HANYA KATA
HANYA KATA
untuk Lutfi Mardiansyah
I
Aku tahu, kau sangat suka menulis puisi
maka kuberikan tinta palsu, pena dengan ujung buntu,
dan kertas yang selalu menolak kata pertama
Tulislah, puisi tentang kopi,
tentang sepi, tentang ibu, tentang mati,
tentang kucing yang percaya reinkarnasi,
tentang cinta yang menjadi tanda tanya,
tentang bocah kecil yang memakan peta dunia
Aku tahu kau sangat suka menulis puisi,
maka kutawarkan kata-kata mentah,
—belum direbus, belum dipoles, belum dikirim ke kurator—
kata-kata seperti: surat tanpa alamat, lampu meja belajar,
buku bekas, suara hujan, sepatu tua, tumpukan cucian kotor,
kaleng biskuit Khong Guan berisi kenangan,
Raisa menari di tengah kampanye capres,
sumpah pocong Wiji Thukul,
dan popok bayi yang dipakai Stephen Hawking
Apa kau pikir itu bukan puisi?
Itu puisi, kawan
Itu kata-kata yang tak tahu
harus menjadi apa
Aku tahu, kau mencintai sunyi yang bernyanyi,
maka susunlah kata-kata pelan-pelan
Kau bedahlah satu-satu hingga kata "kekasih" berganti jadi "kesakitan sistemik"
dan kata "kamus" kita curigai sebagai agen propaganda fonetik
Sebab makna tidak pernah duduk diam
Ia hanya jeda di antara dua huruf
yang terengah-engah meminta ditafsir
Kau sangat suka menulis puisi, bukan?
Sampai lupa, bahwa puisi tak pernah selesai
hanya berhenti ketika sebuah antologi kehabisan halaman
II
Aku tahu kau suka mencari makna,
maka kutaburkan kata-kata:
sepatu roda Einstein, pop mi rasa ironi,
satai taichan Filsafat Kontemporer,
buku catatan milik Jung yang berubah menjadi sabun cuci,
dan rengekan emoji di kolom komentar tragedi
Lagu pengantar tidur dari Kafka beraroma hiperbola, nostalgia, dan bekas koreksi guru bahasa,
anak-anak muda yang lebih suka Dilan daripada Derrida,
dan sepatu bot Shakespeare ukuran 45
Kau juga mencintai absurditas, bukan?
Maka kubuatkan juga daftar belanja:
lip balm Karl Marx,
raket Djokovic, perangko bekas Pramudya,
dan jilbab hologram Madonna
Payung Heidegger, korek api Camus,
syal Kierkegaard, kursi malas Sartre
Bacalah sunyi demi sunyi,
gelisah demi gelisah.
Itu semua hanya kata,
tetapi bukan berarti tanpa arti—
atau sebaliknya?
Aku tahu kau suka mencari makna
bahkan dalam suara: kriiikk ... kriiikk ...
desah mesin pencari, cekikikan algoritme,
derak scroll jari tak henti
Kau baca itu semua, bukan?
Maka kuberikan: Furitashiop malagutoniki,
sumpilan gokurishta tapaloka,
danielregronambos kuthuthapi!
Apa artinya?
Entahlah
Kau cari saja sendiri—
kalau memang menyukai arti
Karena bagiku,
yang ada hanyalah kata,
kata,
kata,
yang kadang hanya ingin disebut
dan bukan dimengerti
III
Aku tulis juga untukmu puisi,
tetapi tidak tahu puisi yang kubuat selalu ingin mati
ia memakan dagingnya sendiri
Jangan bertanya: "Di mana bait pertama?"
Sudah dikunyah metafora
Jangan bertanya: "Apa maknanya?"
A berkata: Aku awal
Z menjawab: Aku akhir
Huruf-huruf di antara mereka
tak percaya pada struktur
Padahal huruf-huruf itu pernah punya iman,
tetapi kehilangan Tuhan
Aku juga menulis puisi tentang puisi,
tentang menulis puisi tentang kata "tentang"
yang dibebani makna terlalu lama
hingga kata "cinta" menjadi "cinta yang dicurigai",
dan kata "aku" menjadi "salah satu ilusi narasi"
Aku menulis dari kata ke kata,
dari salah paham ke tafsir yang muram
hingga tak lagi punya huruf
selain bunyi sunyi
sebab kata terakhir
selalu menolak diucap
Aku tulis:
"Ini bukan puisi, ini—"
lalu spasi
lalu gelap
lalu jeda
lalu hilang
—arti kata "abadi"
yang melulu salah eja
IV
Aku tahu kau suka menulis puisi
yang berbicara seperti nabi
dan tidur serupa patahan ayat suci
Namun, jangan berharap puisi menjadi firman
karena ia cuma desah rindu
yang dibungkus akal bulus dan kalkulus
Bertanyalah:
—Apa arti "rindu"?
—Apa itu "eksistensi"?
—Apa yang disebut "kata akhir"?
Lantas kau cari lagi
makna yang lebih "dalam"
Kau menulis dan menulislah lagi
hingga larik-larikmu seperti lukisan Dali
dan ritmemu terdengar seperti peluit patah hati
Pada akhirnya, semua ini hanya kata
Bukan tubuh, bukan cinta, bukan luka
Akan tetapi remah yang gugur
dari waktu ke waktu
Karena di dunia ini
yang paling mudah diproduksi adalah kata
yang paling sulit dipahami juga ... kata
Kita hanya berdiri di dalam keramaian teks
dan berharap ada yang membaca
meski tanpa mengerti
meski tanpa peduli
Namun tetap, kita tulis
karena kita tahu—
tak ada yang lebih sunyi
dari dunia
tanpa
kata
Aku ulang lagi:
hanya kata
kata
ka
ta
...
Sukabumi, 2025
Komentar
Posting Komentar