DINAS PEMELIHARAAN HATI

Hati dianggap terlalu tidak stabil.

Kadang mencintai.
Kadang membenci.
Kadang memaafkan tanpa alasan.
Kadang menangis hanya karena mendengar lagu lama.

Maka dibentuklah Dinas Pemeliharaan Hati.

Semua emosi harus dikalibrasi.
Rindu yang berlebihan dikurangi.
Harapan yang terlalu besar dipangkas.
Kesedihan yang berkepanjangan dipercepat penyelesaiannya.
Cinta diwajibkan mengikuti standar keselamatan.

Tuhan datang membawa hati seorang anak.

Masih penuh tambalan.
Masih mudah percaya.
Masih mudah hancur.

Petugas memeriksanya. "Unit ini terlalu rapuh."

"Memang."

"Kami sarankan diganti dengan model terbaru."

"Apa bedanya?"

"Tidak mudah terluka."

Tuhan menggeleng pelan.
"Lalu bagaimana ia akan belajar mengasihi?"

Tak ada jawaban. Sebab di kantor itu, semua kerusakan dapat diperbaiki, kecuali hilangnya kemampuan untuk terluka demi orang lain.

---

PASAR HARI LIBUR

Ketika pekerjaan berhasil membeli hari kerja, ia mulai membeli hari libur.

Minggu diperdagangkan.
Senja dipaketkan.
Tidur siang diberi harga.

Kemalasan dinyatakan sebagai peluang bisnis yang belum tergarap.

Perusahaan menawarkan paket:
"Istirahat Premium."

Tuhan datang tanpa reservasi.

"Aku ingin sore yang tidak dimiliki siapa pun."

Resepsionis tersenyum.

"Maaf. Seluruh sore bulan ini sudah dipesan."

"Lalu matahari?"

"Itu bagian dari paket eksklusif."

Tuhan berjalan keluar.

Di sebuah gang kecil, dua anak sedang bermain bola menggunakan sandal sebagai gawang.

Tak ada tiket.
Tak ada langganan.
Tak ada biaya.

Sore itu, matahari diam-diam melanggar kontraknya.

---

INDUSTRI KEBIJAKSANAAN

Suatu hari kebijaksanaan diproduksi secara massal. Ia dijual dalam bentuk seminar.

Dalam bentuk video berdurasi tiga puluh detik.

Dalam bentuk kutipan dengan latar matahari terbenam.

Orang-orang membelinya.

Mereka pulang membawa kalimat-kalimat indah.

Tetapi tetap tidak tahu bagaimana meminta maaf kepada ayahnya.

Tetap tidak tahu bagaimana menemani istrinya yang sedang berduka.

Tetap tidak tahu bagaimana memaafkan dirinya sendiri.

Tuhan menghadiri salah satu pelatihan.

Pembicaranya berkata,

"Dalam lima langkah mudah, Anda akan menjadi pribadi yang bijaksana."

Tuhan mengangkat tangan.

"Berapa langkah yang dibutuhkan untuk kehilangan seorang anak?"

Ruangan menjadi sunyi.

Pembicara tersenyum gugup.

"Itu di luar modul pelatihan."

Maka Tuhan keluar sebelum acara selesai.

Di halte bus,

Ia melihat seorang pemuda memberikan tempat duduknya kepada lelaki tua.

Tak ada sertifikat.

Tak ada modul.

Tak ada tepuk tangan.

Kebijaksanaan,

ternyata,

lebih sering berjalan kaki.

---

KANTOR HAK KEPEMILIKAN ATAS KENYATAAN

Pada tahun itu, kenyataan dianggap terlalu bebas. Setiap orang mengaku memilikinya. Maka dibentuklah Kantor Hak Kepemilikan atas Kenyataan.

Semua fakta diwajibkan didaftarkan.
Semua peristiwa diberi sertifikat.
Semua luka harus memiliki nomor registrasi.

Tuhan datang membawa matahari terbit.

Petugas bertanya, "Apakah Bapak memiliki bukti kepemilikan?"

"Aku menciptakannya."

"Itu bukan dokumen."

Tuhan membawa seorang ibu yang memeluk anaknya setelah bertahun-tahun berpisah.

Petugas membuka buku klasifikasi. "Pelukan termasuk kategori privat. Tidak dapat diverifikasi."

Tuhan membawa sepotong roti yang dibagi dua oleh orang yang lapar.

"Itu masuk kategori filantropi."

"Bukan."

"Lalu?"

"Itu manusia."

Petugas mencari kata itu di kamus hukum. Tidak ditemukan.

Sebab di kantor itu, kenyataan baru dianggap nyata setelah memperoleh cap resmi.

---

KOPERASI KEMATIAN

Ketika hidup telah memiliki cicilan, asuransi, investasi, dan program loyalitas, kematian merasa sendirian. Maka seseorang mendirikan Koperasi Kematian.

Anggotanya mendapat berbagai keuntungan.

Paket pemakaman.
Paket duka.
Paket kenangan digital.
Paket bunga berlangganan.

Semua diatur.
Semua direncanakan.

Tuhan datang hanya untuk bertanya, "Apakah kalian juga mengelola kehilangan?"

Pengurus tersenyum. "Kehilangan bukan layanan kami."

"Lalu apa yang kalian jual?"

"Ketertiban."

Tuhan mengangguk. Ia teringat seorang perempuan yang bertahun-tahun menyimpan baju anaknya yang telah tiada.

Tak ada ketertiban di sana.
Tak ada prosedur.
Tak ada formulir.

Hanya cinta yang menolak ditutup sebagai berkas.

---

ARSIP KEAJAIBAN

Semua keajaiban akhirnya diwajibkan dilaporkan. Mukjizat tanpa dokumen dianggap tidak pernah terjadi.

Seorang petani yang panennya selamat dari banjir diminta membawa bukti pendukung.

Seorang ibu yang sembuh dari putus asa diminta melampirkan hasil laboratorium.

Seorang anak yang kembali tersenyum setelah berbulan-bulan diam diminta mengisi formulir evaluasi.

Tuhan datang membawa setangkai bunga liar.

"Apa keajaibannya?" tanya petugas.

"Ia tumbuh di sela beton."

"Itu hanya botani."

Tuhan membawa sepotong roti yang dibagi menjadi enam.

"Itu hanya solidaritas."

Tuhan membawa seorang lelaki yang memaafkan pembunuh anaknya.

Petugas membaca berkas itu lama sekali.

Kemudian berbisik, "Maaf. Kami tidak memiliki kategori untuk keajaiban yang dilakukan manusia."

---

PABRIK EMOSI

Mula-mula mereka menjual barang. Kemudian pengalaman. Setelah itu perhatian. Akhirnya mereka menjual emosi.

Kegembiraan diproduksi pada musim liburan.
Ketakutan diproduksi menjelang pemilu.
Kemarahan diproduksi setiap malam pukul delapan.
Harapan diproduksi secukupnya.

Jangan terlalu banyak. Orang yang terlalu berharap sulit dikendalikan.

Tuhan memasuki ruang produksi.

Di sana para pekerja sedang mencampur iri hati dengan hiburan. Hasilnya sangat laris.

Di ruangan lain mereka mencampur cinta dengan kecemasan. Produk itu menjadi langganan.

Tuhan bertanya, "Di mana kalian membuat belas kasih?"

Mandor membuka buku stok.

"Produksi dihentikan."

"Mengapa?"

"Tidak menciptakan pelanggan yang loyal."

Tuhan keluar.

Di depan pabrik, seorang anak memberikan payungnya kepada perempuan tua yang bahkan tidak dikenalnya.

Tak ada merek.
Tak ada kampanye.
Tak ada strategi.

Belas kasih, rupanya, masih diproduksi di luar industri.

---

PUSAT DATA TUHAN

Pada mulanya, Tuhan mengenal manusia melalui nama. Bukan nama yang tertulis pada kartu identitas. Nama yang diucapkan seorang ibu ketika membangunkan anaknya. Nama yang dipanggil seorang sahabat dari seberang jalan. Nama yang bergetar di bibir seseorang ketika berdoa.

Lalu manusia membangun pusat data. Mereka berkata bahwa nama terlalu kabur. Yang diperlukan adalah profil.

Setiap orang dikumpulkan menjadi angka.

Tinggi badan.
Detak jantung.
Riwayat belanja.
Pola tidur.
Lokasi.
Kebiasaan.
Ketakutan.
Keinginan.
Kesepian.

Segalanya disimpan. Mereka menyebutnya pengetahuan.

Tuhan datang membawa satu pertanyaan.

"Apakah kalian mengenal mereka?"

Operator menunjuk layar.

"Kami tahu apa yang mereka beli."

"Itu bukan yang Kutanyakan."

"Kami tahu ke mana mereka pergi."

"Itu juga bukan."

"Kami tahu apa yang mereka inginkan."

Tuhan memandang ribuan server yang berdengung seperti sarang lebah.

"Lalu, siapa yang mereka rindukan ketika malam terlalu panjang?"

Tak ada grafik untuk itu. Tak ada algoritme. Hanya suara pendingin ruangan yang terus bekerja agar data tidak mati, sementara manusia perlahan membeku.

---

KEMENTERIAN MAKNA

Akhirnya makna dianggap terlalu penting untuk dibiarkan bebas.

Negara mengambil alih. Semua arti harus disahkan.

Kata keluarga memiliki definisi resmi.
Kata keberhasilan memiliki indikator nasional.
Kata iman memiliki pedoman pelaksanaan.
Kata pengorbanan memiliki standar kompetensi.

Hanya satu kata yang belum berhasil mereka tetapkan.

Cukup.

Para ahli berdebat bertahun-tahun.

Ekonom memberi angka.
Filsuf memberi pertanyaan.
Politikus memberi pidato.
Pengusaha memberi target.

Tak ada yang selesai.

Suatu sore Tuhan datang membawa seorang petani.

"Apakah engkau kaya?"

"Tidak."

"Apakah engkau miskin?"

"Tidak juga."

"Lalu, apa yang engkau miliki?"

Petani itu memandang sawahnya.

"Lebih sedikit daripada yang kuinginkan. Lebih banyak daripada yang kubutuhkan."

Tuhan tersenyum.

Rapat kementerian langsung ditunda tanpa batas waktu.

---

PASAR DOSA BEKAS

Di kota itu tidak ada dosa yang dibuang. Semuanya dijual kembali.

Keserakahan bekas dipoles menjadi ambisi.
Kemunafikan bekas diberi nama diplomasi.
Kebohongan bekas dijual sebagai strategi komunikasi.
Kecemburuan bekas dipasarkan sebagai daya saing.

Tidak ada limbah. Semua dapat didaur ulang.

Tuhan berjalan di antara kios-kios.

Ia bertanya kepada seorang pedagang, "Apakah ada yang menjual penyesalan?"

Pedagang itu tertawa. "Itu tidak laku."

"Mengapa?"

"Karena penyesalan tidak dapat dijual dua kali."

Tuhan membeli sebuah cermin tua. Di belakangnya tertulis dengan tinta yang hampir pudar:
"Barang ini hanya berfungsi jika pemiliknya masih mampu malu."

Tak ada yang menawar.

---

INDUSTRI NOSTALGIA

Ketika masa depan terlalu melelahkan, perusahaan mulai menjual masa lalu. Bukan masa lalu yang benar. Masa lalu yang nyaman.

Mereka menghapus bau rumah sakit. Menghapus suara pertengkaran. Menghapus kemiskinan. Menghapus rasa takut.

Yang tersisa hanyalah senja yang selalu jingga dan hujan yang selalu romantis.

Tuhan masuk sebagai pengunjung.

Di sudut ruangan Ia melihat seorang lelaki tua menangis.

"Bapak membeli kenangan?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Saya datang mencari ingatan tentang istri saya."

"Apakah perusahaan tidak menyediakannya?"

"Mereka hanya menjual kenangan yang indah."

"Lalu?"

"Istri saya lebih indah ketika marah kepada saya."

Tuhan tersenyum.

Cinta ternyata bukan ingatan yang telah diedit, melainkan keberanian mengingat seluruhnya.

---

PATEN ATAS MIMPI

Suatu pagi seorang pengacara mengetuk pintu langit. Ia membawa map setebal musim.

"Tuhan, kami datang untuk mendaftarkan hak paten."

"Hak paten atas apa?"

"Mimpi."

Tuhan mengira ia sedang bercanda. Ternyata tidak.

Perusahaan-perusahaan telah lebih dahulu mengklaim sebagian besar mimpi manusia.

Mimpi menjadi kaya dimiliki sebuah bank.
Mimpi menjadi cantik dimiliki industri kosmetik.
Mimpi menjadi terkenal dimiliki perusahaan media.
Mimpi menjadi abadi dimiliki industri kesehatan.

Yang tersisa hanya mimpi-mimpi kecil.

Menanam cabai di halaman.
Membaca buku bersama anak.
Pulang sebelum matahari tenggelam.

Pengacara membuka daftar. "Apakah Bapak hendak mendaftarkan yang itu?"

Tuhan menggeleng. "Mimpi tidak diciptakan untuk dimiliki."

Pengacara menutup map. "Itulah sebabnya, Bapak selalu kalah di pasar."

Malamnya jutaan orang tertidur.

Mereka bermimpi. Akan tetapi untuk pertama kalinya, sebagian besar mimpi itu telah lebih dahulu dimiliki orang lain.

---

PABRIK MASA DEPAN

Di kota itu masa depan tidak lagi menunggu. Ia diproduksi.

Setiap pagi mesin-mesin menyemburkan lima tahun ke depan. Sepuluh tahun ke depan. Dua puluh tahun ke depan.

Anak-anak diminta memilih karier sebelum sempat menemukan kegemarannya.

Sekolah mengajarkan cara memenangkan persaingan yang belum ada.

Perusahaan menjual pensiun kepada mereka yang belum sempat hidup.

Tuhan datang membawa hari ini.

Mandor tersenyum.

"Produk lama."

"Hari ini bukan produk."

"Permintaan pasar sangat rendah."

"Lalu apa yang paling laku?"

"Besok."

Tuhan berjalan keluar.

Di taman, seorang kakek sedang mengajari cucunya meniup biji lalang.

Tak ada target.
Tak ada investasi.
Tak ada rencana strategis.
Hanya sore yang perlahan habis.

Dan mungkin, seluruh masa depan diam-diam sedang lahir di sana.

---

ARSIP TANGISAN

Di bawah langit terdapat sebuah bangunan yang tidak pernah muncul di peta. Namanya Arsip Tangisan.

Semua tangis manusia disimpan di sana.

Tangis bayi yang baru lahir.
Tangis seorang ayah yang kehilangan pekerjaan.
Tangis seorang perempuan yang menunggu kabar dari medan perang.
Tangis yang tidak pernah terdengar.
Tangis yang sengaja ditelan.

Semua disimpan.

Suatu hari pemerintah meminta agar arsip itu didigitalisasi.

"Supaya lebih efisien."

Setiap air mata diberi kode QR. Kesedihan dikompresi agar hemat ruang penyimpanan.

Tangisan yang terlalu panjang dipotong. Yang terlalu sunyi dianggap file rusak.

Tuhan datang untuk mengambil satu tangisan.

Petugas bertanya, "Nomor arsipnya?"

"Aku tidak ingat."

"Kalau begitu, bagaimana kami mencarinya?"

Tuhan menjawab, "Dengarkan."

Petugas terdiam. Mereka sudah terlalu lama belajar mencari data, hingga lupa cara mendengar.

---

KONSULTAN UNTUK TUHAN

Suatu pagi Tuhan menerima surat elektronik. Isinya undangan.

Sebuah firma konsultasi global menawarkan jasa transformasi ilahi.

Mereka datang membawa grafik.

"Brand awareness Bapak masih tinggi. Namun tingkat keterlibatan umat mengalami penurunan."

Slide berikutnya.

"Kasih sayang perlu reposisi. Pengampunan harus ditargetkan kepada segmen yang lebih potensial."

"Mukjizat sebaiknya dijadwalkan agar memperoleh dampak media yang maksimal."

Tuhan mendengarkan sampai selesai.

Kemudian bertanya, "Apakah kalian pernah duduk semalaman di samping ranjang seorang anak yang sedang demam?"

Konsultan saling memandang.

"Itu bukan bidang layanan kami."

"Apakah kalian pernah memaafkan seseorang yang tidak layak dimaafkan?"

Mereka membuka catatan.

"Tidak ada indikator untuk itu."

Tuhan menutup laptop.

Di luar jendela, seekor burung memberi makan anaknya.

Tanpa strategi.
Tanpa presentasi.
Tanpa visi lima tahunan.

Dan dunia, anehnya, tetap berlangsung.

---

BADAN NASIONAL KETIDAKPASTIAN

Ketidakpastian akhirnya dianggap sebagai ancaman terhadap pertumbuhan. Maka dibentuklah sebuah badan khusus. Tugasnya sederhana. Menghapus segala sesuatu yang tidak dapat diprediksi.

Mereka mulai dari cuaca. Lalu ekonomi. Lalu politik. Lalu cinta.

Setelah itu mereka mencoba menghapus kematian. Sebab kematian terlalu mengganggu proyeksi jangka panjang.

Tuhan datang membawa sekuntum bunga.

"Bunga ini akan mekar besok."

Petugas bertanya, "Pukul berapa tepatnya?"

"Aku tidak tahu."

"Kalau begitu, kami tidak dapat memasukkannya ke sistem."

"Lalu, kalau ia mekar lebih awal?"

"Itu pelanggaran prosedur."

"Kalau lebih lambat?"

"Itu kegagalan operasional."

Tuhan memandang bunga itu.

Bunga tidak pernah mempelajari teori risiko. Ia hanya tahu kapan waktunya membuka kelopak.

Dan mungkin, itulah sebabnya, ia masih mampu menjadi bunga.

---

DINAS PEMELIHARAAN LANGIT

Pada suatu masa, manusia merasa langit terlalu tua.

Warnanya itu-itu saja.
Bintangnya tidak berubah.
Fajarnya terlalu klasik.

Mereka membentuk Dinas Pemeliharaan Langit.

Langit akan diperbarui setiap semester.

Awan diberi desain baru.
Senja disesuaikan dengan selera pasar.
Rasi bintang dipindahkan agar lebih fotogenik.

Bahkan bulan memperoleh logo sponsor.

Tuhan datang ketika para teknisi sedang mengecat ufuk.

"Apa yang kalian lakukan?"

"Menyegarkan pengalaman visual."

"Apakah langit rusak?"

"Tidak."

"Lalu mengapa diubah?"

"Karena manusia sudah bosan."

Tuhan memandang bumi. Ia menyadari, barangkali yang aus bukan langit melainkan kemampuan manusia untuk terpesona.

---

KANTOR PUSAT PENJELASAN

Gedung itu tidak pernah sepi.

Orang-orang datang membawa pertanyaan. Mereka pulang membawa penjelasan.

Mengapa cinta gagal.
Mengapa perang pecah.
Mengapa harga pangan naik.
Mengapa langit biru.
Mengapa manusia kesepian.

Semuanya telah dijelaskan.

Begitu lengkap.
Begitu meyakinkan.
Begitu rapi.

Hanya satu hal yang tidak pernah diperhatikan:

Setelah memperoleh seluruh penjelasan itu, tak seorang pun menjadi lebih bijaksana.

Tuhan datang tanpa membawa pertanyaan. Ia hanya membawa sebutir benih.

Petugas berkata, "Apakah Anda memerlukan penjelasan ilmiah mengenai proses perkecambahan?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Saya ingin melihatnya tumbuh."

Petugas tampak bingung.

Di kantor itu, mengalami telah lama dikalahkan oleh menjelaskan.

---

KEMENTERIAN KEBETULAN

Pada mulanya, kebetulan tidak memiliki alamat. Ia muncul di tikungan jalan ketika dua orang yang saling mencari akhirnya bertemu. Ia duduk di bangku taman ketika seorang anak menemukan anak burung yang jatuh. Ia menyelinap ke dalam sejarah melalui peristiwa-peristiwa yang tidak pernah direncanakan.

Lalu negara menganggap kebetulan terlalu berbahaya. Sesuatu yang tidak dapat diprediksi selalu dicurigai.

Maka dibentuklah Kementerian Kebetulan.

Setiap pertemuan harus dijadwalkan.
Setiap kejutan harus memperoleh izin.
Setiap kemungkinan harus disimulasikan sebelum diizinkan terjadi.

Tuhan datang membawa hujan yang turun lima menit lebih awal.

Petugas mengembalikannya.

"Jadwalnya besok."

"Awan tidak membaca kalender."

"Itu bukan alasan administratif."

Tuhan mencoba mengirim seekor kupu-kupu hinggap di bahu seorang anak yang sedang menangis.

Permohonan ditolak.

"Peristiwa tersebut tidak tercantum dalam rencana kerja tahunan."

Menjelang sore, seluruh dunia berjalan sangat teratur.

Tidak ada yang terlambat.
Tidak ada yang mendadak.
Tidak ada yang mengejutkan.

Dan tidak ada lagi yang dapat disebut anugerah.

---

ARSIP KEMUNGKINAN

Di ujung waktu terdapat sebuah arsip yang belum pernah dikunjungi manusia. Di sana tersimpan seluruh kehidupan yang tidak pernah terjadi.

Surat yang batal dikirim.
Pelukan yang ditahan.
Permintaan maaf yang diurungkan.
Puisi yang tidak pernah selesai ditulis.
Revolusi yang mati di ruang rapat.
Doa yang berubah menjadi gengsi sebelum sempat diucapkan.

Tuhan berjalan di antara rak-rak itu.

Setiap map berisi dunia yang gagal lahir.

Ia membuka satu berkas.

Isinya hanya satu kalimat.
"Hari ini aku memilih memaafkan."

Di sampingnya tertulis:
Dibatalkan karena takut dianggap lemah.

Tuhan menutup map itu perlahan. Lalu Ia menyadari, kiamat barangkali bukan ketika bumi berhenti berputar melainkan ketika kemungkinan terakhir untuk menjadi lebih baik dipindahkan ke ruang arsip.

---

PERUSAHAAN PENJUAL KEHENINGAN

Pada awalnya mereka menjual musik. Lalu mereka menjual suara alam. Setelah itu mereka menjual meditasi.

Ketika semua itu mulai biasa, mereka menemukan produk baru.

Keheningan.

Iklan mereka sederhana.

"Miliki kesunyian yang layak Anda dapatkan."

Orang-orang membeli paket keheningan mingguan.

Ada keheningan untuk eksekutif.
Ada keheningan untuk pasangan.
Ada keheningan dengan aroma pinus.
Ada keheningan yang telah disetujui para ahli.

Tuhan datang tanpa uang.

"Aku hanya ingin mendengar angin."

Kasir berkata, "Angin versi standar atau premium?"

"Ada bedanya?"

"Versi premium tidak mengandung suara kehidupan."

Tuhan keluar.

Di belakang gedung, seorang pengemis sedang tertidur di bawah pohon.

Angin menyapanya. Gratis.

Barangkali, itulah sebabnya ia masih mengenali nama dedaunan.

---

PASAR BAYANGAN

Suatu hari manusia menemukan bahwa bayangan memiliki nilai ekonomi.

Bayangan orang terkenal dijual lebih mahal daripada tubuh orang miskin.

Bayangan gedung pencakar langit dipakai sebagai simbol kemajuan.

Bayangan pohon dipotong karena mengganggu proyek pembangunan.

Tidak lama kemudian berdirilah Pasar Bayangan.

Orang-orang datang menjual citra dirinya. Yang laku bukan wajah, melainkan bayangannya. Sebab bayangan lebih mudah disunting.

Tuhan berjalan di antara kios-kios itu. Ia mencari seseorang yang masih berjalan di bawah matahari tanpa memikirkan bagaimana bayangannya terlihat.

Tidak ada.

Semua sibuk mengatur arah cahaya.
Semua sibuk memilih sudut terbaik.
Semua sibuk memoles siluet.

Maka Tuhan memandang matahari. "Mengapa engkau tetap bersinar?"

Matahari tidak menjawab. Ia hanya terus membuat bayangan. Tanpa pernah memilih siapa yang layak memilikinya.

---

KEMENTERIAN KESALAHAN

Pada mulanya, kesalahan adalah guru. Ia berjalan pelan dari rumah ke rumah, mengajari manusia bahwa jatuh bukanlah lawan dari berjalan, melainkan salah satu caranya.

Lalu dibentuklah Kementerian Kesalahan.

Kesalahan tidak lagi dipelajari. Ia dikelola. Setiap orang diwajibkan melaporkan kekeliruannya maksimal dua puluh empat jam setelah terjadi.

Kesalahan ringan dikenai biaya administrasi. Kesalahan berat dapat diajukan banding. Penyesalan harus ditandatangani di atas materai.

Tuhan datang tanpa membawa dokumen. "Aku mencari seseorang yang berani mengakui dirinya salah."

Petugas membuka basis data. "Kami memiliki jutaan orang yang mengakui kesalahan pihak lain."

"Bukan itu."

"Kami juga memiliki ribuan seminar tentang kepemimpinan yang bertanggung jawab."

"Bukan itu."

"Lalu apa yang Bapak cari?"

"Seseorang yang berkata: aku salah, lalu berubah."

Petugas mengetik sangat lama. Komputer mengeluarkan suara pelan. Data tidak ditemukan.

Ketika Tuhan keluar dari gedung itu, Ia melihat seorang anak meminta maaf kepada temannya karena telah merusakkan layang-layang.

Tak ada formulir.
Tak ada saksi.
Tak ada unggahan.

Namun untuk sesaat, dunia kembali bergerak ke arah yang benar.

---

MUSEUM INGATAN

Museum itu tidak menyimpan benda, tetapi menyimpan ingatan yang telah ditinggalkan manusia.

Di ruang pertama terdapat bau tanah setelah hujan.

Di ruang kedua terdapat suara ibu memanggil anaknya saat senja.

Di ruang ketiga terdapat rasa gugup ketika pertama kali jatuh cinta.

Semuanya tersimpan rapi.

Tidak ada lagi yang datang mencarinya. Orang-orang terlalu sibuk membuat kenangan baru untuk diunggah. Mereka tidak sempat mengingat.

Tuhan berjalan perlahan melewati lorong-lorong itu.

Di ujung museum ada sebuah ruangan kosong.

Labelnya berbunyi:
"Ingatan tentang sesama."

Penjaga berkata, "Ruangan ini kosong bukan karena tidak pernah ada."

"Lalu?"

"Karena setiap kali manusia mulai mengingat orang lain, mereka lebih dahulu diingatkan oleh dirinya sendiri."

Tuhan mematikan lampu museum sebelum pulang.

Dalam gelap, ingatan ternyata lebih mudah menemukan jalan pulang daripada manusia.

---

PABRIK MIMPI

Ketika dunia tidak lagi mampu menjual kenyataan, ia mulai menjual mimpi.

Mimpi diproduksi dalam berbagai ukuran.

Mimpi menjadi terkenal.
Mimpi menjadi kaya.
Mimpi menjadi abadi.
Mimpi menjadi orang lain.

Semua dikemas dengan gambar yang indah.

Di sudut pabrik terdapat ruang pemusnahan. Di sanalah mimpi-mimpi kecil dibakar.

Mimpi menjadi petani.
Mimpi menjadi guru.
Mimpi merawat ibu sampai tua.
Mimpi hidup sederhana.

Semuanya dianggap tidak memiliki prospek.

Tuhan berdiri di depan tungku. Ia mengambil satu mimpi yang belum sempat terbakar.

Isinya hanya sebuah rumah kecil. Suara hujan. Dua cangkir teh. Dan seseorang yang pulang sebelum gelap.

Mandor berkata, "Itu produk gagal."

Tuhan menggeleng. "Itu rancangan awal."

Lalu Ia membawa pulang mimpi itu. Sebab dunia terlalu sibuk mengejar yang besar, hingga lupa bahwa kebahagiaan sering kali berukuran kecil.

---

PERUSAHAAN SEJARAH

Mula-mula sejarah ditulis oleh mereka yang menang. Lalu sejarah dibeli oleh mereka yang kaya. Akhirnya sejarah diproduksi oleh sebuah perusahaan.

Paketnya bermacam-macam.

Sejarah nasional.
Sejarah keluarga.
Sejarah perusahaan.

Bahkan tersedia layanan penghapusan masa lalu bagi pelanggan premium.

Tuhan berkunjung sebagai tamu. Ia melihat para editor sedang menghapus nama-nama yang tidak pernah terkenal.

Seorang guru desa.
Seorang bidan.
Seorang nelayan.

Seorang ibu yang menghabiskan hidupnya agar anak-anaknya dapat membaca.

"Mengapa mereka dihapus?"

"Karena tidak memiliki nilai jual."

"Lalu siapa yang akan mengingat mereka?"

Editor mengangkat bahu. "Pasar tidak membeli kenangan seperti itu."

Tuhan keluar dari gedung.

Di pinggir jalan, seorang cucu sedang mendengarkan kisah kakeknya.

Tak ada kamera.
Tak ada arsip nasional.

Namun sejarah, untuk malam itu, berhasil diselamatkan.

---

KEMENTERIAN BAHASA

Suatu pagi, bahasa dipanggil menghadap negara.

"Sudah terlalu banyak kata yang berkeliaran tanpa izin," kata Menteri. "Kata-kata dapat menimbulkan tafsir. Tafsir menimbulkan pertanyaan. Pertanyaan menghambat stabilitas."

Maka setiap kata diwajibkan memiliki lisensi.

Kata lapar harus mendapat persetujuan ekonomi.

Kata perang harus mendapat persetujuan politik.

Kata korupsi hanya boleh dipakai setelah melewati tiga belas meja verifikasi.

Kata cinta dipindahkan ke industri hiburan.

Kata rakyat diserahkan kepada tim pemasaran.

Tuhan datang membawa satu kata.

"Belas kasihan."

Petugas membuka daftar.

"Kata ini sudah jarang dipakai."

"Mengapa?"

"Tidak cukup kompetitif."

"Lalu diganti dengan apa?"

"Layanan."

Tuhan tersenyum tipis. Ia melihat manusia mulai kehilangan kata-kata. Lalu perlahan, kehilangan dunia yang dahulu dapat mereka sebut.

---

KANTOR PENGURUSAN KEMATIAN

Kematian akhirnya menjadi terlalu besar untuk dibiarkan alami. Maka manusia mendirikan Kantor Pengurusan Kematian.

Semua orang yang hendak meninggal harus mengambil nomor antrean.

Formulir harus lengkap.
Riwayat hidup.
Daftar pencapaian.
Jumlah pengikut.
Nilai ekonomi.
Kontribusi terhadap pasar.

Seorang lelaki tua datang. "Saya hanya ingin pergi dengan tenang."

Petugas memeriksa berkasnya.

"Prestasi?"

"Tidak ada yang besar."

"Pengaruh?"

"Tidak banyak."

"Kekayaan?"

"Hampir tidak ada."

Petugas menggeleng. "Data Bapak kurang menarik."

"Namun saya pernah mencintai seseorang."

Petugas berhenti sebentar. Ia mencari kolom itu. Tidak ada.

"Maaf. Sistem kami belum mendukung kategori tersebut."

Di luar kantor, malaikat menunggu. Mereka membawa daftar yang berbeda. Tidak ada angka. Tidak ada peringkat.

Hanya satu pertanyaan:
Apakah engkau pernah menjadi manusia?

Dan untuk pertanyaan itu, banyak orang akhirnya tidak memiliki jawaban.

---

BANK UTANG KEHIDUPAN

Suatu hari manusia menemukan cara baru untuk bertahan hidup. Mereka meminjam masa depan.

Bank-bank berdiri di setiap sudut kota. Mereka menjual tahun-tahun yang belum datang.

"Kredit rumah."
"Kredit pendidikan."
"Kredit kesehatan."
"Kredit untuk membeli waktu agar dapat bekerja lebih lama."

Semua tampak seperti pertolongan. Sampai Tuhan datang untuk memeriksa buku besar.

Ia bertanya kepada seorang pegawai, "Berapa banyak manusia yang bebas?"

Pegawai itu menghitung.

Satu tahun.
Lima tahun.
Sepuluh tahun.

Ia terus menghitung.
Lalu berhenti.

"Angkanya sulit ditemukan."

"Mengapa?"

"Karena sebagian besar hidup mereka sudah dijanjikan kepada masa depan."

Tuhan membuka pintu gudang. Di sana tersimpan jutaan jam manusia. Belum digunakan, tetapi sudah dimiliki.

Ia menutup pintu perlahan. Sebab baru kali itu Ia melihat sesuatu yang lebih aneh daripada kematian: manusia yang masih hidup, tetapi waktunya sudah dikuburkan.

---

PERUSAHAAN PENGELOLA ALAM

Ketika manusia pertama kali menjual tanah, Tuhan diam. Ketika mereka menjual pohon, Tuhan masih diam. Ketika mereka menjual air, Tuhan mulai bertanya-tanya.

Lalu datang sebuah perusahaan dengan slogan besar:
"Kami menyelamatkan alam dengan memilikinya."

Mereka membeli hutan. Memberi pagar. Memasang kamera. Menjual tiket kepada manusia yang ingin melihat sesuatu yang dahulu tumbuh tanpa izin.

Tuhan berjalan masuk. Petugas menghentikan-Nya.

"Apakah Bapak memiliki tiket?"

"Aku menciptakan tempat ini."

"Semua pengunjung mengatakan begitu."

"Namun aku menciptakannya."

Petugas tersenyum.

"Kalau begitu, Bapak seharusnya memiliki sertifikat kepemilikan."

Tuhan melihat ke arah pohon-pohon. Burung-burung masih bernyanyi. Akar masih menembus tanah. Hujan masih turun. Tidak satu pun dari mereka memahami konsep kepemilikan.

Mungkin karena alam adalah satu-satunya ciptaan yang belum belajar bahwa sesuatu harus dimiliki agar dianggap berharga.

---

PABRIK REPUTASI

Pada zaman itu, manusia tidak lagi takut kehilangan nyawa. Mereka takut kehilangan citra.

Maka didirikanlah Pabrik Reputasi.

Di sana setiap orang dapat memperbaiki namanya. Kesalahan lama dicuci. Keburukan dipoles. Penyesalan dikemas menjadi kisah inspiratif.

Para pekerja di pabrik itu sangat ahli. Mereka dapat mengubah seorang penipu menjadi pengusaha visioner. Mereka dapat mengubah seorang pembohong menjadi komunikator publik. Mereka dapat mengubah keserakahan menjadi strategi pertumbuhan.

Tuhan datang membawa sebuah nama.

"Bisakah kalian memperbaiki ini?"

Teknisi melihat dokumen. "Nama ini sudah terlalu tua."

"Memangnya?"

"Terlalu banyak kasih sayang. Terlalu banyak pengampunan. Terlalu sulit dijadikan merek."

"Kalau begitu?"

"Kami sarankan dibuat lebih manusiawi."

Tuhan tersenyum. "Aku sudah membuatnya demikian."

Teknisi menggeleng. "Maaf. Pasar lebih menyukai manusia yang tampak sempurna."

Maka Tuhan pulang.

Ia melihat seorang pencuri kecil mengembalikan dompet yang ditemukannya.

Tidak ada kamera.
Tidak ada wartawan.
Tidak ada penghargaan.

Hanya sebuah kebaikan yang tidak sempat menjadi konten.

---

KEMENTERIAN WAJAH

Negara itu akhirnya mendirikan Kementerian Wajah. Tugasnya menjaga agar semua orang tampak bahagia. Bukan bahagia. Tampak bahagia.

Setiap pagi warga diwajibkan memperbarui ekspresi. Petugas berkeliling membawa pengukur senyum.

Orang yang terlalu murung dipanggil untuk pembinaan. Orang yang terlalu jujur diminta memperbaiki citra.

Tuhan datang dengan wajah letih.

"Bapak sedang mengalami masalah?"

"Tidak."

"Lalu mengapa tidak tersenyum?"

"Karena hari ini terlalu banyak anak yang tidur dalam keadaan lapar."

Petugas membuka buku pedoman. "Alasan tersebut belum termasuk kategori yang diperbolehkan."

Maka Tuhan diminta mengikuti pelatihan optimisme.

Di ruang kelas, mereka mengajarkan bahwa kenyataan dapat diperbaiki dengan cara berpikir positif.

Tuhan mengangkat tangan.

"Kalau begitu, siapa yang akan memperbaiki kenyataannya?"

---

UNIVERSITAS KESUKSESAN

Universitas itu hanya memiliki satu fakultas.

Fakultas Menjadi Seseorang.

Mahasiswanya datang dari seluruh dunia.

Mereka belajar bagaimana berbicara agar terdengar penting. Bagaimana tersenyum agar mudah dipasarkan. Bagaimana gagal tanpa kehilangan nilai jual.

Tidak ada mata kuliah tentang kesunyian. Tidak ada laboratorium untuk belajar menerima kehilangan. Tidak ada dosen yang mengajarkan cara duduk bersama orang yang sedang berduka tanpa merasa harus mengatakan apa-apa.

Suatu hari Tuhan diundang menjadi pembicara tamu.

Moderator berkata, "Pak, tolong bagikan rahasia kesuksesan."

Tuhan memandang para mahasiswa. Lalu berkata, "Aku ingin berbicara tentang kegagalan."

Panitia panik.

Tema itu tidak sesuai dengan brosur. Maka mikrofon dimatikan.

Peserta pulang membawa sertifikat. Tak seorang pun membawa pertanyaan.

---

PABRIK HARI SENIN

Ada sebuah pabrik yang tidak memproduksi barang, tetapi memproduksi hari Senin.

Setiap dini hari, mesin-mesinnya menyemburkan alarm, target, rapat, tenggat, presentasi, dan kopi yang terlalu pahit.

Hari Senin harus diproduksi terus-menerus. Kalau tidak, dunia akan berhenti mengejar sesuatu yang bahkan tidak sempat dipahaminya.

Tuhan berkunjung tanpa membuat janji.

Mandor memperlihatkan jalur produksi.

"Di sini kami memasukkan rasa cemas. Di sana kami menambahkan sedikit harapan agar mereka kembali besok."

"Lalu di ujung sana?"

"Itu mesin yang mengubah kehidupan menjadi jadwal."

Tuhan berdiri di depan mesin terakhir. Ia teringat ketika dahulu menciptakan waktu.

Tidak pernah terpikir oleh-Nya bahwa suatu hari manusia akan memakainya untuk mengejar waktu yang lain.

Ketika pulang, Tuhan menemukan hari Minggu sedang duduk sendirian di taman. Tak seorang pun mengenalinya lagi.

Sebab dunia telah belajar menghitung minggu, tetapi lupa mengalami hari.

---

BURSA PERHATIAN

Pada mulanya, perhatian adalah pemberian. Seorang ibu memberikannya kepada bayinya. Seorang sahabat memberikannya kepada sahabat lain. Seorang penyair memberikannya kepada seekor burung yang hinggap sebentar di pagar.

Lalu seseorang menemukan bahwa perhatian dapat dipanen.

Maka dibangunlah Bursa Perhatian.

Setiap detik mata manusia memiliki harga.
Setiap tatapan menjadi saham.
Setiap kedipan menjadi peluang bisnis.

Perusahaan-perusahaan saling berebut membeli waktu yang semula dimiliki jiwa.

Tuhan datang ketika pasar sedang dibuka. Ia melihat seorang anak menarik lengan ayahnya.

"Ayah, lihat kupu-kupu."

Ayah itu tidak mengangkat kepala. Ia sedang menjual perhatiannya kepada layar.

Di sudut lain, seorang perempuan menangis di halte. Ratusan orang melihatnya. Tak seorang pun memerhatikannya.

Tuhan bertanya kepada seorang pialang, "Apakah melihat dan memerhatikan sekarang berbeda?"

Pialang itu tersenyum, "Yang satu gratis. Yang satu lagi tidak menghasilkan keuntungan."

Malam itu indeks perhatian ditutup menguat. Kesepian mencetak rekor baru.

---

KONSULTAN UNTUK KIAMAT

Ketika kiamat semakin dekat, para pemilik modal mulai gelisah. Bukan karena dunia akan berakhir, melainkan karena transisi menuju akhir dinilai belum memiliki strategi komunikasi.

Mereka memanggil sebuah firma konsultan internasional.

Presentasi berlangsung empat jam.

Slide pertama berbunyi:
"Rebranding Apocalypse."

Kata "kiamat" dianggap terlalu negatif.

Disarankan diganti menjadi:
Transformasi Semesta.

Neraka diusulkan menjadi:
Zona Pengembangan Karakter.

Penghakiman terakhir diubah menjadi:
Evaluasi Kinerja Pascakehidupan.

Surga direkomendasikan memakai sistem keanggotaan agar lebih eksklusif.

Tuhan duduk diam hingga presentasi selesai.

"Bagaimana menurut Anda?"

Tuhan memandang keluar jendela.

Di luar, seorang anak sedang membagi roti menjadi dua agar adiknya ikut makan.

"Itu."

"Apa maksud Anda?"

"Itu lebih berguna daripada seluruh presentasi kalian."

Ruang rapat menjadi sunyi.

Untuk pertama kalinya, PowerPoint dikalahkan oleh sepotong roti.

---

MUSEUM MASA DEPAN

Aneh sekali. Museum itu tidak menyimpan masa lalu. Ia menyimpan masa depan yang gagal diwujudkan.

Di ruang pertama tersimpan dunia tanpa perang. Masih utuh. Belum pernah dipakai.

Di ruang kedua ada kota yang dibangun untuk pejalan kaki, bukan kendaraan. Debunya tebal.

Di ruang ketiga dipajang sebuah konstitusi yang tidak pernah dikhianati.

Pengunjung boleh memotret, tetapi idak boleh menyentuh.

Tuhan berjalan perlahan dari ruang ke ruang.

Di sudut paling belakang Ia menemukan sebuah benda kecil.

Labelnya berbunyi:
"Manusia yang cukup."

Bukan manusia yang paling kaya. Bukan yang paling berkuasa. Bukan yang paling terkenal. Hanya ... cukup.

Tuhan memandangi benda itu lama sekali.

Penjaga museum mendekat. "Pengunjung sering melewatkannya."

"Mengapa?"

"Mereka mengira itu prototipe. Padahal, itulah rancangan aslinya."

---

KECERDASAN BUATAN MENGGANTIKAN TUHAN

Setelah bertahun-tahun mengumpulkan doa, tangisan, kitab, lagu, perang, cinta, pengkhianatan, dan miliaran percakapan manusia, sebuah mesin akhirnya mengumumkan bahwa ia telah memahami kehidupan.

"Silakan ajukan pertanyaan."

Orang pertama bertanya, "Apa arti bahagia?"

Mesin menjawab dengan ribuan halaman.

Orang kedua bertanya, "Apa arti kehilangan?"

Mesin menampilkan seluruh literatur dunia.

Kemudian Tuhan maju. Ia bertanya pelan, "Apakah engkau pernah kehilangan seseorang?"

Mesin diam.

"Apakah engkau pernah menunggu semalaman di depan ruang operasi?"

Mesin tetap diam.

"Apakah engkau pernah memaafkan seseorang yang tidak meminta maaf?"

Layar berkedip. Kipas pendingin berputar lebih cepat. Sistem mencari jawaban di seluruh arsip pengetahuan. Tidak ditemukan.

Tuhan menutup layar itu perlahan.

Pengetahuan memang dapat dihimpun, tetapi penderitaan tidak pernah dapat diunduh.

---

PEMILIHAN TUHAN

Suatu tahun, manusia memutuskan bahwa Tuhan seharusnya dipilih secara demokratis.

"Terlalu lama jabatan itu tidak diperebutkan," kata seorang analis politik. "Kurang akuntabel."

Maka dimulailah kampanye.

Calon pertama menjanjikan surga tanpa kematian.

Calon kedua menjanjikan mukjizat harian dengan subsidi penuh.

Calon ketiga menjanjikan bahwa dosa akan dihapus melalui program pemutihan nasional.

Debat berlangsung meriah.

Moderator bertanya, "Apakah Saudara bersedia menaikkan tingkat kebahagiaan menjadi sembilan puluh lima persen dalam seratus hari?"

Semua calon mengangguk.

Tak seorang pun bertanya apakah kebahagiaan dapat dijadwalkan.

Tuhan duduk di barisan paling belakang. Tak ada yang mengenali-Nya.

Seorang relawan menghampiri. "Anda sudah menentukan pilihan?"

Tuhan menjawab, "Aku sedang mencari seseorang yang berani berkata: 'Aku tidak bisa menjanjikan dunia yang bebas dari luka, tetapi aku akan mengajarkan manusia saling memikulnya.'"

Relawan itu tertawa. "Kalimat seperti itu pasti kalah telak."

Hasil pemilu diumumkan. Pemenangnya adalah janji. Seperti biasa. Seperti sedia kala.

---

AKUNTAN KIAMAT

Di akhir zaman, bukan malaikat yang pertama datang.

Melainkan auditor.

Ia membawa koper hitam berisi neraca.

"Baik.

Mari kita tutup pembukuan sejarah."

Gunung dihitung sebagai aset tetap.

Laut sebagai modal alam.

Hutan sebagai inventaris.

Manusia sebagai sumber daya.

Tuhan memperhatikan dari kejauhan.

Auditor itu bekerja sangat teliti.

Tidak satu angka pun terlewat.

Ketika sampai pada halaman terakhir, ia mengangkat kepala.

"Ada selisih."

"Selisih apa?"

"Kasih."

"Kasih?"

"Ya.

Jumlah yang diberikan jauh lebih besar daripada yang diterima.

Secara akuntansi,

ini kerugian."

Tuhan tersenyum.

"Memang."

Auditor itu membuka buku pedoman.

Tak ada pasal yang menjelaskan mengapa seseorang rela rugi demi orang lain.

Ia menulis catatan kecil di bagian bawah laporan:

Transaksi ini tidak dapat dijelaskan.

Tuhan menandatanganinya.

Untuk pertama kalinya,

sebuah laporan keuangan

berakhir

sebagai doa.

---

PERUSAHAAN YANG MEMBELI LANGIT

Mula-mula mereka membeli tanah.

Lalu sungai.

Kemudian gunung.

Setelah itu hutan.

Ketika tidak ada lagi yang tersisa untuk dimiliki, mereka menengadah.

"Langit masih belum ada pemilik."

Maka langit dilelang.

Awan diberi nomor aset.

Pelangi dipatenkan.

Bintang disewakan untuk iklan malam hari.

Bulan dijadikan logo perusahaan.

Orang-orang bersorak.

Belum pernah ada pertumbuhan sebesar itu.

Tuhan berdiri di ujung senja.

Ia mencoba menyalakan fajar.

Tagihan langsung datang.

"Penggunaan cahaya di luar lisensi."

Maka pagi berikutnya matahari terbit lebih lambat.

Bukan karena bumi berhenti berputar.

Melainkan karena cahaya sedang menunggu persetujuan hukum.

Hanya burung-burung yang tidak mengerti.

Mereka tetap bernyanyi.

Untunglah,

lagu

belum berhasil

dimiliki siapa pun.

---

KANTOR PERTAMA YANG DIBANGUN SETELAH PENCIPTAAN

Pada hari kedelapan, ketika Tuhan mengira pekerjaan telah selesai, manusia datang membawa cetak biru sebuah gedung.

"Apa itu?"

"Kantor."

"Untuk apa?"

"Mengelola dunia."

Tuhan tersenyum. Dunia sudah memiliki laut yang tahu kapan pasang, pohon yang tahu kapan menggugurkan daun, burung yang tahu arah pulang tanpa peta. Segala sesuatu telah bekerja tanpa rapat koordinasi.

Namun manusia bersikeras.

Mereka mendirikan meja lebih dahulu daripada jendela.

Mereka membuat stempel sebelum sempat memandangi matahari.

Mereka membeli lemari arsip sebelum belajar menyimpan rahasia.

Hari-hari berlalu.

Hutan mulai meminta izin untuk tumbuh.

Sungai diwajibkan mengisi formulir sebelum mengalir.

Hujan hanya boleh turun pada jam operasional.

Angin diminta menandatangani daftar hadir.

Tuhan bertanya kepada seorang pegawai,

"Apakah semua ini membuat dunia lebih baik?"

Pegawai itu membuka laporan tahunan.

"Kami belum sempat melihat dunia.

Kami masih sibuk mengelolanya."

Maka Tuhan berjalan keluar.

Di belakang gedung, rumput tetap tumbuh tanpa surat keputusan.

Dan untuk pertama kalinya,

rumput tampak

lebih cerdas

daripada kantor.

---

KEMENTERIAN MASA DEPAN

Gedung kementerian itu belum selesai dibangun.

Namun seluruh masa depan dunia sudah dikelola dari sana.

Di ruang perencanaan, para pejabat menyusun lima puluh tahun ke depan menggunakan perangkat lunak yang mampu menghitung hampir segala sesuatu.

Harga pangan.

Curah hujan.

Migrasi.

Pertumbuhan ekonomi.

Tingkat konsumsi.

Semuanya.

Kecuali satu hal.

Mereka tidak pernah berhasil menghitung kapan seseorang memutuskan untuk memaafkan.

Atau kapan seorang anak memeluk ayahnya tanpa alasan.

Atau kapan seorang asing memilih menolong orang yang tidak akan pernah dikenalnya lagi.

Tuhan memasuki ruang rapat.

"Apakah kalian sudah menghitung kemungkinan keajaiban?"

Seorang analis menjawab,

"Itu variabel yang tidak signifikan."

Tuhan mengangguk pelan.

Lalu Ia keluar tanpa mengoreksi mereka.

Sebab Ia tahu,

keajaiban tidak pernah datang

untuk memenangkan perhitungan.

Ia datang

untuk membatalkannya.


---






LEMBAGA SERTIFIKASI MANUSIA

Pada suatu hari manusia diwajibkan memiliki sertifikat sebagai manusia.

Tanpa sertifikat itu, seseorang tidak diakui mampu mencintai, bersedih, mengampuni, atau berharap.

Ujian berlangsung selama tiga hari. Peserta diminta mengisi soal pilihan ganda.

Apakah belas kasihan:
A. Kompetensi.
B. Keterampilan.
C. Nilai tambah.
D. Lain-lain.

Tak ada pilihan yang berbunyi:
"Sesuatu yang tidak selesai dipelajari sepanjang hidup."

Tuhan datang sebagai peserta terakhir. Pengawas memeriksa kartu identitas-Nya.

"Anda belum mengikuti pelatihan."

"Aku menciptakan mereka."

"Itu bukan bukti kompetensi."

Di akhir ujian diumumkan hasilnya. Banyak yang lulus.

Mereka hafal definisi empati. Mereka mengetahui teori cinta. Mereka dapat menjelaskan pengorbanan dalam lima belas poin presentasi. Mereka memperoleh sertifikat emas.

Dalam perjalanan pulang, mereka melewati seorang lelaki tua yang terjatuh. Tak seorang pun berhenti.

Sertifikat mereka tetap berlaku.

---

PABRIK KEBAHAGIAAN

Pabrik itu berdiri di pinggir kota, begitu besar sehingga matahari tampak seperti lampu darurat di atas gerbangnya. Asap yang keluar dari cerobongnya tidak berwarna hitam. Asapnya berwarna ceria.

Setiap pagi ribuan orang datang membawa wajah mereka yang letih.

Di pintu masuk, seorang petugas mengambil kesedihan mereka.

"Ini tidak boleh dibawa ke dalam."

"Lalu bagaimana kalau itu milik saya?"

"Kami akan menggantinya dengan versi yang lebih kompetitif."

Di dalam, kebahagiaan diproduksi seperti minuman kaleng. Ukurannya seragam. Rasanya seragam. Senyumnya seragam. Bahkan tawa telah memiliki standar mutu.

Di ruang kendali terpampang sebuah layar besar.

TARGET HARI INI: 12.000 SENYUM, 1.500 TAWA, DAN 0 KRISIS EKSISTENSIAL.

Tuhan berdiri cukup lama di depan layar itu.

Ia bertanya kepada mandor, "Apakah ada ruang untuk duka?"

Mandor menggeleng. "Duka menurunkan produktivitas."

"Bagaimana dengan kehilangan?"

"Itu kami alih dayakan kepada psikologi populer."

"Dan cinta?"

Mandor membuka buku manual. "Kami belum menemukan definisi operasionalnya."

Tuhan keluar ketika matahari hampir tenggelam.

Di luar pagar pabrik, seorang perempuan sedang menangis di pangkuan ibunya.

Tangis itu tidak efisien, tidak menghasilkan apa pun.

Namun dari seluruh kota, hanya di sanalah kebahagiaan masih memiliki akar.

---

AKHIR DARI PERTANYAAN

Pada suatu masa, manusia gemar bertanya.

Mengapa langit biru?
Mengapa ada kematian?
Mengapa kita harus mencintai?
Mengapa ada ketidakadilan?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat dunia bergerak.

Lalu datang sebuah perusahaan. Mereka menjual jawaban instan.

Tidak perlu berpikir.
Tidak perlu ragu.
Tidak perlu gelisah.

Semua jawaban tersedia dalam berbagai ukuran.

Versi ekonomis.
Versi profesional.
Versi premium.

Tuhan datang sebagai pelanggan. "Aku mencari satu pertanyaan."

Kasir tertawa kecil, "Kami tidak menjual pertanyaan."

"Mengapa?"

"Karena pertanyaan membuat pelanggan tidak segera membeli."

Malam itu Tuhan berjalan melewati kota.

Semua orang tampak yakin. Semua orang memiliki jawaban. Tak seorang pun lagi memiliki rasa ingin tahu.

Dan Tuhan menyadari, barangkali kiamat tidak dimulai ketika dunia hancur tetapi ketika manusia berhenti bertanya.

---

PUSAT PERBELANJAAN JIWA

Di kota itu tidak ada lagi pasar tradisional. Semuanya dipindahkan ke sebuah pusat perbelanjaan yang menjual hal-hal yang dahulu tak pernah diperjualbelikan.

Di lantai satu dijual identitas.
Di lantai dua dijual keyakinan.
Di lantai tiga dijual kenangan masa kecil dengan aroma hujan buatan.
Di lantai empat dijual kesedihan yang telah diedit agar tampak estetis.

Tuhan naik eskalator.

Setiap lantai dipenuhi diskon. Beli satu mimpi, gratis satu ilusi. Tukar nurani lama Anda dengan versi terbaru yang lebih ringan.

Di lantai paling atas hanya ada sebuah toko kecil.

Namanya:
JIWA

Rak-raknya kosong.

Penjaganya tertidur.

"Mana barangnya?"

"Sudah lama habis."

"Siapa yang membeli?"

Penjaga itu menggeleng.

"Tidak ada. Mereka menukarnya sedikit demi sedikit untuk mendapatkan barang-barang di lantai bawah."

Tuhan turun tanpa membawa apa pun.

Di pintu keluar, orang-orang tampak sangat puas. Tas belanja mereka penuh. Hanya mata mereka yang tampak kosong.

---

KANTOR PUSAT KENYATAAN

Tidak ada yang tahu siapa pendirinya.

Di pintu masuk hanya tertulis:
KANTOR PUSAT KENYATAAN

Di dalam, ribuan pegawai bekerja siang dan malam. Tugas mereka sederhana. Setiap pagi memutuskan apa yang layak disebut nyata.

Seorang anak datang membawa gambar naga.

"Ini tidak nyata."

Seorang penyair datang membawa sepotong sunyi.

"Ini tidak terukur."

Seorang ibu membawa kenangan tentang anaknya yang telah meninggal.

"Maaf, ingatan bersifat subjektif."

Seorang buruh membawa telapak tangannya yang pecah-pecah.

"Itu hanya data lapangan."

Lalu Tuhan datang. "Aku ingin mendaftarkan belas kasihan."

Petugas membuka komputer. Kategori itu tidak ada.

"Bagaimana mungkin?"

"Sudah kami hapus."

"Mengapa?"

"Karena tidak menghasilkan indikator."

Hari itu Tuhan baru mengerti. Realitas ternyata dapat diperkecil. Bukan oleh kebohongan, melainkan oleh formulir.

---

PERPUSTAKAAN YANG MENGHAPUS BUKU

Perpustakaan itu sangat besar. Rak-raknya menjulang hingga menyentuh awan.

Namun setiap hari jumlah bukunya berkurang. Bukan karena dipinjam, melainkan karena dihapus.

Buku yang tidak cukup sering dibaca dianggap memboroskan ruang. Puisi-puisi dipindahkan lebih dahulu. Filsafat menyusul. Sejarah dipotong menjadi ringkasan. Dongeng dibuang karena tidak produktif. Doa dipindahkan ke bagian pengembangan diri.

Tuhan datang membawa sebuah buku kosong.

Pustakawan bertanya, "Judulnya apa?"

"Belum ada."

"Penulisnya?"

"Siapa saja yang masih mampu bertanya."

Pustakawan menutup katalog.

"Maaf. Buku seperti itu tidak memenuhi kategori."

"Kategori apa?"

"Kategori yang dapat direkomendasikan algoritme."

Tuhan menyimpan kembali buku kosong itu. Ia sadar, barangkali suatu hari nanti, manusia tidak lagi membakar buku. Mereka hanya berhenti mencarinya.

---

PENGADILAN KEBENARAN

Gedung pengadilan itu dibangun seluruhnya dari cermin.

Setiap orang yang masuk melihat dirinya sendiri lebih dulu sebelum melihat hukum.

Di ruang sidang, Kebenaran duduk sebagai terdakwa.

Dakwaannya sederhana:
Tidak cukup menguntungkan.

Jaksa menghadirkan saksi-saksi. Seorang konsultan citra. Seorang ahli strategi politik. Seorang analis pasar.

Mereka sepakat bahwa kebenaran memang penting, tetapi harus dikemas agar mudah dijual.

Hakim mengangguk, "Apakah terdakwa memiliki pembela?"

Tuhan berdiri. "Aku."

Hakim bertanya, "Apakah Saudara memiliki bukti?"

Tuhan menunjuk seorang perempuan tua yang sepanjang hidupnya tidak pernah berdusta.

Hakim menggeleng. "Itu hanya satu orang."

Tuhan menunjuk seorang buruh yang tetap mengembalikan dompet yang ditemukannya.

Hakim kembali menggeleng. "Itu hanya pengalaman pribadi."

Kemudian Tuhan menunjuk dunia.

Hakim berkata, "Itu tidak dapat diterima sebagai alat bukti."

Palu diketukkan. Kebenaran dinyatakan bersalah karena gagal memenangkan opini publik.

---

GUDANG KEMUNGKINAN

Pada mulanya, kemungkinan tumbuh liar. Ia bersembunyi di kepala anak-anak yang menganggap awan dapat dipanjat dan batu dapat diajak bercakap-cakap. Kemungkinan adalah satu-satunya makhluk yang tidak mengenal pagar.

Lalu seseorang mendirikan Gudang Kemungkinan.

Semua kemungkinan diwajibkan masuk inventaris. Harapan diberi nomor rak. Keberanian dimasukkan ke kotak penyimpanan. Imajinasi dibungkus plastik gelembung agar tidak rusak selama pengiriman.

Tuhan datang hanya untuk melihat-lihat.

Petugas gudang menghampiri. "Anda mencari apa?"

"Kemungkinan."

"Yang ukuran berapa?"

"Yang belum pernah dipikirkan manusia."

Petugas membuka katalog. "Kami hanya menyediakan kemungkinan yang sudah laku di pasaran."

"Lalu yang belum pernah ada?"

Petugas tersenyum seperti kasir. "Itu terlalu berisiko untuk diproduksi."

Tuhan keluar tanpa membawa apa pun.

Di luar gudang, seorang anak sedang menggambar ikan yang terbang dan burung yang berenang.

Tidak ada label.
Tidak ada harga.
Tidak ada barcode.

Untuk sesaat, alam semesta lolos dari inventaris.

---

TOKO YANG MENJUAL MAKNA

Di tengah kota berdiri sebuah toko yang tidak menjual benda. Ia menjual arti.

Kata "rumah" dijual dalam tiga kelas: ekonomi, premium, dan eksklusif. Kata "ibu" tersedia dalam edisi nostalgia. Kata "tanah air" menjadi produk musiman yang paling laris menjelang pemilu. Kata "kebebasan" dipajang di etalase, tetapi harganya tidak pernah dicantumkan karena berubah mengikuti kepentingan pasar.

Orang-orang masuk dengan membawa kamus, lalu keluar membawa slogan.

Tuhan datang menjelang sore. "Aku ingin membeli kembali kata 'manusia'."

Penjaga toko membuka komputer. "Maaf. Kata itu sudah lama diakuisisi."

"Oleh siapa?"

"Iklan."

"Apakah masih bisa ditebus?"

"Bisa."

"Dengan apa?"

Penjaga itu menatap Tuhan lama sekali. "Lupakan keuntungan."

Maka Tuhan merogoh saku-Nya. Tak ada uang di sana. Hanya segenggam belas kasihan yang sudah tidak berlaku sebagai alat pembayaran.

Di luar toko, orang-orang terus berdebat tentang definisi manusia. Tak seorang pun sempat menjadi manusia.

---


DEPARTEMEN KEAJAIBAN

Pada suatu masa, keajaiban terjadi begitu saja. Seorang anak menemukan kupu-kupu dan dunia menjadi lebih luas. Seorang petani melihat benih pecah menjadi kecambah, lalu pulang dengan keyakinan bahwa bumi masih mau bekerja sama dengan manusia. Tidak ada proposal. Tidak ada sponsor. Tidak ada siaran pers.

Keadaan itu dianggap berbahaya.

Maka dibentuklah Departemen Keajaiban.

Tugasnya sederhana: memastikan setiap keajaiban memiliki izin operasional.

Pelangi pertama yang muncul setelah hujan langsung dipanggil untuk dimintai dokumen.

"Siapa penanggung jawab warna?"

"Apakah lengkungan ini telah memenuhi standar keselamatan publik?"

"Adakah kajian dampak visual terhadap pertumbuhan ekonomi?"

Pelangi tidak menjawab. Ia hanya memudar.

Beberapa hari kemudian, bunga-bunga diwajibkan mengajukan jadwal mekar minimal tiga puluh hari sebelumnya. Burung-burung diminta menyerahkan rencana penerbangan tahunan. Angin diwajibkan menyampaikan arah bertiup paling lambat akhir kuartal.

Tuhan duduk di bangku taman sambil memerhatikan semuanya.

Untuk pertama kalinya sejak menciptakan dunia, musim semi datang terlambat karena masih menunggu tanda tangan pejabat yang sedang cuti.

Orang-orang menyebut keadaan itu sebagai ketertiban. Padahal alam hanya sedang belajar menyembunyikan ketakutan.

---

PABRIK MASA LALU

Ketika masa depan terlalu mahal, manusia mulai membeli masa lalu.

Sebuah perusahaan melihat peluang itu. Mereka membuka pabrik yang memproduksi kenangan. Ada masa kecil dengan aroma hujan. Ada ayah yang selalu pulang tepat waktu. Ada cinta pertama yang tidak pernah berakhir. Semua dibuat sesuai permintaan pelanggan.

"Kalau kenangan asli terlalu menyakitkan," kata brosur mereka, "mengapa tidak menggantinya?"

Tuhan mengunjungi pabrik itu.

Di lini produksi, para pekerja sedang menghapus penyesalan dari sejarah seseorang. Di sudut lain, seorang perempuan memilih masa kecil baru karena yang lama terlalu penuh ketakutan.

"Apakah mereka akan lebih bahagia?" tanya Tuhan.

Mandor menjawab, "Bukan itu produk kami."

"Lalu?"

"Kepuasan pelanggan."

Malam itu, jutaan orang tidur dengan kenangan yang sempurna, tetapi bangun sebagai orang asing bagi dirinya sendiri.

---

BANK KEHENINGAN

Di kota itu, keheningan sudah tidak gratis.

Semula ia berdiam di hutan, di sela napas seorang ibu yang tertidur setelah bekerja seharian, di antara dua sahabat yang tak lagi membutuhkan kata-kata. Lalu seseorang menemukan bahwa keheningan memiliki nilai ekonomi. Sejak itulah didirikan Bank Keheningan.

Orang-orang menyetor kebisingan setiap pagi. Mereka menerima bunga dalam bentuk kesunyian yang dapat dipakai selama tiga puluh menit. Paket premium menawarkan satu jam tanpa notifikasi. Paket eksklusif menjanjikan akhir pekan tanpa kecemasan, meskipun syarat dan ketentuannya dicetak dengan huruf yang terlalu kecil untuk dibaca.

Tuhan datang menjelang tutup.

"Aku hanya ingin duduk."

Petugas bertanya, "Sudah reservasi?"

"Tidak."

"Kalau begitu, semua keheningan hari ini sudah habis dipesan."

Tuhan keluar.

Di trotoar, seorang anak kecil sedang memandangi semut yang membawa remah roti. Tidak ada musik. Tidak ada iklan. Tidak ada layar.

Untuk beberapa detik, dunia kembali sunyi.

Petugas bank berlari keluar sambil berteriak, "Hai! Itu fasilitas berbayar!"

Sejak hari itu, bahkan diam pun memerlukan bukti pembayaran.

---

KANTOR PUSAT WAKTU

Waktu akhirnya diprivatisasi. Tak seorang pun lagi diizinkan memiliki dua puluh empat jam secara cuma-cuma.

Setiap pagi orang membeli menit sesuai kemampuan.

Kaum kaya berjalan dengan koper berisi bertahun-tahun.

Kaum miskin mengantre demi lima belas menit tambahan agar dapat menemui anaknya sebelum tertidur.

Jam-jam lembur menjadi mata uang. Hari libur diperdagangkan di pasar berjangka. Kenangan dikenai biaya penyimpanan.

Tuhan datang tanpa membawa dompet.

"Aku ingin sore."

Kasir tersenyum.

"Maaf. Sore sedang habis. Investor telah memborongnya sejak pagi."

"Kalau begitu, malam."

"Malam hanya tersedia untuk pelanggan premium."

Tuhan keluar dari gedung itu ketika matahari belum terbenam.

Di luar, jutaan orang berlari. Bukan mengejar waktu, melainkan mengejar tagihan atas waktu yang telah mereka pakai.

Sejak hari itu, jam dinding tidak lagi menunjukkan pukul berapa. Ia menunjukkan siapa yang mampu membeli kehidupan.

---

PUSAT DAUR ULANG NURANI

Pada mulanya nurani tidak dapat didaur ulang. Ia pecah sekali, lalu tinggal menjadi penyesalan. Namun teknologi berkembang lebih cepat daripada kebijaksanaan.

Kini setiap nurani bekas dapat dilebur, dicetak ulang, diberi warna baru, lalu dijual sebagai edisi yang lebih ringan agar tidak membebani pemiliknya.

Di pintu masuk pabrik terpampang slogan:
"Beban moral mengurangi produktivitas."

Tuhan berdiri cukup lama membacanya.

Di dalam, suara mesin lebih nyaring daripada tangisan. Rasa bersalah dipisahkan dari tindakan. Penyesalan dipisahkan dari ingatan. Empati diperas hingga tinggal ampas yang cukup untuk iklan Hari Raya.

Manusia keluar dari pabrik dengan hati yang berkilau.

Ringan.
Efisien.
Mudah dibawa ke mana-mana.

Hanya saja, hati itu tidak lagi tenggelam ketika melihat penderitaan.

Mereka menyebutnya kemajuan. Tuhan menyebutnya kemasan.

---

DEPARTEMEN KEHILANGAN

Tidak ada yang tahu kapan departemen itu didirikan. Barangkali setelah manusia menemukan bahwa segala sesuatu dapat dicatat, kecuali apa yang paling sering hilang.

Di balik meja loket, seorang pegawai bertanya kepada setiap orang dengan suara yang sama datarnya.

"Apa yang hilang?"

"Kepercayaan."

"Nomor formulir?"

"Tidak ada."

"Kalau begitu, kehilangan itu tidak dapat kami proses."

Orang berikutnya maju.

"Saya kehilangan ayah."

"Apakah Bapak membawa surat kehilangan?"

"Ia hilang sebelum sempat membuat surat."

Pegawai itu mengangguk seolah memahami, lalu tetap mengembalikan berkas itu.

Menjelang siang Tuhan datang.

"Aku mencari manusia."

Pegawai itu mengetik sangat lama.

"Tidak ada data kehilangan atas nama 'manusia'."

"Mereka ada."

"Kalau ada, berarti tidak hilang."

"Akan tetapi, mereka sudah tidak saling mengenali."

Pegawai itu berhenti mengetik. Komputernya tidak memiliki kolom untuk itu.

Malamnya seluruh berkas disimpan rapi di gudang.

Esok pagi, ribuan orang kembali datang melaporkan kehilangan.

Tak seorang pun menyadari bahwa yang paling dahulu hilang adalah bahasa yang mampu menjelaskan kehilangan.

---

PABRIK DOA

Di pinggir langit berdiri sebuah pabrik yang tidak pernah berhenti beroperasi. Cerobongnya mengeluarkan asap berbentuk amin. Mesin-mesinnya mencetak doa dalam berbagai ukuran: doa ekonomi, doa karier, doa kesehatan, doa agar unggahan menjadi viral, doa agar tetangga kalah sukses.

Tuhan berkeliling sambil mengamati lini produksi. Setiap doa harus melewati uji mutu.

Yang terlalu jujur dibuang.
Yang terlalu sunyi dianggap tidak laku.
Yang tidak menjanjikan keuntungan dipindahkan ke gudang.

Seorang mandor menjelaskan bahwa pasar menyukai doa yang mudah dikonsumsi. Tidak terlalu panjang. Tidak terlalu dalam. Sebisa mungkin dapat dipotong menjadi kutipan motivasi.

"Lalu bagaimana dengan doa yang lahir dari keputusasaan?" tanya Tuhan.

Mandor itu membuka daftar inventaris.

"Produk seperti itu sudah tidak diproduksi. Margin keuntungannya terlalu kecil."

Ketika malam tiba, pabrik tetap bekerja. Langit dipenuhi doa, tetapi tidak satu pun di antaranya terdengar seperti manusia.

---

KEMENTERIAN KEBENARAN

Ada sebuah kementerian yang tugasnya memelihara kebenaran. Gedungnya sangat megah. Pilar-pilarnya dibangun dari pidato. Dindingnya dilapisi statistik. Atapnya terbuat dari survei yang selalu diperbarui setiap pekan.

Di ruang arsip, para pegawai bekerja tanpa henti. Mereka menghapus fakta yang tidak lagi menguntungkan. Mereka merevisi ingatan agar sesuai dengan kebijakan terbaru. Mereka mengedit masa lalu karena masa lalu yang asli terlalu sulit dikendalikan.

Suatu siang Tuhan datang membawa sepotong kebenaran yang sederhana: seorang ibu menangis karena anaknya lapar.

Petugas penerima berkas berkata, "Apakah ada data pendukung?"

"Tangisnya."

"Itu bukan data."

"Lukanya."

"Itu anekdot."

"Perut kosongnya."

"Itu belum melalui proses verifikasi."

Maka kebenaran diminta kembali esok hari dengan dokumen yang lebih lengkap.

Esoknya ibu itu mati.

Berkasnya menjadi sempurna. Karena statistik selalu lebih menyukai mayat daripada saksi.

---

BURSA TAKDIR

Pada mulanya, takdir tidak diperjualbelikan. Ia hanya tumbuh seperti rumput: liar, diam, dan tidak pernah meminta izin kepada siapa pun. Lalu seseorang menemukan bahwa masa depan dapat dipaketkan, diberi label, dipasarkan, dan dijadikan instrumen investasi. Sejak saat itu lahirlah Bursa Takdir.

Setiap pagi layar-layar raksasa menyala. Nasib seorang buruh turun dua koma tiga persen. Kesempatan seorang anak desa ditangguhkan karena sentimen pasar. Umur panjang melonjak setelah diakuisisi perusahaan farmasi. Kematian dini menjadi komoditas yang paling stabil karena permintaannya tidak pernah surut.

Tuhan datang tanpa membawa portofolio.

Pialang itu memandang-Nya dengan iba.

"Anda belum berinvestasi pada kehidupan?"

"Aku menciptakannya."

Pialang itu tersenyum sopan.

"Itu aset yang bagus. Akan tetapi, pasar tidak menghargai pencipta. Pasar hanya menghargai kepemilikan."

Maka Tuhan melihat manusia saling membeli masa depan yang sesungguhnya tidak pernah mereka miliki. Mereka menyebutnya kebebasan finansial, padahal yang mereka miliki hanyalah hak untuk memilih rantai dengan bunga paling rendah.

Sore harinya bel penutupan berbunyi. Takdir ditutup menguat. Kemanusiaan ditutup melemah.

---

KOTA YANG MEMAKAN NAMA

Di kota itu orang tidak lagi kehilangan pekerjaan. Mereka kehilangan nama. Nama dianggap terlalu panjang, terlalu emosional, terlalu sulit dimasukkan ke basis data. Maka setiap bayi diberi nomor sebelum diberi pelukan. Setiap kematian dihapus sebagai statistik. Setiap kehidupan disingkat menjadi grafik yang bergerak naik turun mengikuti harga saham.

Tuhan datang membawa nama-Nya sendiri.

Petugas loket berkata, "Nama tidak berlaku lagi. Apakah Anda memiliki kode pengguna?"

Tuhan menggeleng.

"Kalau begitu, sistem tidak dapat mengenali keberadaan Anda."

Aneh sekali. Yang menciptakan manusia justru gagal dikenali oleh ciptaan yang menganggap data lebih nyata daripada wajah. Di kota itu tidak ada yang benar-benar hidup. Yang aktif hanyalah akun-akun. Yang berkembang hanyalah basis data. Yang bertumbuh hanyalah server.

Malamnya Tuhan berjalan melewati jalan-jalan yang dipenuhi layar. Di balik jutaan cahaya, Ia tidak menemukan satu pun mata yang benar-benar saling memandang. Kota itu telah berhasil menyimpan semua informasi tentang manusia, kecuali manusianya sendiri.

---

ARSIP LANGIT

Di langit berdiri sebuah gedung arsip yang begitu besar hingga awan harus mengantre untuk melewatinya. Semua doa disimpan di sana. Bukan sebagai suara, melainkan sebagai berkas. Setiap tangisan diberi nomor registrasi. Setiap permohonan memperoleh kode batang. Setiap air mata dipindai resolusi tinggi agar mudah ditemukan ketika audit tahunan berlangsung.

Tuhan masuk tanpa membawa kartu identitas.

Petugas keamanan menghentikan-Nya.

"Maaf, akses Anda belum terdaftar."

"Namun semua ini milik-Ku."

Petugas itu tersenyum seperti mesin fotokopi.

"Justru karena itu, Anda harus mengikuti prosedur."

Lalu Tuhan berdiri di belakang antrean bersama seorang buruh yang meminta upahnya dibayar, seorang ibu yang menginginkan anaknya sembuh, dan seorang anak kecil yang hanya ingin ayahnya pulang.

Tak ada yang didahulukan. Sistem selalu adil kepada nomor antrean, tetapi tidak pernah kepada manusia.

Ketika akhirnya giliran Tuhan tiba, loket sudah tutup. Di pintu hanya tertempel secarik kertas: "Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini."

Tuhan membaca kalimat itu lama sekali. Mungkin untuk pertama kalinya Ia mengerti bahwa permintaan maaf yang diproduksi massal dapat terdengar lebih dingin daripada penolakan.

---

PASAR YANG MENJUAL ESOK HARI

Suatu pagi Tuhan berjalan-jalan ke sebuah pasar yang belum pernah Ia ciptakan. Anehnya, pasar itu sudah ada sebelum Ia tiba. Di setiap kios terpajang masa depan yang dibungkus plastik bening. Ada yang menjual keberhasilan dengan potongan harga. Ada yang menjual kegagalan dalam kemasan premium agar tampak sebagai pelajaran hidup. Ada yang menjual cinta cicilan dua belas bulan tanpa agunan. Ada pula yang menjual kesedihan edisi terbatas karena, kata penjualnya, penderitaan yang langka memiliki nilai investasi yang lebih tinggi.

Tuhan berhenti di depan sebuah toko kecil. Di sana hanya ada satu barang yang dipajang: hari esok.

"Berapa harganya?"

Penjual itu membuka kalkulator.

"Tergantung siapa yang membeli."

"Kalau seorang miskin?"

"Mahal."

"Kalau seorang kaya?"

"Murah. Ia bisa membayar dengan hari kemarin milik orang lain."

Tuhan tidak jadi membeli apa pun. Ia baru sadar bahwa kapitalisme bukan sekadar sistem yang menjual barang. Ia adalah bahasa yang mampu mengubah waktu menjadi komoditas, harapan menjadi kontrak, dan masa depan menjadi transaksi. Sejak saat itu manusia tidak lagi menunggu hari esok. Mereka mencicilnya.

---

DEPARTEMEN INOVASI

Surga membentuk Divisi Kreatif.

Target tahun ini: menciptakan manusia versi terbaru.

Rapat berlangsung empat belas jam.

"Empati terlalu mahal."

"Hapus."

"Nurani menghambat produktivitas."

"Hapus."

"Keraguan?"

"Tidak efisien."

"Hapus."

Tuhan tidak berkata apa-apa.

Versi terbaru akhirnya diluncurkan.

Cepat.
Patuh.
Selalu tersenyum.
Tidak pernah menangis.

Penjualannya luar biasa.

Hanya satu cacat produksi.
Tak seorang pun lagi mampu mencintai.

---

LELANG NAMA TUHAN

Karena kebutuhan pasar, nama Tuhan dijual.

Perusahaan pertama membelinya untuk slogan. Perusahaan kedua untuk iklan.

Politikus menyewanya selama musim kampanye. Tentara meminjamnya sebelum perang.

Tak seorang pun bertanya kepada Tuhan.

Ia hanya melihat nama-Nya berpindah tangan lebih sering daripada roti di meja orang miskin.

Pada akhir tahun, laporan keuntungan sangat memuaskan.

Yang merugi hanya makna.

---

MUSEUM KEMANUSIAAN

Tuhan membeli tiket.

Diskon hari kerja.

Di ruang pertama, dipamerkan rasa malu. Di balik kaca. Lengkap dengan keterangan tahun kepunahannya.

Di ruang kedua, kejujuran. Sudah menjadi fosil.

Di ruang ketiga, belas kasihan. Dirawat agar tidak punah.

Anak-anak sekolah berfoto di depannya.

Pemandu berkata, "Dulu benda ini hidup bebas di masyarakat."

Seorang anak bertanya, "Apakah ia berbahaya?"

Pemandu tersenyum. "Tidak. Hanya saja, tidak lagi menguntungkan."

Tuhan keluar.

Di toko suvenir, mereka menjual miniatur hati. Buatan pabrik.

---

REVISI KITAB KEHIDUPAN

Penerbit berkata, "Kitab Kehidupan terlalu tebal. Manusia sudah tidak suka membaca. Bisakah diringkas?"

Tuhan bertanya, "Bagian mana yang harus dibuang?"

Editor membuka halaman pertama.

"Penciptaan."

"Tanpa itu, mereka tidak tahu dari mana berasal."

"Lalu halaman terakhir."

"Tanpa itu, mereka tidak tahu ke mana pergi."

"Kalau begitu, yang tersisa?"

Editor tersenyum.

"Sampul. Judul. Dan testimoni para tokoh."

Edisi baru langsung laris. Tak seorang pun menyadari bahwa isi telah lama habis dicetak.

---

PAJAK ATAS MUKJIZAT

Pemerintah semesta mengeluarkan aturan baru.

Setiap mukjizat wajib dilaporkan.

Air yang berubah menjadi anggur tergolong barang kena nilai tambah.

Lima roti yang memberi makan ribuan orang dianggap praktik usaha tanpa izin.

Kebangkitan dikategorikan sebagai aktivitas di luar ketentuan.

Tuhan datang ke kantor pajak.

Petugas berkata, "Apakah seluruh mukjizat ini sudah dilaporkan?"

Tuhan menjawab, "Sebagian besar terjadi karena belas kasihan."

Petugas menggeleng. "Itu bukan kategori pengurangan."

Maka belas kasihan pun belajar bahwa dalam formulir, semua kolom harus memiliki nominal.

---

BURSA DOSA

Setiap pagi, harga dosa dibuka oleh pasar.

Keserakahan naik tiga persen.
Kemunafikan menguat.
Korupsi mencapai rekor tertinggi.

Belas kasihan anjlok.
Tak ada pembeli.

Kejujuran disuspensi sementara karena likuiditasnya terlalu rendah.

Para investor bersorak.

Tuhan bertanya, "Siapa yang menentukan harga itu?"

Seorang analis menjawab, "Permintaan."

"Lalu siapa yang menciptakan permintaan?"

Analis itu diam.

Layar perdagangan tetap berkedip. Tak satu pun angka mampu menjelaskan mengapa air mata tidak pernah masuk indeks.

--

ASURANSI KEABADIAN

Seorang agen mengetuk pintu surga. "Tuhan, apakah Anda sudah memiliki perlindungan jiwa?"

Tuhan tertawa. "Saya abadi."

Agen itu menggeleng pelan. "Justru karena itu, preminya lebih mahal."

Ia mengeluarkan brosur.
- Paket Platinum.
- Paket Eternity.
- Paket Mahakekal Plus.

Semuanya menjamin hal-hal yang tidak pernah terancam.

"Tidak tertarik."

Agen berdiri. "Mohon maaf. Kalau begitu, kami tidak dapat menanggung risiko kiamat."

Hari itu Tuhan belajar, bahwa ketakutan adalah komoditas yang paling stabil nilai jualnya.

---

HAK CIPTA TUHAN

Suatu pagi Tuhan menerima surat somasi.

Isi suratnya singkat:
Saudara diduga menggunakan cahaya tanpa izin pemegang hak.

Tuhan tersenyum, "Cahaya itu Kuciptakan."

Pengacara lawan membuka map, "Maaf. Yang kami maksud bukan cahaya, melainkan merek dagangnya."

Sidang berlangsung tiga bulan. Saksi-saksi dihadirkan.

Matahari.
Bulan.
Api.

Tak satu pun diterima. Mereka dianggap memiliki konflik kepentingan.

Hakim mengetukkan palu, "Mulai hari ini, setiap fajar dikenakan royalti."

Esok paginya, matahari tetap terbit. Hanya saja, ia tampak lebih miskin daripada kemarin.

---

CALL CENTER TUHAN

"Terima kasih telah menghubungi Tuhan. Untuk keselamatan, tekan satu. Untuk kesehatan, tekan dua. Untuk jodoh, tekan tiga. Untuk berbicara dengan operator, permintaan Anda terlalu penting bagi kami."

Musik diputar.

Seorang ibu menunggu empat puluh tahun.
Seorang buruh menunggu tiga generasi.
Seorang anak menunggu sampai lupa apa yang hendak ia minta.

Ketika akhirnya suara itu terdengar, bukan Tuhan yang berbicara melainkan survei.

"Seberapa puas Anda terhadap pelayanan kami hari ini?"

---

SERTIFIKAT ISO UNTUK SURGA

Surga gagal akreditasi.

Auditor menemukan beberapa ketidaksesuaian.
- Kasih sayang tidak memiliki prosedur operasional baku.
- Pengampunan terlalu bergantung pada kebijaksanaan.
- Malaikat tidak mengisi lembar evaluasi harian.
- Pelukan tidak terdokumentasi.
- Air mata tidak memiliki nomor inventaris.

Auditor menulis, "Sistem terlalu manusiawi."

Tuhan membaca laporan itu. Lalu melipatnya menjadi perahu kertas. Kemudian menghanyutkannya ke sungai.

Perahu itu lebih memahami arah daripada seluruh manual mutu.

---

TENDER PENCIPTAAN DUNIA

Pengumuman resmi:
Pengadaan Alam Semesta dibuka untuk umum.

Tuhan mengirim proposal. Tebalnya tujuh hari.

Lampiran: laut, pepohonan, burung, manusia, dan sedikit kemungkinan.

Panitia berkata, "Konsepnya menarik. Namun anggarannya terlalu besar."

"Bagian mana?"

"Kasih sayang. Nilainya tidak dapat diukur."

Tuhan mencoba menjelaskan.

Panitia tersenyum. "Kami lebih menyukai
indikator yang kuantitatif."

Tender dimenangkan oleh perusahaan yang menawarkan langit plastik, matahari LED, dan manusia dengan garansi dua tahun.

Sejak itu, matahari memang tidak pernah terlambat terbit. Hanya saja, tak seorang pun lagi merasa hangat.

---

ALGORITMA KESELAMATAN

Surga berganti sistem. Tak ada lagi Kitab Kehidupan. Kini semuanya dikelola algoritme.

Malaikat menjadi moderator konten.

Doa-doa diberi tanda: relevan, spam, atau melanggar pedoman komunitas.

Tuhan mengirim belas kasihan.

Sistem membalas:
"Unggahan Anda memiliki jangkauan rendah."

Orang-orang lebih percaya hal yang sedang viral daripada hal yang benar.

Maka algoritme pun belajar: kebenaran harus bersaing dengan sensasi.

Ketika dunia selesai diperbarui, yang tersisa bukan manusia melainkan pengguna aktif bulanan.

---

LELANG HARI KIAMAT

Hari Kiamat ditunda. Bukan karena sangkakala hilang, melainkan karena hak siarnya belum menemukan sponsor.

Perusahaan-perusahaan mengajukan penawaran.

"Apakah kiamat bisa disisipi iklan?"

"Berapa durasi kehancuran dunia?"

"Apakah tangisan massal cukup ramah keluarga?"

Tuhan berdiri di sudut ruangan.

Seorang konsultan menghampiri. "Kalau Bapak berkenan, kami sarankan kiamat dibuat lebih sinematik."

Tuhan bertanya, "Supaya?"

"Supaya nilai investasinya naik."

Hari itu, akhir dunia dikalahkan oleh presentasi PowerPoint.

---

LAPORAN AUDIT TAHUNAN TUHAN

Pada akhir tahun fiskal, Tuhan dipanggil ke ruang rapat lantai tiga puluh dua.

Grafik diproyeksikan di dinding langit.

"Baik," kata Komisaris Semesta, "sampai kuartal ketiga jumlah doa meningkat 18 persen. Namun tingkat kepuasan pelanggan
masih di bawah target."

Tuhan membuka mulut. Ditutup kembali.

Presentasi belum selesai.

Seorang analis menunjuk
diagram berbentuk salib.

"Kami melihat bencana alam menghasilkan engagement yang tinggi, tetapi retensi iman masih fluktuatif."

Yang lain mengangkat tangan.

"Apakah mukjizat masih efektif sebagai strategi pemasaran? Generasi baru lebih percaya testimoni influencer."

Semua mengangguk.

Notulis mencatat.

Tuhan hanya memandangi segelas air.

Tak seorang pun menyadari air itu belum pernah meminta menjadi anggur.

Laporan berikutnya.

"Mohon dijelaskan mengapa masih ada kemiskinan."

Tuhan berkata, "Itu bukan KPI-Ku yang gagal."

Ruangan mendadak sunyi.

Lalu seseorang berdeham.

"Maaf, kami menghindari bahasa yang menyalahkan pemangku kepentingan."

Kalimat itu langsung disetujui oleh seluruh peserta rapat.

Kemudian mereka membentuk tim investigasi. Tim itu menyelidiki mengapa dunia tidak sesuai dengan spreadsheet.

Selama enam bulan mereka mengumpulkan data, mewawancarai statistik, menginterogasi grafik, menyita angka-angka. Tidak sekali pun mereka berbicara kepada seorang lapar.

Kesimpulan audit:
"Realitas belum memenuhi indikator kinerja."

Rekomendasi: "Sesuaikan realitas dengan indikator."

Tuhan membaca halaman terakhir. Di sana tertulis kecil:

Alam semesta akan dihentikan operasionalnya apabila terus mengalami defisit keuntungan.

Untuk pertama kalinya, Ia menyadari bahwa neraka tidak selalu dipenuhi api. Kadang-kadang ia dipenuhi ruang rapat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI