RARA BERUK




KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT BAHASA




Sastra itu mengungkap kehidupan suatu masyarakat, masyarakat desa ataupun masyarakat kota. Sastra berbicara tentang persoalan hidup pedagang, petani, nelayan, guru, penari, penulis, wartawan, orang dewasa, remaja, dan anak-anak. Sastra menceritakan kehidupan sehari-hari mereka dengan segala persoalan hubungan sesama, hubungan dengan alam, dan/atau hubungan dengan Tuhan. Tidak hanya itu, sastra juga mengajarkan ilmu pengetahuan, agama, budi pekerti, persahabatan, kesetiakawanan, dan sebagainya. Melalui sastra, kita dapat mengetahui adat dan budi pekerti atau perilaku kelompok masyarakat.

Sastra Indonesia menceritakan kehidupan masyarakat Indonesia, baik di desa maupun di kota. Bahkan, kehidupan masyarakat Indonesia masa lalu pun dapat diketahui dari karya sastra pada masa lalu. Kita memiliki karya sastra masa lalu yang masih relevan dengan tata kehidupan sekarang. Oleh karena itu, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional meneliti karya sastra masa lalu, seperti dongeng dan cerita rakyat. Dongeng dan cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia ini diolah kembali menjadi cerita anak.

Banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari membaca buku cerita ini karena buku ini memang untuk anak-anak, baik anak Indonesia maupun bukan anak Indonesia yang ingin mengetahui tentang Indonesia. Untuk itu, kepada pengolah kembali cerita ini saya sampaikan terima kasih. Semoga terbitan buku cerita seperti ini akan memperkaya pengetahuan kita tentang kehidupan masa lalu yang dapat dimanfaatkan dalam menyikapi perkembangan kehidupan masa kini dan masa depan.


Jakarta, 6 Februari 2009
Dendy Sugono

•••










PRAKATA




Rasa syukur yang dalam penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Pengasih, yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulisan cerita remaja ini akhirnya terselesaikan.

Penulis juga berterima kasih kepada Dr. Dendy Sugono selaku Kepala Pusat Bahasa, Dr. Sugiyono selaku Kepala Bidang Pengembangan Bahasa dan Sastra, dan Dra. Dad Murniah, M.Hum. selaku Kasubbid informasi dan Publikasi, yang telah memercayai dan memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan ini.

Untuk adik-adik pembaca buku ini, penulis hanya berharap mudah-mudahan semua nilai yang ada dalam kisah ini bisa diteladani, diserap, (bahkan kalau perlu) juga digugat dan dipertanyakan. Untuk pembaca tingkat lanjut, tentu saja penulis mengharapkan masukan dan komentar.

Itu saja, terima kasih.


Suyono Suyatno

•••


KIAI JAGASURA DAN ISTRINYA MEMUJA BRATA




Kanjeng Ratu Kancana, permaisuri Raja Sinuhun Pakubuwana ketiga yang saat itu berkuasa di Surakarta adalah putri seorang bupati yang bernama Raden Tumenggung Wirareja. Raden Tumenggung Wirareja ini semula bertempat tinggal di Desa Palar Legen. Di desa tersebut Tumenggung Wirareja dikenal dengan nama Kiai Jagasura.

Rumah Kiai Jagasura terletak agak ke dalam di Desa Palar Legen sehingga apabila kita mencarinya dari perbatasan Palar Legen dari desa lainnya seperti tersembunyi. Namun, setelah masuk ke desa tersebut, dari jauh sudah tampak pekarangannya yang berpagar pohon singkong. Di halamannya tumbuh tanaman sayuran. Ada juga tanaman lain yang biasa digunakan untuk bumbu dapur dan obat-obatan seperti kunyit, jahe, lengkuas, kencur, dan kayu manis. Tanaman itu oleh Kiai Jagasura disebutnya sebagai apotek hidup. Di tengah-tengah kebun apotek hidupnya terhampar batu-batu kecil yang rata dan tertata rapi.

Makin dekat ke sana sosok rumah itu makin nyata. Rumah itu sesungguhnya kurang layak disebut rumah, tetapi lebih pantas disebut gubuk. Pintu masuk ke halaman dan ke dalam gubuk berupa tiang-tiang yang terbuat dari batang bambu. Memang tidak bagus buatannya, tetapi cukup memberi kesan unik. Bangunan gubuk terdiri atas satu bubungan yang tidak bergaya, beratap krapyak, atau daun-daun rumbia yang telah kering. Bangunan gubuk itu pun sudah reyot. Dindingnya terbuat dari bilik dengan anyaman yang jarang-jarang. Dengan mudahnya sinar mentari menerobos ke dalamnya dan menyengat wajah penghuninya jika hari beranjak siang. Tiang-tiang bambu di sana-sini berdiri sebagai penyangganya.

Jika hujan turun teramat lebat, gubuk itu dengan mudahnya tergenang air yang masuk dari sela-sela atapnya. Tidak jarang juga penghuninya basah kuyup. Itulah gubuk Kiai Jagasura yang sebenar-benarnya gubuk. Gubuk yang memberi kesan kekurangan dan kemiskinan penghuninya.

Kiai Jagasura tinggal di gubuk itu bersama istrinya. Sepasang suami-istri itu tidak pernah peduli dengan status sosialnya. Keduanya menerima keadaan itu dengan penuh kesabaran. Yang utama bagi keduanya adalah hidup rukun dan bahagia. Kebahagian itu memang terpancar dari wajah keduanya. Apalagi wajah Kiai Jagasura kelihatan demikian bersinar, terlebih-lebih seluruh anggota tubuhnya pun tak henti-hentinya bergerak.

Kiai Jagasura sehari-hari mengolah dan merawat kebunnya meskipun hanya sepetak tanah kecil. Berbagai tanaman yang memberi hasil sayur-mayur untuk kebutuhan sehari-hari ada di kebunnya. Nyai Jagasura tidak perlu membeli sayuran. Kacang tanah, kacang koro, terung, cabai, labu, mentimun, kenikir sudah tersedia di sana. Sayur-sayuran itu biasa diolahnya sebagai urap untuk lauk nasi. Semua orang yang melewati kebun itu sangat bergairah memandangnya.

Sementara itu, istrinya, Nyai Jagasura tidak punya pekerjaan tetap. Dia hanyalah ibu rumah tangga biasa yang sehari-harinya mengurus rumah dan keperluan suaminya. Paling-paling dia membantu suaminya di kebun jika tanamannya siap dipanen. Atau, pada siang hari setelah memasak, dia pergi ke kebun membawa serantang nasi, sayur, dan sambal untuk suaminya. Dia pun tidak perlu mengepel karena gubuknya berlantaikan batu kerikil.

Selain rajin bekerja, keduanya sangat taat beribadah. Jika malam tiba, tidurnya tidak seberapa. Setelah selesai makan seadanya keduanya tidak segera ke balai-balai. Atau, bersantai-santai menunggu kantuk datang, tetapi menyepi, merenung, dan memohon kepada Ilahi Rabbi, penguasa jagat raya beserta isinya agar diberi keselamatan dan kesabaran dalam menjalani hidup yang begitu berat.

•••

Pelita-pelita kecil dinyalakan. Kelap-kelip di kejauhan menandakan di Palar Legen yang sunyi ada kehidupan manusia. Bulan yang bulat penuh hampir mencapai puncak langit. Cahayanya membuat bayangan temaram di atas tanah. Kehadirannya di angkasa tidak terhalang. Langit benar-benar bening. Udara malam makin lama makin dingin.

Namun, pergelaran alam yang ramah itu tidak mampu menghadirkan anak-anak bermain di luar. Orang-orang dewasa telah bekerja keras di siang hari. Tanaman berupa sayuran dan palawija lainnya harus disiram dengan air sumur yang khusus mereka gali. Bila malam tiba, keinginan mereka tidak berlebihan: sekadar duduk beristirahat sambil menggulung tembakau atau bersenda gurau sebentar dengan istri dan anak-anak. Menjelang malam mereka akan beranjak ke tempat tidur.

Saat tengah malam barangkali hanya Kiai Jagasura dan istrinya yang masih menyalangkan mata. Keduanya sangat taat dalam beribadah di bawah lampu minyak yang bersinar redup. Malam-malam mereka selalu habis untuk berdoa. Tidak ubahnya mereka itu bertapa brata, menyepi, melupakan diri sejenak dari keramaian dan hiruk-pikuk dunia.

Meskipun keduanya hidup serba kekurangan, mereka menerima dengan penuh kesabaran. Kekurangan dan penderitaan beban hidup tersamar dalam raut muka yang sumarah dan tawakal, yang menampakkan hati yang bahagia dan semangat hidup yang menyala untuk menyongsong hari esok yang lebih cerah. Keduanya pun yakin dengan falsafah hidupnya bahwa roda kehidupan akan terus berputar. Jika sekarang sedang berada di bawah, siapa tahu esok mereka berada di atas. Dengan keyakinan itu, keduanya tak putus-putusnya berdoa.

Malam itu seperti malam-malam sebelumnya, suami-istri Jagasura kembali berdoa. Akan tetapi, malam itu tampak ada yang lain dalam tingkah laku Nyai Jagasura. Geraknya kurang bersemangat. Ia tampak lesu dan lelah. Kiai Jagasura bertanya-tanya dalam hatinya, "Apa yang terjadi dengan istriku?"

Karena masih khusyuk berdoa dibiarkannya istrinya itu. Namun, tingkah istrinya yang gelisah mengganggu konsentrasinya. Didekatinya istrinya perlahan sambil bertanya dengan lemah-lembut dan penuh kasih sayang, "Istriku, engkau kelihatan sangat lemas dan tidak bersemangat. Apakah engkau sakit?"

"Benar, Kakang, penglihatanmu sungguh tajam. Sudah beberapa hari ini badanku terasa lemas, lesu, dan cepat capai. Jangan-jangan aku benar-benar sakit atau masuk angin barangkali. Sudahlah, nanti aku minum wedang jahe dan beras kencur biar badanku segar kembali!"

"Kalau begitu, esok kita racik beras kencur dan jahe. Engkau buatlah beras kencur! Biarlah Kakang yang mengambil kencur dan jahenya di kebun," kata Kiai Jagasura dengan cemas. Rupanya penglihatannya tadi tidak salah, ternyata istrinya sakit.

"Janganlah terlalu mengkhawatirkanku, Kakang! Barangkali sudah takdir, seorang istri yang akan mempunyai anak harus mengalami hal ini."

Kiai Jagasura terkejut dengan perkataan istrinya. Buru-buru dia bertanya kembali untuk meyakinkan diri sambil matanya tidak lepas dari wajah istrinya, "Nyai, benarkah demikian? Apakah aku akan menjadi seorang ayah?"

"Aku juga belum yakin, Kakang. Akan tetapi, tampaknya demikian. Gejala-gejalanya menunjukkan aku telah mengandung. Jika benar, tidak lama lagi Kakang akan menjadi seorang ayah."

Kiai Jagasura mendekap erat-erat tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang. Wajahnya memancarkan kebahagiaan yang teramat sangat. Tak terasa bibirnya mengucap syukur, "Alhamdulillah, ya, Allah. Akhirnya kami dipercaya mengurus titipan-Mu yang paling kami damba-dambakan selama ini."

"Lepaskan dulu, Kang!" kata sang istri tersengal-sengal. "Dekapanmu menyesakkan dadaku."

Kiai Jagasura baru sadar, tadi dia terlalu keras mendekap istrinya. Kini dia berusaha menenangkan dirinya kembali.

"Cobalah esok engkau datangi paraji, Nyai! Periksakan kepadanya supaya kita lebih yakin."

"Baiklah, Kang!”

"Nyai, kenapa engkau diam saja dari dulu? Kenapa tidak segera memberi tahu jika engkau mengandung?" Kiai Jagasura agak menyalahkan istrinya.

"Maafkan aku, Kakang! Sedikit pun aku tidak berniat menyembunyikan hal ini darimu. Aku hanyalah menunggu saat yang tepat. Aku sebenarnya tadi akan mengatakan soal ini kepadamu, tetapi engkau sudah bertanya duluan," katanya menerangkan.

"Ya, sudahlah! Aku tidak apa-apa kok! Aku mengerti keadaanmu! Yang penting sekarang kita meneruskan doa kita. Kita patut bersyukur atas karunia ini."

Nyai Jagasura tidak menjawab. Ia hanya mengangguk. Keduanya melanjutkan doa-doa malam yang tadi terhenti. Nyai Jagasura malam itu agak kurang bersemangat karena memang sedang tidak sehat.

Malam semakin larut. Riuh burung manyar yang bersarang pada pohon nyiur telah lama sepi. Dan, kegaduhannya digantikan oleh puluhan kelelawar yang berebut makan. Bulan pun seakan berjalan lambat menyembunyikan diri di balik punggung bukit. Gubuk Jagasura pun semakin sunyi. Kelap-kelip lampu tempel tidak tampak lagi.

Kiai Jagasura dan istrinya sudah terbuai ke alam mimpi. Malam itu memang menjadi malam yang paling membahagiakan bagi suami-istri itu, karena tidak lama lagi mereka akan mendapatkan momongan.

Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa kandungan Nyai Jagasura sudah berusia tujuh bulan, tinggal menunggu dua bulan lagi untuk melahirkan. Gerakannya tidak seperti dulu yang gesit dan lincah. Dengan perutnya yang bulat dan besar, dia menjadi lamban dalam segala hal. Kandungannya benar-benar menghambat aktivitasnya. Jika pagi atau siang hari badannya terasa panas dan lelah. Keringat cepat mengucur dari sekujur tubuhnya meskipun sedikit saja dia bergerak. Jika malam, tidurnya pun tidak nyenyak. Miring ke kanan salah, ke kiri salah, apalagi telentang. Kegiatannya yang selama ini dilakukan sudah banyak berkurang.

"Ya, Allah, beginikah rasanya mengandung? Ibuku pasti merasakan hal yang sama denganku sewaktu mengandungku dulu," kenang Nyai Jagasura akan ibunya yang sudah lama meninggalkannya.

Meskipun begitu, Nyai Jagasura berusaha menghilangkan rasa beban akibat perutnya yang semakin membesar. Kelesuan dan kelelahannya tidak dirasakannya benar. Dia pun tidak bermanja-manja kepada suaminya. Nyai Jagasura menikmatinya dengan hati riang dan tenang. Dia menyadari bahwa semua itu pengaruh kandungan yang semakin tua. Kandungannya memang tidak begitu membebaninya, yang mengganggu pikirannya justru nasib anaknya di masa depan.

"Suatu saat aku akan mengutarakannya kepada suamiku," katanya kepada diri sendiri.

Hari terus berganti. Sang rembulan sudah menyelesaikan tugasnya dengan sempurna. Palar Legen masih berdiam diri meskipun beberapa jenis satwa telah terjaga, pertanda datangnya pagi. Kokok ayam jantan terdengar satu-satu. Makin lama makin sering. Kambing-kambing mulai gelisah dalam kandangnya. Burung-burung pun tak ketinggalan mencicit-cicit dari tempat persembunyiannya menyambut hari baru.

Pagi yang lengang, sinar matahari dalam berkas-berkas kecil menembus kerindangan pohon. Pucuk-pucuk nyiur dan rumpun bambu menerima kehangatan pertama pagi hari. Pancaran cahaya matahari adalah tenaga yang setiap kali membangunkan desa Palar Legen dengan menyingkap kabut yang menyelimutinya.

Beberapa rumah di pedesaan kecil itu mulai hidup. Terdengar di sana-sini suara-suara anak-anak yang terjaga. Para lelaki bersiap-siap meninggalkan rumah. Perempuan-perempuan yang sibuk mengurus dapur, mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan oleh anak-anak dan suami-suami mereka.

Hanya gubuk Kiai Jagasura yang masih sepi. Meskipun sudah bangun, Kiai Jagasura tidak seperti biasanya bergegas ke kebun. Ia diam tanpa gerak sedikit pun. Sekali-sekali matanya menatap jauh ke seberang kebun yang tidak begitu luas. Kabut tipis yang menyelaputi pegunungan mengambang naik karena hangatnya sinar matahari.

Hingga beberapa saat lamanya, Kiai Jagasura tetap duduk diam. Pikirannya menerawang jauh ke masa depan, ke masa-masa yang bakal dihadapinya kelak jika istrinya sudah melahirkan, "Oh ... betapa bahagianya, betapa ramainya gubuk itu dengan celoteh anak!"

Kiai Jagasura membayangkan bahwa tak lama lagi anaknya akan menyemarakkan gubuknya. "Ya, tak lama lagi akan ada yang memanggilku ayah."

Sementara itu, di sudut lain seberkas sinar matahari menembus dinding bambu, jatuh di pipi Nyai Jagasura. Ketika rona merah itu bergerak ke arah mata, Nyai Jagasura berada dalam batas jaga. Irama napasnya mulai tak teratur, bulu matanya bergerak-gerak. Akhirnya terdengar desah panjang ketika dia menggeliat perlahan-lahan.

Kesadaran telah merayapi Nyai Jagasura. Dengan susah payah dia berusaha bangkit dari pembaringannya, dan duduk sambil mengusap-usap perutnya yang membuncit. Lama-lama dia pun tak betah duduk. Dengan sempoyongan karena pengaruh kandungannya, dia datang mendekati suaminya.

Kiai Jagasura tidak menyadari istrinya sudah duduk di sampingnya. Khayalannya mengawang dan akan terus melayang-layang ke mana saja apabila tidak datang istrinya yang mengusiknya.

"Kau melamun di sini, Kang? Tidak ke kebun?" tanya istrinya sambil duduk di samping suaminya.

"Ah, tidak ... aku hanya ingin menikmati pagi yang segar ini di sini!"

"Oh, ya?"

"Aku sedang …," Jagasura tidak melanjutkan perkataannya.

"Sudahlah, jangan mencari alasan yang bukan-bukan. Aku tahu Kakang sedang melamun, memikirkan calon anak kita, kan? Sampai-sampai Kakang belum pergi ke kebun!”

Kiai Jagasura tidak segera menjawab. Dia hanya menatap istrinya penuh cinta.

"Benar, kan?" istrinya mendesak.

Kiai Jagasura mengangguk, "Ya, aku sedang membayangkan betapa bahagianya kita karena tak lama lagi kita akan memiliki keturunan."

"Aku juga demikian, Kang ...," kata Nyai Jagasura dengan suara lirih.

"Kenapa nada suaramu sedih?" Kiai Jagasura bertanya heran.

"Aku bahagia sekaligus sedih dengan kedatangan anak ini, Kang."

"Kenapa, Nyai? Kenapa? Bukankah anak itu suatu anugerah?"

"Benar, Kakang, aku tidak meragukan hal itu. Akan tetapi, aku juga memikirkan masa depan anak ini," Nyai Jagasura berkata pelan. "Bagaimana bila saatnya tiba, Kang, sedangkan kita tidak punya apa-apa? Perlengkapan bayi seperti pakaian, popok sama sekali belum ada. Oh … Kakang, ke mana kita harus mencarinya?"

Kiai Jagasura terdiam mendengarkan keluhan istrinya. Semua yang dikatakan istrinya benar adanya. "Yang dikatakan oleh istriku benar, tetapi aku tidak boleh ikut larut dalam kesedihan ini. Situasinya pasti akan bertambah runyam. Dan istriku akan semakin gelisah. Itu tak boleh terjadi," katanya dalam hati.

Tidak lama terdengar kembali keluhan istrinya.

"Ah, keterlaluan sekali hidup ini. Kehidupan kita ini tak ubahnya kehidupan orang jalanan yang tiada punya tempat tinggal. Siapa yang dapat memanjakan dan mengasihani kita, orang papa, miskin? Siapa yang peduli pada keadaan kita, Kang?"

Kiai Jagasura berusaha menghibur istrinya. Dia berkata lemah-lembut kepada istrinya, "Aduh, Istriku, janganlah berkata seperti itu! Memang berat menjadi orang miskin. Segala usaha sudah kita lakukan meskipun hasilnya mengecewakan dan memilukan. Namun, janganlah engkau terus-menerus menyesalinya. Lebih baik jagalah kandunganmu! Jangan sampai karena kehendakmu dan terdorong rasa gundah, bayimu menjadi terlantar.”

Nyai Jagasura menundukkan kepala. Dia tidak berkata-kata sepatah pun untuk menjawab atau membantah perkataan suaminya.

Kiai Jagasura pun melanjutkan perkataannya, "Apa yang ada dalam hatimu pasti akan memengaruhi janinmu, Nyai! Niat yang tergerak dan terpikir pasti akan ada pengaruhnya. Bila engkau berpikir baik, pasti akan menjadi baik. Namun, jika berpikir yang bukan-bukan pasti tidak akan baik. Apa yang kaukatakan tadi, tidak ada gunanya."

Nyai Jagasura masih tetap diam. Hanya sekali-kali menganggukkan kepala tanda paham akan perkataan suaminya.

Kiai Jagasura belum tuntas perkataannya, "Sekali lagi, janganlah engkau menyesali takdirmu! Angan-anganmu tidak usah melambung terlalu tinggi. Itu bukanlah garis kita. Kewajiban kita hanya bersandar kepada Tuhan Yang Mahaagung, Maha Pemurah, dan Mahaasih. Pasti kelak akan ada balasan dari-Nya. Orang yang telah mengalami balasan-Nya sudah ada. Jadi, sudah terbukti!"

Nyai Jagasura mengangkat kepalanya mendengar perkataan terakhir suaminya. Dengan rasa ingin tahu yang meluap dia berucap, "Bukti? Siapa buktinya?"

"Dengarlah ceritaku! Zaman dahulu Ki Ageng Tarub tak putus-putusnya melakukan puja brata, memohon kepada Yang Mahakuasa supaya anak cicitnya mendapat anugerah. Doanya terkabul. Keturunan Ki Ageng Tarub sampai dengan mendiang Panembahan Senapati—dan terus berlanjut sampai sekarang—punya derajat agung, kaya, dan berpangkat. Hidupnya penuh kemuliaan dan kewibawaan."

Nyai Jagasura kali ini menimpali perkataan suaminya. Dia tidak sependapat dengan perkataan suaminya. "Kakang, Ki Ageng Tarub adalah seorang bangsawan. Seorang bangsawan, tidak memuja brata pun, sampai tujuh turunan hidupnya pasti terjamin. Sementara engkau dan aku hanyalah rakyat jelata, berkali-kali memuja brata mustahil mendapatkan kemuliaan. Lihatlah hidup kita, Kang!"

"Istriku, sadarlah engkau! Janganlah berkata demikian, tidak baik!"

"Ya, memang tidak baik. Akan tetapi, bagaimana bisa mendapat derajat tinggi? Orang yang hina papa tak mungkin bisa menjadi besar. Apa yang telah digariskan Tuhan tak akan bisa diubah."

"Tentu saja bisa, Nyai! Kita wajib berusaha. Meskipun di dalam tubuh kita mengalir darah orang hina, miskin, banyak juga yang menjadi pegawai raja dan yang menguasai payung kebesaran."

Nyai Jagasura agak terkejut dengan perkataan suaminya yang bernada tinggi. Ia pun seperti tersadar dari mimpinya.

"Ah, kenapa aku menjadi begini? Suamiku benar, aku tidak boleh bersikap seperti ini," cetusnya dalam hati.

"Maafkanlah aku, Kakang! Jiwaku memang agak goyah akhir-akhir ini!"

"Tak apa, Nyai. Aku juga bisa memahami perasaanmu. Sebagai manusia kita akan menjadi utuh dengan sifat-sifat yang kita miliki. Yang penting kita harus berupaya agar kita menjadi lebih baik."

Nyai Jagasura tidak berbicara lagi.

"Nah, Istriku, bangkitlah sekarang! Marilah kita berusaha dengan berdoa dan memuja brata agar janin dalam kandunganmu menjadi orang yang berbudi luhur kelak, dan mendapatkan derajat yang tinggi. Bukankah kita perlu melestarikan adat para leluhur kita untuk menenteramkan hati? Mudah-mudahan saja membawa berkah dan keberuntungan. Siapa tahu doa-doa kita terkabul?"

Nyai Jagasura mengangguk-anggukkan kepala, mengiakan semua perkataan suaminya. Dia pun merasa puas setelah mendengarkan perkataan suaminya. Dia hanya bisa berharap doa-doanya terkabul kelak.

Keduanya akhirnya mencapai kata sepakat untuk saling membantu. Keduanya bersatu tujuan, seiring sejalan menyongsong hari yang akan datang. Keduanya berjanji akan meneruskan puja brata pada malam-malam yang akan datang.

Matahari semakin menampakkan dirinya. Kiai Jagasura buru-buru meninggalkan gubuknya menyusul lelaki-lelaki lainnya yang sejak tadi ke kebun. Nyai Jagasura pun membereskan gubuknya.

Hari-hari berikutnya kedua suami-istri itu kembali menjalankan puja bratanya. Sekali-sekali apabila malam menjelang tampak keduanya tidur di halaman dengan berpayungkan langit cerah. Sebelum memejamkan mata, di halaman itu keduanya berdoa.

Jika siang hari keduanya memetik sayur. Meskipun makan dengan sayur, keduanya menerima dengan lapang dada. Sedikit pun tidak terbersit keluhan atau sesalan yang sesekali pernah bersemayam dalam dada.

•••


MIMPI YANG MENAKJUBKAN




Angkasa yang bersih sepi membisu. Bahasanya tanpa suara. Namun, kelap-kelip bintang adalah kesaksian yang berbicara banyak akan apa yang terjadi di bawah lengkung langit. Seperti malam-malam sebelumnya, Kiai Jagasura dan istrinya kembali khusyuk berdoa untuk keselamatan bayinya yang masih dalam kandungan. Malam itu tepat pada malam Anggara Kresna, Selasa Wage, keduanya tak putus-putusnya berdoa, memohon agar diberi kemudahan dan rezeki yang cukup sebagai bekal kelahiran sang bayi yang tengah dikandung Nyai Jagasura.

Pada ujung doanya, Kiai Jagasura memperoleh ketenangan. Ketenangan batin yang luar biasa dan keyakinan yang tinggi bahwa segala sesuatunya pasti berjalan lancar sesuai dengan permohonannya. Matanya mulai terasa mengantuk. Istrinya sejak tadi telah terlelap dalam mimpi yang membuai.

Sementara itu, cicit pertama burung telah terdengar, disusul kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan. Saat itu waktu menjelang pagi dan suasana masih senyap sehingga suara tetes embun sayup-sayup terdengar ketika jatuh ke atas daun-daun yang tumbuh lebat di belakang gubuk.

Kiai Jagasura menikmati mimpi melihat rembulan. Pada saat itu rembulan yang muncul genap purnama. Malam begitu indah dan langit sangat jernih. Terlihat bayangan dua sinar yang berkelebat di atas puncak gunung. Selain dua sinar itu, dilihatnya pula sinar pelangi di atas awan. Tiba-tiba sinar pelangi itu ditelan bulan. Tentu saja sinar pelangi tidak berdiam diri. Ia melawan pada sinar bulan yang tiba-tiba menelannya. Keduanya lalu bertarung. Dalam pertarungan itu sinar pelangi yang lebih kuat, sedangkan sinar bulan terkalahkan. Sinar pelangi kemudian bergulung-gulung membulat menjadi bintang. Bintang pun mendekati matahari dan keduanya menyatu. Perpaduan antara sinar pelangi yang telah berubah menjadi bintang dengan matahari tampak begitu serasi.

Namun, keindahan mimpinya tiba-tiba pupus. Sepasang tangan halus menepuk-nepuk tangannya. Antara sadar dan mimpi Kiai Jagasura membuka matanya. Semakin lama terasa tepukan tangan itu makin kuat. Istrinya sejak tadi menepuk-nepuk Kiai Jagasura. "Kang! Bangun, Kang!"

"Ada apa, Nyai? Apakah perutmu sakit?" tanya Kiai Jagasura yang mengira istrinya akan segera melahirkan.

"Tidak, bukan itu! Baru saja aku bermimpi!"

"Mimpi? Aku baru saja hendak menceritakan kepadamu bahwa aku juga bermimpi," kata Kiai Jagasura terbata-bata.

Suami-istri itu pun berpandangan dan terheran-heran karena saling bermimpi. Kiai Jagasura bertanya kepada istrinya, "Apa mimpimu? Barangkali saja mimpi kita sama."

"Aku bermimpi melihat rembulan. Lalu rembulan itu bertarung dengan pelangi ...."

"Dan, pelangi mengalahkan rembulan? Lalu rembulan bergulung membulat menjadi bintang? Begitukah mimpimu?" Kiai Jagasura penasaran memotong keterangan istrinya.

Nyai Jagasura keheranan. "Kenapa suamiku tahu semua mimpiku? Padahal aku belum mengatakan semuanya," cetusnya dalam hati.

"Benar, Kang! Namun, kenapa Kakang tahu akan mimpiku?

"Tentu saja aku tahu karena mimpimu sama persis dengan mimpiku!"

"Kenapa bisa terjadi?"

"Aku juga tidak tahu, kenapa mimpi kita bisa sama!"

"Menurut Kakang, kira-kira pertanda apa mimpi kita, baik atau buruk?"

"Mimpi kita sebetulnya sangat bagus!"

"Kira-kira apa maknanya, Kang?"

Kiai Jagasura menarik napas panjang. Dia berkata pelan. Badannya terasa teramat lelah seperti akan meregang nyawa.

"Istriku, ini elok sekali! Aku belum pernah menyaksikan dan belum pernah mendengar mimpi yang demikian, tetapi menurutku sinar yang ada dalam mimpi itu lebih baik daripada bermacam-macam sinar.”

"Aku rasa juga begitu. Sinar pelangi berubah menjadi bintang lalu menyatu dengan matahari. Betapa serasinya!"

"Bukankah bintang itu melambangkan kecantikan dan keindahan, sedangkan matahari melambangkan kekuasaan dan kekuatan?"

"Jangan-jangan anak kita seorang perempuan, Kang? Yang tiada lain si bintang yang indah itu, sedangkan matahari mungkin seorang raja. Dan, anak kita kelak akan bersanding dengan …," Nyai Jagasura tidak mampu meneruskan perkataannya.

"Bisa juga sebaliknya, Nyai! Anak yang akan lahir seorang lelaki. Anak lelaki itu kelak menjadi seorang raja yang menikah dengan seorang putri cantik."

"Ya, bisa juga seperti itu."

"Ah, tetapi sebaiknya jangan berangan-angan terlalu jauh, Nyai! Untuk sementara rahasiakanlah mimpi kita ini. Jangan sekali-kali diceritakan kepada orang lain. Biarlah kita berdua yang mengetahuinya. Lebih baik dijabarkan oleh orang pintar. Bila ditafsirkan baik janganlah kita menjadi takabur, dan bila ditafsirkan buruk tidak perlu juga kita berkecil hati."

"Baiklah, Kang! Aku akan merahasiakannya."

"Ya, lebih baik begitu! Perkiraanku tadi hanyalah tafsiranku semata yang belum tentu benar. Semuanya belum jelas. Benar tidaknya aku juga tidak meyakininya. Akan tetapi, karena tidak terjangkau oleh akal pikiran isyarat apa di balik mimpi itu, sebaiknya kita memohon kepada Yang Mahakuasa agar mimpi kita menjadi isyarat baik dan berguna bagi kita."

"Ya, Kang! Mudah-mudahan mimpi ini pertanda baik bagi anak kita."

Keduanya sepakat tidak akan menceritakan mimpinya kepada siapa pun. Sejak kejadian mimpi itu waktu berlalu begitu cepatnya. Nyai Jagasura hampir tiba saatnya melahirkan. Kandungannya sudah sembilan bulan. Hidup mereka belumlah berubah. Tabir mimpi pun belum terpecahkan.

Saat-saat penantian adalah saat-saat yang menegangkan. Apalagi yang dinantikan itu kelahiran putra pertama. Sudah beberapa hari Kiai Jagasura kelihatan lebih banyak termenung. Mimpi yang pernah dialaminya mengganggu pikirannya. Kiai Jagasura seperti kehilangan gairah. Meskipun begitu, ia menyimpan dalam-dalam di lubuk hatinya semua kegundahannya. Sedikit pun tidak diperlihatkannya kepada istrinya. Bahkan, kegundahan hatinya disamarkannya dengan wajah yang tanpa beban. Dia tidak ingin istrinya yang akan melahirkan ikut larut dalam perasaannya yang tidak menentu.

Pada saat yang bersamaan, Bok Bei Sudiradirja berjalan terburu-buru menuju gubuk kakaknya, Kiai Jagasura. Bok Bei adalah istri pekathik, menteri pembantu raja yang bertugas mendampingi raja. Empat orang pembantu mengiringinya dari belakang. Dua orang pembantu wanita, yang satu masih muda dan menggendong bakul, sedangkan satu lagi yang tua menyunggi tenong di atas kepalanya. Sementara itu, kedua buruh pikul laki-laki masing-masing memikul bawaan yang berat. Yang satu membawa beras, sedangkan yang satu lagi memanggul karung goni tertutup berisi kacang tanah, kacang kedelai, dan cabai. Jenis sayur-sayuran seperti daun melinjo, sukun, bahan urap, nangka, petai, oyong, kenikir, kangkung, dan kemangi tak ketinggalan melengkapi barang bawaan mereka. Tidak lupa Bok Bei juga membawa makanan yang sudah matang. Ayam panggang, tumpeng, daging, dan ikan teri sebagai buah tangan dari kota untuk kakanda tercinta yang akan melahirkan.

Sesaat rombongan Bok Bei berhenti di depan gubuk Kiai Jagasura. Mereka mengamati gubuk, penasaran dengan penghuni gubuk itu.

"Benarkah di sini tempat tinggalnya?" Pembantu Bok Bei ragu ketika majikannya berhenti di depan sebuah gubuk tua yang reyot.

"Aku memang sudah lama tidak kemari, tetapi yakin di sinilah mereka tinggal," Bok Bei memastikan.

"Kalau begitu, kita ketuk pintunya."

"Ya, ketuklah pintunya! Letakkan dulu bawaanmu itu!" kata Bok Bei kepada pembantunya.

Bawaan pun diletakkan di atas bangku kecil. Ketika salah seorang mengetuk pintu, Bok Bei dan pembantu lainnya beristirahat di halaman yang menghijau oleh tumbuhan.

Tergopoh-gopoh Nyai Jagasura menuju pintu. Dari dalam, melalui celah-celah pintu, sepintas Nyai Jagasura melihat adik iparnya yang sedang duduk bersantai. Buru-buru pintu dibuka. Dihampirinya adik iparnya dan disapanya penuh kehangatan, "Hai, Adikku! Angin apa gerangan yang membawamu kemari?"

"Ah, bisa saja Mbakyu ini! Tentu saja adikmu ini kangen kepada Mbakyu!"

Keduanya berpelukan melepas rindu.

"Masuklah, Dik Bei!" ajak Nyai Jagasura seraya menggandeng lengan adik iparnya.

"Inilah gubuk kakakmu yang seperti kandang burung merpati. Lumayanlah meskipun wujudnya seperti kandang burung," kata Nyai Jagasura merendah.

Bok Bei dan para pembantunya masuk ke gubuk. Bok Bei pun berpelukan dengan Kiai Jagasura saling melepas rindu. Mereka duduk lesehan di atas balai-balai. Kiai Jagasura mengucapkan selamat datang kepada adiknya, "Selamat datang, Adikku!"

Sekali lagi Nyai Jagasura bertanya kepada adik iparnya, "Adikku, aku senang sekali menerima kedatanganmu. Akan tetapi, kalau boleh tahu, rasanya tumben sekali Adik datang dengan bawaan yang lengkap. Mulai dari bahan makanan mentah sampai dengan makanan yang sudah matang semua dibawa ke sini. Bukannya lancang, aku hanya ingin tahu, apakah Adikku sekadar jalan-jalan atau punya maksud lain?"

Buru-buru Bok Bei menjawab, "Duh, Mbakyu, pertama-tama adikmu ini ingin tahu kabarmu karena kita sudah lama tak bertemu. Ingin menengok Kang Jagasura dan Mbakyu. Niatku kemari sudah lama, tetapi baru sekarang terlaksana. Kedua, aku melaksanakan perintah yang datang melalui mimpi."

"Mimpi? Mimpi apa gerangan, Adikku?" Nyai Jagasura tiba-tiba teringat akan mimpinya.

"Begini, Mbakyu. Suatu malam dalam keadaan antara tidur dan tidak, datang kepadaku seseorang. Orang itu berpesan dan menyuruh kepadaku supaya aku menolong seorang ibu yang akan melahirkan. Ibu itu berada di Palar Legen. Katanya, ibu itu sangat memprihatinkan, perlu pertolongan segera. Aku pun teringat kepada Mbakyu yang sebentar lagi akan melahirkan."

Nyai Jagasura mendengarkan cerita itu dengan senang campur heran. Dengan persetujuan suaminya, dia pun balik menceritakan mimpinya kepada adiknya. Mendengarkan cerita kakaknya dari awal sampai dengan akhir, Bok Bei hanya terdiam keheranan. Setelah terdiam begitu lama, Bok Bei menimpali kakaknya, "Aduh, Mbakyu, mimpi Mbakyu pertanda baik! Mudah-mudahan menjadi kenyataan. Kita lihat saja bagaimana selanjutnya. Aku benar-benar yakin bahwa anak yang ada dalam kandungan ini akan memperoleh peruntungan yang bagus."

"Aku juga berharap demikian, Adikku!"

"Supaya kita selamat semua, Mbakyu selamat, anak yang dikandung juga selamat, sebaiknya sekarang kita melaksanakan nazar terlebih dahulu. Kita mengadakan kenduri tiga perangkat."

"Sesukamulah, Adikku. Aku juga tidak begitu paham dengan adat kenduri tiga perangkat itu. Kamu pasti paham karena sudah lama tinggal di istana. Tentunya permaisuri sudah biasa menjalankan berbagai adat."

"Benar, Mbakyu! Seperangkat pertama nasi rogoh, nasi liwet yang ditaruh di dalam kendil dilengkapi dengan lauk-pauk secukupnya. Cara pembagiannya dicakup dengan tangan, ikannya dibagi rata. Nasi rogoh ini disebut juga nasi berkah, dibagi-bagikan kepada lima orang. Kedua, bubur procot namanya. Bubur cacad diberi santan dilengkapi dengan gula aren. Dan, yang ketiga kupat luwar. Tiga perangkat inilah yang harus kita adakan."

Nyai Jagasura terkagum-kagum pada kepandaian adik iparnya. Dia pun sekali-sekali pernah mendengar itu, tetapi belum pernah melaksanakannya. Baru sekaranglah dia akan bernazar dengan melaksanakan kenduri tiga perangkat. Bok Bei melanjutkan, "Selebihnya Mbakyu yang mengatur. Buah tanganku mencukupi untuk kenduri tiga perangkat."

Bok Bei memanggil para pembantunya yang sedang beristirahat di balai-balai. Dia pun mengatur segala keperluan untuk kenduri. Para pembantunya tidak perlu mendapat perintah dua kali. Mereka melaksanakan semua keinginan majikannya.

Kenduri tiga perangkat telah selesai dilaksanakan. Pada saat yang bersamaan Nyai Jagasura merasakan mulas di perutnya. Dukun bayi yang sejak kenduri sudah berada di sana membimbing Nyai Jagasura. Tak ketinggalan Kiai Jagasura mengusap-usap ubun-ubun kepala istrinya. Tetangga dekat pun banyak yang membantu persalinan Nyai Jagasura. Tak lama kemudian terdengarlah jeritan si bayi pertanda Nyai Jagasura sudah melahirkan. Plasenta keluar mengikuti jabang bayi. Semuanya berjalan lancar tak kurang suatu apa pun.

"Perempuan, Nyai! Bayimu seorang perempuan," kata orang-orang yang menunggui kelahiran itu.

"Aduh, cantiknya!"

"Cantik melebihi ibunya!"

Bayi perempuan itu memang sangat cantik berbinar-binar cerah. Gubuk itu pun seperti menjadi lebih berkilau terkena cahaya si bayi. Kiai Jagasura dan istrinya tersenyum bahagia. Rasa lelah dan sakit seketika hilang menyaksikan buah hatinya yang sempurna. Dukun bayi dengan cekatan mengurus si bayi, membersihkan dan memandikannya sampai bersih. Bayi mungil itu semakin tampak kecantikannya. Yang menyaksikan merasa lega. Tetangga yang membantu senang semua. Laki-laki dan perempuan siap bekerja membantu yang empunya gubuk. Demikian pula, para pembantu yang datang dari kota bekerja dengan cepat, terampil, dan mahir.

Para ibu menanak nasi dibantu oleh para bapak yang menyiapkan kayu bakarnya. Ada pula yang meracik, masak air minum, dan mengambil air untuk persediaan para tamu. Para ketua desa Palar Legen senang membantu Bok Bei. Semuanya menurut kepada priayi yang kuat dan tangguh dalam melakukan kewajiban, dan selalu melaksanakan semua tugas tanpa menggerutu.

Bok Bei perilakunya dermawan dan banyak akal. Meskipun tidak terlalu kaya, tetapi sikapnya welas asih, mengasihi dan menyayangi semua orang. Dalam melakukan setiap pekerjaan dia ikhlas melakukannya. Dan, apabila sesuatu yang diinginkannya tidak tercapai, dia pun tidak kecewa. Oleh karena itu, segala keinginan baiknya selalu diridai oleh Yang Maha Memberi Hidup. Karena perilakunya yang baik itu pula, dia disayangi oleh raja dan dijadikan sebagai teladan di mana-mana. Permaisuri raja pun sangat menyayanginya.

Bok Bei memang bersikap terpuji. Di mana pun dia berada selalu rajin bekerja. Terhadap keluarga dia juga bersikap hangat, akrab, dan bersahabat sehingga siapa pun tidak ada keraguan berada di samping Bok Bei.

Selama tinggal di rumah kakaknya, Kiai Jagasura, Bok Bei membenahi gubuk tempat tinggal kakaknya. Gubuk itu diperpantas, ditata kembali supaya tampak asri. Tiang-tiang penyangga gubuk yang rapuh digantinya dengan tiang-tiang kayu yang lurus dan kokoh. Dinding gubuk yang tidak pernah mengenal cat, dicatnya dengan warna cerah. Gubuk itu pun kini tidak beralaskan tanah dan batu kerikil, tetapi berlantai semen. Gubuk Kiai Jagasura menjadi cantik dan menyenangkan. Selain itu, sosoknya menjadi indah sehingga siapa pun yang memandang terkagum-kagum.

Sementara itu, si bayi mungil sudah berumur sepekan. Bok Bei kembali disibukkan dengan hajatan acara selamatan sepekanan bayi. Saat itu si bayi merah baru mendapat nama. Bok Bei Sudiradirja dengan disaksikan semua orang memberi nama pada bayi itu.

"Kakang Jagasura dan Mbakyu, sebagai tanda kasih sayangku kepada keponakanku yang manis ini dengan disaksikan semua yang hadir di sini, aku memberi nama bayi ini Rara Mulatsih.”

"Terima kasih, Adikku Bok Bei! Kamu baik sekali! Sejak pertama datang ke sini membawa segala macam makanan, dan sekarang kamu pula yang memberi nama anakku," kata Nyai Jagasura.

"Nama yang bagus, Bok Bei, tetapi tidak ada salahnya aku juga akan memberikan nama panggilan untuk anakku. Nama panggilan sehari-hari anakku adalah Rara Beruk!" seru Kiai Jagasura.

Mendengar nama Rara Beruk, semua orang yang ada di situ tertawa terpingkal-pingkal karena lucu. Bukan kata rara-nya yang lucu, melainkan sebutan beruk terasa janggal di telinga.

"Kiai, apakah engkau tidak salah memberi nama anakmu? Kata beruk akan mengingatkan orang pada kera besar yang berekor pendek dan kecil. Kasihan anakmu yang cantik dan menawan itu disebut beruk," kata salah seorang yang berkeberatan dengan nama beruk itu.

"Ya, memang nama beruk akan mengingatkan kita pada seekor kera. Akan tetapi, beruk di sini bukanlah kera, bukan pula berarti takaran beras atau mangkuk untuk tempat jamu yang terbuat dari batok kelapa, dan juga bukan beruk yang artinya gayung air," kata Kiai Jagasura menerangkan.

"Jika ini bukan itu bukan, apa artinya beruk bagi anakmu, Kiai?"

"Kata beruk untuk peringatan kelak karena pada saat kelahirannya rezekinya bruk-brukan. Kata bruk atau umbruk artinya kan barang yang bertumpuk-tumpuk! Seperti itulah barang-barang yang kumiliki sekarang sejak lahirnya anakku."

Mendengar keterangan Kiai Jagasura, semua yang hadir di sana mengangguk-anggukkan kepala tanda paham akan maksud Kiai Jagasura yang menamai anaknya Rara Beruk.

•••


RARA BERUK DALAM ASUHAN BIBINYA




Pesona bayi adalah pesona bunga-bunga. Bunga-bunga yang indah dipandang mata. Ulahnya selalu menawan. Tangisnya yang nyaring, gerakannya yang menggemaskan, dan senyumnya yang lucu tanpa dosa. Sinar matanya yang polos bening mampu memadamkan murka seorang ayah. Tangisan dan tawanya juga mampu mendatangkan kerinduan seorang ibu jika sebentar saja tidak menimangnya.

Tidak kasih sayang sang ayah-ibu kepada si Rara. Demikian pula bibinya, Bok Bei, yang masih tinggal di Palar Legen, yang sangat menyayangi keponakannya. Mereka bersatu padu mengurus Rara Beruk seorang, baik makanan maupun pakaiannya tidak kurang sedikit pun. Semuanya tercukupi dengan baik sehingga Rara Beruk sejak bayi sudah merasakan kesejahteraan yang layak dan memadai.

Di antara orang-orang itu yang paling memerhatikan dan menyayangi Rara Beruk adalah bibinya. Bok Bei tidak sekadar menyayangi dengan melimpahi semua kebutuhan Beruk, tetapi memerhatikan pula masa depannya. Bok Bei sungguh menyayangkan nasib Rara Beruk kelak jika dia tetap tinggal di Palar Legen. Sudah dipastikan keponakannya tidak akan mendapatkan pendidikan yang layak sebagai perempuan. Kecantikannya pun yang telah membayang sejak bayi kelak tidak akan menarik perhatian para pemuda kota dan para pembesar istana karena Beruk tinggal di desa. Paling-paling Beruk akan memperoleh suami dari kalangan sesamanya yang ada di desa itu.

Dengan pertimbangan seperti itu Bok Bei berniat mengambil Rara Beruk sebagai anak angkatnya. Dengan sangat hati-hati Bok Bei mengutarakan maksudnya krpada Kiai Jagasura dan istrinya, "Kakang Kiai dan Mbakyu Jagasura, aku benar-benar sangat menyayangi Rara Beruk. Aku ingin merawatnya, mendidiknya, mengantarkannya menjadi seorang gadis yang santun dan hormat kepada orang tua. Kakang dan Mbakyu pasti tahu aku tidak mungkin selamanya tinggal di sini. Jika Kakang dan Mbakyu berkenan dan tidak keberatan, anakmu si Rara akan kuambil anak agar kasih sayangku kepadanya tidak terputus."

Kiai Jagasura dan istrinya saling pandang. Terlebih dengan Nyai Jagasura yang belum lupa rasa sakit saat melahirkan. Kiai Jagasura dan istrinya hanya berdiam diri belum memberi jawaban. Bok Bei sangat memahami perasaan kakaknya. Buru-buru dia meneruskan perkataannya, "Tenanglah, Mbakyu, aku juga memahami perasaan Mbakyu, yang tentunya tidak ingin cepat-cepat berpisah dengan si Rara. Aku pun tidak akan membawanya sekarang. Sungguh sayang air susumu yang masih deras mengalir itu terbuang percuma. Jika Mbakyu sudah puas mengurusnya, menimangnya, dan jika si Rara sudah besar kelak, barulah Mbakyu mengantarkan dia ke kota."

Sungguh lega perasaaan Nyai Jagasura. Biar bagaimanapun perasaan seorang ibu, apalagi ibu yang baru melahirkan, tentu tidak ingin melepaskan anaknya meskipun kepada bibinya. Namun, jika sudah besar dan si anak sudah bisa mengurus dirinya sendiri dia pun tidak keberatan. Apalagi bibi si anak itu hanya ingin mengurus sementara dengan maksud yang mulia, yakni ingin mendidik anaknya.

Nyai Jagasura belum mengiakan maksud adik iparnya, Bok Bei langsung menyambung lagi, "Mbakyu, lebih baik si Rara tinggal di kerajaan. Di sana akan diajarkan sopan santun dan budi pekerti agar terampil tingkah lakunya sebagaimana cara hidup priayi. Jika kelamaan di sini Rara hanya akan mengikuti cara hidup orang desa sehingga kelak kalau punya suami ya tak beda dengan si Kakang. Sedangkan di kota kalau lagi beruntung mungkin saja Rara mendapatkan suami seorang priayi sehingga derajatnya terangkat dan mengharumkan kedua orang tuanya."

Kiai Jagasura dan istrinya mengangguk-angguk membenarkan perkataan adiknya. Setelah keduanya berunding, Kiai Jagasura dan istrinya tidak menolak kehendak adiknya. Keduanya menyerahkan saja pada belas kasih adiknya. Keduanya pun paham benar bahwa anaknya si Rara di bawah asuhan bibinya tidak akan pernah kekeringan kasih sayang.

"Adikku Bok Bei, kami pasrah saja dan akan mengikuti kehendakmu. Nanti, kalau sudah waktunya, kami bersungguh hati akan mengantarkan Rara Beruk kepadamu."

"Benar, Iparku! Aku tunggu kedatanganmu di sana!"

"Biarlah dalam beberapa tahun ini si Rara dalam perawatanku. Akan kurawat perkembangan badannya. Kusiapkan fisiknya biar kuat. Kelak Adikku tinggal mendidiknya dengan berbagai ilmu yang aku sendiri tidak dapat memberikannya. Hal-hal seperti itu memang kamulah yang pandai!"

Bok Bei Sudiradirja puas mendengar perkataan kakaknya. Dia pun sudah lega jika meninggalkan Palar Legen. Dan, Bok Bei memang akan segera pamit karena urusannya di Palar Legen sudah rampung.

"Kakang, urusanku di sini sudah beres. Sekarang saatnya aku pulang. Mas Bei pasti sudah menungguku di sana!"

"Baiklah, Adikku, kami mengucapkan banyak terima kasih atas segala pertolongan dan perhatian Bok Bei! Maafkanlah kesalahan kami selama Bok Bei tinggal di sini. Kami pun merasa bersyukur dengan kedatangan Bok Bei; benar-benar kami merasa tertolong dalam segala hal."

"Ah, janganlah berkata begitu, Kakang! Jangan terlalu berlebihan! Sudah sepantasnya sesama saudara tolong-menolong. Kini saya menolong Kakang, siapa tahu kelak aku membutuhkan pertolongan Kakang. Aku pamit, Kakang!"

"Baiklah, Adikku! Selamat jalan! Sampaikan salam kami kepada Dinda Mas Bei!"

Bok Bei Sudiradiraja berangkat diiringi para pembantunya. Kiai Jagasura dan istrinya mengantarkannya sampai ke luar rumah. Di luar rupanya sudah menunggu pembantu lainnya yang siap mengantarkan Bok Bei ke kota.

Sementara itu, Kiai Jagasura dan istrinya kembali ke dalam gubuknya dengan perasaan senang. Kiai Jagasura dan istrinya mengurus putrinya, Rara Beruk, dengan sungguh-sungguh. Meskipun demikian, dia tidak larut dengan kehadiran putrinya. Kiai Jagasura kembali berkebun seperti dulu. Yang berbeda hanyalah rezekinya. Sejak kelahiran Rara Beruk, rezeki Kiai Jagasura deras mengalir. Segala usaha yang dilakukannya berhasil dengan lancar dan terus-menerus mendatangkan rezeki.

Benar kata pepatah orang tua, anak membawa rezekinya masing-masing. Dan, Rara Beruk yang bruk-brukan membawa rezeki Kiai Jagasura menjadi bertumpuk-tumpuk. Seketika Kiai Jagasura menjadi kaya, hidupnya nyaman.

"Sudah sepantasnya aku begini," renung Kiai Jagasura dalam hati. "Sudah puas aku hidup dalam kemiskinan, jangan sampai terulang dua kali. Hidup miskin cukup sekali saja! Lebih baik hidup kecukupan dan berkembang daripada kekurangan!"

Untuk itulah Kiai Jagasura semakin giat bertani sebagai upaya memperlancar rezekinya. Dia pun membuat gula merah dari kelapa dan menjualnya ke pasar. Pekerjaan utama Kiai Jagasura kini berjualan gula kelapa. Sedikit demi sedikit untungnya ditabung. Dan, rezekinya pun ajek sehingga Kiai Jagasura bisa membeli kerbau dan sapi dua pasang. Kerbau dan sapinya dimanfaatkan untuk mengolah lahan pertaniannya. Waktu senggangnya digunakannya untuk menata tanamannya dan mengaturnya dengan rapi. Pagar dan pintu gubuknya pun diganti dengan yang lebih bagus.

Beberapa tahun kemudian jerih payah Kiai Jagasura membuahkan hasil. Dia mampu membangun rumah. Gubuknya yang reyot dan atapnya yang condong dengan penyangga bambu sudah tidak tampak lagi. Kini yang terlihat bangunan rumah yang kokoh. Pintu masuk ke halaman rumahnya berupa gapura dari tembok. Meskipun sederhana, tetapi menampilkan wibawa pemiliknya. Bangunan rumahnya terdiri atas tiga bubungan yang cukup bergaya, beratap genting dengan hiasan di sana-sini. Dindingnya kayu jati yang mengkilap oleh pernis baru. Pekarangannya amat luas dengan rumah-rumah yang lebih sederhana di kiri dan kanan bangunan utama.

Rumah-rumah tambahan ini di dalamnya sarat dengan tumpukan karung-karung gula kelapa, dagangan utama Kiai Jagasura. Semua orang Palar Legen akan berdecak kagum jika lewat di depan rumahnya. "Inilah rumah yang sebenar-benarnya rumah! Rumah yang serasi dan selaras dengan alam sekitarnya." Demikian celoteh kebanyakan orang yang mengagumi wujud rumahnya.

Kiai Jagasura dan istrinya tidak berubah perangai meskipun telah menjadi orang kaya. Orang-orang sekitarnya tidak meninggalkannya. Bahkan, di antara mereka banyak yang tinggal bersama Kiai Jagasura. Mereka yang tinggal di sana diberi kamar yang pantas di bagian pinggir. Banyak juga lelaki dan perempuan pekerja yang tinggal di rumah itu sekaligus menjaga rumah pemiliknya. Siang malam rumah Kiai Jagasura memang dijaga.

Tahun berganti tahun, dan waktu berlalu begitu cepat. Rara Beruk pun usianya kian bertambah. Kini dia berusia delapan tahun. Sebagai anak semata wayang, Rara Beruk begitu dimanjakan. Kedua orang tuanya senantiasa membelikan pakaian dan memberikan makanan yang lezat-lezat. Pendek kata, Rara Beruk tidak kekurangan suatu apa pun. Pada usia itu Rara Beruk senang bermain jual-jualan meniru pekerjaan ayahnya. Teman sepermainannya di Palar Legen cukup banyak. Rara Beruk benar-benar menikmati masa kecil yang bahagia.

Menginjak usia sebelas tahun, orang tuanya teringat kepada adiknya, Bok Bei di kota. Dan, teringat pula pada janjinya yang akan menyerahkan Rara Beruk dalam asuhan bibinya. Dengan sedikit pengertian oleh ibunya, Rara Beruk memahami maksud dan tujuan orang tuanya yang akan mengirimnya ke rumah bibinya di kota.

"Anakku Beruk, usiamu sudah menginjak sebelas tahun. Sudah saatnya seusia itu menerima berbagai ajaran luhur dan mengenal adat-istiadat para leluhur kita. Namun, ibu tidak dapat memberikan semua itu kepadamu. Yang mampu mengajarimu hal itu hanyalah bibimu yang tinggal di kota. Oleh karena itu, esok ibu akan mengantarkanmu ke sana!"

"Aku paham, Bu! Aku akan mengikuti semua kehendak Ibu!”

"Kamu memang anak yang manis, Beruk! Jangan lupa di sana pun kamu harus menjaga diri baik-baik. Apa pun yang dikatakan oleh bibimu, kamu harus menaatinya!"

"Baiklah, Bu! Aku akan melaksanakan seluruh perkataan Ibu!"

"Nah, sekarang mainlah kembali, teman-temanmu dari tadi sudah menunggu!"

Rara Beruk keluar sambil berlari. Dia memang masih kanak-kanak. Sifat kekanak-kanakannya masih melekat pada dirinya. Padahal, mulai esok hari dia harus meninggalkan semua permainannya sebagai anak-anak karena bibinya akan mengajarinya dengan berbagai ajaran luhur.

Esoknya, Nyai Jagasura menepati janjinya kepada Bok Bei Sudiradirja. Dia membawa Rara Beruk ke kota. Tiba di kota, Nyai Jagasura langsung menuju rumah adiknya. Tentu saja Bok Bei gembira menyambut kedatangan kakak ipar dan keponakannya.

"Selamat datang, Mbakyu! Beruk, kamu makin cantik saja!" sapanya sambil memeluk Nyai Jagasura dan Rara Beruk.

"Bok Bei, kami datang memenuhi janjiku! Beruk kini sudah berusia sebelas tahun. Lihatlah! Tinggi badannya hampir menyamaiku!"

"Benar, Mbakyu! Beruk, kamu tinggal di sini, ya, bersama Bibi?"

Rara Beruk mengangguk malu-malu. Maklum, dia belum akrab dengan bibinya.

"Bok Bei, kini aku memercayakan anakku kepadamu! Sesungguhnya aku tidak ingin berpisah dengan Beruk. Akan tetapi, mengingat masa depannya, si Beruk aku pasrahkan kepadamu. Sekali-kali kirimlah kabar kepadaku mengenai perkembangan anakku itu," kata Nyai Jagasura kepada adik iparnya.

"Ah. sesungguhnya Mbakyu tidak usah lagi merisaukan Rara Beruk. Cukuplah aku yang menjadi emaknya. Aku bisa mengurusnya. Aku bisa membelikan baju yang terbaik baginya. Aku juga bisa mendidiknya menjadi seorang putri. Pokoknya, apa yang bisa kauberikan kepada Rara Beruk, aku pun bisa melakukannya secara lebih baik. Dan, jangan khawatir, bila sudah dewasa kelak, dia tetap tidak akan melupakan perempuan yang telah melahirkannya. Sekarang, biarlah dia menjadi anakku untuk sementara waktu."

"Aku memang percaya kepadamu, Bok Bei!" kata Nyai Jagasura dengan senyum mekar di bibirnya. Nyai Jagasura merasa tidak mungkin berbohong bahwa sesungguhnya dia berbangga hati karena anaknya berada dalam asuhan adik iparnya, seorang dayang utama permaisuri raja. Suatu kesempatan yang mustahil terjadi untuk anak-anak gadis Palar Legen.

Nyai Jagasura tidak berlama-lama di rumah Bok Bei. Setelah beristirahat semalam, dia kembali ke Palar Legen. Tinggallah Rara Beruk di rumah bibinya, di tempat keluarga Mas Bei Sudiradirja.

Bok Bei setelah bersama-sama Rara Beruk tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pertama-tama Bok Bei mengajari Rara Beruk sopan santun. Bagaimana sikap seorang dayang istana apabila berhadapan dengan permaisuri atau raja, "Beruk, ketika memasuki wilayah istana, engkau berjalan sedikit membungkuk. Janganlah sekali-kali bersikap biasa atau menegakkan badanmu! Perhatikan gerakanku ini, tekuklah tulang punggungmu!"

Rara Beruk memerhatikannya dengan baik. Kemudian, dia mempraktikkannya berkali-kali sampai gerakannya luwes dan tidak tampak dibuat-buat.

"Sekarang, jika kamu menghadap Permaisuri atau Raja jika sewaktu-waktu dipanggil, menghampirinya dengan cara jongkok. Sebelum berbicara kamu duduk bersila, dan jangan lupa menyembah. Nah, sekarang lihatlah gerakanku! Begini caranya, Beruk!"

Tanpa menunggu perintah dua kali Rara Beruk mengikuti beberapa gerakan yang diisyaratkan oleh bibinya.

"Cobalah beberapa kali kamu lakukan lagi," kata Bok Bei kepada Rara Beruk.

Rara Beruk pun mencobanya sampai semuanya lancar. Bok Bei tersenyum memerhatikan tingkah Beruk, "Beruk, untuk hari ini cukuplah empat gerakan yang kamu pelajari. Istirahatlah!”

"Baiklah, Bibi!" jawab Rara Beruk dengan sopan.

Esok hari Bok Bei sudah kembali bersama-sama Rara Beruk. Hari itu Bok Bei mengajari Rara Beruk bagaimana caranya melayani serta meracik sirih. Pengetahuan ini penting diketahui oleh seorang dayang. Jika sewaktu-waktu permaisuri ingin menyirih, dayangnya harus terampil melayani dan meracik sirihnya.

Esoknya lagi Bok Bei mengajari Rara Beruk tindak-tanduk seorang priayi. Seorang priayi apalagi seorang perempuan harus santun, lemah-lembut, halus ucapannya tetapi jelas.

"Pokoknya luwes dan lembut dalam segala tindak-tanduknya," kata Bok Bei kepada Beruk.

"Baiklah, Bibi, ananda akan mencobanya," kata Rara Beruk dengan santun.

Selama berhari-hari Rara Beruk belajar seperti layaknya seorang murid yang bersekolah. Rara Beruk pun tidak bermalas-malasan sehingga dengan cepat dia dapat menguasai segalanya. Bok Bei pun memuji Rara Beruk yang tanggap menerima berbagai ajaran yang diberikannya.

"Beruk, menurutku pelajaran sopan santun dan tata cara menghadap Permaisuri dan Raja sudah cukup. Mulai besok kita belajar bagaimana sebaiknya sikap seorang perempuan."

"Ya, Bibi!"

Bok Bei kali ini memberikan pesan-pesannya kepada Rara Beruk, "Genduk, sebagai seorang perempuan kamu harus gemi, satiti, surti, dan ngati-ngati. Pahamilah satu per satu arti kata-kata itu. Berjanjilah, setelah kamu mengetahui semua itu, jangan sekali-kali mengingkarinya. Bukan berarti kita tidak boleh melakukan hal-hal yang salah, melainkan kita harus berusaha bersikap seperti itu."

"Ya, Bibi, tetapi tolong jelaskan apa arti kata-kata itu. Ananda memang pernah mendengar kata gemi atau satiti, tetapi sama sekali buta artinya."

"Genduk, yang disebut gemi itu hemat. Jadi, kamu harus berhemat. Jangan suka berlaku boros. Kamu juga harus tekun dan pantang menyerah dalam segala hal kalau hidupmu ingin berhasil!"

"Bi, surti dan ngati-ngati maksudnya apa?"

"Surti itu tahu asal-usul, sedangkan ngati-ngati jelasnya jangan sampai membuat rusak segala yang kamu lakukan. Jika kelak engkau mengabdi, jangan sampai berbuat semaumu. Sifat pelupa juga tidak baik karena pada akhirnya akan luput dari jangkauan, dari harapan."

Bok Bei sangat terperinci dalam memberikan wejangan pengetahuan kepada keponakannya yang sudah benar-benar dianggap anak kandung sendiri. Cinta kasihnya kepada Rara Beruk tercurah sepenuh hati. Bahkan, sudah merasuk ke dalam sanubarinya. Bok Bei sudah tidak sungkan-sungkan lagi kepada Rara Beruk. Jika Rara Beruk melakukan kesalahan tidak dibiarkannya, tetapi ditegurnya dengan halus dan lembut, dan ditunjukkan letak kesalahannya. Sebaliknya, jika Rara Beruk berbuat hal-hal yang menyenangkan, Bok Bei juga tidak segan-segan memujinya.

Rara Beruk pun mempunyai perasaan yang sama terhadap bibinya. Bok Bei Sudiradirja sudah seperti ibunya sendiri. Dalam hatinya, Rara Beruk berterima kasih kepada Bok Bei yang telah mengajarinya bermacam-macam pengetahuan. Rara Beruk semakin lama semakin bersemangat mempelajari adat kehidupan kota dan tata cara hidup priayi. Rara Beruk menjadi tahu perbedaan cara hidup orang kota dengan orang desa. Tingkah laku orang kota, ucapan serta tingkah lakunya serbapantas; sebaliknya, tata cara hidup orang desa hanya asal tahu saja. Beruk beranggapan, seandainya orang desa mengetahui tata cara hidup orang kota yang penuh dengan adat sopan santun, dan menjaga tindakan dan perilaku yang baik, dapat dipastikan orang desa itu akan tertarik pada tata cara hidup orang kota.

•••


RARA BERUK MENGABDI DI KEPUTREN




Konon Kiai Ngabei Sudiradirja tidak berbeda dengan istrinya, Bok Bei dalam hal menyayangi keponakannya, Rara Beruk. Sedikit pun tidak ada rasa ragu untuk memperlakukan keponakannya sebagai anak kandung sendiri. Kasih sayangnya tercurah sepenuhnya untuk keponakannya itu.

Demikian pula dengan Rara Beruk. Dia seorang anak yang mempunyai kepekaan luar biasa. Dalam setiap tidur dan mimpinya, terlebih dalam keseharian, dia menangkap ketulusan hati seorang ayah dan ibu yang senantiasa membuainya. Mata batin seorang anak mampu merekam segalanya. Bukan hanya denyut jantung Kiai Ngabei dan Bok Bei yang tenang ketika berada di dekat Rara Beruk, melainkan juga segala sudut batinnya yang selalu mengalirkan kasih sayang kepada sang keponakan.

Karena sayangnya, Kiai Ngabei Sudiradirja tidak tega membiarkan Rara Beruk terus-menerus sendiri tinggal di rumah, sedangkan dia dan istrinya sibuk di istana. Keinginannya itu diutarakannya kepada istrinya, "Istriku, bagaimana dengan Rara Beruk? Apakah sekarang dia sudah mempunyai keterampilan?"

"Rara Beruk otaknya encer. Dia cepat terampil dan tanggap menerima ajaran-ajaran yang aku berikan. Kenapa Kang Mas menanyakannya?"

"Ya, kalau memang sudah siap, kita bawa saja ke istana. Aku khawatir meninggalkannya terus-menerus di rumah tanpa teman!"

"Aku juga sependapat dengan Kang Mas. Kebetulan sekarang aku akan ke keputren. Siapa tahu permaisuri berkenan kepada Rara Beruk."

"Nduk … Genduk ...," Bok Bei memanggil-manggil Rara Beruk.

Rara Beruk tergopoh-gopoh menghampiri ibu angkatnya, "Ya, Bi. Ada apa? Bukankah hari ini Bibi tidak mengajariku?"

"Benar, Nduk! Hari ini Bibi akan ke keputren sekalian mengajakmu berjalan-jalan ke sana. Siapa tahu Kanjeng Ratu suka kepadamu."

Tentu saja Rara Beruk senang mendengarnya. Bayangan istana kerajaan dan tata caranya yang selama ini diperkenalkan bibinya akan dilihatnya secara langsung.

"Benarkah, Bibi?" tanyanya dengan sorot mata berbinar.

"Tentu saja benar! Kita juga sudah mendapat restu dari ayahmu."

"Ya, Genduk! Pergilah ....”

"Kalau demikian, cepatlah berkemas! Pakailah pakaian yang pantas," kata Bok Bei.

Rara Beruk bersenandung kecil lari-lari ke kamarnya. Kedua orang tua angkatnya menyaksikan dengan senyum penuh arti.

Bok Bei Sudiradirja dan Rara Beruk pun pergi ke keputren. Tujuannya akan menghadap permaisuri raja, Kanjeng Ratu Kancana. Kanjeng Ratu Kancana yang juga bernama Kancana Wungu berasal dari Menangan. Ayahnya Pangeran Harya Dipamenang asli berdarah Madura. Adiknya lelaki bernama Dyan Harya Endranata Wresnindra.

Kanjeng Permaisuri Kancana kecantikannya tak terkatakan. Cantik ibarat melati yang sedang mekar. Perawakannya ramping, tetapi lurus dan agak lancip. Meskipun begitu dia cukup gesit. Sifatnya agak peragu dan berhati-hati dalam berbicara. Sesungguhnya dia bebas berbuat apa saja karena Kanjeng Sinuhun Pakubuwana, suaminya, begitu melindungi istrinya.

Ketika itu Kanjeng Permaisuri Kancana sedang dihadap oleh seorang dayang. Dari dalam Kanjeng Permaisuri melihat kedatangan Bok Bei Sudiradirja yang diiringi seorang gadis yang tidak dikenalnya.

"Bok Bei, kemarilah!" serunya melambaikan tangan kepada Bok Bei.

Bok Bei dan Rara Beruk berjalan sambil sedikit menekukkan tulang punggungnya tanda hormat kepada sang Ratu. Begitu masuk ke ruangan, dua perempuan itu pun berjongkok. Sedikit demi sedikit keduanya berjalan dalam posisi jongkok. Rara Beruk tampak tidak canggung. Dia kelihatannya sudah terbiasa melakukannya. Hanya sikapnya sedikit kaku, maklum, baru pertama kali dia menghadap Kanjeng Permaisuri.

Kanjeng Ratu Kancana berkata manis semanis madu terbaik dari Sumbawa.

"Mendekatlah kemari, Bok Bei. Tumben sekali engkau dikuti seorang perempuan. Gadis siapakah ini? Wajahnya manis, dandanannya pantas dan begitu serasi. Akan tetapi, kenapa, Nduk, gerakanmu agak kaku?" sapanya penuh kehangatan.

Sebelum menjawab, Bok Bei menyembah memberi hormat kepada Kanjeng Permaisuri, "Terimalah sembah sujud kami, Kanjeng Permaisuri. Kenalkanlah, ini keponakan hamba dari Palar Legen. Sejak kecil hamba ambil anak. Namanya Rara Beruk, anak Kang Jagasura, kakak tertua hamba."

Rara Beruk membungkukkan badan memberi hormat seraya menyapa Kanjeng Permaisuri, "Kanjeng Permaisuri, kenalkan, hamba Rara Beruk, biasa dipanggil Rara atau Beruk."

Kanjeng Permaisuri Ratu Kancana langsung tertarik kepada Rara Beruk, "Rara Beruk, namamu lain daripada yang lain. Pasti orang tuamu punya alasan tertentu memberi nama itu kepadamu."

"Benar, Kanjeng Ratu. Kata ayahku, nama itu akan selalu mengingatkan pada peristiwa kelahiranku yang rezekinya bruk-brukan," Rara Beruk tersipu-sipu malu menerangkan.

"Cerdik juga ayahmu itu, Beruk. Bok Bei, berapa umur si Rara ini? Tampaknya sudah gadis remaja?"

"Sebelas tahun, Kanjeng Permaisuri. Badannya memang agak bongsor mengikuti ayahnya yang tinggi besar. Karena itulah, jika Kanjeng Permaisuri berkenan, hamba ingin menghaturkan si Rara ini kepada Kanjeng Permaisuri. Lumayanlah untuk membantu-bantu dayang lain atau melayani Kanjeng Ratu."

"Bok Bei, seandainya tidak ditawarkan pun aku akan meminta si Rara tinggal di sini. Sejak pandangan pertama aku memang sudah jatuh hati pada pribadinya."

"Aduh, Kanjeng Permaisuri, hamba benar-benar mengucapkan terima kasih. Kanjeng Permaisuri mau menerima si Rara. Maklumlah, dia belum berpengalaman kerja di keputren."

"Tidak mengapa, Bibi. Nanti ada kepala dayang keputren yang akan membimbingnya. Bawalah si Rara kepadanya."

"Baiklah, Kanjeng Permaisuri. Ayolah, Rara, kita ke sana!" ajaknya kepada Rara Beruk.

Setelah menghaturkan salam hormat kepada Kanjeng Permaisuri, Rara Beruk bersama bibinya menuju ke tempat dayang kepala. Oleh dayang kepala, Rara Beruk ditempatkan dalam kelompok palara karena tergolong masih anak-anak. Untuk sementara, Rara Beruk mendapat tugas menyapu lantai di ruang dalam istana dan melayani permaisuri.

Rara Beruk bekerja dengan sungguh-sungguh. Dia tidak pernah disuruh-suruh, tetapi selalu bekerja sesuai dengan tugasnya. Dia pun paham segala arti isyarat dan pandai menangkap maksud. Terampil bekerja dan bersikap hati-hati. Pendek kata, Rara Beruk dengan cepat dapat merebut hati Kanjeng Permaisuri Kancana Wungu dan dayang-dayang istana lainnya.

Kecantikan wajah Rara Beruk menjadi buah bibir tiap orang. Hari ke hari dia makin memesona. Orang-orang di sekitar keputren, terutama yang tua-tua, mengaku baru sekali inilah Kerajaan Surakarta yang luas ini memiliki seorang anak perempuan yang demikian cantik memukau.

"Dari hari ke hari si Beruk makin cantik saja," kata salah seorang dayang.

"Benar, selain cantik tingkah lakunya juga menyenangkan," kata yang lain.

"Bicaranya juga luwes dan gerak-geriknya tidak menampakkan dirinya berasal dari desa," dayang yang satu lagi menimpali.

"Ibarat anak raja saja si Beruk! Mustahil ada yang menyamai kecantikannya!"

"Masih kecil sudah seperti itu, apalagi kalau beranjak dewasa. Kecantikannya tentu makin sempurna. Pasti tak ada yang menandingi si Beruk!"

"Benar! Seumurku sekarang." kata seorang tua sambil mengusap-usap rambutnya yang memutih semua, "baru sekarang inilah aku melihat seorang anak dara yang demikian cantiknya."

Demikian perbincangan di antara para dayang di sela-sela pekerjaannya. Rara Beruk pura-pura tidak mendengar semua celoteh itu.

"Aku harus ingat pesan bibiku, tidak boleh tinggi hati atau besar kepala hanya karena soal ini," katanya dalam hati.

Malam gelap pekat, langit pun hanya memperlihatkan kerlipan-kerlipan bintang kecil di langit. Cahaya temaram yang dihasilkan lampu-lampu tidur dengan ukuran kecil membayang dari luar. Saat itu Kanjeng Permaisuri Ratu Kancana tidur bersama abdi dalam keputren di ruang dalam. Kamar sebelah barat yang disebut ruang Maduretnan, tidak jelas wujudnya karena malam terlalu gelap. Di sanalah Kanjeng Permaisuri tidur. Para abdi dalam seperti Nyi Tumenggung, Nyai Lurah, dan bawahannya, menemani Kanjeng Permaisuri di ruang dalam, diikuti oleh kelompok anak-anak, emban, dan dayang-dayang keputren yang tidur di antara ruang dalam dan luar.

Di ruang itu semua perempuan, berjajar berurutan. Hanya Kanjeng Sinuhun Pakubuwana laki-lakinya seorang. Lelaki lainnya yang berhak masuk ke keputren adalah bupati yang bertugas menjaga keselamatan dan keamanan keputren. Itu pun jika diperlukan, misalnya dalam situasi gawat darurat. Jika tidak diperlukan, bupati pun dilarang ke dalam.

Tengah malam Kanjeng Sinuhun keluar dari kamarnya. Paduka hendak ke kamar kecil. Dari ruang dalam ke kamar kecil, Paduka harus melewati ruang tengah, tempat para dayang tidur. Para dayang tergeletak di lantai. Tidurnya sangat pulas. Ketika Kanjeng Sinuhun lewat, tak ada seorang pun yang terbangun. Ketika melewati para dayang anak-anak, persis di depan Rara Beruk, Kanjeng Sinuhun melihat sebuah sinar.

"Sinar apakah itu?” katanya dalam hati terheran-heran. Sinar itu terus-menerus menyala keluar dari tali pusar. Kanjeng Sinuhun diam sejenak memerhatikan sinar itu.

Untuk sejenak beliau bingung, tidak tahu apa yang harus diperbuat. Sebenarnya beliau ingin melihat sinar itu dari dekat dengan menyibakkan kain yang menutup bagian pinggang. Namun, dia khawatir yang empunya badan kaget terkena sentuhan.

"Lebih baik aku ikat saja kain ini di bagian dadanya! Talinya akan kusimpul dengan kuat sebagai tanda. Kalau kubuka sekarang, nanti dikira aku berbuat yang bukan-bukan!"

Sambil berkata demikian Kanjeng Sinuhun menyimpulkan pucuk kain si dayang. Kanjeng Sinuhun pun kembali ke kamarnya. Niat semula hendak ke kamar mandi tidak jadi. Tidak ada seorang pun yang mengetahui perbuatannya. Kanjeng Sinuhun termenung. Sinar yang menyala di tali pusar itu benar-benar mengganggu pikirannya. Beliau pun tidak dapat memejamkan matanya. Untuk menyegarkan pikirannya, Kanjeng Sinuhun keluar dan duduk-duduk di taman. Tanpa disadarinya berjam-jam beliau duduk di sana. Tak lama kemudian ayam jantan pun berkokok.

"Ah, hari sudah pagi. Aku harus buru-buru mengetahui siapa gerangan dayang yang memiliki sinar di tali pusarnya itu."

Ketika yang tergeletak tidur di keputren sudah tidak ada lagi, Kanjeng Sinuhun memanggil Bok Bei Sudiradirja, pembantu kepercayaan istrinya.

"Bok Bei! Kemarilah!" serunya kepada Bok Bei.

Yang punya nama menoleh serta tidak menduga pagi-pagi sudah dipanggil rajanya.

"Hamba, Paduka! Ada apa gerangan memanggil hamba?"

"Begini, Bok Bei, yang tidur semalam di sini segera kumpulkan. Hitung dan perhatikan satu per satu kainnya. Dayang dengan kain yang ada tanda tali simpul di dadanya, bawalah kemari!

"Untuk apa, Paduka?"

"Jangan banyak tanya dulu! Pokoknya, cari perempuan itu sampai ketemu dan jangan lupa bawalah ke hadapanku."

Meskipun tidak memahami maksud Kanjeng Sinuhun, Bok Bei tidak ingin membantah. Di kepalanya berkecamuk berbagai pertanyaan sementara dia memeriksa semua dayang, tak terkecuali Nyai Lurah dan Nyai Tumenggung yang malam itu tidur di keputren. Tidak susah dan tidak perlu lama-lama Bok Bei mencari karena dayang yang dimaksud dengan mudahnya ditemukan. Di antara rasa senang karena berhasil melaksanakan perintah Kanjeng Sinuhun, Bok Bei juga terkejut karena kain yang disimpul di dadanya ternyata milik Rara Beruk, keponakannya.

"Nduk, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kainmu disimpulkan?"

"Ananda juga tidak tahu, Bi! Siapa yang berbuat seperti ini kepadaku?" Rara Beruk bertanya-tanya sambil memerhatikan ujung kain di dadanya yang sudah tersimpul.

Bok Bei berdebar-debar jantungnya tidak menduga peristiwa apa yang bakal terjadi kepada keponakannya. Sambil menggamit lengan Rara Beruk, dia membawanya menghadap Kanjeng Sinuhun. Bok Bei sempat juga berbisik-bisik kepada keponakannya untuk menenangkan Rara Beruk yang gemetaran, "Nduk, tenanglah! Kalau kamu tidak merasa berbuat salah, jangan cemas! Kita berada di pihak yang benar."

"Akan tetapi, Bibi, apa yang telah terjadi? Dan aku hendak dibawa ke mana?"

"Aku juga belum tahu apa yang terjadi, Nduk! Sekarang kita akan menghadap Kanjeng Sinuhun, penguasa negeri ini!"

Rara Beruk sebenarnya ingin bertanya lagi, tetapi bibinya tidak memberi kesempatan kepadanya untuk bertanya lagi. Akhirnya dia diam saja mengikuti langkah-langkah bibinya yang tergesa-gesa.

Setelah berada di hadapan Kanjeng Sinuhun, Bok Bei diperintahkan untuk membubarkan para dayang yang sejak tadi mengikutinya dan sekarang kelihatan masih berkerumun di luar.

"Bok Bei, bubarkan dulu orang-orang itu! Pembicaraan kita nanti terdengar ke luar! Aku ingin berbicara empat mata denganmu; kecuali si dayang itu, dia boleh tinggal di sini!" katanya sambil menunjuk Rara Beruk.

Bok Bei semakin tidak memahami maksud Kanjeng Sinuhun, tetapi pergi juga dia ke luar membubarkan kerumunan para dayang.

"Tutup rapa-rapat pintunya, Bok Bei! Sedapat mungkin hanya kita yang tahu. Watak orang kan bermacam-macam, bisa-bisa nanti membuat gara-gara kalau mendengar pembicaraan kita," perintah Kanjeng Sinuhun kepada Bok Bei.

Bok Bei masih belum menangkap maksud perkataan Kanjeng Sinuhun. Dia duduk dengan Rara Beruk yang diam menunduk di sampingnya.

Tidak lama kemudian terdengar Kanjeng Sinuhun berkata, "Bok Bei, tahukah kamu bahwa salah satu adat kita di Kerajaan Jawa ini, jika tali pusar seseorang menyala dan terang bersinar melebihi kelap-kelip bintang di langit, orang itu mendapatkan wahyu, yakni kewibawaan wahyu Kerajaan Jawa."

"Hamba pernah mendengar hal itu, tetapi belum pernah melihatnya, Paduka!"

"Aku juga belum pernah mengalaminya, Bok Bei! Namun, semalam, ketika semua orang tertidur lelap seperti terkena sirep, aku memperoleh isyarat agar melihat sinar itu. Aku pun terbangun; dan benar saja aku melihat sinar terang menyala-nyala keluar dari tali pusar seorang dayang."

"Benarkah, Paduka? Milik siapa tali pusar itu?" tanyanya sambil melirik Rara Beruk yang masih tertunduk. "Jangan-jangan tali pusar si Rara?"

"Sesungguhnya aku saat itu ingin memastikan siapa gerangan dayang yang memiliki tali pusar itu, tetapi rasanya tidak pantas karena hari sudah tengah malam. Aku waktu itu hanya menalikan ujung kainnya di dada."

Sampai di sana pembicaraan Kanjeng Sinuhun, Bok Bei baru paham mengapa Kanjeng Sinuhun menyuruhnya mencari dayang yang bertanda simpul ujung kain di dadanya. Dia pun paham juga kenapa hal ini tidak boleh didengar oleh orang lain.

"Bok Bei! Anak inikah yang ujung kainnya disimpulkan?" tanya Kanjeng Sinuhun sambil ujung matanya melirik Rara Beruk.

Rara Beruk sempat terkejut dirinya ditanyakan oleh Kanjeng Sinuhun. Bok Bei segera menerangkan, "Benar, Paduka! Nduk, perlihatkanlah tali simpul kainmu itu kepada Paduka! Perkenalkan Paduka, dayang ini adalah Rara Beruk, keponakan hamba."

Rara Beruk dengan malu-malu memperlihatkan ujung kainnya yang masih tersimpul dengan kuatnya. Kanjeng Sinuhun memerhatikan ujung kain itu.

"Benar, kain inilah yang kusimpulkan ujungnya," katanya puas.

"Bok Bei, rahasiakanlah hal ini!" kata Kanjeng Sinuhun sambil mencuri-curi pandang kepada Rara Beruk. Untuk sejenak mata Kanjeng Sinuhun terpaku kepada Rara Beruk yang masih menunduk sambil bergumam dalam hatinya, "Meskipun kamu duduk menunduk dan masih kanak-kanak, daya tarikmu sebagai perempuan sudah mulai tampak."

"Bok Bei, pembicaraan kita sudah selesai. Ingatlah pesanku tadi. Dan, jangan lupa, jagalah Rara Beruk ini baik-baik," katanya dengan senyum penuh arti kepada Bok Bei.

Bok Bei mendengar dengan jelas semua perkataan Kanjeng Sinuhun. Dalam hati dia bersyukur kepada Yang Mahakuasa telah merawat Rara Beruk, "Ternyata tak ada jeleknya merawat si Beruk. Sinar yang menyala dari tali pusarnya itu menandakan si Beruk memiliki peruntungan yang baik."

Sementara itu, Kanjeng Permaisuri yang sejak tadi memerhatikan pembicaraan antara suaminya dengan Bok Bei merasa tidak enak hati. Suaminya seperti berbisik-bisik dengan Bok Bei menbicarakan suatu perkara yang sangat rahasia. Setelah Bok Bei pergi, Kanjeng Permaisuri buru-buru menghadap suaminya.

"Kang Mas, ada urusan apa Kang Mas dengan Bok Bei? Hamba tadi setengah mendengar, tetapi tidak begitu jelas."

Kanjeng Sinuhun agak terkejut mendapat pertanyaan istrinya, tetapi berusaha tetap tenang. Sang Raja berpura-pura tidak terjadi sesuatu apa pun antara dia dan Bok Bei. Untuk lebih meyakinkan istrinya, Kanjeng Sinuhun menerangkan hal lain kepada istrinya.

"Ketahuilah, Istriku, pada saat malam itu aku ingin ke kamar mandi, belum sampai ke sana aku melihat seekor binatang melata yang cukup berbahaya. Binatang itu menghilang di balik salah seorang dayang. Waktu itu aku hanya menandai dayang itu dengan mengikat ujung kain di dadanya agar esoknya gampang mencari dia."

Kanjeng Permaisuri Kancana Wungu mengerutkan keningnya seperti tidak yakin dengan perkataan suaminya, tetapi tidak terlalu diperlihatkan di depan suaminya. Dia bertanya kembali, "Jika demikian, kenapa Rara Beruk tadi berada di sini?"

"Yang dicari ternyata Rara Beruk, keponakan Bok Bei. Aku hanya kasihan kepada perempuan itu karena binatang itu jika mengenai badan bisa menyebabkan sakit kusta yang berbau busuk. Bisik-bisik tadi itu supaya rahasia ini tidak menyebar! Kasihan gadis itu, kalau ketahuan orang jadi malu!"

Kanjeng Permaisuri berkata dalam hati, "Hanya soal binatang melata saja kenapa mesti dirahasiakan? Jangan-jangan ada soal lain yang tidak boleh diketahui olehku."

Kanjeng Permaisuri sedikit sakit hati juga oleh perilaku suaminya, tetapi tidak berani memperlihatkannya. Nanti dikiranya tidak memercayai ucapan suaminya dan tidak menurut pada perkataannya. Sakit hatinya disimpan jauh di lubuk hatinya.

Sesampainya di rumah, Bok Bei menceritakan peristiwa yang dialaminya bersama Rara Beruk kepada suaminya. Bok Bei bercerita dari awal sampai dengan akhir, sedangkan suaminya mendengarkan dengan terheran-heran.

"Jika demikian kejadiannya, sudahlah jangan diperpanjang! Apalagi diceritakan kepada orang lain. Keberuntungan Rara Beruk itu masih belum pasti. Jangan-jangan engkau malah dicurigai oleh Kanjeng Permaisuri. Pikirannya tak akan selamanya lurus."

"Benar, Kakang. Aku juga merasakan hal itu sewaktu Permaisuri menanyakannya kepada Baginda."

"Engkau juga terlalu tergesa-gesa, Istriku!"

"Maksudmu apa, Kakang?"

"Tergesa-gesa memasukkan anak kita ke keputren. Maksudmu memang baik, tetapi dengan adanya kejadian ini siapa tahu akhirnya kita dapat nama buruk!"

"Aku juga agak khawatir, Kang!"

"Agar tak khawatir, sebaiknya anak kita diminta kembali saja!"

"Diminta kembali? Maksudmu Rara Beruk dibawa pulang dari keputren? Caranya?"

"Katakan baik-baik kepada Permaisuri, atau sengaja kamu berpura-pura seolah-olah sekarang Rara Beruk ada yang ingin melamarnya, akan diperistri oleh seorang lelaki yang tinggal dekat rumah orang tuanya."

"Benar, Kakang! Alasanmu sungguh tepat. Dengan begitu, siapa tahu Permaisuri memahaminya."

Bok Bei tidak membantah, mengikuti saran suaminya. Dia pun mencari waktu yang tepat untuk menghadap permaisuri.

•••



RARA BERUK MENGUNDURKAN DIRI DARI KEPUTREN




Waktu yang ditetapkan telah sampai. Bok Bei Sudiradirja akan menghadap Permaisuri Kancana Wungu. Tujuannya hanya satu, membawa pulang Rara Beruk dari keputren. Bok Bei mempersiapkan segalanya dengan baik. Dia mempersembahkan 100 tumpeng dan opor ayam yang ditata rapi dalam tampah dihiasi dengan daun pisang yang telah dibentuk segitiga. Penganan untuk teman minum teh seperti wajit jenang yang terbuat dari ketan asli dan pisang nagasari tak lupa dibawanya pula ke istana.

Kedatangan Bok Bei tentu saja menarik perhatian orang, termasuk permaisuri yang duduk di dalam keputren. Permaisuri dari jauh sudah melihatnya.

"Bok Bei ... kali ini ada apa lagi? Setelah mengantar si Rara ke sini lalu berbicara rahasia dengan suamiku, sekarang dia mau apa lagi dengan bawaannya itu?"

Permaisuri Kancana Wungu mempersilakan Bok Bei yang baru datang, "Bibi, masuklah! Duduklah di sini."

Bok Bei tidak menyia-nyiakan ajakan itu. Para pembantunya yang membawa tumpeng dan makanan lainnya mengikutinya dari belakang sambil menata bawaan mereka. Setelah rapi, Bok Bei duduk di hadapan Kanjeng Permaisuri sambil mengucapkan salam, "Terimalah salam sembah kami, Kanjeng Permaisuri."

"Buah tangan apa gerangan itu, Bibi? Tampaknya lezat, benar-benar menerbitkan selera makanku. Menyenangkan sekali. Bibi membuatnya sendiri atau oleh-oleh dari saudaramu yang tinggal di Palar Legen?"

"Benar, Tuan Ratu, makanan ini dari saudara hamba yang tinggal di Palar Legen, ibu Rara Beruk. Katanya supaya dihaturkan kepada Kanjeng Permaisuri. Kakak hamba juga menyampaikan permohonan maaf karena sudah lancang sebagai orang kecil, terlalu berani dan berlaku kurang sopan mempersembahkan makanan yang tak berharga."

"Ah, janganlah berkata begitu, Bibi! Aku juga senang makan makanan buatan orang-orang desa. Selain rasa dan aromanya yang khas, makanan seperti itu juga sudah jarang di sini. Apalagi tumpeng dan opor ayam, kan hanya hari-hari tertentu kita memakannya.”

"Benar, Paduka Ratu! Persembahan ini semata-mata terbawa kuatnya keinginan kakak hamba sebagai tanda terima kasih, karena Paduka sudah memperlakukan Rara Beruk dengan baik."

"Ah, Bibi, itu terlalu berlebihan! Aku juga memahami perasaan saudaramu. Barangkali dia hanya melaksanakan kebiasaan lama, kalau datang ke kota harus membawa buah tangan sebagai oleh-oleh. Sesungguhnya itu benar sebagai tanda cinta kasih yang tanpa pamrih."

"Benar, Paduka Ratu! Sebagai rakyat kecil, hamba dan kakak hamba sudah sepatutnya mengucapkan terima kasih kepada Paduka dengan mempersembahkan sesuatu. Bawaan ini belum seberapa jika dibandingkan dengan jasa Paduka yang telah meminjamkan tanah untuk digarap. Anggap saja hamba melaksanakan adat seba karang, persembahan!"

"Baguslah, Bibi, engkau dan kakakmu masih melaksanakan adat itu. Orang lain di negeri ini masih banyak yang tidak menjalankannya. Mereka tidak mengingat siapa yang memberi, sudah merasa seakan-akan milik sendiri.”

"Terima kasih, Paduka Ratu! Kami hanya memperkirakan bagaimana baiknya," kata Bok Bei menundukkan kepalanya menyembah kaki Kanjeng Permaisuri.

"Sudahlah, Bibi! Aku menerima persembahan ini."

Kanjeng Permaisuri pun memerintahkan para dayang mengambilkan tumpeng dengan opor ayamnya. Dia pun mencobanya.

"Ah, benar-benar enak, Bibi. Aku sudah lama tidak makan tumpeng."

Sambil makan Kanjeng Permaisuri bertanya-tanya dalam hati, "Benarkah kata-kata Bok Bei tadi? Apakah ada maksud-maksud tertentu?" Dia pun berpura-pura menanyakan kakak Bok Bei, "Bibi, kenapa kakakmu tidak kauajak kemari?"

Bok Bei seperti mendapat jalan untuk menyampaikan maksudnya kepada Kanjeng Permaisuri. Dari tadi sesungguhnya dia bingung dari mana memulainya.

"Kakak hamba sangat ingin menemui Gusti Ratu, tetapi urusannya di kampung tidak bisa ditinggalkannya," kata Bok Bei seraya berharap Kanjeng Permaisuri bertanya lebih lanjut agar dia bisa menerangkan maksud yang sebenarnya.

Benar saja dugaan Bok Bei, karena Permaisuri bertanya lagi, “Tidak menginapkah barang semalam kakakmu di sini? Benar-benar penting rupanya urusannya kemari sampai-sampai pulang lagi ke Palar Legen."

"Benar, Paduka! Kakakku kemari hanya mengatakan bahwa Rara Beruk sudah ada yang melamar di kampung. Dia hanya minta tolong kepada hamba supaya anaknya dibawa pulang ke kampung," kata Bok Bei dengan tenang.

"Rara Beruk sudah ada yang melamar?" tanya Kanjeng Permaisuri penasaran.

Sebelum menjawab Bok Bei menyembah kaki Kanjeng Permaisuri, "Benar, Paduka Ratu! Rara Beruk sudah ada yang melamar. Sesungguhnya itulah maksud kedatangan hamba kemari. Hamba mohon beribu-ribu maaf, semoga dijauhkan dari murka dan hukuman. Jika diperkenankan, Rara Beruk kami mohon keluar dari keputren. Meskipun belum dewasa, si Rara ternyata sudah ada yang melamar."

Kanjeng Permaisuri Kancana Wungu berkata pelan, "Aku tidak heran, Bibi. Yang demikian itu sudah merupakan watak dan kebiasaan orang desa, masih kecil sudah dinikahkan. Akan tetapi, menurutku, sebaiknya si Rara Beruk jangan dulu dibawa pulang. Selain dia masih kecil, perasaanku belum puas dilayani olehnya. Ya, benar, Bibi! Rara Beruk kan belum lama tinggal di sini!"

Bok Bei Sudiradirja sesaat mengangkat wajahnya memandang Kanjeng Permaisuri dengan wajah tidak percaya pada perkataan ratunya yang melarang Rara Beruk dibawa pulang. Dia teringat kembali perkataan suaminya yang menyuruh membawa pulang si Rara demi kebaikan bersama. Dengan memberi alasan yang bisa dipercayai permaisuri, Bok Bei kembali memohon kepada permaisuri, "Gusti Ratu, kalau soal belum puas dilayani Rara Beruk, janganlah khawatir. Meskipun sekarang pulang, kalau Gusti ada perlu, si Beruk bisa dipanggil kapan saja. Ibaratnya, biar dengan susah payah harus merangkak dia pasti kemari."

Ada perasaan ragu dalam hati Kanjeng Permaisuri pada perkataan Bok Bei. Bukan pada janjinya yang akan mendatangkan Rara Beruk kapan saja diperlukan, melainkan alasannya yang mendadak: si Rara akan dinikahkan. "Jangan-jangan ini hanya alasan Bok Bei untuk membawa pulang Rara Beruk."

Permaisuri Kancana Wungu juga merasakan keanehan yang tersembunyi pada sikap Bok Bei akhir-akhir ini. Meskipun begitu, tidak sepantasnya dia melarang-larang Rara Beruk untuk meninggalkan keputren. Dengan lembut permaisuri berkata, "Bibi, kalau demikian, aku tidak berhak melarang-larang Rara Beruk. Aku ikut berbahagia atas keberuntungan Rara Beruk."

Bok Bei menarik napas lega dengan jawaban Kanjeng Permaisuri. Buru-buru dia menghaturkan terima kasih, "Gusti Ratu, hamba menghaturkan terima kasih atas kelapangan hati Gusti Ratu yang telah mengizinkan Rara Beruk pulang."

"Kapan si Beruk dibawa pulang ke desa, Bibi?"

"Kalau mungkin, ya, secepatnya. Akan tetapi, hamba serahkan kepada kehendak Gusti. Hamba hanya menurut saja."

"Jika demikian, tunggulah beberapa hari. Aku akan menyuruh pembantuku menyiapkan oleh-oleh untuk ibu si Beruk di Palar Legen. Dan, beberapa barang untuk si Beruk sebagai tanda terima kasih selama dia mengabdi di sini!"

"Baiklah, Gusti Ratu! Hamba mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati Gusti Ratu. Gusti Ratu, hamba kira sudah selesai urusan hamba di sini! Hamba mohon diri," kata Bok Bei sambil memberi hormat kepada Kanjeng Ratu Kancana Wungu.

Sepeninggal Bok Bei, Kanjeng Ratu memanggil para pembantunya, "Bibi Emban, siapkan pakaian, kain penutup dada, kain panjang tiga perangkat lengkap, giwang yang besar juga tiga, cincin, kancing sanggul, dan uang seratus rupiah untuk Rara Beruk.”

"Baiklah, Gusti Ratu! Hamba siap melaksanakannya."

Para dayang tidak menunggu perintah dua kali, mereka langsung mempersiapkan semua yang diminta Kanjeng Ratu Kancana untuk Rara Beruk. Barang-barang itu dibungkus dengan rapi di dalam dus besar. Setelah itu, para dayang membawanya ke hadapan Kanjeng Ratu.

"Gusti Ratu, ini barang-barang yang diminta. Semuanya lengkap di sini," kata para dayang sambil menyerahkan kardus besar.

"Ya, sudah! Simpanlah di situ saja. Nanti dua tiga hari lagi panggillah si Beruk kemari. Aku akan bicara dengannya!"

"Baiklah, Gusti Ratu! Hamba mohon diri," kata salah seorang dayang.

Beberapa hari kemudian, Rara Beruk sudah duduk di hadapan Kanjeng Ratu Kancana, menunggu perintah ratunya.

"Beruk!" kata Kanjeng Ratu. "Aku tidak bisa menahanmu berlama-lama di sini! Bibimu dua hari yang lalu meminta izin kepadaku akan membawamu pulang!

"Ya, Kanjeng Ratu," jawab Beruk pendek.

"Benarkah kamu sudah ada yang melamar?"

"Kabarnya demikian, Kanjeng Ratu," jawab Beruk tak berani menatap wajah ratunya.

"Meskipun kamu tidak lama tinggal di sini, aku tetap memberimu hadiah sebagai tanda terima kasihku karena kamu sudah mengabdi di sini!"

"Terima kasih, Kanjeng Ratu. Hamba benar-benar tidak menduga Kanjeng Ratu demikian baik kepada hamba."

"Sudah sepatutnya seorang ratu memberi uang atau barang kepada hambanya yang sudah mengabdi."

"Sekali lagi, hamba mengucapkan terima kasih atas kebaikan Gusti Ratu kepada hamba."

"Datangilah bibimu, sampaikan kepadanya aku telah mengizinkanmu pulang hari ini! Dan, jangan lupa sampaikan salamku kepada ibumu di Palar Legen."

"Baiklah, Kanjeng Ratu. Hamba mohon diri. Maafkanlah segala kesalahan dan kekurangan hamba selama mengabdi di sini."

Setelah menghaturkan sembah sujud kepada Kanjeng Ratu, Rara Beruk berjalan menuju ke luar dengan berjongkok. Kanjeng Ratu Kancana Wungu memerhatikannya sampai Rara Beruk menghilang di balik pintu. Dalam hati Kanjeng Ratu merasa iba pada nasib Rara Beruk yang masih kecil sudah akan dinikahkan.

"Sungguh malang nasibmu, Beruk! Meskipun tinggal di kota, ternyata kamu tidak dapat menghindar dari tata cara adat desa yang masih menerapkan adat kawin muda! Aku sesungguhnya mau menolongmu dari belenggu adat itu, Beruk, tetapi bibimu tetap memaksaku untuk membawamu pulang!"

Sementara itu, Bok Bei yang sudah menunggu-nunggu Rara Beruk, lega hatinya begitu dari jauh tampak batang hidung keponakannya.

"Nduk, kemarilah!" katanya memanggil.

Rara Beruk menghampiri bibinya, "Bi, aku sudah boleh pulang oleh Kanjeng Ratu."

"Baguslah, Nduk! Pulang merupakan satu-satunya jalan terbaik bagimu!"

"Ini dari Kanjeng Ratu," kata Rara Beruk sambil menyerahkan pemberian Permaisuri. Bok Bei menerimanya.

"Tahukah kamu apa isinya, Nduk?" tanya Bok Bei penasaran.

"Entahlah, Bibi, tetapi katanya, selain cincin emas ada uang di dalamnya."

"Syukurlah, Nduk! Oh, ya, apakah Kanjeng Ratu sudah mengizinkanmu pulang?"

"Sudah, Bi."

"Kalau begitu, mari kita pulang!"

Rara Beruk mengangguk. Bok Bei menggamit Rara Beruk. Tidak lama kemudian, keduanya keluar dari keputren sambil membawa bungkusan besar yang di dalamnya berisi segala macam barang untuk Rara Beruk dan ibunya.

•••



KANJENG SINUHUN KASMARAN




Sepeninggal Rara Beruk, keputren tidaklah bermuram durja. Kepergian Rara Beruk sedikit pun tidak ada pengaruhnya bagi keputren. Kesibukan dan gegap gempitanya masih tetap sama. Demikian pula dengan Kanjeng Ratu Kancana Wungu, dia tidak merasa kehilangan atas kepergian Rara Beruk.

Yang berubah di Keraton Surakarta justru Kanjeng Sinuhun Pakubuwana. Sebagian hatinya seperti terbawa pergi oleh Rara Beruk. Perginya Rara Beruk dari keputren meninggalkan kenangan tersendiri bagi Kanjeng Sinuhun sehingga selalu menimbulkan perasaan rindu.

Kerinduan Kangjeng Sinuhun kepada Rara Beruk seperti pungguk yang merindukan bulan karena orang yang dirindukan sama sekali tidak mengetahuinya. Kerinduan itu pun disimpannya dalam hati. Apabila kerinduan itu menyerangnya, wajah Rara Beruk seperti menari-nari di hadapannya.

Baginya, Rara Beruk adalah seorang dewi yang halus dan lembut perasaannya dengan mata bercahaya, bersinar seperti bintang yang terlihat jauh di langit yang jernih. Kemilau wajahnya menyilaukan siapa pun yang memandangnya. Raut mukanya tenang dan bening. Raut muka yang tiada seorang pun bisa menyamainya. Tindak-tanduknya luwes dan tidak membosankan. Suatu perubahan jika dibandingkan ketika dia baru datang pertama kali ke keraton dengan sikap yang kaku. Namun, kekakuan Rara Beruk pun mampu memukau hati Kanjeng Sinuhun.

Ketika diberi tahu bahwa kepergian Rara Beruk dari keputren sudah lama, sang Raja semakin menjadi-jadi rindunya. Kepedihan hatinya begitu terasakan. Segala gerak-geriknya menandakan seseorang yang sedang jatuh cinta. Sang Raja, penguasa Surakarta memang sedang kasmaran.

"Oh, bunga Palar, engkau sangat menawan. Engkau memiliki daya sihir yang luar biasa. Sihirmu benar-benar ampuh sehingga aku mabuk kepayang!" katanya menerawang mengenang Rara Beruk yang telah pergi meninggalkan keputren.

Kanjeng Sinuhun Pakubuwana sama sekali tidak menyangka bunga Palar itu sinarnya berlebihan, bisa mengalahkan bidadari-bidadari dan semua putri yang ada di negeri ini. Yang juga menarik dari dirinya adalah pribadinya dan sikap rendah hatinya terhadap sesama.

Sesungguhnya sang Raja agak waswas Rara Beruk pergi dari keputren. Dia pergi begitu saja. "Aku kira dia merasa betah di sini. Tidak kekurangan suatu apa pun. Sayang kalau dia melepaskan diri. Perasaanku sudah begitu dalam kepadanya. Kecantikannya sudah menyamai para putri bangsawan. Aku tak mungkin melupakannya!" kata sang Raja kepada diri sendiri.

Bagi sang Raja, wajah Rara Beruk yang rupawan terlihat sebagai kembang yang paling menawan, yang sulit dicari bandingannya. Pancaran sinar istana yang terkenal dengan putri-putrinya yang cantik menjadi suram ketika disandingkan dengan kemolekan Rara Beruk.

Kanjeng Sinuhun Pakubuwana semakin besar keberaniannya untuk mencintai Rara Beruk. Cinta memang jadi misteri kehidupan baginya. Tanpa pernah terduga sebelumnya, tiba-tiba saja dia telah jatuh cinta kepada Rara Beruk. Niatnya sudah bulat dan bertekad untuk mengikuti keinginan hatinya mencari Rara Beruk. Satu hal yang selalu menghentikan keinginannya, dia segan kepada istrinya, permaisurinya yang selama ini dicintainya. Namun, cintanya yang menggelora kepada Rara Beruk tidak pernah surut dan makin meledak-ledak dalam kalbunya. Untuk menghilangkan kegelisahan hatinya, sang Raja sering berpura-pura pergi.

"Istriku, malam ini aku akan menemui tamu di pesanggrahan istana, di taman bunga," kata sang Raja kepada Permaisuri.

"Tamu dari mana, Kang Mas?"

"Katanya, utusan bangsa Prasman!"

"Apa tidak ditemani oleh Residen?"

"Tentu saja ditemani Residen. Segala urusan aku tidak pernah meninggalkan Residen," jawab sang Raja berusaha meyakinkan istrinya.

"Akan tetapi, kenapa Residen tidak kelihatan?" tanya Permaisuri penasaran.

"Nanti malam aku baru menemui Residen."

Permaisuri percaya pada seluruh perkataan suaminya. Dia sama sekali tidak menangkap maksud lain yang tersembunyi. Kepergian suaminya ke pesanggrahan istana yang terletak di taman bunga disetujuinya begitu saja.

•••

Bulan tidak penuh memancarkan sinarnya. Bayangannya di bumi hanya menimbulkan cahaya temaram. Dalam cahaya temaram itu tampak sesosok bayangan berjalan di remang-remang malam. Udara dingin benar-benar menusuk tulang sampai terasa ke sumsumnya. Namun, yang tengah berjalan itu tidak terganggu oleh udara dingin dan remang-remang malam. Dia terus saja berjalan seorang diri menuju pesanggrahan.

Setibanya di pesanggrahan, dia langsung masuk ke ruang gupit, ruang utama pesanggrahan itu. Pintu ditutup rapat-rapat. Penjaga pesanggrahan yang sempat mengenalinya hanya menyapa pendek setengah tidak percaya pada penglihatannya, "Paduka Raja? Kanjeng Sinuhunkah ini?"

"Ya, ini aku! Kunci semua pintu! Kalau ada yang bertanya, bilang saja aku sedang bersemadi di tempat suci. Jangan coba-coba menggangguku!" perintahnya kepada penjaga pesanggrahan.

"Baik, Paduka!"

Tak seorang pun di antara mereka yang berani membantah titah sang Raja.

Konon, sang Raja setelah masuk ruang gupit langsung mengurung diri di sana. Dengan leluasa sang Raja melamunkan Rara Beruk. Kerinduannya yang meluap-luap kepada gadis Palar itu seolah-olah tersalurkan. Angan-angannya melambung melayang mengitari Rara Beruk yang hanya bayang.

"Oh ... Rara Beruk, kenapa pergi meninggalkanku? Aku belum sempat mencurahkan isi hatiku, engkau malah pergi begitu saja.” Sang Raja setengah merintih di antara rindu yang menderu dalam hatinya.

Kanjeng Sinuhun menyesali kepergian Rara Beruk yang tiba-tiba dari keputren. Sejak tidak melihatnya di keputren, wajah Rara Beruk selalu terbayang-bayang di pelupuk matanya. Bayangan itu pun tidak terlalu jelas seperti terselimuti awan. Sungguh gelap dan menyakitkan!

Meskipun Kanjeng Sinuhun belum dekat mengenal Rara Beruk, kelembutannya telah menyusup ke dalam hatinya dan menggairahkannya selalu. Parasnya yang cantik yang senantiasa terpoles oleh bibirnya yang murah senyum tak pernah pupus dari ingatan sang Raja.

Kanjeng Sinuhun seperti mati suri. Dia lebih banyak berdiam diri karena daya bius Rara Beruk yang teramat kuat merasuki urat sarafnya. Sang Raja tak habis-habisnya menyesali tindakan Bok Bei Sudiradirja yang terburu-buru membawa gadis itu pulang ke desanya. Dia pun menyesali diri sendiri yang telah terburu-buru memberitahukan kelebihan yang ada pada diri Rara Beruk.

"Kenapa Bok Bei aku beri tahu rahasia si Beruk? Kenapa pula dia membawa pulang Rara Beruk ke desanya tanpa pamit kepadaku?" sesal Kanjeng Sinuhun dalam hatinya. "Atau mungkin saja, Bok Bei merasa tidak enak hati kepada Kanjeng Ratu karena telah memergoki obrolan rahasianya denganku? Barangkali, alasan itu yang membuatnya buru-buru membawa pulang keponakannya."

Tak terkatakan bagaimana selanjutnya Sri Raja lebih sering berada di pesanggrahannya. Kerjanya hanya duduk merenung seperti orang bertapa. Sri Raja merasakan dirinya seperti ditarik keluar dari kepribadiannya. Sedikit demi sedikit Sri Raja mengenal dirinya dari sisi lain. Bukan sebagai raja, bukan pula sebagai penguasa tempat berlindung semua rakyatnya, melainkan sebagai seorang lelaki dalam arti yang paling purba. Dia merasa dirinya terbelah ketika seorang perempuan yang dicintainya berada jauh dari sisinya.

Kanjeng Sinuhun hanya keluar istana jika waktu telah larut malam atau menjelang pagi. Sesampainya di luar, Sri Raja hanya memandangi langit. Langit di luar gelap pekat. Rembulan pun tidak muncul menerangi karena mendung tebal. Suasana itu tidak berbeda dengan perasaan Sri Raja yang sedang bergulat melawan kerinduan yang dalam. Sri Raja pun hanya berdiam diri dalam naungan langit malam yang bisu. Gelapnya jalan yang ditapakinya semakin memperkelam hatinya yang gundah.

Tanpa terasa Sri Raja telah sampai di Kradenayon. Matanya berat menahan kantuk. Dia ingin segera membaringkan tubuhnya yang terasa lemah dan kaku karena semalam suntuk duduk termenung di pesanggrahan. Namun, langkahnya terhenti ketika sebuah suara memanggilnya, "Kang Mas … tunggulah!"

Sri Raja menoleh ke arah suara itu. Di sana istrinya sudah duduk menunggunya.

"Istriku, apa yang sedang kamu lakukan sepagi ini?"

"Sengaja menunggu Kang Mas ...."

"Menungguku? Ada hal penting?"

"Hanya ingin tahu kabar utusan bangsa Prasman yang Kang Mas temui di pesanggrahan semalam itu."

Agak terkejut Sri Raja mendengar pertanyaan itu. Dia baru sadar, semalam dia pada istrinya mengaku akan menemui utusan bangsa Prasman di pesanggrahan. Buru-buru dia menghampiri istrinya.

"Ya, utusan bangsa Prasman memang datang ke sini semalam, tetapi hanya untuk menyampaikan kabar baik. Katanya, bangsa itu sekarang tenteram, tidak berperang lagi, dan sudah bersatu dengan Ngayogyakarta," jelas Sri Raja kepada istrinya.

"Jika demikian, bangsa Prasman ini sudah tidak membahayakan bagi keselamatan kita di Surakarta?"

Meskipun agak kesal, Sri Raja tetap menjawab pertanyaan istrinya, "Sudahlah! Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami sudah bersepakat dengan bangsa Prasman ini. Akan tetapi, Residen mengingatkanku supaya berhati-hati terhadap bangsa Prasman ini, terutama di waktu malam,” kata Sri Raja menemukan alasan yang tepat agar dapat keluar tiap malam.

"Bagaimana Kang Mas ini? Katanya tak perlu khawatir, tetapi harus jaga tiap malam?"

"Tidak ada salahnya kan? Tentu lebih baik waspada daripada kita terlena. Tak ada salahnya aku menjalankan saran Residen."

Permaisuri tidak bertanya kembali. Selain melihat wajah suaminya yang lesu, sikapnya pun seperti kurang bersemangat untuk diajak berbicara. Namun, tak lama kemudian terdengar suaminya masih menyambung bicara.

"Mungkin aku akan diundang ke Loji, keresidenan sebelah utara. Aku dan Residen sudah bertekad bulat merencanakan persatuan untuk menghadapi bangsa Prasman yang belakangan ini agak mencurigakan."

Kanjeng Permaisuri agak heran mendengarnya. "Tampaknya begitu serius persoalan bangsa Prasman ini sampai-sampai suamiku akan pergi ke Loji? Tadi katanya bangsa Prasman hanya memberi kabar baik? Mana yang benar?" cetus sang permaisuri dalam hatinya.

Kanjeng Permaisuri sungguh tidak dapat menangkap maksud rahasia Kanjeng Raja. Dia akhirnya hanya diam saja. Dia pun tak berani membantah suaminya. Kanjeng Raja pun sudah menghilang dari hadapannya, entah ke mana perginya.

Sementara itu, Rara Beruk dan Bok Bei sudah sepakat untuk sementara tinggal di Diradirjan. Bok Bei boleh bernapas lega sekarang karena telah berhasil membawa kembali keponakannya dari keputren. Bok Bei semakin sayang dan lebih perhatian kepada Rara Beruk.

"Nduk, aku lega sekarang karena berhasil membawamu ke sini. Kamu harus berhati-hati, Nduk, dengan keberadaanmu. Kanjeng Ratu mengira kamu pulang ke Palar Legen," kata Bok Bei kepada Rara Beruk.

"Akan tetapi, bagaimana caranya, Bi? Tentunya ananda tidak mungkin terus-menerus di dalam rumah kan?”

"Tentu saja tidak, Anakku. Ini hanya sementara."

"Baiklah, Bi! Ananda akan menaatinya demi keselamatan kita sekeluarga."

Bok Bei dan Rara Beruk hidup dengan tenang dan bahagia. Lebih-lebih Bok Bei baru saja mendapat hadiah tanda kasih dari Sri Raja dan Kanjeng Permaisuri.

Hari-hari tertentu Bok Bei tetap datang ke keputren, sedangkan keponakannya—Rara Beruk—tetap tinggal di rumah. Di keputren Bok Bei berusaha bersikap seperti biasa, tetapi dia selalu menghindari bertemu Kanjeng Permaisuri, khawatir ditanya macam-macam tentang Rara Beruk. Namun, Bok Bei tidak dapat menghindar ketika pada suatu saat dipanggil oleh Kanjeng Raja, "Bok Bei! Ke sini …."

Bok Bei hafal betul dengan pemilik suara itu. "Kanjeng Sinuhun? Ada apa memanggilku? Pentingkah?"

Tanpa membantah Bok Bei menuju Kanjeng Sinuhun, "Hamba, Paduka!"

"Bok Bei! Aku sudah lama mencarimu, kiranya kamu ikut menghilang!"

"Hamba memang sudah lama tidak ke sini, Paduka!"

"Sebenarnya aku ingin tahu ceritamu, kenapa kamu dan keponakanmu itu tiba-tiba menghilang? Ceritalah, Bok Bei!"

Bok Bei agak gemetar mendengar suara Kanjeng Sinuhun. "Maafkanlah hamba, Paduka! Kami pergi tanpa pamit. Sejak peristiwa itu, Mas Bei menyuruhku agar Rara Beruk dibawa pulang saja ke desanya."

"Katanya si Rara ada yang melamar di Palar. Benarkah?" suara Kanjeng Sinuhun bergetar.

Bok Bei tak kuasa berdusta kepada Kanjeng Sinuhun. "Aku tak berani berbohong kepadanya, takut kualat. Apa pun yang bakal terjadi aku akan menceritakan keadaan yang sebenarnya," kata Bok Bei dalam hatinya.

"Itu tak benar, Paduka! Hamba hanya mengarang-ngarang cerita kepada Kanjeng Permaisuri supaya Rara Beruk dizinkan pulang,” kata Bok Bei pelan.

"Jadi, si Rara tidak dinikahkan? Begitu kan, Bibi?"

Bok Bei agak heran dengan Sri Raja yang terus-menerus menanyakan Rara Beruk. "Jangan-jangan ...?" pikirnya.

"Benar, Paduka! Rara Beruk tidak akan menikah sekarang-sekarang ini."

"Di mana dia sekarang? Masih bersamamu atau pulang ke Palar?"

"Dia masih tetap bersama hamba, Paduka. Dia tak pulang ke Palar. Di sini juga sama, masih bersama ibunya meskipun ibu angkat!"

Kanjeng Sinuhun menarik napas panjang setelah mengetahui yang sebenarnya.

"Ternyata dewiku masih lajang dan berada di sini! Bok Bei lebih pintar dan lebih halus membuat tipu daya daripada aku," pujinya. "Bok Bei, bagaimana keadaannya sekarang?"

"Tidak kurang suatu apa, Paduka. Hamba sekarang menjaganya dengan hati-hati ibarat memegang telur merahnya," jawab Bok Bei yang melegakan Kanjeng Sinuhun.

"Bok Bei, tunggulah sebentar sebelum engkau pulang. Aku akan menulis surat untuk si Rara."

"Baik, Paduka. Hamba akan menunggu."

Tergopoh-gopoh Kanjeng Sinuhun menulis surat untuk Rara Beruk. Dia tidak mengungkapkan perasaan cintanya dalam surat itu, tetapi cuma berpesan supaya Rara Beruk tetap bahagia dan tenang di tempat Sudiradirja karena suatu saat dia akan menjemputnya.

"Berikanlah suratku ini kepada Rara Beruk, Bok Bei!" kata Kanjeng Sinuhun.

"Hamba siap mengantarkannya, Paduka!" kata Bok Bei menerima surat itu.

"Pergilah sekarang! Carilah jalan yang tidak melewati keputren!"

"Baik, Paduka! Hamba mohon diri!”

"Bok Bei, jagalah Rara Beruk untukku!"

Bok Bei tidak menjawab lagi, hanya mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali kepada Kanjeng Sinuhun. Bok Bei buru-buru meninggalkan istana. Dia memilih jalan yang tidak melewati keputren sebagaimana pesan Kanjeng Sinuhun. Pikirannya benar-benar kacau karena sikap Kanjeng Sinuhun tadi.

"Aku benar-benar tidak menduga. Kanjeng Sinuhun yang demikian gagah dan berkuasa tertarik kepada Rara Berukku yang masih hijau dan belum mengenal arti kata cinta? Mimpi kakakku tampaknya akan menjadi kenyataan."

Bok Bei mempercepat langkahnya ingin segera sampai di rumah. Dia ingin segera menyampaikan berita yang mengejutkan ini kepada suami dan anaknya.

"Nduk … Nduk ... cepat buka pintunya!" Bok Bei dari jauh berteriak memanggil Beruk.

"Ya, Bi!" Rara Beruk tergesa membuka pintu depan yang sebetulnya tidak dikunci. "Ada apa, Bi?" Rara Beruk bertanya penasaran.

"Nduk, duduklah! Dengarlah ceritaku!"

"Ya, Bi! Ananda siap mendengarnya."

"Nduk! Kamu pasti tidak percaya tadi aku bertemu dengan Kanjeng Sinuhun. Dan, beliau ternyata jatuh cinta kepadamu!"

"Jatuh cinta? Kanjeng Sinuhun jatuh cinta kepadaku? Tidak salah, Bi? Masa seorang raja yang memiliki permaisuri yang cantik tertarik kepadaku, gadis dusun, wong ndeso yang kampungan?"

"Benar, Nduk! Aku bisa membaca hatinya. Ini buktinya kalau kamu tidak percaya," kata Bok Bei mengeluarkan surat dari Kanjeng Sinuhun. "Surat ini ditulisnya sendiri khusus untukmul"

Rara Beruk menyambar surat yang berada di tangan bibinya. Dia ingin segera mengetahui apa isi surat itu. Setelah dibacanya, Rara Beruk tertawa agak keras, "Ha ... ha ... Bi ... Bibi ...! Surat seperti ini bukti cinta? Mana mungkin Kanjeng Sinuhun memerhatikanku, Bi?!”

Bok Bei yang kini penasaran, "Memang apa katanya yang tertulis dalam surat itu?"

"Kanjeng Sinuhun hanya mengucapkan semoga bahagia dan tetap tinggal di sini karena suatu saat beliau akan datang menemuiku. Kalau tidak percaya, Bibi baca saja!" Bok Bei menerima surat itu. Setelah membaca, dia tersenyum. "Nduk, kamu ini benar-benar masih bau kencur! Kalau mau tahu, maksudnya dalam sekali, Nduk!"

"Ananda tidak paham, Bi! Memang apa maksudnya?"

"Maksudnya, kamu harus tinggal bersama kami di sini, jangan pindah ke mana-mana sebelum beliau menjemputmu kemari. Menjemput tidak sekadar menjemput, tetapi membawamu pergi kelak jika kamu sudah diperistrinya."

Rara Beruk terdiam mendengar keterangan bibinya. Wajah Kanjeng Sinuhun tiba-tiba melintas di hadapannya. "Wajah yang penuh wibawa dan penuh pesona ini, benarkah dia mencintaiku dan akan menjemputku?" Rara Beruk tidak begitu yakin dengan penjelasan bibinya.

"Sudahlah, Nduk! Jangan jadi beban pikiranmu! Jalani saja hidupmu seperti biasa," Bok Bei menasihati keponakannya.

"Ya, Bi! Aku juga santai saja, tidak terlalu aku pikirkan!"

Hari-hari berikutnya Keraton Surakarta yang cukup besar itu tetap hangat oleh celoteh orang-orang perempuan. Permaisuri dengan para dayang kepercayaannya berceloteh tentang perubahan sikap raja mereka. Perhatian mereka tertuju kepada Kanjeng Sinuhun yang kini lebih banyak berdiam diri, melamun, dan menyendiri. Semuanya tidak tahu bahwa Kanjeng Sinuhun sedang kasmaran kepada Rara Beruk yang telah meninggalkan keputren dan tinggal bersama kembali dengan orang tua angkatnya, Mas Bei Sudiradirja dan Bok Bei.

"Bibi, tidak seperti biasanya, ya, kenapa Kakang Masku sekarang lebih banyak diam?" tanya Permaisuri suatu hari.

"Barangkali sedang banyak persoalan, Kanjeng Ratu.”

"Atau, pusing memikirkan bangsa Prasman yang pernah diceritakan oleh Kanjeng Ratu tempo hari?"

"Mungkin juga kedua-duanya. Akan tetapi, jika aku bertanya jawabnya selalu 'tidak ada apa-apa’.”

"Sabarlah, Kanjeng Ratu! Lebih baik kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya."

Permaisuri menyetujui saran dayang kepercayaannya. Lebih baik dibiarkan saja.

Sementara itu, Kanjeng Sinuhun seperti tidak sabar ingin menemui Rara Beruk. Namun, untuk sementara waktu keinginannya ditahan-tahan. Selain usia Rara Beruk yang masih kanak-kanak, rasa segan kepada istrinya yang akhir-akhir ini mengawasinya dengan ketat turut pula mengerem langkahnya. Akhirnya, Kanjeng Sinuhun hanya bisa berdiam diri dan melamun. Yang dapat dilakukannya hanya menghitung-hitung hari, kapan saat yang tepat untuk bertemu dengan sang dewi impiannya.

Akhirnya, yang ditunggu-tunggu pun sampailah waktunya. Rara Beruk sudah menginjak usia lima belas tahun. Saatnya datang masa berahi. Bagai bunga merekah, kecantikannya pun kini benar-benar sempurna. Dipercantik lagi derngan busana yang indah-indah yang disediakan oleh ibunya. Raut muka lurus, badannya ramping dan padat. Kulitnya kekuning-kuningan. Rambut berombak hitam berkilauan. Anak rambutnya berumbai-umbai tak teratur, indah, dan halus. Anak rambut di pelipis seperti kuncup bunga turi. Dahinya indah ibarat kayu cendana yang diukir. Pendek kata, Rara Beruk tampil manis, rapi, serasi, dan pantas.

Kecantikan Rara Beruk sungguh-sungguh menawan siapa saja yang memandangnya. Alis hitamnya yang melengkung terlihat seperti bulan tanggal satu dan mempermanis roman mukanya yang bersinar. Sorot matanya lembut ibarat berlian yang digosok. Hidungnya pun mancung.

Kecantikan Rara Beruk tersiar ke mana-mana. Kembang Palar Legen bisa mengalahkan bunga-bunga yang menghiasi Keraton Surakarta. Dari mulut ke mulut kecantikan dara Palar itu beredar hingga ke telinga Kanjeng Sinuhun.

Kanjeng Sinuhun terlaksana keinginannya. Rara Beruk sudah memasuki masa berahi. Tidak menunggu waktu lagi, Kanjeng Sinuhun pergi menemui Rara Beruk. Dia melangkah dengan pasti. Hatinya mantap oleh semangat baru yang akan mengejutkan semua orang. Di depan rumah keluarga Sudiradirja itu Kanjeng Sinuhun berjumpa dengan Bok Bei. "Bok Bei?" sapanya.

"Eh, Paduka Raja. Mari masuk!"

"Aku datang memenuhi janjiku, Bok Bei. Mana Rara Beruk?"

"Ada di dalam, Paduka. Hamba akan segera memanggilnya."

Bok Bei tergesa-gesa masuk ke kamar Rara Beruk dan menyeru, "Nduk … Nduk!"

"Ya, Bibi."

"Cah ayu, ada tamu datang! Kamu tahu, siapakah dia?"

"Tidak."

"Kanjeng Sinuhun. Temuilah, beliau menunggumu. Berbaik-baiklah melayaninya."

Terperanjat Rara Beruk menatap bibinya, "Kanjeng Sinuhun?"

"Ya, katanya dia datang memenuhi janjinya khusus untukmu, Nduk!"

"Benarkah?"

"Ayolah, kita ke sana! Rapikanlah dandananmu."

"Ya, Bi!"

Tidak lama keduanya keluar menemui Kanjeng Sinuhun.

"Nah, Paduka Raja, inilah Rara Beruk."

Rara Beruk menunduk lalu duduk di hadapan Kanjeng Sinuhun dan memberi hormat, "Terimalah sembah sujud hamba, Paduka!"

Pandangan mata Kanjeng Sinuhun segera menyergapnya. Memang hanya sesaat, tetapi Rara Beruk dapat membaca dengan jelas makna pandangan seperti itu. Dalam hati Kanjeng Sinuhun berdecak kagum, gairahnya yang memang telah terpendam sekian lama makin membara dan membakar. Pengetahuannya tentang Rara Beruk sebagian besar diperolehnya dari pembicaraan orang-orang, ditambah dengan beberapa kali melihat dayang itu secara langsung sewaktu dia menjadi dayang keputren. Akan tetapi, kali ini benar-benar di luar dugaannya. Rara Beruk jauh berubah dari tahun-tahun lalu. Lebih cantik dan menggairahkan. "Ah, pantas ... pantas saja aku tergila-gila kepadanya." Tanpa disadarinya tangannya meraih pundak gadis Palar yang masih duduk di hadapannya.

"Rara Beruk, berdirilah! Duduklah di sampingku!"

"Tidak, Paduka! Hamba sungguh tidak pantas duduk berdampingan dengan Paduka."

"Tidak apa-apa, Beruk! Toh nanti engkau akan menjadi istriku."

"Nduk, turutilah kemauannya.” Tterdengar bisikan halus bibinya di telinganya.

Rara Beruk tidak membantah lagi. Dia berdiri dan duduk di samping Kanjeng Sinuhun. Cinta memang penuh misteri. Siapa yang menyangka gadis Desa Palar, putri Kiai Jagasura mendapat kehormatan duduk berdampingan dengan Kanjeng Sinuhun.

Kanjeng Sinuhun tidak bertepuk sebelah tangan. Rara Beruk yang juga sudah lama menantikan kedatangan pangerannya menyambut kedatangan Kanjeng Sinuhun penuh kehangatan. Kedua-duanya dipersatukan oleh wahyu dan anugerah. Secara ajek pada waktu tertentu Kanjeng Sinuhun mengunjungi Rara Beruk di tempat Mas Bei Sudiradirja. Tak seorang pun mengkhawatirkan hubungan keduanya karena keinginan seorang raja pasti akan tercapai dan terlaksana.

Kata orang, sepandai-pandainya menyembunyikan ikan asin akan tercium juga baunya. Pertalian cinta Kanjeng Sinuhun dan Rara Beruk tercium oleh permaisuri. Kanjeng Ratu mendengar kabar Kanda Raja berselingkuh dengan Rara Beruk. Dia sangat marah dan kesal kepada suaminya.

"Oh ... jadi begitu," katanya mencela perbuatan suaminya. "Berbuat serong yang diselimuti tipu daya. Kepergiannya ternyata hanya melampiaskan keinginannya bertemu si Beruk.”

Kemarahannya juga dilampiaskan kepada Rara Beruk. "Sungguh keterlaluan si Beruk! Dasar orang tak tahu diri, berani-beraninya dia mencintai suamiku!"

Permaisuri tidak bisa menahan diri lagi. Semua orang terkena getahnya, termasuk Bok Bei yang dituduh sebagai biang keladinya. "Aku kecewa kepadamu, Bok Bei! Heh, Bok Bei! Tidak sadarkah kamu jika kamu sudah tua, pikun, tetapi ternyata pandai berdalih dan pandai pula berpura-pura?! Kata kamu dulu, si Beruk dilamar orang di Palar, nyatanya kamu membawanya ke rumahmu supaya hubungan suamiku dengan keponakanmu bisa leluasa! Pantasnya kamu jadi pemimpin bandit, Bok Bei! Sejahat-jahatnya orang kamulah yang paling jahat. Kamu sudah menanam benih jarak di mukaku. Sudah melakukan kejahatan yang tak termaafkan!"

Bok Bei tidak membela diri. Bukan berarti menerima kesalahan yang ditudingkan oleh Kanjeng Permaisuri kepadanya, melainkan tidak sepantasnya melawan Kanjeng Ratu yang sedang mengumbar amarah.

"Tak ada gunanya," kata hati Bok Bei. "Bukan berarti aku yang salah, melainkan tak pantas menentang Kanjeng Ratu. Harusnya Kanjeng Ratu paham bahwa cinta suatu anugerah yang bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja. Kebetulan saja yang dilanda cinta itu Kanjeng Sinuhun dan Rara Beruk.”

Percintaan Kanjeng Sinuhun dan Rara Beruk telah menuai badai. Badai itulah yang kini melanda Kanjeng Permaisuri. Rumah tangganya dengan Kanjeng Sinuhun yang dulu dibangunnya atas nama cinta menjadi guncang. Cinta memang bisa membawa kebahagian sekaligus kepedihan dan kesedihan. Bagi Kanjeng Sinuhun dan Rara Beruk yang sudah ditakdirkan berjodoh, cinta menjadi sesuatu yang membahagiakan. Namun, bagi Kanjeng Permaisuri cinta membawa kehancuran.

Hubungan Kanjeng Sinuhun dan istrinya menjadi dingin. Keduanya tidak bertegur sapa. Kanjeng Permaisuri berusaha menahan emosinya supaya tidak meledak dengan cara diam, sedangkan Kanjeng Sinuhun lebih banyak tinggal di pesanggrahan atau menemui kekasihnya di rumah Sudiradirja.

Situasi ini tentu saja tidak menyenangkan bagi keduanya. Untuk mencari suasana lain yang berbeda dengan yang dihadapi sehari-hari, Kanjeng Sinuhun berniat mengungsi ke Loji.

•••

KANJENG SINUHUN MENGUNGSI KE LOJI


Kanjeng Sinuhun Pakubuwana ingin mengungsi ke Loji. Tentu saja para pembantu Sri Raja itu langsung mengupayakan dan mempersiapkan keberangkatan Kanjeng Sinuhun.

Yang pertama-tama diberi tahu oleh Sri Raja adalah Mas Bei Sudiradirja. "Mas Bei, untuk sementara aku ingin tinggal di Benteng Surakarta," katanya suatu hari.

"Benteng Surakarta di Loji, Tuanku?"

"Benar, Mas Bei. Aku ingin menghibur diri. Siapa tahu mungkin hati istriku bisa menjadi terang dan memahami bahwa aku tak bisa pisah dengan Rara Beruk."

"Jadi, Tuanku akan pergi bersama anakku?"

"Tentu saja, Mas Bei! Aku dan Rara Beruk sudah terbelit cinta suci, tak mungkin terpisahkan lagi."

"Jika demikian, kami suami-istri perkenankan ikut pula. Sesungguhnya, hamba dan terutama istri hamba merasa tidak enak hati dengan Kanjeng Permaisuri, merasa berdosa atas perpecahan hubungan Tuanku dengan Kanjeng Permaisuri."

"Heh, Sudiradirja, jangan merasa berdosa! Yang demikian itu sudah aku pikirkan. Peristiwa ini akulah penyebabnya!"

"Hamba, Paduka!"

"Jangan tanggung membelaku, Mas Bei! Sekarang aku menyuruhmu mengantarkan surat ini untuk Loji Obrus, pemimpin Benteng Besar Surakarta. Katakan, yang pertama aku kirim salam, dan yang kedua aku sedang terbelit masalah sehingga ingin beristirahat di sana untuk sementara waktu agar terlepas dari persoalan ini."

"Baiklah, Tuanku! Hamba akan menyampaikannya langsung pada Loji Obrus."

Tiba di Benteng Surakarta, Ngabei Sudiradirja menuju pintu pagar besi yang dijaga ketat oleh beberapa penjaga keamanan.

"Aku utusan Kanjeng Sinuhun Pakubuwana, sengaja datang kemari untuk menyerahkan surat Sri Raja," katanya krpada penjaga benteng dengan menyerahkan surat.

Penjaga membawa surat itu dan menyerahkannya kepada Kaswaring Obrus. Tanpa menunda lagi, Kaswaring Obrus membukanya dan membacanya dengan saksama. Selesai membaca, Obrus memanggil penjaga yang masih berdiri di sana, "Hai, penjaga, suruh masuk duta raja, langsung saja bawa masuk ke ruang dalam Loji."

"Baiklah, Tuan!"

Tidak lama Sudiradirja sudah berada di ruang Loji diantar oleh penjaga.

"Duduklah, Mas Bei,” kata Obrus yang sudah mengenalnya.

Obrus pun memanggil pelayan, "Hai, pelayan, bawakan kemari makanan lezat, roti, dan kue-kue. Minumnya, cokelat panas. Jangan lupa bawakan anggur jenever waragang sebagai penghormatan."

Pelayan mengambilkan semua makanan yang dipesan oleh Tuan Obrus. Dan, Tuan Obrus sendirilah yang menemani Ngabei Sudiradirja.

"Jangan malu-malu, Ngabei. Silakan makan!"

Ngabei Sudiradirja menyantap makanan yang disuguhkan. Loji Obrus menulis surat balasan untuk Sri Raja. "Katakan kepada Sri Raja, kami sangat senang dengan kedatangan Paduka. Kami semua menunggu di sini."

"Baiklah, Tuan Obrus, akan saya sampaikan kepada Sri Raja. Sekalian saya mohon pamit karena Sri Raja pasti menunggu-nunggu!"

Ngabei Sudiradirja dilepas oleh Tuan Obrus sampai pintu gerbang. Benar saja, Kanjeng Sinuhun sudah menunggu-nunggu kedatangannya. Mas Bei menyerahkan surat balasan dari Tuan Obrus. Setelah surat itu selesai dibacanya, terdengar Kangjeng Sinuhun memanggil Mas Bei, "Mas Bei! Obrus menerima kedatanganku dengan tangan terbuka. Siapkan segala keperluanku, Mas Bei! Esok kita berangkat ke Loji."

Mas Bei Sudiradirja mempersiapkan segala keperluan Kanjeng Sinuhun yang akan mengungsi ke Loji. Dia pun memberitahukan perihal keberangkatan Kanjeng Sinuhun ke Loji kepada istri dan anaknya.

"Istriku, bersiap-siaplah, kita akan mengikuti Kanjeng Sinuhun ke Loji. Dan, beri tahu pula anak kita, Rara Beruk!"

"Baiklah, Kang Mas."

Setelah memberi tahu Rara Beruk, Bok Bei memberes-bereskan barang-barang yang diperlukan.

Esok hari rombongan Sri Raja pergi ke Loji diiringi bala tentara. Di belakangnya menyusul Ngabei Sudiradirja dan istrinya serta Rara Beruk. Tidak ketinggalan dua orang pembantu perempuan dan dua orang pembantu laki-laki mengiringi rombongan Bok Bei. Bagian pengangkutan tidak cukup sekali mengangkut barang. Mereka bolak-balik dari rumah ke Loji mengangkut barang-barang yang diperlukan.

Kanjeng Sinuhun dan rombongan sampailah di Loji. Sri Raja sangat senang dan terpesona melihat keindahan alam dalam benteng. "Tidak sia-sia aku datang ke sini, pemandangannya sangat indah," katanya.

Kanjeng Sinuhun berkeling-keliling di Benteng Besar Surakarta itu menikmati keindahan alamnya sambil menunggu Tuan Residen menemuinya. Tidak lama kemudian Tuan Residen menemui Kanjeng Sinuhun, "Selamat datang di Loji, Paduka."

Kanjeng Sinuhun memeluknya, Tuan Residen membalas pelukannya dengan hangat.

"Terima kasih, Tuan Residen. Tuan sudah begitu baik mau menerima kami di sini.”

"Sudah sepantasnya menolong orang yang sedang kesusahan. Beristirahatlah di sini, Paduka! Oh, ya, kalau boleh tahu, kira-kira masalah apa yang membelit Paduka?"

"Begini, Obrus. Dengarlah baik-baik pengalamanku ini.” Kanjeng Sinuhun pun memaparkannya dari awal sampai akhir.

Tuan Residen Obrus mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti masalah yang sedang dihadapi Kanjeng Sinuhun. "Kalau begitu, beristirahatlah Paduka di sini sampai semua masalah selesai."

Kanjeng Sinuhun di Loji benar-benar tidak ada yang mengganggu. Hubungannya dengan Rara Beruk makin dekat saja. Tiap saat keduanya selalu bersama, saling melepaskan rindu, memadu kasih di tengah-tengah Benteng Besar Surakarta. Dunia menjadi milik mereka berdua. Kanjeng Sinuhun dan Rara Beruk hanyut dalam buaian cinta yang memabukkan dan seakan-akan lupa akan tugas dan kewajiban pada negerinya. Tentu saja Tuan Residen Obrus tidak membiarkan Kanjeng Sinuhun mabuk kepayang. Di tengah-tengah waktu istirahatnya, Tuan Residen sengaja menemui Kanjeng Sinuhun yang sedang duduk berdampingan dengan Rara Beruk di taman. Kanjeng Sinuhun memang siang malam selalu menggandeng kekasihnya, Rara Beruk.

"Bagaimana, Paduka? Apakah Paduka benar-benar menikmati istirahat Paduka di sini? Mudah-mudahan saja Paduka betah."

"Aduh … Tuan Residen! Aku bukan lagi betah, melainkan keenakan tinggal di sini," kata Kanjeng Sinuhun sambil ujung matanya melirik kepada kekasihnya.

"Syukurlah, Paduka! Saya turut gembira juga melihat Paduka seperti dapat melupakan masalah. Akan tetapi, saya juga sedih mengingat Keraton Surakarta kehilangan penguasanya."

"Biarlah, Tuan Residen! Di sana masih ada patih, pangeran, dan para bupati yang menjalankan pemerintahan."

"Ya, memang di sana ada patih, pangeran, dan para bupati, tetapi kalau tidak ada Sri Raja, keraton tetap saja suram. Menurut saya yang bodoh ini, sebaiknya segeralah Paduka pulang. Soal kesulitan yang dihadapi Paduka, marilah kita cari pemecahannya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila perkataan saya ini lancang."

Sampai di sana Tuan Residen berhenti sejenak menunggu reaksi Sri Raja. Tak lama kemudian terdengar perkataan Kanjeng Sinuhun, "Aduh, Tuan Residen, sungguh benar kata-katamu tadi. Aku akan mengikuti apa katamu, tetapi sebaiknya kamulah yang mengaturnya. Aku pasrah kepadamu. Satu pesanku, janganlah lupa soal Rara Beruk. Aku akan pulang jika Rara Beruk tetap mendampingiku."

Tuan Residen bernapas lega. Ternyata Kanjeng Sinuhun tidak murka dengan sarannya. "Ya, lebih baik begitu, Paduka. Terlalu lama di sini juga tidak enak dilihat orang. Rara Beruk pasti akan hamba perhatikan juga."

"Aku mengucapkan terima kasih atas segala bantuanmu, Tuan Residen."

"Sudah menjadi kewajiban saya menolong Paduka. Baiklah, Paduka, saya mohon diri akan menguruskan segalanya."

Tuan Residen mundur dari hadapan Kanjeng Sinuhun. Sepeninggal Tuan Residen, Kanjeng Sinuhun berkata kepada Rara Beruk dengan mesranya, "Manisku, engkau telah mendengar semua perkataanku dengan Tuan Residen. Bagaimana menurutmu?"

"Hamba yang hina ini akan mengikuti semua kehendak Paduka."

"Jika demikian, sebaiknya engkaulah yang menyampaikan hal ini kepada ibumu, biar dia bersiap-siap."

"Hamba akan menyampaikannya, Paduka."

"Oh, ya, sayangku, sebelum kita pulang ke Keraton Surakarta, aku akan melamarmu secara resmi kepada orang tuamu."

"Sebaiknya memang begitu, Paduka. Hubungan kita, jika belum diresmikan, tentu tidak memungkinkan hamba untuk mengikuti Paduka ke keraton."

"Benar, sayangku. Aku tak mampu hidup tanpa engkau di sampingku. Setelah resmi menjadi suami-istri, engkau akan kubawa ke keraton."

Rara Beruk menjadi tersanjung dengan perkataan Sri Raja. Dia merasa benar-benar menjadi perempuan yang paling mulia di dunia ini.

Tak lama kemudian keduanya meninggalkan taman dengan perasaan lapang.

•••

PERMAISURI MENINGGALKAN KERATON




Konon, Kanjeng Permaisuri di keraton selalu menanti Kanjeng Sinuhun. "Kenapa Kang Mas Raja tidak pulang-pulang? Apakah suamiku benar-benar marah atas sikapku? Atau dia sudah melupakanku?"

Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya, tetapi satu pun tidak ada yang terjawab. "Sungguh keterlaluan si Beruk! Berani-beraninya merebut suami orang. Apakah dia sebagai sesama perempuan tidak memikirkan perasaanku? Bagaimana seandainya dia yang diperlakukan seperti aku?” gerutu Permaisuri dengan kesal.

Karena Kanjeng Sinuhun tidak kunjung pulang, Kanjeng Permaisuri akhirnya pergi ke Ngendranatan, menemui Harya Endranata, adik kandungnya yang tinggal di Menangan. Dari Keraton Surakarta, Menangan ini letaknya sebelah timur Gading. Rumah itu sesungguhnya peninggalan ayahnya. Setelah menikah dengan Kanjeng Sinuhun, permaisuri pindah ke keraton.

Setibanya di Ngendranatan, Kanjeng Permaisuri langsung masuk ke rumah. Adiknya yang kebetulan ada di rumah menatap kakaknya dengan sederet pertanyaan. Sebelum Harya Endranata bertanya, Kanjeng Permasuri langsung mendahuluinya, "Aduh, Adikku, Endranata! Tolonglah kakakmu ini!"

"Mbakyu, ada apa? Datang-datang minta tolong. Ceritakan dulu apa yang terjadi?"

"Endranata, kamu tahu Sri Raja sekarang menjadi lupa diri. Gara-gara kasmaran krpada si Beruk, dia menjadi berani dan mengikuti apa kata hatinya."

"Tenanglah, Mbakyuku sayang! Aku tahu, tahu semuanya."

Kanjeng Permaisuri tidak mendengarkan ucapan adiknya, dia terus saja mencurahkan isi hatinya yang selama ini dipendamnya, "Kamu tahu, Endranata? Sekarang dia tinggal di Loji. Sama sekali tidak mau pulang ke istana. Dia itu sudah kehilangan keutamaan hati, bersenang-senang dengan si Beruk!"

Endranata yang mengetahui segalanya hanya diam mendengarkan ucapan kakaknya. Katanya dalam hati, "Biarlah semuanya tersalurkan. Jika sudah selesai pasti berhenti sendiri."

"Endranata, Adikku, engkau ini laki-laki sama seperti suamiku. Bagaimana pendapatmu sebagai seorang lelaki tentang hal ini?"

Endranata belum mau berkomentar. Kanjeng Permaisuri penasaran, berkata lagi kepada adiknya, "Adikku, engkau kuanggap sebagai pengganti Bapak, wajib memikirkan bagaimana baiknya aku ini? Kenapa kau diam saja?"

Mendengar bapaknya disebut-sebut Endranata menjadi tergugah hatinya, "Kasihan, kakakku! Akan tetapi, harus bagaimana lagi? Aku pun tak mampu menolongnya. Bila melihat Rara Beruk, lelaki mana yang tidak bertekuk lutut kepadanya. Aku bisa memahami sikap iparku, apalagi dia seorang raja yang besar kekuasaannya."

Namun, bukan kata-kata itu yang keluar dari mulut Endranata. Yang terucap justru kata-kata lain yang menyarankan dan menasihati kakaknya.

"Aduh, Mbakyu yang manis, adinda memohon beribu-ribu maaf atas segala kesalahan. Jauhkanlah Mbakyu dari tulah. Sabarlah menerima segala cobaan ini."

"Aku sudah sabar, Adikku! Akan tetapi, sabar saja tak menolong penderitaanku."

"Aduh, Mbakyu, apakah engkau lupa, lupa pada adat kebiasaan para raja? Para raja tidak cukup beristri satu. Bahkan, lebih dari dua. Suamimu baru mengambil selir satu, engkau sudah kelimpungan!"

Kanjeng Permaisuri terdiam. Endranata melanjutkan, "Lihatlah, Mbakyu! Perempuan yang berhati suci seperti Dyah Dewi Citrawati, putri terbaik di Manggada, permaisuri Harjunasastra Maespati yang besar kekuasaannya dan kaya raya, rela dimadu. Permaisuri Dyah Dewi dimadu dengan Putri Donas. Meskipun demikian, keduanya sangat senang. Permaisuri baik terhadap madunya. Madunya pun tidak ada yang melawan. Antara permaisuri dan madu-madunya terjalin keakraban, saling hormat dan sayang menyayangi. Bahkan, para madunya menganggap Permaisuri gurunya para putri di Manggada."

Kangjeng Permaisuri Kancana Wungu kali ini yang terdiam. Ucapan Endranata didengarnya baik-baik. Endranata memanfaatkan kesempatan ini dengan menyebutkan permaisuri lainnya yang dimadu, "Mbakyu, seorang putri utama gadis Banoncinawi saudara muda Sang Raja Padmanaba Dwakara, putra Sang Basudewa yang sakti, Raja Madura, istri Sang Dananjaya, Wajahnya paling cantik di dunia, dialah Dewi Wara Subadra. Beliau sangat sabar penuh kasih sayang terhadap madunya. Bahkan, madunya dianggap adiknya. Makanya semua madunya hormat dan sayang kepada Subadra."

Kanjeng Permaisuri masih diam. Endranata meneruskan, "Itu semua dapat dijadikan teladan, Mbakyu, teladan baik yang pantas diikuti oleh Mbakyu. Maafkan adikmu, Mbakyu! Kenapa Mbakyu sebagai Ratu Agung, terbaik di istana, merasa keberatan dimadu? Jika Mbakyu bersikap seperti Subadra atau Putri Manggada, tentunya Kang Mas Raja tidak akan minggat."

Karena belum ada jawaban dari kakaknya, Endranata kembali meneruskan perkataannya, "Mbakyu, sekarang ingat-ingat di mana ada Raja Tanah Jawa yang beristri satu? Mbakyu Ratu sebagai permaisuri tertua, sebaiknya menghendaki banyak madu. Apabila ada keperluan yang mengharuskan Mbakyu berada di depan, para madu akan menghadap bagai pembantu. Makanya, Mbakyu jangan dongkol dan kesal kepada Rara Beruk. Semua orang tahu kecantikannya melebihi semua perempuan. Meskipun Mbakyu menolak dimadu, Kang Mas Raja tetap ngotot akan mengambil Rara Beruk sebagai selirnya."

Endranata melihat dalam-dalam wajah kakaknya, tetapi di wajah itu belum ada reaksi atas perkataannya.

"Mbakyu! Dalam hal ini Mbakyu sudah berbuat salah. Jika seorang suami apalagi suami Mbakyu itu seorang raja sampai pergi dari rumah, akan susah meraihnya kembali. Lelaki kalau sudah kecewa, tak seorang istri pun bisa memulihkannya."

Kanjeng Permaisuri mengangkat wajahnya menatap adiknya penuh dengan rasa kecewa, karena ternyata adiknya bukannya membela dan menolong kakaknya, malah menyalahkannya.

"He, Endranata adikku, saran-saranmu dan nasihatmu krpadaku semuanya benar. Aku bisa menerimanya, tetapi bagiku tidak dapat menjadi contoh kehidupan. Malah sebaliknya, membangkitkan benih kebencian. Engkau sedikit pun tak peduli krpadaku! Endranata, meskipun suamiku kawin dengan seribu wanita, aku tak menolak dimadu. Sungguh hatiku tidak panas, apalagi iri. Aku senang saja jika yang dikawini suamiku anak seorang raja. Akan aku anggap maduku sebagai saudara sebagaimana Sumbadra. Akan tetapi, ini si Beruk, si gila itu, keturunan orang kecil, miskin lagi! Aku tak sudi disejajarkan dengan si Beruk. Si jalang itu tidak sebanding denganku. Zaman dulu, meskipun bukan anak raja, paling tidak anak pendeta yang diambil selir. Sungguh masih sejajar raja," kata permaisuri melampiaskan kekesalannya.

"Duh, Mbakyu, tenanglah! Mbakyu jangan salah terima. Jadi, Mbakyu tidak mau dimadu gara-gara keadaan Rara Beruk yang miskin? Itu salah besar, Mbakyu! Ingatlah, raja itu sekehendaknya, tidak bisa kita yang menentukannya. Dia sangat berkuasa. Meskipun mengambil istri anak orang tuli pikun, dia berkuasa mengangkat derajatnya. Karena raja punya kekuatan untuk menguasai. Sadarilah itu, Mbakyu, sebelum terlambat!"

Kanjeng Permaisuri Kancana Wungu mengeluarkan air mata karena merasa kalah bicara dengan adiknya. Dia pun mengakui semua perkataan adiknya benar, tetapi hatinya sungguh berat harus menerima si Beruk sebagai madunya.

"Mbakyu, kita jalani saja kehidupan ini. Siapa yang dapat menghalang-halangi kehendak raja? Dalam hal ini Mbakyu perlu minta maaf kepada Kang Mas Raja! Bagaimana, Mbakyu? Apakah aku yang memintakan permohonan maafmu, atau Mbakyu sendiri yang akan meminta maaf atas sikap Mbakyu yang menyebabkan Kang Mas Raja pergi ke Loji?"

Kanjeng Permaisuri luruh hatinya dengan ucapan terakhir adiknya. Dia tidak membantah lagi.

"Adikku, aku agak berat kalau harus datang ke Loji, minta maaf kepada suamiku. Bagaimana jika engkau meminta pertolongan pada Belanda, supaya suamiku pulang? Atau, lebih baik engkau sendiri yang menghadap Sri Raja, memohonkan maafku dan memintanya pulang?"

"Baiklah, Mbakyu! Jika demikian, akulah yang menghadap Kang Mas Sri Raja. Aku sanggup melawan kekerasan hati seseorang. Aku juga akan menyurati Tuan Residen Loji supaya merayu Kang Mas Raja agar hilang kemarahannya. Sekarang segeralah Mbakyu pulang ke keraton. Tunggulah di sana!"

Kanjeng Permaisuri pun pulang ke keraton. Hatinya memendam rasa rindu yang dalam kepada suaminya. Badannya setengah menggigil seperti daun jatuh melayang ke mana-mana diterbangkan angin. Dia merasa sangat sedih ditinggal suami tercinta. Sampai di keraton, Sang Ratu masuk kamar dan mengunci pintunya, dan tak lama kemudian terdengar isak tangis yang memilukan.

Harya Endranata belum sempat menulis surat kepada Residen, Tuan Residen sudah datang ke Keraton Surakarta. Kedatangannya khusus menemui Permaisuri. Tuan Residen diterima oleh Permaisuri di Maduretnan. Tuan Residen menyampaikan maksud kedatangannya kepada Permaisuri, "Kanjeng Ratu, saya mengabarkan bahwa Surakarta akan kedatangan musuh dari Makasar. Raja Makasar dan para prajuritnya sekarang dalam perjalanan menuju kemari melalui jalan darat dari arah pelabuhan Semarang.”

"Hah, musuh datang, Tuan Residen? Bagaimana ini bisa terjadi? Tuan kan tahu Sri Raja tidak di sini?"

"Benar, Kanjeng Ratu. Karena Raja berada di Loji, Keraton Surakarta akan dijaga oleh kumpeni. Yang penting sekarang keselamatan Kanjeng Ratu. Seluruh penghuni istana—terutama para putri—supaya meninggalkan keraton secepatnya."

"Baik, baik, Tuan Residen. Aku dan seluruh perempuan di sini akan mengungsi. Bagaimana dengan istana?”

"Jangan khawatir, Gusti Ratu. Keraton dijaga ketat di kanan dan di kiri. Seluruh adipati ikut mendampingi, menjaga agar kerajaan jangan sampai hancur. Bukankah Gusti Ratu pasti tahu watak orang-orang yang sedang berperang?"

Kanjeng Ratu terguncang hatinya. Dia menanyakan suaminya, "Tuan Residen, bagaimana dengan Kanjeng Sri Raja? Apakah dia tidak disuruh pulang ke istana?"

"Sabarlah, Gusti Ratu. Jika situasinya sudah jelas, dan musuh ada di hadapan mata, saya tinggal memanggil Paduka."

Kanjeng Permaisuri dalam hatinya bertanya-tanya dengan keterangan yang baru saja keluar dari mulut Tuan Residen, "Aneh, katanya tadi musuh sudah menuju kemari hingga aku dan para perempuan disuruh mengungsi, tetapi Kang Mas Raja baru akan dipanggil jika musuh sudah jelas. Mana ini yang benar?"

Tuan Residen buru-buru berkata lagi melihat Kanjeng Permaisuri seperti ragu. "Kanjeng Ratu, sudahlah jangan dipikirkan! Saya dan prajurit-prajurit lain yang akan bertanggung jawab atas keraton ini. Sekarang berkemas-kemaslah! Segeralah berangkat, saya sangat mengkhawatirkan keselamatan Kanjeng Ratu!"

"Baiklah, Tuan Residen. Saya akan mengumpulkan seluruh abdi dalam, para dayang, dan pembantu lainnya."

"Kanjeng Ratu, saya mohon pamit. Saya kemari hanyalah memberi kabar. Masih banyak urusan lain yang harus saya selesaikan."

"Ya, Tuan Residen. Aku juga mengucapkan terima kasih atas segala perhatian Tuan."

Sepeninggal Tuan Residen, guncanglah seluruh penghuni keraton. Berita datangnya musuh begitu tiba-tiba. Kanjeng Permaisuri memerintahkan seluruh perempuan meninggalkan keraton, "Wahai para dayang, abdi dalam, emban-emban, kita sekarang juga harus meninggalkan keputren karena tidak lama lagi musuh akan datang menyerang istana ini!"

"Kita mengungsi ke mana?”

"Carilah tempat yang aman, terserah kalian!"

"Kanjeng Ratu bagaimana? Tuan mengungsi ke mana?"

"Aku akan ke Menangan, pulang ke Endranata."

"Kalau demikian, untuk sementara waktu hamba akan pulang ke desa, Kanjeng Ratu!"

"Begitu juga bagus. Nanti kalau sudah aman engkau akan kupanggil kembali ke istana. Para dayang dan abdi dalem yang biasa mengurusku, ikut denganku ke Menangan!"

"Hamba, Kanjeng Ratu!"

"Tidak perlu membawa barang yang banyak. Bawalah seperlunya! Jika sudah siap kita berangkat bersama."

Kanjeng Permaisuri Kancana Wungu tidak menunggu hari esok. Dia dan rombongannya meninggalkan keraton. Kanjeng Permaisuri dan beberapa pembantunya pulang ke Endranata, sedangkan yang lainnya pulang ke kampung halaman masing-masing.

Sepanjang perjalanan, Kanjeng Permaisuri tidak berbicara. Pikirannya saja yang melayang ke mana-mana. Sebentar-sebentar roman mukanya menampakkan kesedihan, teringat pada nasib diri yang nelangsa. "Harusnya dalam situasi seperti ini, Kang Mas berada di sampingku! Akan tetapi, sekarang dia malah bersenang-senang dengan kekasihnya! Betapa malang nasibku!"

Para dayangnya tak kuasa menghibur tuannya. Mereka hanya menatap ratu yang disayanginya dengan tatapan iba. "Sabarlah, Tuanku! Tuanku harus kuat menerima kenyataan ini. Bukan hanya Tuanku yang mengalami nasib seperti ini, melainkan juga semua permaisuri merasakannya karena suami mereka raja-raja dikelilingi oleh para selir."

"Kenapa aku tak bisa seperti permaisuri-permaisuri lainnya yang rela cintanya dibagi?"

Pertanyaan demi pertanyaan yang tak mungkin terjawab terus bermunculan satu demi satu dalam benaknya hingga tak terasa Kanjeng Permaisuri tiba di rumah Endranata, adiknya.

•••

KANJENG SINUHUN KEMBALI KE ISTANA

Dari Keraton Surakarta Tuan Residen langsung menuju ke Loji. Dia akan menemui Sri Raja yang sedang mengungsi di Loji. "Mudah-mudahan Sri Raja berkenan dengan rencanaku ini. Yang penting Sri Raja kembali ke istana secepatnya."

Kanjeng Sinuhun seperti biasa bercengkerama dengan kekasihnya, Rara Beruk. Melihat Tuan Residen menuju ke arahnya, Kanjeng Sinuhun menyambutnya dengan senyuman, "Ah, Tuan Residen, apa kabar?"

"Kabar baik, Paduka."

"Tuan baru datang dari bepergian jauh?" Kanjeng Sinuhun melihat keringat Tuan Residen masih merambati seluruh wajahnya.

"Benar, Paduka. Saya baru saja tiba dari keraton!"

"Dari keraton? Ada urusan apa gerangan? Bagaimana keadaan di sana?"

"Semua baik-baik saja. Yang jelas, sekarang Paduka dan Rara Beruk dapat kembali ke istana!"

"Pulang? Bagaimana dengan istriku? Apakah dia sudah mau menerima Rara Beruk sebagai madunya?"

"Menerima tidaknya, saya belum tahu. Sekarang Kanjeng Ratu sudah tidak ada di istana. Selesai sudah masalah. Jadi, Paduka bebas membawa Rara Beruk ke istana."

"Tidak ada? Apa maksudmu, Tuan Residen?"

Tuan Residen menerangkan tipu dayanya yang telah berhasil mengeluarkan Kanjeng Permaisuri dari keraton.

"Kanjeng Ratu yakin dengan keteranganku bahwa musuh akan menyerang istana sehingga beliau mengungsi ke Menangan ke rumah adiknya, Endranata."

Kanjeng Sinuhun tersenyum menanggapi penjelasan Tuan Residen, "Engkau bisa saja, Tuan. Lalu, sekarang bagaimana?"

"Ya, Paduka pulang saja ke istana. Tidak berarti saya mengusir Paduka. Paduka kan tahu di sana banyak tugas menanti. Tidak baik seorang raja terus-menerus bersembunyi. Beristri dua atau lebih bukan masalah besar, bukan? Lihatlah raja-raja lain, selirnya bahkan tidak hanya satu!"

"Benar, Tuan Residen. Aku sebenarnya tidak perlu mengungsi ke sini! Akan tetapi, bagaimanapun aku menghargai istriku. Jika dia masih berada di istana, sedangkan aku berkasih sayang dengan Rara Beruk, bagaimana jadinya?"

"Paduka memang seorang raja yang berperasaan!"

Kanjeng Sinuhun sedikit merasa lega karena bisa pulang ke istana membawa kekasihnya. Rara Beruk yang sejak tadi mendengarkan percakapan Kanjeng Raja dan Tuan Residen juga turut senang. Bukannya senang atas penderitaan orang lain, melainkan karena nasibnya akan ditentukan sekarang. Statusnya akan menjadi jelas, tidak seperti saat ini—menggantung—istri bukan, selir pun bukan.

"Paduka Raja, jika Paduka pulang, bagaimana dengan hamba?"

"Tenanglah, Beruk! Setelah ini kita urus pernikahan kita."

"Di sini, Paduka?"

"Ya, tentu saja di sini! Orang tuamu kan ada di sini juga!"

Rara Beruk mengangguk, memahami keinginan Kanjeng Sinuhun.

"Tuan Residen, bagaimanapun, Tuan sudah berjasa melepaskan kesulitanku. Untuk itu, aku mengucapkan terima kasih."

"Ah, jangan dibesar-besarkan, Paduka. Lebih baik sekarang kita pikirkan rencana Paduka yang akan menikahi Rara Beruk."

"Benar, Tuan Residen. Aturlah sekalian oleh Tuan. Jika pulang, Rara Beruk sudah menjadi istriku."

Tuan Residen menguruskan segalanya. Ngabei Sudiradirja dan istrinya turut pula mempersiapkan pernikahan putri angkatnya dengan Kanjeng Sinuhun. Upacara pernikahan itu berlangsung singkat. Selain situasinya tidak memungkinkan untuk dirayakan beramai-ramai, tempatnya juga tidak mendukung untuk melakukan berbagai upacara adat yang biasa berlangsung dalam pesta pernikahan.

Setelah pesta pernikahan berlangsung, Kanjeng Sinuhun segera mengangkat Rara Beruk sebagai selir dan diberi nama Dyan Ayu Mandayaprana, "Rara Beruk, Istriku, mulai sekarang engkau secara resmi kuangkat sebagai selirku. Dan, namamu bukan lagi Rara Beruk, melainkan Dyan Ayu Mandayaprana dengan panggilan Dyan Ayu."

Rara Beruk menangis terharu atas anugerah itu.

"Hamba menerima anugrah ini, Paduka!" kata Dyan Ayu menyembah Kanjeng Sinuhun yang sudah resmi menjadi suaminya.

Setelah semuanya selesai, Kanjeng Sinuhun dan rombongannya kembali ke istana. Dyan Ayu Mandayaprana ditempatkan di Maduretnan, keputren kecil yang sudah ditinggalkan oleh Kanjeng Permaisuri.

Kanjeng Sinuhun kembali menjalankan tugas-tugasnya sebagai raja. Tak lupa beliau pun mengangkat mertuanya, orang tua kandung Dyan Ayu, Kiai Jagasura sebagai Mantri Parak dengan nama Kiai Ngabei Jagasura. Kanjeng Sinuhun pun memberikan beberapa hadiah kepada mertuanya itu berupa seperangkat pakaian dan sejumlah uang. Selain itu, sebuah rumah indah di kota sebelah timur Panularan menanti Kiai Jagasura dan istrinya untuk ditempati sebagai hadiah tambahan.

Sementara itu, Kanjeng Ratu Kancana yang tinggal di Ngendranatan sudah mendengar kabar bahwa Kanjeng Sinuhun, suaminya sudah kembali ke istana. Kanjeng Ratu juga sudah mengetahui bahwa Rara Beruk sudah resmi menjadi selirnya. Kanjeng Ratu sangat sedih mendengarnya. Kesedihannya bertambah tatkala Kanjeng Ratu tahu tentang kedatangan musuh yang akan menyerang istana hanyalah cerita bohong belaka. Semua itu tak pernah ada.

"Aku sudah terkena tipu muslihat dua kali! Pertama, suamiku berbohong. Katanya tiap hari menemui bangsa Prasman, nyatanya menemui si Beruk. Kedua, aku harus keluar dari istana karena bangsa Makasar akan menyerang, nyatanya itu suatu tipu daya supaya aku keluar dan si Beruk masuk. Benar-benar keterlaluan orang-orang itu!"

Tipu daya terselubung sangat menyakitkan hati Kanjeng Permaisuri. Dan, peristiwa demi peristiwa yang menimpa Kanjeng Permaisuri secara beruntun menyebabkan dia jatuh sakit. Sungguh tidak keruan badannya. Dia seperti mati tanpa mengalami sakit sedikit pun. Nyawanya seperti lepas, tidak ada upayanya untuk mempertahankan. Dari mulutnya tidak sepatah kata pun terucapkan. Raut mukanya pun menampakkan sesosok mayat hidup. Tidak ada lagi Kanjeng Permaisuri yang murah senyum dan ramah.

Apabila mengingat semuanya, badannya mendadak demam. Kesedihannya terlalu dalam, tak dapat lagi diungkapkan dengan kata-kata. Hanya para dayang dan abdi dalam setia yang selalu menghiburnya. Mereka senantiasa mencegah usaha Kanjeng Ratu yang ingin melabrak suami dan selirnya di istana.

"Janganlah ke sana, Kanjeng Ratu. Bila Kanjeng Ratu menemui Kang Mas Raja dengan luapan emosi dan sakit hati, di sana Kanjeng Ratu tidak akan dapat mengendalikan diri sehingga akan menghilangkan keutamaan Kanjeng Ratu sebagai perempuan."

Kanjeng Permaisuri diam saja, tetapi dalam hati mengiakan kata-kata dayangnya. "Benar kata mereka, bila aku ke sana, tampaknya hanya akan mempermalukan diriku saja. Akan tetapi, bagaimana dengan hatiku ini? Mau diapakan? Didiamkan saja?"

"Duh, Gusti Ratu, hamba mohon jangan mengimbangi Sri Raja! Ingatlah, Paduka seorang perempuan, sia-sia tak ada gunanya menghadapi Sri Raja," dayangnya kembali menasihati.

Lama-kelamaan luluh juga hati Kanjeng Permaisuri setelah para dayang dan abdi dalam lainnya membujuknya dengan ucapan-ucapan yang menyejukkan hatinya. Akhirnya, Kanjeng Permaisuri juga menerima nasib dirinya. Segala keinginan hatinya dipendamnya dalam-dalam di sanubarinya.

Harya Endranata, adiknya, merasa iba juga melihat kakaknya yang demikian menderita gara-gara Kanjeng Raja memiliki seorang selir. Ditemuinya kakaknya itu, dihiburnya dengan kata-kata yang manis.

"Mbakyu, sudahlah, jangan sampai dipikirkan terus. Ingatlah kesehatan Mbakyu yang dari hari ke hari kian menurun. Asalnya sakit hati, tetapi lama-lama bisa sakit badan. Mbakyu, jangan terus memikirkan kecewanya hati. Jelas itu tak berguna. Lebih baik Mbakyu memperbanyak ibadah, taat melakukan puja brata! Jika marah terus-menerus penglihatan menjadi gelap, semuanya serba tidak jelas, akhirnya badanlah yang terluka. Apalagi kalau marah-marah tak keruan, tentu akan hilang kesadaran diri."

"Benar katamu, Adikku!" Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Kanjeng Ratu.

"Ya, Mbakyu, sabar saja! Daripada Mbakyu melawan Kang Mas Raja, suasana akan makin runyam. Mbakyu sendiri yang rugi akhirnya. Kang Mas sudah jelas mengangkat Rara Beruk menjadi selir. Tidak dapat diganggu gugat lagi!"

"Aku juga berpikiran seperti itu, Adikku. Sekarang semua yang kulakukan tidak ada gunanya lagi."

"Janganlah berputus asa. Teruslah berdoa, mungkin akan mendapat belas-kasih Hyang Widhi dan Mbakyu terlepas dari kesedihan sampai akhirnya bertemu dengan kebahagiaan, tercapai yang dicita-citakan."

Kanjeng Permaisuri tidak berkata lagi. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Hati Kanjeng Permaisuri sudah sampai batas akhir kesedihannya yang begitu mendalam. Dia tidak malu-malu lagi memperlihatkan penderitaannya. Suara tangisnya selalu meramaikan kamar tidurnya. "Ah, Bibi, hatiku benar-benar sedih! Sudah tahu aku sakit begini, Kang Mas Raja tidak juga menjengukku!"

Para dayang terus menghiburnya supaya Kanjeng Ratu tidak terbelit kesedihan. Kesedihan yang terus-menerus dirasakan akan lebih menyakitkan hati lagi.

Dari hari ke hari kesehatan Kanjeng Permaisuri semakin menurun. Napasnya sesak, kulitnya mengerut, dan badannya semakin menyusut. Dalam dirinya sudah tidak ada semangat untuk hidup. Demam tinggi siang malam menyerangnya. Semua orang makin terenyuh atas keadaan Kanjeng Permaisuri.

Para dayang, abdi dalam, dan emban-emban siang malam tak beranjak dari tempat tidur Kanjeng Permaisuri. Mereka bergiliran menjaga ratunya yang menderita sakit makin parah. Obat-obatan dan jamu-jamu terbaik serta parem boreh yang bisa menghangatkan dan memijit badan tidak mempan lagi.

Harya Endranata tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk menolong kakaknya. Segala upaya sudah dilakukannya dengan maksimal, tetapi yang sakit belum juga pulih. Bahkan, seperti tak ada lagi harapan. Satu-satunya jalan terakhir yang dilakukan Harya Endranata untuk kakaknya adalah menemui Kanjeng Sinuhun.

Harya Endranata pergi menemui Kanjeng Sinuhun di Keraton Surakarta, "Paduka, Kang Mas Raja, hamba mohon maaf atas kelancangan ini. Hamba hanya ingin memberi tahu bahwa Mbakyu sekarang dalam keadaan sekarat. Sebelum ajal menjemputnya, hamba mohon Paduka berkenan menjenguknya sebentar.”

"Endranata, adik iparku! Aku juga pernah mendengar kabar istriku sakit. Ada rencana akan menjenguknya ke sana, tetapi waktuku sangat padat. Aku tidak menduga sakitnya demikian parah sampai katamu sekarang dalam keadaan sekarat."

"Benar, Paduka! Kakakku hanya tinggal menunggu waktu. Jadi, hamba mohon untuk yang terakhir kalinya, datanglah kepadanya."

"Baiklah, Endranata. Aku sekarang ke sana sekalian bersamamu."

"Dyan Ayu … Dyan Ayu," Kanjeng Sinuhun memanggil selirnya. "Ayolah, kita menjenguk Mbakyu Endranata."

"Baiklah, Paduka."

Kanjeng Sinuhun dan Dyan Ayu Mandayaprana pergi ke Menangan menjenguk Permaisuri Kancana Wungu. Sesampainya di sana Kanjeng Sinuhun langsung menemui istrinya, sedangkan Dyan Ayu mengikutinya dari belakang. Sri Raja mendekat di sebelah Kanjeng Ratu disaksikan Endranata dan Dyan Ayu. Kanjeng Permaisuri mengetahui kedatangan Kang Mas Raja.

Kanjeng Ratu mendongakkan kepalanya dari posisi rebah seperti sembuh seketika. Dengan napas teratur dia berkata pelan kepada Sri Raja, "Duh, Gusti, terimalah sembah sujud hamba. Maafkanlah semua kesalahan hamba. Hamba tidak kuat lagi mempertahankan hidup hamba. Mungkin ini sudah sampai pada takdirnya."

"Sudahlah, Istriku. Aku sudah memaafkanmu. Aku mohon, maafkanlah segala kesalahanku juga."

"Hamba mohon restu Paduka Gusti supaya mendapat jalan terang sampai akhirat, dan mendapatkan kemuliaan yang abadi. Jangan sampai Paduka berhenti dan menoleh karena ragu-ragu dan khawatir."

"Duh, Istriku, kudoakan agar engkau selamat dan kuat menahan sakaratul maut. Berhati-hatilah agar sampai di hadapan Yang Maha Memiliki. Ingatlah selalu pedoman luhur yang mengatakan bahwa pertentangan batin antara kesenangan dan kebahagiaan bukanlah tujuan sebenarnya. Di hadapan Tuhan, pikiran dan keinginan seperti itu tidak ada lagi. Apa yang ada dalam dirimu sendiri itu semestinya sudah cukup. Jangan khawatir, aku di sini untuk terus mendoakanmu."

Kanjeng Permaisuri menganggukkan kepala seperti mendapat kekuatan baru dalam menghadapi sakaratul maut. Kanjeng Sinuhun pun menyuruh selirnya agar bersilaturahmi dengan istrinya, "Hai, Dyan Ayu Mandayaprana, segeralah berbakti kepada Mbakyu Ratu Kancana!"

Dyan Ayu Mandayaprana cepat tanggap akan perintah suaminya, dia segera menyembah kaki Kanjeng Permaisuri. Berkali-kali dia menyembah sambil berkata, "Duh, Kanjeng Ratu, hamba mohon maaf atas semua kesalahan hamba."

Kanjeng Permaisuri yang sudah hilang dendamnya pada mantan dayangnya menyambutnya dengan tulus, "Hai, Beruk, demikian juga aku, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akulah yang menyebabkan engkau menderita. Ketahuilah, Beruk, takdirku agaknya cukup sampai di sini, menjalin persaudaraan di alam keramaian dunia. Mari saling mendoakan. Doakan aku bahagia di alam akhirat seperti yang pernah kualami di alam ramai ini. Mudah-mudahan abadi dan mendapat kemuliaan. Aku mendoakanmu, anak manis. Engkau bisa menggantikan kedudukanku."

Dyan Ayu Mandayaprana berlinang air matanya melihat Kanjeng Permaisuri yang demikian pasrahnya. Dia juga bisa merasakan ketulusan hati mbakyunya yang dilihatnya dari tutur katanya yang demikian lembut.

"Kanjeng Ratu, hamba akan berusaha melaksanakan semua yang Kanjeng Ratu inginkan. Hamba akan senantiasa setia dan mengabdi kepada Kanjeng Raja."

"Baguslah, anak manis! Sekarang aku lega meninggalkan alam dunia ini karena suamiku sudah berada di tangan seorang istri yang cantik dan yang senantiasa berbakti kepada suaminya."

Sampai di situ Kanjeng Permaisuri diam sejenak. Matanya mencari-cari adiknya. "Mana Endranata?" tanyanya.

"Ini, Mbakyu!"

"Adikku yang baik hati, Mbakyu sekarang minta maaf kepadamu. Satu pesanku, pandai-pandailah engkau mengabdi kepada kakak iparmu, Sang Raja, dan usahakan tidak ada perselisihan paham. Usahakan juga engkau berbaik-baik kepada Kanjeng Ratu yang baru. Engkau harus bisa menjaga perasaannya. Jangan sampai berbeda pendapat seperti yang terjadi denganku."

Harya Endranata menyembah, "Tak usah mencemaskanku, Mbakyu. Adikmu sudah tahu apa yang harus dilakukan. Adikmu ini akan melaksanakan semua pesan yang Mbakyu sampaikan."

Kanjeng Permaisuri benar-benar lega perasaannya. Semua masalah yang selama ini membelitnya sudah diseiesaikannya. Sekarang dia benar-benar tenang. Wajahnya kelihatan damai tanda hatinya sudah bersih dari iri hati dan dengki yang selama ini menutupi sanubarinya. Rara Beruk sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri. Dia juga sudah merelakan posisinya digantikan oleh Rara Beruk.

Kanjeng Permaisuri diam beberapa saat. Lalu, dia bersiap-siap diri dengan mengatur napas. "Ya, Tuhan Yang Mahakuasa, ambillah nyawa hamba sekarang. Hamba sudah ikhlas dan pasrah," katanya dalam hati.

Dengan disaksikan oleh Kanjeng Sinuhun, Dyan Ayu Mandayaprana, adiknya, dan para pembantu setianya, seketika Kanjeng Permaisuri mengembuskan napas terakhirnya.

Kanjeng Sinuhun menundukkan kepala memberi hormat untuk terakhir kalinya kepada mendiang istrinya. Dyan Ayu Mandayaprana tak dapat menahan rasa harunya. Matanya tak mampu lagi membendung air yang mengalir. Harya Endranata juga tidak beda dengan yang lain. Dia hanya mampu mengucapkan tiga patah kata, "Selamat jalan, Mbakyu!"

Yang panik dan gaduh adalah para dayang, emban, dan abdi-abdi dalam yang selama Kanjeng Permaisuri hidup selalu setia mendampinginya. "Kanjeng Ratu, akhirnya Tuanku sampai juga pada kebahagiaan abadi. Dengan kepergian Tuanku, berakhir pula kesedihan dan penderitaan Tuanku selama ini. Selamat jalan, Tuanku Ratu!"

Semua memberi penghormatan terakhir kepada Kanjeng Permaisuri. Setelah itu, mereka mengurus jenazah Kanjeng Permaisuri. Kanjeng Sinuhun yang mengatur dan memerintahkan penyelenggaraan upacara yang layak bagi seorang permaisuri. "Umumkan pada semua bala tentara, patih, dan bupati seluruh wilayah Surakarta serta rakyat semua bahwa Permaisuri telah wafat! Umumkan pula kita sekarang sedang berkabung! Dan, jangan lupa siapkan rangkaian upacara kematian yang layak bagi seorang permaisuri!" perintahnya kepada patih kepercayaannya.

Harya Endranata paling sibuk mengurus jenazah kakaknya. Kanjeng Sinuhun memerintahkan kepadanya supaya jenazah kakaknya disemayamkan di keraton.

"Endranata, setelah selesai di sini, bawa mendiang kakakmu ke keraton. Biar di sana disemayamkan semalam untuk memberi kesempatan pada seluruh rakyat Surakarta yang ingin memberi penghormatan terakhir kepada Kanjeng Ratu.”

"Baik, Kang Mas Raja," jawab Endranata.

"Sekarang aku pulang dulu, biar di sana dapat mempersiapkan segalanya.”

"Ya, Tuanku. Hamba siap melaksanakannya."

"Ayo, Dyan Ayu, kita pulang."

Kanjeng Sinuhun kembali ke keraton, Dyan Ayu Mandayaprana mengikutinya dari belakang.

Di keraton, Kanjeng Sinuhun mempersiapkan upacara kematian bagi mendiang istrinya. Ketika arak-arakan rombongan pengantar jenazah sampai di keraton, upacara pun dilaksanakan dengan khidmat.

Jenazah disemayamkan semalam di istana, dan rakyat berbondong-bondong memberi penghormatan terakhir untuk permaisuri. Prosesi pemakaman berlangsung sesuai dengan adat yang berlaku bagi seorang permaisuri. Terakhir, jenazah dibawa ke pekuburan raja-raja di Imogiri. Setelah upacara selesai dengan sempurna, orang-orang kembali ke rumah masing-masing. Tinggallah pusara yang di dalamnya bersemayam Kanjeng Permaisuri Kancana Wungu yang tertutup dengan karangan bunga yang menggunung.


•••

DYAN AYU MANDAYAPRANA DIANGKAT SEBAGAI PERMAISURI




Dyan Ayu Mandayaprana, selir Kanjeng Sinuhun hidup berbahagia dengan suaminya di Keraton Surakarta. Orang tua angkatnya, Mas Bei dan Bok Bei Sudiradirja turut pula menikmati kebahagiaan itu. Orang tua kandungnya, Kiai Jagasura dan istrinya sudah lama meninggalkan Palar Legen. Mereka menempati rumah baru di kota dengan penghidupan yang baru pula sebagai Mantri. Kiai Jagasura dan istrinya baru memahami tafsir mimpinya sekarang. Semua menjadi kenyataan, putrinya yang dalam mimpinya merupakan bintang kejora telah menikah dengan orang nomor satu di Surakarta, Kanjeng Sinuhun Pakubuwana, yang dulu dalam mimpinya berupa matahari.

Kebahagiaan Dyan Ayu Mandayaprana akan lebih sempurna jika anak yang dikandungnya telah lahir ke dunia. Ya, Dyan Ayu Mandayaprana sekarang sedang mengandung putra raja. Suatu anugerah yang tak terhingga bagi seorang Dyan Ayu sehingga bisa mempersembahkan keturunan untuk penerus Keraton Surakarta.

Ketika tiba saatnya, Dyan Ayu Mandayaprana melahirkan seorang bayi laki-laki. Wajahnya tampan dan bersinar-sinar. Terntu saja kelahiran putra mahkota ini disambut oleh semua orang termasuk para prajurit dan kepala pasukan keraton. Diumumkan pada semua rakyat agar diketahui bahwa Kanjeng Sinuhun sekarang telah memperoleh seorang anak laki-laki.

Kanjeng Sinuhun terus mengikuti perkembangan putranya. Saat bayi berusia tujuh hari beliau mengadakan selamatan nujuh hari dengan upacara cukur rambut. Kemudian, ketika si bayi berusia 40 hari, Kanjeng Sinuhun mengadakan selamatan besar-besaran dengan mengadakan keramaian.

Keraton Surakarta bersuka ria. Yang terjadi waktu itu di Surakarta adalah kegembiraan yang luar biasa. Hampir semua warganya keluar untuk menyaksikan putra mahkota dan ibunya yang akan tampil di depan umum. Inilah penampilan pertama selir raja di depan rakyatnya. Di sana-sini dipasang tenda besar-besar untuk menampung tamu undangan. Selain upacara selamatan rajaputra, Kanjeng Sinuhun juga secara khusus akan menobatkan Dyan Ayu Mandayaprana sebagai permaisuri.

Dyan Ayu Mandayaprana tampil dengan memakai busana kebesaran seorang ratu. Dia menebar senyum penuh wibawa dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi. Daya pesonanya begitu kuat sehingga sang ratu dapat menguasai arena tempat dia akan dinobatkan sebagai permaisuri.

Kanjeng Sinuhun yang didampingi para pejabat keraton bersiap-siap menobatkan istrinya sebagai permaisuri. Seorang pejabat keraton memegang mahkota keratuan. Kanjeng Sinuhun memanggil Dyan Ayu yang juga sudah berdiri di sampingnya.

"Dyan Ayu, Istriku, hari ini dengan disaksikan semua warga Surakarta, engkau aku nobatkan sebagai Permaisuri Raja dengan gelar Kangjeng Ratu Mas."

Mahkota keratuan dipasangkan di kepala Kanjeng Ratu Mas oleh suaminya. Dyan Ayu Mandayaprana, yang oleh ayahnya diberi nama Rara Beruk, asal Palar Legen tidak dapat melukiskan seluruh isi hatinya atas penobatan itu. Rasa hatinya hanya dapat diungkapkan lewat air matanya yang bercucuran. Air mata bahagia sekaligus terharu. Dia bersyukur kepada Yang Mahakuasa atas anugerah itu. Tak lupa Sang Permaisuri menyembah kaki orang tuanya yang telah melahirkannya dan membesarkannya. Dia pun mencium kedua orang tua angkatnya yang telah mendidiknya, membesarkannya, dan mengantarkannya sampai menjadi seorang permaisuri.

Tidak hanya Kanjeng Ratu Mas yang mengagungkan orang tuanya, Kanjeng Sinuhun pun mengucapkan terima kasih kepada mertuanya yang telah memberikan seorang istri yang sempurna untuknya. Rasa terima kasih itu diungkapkannya lewat hadiah-hadiah berupa jabatan dan gelar-gelar terhormat untuk orang tua Kanjeng Ratu Mas.

"Saudara-saudara," kata Kanjeng Sinuhun kepada yang hadir. "Mulai saat ini Kiai Jagasura, ayahanda permaisuri dilantik menjadi Bupati. Wilayah kekuasaannya terletak di Gedhong Kiwa! Namanya pun aku ganti menjadi Tumenggung Wirareja."

Yang hadir semua bertepuk tangan tanda turut bahagia bersama Tumenggung Wirareja. Setelah itu berbagai pertunjukan kesenian digelar untuk menghibur rakyat.

Beberapa hari kemudian, Kanjeng Sinuhun Pakubuwana ingin mengetahui silsilah, asal-usul Kanjeng Permaisuri. Karena yang selama ini diketahuinya hanyalah orang tua kandung istrinya itu seorang petani asal Palar Legen. Namun, kakek buyutnya atau nenek moyangnya asli dari turunan siapa masih gelap.

Dipanggilnya salah seorang pujangga keraton, Ngabei Yasadipura asli turunan Palar Legen yang mengetahui silsilah Kanjeng Permaisuri.

"Ngabei Yasadipura," kata Kanjeng Sinuhun, “aku ingin tahu nenek moyang Kanjeng Permaisuri. Apa sesungguhnya dalam darahnya itu mengalir turunan raja-raja? Yang aku ketahui, Kanjeng Ratu Mas hanyalah keturunan Palar!"

"Kanjeng Raja, kenapa tiba-tiba menanyakan hal ini?"

"Aku curiga melihat pribadinya, sikapnya, dan perilakunya yang menunjukkan bahwa dia itu tidak sekadar keturunan Palar."

"Benar, Kanjeng Raja. Hamba masih teringat kakek neneknya, bahkan lebih ke atas lagi, nenek moyang Kanjeng Ratu berasal dari keturunan Demak," katanya.

"Wah, kalau begitu kebetulan sekali! Cobalah ceritakan kepadaku. Aku tak sabar ingin mengetahuinya."

"Kanjeng Permaisuri ini apabila dirunut ke atas dari pihak laki-laki, sesungguhnya masih keturunan raja-raja Demak. Raja Demak yang pertama adalah Kanjeng Sultan Alam Akbar yang menguasai Demak Ngawantipura."

"Lalu, dari Sultan Alam Akbar I itu ke mana?"

"Kanjeng Sultan Demak II juga bergelar Sultan Alam Akbar. Sultan Demak yang kedua ini mempunyai seorang putra bernama Kanjeng Pangeran Tumenggung Amangkurat. Kanjeng Pangeran Tumenggung Amangkurat ini berputra, namanya Pangeran Sujanaputra."

"Sebentar ... sebentar, Ngabei! Nama yang terakhir disebut Pangeran Sujanaputra rasanya pernah kudengar namanya."

"Paduka pasti mendengarnya karena Pangeran Sujanaputra ini seorang pujangga yang termasyhur ke mana-mana. Pangeran ini tinggalnya di Karanggayam. Oleh karena itu, beliau bernama Pangeran Karanggayam."

"Dari Pangeran Karanggayam ini, bagaimana selanjutnya sampai kepada istriku?”

"Pangeran Karanggayam ini berputra seorang juga bernama Pangeran Karanggayam II. Pangeran Karanggayam II tidak tinggal di Karanggayam, beliau pindah tempat ke Desa Wotwaru. Beliau disebut juga Ki Ageng Wotwaru. Ki Ageng Wotwaru berputra seorang yang diberi nama Ki Ageng Karanggayam III. Beliau meninggal sewaktu bencana alam besar. Karena peristiwa itu Ki Ageng Karanggayam III disebut juga Ki Ageng Ampahan."

"Panjang juga silsilahnya, Ngabei. Akan tetapi, aku semakin tertarik dengan silsilah istriku ini. Aku ingin tahu kelanjutannya. Teruskan, Ngabei!"

"Baiklah, Paduka. Ki Ageng Ampahan mempunyai seorang putra, namanya Ki Ageng Daleman. Ki Ageng Daleman juga mempunyai seorang putra bernama Nayamenggala yang juga disebut dengan nama Ki Ageng Palar."

Ngabei Yasadipura berhenti sejenak, menarik napas panjang. Kangjeng Sinuhun paham, Ngabei pasti sedikit lelah. "Minumlah dulu, Ngabei! Cukup melelahkan juga, ya, menceritakan silsilah ini. Jangan-jangan tidak cukup semalam?"

"Ah, Paduka ini bisa saja. Hamba senang ada yang meminta menceritakan silsilah ini. Jarang ada orang yang tertarik dengan silsilah."

"Justru ini penting, Ngabei! Setelah ini aku akan menyuruh pencatat agar menuliskan semua yang diceritakan oleh Ngabei. Jadi, semua tahu nenek moyang istriku bahwa dia bukan sembarang orang!"

"Aduh, Paduka sungguh panjang pikirannya. Baiklah, Paduka, hamba akan meneruskan kembali cerita hamba ini. Ki Ageng Palar berbeda dengan leluhurnya, beliau sangat kuat bertapa. Kalau sudah bertapa bisa sampai empat puluh hari empat puluh malam tidak keluar-keluar, tidak memakan makanan yang mengandung darah. Daun-daunan yang dimakannya juga pilihan. Kemudian, beliau juga tidak makan garam apalagi gula. Minumannya hanyalah air putih. Ki Ageng Palar, jumlah putranya juga berbeda dengan saudara-saudaranya. Dia mempunyai dua orang putra laki-laki, yang pertama namanya Nayamenggala yang bergelar Ki Ngabei Tasik, adiknya bernama Ngabei Nayataruna yang biasa disebut dengan Nayareja. Ngabei Nayataruna inilah yang pertama tinggal di Palar Legen. Orang-orang biasa memanggilnya Ki Ngabei Cucuk." Sampai di sini Ngabei Yasadipura berhenti bercerita.

"Mohon maaf, Paduka, hamba tadi agak tersedak," katanya sambil mengambil gelas.

"Tidak apa, Ngabei, minumlah dulu! Tak perlu terburu-buru, aku juga meskipun hanya sebagai pendengar merasa letih, apalagi engkau!"

Keduanya minum dan bercakap-cakap soal yang lain. Kemudian, Ngabei Yasadipura melanjutkan ceritanya, "Sampai di mana tadi, Paduka? Maklum sudah tua!"

"Kalau tidak salah sudah sampai pada Ngabei Nayataruna atau Nayareja alias Ki Ngabei Cucuk yang tinggal di Palar Legen. Tampaknya Ki Ngabei Cucuk inilah leluhur termuda Kanjeng Permaisuri karena dialah yang bertempat tinggal di Palar Legen, kampung halaman istriku."

"Paduka pandai menebak juga, tetapi dengarlah dulu cerita hamba selanjutnya."

"Baik ... teruskanlah!"

"Ki Ngabei Cucuk ini menjabat sebagai Mentri, tinggalnya di Panumping. Nah, Paduka, Ki Ngabei Cucuk ini ternyata kakek Kanjeng Permaisuri. Ki Ngabei Cucuk ini memiliki seorang putra bernama Kiai Jagasura alias ayahanda Kanjeng Permaisuri. Benar, kata Paduka tadi, Kanjeng Permaisuri keturunan langsung Ki Ngabei Cucuk."

"Kalau melihat silsilahnya, sudah jelas bahwa nenek moyang Kanjeng Permaisuri termasuk jajaran raja-raja Jawa. Kanjeng Permaisuri pun terkait dengan Keraton Jawa karena di dalam tubuhnya mengalir darah biru."

"Benar, Paduka."

"Memang sudah kuduga sebelumnya bahwa istriku bukan orang sembarangan. Pantas saja wajahnya bukan wajah pasaran dan juga segala tingkah lakunya tidak menunjukkan orang kebanyakan," katanya bangga.

"Apakah Kiai Jagasura mengetahui silsilah ini, Ngabei?"

"Pasti mengetahuinya. Hanya saja dia tidak menonjolkan diri. Kebetulan waktu belum mempunyai Kanjeng Ratu, hidupnya sangat susah, tidak punya apa-apa kecuali istri yang setia dan tekad yang besar untuk memperbaiki hidupnya. Akan tetapi, apabila Paduka melihat adiknya, Bok Bei Sudiradirja yang membesarkan Kanjeng Ratu akan lain. Bok Bei ini mengetahui benar bagaimana adat dan tata cara atau sopan santun seorang priayi. Lihatlah hasilnya, Kanjeng Permaisuri yang sekarang menjadi istri Paduka."

"Benar sekali, Ngabei! Aku harus segera memberi tahu istriku perihal ini.”

"Hamba kira demikian supaya Kanjeng Permaisuri tidak diremehkan orang."

"Ngabei, terima kasih atas semua ini," kata Sri Raja.

"Sudah menjadi kewajiban hamba membantu Paduka. Paduka, karena sudah selesai, hamba mohon diri."

"Baiklah, Ngabei!"

Kanjeng Sinuhun memberi tahu soal silsilah ini kepada istrinya. Istrinya terkejut mendengar cerita suaminya yang telah mengusut-usut asal-usulnya.

"Untunglah, hamba masih turunan Raja Demak sehingga Paduka menjadi senang. Bagaimana kalau hamba ini orang biasa-biasa saja? Apakah Paduka akan mencampakkan hamba?"

"Tentu saja tidak, Istriku. Mana mungkin aku mencampakkanmu? Engkau kan tahu waktu kamu menjadi dayang aku kan sudah mengejar-ngejarmu," katanya penuh mesra.

"Hamba juga tahu, Paduka," jawabnya dengan pipi merona merah karena dicumbu oleh suaminya.

"Karena sekarang sudah jelas, engkau tidak hanya sebagai permaisuri yang mendampingi raja, tetapi juga akan kuangkat, kunaikkan derajatnya menjadi seorang permaisuri yang berkuasa dalam istana. Ratu yang demikian itu pantas mendapatkan gelar Kanjeng Ratu Kancana."

"Benarkah, Paduka? Apakah ini tak berlebihan?"

"Tentu saja tidak, Sayangku. Sebagai istri yang telah mempersembahkan seorang putra raja penerusku, engkau patut mendapatkannya."

Kanjeng Ratu Mas tidak menjawab lagi. Dipeluknya suaminya dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang.

"Aku akan mengumumkan berita ini kepada seluruh rakyatku," kata Sri Raja.

Kanjeng Ratu Mas hanya mengangguk tanda setuju dengan rencana suaminya.

Diumumkanlah berita bahwa permaisuri sekarang bergelar Kanjeng Ratu Kancana yang berkuasa dalam istana. Semua orang sukacita menyambutnya. Tidak lupa mereka juga memberikan selamat dan doa restu atas kebangsawanan Kanjeng Permaisuri.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti tahun. Kanjeng Sinuhun Pakubuwana II pun seiring berjalannya waktu usianya makin lanjut. Usia lanjut tentu saja tidak dapat meneruskan kekuasaannya sebagai raja. Sementara itu, putra raja pun sudah cukup usianya untuk diangkat sebagai raja menggantikan ayahandanya.

"Ananda, engkau sudah pantas menjadi penggantiku," kata Kanjeng Sinuhun suatu hari kepada putranya.

"Hamba akan mengikuti kehendak Ayahanda."

"Bagus! Aku akan segera menyiapkan upacara penobatanmu supaya kamu punya tanggung jawab, dan aku akan mengundurkan diri karena usiaku sudah lanjut."

"Hamba bersedia menjadi raja asalkan Ayahanda tetap membimbing Ananda."

Tidak lama kemudian penobatan putra mahkota pun berlangsung. Putra Raja diangkat menjadi Raja Surakarta dengan gelar Pangeran Adipati Prabu Anom Sudibya Praja Mataram.

Gelar yang diberikan Kanjeng Sinuhun kepada putranya demikian panjangnya. Setiap orang pasti akan sulit mengucapkannya atau mengingat namanya. Putra mahkota sendirilah yang kemudian memendekkan namanya menjadi Pangeran Adipati Prabu Anom.

Para kerabat dan semua rakyat sangat senang dengan penobatan itu. Mereka pun bermaksud mengucapkan selamat dengan mengadakan perayaan atas penobatan yang tinggi itu. Semua sangat mengasihi kepada raja baru yang tampan itu. Pangeran Adipati Prabu Anom selalu menjadi buah bibir orang sekerajaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI