dan membersihkan taman dari dedaunan yang rontok dan ranting-ranting yang patah. Para raksasa penjaga taman juga bergirang hati melihat Hanuman membersihkan taman tiap pagi.

Suatu malam Rawana tengah bermurah hati memberikan minuman anggur pada para raksasa penjaga taman. Para raksasa itu pun mabuk bergelimpangan di taman. Hanuman yang melihat keadaan itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dipanjatnya pohon mangga, buah mangga yang ranum bergelantungan disikatnya habis; daun dan bunga pohon mangga juga tidak disisakannya sedikit pun. Setelah itu, batang pohon mangga yang menjulang dicabut dan dijungkirbalikkannya, pucuk pokok pohon menghadap ke bawah dan akarnya menghadap ke atas.

Keesokan paginya, para raksasa—yang terbangun dari mabuk semalaman—terperanjat menyaksikan pohon mangga telah tumbang berantakan; tak ada buah mangga yang tersisa, akar pohon menghadap ke langit, dan pucuk pohon terjungkal ke bawah.

“Siapa yang menumbangkan pohon mangga ini?" tanya salah seorang raksasa penasaran.

"Mana kera yang kita suruh membersihkan taman ini?" tanya raksasa yang lain dengan geram.

Ketika para raksasa penjaga taman sedang penasaran menduga-duga siapa yang menumbangkan pohon mangga itu, tiba-tiba mereka melihat Hanuman tengah duduk berdiam diri di akar pohon mangga yang menjulang ke atas.

“Hai, kera, turun kamu!" hardik salah seorang raksasa.

"Hai, kera, siapa yang menumbangkan pohon mangga ini?" tanya raksasa yang lain begitu Hanuman telah turun.

Hanuman hanya berdiam diri, membisu seribu bahasa. Semua pertanyaan para raksasa yang berkali-kali dilontarkan kepadanya tidak ada satu pun yang digubrisnya. Para raksasa itu akhirnya kesal. Mereka beramai-ramai menangkap Hanuman, mengikatnya, dan menyerahkannya kepada maharaja Rawana.

"Yang Mulia Maharaja Rawana," salah seorang raksasa itu melapor, "pohon mangga yang buahnya menjadi santapan Yang Mulia ternyata telah ditumbangkan oleh kera ini. Puncak pohon mangga terjungkal ke bawah dan akarnya ke atas."

Mendengar laporan itu, maharaja Rawana berdiam diri terheran-heran. Dipandanginya Hanuman beberapa saat.

“Hai, kera, kamukah yang menumbangkan pohon manggaku?" tanya Rawana dengan gusar.

Hanuman hanya berdiam diri, tidak menjawab sepatah kata pun. Rawana makin gusar dan kesal dengan sikap Hanuman itu. Para hulubalang kerajaan yang bertanya pun bernasib sama dengan maharaja mereka, Rawana. Hanuman sama sekali mengabaikan semua pertanyaan yang ditujukan kepadanya.

“Bunuh kera ini!" teriak Rawana dengan amarah meledak.

Para raksasa itu beramai-ramai mengepung Hanuman, lalu menyabetkan dan menikamkan senjata mereka masing-masing ke tubuh Hanuman. Akan tetapi, Hanuman tetap tegak berdiri di tempatnya; tak satu pun bulunya yang rontok, tak ada luka yang menganga pada tubuhnya, tak ada darah yang mengucur dari tubuhnya. Para raksasa itu terbengong-bengong keheranan. "Masa kita yang puluhan orang dengan senjata lengkap tak mampu membunuh kera keparat itu?" celetuk salah seorang raksasa.

Maharaja Rawana pun terbengong-bengong kebingungan menyaksikan seekor kera yang tidak mempan senjata. Dipanggilnya salah seorang penasihatnya, lalu tanyanya, "Bagaimana caranya membunuh kera terkutuk ini karena tak satu pun senjata yang mempan menggores dan melukai tubuhnya?"

Hanuman yang mendengar pertanyaan Rawana itu langsung berkata, "Jika Yang Mulia ingin membunuhku, balutlah seluruh tubuhku ini dengan kain. Setelah itu tuangkan minyak ke kain yang melekat pada tubuhku dari ujung kaki hingga kepala, kemudian bakarlah!"

Maharaja Rawana segera memerintahkan para prajuritnya untuk membalut tubuh Hanuman dengan kain. Ketika tengah dibalut kain itu, Hanuman membesarkan tubuhnya, makin lama makin membesar tubuhnya. Telah beratus-ratus helai kain dikeluarkan orang untuk membalut tubuh Hanuman, tetapi tubuh Hanuman tetap saja bertambah besar. Kain di gudang istana akhirnya kosong, tak sehelai pun yang tersisa.

Maharaja Rawana yang telah mata gelap akhirnya berteriak, "Lepas kain yang dikenakan Sita Dewi, dan balutkan pada tubuh kera keparat ini!"

"Cukup!" teriak Hanuman yang tidak sampai hati mendengar Sita Dewi akan ditelanjangi. "Sekarang tuangkan minyak ke tubuhku dan bakarlah!"

Beratus-ratus tempayan minyak pun dituangkan ke tubuh Hanuman, yang besar tubuhnya telah mengalahkan para raksasa itu. Tubuh Hanuman menyala-nyala, dan kobaran api pada tubuh Hanuman menjilat-jilat langit, tetapi bulu Hanuman tidak hangus sedikit pun. Ketika kain yang melilit tubuh Hanuman telah hangus terbakar, dan yang tersisa hanya kain yang melilit pada ekornya, Hanuman pun—yang telah berubah menjadi kera raksasa—melompat ke atas bubungan istana Maharaja Rawana. Istana Maharaja Rawana pun terbakar. Hanuman terus saja melompat-lompat di antara rumah-rumah menteri dan hulubalang kerajaan sehingga rumah-rumah petinggi istana Langkapuri itu semuanya musnah terbakar. Hanya satu ruangan yang tak disentuh oleh tubuh Hanuman yang berkobaran dengan api, yaitu rumah tempat Sita Dewi ditawan oleh Rawana. Setelah membakar istana dan rumah-rumah para petinggi kerajaan Langkapuri, Hanuman pun melompat ke laut dan menceburkan dirinya ke dalam laut untuk memadamkan kobaran api pada tubuhnya.

Ketika api yang berkobar pada tubuh dan ekornya telah padam, Hanuman pergi menghampiri Sita Dewi. Katanya, "Tuan Putri Sita Dewi, sekarang ikutlah aku untuk aku antar kembali ke Sri Rama."

"Hai, Hanuman," kata Sita Dewi, "aku telah bersumpah, tak akan ada laki-laki lain yang bisa menyentuh tubuhku selain Sri Rama. Hanya pada Sri Rama seorang kuserahkan hidup matiku. Bagiku, Sri Rama adalah laki-laki perkasa yang tak tertandingi oleh siapa pun. Hanuman, sekarang ini aku dilarikan dan ditawan Rawana. Hanuman, seandainya sekarang ini kamu yang membebaskanku dari tawanan Rawana dan mengantar aku kembali kepada Sri Rama, aku takut nama Sri Rama akan cemar. Lebih baik kamu katakan pada Sri Rama bahwa aku ingin dia yang menghancurkan Rawana, dan setelah itu membebaskan diriku dari tempat terkutuk ini! Hanuman, tolong sampaikan pesanku ini pada Sri Rama!"

Mendengar pesan Sita Dewi itu, Hanuman langsung melompat ke negeri Lakurkatakina. Dia segera menghadap Sri Rama.

"Hai, Hanuman, kapan kamu datang?" tanya Sri Rama.

“Baru saja aku datang," kata Hanuman.

Lalu Hanuman pun melaporkan pada Sri Rama segala yang dilakukannya di negeri Langkapuri. Disampaikannya pula pesan Sita Dewi pada Sri Rama.

"Hanuman, aku merasa bahagia sekali mendengar kabar darimu bahwa Sita Dewi masih hidup," kata Sri Rama dengan muka berseri-seri. "Hanuman, aku bangga dengan semua yang kamu lakukan di Langkapuri, tetapi mengapa kamu bakar dan binasakan istana Langkapuri?"

Hanuman hanya tertunduk berdiam diri.

Sesaat kemudian Sri Rama bertanya pada Hanuman, "Hai, Hanuman, negeri Langkapuri itu berupa pulau yang terletak di tengah laut. Bagaimana caranya mengerahkan rakyat kita yang beratus-ratus ribu ini menyeberang ke Langkapuri?"

"Yang Mulia Sri Rama," kata Hanuman, “menurutku, laut bisa kita tambak, kemudian kita jadikan jembatan agar rakyat kita yang beratus-ratus ribu dapat menyeberangi laut, lalu melakukan serangan ke Langkapuri."

“Bagaimana pendapatmu, Sugriwa?" tanya Sri Rama pada Sugriwa yang saat itu berada dekat Sri Rama.

"Aku sependapat dengan Hanuman," kata Sugriwa. "Kita tambak laut dan kita jadikan jembatan untuk menyeberang ke Langkapuri."

"Baiklah, kalau begitu! Sugriwa, mulai saat ini kamu siapkan rakyat kita yang beratus-ratus ribu sebagai bala tentara untuk menyerang Langkapuri!" perintah Sri Rama.

•••

EMPAT
SITA DEWI DALAM PENJARA RAWANA

Tengah malam itu suasana demikian hening di Langkapuri. Langit bening bertabur bintang. Di sekitar Sita Dewi terhampar sebuah taman yang tertata rapi, dipenuhi aneka bunga yang harum semerbak. Tak jauh dari taman bunga tumbuh subur aneka pohon buah-buahan, yang menggoda dengan buah-buahnya yang ranum. Siap untuk dipetik. Masih berdekatan dengan taman bunga, terdapat sebuah kolam yang jernih airnya, yang dikelilingi jambangan emas berisikan air mawar sehingga menyebarkan bau wangi yang melayangkan angan entah ke mana.

Malam itu, di tengah hamparan alam sekitarnya yang indah, teduh, dan sejuk, hati Sita Dewi terkoyak. Air matanya hampir terkuras dan tak tersisa lagi meratapi nasibnya sebagai tawanan Rawana. Rindunya pada Sri Rama, suaminya, tersekat oleh seorang putri raksasa dan seorang lagi raksasa bernama Takas yang menjaganya siang malam. Jalan untuk meloloskan diri bagi Sita Dewi seakan-akan telah tertutup rapat tanpa celah sedikit pun.

"Duh, Gusti," ratap Sita Dewi dalam keluh panjang yang tak terucapkan, "kenapa semua yang kumiliki dan melekat pada diriku menjadi sumber malapetaka bagi diriku? Kenapa kecantikan wajahku, kemolekan tubuhku, pada akhirnya hanya memerangkapku dalam derita dan petaka? Kenapa tubuh dan wajahku tidak rata dan datar saja sehingga tak akan pernah mengundang Rawana untuk menculikku? Duh, Gusti, lekuk tubuhku, pesona wajahku hanya menciptakan bara api pada lelaki!"

Dengan hati remuk Sita Dewi membayangkan Sri Rama yang kesepian tanpa dirinya. Ketika tengah membayangkan Sri Rama itu, tak terduga Rawana datang menghampirinya dan berusaha menyentuh kemolekan tubuhnya yang telah memabukkan Rawana. Sita Dewi memekik terkesiap dan langsung mengarahkan keris ke dadanya hendak bunuh diri. "Lebih baik aku mati saja daripada diriku terjamah raksasa biadab ini!" Demikian terlintas dalam benak Sita Dewi.

Menyaksikan Sita Dewi berusaha bunuh diri, Rawana langsung berteriak tertahan dan menjauh dari Sita Dewi supaya mengurungkan niat bunuh diri Sita Dewi. Akan tetapi, gairah Rawana untuk menaklukkan dan mendapatkan Sita Dewi tak kunjung padam. Setelah Sita Dewi menjauhkan keris dari tubuhnya, Rawana kembali mendekat ke arah Sita Dewi seraya mengulurkan tangannya yang berbulu lebat.

“Jangan sentuh aku!" teriak Sita Dewi panik. "Lebih baik aku mati daripada ternoda oleh sentuhanmu!"

Rawana pun mundur beberapa langkah. Meskipun saat itu dirinya tengah terbakar gairah nafsu dan teramat ingin menjamah tubuh Sita Dewi, tetapi rasa sayangnya yang mendalam pada Sita Dewi mengurungkan niatnya itu. Rawana sedikit pun tak ingin menyakiti hati dan tubuh Sita Dewi yang begitu molek. Dia tak ingin menyaksikan paras Sita Dewi yang demikian cantik memancarkan amarah ataupun larut dalam duka nestapa.

Rawana memutar otaknya mencari akal bagaimana mendekati dan menaklukkan Sita Dewi. Dengan berdiri beberapa meter di hadapan Sita Dewi, Rawana memberondong Sita Dewi dengan bujuk rayunya untuk meluluhkan hati Sita Dewi.

Bujuk rayu Rawana pada Sita Dewi tidak mempan sedikit pun. Pada akhirnya Sita Dewi hanya berucap perlahan menanggapi rayuan Rawana yang bertubi-tubi, "Bagaimana aku akan bersamamu? Bukankah Sri Rama masih hidup? Aku tak akan pernah mengkhianatinya."

Rawana tidak menyerah mendengar perkataan Sita Dewi. Katanya, "Aku harus bagaimana, Sita? Bukankah aku ingin dekat dengan dirimu? Barangkali kamu tak pernah tahu akan rasa sayangku yang mendalam pada dirimu. Bukankah aku tak pernah menyakitimu? Kenapa takut padaku, Sita?"

"Aku bersedia bersamamu asal kau bisa membawakan kepala Sri Rama kepadaku!"

"Cuma itu yang kamu minta? Ah, itu soal gampang! Malam besok akan kupersembahkan kepala Sri Rama kepadamu!"

Setelah menjanjikan kepala Sri Rama kepada Sita Dewi, Rawana segera kembali ke istananya. Diperintahkannya salah seorang tentara pengawal istana untuk memanggilkan Indrajit, anaknya. Rawana ingat betul, Indrajit memiliki dua orang tawanan yang teramat tampan menyerupai Sri Rama. "Dua orang tawanan itu akan aku jadikan tumbal untuk mewujudkan niatku memiliki Sita," kata Rawana dalam hatinya.

Keesokan harinya Indrajit pun langsung menyerahkan dua orang tawanannya kepada ayahandanya, Rawana, setelah mendengar keinginan Rawana yang akan menyulap salah satu kepala dari dua orang tawanan itu seolah-olah kepala Sri Rama, yang akan dipersembahkannya kepada Sita Dewi. Tanpa membuang-buang waktu Rawana dengan seketika menghunus dan menikamkan senjatanya pada kedua orang tawanan itu hingga mereka berdua tewas. Setelah dua orang itu tewas, Rawana pun memerintahkan salah seorang tentaranya untuk memenggal kepala kedua orang itu, dan kemudian mengenakan mahkota kerajaan pada salah satu kepala itu.

Mata Rawana berbinar-binar. Dia membayangkan tipu muslihatnya bakal memerangkap Sita Dewi yang amat didambakannya. Dengan langkah bergegas dia menuju ke tempat Sita Dewi. Akan halnya Sita Dewi, begitu dia mendengar suara langkah kedatangan Rawana, dia langsung meminta Dewi Srijati yang berada di dekatnya untuk bertanya kepada Rawana.

"Apakah Paduka telah memperoleh kepala Sri Rama, dan bagaimanakah Paduka menaklukkan Sri Rama dan Laksmana?" tanya Dewi Srijati kepada Rawana.

Mendengar pertanyaan Dewi Srijati yang demikian itu, Rawana langsung membual. Katanya, "Ketika aku berperang melawan Sri Rama dan bala tentaranya, dalam tempo singkat Sri Rama dan bala tentaranya aku tundukkan. Di sekelilingku mayat bertimbunan seperti gunung, darah menggenang seperti laut, dan bangkai gajah dan kuda bergeletakan seperti onggokan batu gunung yang berserakan di mana-mana. Perang berlangsung begitu seru, segalanya rata dan hanyut oleh darah yang mengalir deras. Dan ketika aku berhasil membunuh Sri Rama, ternyata Laksmana—saudara Sri Rama—menyaksikannya. Dengan cepat Laksmana berusaha menikamku, tetapi aku lebih cepat lagi menangkap Laksmana dan kemudian langsung kupenggal kepalanya. Inilah kepala Sri Rama dan Laksmana, yang akan kupersembahkan untuk Sita Dewi!"

"Jika benar kedua kepala ini kepala Sri Rama dan Laksmana, pergilah Paduka mandi berlimau tujuh kali sehari. Paduka juga perlu memakai wangi-wangian. Setelah itu baru Paduka datang lagi kemari untuk menemui Sita Dewi," kata Dewi Srijati.

"Baiklah! Aku turuti perkataanmu, aku akan mandi berlimau, setelah itu aku akan datang lagi kemari untuk menemui Sita Dewi yang amat aku dambakan!"

Sepeninggal Rawana, Dewi Srijati memperlihatkan dua kepala itu kepada Sita Dewi. Katanya, "Dinda Putri, Inilah kepala Sri Rama dan Laksmana yang dijanjikan Rawana."

Sita Dewi terkesiap. Langsung dicabutnya kerisnya dan hendak dihunjamkan ke dadanya. Dewi Srijati secepat kilat menyambar dan menahan tangan Sita Dewi. Dia berusaha menenangkan Sita Dewi; katanya, "Adinda, janganlah membunuh diri dulu karena kepala ini belum tentu kepala Sri Rama. Saya akan pergi menengok Sri Rama ke tempat perang yang dikatakan Rawana supaya kita tahu keadaan yang sebenarnya."

"Ah!" cetus Sita Dewi setengah tak percaya. "Jangan-jangan kamu akan mengelabuiku! Bukankah kamu akan pergi hendak memanggil Maharaja Rawana?"

“Duh, Adinda! Apalah gunanya saya diminta bapak saya menjaga Dinda kalau sampai saya mengelabui Adinda? Bapak saya meminta saya bersama Dinda, karena beliau tahu jika maharaja Rawana seorang yang licik, yang pintar memutarbalikkan kenyataan."

“Baiklah, kalau begitu! Silakan saja kamu pergi untuk membuktikan kebenaran perkataan Rawana, tetapi jangan lama-lama. Aku akan bunuh diri jika Rawana datang kembali menemuiku," kata Sita Dewi dengan muka cemas.

“Jangan khawatir, saya pergi tak akan lama!"

Sesampainya Dewi Srijati di tempat yang disebutkan Rawana, tidak dilihatnya satu pun dari yang dikatakan oleh Rawana. Satu pun mayat tak dilihatnya, apalagi mayat yang bertimbunan seperti gunung ataupun darah yang menggenang bagaikan laut.

Dewi Srijati akan segera berbalik menemui Sita Dewi untuk mengabarkan yang telah disaksikannya itu. Akan tetapi, tiba-tiba dia ragu. “Jangan-jangan Sita Dewi tak percaya kalau aku telah menengok tempat yang dikatakan Rawana sebagai tempat berperang dirinya dengan Rawana dan Sri Rama," pikir Dewi Srijati. “Kalau begitu, aku akan langsung menemui Sri Rama untuk melihat apakah dia telah terbunuh oleh Rawana atau masih hidup."

Ketika Dewi Srijati telah tiba di hadapan Sri Rama, Sri Rama pun keheranan menyaksikan seorang perempuan yang belum dikenalnya berdiri di hadapannya. Tanyanya pada Dewi Srijati, “Dari manakah kamu, dan ada perlu apa datang kemari?"

“Saya ini anak maharaja Bibusyanam," jawab Dewi Srijati. "Kedatangan saya kemari untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, karena baru saja maharaja Rawana mengatakan bahwa Paduka telah gugur. Rawana telah menyerahkan dua kepala kepada Sita Dewi, yang dikatakannya sebagai kepala Paduka dan kepala Laksmana. Sita Dewi langsung menangis terisak-isak menyaksikan kepala Paduka berada di tangan Rawana, dan seketika berusaha bunuh diri dengan menikamkan keris ke dadanya, tetapi saya telah berhasil mencegahnya. Saya katakan kepada Sita Dewi bahwa kepala yang dibawa Rawana itu belum tentu kepala Paduka Sri Rama. Dan, sekarang saya datang kemari untuk membuktikan apakah perkataan Rawana benar atau bohong belaka. Kedatangan saya kemari juga untuk memohon tanda dari Paduka, yang akan saya berikan kepada Sita Dewi untuk meyakinkan Sita Dewi bahwa Paduka Sri Rama masih hidup dan dalam keadaan sehat walafiat."

"Kalau begitu, bawalah ikat pinggangku ini! Ikat pinggangku ini yang menenun Sita Dewi. Perlihatkanlah ikat pinggangku ini pada Sita Dewi, dan katakan padanya bahwa aku masih hidup."

"Paduka, akan saya lakukan permintaan Paduka pada saya. Akan saya katakan pada Sita Dewi bahwa Paduka Sri Rama masih hidup, dan perkataan Rawana bohong belaka. Akan tetapi, Paduka, siapa yang akan mengantar saya kembali ke Langkapuri untuk menemui Sita Dewi? Saya agak merasa takut."

"Kalau begitu, biar Hanuman yang mengantarmu ke Langkapuri. Kamu anggap saja Hanuman sebagai saudaramu."

Hanuman pun berjalan mengantarkan Dewi Srijati sebagaimana dititahkan Sri Rama. Di tengah perjalanan Dewi Srijati berkata pada Hanuman, "Aku merasa lelah sekali. Bagaimana kalau kamu dukung aku?"

“Aku tak mau mendukungmu," kata Hanuman. "Jika kamu merasa lelah, lebih baik berhenti dulu saja."

“Kalau aku berhenti dulu, aku akan terlambat bertemu dengan Sita Dewi. Bisa-bisa dia telah bunuh diri karena Rawana datang mendekat padanya."

"Kalau begitu, baiklah kamu aku dukung," kata Hanuman yang segera melompat ke negeri Langkapuri seraya mendukung Dewi Srijati.

Sesampainya di negeri Langkapuri, dan dilihatnya Dewi Srijati telah berjalan ke tempat Sita Dewi, Hanuman pun segera kembali. Sementara itu, Dewi Srijati dengan langkah tergesa langsung menemui Sita Dewi.

"Sungguhkah Sri Rama telah mati oleh Maharaja Rawana?" tanya Sita Dewi begitu dilihatnya Dewi Srijati.

“Dinda, bohong belaka Paduka Sri Rama telah mati oleh Maharaja Rawana!” kata Dewi Srijati. "Inilah ikat pinggang yang Adinda tenun. Sri Rama tadi berpesan kepadaku agar aku menyerahkannya kepada Adinda sebagai tanda jika Sri Rama masih hidup."

"Aku percaya, kepergianmu tadi benar-benar untuk menemui Sri Rama," kata Sita Dewi lega.

Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah Rawana, dan Dewi Srijati pun keluar dari kamar Sita Dewi. Ketika berpapasan dengan Dewi Srijati, Rawana langsung bertanya, "Maukah Sita Dewi padaku karena Sri Rama telah kubunuh?"

"Paduka," kata Dewi Srijati, “kepala yang Paduka perlihatkan itu bukanlah kepala Sri Rama, karena Sri Rama ternyata saya lihat sedang bercakap-cakap dengan seekor kera bernama Sugriwa sambil mengawasi ribuan rakyat kera yang sedang menambak laut. Dan, Hanuman—cucu Subali—baru saja mengantarkan saya kembali kemari. Paduka, bagaimana Paduka membunuh Sri Rama? Bukankah siang malam istana Sri Rama dijaga tiga puluh tiga ekor kera yang gagah perkasa?"

Rawana teramat murka mendengar perkataan Dewi Srijati. Mukanya seketika berubah seperti muka singa yang siap menerkam. Katanya, "Siapa yang menyuruhmu berkunjung kepada Sri Rama?"

"Paduka, Sita Dewi yang menyuruh saya berkunjung kepada Sri Rama," kata Dewi Srijati.

"Sebab apa kamu mau disuruh Sita Dewi? Bukankah kamu telah aku suruh untuk menunggui Sita Dewi?"

"Akan tetapi, Paduka, bukankah kata Paduka apa pun yang dikatakan Sita Dewi harus saya turuti? Karena itulah, saya mau saja disuruh Sita Dewi."

Amarah Rawana meledak, dihunusnya pedangnya hendak memenggal kepala Dewi Srijati. Dewi Srijati pun berlari ketakutan dan segera menuju kepada Sita Dewi untuk berlindung.

“Daripada Maharaja Rawana membunuh Dewi Srijati, lebih baik bunuhlah aku saja," kata Sita Dewi berusaha menyelamatkan Dewi Srijati.

Maharaja Rawana murka mendengar perkataan Sita Dewi yang berusaha melindungi Dewi Srijati. Diperintahkannya salah seorang prajuritnya untuk membubuhkan jala-jala besi pada tempat Sita Dewi itu sehingga orang yang berada di situ tidak mungkin lagi keluar.

Sita Dewi termenung membayangkan Sri Rama. "Telah sirna niatku untuk bunuh diri karena ternyata Sri Rama masih hidup," kata hati Sita Dewi. "Aku hanya akan bunuh diri bila Rawana menjamah tubuhku karena kesucian tubuhku hanya untuk Sri Rama seorang. Lebih baik aku mati, daripada kesucian cintaku pada Sri Rama ternoda oleh sentuhan Rawana. Aku akan selalu berusaha agar Rawana tak pernah punya peluang untuk menyentuh dan menjamahku. Aku akan sabar menunggu kedatangan pahlawanku, Sri Rama, yang kelak—entah kapan—akan datang ke tempat ini untuk membebaskanku dari cengkeraman si biadab Rawana. Kelak riwayat Rawana akan tamat di tangan Sri Rama, kekasih abadiku. Dan, kelak—setelah itu—cintaku akan berdenyut abadi, tak putus-putusnya, tak kenal mati, mengalir senantiasa pada Sri Rama seorang. Wahai, Sri Rama, kunanti kedatanganmu di tempat terkutuk ini!"

•••

LIMA
SRI RAMA MEREBUT KEMBALI SITA DEWI

Sri Rama telah berbulat tekad akan mendatangi Maharaja Rawana di Langkapuri untuk merebut kembali istrinya, Sita Dewi, yang diculik Rawana. Dipanggilnya Sugriwa untuk meminta keterangan tentang peta dan kekuatan negeri Langkapuri. Sugriwa pun menjelaskan kepada Sri Rama tentang kondisi negeri Langkapuri yang diketahuinya.

"Betapapun kuat negeri Langkapuri, aku tak akan pernah gentar," kata Sri Rama di hadapan Sugriwa dan Hanuman. "Akan aku hadapi Rawana seorang diri untuk membebaskan Sita Dewi. Sebagai laki-laki, aku rela mati untuk mempertaruhkan martabat Sita Dewi sebagai istriku. Aku akan membela martabatnya."

Setelah berkata demikian berjalanlah Sri Rama meniti jembatan yang membelah laut ke negeri Langkapuri, diiringi Laksmana, Hanuman, Sugriwa, dan ratusan ribu pasukan kera. Berita kedatangan Sri Rama dan pasukan keranya terdengar oleh Rawana. Dia segera meminta saran pada ahli nujum istana yang bernama Bibusana.

"Sebaiknya Paduka kembalikan saja Sita Dewi kepada Sri Rama," kata Bibusana. "Jika tidak, kelak Paduka akan menyesal di kemudian hari.”

Rawana sangat murka mendengar perkataan Bibusana. "Hai, Bibusana!" hardik Rawana dengan geram, "Adakah kamu lihat perempuan yang bisa menandingi rupa Sita Dewi sehingga kamu suruh aku untuk mengembalikan Sita Dewi kepada Sri Rama?"



"Menurut nujum saya, Paduka pada akhirnya akan menyesal karena kedatangan Sri Rama sekarang ini tidak akan mendatangkan kebajikan bagi Paduka, kecuali Paduka mengembalikan Sita Dewi secara baik-baik. Jika Paduka mengembalikan Sita Dewi, kemuliaan Paduka akan bertambah. Sebaliknya, bila tidak, Paduka mungkin akan memperoleh kebinasaan."

Rawana makin geram pada Bibusana yang bertahan dengan nujumnya, dan mempersilakan Bibusana untuk segera angkat kaki dari istana Langkapuri. Rawana tidak ingin membuang-buang waktu menghadapi Sri Rama yang telah bergerak ke Langkapuri. Dihimpunnya semua hulubalang dan panglima perang, disiapkannya ratusan ribu pasukan raksasa dengan persenjataan lengkap. Anak-anak Rawana yang terkenal sakti pun telah berdatangan ke Langkapuri untuk menyongsong perang.

Salah satu anak Rawana yang menampakkan diri adalah Indrajit. Dia sujud demikian lama di hadapan ayahnya, Rawana. Rawana pun penasaran dengan sikap Indrajit yang tidak seperti biasanya, lalu bertanya, “Indrajit, apa yang ingin kamu katakan pada ayahmu ini?"

"Maaf, Ayah. Menurutku, sebaiknya Ayah kembalikan saja Sita Dewi kepada Sri Rama. Bukankah Sri Rama tidak punya kesalahan apa pun pada Ayah, kenapa istrinya—Sita Dewi—Ayah culik?" tanya Indrajit.

Rawana terkejut mendengar perkataan Indrajit, dan berkata, “Anakku, kelak kalau aku tiada, kamulah penggantiku. Aku ingin namamu masyhur kelak dan disegani semua raja yang ada di muka bumi ini. Karena itu, lanjutkanlah dendamku pada Sri Rama, dan taklukkanlah dia!"

"Aku sepakat, Ayah, tetapi sebaiknya Ayah pikirkan baik-baik perkataanku tadi karena sesal biasanya datang belakangan."

Rawana tidak terlalu menggubris lagi perkataan Indrajit. Nafsu perang telah menyala-nyala di dadanya. Rawana langsung memerintahkan sepuluh panglima perangnya berikut ribuan pasukan raksasa untuk menggempur Sri Rama dan bala tentaranya. Sementara itu, Sri Rama yang mencium kedatangan pasukan Rawana segera memerintah Hanuman untuk mengatasi pasukan lawan. Hanuman pun langsung bergerak menyambut pasukan Rawana yang jumlahnya ribuan. Dengan ekornya dilibasnya semua pasukan Rawana hingga semuanya mati berkaparan, tak tersisa satu pun.

Rawana yang menunggu-nunggu kedatangan pasukan gelombang pertama yang dikirim ke medan laga merasa penasaran, karena satu pun belum ada yang kembali untuk melaporkan hasil penyerangan. Diutusnya empat orang raksasa untuk mengecek situasi di lapangan. Empat raksasa yang diutus itu melapor ke Rawana bahwa pasukan gelombang pertama tak tersisa satu pun, semuanya mati berkaparan.

Rawana geram. Diperintahnya Kumbakarna dan ribuan raksasa untuk menyerang pasukan Sri Rama. Dengan turunnya Kumbakarna ke medan laga, ratusan pasukan kera di pihak Sri Rama mati terbunuh. Keesokan harinya, ketika perang berlanjut, Hanuman berperang tanding melawan Kumbakarna. Kumbakarna kewalahan dan segera lari menyelamatkan diri ke Langkapuri untuk meminta tambahan pasukan.

"Jangan terlalu kamu ladeni si Hanuman," kata Rawana pada Kumbakarna, "lebih baik kamu serang langsung Sri Rama biar perang cepat selesai. Bila Sri Rama berhasil kamu bunuh, akan aku hadiahkan satu wilayah sebagai kerajaan untukmu."

Esok paginya dengan memegang godam Kumbakarna menerjang Sri Rama, tetapi sebelum sempat Kumbakarna memalukan godamnya Sri Rama telah memanah leher Kumbakarna hingga terpenggal. Sepuluh hulubalang yang menyertai Kumbakarna mengambil alih godam Kumbakarna yang terjatuh, tetapi sebelum sempat mereka menggunakannya panah Sri Rama sekaligus memenggal leher kesepuluh hulubalang Rawana itu. Dengan kakinya Sri Rama mengungkit dan melontarkan godam raksasa itu ke arah ribuan prajurit Rawana yang tersisa hingga mereka semua mati tersambar godam.

Rawana makin naik pitam dan berduka karena Kumbakarna, saudaranya sekaligus andalannya, telah tewas di tangan Sri Rama. Begitu malam berlalu Rawana memimpin sendiri penyerbuan ke pasukan Sri Rama. Sementara itu, sembari menunggu kedatangan pasukan Rawana, Hanuman menghadap Sri Rama dan berkata, "Yang Mulia Sri Rama, menurutku kita tidak harus mengerahkan rakyat, karena jika kita kerahkan rakyat pada akhirnya rakyat yang akan menjadi tumbal perang ini."

"Aku setuju pendapatmu, Hanuman," kata Sri Rama. "Kalau demikian halnya, begitu pasukan Rawana datang, majulah kamu ke medan laga dan tangkaplah mereka sebanyak-banyaknya."

Hanuman mengangguk, dan kemudian dia menjadikan dirinya sebagai kera raksasa yang besar dan tinggi tubuhnya puluhan kali lipat daripada raksasa pengikut Rawana. Begitu pasukan Rawana datang, Hanuman langsung melompat ke tengah-tengah pasukan lawan dan masing-masing tangannya menyekap dua ratus raksasa pengikut Rawana.

"Kalau begini terus-menerus, lama-lama pasukan kita akan habis," kata salah seorang panglima perang di pihak Rawana.

“Aku akan menyamar dalam berbagai rupa dan akan aku culik Sri Rama ketika dia tidur malam hari," kata hulubalang Patala Maharayan.

Sementara itu, Hanuman yang mendengar rencana Patala Maharayan, berusaha melindungi istana Sri Rama dari penyusupan durjana itu yang akan menyamar dalam berbagai rupa. Dengan tubuhnya yang membesar luar biasa dan ekornya yang memanjang tak terhingga, ketika malam tiba Hanuman mengelilingi istana Sri Rama dengan tubuh dan ekornya itu. Akan tetapi, Patala Maharayan tetap saja berusaha menyusup masuk ke istana Sri Rama dengan mengubah-ubah wajah dan suaranya menyerupai wajah dan suara para kerabat Sri Rama. Bila upaya penyamarannya tertangkap basah dan para pengawal Sri Rama hendak meringkusnya, Patala Maharayan dengan mudah melenyapkan diri secara gaib.

Perlindungan yang diberikan oleh Hanuman kepada Sri Rama akhirnya bobol juga. Patala Maharayan setelah beberapa kali mengubah wajah dan suaranya—terakhir kali dia bahkan menampilkan diri sebagai Hanuman—akhirnya berhasil menculik Sri Rama yang tengah tertidur ke dalam istananya. Akan tetapi, Hanuman segera menyadari jika Sri Rama telah lenyap dari istananya segera melakukan pencarian. Dengan mengelilingi jagat akhirnya Hanuman berhasil menemukan kembali Sri Rama yang tengah disekap di istana Patala Maharayan dalam keadaan tidur. Setelah menewaskan para raksasa yang menunggui Sri Rama, Hanuman membopong dan membawa kembali Sri Rama ke dalam istananya.

Patala Maharayan merasa malu karena Sri Rama berhasil dibawa kembali oleh Hanuman. Tekad Patala Maharayan untuk menghabisi Sri Rama makin berkobar. Ketika bertemu dengan Sri Rama di medan laga, diperintahnya para prajuritnya untuk menghabisi Sri Rama dengan terjangan bebatuan sebesar gunung, tetapi satu pun tak ada yang mempan. Akhirnya, Patala Maharayan berhadapan langsung dengan Sri Rama setelah para prajuritnya tewas di tangan Sri Rama. Akan tetapi, Patala Maharayan pun bernasib sama dengan para prajuritnya: panah Sri Rama pada akhirnya memenggal kepalanya. Ribuan anak panah Patala Maharayan pun akhirnya menjadi senjata makan tuan. Satu per satu Si Rama membidikkan anak panah itu ke arah para raksasa pengikut Rawana, hingga mereka mati bergelimpangan dalam genangan darah.

Rawana makin mata gelap karena panglima-panglima andalannya telah banyak yang menjadi korban. Malam harinya—ketika perang berhenti untuk dilanjutkan esok paginya—dia mengadakan rapat untuk menentukan siapa yang akan menghadapi Sri Rama. Empat anak Rawana mengajukan diri untuk berhadapan dengan Sri Rama. Rawana setuju. Akan tetapi, empat anak Rawana ternyata menjadi tumbal. Keempatnya mati di medan laga diterjang panah Sri Rama.

Akhirnya, Indrajit—satu-satunya anak Rawana yang masih hidup—yang bisa terbang dan menerjang dari udara, menerjunkan diri ke medan laga. Untuk mengimbangi Indrajit, Sri Rama mengundang Garuda Mahabiru untuk bergabung. Selama empat puluh hari empat puluh malam dari udara Indrajit menghujani pasukan dan rakyat Sri Rama dengan batu dan pasir. Selama empat puluh han empat puluh malam itu pula Garuda Mahabiru berusaha menahan serangan Indrajit yang membabi buta.

Karena serangan dari udara tidak membuahkan hasil, Indrajit lalu meluncurkan panah yang berisi api sirep sehingga Sri Rama, Laksmana, Hanuman, dan pasukan kera yang lain tertidur. Hanya Bibusana—juru nujum Rawana yang membelot ke Sri Rama—yang terhindar dari sirep karena memiliki ajian penangkal sirep. Ketika semua tengah terbius oleh sirepnya, Indrajit mengendap-endap memasuki istana Sri Rama dengan pedang terhunus. Bibusana yang sejak semula telah curiga dengan aji sirep Indrajit dan berjaga di dekat Sri Rama, akhirnya dapat menyelamatkan Sri Rama dari keIicikan Indrajit.

Sementara itu, di Langkapuri Indrajit yang putus asa dengan perang yang berkepanjangan berkata pada Rawana, "Hanya karena seorang perempuan lahir perang yang tak berkesudahan. Anak dan saudara mati sebagai tumbal."

"Kalau begitu, barangkali lebih baik aku habisi saja Sita Dewi! Bukankah dia sumber bencana?" kata Rawana mata gelap.

“Nama Ayahanda akan lebih aib lagi! Seorang perempuan telah Ayahanda larikan dari suaminya, suaminya datang menyerang dan tidak juga terkalahkan oleh kita, dan sekarang Sita Dewi akan kita bunuh?"

Rawana termenung, lalu katanya, "Kalau begitu, diam-diam buatlah seorang perempuan yang amat menyerupai Sita Dewi, dan kemudian bunuhlah! Sri Rama pasti kalut!"

Indrajit langsung melaksanakan permintaan Rawana. Berita kematian Sita Dewi pun tersebar ke mana-mana, dan sampai juga ke telinga Sri Rama, yang langsung pingsan begitu mendengarnya. Setelah Sri Rama siuman, Bibusana pun meminta Hanuman ke Langkapuri untuk menyaksikan benar tidaknya kabar kematian Sita Dewi. Hanuman yang menyamar sebagai seekor kambing ternyata menyaksikan Sita Dewi masih hidup, dan segera menyampaikan kenyataan ini kepada Sri Rama.

Beberapa waktu kemudian Indrajit beradu tanding dengan Laksmana. Ribuan kuda penarik kereta terbang Indrajit mati terbunuh oleh panah Laksmana, setelah itu panah Laksmana pun mengenai kereta terbang itu sehingga Indrajit jatuh terhunjam ke bumi. Akan tetapi, Indrajit yang telah terjatuh masih berusaha memanah Sri Rama dan Laksmana. Panah Sri Rama ternyata lebih dulu mengenai leher Indrajit sehingga kepala Indrajit terpenggal dari tubuhnya.

Sri Rama pun berseru-seru kepada Rawana dengan suara lantang, "Hai, Rawana, semua anakmu telah mati tertumpas olehku! Sekarang kembalikanlah istriku, Sita Dewi! Bila Sita Dewi kamu kembalikan, semua dosamu aku ampuni, dan aku pun kembali ke negeriku."

"Tunggu empat puluh hari lagi! Empat puluh hari setelah kematian anakku, Indrajit! Aku akan berhadapan langsung denganmu!" teriak Rawana menahan amarah.

Sementara itu, Kumala Dewi, istri Indrajit menangis meraung-raung meratapi kematian suaminya. Rintihnya, "Hanya karena seorang perempuan yang diperebutkan, Langkapuri hangus binasa, perang berlangsung tak berkesudahan, suamiku tercinta mati terbunuh! Karena Maharaja Rawana berahikan Sita Dewi, anak dan saudara pun menjadi tumbal yang sia-sia!"

Empat puluh hari setelah kematian Indrajit, Rawana pun menepati janjinya untuk berhadapan langsung dengan Sri Rama. Dengan ribuan pasukan raksasa dan gajah, Rawana terjun ke medan laga. Kali ini Rawana menampilkan salah satu panglima perang andalannya, Mulamatani. Akan tetapi, dengan mudah panah Sri Rama membantai dan merobohkan Mulamatani.

Amarah Maharaja Rawana pun meledak. Katanya pada Sri Rama dengan sesumbar, “Jangankan dirimu yang hanya satu, dirimu berpuluh-puluh kali lipat pun akan aku bantai habis!"

Sri Rama hanya berdiam diri, belum mau melayani Rawana. Laksmanalah yang maju menghadapi Rawana. Anak panah beracun yang dilepas Rawana mengenai dada Laksmana, dan Laksmana pun pingsan. Bibusana yang mengetahui penawar racun yang melekat pada panah Rawana itu memberi tahu Hanuman bahwa penawar racun itu ada di dalam istana Rawana. Dengan menjadikan dirinya sebagai semut, Hanuman berhasil menembus dan menyelinap ke dalam istana Rawana dan mendapatkan obat penawar racun itu.

Saat menyelinap ke dalam istana Rawana itu, Hanuman menyaksikan Rawana tengah tertidur bersama istrinya, Mandudari. Oleh Hanuman, rambut Rawana disimpulkannya dengan rambut Mandudari. Ketika terbangun, Rawana merasa rambutnya tersangkut. Dikiranya rambutnya tertindih kepala Mandudari hingga dibangunkannya istrinya itu. Begitu Mandudari terbangun, Rawana baru sadar jika rambutnya tersimpul dengan rambut istrinya. Para dayang yang dimintanya melepas simpul pada rambutnya, satu pun tak ada yang mampu melepas simpul itu. Baru setelah Rawana meminta Mandudari untuk memukul-mukul kepalanya simpul rambut di antara kepala keduanya itu baru terlepas.

Dengan geram—karena merasa dipermainkan pihak Sri Rama—Rawana langsung menuju medan laga. Dipanahnya Sri Rama dengan panah berapi, yang apinya bergumpal-gumpal sebesar bukit dan menerjang siapa pun yang berada di hadapannya dengan cahaya menyilaukan. Akan tetapi, panah berapi itu sedikit pun tak menghanguskan Sri Rama.

Sri Rama pun memanahkan panahnya yang sakti ke Rawana. Kepala Rawana terpenggal oleh panah Sri Rama, tetapi tiap kali kepala Rawana terpenggal tiap kali itu pula kepala Rawana tumbuh kembali. Bagian-bagian tubuh Rawana yang lain juga sama dengan kepalanya, tiap kali terputus atau terpenggal selalu tumbuh kembali. Akhirnya, perang tanding antara Sri Rama dan Rawana berlangsung berkepanjangan. Hingga matahari surut, keduanya masih saling memanah.

"Bagaimana, masih mau dilanjutkan?" tantang Sri Rama.

"Besok saja kita lanjutkan!" kata Rawana. "Malam adalah saat untuk melemaskan otot."

Sementara itu, Sri Rama yang merasa penasaran dengan Rawana, yang tubuhnya selalu tumbuh kembali tiap kali terpangkas oleh panahnya, akhirnya mengutus Hanuman untuk menemui Sita Dewi. "Siapa tahu Sita Dewi mengetahui rahasia Rawana," pikir Sri Rama.

Hanuman pun—dengan memperkecil tubuhnya sehingga besarnya hanya sejengkal—datang menemui Sita Dewi di Langkapuri. Sita Dewi pun bertanya, "Hai, Hanuman, di manakah Sri Rama berada, dan ada perlu apa hingga kamu datang kemari?"

"Aku kemari disuruh Sri Rama, yang ingin mengetahui titik-titik kematian Rawana, karena tiap kali Rawana terkena panah dan terpenggal bagian tubuhnya, bagian itu selalu tumbuh kembali,” kata Hanuman.

"Hai, Hanuman, aku dengar nyawa Rawana itu ada pada kepalanya yang kecil, terletak di bawah telinga kanannya. Jika kepalanya yang itu kena panah, maka hilanglah kekuatannya. Selain itu, memang Rawana tak akan mati selama ada bulan dan matahari. Di istana Rawana ada juga pedang yang siang malam dipuja istrinya. Bila pedang itu hilang, hilang pula kekuatan Rawana."

Hanuman pun melaporkan pada Sri Rama keterangan yang diperolehnya dari Sita Dewi. Dan, keesokan harinya ketika perang tanding berlanjut, Sri Rama memanah kepala Rawana. Sembilan kepala Rawana yang menempel pada tubuhnya terpenggal oleh panah Sri Rama. Hanuman segera mengambil sembilan kepala Rawana yang terpenggal, dan dia pun langsung melompat ke istana Langkapuri. Diserahkannya sembilan kepala Rawana yang terpenggal itu kepada Mandudari, istri Rawana. Mandudari pun menangis terisak-isak membayangkan kematian Rawana sembari menutup mukanya dengan selendang. Ketika Mandudari tengah menutup mukanya dengan selendang itu, Hanuman menyelinap ke dalam dan mengambil pedang Rawana yang selalu dipuja-puja istrinya itu.

Sementara itu, pertempuran antara Sri Rama dan Rawana tengah berlangsung seru. Sri Rama mengincar kepala Rawana yang berada di bawah telinga kanannya, yang kecil keras itu. Panah Sri Rama mengenai kepala bagian itu dengan tepat, dan robohlah Rawana. Tubuh Rawana yang terbelah-belah oleh panah Sri Rama menggeliat-geliat sekarat. Akhirnya, dengan satu panah lagi Sri Rama yang menghunjam di dada Rawana tamatlah Rawana.

Sri Rama diikuti Laksmana dan Hanuman segera menuju ke tempat Sita Dewi ditawan Rawana. Sri Rama terkagum-kagum melihat keadaan tempat itu yang dikitari perhiasan emas berlian. Ketika Sita Dewi melihat kedatangan Sri Rama, dia berlari mendekat ke Sri Rama.

"Hai, Sita Dewi, jangan kamu sentuh diriku!" teriak Sri Rama. "Aku takut kamu telah terjamah Rawana!"

Sita Dewi menangis terisak mendengar kecurigaan Sri Rama itu. Lalu katanya, "Sri Rama, selama berada di tempat ini bila Rawana datang mendekat kepadaku aku selalu menjauh. Tak pernah sekalipun kuberikan kesempatan kepadanya untuk menyentuh tubuhku."

"Sita Dewi, aku baru percaya padamu jika kamu telah memperlihatkan kesucianmu dalam kobaran bara api."

"Baiklah, Kakanda, akan aku lakukan!"

Sita Dewi pun memasuki kobaran api yang menyala-nyala, tetapi tubuhnya sama sekali tidak hangus termakan api, bahkan pakaian yang dikenakannya pun tetap utuh tak terjilat api. Sri Rama akhirnya memeluk dan menciumi Sita Dewi, karena istrinya tetap bertahan setia dalam sekapan Rawana yang ganas.

Mandudari, istri Rawana, dan Bibusana yang ikut menyaksikan ketika Sita membuktikan kesucian dirinya dalam kobaran api hanya diam termenung. Dengan perlahan Bibusana akhirnya berucap, "Rawana itu sesungguhnya bapak Sita Dewi. Ketika Sita Dewi masih bayi, memang telah kuramalkan suami anak ini kelak akan membunuh Rawana. Karena ramalanku itu akhirnya Rawana membuang si bayi ke tengah laut. Rawana agaknya kehilangan jejak dan tak lagi mengenali kalau Sita Dewi anaknya."

Sita Dewi hanya bisa meratap dalam hati, "Duh, Gusti, kenapa Kau berikan wajah yang rupawan, tubuh yang molek padaku sehingga bapakku pun tergoda padaku, menjadi kalap nafsunya, lupa segalanya hingga tega berbunuhan dengan lelaki yang sesungguhnya menantunya? Duh, Gusti, kenapa wajah dan tubuhku tak datar dan rata saja hingga tak akan pernah melahirkan perang dan saling bunuh?"

Sita Dewi pada akhirnya hanya terdiam, tak mampu menjawab anugerah sekaligus teka-teki alam itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI