MANUSIA PERTAMA ITU DARI KEPITING
KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT BAHASA
Salah satu upaya pencerdasan kehidupan bangsa adalah peningkatan minat baca masyarakat Indonesia. Peningkatan minat baca harus ditunjang dengan penyediaan bacaan bermutu yang dapat memperluas wawasan dan pengetahuan para pembacanya. Keperluan buku bermutu akan tinggi bagi masyarakat yang tingkat keberaksaraan dan minat bacanya sudah tinggi. Untuk itu, perlu diupayakan ketersediaan buku dan jenis bacaan lain yang cukup. Bagi masyarakat yang tingkat keberaksaraannya rendah perlu diupayakan bacaan yang dapat menimbulkan rangsangan peningkatan minat bacanya agar tidak tertinggal dari kemajuan kelompok masyarakat lainnya. Adapun bagi masyarakat yang belum mampu membaca dan menulis perlu diupayakan penyediaan bacaan agar mereka memiliki kemampuan dan wawasan seperti halnya kelompok masyarakat lainnya yang telah mampu membaca dan menulis. Sementara itu, bagi anak-anak perlu diupayakan bacaan yang dapat memupuk dan mengembangkan minat baca yang sekaligus dapat memperkaya wawasan dan pengetahuannya demi masa depan yang lebih gemilang.
Buku yang dapat memperluas wawasan dan pengetahuan itu tidak hanya tentang kehidupan masa kini, tetapi juga kehidupan masa lalu. Sehubungan dengan itu, karya sastra lama yang memuat informasi kehidupan masa lalu perlu dihadirkan kembali dalam kehidupan masa kini karena banyak menyimpan wawasan dan pengetahuan masa lalu yang tidak kecil peranannya dalam menata kehidupan masa kini. Oleh karena itu, karya sastra lama itu perlu dihadirkan di kalangan anak-anak agar mereka memiliki wawasan masa lalu demi merancang kehidupan masa depan yang lebih mantap. Untuk itulah, buku cerita anak ini disusun dari cerita rakyat yang merupakan salah satu bentuk karya sastra lama di Indonesia.
Sehubungan dengan hal itu, penerbitan buku Manusia Pertama Itu dari Kepiting ini perlu disambut dengan gembira karena akan memperluas wawasan pembacanya yang sekaligus memperkaya khazanah kepustakaan Indonesia. Pada kesempatan ini kepada penyusun, yaitu Sdr. Sriyanto, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi. Demikian pula halnya kepada Sdr. Teguh Dewabrata, S.S., Pemimpin Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, beserta staf saya sampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih atas segala upayanya dalam menyiapkan naskah siap cetak untuk penerbitan buku ini. Ucapan terima kasih saya sampaikan pula kepada Sdr. Lalan Sutisna yang telah membantu menjadi ilustrator dalam penerbitan buku ini.
Mudah-mudahan buku ini memberi manfaat bagi para pembacanya demi memperluas wawasan dan pengetahuan masyarakat Indonesia tentang kehidupan masa lalu untuk menyongsong kehidupan ke depan yang lebih baik.
Dr. Dendy Sugono
•••
SEKAPUR SIRIH
Cerita Manusia Pertama Itu dari Kepiting merupakan kisah yang disadur dari kumpulan cerita Tiga Kulano dari Dagho: Kumpulan cerita Sangir Talaud. Cerita ini merupakan cerita rakyat di Kepulauan Sangihe dan Talaud, Sulawesi Utara. Kumpulan cerita ini ditulis oleh Paul Nebath, dengan tebal 110 halaman, diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, tahun 1983.
Penulisan kembali atau penyaduran cerita ini menjadi begitu penting mengingat masih sedikit buku-buku cerita yang mengangkat cerita-cerita rakyat dari wilayah Indonesia Timur. Oleh karena itu, penulis merasa berkewajiban untuk ikut menyebarluaskan cerita ini.
Penulisan cerita ini tidak dapat penulis selesaikan tanpa bantuan berbagai pihak. Sehubungan dengan itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa dan Drs. Teguh Dewabrata, Pemimpin Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta beserta staf atas peluang dan kebijaksanaannya sehingga cerita ini terwujud.
Mudah-mudahan cerita ini bermanfaat bagi para siswa di seluruh Nusantara.
Sriyanto
•••
1. MANUSIA PERTAMA ITU DARI KEPITING
Peristiwa itu sungguh luar biasa. Pulau terbesar di Kepulauan Talaud yang namanya Pulau Karakelang terjadi secara ajaib. Pulau itu muncul dari dasar laut. Pada awalnya yang tampak hanyalah tanah gundul. Tak ada tumbuhan sama sekali. Lebih-lebih pepohonan hijau. Namun, hanya dalam sekejap rerumputan mulai tumbuh. Begitu pula jenis tumbuhan yang lain. Menyusul kemudian tetumbuhan besar. Dalam waktu singkat pulau itu menjadi hijau.
Saat pulau itu baru muncul, seekor kepiting tertelungkup di atasnya. Ukurannya sangat besar. Sangat jauh kalau dibandingkan dengan ukuran kepiting yang pernah ada di dunia ini. Keajaiban terjadi lagi. Kepiting besar itu perlahan-lahan bertambah besar ukurannya. Sampai pada ukuran yang sangat besar berubahlah menjadi manusia. Manusia laki-laki muda dan tampan. Tubuhnya besar dan kekar. Rambutnya berombak dan pandangannya tajam.
Pulau Karakelang telah menjadi sebuah pulau yang subur. Makin banyak makhluk hidup yang muncul. Begitu pula tumbuh-tumbuhan. Kehidupan di pulau itu makin ramai. Namun, baru ada satu manusia. Dia adalah laki-laki tampan jelmaan seekor kepiting tadi. Dia hidup berkelana di hutan.
Siang itu langit sangat cerah. Sinar matahari menyusup di sela-sela rimbunnya dedaunan. Lelaki tampan itu terus menyelinap. Dia terus berjalan di antara pepohonan yang berdiri kokoh di hutan itu. Langkahnya tegap dan matanya lincah. Pandangannya tertuju ke berbagai penjuru. Tampaknya, ada sesuatu yang dicari.
Benar. Sebuah pohon dengan buahnya yang berwarna mencolok menarik perhatian lelaki itu. Diamat-amatinya sejenak buah itu dari bawah. Lalu, dipanjatnya pohon itu. Hanya beberapa saat sampailah dia di tempat buah itu berada. Kebetulan pohon itu tidak begitu tinggi dan banyak rantingnya.
Wajah laki-laki itu tampak berseri-seri. Dia memetik salah satu buah yang bergelantungan di pohon itu. Dengan serta-merta digigitnya buah yang tampak sudah matang itu. Akan tetapi, wajahnya tiba-tiba berubah. Dahinya berkerut tanda terkejut. Lidahnya merasakan sesuatu yang tidak enak. Diludahkannya sedikit buah yang sudah digigit. Dipandangnya buah itu sekali lagi lalu digigitnya lagi bagian buah yang lebih dalam. Dia tampak penasaran. Namun, lagi-lagi dia kecewa. Dilemparkannya buah itu kemudian dia turun.
Laki-laki itu terus berjalan menyusuri hutan. Dengan menahan rasa lapar, dia terus melangkah. Perutnya keroncongan minta diisi. Dia ingin sekali segera mendapatkan makanan. Dia yakin akan mendapatkannya. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Rupanya ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Di dekatnya terhampar pohon kecil panjang yang menjalar di tanah. Beberapa buahnya yang berwarna merah tergeletak di tanah. Kemudian, dipetiknya salah satu dan dicicipinya. Kali ini dia belum juga beruntung. Buah itu memang tidak pahit, tetapi juga tidak enak. Tidak ada rasanya sama sekali. Namun, dia tidak mau menyerah. Dia terus berusaha.
Kegigihan laki-laki itu akhirnya membuahkan hasil. Langkahnya terhenti ketika pandangannya terpusat pada sebuah pohon dengan buahnya berwarna kuning keemasan. Satu dua di antaranya sudah dimakan binatang, entah binatang apa namanya. Segera dia memanjat pohon itu dan memetik buahnya. Digigitnya buah itu dan dirasakannya. Rasanya tidak begitu pahit, tetapi juga tidak manis. Lalu, dicobanya lagi buah bagian dalamnya. Ternyata, rasanya manis, bahkan lezat. Pantas saja buah itu rasanya lezat karena buah itu adalah pisang.
Beberapa buah dipetiknya dan dibawa turun. Kali ini dia kupas lebih dahulu buah-buah itu setiap kali akan dimakannya. Dia tampak menikmatinya. Sambil beristirahat di bawah pohon yang besar, dia habiskan buah pisang itu. Perut tidak lagi keroncongan karena sudah kenyang. Perasaannya sangat lega. Udara di bawah pohon siang itu sangat sejuk. Tidak lama kemudian dia tertidur.
Angin berembus lembut. Laki-laki itu tertidur pulas. Dia tampak benar-benar lelah. Tubuhnya terkulai di bawah pohon yang rindang itu. Dalam tidurnya itu dia bermimpi.
"Lo, ternyata di hutan ini ada orang lain selain saya. Mereka banyak dan wah, cantik-cantik. Saya ingin punya teman seperti mereka. Alangkah senangnya kalau saya punya teman seperti mereka. Akan tetapi, apa mereka mau? Ah, apa salahnya saya coba. Siapa tahu ada yang mau menjadi temanku. Biar kupanggil mereka. Oe ...!"
Laki-laki itu kaget. Dia terjaga dari tidurnya. Ternyata yang dialaminya hanyalah mimpi. Dia merasa sangat kecewa. Mengapa dia tidak punya teman? Mengapa teman itu hanya dilihatnya dalam mimpi? Mengapa burung-burung itu banyak temannya? Mengapa pula binatang di tanah itu juga tidak sendirian? Benaknya dipenuhi berbagai pertanyaan. Cukup lama dia termenung di bawah pohon besar itu. Sebentar lagi matahari terbenam. Hari sudah mulai gelap. Di balik pepohonan yang rindang terlihat cahaya matahari tampak memudar. Laki-laki itu melihatnya dari lereng pegunungan. sangat indah. Awan tipis kemerahan terhampar di kaki langit. Lukisan Tuhan itu menghias cakrawala.
Sore itu dia tampak sedang asyik membuat sesuatu. Berkali-kali benda kecil bulat panjang itu digosok. Berkali-kali pula diamatinya. Setelah tampak halus dan mengkilat, dia tidak lagi menggosoknya. Dia sudah merasa puas. Sumpit buatannya itu sudah jadi. Hari pun sudah gelap. Laki-laki itu segera naik ke pohon. Begitulah biasanya dia tidur. Dia akan aman di atas pohon meskipun tidur pulas.
Udara sangat panas. Tentu saja untuk suhu di tengah hutan itu. Matahari tepat di atas kepala. Ada pemandangan aneh di siang itu. Di sebuah sungai yang jernih airnya sembilan wanita sedang mandi. Mereka bercanda ria sambil bermain air. Suara gemercik air yang menerpa bebatuan menjadikan suasana lebih ceria. Sesekali terlihat kilatan sinar matahari yang menerpa percikan air.
Lo, ada manusia lain selain manusia jelmaan kepiting di Pulau Karakelang? Tidak. Jangan salah sangka. Sembilan wanita cantik tadi adalah bidadari. Mereka sengaja turun ke bumi untuk mandi. Mereka sangat tampak menikmati mandi di sungai.
"Tidak akan ada gangguan apa-apa. Toh, tidak ada manusia di hutan ini."
Begitulah yang ada di benak mereka. Mereka merasa dapat mandi dengan leluasa. Mereka mandi sepuas-puasnya.
Perjalanan jauh dan terik matahari membuat laki-laki tampan itu merasa haus. Kantung kulitnya yang digunakan untuk menyimpan air sudah kosong. Dia harus mendapatkan air. Dari jauh terlihat kawanan burung datang dan pergi silih berganti. Dia yakin tempat itu adalah tempat air. Bergegaslah laki-laki itu menuju ke tempat tersebut. Ternyata benar juga. Tampaklah sebuah sungai dengan airnya yang sangat jernih.
Air sungai itu berada agak jauh dari permukaan tanah. Untuk mendapatkannya, laki-laki itu harus menuruni lereng yang agak terjal. Dia mencari-cari lereng yang tidak terlalu terjal. Tiba-tiba dia terkejut. Sekelompok bidadari yang sedang asyik mandi membuat laki-laki itu terperangah. Perasaan percaya dan tidak percaya menyelimuti dirinya. Dikucek-kucek matanya untuk meyakinkan dirinya.
"Benarkah apa yang saya lihat sekarang? Apakah saya sedang mimpi? Rasanya saya pernah melihat mereka. Akan tetapi, Kapan? O ..., baru ingat saya. Saya melihat mereka dalam mimpi. Sekarang saya yakin. Apa yang saya lihat sekarang adalah nyata."
Dicarilah akal untuk mendekati gadis-gadis cantik yang sedang mandi itu. Berteriak-teriak memanggil mereka seperti dalam mimpi rasanya tidak mungkin. Mendatangi langsung lebih tidak mungkin. Melihat saya saja mereka akan lari. Dengan mengendap-endap, laki-laki itu ingin tahu lebih dekat. Dia berhenti sejenak ketika sudah dekat. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sejumlah pakaian indah berwarna-warni terserak di pinggir kali.
"Nah, ini kesempatan baik. Saya tidak boleh menyia-nyiakannya. Jangan sampai gagal. Akan tetapi, bagaimana caranya?”
Begitulah kata laki-laki itu dalam hati. Otaknya diputar. Dicarinya cara yang tepat untuk memaksa salah satu bidadari agar menjadi temannya. Akhirnya, cara jitu ditemukan. Senjata sumpit buatannya dimanfaatkan. Salah satu pakaian bidadari itu disedotnya dengan sumpit. Dari balik batu besar pakaian itu ditariknya. Lalu, dibawanya ke tempat yang agak jauh, terpisah dari pakaian yang lain. Akan tetapi, laki-laki itu tetap mengawasinya dari jauh di balik rimbunnya daun. Dia menunggu apa yang terjadi. Bidadari yang mana yang kehilangan pakaian? Lalu, apa yang akan dilakukannya?
Sudah lama mereka mandi di kali itu. Mereka sudah harus kembali pulang. Dari jauh tampak berlari-lari kecil menuju tempat pakaian masing-masing. Semuanya tampak ceria, kecuali yang paling bungsu. Pakaiannya raib. Dia tidak tahu siapa yang mencurinya. Padahal, menurutnya, di hutan itu tidak ada manusia. Hatinya sangat sedih. Dia menangis tersedu-sedu. Kakak-kakaknya tidak dapat menolong. Mereka terpaksa meninggalkan adiknya, takut kena marah ayah-bundanya.
Si bungsu masih menangis, tetapi tiba-tiba tangisnya berhenti. Dia terkejut ketika laki-laki itu menghampirinya.
"Maaf, e ...."
Laki-laki itu ingin memulai pembicaraan, tetapi bingung. Dia tidak tahu bagaimana harus memanggilnya. Untunglah si bungsu cepat tanggap.
"Panggil saja saya adik," sahutnya sambil tersenyum manis. Ada perasaan aneh di dada lelaki itu. Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Apakah Adik mencari sesuatu?" tanyanya memberanikan diri.
"Betul, Kak. Pakaian saya hilang. Saya tidak bisa pulang tanpa pakaian itu. Kakak bisa menolong saya?" Si bungsu mulai merayu.
"O ..., itu. Tak usah khawatir. Kakak pasti menolong."
"Betul, Kak?”
"Iya, percayalah padaku."
"Aduh, Kakak baik sekali."
"Tunggu dulu. Saya mau menolong Adik, tetapi ada syaratnya."
"Apa itu, Kak?"
"Gampang. Adik harus mau selalu bersamaku."
"Maksud Kakak?"
"Kakak selalu ingin bersama Adik. Siang dan malam. Bagaimana?"
"Maksud Kakak, istri?"
"Apa istri itu?"
"Ya, itu tadi. Selalu bersama siang dan malam."
"A, begitu. Pokoknya begitu maksud saya. Sekarang bagaimana? Mau 'kan?"
Si bungsu terdiam sejenak. Sebenarnya dia juga mengagumi laki-laki itu. Akan tetapi, hatinya bingung. Dia takut tidak bisa pulang. Takut pula mendapat kutukan. Namun, jika permintaan itu ditolak, bayangan hidup sengsara menghantuinya. Maka, mau tidak mau si bungsu menyanggupinya.
"Saya tidak punya pilihan. Saya mau jadi istri Kakak. Akan tetapi, juga ada permintaan sedikit."
"Boleh. Asal Kakak bisa."
"Pasti bisa. Kakak harus ikut saya pulang. Selain itu, Kakak harus ikut apa kata saya. Jangan melanggar larangan saya. Bagaimana, Kak? Gampang 'kan?"
"Baiklah, saya setuju."
Sejoli itu langsung berangkat. Mereka langsung akrab. Di tengah perjalanan terdengar suara canda ria. Laki-laki itu lebih banyak bertanya. Berbagai hal ditanyakan. Dia ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan si bungsu. Si bungsu pun melayaninya dengan baik sambil sekali-kali bercanda. Tidak terasa perjalanan mereka sudah jauh.
Hari telah malam. Kedua manusia sejoli itu telah tiba di sebuah kerajaan yang sangat besar dan indah. Itulah tempat tinggal si bungsu. Laki-laki itu tampak terkagum-kagum. Dia melihat hiruk-pikuk kota yang sangat ramai. Dilihatnya banyak orang berkeliaran di jalan raya. Namun, dia tidak berani menanyakannya kepada si bungsu. Kekagumannya hanya disimpan dalam hatinya. Dia mengikuti saran istrinya.
Malam telah larut. Si bungsu telah tertidur nyenyak. Laki-laki itu belum dapat memejamkan mata. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Seakan-akan dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Keinginan untuk bertanya sangat kuat, tetapi tidak berani. Dia terikat perjanjian dengan istrinya, si bungsu. Lama-lama laki-laki itu tertidur juga.
Laki-laki itu terkejut. Dia melihat pemandangan yang aneh saat membuka kedua matanya. Ternyata, dia tidur di atas pohon. Di sampingnya dilihat seekor burung yang masih tertidur. Rupanya seekor burung itu adalah istrinya. Jalan raya dengan hiruk-pikuk manusia juga tidak ada. Yang terlihat adalah burung-burung yang berloncatan di atas ranting. Lagi-lagi ia tidak berani bertanya kepada sang istri.
Hidup yang serbaaneh. Begitulah yang dirasakan laki-laki itu. Pada malam hari kerajaan yang ramai serta indah itu muncul. Akan tetapi, siang harinya yang terlihat hutan belantara. Dijalaninya hidup seperti itu dengan senang hati. Diredamnya rasa ingin tahu itu dalam hati. Tidak aneh kalau ia hidup rukun dengan istrinya.
Sudah lama mereka hidup bersama. Suatu saat istrinya memberi kabar gembira. Sang istri telah melahirkan anak. Sudah tentu sang suami sangat senang. Namun, kabar gembira itu hanya sebentar. Laki-laki itu sangat kecewa karena dilarang melihat anaknya. Lagi-lagi dia harus menahan rasa ingin tahunya. Kali ini dia menerima larangan istrinya dengan berat hati.
Sudah beberapa hari laki-laki itu tampak murung. Dia merasa istrinya sudah keterlaluan. Larangan untuk melihat anaknya itu sudah kelewatan. Hati kecilnya tidak dapat menerima larangan itu. Rasanya dia ingin berontak, tetapi tidak berani. Namun, hatinya tetap gelisah. Kali ini dia tidak mau menyerah begitu saja. Dia berpikir keras. Dicarinya cara agar bisa melihat sang anak.
Tekadnya sudah bulat. Dia ingin melihat anaknya secara diam-diam. Dicarilah kesempatan yang tepat. Saat istrinya pergi, dia menuju ke tempat khusus yang dibuat untuk anaknya. Namun, dia sangat terkejut. Ternyata yang dilihatnya hanyalah sebuah telur. Dia kembali dengan rasa kecewa. Dalam hatinya timbul berbagai pertanyaan. Apakah telur itu anak saya? Apakah istri saya bertelur, tidak melahirkan? Barangkali itulah sebabnya istriku merahasiakannya?
Saat itu istrinya memang tidak di rumah. Akan tetapi, rupanya sang istri tahu perbuatan suaminya. Cepat-cepat dia pulang. Kemudian, dimarahinya sang suami.
"Ternyata Kakak ingkar janji. Saya mau menjadi istri Kakak asal Kakak tidak melanggar larangan saya. Akan tetapi, apa yang terjadi? Kakak telah ingkar janji. Apa boleh buat, saya harus bersikap tegas. Sesuai dengan perjanjian, Kakak tidak boleh tinggal di sini lagi. Kakak harus kembali. Sebagai tanda kenangan kita, bawalah telur kita itu. Kelak telur itu akan menjadi teman hidupmu. Maafkan saya. Saya terpaksa mengusirmu."
Si bungsu tidak memberi kesempatan suaminya untuk membela diri. Dimintanya sang suami untuk memejamkan mata. Lalu, dilemparnya sang suami beserta sebutir telur tadi ke tempat yang jauh. Dalam waktu singkat, laki-laki itu terjatuh keras. Saat membuka matanya, dia kaget karena dia telah berada di bumi. Lebih kaget lagi, ketika dia melihat telur yang disertakannya pecah dan berubah menjadi seorang bayi perempuan yang lucu. Dengan rasa sukacita, digendongnya bayi itu.
Laki-laki itu hidup bersama anaknya. Tidak ada orang lain di hutan itu. Anaknya tumbuh dengan sehat dan lincah. Diajaknya anak kecil itu ke mana pun dia pergi. Setiap hari laki-laki itu mencari makan di hutan. Dia makan apa saja yang ada di hutan. Sudah tentu yang bisa dimakan. Begitu pula anaknya. Malam harinya mereka tidur di gubuk kecil di atas pohon. Gubuk yang terbuat dari ranting dan dedaunan itu cukup aman dari guyuran air hujan. Binatang buas pun tidak dapat mengganggunya.
Waktu berjalan begitu cepat. Anak perempuan lucu yang lahir dari sebutir telur itu bukan anak-anak lagi. Dia tumbuh menjadi seorang gadis cantik dan lincah. Dia sudah menjadi orang dewasa. Tentu saja tidak ada seorang teman pun yang bisa diajak bermain. Agar tidak kesepian, ayahnya mencarikannya seekor anjing. Aneh memang. Anjing yang ditangkap di hutan itu cepat akrab dengan tuannya. Gadis itu sangat senang bermain dengan anjing. Setiap hari diajaknya anjing kesayangannya itu ke hutan. Mereka berkejar-kejaran layaknya dua sahabat yang sedang bercanda ria. Sekali-sekali anjing itu disuruh menangkap binatang. Dengan cekatan, dikejarnya binatang buruan yang diinginkan tuannya lalu ditangkapnya.
Anjing itu bukan hanya sebagai teman bermain dan membantu mencari makanan di hutan. Anjing itu juga berfungsi sebagai pengawal. Jika ada binatang yang membahayakan, gadis itu segera minta tolong anjingnya. Diserangnya binatang yang dianggap membahayakan tuannya. Namun, tidak semuanya dibunuh. Jika hanya dengan gonggongan binatang itu sudah lari, binatang itu tidak dibunuhnya. Akan tetapi, jika melawan, tidak segan-segan anjing itu membunuhnya. Kejadiannya menjadi seru kalau musuhnya lebih besar. Dengan berbagai cara, anjing itu tetap berusaha mengusir musuhnya. Hasilnya selalu sukses. Semua musuhnya berhasil dihalau.
Di pulau itu hanya ada dua orang manusia. Satu orang berasal dari seekor kepiting dan satu orang lagi berasal dari sebutir telur. Mereka adalah ayah dan anaknya. Mereka tinggal serumah. Hari demi hari dijalaninya hidup bersama. Suka dan duka dirasakan bersama pula. Lama-lama kedua orang yang berlainan jenis itu menjalani hidup seperti suami istri. Mereka tidak lagi sebagai anak dan ayah. Tidak ada pilihan lain karena di pulau itu tidak ada orang lain. Rupanya sudah menjadi suratan takdir. Kedua manusia itu harus hidup bersama sebagai suami istri. Mereka hidup rukun dan damai. Satu sama lain saling pengertian.
Kedua orang suami istri itu telah menjalani hidup bersama. Istrinya pun telah hamil. Suaminya sangat gembira. Rasa sayangnya terhadap sang istri bertambah. Selama hamil istrinya tidak diperkenankan ikut ke hutan. Semua kebutuhan hidupnya dicukupi. Sang istri hanya diperbolehkan keluar sekitar gubuk dengan ditemani anjingnya yang setia. Semua itu dilakukan sang suami agar istrinya tidak mengalami gangguan. Sang istri pun mengikuti nasihat sang suami.
Wando. Itulah nama panggilan bocah kecil lucu itu. Nama lengkapnya adalah Wandoruata. Bocah kecil lincah itu sedang asyik bermain sendirian. Seekor anjing menemaninya. Bocah laki-laki itu bercanda dengan anjing kesayangannya. Kadang-kadang mereka tampak sangat akrab. Kadang-kadang kelihatan seperti bergumul dan kadang-kadang berkejar-kejaran. Begitulah kebiasaan yang dilakukannya setiap hari.
Siapa anak kecil itu? Mengapa ada bocah laki-laki di hutan itu? Siapa orang tuanya? Ternyata, bocah kecil itu anak dari perkawinan laki-laki dengan anak perempuannya tadi. Mereka telah dikaruniai seorang anak laki-laki. Manusia pertama di Pulau Karakelang, Kepulauan Talaud itu telah melahirkan lagi keturunan seorang bocah kecil laki-laki. Tiga manusia telah menghuni pulau itu.
•••
2. NENEK SIAL
Kasihan. Begitulah komentar Fika saat mendengar cerita dari sang Kakek. Dalam hatinya dia juga tertawa karena memang lucu. Lucu, tetapi menyedihkan. Begitu kata Fika dalam hati. Dia tidak habis pikir mengapa ada cerita seperti itu. Fika terus mendengarkan cerita sang Kakek dengan penuh semangat.
"Kek, kenapa nasib nenek tadi bisa begitu sial?" tanya Fika kepada sang Kakek.
"Cucu ingin tahu?” Sang Kakek balik bertanya.
"Iya, Kek. Cepat, Fika penasaran, nih."
"Apa yang membuat cucu penasaran?"
"Em … ini, Kek. Siapa yang memasang perangkap untuk nenek tadi?"
"O, itu. Sebenarnya yang kamu bilang perangkap itu bukan perangkap." Sang Kakek mengawali ceritanya. "Peristiwanya terjadi pada zaman nenek moyang kita dahulu. Pada suatu waktu ada sekelompok makhluk Tuhan yang akan pergi berlayar bersama-sama. Mereka sangat kompak. Segala sesuatu yang diperlukan untuk berlayar mereka musyawarahkan."
"Sebentar, Kek. Kok, Kakek menyebut mereka sekelompok makhluk Tuhan. Kenapa tidak sekelompok orang atau binatang?" tanya Fika ingin tahu.
"Pertanyaan bagus. Itu namanya anak cerdas. Memang harus begitu. Jadi anak sekarang harus cerdas. Apalagi pada masa yang akan datang. Hanya orang yang cerdas yang bisa bersaing.”
"Iya. Akan tetapi Kakek tidak lupa pertanyaan saya ‘kan?”
"Mulai enggak sabar, nih. Jangan khawatir, Kakek belum pikun. Kelompok yang Kakek maksud memang bukan manusia. Juga bukan hanya kelompok binatang. Mereka terdiri atas seekor tikus, udang, lipan, burung maleo, belut, sebuah jarum, dan palu."
"Wah, ini benar-benar aneh, Kek."
"Memang aneh. Kalau kamu hanya melihat cerita tadi secara apa adanya."
"Maksud Kakek?"
"Ya, harus dicari intinya."
"Fika tambah bingung. Habis Kakek tidak langsung mengatakannya."
"Kakek berikan bandingannya. Cucu tahu buah pisang?"
"Sudah pasti, tahu."
"Apa yang kau ambil? Isinya atau kulitnya?"
"Kakek ada-ada saja. Kakek pasti tahu jawabannya. Mana ada orang makan kulit pisang? Kulit pisang bukan milik kita, milik binatang. Gitu, Kek."
"Bagus. Cucu juga pasti tahu apa yang saya maksud. Tahu kan? Anak cerdas pasti tahu. Kalau tidak tahu, ya … bukan anak cerdas namanya.”
"Hampir, Kek."
"Nah, sekarang Kakek uji. Dahulu ada orang tua yang melarang anaknya makan di tengah pintu dengan mengatakan akan diganggu setan. Cucu tahu apa inti nasihatnya?"
"Apa, ya? Em ... mungkin tidak sopan?"
"Nah, tepat sekali. Tidak percuma Kakek punya cucu Fika. Akan tetapi, sekali lagi. Kalau bisa menjawab dengan tepat, baru Kakek akui kehebatan cucuku. Ada lagi larangan orang tua kita dulu kepada anak cucunya. Dulu orang tua kita melarang anaknya makan dengan piring yang disangga dengan tangan. Jadi, tangan kiri menyangga piring dan tangan kanan untuk makan. Hal seperti itu dikatakan sebagai pantangan yang harus dijauhi. Sekarang coba tebak. Apa kira-kira inti nasihat tadi?”
"Tetapi, ini ujian terakhir, ya, Kek."
"Yang berhubungan dengan pertanyaan tadi, boleh."
"Menurut saya, agar piring tidak mudah jatuh dan pecah. Jadi, orang tua kita itu menasihati anak cucunya agar pada waktu makan, piring ditaruh saja. Selain lebih sopan, juga piring lebih aman. Begitu, Kek?"
"Benar sekali. Seperti Kakek katakan tadi, tidak percuma Kakek punya cucu Fika. Selain cantik seperti … bulan purnama, juga cerdas,” kata sang Kakek menyanjung cucunya. "Lo, kok cemberut?" tanya sang Kakek sambil memandangi wajah cucunya.
"Habis, Kakek sentimen sama Fika. Masa, Fika disamakan dengan bulan. Kakek kan tahu muka bulan yang sebenarnya itu jelek sekali."
"Maaf, bukan itu maksud Kakek. Menurut Kakek, bulan memang indah kalau dilihat dari bumi. Itu yang Kakek tahu. Akan tetapi, sudahlah. Sejujurnya, cucuku memang sangat cantik."
"Enggak, Kek. Fika hanya bercanda, kok." Fika segera meluruskan kesan kakeknya yang serius menanggapi godaannya. "Tetapi, ... Kek, sebenarnya Fika justru agak ragu-ragu dengan jawaban yang Fika sampaikan tadi."
"Apa yang Cucu ragukan? Menurut kakek, jawaban tadi sudah bagus. Malah. Bagus sekali."
"Masa iya, Kek, hanya karena sebuah piring, dikatakan sebagai pantangan yang harus dijauhi. Kalau kita pikir, berapa harga sebuah piring? Maksud Fika, rasanya kurang tepat kalau suatu pantangan dibuat hanya karena sebuah piring. Itu, Kek, yang Fika ragukan. Bagaimana masalah ini, Kek?"
"Masuk akal juga pendapatmu itu. Akan tetapi, ... ada tetapinya."
"Tetapi, … apa, Kek?" tanya Fika tidak sabar.
"Tetapi, Fika menilai harga piring tadi menurut ukuran sekarang. Memang benar yang Fika katakan tadi. Sebuah piring biasa pada saat ini hanya berapa ribu rupiah. Namun, pada zaman dahulu tidak semua orang punya piring. Harganya pun cukup mahal jika dibandingkan dengan harga makanan. Karena itu, orang tua kita dahulu sangat berhati-hati dalam memelihara piring. Bagi orang biasa, piring hanya dipakai pada saat-saat tertentu. Nah, nasihat secara halus tadi juga merupakan salah satu cara untuk memelihara piring. Begitu, Fika."
"O, … jadi begitu, ya, Kek. Kalau begitu, gelas cangkir juga termasuk barang mahal atau mewah, ya, Kek?" tanya Fika lebih lanjut.
"Betul. Memang begitu pada zaman dahulu."
Fika sangat menikmati cerita itu dengan penuh semangat. Dia tidak hanya mendengarkannya. Cerita sang Kakek sering dipotong. Pertanyaan-pertanyaan sering dilontarkan sehingga sang Kakek harus sering pula menghentikan ceritanya. Tidak jarang sang Kakek agak kaget dengan pertanyaan Fika. Gadis kecil berparas cantik itu memang tergolong cerdas. Semua yang dirasa aneh atau tidak masuk akal langsung ditanyakan.
Sang Kakek rupanya suka humor. Di sela-sela ceritanya sering muncul pertanyaan-pertanyaan yang mengundang tawa. Kadang-kadang muncul pula pertanyaan yang bernada menggoda. Sang Kakek merasa puas kalau cucunya terjebak. Tertawanya meledak-ledak hingga giginya yang tinggal sepasang itu tampak jelas. Ingatannya masih kuat walau tak sehelai rambut pun di kepalanya yang berwarna hitam. Kulitnya juga sudah mengeriput. Pandangan matanya tajam. Lebih-lebih kalau sedang bercerita. Dia menghayati benar apa yang diceritakan.
"Sekarang bagaimana dengan cerita tentang tikus, udang, lipan, burung maleo, belut, jarum, dan palu tadi? Sudah tahu atau belum maksudnya? Ayo, bagaimana?"
Fika tidak langsung menjawab. Dahinya berkerut. Dia berusaha keras untuk menjawab pertanyaan sang Kakek. Sejenak dia diam. Akan tetapi, tidak ditemukan jawabannya.
"Kek, Fika masih bingung. Fika belum tahu jawabannya. Kali ini saya menyerah, Kek. Fika benar-benar tidak tahu."
"Jangan mudah menyerah begitu. Kan belum usaha sungguh-sungguh."
"Kan ada Kakek yang pasti membantu Fika. Percuma saja punya Kakek yang hebat. Iya kan, Kek?"
"Keluar lagi rayuannya. Akan tetapi, tidak apa-apa. Karena Kakek memang orang hebat, Kakek akan membantu," jawab sang Kakek sambil bergurau.
"Itu baru Kakek Fika. Ayo, cepat, Kek. Fika ingin tahu, nih."
"Nah, datang lagi penyakit tidak sabarnya. Cucuku yang satu ini pasti begitu. Akan tetapi, baiklah demi cucuku yang cantik, Kakek bantu memahami cerita tadi. Kelompok makhluk tadi anggotanya bermacam-macam. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Coba cucu lihat satu per satu apa kelebihan dan kekurangannya. Ayo, coba."
Sang Kakek mencoba membimbing Fika agar mau terus berpikir. Fika tidak dapat langsung menjawab permintaan kakeknya. Namun, dia tampak berusaha. Setelah sejenak diam, dia mulai komentar.
"Salah enggak apa-apa, ya, Kek?"
"Tidak apa-apa, jangan takut salah. Belajar dari kesalahan itulah orang justru sering berhasil. Begitu kata orang-orang pintar. Ayo cepat."
"Yang pertama tikus. Kelebihannya dia dapat menggigit apa saja. Jenis kayu sekeras apa pun pasti dapat dia gigit. Dia hidup di darat. Dia tidak tahan di dalam air meskipun juga pintar berenang."
"Wah, bagus. Bagus sekali. Apa Kakek bilang. Asal mau berusaha, pasti bisa. Terus lanjutkan yang berikutnya."
"Yang kedua udang. Apa ya kelebihan udang? Sepertinya tidak ada, Kek."
"Ada. Jangan lupa, mereka akan berlayar. Itu berarti perlu tenaga yang biasa hidup di laut. Udang tergolong binatang yang hidup di laut.”
"Jadi, itu kelebihan udang, ya, Kek?"
"Betul, untuk perjalanan berlayar."
"Tetapi, ada kelemahannya. Kek."
"O, ya. Apa itu?"
"Udang tidak bisa bertahan lama di darat. Iya kan, Kek?"
"Tepat sekali. Kalau kita bandingkan dengan tikus tadi, perbedaannya begini. Kalau udang hidup di air dan tidak tahan di darat, tetapi tikus hidup di darat dan tidak bisa tahan lama di air."
"Jadi, begitu, ya, Kek?"
"Iya. Begitulah Tuhan menciptakan makhluk di dunia ini, pasti ada kelebihan dan ada kekurangannya. Jika ada orang yang merasa dirinya sempurna, itu menyalahi kodrat Tuhan. Nah, sekarang ayo teruskan ceritanya tadi,” pinta sang Kakek kepada Fika yang tampak tertegun.
Fika tampak serius memerhatikan cerita sang Kakek. Namun, Fika segera memenuhi permintaan kakeknya.
"Yang ketiga lipan, ya, Kek?" tanya Fika menyakinkan dirinya.
"Betul. Ingatanmu bagus sekali. Apa kelebihan dan kekurangan lipan?"
"Kelebihannya jelas sekali. Lipan memiliki senjata yang mematikan, yaitu sengatannya. Sebenarnya lipan hidup di darat, tetapi pandai berenang. Lipan tidak bisa tinggal di dalam air seperti udang. Begitu, Kek, menurut saya. Gimana, Kek? Betul enggak?"
"Jawabannya bukan hanya betul, melainkan betul sekali. Keterangan Bu Guru Fika jelas sekali." Sang Kakek sengaja menggoda cucunya dengan panggilan bu guru Fika.
"Pasti begitu. Kalau Fika serius, Kakek ngeledek. Giliran Fika yang tanya, Kakek bilang enggak sabaran, enggak ini, enggak itulah. Tetapi, Fika juga maklum, kok Kek. Kalau enggak begitu, bukan kakek Fika."
Fika mengeluarkan isi hatinya. Namun, bukan berarti dia tidak senang dengan kakeknya yang suka menggoda itu. Memang kadang-kadang hatinya agak kesal kalau sang Kakek menggoda. Akan tetapi, bagi Fika, sebenarnya sang Kakek lebih tepat dikatakan sebagai orang tua yang menyenangkan. Selain banyak nasihat, sang Kakek juga banyak humor, termasuk kebiasaannya yang suka menggoda Fika.
"Pendek kata, Kakek memang orang baik. Begitu kan, Fika?”
"Iya-iya, Kek. Fika ngalah," jawab Fika agak cemberut.
"Sekarang, ayo teruskan lagi ceritanya tadi. Kakek dengarkan dengan sungguh-sungguh," pinta sang Kakek lagi.
"Baik, Kek. Yang keempat adalah burung maleo. Namanya juga burung, dia pandai terbang. Itu kelebihannya. Sudah tentu, burung ini tidak bisa hidup di air seperti udang. Barangkali itu kekurangannya. Begitulah, Kek?"
"Itu juga sudah cukup. Lalu, bagaimana dengan seekor belut?"
"Hampir sama dengan udang, belut juga hidup di air. Bahkan, dalam lumpur. Tubuhnya yang sangat licin juga merupakan kelebihannya. Kelebihan-kelebihan itu cocok untuk perjalanan berlayar. Kekurangannya belut tidak bisa tahan lama di darat yang tidak ada airnya."
"Bagus. Itu kelebihan dan kekurangan belut. Masih ada dua macam lagi yang belum disebut, yaitu jarum dan palu. Dua benda itu juga mempunyai kelebihan dan kekurangan. Ayo, apa kelebihan dan kekurangannya?"
"Jarum itu memang kecil bendanya, tetapi sangat tajam. Sudah tentu, jarum hanya digunakan untuk menusuk benda yang tidak keras. Dia akan patah kalau digunakan untuk menusuk benda yang keras. Lalu, palu. Palu memiliki daya tahan yang sangat kuat. Dia sanggup diadu dengan benda apa pun. Jangankan benda yang lembek, benda yang keras sekalipun dapat dipecahkan atau dihancurkannya. Akan tetapi, palu memang tidak dapat digunakan untuk menjahit seperti jarum. Begitu, Kek.”
"Nah, sekarang kata kakek terbukti. Cucu pasti bisa kalau mau berusaha. Semua kelebihan dan kekurangan sekelompok makhluk Tuhan tadi dapat cucu uraikan dengan bagus. Itulah yang kakek bilang tadi. Orang tua-tua kita dahulu sering mengajari anak cucunya secara tidak langsung atau secara tersamar. Sering ceritanya dalam wujud lambang-lambang contohnya ya sekelompok makhluk Tuhan tadi. Sebenarnya itu hanyalah lambang. Manusia adalah makhluk Tuhan yang pasti punya kekurangan di samping kelebihannya. Kekurangan dan kelebihan manusia itu berbeda-beda. Namun, betapapun perbedaannya sebenarnya manusia bisa bersatu. Masing-masing saling melengkapi. Jika manusia selalu menyadari hal itu, hidup ini akan damai dan aman. Manusia di muka bumi ini akan hidup sejahtera."
"Sayangnya, di dunia ini banyak manusia yang saling cakar atau saling bermusuhan, ya, Kek."
"Karena itu, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan anak cucunya agar manusia tidak selalu terjebak pada nafsu serakahnya.”
"Nah, sekarang Kakek yang meneruskan ceritanya.”
“Bagaimana lanjutan ceritanya, Kek?"
"Baiklah. Sekarang dengarkan baik-baik."
Sang Kakek melanjutkan ceritanya. Sekelompok makhluk Tuhan itu bermusyawarah. Mereka bersepakat untuk membuat perahu. Bahannya dari batang tebu yang tumbuh di sekitar hutan itu. Mereka bekerja bantu-membantu. Ada yang mengupas daun tebu itu. Ada pula yang memotong-motongnya sesuai dengan ukuran yang diperlukan. Yang lain secara bersama-sama mengikat kuat-kuat batang demi batang hingga terbentuklah sebuah perahu berukuran sedang.
Perahu sudah siap. Namun, masih ada lagi yang harus dipersiapkan, yaitu bekal di perjalanan. Maka, masing-masing mencari bekal untuk di perjalanan. Sementara itu, si tikus yang akan menjadi nakhoda sibuk menyiapkan dayung. Diambilnyalah sebuah pelepah pisang. Lalu, dirapikannya sehingga menjadi sebuah dayung yang bagus.
Cerita sang Kakek terhenti sejenak. Fika memotong cerita itu dengan pertanyaan.
"Bagaimana bisa menyiapkan bekal? Lebih-lebih jarum dan palu kan benda mati, Kek? Apa perlu bekal?”
"Cucu lupa apa kata Kakek tadi. Semua pelaku dalam cerita ini hanyalah simbol atau lambang. Makhluk apa pun pelakunya, termasuk benda mati tadi, dapat berbuat seperti manusia."
"O, begitu, ya, Kek."
"Memang begitu. Sekarang mau diteruskan ceritanya?"
"Sudah pasti, Kek."
Cerita diteruskan. Mulailah mereka berlayar. Yang menjadi nakhoda adalah tikus. Mereka mengarungi lautan dengan bersuka ria. Ada yang menyanyi dan ada pula yang mengiringi lagu dengan mulut dan tepuk tangan. Perjalanan itu mereka rasakan sebagai perjalanan yang menyenangkan. Semua ambil bagian dalam bersenang-senang.
Tanpa terasa mereka sudah berjalan jauh. Selain merasa lelah, rasa lapar pun mulai mengusik. Mereka sepakat untuk istirahat. Mereka membuka bekalnya masing-masing. Rupanya, salah satu di antara mereka ada yang lupa membawa bekal. Saat yang lain menyiapkan bekal, tikus sedang sibuk menyiapkan dayung. Saking bersemangatnya, dia lupa membawa bekal. Teman-temannya pun tidak tahu. Dia adalah sang nakhoda alias tikus.
Berbagai makanan dibawa oleh rombongan yang sedang berlayar itu. Mereka membawa makanan kesukaannya masing-masing. Rupanya seleranya memang berbeda. Dari berbagai bekal yang dibawa teman-temannya itu tidak ada yang memenuhi selera tikus. Dia memilih tidak ikut makan saat temannya berpesta ria. Dia memilih menahan rasa lapar dengan harapan secepatnya mendapat makanan kesukaannya.
Perutnya mulai keroncongan pertanda minta diisi. Si tikus mulai gelisah. Sementara itu, teman-temannya telah tertidur pulas. Si tikus makin gelisah. Otaknya mulai diputar. Dia berpikir apa yang dapat dimakan di perahu. Apakah ada yang bisa dimakan? Saat berpikir itu matanya terpaku pada batang-batang tebu yang tertata rapi. Perutnya tambah keroncongan. Akhirnya, dia putuskan untuk makan tebu-tebu itu.
Keputusan tikus itu berakibat fatal. Perahu tersebut bolong dan kemudian oleng. Tidak lama kemudian tenggelam. Seisi perahu kalang kabut. Sedang enak-enaknya tidur tiba-tiba perahu tenggelam. Masing-masing berusaha untuk menyelamatkan diri. Belut dan udang tidak masalah karena memang hidupnya di air. Burung maleo langsung terbang menuju pantai. Meskipun dengan susah payah, lipan dan tikus dapat juga berenang ke pantai. Namun, jarum dan palu langsung tenggelam tanpa bisa berbuat apa-apa.
Semua sudah sampai di pantai, kecuali jarum dan palu. Mereka yang sudah sampai bermusyawarah untuk menyelamatkan dua temannya yang masih tertinggal di laut. Kesepakatan dicapai. Lipan dan belut yang harus kembali ke laut untuk menyelamatkan jarum dan palu. Maka, segeralah mereka berdua menyelam menuju tempat perahu tenggelam tadi. Tampaknya tidak ada kesulitan. Selang beberapa waktu kemudian mereka sudah kembali. Jarum dan palu dapat diselamatkan.
Mereka beristirahat di pantai. Di antara mereka ada yang merasa kedinginan, terutama tikus. Dia minta dicarikan api untuk memanaskan badan. Tenggang rasa mereka cukup tinggi. Segeralah salah satu di antara mereka pergi. Dia adalah udang. Dicarinya rumah di sekitar tempat mereka beristirahat. Agak lama udang berputar-putar mencari rumah orang. Kemudian, dari kejauhan tampak sebuah rumah panggung kecil di tepi hutan. Udang segera menuju rumah itu. Ternyata, rumah itu adalah rumah seorang nenek. Udang dapat melihat nenek itu sedang duduk dari kejauhan. Ia tinggal sendirian di rumah itu. Pantas kalau rumah itu tampak sepi.
Rumah nenek itu sangat tinggi. Udang tidak bisa naik. Dicarinya akal untuk meminta api. Ia berhenti sejenak sambil berpikir. Lalu, ditemukan cara yang tepat untuk meminta api. Ia memanggil nenek dari bawah untuk meminta api.
"Nek! Permisi, Nek!" teriak udang dari bawah. Akan tetapi, yang dipanggil tidak menjawab. Dicobanya sekali lagi untuk memanggilnya.
"Permisi, Nek!" Kali ini ada jawaban.
"Siapa di bawah?"
"Saya, Nek. Saya udang. Saya mau minta tolong, Nek."
"Minta tolong apa? Mengganggu orang tidur saja."
"Teman saya kedinginan, Nek. Saya mau minta api buat menghangati badan. Boleh kan, Nek?" pinta udang dengan rendah hati.
"Kalau mau minta api, naik saja,” jawab nenek tua itu tanpa berpikir panjang.
"Nek, rumah Nenek kan tinggi. Mana mungkin saya bisa naik," jawab udang agak kesal. Dia ingin ngomel, tetapi ditahannya. Dia takut kalau tidak diberi api.
"Ya, sudah. Kalau tidak bisa, enggak usah minta api. Sudah pergi sana!" Nenek tua itu mengusir, tetapi udang belum mau pergi. Dirayunya lagi nenek tua itu agar mau memberi api.
"Tolong, Nek. Ini penting sekali. Kalau tidak dapat api, teman saya akan mati. Sekali lagi, tolonglah, Nek," pinta udang dengan nada memelas.
Hati si nenek tambah dongkol. Hampir saja dia ngomel, tetapi masih dapat ditahan. Tiba-tiba saja nenek tua itu marah sambil melemparkan api ke bawah. Nasib sial menimpa udang. Api kayu yang dilempar itu mengenainya. Akibatnya dapat diduga. Udang mati seketika.
Teman-taman udang menunggu di pantai. Karena sudah lama tidak muncul, salah satu di antara mereka menyusul udang. Kali ini yang berangkat lipan. Tidak lama kemudian sampailah lipan di rumah nenek tua. Diamatinya keadaan di sekitar rumah nenek itu. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati udang telah mati dibunuh nenek. Bergegaslah lipan itu pulang untuk memberi tahu teman-temannya. Sesampainya di tempat mereka, lipan menceritakan apa yang dilihatnya dengan rasa emosi.
"Teman-teman, celaka, kita celaka! Nenek sial itu ..., nenek sial itu ...," katanya terputus-putus sambil lari terengah-engah.
"Tenang, tenang! Minum dulu agar tenang," bujuk salah seorang dari mereka. Lipan pun minum. Sejenak kemudian melanjutkan bicaranya.
"Nenek sial itu telah membunuh teman kita. Udang tewas di rumah nenek sial itu. Siapa lagi yang membunuh kalau bukan dia. Di rumah itu tidak ada orang lain. Tetangga dekat pun tidak ada. Jadi, jelas dialah yang membunuh teman kita."
"Kurang ajar!” kata salah seorang dari mereka dengan geram.
"Kita tidak boleh membiarkannya. Kita harus menuntut balas atas kematian teman kita."
Sang Kakek melanjutkan ceritanya. Diceritakan bahwa mereka bersepakat untuk menuntut balas. Perasaan dendam membara di dada mereka. Rencana pun segera disusun.
"Kek, mengapa mereka mesti balas dendam? Bukankah nenek tadi tidak salah?" tanya Fika pada sang Kakek.
"Mungkin karena mereka terlalu capek dan lapar sehingga mudah marah. Selain itu, sebenarnya nenek tadi juga salah. Mestinya kalau punya niat baik, api tidak dilemparkan dari atas. Bisa saja nenek tadi memberikan api ke bawah secara baik-baik. Akan tetapi, api dilemparkan dari atas sehingga mengenai udang sampai mati. Jadi, bisa dimengerti kalau mereka marah. Sudah tentu sifat itu tidak baik."
"Lalu bagaimana, Kek, mereka membalas dendam?"
"Nah, begini rencana mereka."
Sang Kakek menceritakan siasat mereka. Mereka berbagi tugas. Tikus menempatkan diri di lumbung. Lipan berada di dekat air. Burung maleo bertengger di dekat dapur. Belut bersembunyi di dekat tangga. Palu di atas atap. Lalu, jarum menempel di dinding. Rencana mereka sudah matang. Mereka bertekad untuk membunuh nenek yang telah membunuh temannya. Kemudian, dicarilah saat yang tepat. Mereka menunggu datangnya malam hari.
Hari telah senja awan gelap menyelimuti sang mentari yang hampir tenggelam. Sejenak kemudian masuklah sang mentari ke peraduannya. Kehidupan di muka bumi yang tadinya ramai menjadi sepi. Hanya sesekali terdengar suara binatang malam sedang gentayangan mencari mangsa.
Nenek tua itu sudah selesai makan malam. Perutnya agak kurang enak. Entah apa sebabnya dia tidak tahu. Namun, sakitnya itu tidak begitu dihiraukannya. Paling-paling nanti juga baik sendiri. Begitu pikirnya dalam hati.
Hari telah larut malam. Nenek tua itu bersiap-siap untuk tidur. Seperti biasanya, lampunya dimatikan. Mulailah dia tidur. Namun, baru saja menutup mata, dia kembali membuka matanya. Dia dikejutkan oleh suara tikus yang mengerat lumbung padinya. Dia mencoba menghentikan ulah tikus itu dengan mengetok dinding sebelahnya. Akan tetapi, tangannya tertusuk jarum. Sambil menahan rasa sakit, dia menuju ke dapur mencari api. Dia merasa penasaran apa yang menusuk tangannya. Namun, saat nenek itu berada di dekat dapur, burung maleo mengepakkan sayapnya. Nenek tua itu spontan tidak bisa melihat karena kedua matanya kemasukan abu dapur. Dengan susah payah dan mata terpejam dia menuju ke tempat penyimpanan air. Maksudnya untuk mencuci matanya yang kena abu dapur. Nasib sial masih terus menimpa nenek tua itu. Saat tangannya meraba-raba tempat air, lipan menggigit bibir nenek tua itu. Dia terkejut luar biasa sambil mengerang kesakitan. Dia berusaha keluar halaman untuk mencari ramuan. Nasibnya tambah sial. Saat usaha menuruni tangga dia terpeleset karena menginjak belut. Dia jatuh tertimpa tangga. Palu yang sudah menunggu di atas atap menjatuhkan diri ke kepala nenek tua itu. Tamatlah riwayat nenek tua itu.
•••
3. CINCIN MISTERI
Bentuknya kecil, bundar, dan tidak memiliki permata. Untuk ukuran sekarang, cincin itu tergolong jelek. Namun, pada waktu dibuat, cincin itu tergolong bagus. Cincin itu tidak polos. Ukiran sederhana yang entah melambangkan apa menghiasinya. Umurnya tidak diketahui secara pasti, tetapi dapat diperkirakan ratusan tahun.
Tidak ada yang menarik dari cincin itu kalau hanya dilihat wujudnya. Namun, bagi yang tahu riwayatnya, cincin itu menarik perhatian. Di balik wujudnya yang sederhana itu tersimpan misteri. Gara-gara cincin inilah dua anak manusia kakak beradik terjerumus ke dalam lembah kehinaan. Dua kakak beradik itu hidup menjadi suami isteri. Bahkan, mereka punya anak. Anehnya lagi, anaknya bukan manusia. Anaknya berwujud seekor ular yang berbisa.
Cerita bermula dari sebuah tempat yang bernama Likai pada zaman dahulu. Sekarang tempat itu ada di wilayah desa Kisihang. Ada dua orang kakak beradik hidup di desa itu. Kakaknya laki-laki dan adiknya perempuan. Mereka hidup di sebuah gubuk yang sangat sederhana. Mereka membuat rumah itu sendiri. Bahannya diambil dari hutan yang ada di sekitar desa itu. Sejumlah pohon berukuran kecil ditebang lalu dipotong-potong menurut kebutuhan. Cabang dan ranting pun dikumpulkan secara terpisah. Begitu pula daun-daunnya. Potongan batang digunakan sebagai tiang penyangga. Potongan cabang dan ranting digunakan untuk atap dan dinding. Daun-daunnya untuk menyempurnakan atap dan dinding yang memang harus dibuat rapat. Lebih-lebih atapnya, tidak boleh tembus air hujan.
Gubuk itu hampir tidak terlihat dari jarak yang tidak begitu jauh. Di samping ukuranya memang kecil, letak gubuk itu di antara pepohonan yang rimbun. Tidak aneh kalau hampir tidak terlihat dari jarak yang tidak begitu jauh. Namun, bagi pemiliknya gubuk itu dapat dikenali walaupun dari jarak yang cukup jauh. Mereka menggunakan tanda tertentu untuk mengenali gubuk yang dijadikan rumahnya itu.
Tidak ada yang tahu pasti dari mana asal-usul kedua orang anak kakak beradik itu. Siapa orang tuanya juga tidak diketahui. Bahkan, namanya pun hanya adiknya yang diketahui, yaitu Sampahauta. Kakaknya tidak diketahui namanya. Keberadaan mereka dapat dikatakan misterius.
Di dekat tempat tinggal kedua orang kakak beradik itu memang tidak ada rumah. Namun, di tempat yang agak jauh ada satu dua rumah dan berpenghuni. Kadang-kadang mereka bertemu di hutan saat sama-sama mencari buah-buahan atau sama-sama berburu binatang. Itu artinya mereka sangat jarang bertemu. Hampir dapat dikatakan bahwa mereka hidup sendiri-sendiri. Satu sama lain seperti tidak saling membutuhkan. Hidup seperti itu dapat mereka jalani karena kebutuhan mereka tidak banyak. Yang penting bagi mereka hidup bisa makan. Bahan makanan dapat mereka peroleh di sekitarnya. Itulah sebabnya mereka dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
Kedua orang kakak beradik itu hidup dengan bercocok tanam di kebun yang mereka buka sendiri. Pepohonan yang tidak terlalu besar ditebang. Semak belukar pun dibabat dan dibersihkan. Di berbagai tempat tanah digemburkan untuk menanam bibit. Berbagai jenis tanaman ditanam. Mereka memperoleh bibit tanaman dari hutan. Dipilihnya bibit yang baik. Baik adik atau kakaknya memang rajin bekerja. Selain dari kebunnya, makanan juga mereka cari di hutan di sekitar tempat tinggalnya. Itulah sebabnya mereka sering pergi ke hutan bersama-sama.
Kakaknya bertubuh tinggi dan kekar. Kulitnya sawo matang dan rambutnya berombak. Tatapan matanya tajam dan gerakannya lincah. Pendek kata, dia pemuda tampan. Adiknya, Sampahauta, juga seorang gadis yang cantik. Tubuhnya lebih pendek sedikit daripada kakaknya. Kulitnya kuning langsat dan rambutnya terurai panjang. Dia juga tergolong gadis yang lincah.
"Kak, sarapan dulu sebelum ke kebun," pinta Sampahauta kepada kakaknya.
"Terima kasih, Hauta. Apa sarapan kita hari ini?” tanya sang Kakak.
"Kemarin saya mencabut ubi di belakang rumah. Itu, lo, Kak, yang Kakak tanam tiga bulan yang lalu. Tahukan, Kak?"
"Yang merambat ke pohon besar itu?"
"Betul. Masa Kakak lupa. Buahnya sudah besar, lo, Kak. Rasanya enak sekali. Gurih. Kakak pasti suka," bujuk Sampahauta kepada kakaknya.
"Sekali lagi, terima kasih. Akan tetapi, Kakak biasa sarapan pagi setelah bekerja lebih dahulu. Kalau sudah keringat keluar, makan apa pun rasanya sangat enak. Sudah, ya. Kakak ke kebun dulu."
"Iya, Kak. Nanti Kakak sarapan di kebun saja. Biar saya yang mengantar sarapan ke kebun."
"Baik. Kakak tunggu nanti. Jangan lama-lama, ya. Nanti Kakak keburu lapar."
"Baik, Kak. Saya akan menyiapkan makan siang dulu."
Sampahauta segera menuju tempat masak di belakang rumah. Tempat itu oleh orang sekarang disebut dapur. Di tempat itulah segala sesuatu kebutuhan hidup sehari-hari disiapkan oleh Sampahauta. Kakaknya setiap hari bekerja di kebun. Ada saja sesuatu yang dikerjakan. Tanaman yang baru selalu disirami dan diawasi dengan teliti. Kebetulan saat itu hujan jarang turun. Tanaman yang sudah lama disiangi. Tanaman buah yang sudah berbuah diawasi dan diberi perlindungan khusus. Ada yang dibungkus dengan daun berlapis-lapis dan ada pula yang dipagar dengan dahan dan ranting.
Begitulah mereka menjalani hidupnya setiap hari. Mereka rajin bekerja. Seakan-akan ada cita-cita untuk membangun masa depannya berdua dengan penuh semangat. Mereka bekerja dari pagi hingga sore tanpa merasa lelah. Percekcokan pun hampir tidak pernah terjadi. Mereka tampak hidup rukun dan damai.
Sore itu cuaca sangat cerah. Sang mentari hampir tenggelam. Awan merah tipis menghiasi langit di ufuk barat. Lukisan Tuhan itu sungguh menakjubkan. Pemandangan itu mengingatkan keagungan sang Pencipta. Tuhan memang Mahabesar. Angin yang bertiup lembut menambah nyaman dalam menikmati pemandangan senja itu. Saat-saat seperti itu biasanya dimanfaatkan orang desa untuk melepas lelah setelah sehari penuh bekerja.
Dua anak manusia itu sedang duduk-duduk santai di luar gubuknya sore itu. Seperti biasanya, mereka selalu melewatkan waktu sore hari dengan bercengkerama. Namun, ada yang aneh pada diri mereka sore itu. Seharusnya, mereka berwajah ceria. Sambil menikmati pemandangan indah, mereka biasa ngobrol atau bercanda ria. Kali ini masing-masing diam. Tampaknya, ada sesuatu yang sedang dipikirkan.
"Hauta, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan denganmu. Ini penting dan menyangkut kita berdua." Sang kakak memulai pembicaraannya.
"Ada apa, Kak? Apa ada kesalahan yang saya lakukan selama ini?” tanya Sampahauta penasaran.
"Tidak, Hauta. Kau tidak pernah berbuat salah. Kau adikku yang baik yang selalu tahu apa yang harus kau lakukan. Kakak merasa bangga punya adik sepertimu."
"Lalu, ada apa, Kak?"
"Begini, Hauta. Kita ini sudah sama-sama dewasa. Kita tidak mungkin terus-menerus hidup membujang seperti sekarang ini. Pada saatnya nanti kita harus mempunyai pasangan. Kamu punya suami dan saya juga punya istri. Dengan begitu, kita bisa hidup normal dan kemudian punya keturunan. Bagaimana pandanganmu?” Sang Kakak mencoba mengorek pendapat adiknya.
"Kak, sebenarnya sudah lama saya juga memikirkan masalah itu. Namun, saya tidak berani ngomong. Saya senang Kakak ngomong begitu. Akan tetapi, Kak, saya menjadi sedih sekali memikirkan masalah ini," keluh Hauta kepada kakaknya.
"Kakak tahu apa yang Hauta pikirkan. Soal kita tidak punya orang tua dan saudara, bukan? Jangan kecil hati begitu. Jangan lupa bahwa kita ini ada yang mengatur. Tuhanlah yang menentukan segalanya. Lahir, jodoh, dan mati itu semua diatur Tuhan. Namun, kita harus berusaha."
"Lalu, bagaimana caranya, Kak?"
"Sekarang lihat ini." Sang Kakak memerhatikan sesuatu dari gulungan kain yang melingkar di pinggang. Sebuah cincin sederhana tanpa permata. Sebagian ukirannya sudah tidak jelas. Bahkan, bagian pinggir-pinggirnya sudah tidak utuh. "Ini satu-satunya tinggalan orang tua kita," kata sang Kakak selanjutnya.
"Apa hubungan cincin itu dengan usaha kita untuk mencari jodoh, Kak?"
"Cincin ini ada hubungannya dengan persoalan jodoh kita. Cincin ini dapat kita jadikan pegangan dalam menentukan jodoh kita."
"Maksud Kakak, bagaimana? Saya jadi tambah bingung."
"Begini, Hauta." Sang Kakak mulai menjelaskannya. "Kita berkeliling dari kampung ke kampung. Kita cari orang yang jarinya cocok dengan cincin tinggalan orang tua kita ini. Kalau orang itu wanita, dia jodoh saya. Kalau orang itu laki-laki, dia jodohmu."
"Cincinnya kan cuma satu. Kemudian, bagaimana cara mengumpulkan orang-orang kampung?” tanya Hauta yang memang sedang bingung.
"Karena cincinnya hanya satu, kita menggunakannya secara bergantian. Saya yang akan berkeliling kampung lebih dahulu kemudian kamu. Nah, soal bagaimana cara mengumpulkan orang kampung, terserah Hauta saja. Kakak yakin, Hauta pasti bisa."
Matahari baru saja terbenam. Hari pun mulai gelap. Sampahauta dan kakaknya menuju ke tempat tidurnya masing-masing. Tempat tidurnya bersebelahan yang hanya dibatasi oleh ranting dan daun yang disusun rapi. Mereka tidak langsung tidur. Matanya tidak dapat segera dipejamkan. Angan-angannya melayang jauh. Masing-masing membayangkan akan berjumpa dengan pasangan idamannya. Mereka membayangkan calon pasangan yang didambakannya.
Hari telah larut malam. Suasana menjadi lengang. Dua anak manusia itu tertidur lelap. Entah mimpi apa mereka berdua. Tidak seorang pun yang mengetahuinya. Rupanya mereka merasa lelah. Pekerjaannya di kebun membuat mereka benar-benar lelah. Tidak mengherankan kalau malam harinya mereka tidur nyenyak.
Keheningan malam mulai terusik. Di sana-sini sudah mulai terdengar kokok ayam bersahutan. Kicau burung pun mulai ramai menambah semarak suasana. Di ufuk timur tampak fajar menyingsing pertanda malam telah berakhir. Di pagi buta itu Sampahauta dan kakaknya sudah bangun tidur. Mereka sudah bangun sebelum matahari terbit. Begitulah setiap hari mereka melakukannya. Mereka yakin bangun pagi dapat membuat badan menjadi sehat. Mereka dapat menikmati udara segar di pagi hari. Biasanya setelah bangun pagi, sang Kakak langsung pergi ke kebun dan Sampahauta menyiapkan sarapan. Pagi itu tidak. Laki-laki itu tidak pergi ke kebun. Dia berkemas-kemas untuk keliling dari kampung ke kampung. Segala perbekalan untuk perjalanan jauh disiapkan.
Persiapan sudah selesai. Laki-laki itu akan segera meninggalkan gubuknya. Segera dia berpamitan kepada adiknya.
"Hauta, seperti aku katakan kemarin sore, hari ini Kakak akan pergi berkeliling dari kampung ke kampung. Saya tidak tahu kapan aku akan pulang. Mungkin hari ini, mungkin besok, atau mungkin lusa, dan seterusnya. Doakan saja saya cepat pulang dan mendapat jodoh seperti yang saya bayangkan. Kamu senang kan kalau Kakak cepat dapat jodoh?
"Tentu, Kak. Hauta senang kalau Kakak cepat kembali dan dapat jodoh yang cantik. Hati-hati, ya Kak, di jalan. Semoga Tuhan melindungi perjalanan Kakak."
Hari masih pagi sehingga sangat nyaman untuk perjalanan. Mulailah laki-laki itu melangkahkan kaki. Dia meninggalkan rumah dengan penuh harapan. Langkahnya tegap dan terasa ringan. Dalam sekejap mata, telah hilang dari pandangan mata adiknya. Dia telah berjalan agak jauh dari rumahnya.
Hari sudah agak siang. Perjalanan laki-laki sudah jauh dari rumahnya. Perutnya sudah keroncongan minta diisi. Kakinya sudah terasa capek. Maka, dia memutuskan untuk beristirahat sambil sarapan. Lalu, dicarinya tempat duduk yang nyaman di bawah pohon yang rindang. Ubi rebus kesayangannya telah dibekalkan oleh adiknya. Dimakannya sebagian bekal itu dengan lahap. Badannya terasa bugar lagi setelah sarapan. Kemudian, dia berkemas-kemas untuk meneruskan perjalanan.
Laki-laki itu sudah sangat jauh meninggalkan rumahnya. Namun, belum satu kampung pun ditemukan. Jarak satu kampung dengan kampung yang lainnya memang sangat jauh. Dengan perjalanan satu hari penuh pun, belum tentu dijumpai sebuah kampung. Sampailah dia di persimpangan jalan. Di persimpangan jalan itu dia berpapasan dengan orang tua yang jalannya sudah bungkuk. Rambutnya sudah putih dan badannya kurus. Lelaki tua itu justru yang lebih dahulu menegur.
"Anak muda," tegurnya dengan suara berat.
"Bapak memanggil saya?” tanya lelaki muda itu meyakinkan.
"Betul. Anak mau ke mana?”
"Mau mencari kampung yang ada dekat sini. Kakek tahu arah mana ada kampung yang dekat sini. Kakek bisa membantu saya?"
"Sebenarnya, kalau anak mau menuju ke arah barat, tidak jauh dari tempat ini ada kampung yang ramai. Kira-kira perjalanan setengah hari. Itu pun kalau anak berjalan terus tanpa istirahat."
“Apakah ke arah lain tidak ada kampung, Kek?”
"Ada juga. Kalau anak berjalan ke selatan, anak juga akan menemukan kampung. Akan tetapi, kampung yang Kakek bilang ini tidak terlalu ramai. Lagi pula, jaraknya lebih jauh. Kira-kira perjalanan hampir sehari. Artinya, anak tidak dapat sampai kampung sebelum matahari terbit."
"Kalau begitu, saya ke arah barat saja, ya, Kek? Supaya saya bisa sampai di kampung sebelum malam tiba. Begitu, Kek?” tanya laki-laki muda itu meyakinkan.
"Ya, itu terserah anak saja."
"Akan tetapi, Kek, Kakek sendiri tinggal di mana? Maaf, ya, Kek, sebenarnya dari tadi saya merasa heran. Kakek ini kelihatan sudah tua. Di sekitar sini tidak ada kampung seperti yang Kakek ceritakan. Lalu, Kakek tinggal di mana?"
"O, itu. Kakek tidak punya rumah, tetapi bisa tidur di mana saja. Di saat ingin tidur di situlah Kakek tidur. Tidak pernah ada rasa khawatir pada Kakek."
"Apakah Kakek tidak punya keluarga? Misalnya, anak atau cucu?” tanya pemuda itu dengan penuh rasa heran.
"O, banyak. Anak cucu Kakek ada di mana-mana. Akan tetapi, Kakek tidak ingin merepotkan orang lain. Kakek juga ingin hidup bebas, tanpa terikat oleh orang lain."
Pemuda itu hanya mengangguk. Dia merasa heran dengan Kakek itu. Setiap jawaban yang diberikan Kakek itu justru menimbulkan tanda tanya baru. Dia tidak habis pikir. Orang yang sudah kelihatan begitu tua tinggal di mana saja. Dia tidak mungkin berasal dari kampung di sekitar tempat dia berada. Sesuai dengan keterangannya, dari tempat itu kampung masih jauh. Paling dekat dapat ditempuh dalam perjalanan setengah hari tanpa istirahat. Jarak itu tidak mungkin ditempuh oleh seorang kakek yang sudah tua. Yang lebih mengherankan lagi, anak cucu kakek itu dikatakan ada di mana-mana. Apa arti jawaban itu? Mana ada orang yang anak cucunya ada di mana-mana? Serba aneh, serba misterius. Begitulah yang ada di benak pemuda itu. Namun, pikiran itu hanya disimpan dalam hati. Dia tidak berani mengemukakannya kepada kakek itu.
Rupanya Kakek tua tahu apa yang sedang dipikirkan pemuda itu. Pertanyaan kakek tua itu membuyarkan lamunannya.
"Ada yang sedang dipikirkan, Nak?" tanya Kakek tua itu secara tiba-tiba.
"Ti ... ti ... tidak, Kek," jawabnya gugup. "Tidak ada yang saya pikirkan, Kek. Saya baru mikir ke mana saya harus berjalan. Saya ke barat atau ke selatan seperti yang Kakek jelaskan tadi," kata pemuda itu sedikit berbohong.
Kakek tua itu hanya tersenyum-senyum mendengar jawaban anak muda itu. Seakan-akan Kakek tua itu tahu persis apa yang sedang dipikirkan anak muda itu.
"Lalu, Anak mau menuju kampung yang mana? Ke barat atau ke selatan?” tanya Kakek tua itu ingin tahu segera.
"E .... Setelah saya pikir, saya akan ke barat saja, Kek, agar sampai di kampung sebelum hari gelap."
"Apakah sudah dipikirkan baik-baik?” tanya Kakek tua itu meyakinkan.
"Sudah, Kek. Sudah saya pertimbangkan baik-baik. Mudah-mudahan saya dapat menemukan apa yang saya cari."
"Untuk apa anak ke sana? Kau tidak akan menemukan apa yang kau cari di sana. Percayalah padaku," kata Kakek tua itu seakan-akan tahu apa yang akan dicari pemuda itu dan apa yang akan terjadi.
Lelaki muda itu hanya terdiam. Seakan-akan dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan orang tua tersebut. Dia terbengong-bengong karena memikirkan apa yang baru saja didengar. Dalam benaknya terjadi pergulatan antara percaya dan tidak percaya. Kalau percaya, dia harus kembali pulang. Itu berarti belum berusaha. Akan tetapi, kalau tidak percaya, perjalanan harus dilanjutkan. Ah, apa salahnya kalau dicoba.
"Terima kasih atas nasihat Kakek. Namun, kali ini saya akan mencobanya dulu. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih," jawab pemuda itu dengan pilihan yang mantap.
Kakek tua itu melanjutkan perjalanan. Ia berjalan menuju ke arah timur. Entah ke mana dia akan pergi. Pandangan pemuda itu masih tertuju padanya. Diamatinya sungguh-sungguh cara berjalan kakek tua itu. Mula-mula jalannya memang pelan-pelan. Bahkan, kelihatan tertatih-tatih. Namun, makin lama makin cepat seperti setengah berlari. Lebih aneh lagi, dalam waktu singkat kakek tua itu lenyap dari pandangan mata dan menghilang entah ke mana.
Pemuda itu masih terpaku di tempatnya. Dia baru saja melihat keanehan lagi. Orang yang kelihatannya sudah tua renta dapat hilang dari pandangannya secara cepat. Orang tua itu banyak menyimpan misteri. Siapa sesungguhnya dia itu? Makhluk haluskah dia? Atau, mungkin tokoh sakti yang menyamar sebagai orang tua? Yang jelas dia bukan orang sembarangan. Dia pasti mempunyai kelebihan. Akan tetapi, pemuda itu tidak terpengaruh. Dia akan terus melanjutkan perjalanannya.
Keputusannya sudah bulat. Pemuda itu tidak ingin berhenti di tengah jalan atau kembali pulang sebelum mencobanya. Dia memilih mencoba mencari jodohnya. Sesuai dengan petunjuk orang tua yang ditemuinya, dia berjalan menuju ke arah barat. Jalan yang dilalui cukup sulit. Jalannya naik turun. Bahkan, dia harus meniti lereng yang terjal dan berbahaya. Agak beruntung karena hari tidak sedang turun hujan. Kadang-kadang terasa lelah, tetapi dia ingat kata kakek tua. Dia tidak boleh istirahat di tengah jalan agar tidak kemalaman di jalan. Dia terus berjalan meskipun terasa capek.
Semua rintangan itu dilaluinya dengan selamat. Sore harinya sampailah dia di sebuah perkampungan. Meskipun jaraknya agak jauh, di kampung itu terdapat sejumlah rumah penduduk. Dia berjalan mengelilingi sebagian kampung itu. Kampung itu sangat luas sehingga belum semuanya dikelilingi. Tujuannya ingin mencari rumah yang dapat ditumpangi untuk satu malam. Selain itu, dia juga ingin tahu situasi kampung.
Kedatangannya di kampung itu menarik perhatian banyak orang, terutama gadis-gadisnya. Tampang pemuda itu memang sangat tampan. Karena itu, wajar kalau banyak wanita yang tertarik. Pemuda itu pun sebenarnya juga tertarik akan kecantikan gadis-gadis di kampung tersebut. Namun, ada hambatannya. Hanya wanita yang dapat mengenakan cincin tinggalan ayahnya yang boleh dijadikan istrinya.
Hari sudah menjelang malam. Dia harus bermalam di kampung itu. Dia mencari rumah penduduk yang bersedia menerimanya. Maka, datanglah ke salah satu rumah penduduk. Dengan senang hati, pemilik rumah itu menerimanya tanpa meminta imbalan apa pun. Seperti itu pula penduduk yang lain dalam menerima tamu. Mereka menolong orang lain secara ikhlas. Mereka memiliki rasa saling membantu antarsesama. Selagi bisa, orang harus mau menolong orang lain yang memerlukan. Begitulah prinsip mereka dalam hidup bertetangga.
Pemuda itu telah mendapatkan rumah tempat menginap. Sikap ramah selalu diperlihatkan pemilik rumah. Pada malam harinya, setelah makan malam, pemuda itu diajak berbincang-bincang dengan tuan rumah. Kesempatan baik itu digunakannya untuk mengutarakan maksudnya.
"Bapak sudah lama tinggal di kampung ini?” tanya lelaki itu memulai pembicaraannya.
"Sudah lama juga, Nak. Ya … sudah sejak anak saya yang terakhir belum lahir. Anak saya yang terakhir sudah bisa membantu saya bekerja di ladang.” Begitulah jawab tuan rumah tanpa menyebutkan sudah berapa tahun dia tinggal di kampung itu.
"Kira-kira berapa rumah yang ada di kampung ini, Pak?"
"Kalau tidak salah, ada lima belas rumah di kampung ini. Ini termasuk kampung yang besar. Sebab, di kampung-kampung lain yang saya tahu paling banyak hanya sepuluh rumah."
"Kalau penduduk yang muda, banyak, Pak?” tanya pemuda itu yang sudah mengarah pada tujuan kepergiannya.
"Sebentar, Nak. Maaf, ya, kalau saya bertanya lebih dahulu. Kok, yang ditanya hanya yang muda? Ada apa sebenarnya? Akan tetapi, sekali lagi, maaf, ya, Nak."
"Tidak apa-apa. Saya malah senang karena Bapak mau berterus terang dengan saya.” Pemuda itu mulai menjelaskan tujuannya. "Saya pergi jauh-jauh dari rumah memang ada yang saya cari, Pak."
"Kelihatannya, penting sekali, ya, Nak?” selidik tuan rumah.
"Iya, Pak, memang penting."
"Boleh Bapak tahu? Barangkali Bapak bisa membantu."
"Begini, Pak. Saya merasa sudah dewasa, orang tua sudah tidak punya. Sekarang saya hidup berdua dengan adik saya perempuan di sebuah kampung yang jauh dari sini. Saya ingin hidup seperti kebanyakan orang. Saya ingin punya istri. Itulah masalahnya hingga saya datang jauh-jauh ke sini."
"Maaf, Nak, saya merasa heran. Anak ini muda, gagah, dan tampan. Mana ada gadis yang menolak. Kalau mau, pasti banyak gadis yang antre untuk menjadi istri anak muda. Bapak yakin itu. Karena itu, Bapak agak heran."
"Yang Bapak katakan mungkin tidak salah. Akan tetapi, masalahnya begini. Saya dengan adik saya sudah sepakat. Dalam menentukan jodoh, kami gunakan cincin tinggalan orang tua kami sebagai penghormatan kepada orang tua kami yang telah tiada. Wanita yang cocok memakai cincin itu adalah jodoh saya. Begitu pula adik saya. Laki-laki yang cocok memakai cincin itu adalah jodoh adik saya. Itulah, Pak, masalahnya. Sekarang saya sedang bingung. Bagaimana caranya agar dapat menemukan jodoh saya, Pak? Mungkin Bapak bisa membantu saya?” Pemuda itu menjelaskan sambil setengah membujuk.
"Wah, saya jadi bingung juga," jawab pemilik rumah yang juga kelihatan bingung setelah mendengar jawaban pemuda itu.
Namun, setelah diam sejenak, pemilik rumah itu melanjutkan jawabannya.
"Akan tetapi, … begini. Saya ada akal. Di kampung ini banyak gadis yang boleh dibilang cantik. Setiap pagi mereka berkumpul di sungai di pinggir kampung ini. Biasanya mereka mandi dan mencuci di situ. Nah, itu kesempatan yang baik."
"Lalu, caranya bagaimana, Pak?"
"Serahkan semua itu kepada istri saya. Biar dia yang melakukan."
"Jelasnya, bagaimana, Pak?"
Pinjamkan cincin itu kepada saya. Kemudian, saya berikan kepada istri saya. Biar dia yang mencobakan cincin itu kepada para gadis di kampung ini. Soal caranya, tidak usah khawatir. Istri saya pasti bisa melakukannya."
"Kalau begitu, saya ikut saja bagaimana baiknya. Saya serahkan sepenuhnya kepada Bapak."
Malam makin larut. Obrolan mereka selesai. Masing-masing menuju ke tempat tidurnya. Mungkin pemilik rumah itu langsung tidur. Yang jelas tidak lagi terlihat di luar kamar. Lain halnya dengan pemuda tadi. Dia memang langsung berbaring di tempat tidur. Akan tetapi, tidak langsung tidur. Matanya sulit dipejamkan. Angan-angannya melayang. Dia membayangkan kejadian esok hari. Di kali yang airnya jernih itu berkumpul gadis-gadis lemah gemulai yang sedang mandi sambil bercanda ria. Lalu, satu per satu mencoba cincin yang dibawa ibu pemilik rumah.
Sampai di situ pemuda itu mulai ragu. Rasa khawatir mulai menghantui pikirannya. Jangan-jangan tidak ada yang cocok mengenakan cincinnya. Kalau itu terjadi, putus sudah harapannya. Lalu, ia teringat nasihat seorang kakek tua yang ditemuinya di persimpangan jalan di siang harinya. Namun, kekhawatirannya itu segera dibuang jauh-jauh. Dia tetap berpendapat lebih baik dicoba. Nasib orang tidak ada yang tahu. Apalagi jodoh. Hanya Tuhan yang tahu. Tidak lama kemudian, dia tertidur. Barangkali telah mimpi indah. Hanya dia yang tahu.
Pagi-pagi benar pemuda itu telah bangun. Dia berjalan-jalan di kebun. Sambil menghirup udara segar, dia menikmati pemandangan yang indah di pagi hari. Untuk sejenak, dia dapat melupakan keinginannya. Dia asyik melihat-lihat berbagai taman yang tumbuh subur di kebun. Aneka bunga dan buah-buahan rupanya menjadi daya tarik baginya. Setelah puas, dia menuju sungai untuk berbagai keperluan.
Sekembali dari sungai, pemuda itu dipanggil tuan rumah. Dia diajak makan pagi bersama.
"Silakan, Nak, makan seadanya. Maklum, orang kampung. Jadi, makannya ya apa yang ada di kebun," kata tuan rumah sambil menyodorkan rebusan ubi.
"Terima kasih. Ubi ini kesukaan saya, Pak. Saya juga biasa makan pagi seperti ini setiap hari dengan adik saya," jawab pemuda itu sambil mengambil sepotong ubi.
"Saya juga senang ubi seperti ini. Karena itu, di kebun belakang banyak saya tanam. Mungkin tadi sudah melihat, ya, Nak?"
"O, iya. Tadi saya keliling di kebun Bapak yang ternyata sangat subur."
"Nak, Bapak ingin menceritakan soal cincin yang dicobakan istri saya belum lama tadi di sungai.”
"O, ya? Bagaimana hasilnya, Pak?” tanya pemuda itu tampak tidak sabar.
"Bersabarlah, Nak. Kelihatannya Tuhan belum menentukan jodohmu di kampung ini. Tadi istri saya sudah mencobakan cincin yang kau berikan kemarin kepada semua gadis yang ada di kali itu. Akan tetapi, aneh. Tak seorang pun yang cocok. Itulah sebabnya tadi saya katakan agar kau bersabar. Jadi, begitulah ceritanya, Nak," kata tuan rumah sambil menasihati pemuda itu.
"Saya sudah memperkirakan itu, Pak. Sejak kemarin siang perasaan saya sudah tidak enak. Namun, kan harus saya coba lebih dahulu. Kalau hasilnya seperti yang Bapak ceritakan, saya tidak dapat berbuat lain, kecuali pasrah dan bersabar.”
"Syukurlah, Nak, kalau pikiranmu begitu. Bapak jadi tenang. Kalau boleh Bapak memberi saran lagi, jangan menyerah. Masih ada kampung lain. Lain kali kamu bisa pergi ke kampung itu.”
"Terima kasih, Pak. Atas semua bantuan yang Bapak berikan. Saya sudah merepotkan. Saya tidak bisa membalas budi baik Bapak. Saya serahkan sepenuhnya kepada Yang Mahakuasa. Saya hanya dapat berdoa agar semua kebaikan Bapak mendapat imbalan dari-Nya."
"Sudah menjadi kewajiban kita sebagai manusia. Kita harus saling membantu dalam hidup ini. Siapa tahu suatu saat nanti saya perlu bantuan orang lain."
"Pak, karena masalahnya sudah jelas, pagi ini saya mohon pamit. Seperti saran Bapak, saya akan pergi ke kampung lain."
"Mengapa tidak besok saja? Hari ini kan bisa istirahat dulu. Besok baru jalan lagi. Bukan begitu, Nak?"
"Tidak, Pak. Sekali lagi, terima kasih. Adik saya sendirian di rumah. Kalau terlalu lama saya pergi, kasihan adik saya. "
"Kalau begitu, saya tidak bisa menahan. Tunggu dulu, saya ambilkan cincinmu.”
Pemilik rumah itu masuk ke kamarnya. Tidak lama kemudian dia keluar bersama istrinya. Istrinya menyodorkan bungkusan kecil kepada pemuda itu. Cincin itu dikembalikan kepada pemiliknya. Sambil mengucapkan terima kasih, pemuda itu menerima cincinnya. Setelah berbincang-bincang sejenak, pemuda itu masuk kamar tempat dia tidur untuk berkemas-kemas.
Matahari sudah agak tinggi. Pancaran sinarnya sudah terasa agak panas. Tuan rumah baru saja menjamu sarapan pagi pemuda itu. Pagi itu tamunya berpamitan. Pemuda itu akan melanjutkan perjalanannya ke kampung lain. Tuan rumah mengantarkan pemuda yang berpamitan itu. Meskipun agak kecewa, pemuda itu tidak lupa mengucapkan terima kasih. Dia kecewa bukan karena tuan rumah, tetapi karena keinginannya belum terkabul.
Pemuda itu meneruskan perjalanannya. Harapan untuk menemukan jodohnya tetap bergelora. Dia terus berusaha menemukannya. Perjalanan dilanjutkan menuju ke arah yang ditunjukkan oleh pemilik rumah yang ditumpangi. Jarak kampung yang dituju sejauh setengah hari perjalanan tanpa istirahat. Itu menurut keterangan pemilik rumah. Di antara kedua kampung itu terdapat perbukitan yang harus dilalui. Penyeberangan pun harus dilakukan agar sampai ke kampung yang dituju walaupun sungai itu tidak begitu besar. Sebenarnya, ada juga jalan yang dapat dilalui tanpa melewati perbukitan dan sungai. Namun, perjalanan akan memakan waktu lebih dari satu hari. Karena itu, dipilihnya jalan yang lebih pendek walaupun dengan banyak rintangan.
Sesampai di kampung yang dituju, pemuda itu melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan di kampung sebelumnya. Dia mencari rumah penduduk yang bisa ditumpangi. Lalu, minta tolong kepada tuan rumah. Tuan rumah pun dengan senang hati menolongnya. Akan tetapi, belum ada hasilnya. Nasib pemuda itu sama dengan sebelumnya. Tak seorang gadis pun yang cocok mengenakan cincin tinggalan orang tuanya itu.
Dua kali gagal, tetapi pemuda itu tidak putus asa. Keesokan harinya dia meneruskan perjalanan. Dia menuju ke kampung lain lagi. Di kampung yang dituju itu pun nasibnya belum juga mujur. Sama seperti sebelumnya, dia tidak menemukan jodohnya. Pengalaman pahit yang terus-menerus dialami itu akhirnya membuat pemuda itu berpikir kembali. Usahanya yang terus-menerus dilakukan tanpa membuahkan hasil. Akhirnya, dia memutuskan untuk pulang.
Perjalanan panjang dan melelahkan telah dilakukan. Pemuda itu telah kembali ke rumahnya. Perasaannya sangat sedih. Dia berusaha menyembunyikan perasaannya itu. Akan tetapi, adiknya, Sampahauta, dapat mengetahui apa yang dialami kakaknya.
"Kak, Kakak sudah berusaha. Kalau belum ada hasilnya, itu bukan salah Kakak. Sabarlah dulu, Kak.” Sampahauta membesarkan hati kakaknya.
"Benar, Hauta. Saya harus bersabar menerima cobaan ini. Barangkali pada kesempatan lain Tuhan menentukan jodoh saya. Lalu, bagaimana dengan kamu?”
"Meskipun Kakak belum berhasil, saya akan mencobanya, Kak. Siapa tahu saya dapat jodoh lebih dahulu daripada Kakak."
"Saya senang mendengar tekadmu. Mudah-mudahan Tuhan memberikan kemudahan kepadamu. Akan tetapi, persoalan ini bukan perjalanan yang mudah. Lebih-lebih kamu perempuan. Apa kamu mampu?” tanya sang Kakak kepada adiknya.
"Kakak tidak usah khawatir. Kebetulan, Kak, di kampung arah timur dari rumah kita ini tiga hari lagi akan ada keramaian. Keramaian itu akan dihadiri oleh banyak pemuda dari kampung-kampung di sekitarnya. Di situlah saya dapat mengadu nasib."
"Lalu, caranya bagaimana?" tanya kakaknya lebih lanjut.
"Lo, Kakak lupa dengan kata Kakak sebelum berangkat mencari jodoh. Waktu itu Kakak bilang saya pasti bisa. Karena itu, saya ingin membuktikan. Serahkan semua itu kepadaku, Kak. Kakak tidak perlu khawatir," jawab Sampahauta menyakinkan.
"Kalau begitu, Kakak agak lega."
Keesokan harinya Sampahauta pergi meninggalkan rumahnya. Dengan membawa cincin tinggalan orang tuanya, dia menuju kampung tempat akan diselenggarakan keramaian. Jaraknya tidak terlalu jauh. Keadaan jalan yang dilalui pun tidak terlalu sulit. Namun, bukan berarti jalannya lurus dan mulus. Jalan yang dilalui hanya merupakan jalan setapak dan berliku, tetapi tidak melalui perbukitan dan sungai. Meskipun begitu, perjalanan Sampahauta cukup melelahkan untuk ukuran seorang wanita.
Setelah hampir sehari menempuh perjalanan, sampailah Sampahauta di kampung yang dituju. Hari sudah sore saat itu. Segeralah dia mencari rumah untuk menumpang tidur. Dicarinya rumah yang ada gadisnya dengan harapan dia bisa meminta bantuan kepada gadis tersebut. Dia mendatangi rumah yang terletak di pinggiran kampung. Dari rumah itulah diperoleh keterangan bahwa ada satu rumah di kampung itu milik seorang janda dengan anaknya seorang gadis.
Rumah seorang janda itu agak jauh dari rumah yang pertama kali didatangi oleh Sampahauta. Akan tetapi, dekat dengan tempat keramaian. Pemilik rumah itu menerima Sampahauta dengan senang hati.
"Nak, Ibu senang kalau mau menginap di sini. Biar anak saya ada temannya nonton keramaian nanti. Akan tetapi, seperti inilah gubuk kami. Maklumlah tidak ada laki-laki di rumah ini," kata pemilik rumah dengan rendah hati.
"Aduh, Ibu, dibolehkan menginap di rumah ini saja saya sudah sangat berterima kasih. Ibu tidak usah berpikir yang tidak-tidak." Sampahauta menanggapi sikap rendah hati pemilik rumah.
"Akan tetapi, Nak, ada hal yang mengganjal dalam hati saya. Ibu harap Nak Sampahauta tidak tersinggung. Boleh kan, Nak, Ibu bertanya?"
"Ibu tidak perlu sungkan. Saya justru merasa senang kalau Ibu mau berterus terang. Silakan, Bu, apa yang Ibu tanyakan."
"Ibu agak heran. Seorang gadis seperti Nak Sampahauta berjalan jauh seorang diri. Tentu ada tujuan tertentu. Sebenarnya, apa yang menjadi keinginan Nak Sampahauta?"
"Seandainya Ibu tidak bertanya, saya pun akan menyampaikan tujuan saya ke sini kepada Ibu. Begini, Bu. Saya datang jauh-jauh memang ada yang ingin saya cari. Saya ini sudah cukup umur untuk berumah tangga.”
"Maaf, Nak. Apa susahnya mencari jodoh bagi seorang gadis cantik seperti Nak Sampahauta? Ibu kira banyak perjaka yang mau menjadi suamimu,” sela ibu pemilik rumah itu.
"Masalahnya begini, Bu. Saya dan kakak saya mendapat sebuah cincin dari orang tua kami. Untuk menghormati orang tua kami, kami sepakat menjadikan cincin itu untuk menentukan jodoh kami. Caranya dengan mencobakan cincin tersebut kepada calon jodoh kami. Kakak kami sudah mencobanya di beberapa kampung yang didatangi, tetapi memang belum berhasil. Sekarang giliran saya untuk mencobanya. Untuk itulah saya datang jauh-jauh ke sini."
"O, jadi itu masalahnya. Kalau begitu, kedatangan Nak Sampahauta tepat sekali. Di kampung ini akan ada keramaian yang akan dihadiri orang banyak pemuda."
"Akan tetapi, Bu, bagaimana cara yang baik untuk mencobakan cincin ini? Mungkin Ibu dapat membantu saya?"
"Itu masalah gampang. Biar Ibu yang mengatur. Asal Nak Sampahauta percaya pada Ibu."
"Saya sangat senang dan sangat percaya dengan Ibu."
Pagi itu matahari sudah agak tinggi. Di tempat keramaian itu sudah berkumpul banyak orang. Mereka datang dari berbagai kampung yang ada di sekitar kampung tempat keramaian itu. Mereka terdiri atas berbagai umur. Dari anak-anak remaja, dewasa, dan orang-orang yang sudah berusia lanjut. Mereka datang untuk melihat dan menikmati berbagai hiburan. Di tempat itu berbagai kesenian rakyat digelar. Dari tari-tarian, ilmu bela diri, ilmu kekebalan tubuh, dan kehebatan binatang peliharaan. Mereka tampil secara berkelompok mewakili berbagai kampung. Suasananya sangat meriah.
Ada sesuatu yang menarik di antara kerumunan orang di tempat keramaian itu. Akan tetapi, itu bukan pertunjukan. Seorang ibu yang belum terlalu tua berkeliling arena dengan menawarkan sesuatu.
"Cincin misteri, cincin misteri! Silakan dicoba, silakan dicoba! Kalau cocok seorang gadis cantik bak bidadari akan jadi jodohnya. Ayo, silakan coba!" Begitu suara itu berkali-kali terdengar.
Ternyata suara itu menarik perhatian banyak orang. Dalam waktu yang tidak terlalu lama telah berkumpul banyak orang, terutama para pemuda. Hampir semua yang datang di situ mencobanya. Akan tetapi, tak seorang pun yang cocok mengenakan cincin tersebut. Namun, hal itu tidak membuat Ibu pembawa cincin itu putus asa. Dia terus berkeliling di arena keramaian itu. Di setiap kerumunan orang dia berhenti dan menawarkannya. Tidak sedikit orang muda yang mencobanya. Kali ini hasilnya masih sama. Tak seorang pun yang cocok mengenakan cincin tersebut.
Begitulah berkali-kali wanita itu melakukan hal itu di sejumlah tempat. Akan tetapi, hasilnya tetap nihil. Tak seorang pun yang pas mengenakan cincin milik Sampahauta itu. Hari telah lewat tengah hari. Wanita itu merasa lelah dan lapar. Dia beristirahat dan makan siang. Dia membawa bekal dari rumah. Tidak lama kemudian, dia berkeliling lagi. Ditawarkannya kembali cincin itu kepada orang-orang yang dijumpainya. Dilakukannya hal itu hingga hari menjelang sore. Namun, hasilnya tetap nihil. Akhirnya, diputuskan untuk pulang.
Dengan rasa kasihan, pemilik rumah itu melepas kepergian Sampahauta. Pagi itu Sampahauta pulang dengan tangan kosong. Dia tidak menemukan jodohnya di tempat keramaian tersebut. Dia pulang dengan langkah yang berat. Sambil merenungi nasibnya, dia meninggalkan rumah tempat dia menginap. Dia melewati jalan setapak yang berliku-liku. Jalan itulah yang dia lalui pula waktu pergi dari rumah menuju tempat keramaian.
Hari telah hampir malam. Tibalah Sampahauta di rumah. Dengan wajah murung, dia menemui kakaknya.
"Kak, Hauta pulang. Kakak baik-baik saja?" Sampahauta membuka pembicaraan dengan kakaknya.
"Kakak baik-baik saja, Hauta. Kakak justru mengkhawatirkanmu. Kau baik-baik saja kan?"
"Iya, Kak, saya sehat-sehat saja. Akan tetapi, ...."
"Akan tetapi, kenapa Hauta?” tanya kakaknya tidak sabar.
"Saya juga belum berhasil, Kak. Sudah banyak sekali orang yang mencobanya, tetapi tak seorang pun yang cocok."
"Kita sudah berusaha. Kalau hasilnya belum ada, itu tidak perlu kita sesali terus-menerus. Kita harus menerima kenyataan ini secara sabar." Begitulah nasihat kakak Sampahauta.
Matahari telah terbenam. Sampahauta telah mandi dan kemudian makan malam. Tidak lama kemudian dia menuju ke tempat tidurnya. Akan tetapi, kakaknya masih duduk di teras rumah. Dia belum merasa ngantuk. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu. Pikirannya sedang ruwet. Secara diam-diam, dia merasakan nasib dirinya dan adiknya sebagai beban yang berat. Karena itu, dia sering merenung. Selama adiknya pergi pun dia juga banyak melamun. Namun, akhirnya dia menyadari bahwa melamun terus-menerus tidak baik. Sementara itu, hari telah larut malam. Segeralah dia menuju ke tempat tidurnya.
Kegagalan kedua orang kakak beradik itu sudah lama berlalu. Mereka menjalani hidup seperti biasanya. Seakan-akan tidak ada masalah. Pikiran tentang jodoh hanya sekali-sekali muncul. Sang Kakak setiap hari bekerja di kebun. Sampahauta memasak di rumah. Namun, dia selalu menyempatkan diri membantu kakaknya di kebun seusai memasak. Mereka selalu hidup rukun.
Tidak seperti biasanya, sore itu awan hitam bergelayutan di langit. Cuaca sangat gelap. Padahal, sebenarnya matahari masih cukup tinggi. Kedua orang kakak beradik itu sedang duduk-duduk di teras. Tiba-tiba mereka teringat akan usahanya untuk mencari jodoh masing-masing. Tiba-tiba juga sang Kakak mengeluarkan cincin tinggalan orang tuanya. Secara spontan keduanya saling mencoba cincin misteri itu. Cocok. Keduanya berpandangan. Mereka hanyut dalam gelora asmara. Dua anak manusia itu saling jatuh cinta.
Hari telah larut malam. Tiba-tiba angin ribut melanda kampung tempat tinggal kedua orang kakak beradik itu. Hujan deras pun turun bagaikan ditumpahkan dari langit. Suara petir sambar-menyambar melengkapi peristiwa alam di malam kelam itu. Kejadian itu menjadi sebuah bencana yang dahsyat setelah dilengkapi guncangan bumi yang hebat. Begitu hebatnya bencana alam itu sehingga Tanjung Likei terpecah menjadi dua bagian. Sebagian masih di Tagulandang yang disebut Tonggeng Napoto yang berarti tanjung yang terputus. Sebagian lagi hanyut ke arah utara yang disebut Bowon Deke.
Sampahauta dan kakaknya menyadari kesalahannya. Mereka menyadari apa yang dilakukannya menyalahi ketentuan Tuhan. Namun, semua itu sudah terlanjur. Mereka hanya pasrah dan menerima hukuman apa pun yang ditimpakan Tuhan. Mereka juga menyadari bahwa bencana alam yang dahsyat itu merupakan hukuman Tuhan. Akan tetapi, sekali lagi, nasi telah menjadi bubur. Semua kesalahan telah mereka lakukan dan tidak mungkin dicabut kembali.
Bencana alam yang dahsyat yang melanda Tanjung Likei sudah beberapa waktu berlalu. Waktu terus bergulir. Sampahauta pun telah hamil. Makin hari kandungan itu makin besar. Singkat cerita, telah berusia sembilan bulan. Meski bagaimanapun, kelahiran anak itu ditunggu-tunggu oleh kedua orang tuanya. Namun, dalam hati kecil mereka diliputi keraguan. Jangan-jangan anak yang dikandungnya juga mendapat kutukan Tuhan. Begitulah perasaan mereka menjelang kelahiran anak yang dikandungnya.
Hari yang dinanti-nanti telah tiba. Sampahauta melahirkan. Namun, betapa mengejutkan. Yang dilahirkan bukan seorang bayi, melainkan seekor ular yang besar dan berbisa. Peristiwa itu diyakini masyarakat setempat hingga sekarang. Mereka percaya bahwa ular keturunan Sampahauta dengan kakak kandungnya itu masih ada hingga sekarang. Karena itu, jika didapati ular masuk ke rumah, mereka mengalunginya dengan manik-manik. Setelah itu, ular akan segera pergi. Mereka percaya bahwa ular itu bermaksud mengunjungi saudaranya yang masih keturunan Sampahauta dengan kakaknya.
Di sebuah gua di pantai Likei, tidak jauh dari Tonggeng Napoto, sekarang didapati dua tengkorak manusia. Tengkorak itu disimpan dengan rapi di atas piring porselen buatan Cina. Masyarakat setempat percaya bahwa kedua tengkorak itu adalah tengkorak Sampahauta dan kakaknya yang telah menjadi suami istri.
•••
4. RAJA DARI TELUR
Raja dari telur
Raja dari angkasa
Raja dari udara
Raja dari angkasa
Nyanyian rakyat itu bergema berkali-kali. Ribuan rakyat Kerajaan Molibagu ikut bergembira. Malam itu di depan istana diadakan pesta rakyat. Raja Wililangi dan permaisurinya, Sangiang Ting, merayakan kelahiran cucunya. Anak itu lahir dari putri sang Raja yang bernama Tomatiti dengan suaminya yang berasal dari angkasa. Namun, wajah suami Putri Tomatiti itu tak pernah ada yang tahu.
Aneh, memang. Akan tetapi, begitulah kejadiannya. Pertemuan sang Putri terjadi secara tidak sengaja. Peristiwanya berawal dari keinginan sang Putri yang merasakan sendiri jerih payahnya rakyat kecil. Dia ingin mencari kayu bakar sendiri ke perkebunan ayahnya yang sangat luas.
"Saya wajib bersyukur. Saya lahir di dunia sebagai anak yang beruntung. Saya anak Raja. Segala keperluan selalu disediakan. Minta apa saja selalu dituruti. Akan tetapi, bagaimana dengan kehidupan rakyatku? Mereka harus bekerja keras. Mereka harus membanting tulang dan bermandikan keringat agar bisa makan. Sekali-kali saya ingin merasakan kehidupan mereka agar saya lebih banyak bersyukur. Saya ingin merasakan sendiri seperti apa rasanya bekerja keras. Tidak mau kalau hanya mendengarkan cerita. Saya ingin mencoba sendiri. Lalu, bagaimana caranya? Minta izin Ayah dan Bunda? Ah, rasanya tidak mungkin. Saya pasti dilarang, bahkan mungkin dimarahi. Saya harus cari akal."
Begitulah kata sang Putri dalam hati. Keinginannya itu tidak dikatakan kepada sang Raja dan Permaisuri. Hanya disimpan dalam hati. Dia takut dimarahi kalau bilang kepada ayah bundanya. Kian hari keinginan sang Putri kian kuat. Dia ingin sekali pergi dari istana. Maka, pada suatu sore dia memutuskan untuk keluar dari istana secara diam-diam. Dia keluar tanpa dikawal. Sebuah kapak dibawanya. Dia bermaksud mencari kayu bakar di perkebunan sang Raja. Dia ingin merasakan sendiri bagaimana jerih payahnya para wanita yang harus mencari kayu bakar di hutan.
Sore itu cuaca cukup cerah. Sinar matahari tidak lagi terasa menyengat kulit. Awan putih terhampar di langit. Angin pun bertiup lembut. Seorang putri yang berparas cantik dengan sebuah kapak di tangan menyelinap di antara rimbunnya pepohonan. Matanya diarahkan ke berbagai penjuru. Tampaknya, ada sesuatu yang dicarinya. Betul. Tiba-tiba dia berhenti pada sebatang cabang pohon kering yang tergeletak di bawah pohon. Ditariknya cabang itu ke tempat yang agak kosong. Lalu, dipotongnya menjadi pendek-pendek.
Potongan kayu itu harus diikat, tetapi sang Putri tidak membawa tali. Diamatinya pohon-pohon yang ada di sekitar. Ada sebatang pohon kecil yang menarik perhatiannya. Dia dekati pohon itu. Lalu, ditorehkan kapaknya ke kulit pohon itu. Dari kulit pohon itu didapat tali untuk mengikat kayu bakar. Kayu bakar itu diikat, tetapi belum rapi. Yang penting mudah dibawa sementara karena masih dicari tambahannya. Kayu bakar itu masih terlalu sedikit. Belum pantas digendong seorang pencari kayu bakar. Begitulah pikirnya.
Sebuah pemandangan yang aneh. Seorang putri raja yang cantik parasnya, mulus kulitnya, dan langsing tubuhnya menggendong seikat kayu bakar dan berjalan seorang diri di sebuah perkebunan yang luas. Capek? Sudah pasti capek. Berat? Sudah tentu itu. Akan tetapi, sang Putri tidak mengeluh, apalagi putus asa. Meskipun berat, dia tetap bersemangat. Tekadnya sudah kuat. Dia ingin merasakan sendiri betapa susahnya rakyat kecil agar dapat bertahan hidup.
Tiba-tiba langkahnya terhenti di sebuah pohon besar. Orang menamai pohon itu Lampawanua. Di bawahnya tergeletak sebuah dahan yang sudah kering. Ikatan kayu yang digendong segera diturunkan. Lalu, duduk sebentar untuk mengatur napas. Napasnya agak terengah-engah karena tidak biasa berjalan jauh ditambah dengan bawaannya. Sejenak kemudian, sang putri bangkit lalu menarik dahan kering tersebut. Dipotongnya dahan kering itu menjadi pendek-pendek. Potongan kayu yang telah dikumpulkan itu kemudian diikat menjadi satu. Sebelum membawa pulang kayu bakar itu, sang Putri beristirahat lagi untuk memulihkan tenaganya. Dia duduk sebentar di bawah pohon Lampawanua itu.
Angin berembus begitu lembut. Tampaknya, sang Putri merasa nyaman beristirahat di bawah pohon sore itu. Sambil menikmati udara yang sejuk, dia membayangkan kehidupan rakyat kecil.
"Beginilah rasanya kehidupan rakyatku. Akan tetapi, ini belum apa-apa. Toh, aku baru mengumpulkan kayu bakar. Masih banyak pekerjaan lain yang lebih berat dikerjakan oleh rakyatku setiap hari. Saya bisa membayangkan jerih payah mereka dalam mencukupi kebutuhan hidupnya. Keadaannya sama sekali berbeda dengan kehidupan di keraton yang saya alami sehari-hari. Semuanya serbaada. Meskipun tidak kerja keras, saya bisa menikmati apa saja."
Di tengah-tengah lamunannya itu sang Putri mendengar kicauan burung yang sangat merdu. Dicarinya asal suara itu. Dia menengok ke kiri dan ke kanan, tetapi tak ada seekor burung pun yang dilihatnya. Di depan dan di belakang juga tidak ditemukan. Kicauan burung itu juga berhenti. Sang Putri makin penasaran. Dia pasang telinga baik-baik dengan harapan burung tadi berkicau lagi. Benar juga. Kicauan burung yang sangat merdu itu terdengar kembali. Perhatian sang Putri kali ini tertuju ke atas pohon. Kali ini suara merdu itu memang berasal dari atas pohon Lampawanua. Segera diambilnya kapak dan digetok-getokkan ke batang pohon besar itu. Sekali dua kali getokan itu dilakukan, tetapi tidak bereaksi apa-apa di atas. Tidak terlihat seekor burung pun di atas pohon itu. Lalu, dicobanya lagi. Getokannya kali ini lebih keras. Tiba-tiba terdengar nyanyian merdu dari atas pohon.
Siapa yang memotong di bawah?
Siapa yang memotong di bawah?
Kayu yang mempunyai nyanyian,
Kayu yang mempunyai nyanyian,
Nyanyian.
Sang Putri agak kaget. Yang terdengar kemudian bukan lagi kicauan burung, tetapi nyanyian manusia. Dengan sedikit rasa ragu, dia menjawab pertanyaan yang disenandungkan dari atas pohon itu.
Siapa yang bertanya di atas?
Siapa yang bertanya di atas?
Sebutkan nama,
Sebutkan nama,
Sebutkan.
Dari atas pohon besar itu terdengar senandung lagi. Isinya bukan jawaban yang ditanyakan sang Putri. Suara itu justru meminta sang Putri naik ke pohon.
Kalau mau tahu,
Kalau mau tahu,
Mari naik ke ujung,
Mari naik ke ujung
Datang di atas pohon,
Datang di atas pohon.
Merasa tidak mampu naik ke pohon karena perempuan, sang putri menjawab dari bawah.
Kasihan, aduh kasihan,
Saya seorang perempuan,
Kasihan, aduh kasihan,
Saya seorang perempuan,
Hatiku kini bimbang,
Hatiku kini bimbang,
Suara dari atas pohon itu mencoba meyakinkan sang Putri. Diyakinkannya bahwa sang Putri pasti bisa memanjat pohon besar itu. Atas petunjuk suara itu, sang Putri mencoba memanjat pohon itu, tetapi tidak langsung memanjat di pohon besar tersebut. Pohon itu terlalu besar untuk dipanjat. Lagi pula dia seorang wanita. Sang putri memanjat pohon tersebut melalui sebatang pohon kecil yang menempel. Ajaib. Sang putri bisa sampai ke puncak pohon. Pohon kecil itu memang banyak cabangnya sehingga seperti tangga. Mengherankan memang karena sang Putri tidak merasa takut. Kakinya terasa enteng memanjat pohon kecil itu. Padahal, sebelumnya tidak pernah dia memanjat pohon. Lebih-lebih pohon tinggi dan besar seperti pohon Lampawanua.
Sesampai di puncak pohon Lampawanua, sang Putri harus sangat hati-hati. Tidak boleh lengah sedikit pun. Sedikit berbuat salah akibatnya sangat fatal. Dipilihnya pijakan kaki yang kuat dan enak. Dicarinya pegangan yang kuat. Setelah merasa sudah dapat berdiri dengan enak, dia menarik napas panjang agar bisa tenang. Baru kemudian berusaha mencari asal suara yang menyuruhnya naik.
Dilihatnya semua sudut di atas pohon itu. Tidak ada orang di atas pohon. Diulangnya pandangannya itu. Lagi-lagi tidak ada manusia di situ. Namun, ada sesuatu yang menarik di atas pohon itu. Dia menemukan sebuah sarang burung yang berukuran besar. Diamatinya baik-baik sarang burung itu. Ternyata, di dalamnya ada sebutir telur yang juga berukuran besar. Belum pernah dilihatnya telur burung sebesar itu. Dalam hatinya bertanya apakah ini telur burung yang bisa berbicara tadi? Apakah dia sengaja meninggalkan telur ini untukku? Akan tetapi, mengapa dia tidak menampakkan diri? Apa ada sesuatu yang dirahasiakan? Begitulah pertanyaan yang muncul di benak sang Putri. Akhirnya, dia memutuskan untuk membawa telur itu turun.
Sementara itu di istana sedang ribut. Keluarga kerajaan merasa kehilangan putrinya, Tomatiti. Semua orang di lingkungan istana dikerahkan untuk mencari sang Putri. Saat itu sudah hampir malam. Semua orang harus menyiapkan obor. Pencarian harus dilakukan malam itu juga. Salah seorang di antara mereka memimpin pencarian itu. Rombongan sudah siap diberangkatkan.
Tiba-tiba sang Putri muncul di depan istana. Rombongan pencarian yang siap diberangkatkan itu terkejut bercampur gembira. Begitu pula sang Raja dan Permaisuri. Sang Putri pun kaget melihat banyak orang berkumpul di depan istana.
"Ayah, Bunda!” teriak sang Putri sambil berlari merangkul sang Raja dan Permaisuri secara bergantian.
Kali ini sang Putri tampil lusuh dan kotor.
"Ada apa, Bunda, Ayah? Kenapa banyak orang berkumpul di sini?” tanyanya ingin tahu.
"Sudahlah, yang penting kau baik-baik saja. Kami semua khawatir karena kau pergi tanpa memberi tahu."
"Jadi, ….”
"Ya, mereka akan berangkat mencarimu. Beruntung kau datang tepat waktu. Terlambat sedikit saja, mereka sudah pasti berangkat.” Sang Raja menjelaskan.
"Maafkan saya, Bunda, Ayah. Saya salah. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya tidak bermaksud membuat Ayah dan Bunda cemas. Saya bermaksud baik."
"Sudahlah. Sekarang masuklah. Kita berbicara di dalam."
"Sebentar, Ayah, Bunda. Saya membawa sesuatu yang sangat menarik. Ayah dan Bunda pasti senang."
Sang Putri mengucapkan kata-kata itu sambil berlari menuju tempat telur tersimpan. Sejenak kemudian sang Putri sudah kembali dengan membawa bungkusan dan langsung masuk ke istana bersama sang Raja dan Permaisuri. Rombongan pencarian pun tidak jadi berangkat. Mereka membubarkan diri.
"Putriku …,” panggil sang Permaisuri
"Ya, Bunda."
"Ke sini dulu."
"Baik, Bunda." Putri Tomatiti yang sudah hampir masuk kamarnya berbalik arah. Lalu, menghampiri Bundanya.
"Ada yang perlu saya kerjakan, Bunda?"
"Sebelum menghadap Ayah dan Bunda nanti, putriku harus mandi dulu."
"Baik, Bunda. Saya segera mandi,” jawab sang Putri singkat.
Dia memerhatikan wajah Bundanya kali ini tampak beda. Permaisuri bertanya dengan wajah yang serius. Tidak biasanya sang Permaisuri bertanya seperti itu. Pasti ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Mungkin Bunda marah. Saya pergi tanpa memberi tahu. Begitu pikir sang Putri sambil bergegas menuju kamar mandi.
Sesuai permintaan sang Permaisuri, sang Putri segera menghadap Ayah dan Bundanya. Tidak lupa dia membawa telur yang ditemukannya. Dia segera menuju ke ruang keluarga. Ternyata di ruang itu dia telah ditunggu. Ayah dan Bundanya sedang menikmati makanan kecil.
"Maaf, Ayah, Bunda, saya lambat," kata sang Putri sambil memerhatikan wajah kedua orang tuanya itu.
"Duduklah!” kata sang Raja singkat. Wajahnya tampak serius tanpa senyum. Tidak biasanya sang Raja bersikap begitu kepada putrinya.
"Putriku, Bunda ingin bertanya. Kenapa pakaianmu sampai lusuh begitu? Apa yang terjadi sampai badanmu kotor begitu? Bunda minta putriku jawab dengan jujur."
"Sekali lagi, mohon maaf Bunda dan Ayah. Saya pergi tanpa mohon pamit kepada Bunda dan Ayah. Akan tetapi, saya bermaksud baik," jawab sang Putri dengan nada rendah.
Dia sangat takut kalau sang Raja dan Permaisuri menjadi marah. Putri Tomatiti bercerita tentang kepergiannya. Dari maksud kepergiannya sampai dia menemukan sebutir telur di atas pohon Lampawanua. Sang Putri tetap dipersalahkan. Kedua orang tuanya tetap tidak bisa menerima alasan putrinya walaupun tidak jadi marah. Diminta apa pun tujuannya, jika pergi dari istana harus ada yang mengawal. Apalagi melakukan pekerjaan berat.
Sang Raja dan Permaisuri tidak marah, tetapi hanya memberi nasihat. Meskipun pada awalnya merasa cemas, hatinya merasa haru sekaligus gembira. Merasa haru karena diam-diam putrinya berpikiran mulia. Putrinya ingin merasakan kehidupan yang dialami rakyat kecil. Merasa gembira karena putrinya mendapatkan telur ajaib.
"Putriku, telur yang kau dapatkan ini bukan telur biasa," kata sang Raja sambil menimang-nimang telur tersebut. "Barangkali ini merupakan anugerah Yang Kuasa. Namun, saya belum begitu yakin. Kita lihat apa yang terjadi dalam beberapa hari mendatang. Karena itu, simpanlah telur ini baik-baik karena kau yang menemukannya. Simpanlah telur ini di tempat pakaianmu." Begitulah pinta sang Raja kepada putrinya.
Pembicaraan di ruang keluarga itu usai. Ayah dan Bunda segera menuju tempat peraduannya. Sang Putri pun menuju ke kamar tidurnya. Nasihat sang Raja dipatuhi sang Putri. Ditaruhnya telur itu di dalam tumpukan lipatan pakaian. Karena hari telah malam, sang Putri segera tidur. Malam itu sebenarnya dia merasa sangat capek. Akan tetapi, matanya tidak sulit dipejamkan. Dia memikirkan apa yang baru saja dia alami dan apa yang akan terjadi. Apakah telur itu telur keberuntungan atau pembawa sial. Pikiran itu berkecamuk dalam pikirannya. Namun, pada akhirnya serangan kantuk lebih hebat. Sang Putri pun tertidur lelap.
Rupanya rasa capek membuat Putri Tomatiti tertidur nyenyak hingga pagi hari. Semalam suntuk dia tidak terbangun. Kokok ayam yang bersahut-sahutan baru membangunkannya. Begitu mendengar kokok ayam itu, dia langsung bangun meskipun hari belum terang. Dia teringat akan telur yang disimpannya di tempat pakaian. Segera dia melihat telur itu. Dia begitu terkejut saat melihat telur simpanannya. Telur itu berubah menjadi sangat besar. Dalam semalam saja telur tersebut telah menjadi dua kali lipat.
Hari telah pagi. Peristiwa yang mengejutkan itu disampaikan kepada sang Raja dan Permaisuri. Ayah dan Bundanya juga terkejut. Harapan dan sekaligus rasa cemas berkecamuk di dalam pikirannya. Sejak pertama kali melihatnya, sang Raja sudah menaruh harapan besar terhadap telur itu. Namun, rasa khawatir juga muncul. Jangan-jangan itu justru membawa bencana. Agar harapan tercapai dan terhindar dari bencana, sang Raja mengumpulkan rakyat di istana untuk berdoa bersama. Caranya dengan menggelar pesta bersama di halaman istana.
Persiapan pesta diadakan. Sebuah panggung dibuat di halaman istana. Kemudian, berbagai alat musik ditata rapi. Para seniman pun bersiap-siap. Di dapur para juru masak sibuk menyiapkan hidangan. Pekerjaan menyiapkan panggung pertunjukan tidak dapat dikatakan mudah. Banyak hal yang harus dikerjakan. Namun, karena semua persiapan itu dikerjakan oleh banyak orang dan kebanyakan tenaga ahli, waktu yang diperlukan tidak terlalu lama. Hanya dalam waktu setengah hari persiapan itu selesai.
Sore itu sinar matahari tidak terasa lagi menyengat kulit. Semilir angin sejuk mulai terasa. Saat seperti itu saat yang tepat untuk memulai pesta rakyat. Maka, segera dibawalah telur ajaib tersebut ke tempat khusus di dekat panggung. Disiapkan tempat khusus agar telur itu selalu dapat dilihat. Bila terjadi perubahan, dapat dilihat oleh semua orang yang hadir. Setelah diletakkan, telur itu diberi wewangian. Baunya menyebar ke segala penjuru. Pertunjukan pun dimulai. Bunyi tetabuhan musik membahana bertalu-talu. Sebuah syair didendangkan bersama.
O, telur burung berkat
burung berkat
dihidupkan pencipta
di ujung Lampawanua
di ujung Lampawanua
diusung perempuan
putri pencipta
tumbuh berkembang
hingga besar dan jaya
hingga besar dan jaya
Adalah kayu perkasa
pusaka untuk selamanya
pohon kepada khalik
berdoa kepada Tuhan
jadikanlah berkat
jadikanlah rahmat
kepada keturunan segala bangsa
hingga turun-temurun
hingga turun-temurun
Pertunjukan terus berlangsung. Berbagai kesenian ditampilkan. Syair yang dinyanyikan ditampilkan sebagai selingan. Makin sore suasana semakin meriah. Ada yang tampil secara kelompok dan ada pula yang tampil sendirian. Mereka seakan-akan bersaing untuk tampil paling baik. Mereka memperlihatkan kebolehannya masing-masing. Para penonton pun memberikan dukungan dengan penuh semangat. Apalagi bila yang tampil memang hebat. Sang Raja, Permaisuri, dan Putri Tomatiti juga tampak sangat bergembira. Berkali-kali keluarga raja itu memberikan tepuk tangan kepada yang tampil. Wajahnya tampak sangat ceria.
Matahari baru saja tenggelam. Tidak lama lagi malam akan tiba. Pertunjukan dihentikan sejenak. Mereka beristirahat untuk makan malam. Berbagai hidangan disajikan. Keluarga raja pun makan bersama-sama. Mereka menyantap makanan dengan lahap. Benar-benar mereka tampak menikmati hidangan. Makanan terasa lebih lezat jika disantap bersama-sama. Takaran makan mereka juga berbeda-beda. Ada yang memang biasa makan sedikit, ada yang sedang-sedang saja, ada yang cukup banyak, dan ada pula yang banyak sekali. Sambil makan mereka sempat bercanda. Yang jatah makannya banyak sering menjadi sasaran. Secara spontan teman-temannya menambahkan makanan untuknya.
"Ayo, nambah terus!" teriak salah seorang di antara mereka.
"Ini, ... saya ambilkan nasi," kata yang lain sambil menyodorkan nasi yang diambilnya dari bakul.
"Ini, ... saya ambilkan lauknya," kata yang lain lagi sengaja meniru gaya temannya.
"Giling terus!” teriak sejumlah orang di sekitar itu.
Yang jadi sasaran seakan tidak peduli dengan sikap teman-temannya. Dia tetap melahap santapan itu dengan kalem. Sikap seperti itu justru mengundang tawa. Suasana makan malam itu sangat meriah. Seakan-akan menjadi pertunjukan tersendiri.
Seusai makan malam, pertunjukan dilanjutkan. Berbagai jenis kesenian digelar kembali. Mereka lebih banyak dalam kelompok. Mereka tampil dengan penuh semangat. Malu kalau kelompoknya tampil jelek. Makin malam pertunjukan makin seru. Sambil menikmati hiburan, makanan ringan pun disajikan. Hingga pagi hari pesta itu berlangsung.
Fajar telah menyingsing. Pesta pun usai. Sang Raja dan Permaisuri segera menuju ke tempat telur. Semua mata tertuju pada titik yang sama. Mereka menunggu apa yang terjadi. Sejenak suasana menjadi hening. Sang Raja langsung membuka tutup telur. Dan, ternyata tidak ada perubahan. Telur itu tidak bertambah besar.
"Para kerabat kerajaan, para penggawa, dan rakyatku semua. Selama semalam lebih kita berdoa kepada Tuhan, tetapi tidak terjadi perubahan apa-apa pada telur burung angkasa ini. Karena itu, pesta kita akhiri hingga pagi ini. Saya harap semua bubar. Jika nanti ada perubahan, akan saya umumkan. Sekarang pulanglah ke rumah masing-masing.”
Pesta pun berakhir. Semua menuju ke rumah masing-masing. Putri Tomatiti mengambil kembali telur yang diletakkan di dekat panggung. Dia simpan kembali telur itu ke tempat semula. Di atas lipatan pakaian telur besar itu diletakkan kembali. Sang Putri tetap berharap agar keajaiban terjadi lagi pada telur angkasa itu. Maka, dia tinggalkan telur itu di tempat penyimpanan.
Hari telah menjelang petang. Sore itu sang Putri sengaja tidak melihat telur yang disimpannya. Dia percaya perubahan terjadi pada malam hari. Dia memutuskan untuk melihatnya pada keesokan hari. Segera sang Putri pergi mandi. Kemudian, makan malam bersama sang Raja dan Permaisuri. Hidangan makan malam pun sudah tersedia. Sehabis makan, sang Putri bercakap-cakap dengan ayah bundanya.
"Ayah, kalau telur burung angkasa itu tidak juga berubah pada malam ini, bagaimana, Yah?” tanya sang Putri kepada ayahnya.
"Sabarlah sedikit. Ayah yakin akan terjadi keajaiban pada telur itu nanti. Sebab, tanda-tanda sebagai telur ajaib sudah ada. Telur itu muncul secara aneh. Perubahan ukuran dalam semalam terjadi dua kali lipat. Ukuran telur itu pun sebelum berubah sudah melebihi ukuran telur burung apa pun di dunia ini. Itu semua merupakan tanda bahwa telur tersebut memang ajaib. Jadi, saya yakin akan terjadi keajaiban lagi dengan telur burung angkasa itu," kata sang Raja menyakinkan putrinya.
"Betul, Putriku. Apa yang dikatakan ayahmu memang benar. Ibu juga punya keyakinan seperti itu. Bersabarlah, Nak." Sang Permaisuri menambahkan.
"Penjelasan Ayah dan Bunda menambah keyakinan saya. Saya juga yakin akan ada lagi keajaiban pada telur angkasa itu."
Obrolan itu terus berlangsung. Pembicaraan berlangsung terbuka. Sang Raja dan Permaisuri mengajak putrinya membicarakan sesuatu secara bebas. Sang Putri diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapatnya. Dengan begitu, terjadi tukar pikiran antara orang tua dan anak. Kebiasaan seperti itu dikembangkan di lingkungan istana Kerajaan Wililangi. Obrolan itu tampak asyik hingga hari telah larut malam. Sang Putri sudah merasa ngantuk lalu mohon izin ayah bundanya untuk tidur. Sang Raja dan Permaisuri pun menuju ke kamar tidur.
Putri Tomatiti merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Matanya tidak segera dapat dipejamkan karena masih membayangkan apa yang akan terjadi dengan telur ajaib itu. Mengapa tadi malam tidak terjadi apa-apa? Apakah telur itu tidak bertambah lagi besarnya? Apakah hanya ada kejadian seperti itu? Ah, aku harus bersabar seperti kata Ayah dan Bunda. Ya, aku harus bersabar. Begitulah lamunan sang Putri. Hari pun bertambah malam. Akhirnya, sang Putri tertidur juga.
Malam telah larut. Seluruh penghuni istana telah tidur, kecuali para penjaga malam. Sang Putri pun telah tertidur nyenyak. Dalam tidurnya itu sang Putri bermimpi. Mimpi yang sangat aneh. Telur yang disimpan di tempat pakaian itu menetas. Keajaiban muncul. Yang keluar dari telur itu bukan seekor burung, melainkan seorang anak manusia. Ajaibnya lagi, anak laki-laki itu tumbuh secara mendadak dan luar biasa. Tiba-tiba saja anak itu tumbuh menjadi dewasa. Dia menjadi seorang remaja yang sangat tampan. Badannya tinggi besar dan kekar. Kulitnya sawo matang, rambutnya berombak, dan tatapan matanya tajam. Dalam mimpinya itu pula pemuda tampan dari telur ajaib itu telah tidur dengan Putri Tomatiti.
Sang Putri terjaga dari tidurnya. Sejenak dia terbengong. Dia sangat heran dengan keajaiban dalam mimpi.
"Aneh. Aneh sekali. Sepertinya keajaiban tadi benar-benar ada. Padahal, hanya dalam mimpi. Namun, mimpi itu begitu jelas, begitu nyata. Apakah akan ada keajaiban seperti dalam mimpi saya itu? Ah, itu tidak mungkin. Mana ada orang menetas dari sebutir telur. Akan tetapi, entahlah. Toh, itu semua hanya mimpi.” Begitulah kata sang Putri.
Tidak lama kemudian sang Putri tertidur lagi karena memang masih malam.
Sejenak setelah sang Putri tertidur lagi, mimpi itu muncul lagi. Pemuda tampan yang keluar dari telur ajaib itu mendatangi sang Putri lagi. Sang Putri menyambutnya dengan rasa sukacita. Malahan, keduanya asyik bermain cinta sebagaimana layaknya dua remaja yang sedang dilanda asmara. Ketika keduanya sedang asyik, tiba-tiba sang Putri terbangun. Fajar telah menyingsing. Kicauan burung dan kokok ayam bersahut-sahutan.
Bangun tidur Putri Tomatiti makin penasaran. Apa sebenarnya yang terjadi dengan telur ajaib itu? Segeralah sang Putri menuju tempat penyimpanan telur. Betapa terkejutnya dia. Ternyata, telur itu tinggal kulitnya. Anehnya, tidak ada bekas kotoran sedikit pun yang menempel di atas lipatan kain itu. Kain itu bersih, tanpa ada noda sama sekali. Yang lebih mengherankan lagi, tidak ada anak burung di tempat itu. Diamatinya baik-baik semua tempat di sekitarnya. Akan tetapi, hasilnya nihil. Tidak ada seekor binatang pun yang ada di ruang itu.
"Malam yang benar-benar aneh sekaligus membingungkan," komentar sang Putri sesudah yakin bahwa di kamar itu tidak ada seekor binatang pun.
"Apakah mimpiku akan menjadi kenyataan? Bagaimana sikap Ayah dan Bunda jika hal itu benar-benar terjadi? Haruskah kejadian ini saya rahasiakan? Atau, apakah saya harus berterus terang? Akan tetapi, apa pun risikonya, lebih baik saya berterus terang kepada Ayah dan Bunda."
Setelah sarapan pagi, Putri Tomatiti menghadap Ayah Bundanya. Dia ingin menyampaikan apa yang dialaminya malam itu.
"Bagaimana, Putriku? Kau baik-baik saja?” tanya sang Raja kepada putrinya.
"Saya baik-baik saja, Ayah, Bunda. Bagaimana dengan Ayah dan Bunda?”
"Tuhan melindungi kita semua. Ayah dan Bunda tidak kurang sesuatu. Lalu, bagaimana dengan telur ajaib yang kau simpan?”
"Itulah yang akan saya bicarakan dengan Ayah dan Bunda.”
"Apakah ada keajaiban lagi, Nak?” tanya Permaisuri yang tampak kurang sabar.
"Ada, Bunda, Ayah. Semalam ada kejadian yang luar biasa lagi.”
"Apa itu, Nak?” tanya Permaisuri lagi.
"Begini, Bunda, Ayah."
Putri Tomatiti menceritakan semua yang dialaminya semalam. Semua kejadian diceritakan secara terperinci. Ditekankan pula bahwa pemuda tampan yang terlahir dari telur itu telah tidur dengannya. Selesai putrinya bercerita, sang Raja berkomentar.
"Putriku dan Dinda Permaisuri, sejak awal saya yakin bahwa telur itu ajaib. Kalau Tuhan menghendaki, apa yang putriku alami tadi malam itu bukan hal yang mustahil. Saya malah beranggapan bahwa kejadian seperti itu sudah merupakan ketentuan Tuhan."
"Lalu, bagaimana kita seharusnya, Kanda?” tanya Permaisuri kepada sang Raja.
"Menurut saya, begini. Kita buatkan tempat tidur khusus yang bagus untuk Tomatiti dan pemuda tampan yang lahir dari telur ajaib itu. Bagaimana pendapatmu, Putriku?"
"Saya serahkan sepenuhnya masalah itu kepada Ayah dan Bunda. Bagaimana sebaiknya, saya ikut saja."
Kamar tidur Putri Tomatiti diubah sedikit. Yang semula hanya untuk satu orang diubah menjadi dua orang. Perabotannya pun sebagian disesuaikan. Yang lebih mencolok lagi, kamar itu dihias seindah mungkin bak kamar pengantin. Perbaikan dilakukan hanya dalam waktu sehari. Hal itu dilakukan agar pada malam harinya dapat digunakan.
Hari telah larut malam. Sang Putri belum dapat memejamkan mata. Dia sulit tidur walaupun berkali-kali dicobanya. Dia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Jantungnya berdenyut kencang. Dengan harap-harap cemas, dia menanti seseorang. Seseorang yang menemuinya dalam mimpi. Dia berharap mimpi itu menjadi kenyataan. Akan tetapi, kalau mimpi itu menjadi kenyataan, apa yang harus dilakukan? Bagaimana dia harus bersikap? Di dalam pikirannya berkecamuk berbagai pertanyaan.
Sang Putri telah lama menanti. Akan tetapi, yang dinanti tidak menampakkan diri. Malam pun semakin sunyi. Rasa kantuk semakin hebat menyerang. Akhirnya, sang Putri tertidur. Di dalam tidurnya itu kemudian bermimpi didatangi lagi pemuda tampan yang keluar dari telur ajaib tersebut. Seperti malam sebelumnya, pemuda itu tidur dengan sang Putri layaknya suami istri. Kejadian seperti itu terus berlangsung setiap malam. Anehnya semua kejadian itu hanya berlangsung dalam mimpi. Setiap bangun tidur, sang Putri tinggal seorang diri.
Kejadian Putri Tomatiti tidur dengan pemuda dari telur ajaib sudah lama berlangsung. Sebagaimana layaknya seorang istri yang lain, sang Putri pun hamil. Akan tetapi, hamilnya ini bukan dalam mimpi. Sang Putri benar-benar hamil. Ayah dan Bundanya dapat melihat dengan jelas bahwa Putrinya sudah hamil. Begitu pula para penghuni istana yang lain. Namun, wajah calon ayah bayi itu tak ada seorang pun yang dapat melihatnya, kecuali sang Putri. Itu pun hanya dalam mimpi.
Hari yang dinanti-nanti telah tiba. Bayi yang dikandung sang Putri telah lahir. Seorang bayi laki-laki yang tampan. Bukan hanya sang Putri dan Ayah Bundanya yang bersukacita. Semua penghuni istana dan seluruh rakyat Kerajaan Molibagu turut bergembira. Raja dan rakyat Molibagu merasa mendapat anugerah dari Yang Kuasa. Seorang putra calon raja turunan angkasa. Anak itu diberi nama Mokodaludu yang berarti raja dari udara.
Pesta untuk menyambut kelahiran pun digelar. Di depan istana dibuat panggung besar. Berbagai kesenian rakyat didatangkan dari berbagai daerah. Mereka dengan sukarela menyumbangkan kesenian untuk sang Raja dan keluarga. Mereka tampil silih berganti. Ada yang menunjukkan tari-tarian, ada yang memperagakan kemampuan bela diri, dan ada pula yang melantunkan syair untuk sang bayi.
Anak tercinta hanya satu
anak tercinta hanya satu
dibesarkan dengan doa
dibesarkan dengan doa
mohon bertunas
mohon bertunas sayang
doakan berdaun
o, berdaun.





Komentar
Posting Komentar